Aletheia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Volume 1, Nomor 2 (2020): 51–62
http://jurnal-sttterpadusumba.ac.id/index.php/AJTPK/
ISSN: 2722-9076 (online), 2722-9068 (print)
Karunia Menderita, Suatu Analisa Eksegetikal Terhadap Filipi 1 : 29
Jibrael Bangngu
Sekolah Tinggi Teologi Terpadu Waingapu [email protected]
Abstract
This research aims to explore the true meaning of Philippians 1:29, based on the hermeneutic principle, so as to provide the reader with the correct understanding. This study uses a library / library study method that supports the use of theology books, biblical interpretation, and literature relating to this discussion.The curiosity raised for the meaning written in Philippians 1:29.and also there are some differences of opinion about the text above in relation to suffering. To explore the meaning of the meaning of this text, the author uses several methods of interpretation, namely:
Historical background analysis, Context analysis, Grammatical analysis.
From this interpretation, the author found several theological meanings, namely: Suffering for Christ's sake is an honor. Suffering for Christ's sake is a witness. Suffering for Christ's sake is a form of self-denial. Suffering for Christ's sake is a form of death to sin.
Keywords: Gift, suffering
Abstrak Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna yang sebenarnya dari Filipi 1:29, berdasarkan prinsip hermeneutik, sehingga dapat memberikan pemahaman yang benar kepada pembaca. Penelitian ini menggunakan metode Library/study kepustakaan yang mengacu kepada penggunaan buku teologi, tafsiran Alkitab, serta literatur-literatur yang berhubungan dengan pembahasan ini. Adapun yang menjadi alasan penulisan disertasi ini karena adanya Adanya keingintahuan penulis terhadap makna menderita yang ditulis dalam Filipi 1:29 dan juga terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang teks di atas dalam hubungannya dengan penderitaan. Untuk menggali makna teks ini penulis menggunakan beberapa metode penafsiran yaitu: Analisis sejarah latar belakang, Analisis konteks, Analisis gramatikal. Dari Penafsiran tersebut penulis menemukan beberapa makna teologis yaitu: Menderita Demi Kristus adalah Sebuah Kehormatan.Menderita Demi Kristus Merupakan Sebuah Kesaksian.
Menderita demi Kristus merupakan bentuk penyangkalan diri. Menderita demi Kristus adalah bentuk kematian terhadap dosa.
Kata Kunci: Karunia, Menderita
Pendahuluan
Dalam dunia ini, manusia selalu mendapatkan hal yang tidak diinginkan dan menyakitkan. Berbagai problematika menghadang dalam diri setiap individu yang menghirup udara di atas bumi ini. Kadang permasalahan itu bukan hanya muncul dari dirinya sendiri, tetapi kadang juga muncul dari alam yang menaunginya. Menderita merupakan kata yang dihindari setiap orang.
Tentunya tak ada manusia yang ingin menderita. Apalagi menjadi seorang yang mati demi mempertahankan iman, mungkin saat ini sudah sangat sulit ditemukan atau bahkan tak ada lagi. Tetapi Penderitaan yang disebabkan oleh penganiayaan karena agama bukanlah pengalaman yang asing bagi gereja.
Sejak abad-abad pertama bahkan pada sepanjang zaman, banyak orang percaya telah menderita hanya karena mereka adalah orang Kristen.Penganiayaan terhadap orang Kristen saat ini jauh lebih komplikatif dariyang disadari kebanyakan orang. Saat ini, penganiayaan terhadap orang Kristen telah menarik perhatian luas dan dianggap sebagai masalah global. Kesadaran yang bertumbuh tentang penganiayaan terhadap orang Kristen sebagian besar disebabkan oleh usaha-usaha Paul Marshall, yang telah mendokumentasikan problem di banyak negara dan menyajikannya sehingga memperoleh perhatian publik.1 Jika melihat statistik dan kasus-kasus penganiayaan yang terjadi tampaklah bahwa problem ini benar-benar serius. Penulis memilih surat Paulus kepada Jemaat di Filipi karena situasi penerima surat ini pada saat itu serupa dengan situasi gereja sekarang. Dalam surat Filipi firman Allah berbicara tentang perjuangan gereja dalam menjalani kehidupan dan kesaksiannya dalam lingkungan yang bermusuhan. Penulis percaya pesan surat Filipi tidak saja dapat menguatkan gereja saat ini dalam menahan penganiayaan, tetapi juga dapat memperdalam pemahaman gereja tentang dirinya sendiri, hidupdan
1Lela Gilbert and Paul A. Marshall, Their Blood Cries Out: The Untold Story of Persecution Against Christians in the Modern World (Dallas: Word, 1997); “Persecution of Christians in the Contemporary World,” International Bulletin of Missionary Research (January 1998).
panggilannya. Penderitaan bukanlah keadaan ideal yang harus dikejar oleh orang Kristen atau sesuatu yang harus diterima secara pasif, tetapi juga bukanbagian yang asing dalam kehidupan rohani. Surat Filipi jelas menekankan mengenai hal ini, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, (1:29). Orang Kristen sedang berurusan dengan realitas yang merupakan bagian dari kehidupan Kristen, serta memahami bagaimana penderitaan dapat mencapai tujuan Allah. Salah satu hal yang sangat penting dikemukakan oleh rasul Paulus dan akan menjadi fokus penelitian dalam tulisan ini yaitu: Karunia untuk menderita dalam Filipi 1:29. Paulus melihat penderitaan adalah sebuah karunia dari Tuhan. Hal ini harus dipahami dengan baik supaya tidak menimbulkan kesalahan penafsiran. Sebab ada pandangan yang menolak penderitaan yaitu Pandangan Impasibilitas yang dikutip oleh Saluchu,2 dalam pendangan itu menolak penderitaan Kristus. Pandangan ini melahirkan argumen baru jika penderitaan Kristus ditolak, maka menderita dalam mengiring Kristupun ditolak. Ada banyak permasalahan yang berhubungan dengan penderitaan: Ada pemahaman yang mempertanyakan kebaikan dan kebenaran Allah, jika Allah itu baik mengapa mengijinkan penderitaan terjadi,Adanya pemahaman yang mengatakan bahwa Allah adalah penyebab dari segala sesuatu termasuk penderitaan, Adanya pemahaman yang mengatakan bahwa penderitaan adalah hukuman Allah, Adanya pemahaman yang disampaikan Rasul Paulus dalam Filipi 1:29, bahwa penderitaan adalah karunia. Dalam tulisan ini penulis hanya mengkaji apa makna penderitaan sebagai karunia dalam Filipi 1:29.
Metode
Dalam analisis eksegesis terkait dengan analisis teks, maka langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan analisis memastikan apakah bagian yang dieksegesis merupakan suatu unit yang betul-betul dapat berdiri sendiri (atau sebuah perikop).3 Dalam kajian eksegesis ini, dilakukan analisis terhadap Fil. 1:29 dan mengkajinya apakah teks tersebut dapat berdiri dengan tidak memotong pokok pikiran di tengah suatu alinea atau
2Sony Eli Saluchu, “Penderitaan Kristus Sebagai Wujud Solidaritas Allah Kepada Manusia,” DUNAMIS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani) Volume 2, no. 1 (October 2017), 1.
3Douglas Stuart, Eksegese Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1997), 25.
perikop. Fee dan Stuart menyatakan bahwa analisis teks sangatlah diperlukan. Hal ini dikarenakan tidak adanya salinan asli. Salinan yang ada merupakan ditulis dengan tangan dan di salin secara berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dalam analisis teks harus membandingkan tempat-tempat di mana terdapat perbedaan dalam manuskrip-manuskrip dan yang mengandung kesalahan dan berisikan teks asli.4 Tahapan selanjutnya adalah melakukan analisis sejarah dengan mengkaji latar belakang surat Filipi dan juga letak georafis kota Filipi, analisa konteks jauh dan kontek dekat.5 Kemudian metode gramatikal dan leksikal yang mengkaji aspek bahasa,sehingga dapat menentukan secara lebih tepat makna yang dimaksudkan oleh penulis kitab.6
Eksegesis Terhadap Filipi 1:29
Untuk menentukan batasan teks dalam kajian ini, maka teks yang dieksegesis adalah Filipi 1:29. Teks ini masih memiliki hubungan dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 1-28, meskipun demikian dalam ayat 29 ini Paulus memberikan sebuah nasihat yang memberikan penekanan untuk terus berjuang dalam menghadapi segala segala kemungkinan penderitaan yang akan dihadapi. Filipi 1:29 merupakan bagian eksegesis yang masih tetap memiliki hubungan dengan pasal-pasal yang lain dalam surat Filipi.Berikut ini penulis manyajikan beberapa terjemahan termasuk teks bahasa Yunani dari Filipi 1:29 menggunakan Greek New Testament (GNT)7:
Terjemahan yang dimaksud oleh penulis dalam hal ini adalah terjemahan yang menjelaskan teks Filipi 1: 29 yaitu terjemahan langsung dari bahasa Yunani ke bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:
Filipi 1:29
Alkitab Teks
Yunani οτι υμιν εχαρισθη το υπερ χριστου ου μονον το εις
4Gordon D. Fee and Douglas Stuart, Hermeneutik Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan Dengan Tepat (Malang: Gandum Mas, 2006), 20-21.
5Don L. Fisher, Pra Hermeneutik (Malang: Gandum Mas, 1987), 63.
6Virkler, Hermeutics: Principles and Biblical Interpretation (Grand Rapids: Zondervan Publising House, 1986), 94.
7New Greek Testament, E-Sword (The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007).
αυτον πιστευειν αλλα και το υπερ αυτου πασχειν LAI
(TB)
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia
NIV 1984 (US)
For it has been granted to you on behalf of Christ not only to believe on him, but also to suffer for him (Phi 1:29 NIV)
KJV 1796
For unto you it is given in the behalf of Christ, not only to believe on him, but also to suffer for his sake
BIS Sebab Allah sudah memberi anugerah kepadamu bukan hanya untuk percaya kepada Kristus, tetapi juga untuk menderita bagi Kristus.
Analisa Leksikal dan Gramatikal Istilah “ dikaruniakan”
Istilah “dikaruniakan” diterjemahkan dari kata Yunani ἐχαρίσθη (ekhariste dari kata,χαρίζομαι (dibaca: charizomai) secara leksikal kata ini diartikan sebagai: sebuah pemberian yang Cuma-Cuma. Secara gramatikal kata ini memiliki bentuk kata kerja aorist passive, mood indicative 3rd person singular, yang memiliki arti: subjek benar-benar melakukan tindakan/sesuatu dengan senang tanpa meminta persetujuan dari seseorang yang menjadi objek/sasaran kasih kasih karunia.8
Kata χαρίζομαιmemiliki akar kata “χαρίζ”(kharis) yang secara figuratif dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan dengan cuma-cuma.
Jadi kata ini dalam bahasa Yunani biasa dikenakan kepada setiap tindakan yang dilakukan seseorang bagi orang lain tanpa meminta imbalan atau sebuah tindakan yang dilakukan bukan atas jasa tertentu9.
Istilah “τὸὑπὲρ Χριστοῦ” (dibaca: to huper Kristou)
Frase di atas diterjemahkan dalam bahasa Inggris In the behalf of Christ (to huper Christou) yang artinya Untuk kepentingan Kristus atau atas nama Kristus atau untuk kehormatan Kristus. Dalam hal ini Paulus menjelaskan ada 2 pokok
8BMG Morphology Thayer’s Greek Dictionary, Bible Works 8.
9Ginrich Lexicon, Bible Works 8.
utama yang sampaikan yaitu: ”pisteuein (percaya) dan paschein (menderita).10 Kata ” Kristuo” diterjemahkan dari bahasa Ibrani “Masyiakh atau Mesias” yang diurapi oleh Tuhan, Dialah yang dipilih Allah sebagai penyelamat. Ungkapan ini juga sebutan bagi penebus yang dijanjikan dalam kitab-kitab perjanjian Lama yang merujuk penggenapannya oleh Yesus Kristus.11
Istilah ” πιστεύειν”(dibaca:pisteuein)
Istilah ”Pisteuein” dalam ayat ini berasal dari kata Yunani ”Pisteuo” yang berarti to have faith, believe yang diterjemahkan”iman, percaya”.12 Kata ini berbentuk kata kerja infinitivepresent active. Bentuk infinitive hendak menyatakan akibat atau hasil dari kata kerja utama yaitu dikaruniakan sedangkan present active menyatakan bahwa beriman menunjuk kepada tindakan yang terus menerus dilakukan.13 Kata “pisteuo” bukanlah percaya dalam arti menerima secara intelektualistis apa yang dianggap benar, tetapi percaya dengan eksistensi seluruhnya atau menyerahkan diri seluruhnya kepada Kristus.14
Barnes mengatakan bahwa makna frase “believe on him“ (percaya kepada Kristus) adalah : Sebagai bentuk kehormatan dan hak istimewa yang diberikan oleh Tuhan untuk percaya kepadaNya, karena manusia dapat mempercayai seseorang yang layak dipercaya, karena melalui iman manusia dibebaskan dari dosa, manusia diperdamaikan dengan Allah, manusia memiliki harapan di dalam Sorga,karenamanusiatelahdibebaskandaripikiranyangterkutukdangelap, karenasekarangkitamemilikisahabatyangselalubersama-
samadengankitadalammelewatisemuapergumulanhidup.15 Berdasarkan analisa leksikal di atas maka dapat disimpulkan bahwa istilah ”pisteuo” dalam ayat ini menunjukkan kepada kesempatan yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia
10Strong Hebrew And Greek Dictionary, E-Sword (The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007).
11Walter C. Kaiser Jr., The Messiah In The Old Testament (Michigan: Sondervan Publishing House, 1995), 235.
12James Strong Dictionary, Bible Works 8.
13Stephano Ambesa, Diktat Bahasa Yunani (Jakarta: Seminari Bethel Petamburan, 2005), 46.
14J. L. Ch. Abineno, Tafsiran Alkitab Surat Filipi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 48.
15Albert Barnes, Notes On The Bible, Commentary Of The Philippians 1:29, E-Sword (The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007).
untuk memiliki sikap hidup yang mempercayai Kristus terus menerus dalam segala hal.
Istilah ”πάσχειν“ (dibaca: Paskhein) artinya Menderita ”
Kata ini merupakan kata kerja infinitive present aktif dari kata “pasko” yang artinya yang hinggasaat ini sedang memiliki pengalaman/mengalami penderitaan.Kata ini adalah istilah umum untuk sesuatu yang dilakukan terhadap seseorang. Dalam Perjanjian Lama tidak ada kata yang artinya penderitaan secara umum, tetapi penderitaan dipakai oleh Alkitab Indonesia terjemahan Baru untuk menerjemahkan kata ; sakit, dukacita, malang, siksaan.16Dalam Fili.1:29 ini istilah “paskho” menunjukkan kepada penderitaan karena Kristus. Selain karunia untuk percaya kepada Kristus jemaat juga harus menerima karunia untuk menderita demi Dia.Konteks dekat dari teks Filipi 1:29 terletak pada ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya terdapat dalam Filipi 1:28-1. Dalam ayat-ayat sebelumnya Paulus memberikan nasihat kepada Jemaat di Filipi agar mereka hidup sebagai warga kerajaan Allah yang terus-menerus bersaksi tentang Injil, sekalipun berada dalam penderitaan. Sama seperti Paulus meskipun dalam penjara Ia terus menyebarkan Injil Kristus. Entah hidup atau mati, ataupun menderita ia tetap bersama Kristus. Ia mendorong jemaat di Filipi untuk menghadapi penderitaan dengan pengharapan yang besar di dalam Kristus. Lebih jelas lagi dalam Filipi 3:10, Paulus berkata “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan Kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Ayat di atas menggambarkan kerinduan Paulus untuk mengenal Kristus. Kata
“mengenal” dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan dari kata “ginosko”
yang artinya memiliki pengalaman pribadi.17 Dalam hal ini Paulus rindu untuk memiliki pengalaman pribadi bersama dengan Kristus. Ada tiga indikator dalam pengenalan akan Kristua yaitu: Mengenal kuasa kebangkitan Kristus, mengalami persekutuan dalam penderitaan-Nya dan menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya.18
16Strong Hebrew And Greek Dictionary.
17Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, Dan Konkondansi Perjanjian Baru, Jilid II (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003), 166.
18Gerald F., Word Biblical Commentary (Philippians) (Nashville: Thomas Nelson Hawthorne Publishers, 1983), 138.
Frase kedua dalam ayat ini adalah: καὶ
τὴνκοινωνίαντωνπαθημάτωναυτου (kai {dan} tên koinônian {persekutuan} tôn pathêmatôn {dalam penderitaan-penderitaan} autou {-Nya}). Frase kedua ini memiliki hubungan yang erat dengan frase yang pertama, bukan hanya karena konjugasi “kai”(dan), tetapi kata koinônian (persekutuan) dan kata dunamin (kuasa), sama-sama menggunakan definite article : τὴνδύναμιν…καὶ
τὴνκοινωνίαν. Hal ini menunjukan bahwa kuasa kebangkitan Kristus dan persekutuan dalam penderitaan merupakan aspek dari pengalaman yang sama dalam mengenal Kristus tampak dari artikel tunggal di dalam bahasa Yunaninya. Mengenal Dia berarti mengalami kuasa yang mengalir dari kesatuan dengan Kristus yang sudah bangkit, dan memasuki persekutuan dalam penderitaanNya (semua kesulitan yang diderita demi Kristus, bdg Kis.9:16).
Berdasarkan analisa eksegetikal di atas penulis mendapatkan beberapa makna teologis dalam hubungannya dengan penderitaan, yaitu:
1. Menderita Demi Kristus adalah Sebuah Karunia
Barnes mengatakan bahwa: Suffering in behalf of Christ is one of God’s gifts to us, (Menderita untuk Kristus adalah salah satu anugerah Allah buat kita).19 Pernyataan di atas menunjukkkan bahwa menderita bukanlah sesuatu yang diminta kepada Tuhan, melainkan sesuatu yamg diberikan.
Berbeda dengan menderita yang dialami manusia ketika ia berbuat dosa/kesalahan, hal itu tidak dapat disebut sebagai anugerah. Tetapi tidak semua orang menderita demi Kristus, hanya orang-orang yang Ia panggil Ia dan pilih. Oleh karena itu jemaat tidak boleh melihat penderitaan yang di tanggung demi Dia sebagai perbuatan jahat dari musuh, tetapi sebagai anugerah yang diterima dari tangan Allah.
2. Menderita Demi Kristus adalah Sebuah Kehormatan
Menderita demi Kristus bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah kehormatan. Kata “huper” dalam ayat 29 memiliki makna bahwa menderita demi Kristus adalah sebuah kehormatan besar. Menderita untuk kepentinganNya merupakan hak istimewa sebab ada mahkota kemuliaan di
19Barnes, Notes On The Bible, Commentary Of The Philippians 1:29.
Sorga bagi yang setia mengikuti Kristus.20Merupakan sebuah keuntungan yang besar jika manusia dianggap layak menderita bagi Kristus. Tuhan Yesus pernah berkata: Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."(Mat.5:11-12). Dalam ayat di atas kata “berbahagia”
diterjemahkan dari kata “Makarios” yang artinya; diberkati, atau memiliki kebahagiaan yang tidak dapat dibandingan dengan apapun.21
3. Menderita Demi Kristus Merupakan Sebuah Kesaksian
Bersaksi bagi Kristus merupakan tugas agung dari gereja. Istilah “bersaksi”
berasal dari bahasa Yunani “marturia” adalah salah satu istilah yang dipakai gereja dalam melakukan aktivitas imannya, sebagai tugas panggilan gereja, yaitu dalam hal kesaksian iman.22 Kesaksian iman yang dimaksud adalah pemberitaan Injil sebagai berita keselamatan bagi manusia.Kata "marturia"
sendiri sangat dekat dengan kata "martir", yaitu orang-orang yang mati karena memberitakan Injil pada zaman sesudah Yesus Kristus. Memang banyak orang Kristen perdana yang harus mengalami penganiayaan karena kepercayaannya, dan pengorbanan ini terus berlanjut sampai sekarang. Dari pengertian di atas dapat di lihat hubungan penderitaan dengan kesaksian. Orang yang bersaksi rela kehilangan hidupnya karena kesaksian itu.
3. Menderita Demi Kristus Merupakan Bentuk Penyangkalan diri dan mati terhadap dosa
Kerinduan Paulus untuk mengenal Kristus dinyatakan lewat Persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana ia turut mengambil bagian dalam penderitaan yang dialami Kristus (Flp.3:10). Kristus tidak pernah mementingkan diri-Nya sendiri, melainkan Dia telah mengosongkan diri- Nya untuk taat sampai mati. Hal ini merupakan teladan penderitaan dan penyangkalan diri Kristus. Tuhan Yesus pernah berkata bahwa
“barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya”. Mengikut Kristus bukan hanya meninggalkan dosa, melainkan juga menolak untuk mementingkan diri sendiri, yang
20Ibid.
21Thayer’s Greek Definitions, E-Sword (The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007).
22Andreas A. Yewangoe, Tidak Ada Penumpang Gelap, Warga Gereja, Warga Bangsa (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), 129.
merupakan akar dari setiap tindakan dosa.Kerinduan Paulus untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam kematian-Nya (Flp.3:10c), tidaklah menunjukan kepada kematian salib seperti Kristus. Tetapi kematian tersebut mengacu kepada mati terhadap dosa.23 Mati terhadap dosa adalah sebuah penderitaan bagi manusia. Manusia sudah menyatu dengan dosa, dan kecendungan hatinya semata-mata adalah dosa, dan untuk melepaskan hal itu merupakan penderitaan. Ketika manusia menahan diri untuk tidak berdosa terjadi pergolakan di dalam batinnya. Tawaran untuk berbuat dosa sangat menggiurkan, pergolakan dalam batin membuat seseorang menderita, tetapi ketika seseorang mampu melewatinya berarti ia mengalami kematian terhadap dosa.24 Mengikuti Kristus adalah berserah penuh kepada-Nya. Ini berarti menyerahkan takhta hati kepada Kristus sebagai raja yang menguasai hidup manusia. Menyangkal diri berarti mengatakan tidak terhadap diri sendiri, dan ya kepada Kristus;
memungkiri diri sendiri dan mengakui Kristus.
Penutup
Berdasarkan hasil analisa eksegesis di atas maka dapat disimpulkan bahwa: Menderita adalah sebuah Karunia dari Tuhan yang diberikan kepada umat-Nya. Pernyataan di atas menunjukkkan bahwa menderita bukanlah sesuatu yang diminta kepada Tuhan, melainkan sesuatu yamg diberikan.Menderita Demi Kristus adalah Sebuah Kehormatan. Menderita demi Kristus bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah kehormatan.
Menderita Demi Kristus Merupakan Sebuah Kesaksian. Bersaksi bagi Kristus merupakan tugas agung dari gereja. Dengan setia kepada identitasnya yang sejati di tengah situasi yang bermusuhan itulah gereja dapat berbicara kepada dunia. Gereja dapat menjadi garam dan terang dunia untuk menceritakan kemuliaan Allah. Menderita demi Kristus merupakan bentuk penyangkalan diri dan mati terhadap dosa. Rasul
23Th. Van den End, Tafsiaran Alkitab Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 310.
24J. Knox Chamblin, Paulus Dan Diri, Ajaran Rasuli Bagi Keutuhan Pribadi (Surabaya:
Momentum, 2006), 74.
Paulus berkata bahwa hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
Daftar Pustaka
Abineno, J. L. Ch. Tafsiran Alkitab Surat Filipi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Ambesa, Stephano. Diktat Bahasa Yunani. Jakarta: Seminari Bethel Petamburan, 2005.
Barnes, Albert. Notes On The Bible, Commentary Of The Philippians 1:29. E- Sword. The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007.
Chamblin, J. Knox. Paulus Dan Diri, Ajaran Rasuli Bagi Keutuhan Pribadi.
Surabaya: Momentum, 2006.
den End, Th. Van. Tafsiaran Alkitab Surat Roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.
Fee, Gordon D., and Douglas Stuart. Hermeneutik Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan Dengan Tepat. Malang: Gandum Mas, 2006.
Fisher, Don L. Pra Hermeneutik. Malang: Gandum Mas, 1987.
Gerald F. Word Biblical Commentary (Philippians). Nashville: Thomas Nelson Hawthorne Publishers, 1983.
Gilbert, Lela, and Paul A. Marshall. Their Blood Cries Out: The Untold Story of Persecution Against Christians in the Modern World. Dallas: Word, 1997.
Kaiser Jr., Walter C. The Messiah In The Old Testament. Michigan: Sondervan Publishing House, 1995.
Saluchu, Sony Eli. “Penderitaan Kristus Sebagai Wujud Solidaritas Allah Kepada Manusia.” DUNAMIS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani) Volume 2, no. 1 (October 2017).
Stuart, Douglas. Eksegese Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 1997.
Sutanto, Hasan. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, Dan Konkondansi Perjanjian Baru, Jilid II. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003.
Virkler. Hermeutics: Principles and Biblical Interpretation. Grand Rapids:
Zondervan Publising House, 1986.
Yewangoe, Andreas A. Tidak Ada Penumpang Gelap, Warga Gereja, Warga Bangsa. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
BMG Morphology Thayer’s Greek Dictionary. Bible Works 8.
Ginrich Lexicon. Bible Works 8.
James Strong Dictionary. Bible Works 8.
New Greek Testament. E-Sword. The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007.
“Persecution of Christians in the Contemporary World.” International Bulletin of Missionary Research (January 1998).
Strong Hebrew And Greek Dictionary. E-Sword. The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007.
Thayer’s Greek Definitions. E-Sword. The Sword Of The Lord With An Electronic Edge, 2007.