1 I. PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Gagal ginjal ialah kondisi dimana ginjal tidak mampu menjalankan fungsi dengan baik. Gangguan fungsi disebabkan adanya kerusakan tempat penyaringan darah (glumerus) dan saluran pembuangan kelebihan air (tubulus) yang menyebabkan zat berbahaya maupun keseimbangan air dalam tubuh tidak mampu dikelola dengan baik.1 Penyakit gagal ginjal dibedakan menjadi dua yakni gagal ginjal akut dan kronis. Gagal ginjal akut merupakan keadaan ginjal yang tidak dapat menjalankan fungsinya secara tiba-tiba dan akan kembali menjalankan fungsinya.2 Sedangkan gagal ginjal kronis ialah kerusakan fungsi ginjal yang progresif secara perlahan dan pasti, menuju pada ketidakmampuan ginjal menjalankan fungsinya (terminal).3
Gagal ginjal kronis merupakan penyakit yang mengancam jiwa dengan angka kejadian terus meningkat.4 Perhimpunan Nefron Indonesia (Pernefri) menyatakan pada tahun 2012 pasien gagal ginjal sebanyak 19.612. Secara global Indonesia menempati urutan ke 27 pada peringkat kematian penderita gagal ginjal kronis tahun 1990 dan meningkat ke-18 pada tahun 2010.5 Jumlah penderita gagal ginjal kronis yang menjadi gagal ginjal terminal diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sebanyak 10% tiap tahun.6 Demikian pula jumlah pasien gagal ginjal kronis di RS Pantiwilasa Dr.Cipto semarang yang terus meningkat per tahun 2016 hingga tahun 2017 sebanyak 18 pasien.
1 Pearle T. Pagungsan et all., Ginjal Si Penyaring Ajaib :Mengapa Gagal Ginjal Terjadi?- Memiliki Kreasi Hidup Sehat, ed. Halvi Sihole dan Brossi Soriton (Bandung : Indonesia Publishing House, 2007), 1-20.
2Mary Baradero, Mary Wilfri Dayrit dan Yakobus Siswadi, Klien Gangguan Ginjal: Seri Asuhan Keperawatan, ed. Monica Ester dan Esty Wahyuningsih (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2005),
3J.C Pearce, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995).
4D. Santoso, 60 Menit Menuju Ginjal Sehat (Surabaya: Jaring Pena, 2009), 7.
5Kementerian Kesehatan,Infodatin: Situasi Penyakit Gagal Ginjal Kronis (Jakarta, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI, 2017), 1.
6J.P. Rahardjo, Strategi Terapi Gagal Ginjal Kronik, dalam S.Waspadji, R.A Gani, S.
Setiati dan I. Alwi, Bunga Rampai Ilmu Penyakit Dalam.(Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1996).
2
Pengobatan terbaik untuk gagal ginjal kronis ialah dialisis dan transplantasi ginjal.7 Pengertian dialisis berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 812 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Dialisis Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan, ialah tindakan medis melalui pelayanan terapi pengganti fungsi ginjal. Berdasarkan Perhimpunan Nefron Indonesia (Pernefri) 2014 pengobatan hemodialis (HD) menjadi pengobatan penyakit gagal ginjal dengan proporsi terbanyak yakni 82%. Pengobatan yang lain berupa continous ambulatory peritoneal dialysis(12,8%), transplantasi (2,6%) dan continous renal replacement therapy (2,3%).8 Tahun 2015 tercatat sebanyak 1.243 orang melakukan perawatan hemodialis dengan proporsi terbanyak harapan hidup pasien selama 6-12 bulan, tidak banyak pula dengan harapan hidup kurang dari 1 bulan.9
Tranplantasi ginjal merupakan perawatan yang sangat efektif bagi penderita gagal ginjal terminal. Prosedur dan resiko yang besar membuat banyak penderita harus atau tetap bertahan pada hemodialisis.10 Hemodialisis pada umumnya dilaksanakan 2-3 kali seminggu, selama 3-6 jam/terapi. Pada keadaan tertentu proses hemodialisis dapat dilakukan setiap hari dengan waktu yang lebih singkat. Selama proses hemodialisis, pasien akan mengalami beberapa keluhan fisik seperti mual, sesak, sakit dada, panas, gatal dan pendarahan disekitar.
Gangguan lain yang muncul ialah gangguan psikis dan spiritualitas berkaitan dengan kondisi stres berkelanjutan.11
Penyakit gagal ginjal kronis maupun terminal dapat digolongkan sebagai suatu peristiwa yang menimbulkan stres (stressor). Stres ialah reaksi dari pengalaman emosi negatif yang mengakibatkan adanya perubahan biokimia, fisik, kognitif dan perilaku.12 Masalah finansial, perubahan gaya hidup, hingga rasa bosan dengan tindakan hemodialis tanpa menunjukan tanda kemajuan kesehatan
7Pearle et al., Ginjal Si Penyaring Ajaib, 15-16.
8Kementerian Kesehatan,Infodatin: Situasi Penyakit Gagal Ginjal Kronis, 7-8.
9Kementerian Kesehatan,Infodatin: Situasi Penyakit Gagal Ginjal Kronis, 1-15.
10Abdul Fadl Mohsin Ebrahim, Organ Transplantation, Euthanasia, Cloning and Animal Experimentation: An Islamic View, ed Mujiburohman (Leicester: The Islamic Foundaditon, 2001), 14-20.
11Nico A. Lumenta et all., Penyakit Ginjal: Penyebab, Pengobatan Medik dan Pencegahannya,(Jakarta: Gunung Mulia, 1992), 81-82.
12Sunaryo, Psikologi untuk Keperawatan (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2004), 215-216.
3
turut menjadi faktor pendorong munculnya stres. Pada kondisi stres inilah pasien memerlukan mekanisme penyelesaian masalah atau koping yang efektif, sebagai cara pasien mengeluarkan respon yang tepat untuk mengahadapi stres.13
Strategi koping ialah usaha indivdu dalam mengelola sumber diri yang digunakan untuk melakukan penyesuaian dengan tuntutan yang mendatangkan tekanan. Strategi koping memproses mental melalui pengelolaan sumber atau sifat diri, dengan menganggap tuntutan sebagai tantangan untuk mengembangkan dan memunculkan sumber maupun sifat diri. Oleh karena itu koping yang efektif membutuhkan sifat internal dan eksternal.Sifat internal yang perlu dikelola ialah kesabaran, optimisme, kreativitas, rasa umor, intuisi, hasrat dan kasih sayang.
Sedangkan sifat eksternal yang harus dikelola berupa waktu, uang dan dukungan sosial.14
Strategi koping oleh Lazarus dan Folkman dibagi menjadi dua tipe yakni problem focused coping dan emotion focused coping.15 Startegi problem focused coping ialah upaya melakukan aktivitas untuk menghilangkan keadaan stres.
Sedangkan emotion focused coping merupakan upaya untuk mengontrol emosional yang muncul akibat peristiwa yang menimbulkan atau berpotensi menimbulkan stres. Wayne Weten dan Margaret A Lloyd menambahkan satu strategi koping yakni appraisal focused constructive coping. Appraisal focused constructive adalah upaya mengendalikan stres dengan mengubah penilaian diri dengan stres.16 Problem focused coping, emotion focused coping dan appraisal focused constructive coping dapat digunakan pasien dalam mengendalikan dan menghilangkan stres sesuai dengan kondisi pasien.
Pada umumnya seseorang dalam keadaan stres akan merasa kesulitan dalam memilih dan menentukan strategi koping yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, individu membutuhkan dukungan.17 Dukungan sosial psikologis dan spiritual menjadi sumber kekuatan dan bantuan untuk masalah sosial, mental dan spiritual.
13B. Smet, Psikologi Kesehatan (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1994).
14National Safety Coincil, Manajemen stres, ed Palupi Widyastuti (Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2004), 27-28.
15Wiwin Hendriani, Resiliensi Psikologis (Jakarta: Prenadamendia Grup, 2018), 35.
16Wayne Weten dan Margaret A Lloyd, Psychology Applied to Modern Life (USA:
Thomson Learning, 2006), 115.
17Wayne Weten dan Margaret A Lloyd, Psychology Applied to Modern Life, 119.
4
Dukungan psikologis dan spiritual didapatkan dalam pendampingan dan konseling pastoral.18 Pendampingan dan konseling pastoral tidak hanya dapat digunakan sebagai dukungan pelaksanaan strategi koping, namun juga sebagai dasar atau alasan pemilihan strategi koping.
Pendampingan dan konseling pastoral bagi pasien merupakan proses pertolongan kepada individu di rumah sakit. Pendampingan berasal dari kata mendampingi sebagai usaha menolong.19 Sedangkan Konseling ialah upaya mencari jalan keluar dari masalah.20 Di dalam pendampingan dan konseling terdapat proses perjumpaan yang dibutuhkan oleh setiap orang. Melalui perjumpaan manusia berelasi dan berinteraksi satu dengan yang lain. Interaksi membantu manusia mengungkapkan perasaan bahagia maupun sedih, berkeluh- kesah, dan menyampaikan ide.21
Pendamping membantu orang yang didampingi untuk menjumpai setiap pengalaman secara utuh. Melihat pengalaman secara utuh tidak hanya membantu orang yang didampingi menjumpai diri sendiri dan orang lain namun juga merasakan kehadiran Tuhan.22 Keadaan sakit menempatkan pasien dalam beberapa fase krisis, termasuk krisis spiritualitas. Merasakan kehadiran Tuhan merupakan wujud dari memelihara keutuhan hidup yang berpusat pada roh.23 Pendamping membantu orang yang didampingi untuk mengingat kembali setiap anugerah yang telah Tuhan berikan didalam kehidupannya.24
Peningkatan pasien gagal ginjal yang telah dipaparkan diatas juga terjadi di rumah sakit Pantiwilasa Dr. Cipto, Semarang. Berdasarkan hasil pra penelitian di Rumah Sakit Pantiwilasa Di.Cipto Semarang, pasien gagal ginjal dalam perawatan Hemodialis secara keseluruhan tercatat per tahun 2016 pasien masuk
18J.B Suharjo dan B. Cahyono, Menjadi Pasien Cerdas: Kiat Memperoleh Layanan Medis Terbaik dan Aman (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013), 120-127.
19Howard Clinebell,Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, ed. B.H Hababan (Yogyakarta: Kanisiuss, 2002), 53-63.
20Aart Van Beek, Pendampingan Pastoral (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012), 10.
21Totok S. Wiryasaputra, Pengantar Konseling Pastoral (Yogyakarta: Diandra Pustaka Indonesia, 2014), 51.
22Totok Soemarta WS dan Aart M Van Beek, Mendampingi Orang Sakit (Yogyakarta: RS Bethesda, 1984), 10-13.
23Howard Clinebell, Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral, 33-35.
24Jacob Daan Engel, Konselng Sebagai Suatu Fungsi Pastoral (Salatiga: Tisara Grafika, 2007), 4-8.
5
sebanyak 50 pasien dan bertambah sebanyak 57 pasien di tahun 2017. Total pasien per tahun 2016 hingga tahun 2017 sebanyak 33 pasienpindah, pasien yang telah menyelesakan hemodialis sebanyak 9 pasien, pasien meninggal sebanyak 29 pasien, sedangkan total pasien gagal ginjal kronis dengan perawatan hemodialis sebanyak 36 pasien. Perawatan hemodialis rutin dilaksanakan sebanyak 2-3 kelompok per hari. Kelompok ketiga akan dilaksanakan apabila terdapat keadaan penting, sesuai ketentuan pihak rumah sakit
Situasi yang terjadi di lapangan ialah ruang hemodialis di Rumah Sakit Pantiwilasa Dr. Cipto Semarang berisi 6 tempat tidur yang dipakai secara bergantian. Dalam satu kelompok (6 pasien) hanya satu atau dua pasien yang membawa pendamping. Selain itu kunjungan hanya dapat dilakukan sesuai dengan persetujuan perawat jaga. Pasien gagal ginjal kronis di rumah sakit Pantiwilasa DR.Cipto diperhadapkan dengan kondisi keluhan fisik akibat HD, rasa sungkan untuk ngobrol dengan sesama pasien dalam waktu lama serta rasa bosan, pada akhirnya proses HD digunakan pasien untuk tidur, makan maupun menonton televisi. Menurut seorang perawat jaga di ruang hemodialis, situasi yang demikian turut memberikan sumbangsih terhadap kestabilan emosi pasien.
Berdasarkan seluruh pemaparan diatas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang: Sebuah kajian pastoral terhadap pemilihan strategi koping pasien gagal ginjal kronis di Rumah Sakit Pantiwilasa dr. Cipto, Semarang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan pokok permasalahan yang akan dikaji adalah bagaimana pemilihan strategi koping pasien gagal ginjal kronis yang dilihat dari perspektif pastoral.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan peneltian ini adalah mengkaji pemilihan strategi koping pasien gagal ginjal kronis dari perspektif pastoral.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang penulis harapkan dari penelitian ini secara praktis mampu memberikan sumbangan pemikiran kepada para pendamping pastoral pentingnya
6
pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan bagi pasien gagal ginjal. Selain itu tulisan ini diharapkan mampu menolong keluarga, gereja dan masyarakat dalam mendampingi pasien gagal ginjal
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif ialah penelitan untuk memahami apa yang dialami subjek secara menyeluruh dengan cara deskripsi kata dan bahasa.25 Metode penelitian kualitatif didapatkan dengan melakukan pengumpulan data sehingga diharapkan penulis mampu menemukan fakta-fakta di lapangan.26 Pengumpulan data akan dilakukan di Rumah Sakit Paniwilasa Dr.Cipto, Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara sehingga tidak membatasi informasi dari partisipan.
Sumber data utama dalam penelitian ini adalah informasi verbal yang diperoleh melalui wawancara. Wawacara dilakukan kepada pasien sebagai orang yang mendapatkan pendampingan dan konseling pastoral serta sebagai partisipan dalam pelaksanaan strategi koping. Proses wawancara akan dilaksanakan sesudah proses hemodialis berlangsung, sehingga tidak mengganggu proses berjalannya pendampingan dan proses pelaksanaan hemodialis.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang penulis sajikan dalam tulisan ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama, memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan masalah, manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penelitian. Bagian kedua berisi landasan teori yang penulis gunakan dalam memahami permasalahan penelitian. Pada bagian ini penulis membahas teologi dan psikologi pendampingan dan konseling pastoral dalam Tipe-tipe Dasar Pendampingan dan Konseling Pastoral menurut Howard Clinbell. Teori lain yang akan penulis gunakan ialah teori tentang strategi koping menurut Wayne Weten dan Margaret A Lloyd dalam Psychology Applied To Modern Life. Melalui teori-
25 Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989), 6.
26Asmadi Alsa, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Serta Kombinasinya dalam Penelitian Psikologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 41.
7
teori tersebut diharapkan dapat membantu penulis menemukan proses pendampingan yang baik bagi pasien gagal ginjal.
Bagian ketiga berisi hasil penelitian. Hasil penelitian didapatkan dari hasil wawancara penulis dengan pasien gagal ginjal kronis dan konselor sebagai pendamping pasien di Rumah Sakit Pantiwilasa Dr.Cipto, Semarang. Hasil penelitian berupa deskripsi pemilihan strategi koping pasien gagal ginjal kronis di Rumah Sakit Pantiwilasa Dr.Cipto, Semarang. Bagian keempat berisi analisis pemilihan strategi koping yang dilihat dengan perspektif teologi dan psikologi pastoral. Bagian kelima penutup yang berisi simpulan dan saran dari hasil penelitian.