i
AKTIVITAS SISWA DALAM PELAKSANAAN METODE DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DI SMAN I LINTAU BUO UTARA
SKRIPSI
Ditulis Sebagai Syarat untuk Menperoleh Gelar Sarjana (S-1) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam
RAHIM PUTRA NIM. 13 101 117
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR
2019
ii
i
BIODATA
Nama Lengkap : Rahim Putra
Panggilan : Ajo aim
Tempat/Tanggal Lahir : Manggopoh Dalam / 13 April 1994
Alamat : Manggopoh Ujung, Nagari Ulakan, Kec. Ulakan Tapakis, Kab. Padang Pariaman
No. Hp : 082389093774
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan
SD : SDN 12 Ulakan Tapakis
SMP : SMPN 1 Ulakan Tapakis
SMA : SMAN 1 Ulakan Tapakis
S1 : IAIN Batusangkar
Nama Orang Tua
Ayah : Zulkifli
Ibu : Piak akek
Anak ke/Dari : 4/5 Bersaudara
Motto : “ Hidup adalah Perjuangan ”
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat, menyelesaikan skripsi dengan judul “Aktivitas Siswa Dalam Pelaksanaan Metode Descovery Learning Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Lintau Buo Utara” Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, peneliti telah banyak mendapat bantuan, dorongan, petunjuk dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, izinkan peneliti mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Rektor IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Batusangkar, Bapak Dr.
H. Kasmuri, M.A yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi ini.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, Ibu Susi Herawati, S.Ag.,M. Pd dan jajaran yang telah membantu dan memfasilitasi penulis dalam proses perkuliahan dan penyusunan skripsi ini.
3. Dosen Pembimbing I Bapak Dr. Asmendri, M.Pd dan Pembimbing II Ibu Romi Maimori, S.Ag.,M.Pd
4. Dosen Penasehat Akademik (PA) Ibunda Dr. Hj. Demina, M. Pd yang telah memberikan penulis semangat beserta motivasi dalam perkuliahan dan penyelesaian skipsi ini.
5. Bapak/Ibu staf pengajar Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Batusangkar.
6. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lintau Buo Utara yang telah memberi izin peneliti untuk melaksanakan penelitian,
7. Teman-teman mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2013
8. Ayahanda, Ibunda tercinta, serta semua keluarga yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil dalam usaha menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan dinilai ibadah oleh Allah SWT hendaknya. Amin.
Batusangkar, Januari 2019
Rahim Putra NIM: 13 101 117
ABSTRAK
RAHIM PUTRA, NIM. 13 101 117, judul skripsi “AKTIVITAS SISWA DALAM PELAKSANAAN METODE DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMAN 1 LINTAU BUO UTARA”. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar, 2019.
Adapun permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah bagaimana Aktivitas Belajar Siswa dalam pelaksanaan metode Discovery Learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Lintau Buo Utara.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data tentang bagaimana aktivitas siswa dalam pelaksanaan metode Discovery Learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Lintau Buo Utara.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket tertutup dengan skala Likert. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 1 Lintau Buo Utara yang berjumlah 141 orang.
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan menunjukkan bahwa aktivitas siswa dalam pelaksanaan metode Discovery pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Lintau Buo belum sepenuh nya berjalan dengan baik, hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil penelitian yang penulis dapatkan, yaitu pada aspek Visual activities sudah berjalan dengan memiliki persentase mendapat nilai 94% dalam siswa pada aspek tersebut berada dengan klasifikasi aktivitas sangat baik, oral activities dengan perolehan nilai atau persentase 76% dengan klasifikasi aktivitas baik, Listening activities perolehan nilai 73% kategori baik. Aktivitas belajar dengan nilai yang dengan ketegori 34% dalam proses pembelajaran pada aspek Writing activities sudah terlaksana dengan kategori buruk, pada aspek Drawing activities dengan nilai persentase 66% sudah terlaksana dengan baik , aktivitas siswa pada aspek Motor activities mendapat nilai 54% dalam proses pembelajaran sudah berjalan dan terlaksana dengan kategori sedang, aktivitas siswa Mental activities mendapat nilai 58% dalam proses pembelajaran sudah berjalan dan terlaksana dengan kategori sedang. Dan perolehan nilai yang terakhir pada aspek aktivitas pembelajaran Emotional activities dengan persentase nilai 89% sudah berjalan dan terlaksana dengan sangat baik.
.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
BIODATA PENULIS ... iiii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Batasan Masalah... 6
D. Rumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian ... 6
F. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSATAKA A. Landasan Teori ... 8
1. Metode Descovery Learning a. Pengertian Descovery Learning ... 8
b. Langkah-langkah metode Descovery Learning ... 10
c. Kelebihan dan kekurangan Descovery Learning ... 15
2. Aktivitas Belajar a. Pengertian Aktivitas Belajar ... 18
b. Indikator Aktivitas Belajar ... 23
3. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam a. Pengertian mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam... 26
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 32
B. Kajian Penelitian Yang Relevan ... 57
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ... 59
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 59
C. Populasi dan Sampel ... 59
D. Definisi Operasional... 62
E. Pengembangan Instrumen ... 63
F. Teknik Pengumpulan Data ... 68
G. Teknis analisis Data ... 69
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil ... 73
B. Pembahasan ... 91
C. Kendala penelitian ... 94
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 95
B. Saran ... 95 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran1 Dokumentasi penelitian ……….………….…… 80
Lampiran2 Surat-Surat Penelitian……….……… 81
Lampiran3 Lembar validator instrumen……….……… 84
Lampiran4 Lembar rekapitulasi angket responden
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan yang menentukan terhadap eksistensi dan perkembangan masyarakat. Hal ini karena pendidikan merupakan proses usaha melestarikan, mengalihkan, serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspek dan jenisnya kepada generasi penerus (Arifin, 2008:8). Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupum rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaaan.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan
Tujuan pendidikan tertuang dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agara menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak Mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Nomor 20 tahun 2003).
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, maka salah satu mata pelajaran yang harus ada dalam kurikulum tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membetuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.
Peningkatan potensi spiritual mencakup pengamalan, pemahaman, dan
penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial.
Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:
1. Lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi;
2. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;
3. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan.
Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.
Pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah faktor Metode. Dalam pembelajaran Metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru, dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan pendidikannya ke arah tujuan yang dicita- citakan, bagaimanapun baik dan sempurnannya suatu kurikulum pendidikan Islam ia tidak akan berarti apa-apa, manakala tidak dimiliki metode atau cara yang tepat dalam menyampaikannya kepada peserta didik ( Samsul nizar, 2002:65). Jadi metode dalam suatu pembelajaran itu sangat penting, dengan adanya metode yang sesuai maka tujuan dari pendidikan itu dapat tercapai dengan baik.
Metode pendidikan yang tidak tepat akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses pembelajaran sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia, oleh karena itu metode yang diterapkan oleh seorang guru harus berdaya guna untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah diterapkan.
Metode pendidikan yang tidak tepat akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses pembelajaran sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia, oleh karena itu metode yang diterapkan oleh seorang guru harus berdaya guna untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah diterapkan.
Mengenai jenis metode mengajar banyak sekali jumlahnya diantaranya metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan eksperimen, diskusi, pemberian tugas, dan discovery learning. Discovery ( penemuan) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar ( Mulyasa, 2009:110). Discovery learning merupakan suatu rangkaian pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan ketrampilan sebagai wujud adanya perubahan prilaku ( Hanafiah dan Cucu Suhana, 2009:77).
Tujuan digunakan metode discovery learning dalam pembelajaran yaitu supaya pembelajaran lebih menarik, siswa lebih aktif, wawasan siswa lebih luas, interaksi siswa dengan guru lebih terjalin, dapat memecahkan
masalah-masalah yang ada dilingkungan sekitar, materi yang disampaikan guru dapat tersimpan lebih lama dalam memori siswa serta tujuan pembelajaran lebih tercapai secara efektif dan efesien.
Dalam pembelajaran siswa sangat dituntut untuk beraktivitas untuk menimbulkan motivasi. Menurut Arikunto Aktivitas siswa merupakan keterlibatan peserta didik dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam proses pembelajaran guna penunjang keberhasilan proses pembelajaran (Arikunto Suharsimi,1992:209). Peningkatan aktivitas peserta didik yaitu meningkatkan jumlah peserta didik yang terlibat aktif belajar, seperti siswa berfikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Aktivitas sama maknanya dengan perbuatan. Dalam kaitannya terhadap belajar di kemukakan sebagai suatu perbuatan baik rohani yang yang menghendaki kerjanya fungsi pemikiran, maupun perbuatan jasmani yang menghendaki gerakan fungsi otot-otot individu yang belajar. Aktivitas yang dimaksud adalah untuk menghasilkan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa metode discovery dalam pembelajaran PAI dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.
Berdasarkan observasi awal penulis tanggal 9 April 2018 di SMAN 1 Lintau Buo Utara, penulis melihat bahwa metode discovery learning sudah dilaksanakan namun belum maksimal pelaksanaannya, sehingga dalam proses pembelajaran masih ada siswa yang melakukan aktifitas lain selain belajar seperti pada saat guru melaksanakan metode discovery pada spek orientasi banyak siswa yang kurang memperhatikan, ada menulis yang bukan pelajarannya, pada saat guru menlaksanakan metode discovery pada aspek merumuskan masalah ada siswa yg diskusi dengan teman sebangkunya tanpa memperhatikan penjelasan guru, agar tercapainya hasil belajar siswa secara maksimal maka pelaksanaan metode discovery ini harus sesuai dengan langkah-langkahnya, agar aktivitas belajar siswa dapat meningkat seperti
siswa berfikir secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Dalam mengawali pemebelajaran seorang guru tersebut memulai dengan tahapan-tahapan yaitu :
1. Perencanaan, yaitu terlebih dahulu seorang guru menentukan tujuan pembelajaran, menyusun tugas untuk dipelajari peserta didik, mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks.
2. Pelaksanaan, yaitu seorang guru memberikan Stimulation ( rangsangan) berupa pertanyaan sifatnya pro-kontra.
Mencermati kondisi di atas, perlu adanya strategi pembelajaran PAI, khususnya dalam menggunakan metode discovery sehingga siswa bisa terlibat aktif melatih kemampuan berfikir kreatif, kritis dan deduktif dalam proses pembelajaran dan dalam melakukan hal ini, tugas guru tidaklah mudah karena dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat diterima oleh siswa dengan mudah diperlukan suatu strategi yang sesuai dan mudah dipahami oleh siswa.
Berdasarkan masalah yang penulis temukan dilapangan maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul : Aktivitas Siswa dalam Pelaksanaan Metode Discovery Learning pada Mata Pelajaran PAI kelas X di SMAN I Lintau Buo Utara.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis dapat mengidentifikasi sebagai berikut:
1. Pelaksanaan metode discovery pada mata pelajaran PAI masih belum maksimal.
2. Aktivitas siswa dalam pelaksanaan metode discovery dalam pembelajaran PAI masih belum terlihat aktif.
3. Kurangnya partisipasi siswa di kelas dalam pelaksanaan metode discovery pada pembelajaran PAI.
4. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa dalam proses pembelajaran.
C. Batasan Masalah
Dari identifikasi masalah yang penulis kemukakan di atas, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti dalam skripsi ini adalah Aktivitas Siswa dalam Pelaksanaan Metode Discovery Learning pada Mata Pelajaran PAI
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka penulis merumuskan pembahasan masalah ini Bagaimana Aktivitas Siswa dalam Pelaksanaan Metode Discovery Learning pada Mata Pelajaran PAI kelas X di SMAN I Lintau Buo Utara?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah Untuk melihat bagaimana aktivitas siswa dalam pelaksanaan metode discovery pada mata pelajaran PAI kelas X di SMAN I Lintau Buo Utara.
F. Kegunaan Penelitian
Manfaat atau kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat:
1. Bagi siswa
Untuk meninggkatkan minat dan motivasi belajar dan mendorong siswa untuk untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran.
2. Bagi guru
Membantu guru dalam melihat dan mengamati perkembangan aktivatas siswa dalam proses pembelajaran.
3. Bagi sekolah
Sebagai masukan bagi sekolah untuk melihat bagaimana cara melihat dan mengamati perkembangan aktivitas siswa.
4. Bagi penulis
Untuk menambah wawasan bagi penulis dalam bidang penelitian.
Untuk memberi masukan kepada guru mata pelajaran PAI di SMAN I Lintau Buo Utara.
8 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Metode Discovery Learning
1. Pengertian Metode Discovery learning
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang disusun tercapai secara optimal (Wina Sanjaya,2009:145). Sedangkan discovery ditinjau dari arti katanya
“discover” bearti menemukan dan “discovery” adalah penemuan. Discovery learning merupakan salah satu dari banyak model pembelajaran yang mulai diterapkan oleh guru-guru di Indonesia, namun model pembelajaran ini pun tidak mudah untuk dilakukan.
Salah satu metode belajar yang diharapkan dapat mengaktifkan siswa yaitu metode pembelajaran discovery Learning yaitu pembelajaran yang menekankan pada siswa aktif dan bermakna meskipun kata “Siswa aktifnya” tidak terlalu ditonjolkan, tetapi prinsipnya tetap dipakai dengan menggunakan istilah lain seperti “Belajar mencari” atau discovery Learning.
Metode pembelajaran berbasis penemuan atau Discovery Learning adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya tidak melalui pemberitahuan, namun ditemukan sendiri. Dalam pembelajaran discovery (penemuan), kegiatan atau pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa, sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri.
Dari pengertian yang telah dijabarkan tersebut dapat disimpulkan bahwa Discovery Learning merupakan model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menemukan secara mandiri pemahaman yang harus dicapai dengan bimbingan dan pengawasan guru.
Jadi, seorang siswa dikatakan melakukan discovery bila anak terlihat menggunakan proses mentalnya dalam usaha menemukan konsep-konsep atau
prinsip-perinsip. Proses-proses mental yang dilakukan, misalnya: mengamati, menggolongkan, mengukur, menduga, dan mengambil kesimpulan ( Abu Ahmadi,2005:76)
Metode discovery adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu, tidak melalui pemberitahuan tetapi sebagian atau ditemukan sendiri. Dengan demikian, dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa dapat memperoleh pengetahuan dari pengalamannya menyelesaikan masalah bukan melalui transmisi dari guru ( Sudjana, 2005:49).
Discovery Learning merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan ketrampilan sebagai wujud adanya perubahan prilakunya ( Hanafiah dan Cucu Suhana, 2009:77). Metode discoverya dalah metode pembelajaran guru yang memperkenankan siswa- siswanya menemukan informasi sendiri. Metode ini mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan dan menyelediki sendiri sehingga hasil yang diperoleh dapat tahan lama dalam ingatan siswa ( Maryono, 2011:72).
Ciri-ciri discovery learning Model discovery learning memiliki ciri tersendiri sehingga dapat ditemukan perbedaan dengan model pembelajaran lainnya, berikut tiga ciri utama belajar dengan model pembelajaran discovery learning atau penemuan yaitu:
1. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan
2. Berpusat pada peserta didik
3.Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.
Karakteristik discovery learning Pembelajaran ini memiliki karakter yang dapat ditemukan ketika pembelajaran berlangsung, berikut tiga karakter tersebut:
1. Peran guru sebagai pembimbing
2. Peserta didik belajar secara aktif sebagai seorang ilmuwan
3. Bahan ajar disajikan dalam bentuk informasi dan peserta didik melakukan kegiatan menghimpun, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, serta membuat kesimpulan.
Jadi, dapat disimpulkan metode discovery adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam pembelajaran ini anak diberi peluang untuk mencari, memecahkan, hingga menemukan cara-cara penyelesaiannya dan jawabannya sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah problem solving approach ( Yatim Riyanto, 2012:138).
2. Langkah-langkah Metode Discovery Learning
Secara garis besar langkah-langkah pokok meteode ini dikemukakan Syaiful Bahri Djamarah meliputi simulation, problema statement, data colection, data processing, verivication, dan generalization ( Darwyan Syah,2009:24).
Penemuan ( discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar. Metode yang digunakan dalam pembelajaran disamping memiliki hal serta nilai yang baik tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya, dimana salah satunya adalah bagaimana langkah-langkah dalam pelaksanaan metode tersebut.
Metode dalam proses pembelajaran yang kesemuanya juga menggunakan langkah-langkah tertentu dalam pelaksanaannya, begitu pula dengan metode discovery learning. Dimana metode discovery learning agar efektif dalam pelaksanaanya maka dibutuhkan langkah-langkah dalam pelaksanaannya.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan metode discovery learning adalah :
a. Adanya masalah yang akan dipecahkan
b. Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.
c. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh siswa melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
d. Harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan.
e. Susunan kelas harus diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
f. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan data.
g. Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dan tepat dengan data dan informasi yang diperlukan siswa ( Mulayasa,2009:110).
Tujuan dari metode ini adalah untuk melatih siswa menganalisis dan melatih agar dapat memecahkan permasalahannya sendiri. Metode ini dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah yang akan dipecahkan oleh siswa.
b. Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis.
c. Siswa berusaha mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan menguji hipotesis.
d. Menarik kesimpulan dari hasil jawaban atau generalisasi.
e. Menerapkan generalisasi tersebut dalam situasi baru ( Maryono,2011:72).
Tiga ciri utama belajar menemukan antara lain:
a. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, menggeneralisasi pengetahuan.
b. Berpusat pada siswa
c. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada ( Sholeh Hidayat, 2013:65).
Proses pembelajaran harus dipandang sebagai stimulasi yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Peranan guru lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar dan fasilitator belajar. Dengan demikian siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru. Ada 5 tahapan yang harus ditempuh dalam melaksanakan pedekatan discovery antara lain:
a. Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa.
b. Menetapkan jawaban sementara (hipotesis)
c. Siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan hipotesis.
d. Menarik kesimpulan jawaban (generalisasi)
e. Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru ( Nana Sudjana,1996:74)
Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam proses pembelajaran dalam mengaplikasikan metode discovery learning di kelas:
a. Langkah persiapan metode Discovery Learning a. Menentukan tujuan pembelajaran
b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya).
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang yang berupa contoh- contoh , ilustrasi, tugas, dan sebaginya untuk dipelajari siswa.
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
b. Prosedur aplikasi metode discovery learning
Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam mengaplikasikan metode discovery learning dikelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:
a. Simulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan
Pertama-pertama pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi kesimpulan, agar timbul keinginan untuk menyelidik sendiri. Disamping itu, guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang guru harus menguasai teknik- teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi tercapai.
b. Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru memberi kesmpatan kepada siswa untuk mengindentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). Sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan siswa untuk mengindentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu maslah.
c. Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempaan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244).
Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan,
membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak sengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semua diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang peru mendapat pembuktian secara logis.
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan tenuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing. Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hiporesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan penting penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu ( Syaiful Bahri Djamarah,2010:19-20).
c. Kelebihan dan kekurangan Metode Discovery Learning
Menurut Suryosubroto, metode ini memiliki kelebihan atau kebaikan-kebaikan, sebagai berikut:
a. Membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa.
b. Metode penemuan dapat membangkitkan gairah belajar siswa.
c. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri.
d. Metode ini menyebabkan siswa untuk mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar.
e. Metode ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan.
Adapun kelemahan dari metode ini antara lain:
a. Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar.
b. Dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuh untuk mencoba ide-ide, mungkin tidak ada ( Maryono,2011:73).
Adapun kelebihan penerapan Discovery Learning sebagai berikut:
a. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan ketrampilan- ketrampilan dan proses kognitif.
b. Pengetahuan yang diperoleh melalui dari metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer.
c. Menimbulkan rasa senang pada siswa karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
d. Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
e. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
f. Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan berkeja sama dengan yang lainnya.
g. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti didalam situasi diskusi.
h. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
i. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
j. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.
k. Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
l. Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
m. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
n. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar.
o. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
Kelebihan Discovery Learning Model pembelajaran yang beragam tentunya memiliki kelebihan dan kekurang yang berdeda pula, kelebihan discovery learning yakni:
1) Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilanketerampilan dan proses-proses kognitif.
2) Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
3) Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil.
4) Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri.
5) Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
6) Metode ini dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya.
7) Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi.
8) Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu- raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
9) Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
10) Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru.
Adapun kelemahan penerapan Discovery Learning sebagai berikut:
a. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berfikir atau mengungkapkan hubungan antara konsep- konsep, yag tertulis atau lisan, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
b. Metode ini tidak efesien untuk mengajar jmlah siswa yang banyak, karena membutuhkan waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.
c. Harapan-harapan yang terkandung dalam metode ini dapat buyar berhadapan dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang sama.
d. Pengajaran discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, ketrampilan dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
B. Aktivitas Belajar
1. Pengertian Aktivitas Belajar
Aktivitas sama maknanya dengan perbuatan. Dalam kaitannya terhadap belajar di kemukakan sebagai suatu perbuatan baik rohani yang yang menghendaki kerjanya fungsi pemikiran, maupun perbuatan jasmani yang menghendaki gerakan fungsi otot-otot individu yang belajar. Aktivitas yang dimaksud adalah untuk menghasilkan tingkah laku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dalam pembelajaran siswa sangat dituntut untuk beraktivitas untuk menimbulkan motivasi.
Perubahan aktivitas belajar yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan, misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Dia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan pembelajaran tersebut.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang. Bertambahnya pengetahuan
atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya.
Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan. Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya. Gagne (dalam Abin Syamsuddin Makmun, 2003:105) perubahan perilaku yang merupakan hasil dari aktivitas belajar dapat berbentuk :
1. Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan.
2. Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.
3. Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya.
4. Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan.
5. Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Menurut Arikunto Aktivitas siswa merupakan keterlibatan peserta didik dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian dan aktivitas dalam proses pembelajaran guna penunjang keberhasilan proses pembelajaran ( Arikunto Suharsimi,1992:209). Peningkatan aktivitas peserta didik yaitu meningkatkan jumlah peserta didik yang terlibat aktif belajar, bertanya dan menjawab, saling berinteraksi membahas materi pelajaran.Belajar pada dasarnya sangat dibutuhkan adanya aktivitas, dikarenakan tanpa adanya aktivitas proses belajar tidak mungkin berlangsung dengan baik.
Pada proses aktivitas pembelajaran harus melibatkan seluruh aspek
peserta didik, baik jasmani maupun rohani sehingga perubahan perilakunya dapat berubah dengan cepat, tepat, mudah dan benar, baik berkaitan dengan aspek kognitif afektif maupun psikomotor (Nanang Hanafiah, 2010:23). Aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental.
Dalam proses belajar kedua aktivitas itu harus saling berkaitan.
Lebih lanjut lagi piaget menerangkan dalam buku Sardiman bahwa jika seorang anak berfikir tanpa berbuat sesuatu, berarti anak itu tidak berfikir (Sardiman, 2011:100). Aktivitas belajar dapat memberikan nilai tambah (added value) bagi peserta didik, berupa hal-hal berikut ini :
1. Peserta didik memiliki kesadaran (awareness) untuk belajar sebagai wujud adanya motivasi internal untuk belajar sejati.
2. Peserta didik mencari pengalaman dan langsung mengalami sendiri
3. Peserta didik belajar dengan menurut minat dan kemampuannya.
4. Menumbuh kembangkan sikap disiplin dan suasana belajar yang demokratis di kalangan peserta didik.
5. Pembelajaran dilaksanakan secara konkret sehingga dapat menumbuh kembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme.
6. Menumbuh kembangkan sikap kooperatif dikalangan peserta didik sehingga sekolah menjadi hidup, sejalan dan serasi dengan kehidupan di masyarakat di sekitarnya.
Dalam proses pembelajaran, keaktifan peserta didik merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan oleh guru sehingga proses pembelajaran yang ditempuh benar-benar memperoleh hasil yang optimal.
Dengan bekerja siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan serta perilaku lainnya, termasuk sikap dan nilai. Proses pembelajaran yang berlangsung dikelas, sebetulnya sudah banyak melibatkan akademik aktivitas siswa di dalam kelas. Sis wa sudah banyak
dituntut aktivitasnya untuk mendengarkan, memperhatikan dan mencer na pelajaran yang diberikan oleh guru. Serta dimungkinkan siswa aktif bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum jelas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan aktivitas berasal dari kata kerja akademik aktif yang berarti giat, rajin, selalu berusaha bekerja atau belajar dengan sungguh sungguh supaya mendapat prestasi yang gemilang (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007:
Pengertian lain dikemukakan oleh Wijaya yaitu “Keterlibatan intelektual dan emosional siswa dalam kegiatan belajar me ngajar, asimilasi (menyerap) dan akomodasi (menyesuaikan) kognitif dalam pencapaian pengetahuan, perbuatan, serta pengalaman langsung dalam pembentukan sikap dan nilai” (Wijaya, 2007: 12). Kadar keaktifan dalam belajar secara efektif dapat dinyatakan dalam bentuk:
1) Hasil belajar peserta didik pada umum nya hanya sampai tingkat peng gunaan. Siswa biasanya belajar dengan meng hafal saja, apabila telah hafal siswa mera sa cukup. Padahal dalam belajar, hasil be lajar tidak hanya dinyatakan dalam pe nguasaan saja tetapi juga perlu adanya penggunaan dan penilaian.
2) Sumber belajar yang digunakan umum nya terbatas pada guru dan satu dua buku bacaan. Hal ini perlu dipertanyakan apa kah siswa mencatat penje lasan dari guru dengan efektif dan apa kah satu- dua buku itu dikuasainya dengan baik. Jika tidak, aktivitas belajar siswa kurang optimal ka rena miskinnya sumber belajar.
3) Guru dalam belajar kurang merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal. Se bagai contoh pada umumnya guru menga jar dengan menggunakan metode cera mah dan tanya jawab. Jarang sekali diadakan diskusi dan diberikan tugas-tugas yang memadai.
Hal inipun tidak jarang kurang ditunjang oleh penugasan dan ke terampilan guru dalam menggunakan me tode-metode tersebut.
Rosseau menyatakan bahwa dalam belajar segala pengetahuan harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, de ngan
bekerja sendiri, dengan fasilitas yang di ciptakan sendiri, baik secara rohani maupun teknis.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap oleh rang yang bekerja harus aktif sendiri, tanpa adanya aktivitas maka proses belajar tidak mungkin terjadi. Lebih lanjut Montessori me negaskan bahwa anak-anak itu memiliki tena ga-tenaga untuk berkembang sendiri, membentuk sendiri, dan pendidik akan berperan sebagai pembimbing dan mengamati bagai mana perkembangan anak didiknya (Sardiman A.M, 2000: 96).
Menurut Sardiman belajar dalam arti luas yaitu kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya, sedangkan dalam arti sempit belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yangmerupa kan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya. (Sardiman, 2000: 20)
Menurut Oemar Hamalik mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. (Oemar Hamalik, 2003: 154). Kriteria keberhasilan dalam be lajar diantaranya ditandai dengan ter jadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Seperti yang dikemukakan oleh (Nana Sudjana, 2007: 8) bahwa: Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti berubah pe ngetahuan, pemahaman, sikap, dan ting kah laku, keterampilan, kecakapan, ke biasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar
Slameto mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2007:9).
Ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar adalah:
1) Perubahan terjadi secara sadar.
2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional.
3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
5) Perubahan dalam belajar bertujuan terarah.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
Dari definisi belajar tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu perjalanan yang dilakukan seseorang dengan tujuan un tuk memperoleh sesuatu hal dimana terjadi perubahan tingkah laku yang disebabkan ka rena adanya pengalaman. Ada beberapa ciri-ciri dari pengertian belajar, yaitu:
a. .Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang terjadi melalui interaksi an tara individu dengan lingkungannya karena Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan penga laman, dalam arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar. di dalam interaksi inilah terjadi serangkaian pengalaman belajar.
b. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan karena pertumbuhan dan kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar.
c. Perubahan yang disebabkan oleh belajar harus relatif lama, dalam arti perubahan tersebut tidak hanya bersifat sementara tetapi dalam jangka waktu yang lama.
d. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.
2. Indikator Aktivitas Siswa
Indikator aktivitas siswa dalam pembelajaran dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain:
a. keinginan, keberanian menampilkan minat, kebutuhan, dan permasalahannya.
b. Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan persiapan, proses, dan kelanjutan belajar.
c. Penampilan berbagai usaha atau kekreatifan belajar dalam menjalani kegiatan pembelajaran sampai mencapai keberhasilan.
d. Kebebasan atau keleluasaan melakukan hal tersebut dan tanpa tekanan guru atau pihak lain (kemandirian belajar.
Keinginan siswa dalam mengetahui sesuatu akan tinggi dalam pelajaran yang diterimanya, serta ingin tahu. Keberanian dalam menampilkan minat, tidak ada rasa takut untuk tampil dan berbuat demi kemajuan dan selalu menyalurkan bakat. Dalam proses pembelajaran selalu ingin mencapai keberhasilan serta kreatif dalam pembelajaran tanpa ada tekanan dari guru. Sehingga akan mencapai apa yang menjadi tujuan dalam pembelajaran yang diinginkan. Dengan adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran sehingga terciptalah apa yang disebut dengan kemandirian belajar.
Aktivitas anak didik ada 10 sebagai berikut:
1. Anak didik belajar secara individual untuk menerapkan konsep, prinsip dan generalisasi.
2. Anak didik belajar dalam bentuk kelompok untuk memecahkan masalah (problem soulving).
3. Setiap anak didik berpartisipasi dalam melaksanakan tugas belajarnya melalui berbagai cara.
4. Anak didik berani mengajukan pendapat.
5. Ada aktivitas belajar analisis, sintesis penilaian dan kesimpulan.
6. Antara anak didik terjalin hubungan sosial dalam melaksanakan kegiatan belajar.
7. Setiap anak didik bisa mengomentari dan memberikan tanggapan terhadap anak didik lainnya.
8. Setiap anak didik berkesempatan menggunakan berbagai sumber belajar yang tersedia.
9. Setiap anak didik berupaya menilai hasil belajar yang dicapainya.
10. ada upaya dari anak didik untuk bertanya pada guru atau meminta pendapat guru dalam upaya kegiatan belajarnya ( Syaiful Bahari Djamarah,1997:84-85).
Belajar merupakan kegiatan terarah pada pencapaian tujuan. Untuk mecapai tujuan tersebut, siswa harus menentukan cara atau sikap belajar.
Dengan cara belajar yang ditemukan, siswa memilih berbagai alternatif tindakan, setelah itu barulah siswa melaksanakan berbagai aktifitas untuk mencapai tujuan.
Kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada aktifitas siswa diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, berdiskusi, memproduksi sesuatu, menyusun laporan, memecahkan masalah dan lain sebagainya Wina Sanjaya,2006:139).
Menurut Paul B Diedrich dalam Sardiman yang membagi aktivitas belajar siswa sebagai berikut:
1. Visual activities, yang termasuk didalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2. Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik pidato.
4. Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5. Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6. Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain:
melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, berternak.
7. Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
8. Emotional activities, seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup ( Sardiaman,2007:101).
Semua kegiatan tersebut merupakan aktivitas siswa. Siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam mencari sesuatu informasi guna memecahkan suatu permasalahan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif, dimana para peserta didik dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas belajarnya secara optimal, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Dari berbagai macam aktivitas yang telah dikemukakan di atas, maka seorang guru akan dapat melihat berbagai aktivitas siswanya yang mungkin muncul selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan metode discovery. Maka, penulis dalam penelitian ini akan mencoba untuk melihat bagaimana aktivitas-aktivitas siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. Hal-hal yang penulis amati diantaranya adalah sesuai dengan aktivitas menurut Paul B dalam sudirman yaitu, memperhatikan, bertanya, keantusiasan, keaktifan, kerja sama, mempresentasikan, mengeluarkan pendapat/ ide-ide, menanggapi/
respon, memberikan masukan/ tambahan, menganalisis, melihat hubungan dan mengambil keputusan.
C. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Mata PelajaranPendidikan Agama Islam
Agama memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan umat manusia. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keharusan, yang dapat ditempuh melalui
pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Pendidikan agama Islam menjadi salah satu isu penting dalam setiap pembahasan yang menyangkut kehidupan umat Islam. Itulah sebabnya berbagai pertemuan ilmiah baik yang berskala lokal, nasional maupun internasional mengenai pendidikan agama Islam sudah sekian banyak dilaksanakan. Dalam konteks nasional, bahkan isu itu mengemuka secara inheren setiap kali muncul permasalahan dalam pendidikan nasional. Ketika orientasi dan tujuan pendidikan di Indonesia dibicarakan, masalah pendidikan agama Islam pasti menjadi salah satu topik pembahasan.
Mengapa kenyataan di atas selalu muncul, hal ini tidak akan terlepas dari berbagai faktor yang melatarinya di antaranya, berhubungan dengan fakta bahwa pendidikan agama Islam di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang. Selama sekian abad pendidikan agama Islam merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, sebelum penjajah Belanda memperkenalkan sistem pendidikan modern sekitar abad ke-19. Lembaga pendidikan seperti surau, majelis taklim, pesantren, dan madrasah sudah diterima dan memiliki basisnya sendiri yang sangat kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Pendidikan agama Islam pada dasarnya dapat dipahami dalam tiga aspek. Pertama, sebagai sumber nilai adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat citacita untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam , baik yang tercermin dalam nama lembaganya maupun dalam kegiatan yang diselenggarakan.
Kedua, sebagai bidang studi, sebagai ilmu, dan diperlakukan sebagai ilmu yang lain adalah jenis pendidikan yang memberikan perhatian sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan untuk program studi yang diselenggarakan. Ketiga, jenis pendidikan yang mencakup kedua pengertian di atas.
Di sini kata Islam ditempatkan sebagai sumber nilai sekaligus sebagai bidang studi yang ditawarkan melalui program studi yang diselenggarakan. Kemudian, dalam perkembangan sejak satu dasawarsa yang silam, pendidikan agama Islam memiliki tempat yang sangat strategis, dikaitkan dengan cita-cita pembangunan nasional yang ingin menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya yang antara lain dicerminkan oleh kekuatan iman dan takwa. Dalam hal ini jelas bahwa pendidikan agama Islam dengan leluasa masuk dalam agenda pembangunan pendidikan nasional.
Faktor lain adalah berkaitan dengan kegairahan umat Islam Indonesia yang mulai menyadari untuk bangkit, berusaha mengaktualisasikan semua ajaran dalam institusi keagamaannya, termasuk pendidikan, dalam rangka membangun masa depan Indonesia yang lebih baik dengan dilandasi oleh nilai-nilai religius dan moral yang kuat. Oleh karena itu, sekarang pendidikan agama Islam bukan lagi merupakan second choice, tetapi justru first choice.
Pendidikan Agama Islam dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama.
Jika hal tersebut dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia dan menjadi dasar kepribadian, maka manusia Indonesia akan menjadi manusia yang paripurna atau insan kamil. Dengan dasar inilah agama menjadi bagian terpenting dari pendidikan nasional yang berkenaan dengan aspek pembinaan sikap, kepribadian, moral dan nilai- nilai ahlak al-karimah.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, Mastuhu dalam Abuddin Nata, mengungkapkan bahwa pendidikan agama Islam di Indonesia harus benar-benar mampu menempatkan dirinya sebagai suplemen dan komplemen bagi pendidikan nasional, sehingga sistem pendidikan
nasional mampu membawa cita-cita nasional, yakni bangsa Indonesia yang modern dengan tetap berwajah iman dan takwa.
Implikasi dari pemaknaan pendidikan agama Islam adalah reposisi pendidikan agama Islam dalam sistem pendidikan nasional.
Mengenai reposisi pendidikan agama Islam dalam pendidikan nasional, Ada tiga alasan, pertama, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar pendidikan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam (Tauhid); kedua, pandangan terhadap manusia sebagai makhluk jasmani- rohani yang berpotensi untuk menjadi manusia bermartabat (makhluk paling mulia); ketiga, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi (fitrah dan sumber daya manusia) menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur (akhlak mulia), dan memiliki kemampuan untuk memikul tanggung jawab sebagai individu dan anggota masyarakat.
Ditinjau dari tataran universalitas konsep Pendidikan agama Islam lebih universal karena tidak dibatasi negara dan bangsa, tetapi ditinjau dari posisinya dalam konteks nasional, konsep pendidikan Islam menjadi subsistem pendidikan nasional. Karena posisinya sebagai subsistem, kadangkala dalam penyelenggaraan pendidikan hanya diposisikan sebagai suplemen. Mengingat bahwa secara filosofis (ontologis dan aksiologis) pendidikan agama Islam relevan dan merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional, bahkan secara sosiologis pendidikan Islam merupakan aset nasional, maka posisi pendidikan Islam sebagai subsistem dari pendidikan nasional bukan sekadar berfungsi sebagai suplemen, tetapi sebagai komponen substansial.
Pendidikan agama Islam merupakan komponen yang sangat menentukan perjalanan pendidikan nasional. Terlepas dari nilai-nilai agama yang menjadi dasar dari pendidikan nasional, pendidikan agama sempat menjadi masalah ketika masuk dalam sistem pendidikan nasional.
Persoalan yang diperdebatkan adalah posisi pendidikan agama tertentu dalam lembaga pendidikan agama tertentu. Misalnya, pada lembaga
pendidikan Islam terdapat siswa yang bukan muslim, mungkinkah bisa diajarkan pendidikan agama lain pada lembaga tersebut dan atau sebaliknya.
Persoalan ini sempat menyeruak ketika terjadi pengesahan undangundang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. Meski demikian, perdebatan yang menimbulkan pro-kontra tersebut dapat terselesaikan dengan cara yang lebih demokratis, realistik dan sesuai dengan kebebasan serta upaya menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dengan demikian, Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 merupakan wadah formal terintegrasinya pendidikan agama Islam dalam sistem pendidikan nasional.
Dengan adanya wadah tersebut, pendidikan agama Islam mendapatkan peluang serta kesempatan untuk terus dikembangkan.
Dengan demikian perlu kiranya dilakukan kerjasama yang sinergis antara Kemenag dan Depdiknas serta kementerian lain untuk secara serius mengembangkan pendidikan agama Islam. Sebab, apapun adanya, pendidikan agama Islam merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Artinya jika saat ini masih dipahami posisi pendidikan agama Islam sebagai subsistem dalam konteks pendidikan nasional, sekadar berfungsi sebagai pelengkap (suplemen) maka hendaklah terjadi pergeseran peran dari sekadar suplemen menjadi bagian yang juga turut berperan dan menentukan (substansial).
Hanya saja, jika masih tetap dalam posisi yang sama maka sudah selayaknya Kementerian Agama memberikan hak pengaturan pendidikan kepada Depdiknas, sehingga untuk masa mendatang, pengaturan masalah pendidikan berada pada satu unit Kementerian saja.
Pendidikan agama Islam pada dasarnya sebagai sumber nilai yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat citacita untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam, selain itu pendidikan agama Islam juga sebagai suatu bidang studi. Sistem pendidikan agama Islam di Indonesia adalah lebih menekankan kepada aspek keimanan dan keyakinan dalam beragama. Pendidikan agama Islam
merupakan suatu program pendidikan yang menanamkan nilai-nilai ajaran Islam, melalui proses pembelajaran, dikemas dalam mata pelajaran, yang diberi nama Pendidikan Agama Islam (PAI), baik di sekolah umum maupun sekolah di bawah naungan kementerian Agama.
Pendidikan agama Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional merupakan penghapusan dikotomi ilmu umum dan ilmu agama, madrasah mengalami perubahan definisi, dari sekolah agama menjadi sekolah umum. Perubahan definisi ini penting artinya, karena dengan demikian berarti madrasah tidak hanya mendapat legitimasi sepenuhnya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Akan tetapi, perubahan definisi itu selanjutnya menuntut ada perubahan kurikulum. Karena madrasah tidak lagi sekolah agama, maka kurikulumnya harus didominasi oleh mata pelajaran umum.
Meski pendidikan agama Islam memiliki peran dalam konteks pendidikan nasional, hanya saja harus pula dimaklumi dan dipahami jika hingga hari ini secara kelembagaan, pendidikan agama Islam kerap menempati posisi kedua dalam banyak situasi, dan harus diakui hingga saat ini posisi pendidikan agama Islam belum beranjak dari sekadar sebuah subsistem dari sistem pendidikan nasional.
Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengalaman nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan.
Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutsn visi ini mendorong dikembangkannya standar
kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:
a. Lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi.
b. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
c. Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan (Peraturan Menteri Nomor 22 tahun 2006,2006:1).
Pendidikan Agama Islam adalah proses belajar mengajar dengan bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan nilai-nilai ajaran ama Islam dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukran Islam ( Ahmad D.Rimba,1986:5).
2. TujuanPendidikan Agama Islam
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan kearah mana kegiatan itu dibawa ( Syaiful Bahri,1997:48).
Pendidikan Agama Islam di SMA/MA bertujuan untuk:
1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
2. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan
sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah).
Pendidikan agama memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Pendidikan Agama Islam (PAI) misalnya, memiliki
karakteristik sebagai berikut (Muhaimin. 2006: 101-102).
1. PAI berusaha untuk menjaga akidah peserta didik agar tetap kokoh dalam situasi dan kondisi apa pun;
2. PAI berusaha menjaga dan memelihara ajaran dan nilai-nilai yang tertuang dan terkandung dalam Alquran dan Hadis serta otentisitas keduanya sebagai sumber utama ajaran Islam;
3. PAI menonjolkan kesatuan iman, ilmu dan amal dalam kehidupan keseharian;
4. PAI berusaha membentuk dan mengembangkan kesalehan individu dan sekaligus kesalehan sosial;
5. PAI menjadi landasan moral dan etika dalam pengembangan ipteks dan budaya serta aspek-aspek kehidupan lainnya;
6. Substansi PAI mengandung entitas-entitas yang bersifat rasional dan supra rasional;
7. PAI berusaha menggali, mengembangkan dan mengambil ibrah dari sejarah dan kebudayaan (peradaban) Islam; dan
8. Dalam beberapa hal, PAI mengandung pemahaman dan
penafsiran yang beragam, sehingga memerlukan sikap terbuka dan toleran atau semangat ukhuwah Islamiyah.
Tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir