1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Film adalah sebuah media audio visual yang bisa dinikmati oleh siapapun. Film pada umumnya menggambarkan tentang fiktif atau khayalan maupun non fiktif atau nyata. Berdasarkan fungsinya, film dibuat yaitu bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada orang lain atau pemirsa. Pembuat film mencoba untuk melakukan proses komunikasi melalui media film (Nugroho, 2014:12).
Selain membentuk konstruksi masyarakat akan suatu hal, film juga merupakan rekaman realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikannya ke atas layar (Sobur, 2017:127). Dalam hal lain, konstruksi dalam relasi gender tersusun dari agama, budaya, ekonomi, politik, atau lingkungan fisik suatu tempat yang saling berkaitan. Sehingga jika tidak ada semua unsur pembentuk relasi gender akan terjadi ketidakseimbangan pola relasi gender. Gender adalah persoalan budaya yang mengatur konstruksi sosial lelaki, perempuan, dan hubungan-hubungan sosial di antara mereka.
Pada era reformasi tahun 1998 sampai dengan sekarang banyak film Indonesia yang mengangkat tentang gender diantaranya; Poligami (2006) membahas permasalahan yang dihadapi perempuan dari sisi dimadu suami (poligami), Perempuan Punya Cerita (2008) membahas reproduksi perempuan (seks, pelecehan, HIV, aborsi), Under the Tree (2009) membahas permasalahan yang dihadapi perempuan dari sisi kasih sayang, hamil, bunuh diri serta perdagangan bayi, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2011) membahas lingkungan yang membuat Kartini tidak ingin menikah, Surat Cinta untuk Kartini (2016) membahas perempuan yang ingin mendobrak tradisi agar perempuan terdidik, Kartini (2017) membahas Kartini memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang terutama untuk perempuan. Film-film tersebut membahas ketidakadilan dan kesetaraan gender.
Dari film-film di atas menampilkan sosok perempuan dari daerah tertentu, yang di mana perempuan sebagai tokoh utama dan tokoh figuran yang mendukung
2 tokoh utama laki-laki. Isu perempuan tidak pernah habis dibicarakan terkait dengan kesetaraan maupun ketidakadilan gender dan paham patriarki di Indonesia bahwa kekuasaan laki-laki yang menentukan keputusan kehidupan perempuan. Film-film tersebut juga menampilkan ketidakseimbangan pola relasi gender antara suami istri dalam keluarga. Pola relasi gender terdiri dari segi kekuasaan dan status, komunikasi non verbal, serta pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan.
Film Indonesia pada abad ke-20 mulai mengangkat unsur budaya suatu daerah untuk membuat cerita film lebih menarik. Hal tersebut menarik perhatian para sineas dan penonton karena mengangkat sisi kehidupan yang berbeda. Dari website kompas.com yang menyatakan bahwa sudah diproduksi film Uang Panai, film Silariang, dan film Athirah. Hal ini dibuktikan bahwa minimnya film yang berlatar budaya suku Bugis terutama relasi gender yang menggambarkan karakter orang Bugis antara laki-laki dan perempuan khususnya dalam keluarga.
Salah satu film yang mengangkat budaya suku bugis dan kental tentang relasi gender adalah film “Athirah” yang disutradarai oleh Riri Riza. Film yang dirilis pada tanggal 29 September 2016 dengan genre drama dan diadaptasi dari novel biografi. Film ini berhasil meraih enam piala citra dari sepuluh nominasi pada ajang Festival Film Indonesia 2016. Secara singkat film tersebut berlatarkan budaya suku Bugis yang menceritakan karakter perempuan suku Bugis yang hidup di awal abad ke-19. Relasi gender yang terlihat antara tokoh utama perempuan (Emma) dengan laki-laki (Bapak), yang di mana perempuan memiliki banyak anak, ahli memasak, menenun sarung, menyimpan emas sebagai aset hidup untuk kehidupan selanjutnya, serta dimadu suami dengan kata lain dipoligami. Akan tetapi di dalam film ini tidak dijelaskan penyebab dipoligaminya Emma, dalam film tersebut hanya memperlihatkan bapak yang tiba-tiba memiliki istri kedua. Film tersebut juga membahas tentang agama dari segi mengucapkan salam, mendirikan sholat, dan membaca al-qur’an serta kisah asmara Jusuf Kalla dengan istrinya yang bernama Mufidah.
Secara visual yang menggambarkan relasi gender perempuan suku Bugis pada karakter Emma dalam film Athirah dapat menggunakan simbol sebagai proses analisis. Simbol merupakan objek atau penelitian apapun pada sesuatu (James P. Spradley dalam Sobur, 2015:154). Melalui simbol berupa adegan relasi gender
3 yang terdapat pada film Athirah pada karakter Emma. Dilihat dari sudut pandang sang sutradara ini tergambar di dalam salah satu unsur sinematik yaitu Mise èn Scene. Mise èn Scene adalah segala hal yang terletak di depan kamera yang akan diambil gambarnya dalam sebuah produksi film (Pratista, 2008:61). Sehingga Mise èn Scene dapat digunakan untuk mengetahui relasi gender perempuan suku Bugis yang ingin disampaikan sutradara.
Penulis juga menggunakan semiotika Roland Barthes untuk menemukan makna denotasi, makna konotasi serta mitos karena film umumnya dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerja sama dengan baik dalam upaya mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara; kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film (Sobur, 2017:128). Mitos juga muncul jika dikaitkan dengan budaya patriarki yang akan dilihat dari sudut pandang suku Bugis. Dari hal tersebut dapat ditemukan mitos relasi gender suku Bugis pada film tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat topik tentang relasi gender suku Bugis pada karakter Emma dalam film Athirah karya Riri Riza tersebut. Dengan menganalisis film tersebut, penulis berharap dapat memahami relasi gender suku Bugis dan mitos melalui mise èn scene dengan semiotika Roland Barthes. Oleh karena itu, topik penelitian ini adalah “Konstruksi Relasi Gender Suku Bugis pada Karakter Emma dalam Film Athirah”
1.2 Identifikasi Masalah
Dengan melihat latar belakang masalah di atas, penulis menuliskan identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Tidak lengkapnya unsur penyusun (konstruksi) relasi gender akan mengakibatkan ketidakseimbangan pola relasi gender dalam film Athirah. 2. Perlunya membahas mitos relasi gender khususnya perempuan dalam film
Indonesia terutama pada film Athirah.
3. Kurangnya film di Indonesia yang mengangkat budaya suku Bugis. 4. Perlunya membahas relasi gender melalui mise èn scene dengan semiotika
4 1.3 Batasan Masalah
Setelah mengidentifikasi masalah yang sudah ada serta untuk pembahasan yang lebih terfokus, maka perlu adanya pembatasan masalah yaitu penulis akan memfokuskan permasalahan dengan konstruksi relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma pada film Athirah. Melalui pendekatan analisis semiotika Roland Barthes yang mengkaji tentang tanda dalam suatu konteks gambar, teks, dan adegan didalam film Athirah dari Mise èn Scene.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana konstruksi relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma pada Mise èn Scene film Athirah?
2. Bagaimana mitos relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma pada Mise èn Scene film Athirah?
1.5 Tujuan Penelitian
Setelah meninjau dari keseluruhan rumusan masalah di atas, maka penulis memiliki tujuan dari penelitian ini, sebagai berikut:
1. Untuk memahami konstruksi relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma pada Mise èn Scene film Athirah.
2. Untuk memahami mitos relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma pada Mise èn Scene film Athirah.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang di harapkan penulis dari penelitian skripsi ini: 1.6.1 Manfaat Teoritis
Penelitian film Athirah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang konstruksi relasi gender yang terdapat pada film, dan dapat menunjang hasil penelitian dari metode kualitatif dan analisis semiotika yang digunakan pada proses penelitian.
5 1.6.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat memperkaya wawasan tentang relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma pada film Athirah serta memahami simbol berupa adegan yang terdapat pada film Athirah pada karakter Emma tervisualisasikan.
2. Bagi Universitas
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman civitas universitas dalam memahami simbol melalui sebuah film Athirah.
3. Bagi Masyarakat
Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat terhadap budaya yang ada di Indonesia khususnya budaya suku Bugis dalam film Athirah.
1.7 Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Cevilla G. Convello (1993:73), penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa saja yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mengungkapkan fakta, fenomena, variabel, dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan semiotika Roland Barthes (Barthes dalam Kurniawan, 2001:49), semiotika merupakan suatu studi ilmu untuk mengkaji tanda dalam suatu konteks, skenario, gambar, teks, dan adegan di film menjadi suatu yang dapat dimaknai. Hal tersebut dilakukan untuk membuktikan film Athirah telah merepresentasikan dan mengandung narasi dan visual perempuan suku Bugis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan cultural studies. Menurut Hall (Ida, 2014:1), pendekatan cultural studies adalah sebuah cluster (atau formasi) ide-ide, gambaran-gambaran (images), dan praktik-praktik (practies) yang menyediakan cara-cara menyatakan, bentuk-bentuk pengetahuan, dan tindakan yang terkait dengan topik tertentu, aktivitas sosial atau tindakan institusi dalam masyarakat. Metode penelitian yang akan digunakan sebagai berikut:
6 1.7.1 Metode Pengumpulan Data
Penulis memiliki peran penuh dalam proses pengumpulan data yang relevan untuk menunjang penelitian. Berikut cara yang digunakan dalam pengumpulan data:
1. Studi Visual
Studi visual yang dilakukan merupakan data yang diperoleh langsung dari film yang berjudul Athirah yang disutradarai oleh Riri Riza, dengan mengumpulkan screenshot-screenshot bagian pada film yang akan di analisis. Film Athirah ini rilis pada tanggal 29 September 2016 dengan genre drama dan diadaptasi dari novel biografi
2. Studi Pustaka
Studi pustaka disebut juga teknik baca yang merupakan aktivitas penelitian yang dilakukan dengan cara memfokuskan penelitian pada objek yang diteliti. Penulis menggunakan teknik baca untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan dalam proses analisis (Ratna, 2010:245). Data dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, misalnya novel dan poster. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah novel dan poster film Athirah.
2) Data Sekunder
Data sekunder merupakan data pendukung yang diambil dari sumber lain yang mendukung atau melengkapi data primer dalam proses penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah berasal dari buku, jurnal, tugas akhir (skripsi), dan website.
7 1.7.2 Metode Analisis Data
Setelah pengumpulan data, penulis melakukan analisis data. Data primer film Athirah yang diklasifikasikan berdasarkan karakter dan dianalisis dengan menggunakan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menganalisis relasi gender suku Bugis dan menganalisis mitos relasi gender suku Bugis dalam karakter Emma melalui mise èn scene. Analisis relasi gender suku Bugis dilakukan dengan menggunakan teori gender dan peran gender suku Bugis untuk menemukan seperti apa relasi gender suku Bugis dalam film Athirah. Kemudian beberapa adegan dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes untuk menemukan makna denotasi, konotasi, serta mitos.
1.7.3 Prosedur Analisis Data
Schatzman dan Strauss (1973) menyatakan bahwa analisis data kualitatif utamanya melibatkan pengklasifikasian benda, orang, dan peristiwa, serta properti lain yang mencirikan ketiganya (Creswell, 2017:281). Adapun tahapan dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:
1. Pengelompokkan scene berdasarkan pola relasi gender yang terdiri dari pembagian kerja, kekuasaan dan status, serta komunikasi non verbal.
2. Scene yang telah dipilih dan diklasifikasikan berdasarkan karakter Emma akan dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes yang digunakan sebagai metode untuk mengetahui relasi gender suku Bugis dan mitos pada karakter Emma.
3. Analisis relasi gender suku Bugis dan mitos dikaitkan dengan konteks fisik (meliputi peristiwa, latar, dan karakter) untuk dimaknai secara denotasi, kemudian dimaknai secara konotasi serta menemukan mitos.
8 1.8 Kerangka Penelitian
Bagan 1.1. Kerangka Penelitian Sumber: Dokumen Penulis, 2018 Relasi Gender pada Film Athirah
FILM ATHIRAH
Bagaimana Konstruksi Relasi Gender Suku Bugis dalam Film Athirah
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konstruksi relasi gender suku bugis dalam karakter Emma pada mise èn scene film Athirah?
2. Bagaimana mitos relasi gender suku bugis dalam karakter Emma pada mise èn scene film Athirah?
Landasan Teori Metodologi Penelitian Kebudayaan Konstruksi dalam Representasi Film Kualitatif Pendekatan Cultural Studies Metode Analisis Semiotika Roland Barthes
Budaya Suku Bugis
Relasi Gender Suku Bugis
Mise èn Scene
Konstruksi Relasi Gender Suku Bugis pada Karakter Emma dalam Film Athirah (2016) Screenshot adegan yang sudah dipilih untuk mengetahui simbol relasi
gender suku Bugis dan mitos pada karakter Emma
9 1.9 Pembabakan
Penulisan skripsi ini terbagi menjadi lima bab, yaitu:
BAB I Pendahuluan
Terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian, cara pengumpulan data, kerangka penelitian serta pembabakan.
BAB II Landasan Teori
Menjelaskan dasar dari teori-teori yang relevan sebagai panduan dalam penelitian.
BAB III Data Penelitian
Berisi data yang berkaitan dengan penelitian berupa hasil dokumentasi, tinjauan pustaka, dan studi literatur yang dibuat dalam penelitian.
BAB IV Analisis Data
Berisi data penelitian mengenai adegan-adegan yang sudah diklasifikasi untuk dianalisa sehingga menghasilkan penafsiran dari hasil pembahasan. Analisa dilakukan dengan menggunakan potongan adegan dalam film untuk kemudian dihubungkan dengan teori-teori yang digunakan.
BAB V Penutup