• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tike Malaha Membangun SDM dan Mempererat Silaturrahim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tike Malaha Membangun SDM dan Mempererat Silaturrahim"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

Lawatan

Komisi III DPR RI

Diklat Samapta

Gerakan

AYO KERJA..!

Peran Strategis

Kemenkumham

Dalam Ketahanan Pangan

Tike Malah a

Membangun SDM dan Mempererat Silaturrahim

Kami P ASTI

Menjaga Ketahanan Pangan

dari balik tembok penjara

Implementasi

UU OBH

(2)

Kata Pengantar

Salam Pembaharuan.... Kami PASTI...!!!

Tike Malaha adalah dua kata yang diambil dari bahasa Ternate, sengaja dipilih untuk dijadikan nama buletin yang diterbitkan ini bukanlah tanpa alasan, selain karena berdasarkan lokasi kantor wilayah berada, juga mempunyai makna filosofi yang universal sesuai dengan kultur dan sosial budaya masyara- kat setempat. Kata “Tike” artinya ; mencari, pencarian, menelusuri, mengungkap. Sedangkan “Malaha”;

kebaikan, memperbaiki, membenarkan. Sehingga kata ( Tike Malaha : mencari kebaikan) dalam artian bahwa secara terus menerus melakukan pengembangan diri agar bisa menjadi bagian dari suatu penca- paian kebaikan, selalu netral dalam berbagai hal dan mempunyai visi kedepan maupun komitmen yang tinggi untuk berubah agar terus melangkah maju kearah yang lebih baik berdasarkan norma-norma dan aturan yang ada, yang terintegrasi dalam (sami’na wa atha’nah) melaksanakan sepenuh hati dengan tulus, menjaga agar kehidupan tetap aman dan damai. Tujuan baik seperti inilah yang kemudian akan menjadi landasan atau fondasi yang kokoh sesuai harapan dari agenda reformasi birokrasi dengan menjunjung tinggi keadilan, kejujuran, serta kemaslahatan atau terhimpun dalam kalimat “highlest good” kebaikan bersama, dan hidup yang baik good life.

Konsep sederhana yang bersandar pada kultur dan sosial budaya setempat Tike Malaha meru- paka falsafah hidup yang secara turun temurun terus dijaga dan dikembangkan mengikuti dinamika perkembangan kehidupan modern tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar yang telah terpatri dalam hati sejak masih usia akil baliq, proses ini biasa disebut dengan inforient yaitu proses transisi pola pikir, dalam arti bahwa dalam perjalanan mengarungi gegap gempitanya kehidupan duniawi pasti akan terjadi ban- yak fenomena sebagai pelajaran dan pengalaman baru nantinya.

Buletin Tike Malaha hadir antara lain untuk mengeksploitasi berbagai bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara sebagai salah satu bentuk dukungan penuh terhadap semangat reformasi birokrasi yang saat ini terus menerus digencar-gencarkan oleh pemerintah. Relevansi Buletin Tike Malaha turut serta mendorong demi terbentuknya good gover- nance sesuai dengan harapan dan cita-cita pembangunan nasional yang diinginkan.

Upaya untuk diterbitkannya Buletin Tike Malaha edisi perdana ini selain merupakan salah satu representasi dari motto Kementerian Hukum dan HAM yakni, Harmoni Dalam Gerak dan Langkah, men- goptimalkan sumber daya manusia dan sarana untuk silaturrahmi, juga sebagai wadah interaktif dengan berbagai komponen masyarakat dalam menyampaikan informasi dan bentuk pertanggung jawaban sosial atas apa yang selama ini telah di lakukan oleh Kantor Wilayah Maluku Utara khususnya dan Kementerian Hukum dan HAM RI pada umumnya, Semoga.

Tim Redaksi

(3)

Sekretariat Sub. Bagian Laporan, Humas & IT

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara

Jl. Cengkeh Afo, No 40 Batu Anteru, Ternate, Maluku Utara

Redaksi menerima sumbangan artikel, opini dan laporan kegiatan disertai foto pendukung.

Drs. Agus Rawan, SH., MM., M.Si Penanggung Jawab

Kadiv Administrasi: Dra. Anita Nurlette, MH Kadiv Yankum: Dra. M.J. Mataheru, MH Kadiv PAS: Pargiyono, Bc.IP, SH., MH Kadiv Imigrasi: Dodi K. Atmaja Halilintar Redaktur

Kabag PPL: Ismail, SH., MH

Kasub. Bag. Laporan, Humas & IT: M. M. Marasabessy, SH Penyunting / Editor

Muhammad M. Marasabessy, SH Redaksi Pelaksana

Sri Yanto, SE

Muhammad Iqbal, SE Design Graphic Sri Yanto, SE Fotografer Sri Yanto, SE

Muhammad Iqbal, SE

DAfTAR ISI

KaTa PEnGanTaR DaFTaR ISI

LIPUTAN KANWIL

04 Lawatan Komisi III DPR RI 13 Universitas Terbuka

Meningkatkan Kualitas Pendidikan 15 Diklat Samapta

17 Diklat Perencanaan anggaran Untuk Meningkatkan Target Kinerja 20 Deklarasi Gerakan ayo Kerja Kami Pasti

Mengawali Revolusi Mental

19 Rapat Persiapan Hari Dharma Karyadhika 38 Kegiatan Dalam Gambar

ARTIKEL

09 Peran Strategis Kementerian Hukum dan HaM dalam Ketahanan Pangan

24 Menjaga Ketahanan Pangan Dari Balik Tembok Penjara

29 Implementasi UU no. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum

32 Berpikir Strategik, Bagia Integral Tak

Terpisahkan Sebagai Seorang aSn Yang Handal 33 Pesona Batu Bacan

(4)

K Di Prov Maluku Utara

omisi Dewan Perwakilan Rakyat adalah unit kerja utama dalam Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia yang membidangi masalah-masalah tertentu. Hampir seluruh aktivitas yang berkaitan dengan fungsi-fungsi DPR, substansinya dikerjakan di dalam komisi. Setiap anggota DPR (kecuali pimpinan) harus menjadi anggota salah satu komisi. Pada umumnya, pengisian keanggotan komisi terkait erat dengan latar belakang keilmuan atau penguasaan anggota terhadap ma- salah dan substansi pokok yang digeluti oleh komisi.

Berdasarkan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 16/DPR RI/II/2014-2015 Tentang Penetapan Kembali Mitra Kerja Komisi-Komisi DPR RI Masa Keanggotaan Tahun 2014-2019, ruang lingkup dan pasangan kerja Komisi III adalah sebagai berikut: Hukum, HAM dan Keamanan. Sedangkan pasangan kerjanya adalah:

(5)

1. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia 2. Kejaksaan Agung

3. Kepolisian Negara Republik Indonesia 4. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

5. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM)

6. Komisi Hukum Nasional 7. Setjen Mahkamah Agung 8. Setjen Mahkamah Konstitusi 9. Setjen Komisi Yudisial

10. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)

11. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

12. Badan Narkotika Nasional (BNN)

13. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)

14. Setjen MPR 15. Setjen DPD

Sesuai tugas pokok dan fungsi Komisi III yakni membidangi Hukum, HAM dan Keamanan yang salah satu partner kerjanya adalah Kementerian Hukum dan HAM. Memasuki Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2014 – 2015, rombongan Anggota Komisi III DPR RI sebanyak 13 orang serta dari sekretariat dan pendamping dari masing-masing instansi sebanyak 9 orang yang diketuai oleh Desmond Djunaedi Mahesa melakukan kunjungan kerja ke Prov. Maluku Utara. Dalam lawatannya kali ini, Komisi III fokus pada kunjungan ke Rutan Klas IIB Ternate, Lapas Klas IIA Ternate, Imigrasi Klas I Ternate serta Rapat Jajak Pendapat dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara, Polda Maluku Utara, Pengadilan Tinggi Maluku Utara, Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara, Kejaksaan Tinggi Maluku Utara serta BNN Prov.

Maluku Utara.

Kepala Biro Humas dan Luar Negeri Kementerian Hukum dan HAM RI ferdinand Siagian pun ikut mendampingi rombongan Tim Komisi III yang tiba di Bandara Baabullah Ternate pada Minggu 3 Mei 2015 pukul 07.00 WIT dengan menump- ang pesawat Garuda.

Sebelum melakukan kunjungan ke Rutan Klas IIB Ternate serta Lapas Klas IIA Ternate, Rombongan Komisi III mendapat undangan oleh Gubernur Maluku Utara sehingga mengharuskan mereka untuk melakukan penyeberangan ke Sofifi (Ibu Kota Provinsi) di Pulau Halmahera.

Sekembalinya rombongan Komisi III dari Sofifi langsung berkunjung di Rumah Tahanan Negara Klas IIB Ternate yang terletak sekitar 50 meter dari bibir pantai atau pelabuhan speed dengan berjalan kaki.

Mengutip apa yang disampaikan oleh Desmond Junaidi Mahesa bahwa Rutan Klas IIB Ternate saat didalam area blok tahanan saat bersama Kakanwil Agus Rawan dan para pejabat lainnya bahwa kondisi bangunan pad Rutan Klas IIB Ternate saat ini memang sudah tidak layak huni.

Dia menambahkan bahwa blok napi dan sarana prasarana yang ada juga tidak mencermink- an nilai-nilai HAM. Mengapa demikian, karena Rutan Klas IIB Ternate ini adalah merupakan bangunan penjara yang dibangun sekitar tahun 1800-an pada era penjajahan Belanda yang ber- fungsi untuk mengasingkan para pejuang bang- sa yang tidak menaati perintah para meneer.

Selain kecil, sempit dan sarana prasarana yang tidak mendukung Rutan ini juga sudah men- galami over kapasitas. Untuk itu diharapkan agar segera merelokasi para tahanan / narapidana ke rutan yang baru yang lebih layak dan mencer- minkan nilai-nilai HAM, ungkap Desmond. Para Anggota Komisi III yang lain pun ikut meng- amini pendapat yang diungkapkan oleh Desmod tersebut.

(6)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Pada kesempatan yang lain, Rombongan Anggota Komisi III juga menyempatkan diri melihat lokasi bangunan Rutan Klas IIB yang baru. Secara kes- eluruhan mereka mengatakan bahwa bangunan Rutan yang baru ini bagus, lebih layak dan mencer- minkan nilai-nilai HAM jika dibandingkan dengan bangunan lama, mengingat bangunan Rutan lama di setiap blok tahanan/napi tidak terdapat WC sehingga apabila tahanan/ napi hendak buang air kecil terpaksa mereka harus menggunakan corong minyak yang disambung dengan selang yang dihubungkan ke selokan blok. Desmond juga menambahkan bahwa perlu ada sedikit perbaikan pada bangunan Rutan yang baru seperti pagar keliling, halaman rutan yang belum di aspal atau paving serta rumah dinas pegawai.

Kakanwil Agus Rawan sedikit menambahkan bahwa seandainya para tahanan/ narapidana dapat segera direlokasi ke bangunan rutan yang baru maka setiap malam ketika mereka tidur harus menggunakan selimut, mengingat bangunan blok yang baru sudah bagus dan besar sehingga para tahanan/ narapidana tidak perlu tidur berdesak- desakan, berbeda dengan bangunan lama yang sudah tidak layak huni, tidak mencerminkan nilai- nilai ham serta over kapasitas.

Dalam lawatannya di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Ternate, para rombongan Anggota Komisi III DPR RI terlihat asyik mendengarkan beberapa keluhan oleh para narapidana khusus yakni kasus korupsi kaitannya dengan tuntutan jaksa serta putusan hakim. Namun secara keseluruhan, para tahanan dan narapidana yang berada di Lapas Klas IIA Ternate cukup puas dengan sarana prasarana yang ada juga terpenuhinya semua hak Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Bahkan beberapa narapidana mengatakan bahwa Kakanwil Drs. Agus Rawan ini sangat dekat dengan para tahanan dan narapidana. Segala hak WBP tidak pernah ditahan- tahan, jadi kalau boleh masa jabatan kakanwil sebaiknya ditambah lagi setahun untuk tetap men- gabdi di Maluku Utara ungkap narapidana tersebut.

Sedangkan untuk kunjungan di Kantor Imigrasi

Klas I Ternate tidak jadi dilaksanakan mengingat tidak tersedianya cukup waktu.

Pada malam harinya bertempat di Ballroom Gamalama Bella International Hotel Ternate pukul 19.30 hingga pukul 22.30, dilangsungkan Rapat Kerja (Raker) antara Komisi III DPR RI dengan instansi vertikal di Maluku Utara yang membidangi Hukum dan HAM. Dalam rapat jajak pendapat tersebut dihadiri oleh 6 (enam) instansi vertikal yakni Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara, Polda Maluku Utara, Kejaksaan Tinggi Maluku Utara, Pengadilan Tinggi Maluku Utara, Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara serta BNN Provinsi Maluku Utara.

Pimpinan rapat dari Komisi III DPR RI Desmond Djunaedi Mahesa memberikan kesempatan kepada masing-masing instansi untuk memaparkan segala permasalahan yang ada dan dilanjutkan dengan tanya jawab.

Kakanwil Drs. Agus Rawan, SH., MM., M.Si di damp- ingil oleh para Kepala Divisi yakni Kepala Divisi PAS Pargiyono, Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM M.J. Mataheru, Kepala Divisi Imigrasi Dodi Karnida A. H serta pada Kepala Unit Pelaksana Teknis baik Pemasyarakatan maupun Imigrasi memaparkan segala permasalahan yang ada.

(7)

Ada tiga poin penting yang disampaikan oleh Kakanwil dalam rapat kerja tersebut diantaranya:

1. Over Capacity. Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di Maluku Utara yang men- galami kelebihan penghuni adalah Rutan Klas IIB Ternate. Rutan tersebut adalah bangu- nan bersejarah peninggalan masa penjajahan Belanda yang dibangun pada tahun 1800-an.

Kapasitas hunian tahanan/ narapidana seban- yak 75 orang, sedangkan jumlah tahanan/ napi sampai saat ini sebanyak 167 orang (kelebihan 92 orang atau 122,67%) dari kapasitas hunian yang ada.

2. Kabupaten Morotai yang merupakan kabupat- en termuda di Prov. Maluku Utara merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Philipina. Secara geografis, Kab. Pulau Morotai merupakan daerah kepu- lauan, oleh karena itu sangat rentan terhadap segala bentuk kejahatan seperti Illegal fishing, Imigran Gelap, serta penyelundupan produk melalui laut. Untuk itu, Divisi Imigrasi perlu adanya kapal untuk pengawasan orang asing di Wilayah Perairan Maluku Utara, selain itu perlu juga adanya Pos Imigrasi di Kab. Pulau Morotai. Sesuai amanat PP No. 27 Tahun 1983 Tentang Pelaksanaan KUHP Bab 8 pasal 18 ayat 1 menyatakan bahwa ditiap ibukota kabu- paten/ kotamadya dibentuk rutan oleh men- teri. Untuk itu diharapkan agar di Kab. Pulau Morotai juga terdapat Rumah Tahanan Negara.

3. Kurangnya Sumber Daya Manusia baik dibidang Administrasi maupun teknis juga menjadi ken- dala. Jumlah Tahanan/ Narapidana sampai den- gan Bulan April 2015 di Maluku Utara seban- yak 836 sedangkan Tenaga Pengamanan (Sipir) hanya 165 orang. Misalnya untuk Cabang Rutan Labuha bahwa Tenaga Pengamanan/

Sipir dalam 1 kali shift hanya 5 orang tenaga pengamanan (sipir) sedangkan tahanan/ napi sebanyak 136 orang. Artinya, setiap 1 orang sipir wajib menjaga napi/ tahanan sebanyak 27 orang, padahal idealnya seorang sipir menjaga 4 orang tahanan/ napi.

Untuk itu melalui jajak pendapat dalam Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI ini Kakanwil meminta agar segala permasalahan yang ada di jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Utara bisa diperhatikan dan dapat terselesaikan.

(8)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

(9)

PERAN STRATEGIS KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM DALAM KETAHANAN PANGAN

ebutuhan pangan merupakan kebu- tuhan dasar manusia yang pemenu- hannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujud- kan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasi- onal. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 pasal 27 serta Undang-undang No 7 Tahun 1996 tentang Pangan.

Pada tahun 1987, World Commision on Environment and Development (WCED) menyerukan perhatian pada masalah besar dan tantangan yang dihad- api pertanian dunia, jika kebutuhan pangan saat ini dan mendatang harus ter- penuhi, dan perlunya suatu

pendekatan baru untuk pengembangan pertanian, dan pada beberapa tahun terakhir hal ini menjadi perhatian dunia, oleh karena pangan merupakan kebutuhan dasar yang permintaannya terus meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dunia.

Sebagai kebutuhan dasar dan salah satu hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa.

Ketersediaan pangan yang lebih kecil dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidak-stabilan ekonomi. Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika ketahanan pangan terganggu. Kondisi pangan yang kritis ini bahkan dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas Nasional.

Ketahanan Pangan adalah “kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, ber-

gizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

Berbicara pangan tidak hanya mengenai ketahanan pangan namun juga harus memperjelas dan memper- kuat pencapaian ketahanan pangan dengan mewu- judkan kedaulatan pangan (food soveregnity) den-

gan kemandirian pangan (food resilience) serta kea- manan pangan (food safety).

“Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang men- jamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberi- kan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal”.

“Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang berane- ka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat”. “Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan cemaran biolo- gis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikon- sumsi”.

Ketahanan Pangan adalah “kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, ber- gizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan”.

K

(10)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Indonesia sebagai negara agraris yang terkenal dengan kesuburan tanahnya, namun sampai saat ini masih belum bisa keluar dari jeratan import bahan pangan. Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2013 bahwa pemerintah Indonesia tercatat mengimpor lebih dari 17 miliar kilogram bahan pokok senilai US$ 8,6 miliar atau setara Rp (kurs: Rp 104,9 triliun).

Ironisnya, sebagian besar pangan yang diimpor oleh pemerintah justru bisa diproduksi didalam negeri tercinta ini yakni seperti beras, garam, gula, cengkeh, teh, jagung,

kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, kelapa, kelapa sawit, lada dll.

Langkah import ini pemerintah ambil guna menghindari kelang-

kaan pangan yang berpengaruh pada semua sektor seperti inflasi, bertambahnya orang miskin, menu- runnya pertumbuhan ekonomi dan sebagainya.

Diatas sudah dijelaskan bahwa jika pemerintah tidak mengambil langkah dengan meng-import kebutuhan pangan dari negara lain sedangkan permintaan pangan masyarakat meningkat akan tetapi produksi dalam negeri tidak mencukupi maka berakibat pada semua sektor terutama infla- si.

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter mem- punyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kes- tabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.

Untuk menjaga kestabilan ketahanan pangan yang pada akhirnya berimbas pada perkembangan laju inflasi maka Kementerian Hukum dan HAM RI yang diwakili oleh Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Handoyo Sudradjat, dan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo, telah menyepakati Kerjasama Peningkatan Kemandirian Narapidana dan Klien Pemasyarakatan

melalui Program Ketahanan Pangan. Acara Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) anta- ra Kemenkumham dan BI dilangsungkan di Ruang Serbaguna, Menara Sjafruddin Prawiranegara Lt.3, Jakarta, Kamis (18/09/2014).

Menurut Gubernur BI bahwa “peran Kementerian Hukum dan HAM dalam hal ini (narapidana) dalam menekan inflasi adalah dengan memberdayakan mereka untuk memproduksi komoditas pertanian”

yang selama ini menjadi permasalahan negeri ini.

Kerjasama yang telah dicanangkan dipusat tersebut juga dilanjut- kan didaerah. Pada Senin, 16/03/2015 Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara Agus Rawan di dampingi oleh Kabid Kemanan dan Ketertiban, Ka.

Lapas Klas IIA Ternate, Ka. Rutan Klas IIB Ternate serta Ka. Rutan Klas IIB Soasio mengadakan perte- muan perdana dengan Pimpinan Bank Indonesia Ternate Budiyono guna menjajaki kerjasama antara Bank Indonesia Perwakilan Ternate dan Kanwil Kemenkumham Maluku Utara.

Hasil dari perbincangan tersebut adalah pada hari Senin, 23/3/2015 telah dilaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) anta- ra BI dengan Kemenkumham Maluku Utara. BI dan Kemenkumham Maluku Utara memberikan pem- berdayaan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan melalui peternakan, membatik serta pemanfaatan lahan untuk memproduksi komoditas pertanian, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar inflasi di Maluku Utara.

“Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara

dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang

beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menja-

min pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai

di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi

sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan keari-

fan lokal secara bermartabat”.

(11)

Hasil dari perbincangan tersebut adalah pada hari Senin, 23/3/2015 telah dilaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara BI dengan Kemenkumham Maluku Utara. BI dan Kemenkumham Maluku Utara memberikan pem- berdayaan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan melalui peternakan, membatik serta pemanfaatan lahan untuk memproduksi komoditas pertanian, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar inflasi di Maluku Utara.

Berdasarkan data dari BPS Prov. Maluku Utara bahwa pada Januari 2015, Maluku Utara mengalamai inflasi pedesaan sebesar 0,17% sedangkan inflasi nasi- onal adalah sebesar -0,03 (deflasi). Inflasi pedesaan ini disebabkan oleh naiknya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran rumah tangga kecuali trans- portasi dan komunikasi. Jika kita bandingkan dengan 10 provinsi yang berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) maka inflasi tertinggi adalah Prov. Gorontalo dan terendah adalah Sulawesi Utara yang mengal- ami deflasi -0,60. Maluku Utara sendiri berada pada urutan ke -7 dari 10 provinsi di KTI.

Untuk bulan februari 2015, Prov. Maluku Utara men- galami inflasi sebesar 0,09% sedangkan inflasi nasi- onal adalah sebesar -0,73 (deflasi). Lagi-lagi inflasi pedesaan di Maluku Utara disebabkan oleh kelom- pok pengeluaran rumah tangga kecuali kelompok sandang, transportasi dan komunikasi. Kita banding- kan dengan 10 Provinsi di KTI bahwa inflasi tertinggi adalah Papua dan Maluku dengan inflasi sebesar 0,18 sedangkan terendah adalah Prov. Gorontalo yakni sebesar -0,90 (deflasi). Prov. Maluku Utara sendiri berada pada posisi tertinggi ke-4 di seluruh KTI.

Penyumbang inflasi tertinggi di Maluku Utara adalah naiknya indeks pada 5 kelompok pengeluaran, yaitu Kelompok Bahan Makanan (0,11 persen), Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau (0,14 persen), Kelompok Perumahan (0,06 persen), dan Kelompok Kesehatan (0,69 persen), dan Kelompok Pendidikan, rekreasi dan olah raga (0,59 persen).

Sementara itu, 2 kelompok pengeluaran lainnya mengalami penurunan yaitu Kelompok Sandang turun 0,03 persen dan Kelompok Transportasi dan

Komunikasi turun 0,53 persen.

Dengan melihat data-data diatas bisa kita ketahui bersama bahwa kelompok bahan makanan lah yang menjadi tersangka atau penyebab inflasi di Maluku Utara. Mengapa demikian, karena kebutuhan bahan pokok makanan seperti beras, sayuran, telor, daging masih disuplay dari daerah lain seperti Tomohon, Manado, Makassar dan Surabaya. Apabila terjadi ket- erlambatan dalam pendistribusian bahan makanan, maka akan memicu terjadinya inflasi.

Untuk mengatasi permasalah tersebut, Bank Indonesia menggandeng Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara untuk memberikan pem- binaan dengan cara memberdayakan WBP (nara- pidanna) untuk memanfaatkan lahan kosong guna memproduksi komoditas pertanian. Langkah jitu yang telah diambil oleh BI Cabang Ternate ini telah memberikan manfaat yang besar bagi pembinaan WBP (narapidana) jajaran Kanwil Kemenkumham Maluku Utara. Dengan memberikan keterampilan kepada mereka, maka jika para pesakitan ini telah selesai menjalani pidana, mereka telah memiliki keterampilan bertani, beternak, membatik dan lain sebagainya. Tidak hanya sampai disitu, kerjasama ini juga berguna untuk menjaga ketahanan pangan di Prov. Maluku Utara. Mengapa demikian, karena dengan adanya kerjasama antara Bank Indonesia Cabang Ternate dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara disektor pertanian maka akan berguna untuk menjaga ketahanan pan- gan. Hasil produksi narapidana disektor pertanian dapat berfungsi untuk memenuhi kebutuhan pasar Ternate sehingga kita tidak tergantung pada daerah lain. Demikian juga pada sektor peternakan. Dengan membatik, maka dapat meningkatkan nilai kearifan lokal kaitannya dengan melestarikan budaya batik yang sudah turun temurun dari nenek moyang kita.

Pada akhirnya kerjasama ini memiliki multi manfaat.

Ketahanan pangan di Maluku Utara terjaga, inflasi dapat ditekan, narapidana memiliki keterampilan lebih.

(12)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Ketika masa pidana selesai, mereka siap bersa- ing dengan masyarakat umum dengan kreativi- tas dan keterampilan yang telah ia dapat. Jika seorang mantan narapidana membuka usaha membatik, kemudian ia memperkerjakan orang lain maka dapat mengurangi pengangguran.

Pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahter- aan bersama. Mari kita jaga hubungan kerjasa- ma ini, mari kita tingkatkan produktivitas dan kreativitas untuk Indonesia yang lebih baik.

Sumber:

1. http://www.kemenkumham.go.id/v2/index.

php/berita/157-kerjasama-dengan-bank- indonesia-kemenkumham-dukung-pelak- sanaan-pengendalian-inflasi-daerah-dan- penguatan-ketahanan-pangan.html

2. http://malut.kemenkumham.go.id/berita/

berita-utama/435-bi-gandeng-kemenkum- ham-guna-penguatan-ketahanan-pangan 3. http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/bi-

dan-inflasi/Contents/Default.aspx

4. Berita resmi BPS Prov. Maluku Utara No.

07/02/82/Th.XIV, 02 februari 2015

5. Berita resmi BPS Prov. Maluku Utara No.

17/03/82/Th.XIV, 02 Maret 2015

6. http://bisnis.liputan6.com/read/791549/

daftar-29-bahan-pangan-yang-diimpor-ri- sampai-november

Oleh : Sri Yanto

Staff Sub Bagian Laporan, Humas & IT Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara

(13)

Meningkatkan Kualitas Pendidikan

antor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Utara mendapat kunjungan resmi dari Pimpinan Universitas Terbuka (UT) Ternate beserta tim. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melaku- kan silaturrahmi sekaligus dalam rangka mensosialisasikan kepada pegawai bahwasanya keberadaan Universitas Terbuka di Ternate merupakan bentuk upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Prov. Maluku Utara.

Berdasarkan penyampaian oleh pimpinan Unit Program Belajar Jarak Jauh Uni- versitas Terbuka (UPBJJ-UT) Ternate Sudarwo bahwa keberadaan UT di Ter- nate adalah untuk memudahkan masyarakat atau pegawai yang ingin melan- jutkan studi pendidikan yang lebih tinggi namun memiliki kesibukan yang lebih dan tidak memungkinkan bisa belajar dengan bertatap muka langsung dengan dosen ataupun tutor maka UT hadir untuk memberikan solusi tersebut.

UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan me- dia, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/inter- net, siaran radio, dan televisi). Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian.

Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah me- namatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat) untuk Program Sarjana dan Diploma.

UNIVERSITAS TERBUKA

Universitas Terbuka adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ke-45 di Indonesia yang menerapkan sistem belajar terbuka dan jarak jauh. Sistem belajar ini terbukti efektif untuk meningkatkan daya jangkau

dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi yang berkualitas bagi semua warga negara Indonesia, termasuk mereka yang tinggal di daerah-daerah terpencil, baik di seluruh nusantara maupun di berbagai belahan dunia.

K “

(14)

1. Cara Belajar

Mahasiswa UT diharapkan dapat belajar secara mandiri. Cara belajar mandiri menghendaki mahasiswa untuk be- lajar atas prakarsa atau inisiatif sendiri. Belajar mandiri dapat dilakukan secara sendiri ataupun berkelompok, baik dalam kelompok belajar maupun dalam kelompok tutorial. UT menyediakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri. Selain menggunakan bahan ajar yang disediakan oleh UT, mahasiswa juga dapat mengambil inisiatif untuk memanfaatkan bahan bacaan lain diperpustakaan mengikuti tutorial, baik secara tatap muka maupun melalui internet, radio, dan televisi; serta memanfaatkan sumber belajar lain seperti bahan ajar ber- bantuan komputer dan program audio/video. Apabila mengalami kesulitan belajar, mahasiswa dapat meminta informasi tentang bantuan belajar kepada Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) setem- pat.

2. Sistem Kredit Semester

UT seperti halnya perguruan tinggi yang lain, menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk menetapkan be- ban studi mahasiswa. Dalam sistem ini, beban studi yang harus diselesaikan dalam satu program studi diukur dengan satuan kredit semester (sks). Setiap mata kuliah diberi bobot 1-6 sks. Satu semester adalah satuan waktu kegiatan belajar selama kurang lebih 16 minggu.

Dalam pendidikan tinggi tatap muka, mahasiswa yang mengambil beban studi satu sks harus mengikuti perkulia- han selama satu jam per minggu di kelas dan satu jam untuk praktek, praktikum, atau belajar di rumah, sehingga dalam satu semester mahasiswa harus mengalokasikan waktu belajar sekitar 32 jam. Untuk menempuh mata kuliah yang berbobot 3 sks dibutuhkan waktu belajar sekitar 96 jam per semester.

Dalam sistem pendidikan jarak jauh, mahasiswa juga harus mengalokasikan waktu yang sama dengan mahasiswa tatap muka (2 jam per minggu per sks). Hanya saja kegiatan belajarnya lebih banyak dilakukan secara mandiri (belajar sendiri, belajar berkelompok, atau tutorial).

Khusus untuk UT, satu sks disetarakan dengan tiga modul bahan ajar cetak. Satu modul terdiri dari 40-50 halaman, sehingga bahan ajar dengan bobot 3 sks berkisar antara 360-450 halaman, tergantung pada jenis mata kuliahnya.

Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan membaca dan memahami rata-rata mahasiswa adalah 5-6 halaman per jam sehingga untuk membaca dan memahami bahan ajar dengan bobot 3 sks diperlukan waktu sekitar 75 jam (360-450 halaman dibagi 5-6 halaman). Apabila satu semester mempunyai waktu 16 minggu, maka waktu yang diperlukan untuk membaca dan memahami bahan ajar dengan bobot 3 sks adalah 75 jam dibagi 16 minggu, atau kurang lebih 5 jam per minggu. Misalnya, mahasiswa mengambil 15 sks/semester, maka yang bersangkutan harus mengalokasikan waktu belajar sebanyak 15 sks dibagi 3 sks kali 5 jam = 25 jam per minggu atau kira-kira 5 jam per hari (1 minggu dihitung 5 hari belajar).

Dengan sistem belajar seperti ini mahasiswa UT diharapkan mengalokasikan waktu belajar sesuai dengan beban sks yang diambil, atau mengambil beban sks setiap semester sesuai dengan waktu belajar yang dapat dialokasi- kan, serta mempertimbangkan kemampuan akademik masing-masing.

Kakanwil sendiri menyambut baik kedatangan Pimpinan UT Ternate beserta Tim di Kantor Wilayah Kementerian Hu- kum dan Hak Asasi Manusia Maluku Utara dalam rangka mensosialisasikan keberadaan UT di ternate, mengingat Uni- versitas Terbuka merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi Negeri yang memudahkan para pegawai dengan kesibu- kannya dikantor namun masih bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa harus bertatap muka dengan dosen secara langsung. Beliau menyampaikan “Jika hari ini ada pegawai yang ingin mengajukan ijin kuliah di UT, maka saat ini juga saya akan memberikan ijin”.

Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur negara sangat penting guna mendukung karir seseorang dalam sebuah instansi, untuk itu beliau sangat mendukung apabila ada pegawai yang ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

(15)

ata samapta berasal dari bahasa sansek- erta. Samapta berarti tatanan tingkah laku seseorang, sedangkan siaga adalah siap sedia. Jadi samapta siaga adalah suatu tatanan tingkah laku seseorang yang selau siap sedia, menerima dan melaksanakan perintah dari atasan sesuai dengan hati nurani yang luhur. Hal inilah yang menjadi dasar atas penyelenggaraan Pendidi- kan dan Pelatihan Kesamaptaan oleh Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Utara.

Keadaan siap siaga, siap sedia dan waspada harus selalu kita tanamkan kepada semua petugas baik petugas administrasi maupun pengamanan dijajaran Kantor Wilayah Kemente- rian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Utara agar tercipta keamanan dan kenyamanan.

Membentuk Tatanan Sikap Ses- eorang Untuk Selalu Siap Siaga & Siap Sedia

Pelatihan Samapta dilaksanakan bukan hanya untuk mencuci otak para pesertanya atau dengan maksud perploncoan belaka, akan tetapi dimaksudkan untuk mem- bentuk sikap, kepribadian, etika, integritas, kerjasama, serta ket- ahanan mental dan fisik yang baik guna menunjang pelaksanaan tu- gas.

Setiap organisasi memiliki tujuan yang hendak dicapai. untuk men- capai tujuan tertentu dan tujuan bersama. Perlu kesamaan dan kesukarelaan untuk tak berbeda dengan lainnya, Seragam, Se- rupa, Kompak. Di manakah kunci sebuah kereta kencana bisa me- laju kencang? Adalah ketika sang kusir dapat mengendalikan kuda terlamban untuk menyesuaikan kecepatan dengan kuda lainnya.

DIKLAT SAMAPTA

K

(16)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Sejatinya, mental kita bisa ditempa lewat p erc oba a n - p erc o - baan yang direkayasa.

Latar belakang bu- daya yang berbeda, baik segi keilmuan, ekonomi, pola pikir, kebiasaan, tampang, menyebabkan timbul- nya sebuah simpan- gan dan perbedaan.

Sebuah organisasi butuh satu arah. Satu fokus tujuan. Namun, bukan sepanjang waktu harus sama, serupa. Hanya ketika kita membutuhkan- nya saja. Samapta merupakan salah satu upaya rekayasa olah mental sekaligus olah raga, dalam arti yang sebenarnya.

Kakanwil Drs. Agus Rawan, SH., MM., M.Si mengatakan bahwa tujuan setelah mengikuti diklat Sa- mapta ini agar para peserta memiliki kepatuhan dan keta- atan terhadap ke- tentuan disiplin bagi PNS pada umumnya dan ketentuan disiplin

di lingkungan Kanwil kemenkumham Ma- luku Utara khususnya, serta sigap, tangkas dalam menghadapi tantangan dan men- junjung tinggi integri- tas dan kehormatan korsa dalam melak- sanakan tugas dan tanggung jawab.

Kegiatan Pendidi-

kan dan Pelatihan Kesamaptaan ini di- laksanakan di Lem- baga Cabang Ke- pramukaan Kota Ternate pada tanggal 17 – 30 Mei 2015 dan bekerjasama dengan Polda Maluku Utara.

Acara pembukaan Diklat Kesamaptaan dihadiri oleh para pe- jabat baik Pejabat Es- elon II, Eselon III, Es- elon IV, para Kepala Unit Pelaksana Teknis baik Pemasyarakatan maupun Imigrasi Kan- tor Wilayah Kement- erian Hukum dan Hak Asasi Manusia Malu- ku Utara, Pejabat dari Polda Maluku Utara, serta Sat Brimobda Maluku Utara.

(17)

R

sampai seberapa opti- malkah perencanaan anggaran yang disusun oleh kebanyakan instansi pemerintah?

e f o r - m a s i di bi- d a n g

keuangan ditandai dengan diterbitkan- nya undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara, undang-un- dang nomor 1 tahun 2004 tentang per- bendaharaan negara

dan undang-undang nomor 15 tahun 2004 tentang pemerik-

saan pengelolaan dan tanggung jaw-

ab keuangan nega- ra, dengan harapan sistem pengelolaan keuangan negara lebih efisien dan efek-

tif serta tercapainya transparansi dalam pengelolaan keuan- gan.

UNTUK MENGOPTIMALKAN TARGET KINERJA

(18)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Pengelolaan keuangan merupakan salah satu kegiatan administrasi utama dalam kepemerintahan yang menuntut prinsip tata kelola yang baik atau (good governance) dan mengharuskan setiap organisasi melakukan pelaksanaan anggaran dengan baik dan benar. Optimalnya suatu pen- gelolaan anggaran juga ditentukan oleh bagaimana pengguna anggaran mentaati ketentuan-ketentuan yang telah ditetap- kan.

Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan dinyatakan dalam unit mone- ter yang meliputi seluruh kegiatan instansi untuk jangka waktu ( periode) tertentu di masa yang akan datang. Oleh karena ren- cana yang disusun dinyatakan dalam ben- tuk unit moneter, maka anggaran seringkali disebut juga dengan rencana keuangan.

Dalam anggaran, satuan kegiatan dan sat- uan uang menempati posisi penting dalam arti segala kegiatan akan dikuantifikasi- kan dalam satuan uang, sehingga dapat diukur pencapaian efisiensi dan efektivitas dari kegiatan yang dilakukan.

Dengan penyusunan anggaran usaha- usaha instansi akan lebih banyak berha- sil apabila ditunjang oleh kebijakan-ke- bijakan yang terarah dan dibantu oleh perencanaan-perencanaan yang matang.

Instansi yang berkecenderungan meman- dang ke depan, akan selalu memikirkan apa yang mungkin dilakukannya pada masa yang akan datang. Sehingga dalam pelaksanaannya, instansi-instansi ini ting- gal berpegangan pada semua rencana yang telah disusun sebelumnya. Di mana, bagaimana, mengapa, kapan, adalah pertanyaan-pertanyaan yang selalu mer- eka kembangkan dalam kegiatan sehari- hari. Apabila pada suatu kesempatan hal ini ditanyakan kepada seorang Pimpi- nan Instansi yang sukses, maka sering di- dapatkan jawaban bahwa ide-ide untuk

kegiatan pada waktu mendatang pada umumnya didasarkan pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas. Budgeting mempunyai manfaat yang pada dasarnya sama, yakni dalam hal perencanaan, koor- dinasi, dan pengawasan.

Dengan melihat uraian diatas dapat ditar- ik kesimpulan bahwa manfaat penyusunan anggaran adalah :

• Adanya perencanaan terpadu. Angga- ran instansi dapat digunakan sebagi alat untuk merumuskan rencana instansi dan untuk menjalankan pengendalian terhadap berbagai kegiatan instansi secara menyeluruh. Dengan demikian, anggaran merupakan suatu alat mana- jemen yang dapat digunakan baik un- tuk keperluan perencanaan maupun pengendalian.

• Sebagai pedoman pelaksanaan keg- iatan instansi. Anggaran dapat mem- berikan pedoman yang berguna baik bagi manajemen puncak maupun manajemen menengah. Anggaran yang disusun dengan baik akan membuat bawahan menyadari bahwa manaje- men memiliki pemahaman yang baik tentang pelaksanaan kegiatan instansi dan bawahan akan mendapatkan pe- doman yang jelas dalam melaksanakan tugasnya.

• Sebagai alat pengkoordinasian kerja.

Penganggaran dapat memperbaiki

koordinasi kerja intern instansi.

(19)

• Sebagai alat pengawasan kerja. Ang- garan memerlukan serangkaian standar prestasi atau target yang bisa diband- ingkan dengan realisasinya sehingga pelaksanaan setiap aktivitas dapat dinilai kinerjanya. Dalam menentukan standar acuan, diperlukan pemahaman yang realistis dan analisis yang saksama terhadap kegiatan-kegiatan yang di- lakukan oleh instansi. Penentuan standar yang sembarangan tanpa didasari oleh pengetahuan dapat menimbulkan lebih banyak masalah daripada manfaat.

• S e b a g a i alat evalu- asi kegiatan i n s t a n s i . A n g g a r a n yang disu- sun den- gan baik m e n e r a p - kan standar yang rel- evan akan memberikan p e d o m a n bagi per- baikan op- erasi instan-

si dalam menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh agar pekerjaan bisa diselesaikan dengan cara yang baik.

Lantas, sampai seberapa optimalkah per- encanaan anggaran yang disusun oleh ke- banyakan instansi pemerintah?

Mengutip apa yang disampaikan oleh Ke- pala Kantor Wilayah bahwa sampai saat ini pengelolaan keuangan negara dirasakan masih banyak kelemahan. Hal ini tercermin dari rendahnya pencapaian output dan outcome serta penyerapan anggaran yang menumpuk di akhir tahun. Salah satu pe-

nyebab dari lemahnya pelaksanaan ang- garan tersebut adalah buruknya kualitas perencanaan dan penganggaran yang dibuat oleh satuan kerja pada kementerian dan lembaga. Bukti nyata dari lemahnya sistem perencanaan anggaran adalah sering dilakukannya revisi anggaran. Selain itu buruknya penyusunan dirsbursment plan (rencana penyerapan anggaran) yang berakibat pada tidak tercapainya realisasi anggaran secara tepat waktu.

Untuk meningkatkan kemampuan para t e n a g a p e r e n c a - naan ang- garan Jaja- ran Kantor Wilayah Ke- m e n t e r i a n Hukum dan Hak Asa- si Manu- sia Maluku Utara maka telah di- lak sanakan Pendidikan dan Pela- tihan Per- e n c a n a a n Anggaran selama 7 (tujuh) hari sejak tang- gal 7-13 Juni 2015 bertempat di Corner Palace Hotel Ternate.

Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut, Kakanwil berharap kepada para peserta untuk dapat meningkatkan kemampuan sum- ber daya manusia aparatur jajaran pada kantor wilayah kementerian hukum dan ham maluku utara dalam melaksanakan peren- canaan dan penganggaran yang baik serta mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti pendidi- kan dan pelatihan perencanaan anggaran di satuan kerja masing-masing. (HUMAS)

Salah satu penyebab dari lemahnya pelaksanaan angga- ran adalah buruknya kualitas perencanaan dan pengang- garan yang dibuat oleh satuan kerja pada kementerian dan

lembaga. Bukti nyata dari lemahnya sistem perencanaan anggaran adalah sering dilakukannya revisi anggaran. Se- lain itu buruknya penyusunan dirsbursment plan (rencana penyerapan anggaran) juga berakibat pada tidak tercapa-

inya realisasi anggaran secara tepat waktu.

(20)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

DEKLARASI GERAKA N AYO KERJA KAMI

PASTI

MENGAWALI REVOLUSI MENTAL

DENGAN

(21)

enteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Yasona H. Laoly mencanangkan secara serentak diseluruh Kantor Wilayah se-Indonesia mengenai “Gerakan Ayo Kerja Kami Pasti”. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil Rapat Koordinasi Perencanaan Penganggaran pada 10 – 13 Mei 2015 di Jakarta serta melaksanakan perintah Bapak Presiden untuk melaksanakan Revolusi mental. Untuk mengawali Revolusi Mental tersebut, Menteri Hukum dan HAM memerintahkan kepada 817 Satuan Kerja agar melaksanakan apel “Gerakan Ayo Kerja Kami Pasti” disetiap satuan kerja dimaksud pada Senin, 1 Juni 2015 se- cara serentak diseluruh Indonesia.

Menindaklanjuti hal tersebut pada Senin 01/06/15 bertempat di Kantor Imigrasi Klas I Ternate, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Maluku Utara beserta jajarannya telah melaksanakan Apel Deklarasi Gerakan Ayo Kerja Kami Pasti sekaligus Penandatanganan Pakta Integritas Dalam Rangka Revolusi Mental yang ditanda tangani oleh semua pegawai jajaran Kantor Wilayah Kementerian Hu- kum dan HAM Maluku Utara.

M

(22)

Penandatanganan Pakta Integritas Deklarasi Ayo Kerja Kami PASTI

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Dalam apel terse- but, Direktur Per- data Direktorat Jenderal Admin- istrasi Hukum Umum Daulat Pan- dapotan Silitonga, SH., M.Hum hadir dan menjadi In- spektur Upacara Gerakan Ayo Kerja Kami Pasti. Ha- dir pula Kakanwil Drs. Agus Rawan, SH., MM., M.Si dan didampingi oleh Kadiv Administrasi Dra. Anita Nurlette, MH, Kadiv Yankum Dra. M.J Mataheru, MH, Kadiv Imigrasi Dodi Karnida A. H

serta para pejabat Eselon III, Eselon IV serta staf jajaran Kantor Wilayah Ke-

menkumham Malut juga Kepala Unit Pelaksana Teknis yang berada dalam

kota.

Mengutip sambu-

tan Menkumham

yang dibacakan

oleh Inspektur

Upacara bahwa

kegiatan ini bu-

kan hanya gerakan

himbauan saja,

tetapi merupakan

wujud nyata seb-

agai pengejawen-

tahan pengabdian

seluruh jajaran

Kementerian Hu-

kum dan HAM, dan

akan terus dilak-

sanakan secara

berkesinambun-

gan dalam rangka

pencapaian visi

(23)

k e m e n t e r i a n , yaitu mewujud- kan “masyara- kat memperoleh kepastian hu- kum”. Gerakan ini penting, kare- na saat ini kita berada dalam

“ p e l a y a r a n ” menuju pulau tujuan dengan

“kapal Kabinet Indonesia Ker- ja”. Bekerja be- rarti berkarya.

Berkarya berarti menghasilkan sesuatu yang nyata. Bukan hanya dalam bentuk konsep yang tanpa mak- na, tetapi ha- rus berbentuk satu operasion- alisasi tindakan yang dapat dira- sakan hasilnya oleh masyara- kat dan bangsa.

Bekerja dengan kerangka acu- an kerja yang jelas, jadwal yang tepat ser- ta mekanisme yang benar.

Bukan besar atau kecilnya perubahan,yang d i h a r a p k a n , tetapi seman- gat untuk terus berkarya dalam situasi apapun dengan tetap

m e n g e d e - pankan in- tegritas dan etika profesi, serta tak ke- nal lelah dan tak kenal me- nyerah. Kerja keras, kerja cerdas serta kerja ikhlas itulah karakter aparatur yang

“PROFESION- AL”.

Melalui mo- men ini, Ke- pala Kantor Wilayah Drs.

Agus Rawan, SH., MM., M.Si menegaskan kepada selu- ruh pegawai dalam jajaran- nya agar “Ger- akan Ayo Ker- ja Kami Pasti”

bukan hanya

menjadi slo-

gan semata,

namun benar-

benar di-

jalankan den-

gan segenap

jiwa dan raga

dan selalu ter-

patri dalam

sanubari se-

tiap pegawai.

(24)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Menjaga Ketahanan Pangan Dari Balik Penjara

ank Indonesia sebagai otoritas moneter mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai ru- piah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.

Pemerintah melalui Bank Indonesia beru- paya menjaga kestabilan ketahanan pan- gan dengan cara mengendalikan laju inflasi.

Inflasi (inflation) adalah kenaikan harga ba- rang-barang yang bersifat umum dan terus- menerus, sedangkan deflasi (deflation), yaitu

kondisi di mana tingkat harga mengalami penurunan terus-menerus. Apabila inflasi terlalu tinggi maka akan berdampak pada naiknya semua kebutuhan pokok, imbasnya adalah daya beli masyarakat akan menurun.

Jika daya beli masyarakat menurun maka produsen akan menghentikan produksinya, dan berakhir pada pemutusan hubungan kerja. Jika hal itu terjadi maka penganggu- ran bertambah banyak dan rakyat miskin pun akan semakin meningkat. Inflasi terlalu rendah atau biasa disebut deflasi juga ti- dak baik. Jika terjadi deflasi berkepanjangan maka akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi.

B

(25)

Untuk itu, dalam rangka pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan di Prov.

Maluku Utara, Bank Indonesia Perwakilan Ternate menggandeng Kantor Wilayah Ke- menterian Hukum dan HAM Maluku Utara dan BPTP Prov. Maluku Utara untuk bekerjasa- ma, saling bahu membahu dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Sebelum masuk ke topik permasalahan, yang menjadi pertanyaan adalah “Apa hubungan- nya antara penjara (Institusi dibawah Ke- menterian Hukum dan HAM RI) dengan men- jaga ketahanan pangan?”

Sedikit me-review tentang penjara bahwa, tidak ada seorang pun yang menginginkan untuk masuk penjara. Menurut Wikipedia, Penjara adalah tempat orang-orang diku- rung dan dibatasi berbagai macam kebe- basan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) penjara merupakan tempat penghukuman bagi pelaku kejahatan yang melanggar hukum pidana. Penjara um- umnya adalah institusi yang diatur pemerin- tah dan merupakan bagian dari sistem pen- gadilan kriminal suatu negara, atau sebagai fasilitas untuk menahan tahanan perang.

Penjara diciptakan oleh negara sebagai lembaga untuk meresosialisasi para nara- pidana dan mereintegrasikan ke dalam ma- syarakat. Bagi Negara Indonesia yang ber- dasarkan Pancasila, pemikiran mengenai fungsi pemidanaan tidak lagi sekedar pen- jeraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang telah ditetapkan dengan suatu sistem perlakuan terhadap para pelanggar hukum di Indone- sia yang dinamakan dengan Sistem Pema- syarakatan.

Sedikit menilik sejarah tentang istilah pema- syarakatan bahwa, istilah pemasyarakatan untuk pertama kali disampaikan oleh Al- marhum Bapak SAHARDJO, SH (Menteri Keha-

kiman pada saat itu) pada tanggal 5 juli 1963 dalam pidato penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia.

Pemasyarakatan oleh beliau dinyatakan se- bagai tujuan dari pidana penjara.

Satu tahun kemudian, pada tanggal 27 April 1964 dalam Konferensi Jawatan Kepenjaraan yang dilaksanakan di Lembang Bandung, istilah pemasyarakatan dibakukan sebagai pengganti kepenjaraan. Maka untuk men- genang hari bersejarah tersebut, setiap tanggal 27 April ditetapkan sebagai Hari Ulang Tahun Pemasyarakatan.

Kembali pada topik permasalahan tentang sebuah pertanyaan: “Apa hubungannya an- tara penjara (Institusi dibawah Kementerian Hukum dan HAM RI) dengan menjaga ketah- anan pangan?”

Tentu saja ada hubungan. Sampai pada saat tulisan ini dibuat bahwa jumlah Tahanan dan Narapidana diseluruh Indonesia pada 19 Juni 2015 adalah sebanyak 172.916 orang sedangkan untuk Prov. Maluku Utara sendiri sebanyak 829 orang.

Negara kita Indonesia tercinta ini, merupak-

an salah satu negara didunia yang memiliki

kekayaan alam yang melimpah, subur, mak-

mur, gemah ripah looh jinawi. Namun sampai

saat ini masih ada saja barang kebutuhan

pokok yang di impor dari negara lain.

(26)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Kira-kira yang menjadi pertanyaan adalah bisakah kita memanfaatkan para tahanan maupun narapidana untuk menjaga ketah- anan pangan?

Tentu saja bisaaaa...!!!

Tidak usah kita bicara secara nasional, di Maluku Utara saja jumlah tahanan dan nara- pidana sebanyak 829 orang. Jika kita bisa memanfaatkan semua tenaga mereka untuk memproduksi kebutuhan pokok (pangan), maka tidak hanya terpenuhinya kebutuhan pokok para tahanan/napi namun berapa banyak kebutuhan pasar dari sektor perta- nian dan perkebunan yang dapat ditangani oleh para pesakitan dibalik tembok penjara ini.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, pada hari Kamis (18/9/2014) bertempat di Ruang Ser- baguna Menara Sjafruddin Prawiranegara Bank Indonesia, telah dilaksanakan Penan-

datanganan Nota Kesepahaman (MoU) an- tara Bank Indonesia dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI mengenai pengendalian inflasi daerah dan penguatan ketahanan pangan. Kerjasama yang dilak- sanakan dipusat tersebut akan diaplikasikan sampai di daerah.

Guna merealisasikan keinginan didaerah

maka pada hari Senin (16/03/15) bertempat

diruang Kepala Bank Indonesia Ternate,

Kepala Bank Indonesia Bapak Budiyono di-

dampingi pejabat BI lainnya mengundang

Kepala Kantor Wilayah Drs. Agus Rawan, SH.,

MM., M.Si yang didampingi oleh Kabid Ke-

amanan dan Ketertiban Adi Susanto, SE, Ka-

lapas Klas IIA Ternate La Samsudin, S.Sos,

Karutan Klas IIB Ternate Drs. Dawa’i, Karutan

Klas IIB Soasio Herman Mulawarman, Amd.IP,

S.Sos untuk membicarakan tindak lanjut MoU

di daerah.

(27)

pengendalian inflasi dan penguatan ketah- anan pangan ini adalah dengan telah di- laksanakannya Penandatanganan Nota Ke- sepahaman (MoU) antara Bank Indonesia, Kanwil Kemenkumham Maluku Utara serta BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Prov. Maluku Utara yang dilaksanakan di Lem- baga Pemasyarakatan Klas IIA Ternate pada Senin (23/03/2015) dan disaksikan langsung oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Perekono- mian. Acara tersebut dihadiri oleh Staf Ahli Gubernur Maluku Utara Bidang Ekonomi Drs.

H. Umra Langsa serta dari Dinas Perindus- trian dan Perdagangan. Kegiatan itu sendiri dihadiri oleh para Pejabat Eselon II, Eselon III, Kepala Unit Pelaksana Teknis baik Pema- syarakatan maupun Imigrasi, para pegawai jajaran Kanwil Kemenkumham Maluku Utara serta WBP Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Ternate.

Kakanwil Kemenkumham Maluku Utara Agus Rawan mengatakan bahwa secara pribadi dan institusi kami sangat mendukung dan menyampaikan apresiasi positif adanya ker- jasama ini. Mengapa demikian, hal ini dapat memberikan dampak positif bagi berbagai pihak, baik Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) maupun pemerintah itu sendiri. Dam- pak positif bagi WBP adalah memberikan keterampilan serta berupaya meningkatkan kreativitas dan daya saing mereka. Selain itu, bekal keterampilan yang didapat dari ke- giatan ini pun dapat berguna ketika masa pidana selesai untuk diaplikasikan di ma- syarakat atau dunia usaha.

Sementara Pimpinan Bank Indonesia Per- wakilan Ternate Budiyono mengatakan ker- jasama ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga ketahanan pangan serta mengen- dalikan inflasi di Maluku Utara dengan me- manfaatkan para pesakitan. Artinya, dengan MoU ini setidaknya memiliki 2 (dua) keuntun- gan. Pertama dengan memanfaatkan para narapidana berarti memberikan keterampi- lan kepada mereka yang mungkin saja dari

ma ini dapat berguna selepas dari masa tah- anan. Kedua dengan memanfaatkan tenaga para narapidana untuk memproduksi bahan pangan maka hasil bercocok tanam dapat digunakan untuk men-suply kebutuhan pas- ar sehingga inflasi bahan pokok makanan dapat ditekan. Mengingat tugas dari Bank Indonesia sebagai lembaga otoritas mon- eter adalah mengendalikan inflasi daerah.

Kerja sama antara Bank Indonesia dengan

Kemenkumham yang melibatkan narapidana

ini lebih menitikberatkan pada produksi ba-

han pangan seperti sayuran, peternakan

serta membatik. Hasil pertanian dan peter-

nakan oleh narapidana ini dapat dipergu-

nakan untuk menunjang kebutuhan sehari-

hari dan sisanya dapat dipasarkan untuk

memenuhi kebutuhan pangsa pasar. Den-

gan begitu, ketergantungan bahan pangan

(sayuran) di Ternate dari daerah lain dapat

berkurang. Sedangkan untuk batik lebih ke-

pada meningkatkan kearifan lokal dalam me-

lestarikan warisan budaya bangsa.

(28)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Prov. Maluku Utara Andriko Noto Sus- anto mengamini apa yang disampaikan oleh Budiyono bahwa produksi pangan di Maluku Utara memang masih kurang, sedangkan permintaan pasar tinggi, mau tidak mau kita harus mengambil dari daerah lain seperti Tomohon, manado dan sebagainya.

Tindak lanjut upaya Bank Indonesia dan Kemenkumham dalam rangka menjaga ke- tahanan pangan adalah dilaksanakannya Penandatangan Nota Kesepahaman dengan Rutan Klas IIB Soasio pada Jum’at 05 Juni 2015 dengan tema “Penanaman Perdana dan Penyerahan Bantuan Program Sosial Bank Indonesia Dalam Rangka Peningkatan Kemandirian Narapidana Pada Rutan Klas IIB Soasio”.

Yang sedikit berbeda adalah Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Sanana. Mengapa demikian, walaupun Lapas Klas IIB Sanana belum tersentuh oleh program sosial Bank Indonesia, namun Kepala Lembaga Pema- syarakatan Klas IIB Sanana (Ka. Lapas) La Ludi, S.Ag, M.Si memiliki komitmen lebih un- tuk selalu menjaga ketahanan pangan den- gan memanfaatkan tenaga para narapidana untuk bercocok tanam.

Bentuk keseriusan La Ludi sebagai Ka.

Lapas Sanana adalah dengan menggerak- kan para narapidana untuk bercocok ta- nam Jagung seluas 2.780 M2, tanaman lain adalah Terong, Kangkung, Kacang Panjang, Sawi, Cabai, Labu Siam, Gambas dan lain se- bagainya. Kegiatan produksi yang dilakukan oleh Lapas Klas IIB Sanana ini cukup mem- bantu dalam menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Kepulauan Sula tersebut.

Begitu juga yang dilakukan oleh Lapas Klas IIB Jailolo, Lapas Klas IIB Tobelo, Rutan Klas IIB Ternate, Rutan Klas IIB Saosio, Cab. Ru- tan Labuha, semuanya memanfaatkan tena- ga narapidana untuk bercocok tanam guna menjaga ketahanan pangan yang ada di Maluku Utara.

Untuk itu dengan adanya kerjasama antara

Bank Indonesia, Kanwil Kemenkumham Ma-

luku Utara dan BPTP ini diharapkan mampu

mendorong produksi pangan khususnya

sektor pertanian dan perkebunan guna

pengendalian inflasi dan penguatan ket-

ahanan pangan. Selain itu, program sosial

Bank Indonesia ini juga diharapkan dapat

menyentuh semua Lapas maupun Rutan

yang ada di Maluku Utara. (Ant)

(29)

Implementasi Undang-Undang No 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum Bagi Orang/ Kelompok

Orang Miskin

“ Peran Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara “

antuan hukum adalah hak dari orang miskin yang dapat diper- oleh tanpa bayar (pro bono publico) sebagai penjabaran persamaan hak di hadapan hukum. Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 34 UUD 1945 di mana di dalamnya ditegaskan bahwa fa- kir miskin adalah menjadi tanggung jawab negara. Terlebih lagi prinsip persamaan di hadapan hukum (equality before the law) dan hak untuk di bela Advokat (access to le- gal counsel) adalah hak asasi manusia yang perlu dijamin dalam rangka tercapainya pengentasan masyarakat Indonesia dari kemiskinan, khususnya dalam bidang hukum.

Sebelum lahirnya Undang-Undang No 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, peraturan mengenai bantuan hukum telah diatur dalam hukum positif kita yaitu di dalam pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, KUHAP, pasal 1 angka 9 Undang-Undang no 18 tahun 2003 tentang Advokat, pasal 56 Undang-Un- dang No 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Di Indonesia, hak atas bantuan hukum memang tidak secara tegas dinyata- kan dalam Konstitusi. Namun, bahwa Indone- sia adalah negara hukum dan prinsip per- samaan di hadapan hukum, menjadikan hak bantuan hukum sebagai hak konstitusional.

Sehinggga negara berkewajiban untuk me- laksanakannya terutama bagi orang yang tidak mampu. Maka, kehadiran Undang-Un- dang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum menunjukan bentuk tanggung jawab negara terhadap Hak Bantuan Hukum bagi

warga negara sebagaimana yang tercan- tum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Beberapa pokok materi yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum antara lain mengenai : pengertian Bantuan Hukum, Penerima Bantuan Hukum, Pemberi Bantuan Hukum, hak dan kewajiban Penerima Ban- tuan Hukum, syarat dan tata cara permoho- nan Bantuan Hukum, pendanaan, larangan, dan ketentuan pidana.

Istilah bantuan hukum (Legal Aid) menurut Undang-Undang Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Pemberi Ban- tuan Hukum secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum. Pemberi Bantuan Hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan Bantuan Hukum berdasarkan UUBH.

Sedangkan Penerima Bantuan Hukum itu sendiri adalah orang atau kelompok orang miskin, yaitu yang tidak dapat memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri. Dan Kementerian Hukum dan HAM R.I. merupakan Penyelenggara Bantuan Hukum.

JENIS LAYANAN BANTUAN HUKUM

• Litigasi (Perdata, Pidana, PTUN)

• Non Litigasi (penyuluhan hukum, kon- sultasi hukum, investigasi perkara, pene- litian hukum, mediasi, negosiasi, pem- berdayaan masyarakat, pendampingan di luar pengadilan, dan drafting doku- men hukum).

B

(30)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

SYARAT - SYARAT PERMOHONAN BANTUAN HUKUM

• Mengajukan permohonan secara ter- tulis atau lisan yang berisi sekurang- kurangnya identitas pemohon dan uraian singkat mengenai pokok per- soalan yang dimohonkan Bantuan Hukum;

• Menyerahkan dokumen yang berke- naan dengan perkara; dan

• Melampirkan identitas pemohon dan surat keterangan miskin (SKTM) dari lurah, kepala desa, atau pejabat yang setingkat di tempat tinggal pemohon Bantuan Hukum.

PERSYARATAN PEMBERI BANTUAN HUKUM

• Organisasi/Lembaga Kemasyarakatan yang sudah berbadan hukum dibuk- tikan dengan SK pengesahan badan hukum oleh Menteri Hukum dan HAM R.I.;

• Terakreditasi;

• Memiliki kantor atau sekretariat yang tetap;

• Memiliki pengurus;

• Memiliki program Bantuan Hukum;

• Memiliki Advokat dan Paralegal yang terdaftar pada lembaga bantuan hu- kum atau organisasi; dan

• Paling sedikit menangani 10 (sepuluh) kasus per tahun.

Untuk wilayah provinsi Maluku Utara hing- ga tahun 2015 hanya 4 (empat) Organisasi Bantuan Hukum (OBH) yang sudah ber- badan hukum dan lulus verifikasi dengan akreditasi C yang telah mengakses dana bantuan hukum, antara lain:

1. OBH Daulat Perempuan Maluku Utara (Daurmala);

2. OBH Lembaga Mitra Lingkungan (LML) Maluku Utara;

3. OBH Yustisia Maluku Utara; dan 4. PKBH Unkhair Ternate.

Dengan hadirnya UUBH yang memberi- kan pengakuan kepada paralegal, dosen,

dan mahasiswa sebagai pemberi ban- tuan hukum (disamping advokat), san- gat diharapkan agar keadilan bukan lagi menjadi barang mewah bagi masyarakat.

Selain itu melalui UUBH ini dapat digunak- an sebagai landasan hukum bagi para- legal untuk memberdayakan dan juga mengedukasi masyarakat.

untuk memberdayakan dan juga mengedukasi masyarakat.

KEWENANGAN MENTERI HUKUM DAN HAM R.I. SESUAI UUBH

• Mengawasi dan memastikan peny- elenggaraan Bantuan Hukum dan pemberian Bantuan Hukum dijalankan sesuai asas dan tujuan yang ditetap- kan dalam Undang-Undang Bantuan Hukum; dan

• Menetapkan panitia verifikasi serta melakukan verifikasi dan akreditasi terhadap lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan un- tuk memenuhi kelayakan sebagai Pemberi Bantuan Hukum berdasarkan Undang-Undang Bantuan Hukum.

TUGAS KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM SEBAGAI PANITIA PENGA- WAS DAERAH

Menteri dalam melakukan pengawasan di daerah membentuk panitia pengawas daerah. Panitia pengawas daerah terdiri atas wakil dari unsur Kantor Wilayah Ke- menkumham dan Biro hukum pemerintah daerah provinsi.

maupun insidential, kemudian mengum-

pulkan dan memeriksa kebenaran dan

keaslian serta keakuratan dokumen lapo-

ran hasil pelaksanaan kegiatan Bantuan

Hukum dari pelaksana Bantuan Hukum

sebagai dasar pengajuan penggantian

biaya pelaksanaan bantuan hukum.

(31)

Oleh: Anita Safitri, SH, M.Si

Staff Sub. Bidang Pelayanan Hukum Kanwil Kemenkumham Maluku Utara HAM Maluku Utara yang berperan seb-

agai Panitia Pengawas Daerah untuk Or- ganisasi Bantuan Hukum (OBH) di Provinsi Maluku Utara, yang diketuai oleh Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM dan Kepala Kantor Wilayah sebagai penang- gung jawab, mempunyai tugas melakukan pengawasan, pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan Bantuan Hukum baik litigasi maupun non litigasi yang di- laksanakan oleh Organisasi Bantuan Hu- kum yang lulus verifikasi dan akreditasi di Provinsi Maluku Utara secara lang- sung maupun tidak langsung dan secara berkala maupun insidential, kemudian mengumpulkan dan memeriksa kebena- ran dan keaslian serta keakuratan doku- men laporan hasil pelaksanaan kegiatan Bantuan Hukum dari pelaksana Bantuan Hukum sebagai dasar pengajuan peng- gantian biaya pelaksanaan bantuan hu- kum.

Panitia Pengawas Daerah yang anggot- anya terdiri dari unsur Kantor Wilayah (Bidang Pelayanan Hukum dan Kepala Divisi Pemasyarakatan) dalam melak- sanakan tugasnya selain melakukan pengawasan terhadap OBH memiliki per- an masing-masing, diantaranya Kepala Bidang Pelayanan Hukum selalu melaku- kan kegiatan baik itu di Kantor, di desa/

kelurahan, maupun di Rutan/Lapas untuk mensosialisasikan UUBH serta melakukan kegiatan konsultasi hukum, dari kegiatan konsultasi hukum tersebut dapat diketa- hui sekiranya ada masyarakat miskin yg sedang bermasalah dengan hukum na- mun belum mendapatkan bantuan hu- kum, maka direkomendasikan kepada OBH untuk diberikan bantuan hukum kepada yang bersangkutan. Kemudian Kepala Divisi Pemasyarakatan selalu berkoor- dinasi dengan KARUTAN/KALAPAS untuk menginventarisasi jumlah Tahanan yang berada di Rutan/Lapas yang bermasalah dengan hukum dan belum mendapatkan

kepada OBH untuk diberikan bantuan hu- kum gratis.

Panitia Pengawas Daerah terus melaku- kan pendekatan secara persuasif terha- dap OBH untuk mengetahui kendala yang mereka hadapi dalam memberikan ban- tuan hukum terhadap masyarakat miskin sehingga pada akhirnya dapat tersele- saikan dengan baik. Kegiatan bantuan hukum sampai saat ini telah dilakukan dan terlaksana dengan baik seiring ber- jalannya waktu terus diupayakan adanya perbaikan dan peningkatan yang signifi- kan. Terdapat juga bantuan hukum yang diberikan berdasarkan skala prioritas yakni untuk masyarakat miskin, akan teta- pi secara keseluruhan bantuan hukum telah diberikan secara berkesinambun- gan oleh masing-masing OBH dan terus dioptimalkan sesuai ketentuan yang ber- laku. Panitia Pengawas Daerah pun telah menyelenggarakan pengawasan sesuai fungsi kontroling dengan baik.

Oleh : Anita Safitri, SH, M.Si Staff Sub Bid. Pelayanan Hukum Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara

(32)

Kunjungi Website Kami di Alamat:: http://malut.kemenkumham.go.id atau http://malut-kemenkumham.esy.es

BERPIKIR STRATEGIK, BAGIAN INTEGRAL TAK TERPISAHKAN SEBAGAI SEORANG APARATUR SIPIL NEGARA (ASN) YANG HANDAL

alam rangka pelaksanaan cita-cita bangsa dan mewujudkan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dibangun aparatur sipil negara yang memiliki integ- ritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nep- otisme, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Per- nyataan tersebut diatas merupakan poin a, bab men- imbang dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara yang menggantikan keberadaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Undang-Un- dang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian).

Undang-Undang Aparatur Sipil Negara pasal 1 poin Undang-Undang Aparatur Sipil Negara pasal 1 poin 3 menyebutkan bahwa Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga negara In- donesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai ASN (Pegawai Aparatur Sipil Negara) se- cara tetap oleh pejabat pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan. Tuntutan untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan memiliki aparatur sipil negara yang memiliki integritas dan profe- sional tentunya membutuhkan kesungguhan dan kesiapan sumber daya manusia yang baik melalui penyaringan penerimaan aparatur sipil negara yang baik dan selektif. Juga tidak bisa diabaikan adalah pentingnya pembinaan, pendidikan dan pelatihan sumber daya aparatur sipil negara untuk memben- tuk dan mengkader aparatur yang berintegritas dan

profesional. Kesiapan sumber daya aparatur yang baik dan berkualitas tentunya akan memudahkan berlangsungnya proses reformasi birokrasi yang se- dang dijalankan. Sehubungan dengan hal tersebut faktor kesiapan dan kemauan untuk merubah pola pikir, sikap dan perilaku sebagai pegawa negeri sipil yang berintegritas dan profesional menjadi pondasi dan esensi strategis yang ikut menentukan keberha- silan reformasi birokrasi di Indonesia yang sedang digencarkan saat ini.

POLA PIKIR MENENTUKAN SIKAP DAN PERILAKU

Pola Pikir terdiri dari dua kata yaitu “Pola” dan

“Pikir”. Dalam pengertiannya Pola adalah cara, model atau sistem, sementara Pikir yakni akal budi atau ingatan. Jadi pola pikir adalah proses mental yang

melibatkan otak dalam menilai ten- tang baik dan buruk suatu pili- han. Dalam A m e r i c a n Heritage Dictionary, pola pikir atau mindset didefi- nisikan sebagai “ a fixed mental attitude or disposi- tion that predetermines a person’s responses to and interpretation of situation” (suatu sikap mental atau disposisi tertentu yang menentukan respons dan pe- maknaan seseorang terhadap situasi yang dihadap- inya). Menurut James Arthur Ray dengan karyanya The Science of Success yang ditulis oleh Andreas Harefa dalam buku mindset therapy menjelaskan bahwa mindset merupakan gugusan keyakinan, nilai-nilai, identitas, ekspektasi, sikap, kebiasaan, opini, dan pola pikir tentang diri anda, orang lain dan kehidupan. Beberapa pengaruh lingkungan

D

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai upaya inovasi dalam Sistem Pendidikan Islam, madrasah tidak lepas dari berbagai problema yang dihadapi. Madrasah telah kehilangan akar sejarahnya, artinya

Salah satu aplikasi android yang digunakan untuk menentukan arah kiblat yaitu Islamicastro versi 1.18.12. yang dirilis tahun 2018 oleh Muhammad Faishol Amin. Penulis tertarik

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dari 26 rasio tersebut, terdapat 2 rasio yang tidak signifikan sebagai faktor pembentuk kinerja perbankan, yaitu LEV

Kondisi rendahnya harga karet sekarang ini sangat berpengaruh bagi perekonomian masyarakat Desa Tanjung Jariangau terutama mereka yang bekerja sebagai petani karet,

Menurut penuturan bapak Ramli Efendi,S.Kom kepala TU SMA Muhammadiyah 2 Bandar Lampung, beliau mengatakan pemenuhan sarana dan prasarana yang ada saat ini

Pada kolom Bahasa dan Sastra, ekspresi menyajikan sajian khas yang tak kalah menarik untuk dinikmati pembaca, tentang bagaimana memanfaatkan teknologi dalam Pembelajaran Bahasa

Produktivitas yang tinggi dapat menyebabkan peringkat obligasi perusahaan juga semakin baik dan masuk dalam kategori investment grade, hal tersebut dapat memberikan sinyal

post test yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas VIII pada materi keliling dan luas lingkaran..