Nomor : 6 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
LAMPIRAN : KEPUTUSAN GUBERNUR NOMOR : 19 TAHUN 2007
Yogyakarta, 2007 GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, TTD
HAMENGKU BUWONO X WAKIL KETUA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TTD
Nomor : 6 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
LAPORAN ALIRAN KAS
PERIODE 01 JANUARI 2006 S.D 31 DESEMBER 2006 TAHUN ANGGARAN 2006
Yogyakarta, 25 Oktober 2007 GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, TTD
HAMENGKU BUWONO X WAKIL KETUA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TTD
Nomor : 6 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH NOMOR : 6 TAHUN 2007 TANGGAL : 25 OKTOBER 2007
Diundangkan di Yogyakarta pada tanggal 25 Oktober 2007
LEMBARAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TA-HUN 2007 NOMOR 6
SEKRETARIS DAERAH
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TTD
TRI HARJUN ISMAJI NIP. 110 023 446
Nomor : 6 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007 Pasal 4
Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dijelaskan lebih lanjut tercan-tum dalam Lampiran Peraturan Daerah ini yaitu :
1. Lampiran I : Laporan Perhitungan Realisasi APBD 2. Lampiran II : Nota Perhitungan APBD
3. Lampiran III : Laporan Aliran Kas 4. Lampiran IV : Neraca Daerah
Pasal 5
Lampiran-lampiran sebagaimana tersebut pada pasal 4 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 6
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan Pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam lembaran Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ditetapkan di Yogyakarta pada tanggal 25 Oktober 2007
GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, TTD
Selisih lebih/(kurang) (Rp. 141.326.930.840,68) (3) Selisih anggaran dengan realisasi surplus/defisit pembiayaan sejumlah Rp.
210.869.773.262,58 dengan rincian sebagai berikut :
a. Anggaran surplus/defisit setelah perubahan (Rp. 180.355.171.681,29)
b. Realisasi Rp. 30.514.601.581,29
Selisih lebih/(kurang) Rp. 210.869.773.262,58 (4) Selisih anggaran dengan realisasi pembiayaan sejumlah ( Rp. 210.869.773.262,58)
dengan rincian sebagai berikut : a. Penerimaan 1) Setelah perubahan Rp. 189.400.976.681,29 2) Realisasi Rp. 189.400.976.681,29 Selisih lebih/(kurang) Rp. 0,00 b. Pengeluaran 1) Setelah perubahan Rp. 9.045.805.000,00 2) Realisasi Rp. 219.915.578.262,58 Selisih lebih/(kurang) Rp. 210.869.773.262,58 Pasal 3
(1) Berdasarkan perhitungan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja seba-gaimana dimaksud dalam Pasal 1, posisi keuangan pada tanggal 31 Desember 2006 yang dituangkan dalam Neraca Daerah sebagai berikut:
a. Jumlah Aktiva Rp. 3.608.862.157.986,90 b. Jumlah Utang Rp. 20.248.661.654,21 c. Jumlah Ekuitas Dana Rp. 3.588.613.496.332,69 (2) Berdasarkan perhitungan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja
seba-gaimana dimaksud dalam Pasal 1, saldo Kas Daerah pada tanggal 31 Desember 2006 yang dituangkan dalam Aliran Kas sejumlah Rp 211.375.985.838,58 den-gan rincian sebagai berikut:
a. Saldo Kas 1 Januari 2006 Rp. 189.400.976.681,29 b. Jumlah Penerimaan Kas Rp. 881.651.062.149,62
Rp. 1.071.052.038.830,91
c. Jumlah Pengeluaran Kas . Rp. 859.676.052.992,33 d. saldo Kas 31 Desember . Rp. 211.375.985.838,58
Nomor : 6 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007 Dengan persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
dan
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TENTANG PERHITUNGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI DAER-AH ISTIMEWA YOGYAKARTA TDAER-AHUN ANGGARAN 2006
Pasal 1
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2006 sebagai berikut : a. Pendapatan... Rp. 881.114.849.573,62 b. Belanja... Rp. 850.630.247.992,33 Surplus/(Defisit)... Rp. 30.514.601.581,29 c. Pembiayaan - Penerimaan Daerah... Rp. 189.400.976.681,29 - Pengeluaran Daerah... Rp. 219.915.578.262,58 - Surplus/defisit... (Rp. 30.514.601.581,29) Pasal 2
(1) Selisih anggaran dengan realisasi pendapatan sejumlah Rp. 69.542.842.421,90 dengan rincian sebagai berikut :
a. Anggaran pendapatan setelah perubahan Rp. 811.602.007.151,72
b. Realisasi Rp. 881.144.849.573,62
Selisih lebih/(kurang) Rp. 69.542.842.421,90 (2) Selisih anggaran dengan realisasi belanja sejumlah ( Rp. 141.326.930.840,68 )
dengan rincian sebagai berikut
a. Anggaran Belanja setelah perubahan Rp. 991.957.178.833,01
4138);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 119 Tamba-han Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139); 15. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban, dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Penda-patan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran dan Belanja Daerah;
16. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2001-2005;
17. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 2002 tentang Program Pembangunan Daerah (PROPE-DA) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2001-2005 Jo. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2002;
18. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Daerah (RENSTRA-DA) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004-2008; 19. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor
1 Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2006 (Lembaran Daerah Tahun 2006 Nomor 1);
20. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun2006 tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Be-lanja Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Ang-garan 2006 (Lembaran Daerah Tahun 2006 Nomor 5);
Nomor : 6 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pe-rubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 108 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);
8. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 126 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
9. Undang-undang Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perim-bangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 No-mor 4021 sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4165);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelo-laan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202, Tambahan Lemba-ran Negara Republik Indonesia 4022);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudu-kan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Lem-baran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 210, Tam-bahan Lembaran Negara Nomor 4028);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 4416);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daer-ah (Lembaran Negara Republik Indonesia TDaer-ahun 2001 Nomor 118 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia NoMOR
2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3312) seba-gaimana telah diubah dengan Undang undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 No-mor 62 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia NoNo-mor 3569);
3. Undang -Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Ta-hun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik In-donesia Nomor 3685) Jo. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048); 4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan
Hak Atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik In-donesia Tahun 1997 Nomor 44 Tambahan Lembaran Negara Re-publik Indonesia Nomor 3688);
5. Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepo-tisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 mor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No-mor 3851);
6. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pem-bangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Ta-hun 2000 Nomor 206, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);
7. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun2004 mor 125 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No-mor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peratuaran Pemerintah
LEMBARAN DAERAH DAN BERITA DAERAH
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2007
TENTANG
PERHITUNGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN
2006
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,
Menimbang : a. bahwa sehubungan dengan telah berakhirnya Tahun Anggaran 2006 perlu dilakukan Perhitungan Anggran Pendapatan dan Be-lanja Daerah;
b. bahwa hasil Perhitungan Anggran Pendapatan dan Belanja Daer-ah sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah;
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana telah diubah dan ditambah tera-khir dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1819);
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
mencakup :
a. membangun dan/atau memasang dan/atau
mengoperasional-kan alat pengendalian pencemaran udara.
b. menghentikan sementara suatu usaha dan/atau kegiatan.
c. mencabut izin usaha.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Cukup jelas.
a. Operasi Yustisi
Dalam rangka penaatan hukum, pengawasan terhadap
sum-ber pencemar udara dalam hal ini sumsum-ber pencemar udara
dalam hal ini sumber bergerak kendaraan bermotor, yang
berwenang melakukan tindakan hukum adalah Instansi
Perhubungan. Sedangkan pengawasan terhadap sumber
pencemar udara dalam hal ini sumber tidak bergerak yang
berwenang melakukan tindakan hukum adalah Instansi
Pengendalian Dampak Lingkungan.
b. Operasi Non Yustisi
Operasi non yustisi bersifat pembinaan hukum, untuk
pen-gawasan terhadap sumber bergerak kendaraan bermotor
dapat dilaksanakan oleh Instansi Perhubungan dan/atau
In-stansi Pengendalian Dampak Lingkungan. Sedangkan
pen-gawasan terhadap sumber tidak bergerak dilaksanakan oleh
Instansi Pengendalian Dampak Lingkungan.
Pasal 23
Cukup Jelas
Pasal 24
Pengertian lebih lanjut dari pasal ini adalah, bahwa hasil setiap
pengawasan yang dilakukan oleh Pejabat Pengawas
Lingkun-gan Hidup Daerah perlu dikoordinasikan denLingkun-gan penyidik
Pe-gawai Negeri Sipil untuk ditindak lanjuti sesuai dengan tingkat
pelanggaran hukum yang terjadi.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
oleh Lembaga Pengujian Laboratorium milik Pemerintah
dan/atau Laboratorium Swasta yang memenuhi persyaratan
sebagai Laboratorium pengujian yang ditunjuk oleh
Guber-nur.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 21
Ayat (1)
Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota
berkewajiban melakukan pengujian mutu udara ambien
un-tuk mengetahui tingkat pencemaran akibat dari suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Ayat (2)
Pengujian mutu udara ambien yang dilakukan oleh
Pemer-intah Daerah melalui instansi yang ditunjuk melakukan
pen-gendalian dampak lingkungan dapat melakukan sendiri dan/
atau melibatkan Laboratorium pengujian yang ditunjuk oleh
Gubernur.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 22
Dalam rangka pengawasan pelaksanaan pengendalian
pence-maran udara Gubernur dan/atau Bupati/Walikota menugaskan
kepada Instansi Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi
dan Kabupaten/Kota. Sebagai penjabarab lebih lanjut Kepala
Instansi yang ditugasi melakukan pengawasan menunjuk
pe-jabat untuk melakukan pengawasan. Bentuk pengawasan yang
bersifat rutin dan melekat, ditempuh dengan beberapa macam
cara dan tindakan:
Pasal 15
Pengertian keadaan darurat yaitu situasi buruk pada wilayah
ter-tentu dengan ditandai status mutu udara tidak memenuhi baku mutu
karena tercemar oleh satu atau lebih polutan dari suatu usaha dan/
atau kegiatan.
Pasal 16
Bentuk fasilitasi teknis meliputi pembinaan, bimbingan dan
pe-nyuluhan yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Instansi yang
membidangi pengendalian dampak lingkungan.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)
Pengujian emisi kendaraan bermotor yang menjadi
kewenan-gan Pemerintah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Lembaga
Pengujian Pemerintah dan/atau Lembaga Pengujian Swasta/
bengkel yang memenuhi persyaratan sebagai lembaga
pen-gujian. Persyaratan dan tata cara perizinan sebagai Lembaga
Pengujian Swasta diatur dengan Peraturan yang ditunjuk
oleh Gubernur.
Ayat (2)
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
maka Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah dengan
meli-batkan instansi terkait berkewajiban melakukan penegakan hukum
setiap saat dengan melakukan uji petik emisi, getaran, kebisingan
dan kebauan.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Yang dimaksud penanggulangan pencemaran dalam pasal ini yaitu
suatu tindakan administrasi dan teknis yang bertujuan untuk
mengh-entikan dan/atau mencegah meluasnya pencemaran dari suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Bentuk tindakan penanggulangan pencemaran udara antara lain
penghentian sementara operasi suatu usaha dan/atau kegiatan,
pe-nanaman pohon di sekitar tempat usaha dan/atau kegiatan dan/atau
tindakan lain yang bersifat mengeliminir terjadinya pencemaran.
Pasal 13
Yang dimaksud pemulihan mutu udara dalam pasal ini yaitu suatu
tindakan administrasi dan teknis yang bertujuan untuk
mengemba-likan kualitas udara ambien agar sesuai dengan fungsinya.
Bentuk tindakan pemulihan mutu udara antara lain penghentian
op-erasi suatu usaha dan/atau kegiatan, relokasi usaha dan/atau
kegia-tan, penataan ulang lingkungan.
Pasal 14
iatan lainnya, merupakan bagian lain dari pengelolaan lingkungan
hidup. Bagi kegiatan yang memiliki dokumen lingkungan hidup
berupa Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Upaya
Pengelolaan Lingkungan/Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/
UPL) maupun Dokumen Pengelolaan Lingkungan (DPL) dalam
melakukan pengujian emisi, harus berpedoman pada dokumen
yang dimiliki, sehingga bukan sebagai kegiatan tambahan apalagi
berdiri sendiri.
Kewajiban melengkapi cerobong dan fasilitas lainnya bagi usaha
dan/atau kegiatan yang mengeluarkan emisi dilakukan melalui pipa
pembuangan, sedang bagi yang mengeluarkan emisi tidak
mela-lui pipa pembuangan wajib melakukan pengelolaan pada sumber
pencemar sehingga tidak menimbulkan pencemaran.
Pasal 9
Pengukuran getaran, kebisingan dan kebauan bagi kegiatan sumber
tidak bergerak maupun kegiatan lainnya, merupakan bagian dari
pengelolaan lingkungan hidup. Bagi kegiatan yang memiliki
doku-men pengelolaan lingkungan hidup berupa AMDAL, UKL/UPL,
maupun DPL dalam melakukan Pengukuran getaran, kebisingan,
dan kebauan harus berpedoman pada dokumen yang dimiliki,
se-hingga bukan sebagai kegiatan tambahan apalagi berdiri sendiri.
Pengukuran getaran, kebisingan dan kebauan dilakukan oleh
lab-oratorium yang telah memenuhi persyartan sebagai lablab-oratorium
lingkungan yang telah ditunjuk oleh Gubernur.
Pasal 10
Untuk membuktikan ketaatan setiap pemilik dan atau penanggung
jawab kegiatan sumber tidak bergerak dan kegiatan lainnya, agar
setiap saat mutu emisi, getaran, kebisingan dan kebauan memenuhi
baku mutu emisi dan baku tingkat getaran, kebisingan dan kebauan,
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007 si sumber tidak bergerak.
c. Pengertian kegiatan lainnya adalah jenis usaha dan/atau kegiatan yang dalam operasionalanya menghasilkan emisi gas buang, partikel atau ba-han pencemar udara lain yang tidak dapat dimonitor melalui pipa pem-buangan (misalnya emisi dari kegiatan pertambangan, emisi dari kegia-tan pembakaran sampah, emisi dari kegiakegia-tan pengeringan limbah padat, dan lain-lain).
Pasal 6
Cukup Jelas Pasal 7
Ayat (1)
Kewajiban pengujian emisi gas buang sumber bergerak kendaraan bermotor berlaku untuk semua jenis dan ukuran (roda dua, roda tiga, roda empat atau lebih)
Ayat (2)
Kewajiban pengujian emisi gas buang kendaraan bermotor lebih lan-jut akan diatur oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
Ayat (3)
Untuk membuktikan ketaatan setiap orang pemilik kendaraan ber-motor agar setiap saat mutu emisi gas buang kendaraan berber-motor memenuhi baku mutu, maka Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Perhubungan dengan melibatkan instansi terkait berkewajiban melakukan penegakan hukum setiap saat. Pasal 8
Yang dimaksud pencegahan pencemaran dalam pasal ini yaitu
keg-iatan yang berkaitan dengan tindakan administrasi berupa perizinan
dan tindakan teknis yang bertujuan untuk mencegah terjadinya
pencemaran dari suatu usaha dan/atau kegiatan. Bentuk tindakan
teknis dalam pencegahan pencemaran antara lain pemasangan filter
pada cerobong (pipa pembuangan emisi), reduksi emisi dan/atau
bentuk tindakan lainnya.
keg-d. pemanfaatan kualitas udara baik ambiendan emisi yang diikuti dengan evaluasi dan analisis;
e. pengawasan terhadap pentaatan peraturan pengendalian pencemaran udara; f. peran masyarakat dalam kepedulian terhadap pengendalian udara;
g. kebijakan bahan bakar yang diikuti dengan serangkaian kegiatan terpadu den-gan mengacu kepad bahan bakar bersih dan ramah lingkunden-gan;
h. penetapan kebijakan dasar baik teknis maupun non teknis dalam pengendalian pencemaran udara.
II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup Jelas Pasal 4
Yang dimaksud perlindungan mutu udara ambien dalam pasal ini adalah suatu upaya yang dilakukan oleh orang seseorang, kelompok orang, badan hukum dan pemerintah untuk melakukan pengelolaan mutu udara ambien agar tetap memenuhi fungsinya. Untuk itu instrumen hukum yang berupa baku mutu udara ambien, baku mutu emisi, baku tingkat kebisingan, getaran dan ke-bauan merupakan pedoman untuk melakukan pedoman secara umum. Pasal 5
a. Pengertian sumber bergerak adalah semua jenis kendaraan bermotor un-tuk angkutan umum (orang dan barang) milik pribadi, kendaraan mi-lik pemerintah, kendaraan mimi-lik Badan Usaha Negara, Badan Usaha Daerah dan Perusahaan Swasta yang beroperasi dan melintas di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Pengertian sumber tidak bergerak dalam hal ini adalah jenis usaha dan atau kegiatan sebagaimana yang diatur dalam ketentuan baku mutu
emi-Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
bergerak dan kegiatan lainnya. Disamping sumber bergerak dan sumber
tidak bergerak seperti tersebut diatas, terdapat emisi yang spesifik yang
penanganan upay pengendaliannya masih belum ada acuan baik di tingkat
nasional maupun internasional. Sumber emisi ini adalah pesawat terbang,
kapal laut, kereta api, dan kendaraan berat spesifik lainnya.
Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa sasaran
pen-gelolaan lingkungan hidup adalah tercapainya keselarasan, keserasian dan
keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup dengan
mempertim-bangkan generasi masa kini dan yang akan datang serta terkendalinya
pe-manfaatan sumber daya alam secara bijaksana. Pengendalian pencemaran
udara mengacu kepada sasaran tersebut sehingga pola kegiatannya
tera-rah dengan tetap mempertimbangkan hak dan kewajiban serta peran serta
masyarakat.
Selanjutnya ditegaskan pula bahwa anggota masyarakat berhak
atas lingkungan hidup yang baik dan sehat yang diikuti dengan kewajiban
untuk memelihara dan melestarikan fungsi lingkungan hidup, sehingga
se-tiap orang mempunyai peran yang jelas didalam hak dan kewajibannya
mengelola lingkungan hidup. Dalam Peraturan Daerah ini juga diatur hak
dan kewajiban setiap anggota masyarakat serta setiap pelaku usaha dan/
atau kegiatan, agar dalam setiap langkah kegiatannya tetap menjaga dan
memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup.
Pengendalian pencemaran udara mencakup kegiatan-kegiatan yang
berin-tikan :
a. inventarisasi kualitas udara di suatu daerah dengan mempertimbangkan berba-gai kriteria yang ada dalam pengendalian pencemaran udara;
b. penetapan baku mutu ambien dan baku mutu emisi yang digunakan sebagai tolok ukur pengendalian pencemaran udara;
c. penetapan mutu kualitas udara di suatu daerah termasuk perencanaan penga-lokasian kegiatan yang berdampak mencemari udara;
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2007
TENTANG
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA I. UMUM
Udara merupakan sumber daya alam yang harus dilindungi untuk
hidup dan kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Udara
mempu-nyai arti yang sangat penting di dalam kehidupan mahluk hidup dan
ke-beradaan benda-benda lainnya. Oleh karena itu pemanfaatannya harus
di-lakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi
sekarang dan yang akan datang. Untuk mendapatkan udara sesuai dengan
tingkat kualitas yang diinginkan maka pengendalian pencemaran udara
menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Pencemaran udara diartikan dengan turunnya kualitas udara
seh-ingga udara mengalami penurunan mutu dalam penggunaannya dan
akh-irinya tidak dapat digunakan lagi sebagaimana mestinya sesuai dengan
fungsinya. Dalam pencemaran udara selalu terkait dengan sumber yang
menghasilkan pencemaran udara yaitu sumber udara yang bergerak
(um-umnya kendaraan bermotor), sumber yang tidak bergerak (um(um-umnya
keg-iatan industri) dan kegkeg-iatan lainnya. Sementara pengendalian pencemaran
udara selalu terkait dengan serangkaian kegiatan pengendalian yang
ber-muara dari batasan baku mutu udara.
Tolok ukur atau baku mutu udara baik emisi maupun ambien
dis-usun dalam rangka pengendalian pencemaran udara. Uraian lebih detil dan
terinci kegiatan-kegiatan pengendalian pencemaran udara lebih utama
di-arahkan pada sumber pencemar udara baik yang bergerak maupun tidak
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007 BAB XIX
KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 28
(1) Selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak diundangkannya Peraturan Daerah ini, tindak lanjut yang harus diatur dengan Peraturan Gubernur harus sudah di tetap-kan.
(2) Selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Peraturan Daerah ini, Pemerintah Kabupaten/Kota menyesuaikan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah ini.
(3) Selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sejak diundangkannya Peraturan Daerah ini setiap usaha dan/atau kegiatan wajib menyesuaikan menurut persyartan ber-dasarkan Peraturan Daerah ini.
(4) Pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua peraturan perundang-undangan yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini.
BAB XVII
SANKSI ADMINISTRASI Pasal 26
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 8 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11 dapat dikenakan sanksi administrasi berupa paksaan pemerintahan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan, melakukan penyelamatan, penanggulangan dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan, kecuali ditentukan lain berdasarkan undang-undang.
(2) Pihak Ketiga yang berkepentingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak mengajukan permohonan kepada Gubernur untuk melakukan paksaan pemerin-tahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dida-hului dengan surat perintah dari Gubernur.
(4) Penjatuhan sanksi berupa paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu.
(5) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (4) dapat dil-impahkan kepada Bupati/Walikota.
BAB XVIII KETENTUAN PIDANA
Pasal 27
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 8 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 9 ayat (1), Pasal 10, dan Pasal 11 tidak mengindahkan sanksi administrasi dikenakan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. (3) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pendapatan daerah.
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007 masing-masing.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ber-wenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berka-naan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehu-bungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup; d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti, pembukuan, catatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup;
f. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup;
g. menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tem-pat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud huruf e; h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana;
i. memanggil seseorang untuk didengar keterangannya dan diperiksa seba-gai tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang dianggap perlu untuk penyidikan tindak pi-dana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan;
(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberi-tahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya ke-pada Penyidik Polisi Negara Republik Indonesia selanjutnya diteruskan keke-pada Penuntut Umum.
kendaraan bermotor.
(5) Dalam melaksanakan tugas pengawasan terhadap sumber tidak bergerak dan kegiatan lainnya, pejabat pengawas sebagaimana dimaksud ayat (2) berwenang melakukan pemantauan, meminta keterangan, membuat salinan dari doku-men dan/atau membuat catatan yang diperlukan, memasuki tempat tertentu, mengambil contoh mutu udara ambien dan/atau mutu emisi, memeriksa per-alatan, memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab terhadap usaha dan/atau kegiatan.
Pasal 23
Dalam rangka pelaksanaan pengawasan, setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib:
a. mengizinkan pejabat pengawas memasuki area atau lingkungan kerja;
b. memberikan keterangan lisan dan tertulis kepada pejabat pengawas apabila diperlukan;
c. memberikan catatan atau rekaman hasil uji emisi dan udara ambien serta mem-berikan dokumen lingkungan lainnya yang diperlukan oleh pejabat pengawas; d. membantu dan/atau memberi fasilitas kepada pejabat untuk melakukan uji
emi-si atau udara ambien;
e. mengizinkan kepada pejabat pengawas untuk melakukan pengambilan gambar dan/atau melakukan pemotretan di lokasi kerja.
Pasal 24
Berdasar hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23, dan diduga terjadi pencemaran udara maka Penyidik Pegawai Negeri Sipil segera melakukan penyidikan.
BAB XVI
KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 25
(1) Penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah ini, selain dilakukan oleh Penyidik Polri juga dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Ling-kungan Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
menuhi persyaratan tertentu yang ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Gu-bernur.
(2) Pengujian emisi, kebisingan, getaran dan kebauan dari sumber tidak bergerak dan kegiatan lainnya dilakukan oleh Laboratorium yang ditunjuk dengan kepu-tusan Gubernur.
(3) Pembiayaan pengujian emisi, kebisingan, getaran dan kebauan dibebankan ke-pada pemilik kendaraan bermotor atau penanggung jawab usaha dan/atau kegi-atan.
Bagian Kedua Pengujian Udara Ambien
Pasal 21
(1) Pengujian udara ambien merupakan tugas dan tanggungjawab dari penang-gungjawab usaha dan/atau kegiatan serta Pemerintah Daerah.
(2) Dalam hal pengujian udara ambien untuk mengetahui status mutu udara, Pe-merintah Daerah dapat melakukan pengujian sendiri dan/atau menunjuk labora-torium pengujian dan/atau jasa pengujian lain yang memenuhi persyaratan. (3) Pembiayaan pengujian udara ambien dibebankan kepada penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan Pemerintah Daerah. BAB XV PENGAWASAN
Pasal 22
(1) Pelaksanaan pengawasan pengendalian pencemaran udara dilaksanakan oleh Gubernur dan/atau Bupati/Walikota.
(2) Dalam hal pengawasan, Gubernur atau Bupati/Walikota menunjuk dan men-etapkan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah.
(3) Dalam melaksanakan tugas pengawasan terhadap sumber bergerak kendaraan bermotor dilaksanakan oleh Instansi Perhubungan dan/atau instansi Pengenda-lian Dampak Lingkungan Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota.
(4) Dalam rangka pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Instansi Per-hubungan Provinsi dapat melakukan uji petik pemeriksaan emisi gas buang
mengendalikan dampak lingkungan.
(3) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan selanjutnya menyam-paikan saran, masukan dan keberatan dari masyarakat tersebut kepada instansi yang berwenang.
(4) Instansi yang berwenang wajib mempertimbangkan saran, masukan, dan ke-beratan dari masyarakat tersebut di dalam proses pengambilan keputusan.
Pasal 18
(1) Masyarakat berhak melakukan pengawasan dalam pelaksanaan pengendalian pencemaran udara dan/atau minta keterangan terhadap Instansi Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (2) Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sebagai salah satu bentuk
pelaksanaan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. BAB XII
PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 19
(1) Sengketa pencemaran udara sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan yang di-lakukan dan menimbulkan kerugian pihak lain, penyelesaiannya dapat dilaku-kan melalui pengadilan dan di luar pengadilan.
(2) Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XIV
LEMBAGA PENGUJIAN Bagian Pertama
Pengujian Emisi, Kebisingan, Getaran dan Kebauan Pasal 20
(1) Pengujian emisi sumber bergerak kendaraan bermotor dilakukan oleh Perintah Kabupaten/Kota, atau oleh pihak swasta/bengkel swasta yang telah
me-Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
(2) Dalam hal pengendalian pencemaran udara yang diakibatkan pencemaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang tidak teridentifikasi jumlah dan jenis sum-ber pencemarnya, maka pembiayaannya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah, dengan melibatkan peran aktif dari dunia usaha, masyarakat dan/atau pihak lain.
BAB XI
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAERAH Pasal 15
(1) Pemerintah Daerah mempunyai tanggung jawab menyampaikan informasi ten-tang status mutu udara ambien kepada masyarakat.
(2) Dalam rangka pengendalian pencemaran udara, Pemerintah Daerah memiliki tanggung jawab penuh dalam membuat, menyusun, menetapkan dan melaksan-akan kebijaksanaan pengendalian pencemaran udara.
(3) Dalam hal status mutu udara buruk yang ada dalam suatu wilayah dan men-gancam kelestarian fungsi ligkungan hidup, keselamatan manusia dan mahluk hidup lainnya, Pemerintah Daerah bertanggung jawab melakukan tindakan pen-gendalian pencemaran udara serta mengumumkan keadaan darurat.
(4) Gubernur mengkoordinasikan pelaksanaan pencemaran udara. Pasal 16
Dalam rangka pengendalian pencemaran udara, Pemerintah Daerah dapat memberi-kan fasilitasi teknis kepada usaha dan/atau kegiatan dan/atau masyarakat.
BAB XII
PERAN SERTA MASYARAKAT Pasal 17
(1) Masyarakat berhak atas udara yang bersih dan sehat serta mempunyai kesempa-tan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengendalian pencemaran udara. (2) Penyampaian saran, masukan dan keberatan dalam pengendalian pencemaran
BAB VIII
PENANGGULANGAN PENCEMARAN UDARA Pasal 12
(1) Penanggulangan pencemaran udara dilakukan oleh Pemerintah Daerah, dunia usaha, masyarakat dan/atau pihak lain yang bertanggung jawab.
(2) Penanggulangan pencemaran udara yang diakibatkan dari suatu usaha dan/atau kegiatan sumber bergerak, sumber tidak bergerak dan/atau kegiatan lainnya menjadi tanggung jawab pihak yang menimbulkan pencemaran.
(3) Dalam hal pencemaran udara yang terjadi di suatu lokasi diakibatkan oleh ban-yak sumber pencemar, sehingga tidak dapat teridentifikasi dengan jelas, maka Pemerintah Daerah berkewajiban dalam upaya penanggulangan pencemaran dengan melibatkan dunia usaha, masyarakat dan/atau pihak lain.
BAB IX
PEMULIHAN MUTU UDARA Pasal 13
(1) Pemulihan mutu udara dilakukan oleh Pemerintah Daerah, dunia usaha, masyarakat dan/atau pihak lain yang bertanggung jawab.
(2) Pemulihan mutu udara yang diakibatkan adanya pencemaran dari suatu usaha dan/atau kegiatan lainnya menjadi tanggung jawab pihak yang menimbulkan pencemaran.
(3) Pemulihan mutu udara yang diakibatkan dari banyak sumber maka Pemerintah Daerah berperan aktif dengan melibatkan dunia usaha, masyarakat dan pihak lain.
BAB X
PEMBIAYAAN PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Pasal 14
(1) Biaya pengendalian pencemaran udara menjadi tanggung jawab pihak yang menimbulkanpencemaran.
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
(2) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan lainnya yang mengeluarkan emisi tidak melalui pipa pembuangan (cerobong asap) berkewajiban:
a. melakukan pengelolaan gas buang dari proses kegiatannya sehingga mutu gas buang yang dibuang ke lingkungan tidak menimbulkan pencemaran udara;
b. melakukan pemeriksaan gas buang di dalam dan di luar lokasi kegiatan se-caraberkala sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan;
c. hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf d disampaikan kepada Bupati/Walikota dan Gubernur sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali. (3) Kriteria jenis usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai kewajiban sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.
Pasal 9
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 wajib melakukan pengukuran getaran, kebisingan, dan kebauan sekurang-kurangnya sekali dalam 6 (enam) bulan.
(2) Hasil pengukuran getaran, kebisingan, dan kebauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Bupati/Walikota dan kepada Gubernur.
Pasal 10
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan pengelolaan emi-si, kebisingan, dan kebauan setiap saat harus memenuhi syarat baku mutu emiemi-si, baku tingkat kebisingan, getaran an kebauan.
Bagian ketiga
Pencegahan Pencemaran Sumber Orang Merokok Pasal 11
(1) Setiap orang dilarang merokok di kawasan dilarang merokok
(2) Penetapan kawasan dilarang merokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Gubernur dan atau Bupati/Walikota sesuai dengan ke-wenangannya.
BAB VII
PENCEGAHAN PENCEMARAN UDARA Bagian Pertama
Pencegahan Pencemaran Sumber Bergerak Pasal 7
(1) Setiap sumber bergerak kendaraan bermotor yang beroperasi di Daerah wajib melakukan pengujian emisi.
(2) Ketentuan pengujian emisi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.
(3) Setiap kendaraan bermotor yang beroperasi di Daerah, emisinya setiap saat harus memenuhi ketentuan baku mutu.
Bagian Kedua
Pencegahan Pencemaran Sumber Tidak Bergerak Pasal 8
(1) Setiap penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan sumber tidak bergerak yang mengeluarkan emisi melalui pipa pembuangan (cerobong emisi) berkewa-jiban:
a. melakukan pengelolaan emisi dari proses kegiatannya sehingga mutu emisi yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui baku mutu emisi sumber tidak bergerak yang sudah ditetapkan;
b. melengkapi cerobong emisi dengan sarana pendukung antara lain lobang sampling, tangga dan alat pengaman;
c. memasang alat pemantauan yang meliputi kadar dan laju volumetrik untuk setiap cerobong emisi yang tersedia serta alat ukur arah dan kecepatan an-gin;
d. melakukan pemeriksaan emisi secara berkala sekurang-kurangnya sekali da-lam 3 (tiga) bulan;
e. hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam huruf d disampaikan ke-pada Bupati/Walikota dan Gubernur sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sekali;
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007 BAB IV
PERLINDUNGAN MUTU UDARA Pasal 4
Perlindungan mutu udara ambien didasarkan pada baku mutu udara ambien, baku mutu emisi sumber tidak bergerak, baku mutu emisi sumber bergerak kendaraan ber-motor, baku tingkat kebisingan, getaran dan kebauan.
BAB V
RUANG LINGKUP PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Pasal 5
Ruang lingkup pengendalian pencemaran udara mencakup upaya pencegahan pence-maran udara, penanggulangan pencepence-maran udara serta pemulihan mutu udara ambien yang berasal dari sumber bergerak, sumber tidak bergerak dan kegiatan lainnya.
BAB VI
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Pasal 6
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan dari sumber bergerak, sumber tidak bergerak dan kegiatan lainnya wajib melakukan pengendalian pencemaran udara, sehing-ga kualitas udara ambien dan kualitas udara emisi, tingkat kebisinsehing-gan, getaran dan kebauan memenuhi baku mutu udara ambien, baku mutu emisi dan baku tingkat kebisingan, getaran dan kebauan.
(2) Baku mutu udara ambien, baku mutu emisi, baku tingkat kebisingan, getaran dan kebauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.
itas udara ambien, emisi gas buang, getaran, kebisingan dan kebauan bagi sum-ber pencemar tidak sum-bergerak.
24. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu.
25. Instansi Perhubungan adalah instansi yang bertugas dalam bidang perhubungan di Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota.
26. Instansi Pengendalian Dampak Lingkungan adalah instansi yang bertugas da-lam bidang dampak lingkungan di Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota.
BAB II
ASAS PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA Pasal 2
Pengendalian pencemaran udara diselenggarakan dengan asas tanggung jawab, par-tisipasi, berkelanjutan dan berkeadilan serta manfaat untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
BAB III
MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 3
(1) Pengendalian pencemaran udara dimaksudkan untuk mengendalikan sumber pencemar udara dan melindungi sumber daya udara;
(2) Pengendalian pencemaran udara bertujuan:
a. mengendalikan adanya emisi gas buang, debu/partikulat di udara, getaran, kebisingan dan kebauan yang ditimbulkan dari sumber bergerak, sumber tidak bergerak, dan kegiatan lainnya;
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar. 9. Batas maksimum adalah kadar tertinggi yang masih diperbolehkan dibuang ke
udara ambien.
10. Baku mutu emisi adalah ukuran batas atau kadar zat, dan/atau komponen lain yang ditenggang keberadaannya dalam emisi.
11. Baku mutu emisi sumber bergerak kendaraan bermotor adalah batas maksimum zat atau bahan pencemar yang boleh dikeluarkan langsung dari pipa gas buang kendaraan bermotor.
12. Baku mutu emisi sumber tidak bergerak adalah batas maksimum emisi yang diperbolehkan masuk atau dimasukkan ke dalam udara ambien.
13. Status mutu udara ambien adalah keadaan mutu udara di suatu tempat pada saat dilakukan inventarisasi.
14. Kebisingan adalah bunyi yang tidak diingikan dari usaha dan/atau kegiatan da-lam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan dan kenya-manandan kesehatan manusia.
15. Getaran adalah gerakan bolak balik suatu massa melalui keadaan seimbang ter-hadap suatu titik acuan.
16. Kebauan adalah bau yang tidak diinginkan dalam kadar dan waktu tertentu yang dapat mengganggu kenyamanan kesehatan manusia.
17. Sumber bergerak adalah sumber emisi yang bergerak atau tidak tetap pada suatu tempat yang berasal dari kendaraan bermotor.
18. Sumber tidak bergerak adalah sumber emisi yang tetap pada suatu tempat. 19. Kegiatan lainnya adalah kegiatan dan/atau usaha yang dalam operasinya
men-imbulkan/menghasilkan bahan pencemar udara, dimana pengukuran gas buang tidak dapat dilakukan melalui pipa pembuangan.
20. Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, mahluk hidup dan un-surlingkungan hidup lainnya.
21. Kawasan dilarang merokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk merokok meliputi tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, dan tempat spesifik sebagai tempat belajar mengajar, area kegiatan anak, tempat ibadah an angkutan umum.
22. Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah adalah Pegawai Negeri Sipil yang berada pada instansi pengendalian dampak lingkungan di daerah yang memenuhi persyaratan tertentu dan diangkat oleh Gubernur/Bupati/Walikota. 23. Laboratorium adalah laboratorium yang berwenang melakukan pengujian
kual-Dengan persetujuan bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
dan
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TENTANG PENGENDALIAN PENCEMA-RAN UDARA.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati/Walikota dan perangkat daerah se-bagai unsur penyelenggara pemerintah.
2. Daerah adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Gubernur adalah Gubernur Derah Istimewa Yogyakarta.
4. Bupati/Walikota adalah Bupati/Walikota se Provinsi Daerah Istimewa Yogya-karta.
5. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota se Provinsi Daerah Istimewa Yogya-karta.
6. Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.
7. Pengendalian pencemaran udara adalah upaya pencegahan dan/atau penanggu-langan pencemaran udara serta pemulihan mutu udara.
8. Emisi adalah zat, energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkannya ke dalam udara ambien yang
Nomor : 5 Lembaran Daerah Provinsi DIY Tahun 2007
Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1993 tentang Pemerik-saan Kendaraan Bermotor di Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3528);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indone-sia Nomor 3530);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengenda-lian Pencemaran Udara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3853);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenan-gan Pemerintah dan KewenanKewenan-gan Provinsi sebagai Daerah Oto-nom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengaman-an Rokok bagi KesehatPengaman-an (LembarPengaman-an Negara Republik Indone-sia Tahun 2003 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Repub-lik iNdonesia Nomor 4276);
12. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta No-mor 5 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Lalu Lintas Jalan di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2004 No-mor 15 Seri E);
Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Pengendalian Pencemaran Udara;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta Jo. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana telah diubah dan ditambah tera-khir dengan Undang-undang Nomor 26 Tahun 1959 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1819);
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indone-sia Nomor 3480);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Ta-hun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik in-donesia Nomor 3699);
5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No-mor 125, Tambahan Negara Republik Indonesia NoNo-mor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik
LEMBARAN DAERAH DAN BERITA DAERAH
PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 5 TAHUN 2007
TENTANG
PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,
Menimbang : a. bahwa kondisi udara di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah terdapat indikasi adanya peningkatan polutan di udara, sehingga menyebabkan turunnya mutu udara ambien dan daya dukung lingkungan serta kesehatan manusia dan mahluk hidup lain;
b. bahwa dalam rangka pengendalian pencemaran udara, perlu di-lakukan pengambilan kebijaksanaan yang bersifat lintas wilayah terhadap kegiatan-kegiatan yang berpotensi menimbulkan pence-maran udara;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud da-lam huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Daerah Provinsi
Pasal 296
Cukup jelas. Pasal 297
Cukup jelas. Pasal 298
Dana bergulir merupakan kas daerah yang ditempatkan dimasyarakat da-lam rangka pengembangan ekonomi masyarakat
Pasal 299
Cukup jelas. Pasal 300