• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL BAHASA INDONESIA. KELAS X IBA (Peminatan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL BAHASA INDONESIA. KELAS X IBA (Peminatan)"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL BAHASA INDONESIA KELAS X IBA (Peminatan)

_Disusun oleh: Elisabeth Prasetiawati_

YAYASAN WIDYA BHAKTI

SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A

Jl. Merdeka No. 24 Bandung  022. 4214714 – Fax.022. 4222587 http//: www.smasantaangela.sch.id, e-mail : [email protected]

043

URS is member of Registar of Standards (Holding) Ltd.

ISO 9001 : 2008 Cert. No. 47484/A/0001/UK/En

(2)

I. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa mampu menganalisis nilai-nilai yang terdapat dalam prosa lama maupun baru (cerpen dan hikayat).

2. Siswa mampu menganalisis unsur intrinsic maupun ekstrinsik yang terdapat dalam suatu cerita.

3. Siswa mampu mengaitkan relevansi cerita dengan realitas yang ada dalam bentuk resensi.

II. Peta Konsep

•Prosa Lama

•Prosa Baru

Prosa

•Unsur Intrinsik

•Unsur Ekstrinsik

Analisis Prosa

•Resensi Cerpen

Resensi Prosa

(3)

III. Materi

Prosa adalah karangan yang bersifat menerangkan atau menjelaskan secara terurai mengenai suatu masalah atau suatu hal atau suatu peristiwa.

Perbedaan prosa lama dan prosa baru menurut Dr. J. S. Badudu:

1. Prosa lama

a) Cenderung bersifat stastis (ceritanya kurang berkembang, sesuai dengan keadaan masyarakat lama yang mengalami perubahan secara lambat).

b) Bersifat istanasentris (ceritanya sekitar kerajaan, istana, keluarga raja, dan bersifat feodal).

c) Dipengaruhi oleh kebudayaan dan kesusastraan Hindu dan Arab.

d) Nama pengarang sering bersifat anonim (tanpa nama).

e) Diceritakan secara lisan.

f) Bentuk prosa lama: mite, sage/epos, legenda, fabel, hikayat, dongeng, dan cerita berbingkai.

2. Prosa Baru

a) Prosa baru bersifat dinamis (ceritanya senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat).

b) Bersifat masyarakatsentris (cerita mengambil bahan dari kehidupan masyarakat sehari-hari).

c) Dipengaruhi oleh kebudayaan dan kesusastraan Barat.

d) Nama pengarang ditulis secara jelas.

e) Hasilnya dalam bentuk tulisan.

f) Bentuk prosa baru: roman, riwayat (otobiografi), novel, cerpen, dan antologi cerpen.

(4)

 Unsur Intrinsik Prosa

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri.

Unsur-unsur intrinsik terbagi atas:

1. Tema

Tema adalah makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita (Nurgiyantoro, 1995: 67). Tema sebuah cerita biasanya disajikan secara tersirat atau implisit.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah individu rekaan atau tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita.

Penokohan adalah watak, sikap, atau perilaku (karakteristik) tokoh yang digambarkan secara fisik atau batin.

a) Tokoh dilihat dari peran/fungsinya terdiri dari tokoh utama (sentral) dan tokoh tambahan (pembantu).

b) Tokoh dilihat dari karakternya terdiri dari tokoh protagonis, anatagonis, dan tritagonis.

c) Tokoh dilihat dari penggambaran watak (perkembangan wataknya) terdiri atas tokoh datar/pipih dan tokoh bulat.

Penokohan setiap tokoh dapat disampaikan dengan dua cara:

a) Penokohan secara langsung (analitik) yaitu pengarang menyampaikan watak atau sifat pelaku cerita secara langsung.

b) Penokohan secara tidak langsung (dramatik) yaitu penyampaian sifat pelaku dengan cara menggambarkan dan tidak disebutkan secara langsung (dilihat dari dialog antar tokoh atau dari pikiran tokoh lain).

3. Latar

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, dan pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang atau tempat, dan keadaan atau suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar dibedakan menjadi tiga macam:

(5)

a) Latar tempat: Lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan.

b) Latar waktu: Kapan terjadinya peristiwa yang diceritakan.

c) Latar suasana: Berkaitan dengan hal-hal yang berhubungan dengan suasana atau keadaan yang terjadi di dalam cerita.

4. Alur

Alur adalah jalan cerita yang dibuat pengarang dalam menjalin kejadian secara berurutan dengan memperhatikan hubungan sebab-akibat sehingga menjadi satu kebulatan cerita yang utuh.

Tahapan alur adalah:

a. Tahap prolog yaitu tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan latar dan tokoh.

b. Tahap konflik yaitu adanya masalah-masalah yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik, dan konflik akan berkembang pada tahap berikutnya.

c. Tahap klimaks yaitu konflik yang terjadi mencapai titik intensitas puncak.

d. Tahap antiklimaks yaitu konflik yang mencapai klimaks diberi penyelesaian dan ketegangan dikendorkan.

e. Tahap ending/epilog yaitu tahap akhir cerita.

Macam-macam alur:

a. Alur maju adalah jalan cerita yang jalan peristiwanya berurutan mulai dari cerita awal hingga akhir. Misalnya, cerita seseorang mulai dari kecil hingga dewasa.

b. Alur mundur adalah jalan cerita yang menceritakan sebuah peristiwa berurutan mundur mulai dari cerita bagian akhir ke cerita awal. Misalnya, cerita pengalaman seseorang dimulai dari masa tua menuju ke masa kecil.

(6)

c. Alur campuran adalah jalan cerita yang menceritakan peristiwa mulai dari masa sekarang ke masa depan lalu kembali ke masa sekarang kemudian kembali lagi melanjutkan cerita ke masa depan. Alur campuran antara alur maju dengan alur mundur.

5. Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan cara pengarang dalam menceritakan tokoh- tokohnya.

Macam-macam sudut pandang:

a. Sudut pandang “Orang Pertama” atau orang pertama pelaku utama (menggunakan kata ganti orang pertama: aku, saya, beta, hamba, dll.) contoh:

Aku menapaki jalan kehidupan yang kian lama kian terasa menyulitkan. Ingin rasanya aku mengakhiri semua penderitaan hidup ini, tapi aku tak mampu. Teringat aku akan pesan ibuku kala itu, “Bunuh diri itu dosa, anakku”, kata-kata itu terus teringang dalam ingatanku.

b. Sudut pandang “Orang Kedua” atau orang pertama pelaku sampingan

(menggunakan kata ganti orang kedua: kamu, engkau, kau, dll. – pengarang tidak tau pikiran dan perasaan tokohnya)

contoh:

Dengan bertambahnya hari, kau terlihat makin berbeda. Berbeda dalam artian yang sungguh-sungguh berbeda. Kau tampak makin lesu, dari fisikmu itu mencerminkan kau

(7)

sedang ditimpa masalah berat. Kini, tak ada lagi senyuman yang mengiasi wajah cantikmu.

c. Sudut pandang “Orang Ketiga”

(menggunakan kata ganti orang ketiga: dia, mereka, dll. – pengarang tidak tahu pikiran dan perasaan tokohnya)

contoh:

Dengan bertambahnya hari, gadis itu terlihat makin berbeda. Berbeda dalam artian yang sungguh-sungguh berbeda. dia tampak makin lesu, dari fisiknya itu mencerminkan dia sedang ditimpa masalah berat. Kini, tak ada lagi senyuman yang mengiasi wajah cantiknya.

d. Sudut pandang “Pengarang Serba Tahu”

(menggunakan kata ganti orang kedua atau ketiga, pengarang tahu betul pikiran dan perasaan tokohnya)

contoh:

Dengan bertambahnya hari, gadis itu terlihat makin berbeda. Berbeda dalam artian yang sungguh-sungguh berbeda. Dia menyimpang begitu banyak masalah dalam hidupnya. Senyuman yang biasa mengiasi wajah cantiknya kini telah memudar karena tergantikan dengan wajah duka penuh keputusasaan.Dia terlihat berbeda

6. Amanat

Amanat adalah kesan atau pesan moral yang terdapat dalam cerita. Amanat atau pesan dapat dikatakan sebagai pelajaran berharga.

(8)

7. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara pengarang mengolah bahasa cerita. Gaya bahasa yang digunakan pengarang atau pencerita menyangkut pemilihan kata, pencitraan, dan penyusunan kata dan kalimat yang dapat berakibat pada nada cerita secara keseluruhan.

Unsur Ekstrinsik Prosa

Unsur Ekstrinsik adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra yang berasal dari luar karya sastra. Unsur-unsur ekstrinsik antara lain: faktor psikologis, faktor pendidikan, latar belakang sosial dan budaya pengarang.

Contoh prosa lama (hikayat)

HIKAYAT “PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG”

Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyeberang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya 1) kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, "Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?”

Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, "Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena

(9)

hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya." Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya,

"Untunglah sekali ini!"

Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu, "Sebagaimana 3) hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam."

Maka kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, "Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan." Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata 4) oleh si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu,

"Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai- bagailah katanya akan perempuan itu.

Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu."

Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu.

(10)

Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkata-kata dalam hatinya, "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati."

Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutnya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu.

Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Istri siapa perempuan ini?"

Maka kata Bedawi itu, "Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan; sudah besar dinikahkan dengan hamba."

Maka kata orang tua itu, "Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba."

Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah.

Maka orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu, "Berkata benarlah engkau, siapa suamimu antara dua orang laki-laki ini?"

Maka kata perempuan celaka itu, "Si Panjang inilah suami hamba." Maka pikirlah Masyhudulhakk, "Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.

Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, "Si Panjang itulah suami hamba."

(11)

Maka kata Masyhudulhakk, "Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki- laki dan siapa mentuamu perempuan dan di mana tempat duduknya?"

Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkah perempuan itu istrimu?"

Maka kata Bedawi itu, "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya."

Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, “Jika sungguh istrimu perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana kampung tempat ia duduk?"

Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Hai orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar- benamya?"

Maka kata orang tua itu, "Daripada mula awalnya." Kemudian maka dikatakannya, siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana tempat duduknya Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu. Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.

(12)

Contoh prosa baru (cerpen) Juru Masak

Damhuri Muhammad

Perhelatan bisa kacau tanpa kehadiran lelaki itu. Gulai kambing akan terasa hambar lantaran racikan bumbu tidak meresap ke dalam daging. Kuah gulaikentang dan gulai rebung bakal encer karena keliru menakar jumlah kelapaparut hingga setiap menu masakan kekurangan santan. Akibatnya, berseraklah fitnah dan cela yang mesti ditanggung tuan rumah. Bukan karena kenduri kurang meriah, tidak pula karena pelaminan tempat bersandingnya pasangan pengantin tak sedap dipandang mata, tetapi karena macam-macam hidangan yang tersuguh tak menggugah selera. Nasi banyak gulai melimpah, tetapi helat tak bikin kenyang. Ini celakanya bila Makaji, juru masak handal itu tidak dilibatkan.

Beberapa tahun lalu, pesta perkawinan Gentasari dengan Rustamadji yang digelar dengan menyembelih tiga belas ekor kambing dan berlangsung selama tiga hari, tidak berjalan mulus, bahkan hampir saja batal. Keluarga mempelai pria merasa dibohongi oleh keluarga mempelai wanita yang semula sudah berjanji bahwa semua urusan masak-memasak selama kenduri berlangsung akan dipercayakan kepada Makaji, juru masak nomor satu di Lareh Panjang ini. Namun, di hari pertama perhelatan, ketika rombongan keluarga mempelai pria tiba, gulai kambing, gulai nangka, gulai kentang, gulai rebung, dan aneka hidangan yang tersaji ternyata bukan masakan Makaji. Mana mungkin keluarga calon besan itu bisa dibohongi? Lidah mereka sudah sangat terbiasa dengan masakan Makaji.

“Kalau besok gulai nangka masih sehambar ini, kenduri tak usah dilanjutkan!”

ancam Sutan Basabatuah, penghulu tinggi dari keluarga Rustamadji.

“Apa susahnya mendatangkan Makaji?”

(13)

“Percuma bikin helat besar-besaran bila menu yang terhidang hanya bikin malu.”

Begitulah pentingnya Makaji. Tanpa campur tangannya, kenduri terasa hambar, sehambar gulai kambing dan gulai rebung karena bumbu-bumbu tak diracik oleh tangan dingin lelaki itu. Sejak dulu, Makaji tidak pernah keberatan membantu keluarga mana saja yang hendak menggelar pesta, tak peduli apakah tuan rumah hajatan itu orang terpandang yang tamunya membludak atau orang biasa yang hanya sanggup menggelar syukuran seadanya. Makaji tak pilih kasih, meski ia satu-satunya juru masak yang masih tersisa di Lareh Panjang. Di usia senja, ia masih tangguh menahan kantuk, tangannya tetap gesit meracik bumbu, masih kuat ia berjaga semalam suntuk.

***

“Separuh umur Ayah sudah habis untuk membantu setiap kenduri di kampung ini, bagaimana kalau tanggung jawab itu dibebankan pada yang lebih muda?” saran Azrial, putra sulung Makaji sewaktu ia pulang kampung enam bulan lalu.

“Mungkin sudah saatnya Ayah berhenti.”

“Belum! Akan Ayah pikul beban ini hingga tangan Ayah tak lincah lagi meracik bumbu,” balas Makaji waktu itu.

“Kalau memang masih ingin jadi juru masak, bagaimana kalau Ayah jadi juru masak di salah satu rumah makan milik saya di Jakarta? Saya tak ingin lagi berjauhan dengan Ayah.”

Sejenak Makaji diam mendengar tawaran Azrial. Tabiat orang tua memang selalu begitu, walau terasa semanis gula, tak bakal langsung direguknya, meski sepahit empedu tidak pula buru-buru dimuntahkannya, mesti matang ia menimbang. Makaji memang sudah lama menunggu ajakan seperti itu. Orang tua mana yang tak ingin berkumpul dengan anaknya di hari tua? Dan kini, gayung telah bersambut, sekali saja

(14)

ia mengangguk, Azrial akan segera memboyongnya ke rantau. Makaji tetap akan mempunyai kesibukan di Jakarta, ia akan jadi juru masak di rumah makan milik anaknya sendiri.

“Beri Ayah kesempatan satu kenduri lagi!”

“Kenduri siapa?” tanya Azrial.

“Mangkudun. Anak gadisnya baru saja dipinang orang. Sudah terlanjur Ayah sanggupi, malu kalau tiba-tiba dibatalkan.”

Merah padam muka Azrial mendengar nama itu. Siapa lagi anak gadis Mangkudun kalau bukan Renggogeni, perempuan masa lalunya. Musabab hengkangnya ia dari Lareh Panjang tidak lain adalah Renggogeni, anak perempuan tunggal beleng itu. Siapa pula yang tak kenal Mangkudun? Di Lareh Panjang, ia dijuluki tuan tanah, hampir sepertiga wilayah kampung ini miliknya. Sejak dulu, orang- orang Lareh Panjang yang kesulitan uang selalu beres di tangannya. Mereka tinggal menyebutkan sawah, ladang, atau tambak ikan sebagai agunan. Dengan senang hati Mangkudun akan memegang gadaian itu.

Masih segar dalam ingatan Azrial, waktu itu Renggogeni hampir tamat dari akademi perawat di kota. Tidak banyak orang Lareh Panjang yang bisa bersekolah tinggi seperti Renggogeni. Perempuan kuning langsat pujaan Azrial itu benar-benar akan menjadi seorang juru rawat. Sementara Azrial bukan siapa-siapa, hanya tamatan madrasah aliyah yang sehari-hari bekerja honorer sebagai sekretaris di kantor kepala desa. Ibarat emas dan loyang perbedaan mereka.

“Bahkan bila ia jadi kepala desa pun, tak sudi saya punya menantu anak juru masak!”

bentak Mangkudun. Dan tak lama berselang, kabar ini berdengung juga di telinga Azrial.

(15)

“Dia laki-laki taat, jujur, bertanggung jawab. Renggo yakin kami berjodoh.”

“Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”

“Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”

“Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”

Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. Tetapi tidak patut rasanya Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.

Awalnya ia hanya tukang cuci piring di rumah makan milik seorang perantau dari Lareh Panjang yang lebih dulu mengadu untung di Jakarta. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya modal, agar tidak selalu bergantung pada induk semang. Berkat kegigihan dan kerja keras selama bertahun-tahun, Azrial kini sudah jadi juragan, punya enam rumah makan dan dua puluh empat anak buah yang tiap hari sibuk melayani pelanggan.

Barangkali, ada hikmahnya juga Azrial gagal mempersunting anak gadis Mangkudun. Kini, lelaki itu kerap disebut sebagai orang Lareh Panjang paling sukses di rantau. Itu sebabnya ia ingin membawa Makaji ke Jakarta. Lagi pula, sejak ibunya meninggal, ayahnya itu sendirian saja di rumah, tak ada yang merawat. Adik-adiknya sudah terbang hambur pula ke negeri orang.

Meski hidup Azrial sudah berada, tetapi ia masih saja membujang. Banyak yang ingin mengambilnya jadi menantu, tetapi tak seorang perempuan pun yang mampu meluluhkan hatinya. Mungkin Azrial masih sulit melupakan Renggogeni, atau jangan-jangan ia tak sungguh-sungguh melupakan perempuan itu.

(16)

***

Kenduri di rumah Mangkudun begitu semarak. Dua kali meriam ditembakkan ke langit, pertanda dimulainya perhelatan agung. Tak biasanya pusaka peninggalan sesepuh adat Lareh Panjang itu dikeluarkan. Bila yang menggelar kenduri bukan orang berpengaruh seperti Mangkudun, tentu tak sembarang dipertontonkan. Para tetua kampung menyiapkan pertunjukan pencak guna menyambut kedatangan mempelai pria. Para pesilat turut ambil bagian memeriahkan pesta perkawinan anak gadis orang terkaya di Lareh Panjang itu. Maklumlah, menantu Mangkudun bukan orang kebanyakan, tetapi perwira muda kepolisian yang baru dua tahun bertugas, anak bungsu pensiunan tentara, orang disegani di kampung sebelah. Kabarnya, Mangkudun sudah banyak membantu laki-laki itu, sejak dari sebelum ia lulus di akademi kepolisian hingga resmi jadi perwira muda. Terdengar kabar bahwa perjodohan itu terjadi karena keluarga pengantin pria hendak membalas jasa yang dilakukan Mangkudun di masa lalu. Aih, perkawinan atas dasar hutang budi.

Mangkudun benar-benar menepati janji pada Renggogeni, bahwa ia akan mencarikan jodoh yang sepadan dengan anak gadisnya itu, yang jauh lebih bermartabat. Tengoklah, Renggogeni kini tengah bersanding dengan Yusnaldi, perwira muda polisi yang bila tidak “macam-macam” tentu kariernya lekas menanjak. Duh, betapa beruntungnya keluarga besar Mangkudun. Tetapi, pesta yang digelar dengan menyembelih tiga ekor kerbau jantan dan tujuh ekor kambing itu tidak begitu ramai dikunjungi. Orang-orang Lareh Panjang hanya datang di hari pertama, sekadar menyaksikan benda-benda pusaka adat yang dikeluarkan untuk menyemarakkan kenduri, setelah itu mereka berbalik meninggalkan helat. Bahkan ada yang belum sempat mencicipi hidangan, sudah tergesa pulang.

“Gulai kambingnya tak ada rasa,” bisik seorang tamu.

“Kuah gulai rebungnya encer seperti kuah sayur toge. Kembang perut kami

(17)

dibuatnya.”

“Masakannya tak mengenyangkan, tak mengundang selera.”

“Pasti juru masaknya bukan Makaji!”

Makin ke ujung, kenduri makin sepi. Rombongan pengantar mempelai pria diam-diam juga kecewa pada tuan rumah, karena mereka hanya dijamu dengan menu masakan yang asal-asalan, kurang bumbu, kuah encer, dan daging yang tak kempuh.

Padahal mereka bersemangat datang karena pesta perkawinan di Lareh Panjang mempunyai keistimewaan tersendiri, yaitu rasa masakan hasil olah tangan juru masak nomor satu. Siapa lagi kalau bukan Makaji?

“Kenapa Makaji tidak turun tangan dalam kenduri sepenting ini?” begitu mereka bertanya-tanya.

“Sia-sia saja kenduri ini bila bukan Makaji yang meracik bumbu.”

“Ah, menyesal kami datang ke pesta ini.”

***

Dua hari sebelum kenduri berlangsung, Azrial, anak laki-laki Makaji datang dari Jakarta. Ia pulang untuk menjemput Makaji. Kini, juru masak itu sudah berada di Jakarta, mungkin tak akan kembali, sebab ia akan menghabiskan hari tua di dekat anaknya. Orang-orang Lareh Panjang akan kehilangan juru masak handal yang pernah ada di kampung itu. Kabar kepergian Makaji sampai juga ke telinga pengantin baru Renggogeni. Perempuan itu dapat membayangkan betapa terpiuhnya perasaan Azrial setelah mendengar kabar kekasih pujaannya telah dipersunting lelaki lain.

(18)

RESENSI CERPEN “CINTA ADALAH KESUNYIAN”

IDENTITAS CERPEN

1. Judul Cerpen : Cinta adalah Kesunyian 2. Nama Pengarang : Gabriel Garcia Marquez 3. Penerbit : Pusaka Sastra LKiS Yogyakarta 4. Tebal Buku : 164 halaman

5. Penerjemah : Anton Kurnia

6. Cerpen yang diresensi : Halaman 75-83

ISI CERPEN (SINOPSIS)

Florentino Ariza yang digambarkan sebagai lelaki dewasa yang selalu melamunkan dan membayangkan pujaan hatinya, Femina Daza. Forentino selalu membayangkan sang pujaan hati selama hidupnya tanpa mau menjalani kehidupannya yang sekarang menjadikannya terpuruk oleh perasaan cinta hingga dirinya hidup dalam kesunyian.

Hingga suatu kali dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seorang wanita, sebuah cinta ia dapatkan, namun sayang cinta itu hanya sekejap dan menghilang begitu saja. Dia (Florentino Ariza) pun kembali terpuruk dan mulai membayangkan sang pujaan hati hingga benar-benar tertinggal hanyalah bayangan.

KEKURANGAN

Cerita ini menggambarkan adab dua puluhan yang kemungkinan besar banyak pembaca sulit membayangkan masa itu. Mungkin tak sedikit pembaca yang akan

(19)

berhenti di lembar kedua karena pada masa kini sulit untuk memahami bacaan yang tinggi tingkat bahasanya.

KELEBIHAN

Pengarang menitikberatkan cerpen ini pada gambaran dan bahasa sastra lama, kebahasan yang sangat dijiwai pengarang membuat para pembaca kagum. Pembaca pun lebih terinspirasi. Terutama di akhir-akhir aline, mulai terlihat ciri pengarang yang menggambarkan cerita dengan akhir apa pun, tak harus sedih maupun senang.

PENUTUP

Cerpen ini merupakan bacaan yang manarik bagi semua usia, baik tua maupun muda. Melalui cerpen ini, pengarang menitikberatkan inti cerita pada arti cinta dan kesunyian sehingga membuat pembaca tertarik untuk menyelesaikan jalan cerita yang menggunakan bahasa sastra lama. Meskipun tokoh yang menjadi pujaan hati Florentino Ariza, yaitu Fermina Daza, tidak banyak diceritakan secara gambling pada cerpen ini, tetapi hal ini tidak mengurangi keapikan cerpen ini.

IV. Glosarium

Prosa : Karangan yang mengusaikan suatu peristiwa atau kisah.

Cerpen : Cerita pendek dengan konfliks yang sederhana.

Hikayat : Prosa lama yang identik dengan tokoh utama seorang raja/kesatria/orang yang hebat.

Unsur Intrinsik : Unsur pembangun dari dalam cerita.

Unsur Ekstrinsik : Unsur pembangun dari luar cerita (dari pengarangnya).

(20)

Resensi : Melakukan pertimbangan terhadap suatu karya.

V. Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sukarworo, Ign, dkk. 2010. Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas X.

Jakarta: Piranti Dharma Kalokatama.

Suryanto, Alex, dan Agus Haryanta. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XI. Jakarta: Esis

(21)

21

(22)

22

Referensi

Dokumen terkait

DIPA Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelatihan TKHI sebanyak 4 (empat) angkatan yang di rencanakan

Dalam empati terhadap sesama manusia ini juga perlu ditanamkan pada anak bahwa sifat tidak mau meminjamkan mainannya kepada teman yang tidak memilikinya,

pada siklus I belum mencapai tujuan yang akan dicapai. Nilai rata-rata yang harus dicapai adalah 75. Pada siklus II nilai rata-rata yang dicapai sebesar 81,71 dalam kategori

Artikel ini membahas penelitian terkait implementasi program matematika kreatif di Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) Laboratorium UPI sebagai alternatif solusi

 Kepala Kepala Daerah Daerah termasuk termasuk pimpinan pimpinan SKPD SKPD se seharus harusnya nya mempunyai kedua mempunyai kedua bentuk kepemimpinan organisasional

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penelitian melalui hipotesis 3 maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh komitmen organisasional terhadap kinerja karyawan

Untuk memudahkan dalam pengolahan nilai siswa dan sharing resource, maka dibangun sebuah sistem informasi berbasis client-server dengan menggunakan object-oriented