Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KTD)
JERO WACIK,
Tutur 108 Tokoh Bali 160 x 230 mm
ISBN 978-979-041-019-0
©I Nyoman Darma Putra
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, merekam, atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin dari penulis.
Editor & Penulis: I Nyoman Darma Putra Foto-foto: Dokumentasi Narasumber, Kementerian Budpar, Kementerian ESDM, I Nyoman Darma Putra
Foto Sampul: Dokumentasi Kementerian Budpar Desain Sampul: Epistula Communications Desain & Tataletak: Ema Sukarelawanto
Penerbit: Ganeca Exact
Kawasan Industri MM 2100 Jl. Selayar Blok A.5
Cibitung, Bekasi Telp 021 8998 1946 Telp 021 8998 1947
Catatan Penyusunan Nama
Daftar Isi
Nama-nama tokoh dalam “Daftar Isi” disusun menurut abjad nama akhir tokoh. Misalnya ‘I Putu Artha’ dipasang dengan nama ‘Artha, I Putu’ di bawah huruf A.
Nama sulinggih ditulis utuh seperti ‘Ida Pedanda Gede Made Gunung’ ditulis di bawah huruf ‘I’.
Untuk tokoh yang nama akhirnya kurang dikenal, namanya disusun dengan menggunakan sebutan yang lebih dikenal misalnya ‘Ayu Laksmi’ di bawah huruf A; ‘I Gde Pitana Brahmananda’ ditulis ‘Pitana Brahmananda, I Gde’ di bawah huruf P.
Editor.
Atur Pangaksama ... Pengantar Editor ... Ucapan Terima Kasih ...
TUTUR TOKOH ... Adnyana, IGA Ngurah ... Al Purwa, Wayan ... Alit Yudha, I Gusti Ngurah ... Anglurah, Ida Tjokorda ... Ardika, I Gde ... Ardika, I Wayan ... Artha, I Nyoman ... Artha, I Putu ... Astaman, I Gusti Made Putera .. Astawa, Nengah Dasi ... Ayu Laksmi ... Bakta, I Made ... Bandem, I Made ... Beratha, Dewa Made ... Budiana, I Nyoman ... Bulantrisna Djelantik ... Candra, I Wayan ... Darma, Gede Sri ... Dharma Putra, Ketut Gede ... Duhuran, Jero Gede ... Duija, Nengah ... Dunia, Ida Bagus Putu ... Geriya, I Wayan ... Gianyar, I Made ... Granoka, Ida Wayan Oka ... Gunarsa, I Nyoman ... Gunastra, I Wayan ...
7 10 14 17 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46 48 50 52 54 56 58 60 62 64 66 68 70
Gunawan, Wayan ... Ida Pandita Mpu Acarya Nanda Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda (Putu Setia) ... Ida Pedanda Gede Made Gunung ... Karang, Jro Made Suparta ... Kerthiyasa, Tjokorda Raka ... Koster, I Wayan ... Laksaguna, I Gusti Putu ... Linggih, Gde Sumarjaya ... Linggih, Ketut Suardhana ... Lolec, Ida Bagus ... Madiun, I Nyoman ... Mandra, I Made ... Mantik, Erlangga ... Mardjana, I Ketut ... Mastra, Riadika ... Mudarta, I Made ... Nardayana, Wayan (Cenk Blonk) Nariana, Made ... Neka, Pande Wayan Suteja ... Nuarta, Nyoman ... Palguna, I Dewa Gede ... Pantja, John Ketut ... Parthiana, I Wayan ... Pastika, Made Mangku ... Pernawa, Surya ... Pitana Brahmananda, I Gde .... Pradnyana, Gde ... Prana, I Gusti Agung ... Puja, I Gusti Agung Wesaka ....
Puspayoga, AAN ... Putra, Ida Bagus Ardhana ... Rai, Anak Agung Gde ... Rai, Anak Agung Gde (ARMA) Rakadhanu, I Gusti Putu ... Ramaswati, Tjok Istri ... Ratmadi, Anak Agung Oka ... Santeri, Raka ... Sastrawan, Dewa Made J. ... Sidja, I Made ... Siswanto, Frans Bambang & Sulistyawati ... Soeranta, I Putu Soekreta ... Suardika, Gede Pasek ... Suasta, Putu ... Suastika, I Ketut ... Subadia, I Made ... Sudana, I Gede ... Sudiana, I Gusti Ngurah ... Sudiana, I Nyoman ... Sudibya, Bagus ... Sudibya, Gde ... Sudikerta, I Ketut ... Sudirta, I Wayan ... Sudjana, I Made ... Sukarsa, I Made ... Sukawati, Tjokorda Oka Artha Ardhana (Cok Ace) ... Suradnyana, Putu Agus ... Surata, I Made ...
132 134 136 138 140 142 144 146 148 150 152 154 156 158 160 162 164 166 168 170 172 174 176 178 180 182 184 186
Suwandha, I Nyoman ... Suwena Upadesha, Jero
Gede P. ... Suweta, Nyoman Gde ... Suwisma, Sang Nyoman ... Swajaya, I Gde Ngurah ... Tenaya, Wisnu Bawa ... Triguna, Ida Bagus Ngurah ... Untung Yoga Ana, I Ketut ... Wardana, Anak Agung Ngurah Gede Kusuma ... Wedhasmara, I Gusti Putu Gede ... Wianta, Made ... Widiadnyana Merati. I Gde .... Wijaya, Ida Bagus Ngurah ... Wijaya, Putu ... Windia, Wayan ... Windia, Wayan P. ... Wiranatha, Anak Agung Suryawan ... Wiratha Sindhu, I Ketut ... Wirawan, Anak Agung Putu Ngurah ... Wirawan, I Ketut ... Wiryastuti, Ni Putu Eka ... Wita, I Wayan ... Yudhara, I Gusti Bagus ...
TUTUR KERABAT ...
Om Swastyastu.
Bhagawadgitha, khususnya pada bagian Karmayoga, sangat menekankan bahwa kewajiban manusia adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, disiplin, penuh dedikasi, dan melaksanakan kerja sebagai bentuk bhakti kepada Tuhan, serta menyerahkan segala hasil kerja tersebut kepada Tuhan. Artinya, kewajiban manusia adalah bekerja dan bekerja, sementara Tuhan-lah yang akan menentukan hasil kerja tersebut. Manusia tidak pantas menuntut hasil kerja, apalagi kemudian menyalahkan Tuhan.
Dalam tataran yang lebih empiris, budaya Bali juga sangat mengagungkan nilai kerja (karma), tetapi tidak dibenarkan untuk melakukan penilaian sendiri atas hasil kerja tersebut. Hal ini sangat jelas tersurat dan tersirat dari salah satu pupuh dalam “Geguritan Basur”, karya Mpu Bongkasa, yang berirama Ginada-Basur. Pupuh tersebut sangat populer, yang lengkapnya berbunyi sebagai berikut:
Eda ngadèn awak bisa Depang anakè ngadanin Geginanè buka nyampat Anak sai tumbuh lulu Ilang lulu bukè katah Yadin ririh
Liu enu papelajahan
Terjemahan bebas dari pupuh di atas kurang lebih seperti ini: Jangan mengaku-ngaku diri pintar, biarkanlah orang lain yang menilai, karena ibaratnya seperti pekerjaan menyapu, selalu akan ada sampah, dan bila sampah hilang, maka debu pasti banyak, maka meskipun pintar, masih banyak yang perlu dipelajari.
Tembang ini sering saya nyanyikan pada waktu kecil, sambil menyabit rumput di sekitar Pura Bukit Mentik, Kintamani. Tembang ini ternyata memengaruhi jiwa saya (meskipun saya tidak setuju kalau yang diambil hanya baris pertama, tanpa mengaitkannya dengan baris-baris berikutnya).
Saya sedari kecil memang berusaha bekerja keras, melaksanakan swadharma sebaik-baiknya. Namun, seperti kata Bhagawadgitha atau pun Pupuh Ginada-Basur di atas, tentu saya tidak pantas kalau harus menilai diri sendiri. Akan lebih bijak kalau orang lain memberikan penilaian tentang diri dan kinerja saya, “depang anakè ngadanin”.
Atas dasar pemikiran sederhana ini, maka saya meminta kepada beberapa senior, teman, sahabat, dan mitra kerja lainnya untuk membuat penilaian, atau testimoni. Agar testimoni atau penuturannya objektif, apa adanya, bukan sanjungan ataupun pujian, maka saya minta kepada seorang penulis senior yang juga mantan wartawan, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. untuk melakukan wawancara serta menuliskannya. Sebagaimana yang dapat dibaca, mereka yang dimintai pendapat bukan saja orang-orang yang sehaluan dengan saya; bukan saja mereka yang berhutang budi kepada saya; melainkan juga mereka yang jauh lebih senior dibandingkan saya; bahkan juga teman-teman saya yang berbeda partai politik. Ini dimaksudkan agar isi penuturan dalam buku ini bervariasi, dari berbagai sudut pandang, dari berbagai posisi, dan dari berbagai aspek, bagaimana mereka melihat saya.
Sesungguhnya jumlah yang bisa dimintakan pendapat sangat banyak, sebuah daftar panjang yang tidak habis-habisnya. Tetapi secara terpaksa saya batasi jumlah itu, agar bukunya tidak terlalu tebal, tetapi tetap cukup representatif untuk memandang sosok saya dari segala sudut pandang. Akhirnya saya sampai kepada angka 108 atau “satus kutus” dalam Bahasa Bali. Pemilihan angka 108 ini, sekali lagi, sangat dipengaruhi oleh budaya Bali-Hindu.
Angka 108 adalah angka sakral, menggambarkan jumlah nama dewa-dewa utama, sebagaimana juga tergambar dari jumlah biji dalam rudraksa (tasbih). Sebagai seorang pemangku, saya juga kalau masegeh sering menyebutkan angka
“satak-solas satus-kutus”. Kalau dijumlahkan, angka 108 akan menjadi 9, sebuah angka yang istimewa dalam perhitungan Bali (dikaitkan dengan dewata nawa sanga, nawaratna, nawa wida-bhakti, sasih kesanga, dan seterusnya). Penjelasan lebih detail tentang angka 108 ini bisa dibaca dalam “Pengantar Editor”.
Dengan adanya testimoni 108 tokoh yang sangat bervariasi ini, saya sangat berharap bahwa ada pelajaran-pelajaran, rumus-rumus, resep-resep, atau kunci-kunci sukses yang bisa diteladani oleh generasi muda. Saya mempunyai keyakinan, bahwa ada banyak sifat atau karakter positif yang disebutkan dalam buku ini, yang bisa ditiru atau dijadikan referensi dalam meniti karier, dalam bidang apa pun.
Mengakhiri Atur Pangaksama (Kata Pengantar) ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para senior, sahabat, kolega, dan adik-adik yang sudah bersedia memberikan pandangan tentang diri saya. Sebagaimana saya sampaikan di atas, pasti pandangan-pandangan tersebut akan banyak manfaatnya bagi generasi muda. Semoga.
Om Santi Santi Santi, Om.
Jakarta, Agustus 2013 Ir. Jero Wacik, S.E.
B
uku ini merupakan lanjutan dari buku berjudul Jero Wacik di Mata 100 Tokoh yang sudah diluncurkan di Jakarta, 7 Juli 2013. Dalam buku itu terdapat kesan atau testimoni tokoh-tokoh nasional seperti Presiden SBY, Ketua MPRRI Taufik Kiemas (almarhum), mantan Wapres Jusuf Kalla, dan bintang film Christine Hakim.Dalam buku Jero Wacik di Mata 100 Tokoh terdapat 18 tokoh Bali, di antaranya Marsekal Ida Bagus Putu Dunia (Kepala Staf Angkatan Udara), Made Mangku Pastika (Gubernur Bali), dan Putu Wijaya (sastrawan). Testimoni ke-18 tokoh Bali itu dimuat kembali bersama 90 tokoh lain sehingga menjadi 108 tokoh, dan diberikan judul Jero Wacik; Tutur 108 Tokoh Bali. Kenapa 108 tokoh?
Simbol Keseimbangan Spiritual Simbol Keseimbangan Spiritual Simbol Keseimbangan Spiritual Simbol Keseimbangan Spiritual Simbol Keseimbangan Spiritual
Angka 108, atau satus kutus dalam bahasa Bali, merupakan bilangan sakral. Jika ketiga angka itu dijumlahkan, hasilnya sembilan, angka tertinggi yang memiliki makna simbolik keseimbangan spiritual. Dalam sistem kepercayaan Bali, ada istilah Dewata Nawa Sanga, yaitu sembilan dewa utama yang menguasai delapan penjuru mata angin termasuk Dewa Siwa sebagai Pusat dengan posisi di tengah. Dewata Nawa Sanga yang ada di setiap penjuru adalah simbol bahwa Dewa ada di mana-mana sebagai penjaga keseimbangan semesta secara spiritual, juga sebagai tempat umat memohon perlindungan. Ungkapan satus kutus kerap muncul sebagai salah satu kata kunci dalam mantra dan mitologi Bali. Dalam tradisi panen padi, misalnya, sebelum panen dimulai, petani Bali biasanya menghaturkan pemujaan kepada Dewi Sri. Pemujaan dilakukan dengan ritual di Pangalapan (petak sawah paling hulu) dengan menstanakan Kaki Manuh (laki-laki) dan Nini Manuh (perempuan), simbol kesuburan yang dibuat dari ikatan padi, masing-masing 108 ikat padi untuk Kaki Manuh dan 54 ikat padi untuk Nini Manuh. Ikatan satus kutus padi adalah simbol penyerahan tertinggi atas segala anugerah Dewi Padi.
Ungkapan satus kutus juga hadir sebagai kata kunci dalam teks Siwaratri Kalpa, ajaran mengenai praktik pemujaan Siwa pada bulan-mati tergelap terpanjang, lewat kisah Lubdhaka, seorang juru boros (pemburu). Ketika terjebak di hutan dan takut pulang menjelang malam gelap, Lubdhaka memutuskan beristirahat di atas pohon. Sembari mengusir rasa kantuk dan takutnya, dia memetik lembar demi lembar daun dan melepaskannya sampai jatuh tepat ke kolam yang berisi lingga, stana Dewa Siwa. Hingga fajar menyingsing, tanpa disadarinya Lubdhaka sudah melepaskan 108 lembar daun.
Apa yang dilakukan Lubdhaka berulang secara teratur sampai satus kutus
pada malam tergelap dan panjang itu adalah pemujaan paripurna terhadap Dewa Siwa. Dosa-dosa Lubdhaka sebagai pembunuh binatang mendapat ampunan dan Dewa Siwa mengizinkannya masuk sorga. Dari mitologi ini jelas tampak bahwa 108 adalah simbol hitungan tertinggi, sakral, spiritual dalam konteks pemujaan atau kosmologi Hindu.
Bilangan satus kutus juga merupakan jumlah manik-manik dalam
rudraksa (genitri), tasbih, atau rosario. Di India, para yogi Hindu atau Budha, biasanya mengalungkan tasbih, disebut dengan japamala, yang juga terdiri dari 108 manik-manik. Ini semua menunjukkan bahwa kesakralan simbolik 108 bersifat universal.
Pengarang novel Eat Pray Love (2006), Elizabeth Gilbert juga terpikat kesakralan simbolik 108. Dia sengaja membangun struktur novelnya dengan 108 bab. Bab-bab tersebut dibagi tiga, yang didedikasikan untuk mengisahkan
Pengantar Editor
cerita di tiga negeri berbeda yaitu di Italia (eat), India (pray), dan di Indonesia/ Bali (love). Tiap negeri mendapat kisahan sama dalam 36 bab (108 dibagi 3), angka yang juga istimewa karena Elizabeth menyelesaikan novel ini ketika di berusia 36 tahun. Jika dijumlahkan angka 36 ini juga menjadi 9, yang memperkokoh struktur simbolik novel ini. Bisa jadi, kesuksesan novel ini sebagai best seller dan filmnya yang populer di seluruh dunia adalah karena dibangun dengan konsep spiritual yang kuat.
Dalam prolognya, Elizabeth menjelaskan bahwa ceritanya sengaja disusun ke dalam 108 bab, seperti untaian tasbih atau japamala karena novelnya itu merupakan usaha dirinya dalam ‘mencari keseimbangan’. Pemaknaannya atas hitungan 108 sebagai simbol ‘keseimbangan’ identik dengan pemaknaan dalam sistem kepercayaan masyarakat Bali Hindu yang menjunjung ‘keseimbangan’ sebagai jalan dan tujuan spiritualitas.
Representasi Berbagai Golongan Representasi Berbagai Golongan Representasi Berbagai Golongan Representasi Berbagai Golongan Representasi Berbagai Golongan
Pemilihan 108 tokoh dalam buku ini mendapat inspirasi dari makna
satus kutus sebagai representasi persembahan simbolik tertinggi atau terlengkap, selengkap hitungan pemujaan dalam kisah Lubdhaka saat melepaskan 108 lembar daun pada lingga Siwa. Jero Wacik memiliki banyak teman dan tentu tidak mungkin menjangkau mereka semua. Seperti halnya buku Eat Pray Love, buku ini pun bisa dilihat sebagai untaian genitri.
Tokoh yang masuk dalam buku ini adalah representasi berbagai golongan yang berbeda, seperti sulinggih, pejabat pemerintah, politisi, pengusaha, akademisi, dan seniman/budayawan. Representasi lintas gender juga diperhitungkan. Walaupun jumlah mereka tidak merata (equal), kehadiran mereka dalam struktur buku ini tetap dianggap sebagai manik-manik penting dalam untaian genitri. Jero Wacik menerima manik-manik genitri ini sebagai untaian ‘doa’ yang berasal dari para sahabat.
Jero Wacik adalah orang yang sangat menghormati sahabat dan ini ada sejarahnya. Sejak kecil, Jero Wacik menjadi anak satu-satunya dalam keluarganya. Tujuh kakak dan seorang adiknya meninggal sewaktu mereka balita, dan Jero Wacik hampir tidak pernah mengenal mereka. Sebagai anak yang lahir dan tumbuh tanpa saudara kandung, maka sahabat dan kerabat menjadi sangat berharga baginya. Sapaan, saran, kritik, dan peringatan dari orang lain apalagi sahabat akan selalu diterima dengan pikiran positif.
Rangkuman tutur dari satus kutus tokoh Bali yang sudah dianggapnya ‘sahabat’ ini dapat menjadi inspirasi bagi Jero Wacik untuk introspeksi, menata diri menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna bagi orang lain, akhirnya bagi nusa dan bangsa.
Di bagian akhir juga disertakan “Tutur Kerabat” yang merangkum secara ringkas kesan dan harapan dari orang-orang dekat Jero Wacik yang mengenalnya sejak lama, dan sejumlah orang yang tidak kenal tetapi memiliki harapan pada beliau untuk memajukan Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Dua Cara Membaca Dua Cara MembacaDua Cara Membaca Dua Cara Membaca Dua Cara Membaca
Buku ini bisa dibaca dengan dua cara. Pertama, sebagai untaian pesan, kesan, kritik, dan harapan yang bersifat personal untuk Jero Wacik dari kolega yang memiliki status sosial tertentu atau menjadi tokoh di masyarakat. Cara membaca seperti ini sulit dihindari karena itulah dasar utama penulisan buku ini. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu, karena setiap tutur, apalagi yang disampaikan oleh tokoh-tokoh untuk seorang tokoh akan memiliki makna yang berlapis-lapis. Dari sini, muncul cara pembacaan kedua.
Pembacaan kedua adalah membaca dengan menyimak benang merah tema-tema yang terbentang dalam 108 testimoni ini. Dengan cara ini, buku akan terlihat lebih dari sekadar pesan personal tokoh-tokoh Bali kepada seorang Jero Wacik. Tema-tema yang tampak sebagai benang merah dalam buku ini antara lain mengenai fenomena SMAN Singaraja yang berhasil mencetak alumni unggul dan sukses, kisah Bali diaspora (di rantau) dan pandangan mereka terhadap pembangunan Bali, representasi Bali sebagai minoritas di pemerintah Pusat, pentingnya orang Bali mempertahankan kebalian, dan kepariwisataan Bali pada saat Jero Wacik sebagai Menbudpar. Pembaca lain yang memiliki minat lain mungkin menemukan benang merah lain dalam membaca buku ini.
Masih banyak lagi benang merah informasi dan opini yang terselip dalam buku ini. Selain bermakna simbolik sebagai manik-manik genitri untuk doa dan refleksi bagi Jero Wacik sendiri, benangmerah informasi dan opini dalam buku ini juga bermanfaat untuk penulisan sejarah dan inspiratif bagi generasi muda dalam menggapai masa depan gemilang.
B
uku ini rampung karena bantuan berbagai pihak. Pada saatnya, kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungannya secara tulus ikhlas.Ucapan terima kasih pertama kami sampaikan kepada Bapak Jero Wacik yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk menyusun buku ini. Kepercayaan ini datang melalui Prof. I Gde Pitana Brahmananda, Kepala Badan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang dulu berada langsung di bawah Jero Wacik ketika beliau menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.
Kehadiran buku ini sangat ditentukan oleh kesediaan dan kesudian dari para narasumber (tokoh-tokoh Bali) menyampaikan kesan dan pesannya baik melalui wawancara maupun dengan langsung menulis sendiri. Untuk semua narasumber, kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya.
Ucapan terima kasih berikutnya kami sampaikan secara seimbang kepada I Gde Pitana dan juga I Ketut Wiryadinata, staf khusus Jero Wacik. Gde Pitana dan Ketut Wiryadinata (Wirya) membantu kami menyusun daftar tokoh dan memfasilitasi untuk bisa menghubungi mereka untuk wawancara. Apresiasi juga kami sampaikan kepada Ketut Suardhana Linggih, direktur penerbit Ganeca Exact, yang memperlancar tugas-tugas kami dalam proses penerbitan buku ini dan memfasilitasi beberapa wawancara.
Sahabat Wahyu Indrasto (Tito), staf khusus Menteri Jero Wacik yang menyunting buku Jero Wacik di Mata 100 Tokoh (2013) banyak memberikan bantuan dan inspirasi dalam proses wawancara. Beberapa tulisan dalam buku yang disunting Tito, dimuat ulang dalam buku ini. Atas bantuan dan kerja samanya, kami menyampaikan terima kasih.
Dalam mencari narasumber dan proses penulisan, kami juga mendapat bantuan dan dukungan dari sejumlah teman. Ketika di Bandung, kami dibantu Komang Merthayasa, dosen teknik akustik ITB. Di Bali, saya mendapat bantuan dari teman-teman wartawan seperti Gregorius Rusmanda, Rofiqi Hasan, Ida
Ucapan Terima Kasih
Bagus Dharma Santika Putra, Agus Astapa, dan Made Sugianto untuk mewawancarai dan menulis testimoni sejumlah tokoh. Bantuan serupa juga saya peroleh dari rekan (mantan) jurnalis, Putu Wirata Dwikora. Eka Prasetya Wibhawa mengantarkan saya keliling Denpasar dan Gianyar ketika melakukan sejumlah wawancara. Terima kasih juga untuk tim Epistula Communications (Ary Bestari & Nova Rabet) atas kreasi rancangan sampul buku ini.
Kepada Ema Sukarelawanto yang merancang desain dan tata letak isi, saya menyampaikan terima kasih. Bekerja sama dengan Ema senantiasa diwarnai dengan interaksi kreatif dan produktif yang menyenangkan. Terima kasih untuk Staf Humas ESDM, juga untuk Ngurah Putra (Sesditjen Pemasaran Pariwisata), dan Irhamna Ilham Muaz (Tim Pusat Komunikasi Publik Kemenparekraf ) yang dengan cekatan menyediakan foto-foto ilustrasi buku ini.
Saya berterima kasih kepada Diah Suthari dan Prasiwi Bestari yang sering menemani saya mencari bahan sekaligus mengambil foto tokoh-tokoh yang saya wawancarai, termasuk ketika saya ke Bandung. Diah juga membagi waktunya untuk memeriksa semua naskah dan memperbaiki kesalahan tulis dan menyarankan perbaikan kejanggalan bahasa.
Sebagai akhir kata, terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu, termasuk yang tidak sempat kami sebutkan di sini satu per satu. Tanpa bantuan yang tulus dan ikhlas, tak mungkin buku ini bisa rampung seperti sekarang.
Editor.
N
ama Pak Jero Wacik pertama kali saya dengar tahun 1970-an di Bandung. Waktu itu saya kuliah di ITB, dan mendengar dari kawan-kawan mahasiswa bahwa sebelumnya pernah ada mahasiswa teladan atau berprestasi yang berasal dari Bali, namanya Jero Wacik. Beliau mahasiswa angkatan tahun 1970, saya angkatan 1975. Beliau sudah lulus, saya baru mulai kuliah. Kami tidak sempat kenal langsung, tetapi prestasi Jero Wacik menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa Bali waktu itu. Sebagai sesama orang Bali, jelas ada ikatan emosional tertentu mendengar prestasi Jero Wacik di ITB kala itu.Tidak ada kesempatan yang mempertemukan kami secara intensif sampai tahun 2000-an. Karier berbeda membawa kita ke arah masing-masing. Pertemuan dan perkenalan langsung baru terjadi belakangan yakni setelah saya sudah menjadi General Manager PLN Distribusi Bali, dan waktu itu beliau sudah menjadi kader Partai Demokrat. Pertemuan kami tidak ada hubungannya dengan politik, tetapi lebih berkaitan dengan olah raga golf. Waktu itu, Ganesha Golf Club alumni ITB melaksanakan pertandingan di Bali dan saya diminta menjadi host (tuan rumah pelaksana). Jero Wacik ikut dalam turnamen itu. Kami bertemu di lapangan golf di Bali, berkenalan secara langsung dan bermain bersama satu pairing
Dalam pertemuan pertama itu, kesan saya bahwa Jero Wacik orangnya
friendly, terbuka, bisa bercerita mengenai banyak hal. Kesan ini cocok dan nyambung dengan kesan yang saya dengar pertama tentang beliau sebagai mahasiswa berprestasi tahun 1970-an di Bandung ketika saya baru mulai kuliah di ITB. Prestasinya sebagai mahasiswa teladan di ITB berlanjut sampai sekarang.
I G.A. NGURAH ADNYANA
Direktur Operasi Jawa Bali Sumatera PT PLN 2009-kini; GM PLN Distribusi Bali 2000-2007
Ketika beliau diangkat menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dalam kabinet Presiden SBY, tentu saja saya bangga. Bangga melihatnya sebagai teman, sebagai sesama alumni ITB, sebagai sesama orang Bali. Nyatanya di antara sekian juta penduduk Indonesia, ada satu orang Bali yang terpilih menjadi Menteri. Ya, jelas bangga.
Kami mulai lebih sering berkomunikasi ketika saya sudah pindah ke Jakarta tahun 2007 dan menjadi Direktur PLN tahun 2009. Pertemuan lebih sering lagi terjadi setelah Pak Wacik menjadi Menteri ESDM yg note bene atasannya PLN.
Apa yang sudah ditunjukkan oleh Pak Wacik yang sudah menjadi Menteri sampai dua kali, tentu merupakan prestasi. Saya berharap prestasi Pak Wacik ini bisa menjadi pemicu semangat bagi teman-teman Bali dalam berkarier, berprestasi jauh lebih tinggi dari harapan-harapan yang ada selama ini. Di Indonesia yang mempunyai landasan Bhineka Tunggal Ika ini, semua dimungkinkan. Kaum minoritaspun mempunyai peluang menjadi yang terbaik di negara ini. Juga di dunia. Kenyataan ini mestinya bisa menjadi keyakinan dan pemicu semangat teman-teman Bali.
Selama saya di Jakarta, Pak Jero Wacik sudah banyak membantu teman-teman Bali. Juga banyak membantu yang berkaitan dengan dukungan pada perbaikan dan pembangunan tempat ibadah. Itu perlu kita syukuri bersama. Secara umum, orang berhasil akan tergantung kepada kemampuan dan kesempatan yang dia punya. Kalau kemampuan bagus, kemampuan istimewa, tetapi kesempatan tidak ada, ya tidak bisa berhasil juga. Kalau kesempatannya terbuka tetapi kemampuannya terbatas ya tidak bisa juga. Keberhasilan itu tergantung pada dua kondisi itu. Khusus untuk Pak Jero Wacik, beliau mempunyai kemampuan yang bagus dan memilih jalan yang pas untuk menjadi orang partai yang akhirnya bisa menjadi Menteri. Kombinasi dari kesempatan dan kemampuannyalah yang membuat Pak Jero Wacik berhasil. Pak Jero Wacik itu orangnya sangat aktif, selalu menjaga penampilan. Beliau mau belajar, cepat mengambil keputusan dan mempunyai komitmen untuk memberikan yang terbaik buat bangsa ini. Saya percaya orang akan berhasil dengan baik kalau dia bisa menempatkan dirinya secara tepat dengan tetap menjadi dirinya sendiri. Jadilah diri sendiri, berikan yang terbaik dengan ketulusan hati, hasilnya pasti akan baik.
PINTAR, CEPAT AMBIL
KEPUTUSAN,
PAK WACIK
PELOBI ULUNG
WAYAN AL PURWA
Ketua ASITA Bali 2006-2012; Konsul Kehormatan Belanda
S
aya mulai mengenal Bapak JeroWacik pada saat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono kampanye pertama kali. Saat itu saya menjabat sebagai Wakil Ketua Asita DPD Bali. Oleh panitia saya diminta untuk duduk di depan Bapak SBY sewaktu makan di Rumah Makan Ayam Taliwang, Teuku Umar bersama Bapak Agung Prana yang saat itu menjadi Ketua ASITA Bali. Kami diminta memberikan masukan mengenai pariwisata Bali dan In-donesia secara umum.Setelah Pak Wacik menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, hubungan kami berlanjut, baik secara formal terkait dengan program pengembangan pariwisata Bali dan nasional, maupun yang nonformal. Apalagi setelah saya menjadi Ketua ASITA Bali tahun 2006–2012. Saya bisa memastikan bahwa Jero Wacik sangat menginginkan Bali jauh lebih maju, melalui pariwisata di mana beliau sendiri duduk menempati posisi tertinggi di Kementerian yang membidangi pariwisata. Pak Wacik juga punya keinginan yang kuat bagi persatuan bangsa ini.
Di sisi lain, Pak Wacik juga seorang pribadi yang hangat. Mudah bergaul dan cepat akrab dengan siapa saja. Beberapa kali saya sempat bermain golf dengan Pak Wacik di Nirwana Tanah Lot dan di Bali Golf Nusa Dua. Beliau punya hobi main golf dan bahkan pernah menjadi Ketua Persatuan Golf Indonesia di tingkat pusat.
Pada saat bermain golf, kita bisa membaca watak dan tabiat seseorang. Seperti Bapak Jero Wacik, saya nilai beliau seorang yang pemberani, pelobi yang ulung dan selalu maunya menang. Walaupun sama-sama handicap 18, beliau selalu minta voor 5 sampai 7, tentu saja saya selalu kalah. Di situ bisa dilihat bahwa Pak Wacik seorang pribadi yang energik, penuh optimism,
dan gigih mengejar apa yang telah menjadi target dan tujuannya.
Kegigihan itu telah dibuktikan Jero Wacik dalam sejarah hidupnya. Dari seorang yang bukan siapa-siapa, berasal dari keluarga yang serba kekurangan di Kintamani, namun berhasil masuk ITB, bekerja secara professional sampai berkedudukan puncak di perusahaan, lalu memutuskan menjadi pengusaha yang sukses. Capaian seperti ini tentu saja hanya dimiliki oleh orang yang gigih, tekun, dan tentu saja cerdas. Tak aneh, kalau kemudian Pak Wacik juga berkarir gemilang ketika terjun di gelanggang politik praktis.
Sebagai seorang Bali, saya tentu bangga dan memberikan nilai tinggi pada Pak Wacik. Apa yang terjadi dalam sosok Jero Wacik, makin menguatkan asumsi bahwa orang Bali akan lebih mampu tampil beda apabila dibesarkan dan di didik diluar Bali. Pak Wacik berani berdebat dengan lawan di tingkat nasional dan menampilkan kualitas dan integritas dirinya. Mohon maaf ya, Pak Wacik berbeda dengan orang-orang Bali lainnya yang besar di Bali, hanya berani berantem dengan sesama teman di Bali saja. Beliau bernyali!
Hanya saja, harus diakui, karena percaya diri terlalu tinggi Bapak Jero Wacik, terkadang kata-kata beliau membuat kita miris tersipu mendengarnya. Terutama bila beliau berargumentasi dalam bahasa Inggris, karena pada awalnya beliau kurang fasih. Namun, semua itu tak sedikit pun mengurangi respek kita pada Pak Wacik. Keberaniannya itu bisa menutupi kekurangannya. Pulau Bali harus bangga bisa memiliki seorang JeroWacik yang membuat nama Bali berkibar lebih dari delapan tahun di pusat kekuasaan Republik Indonesia ini.
Saya menyarankan kepada anak-anak muda, khususnya di Bali yang pintar supaya bisa mengasah keberaniannya seperti Pak Wacik. Berani menggebrak hal-hal baru dan tidak selalu koh ngomong dan berani mengemukakan pendapat secara transparan asal merasa kebenarannya bisa dipertanggung-jawabkan. Bapak Jero Wacik itu contohnya.
J
ero Wacik dan saya sudah bertemu dan berteman sejak lama, sejak tahun 1960-an. Sejak itu, kami bertemu di Bali, dan juga kemudian di Jakarta. Saya dan Jero Wacik bukan saja berteman biasa, tetapi juga karena ada latar belakang historis. Ayahnya juga aktif di pergerakan, perjuangan. Jero Wacik itu orang idealis, pergerakan, sekaligus pekerja keras.Persahabatan saya dengan Jero Wacik sejak lama tidak bisa melepaskan gambaran perjuangan seorang anak desa yang menghadapi kerasnya fase-fase kehidupan pada masanya. Keuletan dan kegigihan Jero Wacik menjadi modal besar bagi dirinya untuk bisa sampai pada tujuan langkah-langah berikutnya. Jalan hidupnya sampai sekarang sukses.
Tumbuh di lingkungan yang sangat religius di Batur, Kintamani, tidak menjadikan pemuda ini lupa bahwa tantangan kehidupan nyata itu juga bagian dari proses mendedikasikan diri untuk kemuliaan alam, lingkungan, dan penguasa semesta sehingga pada saat dia dibutuhkan untuk kembali, Jero Wacik selalu tampil sebagai warga desa yang sederhana.
Seusai pendidikan menengah atas di kota Singaraja, Jero Wacik melanjutkan ke Institut Teknologi Bandung (ITB), lalu terjun ke dunia usaha di Jakarta sampai masuk dunia politik, hingga menjadi Menteri. Saat dia meniggalkan Bali waktu remaja dulu, sejatinya seorang Jero Wacik sekaligus dilepas seorang diri untuk menapak dan melintasi kehidupannya. Faktanya, dia mampu ke luar dan menjadi pelita di tengah gelapnya tantangan untuk sampai pada posisinya saat ini.
Di mata saya, Jero Wacik adalah pribadi sederhana yang sangat idealis. Selalu bermimpi bisa melakukan karya-karya besar, dan memang akhirnya dia buktikan. Mimpinya diwujudkan menjadi kenyataan. Spirit itulah yang
BERPIKIR & BERSIKAP
PROFESIONAL,
MENGEMBANGKAN
PERSPEKTIF NASIONAL
I GUSTI NGURAH ALIT YUDHA
Putra Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai; Mantan Anggota DPRRI;
Mantan Ketua DPD Golkar Bali
membawa Jero Wacik sebagai orang pergerakan yang tidak kenal menyerah dalam menghadapi tantangan dan menciptakan peluang-peluang baru.
Mungkin Jero Wacik tidak pernah membayangkan dan mencita-citakan posisi yang diraihnya kini. Terjun ke dunia birokrasi itu merupakan ujung dari pikiran-pikiran besarnya. Jero Wacik hanya tahu bahwa dia ingin terus berkarya. Dia tadinya tidak pernah mempersiapkan diri duduk sebagai seorang birokrat di jajaran kabinet. Tapi, menurut saya sendiri, itulah jalan kehidupan Jero Wacik yang telah digariskan Tuhan Yang Maha Esa.
Manakala berkesempatan berdiskusi dan ngobrol, jarang sekali Jero Wacik memunculkan topik-topik yang berhubungan dengan dunia usaha yang digelutinya saat itu. Kita tahu Jero Wacik merupakan wirausahawan yang sangat mumpuni, tetapi dia tidak pernah membicarakan topik-topik kecil soal untung rugi dalam usaha, tidak berbicara bagaimana mengurus alat-alat berat (tractor). Topik diskusinya selalu berkaitan dengan perjuangan, pergerakan, dan bagaimana membangunan republik. Wawasannya sudah luas, mungkin bagi sebagian orang itu dianggap mimpi, padahal semua karya besar pada awalnya adalah mimpi. Prinsip kami sama. Jadi nyambunglah dengan cita-cita orang tua kita di Bali ini yang berjuang membangun republik ini.
Masih lekat dalam ingatan saya, bagaimana kami bertemu tengah malam di sebuah apartemen di Jakarta dan ngobrol sampai jam 2 pagi. Ini pertemuan yang aneh. Tidak sampai sebulan kemudiannya, Jero Wacik ditunjuk oleh Presiden SBY sebagai anggota kabinet yang sama-sama tidak pernah kami bayangkan saat obrolan malam itu. Aneh, karena jangankan saya, Pak Wacik sendiri mungkin waktu itu tidak tahu akan menjadi anggota kabinet.
Sebagai orang daerah yang mendapatkan kesempatan memimpin di ranah nasional, Jero Wacik selalu berfikir dan bersikap profesional dengan selalu mengembangkan sudut pandangnya dalam perspektif nasional. Tentu saja itu tidak mudah karena selalu terjadi tarik-menarik antara kepentingan-kepentingan daerah dan sektoral yang kadang bisa menjebak.
GEBRAKAN BANYAK,
PROGRAM
PARIWISATANYA SUKSES
IDA TJOKORDA ANGLURAH (GUSTI NGURAH RUPAWAN) Puri Tabanan
S
aya tahu nama Jero Wacik saat beliau dilantik sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketika susunan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu diumumkan, saya bangga ada nama orang Bali di dalamnya. Saya akhirnya tahu asal Jero Wacik dari Batur, Kintamani. Saya belum pernah berjumpa dengan beliau, tapi gebrakannya banyak. Program pariwisatanya sukses.Saya sering melihat beliau di televisi dan koran, hebat dengan program pariwisata Nusantaranya. Perkembangan turis ke Indonesia, utamanya Bali maju pesat. Beliau memang tepat menduduki posisi sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, karena memiliki latar belakang seni dan budaya. Hanya saja, sewaktu menjabat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, beliau belum memberi sentuhan maksimal pada subak. Padahal, para pejabat dan rakyat bisa mencukupi kebutuhan pangannya dari petani yang tergabung dalam organisasi subak. Subak sangat mendukung pariwisata budaya di Bali. Ini belum tersentuh maksimal oleh beliau. Di luar itu, program pariwisatanya sangat hebat, dan hendaknya ditiru oleh pejabat penggantinya. Visit Indonesia Year berjalan sesuai yang diharapkan untuk kemajuan pariwisata Indonesia.
Pernah terbersit keinginan mengundang Jero Wacik mampir ke Puri Tabanan ketika beliau melakukan kunjungan kerja di Bali. Namun, saya sadar itu sulit. Seandainya itu terwujud, saya ingin ngobrol panjang lebar dengan beliau. Maunya saya titipkan nasib subak pada beliau.
Sebagai orang Bali, saya tambah bangga dengan Jero Wacik. Sebab beliau kembali dipercaya menjabat Menteri pada kabinet SBY. Dua kali menjabat menteri adalah prestasi sekaligus gengsi buat Bali. Nama Jero Wacik makin populer dengan pembangunan pembangkit listrik di beberapa provinsi,
termasuk Bali. Apalagi Pulau Bali memang kekurangan energi listrik. Namun, ada yang saya tak setuju dari program beliau yang ingin meneruskan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi di Bedugul. Beliau orang hebat di bidang energi, kalau bisa disarankan agar mencari alternatif lain khusus pembangkit listrik di Bali.
Saya ingin mengingatkan bahwa Pulau Bali sangat kecil, namun amat dipercaya kesakralannya. Saya sangat yakin, beliau tahu itu. Apalagi beliau asli Bali dan seorang pemangku. Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, saya harapkan beliau punya terobosan lain untuk mengatasi ancaman krisis listrik, khususnya di Bali. Saya salut dengan beliau. Sangat energik dan mengetahui sumber-sumber energi di Indonesia.
Soal pribadi beliau, dari informasi di televisi dan koran dikatakan sangat baik. Apalagi selaku pejabat, beliau tak melupakan masa lalunya. Tak melupakan desa-desa tempat menghabiskan masa kecilnya, seperti Desa Pajahan, Kecamatan Pupuan. Menurut cerita, sewaktu kecil beliau ikut or-ang tua jualan kain di desa itu. Saat bernostalgia ke Desa Pajahan, Jero Wacik masih ingat rumah teman-teman sepermainannya waktu kecil, termasuk masih mampu mengenali nama sejumlah warga yang usianya sudah senja.
Menurut saya hal ini mesti diteladani, bahwa ketika berada di posisi tinggi sekali pun, seperti Jero Wacik, kita masih ingat dengan yang di bawah.
KITA BERSYUKURLAH
ADA ORANG BALI
DI KABINET
I GDE ARDIKA
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, 2000-2004
S
aya sudah lama mendengar nama Jero Wacik karena beliau sangat aktif dalam organisasi-organisasi. Tetapi, pertemuan dan perkenalan pertama kali terjadi ketika ada sosialisasi gagasan-gagasan awal pendirian Garuda Wisnu Kencana (GWK) oleh Pak Joop Ave di Jakarta (1990-an). Saat itu, Pak Joop mengundang tokoh-tokoh Bali yang ada di Jakarta. Pak Wacik termasuk yang hadir saat itu. Waktu itu, saya masih di Jakarta, sebagai Kepala Bagian Perencanaan di Departemen Pos dan Telekomunikasi.Setelah perkenalan itu, tidak ada kesempatan untuk mengenal betul secara pribadi. Perjumpaan biasanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan (meetings), perjumpaan selintas. Kalau ada kegiatan keumatan, seperti dharmasanti, kami sempat bertemu. Selain itu, rasanya tyang (saya) tidak mendapat kesempatan untuk bertemu dan bercakap-cakap lebih intensif dengan Pak Jero Wacik.
Kami baru berbincang agak panjang waktu beliau sudah ditunjuk akan menjadi pengganti saya sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Dalam suatu percakapan lewat telepon, Pak Wacik bertanya berbagai hal termasuk tugas dan pekerjaan. Saat itu saya saya sampaikan rencana strategis (renstra) pembangunan kepariwisataan Indonesia mulai dari zaman Menteri Pariwisata pendahulu kami, yakni Pak Joop Ave, Pak Abdul Latief, Pak Marzuki Usman, Pak Hidayat Jaelani. Saya sampaikan bahwa sudah ada paling tidak panduan dasar yang sudah disepakati melalui konferensi kepariwisataan.
Kami bertemu dalam suatu acara makan malam bersama di salah satu
executive club di Jalan Sudirman. Hadir saat itu Menteri Pariwisata sebelumnya yaitu Pak Joop Ave, Pak Latief, dan Pak Marzuki, kecuali Pak Jaelani yang sudah almarhum. Dalam pertemuan itu kami bertukar pikiran tentang pembangunan kebudayaan dan pariwisata.
Kami membahas hal-hal yang menjadi tugas pokok departemen yang mengalami beberapa kali proses perubahan. Zamannya Pak Joop Ave bernama Depparpostel, zamannya Latief disebut Deparsenibud (Departemen Pariwisata Seni dan Budaya), dilanjutkan zaman Pak Marzuki, lalu zamannya Jaelani sudah mengambil format kementerian. Waktu itu saya merangkap Dirjen Pariwisata dan merangkap Deputi Menteri Negara Parsenibud. Waktu zaman saya, itu menjadi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Yang kami sharing waktu itu adalah proses dan lingkup serta tugas pokok dan fungsi dari kementerian karena urusan kebudayaan pernah di dua tempat, yakni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, serta Deparsenibud. Persoalannya, di mana penggalan antara ‘kebudayaan’ dalam Depdikbud dengan ‘kebudayaan’ dalam Deparsenibud? Akhirnya Menko Perdagangan dan Perindustrian Hartarto memberikan arahan dengan pendekatan di industri: kebudayaan dilihat dalam konteks hulu dan hilir. ‘Kebudayaan hulu’ yang sifatnya filosofis dan adiluhung merupakan urusan Depdikbud; ‘kebudayaan hilir’ yang sifatnya aplikatif dengan nuansa ekonomi yang dimaknai sebagai ‘seni budaya’ merupakan urusan Deparsenibud.
Di Depdikbud, kebudayaan sebagai ‘ekor’, sedangkan pendidikan adalah ‘kepala’. Lalu Presiden Gus Dur membalik posisi itu dalam pembentukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, di sini ‘kebudayaan’ menjadi ‘kepala’. Kebudayaan harus menginspirasi, masuk ke semua sektor.
Pak Wacik menyambut baik gagasan kami, lalu disepakati untuk mengadakan pertemuan untuk sharing sekali-sekali. Kalau Pak Wacik berharap ada masukan, kami siap memberikannya. Sayangnya, pertemuan itu tidak berlanjut. Secara pribadi, saya tidak banyak kontak. Pernah saya ke kantor beliau dalam kapasitas saya sebagai Ketua Badan Pelestarian Pusaka Indone-sia (BPPI) untuk memperkenalkan kepengurusan baru dan program kerja.
Bahwa wakil dari Bali selalu ada di kabinet, pegangan kita ada tiga. Pertama, itu tetap harus disyukuri. Kedua, diupayakan untuk menunjukkan kompetensi dan bekerja baik. Ketiga, itu jabatan menteri memang pertimbangan politik. Menteri adalah penunjukan politis, tapi pertimbangan politis yang harusnya diikuti oleh yang dua tadi.
S
udah sejak lama saya mengenal nama Jero Wacik. Namanya terkenal lewat program bimbingan belajar (bimbel). Tahun 1980-an, program bimbingan belajar mulai populer, tempat siswa yang hendak masuk perguruan tinggi belajar menambah ilmu pengetahuan untuk bisa lulus dengan baik dan bisa lancar mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, dia bekerja sambilan sebagai pengajar bimbingan belajar. Katanya untuk mencari nafkah juga atau semacam uang saku tambahan.Waktu itu saya tidak kenal secara pribadi. Saya mulai berkenalan beberapa waktu setelah beliau menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Beberapa waktu setelah menjadi Menteri, Jero Wacik pernah mengumpulkan teman-teman dosen dan peneliti di Bali di sebuah hotel di Sanur. Tujuannya adalah berkenalan, bertukar pikiran, dan akhirnya mendorong kami untuk membuat kajian tentang kebudayaan dan pariwisata di Bali. Pertemuan tersebut berlangsung tahun 2005, beberapa saat setelah terjadinya serangan bom di Kuta dan Jimbaran. Serangan bom kedua ini (yang pertama 12 Oktober 2002) memang sempat membuat kondisi bisnis pariwisata Bali sepertinya akan memasuki masa suram. Wisatawan dikhawatirkan tidak akan mau datang lagi.
Jero Wacik mendorong kami, kaum intelektual, untuk tidak hanyut dalam pesimisme. Beliau mendorong kami untuk menulis aspek-aspek kekuatan budaya Bali yang akan mampu menjadi pilar pariwisata, yang mampu menyangga pariwisata Bali untuk tetap tumbuh dan berkembang walau banyak badai gelombang dan cobaan menghadang. Dari caranya bertutur, Jero Wacik tampak memiliki karakter yang selalu optimistik.
JERO WACIK SANGAT
MENGHARGAI SENIOR
PROF. DR. I WAYAN ARDIKA,M.A. Arkeolog Universitas Udayana;
Dekan FS Unud 2004-2008; 2008-2012
Saya masih teringat saat pertemuan di Hotel Puri Dalem, Sanur, di mana Jero Wacik menyampaikan filsafat hidupnya yaitu berfikir positif. Setiap orang memiliki kelemahan, sekaligus kelebihan. Orang berfikir positif, kata Jero Wacik, adalah orang yang mengutamakan kelebihan daripada kejelekan orang. Konteksnya dengan apa yang akan kami kerjakan waktu itu adalah, menulis artikel untuk melihat kekuatan yang dimiliki kebudayaan dan kepariwisataan Bali untuk bangkit dari serangan terorisme dua kali. Bali tidak boleh hanyut dalam kemuraman.
Salah satu prestasi kinerja Jero Wacik untuk Bali yang penting adalah penetapan Geopark di Kintamani. Ini adalah gagasan Jero Wacik sendiri. Berkat perjuangannya, kaldera Batur menjadi geopark pertama di Indonesia dan menjadi jaringan Jaringan Geopark Global (JGG) UNESCO. Kehadiran Geopark Kaldera Batur menjadikan Indonesia tercatat sebagai anggota ke-89 dari 90 JGG yang tersebar di 27 negara. Keanggotaan JGG diberikan saat penutupan acara Konferensi Internasional Jaringan Geopark Eropa ke-11 di Arouca, Portugal, pada 20 September 2012 lalu. Proses pengusulan lokasi Geopark ini sebenarnya di bawah Kementerian ESDM, namun proses pengusulan dilakukan oleh Kementerian Budpar. Setelah terpilih, promosinya sebagai bagian dari tujuan wisata berada di bawah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Dalam rangka merancang program World Cultural Forum, saya sempat terlibat dalam rapat-rapat dengan Jero Wacik di kantornya. Yang hadir dalam rapat tersebut antara lain adalah Joop Ave, mantan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi. Jero Wacik adalah orang yang sangat menghargai senior, dan orang lain secara umum.
Dalam rapat tersebut, dia mengapresiasi gagasan-gagasan Joop Ave, termasuk dalam program menjadikan kebudayaan sebagai sarana diplomasi lunak (soft diplomacy). Dia juga mengapresiasi kinerja Joop Ave dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Mendapat apresiasi seperti itu, Joop Ave juga menyampaikan apresiasinya kepada Jero Wacik.
DENGAN AWAK MEDIA,
JERO WACIK
SANGAT
COOL
I NYOMAN ARTHA
Direktur Utama Kompas-Dewata TV
S
aya mengenal nama Jero Wacik sejak SMA. Tahun 1979, saya duduk di kelas II Sekolah Lanjutan Umum Atas (SLUA) Saraswati, Denpasar. Untuk mata pelajaran fisika, sekolah kami menggunakan buku pelajaran fisika yang disusun oleh Jero Wacik dan Ketut Suardhana Linggih. Dari sanalah nama mereka berdua saya kenal.Di kalangan anak-anak SMA di Bali, nama Jero Wacik sudah tidak asing lagi. Karena buku beliau dipakai di seluruh Indonesia, saya yakin nama beliau juga dikenal oleh siswa di seluruh Tanah Air. Nama Jero Wacik, sudah menjadi bagian hidup dunia ilmu dan sekolah menengah atas waktu itu. Sebagai pelajar orang Bali waktu itu, saya merasa kagum bahwa ada orang Bali menulis buku pelajaran sekolah.
Buku Jero Wacik menjabarkan rumus-rumus dengan praktis. Mudah kita mempelajarinya. Saya ingat warna cover-bukunya merah, penerbitnya Ganesha Exact. Bukunya menyajikan rumus yang mudah diikuti. Sebelumnya kami keder, takut, kalau mendengar pelajaran fisika karena sulit, namun setelah memakai buku Jero Wacik, saya selalu dapat nilai fisika sembilan. Lewat buku itu, Pak Jero Wacik menurunkan ilmunya kepada generasi muda, kepada pelajar di seluruh Indonesia.
Jero Wacik itu orangnya pintar. Luar biasa. Kalau mengikuti sebentar dan mengamatinya tidak serius, tidak akan mengerti arah pikiran beliau. Pikiran beliau jauh ke depan. Itu bisa terasa kalau kita mengikuti dan menyimaknya terus, serius. Saya katakan demikian bukan karena beliau Menteri tetapi karena faktanya begitu.
Kalau tidak ada Jero Wacik, mungkin Taman Majapahit, Trowulan, tidak akan seperti adanya sekarang. Itu untuk scope nasional. Dalam scope Bali,
beliau juga membantu dan menyumbang untuk pembangunan pura. Beliau menyumbang seperangkat gamelan ke Banjar Bale Agung, Tampaksiring. Saat acara, beliau ikut menabuh gamelan. Waktu itu hujan angin, beliau hadir juga. Ketika ada ranting beringin patah menimpa dan merusakkan atap pura di Tirta Empul, beliau mengajak Presiden SBY datang dan menyumbang. Di pura lain pun, beliau menyumbang.
Kinerja Jero Wacik saat sebagai Menteri Budpar dan di ESDM luar biasa. Saya lihat, Jero Wacik selalu tampil dengan rencana matang, plan terstruktur. Kalau saya ikuti presentasi beliau dalam seminar atau ceramah-ceramah, pikiran beliau runut, logis, cerdas. Beliau kritis, pikirannya maju. Beliau bisa mengajukan cara penyelesaian persoalan dengan teori yang sangat mudah. Kayak matematika, sepasti dan sejelas rumus-rumus fisika.
Jasa Jero Wacik jangan diragukan lagilah. Selain jasanya mentransfer ilmu lewat buku pelajaran yang ditulisnya, saya lihat, beliau sejak di ITB sudah ngajar les (tutor) matematika dan fisika. Anak-anak yang diajar dalam bimbingan les mungkin sudah banyak yang menjadi orang sukses, memegang posisi penting sekarang. Kalau sekarang beliau menjadi Menteri, memang karena dasar dan jasanya sudah ada.
Saya berkenalan langsung dengan Jero Wacik setelah beliau menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Sebagai Menteri, beliau beberapa kali ke studio Dewata TV untuk live (siaran langsung). Ketika pertama bertemu dengan beliau, saya katakan bahwa nama beliau sudah kami kenal sejak lama. Dia bilang: “Ah, masak? Tahu dari mana?” Saya jawab, “Dari buku fisika yang Bapak susun dengan Suardhana Linggih”. Dia pun senang.
PAK WACIK PATUT JADI
TELADAN
MASYARAKAT BALI
I PUTU ARTHA,SE, MM Bupati Jembrana, 2010-2015
N
ama Jero Wacik mulai saya dengar dan kenal sejak duduk di bangku SMA, saat itu begitu banyak buku-buku latihan soal-soal yang ditulis dan memampangkan nama Jero Wacik, terutama soal-soal untuk jurusan paspal (IPA) seperti fisika dan kalau tidak salah matematika.Pada buku-buku tebal itu tertera nama Ir. Jero Wacik dan Penerbit Ganeca Exact Bandung. Pokoknya waktu itu nama Jero Wacik bagi teman-teman jurusan paspal adalah legenda. Buku Jero Wacik merupakan pegangan wajib bagi siswa SMA, utamanya yang mengambil jurusan paspal, termasuk guru-gurunya.
Saya masih ingat waktu itu, kalau ketemu dengan teman dari jurusan paspal, tangannya pasti memegang buku-buku kumpulan soal-soal karya Jero Wacik. Waktu itu, buku-buku karya Jero Wacik tergolong tebal dan mahal harganya. Saking tebalnya, buku-buku yang berisikan latihan soal-soal karya Jero Wacik itu tidak dimasukkan ke dalam tas sekolah, tetapi di-sangkil
(dipegang). Jadi kulitnya yang khas warna-warni itu terlihat.
Hingga dewasa, bahkan setelah saya bergaul jauh di dunia politik, di dalam rekaman alam bawah sadar saya, sosok Jero Wacik itu adalah sosok intelektual dan pendidik. Sedikit pun tidak terbersit di dalam benak saya, Pak Jero Wacik akan terjun dan terlibat jauh di dunia politik.
Ketika nama beliau termasuk di dalam pemrakarsa lahirnya Partai Demokrat, saya benar-benar surprise. Di mata saya pilihan Pak Wacik untuk terjun ke politik adalah pilihan yang keliru, untuk tidak mengatakan salah. Tetapi, ketika Pak Wacik dipercaya Pak SBY sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, saya menjadi memakluminya. Karena, seperti sebuah tradisi, bahwa Menteri untuk urusan pariwisata itu adalah jatahnya orang Bali.
Kejutan kembali saya rasakan, ketika Pak Wacik dipercaya sebagai menteri ESDM. Di dalam benak, saya selalu bertanya-tanya, apakah Pak SBY tidak salah pilih sehingga mempercayakan kursi kementerian ESDM kepada Pak Wacik? Sejauh pengetahuan saya, nama Pak Wacik tidak pernah terdengar di dalam pergaulan yang berhubungan dengan ESDM. Bagaimana mungkin seorang intelektual murni seperti Pak Wacik akan mampu secara profesional berperan sebagai Menteri ESDM.
Sampai saat ini, di mata saya Pak Wacik itu adalah intelektual murni. Kalaupun beliau dipercayai menduduki posisi sebagai pembantu Presiden, saya justru berfikir Pak Wacik sangat pas kalau berada pada posisi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Karena di mata saya, Pak Wacik itu sosok yang bisa melakukan terobosan-terobosan di bidang pendidikan, dan apa yang beliau lakukan di kancah pendidikan bagi saya sangat revolusioner dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan saat ini dan ke depan.
Untuk dunia politik, Pak Wacik merupakan sosok politisi dengan etika politik yang tinggi. Bagi saya, penghargaan, kepercayaan dan posisi yang diberikan serta dipercayakan oleh Pak SBY kepada Pak Jero Wacik selama ini lebih didasari karena Pak Wacik merupakan politisi santun, menjunjung etika politik, dan bukan merupakan sosok politisi yang suka konflik dan kegaduhan. Sebagai sebuah pribadi, Pak Jero Wacik adalah pribadi yang rendah hati, dan terbuka. Pak Wacik bisa menerima dan sudi berdialog dengan siapa saja tanpa melihat posisi dan strata sosial serta posisi politik. Beliau sangat sederhana, dan membuat kita merasa tidak ada jarak kalau ngobrol atau berhadapan dengan beliau.
Yang menarik, Pak Wacik merupakan sosok manusia modern yang tetap setia kepada akar tradisinya sebagai orang Bali. Beliau masih menjadi
pemangku, masih menyiapkan waktu untuk memainkan kendang, menabuh gamelan, dan berkunjung kepada teman-teman sepermainannya dulu.
BERHARAP JERO WACIK
MENJADI NEGARAWAN
IRJEN POL. (PUR) DRS. I GUSTI MADE PUTERA ASTAMAN
Mantan Deputi Kapolri Bidang Operasi
S
osok Jero Wacik saya kenal sejak beliau berkiprah di Jakarta. Sebagai sesama umat, beliau menandai saya sebagai tetua (sesepuh), dan saya menandai beliau sebagai anak muda yang saat itu sebagai pengusaha yang sedang berkembang. Komunikasi dengan dia senantiasa penuh dengan ide strategis yang tajam.Suatu saat beliau menyampaikan keinginannya untuk pindah dari pengusaha ke politik. Beliau sempat minta doa restu lewat telepon. Syukurlah, beliau berhasil di politik, lalu menjadi Menteri.
Pak Jero Wacik ini pemimpin yang satya wacana, yang melangkah atas dasar Tri Kaya Parisuda (berfikir, berkata, berbuat baik). Beliau sudah mengungkapkan dalam buku beliau tentang berfikir positif. Dari berfikir positif, beliau berbicara positif, dan menunjukkan tindakan positif. Itu namanya satya wacana dan itu yang membuat beliau diterima baik oleh banyak kalangan dan oleh komponen-komponen masyarakat bangsa kita.
Perjalanan hidup beliau, mulai SMP sampai SMA dan kemudian di ITB, semuanya serba unik dan penuh dengan suècan Widhi, anugerah Tuhan. Sekarang beliau menjadi pejabat penyelenggara negara. Beliau sudah menunjukkan prestasi dan penuh potensi untuk meningkatkan prestasi itu. Dalam berkomunikasi, formal atau informal, beliau menunjukkan karakter sebagai orang yang selalu menghormati sesepuh. Suatu kali kami beraudiensi ke kantor beliau di Kementerian Budpar, Jero Wacik terasa sekali menghormati sesepuh misalnya dengan menyebutkan nama dan hubungan sehingga yang lebih sepuh merasa nyaman dalam berkomunikasi. Kepada yunior, Jero Wacik memberikan motivasi untuk meningkatkan diri. Sikap menghormati senior dan memotivasi yunior merupakan hal yang perlu
diteladani oleh pemimpin-pemimpin di kalangan umat kita, dan pemimpin bangsa yang lain.
Sebagai ilustrasi, perlu disebutkan bagaimana Jero Wacik membuat Ruang Motivasi (Hall of Fame) untuk memotivasi para siswa dan mengapresiasi mereka yang berprestasi tinggi (all the fame) dari alumni SMAN Singaraja. Termasuk dalam all the fame ini adalah Pak Putu Soekreta Soeranta, Pak Suwandha, saya, dan lain-lainnya. Apa yang dilakukan Jero Wacik adalah langkah monumental dalam memotivasi generasi yang akan datang untuk berprestasi tinggi dan menghargai prestasi senior.
Dalam kaitan itu, saya ingin menyoroti apa yang patut dilakukan orang yang berpotensi sebagai pemimpin. Pertama, dia sebaiknya selalu menunjukkan semangat tinggi dan rasa gembira alias mengesampingkan sifat sedih dan susah. Semangat tinggi dapat memberikan pengaruh kuat pada lingkungan, pada yang dipimpin.
Kedua, menunjukkan sikap rendah hati, tidak sombong. Dengan begitu, orang mau (diajak) berkoordinasi, orang mau untuk bekerja sama. Ketiga, profesional, artinya di mana pun seseorang itu bertugas, di mana pun diberikan fungsi dan peran oleh masyarakat, bangsa dan negara, dia harus melakukannya secara profesional, melaksanakan tugas sebaik mungkin.
Jero Wacik memiliki itu semua dan itu memang diperlukan.
Harapan saya, Jero Wacik yang sudah menunjukkan prestasinya agar ke depan menjadi pemimpin yang mampu membawa bangsa ini ke arah ‘Indo-nesia Raya’, ‘Indo‘Indo-nesia Berjaya’ yang bersendikan Pancasila, ‘Indo‘Indo-nesia Gemilang’ di abad ke-21. Sebagai penyelenggara negara, saya berharap agar Jero Wacik semakin mengarah menjadi seorang negarawan, bukan sekadar pemimpin dari salah satu partai politik, tapi pemimpin negara. Arahnya harus ke sana seperti Pak Jusuf Kalla, Pak Try Sutrisno, dan Pak Habibie, yang meskipun usianya tidak lagi muda, tetapi tetap dipandang sebagai bapak bangsa, diterima oleh seluruh komponen bangsa. Dalam usia ke-64, perjalanan Jero Wacik ke depan memang masih panjang.
S
aya mulai mengenal Jero Wacik tahun 1999 setelah terjadi gerakan reformasi. Bertemu pertama kali ketika Menteri Pertambangan dan Energi saat itu, Ida Bagus Sudjana, mengundang tokoh-tokoh Bali di Jakarta dan berbagai daerah guna membicarakan masa depan Bali. Saya hadir mewakili LSM Forum Independen Pemantau Pembangunan Bali (FIP2B) bersama Anak Agung Ngurah Gede Kusuma Wardana. Jero Wacik, saya ketahui sebagai seorang pengusaha asal Bali yang tinggal di Jakarta.Pertemuan berlangsung di Hotel Wisata. Di situ kami secara intens membicarakan kondisi dan masa depan Bali. Diskusi terus berlanjut di antara kami dalam hubungan pribadi yang akrab baik melalui telepon maupun bertemu langsung. Ketika Jero Wacik bersama Heru Pranowo dan Putu Suasta merintis pendirian Gerakan Indonesia Baru (GIB) saya juga dilibatkan. GIB ini bisa dibilang sebagai salah-satu embrio Partai Demokrat.
Setelah Demokrat menjadi partai dan berhasil memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden, Wacik ditunjuk sebagai Menteri. Saya termasuk yang memberi dukungan karena saat itu terjadi pro dan kontra, apakah beliau memang cocok ditempatkan sebagai Menteri Pariwisata. Terus terang ada yang mempertanyakan kapasitasnya, apalagi saat itu banyak tokoh Bali yang penguasaannya di bidang pariwisata dianggap melebihi Wacik.
Wacik terbukti memiliki prestasi di masa kepemimpinannya dengan kecenderungan jumlah wisatawan yang terus naik. Inovasi dalam program pariwisata juga terlihat dengan upaya menghidupkan pariwisata melalui berbagai festival dan slogan “Kenali Negerimu Cintai Negerimu” (KNCN). Soal keterbukaan dan wataknya yang responsif ini masih terus dipertahankan sehingga SMS saya pun masih tetap dibalas oleh beliau. Ini
FIGUR YANG
TAK PERNAH
MELUPAKAN
MASA LALUNYA
PROF. DR. NENGAH DASI ASTAWA, M.SI. Dosen Manajemen Undiknas University
hal yang luar biasa karena menunjukkan bahwa beliau figur yang tak pernah melupakan masa lalunya.
Dalam hal bekerja keras, Wacik adalah figur yang tak terlalu peduli pada apa kata orang. Beliau apa adanya, pokoknya dibilang apa pun terserah asal dia sendiri bekerja keras dengan kemauan yang tinggi, keberanian menyuarakan pendapatnya.
Wacik pun selalu menanamkan perlunya bersikap positif terhadap apa pun dan siapa pun. Saya sangat setuju dalam hal ini, karena sikap negatif akan membuat matinya kreativitas dan bahkan imunitas tubuh. Jadi hanya akan merusak diri sendiri.
Kalau ada sisi kelemahan Wacik, sebenarnya lebih karena kondisi politik kita yang kurang bisa menerima keterbukaan. Sikap Wacik yang terbuka bisa menjadi sasaran empuk para politisi yang tidak suka dengan kebijakannya. Dalam hal ini mungkin diperlukan kelihaian agar dalam menanggapi persoalan, Wacik bisa mengatur nada suaranya sesuai dengan audiens yang dihadapinya.
Watak Jero Wacik itu dasarnya mungkin karena dia juga seorang pemangku
yang mengedepankan kejujuran dan ketulusan dalam segala hal. Ia pun sering memberi kepercayaan tanpa reserve kepada seseorang yang diberinya tugas dan kepercayaan. Ini hal yang bagus tapi bisa berbahaya dalam politik karena ada saja orang-orang yang ingin memanfaatkan kondisi itu. Jadi beliau mestinya memiliki second opinion. Bagaimanapun Wacik adalah representasi dari orang kepercayaan SBY, tokoh Partai Demokrat dan juga membawa nama Bali sehingga perlu lebih berhati-hati.
Sebagai teman, saya berharap beliau akan terus berhasil sampai akhir masa jabatan. Kalau dua kali meraih jabatan Menteri dan tetap bersih maka beliau layak mendapat suatu penghargaan dari kalangan masyarakat Bali.
VISIONER & HIS WORDS
AS SHARP AS A SWORD
AYU LAKSMI
Seniman Musik, Film, Teater, Seni Pertunjukan
M
emandang sosok Jero Wacik adalah memandang ke-Indonesia-an, memandang kebhinekaan: kritis dan dinamis. Sebagai pemimpin, beliau cerdas, mampu think and move forward, kuasa melapangkan hati dan berjiwa besar, dewasa dan bijak menerima perbedaan, juga mampu mengakomodir segala kepentingan.Ketika menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu tentu saja banyak yang berpikir, “Wah, menterinya orang Bali, nanti yang dapat kesempatan muncul di permukaan bisa jadi hanya orang Bali saja.”
Sinisme seperti ini sungguh beralasan, mengingat betapa kental kesukuan di Indonesia. Sementara di sisi lain, dalam pikiran masyarakat Bali terutama komunitas pariwisata dan seniman, mereka menaruh harapan yang besar kepada beliau. “Menterinya orang Bali, nanti akan menjadi lebih gampang buat kita meminta jatah atau project dari Bapak Menteri”.
Tapi pada akhirnya, meski ia sungguh mencintai Bali, toh hal tersebut tidak terjadi. Beliau berhasil menempatkan diri di tengah keberagaman dengan tidak memberikan skala prioritas bagi para pelaku seni budaya dan pariwisata yang hanya berasal dari Bali.
Suatu ketika, setelah bertahun-tahun menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, saya dan beberapa teman seniman pernah bertatap muka dengan beliau di kantornya. Pertemuan yang begitu mengesankan bagi saya karena mampu menumbuhkan motivasi dalam diri. Jika saya ibaratkan,
his words as sharp as a sword, the energy that Jero Wacik uses to awaken people around him is on a nuclear scale. Beliau sungguh optimistik, memiliki higher energy yang mampu menggerakkan dan menularkan motivasi seketika kepada orang-orang di sekitarnya.
Betapa pun kuat kedudukan, dan pengaruh yang dimilikinya, Jero Wacik tetaplah seorang manusia Bali yang sederhana, seorang yang memiliki pandangan jauh ke depan (visioner).
Pada November 2010 silam, dalam event seni “Doa Bali untuk Indone-sia” kegiatan yang saya gelar dengan dukungan seniman-seniman Bali lainnya untuk menggalang dana bagi Merapi dan Mentawai di Jakarta, beliau juga menyempatkan diri untuk hadir. Ini cukup mengejutkan sebab saya dan tim merasa tidak pernah mengirimkan undangan khusus dalam kemasan yang terhormat selayaknya undangan yang ditujukan untuk menteri dalam acara yang digelar satu hari sebelum peluncuran album musik saya Svara Semesta.
Kami hanya mengirim undangan lewat SMS. Saya terkejut, hanya dengan undangan SMS, Jero Wacik berkenan datang.
Kembali saya dibuat terkejut sesaat sebelum Jero Wacik mulai berpidato. Beliau meminta saya menemaninya di atas panggung, dan kepada seluruh penonton beliau bercerita tentang filosofi yang mendasari nyanyian yang saya persembahkan saat itu. Rupanya nyanyian yang saya petik dari Kakawin Arjuna Wiwaha itu memicunya pada sebuah kenangan saat beliau menjadi
pemangku (pendeta) di tanah kelahirannya.
Dalam kesempatan itu beliau juga bercerita kepada audiens bahwa undangan acara diterimanya melalui SMS. Begitulah Jero Wacik menghadirkan kesederhanaan dan kesahajaannya sebagai manusia yang sama, sebagai manusia Bali, sebagai warga Indonesia dan peradaban dunia. Sebab doa, tentu tidak tersekat batasan wilayah, kesukuan, kedudukan, dan mampu memutus tali perbedaan. Bagi saya, spirit inilah yang berhasil ditangkap Jero Wacik, kemudian diterjemahkannya dalam laku hidup sebagai seorang manusia, dengan segala simpati dan empati yang dimilikinya.
S
aya sudah kenal dengan Pak Jero Wacik sejak sekitar empat sampai lima tahun. Menurut saya, kiprah beliau itu menjadi suatu kebanggaan bagi Bali. Orang Bali yang mampu berkiprah di kancah nasional dan internasional, tanpa tercerabut dari akarnya sebagai orang Bali. Dia tetap berpegang teguh pada kebudayaan Bali, agama Hindu, dan tradisi-tradisi setempat. Itu sungguh suatu kebanggaan bagi masyarakat Bali.Saya terkesan akan cara berfikir beliau yang selalu positive thinking, tanpa pernah mencurigai orang lain. Dengan cara berpikir positif itulah beliau lantas mempunyai prestasi yang wah sekali. Di Bali beliau juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang ramah, mudah berkomunikasi, dan sebagainya.
Saya melihat beliau itu multi-talenta. Beliau mempunyai kemampuan bervariasi. Selain sebagai seorang pebisnis pada awalnya, seorang politisi dan sebagai pengurus partai, kemudian menjadi seorang birokrat dengan posisi tertinggi sebagai seorang menteri. Ini jarang dimiliki oleh orang lain sehingga itu menjadi kebanggaan kami.
Saya pernah berdiskusi hampir dua jam di kantor beliau mengenai usaha beliau mengembangkan sumber daya manusia (SDM) baik di tingkat nasional maupun di tingkat Bali. Beliau cerita bahwa perguruan tinggi itu memegang peranan yang sangat penting. Karena SDM yang berkualitas itulah yang menjadi sumber daya bagi pengembangan bangsa, baik di tingkat nasional maupun di Bali. Beliau memang sangat concerned pada perguruan tinggi yang menjadi tempat untuk mencetak sarjana. Beliau juga memberikan pencerahan kepada kami, dosen-dosen, dan para mahasiswa, pada acara seminar-seminar di kampus.
Selain mahir memberikan motivasi secara lisan, beliau juga menuliskan
KIPRAH BELIAU
MENJADI KEBANGGAAN
BAGI BALI
PROF. DR. DR. I MADE BAKTA, SP.PD. Rektor Universitas Udayana 2005-2013; Sekjen World Hindu Parisad, 2013
apa yang menjadi pengalaman-pengalaman hidup beliau dalam biografi sehingga orang lain bisa membaca dan mendapatkan inspirasi darinya. Kalau membaca biografi beliau di sana terang terungkapkan mengenai kisah hidup beliau mulai dari desa yang terpencil sekali, kemudian ke tingkat kabupaten, lalu ke tingkat nasional, berkuliah di ITB, Bandung, dan berbisnis di Jakarta. Semuanya merupakan kisah perjuangan yang keras.
Hal itu seharusnya memberikan inspirasi kepada para generasi muda, bahwa dengan perjuangan keras peluang mencapai cita-cita tentu akan lebih mudah, daripada hanya berserah kepada nasib. Itu kesan saya yang paling dalam tentang beliau.
Kesan yang lainnya ketika saya mengajak diskusi beliau panjang sekali soal bagaimana kita mengembangkan Bali. Kesan kami, beliau sangat terbuka. Rasanya tidak ada yang beliau simpan untuk kita ambil manfaatnya dari apa yang beliau punya itu. Bertukar-pikiran dengan beliau memberikan kami motivasi untuk berjuang lebih keras lagi.
Sisi beliau yang mungkin menjadi kekurangannya adalah soal sistematika berbicaranya. Menurut saya yang perlu ditingkatkan sistematika beliau ketika berbicara kepada publik. Harus lebih sistematis sehingga mengalir dengan bagus. Ya, seperti Bapak Presiden SBY yang bicaranya sistematis dan runut sehingga mudah untuk dicerna dan dipahami. Namun, mungkin karena temperamen Pak Wacik lebih meledak-ledak, jadi bicaranya agak loncat-loncat. Tetapi, saya kira itu bukan kelemahan melainkan karena karateristik bicara beliau.
Kami harapkan, baik sebagai birokrat maupun seorang politisi, Pak Jero Wacik tetap membawa misinya untuk bisa mengembangkan bangsa dan negara ini dengan baik. Karena beliau sangat paham tentang kebudayaan Bali, maka kami berharap kesuksesan beliau di tingkat nasional juga memberikan keharuman dan manfaat pada Bali. Memang kami sudah melihat ke arah itu dan kami harapkan pencapaian itu terus dilanjutkan.
CERDAS, INSTING
POLITIK & MANAJERIAL
JERO WACIK
PROF. DR. I MADE BANDEM Ketua STSI Denpasar 1982-1997;
Rektor Institut Seni Indonesia Jogya 1997-2006
N
ama Jero Wacik sudah lama saya dengar dari teman dan media sebagai seorang ahli matematika, lalu menjadi salah satu pimpinan Partai Demokrat, tapi saya baru mengenal lebih dekat ketika beliau diangkat menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2004.Selaku mantan Ketua STSI Denpasar dan Rektor ISI Yogyakarta, sejak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bernama Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, saya sudah memiliki hubungan dekat dengan para menteri, karena sering diberikan tugas menyelenggarakan pagelaran promosi seperti Pembukaan PATA dan misi kesenian ke luar negeri lainnya.
Saya juga pernah ditugasi sebagai Koordinator Masyarakat Pariwisata Indonesia Bagian Tengah dan Timur mulai dari Yogyakarta sampai ke Papua. Saya sering dilibatkan dalam kajian-kajian pariwisata dan menjadi nara sumber dalam penyusunan Renstra Kementerian. Kegiatan semacam itu meningkatkan hubungan baik saya dengan Jero Wacik.
Pada awal tahun 2005, sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Pameran Seni Bali Bienal yang bersifat internasional, saya pernah menghadap Jero Wacik untuk menyampaikan rencana penyelenggaraaan perhelatan itu. Pertemuan itu diatur berlangsung di Bali karena saat itu Jero Wacik akan melakukan persembahyangan di Pura Bukit Mentik di kawasan Gunung Batur. Jero Wacik adalah warga pemangku di tempat itu.
Setelah melakukan santap malam bersama di pura, kami berdua melakukan persembahyangan di Pura Bukit Mentik. Mulai saat itu saya mengenal lebih dekat pribadi Jero Wacik yang selalu berfikiran positif. Beliau seorang negarawan yang berfikiran positif, bersedia menerima pendapat dan bisa menghargai jasa orang lain. Ketika bersembahyang bersama, beliau
menyarankan saya memohon keselamatan negara, keselamatan pribadi, dan sekaligus boleh memohon tugas-tugas apa pun yang diinginkan.
Sekitar Agustus 2005, ketika terjadi perubahan status Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Jero Wacik menelepon saya dan beliau menanyakan tentang umur saya. Ketika itu saya baru saja merayakan HUT yang ke-60. Beliau menawarkan kepada saya apabila saya mau berpindah tugas dari Rektor ISI Yogyakarta menjadi salah seorang Pejabat Eselon I di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Beliau tidak menjelaskan, tetapi salah satu eselon yang kosong saat itu adalah Direktur Jenderal Kebudayaan. Namun, karena persyaratan untuk menjadi Eselon I adalah umur di bawah 60 tahun, maka niat beliau untuk membawa saya ke Jakarta tak terpenuhi.
Awal tahun 2006, Jero Wacik menelepon saya lagi, meminta saya membantu merumuskan Pariwisata sebagai Bidang Ilmu Mandiri. DPR-RI Komisi X saat itu meminta kepada Menteri Gde Ardika agar Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) menghentikan mengambil mahasiswa baru untuk S-1 dan dikembalikan fungsinya ke pendidikan vokasional D3 dan D4 Pariwisata.
Insting politik dan manajerial Jero Wacik berjalan cerdas, beliau menelepon saya, dan ingat akan pengalaman saya sebagai guru Kokar Bali, ikut mendirikan ASTI Denpasar, meningkatkan status ASTI menjadi STSI dan ISI Denpasar. Dari perjalanan itu, beliau berasumsi saya bisa membantu perumusan pariwisata sebagai bidang ilmu mandiri. Beliau membentuk Tim Sembilan dan saya dipercayai sebagai senior yang menggugah Tim untuk merumuskan dan memperjuangkan kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas agar pariwisata bisa menjadi ilmu mandiri.
S
aya sudah lama tahu Jero Wacik. Saya dulu lama di Bangli, bertugas sebagai pejabat negara. Empat tahun saya di sana; sempat menjadi Sekretaris Daerah, kemudian menjadi Bupati Bangli. Desa Batur itu adanya di Bangli. Saya banyak tahu orang Batur, desa asalnya Jero Wacik. Saya kenal dengan ayah beliau. Jero Wacik sendiri waktu dulu masih anak sekolah. Kemudian dia pindah ke Singaraja untuk melanjutkan sekolah. Saat kecil itu saya memang kurang mengenalnya tetapi ketika dia sudah dewasa saya malah menjadi dekat denga beliau.Selanjutnya saya pindah ke Denpasar karena tugas. Sementara itu, Jero Wacik tinggal di Jakarta. Saya tidak tahu persis beliau kerjanya di mana waktu itu. Tapi kami sering jumpa karena saya sering ke Jakarta. Kalau saya di Jakarta, kadang-kadang saya diajak makan oleh beliau. Secara pribadi saya menjadi dekat dengan Jero Wacik.
Kalau saya lihat, Jero Wacik orangnya terbuka. Apalagi saya dekat dengan orang-orang dari Batur; jadi beliau tahu benar saya dan bisa menjadi dekat. Saya tahu betul orang asal Batur itu pintar berbisnis dan ulet-ulet. Saya sendiri waktu bertugas di Bangli masih muda. Waktu saya menjadi Bupati Bangli, menggantikan bupati sebelumnya yang meninggal dunia, usia saya baru 27 tahun.
Waktu saya menjabat Gubernur Bali sering juga saya berjumpa dengan Jero Wacik. Tetapi kami seringnya berbicara hal-hal yang umum-umum saja, tidak pernah terlalu serius. Kadang-kadang Jero Wacik menceritakan tentang pekerjaannya. Waktu saya megikuti pendidikan di Jakarta, beliau sempat mengajak makan malam di restoran. Sebenarnya saya tak terlalu mengikuti karier beliau. Tahu-tahu beliau sudah di Partai Demokrat dan mendukung
DITAWARI JADI
DUBES UNTUK INDIA
BERKAT JERO WACIK
DEWA MADE BERATHA
Gubernur Bali 1998-2003; 2003-2008
Pak SBY. Waktu Pak SBY jadi Presiden, beliau diangkat sebagai Menteri. Ketika beliau mendapat tugas sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, itu sangat cocok buat orang Bali. Karena Bali, juga Yogya, punya (sektor) pariwisata yang besar. Sebelumnya, Menteri di bidang pariwisata juga dari Bali, I Gde Ardika.
B
agi orang Bali yang berpikiran moderat, dapat dipastikan sangat bangga memiliki sosok Jero Wacik yang mampu duduk menjadi pejabat negara. Pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada masa jabatan Presiden SBY periode pertama dan kedua dan kini duduk menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya. Meraih posisi tinggi seperti ini bukanlah persoalan yang mudah.Kepercayaan masyarakat Bali memilih Jero Wacik untuk duduk menjadi anggota dewan melalui Partai Demokrat merupakan suatu keniscayaan betapa orang Bali ingin menampilkan orang cerdas, beretika, dan dengan gaya komunikasi yang khas untuk melakukan perubahan dalam sistem kenegaraan yang otokratis menjadi negara yang berkarakter egaliter dan demokratis.
Dengan kemampuan yang ditunjukkan ketika beliau berada di kursi legislatif walaupun sangat sebentar, tetapi dalam rencana penetapan kabinet SBY ketika itu, arus kepercayaan Presiden SBY sangat tinggi sehingga di kala itu Jero Wacik akhirnya dipilih dan ditetapkan sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Tentu semua orang mengetahuinya mengapa sosok manusia Bali yang terpilih menangani persoalan kepariwisataan, mungkin tolok ukur kemajuan pariwisata Indonesia adalah Bali. Bali memang telah menjadi ikon pariwisata Indonesia dan berkali-kali menjadi the besttourismdestination.
Sangat banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Jero Wacik di kala awal menjabat sebagai Menteri, ketika itu kondisi pariwisata Bali dan Indo-nesia sedang terpuruk akibat tragedi bom tahun 2002 yang mahadahsyat terjadi di Legian Kuta Bali. Hati siapa yang tidak hancur, bom yang memporakporandakan Legian Kuta tidak hanya mengorbankan jiwa-raga,
JERO WACIK
SIMBOL INSPIRASI
ORANG BALI
PROF. DR. I NYOMAN BUDIANA,SH., M.SI. Akademisi Undiknas University;
Bendesa Pakraman Desa Panjer, Denpasar
harta benda, fasilitas sarana dan prasarana, di bidang ekonomi tetapi juga citra pariwisata Indonesia di mata dunia yang divonis tidak aman dan nyaman lagi sebagai tujuan pariwisata dunia.
Menghadapi kondisi seperti itu, tentu sebagai sosok Menteri yang bertanggung jawab untuk memulihkan citra pariwisata Indonesia, beliau mulai memasang strategi untuk berkomunikasi dengan menggunakan berbagai pendekatan, salah satunya adalah dengan mereaktualisasikan Sapta Pesona.
Memulihkan kepercayaan dunia terhadap pariwisata Indonesia memang tidak mudah, karenanya langkah strategis untuk berkerja sama dengan stake-holders bidang ini di bawah komando Presiden SBY dilakukan dengan sangat baik “persuasif dan elegan” sehingga memang benar dapat dibuktikan recov-ery dunia kepariwisataan segera bisa tercapai.
Akselerasi pemulihan tersebut telah dengan cepat dirasakan oleh masyarakat Bali, tetapi apa mau dikata bangsa Indonesia kecolongan kembali dengan meledaknya bom bunuh diri di Café Menega Jimbaran dan Rajas Café di pusat keramaian Kuta tahun 2005. Akibatnya, struktur perekonomian Bali yang berbasis pada pariwisata menghadapi masalah lagi. Namun, perlahan-lahan tapi pasti, geliat kepariwisataan Bali kembali bisa pulih. Secara bertahap jumlah kunjungan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, hingga saat ini kunjungan touris ke Bali mendekati 3 juta orang per tahun.
Berdasarkan pengalaman menghadapi tantangan yang mahadahsyat di saat Jero Wacik menjadi Menteri Pariwisata, merupakan suatu poin tersendiri baginya untuk meningkatkan ratingnya dalam jajaran kabinet Indonesia. Dengan latar pendidikan eksakta dan merupakan jebolan ITB, beliau kembali dipercaya untuk menempati posisi menteri yang tidak kalah strategisnya yaitu Menteri ESDM.
Sekali lagi dengan gaya komunikasi dan kepemimpinannya yang khas, saya pribadi sangat percaya Bapak Jero Wacik akan mampu kembali mengukir prestasi gemilang di dunia energi dan sumber daya yang menjadi dambaan setiap insan Indonesia.
SELALU TERSENYUM
WALAUPUN
DITERJANG BADAI
BULANTRISNA DJELANTIK
Dokter Spesialis THT, Pensiunan