• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Kurikulum Darurat dan Modul Belajar Literasi dan Numerasi (Hasil Survei Guru)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Implementasi Kurikulum Darurat dan Modul Belajar Literasi dan Numerasi (Hasil Survei Guru)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

2016 - 2019

INOVASI dan TASS – program kemitraan Pemerintah Indonesia dan Australia yang dikelola oleh Palladium

Implementasi Kurikulum Darurat dan Modul Belajar Literasi dan Numerasi (Hasil

Survei Guru)

PUSLITJAK-INOVASI-UNICEF-TANOTO-SAVE THE CHILDREN

(2)

Latar Belakang

• Berdasarkan Keputusan Mendikbud RI Nomor 719/P/2020 tentang

Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Satuan Pendidikan dapat menggunakan: a. Kurikulum nasional yang selama ini digunakan, b. Kurikulum darurat kondisi khusus yang

sudah disesuaikan, yang dikeluarkan oleh SK Kabalitbang dan Perbukuan, c. Kurikulum yang disederhanakan secara mandiri.

• Untuk melengkapi kurikulum darurat, pemerintah telah mengembangkan modul belajar literasi dan numerasi untuk siswa sekolah dasar. Modul

tersebut dibuat untuk guru, orang tua siswa dan siswa untuk memfasilitasi siswa dalam pembelajaran.

• Untuk itu perlu diketahui bagaimana implementasi kurikulum kondisi

khusus (darurat) dan modul belajar literasi dan numerasi tersebut.

(3)

Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana sosialisasi kurikulum darurat di lapangan?

2. Bagaimana distribusi/logistik modul belajar literasi dan numerasi kurikulum darurat?

3. Bagaimana pemanfaatan modul belajar literasi dan numerasi oleh guru?

Apa saja manfaat yang didapatkan dari modul tersebut?

(4)

Metode Sampling Penelitian

 Pengambilan data dilakukan pada 3 September - 3 Oktober 2020 menggunakan survei online dan via telepon jika tidak ada akses internet.

 Responden berasal dari sampel PUSLITJAK, wilayah mitra pembangunan program INOVASI, TANOTO, UNICEF dan Save the Children yang meliputi 15 provinsi dan 50 kabupaten/kota. Secara total 1,202 guru terlibat dalam studi ini.

 Mekanisme pengambilan sampling data mitra INOVASI dan PUSLITJAK:

- Menggunakan metode stratified random sampling di wilayah mitra INOVASI dan PUSLITJAK dengan asumsi margin of error sebesar 5%:

- Memastikan keterwakilan sekolah dengan kualitas baik, menengah, dan di bawah*.

- Melakukan proses randomisasi pemilihan sekolah dan guru untuk setiap kategori.

- Melakukan verifikasi ulang dengan tim provinsi untuk memastikan responden yang terpilih sudah sesuai dengan kriteria.

 Mekanisme pengambilan sampling data mitra UNICEF, Tanoto, dan Save the Children:

- Menggunakan metode convenience sampling kepada penerima manfaat di daerah binaan mitra pembangunan

* Indeks kualitas sekolah ditentukan berdasarkan indikator yang ada di DAPODIK seperti akreditasi sekolah, ketersediaan jaringan internet, listrik, tingkat ulang kelas, rasio guru-siswa, keadaan bangunan/fasilitas sekolah, dan variabel lainnya. Indeks dikembangkan menggunakan metode statistik Principal Component analysis (PCA)

(5)

Analisis

 Analisis data dilakukan dalam dua tahap:

- Tahap 1: Pengolahan data di wilayah mitra INOVASI dan PUSLITJAK untuk memberikan feedback cepat kepada PUSMENJAR (Minggu ketiga September)

- Tahap 2: Pengolahan data gabungan mitra pembangunan (INOVASI, PUSLITJAK, TANOTO, UNICEF, dan Save the Children) untuk masukan akhir dan mendapatkan data yang lebih representatif (Minggu kedua Oktober)

 Secara umum, hasil analisis menunjukkan tren temuan yang konsisten pada tahap 1 dan tahap 2.

(6)

Keterbatasan Penelitian

 Dengan mayoritas data dari mitra pembangunan, studi ini memiliki kemungkinan belum representatif secara nasional. Untuk mengatasi hal ini, kami melakukan beberapa usaha untuk membuat sampel lebih representatif:

- Memastikan adanya keterwakilan responden dari lima pulau utama di Indonesia.

- Melakukan wawancara menggunakan telepon untuk menjangkau responden yang tidak memiliki jaringan internet.

- Menggunakan metode stratified random sampling di wilayah mitra INOVASI dan PUSLITJAK - Memastikan keterwakilan sekolah dengan kualitas baik, menengah, dan di bawah.

- Melakukan proses randomisasi pemilihan sekolah dan guru untuk setiap kategori.

- Melakukan verifikasi ulang dengan tim provinsi untuk memastikan responden yang terpilih sudah sesuai dengan kriteria.

 Limitasi lain: Terbatasnya keterwakilan responden di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dengan sinyal telepon;

Analisis dominan masih bersifat deskriptif.

(7)

Non-PNS 45%

PNS 55%

Responden

Laki-Laki 21%

Perempuan 79%

Kelas 1 20%

Kelas awal (2-3)

30%

Kelas tinggi (4-

6) 50%

Kelas yang Diajar

 Responden berasal dari 15 provinsi yang meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua) serta mencakup 41 kabupaten dan 9 kota.

 Total partisipan 1.202 responden guru

(sd. 3 Oktober 2020, pukul 24.00 WIB).

Respoden berdasarkan: Karakteristik Guru

Jenis Kelamin Status PNS

Responden berdasarkan: Wilayah dan Sekolah

SD 77%

MI 23%

Negeri 71%

Swasta 29%

BDR 76%

BDS 24%

Narasumber didominasi oleh guru di Daerah Non-Tertinggal (81%), Sekolah Negeri (71%), Satuan pendidikan SD (77%), Berjenis Kelamin Perempuan (79%), Berstatus PNS (55%), dan Mengajar di kelas tinggi (50%).

19%

81%

Daerah Tertinggal Daerah Non- Tertinggal Berdasarkan Perpres

No. 63 Th 2020

(8)

Sebagian besar guru telah mengetahui kurikulum darurat

72%

52%

34%

23%

21%

16%

Mengetahui adanya kurikulum darurat

Menggunakan kurikulum darurat

Mengetahui adanya modul belajar literasi dan numerasi

Memiliki modul belajar literasi dan numerasi

Menggunakan modul belajar literasi dan numerasi

Membagikan modul belajar literasi dan numerasi kepada orang tua siswa

(Jumlah Sampel- N=1.202)

(9)

Kurikulum darurat lebih banyak diketahui dan digunakan guru di daerah non-tertinggal (N=1,202)

 72% responden telah mengetahui adanya kurikulum darurat.

 Mayoritas responden mengetahui informasi tersebut dari kepala sekolah dan melalui aplikasi pesan instan (WhatsApp dan sms).

 Dari 72% yang mengetahui adanya kurikulum darurat, 52% responden menggunakan kurikulum darurat.

 Kurikulum darurat cenderung lebih digunakan oleh responden di wilayah non-tertinggal, sekolah BDR, dan jenjang kelas yang lebih tinggi.

 48% guru yang tidak menggunakan kurikulum darurat, mayoritas menggunakan K13 (45%) dan sisanya menggunakan K2006 atau mengembangkan sendiri (3%).

52%

32%

57%

42%

56% 48% 48% 57%

Total Tertinggal Non-Tertinggal BDS BDR 1 2-3 4-6

Kategori daerah Moda pembelajaran Kelas yang diajar

Responden yang menggunakan kurikulum darurat

N=628

72% 77%

52%

Total Daerah non-tertinggal Daerah tertinggal

Responden yang mengetahui adanya kurikulum darurat

N=866

(10)

Belum semua guru pengguna kurikulum darurat memiliki modul belajar literasi dan numerasi. Keterbatasan akses, biaya, fasilitas, dan informasi menjadi

penyebabnya (N=628)

 Dari 628 guru yang menggunakan kurikulum darurat, 281 (45%)* guru memiliki modul

belajar literasi dan numerasi kurikulum darurat.

 Rasio ini jauh lebih rendah di daerah tertinggal (28%) dibanding daerah non-tertinggal (47%).

 Dari guru yang memiliki modul, 50% memiliki versi soft copy; 9% memiliki versi cetak, dan;

41% memiliki keduanya.

*Atau 23% dari keseluruhan sampel (N=1202)

8%

51%

57%

43%

60%

19%

50%

65%

73%

85%

Lainnya Keterbatasan Informasi Keterbatasan Fasilitas Keterbatasan Biaya Keterbatasan Akses (Jaringan dan

Geografis)

Kendala dalam mendapatkan modul

daerah tertinggal daerah non-tertinggal

 Guru dari daerah tertinggal cenderung merasakan kendala yang lebih signifikan dibandingkan guru dari daerah non-tertinggal dalam mendapatkan modul. Perbedaan paling signifikan terlihat pada keterbatasan biaya.

 Mayoritas responden di daerah tertinggal mendapatkan modul dari kepala sekolah (38%) dan dinas Pendidikan (29%).

Sementara di daerah non- tertinggal dari kepala sekolah (35%), mencari sendiri (22%), dan rekan sesama guru (12%).

 Mayoritas responden baik daerah tertinggal maupun tidak mendapatkan modul tersebut melalui media pesan instan (43% dan 51%) dan sosial media (24% dan 17%).

45% 47%

28%

Total Daerah non- tertinggal

Daerah tertinggal Responden yang memiliki modul belajar

literasi dan numerasi

N=281

65% responden pengguna kurikulum darurat mengetahui adanya modul belajar literasi dan numerasi (daerah tertinggal 64% dan non-tertinggal 65%)

(11)

Hampir seluruh guru yang memiliki modul belajar literasi dan numerasi telah menggunakannya (N=281)

91% 91% 91%

Total Tertinggal Non-Tertinggal

Kategori daerah

Responden yang menggunakan modul kurikulum darurat dalam pembelajaran

N=256

 Dari 281 guru yang memiliki modul belajar literasi dan

numerasi, 256 (91%) guru menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran.*

 Tidak ada perbedaan antara daerah tertinggal dengan daerah non-tertinggal.

 9% responden yang memiliki modul belajar literasi dan numerasi namun tidak menggunakannya, mayoritas menggunakan buku K-13 (dijawab oleh 96% responden) disertai dengan buku bacaan lain (dijawab oleh 84%

responden).

Selain itu, 53% dari responden yang menggunakan modul belajar literasi dan numerasi juga mengaku memberi pelajaran tambahan

lain dengan mayoritas pendidikan agama, pendidikan karakter, serta muatan lokal

Rekan sesama guru, kepala sekolah, dan pengawas merupakan tiga pihak yang paling sering diajak berkonsultasi ketika ada pertanyaan

mengenai penggunaan modul

*Atau 21% dari keseluruhan sampel (N=1202), atau 41% dari yang menggunakan kurikulum darurat (N=628) .

(12)

Sedikit guru yang mendistribusikan modul kepada orang tua siswa (N=1,202)

 Hanya 16% guru yang telah mendistribusikan modul kepada orang tua siswa.

 Untuk guru yang tidak mendistribusikan modul kepada orang tua, alasan didominasi oleh kekurangan biaya dan fasilitas (39%), tantangan geografis (23%), dan orang tua/wali sudah mendapatkan dari pihak lain (18%).

23%

1%

4%

19%

53%

0%

0%

0%

15%

85%

Biaya Mandiri Dana Bantuan Dinas Sumbangan Orang Tua Tidak Mengeluarkan Biaya Dana BOS

Sumber biaya untuk mendistribusikan modul

daerah tertinggal daerah non-tertinggal

 Sumber utama biaya untuk mendistribusikan modul adalah dari dana BOS.

 Di daerah non tertinggal, sebagian guru menggunakan biaya mandiri dan mendapatkan sumbangan dari orang tua.

37% guru pengguna modul mengatakan siswa menggunakan modul

dalam bentuk cetak, 27% menggunakan versi file, dan 35% menggunakan kombinasi keduanya. Penggunaan modul berbentuk cetak didominasi oleh daerah tertinggal (69%) berbanding 35% di daerah non-tertinggal.

(13)

Banyak guru menghadapi tantangan dalam menjelaskan modul kepada orang tua (N=256)

Tantangan Utama: Orang tua yang sulit ditemui, kemampuan orang tua, dan orang tua yang menganggap pembelajaran hanya menjadi tanggung jawab guru.

Tantangan yang dihadapi sedikit lebih tinggi bagi guru di daerah tertinggal.

Guru perempuan, dan guru di daerah tidak tertinggal lebih banyak menjelaskan modul ke semua orang tua siswa

64% 65% 71%

0%

60% 65% 65%

2%

Orang tua sulit ditemui atau

dihubungi

Orang tua sulit memahami modul

Orang tua menganggap pembelajaran menjadi tanggung

jawab guru

Lainnya

Daerah Tertinggal Daerah Non-Tertinggal

Tantangan yang dihadapi guru ketika menjelaskan modul

(14)

Guru pengguna modul di daerah tertinggal dan non-tertinggal memiliki persepsi positif terhadap modul belajar literasi dan numerasi (N=256)

+) Sesuai dengan kondisi pandemi (Seperti: BDR); Mudah dipahami; Sesuai kebutuhan siswa, tema, materi dan kurikulum; Membantu siswa belajar mandiri & kreatif.

-) Kemampuan & ketertarikan siswa kurang; Tidak semua siswa memiliki modul; Materi kurang mendalam;

Kurang bagian pengayaan.

+) Sesuai dengan kondisi pandemi (Seperti: BDR); Memudahkan guru dalam melaksanaan KBM; Sesuai dengan kurikulum, kebutuhan siswa dan tema serta bahan ajar guru

-) Materi terbatas; Materi masih perlu penyesuaian; Kurang akses internet; Halaman terlalu banyak;

+) Gambar menarik dan sesuai konteks; Mudah dipahamI; Memotivasi anak belajar; Materi pembelajaran dan penyajian menarik; Materi ringkas.

-) Kurang interaktif; Tidak semua siswa memiliki modul; Siswa masih dalam penyesuaian; Terlalu sulit;

Masalah percetakan.

+) Gambar yang menarik dan sesuai konteks; Mudah dipahami; Materi pembelajaran dan/atau penyajian menarik; Materi sesuai dengan usia anak dan kondisi saat ini; Materi ringkas.

-) Kurang interakrif; Kurang variatif (tema hanya terkait kecakapan hidup, sama seperti buku), Kurang akses +) Konten bagus dan sesuai dengan siswa; Membantu siswa belajar & berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa; ; Bahasa mudah dipahami; Sesuai dengan kurikulum; Tersedia Media Gambar.

-) Perbedaan kemampuan siswa terutama untuk anak kelas 1; Kurang akses internet/fasilitas; Tidak ada tatap muka; Siswa masih membutuhkan pendampingan guru; Siswa kurang minat baca.

+) Kurikulum/materi lebih sederhana; Bahasa mudah dipahami; Konten bagus dan sesuai dengan siswa;

Sesuai buku yang digunakan & kurikulum; Sudah di sosialisasikan

-) Guru masih perlu penjelasan lebih lanjut; Ada kendala penyampaian ke siswa/orang tua; Akses Modul sulit (Internet terbatas, dsb); Informasi terbatas; Materi Modul terbatas.

*Catatan: Persepsi tentang modul (termasuk untuk siswa) dilakukan oleh guru 3,8

3,4 3,8 3,5

3,7 3,5

4,1 3,6

4,1 3,9

4,1 4,0

4,1 3,6

4,1 3,9

4,1 3,9

0,0 1,0 2,0 3,0 4,0 5,0 Modul mudah dipahami

untuk guru Modul mudah dipahami

untuk siswa Modul tampilannya menarik

bagi guru

Modul tampilannya menarik bagi siswa

Modul sesuai dengan kebutuhan guru Modul sesuai dengan

kebutuhan siswa

Keseluruhan Daerah Non-Tertinggal Daerah Tertinggal

(15)

Struktur dan kemenarikan gambar sudah sesuai, namun jumlah halaman dan kualitas gambar saat dicetak belum memenuhi harapan guru (N=256)

UMUM

83%

14%

2%

Struktur Modul:

Jelas Biasa Saja Membingungkan

13% 9%

67% 67%

18% 23%

2% 0% 1% 0%

Modul berbentuk file (Softcopy)

Saat modul dicetak (Hardcopy)

Kualitas Gambar

Sangat jelas Jelas

Kurang jelas Tidak Jelas Sangat tidak jelas

 53% guru di daerah tertinggal mengatakan jumlah halaman telah sesuai (Daerah non-tertinggal: 60%).

 32% guru di daerah tertinggal mengaku kualitas gambar menjadi kurang jelas pada saat dicetak (Daerah non- tertinggal: 23%). Hal ini menunjukkan masih adanya kendala dalam hal pencetakan modul di daerah tertinggal.

 83% responden mengatakan struktur modul sudah jelas.

 Secara umum, mayoritas responden mengatakan gambar yang ada di modul sudah menarik.

11%

74%

14% 1% 0%

Kemenarikan Gambar

Kemenarikan Gambar

Seluruhnya Sebagian besar Biasa saja Sebagian kecil Tidak Menarik

5% 9%

63% 67%

0%

32% 22%

0% 1% 0%

Daerah Tertinggal Daerah Non-Tertinggal

Kualitas gambar saat di cetak

Sangat jelas Jelas

Kurang jelas Tidak jelas

Sangat tidak jelas 32% 60%

8%

Jumlah Halaman:

Sesuai Terlalu Banyak Terlalu Sedikit

(16)

Guru menganggap materi modul sudah sesuai dengan KD dan tingkat

kesulitan bahan bacaan serta lembar aktivitas siswa cukup sesuai (N=256)

TINGKAT KESULITAN KESESUAIAN DENGAN KD

Alasan guru mengatakan KD sesuai adalah:

- Sesuai dengan kondisi pandemik - Sesuai dengan K-13 dan bukunya.

- Sesuai dengan tema/bahan ajar yang dimiliki guru.

- Sesuai dengan program PJJ.

- Mudah dipahami dan jelas.

90%

guru menyatakan bahwa modul yang dibuat sudah sesuai dengan KD yang dituju.

90% 84% 90%

Keseluruhan Daerah Tertinggal

Daerah Non- Tertinggal Modul Sesuai dengan KD

68%

15%

17%

Tingkat Kesulitan Bacaan untuk Siswa

Sesuai Mudah Sulit

 68% guru mengatakan tingkat kesulitan bahan bacaan sudah sesuai. Namun angka ini jauh lebih kecil untuk daerah tertinggal (53%) dibandingkan daerah yang tidak tertinggal (69%).

69%

11%

20%

Tingkat Kesulitan Lembar Aktivitas untuk Siswa

Sesuai Mudah Sulit

 69% guru mengatakan tingkat kesulitan lembar aktivitas untuk siswa sudah sesuai.

(17)

Hampir seluruh guru pengguna modul menganggap modul bermanfaat memberikan arahan yang jelas dalam PJJ

61%

64%

79%

82%

85%

88%

93%

7%

5%

14%

12%

9%

6%

5%

32%

31%

8%

6%

6%

6%

3%

Menurunkan beban belajar siswa Menurukan beban mengajar guru Menjaga hasil capaian belajar siswa Meningkatkan kualitas pembelajaran selama pandemi Meningkatkan partisipasi belajar siswa Membantu orang tua untuk mendukung Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di rumah Memberikan arahan yang jelas dalam melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Manfaat modul Belajar Literasi dan Numerasi menurut guru

Ya Ragu-ragu Tidak

 Memberikan arahan yang lebih jelas, membantu orang tua, dan meningkatkan partisipasi belajar siswa menjadi tiga manfaat utama yang dirasakan oleh guru dengan adanya modul belajar literasi dan numerasi.

(18)

Masukan dari Guru terkait Modul Belajar Literasi dan Numerasi (N=256)

Konten Modul Penyajian Modul Distribusi

 Memperluas, mengembangkan serta memperdalam pembahasan materi.

 Memberikan penekanan pada Pendidikan karakter.

 Lebih memperhatikan konteks daerah dan lingkungan siswa yang berbeda- beda.

 Memperbanyak pengayaan atau soal latihan.

 Materi dibuat lebih ringkas dan jelas.

 Menambah aktivitas yang lebih menarik dan interaktif di Modul.

 Modul dapat disesuaikan dengan bahan ajar yang dimiliki guru.

 Materi perlu disesuaikan untuk berbagai tingkat kemampuan siswa.

 Memperjelas gambar yang ada di modul dan membuat gambar lebih menarik

 Melengkapi dengan media pembelajaran dan alat peraga

 Membuat proporsi yang seimbang antara gambar dan tulisan

 Mengurangi jumlah halaman.

 Memberikan materi penunjang lain yang bisa digunakan guru (dapat berbentuk info ataupun materi tambahan langsung).

 Membuat modul yang dapat

mempermudah anak untuk belajar secara mandiri.

 Lebih memperhatikan konteks daerah dan lingkungan siswa yang berbeda-beda

 Menyelesaikan masalah terkait distribusi seperti biaya percetakan atau langsung memberi modul yang sudah dicetak

 Modul dibuat sekaligus untuk 1 tahun

 Memberikan bantuan terkait adanya keterbatasan sinyal

 Memberikan pelatihan dan bimbingan untuk guru terkait pembelajaran PJJ atau Modul.

(19)

Kesimpulan dan Rekomendasi

SOSIALISASI:

Sebagian besar responden telah mengetahui adanya kurikulum darurat, meskipun angka ini cenderung menurun untuk daerah tertinggal.

Sebagian besar (65%) responden pengguna kurikulum darurat mengetahui modul belajar literasi dan numerasi.

DISTRIBUSI

Kurang dari setengah responden pengguna kurikulum darurat memiliki modul belajar literasi dan numerasi.

Sebagian besar guru di daerah tertinggal masih mengalami kendala mengakses modul. (T=28%, Non-T=47%)

PENGGUNAAN

Penilaian guru terhadap kualitas dan manfaat modul sudah positif. Namun, angka ini cenderung menurun untuk guru di daerah tertinggal.

SOSIALISASI

Menggencarkan sosialisasi kurikulum dan modul belajar literasi dan numerasi di daerah tertinggal.

Selain melibatkan dinas dan kepala sekolah, sosialisasi juga dapat melibatkan organisasi lokal lainnya, seperti LSM, universitas, mitra pembangunan, media lokal, dsb.

DISTRIBUSI

- Memberikan modul yang sudah dicetak kepada guru melalui dinas pendidikan dan kepala sekolah.

- Membuat panduan/kebijakan terkait biaya pencetakan modul.

- Menyesuaikan modul dengan bahan ajar yang dimiliki guru.

- Menyelaraskan kebijakan pusat dan daerah terkait pengadaan modul cetak

PENGGUNAAN

Modul yang dibuat ke depan diharapkan lebih memperhatikan konteks daerah dan lingkungan siswa yang berbeda-beda. Contoh:

Perlu penyesuaian terkait materi bahan bacaan modul untuk guru di daerah tertinggal.

KESIMPULAN REKOMENDASI

(20)

Terima kasih

20

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil perhitungan statistik pada Tabel 2 menunjukkan bahwa pemberian kombinasi kulit singkong dengan bakteri asam laktat sebagai aditif pakan tidak

Dari hasil penelitian tindakan maupun refleksi bersama guru kolaborator, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk meningkatkan prestasi belajar matematika materi pecahan

Mengacu kepada teori hirarki Abraham Maslow tersebut, didapatkan hasil penelitian bahwa dilihat dari segi kebutuhan fisik, kebutuhan fisik bagi para pemain game online

Selanjutnya, menurut Nurcholish Madjid,dkk kita melangkah kepada pertanyaan ketiga, yaitu: "Apakah ajaran Islam membolehkan orang Muslim berdoa dalam suatu pertemuan yang

KKN Kebangsaan tahun ini akan bertempat di Lampung Timur selama 1 (satu) bulan, yakni mulai dari 30 Juli s/d 30 Agustus 2018 yang akan diikuti oleh 5 (lima) mahasiswa

Memahami dasar dasar perhitungan macam macam sambungan pada komponen dan konstruksi mesin baik yang bersifat tetap maupun tidak tetap2. Kegunaan Mata

Pembeda dari pendukung penelitian ini adalah secara sendiri-sendiri (parsial), sedangkan secara simultan penelitian ini menunjukan hasil bahwa iklim organisasi BPS dan

Dimana kulit ari kacang kedelai terkupas dengan baik dan dari pengujian mesin diperoleh kapasitas yaitu 68,4 Kg/Jam yang mana effesiensi mesin 97,7% dari yang direncanakan yaitu