ARTIKEL LEPAS
Kedudukan
Kepolisian
di
Bawah
Kementerian
Elidar Sari
1Correspondence: [email protected]
1. Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh
Abstract
Tap MPR RI No. VI/MPR/2000 adalah awal dipisahkannya kedudukan Polri dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jika hanya melihat aturan dasar negara, yaitu UUD 1945 memang tidak memberi aturan yang jelas tentang kedudukan kepolisian apakah di bawah presiden atau di bawah kementerian. Tetapi UU No. 2 Tahun 2002 jelas mengatur bahwa Polri berada di bawah presiden. Hal ini menimbulkan kecemburuan pihak TNI yang berada di bawah menteri pertahanan. Padahal Pasal 10 UUD 1945 menentukan bahwa presdien membawahi angkatan darat, laut dan udara. Sehingga tergambar bahwa TNI yang diperintahkan UUD 1945 berada di bawah presiden. Selain persoalan ini, ada beberapa persoalan yang menyebabkan lahirnya wacana untuk menempatkan posisi Polri di bawah kementrian. Sehingga tulisan ini mencoba membahas kedudukan kepolisian secara hukum dan wacana yang akan menempatkan kepolisian di bawah kementerian.
Keywords:
ISSN 2302-6219
Kedudukan Kepolisian di Bawah Kementerian– Elidar Sari (51-63)
LATAR BELAKANG
Membahas masalah kepolisi-an akkepolisi-an menjadi menarik karena melihat beberapa permasalahan akhir-akhir ini. Dimana ada tindakan-tindakan oknum polisi yang meresahkan masyarakat dan pertentangan atau pertikaian yang terjadi antara polisi dan militer. Beberapa kesalahan yang dilakukan oknum polisi dianggap sebagai salah satu penyebab timbulnya keinginan atau wacana reposisi kepolisian tidak lagi berada dibawah presiden langsung, tetapi berada dibawah kementerian. Semua persoalan tersebut menyebabkan banyak pakar mulai berfikir arah perubahan yang bagaimana yang bisa dilakukan untuk dapat mengembalikan posisi polisi sebagai pelindung masyarakat, sebagaimana yang tertulis dalam UUD 1945 Pasal 30 ayat (4)1 menyatakan “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani
1 Amandemen UUD 1945 kedua, Tahun 2000
masyarakat, serta menegakkan hukum”.
Ada beberapa aturan mendasar yang berlaku di Indonesia tentang peran kepolisian atau POLRI (Polisi Republik Indonesia) selain yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, yaitu Ketetapan MPR RI No. VII/MPR/ 2000, Keputusan Presiden No. 89 Tahun 2000, Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Keputusan Presiden No. 70 Tahun 2002 tentang Organisasi Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia. Keluarnya Tap MPR RI No. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri adalah awal dipisahkannya kedudukan Polri dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI), dimana dalam ketetapan tersebut menyebutkan bahwa Tentara Nasional Indonesia atau disebut militer itu adalah alat negara yang berperan dalam pertahanan negara, sedangkan kepolisian adalah alat negara yang berperan memelihara keamanan. Persamaan yang terlihat pada posisi kedua nya antara Militer
dan kepolisian adalah sama-sama sebagai alat negara. Sebagai “alat negara” tentu saja mengemban sebagian dari tugas negara. Serta Tap MPR RI No. VII/MPR/2000 tentang Peran TNI dan Polri.
Fokus bahasan penulisan kali ini adalah kepolisian yang sebagai “alat negara” memiliki kedudukan yang problematik, dimana menjadi sorotan utama masyarakat dalam membantu tugas pemerintahan guna menuju negara yang berwibawa. Negara sebagai organisasi kewibawaan2terbesar, tentu mempunyai peran yang besar dalam mengatur pemerintahan, sehingga diharapkan negara dapat mencari format yang tepat atau ideal tentang bagaimana posisi dan kedudukan polri dalam negara yang sesuai dengan sistem ketatanegaraan Indonesia. Untuk dapat semakin berwibawa suatu negara, maka dituntut untuk dapat mengatur dan memberi ketertiban dalam negara. Proses untuk mendapatkan posisi yang tepat bagi kepolisian ini diharapkan nantinya dapat membawa peran polri yang lebih
2 Ni’matul Huda, Ilmu Negara, Rajawali Press, Raja Grafindo, Jakarta, 2010, hlm. 12.
mandiri, proporsional, profesional dan tentunya lebih modern.
Tentu ini bukan tugas yang gampang dan enak, dikarenakan banyak corak yang diterapkan dibeberapa negara tentang kedudukan kepolisian dalam suatu negara demokratis, posisi Polisi selalu berada dalam bentuk penyelenggara operasional, apakah di bawah presiden langsung, dibawah departemen terkait, membentuk departemen sendiri, atau membuat kementerian sendiri yang khusus mengurusi masalah keamanan dalam negeri. Namun setiap negara memiliki karakteristik dan kondisi keamanannya masing-masing sehingga format dan corak serta sistem Kepolisian di suatu negara juga berbeda. Konstitusi negara kita tidak menjelaskan dimana posisi kepolisian seharusnya berada. Hal ini berbeda dengan TNI yang secara jelas dalam Pasal 10 UUD 1945 mencantumkan secara tersirat kedudukan TNI berada di bawah Presiden. Walau pada
ISSN 2302-6219
Kedudukan Kepolisian di Bawah Kementerian– Elidar Sari (51-63)
kenyataannya TNI berada dibawah Mentri Pertahanan.
PERMASALAHAN
Sistem ketatanegaraan Indo-nesia mengenal juga pembatasan kekuasaan (limitation of power) dengan istilah pembagian kekuasaan (division of power) dan pemisahan kekuasaan (separation of power), dimana sebelum amandemen UUD 1945 terjadi, Indonesia menganut sistem pembagian kekuasaan, tetapi setelah terjadi empat kali amandemen Indonesia berubah menganut sistem pemisahan kekuasaan3 hal ini tergambar dalam isi UUD 1945 yang menganut sistem pemisahan kekuasaan yang menjadi dasar teori trias politica atau tiga fungsi kekuasaan yang dikemukakan oleh Montesquieu, dimana harus dibedakan dan dipisahkan secara struktural dalam organ-organ yang tidak boleh saling mencampuri. Fungsi kepolisian berada di posisi yang sama dengan presiden yaitu fungsi eksekutif, hal ini sesuai dengan pendapat Montesquieu yang
3 Lebih jelasnya lihat penjelasan Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu
Hukum Tata Negara, PT Raja
menganggap fungsi pertahanan (defence) dan hubungan luar negerilah atau diplomasi (diplomacie) yang termasuk ke dalam fungsi eksekutif, berbeda dengan John Lucke yang menempatkannya di fungsi tersendiri.4
Harapan dan keinginan masyarakat serta keinginan konstitusi tentunya adalah mempunyai suatu institusi yang baik dan pemerintahan yang baik, salah satu institusi yang diharapkan baik itu adalah kepolisian. Polisi yang baik (good police) dapat tercapai dibutuhkan aturan yang tepat dan format yang tepat dalam penempatan kedudukan secara hukum dan pemerintahan, sehingga penting untuk dicari dan ditemukan format yang pas bagi kepolisian dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Acuan utama dan mendasar di Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945, sayangnya UUD 1945 tidak memberikan gambaran yang jelas tentang kedudukan kepolisian
Grafindo Persada, Jakarta, cet-5, 2013, hal. 291.
berada dimana. Kedudukan kepolisian yang tepat dan ideal akan menjadikan negara yang ideal pula, dan negara yang ideal adalah negara yang bebas dari sikap rakus dan jahat, tempat keadilan dijunjung tinggi.5
Melihat peran yang besar ada ditangan Kepolisian, memang sebaiknya kepolisian bisa menjadi suatu lembaga yang independen dan bisa membantu pemerintahan dalam mewujudkan keinginan untuk menciptakan pemerintahan yang baik (good governance). Sesuai dengan keinginan UUD 1945 yang tercantum dalam Pasal 30 ayat (4), hanya menyebutkan bahwa kepolisian adalah sebagai “alat negara”, dan ayat (5) menjelaskan bahwa kedudukan kepolisian lebih lanjut akan diatur dalam Undang-undang (UU). Sehingga lahirlah UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dengan lahirnya UU No. 2 Tahun 2002, jelas di atur dalam
5 Azhari, Negara Hukum
Indonesia-analisis yuridis Normatif terhadap Unsur-unsurnya, UII Press, Jakarta,
1995, hlm. 19
Pasal 8 bahwa Kepolisian berada di bawah Presiden, sehingga tergambar jelas bahwa kepolisian dalam sistem ketatanegaraan Indonesia secara sah menempatkan kepolisian dibawah presiden. Aturan ini menjadi sah/legal secara hukum karena UU No. 2 Tahun 2002 lahir karena perintah UUD 1945, dan ini menjadi UU organik yang apabila dianggap tidak tepat dapat diajukan yudisial review ke Mahkamah Konstitusi. Sebelum ada putusan yang sah dari Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa UU No. 2 Tahun 2002 itu batal atau tidak, maka aturan inilah yang tetap dan terus berjalan di Indonesia. Ini tidak menyalahi aturan ketatanegaraan yang ada. Karena setiap peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang6 dianggap Asas Praduga
Rechtmatig (vermoeden van rechtmatigheid=praesumptio iustae causa). Asas ini mengandung makna
bahwa tindakan penguasa selalu harus dianggap rechtmatig sampai ada pembatalannya.
6 Amanah UUD 1945, suatu rancangan UU atas inisiatif presiden atau DPR dan di bahas di sidang paripurna DPR. Lebih jelas tergambar dari isi Pasal 5 ayat (1) UUD 1945
ISSN 2302-6219
Kedudukan Kepolisian di Bawah Kementerian– Elidar Sari (51-63)
Asas tersebut menjadi acuan mendasar bahwa untuk saat ini kepolisian dalam sistem ketatanegaraan Indonesia adalah berada dibawah presiden, memang pernah ada gugatan terhadap pasal 8 dan pasal 11 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang membahas kedudukan Polri yang langsung di bawah Presiden, dimana gugatan tersebut didaftarkan ke Mahkamah Konstitusi oleh Pihak penggugat yang merupakan advokat yakni, Andi M Asrun, Dorel Amir, dan Merlin. Walaupun pada akhirnya gugatan tersebut dicabut. Peristiwa ini tentunya dapat menjadi pemikiran setiap anggota kepolisian bahwa kedudukannya langsung di bawah Presiden dapat berubah hanya dengan satu ketokan palu hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi.
Sehingga wacana untuk menempatkan posisi dan kedudukan kepolisian pada salah satu kementerian bisa saja terjadi dan itu tentu saja harus melalui proses yang sesuai dengan aturan ketata-negaraan di Indonesia. Tetapi perlu di ingat bahwa posisi dan kedudukan kepolisian saat ini adalah di bawah
presiden dan itu sah secara hukum. Dan untuk pertanyaan apakah ini sudah tepat secara sistem ketatanegaraan dan apakah sudah ideal, ini yang perlu dibahas lebih mendalam. Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman meminta agar kepolisian tetap berada dibawah kendali Presiden RI. Alasanya, Indonesia menggunakan tata pemerintahan dengan sistem presidensial. "Presiden merupakan pimpinan tertinggi penyelenggaraan administrasi negara antara lain di bidang keamanan dan ketertiban umum, tata usaha pemerintahan, pelayanan umum dan kesejahteraan umum," kata Sutarman di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (26/2/2014).
Apabila dikaitkan dengan Polri sebagai alat negara yang menjalankan fungsi keaman-an, Sutarman mengatakan
kedudukan institusi pihaknya dibawah presiden tepat karena secara ketatanegaraan merupakan tugas-tugas eksekutif. Jenderal Bintang Empat itu mengakui adanya sejumlah pandangan untuk mendorong reposisi Polri di bawah Kementerian tertentu. Namun, Sutarman membeberkan alasan
pandangan itu keliru.7 Pendapat Sutarman ini bisa jadi sejalan dengan pemikiran Montesqueu di atas.
“Alat negara” yang melekat pada institusi kepolisian yang diamanatkan Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 bisa sebagai menjalankan fungsi pemerintahan, sehingga fungsi pemerintahan juga ada ditangan polisi selain berada di tangan presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan8, sesuai dengan pendapat Bagir Manan yang mengatakan bahwa presiden adalah pimpinan tertinggi penyelenggara administrasi negara. Fungsi pemerintahan9 yang diemban negara adalah menjaga dan memelihara kedaulatan negara, dan presiden dapat dibantu oleh kepolisian dalam hal ini. Negara adalah protector. Mengingat tugas presiden yang begitu luas, tentu dengan adanya kepolisian dibawah presiden akan membantu meringankan sedikit tugas presiden, tetapi hal ini juga berimbas pada
7 http://www.tribunnews.com/ nasional/2014/02/27/kapolri- sutarman-tolak-polri-berada-di-bawah-kementerian, diakses pada 30 Maret 2015
sikap egosentrisme kepolisian dan inilah salah satu pemicu konflik polri dan militer yang terjadi selama ini.
Mengingat persoalan ter-sebut, menjadi tugas yang berat bagi para pakar hukum dan pemimpin di Indonesia untuk dapat memikirkan konsep atau format yang ideal bagi kedudukan kepolisian dalam sistem ketatanegara Indonesia, apakah tetap bertahan dengan posisi sekarang atau berubah ke posisi di bawah kementerian. Jika dibawah kementerian, kementerian mana yang tepat dan jika tetap di bawah presiden, konsep untuk mencegah super power nya kepolisian harus dimatangkan. Yang pasti untuk saat ini, sistem ketatanegaraan Indonesia telah mengatur dan berlaku sah bahwa kepolisian ada di bawah presiden.
Perlu juga diingat bahwa kepolisian dalam mengemban tugas nya di bawah presiden sebagai amanah UU No. 2 Tahun 2002, ada satu jabatan penting yang
8 Pasal 4 ayat (1) UUD 1945.
9 Philipus M. Hadjon dkk, Pengantar
Hukum Administrasi Indonesia, Cet.
V, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1997, hlm. 6-8.
ISSN 2302-6219
Kedudukan Kepolisian di Bawah Kementerian– Elidar Sari (51-63)
diamanatkan UU tersebut yaitu peran Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang bisa menjadi alat pengontrol kepolisian dalam membantu pemerintah sehingga fungsi kepolisian dapat berjalan sebagaimana harapan pemerintah dan warganegara sebagai bagian dari unsur negara sesuai pendapat Oppenheim Lauterpacht10 dan isi perjanjian Montevideo (Pan American) Convention on Rigths and
duties of state of 1933.11
Pasal 38 UU no 2/2002
tentang Polri yang mengatur
Komisi
Kepolisian
Nasional
(Kompolnas) dikatakan bahwa
tugas Kompolnas a) Membantu
Presiden dalam menetapkan arah
kebijakan Polri dan; b) Memberi
pertimbangan kepada presiden
dalam
pengangkatan
dan
pemberhentian
Kapolri.
Kemudian dalam melaksanakan
tugasnya Kompolnas berwenang
untuk; a) mengumpulkan dan
menganalisa data sebagai bahan
pemberian saran kepada Presiden
10 M. Solly Lubis, Ilmu Negara, Mandar Maju, Bandung, 2002, hlm. 2-3. 11 Huala Adolf, Aspek-aspek Negara
dalam Hukum internasional,
yang berkait dengan anggaran
Polri, pengembangan sumber
daya
manusia
Polri
dan
pengembangan
sarana
dan
prasarana Polri; b) memberikan
saran dan pertimbangan lain
kepada Presiden dalam upaya
mewujudkan
Polri
yang
profesional dan mandiri; c)
menerima saran dan keluhan dari
masyarakat mengenai kinerja
Kepolisian dan menyampaikan
kepada Presiden.
Susunan dan komposisi
keanggotaan Kompolnas saat ini
sudah
tepat
dalam
mereprentasikan
perwakilan
pemerintah,
Kepolisian
dan
masyarakat.
Keanggotaan
Kompolnas terdiri dari 9 anggota
yang terdiri dari Seorang ketua
merangkap anggota dijabat oleh
Menkopolhukan, Wakil Ketua
merangkap anggota yang dijabat
oleh Mendagri dan Menkum dan
Ham,
Sekretaris
merangkap
cetakan kedua, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm. 2.
anggota, dan 6 (enam) orang
anggota. 3 (tiga) orang dari unsur
pemerintah, 3 (tiga) orang pakar
kepolisian dan (tiga) orang tokoh
masyarakat. Karena Mendagri
merupakan salah satu anggota
Kompolnas, maka Kompolnas
diberikan
wewenang
untuk
menunjuk
Kepala
Daerah
(Gubernur dan Walikota) sebagai
perwakilannya didaerah yang
diberi
kewenangan
untuk
melakukan kontrol yang bersifat
administrasi
(administrasi
control) terhadap Kepolisian yang
berada di daerah yuridiksinya.
12WACANA TERHADAP KEDUDUKAN KEPOLISIAN JIKA BERADA DI BAWAH KEMENTERIAN
Sebelum lebih jauh membahas wacana kedudukan kepolisian dibawah kementerian, ada baiknya diketahui apa saja kelemahan dan kelebihan jika kepolisian berada di bawah kementerian, tetapi sebelumnya dapat dikutip sejarah yang pernah
12 https://krisnaptik.wordpress.com/
blog/kedudukan-polri-dan-system-terjadi di Indonesia tentang penempatan kepolisian dibeberapa kementerian, hal ini dapat terlihat di bagan di bawah ini:
Periode Kedudukan
1945 – 1946
Menjadi rebutan Depdagri dan Depkeh
1 Juli 1946 – 1950
Di bawah Perdana Menteri
1950 – 1959
Di bawah Perdana Menteri / Menteri Utama 1959 – 1961 Departemen tersendiri / Menteri Kepolisian 1961 – 1999
Bersama ABRI di bawah Menhankam UU No 2 Tahun 2002 Langsung di bawah Presiden
Sumber : Makalah Ahwil Lutan
Dari bagan di atas tergambar jelas bahwa Indonesia sudah pernah mencoba beberapa format penempatan kepolisian di beberapa kementerian. Dan tahap penempatan kepolisian langsung dibawah presiden baru terjadi di masa reformasi, hal ini juga dalam upaya menghapus dwi-fungsi Angkatan Bersenjata Republik
kepolisian-di-era-demokrasi,
ISSN 2302-6219
Kedudukan Kepolisian di Bawah Kementerian– Elidar Sari (51-63)
Indonesia (ABRI) yang kemudian diganti dengan istilah Tentara Nasioanal Indonesia (TNI).
Kelemahan penempatan kepolisian pada kementerian adalah akan terjadi tolak tarik dan perebutan antara kementerian yang ada, sedangkan kelebihannya adalah akan mencegah konflik antara polri dan militer, karena sama-sama berada di bawah kementerian, sehingga sikap egosentrisme polri akan hilang. Selain itu juga dapat membantu presiden dalam menjaga ketertiban dan keamanan negara sesuai amanat Pasal 30 ayat (4) UUD 1945. Kelemahan lain juga tergambar dari pendapat Menteri Pertahanan Jenderal (Pur) Ryamizard Ryacudu, mengemukakan pandangan supaya Polri ditempatkan di bawah sebuah kementerian dan bukan langsung di bawah Presiden. Desakan untuk mengembalikan posisi Polri di bawah Kementerian Dalam Negeri, bukan di bawah Presiden, pun kian santer disuarakan. Desakan agar kedudukan Polri dikembalikan di bawah kementerian dapat dianggap sebagai kejenuhan dan
13 http://indonesianreview.com/hadi-
saputro/kembalikan-kedudukan-kekecewaan sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap kinerja aparatur kepolisian. Kekecewaan ini juga bukan hanya bersumber dari masyarakat, melainkan juga dari kalangan kepolisian yang acap menyuarakan kebobrokan kinerja institusi ini.13 Arogansi kepolisian terlihat karena merasa lebih tinggi dibandingkan militer yang berada di bawah kementerian, padahal keduanya adalah “alat negara” sesuai amanah UUD 1945. Jika dikaji isi Pasal 10 UUD 1945, seharusnya TNI lah yang layak berada dibawah presiden, tetapi yang terjadi pada kenyataannya TNI berada dibawah kementerian pertahanan. Ini salah satu kecemburuan yang terjadi pada TNI buat kepolisian.
Dampak pemisahan Polri dari TNI, di samping akan semakin memandirikan lembaga tersebut juga membawa beban berat. Polri harus bertanggungjawab penuh atas situasi Kamtibmas dalam negeri. Sementara TNI tidak boleh ikut campur, kecuali jika situasi sangat
polri-di-bawah-menteri diakses pada 31 Maret 2015
kacau dan atas permintaan Polri TNI dapat memberikan bantuan.
Maraknya aksi unjuk rasa akibat euphoria demokrasi menjadikan Polri harus mencurahkan perhatian agar tidak terjadi bentrok fisik antar kelompok massa. Kesiapan polri dituntut untuk lebih sigap menghadapinya, dan TNI diharapkan dapat lebih fokus dan bersiaga jika negara membutuhkan pertahanan atas serangan dari luar. Tetapi kondisi negara Indonesia yang jarang berkonflik atau tidak pernah berperang dengan negara lain setelah kemerdekaan tanggl 17 Agustus 1945 menyebabkan TNI merasa tidak ada kerjaan, memang seharusnya dapat diisi dengan lebih giat berlatih dan mempersiapkan diri lebih baik dan modern.
Penjelasan tentang kedudukan kepolisian pada bahasan permasalahan di atas bisa menjadi bahan pemikiran akan wacana reposisi kepolisian dibawah kementerian, dimana sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan selama peran Kompolnas dapat diaktifkan dalam kegiatan pelayanan masyarakat yang dilakukan kepolisian dalam menjalankan
tugasnya. Pengaturan Kompolnas selama ini menti ditingkatkan sesuai amanah Pasal 38 UU No. 2 Tahun 2002. Sehingga permasalahan baru akan perebutan atau kebingungan menempatkan kedudukan kepolisian dibawah kementerian mana akan dapat dihindari. Karena suatu perubahan, sekecil apapun pasti nantinya akan terjadi konflik dan itu akan menyebabkan Indonesia selalu dalam kehidupan konflik.
PENUTUP Kesimpulan
Uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan bagaimana kedudukan kepolisian dalam sistem ketatanegaraan Indonesia serta wacana reposisinya. Berdasarkan dua permasalahan yang diangkat, maka ada dua kesimpulan yang dapat diambil yaitu:
1. Kedudukan yang sah institusi kepolisian dalam sistem ketatanegaraan Indonesia saat ini adalah kepolisian berada di bawah presiden dan itu sah menurut hukum yang berlaku di Indonesia, dan untuk masalah ideal atau tidaknya tergantung
ISSN 2302-6219
Kedudukan Kepolisian di Bawah Kementerian– Elidar Sari (51-63)
perjalanan politik dan tuntutan yang apabila ada dapat diajukan ke Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Konstitusi yang berhak memutuskan nya. Sehingga jika membahas tepat atau tidak menurut hukum adalah akan tepat selama tidak menyalahi sistem ketatanegara-an dketatanegara-an hirarkhi perundketatanegara-ang- perundang-undangan yang berlaku, sedangkan untuk masalah ideal atau tidak nya tergantung pelaksanaan di lapangan dan kondisi masyarakatnya. Mengenai peran kepolisian telah jelas ditulis dalam Pasal 30 ayat (4) UUD 1945, yaitu sebagai alat negara dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
2. Semua aturan yang dibuat manusia pasti memiliki kelemahan dan kelebihannya, diantara kelemahan kepolisian di bawah kementerian adalah sikap independensi polri akan sulit tercapai, sehingga nantinya tidak dapat membantu presiden secara langsung sebagai “alat negara” untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Kelebihannya
adalah bisa mencegah sikap egosentrisme polri dan bisa mensejajarkan kedudukan polri dan TNI sehingga konflik yang terjadi selama ini dapat diminimalisir. Kelebihan dan kelemahan tersebut masih perlu dikaji dan diteliti lebih mendalam lagi sehingga wacana menempatkan kepolisian di bawah kementerian menjadi suatu yang wacana yang dapat dipertanggungjawabkan
nantinya.
Saran
Ditengah literatur yang sedikit dan pemikiran yang tidak mendalam, ada beberapa saran yang dapat diberikan dalam artikel ini, diantaranya adalah:
1. Diharapkan Polri dapat instropeksi diri, apakah selama ini telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik atau tidak, masalah kedudukan berada dimanapun itu bukan persoalan yang mendasar untuk bisa mengabdikan diri dengan baik kepada bangsa dan negara. 2. Wacana untuk menempatkan Polri dimanapun perlu pemikiran
dan diskusi dengan berbagai elemen sehingga nantinya dapat dihasilkan format yang ideal dan dapat memfungsikan Polri dengan baik dalam negara. 3. Konflik TNI dan Polri perlu
dihentikan dan Polri harus bisa menghilangkan sikap ego-sentrisme nya dalam bernegara.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Azhari, Negara Hukum
Indonesia-analisis yuridis Normatif terhadap Unsur-unsurnya, UII
Press, Jakarta, 1995.
Huala Adolf, Aspek-aspek Negara
dalam Hukum internasional,
cetakan kedua, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu
Hukum Tata Negara, PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta, cet-5, 2013.
M. Solly Lubis, Ilmu Negara, Mandar Maju, Bandung, 2002.
Ni’matul Huda, Ilmu Negara,
Rajawali Press, Raja Grafindo, Jakarta, 2010.
Philipus M. Hadjon dkk, Pengantar
Hukum Administrasi Indonesia,
Cet. V, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1997.
Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. VI/MPR/2000 tentang Pemisahan Tentara Indonesia dan Polisi Republik Indonesia.
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. VII/MPR/2000 tentang Peran Tentara Indonesia dan Polisi Republik Indonesia
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Keputusan Presiden No. 70 Tahun 2002 tentang Organisasi Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia. Website http://www.tribunnews.com/nasio nal/2014/02/27/kapolri- sutarman-tolak-polri-berada-di-bawah-kementerian, https://krisnaptik.wordpress.com/b log/kedudukan-polri-dan- system-kepolisian-di-era-demokrasi