commit to user
PENGEMBANGAN MODUL KIMIA SMK BERBASIS POE
(
PREDICT-OBSERVE-EXPLAIN
) PADA MATERI KOLOID
Ai Sriwenda Rahman1, Ashadi2 dan Sentot Budi Rahardjo3
1Program Magister Pendidikan Sains FKIP UNS Universitas Sebelas Maret
Surakarta, 57126, Indonesia
2Program Magister Pendidikan Sains FKIP UNS Universitas Sebelas Maret
Surakarta, 57126, Indonesia
3Program Magister Pendidikan Sains FKIP UNS Universitas Sebelas Maret
Surakarta, 57126, Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahap pengembangan modul berbasis POE, kualitas modul dan efektivitas modul berbasis POE untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian dan pengembangan modul berbasis POE menggunakan prosedur R&D Borg and Gall yang dilaksanakan sampai tahap ke-9. Analisis data yang digunakan yaitu analisis data kuantitatif dan deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul berbasis POE memiliki kualitas yang sangat baik pada aspek komponen kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafisan dengan persentase penilaian siswa sebesar 88,2% dan persentase penilaian guru sebesar 91,9%. Hasil uji efektivitas pada aspek pengetahuan menunjukkan bahwa kelas eksperimen memiliki rerata prestasi lebih tinggi dibanding kelas baseline. Berdasarkan temuan di lapangan siswa yang diberi modul berbasis POE lebih antusias untuk belajar. Dengan bantuan modul siswa dapat membangun konsep pada materi koloid berdasarkan tahap-tahap pada model pembelajaran POE, konsep-konsep yang telah dibangun akan tersimpan, sehingga pada saat mengerjakan soal siswa dengan mudah menggunakan konsep yang telah dimiliki.
Kata Kunci: Modul, POE, Efektivitas, Koloid
Pendahuluan
Pendidikan memegang peranan penting dalam perkembangan IPTEK oleh karena itu perlu adanya pembaharuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satunya adalah penerapan kurikulum 2013. Mengingat adanya perubahan kurikulum ketersediaan bahan ajar yang sesuai sangat terbatas, terutama pada mata pelajaran kimia di SMK.
Mata pelajaran kimia bagi siswa SMK merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit. Terlebih bila mata pelajaran kimia tersebut masuk dalam kelompok adaptif dan tidak di UN- kan. Sehingga banyak siswa SMK yang kurang antusias dalam mempelajari kimia. Mereka
commit to user
Terlebih keberadaan kurikulum 2013 menuntutmateri kimia yang biasanya di berikan pada kelas XII dileburkan ke kelas XI.
Hasil diskusi dengan guru kimia dalam hal media penunjang pembelajaran yang bersifat mudah dimengerti siswa dan memuat materi-materi yang lengkap ternyata belum tersedia di sekolah tersebut. Oleh karena adanya pergantian kurikulum 2013 pemerintah belum memberikan buku penunjang sehingga selama ini guru hanya mengambil materi-materi dari berbagai sumber. Walaupun guru sudah mengajar kimia dan mengkaitkan dalam kehidupan sehari-hari tetapi belum ada bahan ajar yang mengajak siswa untuk lebih berpikir secara kritis untuk membangun konsep dan dapat membantu siswa menjadi pebelajar aktif baik secara hands on, maupun secara minds on sehingga pembelajaran dapat berlangsung interaktif. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan ajar dengan karakteristik mandiri, stand alone, user friendly, adaptif dan self contained untuk siswa (Depdiknas,2004).
Berdasarkan uraian tersebut maka
diperlukan suatu pengembangan bahan ajar berupa modul. Dibuktikan dari hasil angket kebutuhan sebanyak 88% siswa membutuhkan modul. Modul merupakan sarana pembelajaran dalam bentuk tertulis atau cetak yang disusun secara sistematis, memuat materi pembelajaran, metode, tujuan pembelajaran, berdasarkan kompetensi dasar atau indikator pencapaian kompetensi, petunjuk kegiatan belajar mandiri (self instructional) dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji diri sendiri melalui latihan yang disajikan dalam modul tersebut. Hal ini memungkinkan modul dapat digunakan siswa untuk belajar secara mandiri dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain (Munadi, 2010).
Prestasi siswa pelajaran kimia pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015 materi kimia. Didapatkan data yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel. 1 Nilai Rata-rata Materi Kimia Semester Genap TP 2014/2015
Menurut Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada materi koloid nilai rata-rata belajar siswa rendah. Sebanyak 52% siswa kurang antusias dalam mempelajari materi koloid. Begitupun dari hasil wawancara dengan siswa dan guru kimia dalam hal materi koloid siswa memang masih menemui kesulitan terutama dalam hal mengkaitkan koloid dengan kehidupan sehari-hari, banyak istilah asing dan harus menghafal banyak istilah asing tersebut. Selain itu, guru jarang melakukan praktikum karena terbatasnya waktu, sehingga siswa kurang mendapat aktivitas yang bermakna terhadap materi koloid.
Oleh karena itu diperlukan suatu metode pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan agar siswa dapat menjadi pebelajar aktif baik secara hands on, maupun secara minds on. Sehingga akan tercipta pembelajaran interaktif. Siswa tidak merasa terbebani oleh banyaknya materi yang harus dikuasai. Diharapkan, dengan menggunakan metode pembelajaran tertentu prestasi belajar siswa akan meningkat.
Salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan oleh White dan Gustone cit. Kearney (2001) adalah metode pembelajaran
POE (Predict-Observe-Explain). POE
merupakan rangkaian proses pemecahan
masalah yang dilakukan oleh siswa melalui tahap prediksi atau membuat dugaan awal (predict) atau pembuktian dugaan (observe) serta penjelasan terhadap hasil pengamatan (explain). Modul dengan basis POE sangat cocok untuk karaktaristik materi koloid yang erat dengan kehidupan sehari-hari dan di dalamnya terdapat kegiatan laboratorium karena dalam langkah-langkah POE mencakup proses dimana siswa membangun suatu pengetahuan terlebih dahulu atas segala fenomena yang ada kemudian mengobservasi sendiri fenomena tersebut dalam laboratorium sampai akhirnya siswa dapat mengaitkan pengetahuan awal dengan pengetahuan baru sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna. Model POE ini
berorientasi pada konstruktivisme yang
menekankan para siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini juga sesuai dengan amanat kurikulum 2013 dimana pembelajaran harus sesuai dengan scientific
approach dan siswa harus membangun
commit to user
Zhou Qing,et al (2010) menyatakanbahwa pembelajaran melalui aktivitas
laboratorium (laboratory activities) sebagai central pembelajaran sains dimana siswa dapat mengeksplor fenomena sains yang terjadi. Fenomena sains yang terjadi dapat mendorong siswa berpikir mengenai teori, fakta dan aturan
kemudian membangun pengetahuan
berdasarkan pengalamannya.
Sejalan dengan hasil penelitian
Karamustafaoğlu,et al (2015) menunjukkan
bahwa strategi POE membuat pembelajaran
kimia menjadi efektif. POE membuat
pembelajaran lebih menarik, dapat mengkaitkan konsep lama dengan penemuan baru sehingga pembelajaran yang diterima siswa akan lebih
bermakna, serta dapat menghilangkan
kesalahpahaman siswa sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar.
Berdasarkan uraian tersebut, maka
dilakukan penelitian dengan judul
“Pengembangan Modul Kimia SMK Berbasis
POE (Predict-Observe-Explain) pada Materi
Koloid”.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui hasil tiap tahapan
pengembangan modul kimia berbasis POE pada materi pokok koloid yang mengacu pada siklus R&D Borg and Gall, kualitas modul kimia berbasis POE pada materi pokok koloid, dan efektifitas modul kimia berbasis POE pada materi pokok koloid.
Metode Penelitian
Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan modul berbasis POE ini adalah research and development atau penelitian pengembangan. Produk yang dikembangkan berupa modul berbasis POE pada materi koloid. Langkah-langkah pada penelitian ini merupakan modifikasi dari sepuluh langkah
penelitian dan pengembangan yang
dikembangkan oleh Borg & Gall (2007). Kesepuluh langkah tersebut adalah: 1) Penelitian dan pengumpulan data, 2) Perencanaan, 3) Pengembangan draf awal, 4) Uji coba lapangan awal, 5) Revisi hasil uji coba, 6) Uji coba lapangan, 7) Revisi hasil uji coba lapangan, 8) Uji pelaksanaan lapangan, 9) Penyempurnaan
dan produk akhir, 10) Desiminasi dan implementasi. Dalam penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap ke sembilan yaitu pada langkah penyempurnaan dan produk akhir. Karena pada langkah ke sepuluh membutuhkan waktu dan biaya yang cukup lama.
Sampel pada penelitian ini adalah siswa yang telah menerima materi koloid di SMK N 1 Temanggung dan SMK N Tembarak. Pada uji coba lapangan awal, produk diuji cobakan pada 10 siswa yang berasal dari 5 orang siswa kelas XII AK1 SMK N 1 Temanggung dan 5 orang siswa kelas XII EB SMK N Tembarak. Pada uji coba lapangan produk diuji cobakan pada 60 siswa yang berasal dari kelas XII AK SMK N 1 Temanggung dan XII AK SMK N Tembarak. Pada uji lapangan produk diujicobakan pada 37 siswa yang berasal dari kelas XI AK SMK N 1 Temanggung dan 35 siswa XI EB SMK N Tembarak. Uji efektivitas modul dilakukan dalam uji pelaksanaan lapangan. Sampel dalam penelitian pada uji coba pelaksanaan lapangan adalah dua kelas. Kelas eksperimen adalah kelas dengan perlakuan model POE dilengkapi modul berbasis POE dan untuk kelas baseline adalah kelas dengan menggunakan model POE tanpa modul berbasis POE. Desain yang digunakan dalam uji coba pelaksanaan lapangan adalah postest only control design. Data yang diperoleh dalam penelitian akan diolah dengan menguji kesamaan rata-rata yang digunakan adalah independent sample t test. (Sugiyono, 2012)
Instrumen yang digunakan dalam
penelitian pengembangan ini yaitu angket, soal tes, lembar validasi, lembar penilaian antar peserta didik dan lembar observasi. Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, meliputi analisis kelayakan dan analisis data hasil tes belajar. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan teknik angket untuk mengetahui kelayakan modul dari ahli materi, ahli media, ahli bahasa, praktisi pendidikan serta respon siswa dan guru, penilaian hasil belajar keterampilan dan sikap, teknik tes untuk penilaian hasil belajar pengetahuan, dan teknik
penilaian antar peserta didik untuk sikap.
commit to user
dikembangkan divalidasi oleh ahli materi, ahlimedia, ahli bahasa dan praktisi pendidikan dengan menggunakan validitas aiken. Kriteria yang digunakan adalah jika hasil validasi 0,75-1,00 (8 rater) maka analisis dapat dilanjutkan (Aiken,1985).
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Modul berbasis POE yang telah
dikembangkan kemudian divalidasi oleh 8 rater yang terdiri dari 1 ahli materi, 2 ahli media, 1 ahli bahasa dan 4 praktisi pendidikan berdasarkan kriteria kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafisan. Berdasarkan validasi aiken diperoleh hasil validasi berkisar antara 0,75-1,00 yang menunjukkan bahwa modul layak di ujicobakan setelah saran dan masukkan para validator dilaksanakan. Adapun hasil dan saran tiap tahap uji coba disajikan sebagai berikut :
1. Uji Coba Lapangan Awal
Dalam uji coba lapangan awal diperoleh hasil angket respon dari siswa dan guru seperti pada Tabel 2 serta saran dan masukkan pada
No. Saran dan Masukkan dari Siswa dan Guru 1. Cover kurang menarik
2. Warnanya monoton
3. Bahasanya kurang komunikatif 4. Masih terdapat salah ketik
Pada uji coba lapangan awal penilaian persentase dari guru cenderung lebih tinggi dikarenakan guru tertarik dengan modul dengan pembelajaran yang menuntut siswa berpikir kritis dan aktif seperti yang disajikan dalam modul POE. Terlebih modul tersebut sesuai dengan kurikulum 2013. Menurut guru, modul sangat mudah dipahami dan runtut dalam penemuan konsep. Disisi lain masih ada
beberapa kekurangan menurut siswa yaitu komponen kegrafikan mendapat persentase rendah sebesar 70% dikarenakan cover modul tampak monoton, serta komposisi tulisan, warna yang kurang menarik. Kemudian dilakukan revisi sesuai saran dan masukkan seperti yang disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Angket Respon Siswa pada Uji Coba
Bahasa yang digunakan sudah diperbaiki menjadi lebih komunikatif
2. Uji Coba Lapangan
Dalam uji coba lapangan awal diperoleh hasil angket respon dari siswa dan guru seperti pada Tabel 5 serta saran dan masukkan pada
No. Saran dan Masukkan dari Siswa dan Guru 1. Penulisan glosarium masih kurang rapi
2. Terdapat daftar isi yang tidak sesuai antara nomor dan halaman naskah
commit to user
menunjukkan bahwa penilaian pada uji cobalapangan lebih tinggi di banding penilaian pada uji coba lapangan awal. Hal ini terjadi karena kekurangan-kekurangan pada uji coba lapangan awal telah diperbaiki sehingga menghasilkan penilaian yang meningkat pada uji coba
lapangan. Setelah dilakukan perbaikan
berdasarkan saran pada masukkan pada uji coba lapangan awal, tampilan cover baik dari segi komposisi tulisan maupun warna menjadi lebih baik dan menarik. Terlihat pada penilaian tampilan cover merupakan komponen kegrafisan pada uji coba lapangan memperoleh nilai rata-rata sebesar 87,1% dengan kategori penilaian sangat baik. Begitu pula pada aspek bahasa mengalami kenaikan dari semula hanya 78,3% menjadi 82,4%. Hal ini dikarenakan bahasa yang kurang komunikatif telah diperbaiki agar lebih komunikatif.
Pada penilaian aspek kualitas isi, bahasa, penyajian dan kegrafisan oleh guru memperoleh nilai rata-rata sebesar 91,3% dengan kategori sangat baik. Pada uji coba lapangan siswa dan guru juga memberikan saran dan masukan antara lain penulisan glosarium yang kurang rapi dan terdapat daftar isi yang tidak sesuai dengan nomor halaman. Kemudian dilakukan revisi sesuai saran dan masukkan agar produk dapat digunakan untuk uji lapangan.
3. Uji Lapangan
Dalam uji coba lapangan diperoleh hasil angket respon dari siswa dan guru seperti pada Tabel 7.
Data hasil penilaian siswa terhadap kualitas modul yang dikembangkan diperoleh nilai rata-rata persentase skor sebesar 88,2. Hal ini menunjukkan bahwa modul yang dihasilkan memiliki kategori sangat baik, sedangkan dari hasil penilaian guru diperoleh nilai rata-rata sebesar 91,9 yang menunjukkan bahwa modul
yang dikembangkan memiliki kategori sangat baik. Berdasarkan penilaian siswa dan guru pada uji coba pelaksanaan lapangan diperoleh hasil bahwa modul berbasis POE layak digunakan untuk pembelajaran dengan beberapa perbaikan. Pada uji coba pelaksanaan lapangan siswa dan guru juga memberikan saran dan masukkan demi kesempurnaan modul yang dihasilkan. Saran dan masukkan pada uji coba pelaksanaan lapangan adalah soal pada latihan dimohon untuk diletakkan di akhir bab penutup. Selanjutnya dilakukan penyempurnaan modul sesuai saran dan masukkan dari guru dan siswa. Adapun
penyempurnaan yang dilakukan adalah
memindahkan kunci jawaban yang semula terletak ditiap akhir kegiatan belajar dipindahkan menjadi satu setelah bab penutup.
Pada tahap ini juga dilakukan uji efektivitas dari modul yang dikembangkan yaitu dengan membandingkan kelas ekperimen dan kelas baseline di setiap sekolah. Pada uji efektivitas kedua kelas di masing-masing sekolah diuji dengan menggunakan penilaian yang sama yang meliputi aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kelas yang akan digunakan untuk penelitian baik di SMK N 1 Temanggung dan SMK N Tembarak diuji
prasyarat yang meliputi uji normalitas,
homogenitas dan uji kesetaraan. Rangkuman uji kesetaraan di SMK N 1 Temanggung dapat dilihat pada Tabel 8 dan uji kesetaraan di SMK N Tembarak pada Tabel 9.
Tabel 8.Rangkuman Uji Kesetaraan di SMK N 1 Temanggung
Uji yang Dilakukan Sig Kesimpulan
a. Uji Normalitas Normal
Kelas XI A1 0,200 Normal
Kelas XI A2 0,200 Normal
Kelas XI A3 0,180 Normal
b. Uji Homogenitas 0,905 Homogen
c. Uji Kesetaraan 0,439 Setara
Tabel 9.Rangkuman Uji Kesetaraan di SMK N Tembarak
Uji yang Dilakukan Sig Kesimpulan
a. Uji Normalitas Normal
Kelas XI A 0,129 Normal
Kelas XI B 0,200 Normal
Kelas XI C 0,089 Normal
b. Uji Homogenitas 0,920 Homogen
c. Uji Kesetaraan 0,903 Setara
commit to user
sekolah tersebut normal, homogen dan setarasehingga pemilihan kelas eksperimen dan
baseline diambil secara cluster random
sampling. Penelitian yang dilakukan di SMK N 1 Temanggung menggunakan kelas XI A2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI A1 sebagai kelas baseline, sedangkan penelitian yang dilakukan di SMK N Tembarak menggunakan kelas XI B sebagai kelas eksperimen dan kelas XI C sebagai kelas baseline.
Data yang diperoleh pada uji coba pelaksanaan lapangan meliputi data hasil belajar aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan di SMK N 1 Temanggung dan SMK N Tembarak terangkum dalam Tabel 10 dan Tabel 11.
Tabel 10.Data Penilaian Uji Coba Pelaksanaan Lapangan
di SMK N 1 Temanggung
Aspek Penilaian Kelas Baseline
Kelas
Experiment Mean Mean
Pengetahuan 80,36 85,04
Sikap 81,98 84,49
Keterampilan 81,08 82,34
Tabel 11.Data Penilaian Uji Coba Pelaksanaan Lapangan
di SMK N Tembarak
Aspek Penilaian Kelas Baseline
Kelas
Experiment Mean Mean
Pengetahuan 78,88 83,14
Sikap 79,87 79,56
Keterampilan 79,11 80,95
Untuk mengetahui apakah perbedaan rata-rata skor hasil belajar pengetahuan, ketrampilan dan sikap dari kelas baseline dan kelas eksperimen berbeda secara signifikan, maka dilakukan uji statistik yaitu independent sample t test. Penggunaan uji t ini memerlukan uji prasyarat yang harus dipenuhi yaitu uji normalitas dan homogenitas.
Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar pengetahuan, ketrampilan dan sikap antara kelas baseline dan kelas eksperimen. Hasil uji-t ditunjukkan pada Tabel 12.
Tabel 12.Hasil Uji-t nilai hasil beajar kelas eksperimen dan
kelas baseline
Hasil Belajar Jenis Uji Nilai Sig. (2-tailed) SMK N 1
Deskripsi hasil uji coba pelaksanaan
lapangan di SMK N 1 Temanggung
menunjukkan bahwa rerata aspek pengetahuan kelas baseline adalah 80,36 sedangkan rerata kelas eksperimen adalah 85,04. Sedangkan di SMK N Tembarak menunjukkan rerata nilai kelas baseline adalah 78,88 dan rerata nilai kelas eksperimen adalah 83,14. Hasil uji-t dua pihak pada kelas di SMK N 1 Temanggung diperoleh nilai sig 0.000 (sig <0.05) menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kelas baseline dan kelas eksperimen. Begitupula hasil uji-t dua pihak di SMK N Tembarak diperoleh nilai sig 0.027 (sig <0.05) yang menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kelas baseline dan kelas eksperimen.
Berdasarkan temuan di lapangan siswa yang diberi modul berbasis POE lebih antusias untuk belajar. Pembelajaran menggunakan modul berbasis POE memperoleh nilai rata-rata yang lebih tinggi pada aspek pengetahuan. Dengan bantuan modul siswa dapat membangun konsep pada materi koloid berdasarkan tahap-tahap pada model pembelajaran POE, konsep-konsep yang telah dibangun akan tersimpan, sehingga pada saat mengerjakan soal siswa dengan mudah menggunakan konsep yang telah dimiliki.
commit to user
dipengaruhi oleh media pembelajaran namundapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Serta untuk menilai sikap dan keterampilan siswa dibutuhkan waktu yang lama, tidak cukup hanya dalam kurun waktu penelitian saja.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan
Penelitian dan pengembangan modul berbasis POE pada materi koloid dilakukan
berdasarkan tahapan penelitian dan
pengembangan Borg and Gall yang meliputi: 1) tahap penelitian dan pengumpulan data, 2) tahap perencanaan, 3) tahap pengembangan draft produk, 4) uji coba lapangan awal, 5) merevisi hasil uji coba, 6) uji coba lapangan, 7) penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan,
8) uji pelaksanaan lapangan, dan 9)
penyempurnaan produk akhir. Kualitas modul berbasis POE pada materi koloid pada aspek komponen kualitas isi, bahasa, penyajian dan kegrafisan dengan persentase sebesar 88,2% penilaian siswa dan 91,9% penilaian dari guru. Hasil uji efektivitas pada aspek pengetahuan terdapat perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas baseline, sedangkan pada aspek sikap dan keterampilan tidak terdapat perbedaan.
Rekomendasi
Kepada guru: 1) Sebelum melakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran POE hendaknya guru memberikan perhatian lebih terutama saat mengkonfirmasi antara hasil prediksi siswa dan hasil observasi yang telah ditemukan siswa agar tujuan pembelajaran tercapai.
Kepada peneliti lain: 1) hasil penelitian dan pengembangan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian berikutnya yang sejenis dengan materi yang berbeda, 2) gunakan modul berbasis POE dengan kualitas cetak yang baik agar hasil juga maksimal.
Daftar Pustaka
Aiken, Lewis R. 1985. Three Coefficients for Analyzing The Reliability and Validity of
Ratings. Educational and Psychological Measurement, 45, 131- 142
Depdiknas.2008. Teknik Penyusunan Modul. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas
Gall, M.D., & Borg, W.R. 2007. Educational Research. Boston: Person Education, Inc.
Kearney,M., Treagust, F., Yeo, S., & Zadnik, M.G. 2001. Student and Teacher Perceptions of the Use of Multimedia Supported Predict– Observe–Explain Tasks to Probe Understanding. Research in Science Education 31: 589–615, 2001. Netherlands : Kluwer Academic Publishers.
Karamustafaoğlu, S. & Mamlok-Naaman,R. (2015).
Understanding Electrochemistry Concepts using the Predict-Observe-Explain Strategy. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2015, 11(5), 923-936
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Munadi,Y. 2010. Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta : Gaung Persada Pers
Zhou Qing, Guo Jing &Wang Yan. 2010. Promoting
Preservise Teachers’ Critical Thinking Skills