o
Sabtu
12
13
27
28
o
Sep
0
Okt
Pikir-.n
Rakyat
o
SelJilJ0
Selasa
()
Rabu
~
---1
~
3
4
5
6
7
8
17
18
19
20
21
22
2J
\~~_.~\JalJ
-
.'~e.-b--.::.~~:--~~~-;--(?!'!e.L__C;;)JUIJ
.
Kamis
0
Jumat
9
10
11
24
25
26
OJ(l1
0
Ags
o
MilJggu
14
15
16
29
30
31
ONov
ODes
. -...--.-.----.-..---.---.---.
Meliput PemiruSecara Profesional
-
---
-
-
- -
.
Resensi Buku
Pemilihan umum (pemllu)
tak
ramal tanpa and IIpara wartaw
an
berlkut media massa mereka.
Tak
satu pun calon anggota
lem-bag
a
leglslatlf (caleg)
at au
calon
Preslden (cap res) yang mampu
memopulerkan dlri sendlri tanpa
kontribusl para wartawan bers~
ma
media massa
mf'reka.
Inl
me-rupakan sebuah kenlscayaan.
Tak
seorang pun mampu
me-nyangkalnya.
B
EG'TU pentingnya peran wart&wan dan media massa
dalam Pemilu, sehingga hal ini selalu diatur dalam Undang-undang Pemilu. Wartawan dan media massa bagai pe-dang bermata dua. Mereka mampu membuat seseorang melambung se-tinggi langit, namun sebaliknya, mere-ka juga sanggup membenammere-kan sese-orang hingga ke dasar laut yang terd& lam. Dari zaman baheula para pakar 11-mu ko11-munikasi massa mengakui ke-dahsyatan efek pekerjaan para wart& wan dan media massa mereka.Akan tetapi kini yang menjadi pert&
~
nyaan, apakah para wartawan yang ti-ap hari meliput Pemilu2009 bersikap independen ataukah sebaliknya, berpi-hak kepada parpol yang mengundang dan "melayani" mereka? Apakah para wartawan yang turut dalam rom bong-an seorbong-ang ketua UI;num parpol besar dan ternama yang berkampanye dari satu daerah ke daerah lain dalam wak-tu yang cukup lama masih mampu ber-sikap profesional? Apakah mereka ti-dak menjadi corong atau pejabat hu-bungan masyarakat (humas) parpol tersebut? Dalam hal internal pengelo-la media, terutama bagian redaksi dan iklan, apakah iklan-iklan parpol-parpol besar (tentu saja kaya raya) yang ber-ukuran sangat besar dan sangat se-ring dimuatjdisiarkan di media massa mereka tidak "memaksa" mereka ber-pihak kepada parpol-parPQI tersebut? Apakah para wartawan yang terjun langsung dalam peliputan kampanye pemilu memiliki posisi tawar yang Ie-mah di hadapan pemimpin redaksi
atau redaktur pelaksana?Apakah
B&gian
Redaksimemiliki daya tawar yang
kuat di hadapan Bagian Iklan dan Pe-masaran media massa yang bersang-kutan?
Hampir semua pertanyaan ini ted&
wab dalam buku baru,
Kritis
Meliput Pemilu. Meskipun tak ada prinsip dan teknik peliputan yang benar-benar baru dalam buku yang ditulis oleh Hanif Su-ranto dan kawal1-kawannya ini, namun .buku ini sangat bagus untukmenyegar-kan kembali ingatan dan semangatjur-nalisme yang kental dengan idealisme dan profesionalisme dalam diri para wartawan dan segenap pengelola
me-dia massa, terutama di jajaran redaksi. "Sayangnya, media kerap dikritik kare-na pemberitaan pemllunya cenderung didominasi jurnalisme pacuan kuda
(horse race journalism). Di sini fokus Ii-putan media diarahkan pada persaing-an persaing-antarkpersaing-andidat atau persaing-antarpartai poll--tik semata. Kepentingan pemilih justru kerap dilupakan. Karena itu, buku ini menawarkan perspektif lain dalam peli-putan pemilu, yaitu lewat pendekatan reportase suara pemilih (voter voice re-porting,," tulis Hanifdan kawal1-kawal1-nya.
Seperti kita ketahui, para wartawan dan media massa menerima mandat d~ri para warga masyarakat atau kh& layak ul1tuk mengaktualisasikan hak tahu dan hak memberitahukan
.-
.-...-
mere-ka dengan sungguh-sungguh. Dalam j{onteks Pemilu sekarang, para wart& wan berikut media massa mereka h& rus mau dan mampu menulisjmenyi-arkan isi hak tahu dan hak memberit& hukan para calon pemilih khususnya dan rakyat banyak umumnya. Tentu saja ini dapat diwujudkan terutama melalui wawancara dengan berbagai lapisan rakyat, dari yang terendah hingga yang tertinggi. Dengan demiki-an, rakyat tidak hanya dipaksa atau terpaksa mengonsumsi berit&berita dari atas (para caleg, capres, dan SU& ra para pemimpin parpol). Tentu saja buku ini baik sekali tidak hanya untuk para pe!iputPemilu 2009 dan para re-daktur, tetapi juga bagi warga masy& rakat, terutama para calon pemilih. Dengan membaca buku ini kita(calon pemilih) diharapkan mampu mengol1-trol para wartawan dan media massayangtampak tidak profesionaldan
il1-dependen. Media massa memang ber-fungsi sebagai pelaku kontrol sosial, namun kita (khalayak) juga wajib me-ngontrol media massa.
(5. Sahala Tua
Saraglh"dosen
Jurusan Jurnalistik Fi-kom Unpad Jatinangor dan mantanwartawan).
***
_ _ _ _
--
Kliping
Humos
Unpod
2009