Periode Bayi
Sub bab : Pengertian dan Karakteristik Periode Bayi, dan
Perkembangan Fisik serta Kognis Bayi
Resume
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Perkembangan
Disusun Oleh :
Kelompok 7 ( Kelas B )
Citra Yulanda
Reza Fajrini
Yossi Eldian Tanpli
1305119
1305121
1300632
Program Studi Psikologi
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Padang
A. Pengertian Periode Bayi
Bayi bukanlah makhluk hidup tanpa kemampuan. Bayi memiliki beberapa refleks dasar, antara lain menangis, menendang, dan batuk. Bayi banyak tidur, dan terkadang bayi tersenyum, meski senyum pertama bayi tidak benar-benar jelas artinya. Bayi makan dan bayi bertumbuh. Bayi merangkak kemudian bayi berjalan, perjalanan ribuan mil yang berawal dari satu langkah. Terkadang bayi menyesuaikan diri dan terkadang orang lain menyesuaikan diri terhadap mereka.
Perkembangan diri bayi merupakaan penciptaan secara kontinu atas bentuk-bentuk yang lebih kompleks. Keberadaan bayi yang tidak berdaya memerlukan kasih sayang dari orang lain. Bayi berusaha mewujudkan keinginannya dengan menjadi apapun yang ia inginkan.
B.
Karakteristik Periode Bayi
Hurlock menggolongkan karakteristik periode bayi antara lain sebagai berikut :
1. Masa Dasar yang Sesungguhnya
Masa bayi adalah dasar periode kehidupan yang sesungguhnya karena pada saat ini banyak pola perilaku, sikap dan pola ekspresi yang terbentuk.
2. Masa Dimana Pertumbuhan dan Perubahan Berjalan Pesat
Bayi berkembang pesat, baik secara fisik maupun secara psikologis. Pertumbuhan dan perubahan intelek berjalan sejajar dengan pertumbuhan dan perubahan fisik. Tidak ada perubahan yang lebih menonjol selain dalam kemampuan bayi untuk mengenali dan bereaksi kepada orang-orang dan objek-objek dalam lingkungan.
3. Masa Berkurangnya Ketergantungan
berjalan dan menggerakkan benda-benda. Kemandirian juga meningkat dengan berkembangnya kemampuan bayi untuk mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhannya kepada yang lain. Gerakan-gerakan bayi yang acak dan menyeluruh kembali menjadi gerakan yang terkoordinir sehingga memungkinkan bayi melakukan sendiri hal-hal yang sebelumnya harus dilakukan orang lain.
4. Masa Meningkatnya Individualitas
Individualitas tampak dalam penampilan dan pola-pola perilaku dan memungkinkan bayi mengembangkan hal-hal yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
5. Permulaan Sosialisasi
Egosentrisme, yaitu diri bayi yang muda belia, cepat berubah menjadi keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial. Bayi mengembangkan ikatan emosi yang kuat dengan ibunya jauh sebelum periode masa bayi berakhir. Dari pemuasan perilaku akrab inilah berkembang hubungan dengan orang lain yang hangat dan kekal.
6. Permulaan Berkembangnya Penggologan Peran-Seks
C.
Pertumbuhan dan Perkembangan fisik Di Masa Bayi
1. Pola Pertumbuhan
Di masa prakelahiran dan awal masa bayi, ukuran kepala lebih besar dibandingkan keselurugan tubuhnya. Santrok ( 2012) membagi pola perkembangan menjadi dua, yaitu:
Pola sefalokaudal
Pola sefalokaudal adalah urutanpertumbuhan yang selalu dimulai dari bagian paling atas, yaitu kepala, kemudian pertumbuhan fisik dan diferensiasi karakteristiknya berlangsung secara bertahap dari atas ke bawah. Pola yang sama terjadi pada kepala itu sendiri, karena bagian atas kepala ( mata dan otak) tumbuh lebih cepat dibandingkan bagian bawah kepala, contohnya rahang.Pola perkembangan motorik juga mengikuti pola sefalokaudal, seperti mengenal benda-benda sebelum dapat mengendalikan batang tubuh atau menggunakan tangan sebelum dapat merangkak dan berjalan.
Pola Proksimodistal
Pola proksimodistal yaitu pertumbuhan yang dimulai dari bagian tengah lalu bergerak menuju bagian ujung.Contoh: bayi dapat mengendalikan otot batang tubuh dan lengannya sebelum mengendalikan tangan dan jarinya atau mereka harus menggunakan keseluruhan tangannya sebelum dapat mengendalikan jari.
2. Tinggi dan Berat Badan
Bayi lahir purna waktu memiliki panjang 18-22 inci dan berat 5,5 hingga 10 pon
Beberapa hari pertama, sebagian besar bayi kehilangan 5-7% berat tubuh sebelum mereka belajar menyesuaikan diri dengan kegiatan makan ( menghisap, menelan, dan mencerna)
Selama sebulan pertama, mereka mengalami pertambahan berat kira-kira 5-6 ons per minggu.
Pada ulang tahun pertama, berat badan menjadi tiga kali lipat berat badan kelahiran, dan panjang dua kali lipat panjang kelahiran.
Selama dua tahun kehidupan, pertumbuhan menurun. Berat bayi mencapai 26-32 pon, naik ¼ hingga ½ pon per bulan ( mencapai 1/5 berat dewasa )
Saat dua tahun, tinggi rata-rata bayi 32-35 inci
Pada ulang tahun kedua, berat otak bayi lebih 25% dari berat otak ketika dewsa. Akan tetapi kematangan area otak tidak terjadi bersamaan.
Selama satu tahun pertama kehidupan, perkembangan neuron terjadi melalui dua cara:
1) Mielinasi, proses menyelubungi akson dengan sel-sel lemak, yang dimulai dari sebelum lahir hingga remaja.
2) Koneksi antar neuron meningkat, menciptakan jalur sel baru, koneksi dendrit bertambah, koneksi sinapsi antara akson dan dendrit bertambah banyak
Korteks serebral memiliki dua hemisfer, yaitu hemisfer kiri dan kanan dimana terdapat lateralisasi yang merujuk pada spesialisasi dari salah satu fungsi hemisfer. Disetiap hemisfer terdapat lobus yang memiliki fungsi utama yakni:
1) Lobus frontal : terlibat dengan gerakan disengaja, berpikir, personalitas, dan niat
2) Lobus okspital : terlibat dengan fungsi penglihatan
3) Lobus temporal : dengan pendengaran, pemrosesan bahasa, dan memori 4) Lobus parietal : dengan menentukan lokasi pasial, atensi, dan kendali
motorik.
Setelah kelahiran, aliran penglihatan, bunyi, penciuman, sentuhan, dan kontak mata membantu pembentukan koneksi neural otak, bersama stimulasi pihak pengasuh dan lain-lain.
4. Tidur
Biasanya bayi yang baru lahir membutuhkan waktu tidur kira-kira 10-21 jam. Pada sekitar 6 bulan pola tidur mereka biasanya mulai menyerupai pola tidur orang dewasa, yaitu tidur paling lama di malam hari dan bangun paling lama di siang hari. Akan tetapi ada masalah yang timbul ketika bayi terjaga di saat malam. Salah satu faktor penyebabnya adalah keterlebitan orang tua yang berlebihan dari orang tua terhadap interaksi yang berkaitan tidur siang bayi. Kemudian faktor intrinsik seperti menangis dan gelisah diwaktu siang serta faktor ekstrinsik seperti kesedihan karena berpisah dengan orang tua.
Tidur REM
tetapi, kita dapat mengetahui secara pasti apakah bayi lebih banyak bermimpi dari pada kita karena mereka tidak bisa mengungkapkannya.
Berbagi Tempat Tidur
Menurut beberapa ahli anak, berbagi tempat tidur dapat memberikan keuntungan dan kekurangan :
Keuntungan : mendorong pemberian asi, mempercepat respon apabila bayi menangis, memungkinkan ibu untuk mendeteksi potensi-potensi bahaya karena bayi berhenti bernafas.
Kekurangan : mengakibatkan SIDS ( Sudden infant death Syndrome) yang dapat menjadi masalah apabila ibu berguling dan menimpa bayi.
Penyebab SIDS :
Posisi tidur
bayi dengan berat badan rendah, 5-10 kali lebih besar kemungkinan meninggal karena SIDS
Bayi yang saudara kandungnya meninggal karena SIDS
Bayi yang mengalami sleep apnea ( berhenti bernafas beberapa saat ).
Sosioekonomi rendah, menghirup asap rokok, tidur dengan kipas angin, dan menderita abnormal fungsi batang otak.
Tidur di alas yang empuk
5. Gizi
Bayi perlu mengkonsumsi gizi sebesar 50 kalori per harinya untuk setiap pon berat tubuhnya. Kini semakin banyak ahli yang berpendapat bahwa pemberian asi lebih baik dibandingkan sesu botol, meski karakter koresional dari sejumlah studi perlu dipertimbangkan.
Hasil pemberian ASI terhadap anak :
Bayi-bayi yang diberi ASI mengalami lebih sedikit infeksi gastrointestin
ASI menurunkan resiko alergi pada anak
Pemberian ASI selama tiga bulan berperan sebagai perlindungan terhadap nafas berbunyi pada bayi, mengurangi kemungkinan infeksi telinga bagian tengah ( otitis media ), peradangan kulit kronis ( dramatitis aropik ), resiko obesitas, diabetes tipe 1 dimasa kanak-kanak dan tipe 2 saat dewasa, serta SIDS
Hasil terhadap ibu : menurunkan resiko kanker payudara, kanker indung telur, dan diabetes tipe 2.
1) Marasmus, disebabkan oleh kekurangan protein dan kalori secara parah yang mengakibatkan pengkerutan jaringan penting pada bayi selama satu tahun pertama kehidupan.
2) Kwashiorkor, disebabkan oleh kekurangan protein secara parah yang biasanya terjadi pada usia 1 hingga 3 tahun.
D. Perkembangan Motorik
1. Pandangan Sistem Dinamik
Menurut teori sistem dinamik ( dynamic sysetem theory ), bayi membangun berbagai keterampilan motorik untuk membentuk presepsi dan bertindak, teori ini menganggap presepsi dan tindakan sebagai sebuah pasangan.
Ketika bayi termotivasi untuk melakukan sesuatu, mereka dapat membentuk sebuah prilakumotorik baru hasil dari perjumpaan berbagai faktor : perkembangan sistem saraf, karakteristik fisik tubuh dan kemungkinan pergerakannya, sasaran yang hendak diraih, dan dukungan lingkungan
Contoh : bayi hanya dapat belajar berjalan jika sistem sarafnya sudah cukup matang untuk mengendalikan otot-otot kaki, ketika kaki mereka sudah cukup berkembang untuk menopang tubuh mereka, dan ketika memiliki keinginan untuk bergerak.
Dengan demikian, perkembangan motorik bukanlah proses pasif yang rangkaian perkembangan keterampilannya dari waktu ke waktu didikte oleh gen. Melainkan bayi secara aktif turut terlibt dalam mengembangkan keterampilannya yang juga dipengaruhi lingkungan, bawaan, dan pengasuh.
2. Refleks
Refleks merupakan reaksi stimuli yang mengatur gerakan-gerakan bayi yang bersifat otomatis dan berada di luar kendalinya.
a) Refleks mencri ( Rooting reflex ) yaitu reaksi bayi baru lahir yang muncul ketika pipinya diusap/dibelai atau pinggir bibirnya disentuh. Sebagai respon, bayi memalingkan kepalanya ke arah benda yang menyentuhnya, dalam upaya yang jelas untuk menukan objek yang dapat dihisap
b) Refleks menghisap ( sucking reflex ) yaitu reaksi bayi baru lahir yang secara otomatis menghisap benda yang ditempatkan di mulutnya. Refleks ini memudahkan bayi memperoleh makanan sebelum ia dapat mengasosiasikan puting ibu dengan makanan dan juga berfungsi sebagai mekanisme penenangan diri/ regulasi diri.
punggungnya, melemparkan kepalanya ke belakang, serta merentangan lengan dan kakinya. Kemudian, ia mengatupkan lengan dan kakinya dengan cepat ke tubuh.
d) Refleks menggenggam ( grasping reflex ) refleks bayi yang baru lahir yang terjadi ketika sesuatu menyentuh telapak tangannya. Bayi berespon dengan cara menggenggam kuat.
3. Keterampilan Motorik Kasar
Keterampilan motorik kasar ( gross motor skill ) merupakan keterampilan yang melibatkan aktivitas otot besar, seperti pergerakan lengan dan berjalan.
Keterampilan utama yang dikembangkan adalah :
a) Perkembangan postur
Postur merupakan suatu proses dinamis yang berkaitan dengan informasi sensoris dari kulit, persendian, dan otot mengenai posisi kita dalam suatu ruangan ; dari organ vestibular di telinga bagian dalam yang meregulasi keseimbangan; serta dari penglihatan dan pendengaran
b) Belajar berjalan
Ketrampilan penting dalam belajar berjalan adalah menjaga keseimbangan pada sebuah kaki dengan cukup lama agar dapat melangkah maju dan memindahkan berat badan tanpa terjatuh, juga belajar mengenai jenis tempat atau permukaan yang aman baginya untuk merangkak atau berjalan.
Tingkat perkembangan motorik Bulan Perkembangan
1-2 bulan Tengkurap
4 bulan Tengkurap, mengangkat dada, mengangkat kepala 5 bulan Berguling
6 bulan Menopang sebagian berat dengan kaki
8 bulan Duduk tanpa penopang dan bangkit secara mandiri 10 bulan Berjalan menggunakan kursi/penopang
13 bulan Berdiri sendiri dengan mudah 14-15 bulan Berjalan sendiri dengan mudah
4. Keterampilan Motorik Halus
E. Perkembangan Sensoris dan Presepsi
1. Sensasi dan Presepsi
Sensasi, terjadi ketika informasi berinteraksi dengan reseptor sensoris; mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit.
Contoh: sensasi penglihatan terjadi ketika lampu mengadakan kontak dengan mata
Presepsi merupakan interpretasi mengenai apa yang diindrakan.
Contoh : gelombang udara yang berkontak dengan telinga mungkin diinterpretasikan sebagai bunyi.
2. Pandangan Ekologis
Menurut pandangan ekologis ( ecological view ) Gibson, kita secara langsung menangkap informasi yang terdapat di dunia sekitar kita. Presepsi dirancang untuk tindakan, memberikan informasi seperti kapan kita harus membungkuk, dan memiringkan tubuh ketika melalui ruang sempit.
Dalam pandangan Gibson, semua benda memiliki affordances, yakni kesempatan tertentu dalam berinteraksi dengan benda tertentu sesuai dengan kemampuan kita menjalankan aktivitas. Kesempatan affordances memberikan peluang bagi sesorang untuk berinteraksi yang cocok dengan kapasitas kita dalam menamampilakn aktivitas fungsional
Contoh : ketika bayi sudah dapat brjalan dihadapkan tempat tidur air yang lembutmereka tertarik dan melakukan eksplorasi, kemudian memilih untuk merangkak alih-alih berjalan diatasnya
3. Presepsi Visual
a) Ketajaman visual dan wajah manusia
Bayi yang baru lahir, masih mengembangkan saraf, otat, dan lensa matanya. Akibatnya ia tidak dapat melihat benda-benda kecil yang jauh. Ia mampu melihat benda pada jarak 20 kaki sedangkan dewasa 240 kaki. Rata-rata kemampuannya meningkat pada usia 6 bulan menjadi 20-40 kaki.
Bayi emnunjukkan ketertarikan terhadap wajah manusia segera setelah ia lahir. Pada usia 3 bulan, bayi mencocokkan wajah dengan suara, membedakan laki-laki dan perempuan, etnis sendiri dan etnis lain.
b) Penglihatan warna
Pada usia 8 minggu atau bahakan 4 minggu, bayi dapat membedakan beberapa warna. Pada usia 4 bulan mereka telah memiliki preferensi warna yang terkadang mencerminkan preferensi orang dewasa, memilih warna-warna penuh, misalnya biru cerah alih-alih biru pucat.
Ketetapan ukuran ( size constancy ), kemampuan mengenali kembali bahwa sebuah objek tetap sama meskipun gambaran retinal mengenai objek tersebut berubah. Bayi yang berusia 3 bulan belum mempunya kemampuan ini. Kemampuan ini berkembang terus menerus sampai mereka mencapai usia 10 hingga 11 tahun
Ketetapan bentuk ( shape constancy ), kemampuan mengenali kembali bahwa bentuk obyek tetap sama meskipun orientasinya terhadap kita berubah. Bayi yang berusia 3 bulan tidak memiliki ketetapan bentuk terhadap benda yang bentuknya tidak beraturan, seperti bidang yang dimiringkan.
d) Presepsi mengenai objek yang ditutupi
2 bulan pertama, bayi tidak mempresepsikan objek yang ditutupi sebagai objek lengkap, ia hanya mempresepsikan yang terlihat
Sejak 2 bulan, bayi mengembangkan kemampuan bahwa objek yang tertutupi merupakan objek lengkap
3-5 bulan, bayi mengembangkan kemampuan tracking terhadap objek yang ditutupi
5-9 bulan, bayi mengeksplorasi kemampuan tracking terhadap benda bergerak yang menghilang bertahap ke belakang layar penutup pandangan, menghilang seketika, atau mengerut secara drastis.
e) Presepsi kedalaman
2-4 bulan, bayi memperlihatkan perbedaan laju detak jantung antara ketika mereka ditempatkan tepat di atas jurang dan di sisi yang bukan jurang. Hal ini mungkin disebabkan oleh respon secara berbeda terhadap karakteristik visualjurang dan bukan jurang, tanpa mengetahui yang nyata mengenai kedalaman.
6-12 bulan, telah mengetahui atau memahami kedalaman.
4. Indra-Indra Lain a) Pendengaran
Kekerasan suara. Segera setelah lahir bayi tidak dapat mendengar suara lembut dengan ketajaman pendengaran seperti orang dewsa. Stimulus harus cukup kera untuk didengar bayi.
Contoh : orang dewasa dapat mendengar bisikan dari jarak 4-5 kaki, tetap pada jarak ini bayi hanya bisa mendengar percakapan normal
suara. Ketika berusia 2 tahun, memperlihatkan cukup kemajuan untuk membedakan suara dengan ketinggian berbeda.
Penentuan lokasi. Bayi yang baru lahir sudah mampu menentukan perkiraan lokasi arah datangnya suara. Pada usia 6 bulan mereka lebih unggul dalam hal ini.
b) Sentuhan rasa sakit
Bayi yang baru lahir dapat merasakan sakit. Contohnya : bayi yang baru lahir menangis secara kuat saat dikhitan, tetapi ereka juga memperlihatkan ketahanan yang luar biasa. Dalam beberapa menitb setelah operasi mereka dapat langsung menyusu dan berinteraksi normal
c) Penciuman
Bayi yang baru lahir dapat membedakan bau. Hal ini dapat dilihat dari ekspresi wajah mereka.
Contohnya : bayi berusia 6 hari memperlihatkan kesukaannya yang jelas terhadap bau kain pelapis payudara bekas pakai ibunya dibandingkan yang bersih
d) Pengecapan
Sensitivitas terhadap rasa dapat muncul sebelum keahiran. Saat berusia 24 bulan, bayi mulai lebih menyukai rasa asin yang cenderung tidak mereka sukai saat baru lahir.
5. Presepsi Menyeluruh
Presepsi menyeluruh merupakan kemampuan mengintegrasikan informasi dari dua atau lebih modalitas sensoris, misalnya dari penglihatan dan pendengaran Contoh : bayi yang baru lahir mengarahkan mata dan kepalanya ke arah bunyi manusia atau suara gemerincing ketika bunyi tersebtu diperdengarkan setelah beberapa detik.
6. Bawaan, Pengasuh, dan Perkembangan Presepsi
Nativist ( pendukung aspek bawaan ) Gibson
Menurut pandangan ini presepsi bersifat langsung dan berevolusi menurut waktu dalam rangka memungkinkan pendeteksian ketetapan ukuran dan bentuk, dunia tiga dimensi, presepsi menyeluruh, sejak dini di masa bayi.
Empiricist ( pendukung aspek pengasuhan ) Piaget
dan bentuk, dunia tiga dimensi, presepsi menyeluruh dan seterusnya berkembang belakangan.
7. Kerja Sama Presepsi - Motorik
Perkembangan presepsi motorik tidak berlangsung sendiri-sendiri namun merupakan suatu kerja sama. Individu membentuk presepsi agar dapat bergerak dan bergerak agar dapat membentuk presepsi/
F. Perkembangan Kognitif di Masa Bayi
1. Teori Piaget
a) Proses-proses kognitif
Skema
Skema merupakan berbagai tindakan atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Menurut tori piaget, skema terdiri atas skema prilaku ( aktivitas fisik) yang merupakan ciri perkembangan di masa bayi dan skema mental ( aktivitas kognitif ) berkembang di masa kanak-kanak. Contoh : menghisap, melihat, menggenggam
Asimilasi dan Akomodasi
Asimilasi terjadi ketika anak-anak menggunakan skema-skema yang telah dimilikinya untuk menangani informasi atau pengalaman baru. Misalnya, bayi yang baru lahir secara refleks menghisap segala sesuatu yang mengenai bibirnya.
Sedangkan akomodasi terjadi ketika anak-anak menyesuaikan skema-skema agar sesuai untuk mengolah informasi atau pengalaman baru. Misalnya, setelah memperoleh pengalaman selama beberapa bulan, mereka membangun pemahaman, bahwa jari dan payudara ibu dapat dihisap dan selimut, baju, dan benda lainnya tidak.
Organisasi
Organisasi merupakan pengelompokan prilaku dan pemikiran yang terpisah satu sama lain ke dalam sistem tingkatan yang lebih tinggi.
Contoh: seorang bayi hanya mempunyai gagasan yang samar terhadap penggunaan palu dan paku, setelah belajar menggunakannya ia akan mengaitkan berbagai cara penggunaan dan mengorganisasikannya.
Ekuilibrasi
Ekuilibrasi merupakan istilah yang digunakan piaget untuk merujuk pada mekanisme peralihan anak-anak dari satu tahap berpikir ke tahap selanjutnya
Sub tahap Usia Deskripsi Contoh yang baru lahir menghisap ketika bibirnya disentuh
Kebiasaan awal dan reaksi sirkuler
1-4 bulan Koordinasi sensasi dan dua jenis
skema : kebiasaan dan reaksi sirkuler primer
Bayi melakukan akomodasi tindakannya dengan menghisap jempol dengan cara yang berbeda dari menghisap puting
Reaksi Sirkuler skunder
4-8 bulan Bayi lebih berorientasi terhadap
objek, melampaui preokupasi terhadap diri sendiri; tindakan diulang-ulang karena menyenangkan
Bayi mendengkut agar orang tetap ada di dekatnya, ketika orang itu menjauh, ia mendekut lagi. ( mata dan tangan), koor dinasi skema dan kesengajaan
Sebuah kotak mungkin dijatuhkan, diputar, ditabrakkan, dan
Bayi yang belum pernah
menunjukkan tempertantum sebelum melihat kawannya menunjukkan prilaku ini; bayi menyimpan memori kemudian menampilkan kembali.
c) Evaluasi tehadap tahap sosiomotorik
Kesalahan A bukan B, merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan kekeliruan bayi. Contoh : saat bayi berumur 8-12 bulan, sebuah mainan disembunyikan dua kali, di lokasi A bayi mencari di lokasi A. Namun ketika mainan disembunyikan di lokasi B mereka terus menncarinya di lokasi A.
Perkembangan presepsi dan harapan, bayi berusia 3 – 4 bulan, meskipun bayi belum mampu berbicara mengenai manipulasi atau mengamati dengan resolusi tinggi terhadap objek tertentu, mereka mengharapkan objek itu permanen dan padat ( sidstansial ), akan tetapi mereka belum mengharapkan objek tersebut menaati hukum grafitasi dan tetap ada dari pandangan mereka meskipun tersembunyi ( permanen )
2. Pembelajaran, Mengingat, dan Konseptualisasi
a) Pengkondisian
Pengkondisian operant Skinner bahwa konsekuaensi terhadap prilaku akan menghasilkan perubahan probabilitas kemunculan perilaku tersebut.
Contoh : bayi akan menghisap dot lebih cepat apabila perilaku menghisap tersebut diikuti tayangan visual, musik, atau suara manusia.
b) Atensi
Atensi merupakan usaha memfokuskan sumber-sumber daya mental untuk menseleksi informasi, akan meningkatkan pemrosesan kognitif terhada berbagai tugas.
Habituasi, yakni menurunnya responsivitas terhadap sebuah stimulus setelah disajikan berulang kali.
Contoh : perilaku menghisap, menghisap akan berhenti apabila bayi memperhatikan objek baru
Dishabituasi, yakni meningkatnya responsivitas setelah stimulus diubah. Dishabituasi menentukan apakah bayi dapat melihat, mendengar mencium, merasa, dan menyentuh.
Atensi bersama, yaitu lebih dari satu individu berfokus pada obejek atau peristiwa yang sama. Atensi bersama mengisyaratkan kemampuan tracking terhadap orang lain ( misalnya mengikuti arah pandang orang lain), mengarahkan atensi orang lain, dan interaksi resiprokal.
c) Memori
Memori merupakan karekteristik inti dari perkembangan kognitif, mangandung semua peritiwa yang diingat oleh individu seiring berjalannya waktu.
Memori Implisit, memori yang tidak disertai ingatan sadar, memori mengenai keterampilan dan prosedur rutin yang dilaksanakan secara otomatis.
Memori eksplisit, merujuk pada fakta dan pengalaman yang diketahui secara sadar dan mampu dinyatakan oleh individu.
Bayi 6 bulan Bayi 6-12 bulan 20 bulan
Kemampuan meniru memiliki dasar biologis karena bayi dapat menirukan ekspresi wajah pada beberapa hari pertama setelah lahir. Akan tetapi, bayi tidak begitu saja meniru semua yang dilihatnya dan seringkali menunjukkan kesalahan kreatif. Meltzof ( 2007) berargumen, sejak saat lahir terdapat interaksi antara pembelajaran melalui observasi dan tindakan. Juga terdapat
peniruan tertunda, yaitu peniruan yang terjadi setelah jeda waktu berjam-jam atau berhari-hari. Peniruan tertunda dapat terjadi saat berusia 9-14 bulan.
e) Pembentukan konsep dan kategorisasi
Kategori merupakan pengelompokan objek, peristiwa, dan karakteristik berdasarkan sifat umum. Sedangkan konsep merupakan gagasan mengenai hal-hal yang disajikan oleh kategori atau kumpulan segala sesuatu yang dianggap sebagai anggota kategori.
Usia
Deskripsi
3 bulan Mengelompokkan objek yang mirip 7-9 bulan Mengenali perseptual kategori
9-11 bulan Dapat mengklasifikasi burung sebagai hewan, dan pesawat sebagai kendaraan
18-24 bulan Mempunyai minat yang kuat
3. Perbedaan Individual dan Pengukuran
a) Ukuran perkembangan bayi
Developmental Question ( DQ ) : skor keseluruhan yang mengkombinasikan subskor-subskor dalam bidang motorik, bahasa, adaptif, dan personal sosial dalam pengukuran bayi gesell.
Kategori tes Gesell : motorik, bahasa, adaptif, dan personal sosial
Bayley Scales of Infant development : skala yang dikembangkan oleh Bayley, mengukur prilaku bayi dan perkembangan selanjutnya.
Kategori Baylay III : kognitif, bahasa, motorik, adaptif, sosioemosi.
b) Memprediksi Intelegensi
Memprediksi intelegensi bisa melalui tes IQ melalui habituasi dan dishabituasi
4. Perkembangan Bahasa
a) Mendefinisikan bahasa
Bahasa merupakan suatu bentuk komunikasi, baik yang diucapkan, ditulis, atau diisyaratkan, yang berdasarkan pada sebuah sistem simbol.
terhigga ( infinite generativity ) kemampuan menghasilkan kalimat bermakna dalam jumlah yang tak terbatas.
b) Sistem-sistem aturan bahasa
Fenologi, adalah studi mengenai sistem bunyi bahasa, mengenai bunyi-bunyi yang biasa digunakan dan kombinasinya. Fonem adalah satuan bunyi dasar dalam bahasa, merupakan satuan bunyi terkecil dari bunyi bahasa yang mempengaruhi makna.
Contoh : pot dan spot
Morfologi merujuk pada pembentukan kata. Morfem adalah unit makna terkecil, kata/ sebagian dari kata yang tidak dapat diurai lagimenjadi bagian yang lebih kecil dan bermakna. Contoh : tolong
Sintaksis mencakup bagaimana kata-kata dikombinasikan membentuk ungkapan dan kalimat masuk akal. Contoh: Ana memukul Ani.
Semantik merujuk pada makna kata atau kaliamat. Contoh, perempuan dan wanita memiliki gambaran yang sama, namun secara semantik kedua kata berbeda pada usia.
Pragmatik penggunaan kata sesuai konteks berbeda. Contoh : penggunaan bahasa sesuai situasi misalnya formal, non formal, dengan sebaya atau lebih tua.
c) Bagaimana bahasa berkembang
Aspek-aspek yang termasuk tonggak bersejarah dalam perkembangan bahasa bayi adalah :
Lahir menangis
1 - 2 bulan mendekut
6 bulan berceloteh
7- 11 bulan :melakukan transisi dari bahasa universal menjadi bahasa – pendengar spesifik
8 – 12 bulan menggunakan bahasa tubuh, pemahaman kata-kata
13 bulan kata pertama yang diucapkan
18 bulan vocabulary spurt
18 – 24 bulan perluasan pemahaman kata-kata yang berlangsung cepat dan ungkapan dua kata
d) Pengaruh faktor biologis dan lingkungan
Terdapat dua daerah yang terlibat dalam kata-kata, yaitu daerah Broca, yaitu daerah di lobus frontal kiri yang terlibat dalam pemrosesan kata-kata dan daerah Wernicke, yaitu daerah hemisfer kiri yang terlibat dalam pemahaman kata-kata. Kerusakan di salah satu daerah ini akan mengakibatkan aphasia, yaitu kehilangan atau kerusakan dalam kemampuan berbahasa. Apabila kerusakan terjadi di daerah Broca, maka akan mengakibatkan kesulitan menghsilkan kata-kata secara tepat, sedangkan bila kerusakan terjadi di daerah Wernicke, maka akan mengakibat memiliki pemahaman yang buruk dan sering kali menghasilkan pembicaraan yang lancar tapi tidak dipahami.
Chomsky ( 1957 ) mengatakan, anak-anak terlahir ke dunia dengan alat penguasaan bahasa ( language acquisition decice – LAD ), yaitu suatu perlengkapan biologis yang memungkinkan anak untuk mendeteksi ciri dan ketentuan bahasa yang mencakup fenologi, sintaksis, dan semantik.
Pengaruh lingkungan terlihat dari adanya perbedaan dalam perkembangan bahasa anak akibat perbedaan lingkungan bahasa rumah antar anak satu dan lainnya. Orang tua sebaiknya berbicara sevara ekstensif dengan bayi, khususnya mengenai hal-hal yang menarik perhatian sang bayi.
e) Pandangan ahli interaksi
SUMBER
Hurlock, E. 1990. Developmental Psychology, A life – Span Approach. Jakarta : Erlangga