• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Bangsa Inggris Masuk ke Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tujuan Bangsa Inggris Masuk ke Indonesia"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Tujuan Bangsa Inggris Masuk ke Indonesia

A.Latar Belakang bangsa Inggris masuk ke Indonesia

Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat serta pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Dari situlah maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.

(2)

berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Berdasarkan perjanjian London tahun 1815, Inggris diharuskan mengembalikan kekuasaannya di Indonesia kepada Belanda. Dan pada tahun 1816 Inggris melaksanakan kewajibannya itu.

B.Sebab dan Tujuan Kedatangan Bangsa Inggris

Hindia Timur atau Indonesia telah lama dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti vanili, lada, dan cengkeh. Rempah-rempah ini digunakan untuk mengawet makanan, bumbu masakan, bahkan obat. Karena kegunaannya, rempah-rempah ini sangat laku di pasaran dan harganya pun mahal. Hal ini mendorong para pedagang Asia Barat datang dan memonopoli perdagangan rempah-rempah. Mereka membeli bahan-bahan ini dari para petani di Indonesia dan menjualnya kepada para pedagang Eropa. Namun, jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke Turki Utsmani mengakibatkan pasokan rempah-rempah ke wilayah Eropa terputus. Hal ini dikarenakan boikot yang dilakukan oleh Turki Utsmani.

Situasi ini mendorong orang-orang Eropa menjelajahi jalur pelayaran ke wilayah yang banyak memiliki bahan rempah-rempah, termasuk kepulauan Nusantara (Indonesia) dalam perkembangannya, mereka tidak saja berdagang, tetapi juga menguasai sumber rempah-rempah di negara penghasil. Dimulailah era kolonialisasi Barat di Asia . pada bab ini akan diuraikan tentang kedatangan bangsa Eropa hingga terbentuknya kekuasaan kolonial Barat di Indonesia. Secara umum, kedatangan bangsa Eropa ke Asia termasuk ke Indonesia dilandasi keinginan mereka untuk berdagang, menyalurkan jiwa penjelajah, dan menyebarkan agama. Adapun sebab dan tujuan bangsa Eropa ke dunia Timur adalah sebagai berikut :

 Mencari kekayaan termasuk berdagang

 Menyalurkan jiwa penjelajah

 Meyakini Keberadaan Prester John

(3)

 Mencari kemuliaan bangsa

Sejak abad ke -13, rempah-rempah memang merupakan bahan dagang yang sangat menguntungkan. Hal ini mendorong orang-orang Eropa berusaha mencari harta kekayaan ini sekalipun menjelajah semudera. Keinginan ini diperkuat dengan adanya jiwa penjelajah. Bangsa Eropa dikenal sebagai bangsa penjelajah, terutama untuk menemukan daerah-daerah baru. Mereka berlomba-lomba meninggalkan Eropa. Mereka yakin bahwa jika berlayar ke satu arah, maka mereka akan kembali ke tempat semula. Selain itu, orang-orang Eropa terutama Protugis dan Spanyol yakin bahwa di luar Eropa ada Prestor John (kerajaan dan penduduknya beragama Kristen). Oleh karena itu, mereka berani berlayar jauh. Mereka yakin akan bertemu dengan orang-orang seagama.

Di luar faktor yang disebutkan di atas, orang-orang Eropa yang sebagian besar beragama Kristen terdorong pula untuk pergi ke mana pun guna mewartakan Injil atau dalam hal ini Keinginan bangsa eropa menyebarkan agama Nasrani (Gospel). Mereka percaya bahwa mewartakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan adalah salah satu panggilan hidupnya. Selain menyebarkan Injil, mereka juga berusaha mencari kekayaan (gold) dan kebanggaan serta kejayaan (glory) bagi negaranya. Pada awalnya, tujuan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia hanya untuk membeli rempah-rempah dari para petani Indonesia. Namun, dengan semakin meningkatnya kebutuhan industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian mengklaim daerah-daerah yang mereka kunjungi sebagai daerah kekuasaannya.

(4)

Penguasaan sering dilakukan terhadap para penguasa setempat melalui suatu perjanjian yang umumnya menguntungkan bangsa Eropa. Selain itu, mereka selalu turut campur dalam urusan politik suatu daerah. Bangsa Eropa tidak jarang mengadu domba berbagai kelompok masyarakat dan kemudian mendukung salah satunya. Dengan cara seperti ini, mereka dengan mudah dapat mempengaruhi penguasa untuk memberikan hak-hak istimewa dalam berdagang.

C.Kedatangan bangsa Inggris ke Indonesia

Seperti tercatat dalam sejarah, Indonesia pernah berada dalam jajahan Inggris. Inggris secara resmi menjajah Indonesia lewat perjanjian Tuntang (1811) dimana perjanjian Tuntang memuat tentang kekuasaan belanda atas Indonesia diserahkan oleh Janssens (gubernur Jenderal Hindia Belanda) kepada Inggris Namun, sebelum perjanjian Tuntang ini, sebenarnya Inggris telah datang ke Indonesia jauh sebelumnya. Perhatian terhadap Indonesia dimulai sewaktu penjelajah F. Drake singgah di Ternate pada tahun 1579. Selanjutnya ekspedisi lainnya dikirim pada akhir abad ke-16 melalui kongsi dagang yang diberi nama East Indies Company (EIC). EIC mengemban misi untuk hubungan dagang dengan Indonesia. Pada tahun 1602, armada Inggris sampai di Banten dan berhasil mendirikan Loji disana. Pada tahun 1904, Inggris mengadakan perdagangan dengan Ambon dan Banda, tahun 1909 mendirikan pos di Sukadana Kalimantan, tahun 1613 berdagang dengan Makassar (kerajaan Gowa), dan pada tahun 1614 mendirikan loji di Batavia (jakarta).

(5)

tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam sampai memperoleh kesuksesan. Inggris kembali memperoleh kekuasaan di Indonesia melalui keberhasilannya memenangkan perjanjian Tuntang pada tahun 1811. Selama lima tahun (1811 – 1816), Inggris memegang kendali pemerintahan dan kekuasaanya di Indonesia. Sejak saat itu kedatangan Inggris ke Indonesia dirintis oleh Francis Drake dan Thomas CavendishDengan mengikuti jalur yang dilalui Magellan, pada tahun 1579 Francis Drake berlayar ke Indonesia.

Armadanya berhasil membawa rempah-rempah dari Ternate dan kembali ke Inggris lewat Samudera Hindia. Perjalanan beriktunya dilakukan pada tahun 1586 oleh Thomas Cavendish melewati jalur yang sama. Pengalaman kedua pelaut tersebut mendorong Ratu Elizabeth I meningkatkan pelayaran internasioalnya. Hal ini dilakukan dalam rangka menggalakan ekspor wol, menyaingi perdagangan Spanyol, dan mencari rempah-rempah. Ratu Elizabeth I kemudian memberi hak istimewa kepada EIC (East Indian Company) untuk mengurus perdagangan dengan Asia. EIC kemudian mengirim armadanya ke Indonesia. Armada EIC yang dipimpin James Lancestor berhasil melewati jalan Portugis (lewat Afrika). Namun, mereka gagal mencapai Indonesia karena diserang Portugis dan bajak laut Melayu di selat Malaka. Awal abad ke 17, Inggris telah memiliki jajahan di India dan terus berusaha mengembangkan pengaruhnya di Asia Tenggara, kahususnya di Indonesia.

(6)

perdagangan seperti Madras, Kalkuta, dan Bombay.

baca juga tujuan bangsa inggris masuk ke indonesia (2)

http://umieee008.blogspot.com/2013/11/tujuan-bangsa-inggris-masuk-ke.html

Tujuan Bangsa Inggris Masuk ke Indonesia (2)

D. Perkembangan Sosial, Politik&Ekonomi sebagai dampak kedatangan Inggris ke Indonesia

 Dampak di Bidang Sosial

a. Penggolongan Sosial

Penggolongan Sosial merupakan pembedaan anggota masyarakat, golongan secara horizontal atas dasar perbedaan ras, jenis kelamin, agama, profesi, dsb. Pada masa kolonial penggolongan masyarakat didasarkan pada perbedaan ras. Golongan Eropa Terdiri dari orang Belanda, Inggris, Amerika, Belgia, Swiss, dan Perancis. Golongan Eropa merupakan golongan pendatang yang sangat minoritas. Mereka memiliki kekuasaan yang besar di Indonesia. Status sosial mereka lebih tinggi dibandingkan dengan golongan-golongan lain yang ada. Mereka adalah para pemilik modal yang menanamkan modalnya di perusahaan perkebunan Indonesia. Perkawinan antara orang Eropa orang Indonesia disebut golongan Indo-Eropa. Golongan Asia dan Timar Asing Terdiri dari bangsa Cina, India, dan Arab. Mereka memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi dan istimewa daripada kaum pribumi. Status ekonomi merekapun tinggi sehingga membuat pemerintah Belanda memberikan banyak kemudahan bagi golongan tersebut dalam sektor perdagangan. Sebagai pedagang, mereka menguasai perdagangan eceran, tekstil, dan mesin elektronik. Perkawinan antara kaum Timur Asing dengan orang Indonesia disebut golongan Indo Timur Asing/ Peranakan golongan pribumi Golongan Pribumi merupakan kelompok mayoritas dan merupakan pemilik negeri ini, mereka merupakan penduduk asli Indonesia tetapi merupakan orang yang tertindas dan terjajah kedudukannya adalah yang paling rendah (lapisan terbawah) dan dibebankan banyak kewajiban tetapi hanya kurang diperhatikan.

(7)

Stratifikasi Sosial merupakan struktur sosial atau susunan masyarakat yang dibedakan ke dalam lapisan-lapisan secara bertingkat. Sebelum pemerintahan kolonial di Indonesia telah mengenal 4 lapisan masyarakat, yaitu:

 Golongan Raja dan keluarganya

Golongan raja memiliki pengaruh yang sangat besar dalam masyarakat pada suatu wilayah. Hal ini disebabkan karena kkedudukannya ssebagai penguasa dalam suatu wilayah. Golongan ini sangat dihormati dan disegani oleh rakyatnya. Raja memerintah secara turun-temurun.

 Golongan Elite

Golongan elite merupakan sekelompok masyarakat yang mempunyai kedudukan terkemuka di masyarakat maupun di lingkungan kerajaan. Terdiri dari golongan bangsawan, tentara, kaum keagamaan, serta golongan pedagang. Merreka memiliki kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya yang berbeda dengan masyarakat non elite. Mereka hidup seperti keluarga kerajaan yang dilengkapi dengan pegawai dan Hamba Sahaya.

 Golongan Non Elite

Golongan non Elite merupakan gologan masyarakat kebanyakan dengan jumlahnya paling besar. Mereka memiliki berbagai keahlian seperti dalam bidang pertanian, pertukangan, pedagang kecil atau kelontong sebagian besar mereka tinggal di desa. Sedangkan masyarakat non elite yang tinggal di kota adalah para seniman.

 Golongan Hamba Sahaya

Golongan Hamba Sahaya merupakan masyarakat lapisan paling bawah. Mereka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang paling berat. Mereka dapat menjadi golongan Hamba Sahaya jika mereka tidak dapat membayar hutang, tawanan perang, serta mereka yang diperoleh dengan membeli (Budak Belian). Perlakuan terhadap mereka tergantung kepada orang yang menjadi majikannya mereka dapat membebaskan diri jika majikannya memberikan kebebasan padanya. Adapun Sistem Pelapisan Sosial masa Pemerintahan Kolonial sebagai berikut:

 Golongan Penjajah dan Terjajah

(8)

oleh penjajah. Mereka yang mengalami penderitaan dan kesengsaraan akibat penindasan dan pemerasan selalu dialaminya.

 Golongan Majikan dan Buruh

Golongan majikan terdiri dari para pengusaha swasta asing (Pemilik Perusahaan). Golongan buruh terdiri dari masyarakat yang bekerja pada perusahaan-perusahaan dari perkebunan-perkebunan tersebut dalam hal ini hanya kaum pemilik modal yang memperoleh keuntungan sedangkan kaum buruh memperoleh upah yang kecil.

E. Mobilitas Sosial Penduduk dan Perubahan Demografi

Mobilitas sosial merupakan gerakan masyarakat atau perpindahan penduduk atau masyarakat dari satu daerah ke daerah lain. Mobilitas sosial yang terbesar di Indonesia terjadi karena :

 Pada masa tanam paksa orang melakukan mobilitas sosial untuk menghindari berbagai

kewajiban yang harus mereka jalani seperti kewajiban kerja paksa dan tanam paksa. Mereka berpindah ke daerah-daerah yang tidak ada kewajiban tanam paksanya.

 Pada masa tanam paksa mereka melakukan mobilitas penduduk juga untuk menghindari diri

dari bahaya kelaparan dan kekeringan yang melanda desa mereka. Sehingga mereka pergi ke daerah yang tidak terkena kekeringan.

 Berkembangnya perkebunan-perkebunan besar di Indonesia menyebabkan munculnya

tuntutan akan pemenuhan tenaga kerja.

 Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tersebut maka pemerintah melakukan mobilitas

sosial yaitu dengan mendatangkan para pekerja dari daerah ke pusat-pusat perkebunan. Contohnya sejak tahun 1870 terjadi pengiriman buruh secara besar-besaran dari Jawa ke perkebunan di Sumatra Timur. Sehingga banyak penduduk Pulau Jawa yang bekerja ke luar Jawa.

 Para pekerja Indonesia dibayar dengan harga murah sehingga para pengusaha perkebunan

bersedia mengikat mereka dengan Koeli Ordonatie (kuli kontrak) yang disertai denagn Poenale Sanctie(ancaman hukuman bagi yang tidak mau bekerja dan meninggalkan perkebunan), ini merupakan kebijakan dari pemerintah.

 Mobilitas sosial terjadi juga karena lahan-lahan pertanian di desa digunakan untuk industri

(9)

 Munculnya kota-kota baru yang mendukung berbagai aktivitas masyarakat memungkinkan berbagai sarana prasarana ada di kota tersebut sehingga masyarakat pergi kekota untuk memenuhi kebutuhan mereka. Seperti kebutuhan akan pendidikan yang hanya ada di kota.

 Banyaknya orang Indonesia yang mengenyam pendidikan pada akhirnya memunculkan

golongan cendekiawan yang bekerja pada kantor-kantor milik pemerintah yang letaknya di kota. Hal ini menyebabkan mereka meninggalkan desa untuk bekerja menjadi pejabat di kota.

Hal-hal yang mempercepat terjadinya mobilitas sosial adalah sebagai berikut.

1. Dibangunnya jaringan infrastruktur seperti jalan raya, jalan kereta api, pelabuhan, kapal, kereta apai,dsb. Semua itu ditujukan untuk menunjang kegiatan perkebunan, pengangkutan barang, serta tenaga kerja dari satu tempat ke tempat yang lain.

2. Munculnya kota-kota baru yang lahir sebagai dampak munculnya kota-kota perkebunan. Kota-kota dipesisr contohnya: Tuban, Gresik,Batavia, Surabaya, Semarang, Banten, dsb. Kota-Kota-kota di Pedalaman, seperti Bandung, Malang, Sukabumi.

3. Munculnya kebangkitan Nasional Indonesia dan lahirnya kesadaran kebangsaan dan bernegara di kalangan penduduk menimbulkan mobilitas sosial penduduk sebagai upaya untuk melakukan perlawanan menentang penjajahan.

Perubahan Demografi, merupakan perkembangan perubahan jumlah penduduk. Pola kependudukan di Indonesia mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan ekonomi di Indonesia. Pola kependudukan tersebut mengikuti pola kependudukan modern. Hal ini terliaht dengan:

 Lahirnya desa-desa dan kota-kota modern menggantikan ibu kota kerajaan sebagai pusat

aktivitas masyarakat Indonesia. Kota-kota baru yang muncul merupakan pusat pemerintahan,

 Kantor-kantor dagang, dan pusat-pusat perkebunan sedangkan, Desa merupakan daerah

pertanian yang mendukung aktivitas di daerah perkotaan. Hubungan desa dan kota pada masa Belanda merupakan hubungan yang berdasarkan kepentingan ekonomi. Pejabat pemerintahan merupakan kaki tangan Belanda dalam memperlancar urusan perdagangan.

 Masalah kependudukan selalu berkaitan dengan masalah tanah serta perubahan fungsinya.

Hal ini terlihat pada:

(10)

dipasaran Eropa. Tanah-tanah tersebut harus dikerjakan secara paksa oleh rakyat sehingga tentu saja menimbulkan penderitaan bagi rakyat.

Masa Liberalisme, tanah-tanah milik penduduk dijadikan perkebunan-perkebunan besar yang ditanami tanaman yang menguntungkan, seperti gula, tembakau. Tanah milik petani menjadi objek kapitalisme, seiring berjalannya waktu muncullah perkebunan-perkebunan swasta asing. Perkebunan tersebut kemudian dijadikan tempat/tujuan untuk bekerja dan mendapatkan upah sehingga muncul mobilitas penduduk yang akhirnya memunculkan lahirnya kota-kota baru sebagai tempat perkembangan perekonomian penduduk.

F. Kedudukan dan Peran Perempuan.

Berkembangnya pendidikan di Indonesia mampu merubah keadaan bangsa Indonesia demikian pula dengan kondisi kaum perempuan pada masa itu. Perempuan Indonesia pada zaman dulu memiliki peran:

 Hanya sebagai ibu rumah tangga, ibu untuk anak-anak mereka dan istri serta pelayan suami.

 Kaum perempuan Indonesia dibelenggu oleh aturan-aturan tradisi dan adat yang membatasi

perannya dalam kehidupan masyarakat.

 Mereka tidak boleh mengenyam pendidikan, pendidikan yang boleh mereka peroleh

terbatas pada usaha untuk persiapan menjadi ibu rumah tangga.

 Mereka hanya dapat pasrah menunggu serta menerima apa yang ditentukan oleh adat yang

didominasi oleh kaum laki-laki.

 Mereka tidak boleh menentukan jodohnya sebab jodoh telah ditentukan oleh orang tuanya.

Kedudukan perempuan zaman dulu:

 Perempuan selalu dipandang rendah, dianggap tidak berguna apa-apa.

 Kedudukannya dipandang dibawah laki-laki sehingga perempuan selalu diperlakukan

kurang sopan.

 Perempuan tidak mempunyai hak tetapi mempunyai banyak sekali kewajiban.

 Perempuan adalah kaum yang terbelakang, tidak perlu diperhitungkan.

(11)

kaum perempuan Indonesia. Karena pergaulannya ketika sekolah di E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar dan ilmu yang dia peroleh selama sekolah maka Kartini berkeinginan untuk mengangkat kedudukan kaumnya. Ia mulai mendirikan sekolah khusus perempuan di kota Jepara dan di Rembang (tempat tinggal suaminya, Raden Adipati Joyodiningrat). Kartini sendiri yang menjadi guru disekolah tersebut. Apa yang dilakukan Kartini tersebut akhirnya diikuti oleh teman-temannya yang mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Perkembangan pendidikan untuk kaum wanita semakin berkembang dengan diberlakukannya Politik Etis oleh pemerintah Belanda (1900-1922).

G. Pengaruh Westernisasi

Westernisasi (Pembaratan) merupakan proses pemasukkan pengaruh budaya Barat bagi rakyat.Masuknya pengaruh budaya Barat tersebut tentu saja berbeda dengan nilai-nilai dari kebudayan asli bangsa Indonesia. Westernisasi masuk melalui jalur pemerintahan dan pendidikan. Pengaruh Westernisasi bagi bangsa Indonesia tampak pada:

1. Penggunaan bahas Belanda dalam pergaulan sehari-hari di kalangan rakyat Indonesia. 2. Gaya berpakaian rakyat Indonesia meniru cara berpakaian model barat, tampak dengan dikenalnya rok, jas, dasi, topi,dsb.

3. Tata cara pergaulan dan lingkungan pergaulan yang meniru cara barat dimana telah lebih terbuka dan bebas.

4. Sistem jabatan dan kepangkatan, dimana orang Indonesia mulai menduduki jabatan tertentu dan menyandang pangkat tertentu.

5. Adanya Pendidikan model Eropa/Barat menjadi prioritas utama bagi rakyat Indonesia yang ingin mengenyam pendidikan.

6. Model bangunan dan arsitektur serta sarana penunjang kehidupan meniru model Eropa sehingga lebih modern bahkan tata kotapun meniru model barat.

Pengaruh Westernisasi sangat terlihat bagi kalangan bangsawan dan birokrat kolonial, sedangkan bagi sebagian besar rakyat Indonesia masih tetap menjalankan dengan cara lama (feodal-tradisional).

 Dampak di Bidang Politik

(12)

 Pemerintahan Kolonial :

Gubernur Jenderal didampingi oleh Raad van Indie (beranggota 4 orang) yang disebut sebagai Pemerintah Agung di Hindia Belanda dibantu oleh :

-Sekretaris Umum (Generale Secretarie) untuk membantu Commisaris General

-Sekretaris Pemerintah (Gouvernement Secretarie) untuk membantu Gubernur Jenderal. Pada tahun 1819 keduanya diganti oleh Algemene Secretarie yang bertugas membantu Gubernur Jenderal (terutama memberikan pertimbangan keputusan). Pemerintahan kolonial pada dasarnya sama dengan masa VOC perbedaanya terletak pada:

Kewenangan gubernur jenderal.

-VOC: tidak ada aturan khusus yang mengatur kewenangan gubernur jenderal

-Hindia Belanda :terdapat peraturan yang mengatur kewenangan gubernur jenderal yang tertuang dalam Regeering Reglement Laporan Peranggungjawaban.

VOC: Gubernur Jenderal memberikan laporan pada Heeren XVII Hindia Belanda: bertanggungjawab langsung pada raja melalui menteri jajahan. Laporan diberikan pada parlemen Belanda (Staten Generaal).

 Sistem Hukum pada Masa Kolonial

di Hindia Belanda diterapkan 2 jenis hukum, yaitu: 1. Hukum Pidana dan acara pidana

2. Hukum Perdata dan acara perdata

Hukum Pidana (Strafrecht) Seluruh penduduk Hindia Belanda mesti tunduk pada hukum pidana seperti termuat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht). Kitab Undang-undang Hukum Pidana memuat semua fakta yang dapat dikenakan pidana. Tindak Pidana mencakup kejahatan dan pelanggaran. Hukum Acara Pidana (Strafprocesrecht) Mengatur :

a. Bagaimana atau apa yang harus diperbuat polisi yang bertugas menyidik dan menerangkan kejahatan.

b. Kepala hakim mana terdakwa dihadapkan c. Bagaimana berlangsungnya acara pidana

(13)

Kitab Undang-undang Hukum Perdata memuat hukum kekayaan, harta benda dan perjanjian. Pada masa kolonial dibuat disebabkan karena kegiatan perdagangan sebagian besar dilakukan dengan perantaraan orang-orang Cina. Tujuan dibuat Kitab Undang-undang Hukum Perdata pada masa kolonial adalah untuk:

1. Mempermudah pembuatan kontrak

2. Menjamin kepastian hukum bagi perdagangan orang-orang Belanda 3. Menundudukkan orang Cina terhadap hukum Eropa.

Selain KUH Perdata terdapat pula Kitab Undang-undang Hukum Dagang (yang dibuat khusus untuk orang-orang Cina) Untuk orang Indonesia awalnya berlaku Hukum Adat setempat tetapi setelah terjadi kontak dengan Belanda melalui perkebunan-perkebunan Belanda maka dibuat Kitab Undang-undang Hukum untuk orang pribumi tanpa memperhatikan hukum adat yang berlaku di masyarakat. Tujuan di buat Undang-undang tersebut adalah:

a. Menundukkan orang-orang Indonesia kepada hukum Eropa. b. Membuat kitab Undang-undang tersendiri untuk orang Indonesia.

Untuk selanjutnya ketika pemerintah kolonial Belanda membentuk kitab undang-undang untuk orang Indonesia maka hukum adat selalu menjadi bahan pertibangan dalam mengambil sebuah keputusan. Pada perkembangannya berdiri sekolah-sekolah sebagai berikut:

-Sekolah Hakim (Rechtsschool) tahun 1908 di Jakarta

-Sekolah Tinggi Hukum (Rechtsshoge School) tahun 1924 di Jakarta. b. Sistem Peradilan pada masa Kolonial

Peradilan dibedakan antara:

 Pengadilan Gubernemen :

a. Pengadilan Eropa, dilaksanakan oleh Pengadilan Karisidenan, Dewan Yustisi, Hakim Polisi dan Pengadilan Tinggi.

b. Pengadilan Pribumi, dilaksanakan oleh Landraad (pengadilan negeri) c. Pengadilan untuk segala bangsa dilaksanakan oleh landgerecht

 Pengadilan Eropa :

(14)

c. Hakim Polisi (Politierecht) dibentuk dibeberapa tempat dan merupakan pengganti Raad van Justitie.

d. Pengadilan Tinggi (Hoogsgerechtshof ) hanya ada di Jakarta.

 Pengadilan Pribumi Pengadilan pribumi (landraad) terdapat di kota atau kota yang agak

besar, misalnya di ibu kota kabupaten.

 Pengadilan untuk semua bangsa (Landgerecht) Pengadilan ini dimaksudkan untuk

menangani perkara bangsa Eropa, pribumi maupun orang Timur Asing.

 Dampak di Bidang Ekonomi

 Komersialisme, dan Industrialisasi

Komersialisme yang terjadi di Indonesia awalnya disebabkan karena Kemerosotan VOC, kekosongan kas negara Belanda serta hutang yang sangat besar dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta Gulden. Untuk mengatasi masalah tersebut maka diberlakukanlah tanam paksa dibawah pimpinan Van den Bosh pada 1830-1870.

a. Masa Tanam Paksa

Pada masa Tanam Paksa yang dikomersilkan dari Indonesia oleh Belanda adalah : Tanah rakyat yang awalnya milik pribadi diambil dan dikuasai oleh pemerintah Belanda untuk

dijadikan sebagai lahan tanam paksa. Dimana tanah rakyat tersebut wajib ditanami tanaman yang laku dipasaran Eropa (Ekspor) yang jenisnya telah ditentukan oleh pemerintah Belanda, seperti kopi, gula, teh, tembakau, kapas, nila (indigo). Hasil dari tanam paksa tersebut diserahkan lepada pemerintah Belanda dan hanya dihargai sangat rendah sehingga segala hasil keuntungan

sepenuhnya dimiliki oleh pemerintah. Tanah rakyat yang bebas dari tanam paksa hanya 1/5 itupun rakyat masih dibebankan membayar pajak perorangan. Selain tanahnya diambil, rakyat masih harus bekerja di lahan tanam paksa tersebut dengan jangka waktu yang tidak terbatas bahkan hampir seluruh waktu digunakan untuk bekerja dilahan tanam paksa. Sehingga rakyat tidak sempat untuk mengerjakan tanahnya sendiri. Akibat dari tanam paksa tersebut:

· Tanah rakyat dieksploitasi

· Rakyat harus menanggung beban berat akibat tanam paksa.

· Selain itu rakyat masih dibebankan kerja rodi/ kerja paksa untuk pemerintah. Yang terberat adalah rodi untuk membangun dan memelihara benteng pertahanan.

(15)

Akibatnya terjadi kelaparan dimana-mana dan kematian, sehingga jumlah penduduk mengalami penurunan yang tajam. Contohnya:

tahun 1843 daerah Demak tercatat sebelum bencana ada 336.000 juta/jiwa namun setelah bencana ada sekitar 120.000 dan di daerah Grobogan pada tahun 1849-1850 sebelum bencana ada 89.500 juta/jiwa namun setelah bencana ada 9000 jiwa

· Tanam Paksa memang membawa keuntungan bagi Belanda tetapi rakyat Indonesia benar-benar tenderita. Oleh karena itu dilakukan upaya penghapusan tanam paksa diawali dengan penghapusan tanam paksa lada (1860) .Tahun 1870, secara resma tanam paksa dihapuskan di Indonesia dengan dikeluarkan Undang-undang Gula, tetapi baru pada 1917 tanam paksa kopi

dapat dihapuskan.

· Saldo untung untuk Belanda mulai mengalami penurunan Sejas tahun 1867, dan pada 1870 benar-benar lenyap. Saldo keuntungan tersebut disebabkan karena pemerintah terlalu berhemat.

b. Masa Liberalisme (1870-1900)

(16)

Tembakau. Di Deli, Sumatra Timar. Industri di Indonesia awalnya memang hanya industri perkebunan tetapi perkembangannya di Indonesia terdapat industri mesin, industri tambang, dsb. Para pengusaha Indonesia tidak mampu mengalah pengusaha swasta asing. Pelaksanaan Industrialisasi di Indonesia berkembang pesat didukung dengan:

 Dibukanya Terusan Suez (1869) yang berfungsi untuk memperpendek jarak tempuh antara

Eropa ke Indonesia.

 Di Indonesia dibangun pelabuhan, seperti Tanjung Prior (1886),dilengkapi dengan jalan

raya, jalan kereta api, jembatan, serta sarana telekomonilasi.

Dengan sarana transportasi tersebut proses industrialisasi di Indonesia berjalan semakin pesat. Selain itu dibangun saluran irigasi dan waduk-waduk.

Selama masa Industrialisasi selain perkebunan besar di Indonesia berkembang pula: Nederlandsch Handels Maatschappij (NHM) Bank Perkebunan (Cultuur Banker), Pusat perkreditan, dan Kantor pegadaian. Perkembangan tanaman perkebunan mulai mengalami kemunduran karena jatuhnya harga kopi dan gula di dunia pada 1885 dikarenakan di Eropa mulai ditanam Gula Bit. Selain itu pada 1891 harga tembakau mengalami penuruan. Krisis 1885 mengakibatkan perubahan yang cukup besar bagi kehidupan ekonomi Hindia Belanda.

H. Upaya-Upaya berakhirnya kekuasaan Inggris di Indonesia.

 Adanya Kapitulasi Tuntang

Pada tahun 1602, armada Inggris sampai di Banten dan berhasil mendirikan Loji disana. Pada tahun 1904, Inggris mengadakan perdagangan dengan Ambon dan Banda, tahun 1909 mendirikan pos di Sukadana Kalimantan, tahun 1613 berdagang dengan Makassar (kerajaan Gowa), dan pada tahun 1614 mendirikan loji di Batavia (jakarta). Dalam usaha perdagangan itu, Inggris mendapat perlawanan kuat dari Belanda. Belanda tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk mengusir orang Inggris dari Indonesia. Setelah terjadi tragedi Ambon Massacre, EIC mengundurkan diri dari Indonesia dan mengarahkan perhatiannya ke daerah lainnya di Asia tenggara, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam sampai memperoleh kesuksesan. Inggris kembali memperoleh kekuasaan di Indonesia melalui keberhasilannya memenangkan perjanjian Tuntang pada tahun 1811. Selama lima tahun (1811 – 1816), Inggris memegang kendali pemerintahan dan kekuasaanya di Indonesia yang isinya:

o Daerah jajahan belanda diserahkan kepada Inggris

(17)

o Orang-orang belanda dapat menjadi pegawai Inggris

 Jasa-jasa Raffles

Indonesia mulai tahun 1811 berada dibawah kekuasaan Inggris dan Inggris menunjuk Thomas Stanford Raffles sebagai Letnan Gubernur jenderal di Indonesia dan juga berdasarkan kapitulasi tuntang tahun 1811, inggris secara resmi menguasai Indonesia, maka gubernur jendral eic, lord minto menunjuk Stanford raffles untuk membentuk pemerintahan di Indonesia. Jasa2 raffles selama memerintah Indonesia antara lain:

 Mendukung lembaga kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang bernama bataviaasch

genootschop di harmoni

 Menulis buku the history of java

 Menemukan bunga “rafflesia arnoldi”

 Istrinya Raffles, Olivia Marianne, “merintis kebun raya bogor”

 Mengembalikan sultan sepuh menjadi sultan yogyakarta

Adapun kebijakan Raffles yang dilakukan di Indonesia antara lain:

 Jenis penyerahan wajib pajak dan rodi harus dihapuskan;

 Rakyat diberi kebebasan untuk menentukan tanaman yang ditanam;

 Tanah merupakan milik pemerintah dan petani dianggap sebagai penggarap tanah tersebut;

 Bupati diangkat sebagai pegawai pemerintah.

Akibat dari kebijakan diatas, maka penggarap tanah harus membayar pajak kepada pemerintah sebagai ganti uang sewa. Sistem tersebut disebut Lnadrent atau sewa tanah. Sistem tersebut memiliki ketentuan, antara lain:

 Petani harusmenyewa tanah meskipun dia adalah pemilik tanah tersebut;

 Harga sewa tanah tergantung kepada kondisi tanah;

 Pembayaran sewa tanah dilakukan dengan uang tunai;

 Bagi yang tidak memiliki tanah dikenakan pajak kepala.

(18)

oleh pejabat berbangsa Eropa yang semakin banyak berdatangan. Raffles berkuasa dalam waktu yang cukup singkat. Sebab sejak tahun 1816 kerajaan Belanda kembali berkuasa di Indonesia. Pada tahun 1813, terjadi prang Lipzig antar Inggris melawan Prancis. Perang itu dimenangkan oleh Inggris dan kekaisaran Napoleon di Prancis jatuh pada tahun 1814. Kekalahan Prancis itu membawa dampak pada pemerintahan di negeri Belanda yaitu dengan berakhirnya pemerintahan Louis Napoleon di negeri Belanda. Pada tahun itu juga terjadi perundingan perdamaian antara Inggris dan Belanda.

 Perjanjian London (Konvensi London)

Pada tahun 1813 terjadi koalisi antara belanda dengan inggris untuk menghadapi napoleon Bonaparte. Pada tahun 1814 antara inggris dan belanda menandatangani konvensi London yang isinya :

-inggris mengembalikan wilayah Indonesia kepada belanda -inggris berkuasa di India

Referensi

Dokumen terkait