• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proposal Skripsi Kopi Bubuk Tiga Ayam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proposal Skripsi Kopi Bubuk Tiga Ayam"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam subsector perkebunan di Indonesia karena memiliki peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagian besar produksi kopi di Indonesia merupakan komoditas perkebunan yang dijual ke pasar dunia. Menurut International Coffee Organization (ICO) konsumsi kopi meningkat dari tahun ke tahun sehingga peningkatan produksi kopi di Indonesia memiliki peluang besar untuk mengekspor kopi ke negara-negara pengonsumsi kopi utama dunia seperti UniEropa, Amerika Serikat dan Jepang. Biji kopi Indonesia juga dipasok ke gerai-gerai penjual kopi (coffee shop) seperti Starbucks dan Quick Check yang berlokasi di Indonesia maupun yang berada di luar negeri.

(2)

Tabel. 1 Volume Ekspor Kopi Dunia

Negara

Volume Ekspor per 1000 bags

2009 2010 2011 2012 2013 2014

Brazil 39 470 48 095 43 484 50 826 49 152 45 342 Vietnam 17 825 20 000 26 500 25 000 27 500 27 500 Colombia 8 098 8 523 7 652 9 927 12 124 12 500 Indonesia

11

380 9 129 7 288 13 048

11

667 9 000

Ethiopia 6 931 7 500 6 798 6 233 6 527 6 625

India 4 806 4 728 4 921 4 977 5 075 5 746

Sumber : International Coffee Organization, 2014

Provinsi Sumatra Selatan termasuk Jambi dan Lampung merupakan provinsi sentra produksi kopi besar yang berkontribusi masing-masing sebesar 22,32 % dan 21,65% terhadap total produksi kopi di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan semakin kuatnya dukungan pemerintah terhadap perkebunan kopi rakyat dan semakin luasnya pangssa pasar kopi.

(3)

1.2. Perumusan Masalah

PD. Kopi Bubuk Tiga Ayam ingin mengembangkan usahanya dengan rencana membeli beberapa aset untuk kelancaran usaha di masa yang akan datang. Namun perusahaan belum mengetahui apakah dengan direalisasikannya rencana tersebut kondisi perusahaan semakin baik atau bahkan sebaliknya. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan bagi perusahaan seperti harga kopi yang berfluktuatif, kopi yang bersifat musiman, persaingan, permintaan kopi dan faktor lainnya yang cukup berpengaruh terhadap perusahaan. Sehingga perusahaan harus mengkaji kembali kondisi perusahaan saat ini dan mengetahui proyeksi usaha ke depan dalam mengambil keputusan yang paling tepat. Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana kinerja keuangan perusahaan, apakah mampu mendukung 2. Perencanaan srategi yang akan dilakukan?

3. Apakah proyek pengembangan usaha layak untuk dilaksanakan dilihat dari aspek-aspek kelayakan usaha?

4. Bagaimana tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan perusahaan terhadap perubahan harga, penurunan kapasitas penjualan dan biaya produksi?

5. Apakah kinerja perusahaan akan menjadi lebih baik apabila rencana pengembangan usaha direalisasikan?

6. Keputusan seperti apa yang tepat bagi PD. Kopi Bubuk Tiga Ayam, apakah menjalankan proyek pengembangan atau tidak?

1.3.Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, penelitian ini betujuan untuk:

1. Menganalisis apakah kinerja keuangan perusahaan mampu mendukung perencanaan srategi yang akan dilakukan.

(4)

3. Menganalisis tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan perusahaan terhadap perubahan harga, penurunan kapasitas penjualan dan biaya produksi.

4. Untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan akan menjadi lebih baik apabila rencana pengembangan usaha direalisasikan.

5. Mengetahui keputusan seperti apa yang tepat bagi PD. Kopi Bubuk Tiga Ayam, apakah menjalankan proyek pengembangan atau tidak.

1.4.Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi perusahaan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi pengembangan usaha. Membantu perusahaan mengkaji apakah dengan mengakuisisi aset serta penambahan sarana dan prasarana efektif dalam keberlangsungan bisnisnya. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu memberi masukan bagi perusahaan dalam meningkatkan keunggulan kompetitif dibandingkan dengan pesaingnya.

2. Bagi Pengembangan Ilmu

Sebagai referensi dan tambahan informasi untuk penelitian selanjutnya sehingga dapat memperbaiki keterbatasan dalam penelitian ini

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

(5)
(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kopi Arabika (Coffea arabica)

Tumbuhan kopi (Coffea Sp.) termasuk familia Rubiaceae yang dikenal mempunyai sekitar 500 jenis dengan tidak kurang dari 600 species. Genus Coffea merupakan salah satu genus penting dengan beberapa species yang mempunyai nilai ekonomi dan dikembangkan secara komersial, terutama: Coffea Arabica (dengan hibridanya), Coffea Liberica dan Coffea Canephora (diantaranya varietas robusta). Kopi Arabika merupakan jenis tertua yang dikenal dan dibudidayakan dunia dengan varietas-varietasnya: Maragocipe, Amarella, Bourbon, Murta, San Raon, Mocca dan Nacional. Di Indonesia Beberapa varietas kopi yang termasuk kopi arabika dan banyak diusahakan antara lain Abesinia, Pasumah, Marago type dan Congensis. Masing-masing varietas tersebut mempunyai sifat yang agak berbeda dengan yang lainnya (Siswoputranto, 1993).

Kopi Arabika menghendaki iklim subtropik dengan bulan-bulan kering untuk pembungaannya. Di Indonesia tanaman kopi Arabika cocok dikembangkan di daerah-daerah dengan ketinggian antara 800-1500m di atas permukaan laut dan dengan suhu rata-rata 15-24ºC. Pada suhu 25ºC kegiatan fotosintesis tumbuhannya akan menurun dan akan berpengaruh langsung pada hasil kebun.

Mengingat belum banyak jenis kopi Arabika yang tahan akan penyakit karat daun, dianjurkan penanaman kopi Arabika tidak di daerah-daerah di bawah ketinggian 800 m dpl.

(7)

mm/th dan toleran terhadap curah hujan yang tinggi. Masa bulan kering pendek dan maksimum 4 bulan. Jenis keasaman tanah yang dibutuhkan dengan pH 5,2-6,2 dengan kesuburan tanah yang baik. Kapasitas panambatan air juga tinggi, pengatusan tanah baik dan kedalaman tanah yang cukup. Untuk budidaya kopi dianjurkan memilih kawasan yang memenuhi persyaratan tersebut. Biji kopi Arabika berukuran cukup besar, dengan bobot 18-22 gr tiap 100 biji. Warna biji agak coklat dan biji yang terolah dengan baik akan mengandung warna agak kebiruan dan kehijauan. Yang bermutu baik dengan rasa khas kopi arabika yang kuat dan rasa sedikit asam, kandungan kafein: 1-1,3%. Kopi arabika yang terkenal dari Indonesia: kopi Arabika asal Toraja dan asal Takengon (Aceh) yang memperoleh citra mutu prima dan dengan demikian memperoleh harga yang cukup baik di pasaran dunia. Kopi arabika memang dikenal terlebih dahulu oleh konsumen di banyak negara, sehingga kelezatan kopi Arabika lebih dikenal superior dibandingkan dengan kopi robusta.

2.1.1. Proses Produksi Kopi

Kopi adalah hasil perkebunan. Panenan pertama kira-kira pada umur 3 sampai 4 tahun dan dibutuhkan 2 tahun lagi sebelum produksinya sampai batas normal. Produksinya mulai menurun pada umur 13 tahun tetapi dengan pengolahan yang baik penurunan produksi ini tidak terlalu cepat. Pohon mempunyai umur ekonomis sampai 50 tahun. Meskipun demikian di kebanyakan negara manajemen persediaan kopi jelek dan pohon harus diganti sesudah 20 sampai 30 tahun (Spillane, 1990).

(8)

Walaupun kopi cukup mudah dihasilkan namun kopi juga mudah kena penyakit dan diganggu oleh serangga. Para peneliti sudah membuat daftar dari 350 organisme yang merusak kopi dan hampir 1000 jenis serangga yang dapat menyebabkan kesulitan dalam perawatan tanaman kopi (Spillane, 1990). Ada dua hal yang mengganggu para petani kopi yaitu coffee rust (karat kopi) yang secara teknis terkenal sebagai Hemileia vastatrix adalah suatu fungus yang merusakkan daun dari pohon kopi. Yang kedua adalah coffee borer yang secara teknis disebut Stephanoderes coffea yang lebih dikenal dengan broca (kumbang) yang masuk dalam biji kopi dan memakan biji tersebut sehingga tidak dapat diolah lagi.

Mutu kopi yang dihasilkan umumnya juga dipengaruhi oleh keadaan-keadaan khusus dari masing-masing daerah: ketinggian dan iklim suatu daerah, keadaan tanah, pemeliharaan tanamannya, pemetikan buah dan pengolahannya. Ini semua dapat membuat kopi yang dihasilkan daerah-daerah dan negara-negara tertentu memiliki keistimewaan-keistimewaan tertentu.

2.1.2. Standar Mutu Biji Kopi

(9)

kopi yang baik sangatlah penting agar sesuai dengan standard yang diharapkan di pasar kopi dalam negeri maupun pasar Internasional. Selain itu, mutu sangat penting guna menjamin hasil kopi dapat terjual dengan harga yang baik. Standar mutu diperlukan sebagai tolak ukur dalam pengawasan mutu dan merupakan perangkat pemasaran dalam menghadapi klaim dari konsumen dan dalam memberikan umpan balik ke bagian pabrik dan bagian kebun. Standar ini harus dipenuhi agar kopi yang telah diolah oleh pabrik dapat diterima oleh konsumen dan sebagai tolak ukur apakah sudah memenuhi kriteria yang telah ditentukan atau belum. Standar nasional Indonesia biji kopi menurut SNI No 01-2907-1999 adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Spesifkasi Persyaratan Mutu Biji Kopi

No Jenis Uji Satuan Persyaratan 1 Kadar air (b/b) % Masksimum 12 2 Kadar kotoran berupa ranting, batu, tanah dan

benda-benda asing lainnya

% Maksimum 0.5

3 Serangga hidup - bebas 4 Biji berbau busuk dan berbau kapang - bebas 5 Biji ukuran besar, tidak lolos ayakan lubang

bulat ukuran diameter 7.5 mm (b/b)

% Maksimum lulus 2.5

6 Biji ukuran sedang lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 7.5 mm, tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 6.5 mm (b/b)

% Maksimum lulus 2.5

7 Biji ukuran kecil, lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 6.5 mm, tidak lolos ayakan lubang bulat ukuran diameter 5,5 mm (b/b)

% Maksimum lulus 2.5

Sumber: Star Farm, 2014

Jenis Mutu Biji:

(10)

Mutu 2 jumlah nilai cacat 12 sampai dengan 25

Mutu 3 jumlah nilai cacat 26 sampai dengan 44

Mutu 4A jumlah nilai cacat 45 sampai dengan 60

Mutu 4B jumlah nilai cacat 61 sampai dengan 80

Mutu 5 jumlah nilai cacat 81 sampai dengan 150

Mutu 6 jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225

Jenis mutu biji kopi ini menjadi tolak ukur dalam penentuan harga kopi, semakin sedikit jumlah biji kopi yang cacat maka harganya pun semakin tinggi dan sebaliknya semakin banyak cacat kopi maka harganya semakin rendah. Mutu kopi yang masuk ke kelas mutu satu dan mutu dua cenderung diekspor ke luar negeri.

.2. Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan gambaran dari suatu perusahaan pada waktu tertentu (biasanya ditunjukkan dalam periode atau siklus akuntansi), yang menunjukkan kondisi keuangan yang telah dicapai suatu perusahaan dalam periode tertentu. Laporan keuangan perusahaan menggambarkan hasil dari suatu proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk komunikasi dan juga digunakan sebagai alat pengukur kinerja perusahaan Fess (2006).

2.2.1. Neraca

(11)

menunjukkan bagaimana sumber daya tersebut dibiayai. Fess (2006) mengemukakan bahwa bagian aktiva dalam neraca biasanya disusun berdasarkan urutan cepat lambatnya aktiva tersebut dikonversikan menjadi kas atau digunakan dalam operasi. Pada bagian kewajiban, utang usaha merupakan satu-satunya kewajiban. Jika terdapat satu atau lebih jenis kewajiban, maka setiap kewajiban harus disajikan.

2.2.2. Laporan Laba/Rugi

Menurut Brigham & Houston (2001) laporan laba/rugi yang mengikhtisarkan pendapatan dan beban perusahaan selama periode akuntansi tertentu, yang umumnya setiap kuartal atau satu tahun. Bila neraca dianggap sebagai potret dari posisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu, maka laporan laba/rugi melaporkan operasi perusahaan selama suatu periode waktu.

Laporan laba/rugi melaporkan pendapatan dan beban selama periode waktu tertentu berdasarkan konsep penandingan atau pengaitan (matching concept). Konsep ini diterapkan dengan membandingkan atau mengaitkan beban dengan pendapatan yang dihasilkan selama periode terjadinya beban tersebut.

Laporan laba/rugi juga melaporkan kelebihan pendapatan terhadap beban-beban yang terjadi. Kelebihan ini disebut laba bersih atau keuntungan bersih (net income atau net profit). Jika beban melebihi pendapatan maka disebut rugi bersih (Fess WR , 2006).

(12)

2.2.3. Laporan Arus Kas

Laporan arus kas adalah laporan yang menjelaskan dampak aktivitas operasi, investasi dan pembiayaan perusahaan terhadap arus kas selama satu periode akuntansi (Brigham & Houston, 2001). Laporan arus berisi informasi aliran kas masuk dan aliran kas keluar dari suatu perusahaan selama periode tertentu. Informasi ini penyajiannya diklasifikasikan menurut jenis kegiatan yang menyebabkan terjadinya arus kas masuk dan kas keluar tersebut. Kegiatan perusahaan umumnya terdiri dari tiga jenis yaitu, kegiatan operasional, kegiatan investasi serta kegiatan keuangan/pembiayaan.

Kegiatan operasional untuk perusahaan dagang terdiri dari membeli barang dagangan, menjual barang dagangan tersebut serta kegiatan lain yang terkait dengan pembelian dan penjualan barang. Kegiatan ini akan mengakibatkan terjadinya uang masuk untuk pendapatan dan aliran uang keluar untuk biaya. Baik pendapatan dan biaya yang terjadi telah dilaporkan dalam laporan laba rugi, namun besarnya pendapatan tersebut belum tentu sama dengan uang yang diterima karena perusahaan umumnya menggunakan dasar akrual untuk mengakui pendapatan. Demikian halnya dengan biaya, biaya yang dilaporkan laba rugi belum tentu sama dengan arus keluar untuk biaya tersebut.

(13)

2.3 Kinerja Keuangan

Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Dari sudut pandang investor analisis laporan keuangan digunakan untuk memprediksi masa depan, sedangkan dari sudut pandang manajemen analisis laporan keuangan digunakan untuk membantu mengantisipasi kondisi di masa depan yang lebih penting sebagai titik awal untuk perencanaan tindakan yang akan mempengaruhi peristiwa di masa depan (Brigham & Houston, 2001). Hal ini sangat penting agar sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan. Penilaian kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya terhadap para penyandang dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Menurut Keown et al. (2004) Rasio keuangan membantu kita untuk mengidentifikasikan beberapa kelemahan dan kekuatan keuangan perusahaan. Rasio tersebut memberikan dua cara bagaimana membuat perbandingan dan data keuangan perusahaan yang berarti:

 Meneliti rasio antar-waktu untuk meneliti arah pergerakannya.  Membandingkan rasio perusahaan dengan rasio perusahaan lainnya.

2.3.1 Likuiditas

(14)

Likuiditas yaitu kemampuan perusahaan untuk memperoleh kewajibankeuangannya yang harus segera dipenuhi atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat ditagih. Analisis likuiditas yang lengkap membutuhkan penggunaan anggaran kas, tetapi dengan menghubungkan jumlah kas dan aktiva lancar lainnya terhadap kewajiban lancar, analisis rasio memberikan pengukuran likuiditas yang cepat dan mudah.

2.3.2 Solvabilitas

Leverage keuangan yaitu penggunaan pembiayaan dengan hutang. Solvabilitas memiliki tiga implikasi penting: (1) Memperoleh dana melalui utang membuat pemegang saham dapat mempertahankan pengendalian atas perusahaan dengan investasi yang terbatas. (2) Kreditur melihat ekuitas atau dana yang disetor pemilik untuk memberikan margin pengaman, sehingga jika pemegang saham hanya memberikan sebagian kecil dari total pembiayaan, maka resiko perusahaan sebagian besar ada pada kreditur. (3) Jika perusahaan memperoleh pengembalian yang lebih besar atas investasi yang dibiayai dengan dana pinjaman disbanding pembayaran bunga maka pengembalian atas modal pemilik akan lebih besar atau “leveraged” (Brigham & Houston, 2001).

2.3.3 Profitabilitas

Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Menurut Brigham & Houston (2001) profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkain kebijakan dan keputusan. Rasio profitabilitas menunjukkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang terhadap hasil operasi.

2.3.4 Rasio Manajemen Aktiva

(15)

akibatnya laba akan menurun. Di sisi lain, jika aktiva terlalu rendah, maka penjualan yang menguntungkan akan hilang.

2.4 Studi Kelayakan

Menurut Umar (2005) studi kelayakan merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima atau menolak suatu gagasan usaha yang direncanakan. Pengertian layak dalam penilaian ini adalah kemungkinan dari gagasan suatu usaha yang akan dilaksanakan memberikan manfaat (benefit), baik dalam arti financial benefit maupun dalam arti social benefit. Layaknya suatu gagasan usaha dalam arti social benefit tidak selalu menggambarkan layak dalam financial benefit, hal ini tergantung dari segi penilaian yang dilakukan.

2.4.1 Aspek Pasar dan Pemasaran

Pasar merupakan suatu sekelompok orang yang diorganisasikan untuk melakukan tawar-menawar, sehinggga demikian terbentuk harga. Pemasaran adalah kegiatan perusahaan yang bertujuan menjual barang/jasa yang diproduksi perusahaan ke pasar (Umar, 2005). Analisis kelayakan dari aspek ini yang utama adalah:

 Penentuan segmen, target dan posisi produk pada pasarnya.

 Kajian untuk mengetahui konsumen potensial, seperti perihal sikap, perilaku serta kepuasan mereka atas produk.

 Menentukan srategi, kebijakan, dan program pemasaran yang akan dilaksanakan.

2.4.2 Aspek Teknis dan Teknologi

(16)

mengenai kapasitas produksi, jenis teknologi yang dipakai, pemakaian peralatan dan mesin, lokasi pabrik, dan tata letak pabrik yang paling menguntungkan. Dari kajian teknologi, perlu dipahami bahwa perkembangan teknologi adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Hendaknya antisipasi perkembangan teknologi perlu dikaji agar teknologi yang akan digunakan nantinya dapat meningkatkan efektivitas, efisiensi dan ekonomi, sehingga akhirnya produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar.

2.4.3 Aspek Finansial

Dari sisi keuangan proyek bisnis dikatakan sehat apabila dapat memberikan keuntungan yang layak dan mampu memenuhi kewajiban finansialnya (Umar, 2005). Kegiatan pada aspek keuangan (finansial) ini antara lain adalah penghitungan perkiraan jumlah dana yang diperlukan untuk keperluan modal kerja awal dan untuk pengadaan harta tetap proyek. Dan menentukan struktur pembiayaan berupa berapa dana yang harus disiapkan lewat pinjaman dari pihak lain dan berapa dana dari modal sendiri. Pembuatan hasil analisiskeuangan akan digunakan untuk mengkomunikasikan rencana keuangan denganpihak yang berkepentingan.

2.4.4 Aspek Yuridis/Legal

(17)

2.5. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan Sihaloho (2009) mengenai srategi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan. Pengolahan dan analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis dalam penelitian meliputi analisis internal dan eksternal.Alat analisis berupa Strengths, Weaknesess, Opportunities, Threats (SWOT), Quantiative Strategy Planning Matrix (QSPM), untuk merumuskan dan menetapkan prioritas strategi bagi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan. Secara umum hasilnya menunjukkan bahwa pengembangan agribisnis kopi di bawah rata-rata dalam kekuatan internalnya secara keseluruhan, hal ini ditunjukkan dengan total nilai bobot skor 2,483. Ini berarti pemerintah daerah dan masyarakat/petani secara internal (kekuatan dan kelemahan) belum baik (kuat) dalam upaya pengembangan kopi di daerah tersebut. Sementara analisis eksternal menunjukkan pemerintah daerah dan masyarakat/petani telah merespon dengan baik terhadap peluang dan ancaman yang dimiliki. Sehingga srategi pengembangan agribisnis kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan yang cocok adalah pertahanan dan pemeliharaan, yaitu terdiri dari srategi penetrasi pasar dan pengembangan produk.

(18)

Zakaria (2010) meneliti tentang studi kelayakan bisnis pengembangan usaha isi ulang minyak wangi Pada Usaha Perseorangan Boss Parfum, Bogor . Metode pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis secara kualitatif dilakukan dengan menganalisis kelayakan usaha isi ulang minyak wangi dilihat dari aspek pasar dan pemasaran , aspek teknis dan teknologis, aspek manajamen dan operasional. Metode analisis data secara kuantitatif dilakukan dengan menghitung kelayakan usaha ini dari aspek finansialnya, dengan menghitung Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net B/C, Break Even Point (BEP), Payback Period (PBP) dan analisis sensitifitas.

(19)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Pengumpulan Data

Data dan informasi dikumpulkan untuk mendapatkan suatu gambaran dan berbagai keterangan yang berkaitan dengan lingkup usaha. Data primer diperoleh dengan wawancara terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan, para petani dan pedagang pengumpul untuk mendapatkan informasi tentang harga jual, kapasitas biji kopi dan hal terkait lainnya. Data juga diperoleh melalui hasil pengamatan langsung di lapangan. Sedangkan, data sekunder berupa dokumen-dokumen tertulis diperoleh dari PD. Kopi Bubuk Tiga Ayam, lembaga-lembaga yang terkait dan juga studi pustaka.

3.2. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Metode pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan menganalisis kelayakan usaha PD. Kopi Bubuk Tiga Ayam dari aspek pasar dan pemasaran, teknik dan teknologi, yuridis/legal dan kondisi organisasi perusahaan. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung kelayakan usaha berdasarkan aspek finansialnya dan melihat kinerja keuangan perusahaan. Hasil analisis finansialnya, yaitu dengan menghitung Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net B/C, Break Even Point (BEP), Payback Period (PBP) dan analisis sensitifitas dengan menggunakan alat bantu microsoft excel 2007. Sedangkan untuk melihat kinerja keuangan perusahaan dengan menghitung likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan rasio manajemen aktiva.

3.2.1. Analisis Kinerja Keuangan

(20)

dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama, dan untuk menunjukkan apakah posisi keuangan membaik atau memburuk selama suatu waktu (Brigham & Houston 2001). Adapun rasio yang akan dihitung adalah rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan rasio manajemen aktiva.

3.2.2. Rasio Likuiditas

Rasio yang menunjukkan hubungan kas dan aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar. Dua rasio likuiditas yang sering digunakan adalah rasio lancer dan rasio cepat.

1. Rasio Lancar (Current Ratio/CR)

Rasio ini dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar.Rasio ini menunjukkan besarnya kewajiban lancar yang ditutup dengan aktiva yang diharapkan akan dikonversikan menjadi kas dalam jangka pendek. Aktiva lancar terdiri dari kas, sekuritas, piutang usaha dan persediaan. Kewajiban lancer terdiri dari utang usaha.

Rasio Lancar = Aktiva Lancar Kewajiban Lancar

2. Rasio Cepat (Quick Ratio/QR)

Rasio ini dihitung dengan mengurangkan persediaan dari aktiva lancar dan kemudian membagi hasilnya dengan kewajiban lancar. Persediaan adalah aktiva lancar yang paling tidak likuid.

Rasio Cepat = Aktiva Lancar - Persediaan Kewajiban Lancar

× 100%

(21)

Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas mencakup rasio utang dan rasio kelipatan pembayaran bunga. Rasio ini mengungkapkan seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang dan untuk melihat seberapa besar kemungkinan tidak dapat dipenuhinya utang perusahaan.

1. Rasio utang (Debt to Total Asset Ratio/DTAR)

Rasio ini mengukur persentase dana yang disediakan oleh kreditur, cara penghitungannya dengan membagi total utang terhadap total aktiva. Total utang mencakup baik utang lancar maupun utang jangka panjang.

Rasio Utang = Total Utang Total Aktiva

2. Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER)

Menunjukkan perbandingan antara utang dan ekuitas yang digunakan dalam mendanai aktiva dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.

DER = Total Utang Total Ekuitas

3.2.3. Rasio Profitabilitas

Sekelompok rasio yang memperlihatkan pengaruh gabungan dari likuiditas, manajemen aktiva dan hutang terhadap hasil operasi.

× 100%

(22)

1. Rasio Tingkat pengembalian ekuitas (Return of Equity)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan memperoleh laba atas modal yang ditanam oleh pemilik modal, dirumuskan dengan:

ROE = Laba Bersih Total Modal

2. Marjin laba usaha

Menunjukkan keefektifan manajemen dalam mengelola laporan keuangan perusahaan, yang diukur dengan membandingkan laba usaha terhadap penjualan.

Marjin laba usaha = Pendapatan usaha

Penjualan

3. Rasio Tingkat Pengembalian Investasi (Return of Investment/ROI)

Menunjukkan hasil yang dicapai dari investasi yang ditanam dalam perusahaan oleh investor. ROI digunakan sebagai peringatan dini atas tindakan yang perlu diambil agar perusahaan dapat berjalan lancar dan terus menghasilkan keuntungan.

ROI = Laba Bersih Total Aktiva

3.2.4. Rasio Manajemen Aktiva

Seperangkat rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya.

1. Perputaran Persediaan

× 100%

(23)

Rasio ini menunjukkan likuiditas relatif inventori-inventori yang diukur oleh berapa kali penggantian inventori perusahaan selama tahun tersebut.

Perputaran Persediaan = Harga pokok penjualan persediaan

2. Rasio Perputaran Aktiva tetap

Mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan aktiva tetapnya (pabrik dan peralatan).

Rasio perputaran aktiva tetap = Penjualan Aktiva tetap bersih

3. Rasio perputaran total aktiva

Mengukur perputaran semua aktiva perusahaan. Rasio yang dihitung dengan membagi penjualan dengan total aktiva.

Rasio perputaran total aktiva = Penjualan Total Aktiva

3.3. Analisis Penilaian Investasi Usaha

Terdapat empat kriteria paling umum yang digunakan untuk menilai kelayakan investasi suatu usaha, yaitu sebagai berikut (Keown, et al. 2001):

1. Net Present Value (NPV)

(24)

ACFt = arus kas tahunan setelah pajak pada periode t

K = tingkat dikonto yang tepat

Io = pengeluaran kas awal

N = usia usaha yang diharapkan

Kriteria:

NPV ≥0,0 : usaha layak

NPV< 0,0 : usaha tidak layak

2. Profitability Index (PI)

Adalah rasio nilai sekarang dari arus kas bersih pada masa depan terhadap

pengeluaran awalnya. PI dapat diekspresikan sebagai berikut:

Kriteria:

PI ≥1,0 : usaha layak dan PI<1,0 : usaha tidak layak

3. Internal Rate of Return (IRR)

(25)

Kriteria:

IRR ≥ tingkat pengembalian yang berlaku : usaha layak

IRR< tingkat pengembalian yang berlaku : usaha tidak layak

4. Payback Period (PBP)

Adalah jumlah lama tahun yang dibutuhkan untuk menutupi pengeluaran awal.PBP dapat diekspresikan sebagai berikut (Umar, 2005):

Biaya Investasi awal

Arus kas masuk

Kriteria:

PBP > periode pembayaran maksimum: usaha tidak layak

PBP < periode pembayaran maksimum: usaha layak

5. Break Even Point (BEP) atau titik impas

(26)

6. Analisis Sensitivitas

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Dewi. 2006. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Ekspor Kopi Indonesia dari Amerika Serikat. [Tesis]. Semarang: Program Pascasarjana, Universitas Diponegoro.

Brigham, EF & JF, Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Suharto D, Wibowo H, penerjemah; Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Fundamentals of Financial Management.

Chaerunnisa, RSD. 2007. Studi Kelayakan Pendirian Usaha Penggilingan Gabah di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Dewi. 2008. Analisis Kelayakan Pengembangan Usaha Benih Padi Bersertifikat,

Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Fess, WR. 2006. Pengantar Akuntansi. Farahmita A, Amanugrahani, Hendrawan T, penerjemah; Jakarta: Salemba Empat. Terjemahan dari: Accounting.

[ICO] International Coffee Organization. 2010. Data Ekspor-Impor Kopi Dunia. Tidak Dipublikasikan.

Keown et al. 2004. Manajemen Keuangan. Haryandini, penerjemah; Jakarta: Indeks. Terjemahan dari: Financial Management.

Irfani, Rofiq. 2011. Analisis Kelayakan Pengembangan Usaha Ransel Laptop di UMKM Yogi Tas Desa laladon Kecamatan Ciomas Kabupaten bogor. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Samsudi. 2005. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi dan Ekspor Kopi Arabika Indonesia. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Sihaloho, T. 2009. Strategi Pengembangan Agribisnis Kopi di Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera utara. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan

Gambar

Tabel. 1 Volume Ekspor Kopi Dunia
Tabel 4. Spesifkasi Persyaratan Mutu Biji Kopi

Referensi

Dokumen terkait