TUGAS MAKALAH POLITIK HUKUM
Materi:
PAYUNG HUKUM BARU UNTUK BATAM “FTZ, KAWASAN
EKONOMI KHUSUS ATAU OTONOMI KHUSUS”
Judul:
BATAM SEBAGAI KAWASAN EKONOMI KHUSUS
Disusun Oleh:
Fedryk Soaloon Harahap
17125204
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga Penulis dapat menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu. Isu mengenai keinginan pemerintah untuk mengubah status FTZ (Free Trade Zone) Kota Batam menghantarkan Penulis pada tugas mata kuliah “Politik Hukum”. Pada kesempatan ini, Penulis mengangkat judul “BATAM SEBAGAI KAWASAN EKONOMI KHUSUS”.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam karya tulis baik dari segi tata bahasa maupun materi yang disampaikan, terlebih lagi Penulis tidak langsung melakukan pengkajian di lapangan. Untuk itu, Penulis mohon maaf kepada Pembaca. Penulis menerima masukan kritik dan saran yang membangun dari Pembaca agar dapat menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi di kemudian hari. Penulis berharap karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi Pembaca.
Terima kasih.
Batam, 23 Juli 2018
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...1
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB 1 PENDAHULUAN...4
A. LATAR BELAKANG...4
B. RUMUSAN MASALAH...7
C. TUJUAN...7
BAB 2 PEMBAHASAN...7
A. KONSEP KAWASAN EKONOMI KHUSUS...7
B. KAWASAN EKONOMI KHUSUS DI INDONESIA...8
C. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS. .…..18
D. KESIAPAN KOTA BATAM MENUJU KAWASAN EKONOMI KHUSUS……19
BAB 3 PENUTUP……….20
A. KESIMPULAN...20
B. SARAN...21
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kota Batam adalah sebuah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau,
Indonesia. Wilayah Kota Batam terdiri dari Pulau Batam, Pulau Rempang dan
Pulau Galang dan pulau-pulau kecil lainnya di kawasan Selat Singapura dan Selat Malaka. Pulau Batam, Rempang, dan Galang terkoneksi oleh Jembatan Barelang. Jumlah Penduduk Kota Batam berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2015 tercatat sebesar 1.037.187 jiwa terdiri atas 638.404 jiwa laki-laki dan 197.247 jiwa perempuan dengan sex ratio 106,59. (https://batam.go.id/profil/kependudukan/ ) di akses 13 Juli 2018.
Dasar Hukum Pembentukan Kota Batam dari Masa ke Masa, sebagai berikut : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 1971 tentang
Pengembangan Pembangunan Pulau Batam;
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1973 tentang daerah Industri Pulau Batam;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1974 tentang Penunjukan dan Penetapan Beberapa Wilayah Usaha Bonded Warehouse di Daerah Pulau Batam;
4. Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 Tahun 1977 tentang Pengelolaan dan Penggunaan Tanah di Daerah Industri Pulau Batam;
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1978 tentang Penetapan Seluruh Daerah Industri Pulau Batam Sebagai Wilayah Usaha Bonded Warehouse;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1983 tentang Pembentukan Kotamadya Batam di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Riau;
7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 1984 tentang Hubungan Kerja Antara Kotamadya Batam dengan Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam;
9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1992 tentang Penambahan Wilayah Lingkungan Kerja Daerah Industri Pulau Batam dan Penetapannya sebagai Wilayah Usaha Kawasan Berikat;
10. Surat Keputusan Ketua Badan Pertanahan Nasional Nomor 09-VIII-1993 tentang Pengelolaan dan Pengurusan Tanah di Daerah Industri Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau-Pulau disekitarnya;
11. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 1998 tentang Penyempurnaan atas Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam;
12. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kota Batam dan Kedudukan Badan Otorita Batam dalam Pembangunan Batam;
13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.
Kota Batam pada awal berdiri merupakan bagian dari Provinsi Riau dimana daerah Batam merupakan daerah penyimpanan Minyak Pertamina untuk di export keluar negeri kemudian beralih fungsi sebagai daerah industri setelah itu berangsur sebagai daerah Bonded Warehouse hingga mencakup keseluruhan wilayahnya menjadi Bonded Warehouse dimana Batam saat itu dikelola oleh oleh Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam (Otorita Batam) atau sekarang berganti nama dengan Badan Pengelola Batam. Pada Tahun 1983 dibentuklah Kota Madya Batam yang termasuk di dalam Wilayah Provinsi Riau. Kemudian ditahun 2002 terjadi pemekaran Provinsi Riau sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Pembentukan Kota Madya Batam pada Tahun 1983 menyebabkan terjadinya dualisme perizinan dalam berbagai hal terutama perizinan usaha dan juga menyangkut tanah dan bangunan, Berdasarkan sejarah berdirinya Kota Batam telah menjadi kota yang memiliki keistimewaan.
keistimewaan. Batam yang istimewa secara ekonomi diharapkan menjadi lokomotif ekonomi nasional, dan telah terbukti pada dekade yang lalu. (http://ekonomi.metrotvnews.com/analisa-ekonomi/GKdgLlek-kembalikan-batam/ di akses 13 Juli 2018
Bertolak dari Sejarah Batam tersebut kita dapat menilai perkembangan pertumbuhan perekonomian yang sangat pesat ditandai dengan jumlah penduduk Batam dalam kurun 40 Tahun berdiri dimulai dari 6.000 jiwa hingga saat ini menjadi 173 kali lipat. Saat ini status Batam merupakan Daerah Free Trade Zone (Zona Perdagangan Besas dan Pelabuhan Bebas) yang diharapkan mampu untuk meningkatkan laju roda perekonomian, namun di Tahun 2015 terjadi penurunan ekonomi dunia sehingga berdampak secara langsung kepada Batam di Tahun 2016 mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dan dipuncaki pada Tahun 2017 mencapai penurunan pertumbuhan ekonomi terburuk. Bank Indonesia mencatat, pelemahan ekonomi sudah terjadi sejak 2016, namun semakin parah memasuki 2017. Kinerja pertumbuhan ekonomi Kepri sepanjang triwulan I sampai III 2017 menjadi yang terendah di Sumatera. Laju pertumbuhan ekonomi Kepri juga tumbuh lebih rendah dibanding nasional. (https://www.alinea.id/bisnis/2017-tahun-terburuk-bagi-batam-b1RUM9lk/ di akses 13 Juli 2018
(http://batampos.co.id/2016/03/26/mengubah-ftz-menjadi-kek-di-batam/ di akses 23 Juli 2018
Oleh karena hal-hal tersebut di atas dan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Bapak Lu Sudirman, S.H., M.M., M.Hum. selaku Dosen Pengampu mata kuliah “Politik Hukum”, Penulis menyusun makalah dengan mengangkat judul “BATAM SEBAGAI KAWASAN EKONOMI KHUSUS”.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bentuk dan konsep kawasan ekonomi khusus yang berlaku di Indonesia?
2. Sisi positif dan negatif dari kawasan ekonomi khusus yang berlaku di Indonesia? 3. Sejauh mana kesiapan Kota Batam apabila diberikan kewenangan sebagai kawasan
ekonomi khusus?
C. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan saran dan pendapat tentang apa seharusnya payung hukum yang terbaik untuk Batam saat ini dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi yang sedang mengalami penurunan secara global, sehingga dapat menumbuh kembangkan roda pertumbuhan ekonomi dengan pesat dalam meraih kejayaan Batam yang telah sirna untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Batam melalui Kawasan Ekonomi Khusus Batam.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. KONSEP KAWASAN EKONOMI KHUSUS
dilaksanakan melalui penyelenggaraan pembangunan perekonomian nasional yang berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Kawasan Ekonomi Khusus, yang selanjutnya disebut KEK, adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu (Pasal 1 Ayat 1 UU No. 39 Tahun 2009). Ada 7 zona KEK yang diatur dalam UU tersebut antara lain : Kabupaten/Kota, maupun Pemerintah Provinsi guna meningkatkan kemakmuran daerah yang diusulkan tersebut sebagai penggerak roda perekonomian untuk mensejahterakan masyarakatnya serta menarik investor untuk menanamkan modal dan menggerakan bidang usaha tertentu yang telah ditetapkan di dalam zona KEK tersebut.
Kriteria untuk usulan lokasi KEK:
1. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung;
2. Adanya dukungan dari pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan;
3. Terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan;
4. Mempunyai batas yang jelas.
B. KAWASAN EKONOMI KHUSUS DI INDONESIA
1. KEK Sei. Mengkei:
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei ditetapkan memalui Peraturan Pemerintah Nomo 29 Tahun 2012 tanggal 27 Februari 2012 dan merupakan KEK pertama di Indonesia yang telah diresmikan beroperasi oleh Presiden Joko Widodo pada 27 Januari 2015. KEK Sei Mangkei yang berlokasi di Provinsi Sumatera Utara memiliki bisnis utama berupa industri kelapa sawit dan karet dan difokuskan untuk menjadi pusat pengembangan industri kelapa sawit dan karet hilir berskala besar dan berkualitas internasional.
Sebagai kawasan industri yang berada di sentra bahan baku berbasis agro dan dekat dengan Selat Malaka, KEK Sei Mangkei juga memiliki bisnis pendukung yaitu logistik dan pariwisata. Dengan total luas lahan sebesar 2.002,7 ha, KEK Sei Mangkei terbuka akan potensi industri lainnya terutama di sektor hilir dengan nilai tambah yang tinggi.
KEK Sei Mangkei didukung dengan infrastruktur di dalam dan luar kawasan. Akses dari KEK Sei Mangkei ke jalan lintas Sumatera kurang lebih 10 km, jarak ke Pelabuhan Kuala Tanjung kurang lebih 40 km dan jarak ke Bandara Internasional Kualanamu kurang lebih 110 km.
Hingga akhir 2016, aliran investasi pelaku usaha untuk aktivitas industri di KEK Sei Mangkei telah mencapai Rp3,52 triliun dan direncakan menjadi Rp5,52 triliun pada akhir 2017. Saat beroperasi penuh di tahun 2025, KEK ini diproyeksikan dapat menarik total investasi sebesar Rp129 triliun serta memberikan kontribusi pada PDRB sebesar Rp92,1 triliun per tahun.
http://kek.go.id/kawasan/Sei-Mangkei/
2. KEK Tanjung Api-api
Tanjung Api-Api juga memiliki potensi sumber daya alam gas bumi dan batu bara yang melimpah.
KEK Tanjung Api-Api juga memiliki keunggulan geostrategis yaitu dekat dengan akses utama Sumatera bagian selatan ke Alur Laut Kepulauan Indonesia I dan sebagai pintu gerbang kegiatan ekspor/impor wilayah Provinsi Sumatera Selatan dan sekitarnya. Aksesibilitas KEK Tanjung Api-Api ditunjang dengan infrastruktur pendukung yang telah tersedia, seperti akses Pelabuhan Tanjung Api-Api sejauh 2,5 Km, akses Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sejauh 65 Km, akses Kota Palembang sejauh 70 Km, dan akses Pelabuhan Boom Baru sejauh 75 Km. Selain itu KEK Tanjung Api-Api juga dilalui oleh Jalan Nasional Palembang – Tanjung Api-Api yang memudahkan pergerakan dari dan menuju KEK Tanjung Api-Api.
Dengan kegiatan utama di bidang industri karet, kelapa sawit dan petrokimia, KEK Tanjung Api-Api diharapkan dapat menarik investasi sebesar Rp 125 triliun hingga tahun 2025.
http://kek.go.id/kawasan/Tanjung-Api-Api/
3. KEK Tanjung Kelayang
KEK Tanjung Kelayang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2016 dan berlokasi di Pulau Belitung. KEK yang ditetapkan sebagai KEK Pariwisata ini memiliki keunggulan geostrategis, yaitu terletak antara Indonesia dan negara ASEAN yang merupakan target captive market.
KEK Tanjung Kelayang termasuk ke dalam 10 destinasi pariwisata prioritas memiliki objek wisata bahari dengan pantai berpasir putih dan panorama yang eksotis. Pantai yang dihiasi batuan granit raksasa merupakan ciri khas dari pantai di kawasan ini. Kawasan ini berdekatan dengan pulau-pulau kecil disekitarnya yang juga memiliki pesonanya tersendiri.
diharapkan mampu menarik investasi sebesar Rp 20 triliun hingga 2025, serta mendatangkan 59.000 wisatawan per tahun dengan nilai ekonomi Rp 751,4 miliar per tahun pada saat KEK ini sudah beroperasi penuh.
http://kek.go.id/kawasan/Tanjung-Kelayang/
4. KEK Tanjung Lesung
Berlokasi di ujung paling barat Pulau Jawa, yaitu Kabupaten Pandeglang, Banten, KEK Tanjung Lesung merupakan KEK Pariwisata pertama dan telah diresmikan beroperasi pada Februari 2015. KEK Tanjung Lesung memiliki letak yang strategis dan akses yang mudah dijangkau, yaitu 170 km dari Ibukota Jakarta dan dapat ditempuh melalui perjalanan darat selama 2,5 – 3 jam.
KEK Tanjung Lesung memiliki luas area 1.500 Ha dengan potensi pariwisata yang beragam, antara lain keindahan alam pantai, keragaman flora dan fauna serta kekayaan budaya yang eksotis. KEK Tanjung Lesung juga dekat dengan atraksi wisata Banten lainnya seperti Kawasan Tua Banten, Budaya Badui dan Debus, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Krakatau serta wisata kepulauan.
Berasal dari kata “lesung” yaitu alat penumbuk padi tradisional, Tanjung Lesung memiliki bentuk dataran pantai wilayah yang menjorok ke laut dan mirip lesung. Dengan pantai dengan pasir putih serta laut yang jernih, KEK Tanjung Lesung telah menarik baik wisatawan nasional maupun internasional. Selama tahun 2016 tercatat jumlah kunjungan wisatawan sejumlah 570.000 orang dan ditargetkanmeningkat hingga 6,1 juta wisatawan saat beroperasi penuh pada 2020.
http://kek.go.id/kawasan/Tanjung-Lesung/
5. KEK Mandalika
KEK Mandalika menawarkan wisata bahari dengan pesona pantai dan bawah laut yang memukau. Mandalika berasal dari nama seorang tokoh legenda, yaitu Putri Mandalika yang dikenal dengan parasnya yang cantik. Setiap tahunnya, masyarakat Lombok Tengah merayakan upacara Bau Nyale, yaitu ritual mencari cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika. Perayaan ini merupakan budaya yang unik dan menarik wisatawan baik lokal maupun internasional.
Berdasarkan potensi dan keunggulan yang ada, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) yang telah mengembangkan Nusa Dua Bali mengusulkan pembentukan KEK Mandalika. Sebagai destinasi wisata bahari dan wisata budaya dengan panorama yang eksotis dan berdekatan dengan Pulau Dewata, KEK Mandalika diperkirakan akan menarik kunjungan 2 juta wisatawan mancanegara per tahun pada 2019. KEK Mandalika memiliki konsep pengembangan pariwisata berwawasan lingkungan dengan pembangunan obyek-obyek wisata dan daya tarik wisata yang selalu berorientasi kepada kelestarian nilai dan kualitas lingkungan hidup yang ada di masyarakat.
KEK Mandalika adalah KEK yang paling menarik bagi para investor saat ini dan diharapkan menjadi destinasi wisata kelas dunia.
http://kek.go.id/kawasan/Mandalika/
6. KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan
KEK MBTK diharapkan dapat mendorong penciptaan nilai tambah melalui industrialisasi atas berbagai komoditi di wilayah tersebut. Berdasarkan keunggulan geostrategis wilayah Kutai Timur, KEK MBTK akan menjadi pusat pengolahan kelapa sawit dan produk turunannya, serta pusat bagi industri energi seperti industri mineral, gas dan batu bara.
Hingga 2025, KEK yang ditetapkan pada bulan Oktober 2014 ini ditargetkan dapat menarik investasi sebesar Rp 34,3 triliun dan meningkatkan PDRB Kutai Timur hingga Rp 4,67 triliun per tahunnya.
http://kek.go.id/kawasan/Maloy-Batuta-Trans-Kalimantan/
7. KEK Palu
KEK Palu yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah merupakan kawasan pertama yang didesain oleh pemerintah sebagai pusat logistik terpadu dan industri pengolahan pertambangan di koridor ekonomi Sulawesi. Secara geografis, KEK Palu yang terintegrasi dengan Pelabuhan Pantoloan dan dilalui jalur strategis Alur Laut Kepulauan Indonesia 2 memiliki potensi strategis sebagai hub antara kawasan barat dan timur Indonesia. Teluk Palu yang dalam dan lebar memampukan kawasan ini untuk menjadi jalur perdagangan nasional dan internasional, antara lain menghubungkan kota-kota di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua serta negara-negara ASEAN.
KEK Palu yang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2014 akan mendukung Indonesia yang merupakan produsen nikel, kakao dan rumput laut yang unggul di dunia. Terbentuknya KEK Palu juga diharapkan akan mendorong hilirisasi industri logam dan meningkatkan nilai tambah dari komoditi agro unggulan di Pulau Sulawesi seperti kakao, rumput laut, dan rotan.
KEK Palu diproyeksikan dapat menarik investasi sebesar Rp 92,4 triliun hingga tahun 2025 dengan dan menciptakan 97.500 lapangan kerja.
http://kek.go.id/kawasan/Palu/
8. KEK Bitung
KEK Bitung berlokasi di Provinsi Sulawesi Utara dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2014. KEK Bitung memiliki lokasi yang sangat strategis dan merupakan pintu gerbang ekonomi ke negara-negara di Asia Pasifik. Aksesibilitas tersebut didukung dengan adanya Pelabuhan Hub Internasional Bitung sebagai hub perdagangan bagi Kawasan Timur Indonesia. Berjarak 44 km dari Ibukota Manado, KEK Bitung diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan dan distribusi barang serta penunjang logistik di kawasan timur Indonesia.
Dengan total area seluas 534 ha, KEK Bitung berbasis pada keunggulan komoditas daerah Provinsi Sulawesi Utara. Sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Indonesia, KEK Bitung fokus pada industri pengolahan perikanan untuk menghasilkan komoditi ekspor berkualitas internasional. Selain perikanan, KEK Bitung juga fokus pada industri kelapa beserta produk turunannya yang memiliki pasar yang sangat luas dan diminati baik dalam skala nasional maupun internasional.
Berdasarkan potensi wilayah dan keunggulan geostrategis, KEK Bitung diharapkan mendorong hilirisasi dan mendongkrak daya saing sektor perikanan, agro, farmasi dan menarik investasi senilai Rp 32 triliun hingga tahun 2025.
(http://kek.go.id/kawasan/Bitung/
9. KEK Morotai
Berada di tengah Samudera Pasifik, Pulau Morotai dahulu merupakan salah satu basis militer pada Perang Dunia II yang kini kaya akan barang peninggalan bersejarah. Selain menjadi wisata sejarah, KEK Morotai juga memiliki keunggulan wisata bahari dengan keindahan pantai dan bawah laut yang mempesona. Hamparan pasir putih halus, air laut yang jernih serta terumbu karang yang indah merupakan daya tarik wisata KEK Morotai.
Dilintasi oleh Alur Laut Kepulauan Indonesia III yang juga merupakan jalur migrasi ikan tuna, KEK Morotai merupakan sumber bahan baku bagi industri pengolahan perikanan. Dengan potensi yang dimiliki, KEK Morotai akan menjadi pusat industri perikanan didukung dengan logistik yang akan menjadikan Pulau Morotai hub internasional di kawasan timur Indonesia.
Berbeda dengan destinasi wisata kepulauan lainnya di Indonesia, KEK Morotai memberikan nuansa sejarah sebagai nilai tambah bagi wisatawan. KEK Morotai diharapkan dapat menjadi destinasi wisata internasional dengan perkiraan investasi pelaku usaha sebesar Rp 30,44 triliun hingga 2025.
(http://kek.go.id/kawasan/Morotai/
10. KEK Sorong
KEK Sorong ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2016 sebagai Kawasan Ekonomi Khusus pertama di Papua. Penetapan KEK Sorong diharapkan dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di timur Indonesia yang turut sejalan dengan salah satu prinsip Nawacita, yakni membangun Indonesia dari pinggiran. Berlokasi di Distrik Mayamuk, KEK Sorong dibangun di atas lahan seluas 523,7 Ha dan secara strategis berada pada jalur lintasan perdagangan internasional Asia Pasifik dan Australia.
( http://kek.go.id/kawasan/Sorong/ di akses 14 Juli 2018)
11. KEK Arun Lhokseumawe
KEK Arun Lhokseumawe terletak di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh dan dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2017. KEK ini bertumpu pada lokasi geografis Aceh yang dilintasi oleh Sea Lane of Communication (SloC), yaitu Selat Malaka dan mempunyai keunggulan komparatif untuk menjadi bagian dari jaringan produksi global atau rantai nilai global. KEK yang terbentuk dari konsorsium beberapa perusahaan eksisting, yaitu PT Pertamina, PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM), PT Pelindo 1, dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) terdiri atas 3 (tiga) kawasan, yaitu kompleks kilang Arun, Kecamatan Dewantara serta Desa Jamuan yang merupakan lokasi pabrik PT KKA.
KEK Arun Lhokseumawe berfokus pada beberapa sektor yaitu energi, petrokimia, agro industri pendukung ketahanan pangan, logistik serta industri penghasil kertas kraft. Dari sektor energi (minyak dan gas) akan dikembangkan regasifikasi LNG, LNG Hub/ Trading, LPG Hub/ Trading, Mini LNG Plant PLTG dengan pengembangan pembangkit listrik yang ramah lingkungan atau clean energy solution provider. Infrastruktur logistik juga dikembangkan untuk mendukung input dan output dari industri minyak dan gas, petrokimia dan agro industri, melalui peningkatan infrastruktur pelabuhan dan dermaga berstandar Internasional.
Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe berpotensi menjadi salah satu ekosistem perairan yang kaya dan produktif dan memungkinkan menjadi basis pengembangan industri perikanan tangkap. Dengan potensi yang dimiliki, Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe juga akan menjadi kawasan basis industri pertanian dengan dukungan komoditas unggulan seperti sawit, kopi, kakao, karet, kelapa, minyak atsiri dan lain-lain.
diproyeksikan akan mencapai nilai investasi sebesar USD 3,8 miliar dan menyerap tenaga kerja sebanyak 40.000 orang pada tahun 2021.
(http://kek.go.id/kawasan/Arun-Lhokseumawe/ di akses 14 Juli 2018
12. KEK Galang Batang
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang berada di Pulau Bintan Kepulauan Riau, yang merupakan sentra choke point Selat Malaka, berdekatan dengan Batam Free Trade Zone dan Selat Philip. Lokasi KEK Galang Batang mempunyai akses langsung dengan Selat Malaka dan Laut China Selatan. KEK Galang Batang diusulkan oleh badan usaha PT Bintan Alumina Indonesia dan telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2017, yang diundangkan pada 12 Oktober 2017.
KEK Galang Batang akan dikembangkan sebagai sentra industri pengolahan mineral hasil tambang (bauksit) dan produk turunannya baik dari refinery maupun dari proses smelter. Diperkirakan KEK Galang Batang akan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 23.200 orang, tersebar untuk industri pengolahan refinery sebesar 350 orang, industri pengolahan smelter sebesar 260 orang dan jasa dermaga serta pelabuhan yang berpotensi menciptakan kegiatan ikutan (multiplier effect) di kawasan tersebut. Adapun nilai investasi pembangunan KEK Galang Batang adalah sebesar Rp 36,25 Triliun untuk 6 tahun.
( http://kek.go.id/kawasan/Galang-Batang/ diakses 14 Juli 2018
Berbagai KEK yang ada di atas dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat sehingga diharapkan mampu untuk meningkatkan roda perekonomian daerah atau zona KEK tersebut sehingga demikian juga hendaknya Batam kedepannya agar mampu meningkatkan roda perekonomian yang sudah mulai redup sehingga dibutuhkan aturan baru yang dapat meningkatkannya dengan merubah konsep FTZ yang seyogiannya berjalan 70 Tahun semenjak diundangkan diganti dengan konsep KEK guna memberikan suntikan baru perekonomian di BATAM.
1. Keunggulan Kawasan Ekonomi Khusus
FTZ diterapkan efektif pada 2007. Pemerintah pusat memberikan 4 kelebihan yang tercantum dalam UU tentang Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas, diantaranya yaitu :
1. Bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
2. Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah(PPn-BM) 3. Bea masuk
4. Bea keluar
Sedangkan fasilitas dan kemudahan di KEK berdasarkan PP No. 96 Thn 2015, ada 13 poin. Batam termasuk yang bakal ditetapkan Presiden Joko Widodo menjadi KEK. "Ada 5 kawasan yang disiapkan jadi KEK, semua di Batam. Kelima kawasan itu akan ditetapkan segera. Presiden juga sudah mau menetapkannya untuk tahap awal," kata Luhut Pandjaitan pada Kamis 15 Maret 2018 di Jakarta.
Adapun keuntungan KEK tersebut antara lain: 1. Investment allowance
2. Amortisasi dipercepat 3. Pajak devide
4. Kompensasi kerugian yang lebih lama 5. Tax holiday
6. Fasilitas pembebasan PPh Pasal 22 Impor 7. PPN impor tidak dipungut
8. PPN pembelian dalam negeri tidak dipungut 9. Pembebasan PPN dan atau PPnB
10. Penyerahan tidak dipungut kepada penerima fasilitas lainnya
11. Pengembalian PPN kepada orang pribadi pemegang paspor luar negeri 12. Penangguhan Bea Masuk
Keunggulan lainnya untuk KEK adalah batasan yang jelas antara daerah usaha, industri, dan pemukiman. Sehingga ini akan mempermudah Pemerintah dalam pemberian fasilitas dan insentif fiscal yang tepat sasaran.
2. Kelemahan Kawasan Ekonomi Khusus
Keunggulan KEK di atas hanya dinikmati oleh Investor yang melakukan kegiatan usaha dan industri di dalam zona KEK saja. Sehingga setelah diberlakukan KEK, maka FTZ secara yuridis akan dihapuskan dan akan berdampak kepada pencabutan keunggulan FTZ yang dirasakan masyarakat khususnya pembebasan bea masuk dan pembebasan cukai karena hanya diberlakukan dalam Zona KEK saja, sehingga Zona yang berdampingan dengan KEK akan menjadi pabean sehingga tidak akan menikmati pembebasan bea masuk dan pembebasan cukai tersebut.
D. KESIAPAN KOTA BATAM MENUJU KAWASAN EKONOMI KHUSUS
1. Status Kota Batam Kini
Saat ini Batam merupakan daerah FTZ (zona non-pabean) sehingga seluruhnya merasakan pembebasan bea masuk dan pembebasan cukai berikut pembebasan PPN-BM sehingga dianggap mampu untuk menarik investor yang akan melakukan usaha di Batam, namun pada kenyataannya saat krisis ekonomi global terjadi, FTZ sendiri tidak mampu untuk meningkatkan roda perekonomian Batam dan lebih lagi dengan banyaknya Investor asing yang angkat kaki dari dunia usaha di Batam. Hal ini juga di karenakan rumitnya birokrasi untuk melakukan usaha di Batam yang dirasakan oleh Investor-investor tersebut, dimana adanya 2 perizinan yang harus mereka lakukan antara lain Perizinan Pemko Batam dan Perizinan di BP Batam.
2. Potensi Batam Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus
Batam akan lebih terorganisir dalam pembagian wilayah sehingga terbentuk keseimbangan dan tata kota yang baik, serta mempermudah mengantisipasi penyelundupan dikarenakan zona diluar dari KEK merupakan wilayah pabean sehingga petugas Bea dan Cukai lebih mudah untuk mejalankan tugasnya serta menghasilkan devisa negara.
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Batam merupakan daerah yang memiliki keistimewaan tersendiri dikarenakan letaknya yang strategis diantara laut Malaysia dan Singapura, sehingga memiliki potensi besar untuk menarik investor melakukan usaha dan industri di Batam. Dimulai berkembangnya Batam dari Tahun 1971 hingga saat ini Batam berhasil meningkatkan roda perekonomian sehingga menjadi besar saat sekarang, namun di Tahun 2015 terjadi krisis ekonomi global yang berdampak melemahnya sektor ekonomi di Batam yang saat ini berpayung hukum sebagai daerah FTZ (Non-Pabean).
Untuk meningkatkan roda perekonomian di Batam saat ini Pemerintah Pusat sedang merencanakan Batam sebagai Kawasan Ekonomi Khusus dan Penulis juga sangat setuju dengan wacana tersebut dikarenakan kita dapat menarik kesimpulan untuk menilai apa yang baik untuk Kota Batam kedepannya dari data-data yang penulis sajikan sehingga mampu meningkatkan kembali roda perekonomian yang sudah redup dan dapat menumbuhkan lapangan kerja baru serta memberikan win-win solution yang baik tidak hanya memandang dari satu sudut pandang saja namun dari segala perspektif yang ada dengan meminimalisir timbulnya kerugian disemua pihak dan juga tidak meminimalisir timbulnya keuntungan hanya di satu pihak saja.
B. SARAN
monopoli sehingga dampaknya juga dapat dirasakan oleh masyarakat banyak khususnya masyarakat yang berdomisili di Batam dan untuk pendatang pada umumnya, serta penulis juga mohon maaf jika terdapat kesalahan data serta mohon juga masukan dari pembaca untuk kesempurnaan penulisan penulis di masa-masa yang akan datang. Semoga dengan hadirnya tulisan penulis ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk langkah kedepannya, Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Portal Resmi Pemerintah Kota Batam, https://batam.go.id/
Priyono Eko Sanyoto, 13 September 2017, Kembalikan Batam,
http://ekonomi.metrotvnews.com/analisa-ekonomi/GKdgLlek-kembalikan-batam/
Satriani Ariwulan, 22 Desember 2017, 2017, Tahun terburuk bagi Batam, https://www.alinea.id/bisnis/2017-tahun-terburuk-bagi-batam-b1RUM9lk/
Ampuan Situmeang, 26 Maret 2016, Mengubah FTZ menjadi KEK di Batam,
http://batampos.co.id/2016/03/26/mengubah-ftz-menjadi-kek-di-batam/