• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Konghucu kelas dan Buddha

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbedaan Konghucu kelas dan Buddha"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Kelompok Kong Hu-Cu Anggota Kelompok :

1. Claudia Veronica (1203545) 2. Debora Septika (1400615) 3. Oki Saputra (1404339) 4. Ricky Nurjaman (1403457) 5. Syarah Apriliyana (1401199)

KONG HU-CU DIMATA BUDDHA

Mencari literasi mengenai budaya aliran Confucius ini memang bukan hal yang mudah. Kelompok kami bahkan kesulitan menemukan rumah ibadat dari kepercayaan Kong Hu-Cu di Bandung. Kong Hu-Cu seorang filosof besar Cina merupakan orang pertama pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling mendasar. Dikutip dari Biografiku(dot)com, filosofinya menyangkut moralitas orang perorang dan konsepsi suatu pemerintahan tentang cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya lewat tingkah laku teladan- telah menyerap jadi darah daging kehidupan dan kebudayaan orang Cina selama lebih dari dua ribu tahun. Lebih dari itu, juga berpengaruh terhadap sebahagian penduduk dunia lain. Kong Hu-Cu kerap dianggap selaku pendiri sebuah agama; anggapan ini tentu saja meleset. Dia jarang sekali mengkaitkan ajarannya dengan ketuhanan, menolak perbincangan alam akhirat, dan mengelak tegas setiap omongan yang berhubungan dengan soal-soal metafisika. Dia tak lebih dan tak kurang seorang filosof sekuler, cuma berurusan dengan masalah-masalah moral politik dan pribadi serta tingkah laku akhlak.

Ada dua nilai dari empat nilai penting yang diambil dalam proses penelitian kami terkait dengan agama Kong Hu Cu, kata Kong Hu-Cu, yaitu “Yen” dan “Li:” “Yen” sering diterjemahkan dengan kata “Cinta,” tapi sebetulnya lebih kena diartikan “Keramah-tamahan dalam hubungan dengan seseorang.” “Li” dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun.

(2)

leluhurnya. Kehidupan orang Cina di Indonesia pun turut mengembangkan agama dan budaya-budaya barunya, sehingga masyarakat Tionghoa atau Cina di Indonesia banyak yang memeluk agama Konghucu.

Tanggok (2005) dalam jurnal analisa agama Kong Hu-Cu milik Sulaiman, mengkaji bahwa masyarakat Tionghoa ini mempelopori timbulnya agama Konghucu dengan memformulasikan ajaran-ajaran dan praktik-praktik agama dan kepercayaan serta tradisi yang dilakukan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai pelosok tanah air Indonesia. Meskipun keberadaan masyarakat keberadaan agama Konghucu di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia belum jelas dan masih simpang siur, hal itu dikarenakan agama Konghucu masih dipandang bukan suatu agama resmi yang diakui di Indonesia melainkan sebagai kepercayaan tradisional dan atau adat istiadat masyarakat Tionghoa.

Ketidak jelasan kepercayaan masyarakat Tionghoa diakibatkan karena mereka banyak yang mencaplok-caplok kepercayaan. Narasumber kami, Billy. sedikit mengulas bahwa agama Kong Hu-Cu sebagai hasil asimilasi kebudayaan lokal, dimana kebudayaan lokal itu berasimilasi menjadi suatu bentuk kebudayaan baru yaitu Kong Hu-Cu.

“Makanya kalau di Indonesia sendiri dikenalnya bukan sebagai Kong Hu-Cu melainkan Tri Darma. Jadi agama Buddha, agama Kong Hu-Hu-Cu dan agama Tao atau Lao Tzi, mereka itu tidak terlalu jelas akarnya bagaimana, dan orang Cina banyak mencaplok-caplok kepercayaan. Maka dari itu supaya jelas dan bisa mengatasi ketidakjelasan kepercayaan Cina, mereka mendirikan suatu yayasan yaitu Tri Dharma.”

(3)

Kong Hu-Cu hidup di jaman dinasti Chou, masa menyuburnya kehidupan intelektual di Cina, sedangkan penguasa saat itu tidak menggubris sama sekali petuah-petuahnya. Baru sesudah dia wafatlah ajaran-ajarannya menyebar luas ke seluruh pojok Cina.

Molloly (2001:6) hl 129 dalam buku “Komunikasi Dalam Keberagaman” menyatakan setiap agama memiliki delapan basis dasar yang meliputi : pertama, sistem kepercayaan yaitu sejumlah kepercayaan yang secara bersamaan menciptakan interpretasi yang sistematis dan lengkap terhadap alam semesta dan keberadaan manusia, sistem kepercayaan ini disebut sebagai pandangan dunia.

Identitas agama didasarkan pada keberpihakan budaya dan unsur-unsurnya yang meliputi aspek nilai, simbol, mitos, dan tradisi yang sering dikodifikasikan dalam adat dan ritual. Oleh karena itu komunitas agama cenderung untuk bergabung dalam sebuah komunitas tunggal, umat beriman dimana semua orang yang merasa mereka berbagi kode simbolik tertentu, sistem nilai dan tradisi keyakinan dan ritual, termasuk referensi ke realitas supra-nalar (Smith, 1991:6) hl 128 dalam buku “Komunikasi Dalam Keberagaman”

(4)

melanjutkan ibadahnya di Indonesia. Oleh karena itu, di tempat ibadah Kong Hu-Cu sering ditemukan patung Buddha dan patung-patung dewa lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan Vihara yang hanya memiliki satu arca Buddha saja. Selain itu bisa diambil kesimpulan bahwa perbedaan agama Buddha dan Konghucu itu dapat ditinjau dari guru pengajarnya. Bagi agama Buddha dikenal dengan Buddha Gautama, sedangkan bagi agama Konghucu dikenal dengan ajaran Confucius. Seperti yang dijelaskan oleh David, ketua KMB ITB saat ditanya tentang perbedaan antara agama Buddha dan Kong Hu-Cu.

“Perbedaan mendasar dari agama Kong Hu-Cu dan agama Buddha adalah dilihat dari guru pengajarnya. Kalau agama Kong Hu-Cu, Confucius, sedangkan agama Buddha adalah Buddha Gautama, itulah perbedaan yang paling fundamental”

Perbedaan itu terjadi karena adanya misi-misi misionaris yang menjalar ke Cina, Jepang, dan seterusnya yang pada akhirnya mengakibatkan aliran di Cina itu berasimilasi menjadi kebudayaan lokal yang lebih dikenal dengan Konghucu. Hal ini didukung dengan pernyataan Billy saat ditanya tentang pendapatnya mengenai perpecahan Buddha dan Kong Hu Cu. Billy mengatakan bahwa karena proses asimilasi ini, Buddha dan Kong Hu-Cu merupakan suatu hal yang berbeda. Singkatnya, Konghucu merupakan bentuk asimilasi dari kebudayaan lokal, dan karena ada misi misionaris dan asimilasinya, Konghucu lebih dikenal dengan istilah Tri Darma. Hal itu jelas dalam pembahasan Asimilasi, bahwa asimilasi maupun akulturasi itu terjadi karena adanya pelanggaran atas segala kegiatan dan kebudayaan China dimana Konghucu bergabung menjadi agama Buddha. Teori mengenai Asimilasi pernah dibahas oleh Arnold M. Rose (1956) dalam jurnal Asimilasi, Akulturasi dan Integrasi Nasional bahwa asimilasi merupakan suatu adopsi kebudayaan asing yang demikian luas dan lengkap serta lebih tepat. Melihat pendapat narasumber bahwa Konghucu merupakan kepercayaan leluhur, maka dapat kami simpulkan bahwa Konghucu lahir terlebih dahulu daripada Buddha. Sementara Buddha, lahir atas dasar asimilasi Kong Hu Cu yang dibawa oleh Sidharta Gautama.

(5)

dikeluarkannya surat dari perwalian Buddha, agama Buddha di Indonesia sudah tidak ada lagi campur pautnya dengan agama Konghucu. Karena pada dasarnya dari segi agama dan segala macamnya berbeda. Hal ini pula dengan lantang dijelaskan kedua narasumber kami yakni Billy dan David dalam kesempatan wawancara yang kami lakukan tanggal 29 Oktober silam.

Mengenai nama-nama tempat ibadah, narasumber kami, David, juga sempat bercerita mengenai asal mula nama Kelenteng dan Vihara. Seperti yang sudah dijelaska, Kelenteng berasal dari kata Lit Thang. Namun, karena kesulitan menyebutkan nama tersebut di Indonesia, maka disingkatlah menjadi Kelenteng.

“Kan susah kalau menyebut Lit Thang. Selain phonetiknya harus benar, orang Indonesia pada masa itu juga memang sangat rasis terhadap kaum Tionghoa. Oleh karena itu, kalau ditanya mau kemana..? Ke Lit Thang.. susah kan. Akhirnya disebut Kelenteng”

Sementara asal nama Vihara sendiri merupakan tempat peristirahatan para Bikkhu dibawah pohon Boddhi. Oleh karena itu, nama tempat ibadah untuk Buddha adalah Vihara. Perbedaan nama tempat ibadah kedua kepercayaan ini kemudian disusul dengan penjelasan tambahan mengenai tata cara ibadah yang berbeda diantara kedua kepercayaan ini. Bila di Indonesia, khususnya di Bandung, narasumber kami Ivan, Billy dan David menjelaskan bahwa Vihara setiap hari Minggu selain sembahyang juga melakukan puji bakti dan sedikit ceramah ringan. Sementara Kong Hu-Cu hanya melakukan sembahyang saja. Oleh karena itu, banyak pengikutnya yang jarang beribadah ke kelenteng dan hanya sembahyang di rumah saja. Hanya saja, sebuah kelenteng tertua di Indonesia yang terletak di Cirebon memiliki tata cara ibadah yang sama dengan Buddha. Maka dari itu, belum ada kejelasan yang berarti dari narasumber kami terkait tata cara ibadah Kong Hucu karena sifatnya yang introvert.

Cara ibadah di rumah ini tidak hanya dimiliki oleh Kong Hu-Cu saja, Buddha juga memiliki cara ibadah yang sama. Namun, bagi Buddhis, sembahyang dirumah tidak merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan. Karena pada dasarnya, Buddhis beribadah di Vihara.

(6)

Konghucu terutama kaum tradisional biasanya mereka lebih kepada memuja dewa-dewi, kalau umat Buddha hanya kebaktian saja.”

Berdasarkan hipotesis awal kelompok terkait asumsi dasar mengenai confucius menurut Samovar (2010 hl 175-hl 176) dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Lintas Budaya bahwa anggapan manusia adalah baik melalui tindakan perilaku mereka yang benar. Sesuai dengan perspektif agama buddha terhadap agama konghucu, mereka percaya bahwa jika apa yang dilakukan agama Konghucu adalah baik, maka hasilnya pun akan baik. Hal itu dikarenakan agama Konghucu mengenal istilah Darma yang berarti “kebenaran”. Dalam kesempatannya, Billy juga mengatakan bahwa tidak hanya Kong Hu-Cu, namun Taoism juga merupakan salah satu hasil asimilasi.

“Jadi agama Buddha, agama Kong Hu-Cu dan agama Tao atau Lao Tzi, mereka itu tidak terlalu jelas akarnya bagaimana, dan orang Cina banyak mencaplok-caplok kepercayaan. Maka dari itu supaya jelas dan bisa mengatasi ketidakjelasan kepercayaan Cina, mereka mendirikan suatu yayasan yaitu Tri Dharma.”

Hasil analisa yang kami peroleh sejalan dengan apa yang melatar belakangi pembahasan diatas bahwa Golden Rule itu seperti yang diajarkan oleh para pemuka agama itu adalah benar. Golden Rule adalah aturan emas, atau etika timbal balik (The ethic of reciprocity). Merupakan satu aturan yang sepertinya diajarkan dalam (hampir) semua budaya atau agama, meski disampaikan dengan kata yang berbeda-beda.

Dalam ajaran Konfusius dinyatakan bahwa “Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan kepada kita, jangan lakukan itu kepada orang lain” – Confucius, Analects 15.23.

(7)

Tri itu bermakna tiga, dan pitaka itu bermakna bakul, yang artinya adalah bakul hikmat. Hingga Tripitaka itu bermakna Tiga Himpunan Hikmat, yaitu:

1. Sutta Pitaka, berisi himpunan ajaran dan kotbah Buddha Gautama. Bagian terbesar berisi percakapan antara Buddha dengan muridnya. Didalamnya juga termasuk kitab-kitab tenyang pertekunan (meditasi), dan peribadatan, himpunan kata-kata hikmat, himpunan sajak-sajak agamawi, kisah berbagai orang suci. Keseluruhan himpunan ini ditunjukkan bagi kalangan awam dalam agama Buddha.

2. Vinaya Pitaka, berisi Pattimokkha, yakni peraturan tata hidup setiap anggota biara-biara (sangha). Didalam himpunan itu termasuk Maha Vagga, berisikan sejarah pembangunan kebiaraan (ordo) dalam agama Buddha beserta hal-hal yang berkaitan dengan biara. Himpunan Vinaya-pitaka itu ditunjukkan bagi masyarakat Rahib yang dipanggilkan dengan Bikkhu dan Bikkhuni.

3. Abidharma-pitaka, yang ditunjukkan bagi lapisan terpelajar dalam agama Buddha, bermakna dhamma lanjutan atau dhamma khusus. Berisi berbagai himpunan yang mempunyai nilai-nilai tinggi bagi latihan ingatan, berisikan pembahasan mendalam tentang proses pemikiran dan proses kesadaran. Paling terkenal dalam himpunan itu ialah milinda-panha (dialog dengan raja Milinda) dan pula Visuddhi maga (jalan menuju kesucian.)

(8)

Bagi agama Konghucu maupun agama Buddha, mereka tidak mengenal dosa. Hukuman itu hanya sebagai efek samping dari tindakan yang dilakukan manusia. Dalam Kong Hu Cu, Billy menjelaskan bahwa konsep dosa diganti dengan konsep Dharma. Dharma sendiri adalah kebenaran. Jadi, apapun yang kita lakukan sebagai kebenaran, disebut Dharma. Selebihnya, Billy juga menjelaskan bahwa publikasi agama Kong Hu Cu memang sangat minim di Indonesia, tidak hanya itu, Kong Hu Cu bahkan tidak di publikasikan secara online. Jadi, ajaran dan konsep-konsepnya memang hanya terbatas pada kelompok mereka saja, bila tidak masuk kelompok mereka, maka kita tidak akan tahu.

Pada dasarnya ajaran confucius mengajarkan untuk memikirkan orang lain dan hubungan antar manusia dalam membangun pola komunikasi yang menghargai orang lain. Jadi, pada dasarnya confucius merupakan kepercayaan yang liberal, ajaran ini menekankan pada hubungan yang baik dengan manusia. Sebagai manusia, ajaran confucius ini diharuskan memiliki sifat ketuhanan misalnya baik, taat, dan sebagainya. Berdasarkan hasil analisa yang kami peroleh bahwa agama Konghucu berdasarkan tingkatannya bersifat Vertikal, mereka mengajarkan ke arah atas dan ke bawah. Ke atas mengarah kepada Tuhan, sedangkan ke bawah berfokus pada manusia. Ajaran confucius ini mengenal konsep ketuhanan dan kemanusiaan. berbeda dengan agama Buddha, mereka mengarah pada tingkatan Horizontal. Buddhist tidak mengenal konsep ketuhanan, karena berfokus pada diri sendiri atau self oriented.

(9)

petung dewa, dan masih melakukan tradisi membakar kertas. Bagi agama Buddha, mereka menyembah patung dewa hanya sebagai formalitas saja. Artefak yang bisa dihasilkan dari kedua agama ini adalah kalung jimat. Bagi agama Buddha, kalung jimat itu merupakan pemberian dari pemuka agama yang bisa membawa berkah. Baik agama Buddha dan agama Konghucu, kalung jimat itu sering digunakan sebagai bentuk nilai dari agamanya.

Setiap agama memiliki sistim upacara yang bertujuan untuk mencari hubungan antara manusia dengan Tuhan, dewa-dewa, atau mahluk-mahluk halus yang mendiami alam gaib. Sistem upacara ini terdiri atas beraneka-ragam upacara dengan berbagai macam unsurnya, seperti berdoa, bersaji, bersujud, berkorban, makan bersama, dan sebagainya (Koentjaraningrat, 1979: 138-139). Dalam agama Khonghucu, sistem upacara yang dilakukan oleh penganutnya berbentuk upacara sesaji dan beranekara ragam laku bakti atau sembahyang, seperti sembahyang kepada Tuhan, sembahyang kepada nabi, sembahyang kepada leluhur. Dan apa yang dikatakan Billy bahwa Konghucu memiliki praktik-praktik mistik seperti tradisi membakar kertas dan kerasukan, sedangkan di agama Buddha, hal praktik mistik dan kekuatan roh yang bisa menolong manusia seperti itu sangat ditolak dan dijarkan untuk tidak dianut, walaupun hal itu bisa saja terjadi tapi bukan hal yang signifikan untuk dipercayai.

Bagi agama Buddha, dosa dinilai sebagai bentuk kejahatan karena istilah dosa itu sendiri diambil dari bahasa Pali yang merupakan hukuman yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Akan tetapi, agama Buddha tidak mengenal adanya hukum tuhan, karena apa yang dilakukan manusia adalah tanggung jawab diri mereka sendiri. untuk sanksi di agama Konghucu tidak bisa diuraikan secara detail karena sifat mereka yang lebih tertutup dan publikasi agama mereka tidak bisa dijangkau oleh masyarakat luas, hanya terbatas pada komunitas Konghucu saja.

(10)

sebagian penganut Buddha menganggap hal itu sebagai suatu hal yang wajar bahwa kebudayaan itu pasti berasimilasi, asalkan tidak boleh berubah dari ajarannya.

STEREOTIP

Tak hanya mengenai asimilasi agama dan kebudayaan, Billy juga sempat menjelaskan bahwa penganut Buddha masih dinilai malu-malu apabila dibandingkan dengan penganut Kong Hu Cu. Hal ini ia paparkan terkait stereotype jelek di mata masyarakat awam. Bahkan tidak hanya itu, hal ini juga menjadi salah satu faktor rendah diri yang mereka alami.

“ Ya gimana ya. Sebenarnya kan Kong Hu Cu sendiri masih lebih banyak daripada Buddhist. Dan kalau kita lebih dekat ke mereka, hal ini terlihat bahwa Buddhist biasanya masih malu-malu ketimbang Kong Hu Cu. Kayak misalnya pakai baju ada gambar Buddha aja, walaupun ke sesame kita, kita masih kayak yang malu. Gak enak gitu keliatan beda sama yang lain..”

Pernyataan Billy ini kemungkinan kami bahas melalui teori Stereotype. Untuk membahas tentang Stereotype ini, kami berpedoman pada teori yang ditulis L. A. Samovar di Komunikasi Lintas Budaya. Samovar mengatakan bahwa Stereotype pada hakikatnya merupakan bentuk kompleks dari pengelompokan yang secara mental mengatur pengalaman dana mengarahkan sikap dalam menghadapi orang-orang tertentu. Namun dalam buku yang sama pula, Samovar mengutip definisi singkat dari Psikolog Abbate, Boca dan Bocchiaro mengenai Stereotype. Menurut mereka, stereotype merupakan susunan kognitif yang mengandung pengetahuan, kepercayaan, dan harapan si penerima mengenai kelompok sosial manusia.

(11)

mengungkapkan bahwa ternyata budaya menyediakan sejumlah stereotip bagi seseorang untuk menyebarkannya secara strategis, menyediakan sejumlah motif untuk menjelaskan beberapa perbedaan kelompok, atau sebuah saluran pengalaman sosial seseorang dalam cara-cara yang mendorong beberapa stereotip. Dengan demikian, peran budaya dan pengalaman individu tidak dapat dipisahkan dalam membentuk stereotip atau berbagai produk yang lain dari system berpikir manusia, yaitu dimana budaya menyediakan berbagai kategori bagi aktifitas kognitif individu.

Dilihat dari beberapa teori tersebut, dapat kami simpulkan bahwa dalam pernyataannya, Billy dan mungkin beberapa kaum minoritas Buddha lainnya merasa tidak percaya diri akan agama atau kepercayaannya karena unsur pengetahuan yang mereka peroleh dari orang-orang di sekitar mereka mengenai agama Buddha sendiri. Melihat agama Buddha mayoritas berasal dari etnis Tionghoa, seolah masyarakat Indonesia mengategorikan aliran kepercayaan Buddha merupakan seluruhnya beretnis Tionghoa. Padahal, ketua KMB ITB, David sempat bercerita bahwa di ITB terdapat seorang mahasiswi beragama Islam yang demikian rajin datang dan mengikuti pertemuan-pertemuan singkat di KMB mengenai Buddha. Bahkan mahasiswi tersebut datang dan berdoa pada arca Buddha di Vihara. Hanya saja sayang sekali, identitas mahasiswi tersebut tidak boleh di publikasi.

Tidak hanya itu, ditanya lebih lanjut mengenai rasa tidak percaya diri untuk memamerkan kepercayaan Buddha, David menjelaskan bahwa hal itu menjadi konsentrasi ia sekarang untuk memperkenalkan agama Buddha dengan baik. Secara garis besar, Buddha dan Konghucu tidak memiliki tanggapan yang buruk satu-sama lain. Meskipun merupakan asimilasi, tetap saja ada keluarga yang menganut agama Buddha dan Konghucu dalam rumah tangga yang sama. Misalnya keluarga David.

(12)

Hal ini tak luput mengingatkan kami dengan definisi Etnosentrisme McLaren dalam Prioandono (2014:255) yang menjelaskan bahwa Etnosentrisme merupakan hasil stereotip yang didasarkan pada generalisasi tentang orang dan peristiwa. Rogers dan Steinfat (Priandono, 2014:255-256) turut pula menjelaskan tentang masalah-masalah yang timbul dari etnosentrime. Menurut mereka, orang yang percaya pada superiotas budaya mereka sendiri, tidak mampu menilai secara objektif budaya lain dan mereka yang berbeda; mereka menafsirkan dan menilai perilaku orang lain sesuai dengan nilai-nilai mereka sendiri. Etnosentrisme juga cenderung membesar-besarkan perbedaan budaya dengan menyoroti perbedaan yang paling berbeda dalam keyakinan dan praktik dan mengabaikan orang lain. Etnosentrisme juga membatasi interaksi antarbudaya yang efektif dan komunikasi karena tidak memungkinkan untuk memahami mereka yang berbeda. Dan yang terpenting, etnosentrisme menyebabkan arogansi, penghindaran, penarikan, stereotip, dan bahkan prasangka serta diskriminasi.

Hanya saya dari ketiga narasumber kami tidak ada yang memiliki kepercayaan ekstrim seperti dijelaskan oleh Rogers dan Steinfat, keluarga David dan Billy tidak terlalu mempermasalahkan adanya Buddha dan Kong Hu-Cu di keluarga mereka. Bahkan ditindaklanjuti melalui obrolan ringan dengan Billy, ia mengatakan bahwa keluarganya meyakini Kong Hu-Cu sebagai kepercayaan tradisional dan Buddha sebagai agama pilihan mereka. Sementara berkaitan dengan itu, David menegaskan hal serupa karena menurutnya Kong Hu-Cu masih percaya dengan tahayul-tahayul dan pengikut kepercayaan Kong Hu-Cu yang mengaku beragama Buddha tak jarang merusak nama baik dari agama Buddha itu sendiri karena banyak umat tradisional yang percaya pada hal-hal aneh dan tidak sesuai dengan ajaran Buddha.

“Kalau Kong Hu-Cu itu masih banyak percaya dengan tahayul-tahayul. Sering juga mereka mengaku sebagai Buddhis, jadi masyarakat yang tidak tau menilai agama Buddha yang percaya hal-hal seperti itu. Kan salah, Buddha tidak pernah mengajarkan untuk percaya pada hal aneh-aneh. Kalau umat tradisional sih wajar karena mereka masih menuhankan beberapa hal atau benda-benda tertentu”

(13)

Melalui studi lapangan yang kami lakukan pada 29 Oktober 2015, dapat kami simpulkan beberapa perbedaan antara Buddha dan Kong Hu-Cu. Dilihat dari ajarannya, Kong Hu-Cu yang merupakan kepercayaan tradisional disebarkan oleh Confucius sementara Buddha disebarkan oleh Sidharta Gautama. Awal penyebarannya pun berbeda, Kong Hu-Cu diawali dari peredarannya di Tibet sementara Buddha di Nepal, India.

Kong Hu-Cu yang menganut kepercayaan secara Vertikal dan merupakan kepercayaan tradisional pada hakikatnya tidak menginginkan dinamika penganut dan dalam eksistensinya sedikit mempublikasikan kepercayaannya karena sifatnya yang sangat introvert. Hanya saja, banyak dari pengikut Kong Hu-Cu yang sudah tinggal dan mengetahui kebudayaan-kebudayaan lain memilih mengikuti Buddha Gautama, walaupun tak dapat dipungkiri; bisa saja dirumah mereka masih percaya terhadap tahayul-tahayul atau hal-hal aneh yang tidak diajarkan Buddha Gautama.

Buddha sendiri sebagai sebuah kepercayaan yang tidak memiliki banyak pengikut seperti Kong Hu-Cu, cenderung lebih mempublikasikan dirinya dan tidak tertutup dalam ras apapun. Umat Buddhis percaya, bahwa Kong Hu-Cu sebagai kepercayaan tidak dapat disamakan dengan Buddha sebagai agama.

Meskipun begitu, tidak ada perbedaan ekstrim yang menyebabkan kedua kepercayaan ini terpecah. Karena pada hakikatnya, Buddha dan Konghucu masuk kedalam bentuk kepercayaan Polytheisme. Dan karena sebagian besar berasal dari etnis yang sama, kedua kepercayaan ini pada zaman sekarang tidak mempermasalahkan tentang ajaran.

(14)

mereka secara intens dan tidak hanya sekedar wawancara singkat yang kurang begitu mendalam.

Daftar Pustaka

Koentjaraningrat. 1997. Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia

Poerwanto. (1999). Asimilasi, Akulturasi, dan Integrasi Nasional. From:

http://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/668/514, diakses 1 November 2015.

Priandono, Tito Edy. (2014). Komunikasi Dalam Keberagaman. Bandung:

Departemen Ilmu Komunikasi UPI.

Rosihan. 2012. Stereotip Etnis Pribumi dengan Pendatang (Tesis). Jakarta: Universitas Indonesia.

Samovar, Larry A. 2010. Komunikasi lintas budaya. Jakarta : Salemba Humanika.

Sulaiman (2009). Agama Khonghucu : Sejarah, Ajaran, dan Keorganisasiannya di Pontianak Kalimantan Barat. From http://oaji.net/articles/2015/2111-1436145360.pdf, diakses 11 Maret 2015

(15)

Referensi

Dokumen terkait