• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pembentukan Kabupaten Toba Samos

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah Pembentukan Kabupaten Toba Samos"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH PEMBENTUKAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR (1990-2005)

SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O

L E H

Hendra Nainggolan 090706039

Pembimbing

Dra. Nina Karina, M.SP

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

SEJARAH PEMBENTUKAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR (1990-2005)

Yang diajukan oleh: Nama : Hendra Nainggolan

NIM : 090706039

Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh:

Pembimbing,

Dra. Nina Karina, M.SP Tanggal, 3 Desember 2013

NIP 195908041985032002

Ketua Departeman Sejarah Tanggal, 5 Desember 2013

Drs. Edi Sumarno, M. Hum. NIP 196409221989031001

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

SEJARAH PEMBENTUKAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR (1990-2005)

SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O

L E H

NAMA : Hendra Nainggolan NIM : 090706039

Pembimbing,

Dra. Nina Karina, M.SP NIP : 195908041985032002

Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian

Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, untuk melengkapi Salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

(4)

Lembar Persetujuan Ketua Departemen

DISETUJUI OLEH :

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH

Ketua Departemen,

Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP. 196409221989031001

(5)

Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dekan dan Panitia Ujian

PENGESAHAN :

Diterima Oleh :

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Fakultas Ilmu Budaya Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan

Pada :

Tanggal :

Hari :

Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan,

Dr. Syahron Lubis, M.A. NIP. 195110131976031001

PanitiaUjian :

No Nama TandaTangan

1 . Drs. Edi Sumarno, M.Hum (……….)

2 .Dra.Nurhabsyah, Msi (……….……….)

3. Dra. Nina Karina, M.SP (….……….)

4 . Dra. Ratna, M.S (….……….)

(6)

KATA PENGANTAR

Terlebih dahulu penulis mengucapkan segala puji syukur bagi kemuliaan-Mu yang Maha tinggi, karena berkat dan karunia yang diberikan-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik, semua tidak terlepas dari uluran tangan Tuhan Yesus Kristus. Kasih-Nya telah memampukan penulis dan atas kehendakNya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini, sebab tanpa ada pertolongan dariNya semua itu tidaklah akan terlaksana.

Penulis skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi setiap mahasiswa dalam menyelesaikan studinya dari jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Untuk memenuhi syarat tersebut penulis mengangkat sebuah permasalahan yang dapat dituliskan menjadi sebuah skripsi dengan judul PERTENUNAN BOI-TULUS TEKSTIL DI KECAMATAN BALIGE (1950-1998). Sepanjang penulisan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kelemahan serta kekurangan dari segi isi maupun penulisan.

Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik, ini semua tak terlepas dari dukungan dan doa orang-orang tercinta. Dengan setulus hati penulis menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada:

1. Tuhan Yesus kristus, karena kasihNya yang tanpa batas selalu menyertai setiap langkah dalam kehidupanku.

(7)

kasih sayang, pengorbanan moril dan materil dan doa restu kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tulisan sederhana ini.

3. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Pembantu Dekan beserta seluruh staf pegawainya.

4. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum dan Dra. Nurhabsyah M. Si, selaku ketua dan sekretaris jurusan Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan.

5. Bapak Drs. Timbun Ritonga, selaku dosen pembimbing dalam penulisan skripsi ini. Beliau memberikan saran-saran dan waktunya untuk memberikan bimbingan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh staf pengajar di Departemen Sejarah yang telah berjasa mendidik dan memberi pengetahuan selama masa mengikuti perkuliahan.

7. Bapak E. Sianipar beserta karyawan Pertenunan BOI-TULUS TEKSTIL yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan Penelitian, serta memberikan informasi guna mendukung penulisan menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada Saudara- saudaraKu Dedi Sanjaya Tambunan, Janris Ihut Marito Tambunan, Juanda Tambunan, Rikson Tambunan, Dan Ramot Tambunan yang telah banyak memberikan bantuan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

Waktu terus berlalu, apa yang terjadi hari ini dan besok tidak ada yang tahu. Tapi semua berlalu dangan begitu indah, karena hidup ini akan indah pada waktunya. Akhirnya untuk semua orang yang telah membantu langsung maupun tidak langsung penulisan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih.

Tulisan ini akan lebih sempurna apabila ada saran-saran, kritik dan pandangan yang sifatnya dapat membangun dari para pembaca. Sehingga segala bentuk pendapat yang bertujuan memperbaiki skripsi ini akan diterima dengan senang hati. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan seluruh masyarakat.

Medan, September 2014 Penulis

Swandi F Tambunan

DAFTAR ISI KATA PENGANTARi

DAFTAR ISI... iv

DAFTAR TABEL... vii

ABSTRAK... viii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Rumusan Masalah... 4

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 5

1.4 Tinjauan Pustaka... 6

(9)

2.1 Keadaan Geografis Kabupaten Tapanuli Utara... 11

2.2 Kondisi Masyarakat di Kabupaten Tapanuli Utara... 13

2.2.1 Pertanian... 14

2.2.2 Sumber Daya Manusia... 17

2.3 Sejarah Awal Kabupaten Tapanuli Utara ... 19

2.4 Kondisi Kabupaten Tapanuli Utara Sebelum pemekaran (1990-1999) 32 2.4.1 Letak geografis... 32

2.4.2 Kondisi Masyarakat... 33

BAB III DARI KABUPATEN TAPANULI UTARA MENUJU KABUPATEN TOBA SAMOSIR 3.1 Keadaan Fisik Kabupaten Toba Samosir... 39

3.1.1 Keadaan Geografis kabupaten Toba samosir... 39

3.1.2 Iklim... 39

3.1.3 Instansi/Dinas/Kantor Departemen/Badan Pemerintahan... 40

3.2 Gagasan Pembentukan Kabupaten Toba Samosir... 41

3.3 Kerja Sama Pemuka Masyarakat, Organisasi Masyarakat Sipil dan Tokoh Adat ... ... 44 3.4 Toba Samosir Sebagai Basis Kultural Orang Batak... 48

(10)

3.5.1 Langkah Panitia Pemekaran Melakukan Lobi Pemerintah Pusat...50

3.5.2 Pembahasan RUU di DPR-RI... 54

BAB IV MERANCANG MENDIRIKAN KABUPATEN TOBA SAMOSIR 4.1 Berdirinya Kabupaten Baru... 56

4.2 Debat Tentang Ibukota Kabupaten Baru... 60

4.3 Menjadi Tuan Rumah di Rumah Sendiri... 62

4.4 Kabupaten Toba Samosir Sesudah Pemekaran... 64

4.4.1 Pendidikan... 66

4.4.2 Kesehatan... 68

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 69

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel I Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 1998

... ... 17

Tabel II Jumlah Desa dan Penduduk Pada Tahun 1994 Perkecamatan

33

Tabel III Anggota Dalihan Na Tolu

(12)

Tabel IV Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2001

65

Tabel V Jumlah Sekolah, Guru dan Murid Tahun 2001

67

ABSTRAK

(13)

termasuk baik dari segi ekonomi, dilihat dari perkembangan kotanya selama ini dan juga dari segi pemerintahaanya sehinngga dipilih menjadi ibu kota dari Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten ini dulu adalah bagian dari Daerah Tingkat II Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Pemekaraan Daerah Tingkat II Kabupaten Toba Samosir dilakukan, dirasakan perlu diakibatkan luasnya daerah pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara, yang tidak mampu menjangkau semua daerahnya. Yang mengakibatkan daerah-daerah pedalaman semakin tidak maju karena perhatian yang kurang dari pemerintah di akibatkan akses menuju daerah-daerah tidak dapat dilalui dengan mudah.

Selama proses pemekaranya terjadi, banyak pihak-pihak yang bekerja untuk proses pemekaran Kabupaten Toba Samosir. Dari tahun 1990 awal dimana pemekaraan itu mulai dibahas oleh masyarakat saja hingga di sampaikan ke DPRD Kabupaten Tapanuli Utara, agar dimasukkan sebagai agenda pembahasan serta disampaikannya terhadap Daerah Tingkat I Provinsi Sumatrea Utara hingga Pemerintah Pusat agar keinginan masyarakat terpenuhi dan kemajuan masayrakat cepat dirasakan. Karena seiring perkembangan zaman. Pemerintah tersebut juga dituntut untuk terus berkembang mengikuti zaman tersebut. Maksudnya, selalu perlu adanya penyesuaian-penyesuain antara pemerintah dengan yang diperintah, agar tercipta kesesuaian baik dari pemerintah maupun dari masyarakatnya. Sehingga tercipta masayrakat yang aman,sejahtera dan kesepahaman antar sesama. Pembahasan yang dilakukan pemerintah atas usulan pemekaraan tersebut banyak didukung masyarakat sendiri, sehingga proses pemekarannya dapat tercapai untuk memajukan kesejahtraan masyarakat sendiri.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Akhir-akhir ini permasalahan pembangunan di Indonesia semakin komplek dan beragam. Hal ini disebabkan karena seiring dengan tujuan pembangunan itu sendiri bagaimana upaya untuk meningkatakan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus merupakan visi Indonesia¸untuk mensejahterakan seluruh warga Indonesia dan pemerataan pembangunan.

Pembangunan yang dilakukan bertujuan agar masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan dan mencapai taraf hidup yang lebih baik dalam menjalani segala aktifitasnya masing-masing, namun hal itu akan terwujud apabila didukung oleh semua unsur masyarakat. Untuk mempercepat pembangunan tersebut diperlukan apa yang di sebut dengan pemekaran wilayah agar pemerataan hasil-hasil pembangunan.

(15)

Secara prinsipil otonomi daerah adalah penyerahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Pemberian wewenang kepada daerah yang lebih luas sangat cepat,karena daerah lebih mengerti tentang kondisinya sendiri. Dengan kata lain, dalam bentuk konteks Indonesia, otonomi daerah diartikan sebagai proses pelimpahan kekuasaan dari pemerintah pusat kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana yang diamanatkan oleh UU.1 Pembangunan yang dilaksanakan akan sesuai dengan prioritas daerah dan aspirasi masyarakat. Hal ini dikarenakan adanya partisipasi masyarakat dalam aktivitas politik di tingkat daerah serta sistem demokratisasi yang dijalankan sesuai dengan tujuan otonomi itu sendiri. Otonomi daerah, pada dasarnya memberikan kebebasan berkarya kepada daerah dalam batas kewenangan dan fungsi sebagai yang diserahkan dan kebebasan itu dapat dijalankan tidak melampaui batas fungsi lembaga pemerintah yang lebih tinggi, atau peraturan suatu instansi daerah dan tidak melampui kewenangan atau tidak bertentangan dengan peraturan lembaga wewenang yang lebih tinggi.

Toba Samosir atau sering di sebut dengan Tobasa adalah sebuah kabupaten yang ada di Provinsi Sumatra Utara yang Ibu Kotanya sendiri terdapat di kota Balige. Kabupaten ini dulu adalah bagian dari kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Daerah Balige adalah daerah yang termasuk baik dari segi ekonomi, dilihat dari perkembangan kotanya selama ini dan juga dari segi pemerintahaanya.

(16)

Mandailing Natal di Daerah Tingkat I Sumatera Utara. Kabupaten Toba Samosir diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 bertempat di Kantor Gubernur Sumatera Utara oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid atas nama Presiden Republik Indonesia sekaligus melantik Drs. Sahala Tampubolon selaku Penjabat Bupati Toba Samosir. Pada saat itu, sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten adalah Drs. Parlindungan Simbolon.2

Tobasa terdiri dari atas 16 kecamatan. Keenam belas kecamatan tersebut adalah Kecamatan Ajibata, Balige, Bor-bor, Habinsaran, Laguboti, Lumban Julu, Nassau, Pintu Pohan Meranti, Porsea, Siantar Narumonda, Sigumpar, Silaen, Tampahan, Uluan, Parmaksian, Bonatua Lunasi.

Mayoritas masyarakat Kabupaten Toba Samosir pencahariannya adalah bertani, namun ada beberapa komoditas yang diunggulkan seperti, padi, jagung, kopi, jeruk, gula aren, dan andaliman. Penduduk mayoritas di Tobasa adalah suku Batak Toba, Simalungun, Karo, Tionghoa, dan lain-lain.

Terbentuknya Kabupaten Toba Samosir tidak terlepas dari usaha-usaha yang dilakukan masyarakat, Proses itu yang akan di bahas oleh penulis di dalam penulisan tugas akhir skripsi ini yang diberi judul Sejarah Pembentukan Kabupaten Toba Samosir (1990-2005), yang memiliki batasan waktu yaitu dimulai tahun 1990 sampai 2005. Alasan penulis memulai penelitian pada tahun 1990, karena di tahun tersebut awal adanya keinginan atau aspirasi masyarakat untuk melakukan pemekaran wilayah dari Kabupaten terdahulu yaitu Kabupaten Tapanuli Utara. Akhir dari periodisasi ini yaitu tahun 2005, saat dimana

(17)

terpilihnya Bupati pertama yang dipilih oleh masayarakat itu sendiri, yang sesuai dengan amanat Otonomi daerah itu sendiri, agar masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan dan bijak dalam berpolitik.

1.2 Rumusan Masalah

Di dalam suatu penulisan, rumusan masalah sangat penting sebab akan memudahkan panulis dalam pengarahan pengumpulan data dalam rangka untuk memperoleh data yang relevan.3 Hal ini menjadi landasan dalam penulisan nantinya pada bab-bab selanjutnya.

Akar permasalahanya dianggap penting karena di dalamnya di ajukan konsep yang akan dibawa dalam penelitian dan menjadi alur dalam penulisan. Sesuai dengan judul, Sejarah Pembentukan Kabupaten Toba Samosir (1990-2005), maka dibuatlah satu pokok masalah. Untuk mempermudah memahami permasalahan dalam penelitian ini, maka penulis mengurutkan beberapa pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ke beberapa pertanyaan sebagai berikut.

1. Bagaimana kondisi Kabupaten Toba Samosir sebelum Pemekaran ?

2. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan adanya wacana pemekaran Kabupaten Toba Samosir ?

3. Bagaimana proses Pemekaran Kabupaten Toba Samosir dari Kabupaten Tapanuli Utara.

(18)

pengaruhnya terhadap masyarakat di daerah tersebut. Hal inilah yang akan dicoba diuraikan pada studi ini. Tahun 1990 dijadikan periodisasi awal penelitian dikarenakan, pada tahun 1990 lah adanya terdengar atau keluarnya aspirasi masyarakat untuk melakukan pemekaraan dari Kabupaten Tapanuli Utara.

Pada batasan periodisasi penulis membatasi studi tentang pemekaran Kabupaten Toba Samosir sampai tahun 2005, karena di tahun 2005 adalah awal bagi masyarakat memilih pemimpinya secara langsung dan merasakan hasil dari pemekaran wilayah tersebut.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Setelah mengetahui apa yang menjadi pokok permasalahn yang akan di kembangkan oleh penulis, maka yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah apa yang menjadi tujuan penulis dalam melakukan penulisan skripsi ini, serta manfaat apa yang dapat dipetik dari penelitian ini.

Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui situasi dan kondisi Kabupaten Toba Samosir sebelum pemekaran.

2. Menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan adanya wacana pembentukan Kabupaten Toba Samosir.

3. Menguraikan sejarah atau proses Pembentukan Kabupaten Toba Samosir.

(19)

1. Menambah pengetahuan sekaligus motivasi peneliti dalam menghasilkan karya Historiografi serta memberikan referensi literature yang berguna terhadap dunia akademi, terutama dalam Ilmu Sejarah guna membuka ruang penulisan sejarah yang berikutnya

2. Menjadi suatu diskusi yang berguna bagi pemerintahan Kabupaten Tobasa dan masyarakat Tobasa dalam proses pembangunan.

3. Memperkaya informasi bagi Masyarakat Tobasa, agar masyarakat mengetahui sejarah pembentukan Kabupaten Tobasa.

4. Menambah wawasan pembaca mengenai sejarah pembentukan DATI II Kabupaten Toba Samosir.

5. Menjadi sebuah karya tulis (skripsi), sebagai persyaratan untuk menjadi Sarjana Sastra Jurusan Ilmu Sejarah.

1.4 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka sangatlah di perlukan dalam suatu penelitian, hal ini dapat berfungsi sebagai sumber pendukung penelitian sehingga hasil penelitian tersebut sesuai dengan yang diharapkan dan tidak keluar dari rumusan masalah yang telah dibuat. Oleh sebab itulah, relevansi literature yang digunakan menjadi sebuah tuntutan dalam sebuah penelitian.

Sirojuzilam dalam bukunya “Problematika wilayah Kota dan Daerah”,

(20)

sistem menejemen yang baik dan terarah. Perencanaan wilayah yang baik hendaklah disusun sedemikian rupa sehingga permasalahn wilayah dapat diminimalisir. Pendekatan sistem dan komperhensif adalah cara yang tepat untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dan kota.

Jhon Tafbu Ritonga dalam bukunya "Marsipature Hutana Be, Pembangunan Desa Menuju Otonomi Daerah”, membahas peranan istilah Marsipature Hutana Be yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “Membangun Kampung Masing-Masing”, istilah yang disebutkan Mantan Gubernur Sumatera Utara yaitu Raja Inal Siregar (1988-1998). Karena dalam istilah ini mengajak Putra-putri Daerah bila berhasil di kota perantauan agar kembali ke kampung masing-masing dan membangun kampungnya kembali seperti yang diharapkan, dikatakan dengan istilah tersebutserta mengembangkan dan membangunya sesuai dengan UU otonomi.

(21)

M. Mas’ud Said dalam bukunya “Arah Baru Otonomi Daerah di Indonesia”, yang menyebutkan sejak diluncurkan pada tahun 1999 melalui UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No 5 Tahun 1999 otonomi daerah telah mengambil tempat yang luas dalam pembeitaan dan wacana publik. Pelaksanaan UU No. 22 dimulai tahun 2000 dengan diterapkanya pemilihan Kepala Daerah dengan sistem paket dan langsung dilakukan oleh DPRD tanpa campur tangan pemerintah pusat. Dengan adanya peraturan tersebut, setiap daerah di beri wewenang untuk mengatur rumah tangganya sendiri.

Ni’matul Huda, dalam bukunya “Hukum Tata Negara Indonesia”,

mengatakan sejak terjadinya reformasi di tahun1998, tonggak sejarah baru dalam perjalanan ketatanegaraan Indonesia seolah dimulai dari awal. Dari tahun 1999 sampai dengan 2002, UUD 1945 telah mengalami perubahan mendasar sebanyak empat kali. Dalam rangka peubahaan mendasar sebanyak empat kali. UUD 1945, bangsa kita telah mengadopsikan prinsip-prinsip baru dalam sistem ketatanegaraan, seperti pemisahan kekuasaan.

(22)

1.5 Metode Penelitian

Louis Gottschalk menjelaskan metode sejarah sebagai proses menguji, menganalisis kesaksian sejarah untuk menemukan data autentik atau dipercaya.4 Berdasarkan pengertian di atas, Louis Gottschalk menempatkan empat pokok cara meneliti sejarah, yaitu Heuristik, Verifikasi, Interpretasi dan historiografi yang digunakan penulis dalam menuliskan skripsi ini.

(23)

BAB II

(24)

2.1 Letak Geografis Kabupaten Tapanuli Utara

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan salah satu daerah kabupaten di Provinsi Sumatera utara yang terletak di wilayah dataran tinggi Sumatera Utara berada pada ketinggian antara 150-1.700 meter di atas permukaan laut.5Secara astronomis Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 0° 20’ - 2° Lintang Utara dan 99°05’–99°30’ Bujur Timur. Sedangkan secara geografis letak Kabupaten Tapanuli Utara diapit atau berbatasan langsung dengan empat kabupaten yaitu, disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu, disebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan dan disebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Luas wilayah daratan kabupaten tapanuli Utara sekitar 3.793,71 km ² dan luas perairan Danau Toba 6,60 km². Dari 15 kecamatan yang ada kecamatan yang paling luas di kabupaten Tapanuli Utara adalah kecamatan Garoga sekitar 567,58 km² atau 14,96% dari luas kabupaten, dan kecamatan yang terkecil luasnya yaitu kecamatan Muara sekitar 79,75 km² atau 2,10%.

Salah satu unsur cuaca/iklim adalah curah hujan. Kabupaten Tapanuli Utara yang berada pada rata-rata ketinggian 900 meter di atas permukaan laut sangat berpeluang memperoleh curah hujan yang banyak. Selama tahun 2005, rata-rata curah hujan tahunan terjadi paling besar di kecamatan Muara yaitu sebesar 350,58 mm dan rata-rata lama hari hujan bulanan sebanyak 19,92 hari. Dari keadaan curah hujan di tahun 2005 tersebut dapat di ambil kesimpulan

(25)

bahwa curah hujan di kabupaten Tapanuli Utara sangat besar dan membantu kesuburan di sana.

Wilayah Kabupaten Tapanuli Utara di bagi beberapa Kecamatan, yang di mana Kecamatan tersebut dapat membantu daerah Pemerintah kabupaten untuk lebih menjangkau daerah-daerah yang belum bisa di akses ataupun perpanjang tangan pemerintah kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat, kecamatan yang ada di kabupaten Tapanuli Utara adalah :

1. Kecamatan Parmonangan 2. Kecamatan Adian Koting 3. Kecamatan Sipoholon 4. Kecamatan Tarutung 5. Kecamatan Pahae Julu 6. Kecamatan Pahae Jae 7. Kecamatan Pangaribuan 8. Kecamatan Garoga 9. Kecamatan Sipahutar

10. Kecamatan Siborong-Borong 11. Kecamatan Pagaran

12. Kecamatan Muara 13. Kecamatan Pakkat

(26)

17. Kecamatan Parlilitan

Dengan keberadaan Kabupaten yang di bagi beberapa kecamatan tersebut, perpanjangan tangan Bupati untuk membangun tiap daerah yang berada pada daerah pemerintahaanya lebih akan di rasakan oleh para masyarakat Kabupaten Tapanuli Utara.

2.2 Kondisi Masyarakat di Kabupaten Tapanuli Utara

Dalam kehidupan bermasyarakat di daerah Tapanuli Utara mulai zaman tradisional sampai pada tahun 1999 tidak terlepas dari bentuk masyarakat desa yang merupakan masyarakat asli yang tetap hidup dan bertahan selama beratus ratus tahun walaupun telah dilanda bebagai bencana, perubahan sosial sampai dengan peperangan hingga di zaman kemerdekaan. Struktur tempat tinggal dalam masyarakat Batak khususnya Masyarakat Tapanuli yang mayoritas masih keturunan Batak di sebut dengan huta (dusun) yang merupakan kesatuan yang paling kecil, yang di tempati oleh beberapa kepala keluarga, yang tidak terlepas dari latar belakang marga atau garis keturunan.

(27)

luasnya lahan kering yang dapat dijadikan areal persawahan baru dengan membangun sarana irigasi yang memadai, sehingga hal ini mempengaruhi mata pencaharian penduduk yang sebahagian besar adalah para petani sawah. Perairan Danau Toba yang cukup luas dan sungai yang dapat dimanfaatkan potensinya untuk irigasi dan pembangkit tenaga listrik. Keindahan alam dan anorama kawasan Danau Toba, kekayaan seni budaya asli merupakan potensi daerah yang dapat digali dan dikembangkan dalam upaya pengembangan kepariwisataan di tanah air. Sesuai dengan potensi pembangunan, kabupaten Tapanuli Utara mempunyai potensi yang berasal dari pertanian, sumber daya manusia, industri serta yang berasal dari potensi kepariwisataan.

2.2.1 Pertanian

Sektor pertanian, bagi daerah Kabupaten Tapanuli Utara sampai saat ini masih merupakan tulang punggung perekonomian daerah sebagai penghasil nilai tambah dan devisa maupun sumber penghasilan atau penyedia lapangan pekerjaan sebagian besar penduduknya. Hal ini ditunjukkan dari kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB pada tahun 2005 masih tetap dominan yakni mencapai 55,16 persen dari total PDRB yang dihasilkan.

Mengingat pentingnya sektor pertanian bagi daerah Kabupaten Tapanuli Utara yang mana memberikan fasilitas dan dorongan yang lebih terarah bagi perkembangan pembangunan kerakyatan. Hasil pertanian tersebut di bagi atas dua bagianyakni :

(28)

 Padi

 Ubi kayu

 Ubi jalar

 Jagung

 Kedelai

 Kacang tanah

II. Produksi utama Sayur-sayuran

 Cabe

 Bawang merah

 Bawang daun

 Buncis

 Kentang

 Kubis

 Sawi

 Kacang panjang

 Tomat

 Terong

 Bayam

(29)

hewan hanya ada beberapa pertanian di bantu oleh traktor atau alat teknologi. Pada umumnya masyarakat Tapanuli Utara mengenal istilah ”marsiadapari” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan bergotong royong dalam artian dalam mengerjakan dari satu proses pertanian dari awal menanam sampai dengan panen, dalam ”marsiadapari” masyarakat dalam menyelesaikan proses pertanian dilakukan tanpa gaji ataupun upah. Dalam sistem ini masyarakat saling bergantian mengerjakan proses pertanian tersebut dari suatu tempat ke tempat lain dan milik orang lain ke tempat orang lain. Dan dalam tradisi pertanian yang di lakukan masyarakat Batak khususnya Batak Toba yang berada di Kabupaten Tapanuli Utara dalam mensyukuri hasil panen, adalah melakukan apa yang namanya persembahaan bagi Sang Pencipta yang disebut dengan ”Pesta Gotilon” atau disebut dengan pesta panen, seperti menyumbangkan hasil panennya untuk pembangunan rumah ibadah.

2.2.2 Sumber Daya Manusia

Salah Satu syarat untuk menjadi suatu wilayah adalah memiliki masyarakat atau penduduk. Demikian juga Kabupaten Tapanuli Utara yang memiliki sumber daya manusia untuk membangun daerah tersebut. Jumlah penduduk kabupaten Tapanuli Utara dapat di lihat dari tabel berikut :

TABEL I

(30)

N O

Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Pakkat 11683 12623 24306

2 Onan Ganjang 6953 7109 14062

3 Parmonangan 7062 6988 14050

4 Adian Koting 6927 7091 14018

5 Sipoholon 9889 10517 20406

6 Tarutung 23064 24635 47699

7 Pahae Julu 6571 7204 13775

8 Pahae Jae 12419 13179 25598

9 Pangaribuan 13487 14315 27802

10 Garoga 7769 8233 16002

11 Sipahutar 10619 11073 21692

12 Siborong-borong 17792 18145 35937

13 Pagaran 7422 7738 15160

14 Lintong Nihuta 15978 16425 32403

15 Dolok Sanggul 22627 25111 47788

16 Parlilitan 13064 14476 27540

17 Muara 11384 11611 22995

Jumlah 204760 216473 421233

Sumber : Tapanuli Dalam Angka 98

Untuk meningkatakan Sumber Daya Manusia, Kabupaten Tapanuli Utara melakukan Pembangunan sektor pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan merupakan asset utama yang sangat strategis dalam menggerakkan laju pembangunan. Keberhasilan sektor pendidikan salah satunya dapat dilihat dari indikator meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah (APS). Peningkatan Angka Partisipasi Sekolah haruslah didukung oleh penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

(31)

jumlah guru sebanyak 3.682orang dan banyaknya murid 77922 orang. Pada tingkat SMP/MTS jumlah sekolah sebanyak 84 unit dimana diantaranya adalah MTS. Jumlah tenaga guru sebanyak 1.628 orang dan siswa yang menuntut ilmu sebanyak 33879 orang.

Sedangkan di tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) jumlah sekolah pada tahun ajaran 1998/1999 sebanyak 31 unit termasuk Madrasyah Aliyah, dengan jumah guru sebanyak 662 orang dan banyak murid sebanyak 12.469 orang dan di tingkat SMK di tahun ajaran 1998/1999terdapat sekolah 21 unit dengan tenaga pengajar sebanyak 535 orang dan murid sebanyak 8.246 orang.

Dengan adanya sarana pendidikan yang telah mendukung, memudahkan pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang ada di kabupaten Tapanuli Utara, dan mengurangi buta huruf yang ada di wilayah tesebut, dan mendorong masyarakat untuk untuk lebih sadar akan pentingnya pendidikan untuk pembangunan daerah Tapanuli Utara.

2.3 Sejarah Awal Kabupaten Tapanuli Utara

(32)

melakukan perubahan dengan membagi kawasan Nusantara ke dalam beberapa wilayah (gewest) yang dikepalai oleh seorang Gubernur Jendral dengan kekuasaanya dibidang pemerintahaan dan wilayahnya meliputi kekuasaan pemerintahan tradisional dan bertindak sebagai kepala pemerintahaan daerah atau penguasa tertinggi pemerintahan sipil termasuk angkatan kepolisian, maka untuk setiap afdeeling dipimpin oleh seorang Asisten Residen dan onderafdeeling dibawah penguasaan seorang Controleur.6

Afdeling Batak Landen dipimpin seorang Asisten Residen yang ibukotanya Tarutung yang terdiri 5 Onder Afdeling (Wilayah) yaitu :

1. Onder Afdeling Silindung (Wilayah Silindung) ibukotanya Tarutung.

2. Onder Afdeling Hoovlakte Van Toba (Wilayah Humbang) ibukotanya Siborong-borong.

3. Onder Afdeling Toba (Wilayah Toba) ibukotanya Balige.

4.Onder Afdeling Samosir (Wilayah Samosir) ibukotanya Pangururan.

5. Onder Afdeling Dairi Landen (Kabupaten Dairi sekarang) ibukotanya Sidikalang7.

Menjelang Perang Dunia II, distrik-distrik di seluruh keresidenan Tapanuli dihapuskan dan beberapa Demang yang mengepalai distrik-distrik sebelumnya diperbantukan ke kantor Controleur masing-masing dan disebut namanya

Demang Terbeschingking. Dengan penghapusan ini para Asisten Demang yang

6 Pemda Tingkat II Tapanuli Utara, dalam skripsi Theodora Simanungkalit, Sejarah Pemerintahan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara (1967-1985),belum terbit,medan,2006,hal.12.

(33)

ada di kantor Demang itu ditetapkan menjadi Asisten Demang di Onder Distrik bersangkutan.

Tiap-tiap Onder Afdeling mempuyai satu Distrik (Kewedanaan) dipimpin seorang Distrikchoolfd bangsa Indonesia yang disebut Demang dan membawahi beberapa Onder Distrikten (Kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Asisten Demang. Kemudian tiap Onder Distrik membawahi beberapa negeri yang dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang disebut Negeri Hoofd. Pada waktu berikutnya diubah dan dilaksanakan pemilihan, tetapi tetap memperhatikan asal usulnya.

Negeri-negeri ini terdiri dari beberapa kampung, yang dipimpin seorang kepala kampung yang disebut Kampung Hoofd dan juga diangkat serupa dengan pengangkatan Negeri Hoofd. Negeri dan Kampung Hoofd statusnya bukan pegawai negeri, tetapi pejabat-pejabat yang berdiri sendiri di negeri/kampungnya. Mereka tidak menerima gaji dari pemerintah tetapi dari upah pungut pajak dan khusus Negeri Hoofd menerima tiap-tiap tahun upah yang disebut Yoarliykse Begroting.

Tugas utama Negeri dan Kampung Hoofd ialah memelihara keamanan dan ketertiban, memungut pajak/blasting/rodi dari penduduk Negeri/Kampung masing-masing. Blasting/rodi ditetapkan tiap-tiap tahun oleh Contraleur sesudah panen padi. Walaupun statusnya bukan sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda,

(34)

Pemerintah Hindia Belanda juga memperkenalkan pemerintah pribumi di tingkat Distrik dengan sistem Demang atau Regen yang sebenarnya adalah merupakan perluasan sistem yang telah diterapkan diberbagai daerah lain di luar Pulau Jawa ke Tapanuli.8

Setelah berakhirnya kekuasaan Belanda yang kemudian digantikan oleh Jepang pada tanggal 24 Maret 1942 sampai 1945 tidak mengalami perubahaan yang sangat nyata pada struktur Pemerintahaan Tapanuli Utara yang ditinggalkan oleh pemerintah kolonial, kecuali pemberian nama-nama dan personalia baru yang diberikan oleh Pemerintah Jepang.Pada waktu pendudukan tentara Jepang Tahun 1942-1945 struktur pemerintahan di Tapanuli Utara hampir tidak berubah, hanya namanya yang berubah seperti :

1. Asistent Resident diganti dengan nama Gunseibu dan menguasai seluruh tanah Batak dan disebut Tanah Batak Sityotyo.

2. Demang-demang Terbeschiking menjadi Guntyome memimpin masing-masing wilayah yang disebut Gunyakusyo.

3. Asisten Demang tetap berada di posnya masing-masing dengan nama Huku Guntyo dan kecamatannya diganti dengan nama Huku Gunyakusyo.

4. Negeri dan Kampung Hoofd tetap memimpin Negeri/Kampungnya masing-masing dengan mengubah namanya menjadi Kepala Negeri dan Kepala kampung.

Untuk membantu pemerintahaan Jepang maka dibentuk suatu badan Pertimbangan Pusat yang diberi nama Cuo Sang In yang anggota-anggotanya diambil dari wakil-wakil daerah tiap keresidenan dan berkedudukan di Bukit

(35)

Tinggi. Maka di keresidenan Tapanuli terdapat Dewan Pertimbangan Daerah. Sebagai pimpinan sipil yang tertinggi untuk bangsa Indonesia di Tapanuli maka diangkatlah Dr. Ferdinan Lumbantobing sebagai ketua BAPEN (Badan Pertahanan Negeri), ia diangkat oleh pemerintah Jepang sebagai Fuku Chokan

yaitu Wakil Residen, karena beliau adalah seorang tokoh pemuka masyarakat yang sangat disegani di wilayah Tapanuli.

Disetiap kota besar di Tapanuli selalu ada cabang BAPEN dan diinstruksikan untuk mengkoordinir setiap desa agar para pemudanya mengikuti pelatihan ,iliter, latihan pemadaman kebakaran dan menjaga keamanan desa, berjaga malam, dan mereka dilatih oleh tentara Jepang.9 Pemerintah Jepang juga membuat suatu badan atau organisasi untuk menjaga keamana desa dengan membuat pos-pos pengawasan yang disebut “Seikedan”.

Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, pemerintah mulailah membentuk struktur pemerintahan baik di pusat dan di daerah. Dengan diangkatnya Dr. Ferdinand Lumbantobing sebagai Residen Tapanuli, disusunlah struktur pemerintahan dalam negeri di Tapanuli khususnya di Tapanuli Utara sebagai berikut :

1. Nama Afdeling Batak Landen diganti menjadi Luhak Tanah Batak dan sebagai luhak pertama diangkat Cornelis Sihombing. Nama Budrafdeling diganti menjadi Urung dipimpin Kepala Urung, Para Demang memimpin Onder Afdeling sebagai Kepala Urung.

(36)

2. Onder Distrik diganti menjadi Urung kecil dan dipimpin Kepala Urung Kecil yang dulu disebut Asisten Demang.

Selanjutnya dalam waktu tidak begitu lama terjadi perubahan, nama Luhak diganti menjadi kabupaten yang dipimpin Bupati, Urung menjadi Wilayah yang dipimpin Demang, serta Urung Kecil menjadi Kecamatan yang dipimpin oleh Asisten Demang.

Dengan diterbitkanya ketetapan pusat mengenai pengangkatan Keresidenan Tapanuli pada tanggal 3 Oktober 1945 , dibentuklah Pemerintahan daerah Tapanuli dan pengangkatan staf pemerintahaanya, juga pengangkatan Kepala-kepala luhak dan daerah Tapanuli, antara lain :

1. Staf Pusat Pemerintahaan daerah Tapanuli (Residen, wakil Residen, Anggota-anggota dan Kepala setiap Usaha Keresidenan.

2. Kepala-kepala Luhak Untuk Luhak Sibolga, Luhak Tanah Batak, Luhak Padang Sidempuan, dan Luhak Nias.

Kepala Luhak Tanah Batak yang pertama sekali diangkat adalah Cornelius Sihombing. Sebutan Luhak, Urung dan Urung kecil tersebut tidak lama dipergunakan karena dalam waktu singkat berubah menjadi :

1. Luhak menjadi Kabupaten dan dipimpin oleh Bupati. 2. Urung Menjadi Wilayah dan dipimpin oleh Demang.

3. Urung Kecil menjadi kecamatan dan dipimpin oleh Asisten Demang.

(37)

1. Wilayah Silindung. 2. Wilayah Humbang . 3. Wilayah Toba. 4. Wilayah Samosir. 5. Wilayah Dairi.

yang masing-masing dipimpin oleh seorang Demang. Kecamatan-kecamatan tetap seperti yang ditinggalkan Jepang.

Pada Tahun 1947 terjadi Agresi I oleh Belanda dimana Belanda mulai menduduki daerah Sumatera Timur maka berdasarkan pertimbangan-pertimbangan strategis dan untuk memperkuat pemerintahan dan pertahanan, Kabupaten Tanah Batak dibagi menjadi 4 (empat) kabupaten. Wilayah menjadi kabupaten dan memperbanyak kecamatan.

Pada tahun 1948 terjadi Agresi II oleh Belanda, untuk mempermudah hubungan sipil dan Tentara Republik, maka pejabat-pejabat Pemerintahan Sipil dimiliterkan dengan jabatan Bupati Militer, Wedana Militer dan Camat Militer. Untuk mempercepat hubungan dengan rakyat, kewedanaan dihapuskan dan para camat langsung secara administratip ke Bupati.

(38)

pada tahun 1950 dengan keputusan Gubernur Tapanuli/Sumatera Timur 18 Januari 1950/Pm/Dpdta/50 maka Keresidenan Tapanuli dibagi menjadi 4 (empat) kabupaten baru10, yaitu :

1. Kabupaten Tapanuli Utara (dulu Kabupaten Tanah Batak) ibukotanya Tarutung.

2. Kabupaten Tapanuli Selatan (dulu Kabupaten Padang Sidempuan) ibukotanya Padang Sidempuan.

3. Kabupaten Tapanuli Tengah (dulu Kabupaten Sibolga) ibukotanya Sibolga 4. Kabupaten Nias (dulu Kabupaten Nias) ibukotanya Gunung Sitoli

Dengan dibentuknya kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Utara berdasarkan UU No 17. Drt 1956 diserahkanya urusan rumah tangga Daerah tingkat II Tapanuli Utara adalah sebanyak 6 (enam) urusan yaitu :

1. Pekerjaan Umum, dengan Perda Prop. Dati I Sumatera Utara Nomor : 5 tahun 1957.

2. Kesehatan, dengan Perda Prop. Dati I Sumatera Utara Nomor : 6 tahun 1957.

3. Pertanian, dengan Perda Prop. Dati I Sumatera Utara Nomor : 7 tahun 1957.

4. Perikanan, dengan Perda Prop. Dati I Sumatera Utara Nomor : 8 tahun 1957.

(39)

Dengan terbentuknya Kabupaten ini, maka kabupaten-kabupaten yang dibentuk pada tahun 1947 dibubarkan. Disamping itu ditiap kabupaten dibentuk badan legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Sementara yang anggotanya dari anggota partai politik setempat. Pada masa ini dibentuknya DPR sementara di Tapanuli Utara karena pemerintahan yang lama berbentuk collegial, maka dibentuk juga Dewan Pemerintah Daerah (DPD). Dalam sidang pertama DPRD Sementara Tapanuli Utara dengan Suara Terbanyak terpilih :

Bupati Kepala Daerah : F. Pasaribu Ketua DPRDS : SP. Sihombing

Sekda merangkap sekretaris DPRDS : AV. Sihombing Anggota : - GA. Simorangkir

- MT. Ujung - H. Siburian - O. Simorangkir

Dalam kurung waktu 1950 Tapanuli Utara terdiri dari 33 kecamatan. Tahun 1952 terbentuk kecamatan Adiankoting yang dipisahkan dari kecamatan Tarutung di wilayah silindung. Tahun 1953 berdiri satu kecamatan lagi yang dinamai garoga terpisah dari kecamatan pangaribuan di wilayah Silindung sehingga menjadi 35 kecamatan.11

(40)

Salah satu upaya untuk mempercepat laju pembangunan ditinjau dari aspek pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan hasil-hasil pembangunan dan stabilitas keamanan adalah dengan jalan pemekaran wilayah. Pada tahun 1998 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal.

Kemudian pada tahun 2003 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan kembali menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan sesuai dengan Undang-undang No. 9 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Setelah Kabupaten Tapanuli Utara berpisah dengan Kabupaten Humbang Hasundutan jumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara menjadi 15 kecamatan. Kecamatan yang masih tetap dalam Kabupaten Tapanuli Utara yaitu Kecamatan Parmonangan, Kecamatan Adiankoting, Kecamatan Sipoholon, Kecamatan Tarutung, Kecamatan Siata Barita, Kecamatan Pahae Jae, Kecamatan Purbatua, Kecamatan Simangumban, Kecamatan Pahae Julu, Kecamatan Pangaribuan, Kecamatan Garoga, Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Siborong-Borong, Kecamatan Pagaran, Kecamatan Muara.

(41)

Sampai tahun 2005 tercatat sebanyak 22 orang Bupati yang memimpin Kabupaten Tapanuli Utara yakni :

01. C. Sihombing 1945 - 1946 02. H.F Situmorang 1946 - 1947 03. H.F Situmorang 1947 - 1949 04. F. Siagian 1947 - 1949

05. R.P.N Lumbantobing 1947 - 1949 06. P. Manurung 1947 - 1949

07. F. Pasaribu 1950 - 1953 08. M. Purba 1954 - 1956

09. H.F. Situmorang 1956 - 1958 10. B. Manurung 1958

11. S.M. Simanjuntak 1958 - 1963 12. E. Sibuea 1963 - 1966

13. Drs. P. Simanjuntak 1966 - 1967 14. A.V. Siahaan 1967 - 1968

15. LetKol M.S.M. Sinaga 1968 - 1979 16. Drs. S. Sagala 1979 - 1984

17. Drs. G. Sinaga 1984 - 1989 18. Lundu Panjaitan , SH 1989 - 1994 19. Drs. T.M.H. Sinaga 1994 - 1999

20. Drs. R.E Nainggolan, MM 1999 - 2004

(42)

Bupati), 2004 - 2009

22. Torang Lumbantobing (BupatiBangkit Parulian Silaban, SE)/ (Wakil Bupati), 2009 – 2014

Sama halnya dengan Lembaga Eksekutif, pada Lembaga Legislatif dapat pula diketahui bahwa putra daerah yang telah menjadi Ketua DPRD Tapanuli Utara adalah :

1. S.P. Lumbantobing 1950 - 1952 2. S.M. Simanjuntak 1952 - 1955 3. W. Lumbantobing 1955 - 1958 4. S.M. Simanjuntak 1958 - 1963 5. E. Sibuea 1963 - 1966

6. S. Simanjuntak 1966 - 1967 7. P. Hutajulu 1967 - 1971 8. S. Tarigan 1971 - 1977 9. C. Sinaga 1977 - 1982

10. W.T. Simatupang 1982 - 1987 11. F. Sianturi 1987 - 1992 12. Ir. M. Loebis 1992 - 1997

13. Drs. S.F.M. Situmorang 1997 - 1999 14. Torang Lumban Tobing 1999 - 2004

15. FL. Fernando Simanjuntak,SH, MBA 2004 - 2009, 2009-2014

(43)

Potensi alam antara lain luasnya lahan kering untuk dijadikan persawahan baru dengan membangun irigasi. Sebahagian perairan Danau Toba yang dimiliki dan sungai yang cukup banyak untuk dimanfaatkan potensinya untuk irigasi, pengembangan perikanan maupun pembangkit tenaga listrik. Keindahan alam dengan panorama khususnya Pulau Sibandang di kawasan Danau Toba di Kecamatan Muara, dan Wisata Rohani Salib Kasih. Kekayaan seni budaya asli merupakan potensi daerah dalam upaya mengembangkan kepariwisataan Nasional. Potensi lain terdapat berbagai jenis mineral seperti Kaolin, Batu gamping, Belerang, Batu besi, Mika, Batubara, Panas bumi dan sebagainya. Potensi sumber daya manusia sudah tidak diragukan lagi bahwa cukup banyak putera-puteri Tapanuli yang berjasa baik di pemerintahan, dunia usaha dan sebagainya.

Sesuai dengan potensi yang dimiliki, maka tulang punggung perekonomian Kabupaten Tapanuli Utara didominasi oleh sektor pertanian khususnya pertanian tanaman pangan dan perkebunan rakyat, menyusul sektor perdagangan, pemerintahan, perindustrian dan pariwisata. Pada era informasi dan globalisasi peranan pemerintah maupun pihak swasta semakin nyata dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah di berbagai sektor/bidang sehingga pendapatan masyarakat semakin meningkat.

(44)

Sebelum adanya pemekaraan, Kabupaten Tapanuli Utara memiliki wilayah yang sangat luas di lihat dari perbandingan sebelum pemekaraan dengansesudah pemekaran. Dan masih banyak daerah yang belum tersentuh pembangunan yang diakibatkan akses menuju suatu daerah masih sangat sulit.

2.4.1 Letak Geografis

Secara geografis, Sebelum pemekaran wilayah kabupaten Tapanuli sangat luas yaitu 10.605,30 km² atau 1.060.530 Ha dengan luas daratan 9.502,70 Km² atau 950.270 Ha dan luas perairan Danau Toba seluas 1102,60 Km² atau 110.260 Ha. Dan daerah Tapanuli Utaraberada di belahan Barat Indonesia dan sebelah utara Pulau Sumatera yang terletak pada 132’30” – 229’10 derajat Lintang Utara 9827’30” derajat bujur Timur.

Secara administratif daerah Tapanuli Utara sebelum kemerdekaaan dikenal sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Hindia-Belanda yang masuk dalam wilayah Keresidenan Tapanuli. Setelah masa kemerdekaan daerah Tapanuli Utara masuk dalam wilayah propinsi Sumatera Utara dan menjadi sebuah kabupaten Tapanuli Utara. Kabupaten Tapanuli Utara berbatasan di sebelah Utara dengan kabupaten Dairi, sebelah timur dengan Kabupaten Labuhan Batu, sebelah Selatan dengan kabupaten Tapanuli Selatan dan di sebelah Barat dengan kabupaten Tapanuli Tengah.

(45)

Kondisi masyarakat Tapanuli tidak jauh berbeda dengan sesudah adanya pemekaraan, mata pencaharian mayoritas masyarakat Tapanuli tetap berada di Pertanian. Namun jumlah penduduk sangat berbeda, jumlah penduduk sebelum pemekaraan :

TABEL II

JUMLAH DESA DAN PENDUDUK PADA TAHUN 1994 PERKECAMATAN

14 Lintong Ni Huta 19 33890

15 Dolok Sanggul 37 47164

(46)

17 Harian 13 11275

Sumber : Kantor Statistik Kabupaten Tapanuli Utara 1994

Dilihat dari tabel di atas, penduduk di Kabupaten Tapanuli Utara mencapai 721439 jiwa yang terbagi di 609 desa. Dengan kecamatan Tarutung memiliki jumlah penduduk terpadat dengan 48841 jiwa, sedangkan kecamatan Harian memiliki kepadatan penduduk paling sedikit dengan 11275 jiwa.

BAB III

DARI KABUPATEN TAPANULI UTARA MENUJU KABUPATEN TOBA SAMOSIR

(47)

masyarakat dapat dengan mudah untuk mengakses segala sesuatu yang penting untuk di dapatkan atau diinginkan. Karena hal tersebut Pemerintah melakukan sesuatu hal untuk mempercepat suatu pembngunan dengan salah satunya adalah Otonomi daerah. Otonomi dilakukan agar pembangunan daerah-daerah dapat dengan cepat dilakukan, agar masayrakat dapat merasakan hasil dari pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat.

Kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Utara dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Utara yang awalnya terdiri dari 5 (lima) wilayah atau distrik, yaitu Silindung, Toba, Humbang, Samosir, dan Dairi, mengingat luas wilayahnya Tapanuli Utara di tahun 1964 dilakuakan pemekaran dengan pembentukan Kabupaten Dairi yang ibu kotanya berkedudukan di Sidikalang.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah, guna mempercepat laju pertumbuhan pembangunan serta mendekatkan pelayanan pemerintah kepada Masyarakat, maka pada Tahun 1985 kabupaten Tapanuli Utara dibagi menjadi 5 (lima) wilayah pembangunan yang bersifat Administratif yakni wilayah:

- Wilayah Pembangunan I (Silindung) berpusat di Tarutung,

- Wilayah Pembangunan II (Humbang Timur) berpusat di Siborong-borong,

(48)

- Wilayah Pembangunan IV (Toba) berpusat di Balige

- Wilayah Pembangunan V (Samosir) berpusat di pangururan12

Yang masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang pembantu Bupati. Selanjutnya, walaupun sudah dimekarkan dengan terbentuknya kabupaten Dairi, wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Utara yang terdiri dari 27 kecamatan dan 971 desa masih dianggap sangat luas, bahkan masih ada wilayah desa yang untuk menjangkaunya dibutuhkan waktu tempuh lebih dari satu hari yang berdampak dengan lambanya pembangunan desa tersebut.

Banyaknya desa yang belum pernah terjamah oleh pembangunan, mengakibatkan banyaknya aspirasi atau keinginan masyarakatuntuk merasakan pembangunan tersebut. Dengan adanya dorongan yang kuat dari beberapa wilayah, untuk itu Kabupaten Tapanuli Utara sudah merasa perlu untuk memekarkan wilayahnya, agar para masyarakat bisa merasakan pembangunan dan manfaatnya.

(49)

Samosir dibentuk dengan Undang Undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Kabupaten Toba Samosir dan Daerah Tingkat II Kabupaten Mandailing Natal, dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Syarwan Hamid pada tanggal 9 Maret 1999 di Aula Matabe Kantor Gubernur Sumatera Utara - Medan sekaligus melantik Drs. Sahala Tampubolon sebagai Penjabat Bupati Toba Samosir, dan selanjutnya Bupati Toba Samosir mengangkat Drs. Parlindungan Simbolon sebagai Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat II Kabupaten Toba Samosir.

Setelah Kabupaten Toba Samosir diresmikan, dilakukan juga pembentukan lembaga legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Toba Samosir, dengan Ketua DPRD sementara adalah MP. Situmorang, yang kemudian dilaksanakan pemilihan Ketua DPRD dan terpilihlah Drh. Unggul Siahaan sebagai Ketua DPRD Kabupaten Toba Samosir didampingi Wakil Ketua adalah M.A. Simanjuntak dan Drs. L.P. Sitanggang.

3.1 Keadaan fisik Kabupaten Toba Samosir

3.1.1 Keadaan Geografis Kabupaten Toba Samosir

(50)

Kabupaten Toba Samosir terletak pada wilayah dataran tinggi Sumatera Utara yang memiliki topografi dan kultur tanah beraneka ragam, yaitu datar, bergelomang dan terjal. Struktur tanahnya labil dan berada pada wilayah gempa tektonik dan vulkanik. Posisi kabupaten Toba Samosir berada pada ketinggian 300-1.500 meter di atas permukaan laut. Kabupaten Toba samosir di hapit enam kabupaten yaitu sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Karo dan kabupaten simalungun, sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Asahan dan kabupaten Labuhan Batu, sebelah Selatan berbatasan dengan kabupaten Tapanuli Utara dan sebelah Barat dengan kabupaten Dairi.

3.1.2 Iklim

Sesuai dengan letaknya digaris khatulistiwa, kabupaten Toba Samosir tergolong kealam daerah beriklim tropis yaitu tropis basah dengan suhu berkisar antara 172C-292C dan rata-rata kelembapan udara 85,04 persen. Kabupaten Toba Samosir mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan hujan. Musim kemarau biasanya terjadi pada bulan April dan bulan Juli dan musim hujan terjadi pada bulan Agustus sampai dengan bulan Maret. Curah hujan di Toba Samosir sepanjang Tahun 2001 sebesar 1,681 mm dengan 97 hari hujan. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan September dengan curah hujan 282 mm dengan 12 hari hujan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan agustus dengan curah hujan 33 mm dengan 2 hari hujan.

(51)

Untuk membantu kerja Bupati kabupaten toba samosir di bentuk beberapa dinas yang di atur UU No. 5 tahun 1974yaitu :

- Sekretariat Daerah - BAPPEDA

- Sekretaris DPRD - Dinas Pendapatan - Dinas Pertanian - Dinas Pariwisata - Dinas PU Kimpraswil - Dinas PendidikanNasional - Dinas Perhubungan - Dinas kesehatn dan KB

- Dinas Kehutanan dan Perkebunan - Dinas Perdatam

- Kantor Koperasi dan UKM

- PDAM

- Kantor PMD dan Pemberdayaan Perempuan - Departemen Agama

- BPN

(52)

Di awal pemekaraan kantor yang ada untuk dipakai untuk berkantor dinas-dinas yang terkait masih menumpang di rumah-rumah penduduk yang menyediakan tempat agar pemerintahan tetap berjalan dengan lancar, yang di fasilitasi pada awal pemekaran hanya kantor bupati yang memakai kantor Camat Balige.

Untuk membantu bupati baru dalam melaksanakan tugas, Kabupaten Tapanuli Utara menyerahkan tenaga personil PNS sebanyak 5.158 orang yang ditugaskan berbagai instansi pemerintah. Ini adalah tenaga pertama yang di berikan oleh kabupaten Tapanuli Utara untuk menjalankan tugas pemerintahan.

3.2 Gagasan Pembentukan Kabupaten Toba Samosir

Awal gagasan pembentukan kabupaten telah lama terpikir oleh para tokoh-tokoh masyarakat pada waktu jaman Belanda masih berkuasa di Negara Republik Indonesia, di lihat dari pembagian daerah yang di buat oleh bangsa Belanda di mana pembagian pada waktu itu terdapat dalam keresidenan Tapanuli yang berkedudukan di Sibolga. Keresidenan Tapanuli terdiri dari 4 afdeling (kabupaten) yaitu afdeling Batak Landen, afdeling Padang Sidimpuan, afdeling Sibolga dan afdeling Nias. Afdeling Batak Landen yang ibuk kotanya berada di Tarutung yang terdiri dari onder afdeling yaitu:

1. onder afdeling Silindung (wilayah Silindung) ibu kotanya Tarutung. 2. onder afdeling Hoovelakte Van (wilayah humbang) ibukotanya Siborong-borong.

(53)

4. onder afdeling Samosir (wilayah Samosir) ibukotanya Pangururan. 5. onder afdeling Dairi Landen (Kabupaten Dairi sekarang) ibukotanya sidikalang

Latar belakang pembagian wilayah di atas dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan adat yang ada di daerah Afdeling Batak Landen, di mana atas perbedaan adat tersebut di bagi wilayah. Seperti contoh perbedaan adat yang di onder afdeling Toba dengan onder afdeling Silindung di mana perbedaan adatnya dapat di jumpai pada barang bawaan pada perhelatan adat, di mana bawaan di perhelatan yang di adakan di onder afdeling Toba kebanyakan adalah beras untuk dibawa ke tempat perhelatan tersebut, sedangkan bila perhelatan adatnya di adakan di daerah oder afdeling Silindung, barang bawaanya adalah haminjon, barang bawaan tersebut di pengaruhi juga oleh hasil panen yang ada di daerah tersebut, karena setiap daerah berbeda hasil panen yang di dapatkan.

(54)

berkas penting ke ibu kota kabupaten yaitu Tarutung pada waktu itu, mereka harus menempuh perjalanan mencapai 139 km yaitu jarak terjauh kecamatan yang ada di Tapanuli Utara sebelum pemekaran dengan menggunakan transportasi danau dan air.Dengan keluhan dan keinginan masyarakat Tapanuli tersebut, mendapat titik terang dari Gubernur Sumatera utara di mana gagasan untuk pembentukan kabupaten Toba Samosir dengan pemekaran dari kabupaten Tapanuli Utara bermula dari arahan bapak Gubenur Raja Inal Siregar yang pada itu menjabat sebagai gubenur Sumatera Utara pada tahun 1991, Gubenur pada waktu memimpin rapat kordinasi tentang pemerintahan bersama para bupati dan wali kota seSumatera Utara. Dengan gagasan tersebut semua unsur sangat setuju akan hal tersebut, dan langsung di tindak lanjuti oleh Bupati Tapanuli Utara Lundu Panjaitan, SH dengan mendiskusikanya dengan stafnya sekwilda Drs. Sahala Tampubolon.

3.3 Kerja sama Pemuka Masyarakat, Organisasi Masyarakat Sipil dan Tokoh Adat

(55)

Organisasi masayarakat yang menampung aspirasi masyarakat tersebut, disebut dengan Dalihan Natolu. Awalnya Dalihan Na Tolu adalah filsafah suku batak yang berarti tungku yang berkaki tiga, bukan berkaki empat atau lima. Tungku yang berkaki tiga sangat membutuhkan keseimbangan yang mutlak. Jika satu dari ketiga kaki tersebut rusak, maka tungku tidak dapat digunakan. Kalau kaki lima, jika satu kaki rusak masih dapat digunakan dengan sedikit penyesuaian meletakkan beban, begitu juga dengan tungku berkaki empat. Tetapi untuk tungku berkaki tiga, itu tidak mungkin terjadi. Inilah yang dipilih leluhur suku batak

sebagai falsafah hidup dalam tatanan kekerabatan antara sesama yang bersaudara, dengan hulahula dan boru. Perlu keseimbangan yang absolut dalam tatanan hidup antara tiga unsur. Untuk menjaga keseimbangan tersebut kita harus menyadari bahwa semua orang akan pernah menjadi hula-hula, pernah menjadi boru, dan pernah menjadi dongan tubu.13

Namun perkembanganya di Tapanuli Utara telah diterbitkan Perda No. 10 tahun 1990 tentang Lembaga Adat Dalihan Natolu, yaitu suatu lembaga adat yang dibentuk Pemda Tingkat II, sebagai lembaga musyawarah yang mengikutsertakan para penatua adat yang benar-benar memahami, menguasai dan menghayati adat istiadat di lingkungannya. (Pasal 5 dan 8 Perda No. 10 Tahun 1990).

Lembaga ini memiliki tugas untuk melaksanakan berbagai usaha/kegiatan dalam

(56)

Tahun 1990). Lembaga DalihanNatolu adalah lembaga permusyawaratan/pemufakatan adat Batak yang dibentuk berdasarkan peranan adat istiadat, kebudayaan, kesenian daerah, gotong royong dan kekeluargaan. (Pasal 1 h Perda No. 10 Tahun 1990). Lembaga ini berkedudukan di tempat

Desa/Kelurahan/Kecamatandan tingkat Kabupaten(Pasal 5 dan 7 Perda No. 10

Tahun 1990).

Keanggotaan dan kepengurusan Lembaga Adat Dalihan Natolu adalah para Penatua Adat yang benar memahami, menguasai dan menghayati adat istiadat. Selain itu, jelas bahwa anggota dan pengurus harus setia dan taat kepada Pancasila

dan Undang-undang Dasar 1945 dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 14

Organisasi ini berisikan masyarakat dan tokoh adat dari perwakilan tiap-tiap daerah bekas wilayah pembantu Bupati IV yang berada disekitaran Balige dan wilayah pembantu Bupati V yang berada disekitaran pulau Samosir pada waktu pemerintahan Tapanuli Utara. Anggota-anggotanya antara lain :

Tabel III

Anggota Dalihan Na Tolu

NO Perwakilan Balige Perwakilan Porsea Perwakilan Samosir 1 H.B. Silalahi Napitupulu H.J. Naibaho 2 Nagari Sonak Nalela E.M.D Naibaho Sidabutar 3 Gayus Siagian Sirait Sibarani

4 Managori Tambunan Manurung M.A. Simarmata Sumber :Hasil wawancara Sabam Simanjuntak tgl 17 September 2013

(57)

Organisasi inilah yang menjadi alat untuk menyampaikan aspirasi masayarakat kepada pemerintah Daerah. Setelah pertemuan-pertemuan yang dilakukan disetujui bahwa akan adanya Kabupaten baru untuk menunjang kemajuan masayarakat. Setelah pertemuan diakhir pemerintahan periode 1987-1992, diusulkan oleh organisasi Dalihan Natolu yang diwakili oleh Lundu Panjaitan kepada DPRD tingkat II Kabupaten Tapanuli Utara periode 1987-1992, dan langsung mendapatkan respon dan persetujuan dari pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan langsung dimasukan kedalam agenda pembahasan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara Nomor 2 Tahun 1992 Tanggal 7 Febuari 1992 tentang usul pemekaran DATI II Tapanuli Utara menjadi Kabupaten Toba Utara dan Toba Selatan.

(58)

nama, dimana terdapat Peraturan Pemerintah bahwa sebutan nama daerah induk tidak boleh diganti, hanya daerah baru yang diberi nama.

Hasil tersebut langsung dikembalikan oleh Departemen Dalam Negeri kepada pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara agar dibahas kembali. Dari hasil tersebut Bupati Tapanuli Utara memanggil para tokoh masayarakat dan tokoh adat yang tergabung dalam organisasi Dalian Nahtolu, dan pimpinan DPRD Kabupaten Tapanuli Utara melakukan diskusi untuk membahas hasil temuan Dapartemen Dalam Negeri. Melalui hasil diskusi yang dipimpin langsung oleh Bupati T.M.H. Sinaga, disepakati nama calon Kabupaten Baru yang akan dimekarkan adalah Toba Samosir sedangkan Kabupaten induk tetap menggunakan nama Tapanuli Utara. Atas dasar itu proposal pemekaran direvisi dan kembali diajukan Kementeri Dalam Negeri pada bulan Februari 1994.

3.4 Toba Samosir Sebagai Basis Kultural Orang Toba

(59)

Hasuddutan atau arah matahari terbenam. Kepercayaan ini masih dipegang dan diyakini sebagai sejarah Suku Batak Toba.

Dari sejarah Suku Batak Toba, masayarakat percaya bahwa awal dari Suku Batak berasal dari Pulau Samosir sehingga tempat tersebut dijadikan sebagai basis kultural Suku Batak Toba.walaupun telah banyak Suku-Suku Batak yang tidak berada diwilayah Toba yang disebabkan mencari penghidupan yang lebih baik, tetapi masih banyak yang mengetahui bahwa pusat kutural Suku Batak Toba adalah Samosir yang berada diwilayah administrasi Kabupaten Toba Samosir. Contoh, mayoritas penduduk asli Silindung adalah marga-marga Hutabarat, Panggabean, Simorangkir, Hutagalung, Hutapea dan Lumbantobing. Padahal ke-enam marga tersebut adalah turunan Guru Mangaloksa yang adalah salah- seorang anak Raja Hasibuan diwilayah Toba. Demikian pula marga Nasution yang kebanyakan tinggal wilayah Padangsidimpuan adalah saudara marga Siahaan di Balige, tentu kedua marga ini adalah turunan leluhur yang sama. Batak Toba sebagai kesatuan kultural pasti dapat menyebar ke berbagai penjuru melintasi batas-batas geografis asal leluhurnya.

3.5 Terbentuknya Panitia Pemekaraan

(60)

dan dibentuk panitia pembentukan pemekaran Kabupaten Tapanuli Utara dengan susunan

Ketua : Drs. Sahala Tampubolon Wakil Ketua : Drs. RE. Nainggolan Sekretaris : Drs. Mangantar manurung Wakil sekretaris : Drs. Julu Hutapea

Bendahara : Drs. Yasmin Siregar

Anggota : Para Kepala satuan kerja terkait

Awal tugas panitia pembentukan pemekaran kabupaten Tapanuli Utara, adalah mulai melakukan musyawarah dengan para tokoh masyarakat di wilayah kerja pembantu Bupati (Tarutung, Siborong-borong, Dolok Sanggul, Balige dan Pangururan). Pada umunya para tokoh masayrakat dan tokoh masayrakat adat, agama dan politisi mendukung akan diadakanya pemekaran kabupaten Tapanuli Utara. Oleh panitia selanjutnya menyusun proposal usulan pemekaran dilengkapi Berita acara persetujuan musyawarah masyarakat ke DPRD Kabupaten Tapanuli Utara untuk memperoleh persetujuan. Pembahasaan di DPRD Kabupaten Tapanuli Utara secara marataon akhirnya menyetujui pemekaran Tapanuli Utara menjadi dua kabupaten dengan nama daerah yaitu : Kabupaten Tapanuli Utara diganti menjadi Kabupaten Toba Selatan dan kabupaten baru dengan nama Kabupaten Toba utara.

(61)

Usulan pemekaraan untuk pembentukan Kabupaten baru, mendapat respon yang baik dari Gubernur maupun DPRD Provinsi Sumatera Utara. Proposal usulan serta rekomendasi Gubernur maupun DPRD Sumatera Utara diteruskan ke Menteri Dalam Negeri pada bulan Oktober 1992; dan terdapat kajian awal Departemen Dalam Negeri, atas usulan pemekaran daerah Tapanuli Utara, bahwa perlu perbaikan sebutan nama daerah induk tidak boleh diganti, hanya daerah baru yang diberi nama. Karena awal pemberian nama di dalam proposal yang di buat oleh panitia pemekaran adalah dua nama yaitu, Kabupaten Tapanuli Utara yang sebagai kabupaten induk di buat nama sebagai Kabupaten Toba Selatan dan kabupaten baru di sebut Kabupaten Toba Utara.

Awal pengusulan, Kabupaten Tapanuli Utara akan di bagi atas dua kabupaten dengan nama Kabupaten Toba Selatan yaitu kabupaten Tapanuli Utara yang setelah dimekarkan, sedangkan kabupaten lainya yaitu kabupaten Toba Utara adalah kabupaten baru yang akan segera dimekarkan dari kabupaten Tapanuli Utara.

(62)

Atas dasar itu, proposal usul pemekaraan direvisi kembali sebelum diajukan ke Menteri Dalam Negeri pada bulan Februari 1994.

Setelah nama baru diterima diperoleh informasi bahwa Dewan pertimbangan Otonomi Daerah yang beranggotakan enam Menteri yaitu :

- Menteri Dalam Negeri

- Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara - Menteri Keuangan

- Menteri Pekerjaan Umum - Menteri Kesehatan

- Menteri Pendidikan

Telah membuat keputusan persetujuan pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Toba Samosir yang pada waktu itu sama-sama diajukan kedewan Perimbangan Otonomi Daerah, kecuali Menteri Keuangan yang hanya menyetujuin Kabupaten Toba Samosir sedangkan untuk Kabupaten Mandailing Natal ditunda untuk dikaji kembali.

(63)

Dari penjelasan Susi Pratiwi tersebut bahwa pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan dengan pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dianggap tidak rasional, karena hanya sepertiga daerah Tapanuli Selatan yang harusnya setengah dari wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Seperti yang dilakukan Kabupaten Tapanuli Utara yang membagi hampir setengah wilayahnya diberikan kepada Kabupaten Toba Samosir. Pada saat itu Sahalat Tampubolon memberikan argumentasi untuk melobi Susi Pratiwi SH tersebut bahwa :

a. Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan awalnya terbentuk dari tiga distrik yang di dasarkan tiga etnis Suku, yaitu : Mandailing (daerah Mandailing Natal), Angkola di Padang Lawas dan Sipirok. Bila daerah Kabupaten Tapanuli Selatan di bagi dua, makah ada satu etns yang akan terbagi dua yang akan membuat statusnya menjadi lemah.

b. Dengan hanya mengandalkan kondisi luas Mandaling Natal yang ada sekarang sudah cukup luas dan memiliki potensi yang kuat, karena terletak dijalan Negara Lintas Sumatera.

(64)

di Batam yang langsung dihadiri oleh Drs. Sahala Tampubolon, akhirnya diputuskan bahwa usulan pembentukan kabupaten Mandailing Natal dari kabupaten Tapanuli Selatan disetujui, untuk segera di ajukan ke DPR-RI.

Sekitar akhir April 1998, Direktur Otonomi daerah Drs. Kausar memanggil Sahala Tampubolon ke Jakarta, dan dipertemuan diberitahuakan akan di ajukan surat ke Presiden, untuk ditanda tangani pengantar Rancangan Undang-Undang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Toba Samosir kepada DPR-RI guna di bahas dan disahkan Undang-Undangnya, agar cepat penandan tanganan surat oleh Presiden di anjurkan Sahala menemui Kepala Biro Perundang-Undangan Sekretaris Negara yang kebetulan pejabatnya adalah orang asal Tapanuli Utara Lambok V Nahattan. SH. Kesempatan itu dipergunakan oleh Pak Sahala untuk menemui Lambok di Sekretariatan Negara tanggal 29 April 1998, hasilnya pak Lambok menjanjikan akan mengusahakan secepatnya diproses sebagai partisipasi saya Putra Batak. Dengan janji Lambok tersebut seminggu kemudian pak Lambok menghubungi Sahala bahwa surat pengantar ke DPR-RI telah ditanda tangani Presiden RI Suharto, dan di pesankan datanglah menjemput tindasan suratnya.

(65)

untuk dibagikan kepada anggota DPR-RI asal Sumatera Utara, yang akan berkumpul tanggal 8 Juli 1998 di Gedung DPR-RI di kantor kerja salah satu anggota DPR-RI asal Sumatera Utara Burhanuddin Napitupulu.

3.5.3 Pembahasan RUU di DPR-RI

Dalam pertemuan dengan anggota DPR-RI asal Sumatera Utara antar lain : Burhanuddin Napitupulu, Ir. Mahadi Sinambela, Pandapotan Nasution. SH, Mayjend M. Rivai Harahap, Kamarulzamal Rambe, dan Pak Tanjung. Diadakan pembagian tugas para anggota DPR sesuai kedudukan di komisi-komisi guna mempercepat agenda pembahasan di komisi II. Sesuai dengan jadwal yang diteapkan Badan Perumus DPR-RI maka jadwal pembahasan Rancangan Undang-Undang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Toba Samosir di Komisi II adalah di bulan Agustus 1998.

(66)

Natal dan Kabupaten Toba Samosir. Dan Undang-Undang tersebut, diteruskan kepada Presiden RI untuk ditanda tangani. Maka keluarlah Undang-Undang No.12 tahun 1998 tentang pembentukan Kabupaten Mandailing Natal dan Kabupaten Toba Samosir pada tanggal 23 November 1998.

BAB IV

(67)

4.1. Berdirinya Kabupaten Baru

Mengingat aspirasi masyarakat Tapanuli yang berada di bekaswilayah Pembantu Bupati Wilayah IV Toba dan masyarakat di bekas wilayah Pembantu Bupati Wilayah V Samosir, yang akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Toba Samosir meminta agar pembentukan daerah tingkat II yang baru. Dengan aspirasi masyarakat tersebut pemerintah mulai melakukan pekerjaanya dengan membentuk sebuah panitia pembentukan Kabupaten Toba Samosir, yang dimana pekerjaanya untuk membentuk kabupaten baru.

Pemerintah pusat mulai mengkaji peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pemerintah daerah, bahwa isi dan semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahaan di daerah dipandang sudah membantu untuk pembentukan daerah otonom baru (DOB). Yang secara tegas menyebutkan hanya dua tingkat daerah Otonom, yaitu Daerah Tingkat I/Propinsi dan Daerah Tingkat II/Kabupaten/Kotamadya15. Dengan berlakunya Undang-Undang No 5 Tahun 1974, maka di daerah kabupaten menjadi sebuah wilayah yang otonom sekaligus menjadi wilayah administratif, dan dapat mengatur urusan rumah tangga setiap daerahnya masing-masing.16

Dengan didukung oleh Undang-Undang, pembentukan kabupaten baru di bahas oleh DPR-RI dan menghasilkan UU No. 12 Tahun 1998 UU yang mengatur pembentukan Daerah tingkat II kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal.Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Toba Samosir berasal

(68)

dari sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Tapanuli Utara yang terdiri dari wilayah kecamatan-kecamatan sebagai berikut:

a. Kecamatan Balige; b. Kecamatan Laguboti; c. Kecamatan Silaen; d. Kecamatan Habinsaran; e. Kecamatan Porsea; f. Kecamatan Lumbanjulu; g. Kecamatan Simanindo; h. Kecamatan Pangururan; i. Kecamatan Palipi;

j. Kecamatan Onan Runggu; k. Kecamatan Harian;

l. Kecamatan Sianjur Mula-mula.

(69)

Penugasan untuk mengajukan nota dinas usulan calon Pejabat Bupati diserahkan kepada Drs. Sahala Tampubolon yang di tugasi Sekwildasu dan memintakan agar nama salah satu calon Pejabat Bupati adalah nama Drs. Sahala Tampubolon. Setelah Nota Dinas pengajuan nama calon Pejabat Bupati disampaikan kepada Bapak Gubenur melalui Sekwiladasu ternyata Gubenur menunjuk Drs. Sahala Tampubolon menjadi Pejabat Bupati sementara Kabupaten Toba Samosir dan Pejabat Bupati sementara Kabupaten Mandailing Natal adalah Amru Daulay SH seterusnya Gubenur memberi petunjuk segera dibuat surat usulan ke Menteri Dalam Negeri.

Gambar

TABEL IIJUMLAH DESA DAN PENDUDUK PADA TAHUN 1994
Tabel IIIAnggota Dalihan Na Tolu

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengentaskan masalah putus sekolah pada tingkat menengah pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah Kabupaten Batang saling bersinergi

Dengan terbentuknya Kabupaten Kayong Utara, sebagai daerah otonom, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Pemerintah Kabupaten Ketapang, berkewajiban membina dan

Dengan terbentuknya Kabupaten Bandung Barat sebagai daerah otonom, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Bandung, berkewajiban membina dan memfasilitasi

Dengan terbentuknya Kabupaten Bombana, Kabupaten Wakatobi, dan Kabupaten Kolaka Utara sebagai daerah otonom, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Buton

kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah Provinsi. kepada daerah Kabupaten/Kota untuk melaksanakan

kewenangan Pemerintah Pusat atau dari Pemerintah Daerah provinsi kepada Daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan sebagian Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan

Aktor-aktor yang terlibat beserta perannya dalam proses rekonstruksi, antara lain: pihak Pemerintah (Pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan hingga perangkat desa) memiliki

Dalam pengelolaan minyak terdapat beberapa dampak yang bisa dirasakan oleh berbagai pihak, dari pemerintah pusat hingga daerah, pelaku usaha dan masyarakat