SEJARAH SASTRA INDONESIA DAN
PERIODISASINYA oleh FAJAR FITRIANTO – DRF
BLOG
1. SEJARAH SASTRA INDONESIA
1.1 Pengertian Sejarah
Menurut Kuntowijoyo (dalam Yudiono, 2010:21), mengatakan bahwa sejarah masih merupakan barang mewah yang sedikit peminatnya. Sedangkan moedjanto mengatakan bahwa di dunia ini masih ada ilmuwan social dan humaniora, bahkan ilmuwan eksakta, yang mempunyai keyakinan bahwa dunia tidak hanya memerlukan insinyur, 8industriawan dan banker. Mereka
berkeyakinan bahwa tertib dunia masa sekarang dan masa depan manusia memerlukan berbagai disiplin ilmu, termasuk sejarah. Disiplin sejarah, bersama dengan berbagai disiplin humaniora yang lain, serta disiplin-disiplin social, diperlukan demi pemanusiaan (hominisasi) dan pembudayaan (humanisasi) umat manusia. Dalam Mengerti Sejarah (Gottschalk, 1975)
dijelaskan secara panjang lebar pengertian sejarah (history) yang berasal dari kata benda Yunani istoria yang berarti ‘ilmu’. Oleh filsuf Aristoteles, kata tersebut diartikan sebagai suatu pertelaan sistematis mengenai seperangkat gejala alam, entah susunan kronologi merupakan faktor atau tidak di dalam pertelaan. Pengetahuan itu masih tetap hidup dalam bahasa inggris dengan sebutan natural history. Namun, dalam perkembangan kemudian, kata latin scientia lebih sering dipergunakan untuk menyebut pertelaan sistematik nonkronologis mengenai gejala alam, sedangkan istoria biasanya dipergunakan untuk pertelaan mengenai gejala-gejala
(terutama hal-ihwal manusioa) dalam urutan kronologis.Kini history berarti masa lampau umat manusia. Dalam bahasa jerman terdapat geschichte, dari kat geschehen (=terjadi) yang seloanjutnya sering dipakai untuk pengertian pelajaran sejarah. Dalam pengertian itu, tergambar ketidakmungkinan masa lampau 7umat manusia untuk direkonstruksi. Sebab, pengalaman manusia di masa lampau sangat banyak untuk diingat kembali, direkam, dicatat, apalagi direkonstruksi. Dengan kata lain, masa lampau manusia untuk sebagian besar tidak dapat ditampilkan kembali. Dalam kehidupan semua orang, pastilah ada peristiwa, orang, kata-kata, pikiran-pikiran, tempat-tempat, dan bayangan-bayangan yang ketika terjadi sama sekali tidak menimbulkan kesan atau yang kini telah dilupakan.
1.2 Sejarah Sastra
bahwa objek sejarah sastra adalah segala peristiwa yang terjadi pada rentang masa
pertumbuhan dan perkembangan suatu bangsa. Telah disinggung di depan bahwa sejarah sastra itu bisa menyangkut karya sastra, pengarang, penerbit, pengajaran, kritik, dan lain-lain.Dalam Pengantar Ilmu Sastara (Luxemburg, 1982: 200-212) dijelaskan bahwa dalam sejarah sastra dibahas periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis, pengarang-pengarang, dan juga reaksi pembaca. Semua itu dapat dihubungkan dengan perkembangan di luar bidang sastra seperti, sosial dan filsafat. Jadi, sejarah sastra meliputi penulisan perkembangan sastra dalam arussejarah dan di dalam konteksnya. Perhatian para ahli sastra di Eropa terhadap sejarah sastra muncul pada abad ke-19, berawal dari perhatian ilmuwan pada zaman Romantuik yang menghubungkan segala sesuatu dengan masa lampau suatu bangsa. Adapun dasarnya adalah filsafat positivisme yang bertolak pada prinsip kausalitas, yaitu segala sesuatu dapat diterangkan bila sebabnya dapat dilacak kembali. Dalam hal sastra, sebuah karya sastra dapat diterangkan atau ditelaah secara tuntas apabila diketahui asal-usulnya yang bersumber pada riwayat hidup pengarang dan zaman yang melingkunginya.Tokoh yang berpengaruh besar terhadap pandangan tersebut adalah Hypolite Taine (1828-181893). Pandangannya
menegaskan bahwa seorang pengarang dipengaruhi oleh ras, lingkungan, dan momen atau saat. Ras ialah apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya, lingkungan meliputi keadaan alam dan sosial, sedangkan momen ialah situasi sosio-pulitik pada zaman tertentu. Apabila ketiga fakta itu diketahui dengan baik maka dimungkinkan simpulan mengenai iklim suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta karyanya.Ahli sejarah sastra Jerman, Wilhelm Scherer (1841-1886) mempergunakan tiga faktor penentu, yaitu das
Ererbte (warisan), das Erlebte (pengalaman), dan das Erlernte (hasil proses belajar). Penerapannya menuntut kerja sama yang erat antara ahli fisiologi, psikologi, linguistic, dan sejarah kebudayaan. Dia menegaskan bahwa seorang penulis sejarah sastra harus mampu menyelami seluruh kehidupan manusia, baik jasmani maupun rohani, dalam kebertautan yang kausal.
1.3 Sejarah Sastra Indonesia
Perhatian masyarakat sastra Indonesia terhadap masalah sejarah kebudayaan, termasuk sastra, telah tampak sejak awal pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 1930-an sebagaimana terbaca dalam Polemik Kebuadayaan suntingan Achdiat K.Mihardja (1977). Polemic yang berkembang antara tokoh-tokoh S.Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbatjaraka, M.Amir, Ki Hadjar Dewantara, Adinegoro dan lain-lain memang tidak secara khusus memperdebatkan konsep kesusastraan Indonesia, tetapi telah memperlihatkan kesadaran mereka terhadap sejarah kebudayaan Indonesia.
agar wajahnya berbeda dengan masyarakat kebudayaan pra-Indonesia. Namun, pendapat yang teoretis itu sudah ada sejak sekian abad yang silam dalam adat dan seni. Yang belum terbentuk adalah natie atau bangsa Indonesia, tetapi perasaan kebangsaan itu sebenarnya sudah ada. Menurut Sanusi Pane, kebudayaan Barat yang mengutamakan intelektualitas untuk kehidupan jasmani tidak dengan sendirinya istimewa karena terbentuk oleh tantangan alam yang keras sehingga orang harus berpikir dan bekerja keras. Sementara itu, kebudayaan Timur pun memiliki keunggulan, yaitu mengutamakan kehidupan rohani, karena kehidupan jasmani telah dimanjakan oleh alam yang serba memberikan kemudahan. Oleh karena itu, kebudayaan Indonesia baru dapat dibentuk dengan mempertemukan semangat intelektualitas Barat dengan semangat Kerohanian Timur.
Poerbatjaraka berpendapat bahwa sambungan kesejarahan itu sudah ada dan tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan penyelidikan tentang jalannya sejarah sehingga orang dapat menengok ke belakang sebagai landasan melihat keadaan zaman yang bersangkutan dan selanjutnya mengatur hari-hari yang akan datang.
Hingga sekarang sejarah sastara Indonesia telah berlangsung relative panjagn dengan
perkembangan yang terbilang pesat dan dinamik sehingga dapat ditulis secara panjang lebar. Hal itu dapat dipandang sebagai tantangan besar ahli sastra Indonesia.akan tetapi, pada kenyataannya buku-buku sejarah sastra Indonesia masihrelatif sangat sedikit dibandingkan dengan buku-buku kritik, esai, dan apresiasi sastra. Sejumlah buku sejarah sastra Indonesia tercata secara kronologis sebagai berikut:
1. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru oleh A.Teeuw (1952), 2. Sejarah sastra Indonesia oleh Bakri Siregar (1964),
3. Kesusastraan Baru Indoneisa oleh Zuber Usman (1964), 4. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajip Rosidi (1969), 5. Modern Indonesia Literature I-II oleh A.Teeuw (1979), 6. Sastra Baru Indonesia oleh A.Teeuw (1980),
7. Sari Kesusastaraan Indonesia oleh J.S. Badudu (1981),
8. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern oleh Pamusuk Eneste (1988), 9. Lintasan Sejarah Sastra Indonesia 1 oleh Jakob Sumardjo (1992), dan 10. Sejarah Sastar Indonesia Modern oleh Sarwadi (2004).
Di balik semua itu, barangkali sudah ditulis telaah sejarah sastra Indonesia dalam skripsi, tesis dan disertasi. Akan tetapi, datanya masih sulit diandalkan sebagai rujukan untuk kepentingan pelajaran ini apabila belum terbit sebagai buku umum. Yang jelas, berbagai hasil penelitian itu merupakan bahan yang penting untuk penyusunan sejarah sastra Indonesia secara menyeluruh. Adapun sejumlah buku yang telah memperlihatkan persoalan-persoalan tertentu dalam sejarah sastra Indonesia antara lain sebagai berikut:
2. Cerita Pendek Indonesia Mutakhir Sebuah Pembicaraan oleh Korrie Layun Rampan (1973), 3. Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? Oleh Ajip Rosidi (1985),
4. Masalah Angkatan dan Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajip Rosidi (1973),
5. Pengadilan Puisi oleh Pamusik Eneste (1986),
6. Perkembangan Novel-Novel Indonesia oleh Umar junus (1974),
7. Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern oleh Umar Junus (1984),
8. Perkembangan Teater Modern dan Sastara Drama Indonesia oleh Jakob Sumardjo (1997), 9. Prahara Budaya oleh D.S.Moeljanto dan Taufiq Ismail (1995),
10. Puisi Indonesia Kini Sebuah Perkenalan oleh Korrie layun Rampan (1980),
11. Sejarah Pertumbuhan Sastra Indonesia di Jawa Baratm oleh Diana N.Muis,dkk. (200), 12. Sejarah dan Perkembangan Sastra Indonesia di Maluku oleh T.Tomasoa dkk. (2000), 13. Sejarah Pertumbuhan Sastra Indonesia di Sumatra Utara oleh Aiyub dkk. (2000), dan 14. Wajah Sastra Indonesia di Surabaya 1856-1994 oleh Suripan Sadi Hutomo (1995). 15. Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia
Masalah periodisasi sejarah sastra Indonesia secara eksplisit telah diperlihatkan oleh Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969), Jakob Sumardjo dalam Lintasan Sejarah Sastra Indonesia 1 (1992), dan Rahmat Joko Pradopo dalam Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan penerapannya (1995).
Secara garis besar Ajib Rosidi (1969: 13) membagi sejarah sastra Indonesia sebagai berikut:
1. Masa Kelahiran atau Masa Kebangkitan yang mencakup kurun waktu 1900-1945 yang dapat dibagi lagi menjadi beberapa period, yaitu
2. Period awal hingga 1933 3. Period 1933-1942 4. Period 1942-1945
5. Masa Perkembangan (1945-1968) yang dapat dibagi-bagi menjadi beberapa period, yaitu
6. Period 1945-1953 7. Period 1953-1961 8. Period 1061-1968
Menurut Ajip, warna yang menonjol pada periode awal (1900-1933) adalah persoalan adat yang sedang menghadapai akulturasi sehingga menimbulkan berbagai problem bagi kelangsungan eksistensi masing-masing, sedangkan periode 1933-1942 diwarnai pencarian tempat di tengah pertarungan kebudayaan Timur dan Barat dengan pandangan romantic-idealis.
perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan sesudahnya tampak warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan sastra.
Pada kenyataanya telah tercatat lima angkatan yang muncul dengan rentang waktu 10 – 15 tahun sehingga dapat disusun perodisasi sejarah sastra Indonesia modern sebagai berikut:
1. Sastra Awal (1900 – an ),
2. Sastra Balai Pustaka (1920 – 1942) 3. Sastra Pujangga Baru (1930 – 1942) 4. Sastra Angkatan 45 (1942 – 1955) 5. Sastra Generasi Kisah (1955 – 1965) 6. Sastra Generasi Horison (1966)
Dikatakan oleh Jakob bahwa penamaan itu didasarkan pada nama badan penerbitan yang menyiarkan karya para sastrawan, seperti Penerbit Balai Pustaka, majalah Pujangga Baru, majalah Kisah, dan majalah Horison, kecuali angkatan 45 yang menggunakan tahun revolusi Indonesia. Ada juga penamaan angkatan 66 yang dicetuskan H.B.Jassin dengan merujuk gerakan politik yang penting di Indonesia pada sekitar tahun 1966.
Penulisan sejarah sastra Indonesia dapat dilakukan dengan dua cara atau metode, yaitu (1) menerapkan teori estetika resepsi atau estetika tanggapan, dan (2) menerapkan teori penyusunan rangkaian perkembangan sastra dari periode atau angkatan ke angkatan. Di samping itu, sejarah sastra Indonesia dapat juga dilakukan secara sinkronis dan diakronis. Yang sinkronis berarti penulisan sejarah sastra dalam salah satu tingkat perkembangan atau
periodenya, sedangkan yang diakronis berarti penulisan sejarah dalam berbagai tingkat
perkembangan, dari kelahiran hingga perkembangannya yang terakhir. Kemungkinan lain adalah penulisan sejarah sastra dari sudut perkembangan jenis-jenis sastra, baik prosa maupun puisi.
Setelah meninjau periodisasi sejarah sastra Indonesia dari H.B.Jassin, Boejoeng Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, dan Ajip Rosidi, maka tawaran Rachmat Djoko Pradopo mengenai periodisasi sejarah sastra Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Periode Balai Pustaka : 1920-1940 2. Periode Pujangga Baru : 1930-1945 3. Periode Angkatan 45 : 1940-1955 4. Periode Angkatan 50 : 1950-1970 5. Periode Angkatan 70 : 1965-1984
Dari pendapat para pakar di atas, maka dapat disimpulkan periodisasi sastra sebagai berikut:
4. Angkatan 50-an. 5. Angkatan 60-an,
6. Angkatan kontemporer (70-an–sekarang).
2. PERIODISASI SASTRA INDONESIA
2.1 PUJANGGA LAMA
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasikan karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20, pada masa ini karya sastra didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Di Nusantara budaya melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatra dan semenanjung malaya. Di Sumatra bagian utara muncul karya-kaya penting berbahasa melayu terutama karya-karya keagamaan.
Hamzah Pansuri adalah yang pertama diantara penulis angkatan pujangga lama dari istana kesultanan Aceh pada abad ke-17 muncul karya klasik selanjutnya yang paling terkenal adalah karya Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf Singkir serta Nuruddin Arraniri.
Karya sastra pujangga lama
1. Hikayat
Hikayat Abdullah Hikayat Kalia dan Damina
Hikayat Aceh Hikayat masyidullah
Hikayat Amir Hamzah Hikayat Pandawa jaya
Hikayat Andaken Panurat Hikayat Panda Tonderan
Hikayat Bayan Budiman Hikayat Putri Djohar Munikam
Hikayat Hang Tuah Hikayat Sri Rama
Hikayat Iskandar Zulkarnaen Hikayat Jendera Hasan
Hikayat Kadirun Tasibul Hikayat
1. Syair
Syair Bidasari
Syair Ken Tambuhan
Syair Raja Siam
1. Kitab Agama
Syarab Al Asyidiqin (minuman para pecinta) oleh Hamzah Panzuri
Asrar Al-arifin (rahasia-rahasia gnostik) oleh Hamzah Panzuri
Nur ad-duqa’iq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsudin Pasai.
Bustan as-salatin (taman raja-raja) oleh Nuruddin Ar-Raniri.
2.2 SASTRA MELAYU LAMA
Karya satra yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 yang berkembang dilingkungan masyarakat sumatra seperti “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan Sumatra lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Melayu Lama
Robinson Crousoe (terjemahan) Lawan-lawan Merah
Grauf de Monte Cristo (terjemahan) Rocambole (terjemahan)
Nyui Dasima oleh G. Prancis (indo) Bung Rampai oleh A.F. Bewali Kisah Perjanan Nahkoda Bontekoe kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R. Komer (indo) Cerita Nyonya Kong Hong Nio
Nona Leonie
Warna Sari Melayu oleh Kat. S.J Cerita Si Conat oleh F.D.J
2.3 ANGKATAN BALAI PUSTAKA
2.3.1 Angkatan Balai Pustaka
daerah/lokal, dan cerita yang diangkat seputar romantisme.
Angkatan Balai Pustaka disebut juga Angkatan Siti Nurbaya, karena salah satu roman yang sangat terkenal pada angkatan ini adalah Roman Siti Nurbaya. Berikut ini dapat kita pelajari bersama sinopsis Roman Siti Nurbaya.
Siti Nurbaya adalah roman yang ditulis oleh Marah Rusli. Roman ini menceritakan tentang pemuda yang bernama Samsul Bahri, dengan kekasihnya Siti Nurbaya, dan Datuk Maringgih. Datuk Maringgih dengan keserakahannya menginginkan Siti Nurbaya untuk menjadi istrinya yang kesekian. Dengan licik ia beserta kaki tangannya berhasil menghancurkan perniagaan Baginda Sulaiman, ayah Siti Nurbaya. Karena terlibat utang yang tak akan terbayar oleh Baginda Sulaiman, akhirnya Datuk Maringgih berhasil menikahI Siti Nurbaya. Ia dengan terpaksa mengikuti keinginan Datuk Maringgi karena tidak rela ayahnya dipenjara.
Samsul Bahri sangat mencintai Siti Nurbaya, berusaha untuk bunuh diri, tetapi gagal. Kemudian, ia menyamar menjadi Letnan Mas setelah bergabung dengan Kompeni Belanda. Ketika terjadi perang antara Belanda dengan masyarakat Sumatera Barat, Letnan Mas bertempur dengan Datuk Maringgih. Akhir cerita, semua tokoh penting dalam cerita ini meninggal dunia. Mereka dimakamkan di Gunung Padang.
Melalui cerita ini, dapat kita ketahui bahwa kaum perempuan di masa itu, masih
terpinggirkan atau belum mendapatkan kesetaraan. Walaupun Siti Nurbaya berasal dari keluarga kaya, ia tidak boleh meneruskan pendidikannya setamat
dari sekolah rakyat. Hal ini disebabkan karena adanya anggapan perempuan tidak perlu bersekolah tinggi. Perempuan cukup mengabdi kepada suami atau mengurusi rumah tangga. Selain itu, pengaruh tradisi dan adat masih sangat kuat, sehingga siapa pun yang melanggarnya akan dijadikan bahan
pembicaraan di masyarakat.
Berikut ini contoh lain karya sastra pada masa Angkatan Balai Pustaka, yaitu berupa roman dan kumpulan puisi. Karya berupa roman antara lain Azab dan Sengsara (Merari Siregar), Muda Teruna (Adi Negoro) , Salah Pilih (Nur St. Iskandar) dan Dua Sejoli (M. Kasim dkk.). Karya berupa kumpulan puisi antara lain Percikan Permenungan (Rustam Effendi) dan Puspa Mega (Sanusi Pane).
2.3.2 Pembentukan Balai Pustaka
Segolongan kecil masyarakat Hindia Belanda telah membaca karya sastra yang berbentuk novel dalam bahasa Melayu beberapa puluh tahun sebelum Sitti Nurbaya karya Marah Rusli diterbitkan Balai Pustaka pada 1922. Oleh beberapa kritikus, novel tersebut dianggap novel penting pertama dalam sejarah kesusastraan Indonesia
, tetapi hal itu tidak berarti bahwa sebelumnya tidak ada
novel yang pantas dibicarakan. Dua tahun sebelumnya penerbit yang sama mengeluarkan Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, dan pengarang yang sama telah menerbitkan sebuah novel saduran, Si Jamin dan si Johan, pada 1919.
Sejak 1920-an Balai Pustaka sebagai penerbit resmi
pemerintah kolonial memegang tugas penting dalam penerbitan buku-buku berbahasa Melayu; banyak di antara buku terbitannya itu
kemudian dianggap penting dalam perkembangan sastra Indonesia modern. Namun, sebelum dan semasa Balai Pustaka ada beberapa penerbit swasta yang berani menerbitkan novel baik berdasarkan pertimbangan komersial maupun ideal. Dari segi perkembangan kesusastraan kita, Balai Pustaka tampak sebagai pencetus atau pendorong utama kesusastraan Indonesia modern; ditinjau dari segi sosial politik, badan itu sesungguhnya merupakan akibat dari suatu pergeseran sikap pemerintah kolonial pada waktu itu terhadap perkembangan pendidikan dan hasil-hasilnya. Pergeseran sikap itu merupakan akibat pula dari perubahan sosial yang ada, terutama
sekali yang menyangkut golongan pribumi. Dalam sebuah brosur[20]kita dapat membaca pandangan pemerintah kolonial sendiri tentang
perubahan sosial tersebut.
Mula-mula kebanyakan pribumi yang mempunyai keinginan belajar sudah merasa puas apabila mereka sudah bisa membaca dan menulis huruf Arab. Biasanya mereka itu tidak mempunyai keinginan untuk melanjutkan pelajaran sesuai dengan sistem pendidikan modern yang ada pada waktu itu. Pemerintah kolonial menyesuaikan sekolah-sekolah yang didirikannya dengan keinginan yang tidak muluk-muluk itu. Maksud pendirian sekolah semacam itu adalah untuk melatih calon pegawai rendah yang diharapkan dapat melaksanakan pekerjaan administrasi sederhana. Di samping sekolah semacam itu ada juga sekolah yang disediakan khusus untuk keluarga
bangsawan rendah; sekolah itu diharapkan dapat menghasilkan pegawai menengah yang cakap melakukan kerja administrasi yang
lebih rumit. Kalangan orang pribumi yang bersekolah pada waktu itu praktis tidak usah merisaukan hari depannya; pekerjaan sudah tersedia baginya. Karena tidak ada keharusan “berjuang” untuk mendapatkan pekerjaan, hampir semua merasa puas dengan yang diterima di sekolah saja. Sedikit sekali usaha untuk mendapatkan pengetahuan lebih lanjut di luar sekolah.
Namun, kebangkitan bangsa-bangsa Asia ternyata ada juga
mulai tumbuh keyakinan dan harga diri yang lebih bulat, dan sebagai akibatnya terasa kebutuhan akan pendidikan lebih lanjut, yang tidak lain merupakan pendidikan Eropa. Bahkan di kalangan masyarakat yang paling rendah pun terasa adanya kebutuhan akan pendidikan dasar. Pemerintah Belanda tidak bisa berbuat lain kecuali memenuhi tuntutan itu: bermacam-rnacam sekolah didirikan di pelbagai kota; yang tertinggi adalah Sekolah Kedokteran, Sekolah Teknik, dan Sekolah Hukum.
Penyediaan pendidikan untuk massa selalu mengandung
konsekuensi sosial politik; hal ini dipahami benar oleh pemerintah. Pemerintah mengharapkan dua hal penting: pertama, dengan fasilitas yang ada pengetahuan yang didapat di sekolah-sekolah itu bisa dimanfaatkan secara “wajar”; kedua, pendidikan bukan merupakan keuntungan kelompok kecil masyarakat saja, tetapi bisa membagikan manfaat merata bagi seluruh penduduk—baik dari segi moral maupun kultural. Pemerintah kolonial juga menyadari bahwa tidak banyak gunanya mendidik orang apabila di luar sekolah tidak tersedia sarana yang bisa mengembangkan kepandaian. Dalam hal ini sarana yang
penting berupa buku bacaan. Sangat berbahaya apabila pendidikan dilaksanakan tanpa penyediaan santapan rohani yang sehat. Apabila
bacaan yang baik tidak tersedia di masyarakat, dikhawatirkan para pemuda yang sudah mampu membaca dan menulis itu akan terjerumus membaca “bacaan liar” yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit “tak bertanggung jawab dan para agitator.”
Pandangan serupa itu timbul sebelum Balai Pustaka didirikan, sekitar tahun-tahun pertama abad ke-20. Ketakutan pemerintah kolonial terhadap penerbit “tak bertanggung jawab” dan para
“agitator” itu menunjukkan bahwa sebelum Balai Pustaka sudah ada beberapa penerbit swasta yang mengusahakan bacaan. Penerbit-penerbit swasta ini biasanya dipimpin oleh keturunan Tionghoa atau Belanda, dan mendasarkan kegiatan mereka pada keuntungan materi semata-mata. Tentu saja penerbit semacam itu tidak peduli benar apakah terbitannya merupakan santapan rohani yang sehat atau bukan—menurut ukuran pemerintah kolonial.
Akhirnya pemerintah memutuskan untuk mendirikan badan
memang berat: menyediakan bahan bacaan yang bidangnya lebih luas dari jangkauan sekolah-sekolah pada umumnya, memerangi keterbelakangan di segala segi kehidupan, dan membebaskan masyarakat dari takhayul dan tradisi kolot. Ditekankan pula bahwa usaha menyediakan bahan bacaan itu haruslah dapat menjauhkan
rakyat dari hal-hal yang bisa merusakkan kekuasaan pemerintah danketenteraman negeri. Hampir tanpa kecuali novel-novel 1920-an yang biasa
dibicarakan dalam kesusastraan Indonesia adalah terbitan Balai Pustaka, meskipun di luar itu juga ada juga cerita rekaan yang diterbitkan oleh “penerbit liar”. Penerbit semacam itu sudah ada sejak akhir abad ke-19, yang diterbitkannya adalah cerata-cerita dalam bahasa “Melayu Rendah”.[21 ]
Pengarang-pengarangnya adalah
golongan keturunan Tionghoa yang kebanyakan menulis untuk golongannya sendiri. Mula-mula yang ditulis adalah saduran berbagai cerita Tionghoa klasik, dan hanya pada perkembangan selanjutnya juga diciptakan novel-novel asli yang kebanyakan bermain di dalam masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda, dengan tokoh-tokoh utama keturunan Tionghoa pula. Tujuannya semata-mata mencari keuntungan materi. Penerbit-penerbit itu ditakuti pemerintah sebab tidak begitu memperhatikan segi moral dan pendidikan dalam buku-buku terbitannya.
19 H.B. Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I (Jakarta: Gunung Agung, 1953); A.H. Johns, “The Novel as a Guide to Indonesian Social History”, BKI: 1959; Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung:
Binacipta, 1976); C.W. Watson. “The Sociology of the Indonesian Novel 1920-1955, Tesis Ph.D. (Kingston upon Hull: University of Hull, 1972).
20 B. Th. Brondgeest dan G.W.J. Drewes, Bureau voor de Volkslectuur/The Bureau of Popular Literature of Netherlands India. What It is and What It Does (Weltevreden: Bureau voor de Volkslectuur, 1929).
21 Nio Joe Lan, Sastra Indonesia-Tionghoa (Jakarta: Gunung Agung, 1962).
2.3.3 Peran Balai Pustaka
Dalam perkembangan selanjutnya, Balai Pustaka dianggap memegang peranan penting dalam penerbitan novel di Indo nesia, tidak hanya yang ditulis dalam bahasa Melayu tetapi juga yang ditulis dalam
terbitannya. Meningkatnya minat baca menyebabkan Balai Pustaka harus secara aktif mencari naskah agar judul-judul buku yang
diterbitkannya semakin banyak. Dan atas dasar itulah rupanya sejak awal perkembangannya, kesusastraan Indonesia sudah mengenal sayembara mengarang. Dalam hal ini ternyata Balai Pustaka adalah juga salah satu pelopornya. Salah satu sayembara mengarang diselenggarakan penerbit itu pada 1937. “Perlumbaan Mengarang” tersebut antara lain diumumkan dalam Pedoman Pembaca 1937.
Pengumuman tersebut ternyata bisa menjadi bahan yang sangat penting untuk mengetahui apa sebenarnya pandangan penerbit
pemerintah itu terhadap kesusastraan. Dari pengumuman tentang syarat-syarat sayembara mengarang itu dapat ditarik kesimpulan antara lain sebagai berikut.
Pertama, anggapan Balai Pustaka bahwa novel adalah
tiruan kejadian-kejadian penting dalam kehidupan manusia, yang dapat mengajar pembaca dengan cara yang menarik hati; “. . . makin banyak kejadian yang penting-penting itu, makin banyak seseorang mengalami dalam kehidupannya, makin banyak soal yang sulit-sulit harus diselesaikannya, maka lukisan sekaliannya itu dalam sebuah buku akan makin lebih menarik hati kita pula.”
Kedua, Balai Pustaka berpendapat bahwa dalam novel unsur-unsur formalnya harus memiliki hubungan yang erat. Penokohan harus erat hubungannya dengan alur agar karang an tidak sekadar merupakan verslag belaka. Yang penting bukan sekadar keganjilan pengalaman yang diungkapkan tetapi “sikap dan akhlaknyalah (si tokoh) yang terutama harus jadi dasar dan pokok penyelesaian soal-soal itu.”
Ketiga, Balai Pustaka beranggapan bahwa novel ditulis secara
realistis, “Segala yang diceritakan itu hendaklah berjalan seperti yang sebenarnya mungkin terjadi.” Hanya dengan cara itulah semangat dan akhlak tokoh dapat kita pahami sebaik-baiknya.
Keempat, penokohan yang ternyata dianggap lazim oleh penerbit itu adalah cara hitam-putih.Melayu dan daerah. Pengumuman sayembara itu juga memberikan beberapa
keterangan penting mengenai posisi sastra Melayu pada waktu itu. Sayembara itu terbuka bagi siapa saja dan karangan boleh ditulis dalam bahasa Melayu, Jawa, atau Sunda. Seorang pengarang hanya boleh memasukkan sebuah karang an. Dalam Pedoman Pembaca tahun berikutnya (1938:19) diberitahukan bahwa jumlah karangan yang
bahasa Sunda. Sayembara yang meliputi penulisan karangan ilmu pengetahuan populer dan sastra itu menghasilkan naskah populer berbahasa Melayu sebanyak 26, berbahasa Jawa 25, dan berbahasa Sunda 6. Jadi naskah novel yang masuk adalah 207 dalam bahasa Jawa, 121 dalam bahasa Melayu, dan 38 dalam bahasa Sunda. Angka-angka itu dengan jelas membuktikan bahwa setidaknya sampai pada akhir 1930-an, pengarang ber bahasa Jawa masih jauh lebih banyak daripada yang ber bahasa Melayu. Namun perhatian Balai Pustaka ternyata lebih banyak ditujukan kepada penerbitan yang berbahasa Melayu, yang untuk konsumsi kaum yang lebih maju, meski pun tidak sedikit judul buku yang dicetak dalam tiga bahasa sekaligus.
Sayembara yang diadakan Balai Pustaka itu menunjukkan bahwa novel dibutuhkan. Ternyata kebutuhan akan novel itu dipenuhi juga oleh beberapa penerbit swasta yang sama sekali
menggantungkan hidup mereka dari penjualan buku ter bitan mereka. Oleh sebab itu wajar apabila penerbit swasta itu memiliki kriteria
sendiri dalam penerbitannya. Kalau Balai Pustaka beranggapan bahwa novel harus memberikan pe ngajaran kepada pembaca, maka
penerbit swasta berpendapat bahwa novel harus dapat memberikan keuntungan bagi penerbit. Dengan demikian orientasinya bukanlah
pada kebijakan pendidikan pemerintah kolonial, melainkan pada pasar. Yang diterbitkan adalah yang menurut perkiraan menjadi kesukaan pembaca.
2.3.4 Sikap Balai Pustaka
Dalam bukunya tentang Sastra Indonesia-Tionghoa, Nio Joe Lan menjelaskan bahwa sejak 1925 para pengarang dalam Melayu-Tionghoa mendapat kesempatan agak besar untuk menerbitkan karyanya. Pada tahun itu terbit Penghidupan dan Cerita Roman di Surabaya, dua penerbitan yang masing-masing setiap bulannya mengeluar kan sebuah novel. Keberhasilan kedua penerbit itu disusul oleh beberapa penerbitan lain di pelbagai kota di Jawa, dan kegiatan penerbitan semacam itu mencapai puncaknya pada 1930-an dan berakhir pada masa pendudukan Jepang.
Di samping berbagai penerbit novel Melayu-Tionghoa
buku yang mula mula diterbit kan sebagai “roman picisan” kemudian dicetak ulang oleh Balai Pustaka. Dalam hal nilai memang kadang-kadang sulit untuk menarik garis yang tegas antara novel-novel
terbitan Medan (dan Padang) itu dengan beberapa novel Balai Pustaka
(Modern Indonesian Literature I, 35).
Perkembangan penerbitan buku itu rupanya membuat Balai
Pustaka agak khawatir. Dekade 1930-an memang merupakan dekade pertama dalam sejarah sastra Indonesia yang menyaksikan ledakan penerbitan novel. Dalam sebuah artikel “Tanggung Jawab Penerbit” yang dimuat dalam Pedoman Pembaca (1938) majalah terbitan Balai Pustaka, redaksi menulis antara lain:
Selama golongan kritisi itu belum lahir, maka kewajiban memberi kritik itu jatuh pada kaum penerbit. Dalam Pedoman Pembaca No. 10 sudah kami terangkan perkara kewajiban penerbit, mesti selalu awas-awas, jangan diterima nya sembarang karangan. Penerbit itu mesti pandai dalam bermacam-macam perkara. Karena golongan kritisi itu belum lahir, kewajiban memberi kritik itu mesti jatuh pada nya, maka pertanggungannya memang sangat berat, lebih daripada di negeri lain-lain. Moga-moga penerbit partikulir lambat laun lebih berani menambah syarat-syaratnya untuk menerima karangan. Kalau ada terbit karangan yang bukan- bukan, salah terbesar bukan tanggungan pengarang, melain kan tanggungan penerbit. Kalau penerbit suka menambah syarat-syaratnya, maka dengan sendirinya pengarang akan berhati-hati.
“Yang bukan-bukan” bagi Balai Pustaka berarti yang tidak
sesuai dengan garis kebijaksanaan pemerintah dalam soal penerbitan buku bacaan. Karangan yang buruk bisa dengan leluasa beredar di masyarakat karena belum ada kritikus yang baik. Jabatan kritikus itu biasanya dirangkap oleh wartawan yang biasanya melakukan ulasan dengan serampangan.
Artikel dalam Pedoman Pembaca itu adalah tanggapan terhadap sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pewarta Deli, Medan, 16 Nopember 1938, tentang tanggung jawab pengarang. Artikel yang
sebagian dikutip oleh Pedoman Pembaca itu antara lain menyebutkan bahwa “zaman sekarang pasar buku kebanjiran kitab-kitab yang
berbahasa Melayu.” Selanjutnya dikatakan,
kitab-kitab yang berfaedah. Satu tanda bukti yang menggembirakan, sebab nyata perubahan itu menuju kemajuan rohani. Lain daripada itu adalah pener bitan kitab-kitab itu menunjukkan bertambah banyaknya kaum pengarang di antara bangsa kita, serta pula memberi bukti, bahwa kaum pencetak sudah mulai melihat adalah penerbitan buku-buku itu, walaupun tidak lekas dan segera banyak, tapi sekadarnya ada juga mendatangkan keuntungan lumayan.
Meskipun secara keseluruhan bersikap positif, penulis artikel
tersebut sempat menyayangkan bahwa mutu buku-buku bacaan yang diterbitkan pada waktu itu semakin lama semakin menurun. Semakin banyak pengarang dan buku ternyata tidak menyebabkan peningkatan mutu buku-buku tersebut. Sangat sulit mencari buku bagus waktu itu. Rupanya kebanyakan pengarang menulis secara seram pangan saja. Keadaan yang sedemikian itulah yang memberi kan tugas kepada wartawan untuk bertindak sebagai “kritikus”, untuk memberi tahu
pembaca mana karangan yang baik dan yang mana yang buruk. Tentang tugas tambahan bagi wartawan itu ternyata Balai
Pustaka berpendirian lain. Wartawan tidak bisa dibebani tugas
sebagai penyeleksi karya sastra. Dan selama belum ada kritikus yang benar-benar mantap, tugas para penerbitlah untuk bertindak sebagai kritikus. Penerbit harus ketat men yensor buku-buku yang akan diterbitkannya. Jadi sebenarnya penerbitlah yang mendidik pembaca. Dan Balai Pustaka rupanya berusaha keras untuk mempertahankan
pendirian semacam itu, pendirian yang bisa saja “memaksa” pengarang untuk memperhatikan kehendak penerbit dan bukan kehen dak
publik atau kehendaknya sendiri.
Hasil sikap semacam itu muncul dalam berbagai bentuk. Ada
novel yang ditolak Balai Pustaka karena dari segi pendidikan dan sikap hidup tidak memenuhi kriterianya. Ada beberapa novel yang ditulis berdasarkan kerja sama antara pengarang dan redaktur. Dan praktis semua novel keluaran Balai Pustaka harus tunduk pada penggunaan bahasa Melayu gaya Balai Pustaka—yang kemudian dianggap sebagai semacam ragam bahasa sastra sebelum perang. Dan sikap yang bisa disebut “kaku” dari segi stilistika dan tematik itu menyebabkan
beberapa pihak kemudian mengembangkan sikap tersendiri dalam memberikan “pengajaran” kepada pembacanya.
2.3.5 Detail dan Ciri
Angkatan Balai Pustaka
sekarang balai pustaka merupakan salah satu penerbit besar yang banyak memproduksi berbagai jenis buku. Nama tersebut telah bertahan selama lebih dari 90 tahun, kalau dihitung dari berdirinya pada tahun 1917 yang merupakan pengukuhan Komisi untuk Sekolah Bumiputra dan Bacaan Rakyat (commissie voor de inlandsche school en volkslectuur) yang didirikan oleh pemerintah colonial belanda pada 14 september 1908. Jelas bahwa badan penerbit itu
merupakan organ pemerintah colonial yang semangatnya boleh dikatakan berseberangan dengan penerbit-penerbit swasta, baik yang semata-mata bervisi komersial maupun bervisi kebangsaan. Akan tetapi, mengingat sejarahnya yang panjang itu maka sepantasnya menjadi bagian khusus dalam pengkajian aatau telaah sejarah sastra Indonesia.
Secara teoretis dapat dikatakan banyak masalah yang dapa diungkapkan ari balai pustaka selama ini, antara lain visi dan misi, status, program kerja, para tokoh, kebijakan redaksi, pengarang, distribusi, dan produksi. Telaah semacam itu dapat dijadikan pengkajian sejarah mikro yang pasti relevan dengan sejarah makro sastra Indonesia. Ditambah dengan pengkajian berbagai gejala yang berkembang di sekitarnya pastilah memperluas wawasan pengetahuan masyarakat. Mungkin saja kemudian berkembang pendapat bahwa balai pustaka ternyata bukan satu-satunya penerbit pada tahun 1920-an membuka tradisi sastra modern, atau justru dilupakan saja karena berjejak colonial.
Ciri-ciri umum roman angkatan balai pustaka:
1. Bersifat kedaerahan, karena mengungkapkan persoalan yang hanya berlaku di daerah tertentu, khususnya Sumatra barat.
2. Bersufat romantic-sentimental, karena ternyata banyak roman yang mematikan tokoh-tokohnya atau mengalami penderitaan yang luar biasa.
3. Bergata bahasa seragam, karena dikemas oleh redaksi balai pustaka, sehingga gaya bahsanya tidak berkembang.
4. Bertema sosial, karena belum terbuka kesempatan mempersoalkan masalah polotik, watak, agama, dan lain-lain.
2.3.6 Tokoh-Tokoh
2.3.6.1 Abdul Muis
Abdul muis (lahir di solok, Sumatra barat, tahun 1886, meninggal di bandung 17 juli 1959), Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota
Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda. Ia dimakamkan di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI,
Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959).
Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung pada surat kabar Belanda, Preanger Bode, harian Kaum Muda dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim. Selain itu ia juga pernah aktif dalam Syarikat Islam dan pernah menjadi anggota Dewan Rakyat yang pertama (1920-1923). Setelah kemerdekaan, ia turut membantu mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan.
Riwayat Perjuangan melawan penjajah antara lain :
1. Mengecam tulisan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia melalui tulisannya di harian berbahasa Belanda, De Express
2. Pada tahun 1913, menentang rencana pemerintah Belanda dalam mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis melalui Komite Bumiputera bersama dengan Ki Hadjar Dewantara
3. Pada tahun 1922, memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta sehingga ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat
4. Mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda dalam pendirian Technische Hooge School – Institute Teknologi Bandung (ITB)
Karya-karyanya yang terkenal :
1. Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972) 2. Pertemuan Jodoh (novel, 1933)
3. Surapati (novel, 1950)
4. Robert Anak Surapati(novel, 1953)
Novel asing yang pernah diterjemahkan oleh Abdul Muis antara lain :
1. Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)
2. Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928) 3. Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)
4. Tanah Airku (karya C. Swaan Koopman, 1950)
2.3.6.2 Marah Rusli
Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.
sebagai dokter hewan hingga pensiun pada tahun 1952 dengan jabatan terakhir Dokter Hewan Kepala. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra. Marah Rusli meninggal pada tanggal 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Bogor, Jawa Barat. Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat. Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang
menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari
belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya.
Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan.
Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, Siti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.Karya-karyanya yang terkenal antara lain :
1. a)Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969.
2. b)La Hami. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.
3. c)Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956. 4. d)Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis) 5. e)Tesna Zahera (naskah Roman)
2.3.6.3 Merari Siregar
Merari Siregar (lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wafat di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
Karya-karyanya yang terkenal adalah
1. a)Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965. 2. b)Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
3. c)Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924. 4. d)Cinta dan Hawa Nafsu. Jakarta: t.th.
5. e)Si Jamin dan si Johan. Jakarta: Balai Pustaka 1918.
2.3.6.4 Nur Sutan Iskandar
Nur Sutan Iskandar (Sungai Batang, Sumatera Barat, 3 November 1893 – Jakarta, 28 November 1975) adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.
Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau lainnya Muhammad Nur mendapat gelar ketika menikah. Gelar Sutan Iskandar yang diperolehnya kemudian dipadukan dengan nama aslinya dan Muhammad Nur pun lebih dikenal sebagai Nur Sutan Iskandar sampai sekarang.
Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909 Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919 ia hijrah ke Jakarta. Di sana ia bekerja di Balai Pustaka, pertama kali sebagai korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka, yang dijabatnya 1942-1945.
Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Selain mengarang karya asli ia juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing seperti Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle. Karya-karyanya yang terkenal antara lain :
1. a) Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923) 2. b)Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)
3. c)Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928) 4. d)Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929) 5. e)Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932)
6. f)Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933) 7. g)Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
8. h)Hulubalang Raja (Jakarta: Balai Pustaka, 1934)
9. i)Katak Hendak Jadi Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935) 10. j)Neraka Dunia (Jakarta: Balai Pustaka, 1937)
11. k)Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941) 12. l)Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942)
13. m)Cinta Tanah Air (Jakarta: Balai Pustaka, 1944)
15. o)Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)
16. p)Pengalaman Masa Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949) 17. q)Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang)
18. r)Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II (Jakarta: JB Wolters, 1952) 19. s)Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952) 20. t)Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta:
JB Wolters, 1946) 21. u)Sesalam Kawin (t.t.)
2.3.6.5 Tulis Sutan Sati
Tulis Sutan Sati (Bukittinggi, Sumatra Barat, 1898 – 1942) adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka. Karya-karyanya yang terkenal antara lain :
1. Tak Disangka (1923)
2. Sengsara Membawa Nikmat (1928) 3. Syair Rosina (1933)
4. Tjerita Si Umbut Muda (1935) 5. Tidak Membalas Guna
6. Memutuskan Pertalian (1978)
7. Sabai nan Aluih: cerita Minangkabau lama (1954)
2.3.6.6 Muhammad Yamin
Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903. Ia menikah dengan Raden Ajeng Sundari Mertoatmadjo. Salah seorang anaknya yang dikenal, yaitu Rahadijan Yamin. Ia meninggal dunia pada tanggal 17 Oktober 1962 di Jakarta. Di zaman penjajahan, Yamin termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi. Lewat pendidikan itulah, Yamin sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi sastra Belanda diserap Yamin sebagai seorang intelektual sehingga ia tidak menyerap mentah-mentah apa yang didapatnya itu. Dia menerima konsep sastra Barat, dan memadukannya dengan gagasan budaya yang nasionalis.
Pendidikan yang sempat diterima Yamin, antara lain, Hollands inlands School (HIS) di Palembang, tercatat sebagai peserta kursus pada Lembaga Pendidikan Peternakan dan
Pertanian di Cisarua, Bogor, Algemene Middelbare School (AMS) ‘Sekolah Menengah Umum’ di Yogya, dan HIS di Jakarta. Yamin menempuh pendidikan di AMS setelah menyelesaikan
mendapat bantuan dari pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.
Setamat AMS Yogya, Yamin bersiap-siap berangkat ke Leiden. Akan tetapi, sebelum sempat berangkat sebuah telegram dari Sawahlunto mengabarkan bahwa ayahnya meninggal dunia. Karena itu, kandaslah cita-cita Yamin untuk belajar di Eropa sebab uang peninggalan ayahnya hanya cukup untuk belajar lima tahun di sana. Padahal, belajar kesusastraan Timur
membutuhkan waktu tujuh tahun. Dengan hati masgul Yamin melanjutkan kuliah di Recht Hogeschool (RHS) di Jakarta dan berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten ‘Sarjana Hukum’ pada tahun 1932.
Sebelum tamat dari pendidikan tinggi, Yamin telah aktif berkecimpung dalam perjuangan kemerdekaan. Berbagai organisaasi yang berdiri dalam rangka mencapai Indonesia merdeka yang pernah dipimpin Yamin, antara lain, adalah, Yong Sumatramen Bond ‘Organisasi Pemuda Sumatera’ (1926–1928). Dalam Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928) secara bersama
disepakati penggunaan bahasa Indonesia. Organisasi lain adalah Partindo (1932–1938).
Pada tahun 1938—1942 Yamin tercatat sebagai anggota Pertindo, merangkap sebagai anggota Volksraad ‘Dewan Perwakilan Rakyat’. Setelah kemerdekaan Indonesia terwujud, jabatan-jabatan yang pernah dipangku Yamin dalam pemerintahan, antara lain, adalah Menteri Kehakiman (1951), Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan (1953–1955), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara (1961–1962).
Dari riwayat pendidikannya dan dari keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, tampaklah bahwa Yamin termasuk seorang yang berwawasan luas. Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, ia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang
diperolehnya itu sehingga ia tidak menjadi kebarat-baratan. Ia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta tanah air dalam karya-karyanya. Barangkali halini merupakan pengaruh
lingkungan keluarganya karena ayah ibu Yamin adalah keturunan kepala adat di Minangkabau. Ketika kecil pun, Yamin oleh orang tuanya diberi pendidikan adat dan agama hingga tahun 1914. Dengan demikian, dapat dipahami apabila Yamin tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya, baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya.
pantun, syair, dan puisi Barat sebagai sumber. Perpaduan ketiga bentuk itu adalah hal umum terjadi terjadi pada awal perkembangan puisi modern di Indonesia.
Jika Umar Junus melihat adanya kedekatan untuk soneta yang dipergunakan Yamin dengan bentuk pantun dan syair, sebetulnya hal itu tidak dapat dipisahkan dari tradisi sastra yang melingkungi Yamin pada waktu masih amat dipengaruhi pantun dan syair. Soneta yang dikenal Yamin melalui kesusastraan Belanda ternyata hanya menyentuh Yamin pada segi isi dan semangatnya saja. Karena itu, Junus menangkap kesan berkisah dari sajak-sajak Yamin itu terpancar sifat melankolik, yang kebetulan merupakan sifat dan pembawaan soneta. Sifat soneta yang melankolik dan kecenderungan berkisah yang terdapat didalamnya tidak berbeda jauh dengan yang terdapat dalam pantun dan syair. Dua hal yang disebut terakhir, yakni sifat
melankolik dan kecenderungan berkisah, kebetulan sesuai untuk gejolak perasaan Yamin pada masa remajanya. Karena itu, soneta yang baru saja dikenal Yamin dan yang kemudian
digunakannya sebagai bentuk pengungkapan estetiknyha mengesankan bukan bentuk soneta yang murni.
2.3.6.7 Suman Hasibuan
Suman Hasibuan (lahir di Bengkalis, Riau, 4 April 1904 – wafat di Pekanbaru, Riau, 8 Mei 1999 pada umur 95 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Hasil karya dari Suman Hasibuan antara lain adalah “Mencari Pencuri Anak Perawan”, “Kawan Bergelut” (kumpulan cerpen), “Tebusan Darah”, “Kasih Tak Terlerai”, dan “Percobaan Setia”. Ia digolongkan sebagai sastrawan dari Angkatan Balai Pustaka. Karya-karyanya yang terkenal antara lain :
1. a)“Pertjobaan Setia” (1940)
2. b)“Mentjari Pentjuri Anak Perawan” (1932) 3. c)“Kasih Ta’ Terlarai” (1961)
4. d)“Kawan Bergelut” (kumpulan cerpen) 5. e) “Tebusan Darah”
2.3.6.8 Adinegoro
Adinegoro (lahir di Talawi, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 – wafat di Jakarta, 8 Januari 1967 pada umur 62 tahun) adalah sastrawan Indonesia dan wartawan kawakan. Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopolitik di Jerman dan Belanda (1926-1930). Nama aslinya sebenarnya bukan Adinegoro, melainkan Djamaluddin gelar Datuk Madjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan
Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Ia memiliki seorang istri bernama Alidas yang berdarah Sulit Air ,Solok, Sumatera Barat.
Darah Muda. Ajip Rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1982), mengatakan bahwa Adinegoro merupakan pengarang Indonesia yang berani melangkah lebih jauh
menentang adat kuno yang berlaku dalam perkawinan. Dalam kedua romannya Adinegoro bukan hanya menentang adat kuno tersebut, melainkan juga dengan berani memenangkan pihak kaum muda yang menentang adat kuno itu yang dijalankan oleh pihak kaum tua.
Di samping kedua novel itu, Adinegoro juga menulis novel lainnya, yaitu Melawat ke Barat, yang merupakan kisah perjalanannya ke Eropa. Kisah perjalanan ini diterbitkan pada tahun 1930. Selain itu, ia juga terlibat dalam polemik kebudayaan yang terjadi sekitar tahun 1935. Esainya, yang merupakan tanggapan polemik waktu itu, berjudul “Kritik atas Kritik” terhimpun dalam Polemik Kebudayaan yang disunting oleh Achdiat K. Mihardja (1977). Dalam esainya itu, Adinegoro beranggapan bahwa suatu kultur tidak dapat dipindah-pindahkan karena pada tiap bangsa telah melekat tabiat dan pembawaan khas, yang tak dapat ditiru oleh orang lain. Ia memberikan perbandingan yang menyatakan bahwa suatu pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan demikian pun sebaliknya. Karyanya antara lain:
1. Buku
2. a)Revolusi dan Kebudayaan (1954)
3. b)Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia (1954), 4. c)Ilmu Karang-mengarang
5. d)Falsafah Ratu Dunia 6. Novel
7. a)Darah Muda. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1931 8. b)Asmara Jaya. Batavia Centrum : Balai Pustaka. 1932. 9. c)Melawat ke Barat. Jakarta : Balai Pustaka. 1950. 10. Cerita pendek
11. a)Bayati es Kopyor. 12. b)Etsuko. Varia.
13. c)Lukisan Rumah Kami. 14. d)Nyanyian Bulan April.
2.4 PUJANGGA BARU
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang
menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik, dan elistik.
menjadi karya penting sebelum perang.
Pada masa ini dua kelompok sastrawan Pujangga Baru yaitu :
1. Kelompok “Seni Untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah. 2. Kelompok “Seni Untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir
Alisjahbana, Armijn Pane, dan Rustam Effendi.
2.4.1 Keterangan Lain
Angkatan Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut. Sensor dilakukan terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual dan nasionalistik. Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan Pujangga Baru antara lain sudah menggunakan bahasa Indonesia,
menceritakan kehidupan masyarakat kota, persoalan intelektual, emansipasi (struktur cerita/konflik sudah berkembang), pengaruh barat mulai masuk dan berupaya melahirkan budaya nasional, menonjolkan nasionalisme, romantisme, individualisme, intelektualisme, dan materialisme.
Salah satu karya sastra terkenal dari Angkatan Pujangga Baru adalah Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisjahbana. Layar Terkembang
merupakan kisah roman antara tiga muda-mudi, yaitu: Yusuf, Maria, dan Tuti. Berikut ini dapat kita pelajari Roman Layar Terkembang. Yusuf adalah seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang menghargai wanita. Maria adalah seorang mahasiswi periang, senang akan pakaian bagus, dan memandang kehidupan dengan penuh kebahagian. Tuti adalah guru dan juga gadis pemikir yang berbicara seperlunya saja, aktif dalam perkumpulan dan memperjuangkan kemajuan wanita.
Dalam kisah Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisjahbana ingin
menyampaikan beberapa hal yaitu, perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat. Selain itu, masalah yang datang harus dihadapi bukan dihindari dengan mencari pelarian, seperti perkawinan yang digunakan untuk pelarian mencari perlindungan, belas kasihan dan pelarian dari rasa kesepian atau demi status budaya sosial.
Di sisi lain, pada Angkatan Pujangga Baru Amir Hamzah diberi gelar sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru.” Beliau diberi gelar tersebut karena mampu menjembatani tradisi puisi Melayu yang ketat dengan bahasa Indonesia yang
puri-puri Istana Melayu menuju ruang baru yang lebih terbuka yaitu
bahasa Indonesia, yang menjadi dasar dari Indonesia yang sedang dicita-citakan bersama.
2.4.2 Latar belakang terbitnya Pujangga Baru
Buku Pujangga Baru, Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B Jasin adalah sebuah bunga rampai (antologia) dari para pengarang dan penyair yang oleh penyusunnya digolongkan ke dalam Angkatan Pujangga Baru Seperti diketahui, oleh para ahli dan parapenyusun buku-buku pelajaran sastra Indonesia, perkembangan sastra Indonesia dibagi-bagimenjadi angkatan-angkatan. Angkatan Pujangga Baru biasanya ditempatkan sebagaiangkatan kedua, yaitu setelah angkatan Balai Pustaka dan mendahului kelahiran angkatan‘45. Tetapi kita lihat pembagian sejarah sastra Indonesia dalam angkatan-angkatan ini, tidaklah disertai dengan alasan-alasan yang bisa kita terima. Tidak sedikit pula para sastrawan yang menolak atau tidak mau dimasukan dalam sesuatu angkatan, mereka memilih masuk angkatan yang disukainya. Misalnya Achdiat K. Mihardja pernah menyatakan bahwa ia lebih suka digolongkan kepada angkatan Pujangga Baru, padahal para ahli telah menggolongkannya kepada angkatan ‘45.Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.Ketika sastra Indonesia dikuasai oleh angkatan
Pujangga Baru, masa-masa tersebut lebih dikenal sebagai Masa Angkatan Pujangga
Baru. Masa ini dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada Mei 1933. Majalah inilah yang merupakan terompet serta penyambung lidah para pujangga baru. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga baru, yaitu Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana.Dalam manivestasi pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan itu, selain melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga mendorong
Masih banyak lagi para pujangga baru lainnya seperti Rustam Effendi, A.M. Daeng Myala, Adinegoro, A. Hasjemi, Mozasa, Aoh Kartahadimadja, dan Karim Halim. Mereka datang dari segala penjuru tanah air dengan segala corak ragam gaya dan bentuk jiwa serta
seninya.Mereka berlomba-lomba, namun tetap satu dalam cita-cita dan semangat mereka, yaitu semangat membangun kebudayaan Indonesia yang baru dan maju. Itulah sebabnya mereka dapat bekerjasama, misalnya saja dalam memelihara dan memajukan penerbitan
majalahPujangga Baru.
1. Karakteristik Karya Angkatan Pujangga Baru
2. Dinamis
3. Bercorak romantik/idealistis, masih secorak dengan angkatan sebelumnya, hanya saja kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat fasip, sedangkan angkatan Pujangga Baru aktif romantik. Hal ini berarti bahwa cita-cita atau ide baru dapat mengalahkan atau menggantikan apa yang sudah dianggap tidak berlaku lagi.
4. Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern dan sudah
meninggalkan bahasa klise. Mereka berusaha membuat ungkapan dan gaya bahasa sendiri. Pilihan kata, Penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan oleh Pujangga Baru sehingga dianggap terlalu dicari-cari.
Ditilik bentuknya, karya angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri:
1. Bentuk puisi yang memegang peranan penting adalah soneta, disamping itu ikatan-ikatan lain seperti quatrain dan quint pun banyak dipergunakan. Sajak jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi, kadang-kadang para Pujangga Baru mengubah sajak atau puisi yang pendek-pendek, cukup beberapa bait saja. Sajak-sajak yang agak panjang hanya ada beberapa buah, misalnya ”Batu Belah” dan ”Hang Tuah” karya Amir Hamjah.
2. Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan, misalnya pada roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
3. Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru dengan tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari sejarah dan ada pula yang semata-mata pantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.
1. Pengarang Angkatan Pujangga Baru dan Karyanya
2.4.3 Tokoh-tokohnya
2.4.3.1 Sutan Takdir Alisjahbana
Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta cita-cita dan keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang bermacam-macam pula pada dirinya.
Karangannya mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat. Karya-karyanya antara lain:
1. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929) 2. Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
3. Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941) 4. Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
5. Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936) 6. Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952) 7. Puisi Lama (1942)
8. Puisi Baru (1946
2.4.3.2 Amir Hamzah
Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28-2-1911 di Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah keluarga yang taat beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di Medan, dan Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi sehingga mendapat sebutan “Raja Penyair” Pujangga Baru. Karya-karyanya antara lain:
1. Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937) 2. Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941) 3. Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)
4. Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)
2.4.3.3 Sanusi Pane
Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14-11-1905. Ia mengunjungi SR di Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang, dan melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya pada Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi ke India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India. Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941. Pada jaman pendududkan Jepang menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta. Karya-karyanya antara lain:
1. Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926) 2. Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
5. Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933) 6. Manusia Baru (Sandiwara, 1940)
2.4.3.4 Muhamad Yamin, SH.
Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus 1905. Setelah menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi sekolah-sekolah vak seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian menamatkan AMS di Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah Hakim di Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan 19’45, ia memegang jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga akhir hayatnya (26 Oktober 1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi. Karya-karyanya antara lain:
1. Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)
2. Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)
3. Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)
4. Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath Tagore)
5. Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
6. Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
7. Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
8. Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
9. 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
10. Tan Malaka (19’45)
11. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)
2.4.3.5 J.E. Tatengkeng
Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya bercorak religius. Dia juga sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal. Karyanya antara lain Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).
2.4.3.6 Hamka
Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern dan tokoh yang ingin
membersihkan agama Islam dari khurafat dan bid’ah. Pendidikan Hamka hanya sampai kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan madsrasah. Ia pernah mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto. Prosa Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang produktif. Karyanya antara lain:
2. Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941) 3. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939) 4. Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951) 5. Ayahku (biografi)
6. Karena Fitnah (roman, 1938) 7. Merantau ke Deli (kisah;1939) 8. Tuan Direktur (1939)
9. Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950) 10. Keadilan Illahi
11. Lembaga Budi 12. Lembaga Hidup 13. Revolusi Agama
2.4.3.7 M.R. Dajoh
Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa, 2 November 1909. Ia berpendidikan SR, HIS Sirmadidi, HKS Bandung, dan Normaalcursus di Malang. Pada masa Jepang menjabatat kepala bagian sandiwara di kantor Pusat Kebudayaan. Kemudian pindah ke Radio Makasar. Dalam karya Prosanya sering menggambarkan pahlawan-pahlawan yang berani, sedang dalam puisinya sering meratapi kesengsaraan masyarakat. Karyanya antara lain:
1. Pahlawan Minahasa (roman; 1935) .
2. Peperangan Orang Minahasa dengan Orang Spanyol (roman, 1931). 3. Syair Untuk Aih (sajaka, 1935).
2.4.3.8 Ipih
Ipih atau H.R. adalah nama samaran dari Asmara Hadi. Dia lahir di Talo, Bengkulu, tanggal 5 September 1914. Pendidikannya di HIS Bengkulu, Mulo Jakarta, Bandung, serta Mulo Taman Siswa Bandung. Lebih dari setahun ia ikut dengan Ir. Soekarno di Endeh. Setelah menjadi guru, ia menjadi wartawan dan pernah memimpin harian Pikiran Rakyat di Bandung. Dalam karyanya terbayang semangat gembira dengan napas kebangsaan dan perjuangan. Karya-karyanya antara lain:
1. Di Dalam Lingkungan Kawat Berduri (catatan, 1941) 2. Sajak-sajak dalam majalah
2.4.3.9 Armijn Pane
Jakarta, serta memimpin majalah Kebudayaan Timur. Karyanya antara lain:
1. Belenggu (roman jiwa, 1940)
2. Kisah Antara Manusia (kumpulan cerita pendek, 1953) 3. Nyai Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)
4. iwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939) 5. Ratna (sandiwara, 1943)
6. Lukisan Masa (sandiwara, 1957)
7. Habis Gelap Terbitlah Terang (uraian dan terjemahan surat-surat R.A Kartini, 1938)
2.4.3.10 Rustam Effendi
Lahir di Padang, 18 Mei 1905. Dia aktif dalam bidang politik serta pernah menjadi anggota Majelis Perwakilan Belanda sebagai utusan Partai Komunis. Dalam karyanya banyak dipengaruhi oleh bahasa daerahnya, juga sering mencari istilah-istilah dari Bahasa Arab dan Sansakerta. Karyanya antara lain:
1. Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1922) 2. Bebasari (sandiwara bersajak, 1922)
2.4.3.11 A. Hasjmy
1. Hasjmy nama sebenarnya adalah Muhammad Ali Hasjmy. Lahir di Seulimeun, Aceh, 28 Maret 1912. Ia berpendidikan SR dan Madrasah Pendidkan Islam. Pada tahun 1936 menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeun. Karya-karyanya antara lain:
2. Kisah Seorang Pengembara (kumpulan sajak, 1936) 3. Dewan Sajak (kumpulan sajak, 1940)
2.4.3.12 Imam Supardi
Karya-karyanya antara lain:
Sastrawan dan penyair lainnya dari angkatan Pujangga Baru:
2.4.3.13 DLL
1. Mozasa, singkatan dari Mohamad Zain Saidi
2. Yogi, nama samaran A. Rivai, kumpulan sajaknya Puspa Aneka
3. A.M. DG. Myala, nama sebenarnya A.M Tahir
4. Intojo alias Rhamedin Or Mandank
2.5 ANGKATAN 1945
2.5.1 Sejarah Sastra Indonesia Angkatan 45
Amal Hamzah Rosihan Anwar Bakri Siregar Anas Ma’ruf M.S. Ashar Maria Amin Nursyamsu HB Jassin
Abu Hanifah (El Hakim) Kotot Sukardi
Idrus
2.5.2 Proses Kelahiran Angkatan 1945
Angkatan 1945 tidak dapat dilepaskan dari lingkungan kelahirannya, yakni masa penduduk Jepang dan masa revolusi Indonesia. Perjuangan bangsa yang mencapai titik puncak pada Proklamasi 17 Agustus 1945 beserta gejolak politik yang mengawali maupun mengikutinya, memberi pengaruh sangat besar pada corak sastra. Generasi yang aktif pada masa revolusi 1945 dipaksa oleh keadaan untuk merumuskan diri dan tampil menjawab tantangan-tantangan zaman yang mereka hadapi. Selain ikut berjuang secara fisik dalam perang kemerdekaan, mereka juga menyibukkan diri untuk merumuskan dan mencari orientasi pada berbagai kemungkinan bangunan kebudayaan bagi Indonesia kedepan.
Latar belakang perubahan politik yang sangat mendadak pada masa
pendudukan Jepang (1942-1945) menjadi awal kelahiran karya sastra Angkatan 45. Kehadiran Angkatan 45 serta karya sastra Angkatan 45 meletakkan pondasi kokoh bagi sastra Indonesia, karena angkatan sebelumnya dinilai tidak memiliki jati diri ke-Indonesiaan. Jika Angkatan Balai Pustaka dinilai tunduk pada “Volkslectuur”, lembaga kesustraan kolonial Belanda, dan Angkatan Pujangga Baru dinilai menghianati identitas bangsa karena terlalu berkiblat ke Barat, maka Angkatan 45 adalah reaksi penolakan terhadap ankatan-angkatan tersebut.
Anwar diakui dan disepakati banyak kalangan sebagai nama angkatan sastra periode-40-an.Angkatan 1945 memperoleh saluran resmi melalui penerbitan majalah kebudayaan Gema Suasana, Januari 1948. Majalah ini diasuh oleh dewan redaksi yang terdiri dari Asrul Sani, Chairil Anwar, Mochtar Apin, Riva’I Apin dan Baharudin. Majalah ini dicetak dan diterbitkan oleh percetakan Belanda Opbouw (Pembangun). Dalam konfrotasi dengan Belanda, mereka kemudian pindah ke “Gelanggang”, sebuah suplemen kebudayaan dari jurnal mingguan, siasat yang muncul pertama kali pada Februari 1948 dengan redaktur Chairil Anwar dan Ida Nasution. Disuplemen inilah mereka kemudian menerbitkan kredo Angkatan 45, yang dikenal luas dengan nama “Surat Kepercayaan Gelanggang”.
Nama “Angkatan 45” baru diberikan pada tahun 1949 oleh Rosihan Anwar,
meski tidak disetujui banyak sastrawan. Keberatan itu karena nama itu kurang pantas ditujukan pula kepada para pengarang, yang notabene berbeda dengan para pejuang kemerdekaan (yang diberi predikat sebelumnya sebagai Angkatan 45).
Ada 4 tokoh utama yang sering dianggap sebagai pelopor Angkatan 45: Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Idrus. Chairil seorang individualis dan anarkhis. Asrul aristokrat dan moralis. Idrus penuh dengan sinisme. Rivai lebih dikenal sebagai nihilis.
Surat Kepercayaan Gelanggang adalah pernyataan sikap dari beberapa sastrawan Indonesia yang kemudian hari dikenal sebagai Angkatan ’45. Di antara para sastrawan ini yang paling menonjol adalah Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin. Surat ini diterbitkan oleh majalah Siasat pada tanggal 22 Oktober 1950.
Surat Kepercayaan Gelanggang berbunyi sebagai berikut:
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.
Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.
Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan
orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.
Angkatan 45 tidak hanya terdiri dari kaum sastrawan, tetapi juga seniman lain, termasuk para pelukis seperti: S. Sudjojono, Affandi, Henk Ngantung, Mochtar Apin, Baharuddin; juga para musikus seperti: Binsar Sitompul dan Amir Pasaribu.
Karya-karya sastra kala itu masih diterbitkan bersama dengan sketsa para pelukis, partitur musik, esai musik-lukis-drama-tari. Hal ini menunjukkan bahwa para sastrawan memiliki wawasan luas dalam bidang seni dan budaya pada umumnya.
Perkembangan Angkatan 45 Melalui majalah-majalah :
a. Panca Raya (1945—1947) b. Pembangunan (1946—1947) c. Pembaharuan (1946—1947) d. Nusantara (1946—1947) e. Gema Suasana (1948—1950)
f. Siasat (1947—1959) dgn lampiran kebudayaan: Gelanggang g. Mimbar Indonesia (1947—1959) dgn lampiran: Zenith
h. Indonesia (1949—1960)
i. Pujangga Baru (diterbitkan lagi 1948; berganti Konfrontasi: 1954) j. Arena (di Yogya, 1946—1948)
k. Seniman (di Solo 1947—1948)
2.5.3 Aliran Angkatan ’45.
Ekspresionisme merupakan aliran seni yang berkembang setelah
kemerdekaan diproklamasikan. Ekspresionisme yang mendasari Angkatan 45 sebenarnya sudah berkembang lama di Eropa (penghujung abad ke-19) seperti Baudelaire, Rimbaud, Mallarme (Prancis), F.G. Lorca (Spanyol), G. Ungaretti (Italia), T.S Eliot (Inggris), G.Benn (Jerman), dan H. Marsman (Belanda).