• Tidak ada hasil yang ditemukan

WACANA PEDULI LINGKUNGAN dan MAJALAH REMAJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "WACANA PEDULI LINGKUNGAN dan MAJALAH REMAJA"

Copied!
212
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

WACANA PEDULI LINGKUNGAN dan MAJALAH REMAJA

(Analisis Wacana Peduli Lingkungan dalam Artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 Menggunakan Model

Analisis Wacana Teun A. van Dijk)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi

Oleh :

RAHAJENG KARTIKARANI

D0207130

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

(3)

commit to user

(4)

commit to user

iv

MOTTO

“Ora et Labora”

“Semua akan indah pada waktu-NYA”

(5)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini kupersembahkan untuk:

Papa, Mama, serta Adikku tercinta atas dukungan, semangat, dan doa yang begitu

luar biasa bagi penulis.

Cerry Mandala Paradipta atas semangat, dukungan, dan doa bagi penulis.

(Almh.) Eyang Putri atas harapan yang besar dan doa yang tulus agar penulis

segera menyelesaikan studi.

(6)

commit to user

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur tak henti-hentinya penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus

Kristus atas berkat dan kasih anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi berjudul Wacana Peduli Lingkungan dan Majalah Remaja (Analisis

Wacana Peduli Lingkungan dalam Artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 Menggunakan Model Analisis Wacana Teun

van Dijk) dengan segala kurang dan lebihnya.

Skripsi ini merupakan sebuah analisis wacana kirits untuk mengetahui

bagaimana peduli lingkungan diwacanakan dalam artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011. Pemilihan tema penelitian berangkat

dari minat peneliti terhadap peduli lingkungan yang belum banyak ditulis di

media. Permasalahan tentang pemanasan global yang tiap hari semakin

memberikan dampak bagi lingkungan, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Manusia

juga bertanggungjawab atas kelangsungan hidup bumi. Berbagai bencana alam

yang terjadi di berbagai belahan bumi seperti banjir, badai, gempa bumi, tsunami,

dan lainnya juga sebagai akibat kurang pedulinya manusia terhadap alam. Dalam

hal ini, media memiliki peran untuk menyampaikan informasi dan mempengaruhi

masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Berangkat dari pandangan

tersebut, peneliti melakukan peneilitian ini yang kemudian hasil laporannya

disusun dalam bentuk skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)

(7)

commit to user

vii

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan pertolongan dari

berbagai pihak. Dengan segenap keikhlasan dan kerendahan hati, penulis

memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan

kasih karunia-Nya, sehingga berbagai kemudahan ditemui penulis dalam

pengerjaan skripsi ini. Terima kasih juga penulis haturkan kepada:

1. Prof. Drs. H. Pawito, Ph. D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu

Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas

Maret Surakarta.

3. Sri Hastjarjo, S. Sos, Ph. D selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah

memberikan bimbingan kepada penulis dengan sangat baik, senantiasa

memberi masukan, semangat serta motivasi bagi penulis.

4. Redaksi Majalah GoGirl! yang telah memberikan kemudahan akses data,

kritik, dan saran serta motivasi kepada penulis.

5. Keluarga “Keylight”: Maulana, Syamrotun, Leila, Amal, Maya, Dini, Hafi, Ratna, Herka, Aji, Sigit, Pusa yang selalu memberikan semangat dan

dukungan kepada penulis.

6. KOMPI, suka duka kita bagi bersama selama 5 tahun. Tetap kompak ya

sampai tua nanti!

7. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

(8)

commit to user

viii

Tiada gading yang tak retak, mungkin itulah cerminan dari skripsi ini.

Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan karya sederhana ini.

Terima kasih dan semoga bermanfaat. Amin.

Surakarta, April 2012

(9)

commit to user

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL --- i

HALAMAN PERSETUJUAN --- ii

HALAMAN PENGESAHAN --- iii

HALAMAN MOTTO --- iv

HALAMAN PERSEMBAHAN --- v

KATA PENGANTAR --- vi

DAFTAR ISI --- ix

DAFTAR TABEL --- xiii

DAFTAR GAMBAR --- xiv

ABSTRAK --- xv

ABSTRACT --- xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah --- 1

B. Rumusan Masalah --- 5

C. Tujuan Penelitian --- 5

D. Manfaat Penelitian --- 5

E. Telaah Pustaka 1. Majalah Sebagai Saluran Komunikasi --- 6

2. Feature --- 15

3. Mengangkat Masalah Lingkungan ke Media--- 19

(10)

commit to user

x

F. Kerangka Pemikiran --- 35

G.Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian --- 36

2. Metode Penelitian --- 36

3. Objek Penelitian --- 37

4. Teknik Pengumpulan Data --- 38

5. Teknik Analisis Data --- 38

6. Sistematika Pembahasan --- 39

BAB II GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A.Sejarah Majalah GoGirl! --- 41

B. Visi dan Misi 1. Visi --- 42

2. Misi --- 42

C. Profil Media GoGirl! 1. Data Teknis --- 43

2. Target Pembaca --- 44

3. Sirkulasi dan Distribusi --- 44

4. Promosi --- 45

D. Newsroom Majalah GoGirl! 1. Monthly Routine --- 46

2. Feature --- 46

3. Fashion --- 47

(11)

commit to user

xi

5. Health and Beauty --- 49

6. Lifestyle --- 49

E. Struktur Kepemimpinan dan Redaksi Majalah GoGirl! --- 50

BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

A. Analisis Artikel “Go Gas!

1. Analisis Teks --- 55

2. Analisis Kognisi Sosial --- 71

3. Analisis Konteks Sosial --- 72

B. Analisis Artikel “Green School: SDNP 12 Bendungan Hilir5

1. Analisis Teks --- 74

2. Analisis Kognisi Sosial --- 92

3. Analisis Konteks Sosial --- 93

C. Analisis Artikel “Asia’s Most Polluted Cities”

1. Analisis Teks --- 95

2. Analisis Kognisi Sosial --- 115

3. Analisis Konteks Sosial --- 115

D. Analisis Artikel “Green Eating; Simple Planting

1. Analisis Teks --- 117

2. Analisis Kognisi Sosial --- 142

3. Analisis Konteks Sosial --- 143

E. Analisis Artikel “Let’s Go Zero-Waste!”

1. Analisis Teks --- 144

(12)

commit to user

xii

3. Analisis Konteks Sosial --- 162

F. Analisis Artikel “Drug Management

1. Analisis Teks --- 163

2. Analisis Kognisi Sosial --- 184

3. Analisis Konteks Sosial --- 186

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan --- 194

B. Saran --- 196

DAFTAR PUSTAKA

(13)

commit to user

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Elemen Wacana Teun van Dijk --- 34

Tabel 3.1 Analisis Teks Majalah GoGirl! --- 78

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Penulisan Feature --- 17

Gambar 1.2 Model Analisis Teun van Dijk --- 33

Gambar 3.1 Layout Artikel “Go Gas!” --- 70

Gambar 3.2 Layout Artikel “Green School: SDNP 12 Bendungan Hilir” -- 86

Gambar 3.3 Layout Artikel “Asia’s Most Polluted Cities” --- 107

Gambar 3.4 Layout Artikel “Green Eating; Simple Planting” --- 133

Gambar 3.5 Layout Artikel “Let’s Go Zero-Waste!” --- 148

(15)

commit to user

xv

ABSTRAK

RAHAJENG KARTIKARANI, D0207130, WACANA PEDULI LINGKUNGAN DAN MAJALAH REMAJA (Analisis Wacana Peduli Lingkungan dalam Artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 Menggunakan Analisis Wacana Teun A. van Dijk), Skripsi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2012.

Pemanasan global yang ditandai dengan perubahan cuaca ekstrim, berbagai bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lainnya semakin sering terjadi di berbagai belahan bumi. Bencana alam yang silih berganti juga menjadi tanggung jawab manuisa sebagai salah satu penghuni di dalamnya. Kurangnya atau rendahnya kepedulian manusia terhadap lingkungan, membuat alam seakan dibiarkan begitu saja. Kebanyakan media hanya mengekspos kejadian alam yang terjadi akibat pemanasan global. Belum banyak media yang memberitakan berbagai cara yang bisa dilakukan sebagai bentuk peduli lingkungan. Padahal, melalui tulisan yang dimuat dalam media, turut mempengaruhi cara pandang serta memotivasi masyarakat untuk lebih peduli lingkungan. Untuk peduli terhadap lingkungan pun tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, ilmuwan, maupun pemerintah saja. Generasi muda sebagai generasi penerus juga bertanggungjawab terhadap kelangsungan lingkungan. Dengan memotivasi generasi muda, diharapkan mampu mengubah pola pikir dan semakin banyak yang peduli terhadap lingkungan tanpa ada batasan usia, status, maupun gender.

Penelitian yang dilakukan akan menganalisis artikel dan serta menjelaskan bagaimana peduli lingkungan diwacanakan dalam rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011. Rubrik “Green Page” merupakan rubrik yang dikhususkan untuk memuat artikel-artikel yang berhubungan dengan go green. Berbeda dengan majalah remaja lainnya yang hanya menuliskan sesuatu tentang go green sebagai artikel lepas dan tidak dimuat secara rutin.

Penelitian ini dilakukan melalui tiga dimensi analisis wacana Teun A. van Dijk yaitu teks, konteks sosial, dan kognisi sosial. Dalam analisis teks, artikel diteliti sesuai dengan struktur teks seperti tematik, skematik, semantik, stilistik, dan retoris. Pada dimensi kognisi sosial, diteliti tentang bagaimana wartawan memproduksi berita. Selanjutnya pada dimensi konteks sosial dianalisis mengenai apa yang terjadi pada masyarakat yang berkaitan dengan artikel yang dianalisis. Dari hasil analisis tersebut, wacana yang muncul adalah mengenai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya mengganti BBM dengan gas, mejaga kebersihan lingkungan, menanam, mengolah limbah obat-obatan dengan cara yang benar, mengaplikasikan pola jahitan yang sedikit atau bahkan tidak menghasilkan limbah sama sekali dan yang paling penting, semua yang dilakukan berawal dari diri kita sendiri.

Setelah melakukan analisis dari ketiga dimensi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan. Bahwa ketiga dimensi tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk sebuah wacana.

(16)

commit to user

xvi ABSTRACT

RAHAJENG KARTIKARANI, D0207130, THE DISCOURSE OF ENVIRONMENTAL CARE AND YOUTH MAGAZINE (Critical Discourse Analysis of Environmental Concern in the Articles in the rubric “Green Page GoGirl Magazine! July-December 2011 Edition Using Discourse Analysis of Teun A. van Dijk), Thesis, Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University, 2012.

Global warming is marked by extreme weather changes, natural disasters such as floods, earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions, and other, increasingly common in many parts of the earth. Successive natural disasters is also the responsibility of human as one of the occupants in it. Lack of or low awareness of human impacts on the environment, nature seemed to go unpunished. Most media just expose the natural events that occur due to global warming. Only few medias reported the various ways to do as a form of care for the environment. In fact, their writings published in the media, also influence the outlook and motivate people to pay more attention for the environment. Environment was not only the responsibility of adults, scientists, and government. Youth as the next generation is also responsible for environmental sustainability. By motivating the youth, it is expected to change the mindset and more people care about the environment without any restriction of age, status, or gender.

Research conducted to analyze article and explain how to care for the environment is discoursed within the rubric of “Green Page” GoGirl Magazine! Edition of July-December 2011. Rubric of “Green Page” is a section devoted to load the articles associated with the go green. In contrast to other teen magazines, which only issue something about go green as a freelance article and not loaded on a regular basis.

The research was conducted through a three-dimensional analysis of the discourse of Teun A. van Dijk including the text, social context, and social cognition. In text analysis, the article examined in accordance with the structure of the text as thematic, schematic, semantic, stylistic, and rhetorical. The dimensions of social cognition, analyzed about how journalists produce news. Then, the dimensions of the social context is analyzed as to what happens to people related to the article being analyzed. From the analysis, the discourse that emerges is of a form of environmental stewardship that can be done in various ways such as replacing fuel oil with gas, protecting the purity of environment, planting, processing medicine waste in the right way, applying the pattern stitches that have little or no waste at all and most important, is all of performances started from ourselves.

After analyzing the three dimensions, it will be found a conclussion in it. That the three dimensions influence each other and can’t be separated in the form of a discourse.

(17)

commit to user

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sama seperti makhluk hidup lainnya, manusia berinteraksi dengan

lingkungan hidupnya, mampu mempengaruhi satu sama lain dan tidak dapat

dipisahkan karena manusia dan lingkungan hidup saling bergantung. Namun,

akhir-akhir ini begitu banyak bencana alam yang terjadi di berbagai belahan bumi

membuat permasalahan lingkungan hidup kini menjadi sebuah topik hangat yang

diperbincangkan.

Beberapa puluh tahun yang lalu, masalah mengenai lingkungan hidup

seringkali dianggap sebagai masalah bagi para pecinta lingkungan, ahli biologi,

maupun ahli geologi saja. Permasalahan mengenai lingkungan hidup kini menjadi

permasalahan bagi semua orang, karena semua orang bertanggungjawab terhadap

kelangsungan lingkungan hidup manusia itu sendiri maupun makhluk hidup

lainnya. Berbagai peristiwa alam yang terjadi akhir-akhir ini tentu saja bukan

disebabkan oleh faktor alam saja, namun juga campur tangan manusia yang

kurang bertanggungjawab terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Segala permasalahan lingkungan yang terjadi timbul akibat ulah manusia itu

sendiri sehingga membuat lingkungan tidak lagi sesuai untuk mendukung

kehidupan manusia. Kepedulian manusia akan kerusakan lingkungan yang

(18)

commit to user

berdampak menjadi bencana dirasa masih kurang. Hal ini terlihat dari kesadaran

manusia modern yang ketika melihat tanda kerusakan lingkungan menjadi

terbiasa dan menyesuaikan diri dengan penurunan kualitas lingkungan yang

terjadi secara bertahap dalam jangka waktu panjang. Kerusakan tersebut baru

disadari setelah terlambat dan tidak lagi bisa diperbaiki kembali (Soemarwoto,

1992:18).

Lembaga-lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat

(LSM) berlomba-lomba menggugah kesadaran masyarakat terhadap upaya

memelihara lingkungan yang nyaman bagi kehidupan. Namun selain

lembaga-lembaga tersebut, media massa juga turut menyumbangkan berbagai pengetahuan

yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup guna membangun kesadaran

masyarakat. Sebab, jika tidak ada pengetahuan mengenai masalah lingkungan

hidup, maka akan sulit terwujud penanggulangan masalah lingkungan hidup itu

sendiri serta pemahaman yang keliru sehingga timbullah bencana maupun hal-hal

yang tidak diinginkan.

Media massa diakui oleh LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia

(Walhi) sebagai alat yang efektif untuk melibatkan publik dalam perdebatan

mengenai pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi, Walhi juga mengingatkan

bahwa untuk merangsang sebuah perdebatan, media massa tidak cukup dengan

berita namun juga dalam bentuk kisah maupun feature berkedalaman

(Atmakusumah, 1996:x).

Media massa dianggap efektif untuk mampu menyampaikan pesan kepada

(19)

commit to user

media massa mulai dari surat kabar, majalah, hingga internet berlomba-lomba

memuat berita maupun feature mengenai lingkungan hidup. Hal ini mampu

memberikan dampak positif bagi peningkatan kesadaran masyarakat terhadap

lingkungan hidup yang semakin hari keadaannya semakin mengkhawatirkan.

Pengemasan pesan sadar lingkungan hidup kedalam bentuk berita maupun feature

pun bervariasi disesuaikan dengan target pembacanya agar pesan tersebut lebih

mudah dipahami dan diharapkan mampu memotivasi berbuat sesuatu yang

bermanfaat bagi kelangsungan lingkungan hidup.

Jika biasanya sering dijumpai berita maupun feature tentang lingkungan

hidup di media cetak surat kabar, kali ini penelitian ini akan meneliti artikel

tentang lingkungan hidup di majalah remaja. Mengapa majalah remaja? Karena

biasanya majalah dengan segmentasi pembacanya mayoritas remaja memuat

informasi mengenai fashion, trend, hingga gosip mengenai artis idola mereka.

Sekarang, majalah remaja pun berlomba-lomba ingin menyampaikan pesan untuk

peduli terhadap lingkungan melalui berbagai kegiatan yang diadakan hingga

penulisan artikel maupun membuat rubrik khusus tentang lingkungan hidup.

Dalam penelitian ini, diteliti artikel-artikel mengenai lingkungan hidup di

majalah remaja GoGirl!. Artikel-artikel yang diteliti ini dimuat dalam rubrik

khusus “Green Page” yang selalu ada di setiap edisi majalah remaja GoGirl!.

Topik yang diangkat di setiap edisi pada rubrik “Green Page” selalu berbeda

namun tetap membawa pesan tentang go green.

Lalu mengapa majalah GoGirl! yang diteliti? Majalah ini merupakan salah

(20)

commit to user

terhadap permasalahan lingkungan hidup. Majalah ini juga yang mempelopori

kepedulian terhadap lingkungan, hal ini terlihat dari ukuran majalah yang

diperkecil dan dicetak menggunakan kertas bekas, memuat artikel dan membuat

rubrik khusus tentang peduli lingkungan secara tematik hingga acara off-air

dengan tema peduli lingkungan.

Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis Teun A. van Dijk

yaitu dengan menganalisis setiap artikel lingkungan hidup di rubrik “Green

Page”. Penelitian ini melihat bagaimana majalah remaja sebagai salah satu media

massa mampu menyampaikan pesan untuk sadar lingkungan hidup kepada

pembacanya yang mayoritas berusia remaja melalui artikel-artikel yang dimuat

dalam rubrik khusus “Green Page”. Sebab, untuk peduli terhadap lingkungan,

bukan saja menjadi tanggung jawab orang dewasa, namun usia remaja bahkan

anak kecilpun juga bertanggungjawab terhadap kelangsungan lingkungan hidup.

Remaja khususnya yang masih duduk dalam jenjang pendidikan adalah

modal dasar pembangunan di masa mendatang. Melalui pembekalan awal, akan

memacu kepedulian terhadap hal-hal yang positif, khususnya terhadap

lingkungan. Selain memperoleh pembekalan, peranan masyarakat (remaja) juga

memiliki pengetahuan yang ada di lingkungannya (kearifan lokal), sehingga bisa

saling membagikan pengetahuannya. Kelak akan memacu terhadap penelitian

yang bersifat perorangan, serta mengetahui persis kondisi alam lingkungan di

sekitarnya (Waryono, 2009:4-5).

Penelitian ini meneliti bagaimana sebuah media massa khususnya majalah

(21)

commit to user

rubrik khusus “Green Page” majalah GoGirl! kepada pembacanya. Dalam

menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepada remaja bukanlah hal yang

mudah, terlebih lagi adalah menyampaikan pesan untuk peduli lingkungan yang

mungkin dianggap oleh beberapa remaja adalah hal yang sulit ataupun malah

dianggap bukan seharusnya mereka yang melakukan hal tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai

berikut: Bagaimana wacana yang terdapat pada artikel-artikel di rubrik “Green

Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 dibangun?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana wacana yang terdapat

pada artikel-artikel di rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember

2011 dibangun.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis

maupun praktis. Pada tataran teoritis, hasil penelitian ini diharapkan mampu

memberikan pencerahan mengenai model analisis wacana pada salah satu bentuk

wacana yang termuat dalam artikel di majalah remaja GoGirl! . Di tingkat praktis,

hasil penelitian ini diharapkan mampu membantu masyarakat dalam memahami

(22)

commit to user

wacana yang dikembangkan oleh majalah remaja GoGirl! terkait dengan

permasalahan lingkungan.

E. Telaah Pustaka

1. Majalah sebagai Saluran Komunikasi

a. Komunikasi massa

Deddy Mulyana mengatakan bahwa yang dipahami sebagai komunikasi

massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat

kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga

atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang

tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen (Mulyana, 2005:75).

Sedangkan Harold Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk

menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan: Who Says

What in Which Channel to Whom with What Effect?. Berdasarkan definisi

Lasswell, terdapat beberapa unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam

komunikasi, yaitu (Mulyana, 2005 : 62) :

(1) Sumber, yang merupakan pihak yang memiliki kebutuhan untuk

melakukan komunikasi, baik individu maupun kelompok (Mulyana,

2005:63).

(2) Pesan, yaitu sesuatu yang hendak dikomunikasikan dari sumber kepada

penerima berupa simbol verbal dan atau nonverbal yang mampu

mewakili pendapat, gagasan, atau keinginan dari sumber (Mulyana,

(23)

commit to user

(3) Saluran atau media, yaitu sarana yang digunakan sumber untuk

menyampaikan pesan kepada penerima. Bentuk pesan berupa verbal

dan nonverbal membedakan saluran yang digunakan, bisa melalui tatap

muka langsung maupun melalui media cetak (surat kabar, majalah)

maupun media elektronik (radio, televisi) (Mulyana, 2005:63).

(4) Penerima, yaitu pihak yang menerima pesan dari sumber. Penerima

pesan memahami atau menafsirkan simbol-simbol yang termuat dalam

pesan baik verbal maupun nonverbal kemudian diterima sebagai

gagasan yang dapat dipahami (Mulyana, 2005:64).

(5) Efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah menerima pesan dari

sumber, seperti perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan

perilaku, dan lainnya (Mulyana, 2005:63).

Secara singkat, dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan sebuah

proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media

sehingga mampu menimbulkan efek tertentu. Komunikasi massa menggunakan

media seperti media cetak, media elektronik, maupun media lainnya untuk

menyampaikan pesan.

Melalui definisi komunikasi massa yang sudah dijelaskan oleh beberapa ahli

di atas, dapat diperoleh karakteristik dari komunikasi massa. Komunikasi massa

berbeda dengan komunikasi lainnya karena komponen-komponen yang terlibat di

dalamnya berbeda satu sama lain. Berikut akan dijelaskan mengenai karakteristik

(24)

commit to user

Karakteristik komunikasi massa yang pertama adalah komunikator

terlembagakan. Wright mengatakan bahwa komunikasi juga melibatkan lembaga,

dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks. Sebagai contoh

dalam proses penyampaian pesan melalui media cetak, dalam hal ini dicontohkan

adalah surat kabar, diawali dari pembuatan pesan dalam bentuk artikel kemudian

diperiksa oleh penanggungjawab rubrik lalu diserahkan kepada redaksi untuk

diperikas layak atau tidaknya pesan tersebut dimuat dengan pertimbangan tidak

menyalahi kebijakan dari lembaga media massa. Selanjutnya ketika pesan

dianggap layak, maka dibuat setting untuk lay-out hingga tahap akhir dicetak

kemudian didistribusikan pesan tersebut kepada pembacanya. Proses ini

merupakan contoh dari betapa komunikator itu merupakan sekumpulan orang

sesuai dengan job desk masing-masing memproses pesan tersebut hingga dapat

sampai kepada komunikan atau penerima pesan (Ardianto, 2005:7-8).

Yang kedua, karakteristik komunikasi massa adalah pesan yang

disampaikan bersifat umum. Pesan yang dibuat bersifat umum karena tidak hanya

ditujukan untuk orang-orang tertentu namun ditujukan kepada semua orang. Pesan

dapat berupa fakta maupun opini. Namun tidak semua fakta atau peristiwa yang

terjadi di sekitar kita dapat dianggkat menjadi pesan (Ardianto, 2005:8).

Berikutnya adalah komunikan anonim dan heterogen. Dalam komunikasi

massa, tidak dikenal komunikan (anonim) karena proses komunikasinya

menggunakan media dan tidak dilakukan tatap muka. Selain itu, komunikannya

(25)

commit to user

berdasar usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama,

dan tingkat ekonomi (Ardianto, 2005:9).

Karakteristik yang keempat adalah media massa mampu menimbulkan

keserempakan. Jumlah komunikan relatif banyak dan tidak terbatas serta secara

serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula, hal ini

yang membedakan komunikasi massa dengan komunikasi lainnya (Ardianto,

2005:10).

Yang kelima adalah komunikasi mengutamakan isi daripada hubungan.

Dalam sebuah proses komunikasi pasti melibatkan unsur isi dan hubungan, namun

dalam komunikasi massa, yang terpenting adalah unsur isi. Pesan disusun

sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dana disesuaikan dengan

karakteristik media massa yang akan digunakan (Ardianto, 2005:10-11).

Selanjutnya, komunikasi massa bersifat satu arah, hal ini dijelaskan bahwa

proses komunikasi dilakukan melalui media massa sehingga komunikator yang

aktif menyampaikan pesan dan komunikan yang juga aktif menerima pesan tidak

bisa bertatap muka langsung (Ardianto, 2005:11).

Karakteristik komunikasi massa yang ketujuh adalah stimulasi alat indra

yang “terbatas”. Karakteristik ini juga menjadi kelemahan bagi komunikasi massa

karena dalam prosesnya, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa

(Ardianto, 2005:12).

Yang terakhir adalah umpan balik yang tertunda. Efektivitas komunikasi

seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan komunikan. Feedback

(26)

commit to user

dan umpan balik yang bersifat sementara (immediate feedback). Namun dalam

komunikasi massa, feedback tertunda karena komunikator dan komunikan tidak

bisa kontak langsung (Ardianto, 2005:12).

Selain itu, diungkapkan fungsi-fungsi dari komunikasi massa, yaitu

(Effendy, 2004:31) :

(1) Menyiarkan informasi (to inform)

Khalayak pembaca membeli maupun berlangganan majalah karena

ingin memenuhi kebutuhannya akan informasi maupun berita.

Informasi yang disiarkan biasanya berbentuk berita maupun gagasan

(Effendy, 2004:31).

(2) Mendidik (to educate)

Selain memberikan informasi, media massa juga memuat tulisan-tulisan

yang mengandung pengetahuan sehingga pembaca saat membaca

majalah tidak hanya memperoleh informasi namun juga pengetahuan

(Effendy, 2004:31).

(3) Menghibur (to entertain)

Tulisan yang bersifat menghibur dimuat untuk mengimbangi

berita-berita berat dan artikel-artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi

yang mengandung hiburan itu semata-mata untuk melemaskan pikiran

setelah pembaca membaca berita maupun artikel yang berat (Effendy,

(27)

commit to user

(4) Mempengaruhi (to influence)

Informasi yang dimuat bukan dibuat tanpa adanya tujuan tertentu.

Sebagai contoh, majalah memuat tulisan-tulisan yang di dalamnya

mengandung pesan-pesan sehingga para pembaca mendapat pengaruh

yang baik, terinspirasi, serta termotivasi (Effendy, 2004:31).

b. Majalah

Merupakan salah satu media cetak yang kini bisa ditemui dengan berbagai

pilihan kategori yang juga memuat berbagai pesan sesuai dengan kategori

masing-masing majalah.

Menurut Slamet Soeseno, yang dimaksud dengan majalah adalah wadah

yang terbit mingguan atau bulanan yang tidak berupa lembaran lebar yang disebut

koran, tetapi lembaran kecil yang dijilid seperti buku (Soeseno, 1993:7).

Sedangkan menurut Kurniawan Junaedhi dalam bukunya Rahasia Dapur Majalah

Indonesia memberikan pengertian bahwa yang disebut dengan majalah adalah

(Junaedhi, 1995:xiii) :

(1) Media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan yang terbit setiap

hari (Junaedhi, 1995 : xiii).

(2) Media cetak itu bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan

dirancang secara khusus (Junaedhi, 1995 : xiii).

(3) Media cetak itu dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki sejumlah

(28)

commit to user

(4) Media cetak itu, harus berformat tabloid, atau saku, atau format

konvensional sebagaimana format majalah yang kita kenal selama ini

(Junaedhi, 1995 : xiii).

Berbeda dengan surat kabar yang selalu menyuguhkan berita aktual dan

informasi yang bersifat menerangkan, majalah cenderung lebih banyak berisi

feature dan biasanya dilengkapi dengan foto maupun gambar ilustrasi serta

halaman yang beberapa atau keseluruhannya dicetak berwarna sehingga lebih

terlihat menarik daripada koran. Majalah selalu memuat tulisan yang tidak lekang

oleh waktu sehingga informasi yang disajikan tidak akan basi jika dibaca suatu

saat nanti. Dalam penulisan majalah yang kebanyakan memuat feature, akan lebih

banyak mengulas unsur “mengapa” dan “bagaimana”. Bahan di dalam majalah

bukanlah tulisan yang ditulis oleh wartawan yang menuruti kesenangannya sendiri

melainkan menomorsatukan apa yang menjadi keinginan pembacanya.

Majalah sebagai media massa muncul setelah surat kabar dan sejarah

kemunculan majalah pun bermula dari Eropa dan Amerika. Berawal pada 1704,

Daniel Depoe menerbitkan majalah Review di London, Inggris yang memuat

berita, artikel, kebijakan nasional, aspek moral, dan lainnya. Kemudian pada

tahun 1820-an sampai 1840-an merupakan zaman keemasan majalah dan majalah

yang paling populer saat itu adalah North American Review dan Saturday Evening

Post yang terbit pada 1821. Selanjutnya pada abad 20, Reader’s Digest yang

diterbitkan Dewitt Wallace dan Lila menjadi majalah dengan pelanggan sebanyak

18 juta untuk pembaca di Amerika saja dan pembaca lainnya di dunia.

(29)

commit to user

Playboy pada 1953 dan di tahun 1970-an sirkulasinya mencapai enam juta

eksemplar (Ardianto, 2005 : 109-110).

Di Indonesia sendiri, majalah muncul menjelang dan awal kemerdekaan

Indonesia pada tahun 1945. Pantja Raja, yang merupakan majalah bulanan terbit

pertama kali pada 1945 di bawah pimpinan Markoem Djojohadikusumo dengan

prakata Ki Hajar Dewantara selaku Menteri Pendidikan pertama RI. Kemudian di

awal kemerdekaan, Soemanang, S.H. menerbitkan Revue Indonesia yang dalam

satu edisinya mengemukakan gagasan perlunya koordinasi penerbitan surat kabar

yang jumlahnya ratusan dengan satu tujuan untuk menghancurkan sisa-sisa

kekuasaan Belanda dan menempa semangat persatuan nasional. Di zaman orde

lama, perkembangan majalah tidak begitu baik karena sedikitnya majalah yang

terbit. Sejarah mencatat Star Weekly dan majalah mingguan Geledek namun

hanya berumur beberapa bulan saja. Pada tahun 1966 yang merupakan awal

zaman orde baru, banyak majalah yang terbit dan cukup beragam jenisnya hal ini

sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yangsemakin baik dan tingkat

pendidikan masyarakat yang semakin maju (Ardianto, 2005:110-111).

Meskipun sama-sama sebagai media cetak, namun majalah tetap memiliki

karakteristik yang berbeda dengan surat kabar, yaitu (Ardianto, 2005 : 113-115) :

(1) Penyajian lebih dalam

Majalah pada umumnya terbit mingguan, dwi mingguan, hingga

bulanan, dalam hal ini memudahkan wartawan maupun reporternya

(30)

commit to user

penyajian berita dan informasinya dapat dibahas secara lebih mendalam

(Ardianto, 2005 : 113).

(2) Nilai aktualitasnya lebih lama

Berbeda dengan nilai aktualitas sebuah berita yang dimuat pada surat

kabar, maka nilai aktualitas pada majalah bisa satu minggu atau bahkan

berita maupun informasi yang disajikan tidak akan pernah basi

walaupun kita membacanya beberapa waku yang akan datang

(Ardianto, 2005 : 113).

(3) Gambar ilustrasi dan foto

Tampilan majalah lebih menarik daripada tampilan surat kabar karena

dalam majalah yang memiliki banyak halaman, di setiap halamannya

mampu disisipi gambar ilustrasi maupun foto terkait berita dan

informasi yang disajikan. Gambar ilustrasi dan foto tersebut dicetak

dengan berbagai ukuran serta warna-warna yang mampu membuat

tampilan majalah lebih menarik (Ardianto, 2005 : 114).

(4) Cover sebagai daya tarik

Selain dimuat foto, pada cover juga biasanya dimuat informasi maupun

berita yang akan dibahas pada edisi tersebut sehingga cover memiliki

daya tarik sendiri. Bahan untuk cover berbeda dengan isi, karena lebih

tebal daripada kertas untuk halaman isi (Ardianto, 2005 : 115-116).

Selain sudah disebutkan tentang karakteristik majalah, tentunya setiap

majalah yang sejak awal dibentuk oleh redaksi telah menentukan siapa segmen

(31)

commit to user

berdasarkan: jenis kelamin (pria, wanita), hobi dan minat (interior, psikologi,

otomotif, arsitektur, dan sebagainya), dan usia (anak-anak, remaja, keluarga)

(Junaedhi, 1995 : xiv).

Majalah remaja termasuk dalam kategori majalah yang terbagi sesuai usia.

Munculnya segmentasi pembaca remaja dikarenakan remaja tidak hanya

mengalami perkembangan secara fisik namun juga perkembangan rekreasi.

Menurut Hurlock, perkembangan minat rekreasi terjadi pada permainan olahraga,

bepergian, hobi, dansa, membaca, menonton, radio dan kaset, televisi, dan

melamun. Khusus pada hal membaca, remaja telah membatasi waktunya untuk

membaca sebagai salah satu bentuk rekreasi, dan yang cenderung mereka baca

adalah majalah daripada membaca buku (Hurlock, 1997:45).

2. Feature

Menurut Mappatoto, feature atau karangan khas yang selalu ada di dalam

media massa memiliki pengertian sebagai karangan ringan yang bersifat umum

dengan melukiskan suatu pernyataan dengan lebih rinci sehingga apa yang

dilaporkan hidup dan tergambar dalam imajinasi pembaca. Feature terkadang

bersifat subyektif dan dirancang untuk menghibur dan memberitahu pembaca

tentang peristiwa, situasi atau aspek kehidupan (Mappatoto, 1994:2-3).

Sedangkan Soeseno menyebutkan struktur penulisan feature berbeda dengan

sturktur news (berita/ press release) yang disusun seperti piramida terbalik terdiri

dari lead, tubuh dan penutup saja. Sedangkan feature disusun seperti kerucut

terbalik yang terdiri atas: (lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan

(32)

commit to user

Gambar 1.1

Struktur penulisan feature

Sumber: (Soeseno, 1997:78)

Pembuka atau lead merupakan bagian penting dalam penulisan feature.

Sebuah lead bisa terdiri dari hanya satu paragraf, bisa pula tersusun atas beberapa

paragraf. Lead dalam struktur feature digunakan sebagai alat pemancing minat

dan atensi pembaca. Selanjutnya terdapat jembatan yang menjadi perantara antara

lead dengan tubuh yang berperan seakan-akan melukiskan identitas dan situasi

dari hal yang akan dituturkan nanti. Selanjutnya tubuh feature yang berisi situasi

dan proses disertai penjelasan mendalam tentang bagaimana dan mengapa.

Sturktur feature diakhiri dengan penutup yang menimbulkan kesan mendalam dan

kuat dibenak pembaca, serta menumbuhkan hasrat pembaca untuk terus memakai

gagasan-gagasan yang diterimanya dari penulis (Soeseno, 1997:78).

Feature yang sering dimuat di media massa dapat dipilah-pilah jenisnya.

Jenis-jenis feature tersebut sangat bermanfaat untuk memberikan wawasan kepada

wartawan, betapa luasnya permasalahan yang bisa dijadikan feature. Jenis-jenis

(33)

commit to user

a. Feature human interest

Feature human interest ialah feature yang menyajikan

permasalahan-permasalahan kehidupan yang memiliki daya tarik manusiawi/ human

interest, permasalahan hidup yang menyentuh rasa/ lubuk hati manusia

(Ermanto, 2005:149).

b. Feature sejarah

Jenis feature ini mengangkat persoalan sejarah yang menarik untuk

dicerna pembaca masa kini. Persoalan-persoalan yang terdapat dalam

peristiwa sejarah pantas disajikan kembali, sepanjang wartawan mampu

menemukan sisi-sisi yang menarik yang disajikan dengan sudut pandang

tertentu (Ermanto, 2005:149).

c. Feature biografi

Feature ini mengangkat sosok yang terkenal. Keberhasilan dan sikap

hidup seseorang yang disegani atau dikagumi amat penting diketahui

oleh masyarakat (Ermanto, 2005:149).

d. Feature perjalanan

Feature perjalanan objeknya hampir sama dengan reportase, sebab

perjalanan wartawan dapat dijadikan reportase. Dalam penulisan

reportase, permasalahan yang ditemui dalam perjalanan dijadikan dalam

pendalaman data dan fakta. Sedang dalam penulisan feature,

permasalahan yang dijadikan feature merupakan permasalahan yang

dianggap penting walaupun sederhana, menarik, dan bermanfaat bagi

(34)

commit to user

e. Feature petunjuk melakukan sesuatu

Feature ini mengajarkan kepada orang lain (pembaca) untuk melakukan

sesuatu. Feature ini biasanya berbentuk tulisan-tulisan yang memberi

petunjuk-petunjuk sederhana (Ermanto, 2005:150).

Selain itu, penulisan feature dalam sebuah media cetak memiliki peran,

antara lain (Kurnia, 2003 : 232-235):

a. Feature sebagai jembatan

Dalam perkembangan jurnalisme, feature merupakan teknik penulisan

yang mengatasi kekakuan straight news dalam meng-cover berita-berita

utama (hard news atau spot news) (Kurnia, 2003 : 232).

b. Feature sebagai news story

Feature disini berperan sebagai alat pemberitaan yang dapat menunjang

kekuatan tulisan. Hal tersebut tercermin ketika penulis menentukan

sasaran dan efek tulisannya, serta menyusun elemen fakta dan elemen

waktu (timelines) menjadi materi tulisan yang erat kaitannya dengan

berita utama (Kurnia, 2003 : 233).

c. Feature sebagai artikel

Feature berperan sebagai penyelamat yang dapat mengatasi kelemahan

penyajian berita majalah yang dianggap sudah basi. Dengan rekayasa

yang kreatif, isu-isu yang telah digarap dalam surat kabar diolah menjadi

sajian yang tetap hangat, aktual, dan memikat. Penulisan artikel feature

yang lengkap bertujuan sebagai hiburan; memberi informasi (to inform);

(35)

commit to user

d. Feature sebagai esai

Proses asimolasi timbul saat feature memasuki struktur penulisan esai.

Proses tersebut berlangsung dalam tataran penentuan tujuan saat menulis

esai (yang kerap kontemplatif) dengan hasil tulisannya (yang menyerap

gaya struktur feature) (Kurnia, 2003 : 235).

3. Mengangkat Masalah Lingkungan ke Media Massa

Banyaknya berita mengenai kerusakan alam mulai dari gunung meletus,

kekeringan, kebakaran hutan, dan lain sebagainya diketahui masyarakat melalui

televisi dan surat kabar. Namun para ahli kurang puas terhadap pemberitaan

tentang kerusakan alam yang telah dilakukan karena dianggap belum sempurna

karena masih sering terjadi kesalahan dalam pemberitaan masalah lingkungan

seperti tidak adanya informasi yang relevan dengan pemberitaan, judul yang

sering menyesatkan, serta kurangnya pemikiran lebih dalam mengenai resiko

pemberitaan (Salomence dalam Abrar, 1993:59-60).

Susanto dalam artikelnya “Media Massa dalam Menyelatkan Lingkungan”

menyatakan bahwa eksistensi media yang dapat menyebarkan pesan kepada

khalayak luas, dimanfaatkan untuk menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya

pelestarian lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia. Melalui pemberitaan,

kampanye publik, iklan layanan masyarakat, dan propaganda, media diharapkan

mampu berperan dalam menjaga keseimbangan alam, lingkungan sosial, ekonomi

dan politik yang berkembang dalam satu kawasan. Pada dasarnya media dengan

kekuatan komunikasinya harus berjalan seiring dengan program pemeliharaan

(36)

commit to user

Menurut Lembaga Pers Dr. Sutomo dalam Atmakusumah menggungkapkan

bahwa terdapat tiga misi utama media massa di bidang lingkungan, yaitu

menumbuhkan kesadaran masyarakat akan masalah-masalah lingkungan;

merupakan wahana pendidikan untuk masyarakat dalam menyadari perannya

dalam mengelola lingkungan; memiliki hak mengoreksi dan mengontrol dalam

masalah pengelolaan lingkungan hidup (Atmakusumah, 1996:58).

Menurut Friedman, untuk membuat tulisan lebih mendalam tentang

lingkungan, penulisan jurnalistik lingkungan perlu menjawab pertanyaan lebih

dari satu, “what”, “who”, “why”, dan “how” (Atmakusumah, 1996:45). Begitu

besar peran media massa dalam menggerakkan kesadaran masyarakat tentang

persoalan lingkungan karena dengan meningkatnya pengetahuan serta kesadaran

masyarakat mampu menjadi kunci sukses untuk memecahkan masalah lingkungan

yang sedang berkembang.

Survei penelitian komunikasi lingkungan dari empat dekade terakhir, artikel

melukiskan beberapa tren kunci dan pendekatan dalam penelitian yang telah

berusaha untuk mengatasi peran yang dimainkan oleh media dan proses

komunikasi dalam elaborasi, definisi publik dan politik dan kontestasi masalah

lingkungan dan masalah. Kebutuhan untuk menyambung kembali tradisional,

tetapi secara tradisional juga relatif berbeda, tiga fokus utama penelitian

komunikasi pada media dan isu-isu lingkungan: produksi/ konstruksi pesan-pesan

media dan komunikasi publik; konten/ pesan media komunikasi, dan dampak dari

media dan komunikasi publik tentang pemahaman publik/ politik dan tindakan

(37)

commit to user

komunikasi pada isu-isu lingkungan/ kontroversi untuk berhubungan kembali

dengan masalah sosiologis tradisional tentang kekuasaan dan ketidaksetaraan di

ruang publik, terutama dalam hal menunjukkan bagaimana ekonomi, kekuasaan

politik dan budaya secara signifikan mempengaruhi kemampuan untuk

berpartisipasi dalam dan mempengaruhi sifat komunikasi “dimediasi” masyarakat

tentang lingkungan (Hansen, 2011:75).

Namun, dalam mengkomunikasikan pesan, perlu diperhatikan siapa sasaran

dari pesan kita, meskipun pesan yang hendak disampaikan sama namun bahasa

yang digunakan berbeda. Dalam hal ini adalah remaja sebagai pembaca sehingga

penulisan pesan lebih baik singkat namun tetap menarik dan menginspirasi.

Dalam hal ini, penyampaian pesan melalui artikel dilakukan terus menerus agar

pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh pembacanya.

Sesuai perannya, majalah yang merupakan salah satu bentuk media cetak

memiliki tugas untuk menyampaikan berbagai informasi, termasuk informasi

tentang lingkungan. Penyebaran informasi mengenai lingkungan sangat

diperlukan mengingat isu lingkungan sangat berkaitan erat dengan kualitas hidup

manusia. Berbagai artikel mengenai lingkungan sudah banyak dimuat di beberapa

surat kabar, namun merupakan hal yang baru jika artikel tentang lingkungan

terkhusus tentang pemanasan global dimuat di majalah remaja yang kebanyakan

membahas tentang fashion. Majalah remaja seakan ingin membangun karakter

pembacanya yang kebanyakan adalah remaja untuk lebih peduli terhadap

lingkungan sehingga lingkungan bisa dikelola dengan baik dan mampu

(38)

commit to user

bukan lagi menjadi tanggung jawab orang yang lebih dewasa, namun semua usia

bertanggungjawab atas kelangsungan lingkungan.

Dalam jurnal “Pemaknaan Isu Pemanasan Global dan Lingkungan di Media

oleh Kaum Perempuan Urban”, Sarwono menyatakan bahwa pemberitaan

mengenai lingkungan hidup akan menarik apabila informannya wanita terlebih

lagi dari kalangan artis. Terlebih artis idola remaja melakukan sesuatu yang

berkaitan dengan peduli lingkungan, maka akan ada pemberitaan mengenai hal

tersebut dan dimaksudkan akan lebih mudah memaknai peduli lingkungan apabila

dilakukan oleh idolanya. Namun, dalam penelitian ini juga, tidak harus dengan

cara memberitakan artis yang terlibat dalam kegiatan peduli lingkungan, namun

juga dapat disosialisasikan melalui pendidikan, hukum, dan adanya roll mode

(Sarwono, 2010:178-190).

Selain itu, Jun Yin dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa ada

pengaruh besar dari sikap lingkungan kaum elit pada sikap lingkungan

masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa sikap pro-lingkungan dapat dipelajari

dari elit dan bahwa upaya untuk mengubah sikap publik pertama harus diarahkan

pada para elit yang nantinya mempengaruhi publik massa. Kaum elit disini

dimaksudkan oleh orang-orang berkuasa yang pendapatnya sangat berpengaruh

terhadap khalayak masyarakat. Jika kaum elit dan pesan media pro-lingkungan,

maka kesadaran lingkungan, kepedulian, dan dukungan untuk perlindungan

lingkungan dapat disosialisasikan walaupun di kalangan publik didominasi oleh

nilai-nilai materialis atau orang kurang pengalaman langsung dengan masalah

(39)

commit to user

4. Analisis Wacana

a. Definisi analisis wacana

Wacana merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris yakni discourse.

Sementara kata discourse berasal dari bahasa Latin discursus yang berarti lari

kian kemari, diturunkan dari dis-dari dalam arah yang berbeda dan currere-lari.

Kemudian menurut Webster dalam Analisis Teks Media, kata tersebut dimaknai

sebagai (Sobur, 2003:57) :

(1) Komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau

gagasan-gagasan; konversasi atau percakapan (Sobur, 2003:57).

(2) Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subyek studi atau

pokok telaah (Sobur, 2003:57).

(3) Risalah tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah (Sobur,

2003:57).

Sementara Sobur menyimpulkan wacana sebagai rangkaian ujar atau

rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan

secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang kohern, dibentuk oleh unsur

segmental maupun non-segmental bahasa (Sobur, 2003 : 23).

Lain halnya dengan Littlejohn yang mengungkapkan bahwa analisis wacana

lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan

terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga

mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana

(40)

commit to user

Sementara itu, padangan Mills dalam buku Analisis Teks Media mengatakan

bahwa analisis wacana merupakan sebuah reaksi terhadap bentuk linguistic

tradisional yang bersifat formal (linguistic structural). Menurut Mills linguistik

tradisional ini memfokuskan kajiannya pada pilihan unit-unit dan struktur-struktur

kalimat tanpa memperhatikan hal-hal analisis bahasa dalam penggunaannya.

Sedangkan analisis wacana justru lebih memperlihatkan hal-hal yang berkaitan

dengan struktur pada level kalimat, misalnya hubungan ketatabahasaan

(gramatikal) seperti subjek-kata kerja-objek, sampai pada level yang lebih luas

daripada teks (Sobur, 2003:13).

b. Karakteristik analisis wacana

Fairclough, van Dijk, dan Wodak menyebutkan karakteristik analisis

wacana kritis sebagai berikut (Eriyanto, 2009:7-14) :

(1) Tindakan

Wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action) yang diasosiakan

sebagai bentuk interaksi. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang

bertujuan, apakah untuk mempengaruhi, mendebat, membujuk,

menyangga, beraksi dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai

sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang

di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran (Eriyanto, 2009:8).

(2) Konteks

Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti

latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana di sini dipandang

(41)

commit to user

Mengikuti Guy Cook, analisis wacana juga memeriksa konteks dari

komunikasi: siapa yang mengkomunkasikan dengan siapa dan

mengapa; dalam jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa;

bagaimana perbedaan tipe dari perkembangan komunikasi; dan

hubungan untuk setiap masing-masing pihak. Guy Cook menyebutkan

ada tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana; teks, konteks, dan

wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang

tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi,

ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya. Konteks

memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks (Eriyanto,

2009:8-10).

(3) Historis

Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita

bisa memberikan konteks historis di mana teks itu diciptakan.

Bagaimana situasi sosial politik, suasana pada saat itu. Oleh karena itu,

pada waktu melakukan analisis perlu tinjauan untuk mengerti mengapa

wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa

bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya (Eriyanto, 2009:10-11).

(4) Kekuasaan

Setiap wacana yang muncul, dalam bentuk teks, percakapan atau apa

pun, tidak dipandang sebagai seusatu yang alamiah, wajar dan netral

tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Analisis wacana kritis

(42)

commit to user

juga menghubungkan dengan kekuatan dan kondisi sosial, politik,

ekonomi dan budaya tertentu. Kekuasaan itu dalam hubungannya

dengan wacana, penting untuk melihat apa yang disebut sebagai

kontrol. Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan

langsung tetapi juga kontrol secara mental atau psikis. Bentuk kontrol

terhadap wacana tersebut dapat berupa kontrol atas konteks, atau dapat

juga diwujudkan dalam bentuk mengontrol struktur wacana (Eriyanto,

2009:11-12).

(5) Ideologi

Wacana dipandang sebagai medium kelompok yang dominan

mempersuasi dan mengkomunikasikan kepada khalayak produksi

kekuasaan dan dominasi yang mereka miliki, sehingga tampak absah

dan benar. Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika

didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunitas termasuk yang

didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran

(Eriyanto, 2009:13-14).

c. Unsur-unsur wacana

Menurut Mulyana, wacana memiliki dua unsur utama, yaitu unsur dalam

(internal) dan unsur luar (eksternal). Unsur internal wacana berkaitan dengan

aspek formal kebahasaan yang terdiri atas satuan kata atau kalimat. Untuk

menjadi susunan wacana yang lebih besar, satuan kata atau kalimat tersebut akan

bertalian dan bergabung. Sedangkan unsur eksternal wacana berkaitan dengan

(43)

commit to user

Kehadirannya berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana. Unsur-unsur

eksternal wacana itu terdiri atas implikatur, preposisi, referensi, inferensi, dan

konteks wacana. Kedua unsur itu membentuk suatu kepaduan dalam satu struktur

yang utuh dan lengkap (Mulyana, 2005: 7-24).

d. Pendekatan – pendekatan analisis wacana

Fairclough dan Wodak menjelaskan mengenai beberapa pendekatan dari

analisis wacana yang diringkas sebagai berikut (Eriyanto, 2009:15-18):

(1) Analisis bahasa kritis (critical linguistics)

Pendekatan ini melihat bagaimana gramatika bahasa mampu membawa

posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi

dapat dialami dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa

yang digunakan (Eriyanto, 2009:15).

(2) Analisis wacana pendekatan Perancis (French discourse analisys)

Pendekatan Pecheux ini banyak dipengaruhi oleh teori ideologi

Althusser dan teori wacana Foucault yang mempertemukan bahasa dan

ideologi pada pemakaian dan materialisasi bahasa pada ideologi

(Eriyanto, 2009:16).

(3) Pendekatan kognisi sosial (socio cognitive approach)

Pendekatan kognisi sosial dikembangkan oleh Teun van Dijk. Disebut

kognisi sosial karena van Dijk melihat faktor kognisi sebagi elemen

penting dalam produksi wacana. Wacana dilihat bukan hanya dari

struktur wacana tetapi juga menyertakan bagaimana wacana itu

(44)

commit to user

(4) Pendekatan perubahan sosial (sosiocultural change approach)

Pendekatan ini memusatkan perhatian pada bagaimana hubungan

wacana dan perubahan sosial. Wacana di sini dipandang sebagai praktik

sosial, ada hubungan dialektis antara praktik diskursif tersebut dengan

identitas dan relasi sosial (Eriyanto, 2009:17).

(5) Pendekatan wacana sejarah (discourse historical approaches).

Dalam pendekatan ini, analisis wacana harus menyertakan konteks

sejarah. Hal ini berkaitan dengan bagaimana wacana tentang suatu

kelompok atau komunitas digambarkan (Eriyanto, 2009:17).

e. Model-model analisis wacana

Menurut Lubis, penggunaan pendekatan analisis wacana dalam ranah

penelitian merupakan sesuatu yang relatif baru. Meski demikian sebenarnya telah

banyak ahli yang mengembangkan model pendekatan analisis wacana. Di antara

para ahli yang mengembangkan model analisis wacana antara lain Roger Fowler

(1979), Theo Van Leeuwen (1986), Sara Mills (1992), Norman Fairclough (1998)

dan Teun Van Dijk (1998) yang akan dijelaskan di bawah ini (Sobur, 2003:73) :

(1) Model analisis wacana Roger Fowler (1979)

Dalam model analisis ini, dibahas mengenai kosakata yang digunakan

di dalam bahasa pemberitaan di media cetak, kemudian mengenai tata

bahasa yakni efek bentuk kalimat pasif dan efek nominalisasi, serta

kerangka analisis yang digunakan dalam menganlisis teks wacana di

media cetak meliputi kata dan susunan kata atau kalimat (Eriyanto,

(45)

commit to user

(2) Model analisis wacana Theo van Leeuwen (1986)

Theo Van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk

mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau seseorang

dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Model analisis ini secara

umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa seseorang

atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan serta dapat digunakan

dalam menganalisis wacana pemberitaan suatu teks berita (Eriyanto,

2009:171-195)

(3) Model analisis wacana Sara Mills (1992)

Pendekatan perspektif feminis Sara Mills lebih menekankan bagaimana

perempuan dicitrakan dalam teks berita. Dengan konsep bagaimana

posisi aktor-aktor dalam teks berita, akan didapatkan siapa yang

dominan menceritakan kejadian (sebagai subjek) serta posisi yang

ditarik ke dalam berita. Pendekatan perspektif feminis memberikan

gambaran pada kita bagaimana citra perempuan dalam berita. Sara

Mills memusatkan perhatiannya pada wacana tentang perempuan

seperti bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks, dalam novel,

gambar, foto ataupun berita. Ada dua konsep inti dalam analisis wacana

Sara Mills, yaitu posisi subjek-objek yang digunakan untuk melihat

posisi subyek yang memberikan penafsiran atas sebuah peristiwa dan

terhadap orang lain yang menjadi objek yang ditafsirkan dan posisi

penulis-pembaca yang tidak hanya meninjau dari sisi penulis saja,

(46)

commit to user

Sebab Mills menilai pembaca memiliki pengaruh ketika tulisan itu

dibuat oleh penulis (Eriyanto, 2009:199-210).

(4) Model analisis wacana Norman Fairclough (1998)

Dalam melakukan penelitian menurut Fairclough, seorang peneliti atau

penulis melihat teks sebagai hal yang memiliki konteks. Dengan

demikian, untuk memahami wacana (naskah/ teks) tidak dapat

melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan “realitas” di balik teks

diperlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan

aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Dikarenakan

dalam sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat

subjektif. Di dalam sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada

makna yaitu ketika sudah mendapat sebuah teks, maka akan juga

didapatkan gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah

masalah, maka langkah selanjutnya adalah menggabungkan kedua hal

tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut dengan

sebuah teori untuk membedahnya (Eriyanto, 2009:285–326).

(5) Model analisis Teun A. Van Dijk (1998) (Eriyanto, 2009:221-274)

Dari beberapa model analisis yang sudah dijelaskan di atas, model van

Dijk merupakan model yang paling banyak digunakan. Model ini

dinamakan kognisi sosial karena dalam penelitian ini juga dilibatkan

proses dari pendekatan dari lapangan psikologi sosial, terutama untuk

menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Van Dijk juga

(47)

commit to user

Kognisi Sosial

pada analisis teks saja, karena teks merupakah sebuah hasil produksi

yang juga harus diamati. Pada level kognisi sosial dipelajari bagaimana

proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari

komunikator. Sedangkan, aspek analisis sosial mempelajari bagunan

wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah.

Gambar 1.2

Model Analisis Van Dijk

Sumber : (Eriyanto, 2009:225)

(a) Teks

Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa bagian struktur

yang masing-masing saling mendukung dan membaginya dalam

tiga tingkat. Pertama, struktur makro merupakan makna global atau

umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau

tema yang dikedepankan dalam suatu teks. Kedua, superstruktural

yaitu merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan

kerangka suatu teks. Ketiga, struktur mikro adalah makna wacana

yang diamati dari bagian terkecil dari suatu teks seperti, kata,

kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar. Berikut

dapat diuraikan satu persatu elemen wacana model van Dijk : Konteks

(48)

commit to user

Tabel 1.1

Elemen Wacana Model Van Dijk

Struktur wacana Hal yang diamati Elemen

(49)

commit to user

(b) Kognisi sosial

Menurut Van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya

didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari

suatu praktik produksi yang harus juga diamati. Di sini harus

dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga diperoleh

suatu pengetahuan mengapa teks bisa semacam itu. Proses produksi

itu melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial.

Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu praktik wacana.

Di sini ada dua bagian: teks yang mikro yang merepresentasikan

suatu topik permasalahan dalam berita, dan elemen besar berupa

struktur sosial. Van Dijk membuat suatu jembatan yang

menghubungkan elemen besar berupa struktur sosial tersebut

dengan elemen wacana yang mikro dengan sebuah dimensi yang

dinamakan kognisi sosial. Kognisi sosial menunjukkan bagaimana

proses teks tersebut diproduksi oleh wartawan/ media dan

menggambarkan nilai-nilai masyarakat itu menyebar dan diserap

oleh kognisi wartawan dan akhirnya digunakan untuk membuat

teks berita.

(c) Analisis sosial

Wacana adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam

masyarakat. Sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan analisis

(50)

commit to user

tentang suatu hal diproduksi dan direkontruksi dalam masyarakat.

Menurut van Dijk dalam analisis sosial ada dua poin, yaitu:

(i) Kekuasaan (power)

Kekuasaan untuk mengontrol kelompok lain, didasarkan pada

kepemilikan atas sumber yang bernilai, seperti uang, status,

dan pengetahuan. Selain berupa kontrol yang bersifat

langsung dan fisik kekuasaan itu juga berbentuk persuasif:

tindakan seseorang secara tidak langsung mengontrol dengan

jalan mempengaruhi kondisi mental, seperti kepercayaan,

sikap, dan pengetahuan. Yang nantinya dapat berpengaruh

pada pemahaman pada sebuah wacana tertentu.

(ii) Akses

Selanjutnya, analisis wacana model van Dijk memberi

perhatian besar pada akses. Bagaimana akses diantara

kelompok masyarakat elit mempunyai akses lebih besar

dibandingkan kelompok masyarakat yang tidak berkuasa.

Akses yang lebih besar bukan hanya memberi kesempatan

untuk mengkontrol kesadaran khalayak lebih besar. Tapi juga

membentuk topik dan isi wacana apa yang dapat disebarkan

dan didiskusikan pada khalayak. Namun khalayak yang tidak

memiliki akses tidak hanya menjadi konsumen dari dikursus

yang telah ditentukan. Tapi juga berperan besar lewat

(51)

commit to user

yang lebih tinggi disebarkan lewat pembicaraan dengan

keluarnga, teman sebaya, dan sebagainya. Dan akhirnya

merujuk pada sebuah manipulasi bahasa untuk mendapat

massa dan dukungan.

Penelitian ini menggunakan analisis wacana Teun A. Van Dijk. Model ini

mempunyai pendangan bahwa bagaian yang terpenting adalah analisis terhadap

struktur wacana. Struktur wacana terdiri dari tematik, skematik, semantik,

sintaksik, dan retoris.

F. Kerangka Pemikiran

Artikel merupakan wahana diskusi dan sosialisasi gagasan serta kontribusi

pemikiran dalam rangka mencari solusi. Permasalahan lingkungan yang

berdampak pada pemanasan global terkait dengan keberlangsungan kehidupan di

bumi mendatangkan ketertarikan dan tanggapan cukup serius dari sejumlah pihak.

Salah satu wujud ketertarikan diwujudkan oleh majalah remaja untuk membuat

sebuah rubrik yang muncul di setiap edisinya, dan di setiap edisinya dimuat

artikel dengan tema yang berbeda-beda namun tetap membahas tentang

permasalahan lingkungan.

Melalui artikel, penulis bermaksud menyampaikan gagasan terkait

permasalahan lingkungan. Hal ini dalam komunitas khalayak pembaca, mampu

membangun wacana tertentu terkait permasalahan tersebut. Atau secara ringkas

(52)

commit to user

pembacanya mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan

lingkungan serta memotivasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

G. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif kualitatif yang tidak

mencari hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat,

1985:49).

Sedangkan yang dimaksud dengan metode penelitian kualitatif adalah

penelitian yang tidak mengadakan perhitungan atau juga dengan

penemuan-penemuan yang tidak dicapai/ diperoleh dengan menggunakan prosedur-prosedur

statistik atau dengan cara-cara lain dari kuantifikasi (Moleong, 2004:35).

2. Metode Penelitian

Penelitian ini akan menggunakan metode analisis wacana kritis (Critical

Discourse Analysis) sebagai pendekatan analisis. Analisis wacana kritis memang

menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, namun bahasa dianalisis bukan

dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga

menghubungkannya dengan konteks tertentu, seperti latar, situasi, pristiwa, dan

kondisi. Teun A. van Dijk membagi analisis wacana ke dalam tiga dimensi, yaitu

dimensi teks, kognisi sosial dan yang terakhir adalah dimensi konteks sosial.

Menurut van Dijk, analisis teks wacana tertulis tidak terbatas pada

Gambar

Tabel 1.1 Elemen Wacana Teun van Dijk ---------------------------------------  34
Gambar 1.1 Struktur Penulisan Feature -----------------------------------------   17
  Gambar 1.1
Gambar 1.2 Model Analisis Van Dijk
+7

Referensi

Dokumen terkait