commit to user
i
WACANA PEDULI LINGKUNGAN dan MAJALAH REMAJA
(Analisis Wacana Peduli Lingkungan dalam Artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 Menggunakan Model
Analisis Wacana Teun A. van Dijk)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi
Oleh :
RAHAJENG KARTIKARANI
D0207130
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
commit to user
commit to user
iv
MOTTO
“Ora et Labora”
“Semua akan indah pada waktu-NYA”
commit to user
v
PERSEMBAHAN
Karya sederhana ini kupersembahkan untuk:
Papa, Mama, serta Adikku tercinta atas dukungan, semangat, dan doa yang begitu
luar biasa bagi penulis.
Cerry Mandala Paradipta atas semangat, dukungan, dan doa bagi penulis.
(Almh.) Eyang Putri atas harapan yang besar dan doa yang tulus agar penulis
segera menyelesaikan studi.
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur tak henti-hentinya penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus
Kristus atas berkat dan kasih anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi berjudul Wacana Peduli Lingkungan dan Majalah Remaja (Analisis
Wacana Peduli Lingkungan dalam Artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 Menggunakan Model Analisis Wacana Teun
van Dijk) dengan segala kurang dan lebihnya.
Skripsi ini merupakan sebuah analisis wacana kirits untuk mengetahui
bagaimana peduli lingkungan diwacanakan dalam artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011. Pemilihan tema penelitian berangkat
dari minat peneliti terhadap peduli lingkungan yang belum banyak ditulis di
media. Permasalahan tentang pemanasan global yang tiap hari semakin
memberikan dampak bagi lingkungan, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Manusia
juga bertanggungjawab atas kelangsungan hidup bumi. Berbagai bencana alam
yang terjadi di berbagai belahan bumi seperti banjir, badai, gempa bumi, tsunami,
dan lainnya juga sebagai akibat kurang pedulinya manusia terhadap alam. Dalam
hal ini, media memiliki peran untuk menyampaikan informasi dan mempengaruhi
masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Berangkat dari pandangan
tersebut, peneliti melakukan peneilitian ini yang kemudian hasil laporannya
disusun dalam bentuk skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
commit to user
vii
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan pertolongan dari
berbagai pihak. Dengan segenap keikhlasan dan kerendahan hati, penulis
memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan
kasih karunia-Nya, sehingga berbagai kemudahan ditemui penulis dalam
pengerjaan skripsi ini. Terima kasih juga penulis haturkan kepada:
1. Prof. Drs. H. Pawito, Ph. D selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Dra. Prahastiwi Utari, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
3. Sri Hastjarjo, S. Sos, Ph. D selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah
memberikan bimbingan kepada penulis dengan sangat baik, senantiasa
memberi masukan, semangat serta motivasi bagi penulis.
4. Redaksi Majalah GoGirl! yang telah memberikan kemudahan akses data,
kritik, dan saran serta motivasi kepada penulis.
5. Keluarga “Keylight”: Maulana, Syamrotun, Leila, Amal, Maya, Dini, Hafi, Ratna, Herka, Aji, Sigit, Pusa yang selalu memberikan semangat dan
dukungan kepada penulis.
6. KOMPI, suka duka kita bagi bersama selama 5 tahun. Tetap kompak ya
sampai tua nanti!
7. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
commit to user
viii
Tiada gading yang tak retak, mungkin itulah cerminan dari skripsi ini.
Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan karya sederhana ini.
Terima kasih dan semoga bermanfaat. Amin.
Surakarta, April 2012
commit to user
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL --- i
HALAMAN PERSETUJUAN --- ii
HALAMAN PENGESAHAN --- iii
HALAMAN MOTTO --- iv
HALAMAN PERSEMBAHAN --- v
KATA PENGANTAR --- vi
DAFTAR ISI --- ix
DAFTAR TABEL --- xiii
DAFTAR GAMBAR --- xiv
ABSTRAK --- xv
ABSTRACT --- xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah --- 1
B. Rumusan Masalah --- 5
C. Tujuan Penelitian --- 5
D. Manfaat Penelitian --- 5
E. Telaah Pustaka 1. Majalah Sebagai Saluran Komunikasi --- 6
2. Feature --- 15
3. Mengangkat Masalah Lingkungan ke Media--- 19
commit to user
x
F. Kerangka Pemikiran --- 35
G.Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian --- 36
2. Metode Penelitian --- 36
3. Objek Penelitian --- 37
4. Teknik Pengumpulan Data --- 38
5. Teknik Analisis Data --- 38
6. Sistematika Pembahasan --- 39
BAB II GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A.Sejarah Majalah GoGirl! --- 41
B. Visi dan Misi 1. Visi --- 42
2. Misi --- 42
C. Profil Media GoGirl! 1. Data Teknis --- 43
2. Target Pembaca --- 44
3. Sirkulasi dan Distribusi --- 44
4. Promosi --- 45
D. Newsroom Majalah GoGirl! 1. Monthly Routine --- 46
2. Feature --- 46
3. Fashion --- 47
commit to user
xi
5. Health and Beauty --- 49
6. Lifestyle --- 49
E. Struktur Kepemimpinan dan Redaksi Majalah GoGirl! --- 50
BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
A. Analisis Artikel “Go Gas!”
1. Analisis Teks --- 55
2. Analisis Kognisi Sosial --- 71
3. Analisis Konteks Sosial --- 72
B. Analisis Artikel “Green School: SDNP 12 Bendungan Hilir5
1. Analisis Teks --- 74
2. Analisis Kognisi Sosial --- 92
3. Analisis Konteks Sosial --- 93
C. Analisis Artikel “Asia’s Most Polluted Cities”
1. Analisis Teks --- 95
2. Analisis Kognisi Sosial --- 115
3. Analisis Konteks Sosial --- 115
D. Analisis Artikel “Green Eating; Simple Planting”
1. Analisis Teks --- 117
2. Analisis Kognisi Sosial --- 142
3. Analisis Konteks Sosial --- 143
E. Analisis Artikel “Let’s Go Zero-Waste!”
1. Analisis Teks --- 144
commit to user
xii
3. Analisis Konteks Sosial --- 162
F. Analisis Artikel “Drug Management”
1. Analisis Teks --- 163
2. Analisis Kognisi Sosial --- 184
3. Analisis Konteks Sosial --- 186
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan --- 194
B. Saran --- 196
DAFTAR PUSTAKA
commit to user
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Elemen Wacana Teun van Dijk --- 34
Tabel 3.1 Analisis Teks Majalah GoGirl! --- 78
commit to user
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Struktur Penulisan Feature --- 17
Gambar 1.2 Model Analisis Teun van Dijk --- 33
Gambar 3.1 Layout Artikel “Go Gas!” --- 70
Gambar 3.2 Layout Artikel “Green School: SDNP 12 Bendungan Hilir” -- 86
Gambar 3.3 Layout Artikel “Asia’s Most Polluted Cities” --- 107
Gambar 3.4 Layout Artikel “Green Eating; Simple Planting” --- 133
Gambar 3.5 Layout Artikel “Let’s Go Zero-Waste!” --- 148
commit to user
xv
ABSTRAK
RAHAJENG KARTIKARANI, D0207130, WACANA PEDULI LINGKUNGAN DAN MAJALAH REMAJA (Analisis Wacana Peduli Lingkungan dalam Artikel di Rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 Menggunakan Analisis Wacana Teun A. van Dijk), Skripsi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2012.
Pemanasan global yang ditandai dengan perubahan cuaca ekstrim, berbagai bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lainnya semakin sering terjadi di berbagai belahan bumi. Bencana alam yang silih berganti juga menjadi tanggung jawab manuisa sebagai salah satu penghuni di dalamnya. Kurangnya atau rendahnya kepedulian manusia terhadap lingkungan, membuat alam seakan dibiarkan begitu saja. Kebanyakan media hanya mengekspos kejadian alam yang terjadi akibat pemanasan global. Belum banyak media yang memberitakan berbagai cara yang bisa dilakukan sebagai bentuk peduli lingkungan. Padahal, melalui tulisan yang dimuat dalam media, turut mempengaruhi cara pandang serta memotivasi masyarakat untuk lebih peduli lingkungan. Untuk peduli terhadap lingkungan pun tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa, ilmuwan, maupun pemerintah saja. Generasi muda sebagai generasi penerus juga bertanggungjawab terhadap kelangsungan lingkungan. Dengan memotivasi generasi muda, diharapkan mampu mengubah pola pikir dan semakin banyak yang peduli terhadap lingkungan tanpa ada batasan usia, status, maupun gender.
Penelitian yang dilakukan akan menganalisis artikel dan serta menjelaskan bagaimana peduli lingkungan diwacanakan dalam rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011. Rubrik “Green Page” merupakan rubrik yang dikhususkan untuk memuat artikel-artikel yang berhubungan dengan go green. Berbeda dengan majalah remaja lainnya yang hanya menuliskan sesuatu tentang go green sebagai artikel lepas dan tidak dimuat secara rutin.
Penelitian ini dilakukan melalui tiga dimensi analisis wacana Teun A. van Dijk yaitu teks, konteks sosial, dan kognisi sosial. Dalam analisis teks, artikel diteliti sesuai dengan struktur teks seperti tematik, skematik, semantik, stilistik, dan retoris. Pada dimensi kognisi sosial, diteliti tentang bagaimana wartawan memproduksi berita. Selanjutnya pada dimensi konteks sosial dianalisis mengenai apa yang terjadi pada masyarakat yang berkaitan dengan artikel yang dianalisis. Dari hasil analisis tersebut, wacana yang muncul adalah mengenai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya mengganti BBM dengan gas, mejaga kebersihan lingkungan, menanam, mengolah limbah obat-obatan dengan cara yang benar, mengaplikasikan pola jahitan yang sedikit atau bahkan tidak menghasilkan limbah sama sekali dan yang paling penting, semua yang dilakukan berawal dari diri kita sendiri.
Setelah melakukan analisis dari ketiga dimensi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan. Bahwa ketiga dimensi tersebut saling mempengaruhi satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk sebuah wacana.
commit to user
xvi ABSTRACT
RAHAJENG KARTIKARANI, D0207130, THE DISCOURSE OF ENVIRONMENTAL CARE AND YOUTH MAGAZINE (Critical Discourse Analysis of Environmental Concern in the Articles in the rubric “Green Page” GoGirl Magazine! July-December 2011 Edition Using Discourse Analysis of Teun A. van Dijk), Thesis, Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University, 2012.
Global warming is marked by extreme weather changes, natural disasters such as floods, earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions, and other, increasingly common in many parts of the earth. Successive natural disasters is also the responsibility of human as one of the occupants in it. Lack of or low awareness of human impacts on the environment, nature seemed to go unpunished. Most media just expose the natural events that occur due to global warming. Only few medias reported the various ways to do as a form of care for the environment. In fact, their writings published in the media, also influence the outlook and motivate people to pay more attention for the environment. Environment was not only the responsibility of adults, scientists, and government. Youth as the next generation is also responsible for environmental sustainability. By motivating the youth, it is expected to change the mindset and more people care about the environment without any restriction of age, status, or gender.
Research conducted to analyze article and explain how to care for the environment is discoursed within the rubric of “Green Page” GoGirl Magazine! Edition of July-December 2011. Rubric of “Green Page” is a section devoted to load the articles associated with the go green. In contrast to other teen magazines, which only issue something about go green as a freelance article and not loaded on a regular basis.
The research was conducted through a three-dimensional analysis of the discourse of Teun A. van Dijk including the text, social context, and social cognition. In text analysis, the article examined in accordance with the structure of the text as thematic, schematic, semantic, stylistic, and rhetorical. The dimensions of social cognition, analyzed about how journalists produce news. Then, the dimensions of the social context is analyzed as to what happens to people related to the article being analyzed. From the analysis, the discourse that emerges is of a form of environmental stewardship that can be done in various ways such as replacing fuel oil with gas, protecting the purity of environment, planting, processing medicine waste in the right way, applying the pattern stitches that have little or no waste at all and most important, is all of performances started from ourselves.
After analyzing the three dimensions, it will be found a conclussion in it. That the three dimensions influence each other and can’t be separated in the form of a discourse.
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sama seperti makhluk hidup lainnya, manusia berinteraksi dengan
lingkungan hidupnya, mampu mempengaruhi satu sama lain dan tidak dapat
dipisahkan karena manusia dan lingkungan hidup saling bergantung. Namun,
akhir-akhir ini begitu banyak bencana alam yang terjadi di berbagai belahan bumi
membuat permasalahan lingkungan hidup kini menjadi sebuah topik hangat yang
diperbincangkan.
Beberapa puluh tahun yang lalu, masalah mengenai lingkungan hidup
seringkali dianggap sebagai masalah bagi para pecinta lingkungan, ahli biologi,
maupun ahli geologi saja. Permasalahan mengenai lingkungan hidup kini menjadi
permasalahan bagi semua orang, karena semua orang bertanggungjawab terhadap
kelangsungan lingkungan hidup manusia itu sendiri maupun makhluk hidup
lainnya. Berbagai peristiwa alam yang terjadi akhir-akhir ini tentu saja bukan
disebabkan oleh faktor alam saja, namun juga campur tangan manusia yang
kurang bertanggungjawab terhadap kelangsungan lingkungan hidup.
Segala permasalahan lingkungan yang terjadi timbul akibat ulah manusia itu
sendiri sehingga membuat lingkungan tidak lagi sesuai untuk mendukung
kehidupan manusia. Kepedulian manusia akan kerusakan lingkungan yang
commit to user
berdampak menjadi bencana dirasa masih kurang. Hal ini terlihat dari kesadaran
manusia modern yang ketika melihat tanda kerusakan lingkungan menjadi
terbiasa dan menyesuaikan diri dengan penurunan kualitas lingkungan yang
terjadi secara bertahap dalam jangka waktu panjang. Kerusakan tersebut baru
disadari setelah terlambat dan tidak lagi bisa diperbaiki kembali (Soemarwoto,
1992:18).
Lembaga-lembaga pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat
(LSM) berlomba-lomba menggugah kesadaran masyarakat terhadap upaya
memelihara lingkungan yang nyaman bagi kehidupan. Namun selain
lembaga-lembaga tersebut, media massa juga turut menyumbangkan berbagai pengetahuan
yang berkaitan dengan masalah lingkungan hidup guna membangun kesadaran
masyarakat. Sebab, jika tidak ada pengetahuan mengenai masalah lingkungan
hidup, maka akan sulit terwujud penanggulangan masalah lingkungan hidup itu
sendiri serta pemahaman yang keliru sehingga timbullah bencana maupun hal-hal
yang tidak diinginkan.
Media massa diakui oleh LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(Walhi) sebagai alat yang efektif untuk melibatkan publik dalam perdebatan
mengenai pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi, Walhi juga mengingatkan
bahwa untuk merangsang sebuah perdebatan, media massa tidak cukup dengan
berita namun juga dalam bentuk kisah maupun feature berkedalaman
(Atmakusumah, 1996:x).
Media massa dianggap efektif untuk mampu menyampaikan pesan kepada
commit to user
media massa mulai dari surat kabar, majalah, hingga internet berlomba-lomba
memuat berita maupun feature mengenai lingkungan hidup. Hal ini mampu
memberikan dampak positif bagi peningkatan kesadaran masyarakat terhadap
lingkungan hidup yang semakin hari keadaannya semakin mengkhawatirkan.
Pengemasan pesan sadar lingkungan hidup kedalam bentuk berita maupun feature
pun bervariasi disesuaikan dengan target pembacanya agar pesan tersebut lebih
mudah dipahami dan diharapkan mampu memotivasi berbuat sesuatu yang
bermanfaat bagi kelangsungan lingkungan hidup.
Jika biasanya sering dijumpai berita maupun feature tentang lingkungan
hidup di media cetak surat kabar, kali ini penelitian ini akan meneliti artikel
tentang lingkungan hidup di majalah remaja. Mengapa majalah remaja? Karena
biasanya majalah dengan segmentasi pembacanya mayoritas remaja memuat
informasi mengenai fashion, trend, hingga gosip mengenai artis idola mereka.
Sekarang, majalah remaja pun berlomba-lomba ingin menyampaikan pesan untuk
peduli terhadap lingkungan melalui berbagai kegiatan yang diadakan hingga
penulisan artikel maupun membuat rubrik khusus tentang lingkungan hidup.
Dalam penelitian ini, diteliti artikel-artikel mengenai lingkungan hidup di
majalah remaja GoGirl!. Artikel-artikel yang diteliti ini dimuat dalam rubrik
khusus “Green Page” yang selalu ada di setiap edisi majalah remaja GoGirl!.
Topik yang diangkat di setiap edisi pada rubrik “Green Page” selalu berbeda
namun tetap membawa pesan tentang go green.
Lalu mengapa majalah GoGirl! yang diteliti? Majalah ini merupakan salah
commit to user
terhadap permasalahan lingkungan hidup. Majalah ini juga yang mempelopori
kepedulian terhadap lingkungan, hal ini terlihat dari ukuran majalah yang
diperkecil dan dicetak menggunakan kertas bekas, memuat artikel dan membuat
rubrik khusus tentang peduli lingkungan secara tematik hingga acara off-air
dengan tema peduli lingkungan.
Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis Teun A. van Dijk
yaitu dengan menganalisis setiap artikel lingkungan hidup di rubrik “Green
Page”. Penelitian ini melihat bagaimana majalah remaja sebagai salah satu media
massa mampu menyampaikan pesan untuk sadar lingkungan hidup kepada
pembacanya yang mayoritas berusia remaja melalui artikel-artikel yang dimuat
dalam rubrik khusus “Green Page”. Sebab, untuk peduli terhadap lingkungan,
bukan saja menjadi tanggung jawab orang dewasa, namun usia remaja bahkan
anak kecilpun juga bertanggungjawab terhadap kelangsungan lingkungan hidup.
Remaja khususnya yang masih duduk dalam jenjang pendidikan adalah
modal dasar pembangunan di masa mendatang. Melalui pembekalan awal, akan
memacu kepedulian terhadap hal-hal yang positif, khususnya terhadap
lingkungan. Selain memperoleh pembekalan, peranan masyarakat (remaja) juga
memiliki pengetahuan yang ada di lingkungannya (kearifan lokal), sehingga bisa
saling membagikan pengetahuannya. Kelak akan memacu terhadap penelitian
yang bersifat perorangan, serta mengetahui persis kondisi alam lingkungan di
sekitarnya (Waryono, 2009:4-5).
Penelitian ini meneliti bagaimana sebuah media massa khususnya majalah
commit to user
rubrik khusus “Green Page” majalah GoGirl! kepada pembacanya. Dalam
menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepada remaja bukanlah hal yang
mudah, terlebih lagi adalah menyampaikan pesan untuk peduli lingkungan yang
mungkin dianggap oleh beberapa remaja adalah hal yang sulit ataupun malah
dianggap bukan seharusnya mereka yang melakukan hal tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut: Bagaimana wacana yang terdapat pada artikel-artikel di rubrik “Green
Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember 2011 dibangun?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana wacana yang terdapat
pada artikel-artikel di rubrik “Green Page” Majalah GoGirl! Edisi Juli-Desember
2011 dibangun.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis
maupun praktis. Pada tataran teoritis, hasil penelitian ini diharapkan mampu
memberikan pencerahan mengenai model analisis wacana pada salah satu bentuk
wacana yang termuat dalam artikel di majalah remaja GoGirl! . Di tingkat praktis,
hasil penelitian ini diharapkan mampu membantu masyarakat dalam memahami
commit to user
wacana yang dikembangkan oleh majalah remaja GoGirl! terkait dengan
permasalahan lingkungan.
E. Telaah Pustaka
1. Majalah sebagai Saluran Komunikasi
a. Komunikasi massa
Deddy Mulyana mengatakan bahwa yang dipahami sebagai komunikasi
massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat
kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga
atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang
tersebar di banyak tempat, anonim, dan heterogen (Mulyana, 2005:75).
Sedangkan Harold Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk
menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan: Who Says
What in Which Channel to Whom with What Effect?. Berdasarkan definisi
Lasswell, terdapat beberapa unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam
komunikasi, yaitu (Mulyana, 2005 : 62) :
(1) Sumber, yang merupakan pihak yang memiliki kebutuhan untuk
melakukan komunikasi, baik individu maupun kelompok (Mulyana,
2005:63).
(2) Pesan, yaitu sesuatu yang hendak dikomunikasikan dari sumber kepada
penerima berupa simbol verbal dan atau nonverbal yang mampu
mewakili pendapat, gagasan, atau keinginan dari sumber (Mulyana,
commit to user
(3) Saluran atau media, yaitu sarana yang digunakan sumber untuk
menyampaikan pesan kepada penerima. Bentuk pesan berupa verbal
dan nonverbal membedakan saluran yang digunakan, bisa melalui tatap
muka langsung maupun melalui media cetak (surat kabar, majalah)
maupun media elektronik (radio, televisi) (Mulyana, 2005:63).
(4) Penerima, yaitu pihak yang menerima pesan dari sumber. Penerima
pesan memahami atau menafsirkan simbol-simbol yang termuat dalam
pesan baik verbal maupun nonverbal kemudian diterima sebagai
gagasan yang dapat dipahami (Mulyana, 2005:64).
(5) Efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah menerima pesan dari
sumber, seperti perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan
perilaku, dan lainnya (Mulyana, 2005:63).
Secara singkat, dapat dipahami bahwa komunikasi merupakan sebuah
proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media
sehingga mampu menimbulkan efek tertentu. Komunikasi massa menggunakan
media seperti media cetak, media elektronik, maupun media lainnya untuk
menyampaikan pesan.
Melalui definisi komunikasi massa yang sudah dijelaskan oleh beberapa ahli
di atas, dapat diperoleh karakteristik dari komunikasi massa. Komunikasi massa
berbeda dengan komunikasi lainnya karena komponen-komponen yang terlibat di
dalamnya berbeda satu sama lain. Berikut akan dijelaskan mengenai karakteristik
commit to user
Karakteristik komunikasi massa yang pertama adalah komunikator
terlembagakan. Wright mengatakan bahwa komunikasi juga melibatkan lembaga,
dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks. Sebagai contoh
dalam proses penyampaian pesan melalui media cetak, dalam hal ini dicontohkan
adalah surat kabar, diawali dari pembuatan pesan dalam bentuk artikel kemudian
diperiksa oleh penanggungjawab rubrik lalu diserahkan kepada redaksi untuk
diperikas layak atau tidaknya pesan tersebut dimuat dengan pertimbangan tidak
menyalahi kebijakan dari lembaga media massa. Selanjutnya ketika pesan
dianggap layak, maka dibuat setting untuk lay-out hingga tahap akhir dicetak
kemudian didistribusikan pesan tersebut kepada pembacanya. Proses ini
merupakan contoh dari betapa komunikator itu merupakan sekumpulan orang
sesuai dengan job desk masing-masing memproses pesan tersebut hingga dapat
sampai kepada komunikan atau penerima pesan (Ardianto, 2005:7-8).
Yang kedua, karakteristik komunikasi massa adalah pesan yang
disampaikan bersifat umum. Pesan yang dibuat bersifat umum karena tidak hanya
ditujukan untuk orang-orang tertentu namun ditujukan kepada semua orang. Pesan
dapat berupa fakta maupun opini. Namun tidak semua fakta atau peristiwa yang
terjadi di sekitar kita dapat dianggkat menjadi pesan (Ardianto, 2005:8).
Berikutnya adalah komunikan anonim dan heterogen. Dalam komunikasi
massa, tidak dikenal komunikan (anonim) karena proses komunikasinya
menggunakan media dan tidak dilakukan tatap muka. Selain itu, komunikannya
commit to user
berdasar usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama,
dan tingkat ekonomi (Ardianto, 2005:9).
Karakteristik yang keempat adalah media massa mampu menimbulkan
keserempakan. Jumlah komunikan relatif banyak dan tidak terbatas serta secara
serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula, hal ini
yang membedakan komunikasi massa dengan komunikasi lainnya (Ardianto,
2005:10).
Yang kelima adalah komunikasi mengutamakan isi daripada hubungan.
Dalam sebuah proses komunikasi pasti melibatkan unsur isi dan hubungan, namun
dalam komunikasi massa, yang terpenting adalah unsur isi. Pesan disusun
sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dana disesuaikan dengan
karakteristik media massa yang akan digunakan (Ardianto, 2005:10-11).
Selanjutnya, komunikasi massa bersifat satu arah, hal ini dijelaskan bahwa
proses komunikasi dilakukan melalui media massa sehingga komunikator yang
aktif menyampaikan pesan dan komunikan yang juga aktif menerima pesan tidak
bisa bertatap muka langsung (Ardianto, 2005:11).
Karakteristik komunikasi massa yang ketujuh adalah stimulasi alat indra
yang “terbatas”. Karakteristik ini juga menjadi kelemahan bagi komunikasi massa
karena dalam prosesnya, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa
(Ardianto, 2005:12).
Yang terakhir adalah umpan balik yang tertunda. Efektivitas komunikasi
seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan komunikan. Feedback
commit to user
dan umpan balik yang bersifat sementara (immediate feedback). Namun dalam
komunikasi massa, feedback tertunda karena komunikator dan komunikan tidak
bisa kontak langsung (Ardianto, 2005:12).
Selain itu, diungkapkan fungsi-fungsi dari komunikasi massa, yaitu
(Effendy, 2004:31) :
(1) Menyiarkan informasi (to inform)
Khalayak pembaca membeli maupun berlangganan majalah karena
ingin memenuhi kebutuhannya akan informasi maupun berita.
Informasi yang disiarkan biasanya berbentuk berita maupun gagasan
(Effendy, 2004:31).
(2) Mendidik (to educate)
Selain memberikan informasi, media massa juga memuat tulisan-tulisan
yang mengandung pengetahuan sehingga pembaca saat membaca
majalah tidak hanya memperoleh informasi namun juga pengetahuan
(Effendy, 2004:31).
(3) Menghibur (to entertain)
Tulisan yang bersifat menghibur dimuat untuk mengimbangi
berita-berita berat dan artikel-artikel yang berbobot. Maksud pemuatan isi
yang mengandung hiburan itu semata-mata untuk melemaskan pikiran
setelah pembaca membaca berita maupun artikel yang berat (Effendy,
commit to user
(4) Mempengaruhi (to influence)
Informasi yang dimuat bukan dibuat tanpa adanya tujuan tertentu.
Sebagai contoh, majalah memuat tulisan-tulisan yang di dalamnya
mengandung pesan-pesan sehingga para pembaca mendapat pengaruh
yang baik, terinspirasi, serta termotivasi (Effendy, 2004:31).
b. Majalah
Merupakan salah satu media cetak yang kini bisa ditemui dengan berbagai
pilihan kategori yang juga memuat berbagai pesan sesuai dengan kategori
masing-masing majalah.
Menurut Slamet Soeseno, yang dimaksud dengan majalah adalah wadah
yang terbit mingguan atau bulanan yang tidak berupa lembaran lebar yang disebut
koran, tetapi lembaran kecil yang dijilid seperti buku (Soeseno, 1993:7).
Sedangkan menurut Kurniawan Junaedhi dalam bukunya Rahasia Dapur Majalah
Indonesia memberikan pengertian bahwa yang disebut dengan majalah adalah
(Junaedhi, 1995:xiii) :
(1) Media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan yang terbit setiap
hari (Junaedhi, 1995 : xiii).
(2) Media cetak itu bersampul, setidak-tidaknya punya wajah, dan
dirancang secara khusus (Junaedhi, 1995 : xiii).
(3) Media cetak itu dijilid atau sekurang-kurangnya memiliki sejumlah
commit to user
(4) Media cetak itu, harus berformat tabloid, atau saku, atau format
konvensional sebagaimana format majalah yang kita kenal selama ini
(Junaedhi, 1995 : xiii).
Berbeda dengan surat kabar yang selalu menyuguhkan berita aktual dan
informasi yang bersifat menerangkan, majalah cenderung lebih banyak berisi
feature dan biasanya dilengkapi dengan foto maupun gambar ilustrasi serta
halaman yang beberapa atau keseluruhannya dicetak berwarna sehingga lebih
terlihat menarik daripada koran. Majalah selalu memuat tulisan yang tidak lekang
oleh waktu sehingga informasi yang disajikan tidak akan basi jika dibaca suatu
saat nanti. Dalam penulisan majalah yang kebanyakan memuat feature, akan lebih
banyak mengulas unsur “mengapa” dan “bagaimana”. Bahan di dalam majalah
bukanlah tulisan yang ditulis oleh wartawan yang menuruti kesenangannya sendiri
melainkan menomorsatukan apa yang menjadi keinginan pembacanya.
Majalah sebagai media massa muncul setelah surat kabar dan sejarah
kemunculan majalah pun bermula dari Eropa dan Amerika. Berawal pada 1704,
Daniel Depoe menerbitkan majalah Review di London, Inggris yang memuat
berita, artikel, kebijakan nasional, aspek moral, dan lainnya. Kemudian pada
tahun 1820-an sampai 1840-an merupakan zaman keemasan majalah dan majalah
yang paling populer saat itu adalah North American Review dan Saturday Evening
Post yang terbit pada 1821. Selanjutnya pada abad 20, Reader’s Digest yang
diterbitkan Dewitt Wallace dan Lila menjadi majalah dengan pelanggan sebanyak
18 juta untuk pembaca di Amerika saja dan pembaca lainnya di dunia.
commit to user
Playboy pada 1953 dan di tahun 1970-an sirkulasinya mencapai enam juta
eksemplar (Ardianto, 2005 : 109-110).
Di Indonesia sendiri, majalah muncul menjelang dan awal kemerdekaan
Indonesia pada tahun 1945. Pantja Raja, yang merupakan majalah bulanan terbit
pertama kali pada 1945 di bawah pimpinan Markoem Djojohadikusumo dengan
prakata Ki Hajar Dewantara selaku Menteri Pendidikan pertama RI. Kemudian di
awal kemerdekaan, Soemanang, S.H. menerbitkan Revue Indonesia yang dalam
satu edisinya mengemukakan gagasan perlunya koordinasi penerbitan surat kabar
yang jumlahnya ratusan dengan satu tujuan untuk menghancurkan sisa-sisa
kekuasaan Belanda dan menempa semangat persatuan nasional. Di zaman orde
lama, perkembangan majalah tidak begitu baik karena sedikitnya majalah yang
terbit. Sejarah mencatat Star Weekly dan majalah mingguan Geledek namun
hanya berumur beberapa bulan saja. Pada tahun 1966 yang merupakan awal
zaman orde baru, banyak majalah yang terbit dan cukup beragam jenisnya hal ini
sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yangsemakin baik dan tingkat
pendidikan masyarakat yang semakin maju (Ardianto, 2005:110-111).
Meskipun sama-sama sebagai media cetak, namun majalah tetap memiliki
karakteristik yang berbeda dengan surat kabar, yaitu (Ardianto, 2005 : 113-115) :
(1) Penyajian lebih dalam
Majalah pada umumnya terbit mingguan, dwi mingguan, hingga
bulanan, dalam hal ini memudahkan wartawan maupun reporternya
commit to user
penyajian berita dan informasinya dapat dibahas secara lebih mendalam
(Ardianto, 2005 : 113).
(2) Nilai aktualitasnya lebih lama
Berbeda dengan nilai aktualitas sebuah berita yang dimuat pada surat
kabar, maka nilai aktualitas pada majalah bisa satu minggu atau bahkan
berita maupun informasi yang disajikan tidak akan pernah basi
walaupun kita membacanya beberapa waku yang akan datang
(Ardianto, 2005 : 113).
(3) Gambar ilustrasi dan foto
Tampilan majalah lebih menarik daripada tampilan surat kabar karena
dalam majalah yang memiliki banyak halaman, di setiap halamannya
mampu disisipi gambar ilustrasi maupun foto terkait berita dan
informasi yang disajikan. Gambar ilustrasi dan foto tersebut dicetak
dengan berbagai ukuran serta warna-warna yang mampu membuat
tampilan majalah lebih menarik (Ardianto, 2005 : 114).
(4) Cover sebagai daya tarik
Selain dimuat foto, pada cover juga biasanya dimuat informasi maupun
berita yang akan dibahas pada edisi tersebut sehingga cover memiliki
daya tarik sendiri. Bahan untuk cover berbeda dengan isi, karena lebih
tebal daripada kertas untuk halaman isi (Ardianto, 2005 : 115-116).
Selain sudah disebutkan tentang karakteristik majalah, tentunya setiap
majalah yang sejak awal dibentuk oleh redaksi telah menentukan siapa segmen
commit to user
berdasarkan: jenis kelamin (pria, wanita), hobi dan minat (interior, psikologi,
otomotif, arsitektur, dan sebagainya), dan usia (anak-anak, remaja, keluarga)
(Junaedhi, 1995 : xiv).
Majalah remaja termasuk dalam kategori majalah yang terbagi sesuai usia.
Munculnya segmentasi pembaca remaja dikarenakan remaja tidak hanya
mengalami perkembangan secara fisik namun juga perkembangan rekreasi.
Menurut Hurlock, perkembangan minat rekreasi terjadi pada permainan olahraga,
bepergian, hobi, dansa, membaca, menonton, radio dan kaset, televisi, dan
melamun. Khusus pada hal membaca, remaja telah membatasi waktunya untuk
membaca sebagai salah satu bentuk rekreasi, dan yang cenderung mereka baca
adalah majalah daripada membaca buku (Hurlock, 1997:45).
2. Feature
Menurut Mappatoto, feature atau karangan khas yang selalu ada di dalam
media massa memiliki pengertian sebagai karangan ringan yang bersifat umum
dengan melukiskan suatu pernyataan dengan lebih rinci sehingga apa yang
dilaporkan hidup dan tergambar dalam imajinasi pembaca. Feature terkadang
bersifat subyektif dan dirancang untuk menghibur dan memberitahu pembaca
tentang peristiwa, situasi atau aspek kehidupan (Mappatoto, 1994:2-3).
Sedangkan Soeseno menyebutkan struktur penulisan feature berbeda dengan
sturktur news (berita/ press release) yang disusun seperti piramida terbalik terdiri
dari lead, tubuh dan penutup saja. Sedangkan feature disusun seperti kerucut
terbalik yang terdiri atas: (lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan
commit to user
Gambar 1.1
Struktur penulisan feature
Sumber: (Soeseno, 1997:78)
Pembuka atau lead merupakan bagian penting dalam penulisan feature.
Sebuah lead bisa terdiri dari hanya satu paragraf, bisa pula tersusun atas beberapa
paragraf. Lead dalam struktur feature digunakan sebagai alat pemancing minat
dan atensi pembaca. Selanjutnya terdapat jembatan yang menjadi perantara antara
lead dengan tubuh yang berperan seakan-akan melukiskan identitas dan situasi
dari hal yang akan dituturkan nanti. Selanjutnya tubuh feature yang berisi situasi
dan proses disertai penjelasan mendalam tentang bagaimana dan mengapa.
Sturktur feature diakhiri dengan penutup yang menimbulkan kesan mendalam dan
kuat dibenak pembaca, serta menumbuhkan hasrat pembaca untuk terus memakai
gagasan-gagasan yang diterimanya dari penulis (Soeseno, 1997:78).
Feature yang sering dimuat di media massa dapat dipilah-pilah jenisnya.
Jenis-jenis feature tersebut sangat bermanfaat untuk memberikan wawasan kepada
wartawan, betapa luasnya permasalahan yang bisa dijadikan feature. Jenis-jenis
commit to user
a. Feature human interest
Feature human interest ialah feature yang menyajikan
permasalahan-permasalahan kehidupan yang memiliki daya tarik manusiawi/ human
interest, permasalahan hidup yang menyentuh rasa/ lubuk hati manusia
(Ermanto, 2005:149).
b. Feature sejarah
Jenis feature ini mengangkat persoalan sejarah yang menarik untuk
dicerna pembaca masa kini. Persoalan-persoalan yang terdapat dalam
peristiwa sejarah pantas disajikan kembali, sepanjang wartawan mampu
menemukan sisi-sisi yang menarik yang disajikan dengan sudut pandang
tertentu (Ermanto, 2005:149).
c. Feature biografi
Feature ini mengangkat sosok yang terkenal. Keberhasilan dan sikap
hidup seseorang yang disegani atau dikagumi amat penting diketahui
oleh masyarakat (Ermanto, 2005:149).
d. Feature perjalanan
Feature perjalanan objeknya hampir sama dengan reportase, sebab
perjalanan wartawan dapat dijadikan reportase. Dalam penulisan
reportase, permasalahan yang ditemui dalam perjalanan dijadikan dalam
pendalaman data dan fakta. Sedang dalam penulisan feature,
permasalahan yang dijadikan feature merupakan permasalahan yang
dianggap penting walaupun sederhana, menarik, dan bermanfaat bagi
commit to user
e. Feature petunjuk melakukan sesuatu
Feature ini mengajarkan kepada orang lain (pembaca) untuk melakukan
sesuatu. Feature ini biasanya berbentuk tulisan-tulisan yang memberi
petunjuk-petunjuk sederhana (Ermanto, 2005:150).
Selain itu, penulisan feature dalam sebuah media cetak memiliki peran,
antara lain (Kurnia, 2003 : 232-235):
a. Feature sebagai jembatan
Dalam perkembangan jurnalisme, feature merupakan teknik penulisan
yang mengatasi kekakuan straight news dalam meng-cover berita-berita
utama (hard news atau spot news) (Kurnia, 2003 : 232).
b. Feature sebagai news story
Feature disini berperan sebagai alat pemberitaan yang dapat menunjang
kekuatan tulisan. Hal tersebut tercermin ketika penulis menentukan
sasaran dan efek tulisannya, serta menyusun elemen fakta dan elemen
waktu (timelines) menjadi materi tulisan yang erat kaitannya dengan
berita utama (Kurnia, 2003 : 233).
c. Feature sebagai artikel
Feature berperan sebagai penyelamat yang dapat mengatasi kelemahan
penyajian berita majalah yang dianggap sudah basi. Dengan rekayasa
yang kreatif, isu-isu yang telah digarap dalam surat kabar diolah menjadi
sajian yang tetap hangat, aktual, dan memikat. Penulisan artikel feature
yang lengkap bertujuan sebagai hiburan; memberi informasi (to inform);
commit to user
d. Feature sebagai esai
Proses asimolasi timbul saat feature memasuki struktur penulisan esai.
Proses tersebut berlangsung dalam tataran penentuan tujuan saat menulis
esai (yang kerap kontemplatif) dengan hasil tulisannya (yang menyerap
gaya struktur feature) (Kurnia, 2003 : 235).
3. Mengangkat Masalah Lingkungan ke Media Massa
Banyaknya berita mengenai kerusakan alam mulai dari gunung meletus,
kekeringan, kebakaran hutan, dan lain sebagainya diketahui masyarakat melalui
televisi dan surat kabar. Namun para ahli kurang puas terhadap pemberitaan
tentang kerusakan alam yang telah dilakukan karena dianggap belum sempurna
karena masih sering terjadi kesalahan dalam pemberitaan masalah lingkungan
seperti tidak adanya informasi yang relevan dengan pemberitaan, judul yang
sering menyesatkan, serta kurangnya pemikiran lebih dalam mengenai resiko
pemberitaan (Salomence dalam Abrar, 1993:59-60).
Susanto dalam artikelnya “Media Massa dalam Menyelatkan Lingkungan”
menyatakan bahwa eksistensi media yang dapat menyebarkan pesan kepada
khalayak luas, dimanfaatkan untuk menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya
pelestarian lingkungan hidup untuk kesejahteraan manusia. Melalui pemberitaan,
kampanye publik, iklan layanan masyarakat, dan propaganda, media diharapkan
mampu berperan dalam menjaga keseimbangan alam, lingkungan sosial, ekonomi
dan politik yang berkembang dalam satu kawasan. Pada dasarnya media dengan
kekuatan komunikasinya harus berjalan seiring dengan program pemeliharaan
commit to user
Menurut Lembaga Pers Dr. Sutomo dalam Atmakusumah menggungkapkan
bahwa terdapat tiga misi utama media massa di bidang lingkungan, yaitu
menumbuhkan kesadaran masyarakat akan masalah-masalah lingkungan;
merupakan wahana pendidikan untuk masyarakat dalam menyadari perannya
dalam mengelola lingkungan; memiliki hak mengoreksi dan mengontrol dalam
masalah pengelolaan lingkungan hidup (Atmakusumah, 1996:58).
Menurut Friedman, untuk membuat tulisan lebih mendalam tentang
lingkungan, penulisan jurnalistik lingkungan perlu menjawab pertanyaan lebih
dari satu, “what”, “who”, “why”, dan “how” (Atmakusumah, 1996:45). Begitu
besar peran media massa dalam menggerakkan kesadaran masyarakat tentang
persoalan lingkungan karena dengan meningkatnya pengetahuan serta kesadaran
masyarakat mampu menjadi kunci sukses untuk memecahkan masalah lingkungan
yang sedang berkembang.
Survei penelitian komunikasi lingkungan dari empat dekade terakhir, artikel
melukiskan beberapa tren kunci dan pendekatan dalam penelitian yang telah
berusaha untuk mengatasi peran yang dimainkan oleh media dan proses
komunikasi dalam elaborasi, definisi publik dan politik dan kontestasi masalah
lingkungan dan masalah. Kebutuhan untuk menyambung kembali tradisional,
tetapi secara tradisional juga relatif berbeda, tiga fokus utama penelitian
komunikasi pada media dan isu-isu lingkungan: produksi/ konstruksi pesan-pesan
media dan komunikasi publik; konten/ pesan media komunikasi, dan dampak dari
media dan komunikasi publik tentang pemahaman publik/ politik dan tindakan
commit to user
komunikasi pada isu-isu lingkungan/ kontroversi untuk berhubungan kembali
dengan masalah sosiologis tradisional tentang kekuasaan dan ketidaksetaraan di
ruang publik, terutama dalam hal menunjukkan bagaimana ekonomi, kekuasaan
politik dan budaya secara signifikan mempengaruhi kemampuan untuk
berpartisipasi dalam dan mempengaruhi sifat komunikasi “dimediasi” masyarakat
tentang lingkungan (Hansen, 2011:75).
Namun, dalam mengkomunikasikan pesan, perlu diperhatikan siapa sasaran
dari pesan kita, meskipun pesan yang hendak disampaikan sama namun bahasa
yang digunakan berbeda. Dalam hal ini adalah remaja sebagai pembaca sehingga
penulisan pesan lebih baik singkat namun tetap menarik dan menginspirasi.
Dalam hal ini, penyampaian pesan melalui artikel dilakukan terus menerus agar
pesan yang ingin disampaikan bisa diterima dengan baik oleh pembacanya.
Sesuai perannya, majalah yang merupakan salah satu bentuk media cetak
memiliki tugas untuk menyampaikan berbagai informasi, termasuk informasi
tentang lingkungan. Penyebaran informasi mengenai lingkungan sangat
diperlukan mengingat isu lingkungan sangat berkaitan erat dengan kualitas hidup
manusia. Berbagai artikel mengenai lingkungan sudah banyak dimuat di beberapa
surat kabar, namun merupakan hal yang baru jika artikel tentang lingkungan
terkhusus tentang pemanasan global dimuat di majalah remaja yang kebanyakan
membahas tentang fashion. Majalah remaja seakan ingin membangun karakter
pembacanya yang kebanyakan adalah remaja untuk lebih peduli terhadap
lingkungan sehingga lingkungan bisa dikelola dengan baik dan mampu
commit to user
bukan lagi menjadi tanggung jawab orang yang lebih dewasa, namun semua usia
bertanggungjawab atas kelangsungan lingkungan.
Dalam jurnal “Pemaknaan Isu Pemanasan Global dan Lingkungan di Media
oleh Kaum Perempuan Urban”, Sarwono menyatakan bahwa pemberitaan
mengenai lingkungan hidup akan menarik apabila informannya wanita terlebih
lagi dari kalangan artis. Terlebih artis idola remaja melakukan sesuatu yang
berkaitan dengan peduli lingkungan, maka akan ada pemberitaan mengenai hal
tersebut dan dimaksudkan akan lebih mudah memaknai peduli lingkungan apabila
dilakukan oleh idolanya. Namun, dalam penelitian ini juga, tidak harus dengan
cara memberitakan artis yang terlibat dalam kegiatan peduli lingkungan, namun
juga dapat disosialisasikan melalui pendidikan, hukum, dan adanya roll mode
(Sarwono, 2010:178-190).
Selain itu, Jun Yin dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa ada
pengaruh besar dari sikap lingkungan kaum elit pada sikap lingkungan
masyarakat, hal ini menunjukkan bahwa sikap pro-lingkungan dapat dipelajari
dari elit dan bahwa upaya untuk mengubah sikap publik pertama harus diarahkan
pada para elit yang nantinya mempengaruhi publik massa. Kaum elit disini
dimaksudkan oleh orang-orang berkuasa yang pendapatnya sangat berpengaruh
terhadap khalayak masyarakat. Jika kaum elit dan pesan media pro-lingkungan,
maka kesadaran lingkungan, kepedulian, dan dukungan untuk perlindungan
lingkungan dapat disosialisasikan walaupun di kalangan publik didominasi oleh
nilai-nilai materialis atau orang kurang pengalaman langsung dengan masalah
commit to user
4. Analisis Wacana
a. Definisi analisis wacana
Wacana merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris yakni discourse.
Sementara kata discourse berasal dari bahasa Latin discursus yang berarti lari
kian kemari, diturunkan dari dis-dari dalam arah yang berbeda dan currere-lari.
Kemudian menurut Webster dalam Analisis Teks Media, kata tersebut dimaknai
sebagai (Sobur, 2003:57) :
(1) Komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau
gagasan-gagasan; konversasi atau percakapan (Sobur, 2003:57).
(2) Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subyek studi atau
pokok telaah (Sobur, 2003:57).
(3) Risalah tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah (Sobur,
2003:57).
Sementara Sobur menyimpulkan wacana sebagai rangkaian ujar atau
rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan
secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang kohern, dibentuk oleh unsur
segmental maupun non-segmental bahasa (Sobur, 2003 : 23).
Lain halnya dengan Littlejohn yang mengungkapkan bahwa analisis wacana
lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan
terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat, fungsi ucapan, tetapi juga
mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana
commit to user
Sementara itu, padangan Mills dalam buku Analisis Teks Media mengatakan
bahwa analisis wacana merupakan sebuah reaksi terhadap bentuk linguistic
tradisional yang bersifat formal (linguistic structural). Menurut Mills linguistik
tradisional ini memfokuskan kajiannya pada pilihan unit-unit dan struktur-struktur
kalimat tanpa memperhatikan hal-hal analisis bahasa dalam penggunaannya.
Sedangkan analisis wacana justru lebih memperlihatkan hal-hal yang berkaitan
dengan struktur pada level kalimat, misalnya hubungan ketatabahasaan
(gramatikal) seperti subjek-kata kerja-objek, sampai pada level yang lebih luas
daripada teks (Sobur, 2003:13).
b. Karakteristik analisis wacana
Fairclough, van Dijk, dan Wodak menyebutkan karakteristik analisis
wacana kritis sebagai berikut (Eriyanto, 2009:7-14) :
(1) Tindakan
Wacana dipahami sebagai sebuah tindakan (action) yang diasosiakan
sebagai bentuk interaksi. Wacana dipandang sebagai sesuatu yang
bertujuan, apakah untuk mempengaruhi, mendebat, membujuk,
menyangga, beraksi dan sebagainya. Kedua, wacana dipahami sebagai
sesuatu yang diekspresikan secara sadar, terkontrol, bukan sesuatu yang
di luar kendali atau diekspresikan di luar kesadaran (Eriyanto, 2009:8).
(2) Konteks
Analisis wacana kritis mempertimbangkan konteks dari wacana, seperti
latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana di sini dipandang
commit to user
Mengikuti Guy Cook, analisis wacana juga memeriksa konteks dari
komunikasi: siapa yang mengkomunkasikan dengan siapa dan
mengapa; dalam jenis khalayak dan situasi apa; melalui medium apa;
bagaimana perbedaan tipe dari perkembangan komunikasi; dan
hubungan untuk setiap masing-masing pihak. Guy Cook menyebutkan
ada tiga hal yang sentral dalam pengertian wacana; teks, konteks, dan
wacana. Teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang
tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikasi,
ucapan, musik, gambar, efek suara, citra dan sebagainya. Konteks
memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks (Eriyanto,
2009:8-10).
(3) Historis
Pemahaman mengenai wacana teks ini hanya akan diperoleh kalau kita
bisa memberikan konteks historis di mana teks itu diciptakan.
Bagaimana situasi sosial politik, suasana pada saat itu. Oleh karena itu,
pada waktu melakukan analisis perlu tinjauan untuk mengerti mengapa
wacana yang berkembang atau dikembangkan seperti itu, mengapa
bahasa yang dipakai seperti itu, dan seterusnya (Eriyanto, 2009:10-11).
(4) Kekuasaan
Setiap wacana yang muncul, dalam bentuk teks, percakapan atau apa
pun, tidak dipandang sebagai seusatu yang alamiah, wajar dan netral
tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Analisis wacana kritis
commit to user
juga menghubungkan dengan kekuatan dan kondisi sosial, politik,
ekonomi dan budaya tertentu. Kekuasaan itu dalam hubungannya
dengan wacana, penting untuk melihat apa yang disebut sebagai
kontrol. Kontrol di sini tidaklah harus selalu dalam bentuk fisik dan
langsung tetapi juga kontrol secara mental atau psikis. Bentuk kontrol
terhadap wacana tersebut dapat berupa kontrol atas konteks, atau dapat
juga diwujudkan dalam bentuk mengontrol struktur wacana (Eriyanto,
2009:11-12).
(5) Ideologi
Wacana dipandang sebagai medium kelompok yang dominan
mempersuasi dan mengkomunikasikan kepada khalayak produksi
kekuasaan dan dominasi yang mereka miliki, sehingga tampak absah
dan benar. Ideologi dari kelompok dominan hanya efektif jika
didasarkan pada kenyataan bahwa anggota komunitas termasuk yang
didominasi menganggap hal tersebut sebagai kebenaran dan kewajaran
(Eriyanto, 2009:13-14).
c. Unsur-unsur wacana
Menurut Mulyana, wacana memiliki dua unsur utama, yaitu unsur dalam
(internal) dan unsur luar (eksternal). Unsur internal wacana berkaitan dengan
aspek formal kebahasaan yang terdiri atas satuan kata atau kalimat. Untuk
menjadi susunan wacana yang lebih besar, satuan kata atau kalimat tersebut akan
bertalian dan bergabung. Sedangkan unsur eksternal wacana berkaitan dengan
commit to user
Kehadirannya berfungsi sebagai pelengkap keutuhan wacana. Unsur-unsur
eksternal wacana itu terdiri atas implikatur, preposisi, referensi, inferensi, dan
konteks wacana. Kedua unsur itu membentuk suatu kepaduan dalam satu struktur
yang utuh dan lengkap (Mulyana, 2005: 7-24).
d. Pendekatan – pendekatan analisis wacana
Fairclough dan Wodak menjelaskan mengenai beberapa pendekatan dari
analisis wacana yang diringkas sebagai berikut (Eriyanto, 2009:15-18):
(1) Analisis bahasa kritis (critical linguistics)
Pendekatan ini melihat bagaimana gramatika bahasa mampu membawa
posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi
dapat dialami dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa
yang digunakan (Eriyanto, 2009:15).
(2) Analisis wacana pendekatan Perancis (French discourse analisys)
Pendekatan Pecheux ini banyak dipengaruhi oleh teori ideologi
Althusser dan teori wacana Foucault yang mempertemukan bahasa dan
ideologi pada pemakaian dan materialisasi bahasa pada ideologi
(Eriyanto, 2009:16).
(3) Pendekatan kognisi sosial (socio cognitive approach)
Pendekatan kognisi sosial dikembangkan oleh Teun van Dijk. Disebut
kognisi sosial karena van Dijk melihat faktor kognisi sebagi elemen
penting dalam produksi wacana. Wacana dilihat bukan hanya dari
struktur wacana tetapi juga menyertakan bagaimana wacana itu
commit to user
(4) Pendekatan perubahan sosial (sosiocultural change approach)
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada bagaimana hubungan
wacana dan perubahan sosial. Wacana di sini dipandang sebagai praktik
sosial, ada hubungan dialektis antara praktik diskursif tersebut dengan
identitas dan relasi sosial (Eriyanto, 2009:17).
(5) Pendekatan wacana sejarah (discourse historical approaches).
Dalam pendekatan ini, analisis wacana harus menyertakan konteks
sejarah. Hal ini berkaitan dengan bagaimana wacana tentang suatu
kelompok atau komunitas digambarkan (Eriyanto, 2009:17).
e. Model-model analisis wacana
Menurut Lubis, penggunaan pendekatan analisis wacana dalam ranah
penelitian merupakan sesuatu yang relatif baru. Meski demikian sebenarnya telah
banyak ahli yang mengembangkan model pendekatan analisis wacana. Di antara
para ahli yang mengembangkan model analisis wacana antara lain Roger Fowler
(1979), Theo Van Leeuwen (1986), Sara Mills (1992), Norman Fairclough (1998)
dan Teun Van Dijk (1998) yang akan dijelaskan di bawah ini (Sobur, 2003:73) :
(1) Model analisis wacana Roger Fowler (1979)
Dalam model analisis ini, dibahas mengenai kosakata yang digunakan
di dalam bahasa pemberitaan di media cetak, kemudian mengenai tata
bahasa yakni efek bentuk kalimat pasif dan efek nominalisasi, serta
kerangka analisis yang digunakan dalam menganlisis teks wacana di
media cetak meliputi kata dan susunan kata atau kalimat (Eriyanto,
commit to user
(2) Model analisis wacana Theo van Leeuwen (1986)
Theo Van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk
mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau seseorang
dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Model analisis ini secara
umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa seseorang
atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan serta dapat digunakan
dalam menganalisis wacana pemberitaan suatu teks berita (Eriyanto,
2009:171-195)
(3) Model analisis wacana Sara Mills (1992)
Pendekatan perspektif feminis Sara Mills lebih menekankan bagaimana
perempuan dicitrakan dalam teks berita. Dengan konsep bagaimana
posisi aktor-aktor dalam teks berita, akan didapatkan siapa yang
dominan menceritakan kejadian (sebagai subjek) serta posisi yang
ditarik ke dalam berita. Pendekatan perspektif feminis memberikan
gambaran pada kita bagaimana citra perempuan dalam berita. Sara
Mills memusatkan perhatiannya pada wacana tentang perempuan
seperti bagaimana perempuan ditampilkan dalam teks, dalam novel,
gambar, foto ataupun berita. Ada dua konsep inti dalam analisis wacana
Sara Mills, yaitu posisi subjek-objek yang digunakan untuk melihat
posisi subyek yang memberikan penafsiran atas sebuah peristiwa dan
terhadap orang lain yang menjadi objek yang ditafsirkan dan posisi
penulis-pembaca yang tidak hanya meninjau dari sisi penulis saja,
commit to user
Sebab Mills menilai pembaca memiliki pengaruh ketika tulisan itu
dibuat oleh penulis (Eriyanto, 2009:199-210).
(4) Model analisis wacana Norman Fairclough (1998)
Dalam melakukan penelitian menurut Fairclough, seorang peneliti atau
penulis melihat teks sebagai hal yang memiliki konteks. Dengan
demikian, untuk memahami wacana (naskah/ teks) tidak dapat
melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan “realitas” di balik teks
diperlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan
aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Dikarenakan
dalam sebuah teks tidak lepas akan kepentingan yang yang bersifat
subjektif. Di dalam sebuah teks juga dibutuhkan penekanannya pada
makna yaitu ketika sudah mendapat sebuah teks, maka akan juga
didapatkan gambaran tentang teori yang akan dipakai untuk membedah
masalah, maka langkah selanjutnya adalah menggabungkan kedua hal
tersebut menjadi kesatuan yaitu dengan adanya teks tersebut dengan
sebuah teori untuk membedahnya (Eriyanto, 2009:285–326).
(5) Model analisis Teun A. Van Dijk (1998) (Eriyanto, 2009:221-274)
Dari beberapa model analisis yang sudah dijelaskan di atas, model van
Dijk merupakan model yang paling banyak digunakan. Model ini
dinamakan kognisi sosial karena dalam penelitian ini juga dilibatkan
proses dari pendekatan dari lapangan psikologi sosial, terutama untuk
menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Van Dijk juga
commit to user
Kognisi Sosial
pada analisis teks saja, karena teks merupakah sebuah hasil produksi
yang juga harus diamati. Pada level kognisi sosial dipelajari bagaimana
proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari
komunikator. Sedangkan, aspek analisis sosial mempelajari bagunan
wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah.
Gambar 1.2
Model Analisis Van Dijk
Sumber : (Eriyanto, 2009:225)
(a) Teks
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa bagian struktur
yang masing-masing saling mendukung dan membaginya dalam
tiga tingkat. Pertama, struktur makro merupakan makna global atau
umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau
tema yang dikedepankan dalam suatu teks. Kedua, superstruktural
yaitu merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan
kerangka suatu teks. Ketiga, struktur mikro adalah makna wacana
yang diamati dari bagian terkecil dari suatu teks seperti, kata,
kalimat, proposisi, anak kalimat, parafrase, dan gambar. Berikut
dapat diuraikan satu persatu elemen wacana model van Dijk : Konteks
commit to user
Tabel 1.1
Elemen Wacana Model Van Dijk
Struktur wacana Hal yang diamati Elemen
commit to user
(b) Kognisi sosial
Menurut Van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya
didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari
suatu praktik produksi yang harus juga diamati. Di sini harus
dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga diperoleh
suatu pengetahuan mengapa teks bisa semacam itu. Proses produksi
itu melibatkan suatu proses yang disebut sebagai kognisi sosial.
Teks dibentuk dalam suatu praktik diskursus, suatu praktik wacana.
Di sini ada dua bagian: teks yang mikro yang merepresentasikan
suatu topik permasalahan dalam berita, dan elemen besar berupa
struktur sosial. Van Dijk membuat suatu jembatan yang
menghubungkan elemen besar berupa struktur sosial tersebut
dengan elemen wacana yang mikro dengan sebuah dimensi yang
dinamakan kognisi sosial. Kognisi sosial menunjukkan bagaimana
proses teks tersebut diproduksi oleh wartawan/ media dan
menggambarkan nilai-nilai masyarakat itu menyebar dan diserap
oleh kognisi wartawan dan akhirnya digunakan untuk membuat
teks berita.
(c) Analisis sosial
Wacana adalah bagian dari wacana yang berkembang dalam
masyarakat. Sehingga untuk meneliti teks perlu dilakukan analisis
commit to user
tentang suatu hal diproduksi dan direkontruksi dalam masyarakat.
Menurut van Dijk dalam analisis sosial ada dua poin, yaitu:
(i) Kekuasaan (power)
Kekuasaan untuk mengontrol kelompok lain, didasarkan pada
kepemilikan atas sumber yang bernilai, seperti uang, status,
dan pengetahuan. Selain berupa kontrol yang bersifat
langsung dan fisik kekuasaan itu juga berbentuk persuasif:
tindakan seseorang secara tidak langsung mengontrol dengan
jalan mempengaruhi kondisi mental, seperti kepercayaan,
sikap, dan pengetahuan. Yang nantinya dapat berpengaruh
pada pemahaman pada sebuah wacana tertentu.
(ii) Akses
Selanjutnya, analisis wacana model van Dijk memberi
perhatian besar pada akses. Bagaimana akses diantara
kelompok masyarakat elit mempunyai akses lebih besar
dibandingkan kelompok masyarakat yang tidak berkuasa.
Akses yang lebih besar bukan hanya memberi kesempatan
untuk mengkontrol kesadaran khalayak lebih besar. Tapi juga
membentuk topik dan isi wacana apa yang dapat disebarkan
dan didiskusikan pada khalayak. Namun khalayak yang tidak
memiliki akses tidak hanya menjadi konsumen dari dikursus
yang telah ditentukan. Tapi juga berperan besar lewat
commit to user
yang lebih tinggi disebarkan lewat pembicaraan dengan
keluarnga, teman sebaya, dan sebagainya. Dan akhirnya
merujuk pada sebuah manipulasi bahasa untuk mendapat
massa dan dukungan.
Penelitian ini menggunakan analisis wacana Teun A. Van Dijk. Model ini
mempunyai pendangan bahwa bagaian yang terpenting adalah analisis terhadap
struktur wacana. Struktur wacana terdiri dari tematik, skematik, semantik,
sintaksik, dan retoris.
F. Kerangka Pemikiran
Artikel merupakan wahana diskusi dan sosialisasi gagasan serta kontribusi
pemikiran dalam rangka mencari solusi. Permasalahan lingkungan yang
berdampak pada pemanasan global terkait dengan keberlangsungan kehidupan di
bumi mendatangkan ketertarikan dan tanggapan cukup serius dari sejumlah pihak.
Salah satu wujud ketertarikan diwujudkan oleh majalah remaja untuk membuat
sebuah rubrik yang muncul di setiap edisinya, dan di setiap edisinya dimuat
artikel dengan tema yang berbeda-beda namun tetap membahas tentang
permasalahan lingkungan.
Melalui artikel, penulis bermaksud menyampaikan gagasan terkait
permasalahan lingkungan. Hal ini dalam komunitas khalayak pembaca, mampu
membangun wacana tertentu terkait permasalahan tersebut. Atau secara ringkas
commit to user
pembacanya mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan
lingkungan serta memotivasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
G. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif kualitatif yang tidak
mencari hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi (Rakhmat,
1985:49).
Sedangkan yang dimaksud dengan metode penelitian kualitatif adalah
penelitian yang tidak mengadakan perhitungan atau juga dengan
penemuan-penemuan yang tidak dicapai/ diperoleh dengan menggunakan prosedur-prosedur
statistik atau dengan cara-cara lain dari kuantifikasi (Moleong, 2004:35).
2. Metode Penelitian
Penelitian ini akan menggunakan metode analisis wacana kritis (Critical
Discourse Analysis) sebagai pendekatan analisis. Analisis wacana kritis memang
menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, namun bahasa dianalisis bukan
dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga
menghubungkannya dengan konteks tertentu, seperti latar, situasi, pristiwa, dan
kondisi. Teun A. van Dijk membagi analisis wacana ke dalam tiga dimensi, yaitu
dimensi teks, kognisi sosial dan yang terakhir adalah dimensi konteks sosial.
Menurut van Dijk, analisis teks wacana tertulis tidak terbatas pada