Pradnanda Berbudy, dkk
.
Penyusun : Pradnanda Berbudy, dkk Tata letak : Prasetyo
Desain cover : R0bby Eebor dan Sholeh Budi
Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (Prakarsa Desa):
Gedung Permata Kuningan Lt 17 Jl. Kuningan Mulia, Kav. 9C Jakarta Selatan 12910
Jl. Tebet Utara III-H No. 17 Jakarta Selatan 10240 t/f. +6221 8378 9729 m. +62821 2188 5876 e. [email protected] w. www.prakarsadesa.id
Cetakan Pertama, 2015
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Pradnanda B., dkk (penyusun) Konsep Rancangan Peraturan Presiden Cet. 1—Jakarta:
198 hal., 14 X 20 cm ISBN: 978-602-72556-3-0
Pengorganisasian Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDEKA) membutuhkan lebih dari sekedar proses instalasi di desa-desa. Proses instalasi adalah proses keteknikan, yang sudah barang tentu menjadi faktor yang penting, bagi keberadaan SIDEKA sendiri. Namun, seperti kita ketahui bahwa jika hanya berhenti pada soal keteknikan, maka SIDEKA hanya akan jatuh sebagai sebuah aplikasi, atau sekedar alat saja. Bagi Prakarsa Desa, sistem informasi, dalam hal ini SIDEKA, bukan sekedar alat, akan tetapi menjadi pintu masuk, yang akan membuka banyak kemungkinan. Untuk karena itulah, persis di sebelah, dan bahkan di bagian depan dari pembangunan dan penyelenggaraan SIDEKA, dilakukan usaha-usaha yang dapat dikatakan sebagai suatu proses pengorganisasian, yang didalamnya memuat pula dimensi advokasi dan edukasi.
adalah bahwa SIDEKA sebagai sebuah sistem informasi adalah alat yang menjadi bagian dari pemerintahan – di desa, kabupaten, propinsi dan nasional. Dalam kerangka desa, SIDEKA akan menjadi bagian dari upaya: (1) memperluas akses publik; (2) meningkatkan kualitas layanan; (3) membangun suatu jenis konstituensi baru; dan secara umum hendak dikatakan sebagai cara baru negara hadir. Di tingkat supra desa, SIDEKA tentu bukan alat bagi suatu kontrol, pengendalian atau sejenisnya, melainkan menjadi wahana untuk memperkuat perencanaan, memperkuat ruang partisipasi publik, dan sekaligus menjadi metode baru bagi kerja yang berbasis pada desa dan informatika. Dengan kesadaran inilah, maka penyelenggaraan SIDEKA tidak menjadi jalan bagi eksklusifisme, yang berlindung di balik topeng keragaman, atau keunikan masing-masing desa.
Naskah ini sendiri adalah suatu konsepsi yang hendak diusulkan menjadi kebijakan dalam penyelenggaraan SIDEKA dalam skala nasional. Konsep ini dihasilkan dari sejumlah pertemuan, riset kecil dan berbagai usulan yang masuk. Sangat disadari bahwa sebagai sebuah gagasan yang melampaui kerja-kerja yang selama ini telah dijalankan, maka terbuka kemungkinan bagi kritik, salah mengerti dan segala jenisnya. Apa yang kerapkali muncul memberikan respon terhadap gagasan pengaturan SIDEKA secara nasional adalah kekhawatiran terjadinya penyeragaman. Kekhawatiran ini tentu saja tidak perlu terjadi, oleh sebab dengan adanya UU Desa, maka segala jenis tendensi ke arah penyeragaman, atau segala sesuatu yang bersifat top down, tidak akan dimungkinkan. Usaha untuk mendorong kebijakan SIDEKA lebih dimaksudkan untuk: (1) mendorong suatu jenis percepatan di semua lini dan di semua pihak; (2) mendorong bagi terbangunnya sistem komunikasi data yang lebih strategis, sehingga antar desa dapat terjalin model komunikasi baru yang bisa saling mengetahui kebutuhan masing-masing, sedemikian memungkinkan saling mengisi, dan seterusnya; dan (3) melakukan perlindungan dan penguatan bagi semua prakarsa yang berkembang.
membutuhkan sesuatu yang baru, atau kita membutuhkan cara baru, agar ruang kesempatan yang makin terbuka, dapat memberi hasil yang lebih baik.
Penerbitan naskah ini, kendati sangat terbatas, tidak lepas dari dukungan banyak pihak, antara lain Departement of Foreign Af-fairs and Trade-DFAT Australia, komunitas ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi, yang ikut dalam diskusi-diskusi, organisasi masyarakat sipil, komunitas IT, komunitas desa, dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Keberadaan naskah ini, kendari kedudukannya sebagai suatu naskah rancangan suatu usulan kebijakan, namun tetaplah berkedudukan sebagai bahan belajar, dan pada khususnya bagi para Pandu Desa, yang kelak akan mendorong langkah perubahan kebijakan di tingkatan masing-masing. Berharap naskah ini dapat ikut memicu pemikiran dan disain-disain baru yang kreatif dan bersifat menjawab tantangan untuk memastikan impelentasi UU Desa.
0 Pengantar ~~~ v
0 Makalah Akademik ~~~ 1 Bab I Pendahuluan ~~~ 3 Bab II Kajian Teoretis ~~~ 13 Bab III Sistem Informasi Desa dan
Kawasan Perdesaan ~~~ 27
Bab IV Jangkauan, Arah Pengaturan, dan Ruang Lingkup Materi Muatan Sideka dalam Rancangan
Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang Tata Kelola Sistem Informasi Desa dan Kawasan Perdesaan Berbasis Elektronik ~~~ 89
Bab V Penutup ~~~ 93
0 Rancangan Peraturan Presiden Republik Indonesia Tentang Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik ~~~ 127
RANCANGAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Alinea keempat Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan dengan bahwa tujuan membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia adalah:
“…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”
Demi mencapai tujuan tersebut, itulah sebabnya negara harus tampil ke depan dan turut campur tangan, bergerak aktif dalam kehidupan masyarakat disemua bidang guna tercapainya kesejahteraan umat manusia yang berkeadilan sosial. Tercapainya keadilan sosial, memiliki makna yang sangat mendalam. Dalam arti kesejahteraan, makna keadilan sosial itu harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluaruh warga negara tanpa terkecuali. Saat ini tidak dipungkiri, terjadinya ketidakadilan sosial menyebabkan masih banyak rakyat Indone-sia yang masih bergelut dengan kemiskinan, terutama masyarakat yang masih hidup di pedalaman pedesaan-pedesaan yang jauh dari jangkaukan Pemerintah.
Kegagalan Pemerintah dalam memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak dapat disebabkan karena satu faktor saja. Misalnya faktor ekonomi saja atau politik saja, akan tetapi kegagalan Pemerintah tersebut disebabkan oleh multi faktor. Ekomoni, politik, sosial, budaya dan hukum adalah semua bidang yang menjadi satu kesatuan persoalan yang saling kait-mengkait menjadi faktor penyebab kegagalan Pemerintah dalam memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indone-sia.
pembangunan infra struktur di daerah-daerah tertinggal. Tidak akan terealisasi juga tanpa adanya komunikasi serta dukungan politik dari semua pihak untuk sama-sama bergerak memecahkan persoalan kemiskinan. Selain itu, program pengentasan kemiskinan juga tak mungkin berjalan tanpa adanya tata-kelola pemerintahan yang baik (good governance), sebagai dasar bagi terlaksananya pembangunan berkelanjutan di manapun, termasuk dan terutama di Indonesia, yang diantaranya ditandai oleh berjalannya:
1. sistem pemerintahan yang demokratis, transparan dan bertanggung gugat kepada publik;
2. kebijakan ekonomi, sosial dan lingkungan yang dirancang dan dilaksanakan secara terpadu dan partisipatif;
3. lembaga-lembaga demokratis yang tanggap (responsif) terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat;
4. peraturan hukum dan perundang-undangan yang ditaati dan dilaksanakan secara konsisten dan adil;
5. upaya pemberantasan korupsi yang dilaksanakan secara tegas tanpa pandang bulu;
6. pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia serta hak-hak dan kepentingan masyarakat adat dan kelompok masyarakat rentan
di daerah-daerah atau di desa-desa, akan memberikan penguatan peran masyarakat setempat untuk lebih mampu mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada secara produktif, kreatif dan berwawasan ke depan untuk pengentasan kemiskinan secara mandiri.
Persoalannya yang nyata dalam melaksanakan pembangunan yang berbasis pada keterlibatan seluruh komponen atau potensi masyarakat lokal di daerah-daerah atau di desa-desa, adalah minimnya akses informasi baik dari desa sampai ke pusat (pemerintah pusat) atau pun sebaliknya, jangkauan Pemerintah yang tidak sampai menjangkau desa-desa menyebabkan desa ‘miskin’ perkembangan informasi. Belum lagi berbicara persoalan kevalidan/kebenaran mengenai informasi yang didapat baik dari Pusat maupaun dari Desa.
Persoalan akses informasi serta kebeneran akan suau informasi menjadi sangat vital untuk terlebih dahulu dibenahi. Asumsinya, bagaimana mungkin Pemerintah dapat merumuskan suatu kebijakan untuk menyelesaikan suatu persoalan yang terjadi di daerah-daerah/di desa-desa, jika tidak adanya akses infromasi atau tidak dapatnya informasi yang benar mengenai apa yang terjadi di daerah-daerah/di desa-desa tersebut.
sebaliknya dari Pusat kepada Desa, merupakan suatu persoalan yang saat ini harus segera dicarikan jalan keluarnya. Tujuannya jelas, agar semua informasi yang ada dan sedang terjadi di suatu daerah/desa dapat segera sampai kepada Pemerintan Pusat sekaligus dengan kevalidan akan informasi tersebut.
Maksudnya, salah satu solusi dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang terjadi di daerah-daerah/di desa-desa, adalah dengan membangun suatu sistem infromasi yang dapat diakses langsung oleh Pemerintah Pusat dengan kevalidan data dalam informasi tersebut, serta sebaliknya di mana Desa juga dapat memberikan informasi kepada Pemerintah Pusat mengenai informasi yang ada dan sedang terjadi di desanya.
Kita menyadari bahwa bangsa Indonesia hidup dalam suatu tatanan dunia yang sedang bergerak, berubah, makin terkoneksi (IT) dan pada dirinya mengidap krisis nyata, sebagai akibat dari menurunnya daya dukung bumi. Kesadaran tersebut mengharuskan kita untuk mengurus secara benar dua tindakan sekaligus, yakni internal dan interaksi (eksternal) – dalam mana keduanya saling berhubungan satu sama lain, bersifat saling memperkuat dan atau memperlemah, bergantung pada bagaimana kita mengelolanya.
elemen pentingnya, yang sekaligus menjadi soko guru pembangunan keadilan dan kemakmuran bangsa.Kedua oleh kemampuan untuk mengembalikan watak sosial dan watak nasional dari kekuasaan negara, sedemikian rupa sehingga kedaulatan sosial-politik dicapai dengan partisipasi dan kualitas baru demokrasi.Serta ketiga oleh kemampuan untuk menghidup-hidupkan jiwa bangsa, nasionalitas dan keberagaman, yang kesemuanya membentuk kepribadian bangsa.
Ketiga hal tersebut tidak lain adalah Trisakti – berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Trisakti akan memberikan kita dasar kokoh untuk kita menata diri (ke dalam) dan menempatkan diri secara benar dalam pergaulan dunia (ke luar). Hal ini hendak menegaskan bahwa bagi kita, pembangunan bangsa bukan hanya sekedar pencapaian pertumbuhan ekonomi.Dengan Trisakti kita menempatkan pencapaian pertumbuhan hanya salah satu dari sejumlah elemen pencapaian pembangunan bangsa.
Pemerintahan Jokowi-JK menterjemahkan Trisakti di dalam agenda pembangunan, yang disebut dengan Nawacita (sembilan program prioritas). Agenda yang dimaksud adalah:
1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.
dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan dan kesejateraan rakyat.
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan
menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. 8. Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan
penataan kembali kurikulum pendidikan nasional. 9. Kesembilan, memperteguh kebhinnekaan dan
memperkuat restorasi sosial Indonesia.
sebab itulah, kita membutuhkan cara yang sepenuhnya baru, yang didalam hal ini, akan dikembangkan suatu sistem saraf Nawacita (SIDeKa), yang akan menjadi cara baru negara hadir.
Kehadiran SIDeKa sebagai cara baru untuk mewujudkan tujuan negara, merupakan suatu gagasan baru yang belum pernah dilakukan di Indonesia. Hampir selama sejak Indonesia merdeka, desa hanya ditempatkan sebagai obyek dalam pemerintahan negara. Akan tetapi, sejak lahirnya UU Desa, arah politik pemerintahan negara nampaknya akan berubah. UU Desa telah menempatkan Desa sebagai Pemerintahan terkecil dalam suatu negara. Pasal tegas menyebutkan bahwa Pemerintahan Desa adalah. Hal tersebut mengartikan bahwa Desa tidak lagi merupakan obyek pembangunan dalam rangka mewujudkan tujuan negara, tetapi Desa berdasarkan UU Desa telah bertransformasi menjadi subyek dalam negara yang juga wajib mewujudkan tujuan negara sebagaimana disebutkan dalam alenia ke-4 Pembukaan UUD 1945.
B. IDENTIFIKASI MASALAH
Pelaksanaan SIDeKa sejak diundangkannya UU Desa hingga saat ini, masih belum terealisasi. Ada beberapa hal masalah yang menyebabkan SIDeKa belum terealisasi hingga saat ini, yaitu:
1. Governance lemah terkait SIDeKa, terjadi frakmentasi, lemahnya manajemen dalam menudukung proses pengambilan keputusan;
2. Masing-masing program mengembangkan sistem sendiri-sendiri yang akhirnya data bersifat sektoral serta tidak dapat dijadikan rujukan untuk pengambilan keputusan secara nasional/masih lokal desa;
3. banyaknya format dan versi laporan semakin lama tidak secara efektif dijadikan rujukan pengambilan kebijakan; 4. Sistem dan format yang dikembangkan tidak standar
sehingga sulit untuk dilakukan rekapitulasi data atau diintegrasikan;
5. Ada kesimpangsiuran sistem pelaporan data khususnya terkait dengan pencatan dan pelaporan (beberapa daerah ada yang menambah dan ada yang mengurangi pelaporan; 6. Ada permasalahan dengan agregasi pelaporan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional; 7. Pemanfaatan informasi data dan informasi belum didesiminasikan dengan para pemangku kepentingan dan belum dipakai secara semestinya;
8. Kemampuan dan kualitas data informasi desa sangat kurang;
informasi pada umunya masih lemah; 10. Landasan hukum SIDeKa juga belum jelas;
11. Belum ada kerjasama dan koordinasi yang dilakuakn antar kementrian/ lembaga, dan;
12. Pada pemerintahan desa belum secara khusus ada staf khusus yang mengurus tentang SIDeKa.
13. Belum adanya regulasi yang mengatur mengenai pedoman pelaksanaan SIDeKa.
C. TUJUAN
Tujuan dirumuskannya Makalah Akademik mengenai perlunya SIDeKa diatur Peraturan Presiden Republik Indonesia, adalah agar SIDeKa sebagai amanat dalam Pasal 86 UU Desa dapat dilaksanakan dengan melandaskan pada Peraturan Perundang-undangan.
D. METODE
Dalam penulisan ini metode yang digunakan merupakan metode yuridis normatif dengan menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan tersier.
Catatan Akhir
1 Lihat dokumen hasil lokakarya Desa Garis Depan Nawacita, 08
Nopember 2014, di Kampus UGM, Yogyakarta
KAJIAN TEORETIS
A. OTONOMI DAERAH
Reformasi telah membawa perubahan yang berarti bagi seluruh bangsa Indonesia. Hal ini ditandai dengan runtuhnya sistem sentralistik yang diyakini telah diemban oleh pemerintahan orde baru yang selama lebih dari tiga puluh tahun di dalamnya dipenuhi praktek-praktek kotor, yakni kolusi, korupsi, dan nepotisme. Salah satu perubahan berarti tersebut adalah lahirnya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah menggantikan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah. Kemudian selang berapa lama setelah berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, undang-undang ini pun digantikan dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.
Kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap Provinsi, Kabupaten, dan Kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang”. Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 18B ayat (1) UUD 1945 (amandemen) disebutkan bahwa: “Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan Daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.” Sedangkan ayat (2) menyebutkan, “Negara mengakui dan menghomati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang berupaya untuk melaksanakan otonomi Daerah sebagai bagian dari pelaksanaan pemerintahan di Indonesia. Dalam pengaturan UU Pemda tersebut, otonomi Daerah adalah kewenangan Daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan ini maka daerah memiliki keleluasaan dalam bentuk hak dan wewenang serta kewajiban oleh badan Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya sebagai manifestasi dari desentralisasi.
memperhatikan potensi, perbedaan dan keanekaragaman setempat serta mempertimbangkan stabilitas nasional dan keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.1 Otonomi Daerah yang mandiri dan kuat dapat menjadi penyangga eksistensi bangsa dan negara. Desentralisasi wewenang pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan aspirasi masyarakat, menyangkut beberapa hal diantaranya: pertama, adanya pola pengambilan keputusan dari atas menjadi dari bawah. Kedua, perpindahan pendekatan pembangunan sektoral ke pembangunan regional holistik. Ketiga, pembangunan dengan wilayah negara yang dominan ke wilayah masyarakat madani yang dominan. Keempat, pola pembangunan yang semula berorientasi ekonomi ke pola pembangunan menyeluruh.
Otonomi bukan sekedar pemencaran penyelenggaraan pemerintahan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pemerintahan. Otonomi adalah sebuah tatanan ketatanegaraan (staatsrechtelijk), bukan hanya tatanan administrasi negara (administratiefrechtelijk). Sebagai tatanan ketatanegaraan, otonomi berkaitan dengan dasar-dasar bernegara dan susunan organisasi negara. Paling tidak, ada dua arahan dasar susunan ketatanegaran dalam perumahan Indonesia merdeka yaitu demokrasi dan penyelenggaraan negara berdasarkan atas hukum.2
satuan demokratis, maka otonomi senantiasa memerlukan kemandirian atau keleluasaan. Bahkan tidak berlebihan apabila dikatakan hakekat otonomi adalah kemandirian, walaupun bukan suatu bentuk kebebasan sebuah satuan yang merdeka (zelfstandigheid bukan onafhankelijkheid).3
Tujuan utama penyelenggaraan otonomi daerah adalah untuk meningkatkan pelayanan publik (publik service) dan memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya terkandung tiga misi utama pelaksanaan otonomi daerah, yaitu:4
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat,
b. Menciptakan efisiensi dan efektifitas bpengelolaan sumbrdaya daerah, dan
c. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Berbicara tentang otonomi daerah tentu tidak akan lepas dari masalah pemerintahan daerah dan prinsip-prinsip dari pemerintahan daerah itu sendiri. Menurut Josef Riwu Kaho tentang pengertian daerah otonom adalah daerah yang berhak dan berkewajiban untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.5
Oleh sebab itu usaha membangun keseimbangan harus dipertahankan dalam konteks hubungan kekuasaan antara Pusat dan Daerah artinya: Daerah harus dipandang dalam dua kedudukan yaitu: sebagai organ-organ Daerah untuk melaksanakan tugas-tugas otonomi sebagai agen Pemerintah Pusat untuk menyelenggarakan urusan Pusat di Daerah.6
dan (7) dari segi psikologis desentralisasi dapat lebih memberikan kepuasan bagi daerah-daerah karena sifatnya yang lebih langsung. Selain kebaikan ataupun keuntungan tersebut di atas, desentralisasi juga mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain: (1) Karena besarnya organ pemerintahan maka struktur pemerintahan bertambah kompleks yang mempersulit koordinasi; (2) Keseimbangan dan keserasian antara bermacam-macam kepentingan dan Daerah dapat lebih mudah terganggu; (3) Khususnya mengenai desentralisasi teritorial dapat mendorong timbulnya apa yang disebut daerahisme atau propinsialisme; (4) Keputusan yang diambil memerlukan waktu yang lama karena memerlukan perundingan yang bertele-tele; (5) Dalam penyelenggaraan desentralisasi, diperlukan biaya yang lebih banyak dan sulit untuk memperoleh keseragaman/ uniformitas dan kesederhanaan.
Suatu negara dengan daerah yang diberi hak otonomi adalah konsekuensinya dari negara dengan menganut azas desentralisasi, yaitu azas penyerahan urusan pemerintahan dari Pemerintah Pusat atau Daerah Otonom tingkat atasnya kepada Daerah Otonom di bawahnya, untuk mengurusi rumah tangganya sendiri.8
menunggu perintah dari pusat. Sebaliknya, sistem ini dapat menimbulkan kesulitan mengingat kemampuan daerah yang satu dengan yang lainnya tidak sama dalam pelbagai lapangan atau bidang. Akibatnya, bidang atau tugas yang dirumuskan secara umum ini dapat jadi terlalu sempit bagi daerah yang kapasitasnya besar atau sebaliknya terlalu luas bagi daerah yang kemampuannya terbatas.9
B. OTONOMI DESA
Mengantisipasi aspirasi masyarakat yang terus berkembang serta menghadpai perkembangna yang terjadi, baik dalam lingkungan nasional maupun internasional yang secara langsung akan berpengaruh terhadap roda atau pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan di Negara kita, maka untuk menjawab dan menghadapi tantangan dan sekaligus peluang diperlukan adanya pemerintahan daerah yang tangguh, yang didukung oleh system dan mekanisme kerja yang professional.
dengan peraturan perundang-undangan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemberian kewenangan otonomi harus berdasarkan asas desentralisasi dan dilaksanakan dengan prinsip luas, nyata, dan bertanggungjawab.
Sehubungan dengan pemberian kewenangan otonomi kepada daerah-daerah di Indonesia, Pemerintah pada tanggal 15 Januari 2014 telah menetapkan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam konsideran UU tersebut disampaikan bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kemudian bahwa dalam perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, Desa telah berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.
Sutoro Eko mengatakan bahwa” sejauh ini belum ada definisi formal tentang otonomi desa yang dirumuskan dalam undang-undang”.10
Namun, menurut Ni’matul Huda, dalam wacana yang berkembang ada empat cara pandang dan pemahaman tentang otonomi desa, yaitu:11
1. Cara pandang legal formal yang sering dikemukakan oleh para ahli hukum. Dalam UU sering ditemukan diktum :desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang mengataur dan mengurus rumah tangganya sendiri’ sebagai definisi standar otonomi desa. Pengertian ini berarti desa merupakan sebuah subyek hukum yang berhak dan berwenang membuat tindakan huku: membuat pertauran yang mengikat, menguasai tanah, membuat surat-surat resmi, berhubungan dengan pengendalian, menyelenggarakan kerjasama dan lain-lain. Padahal otonomi tidak hanya sekedar persoalan hubungan hukum, tetapi hubungan antara desa dengan Negara. Desa baru bias disebut otonom kalau ia memperoleh pembagian kewenangan dan keuangan dari Negara, sehingga desa mempunyai kewenangan untuk mengelola pemerintahan.
eksistensi desa yang umumnya jauh lebih tua ketimbang NKRI. Pengakuan adalah pijakan utama, tetapi lebih dari sekedar pengakuan, otonomi desa berarti pembagian kekuasaan, kewenangan dan keuangan kepada desa. 3. Konsep “self-governing community” sering juga dirujuk
sebagai padanan frasa “kesatuan masyarakat hukum”, tetapi sejauh ini belum ada elaborasi yang memadai tentang konsep asing itu.
4. Cara pandang romantic-lokalistik. Meski UU tidak ada rumusan tentang otonomi desa, tetapi wacana resmi mengesankan bahwa desa memiliki “otonomi asli” berdasarkana asal-usul dan adat setempat. Konsep otonomi asli justru bias menjadi jebakan yang mematikan bagi desa, banyak hal yang “asli” milik desa (terutama sumber daya alam) sudah diambil oleh Negara dan dieksploitasi oleh investor.
Menurut Widjaja, menyatakan bahwa otonomi desa merupakan otonomi asli, bulat, dan utuh serta bukan merupakan pemberian dari pemerintah. Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut. Sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak istimewa, desa dapat melakukan perbuatan hukum baik hukum publik maupun hukum perdata, memiliki kekayaan, harta benda serta dapat dituntut dan menuntut di muka pengadilan.12
daerah kota. Otonomi yang dimiliki oleh desa adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya, bukan berdasarkan penyerahan wewenang dari Pemerintah.
Dengan berdasarkan pada adat istiadat dan asal usul Desa dimungkinkan adanya pembagian wilayah yang merupakan lingkungan kerja pelaksanaan Pemerintah Desa. Oleh karenanya, Menurutt AW. Widjaja, kewenangan desa dalam otonomi desa berdasarkan adat istiadat dan asal-usul desa mencakup:13
a. Kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul Desa;
b. Kewenangan yang oleh Peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan Daerah dan Pusat; c. Tugas pembantuan dari pemerintah Pusat, Pemerintah
Propinsi dan Pemerintah Kabupaten.
pemerintah terendah guna mengemban tugas, misi dari seluruh Departemen/ Kementerian, sehingga ideahiya desa harus memiliki sumber pendapatan yang cukup untuk membiayai pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan desa. Keberhasilan pembangunan desa sangat dipengaruhi adanya kemauan politik ((political will) dan tindakan politik (political ac-tion) dari pemerintah maupun komponen bangsa lainnya untuk dapat memainkan peranan penting dalam proses pembangunan di desanya. Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan tugas perbatuan yang tidak disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia.
Dengan demikian, otonomi desa harus amenjadi inti dari konsep NKRI. Dengan catatan bahawa “otonomi desa” buka merupakan cabang dari otonomi daerah, karena yang member inspirasi adanya otonomi daerah yang kahas bagi NKRI adalah otonomi desa. Otonomi desa harus menjadi pijakan dalam pembagian struktur ketatanegaraan Indonesia mulai dari pusat sampai ke daerah yang kemudian bermuara pada regulasi otonomi desa yang tetap berpedoman pada keaslian “desa” sebagai kesatuan masyarakat hukum.14
Catatan Akhir
1 Josef Riwu Kaho, Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik
Indonesia, Identif ikasi Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Penyelenggaraannya, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal 3
2 Bagir Manan, Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, PSH Fakultas
3Ibid, hal 26
4 Mardiasmo, Otonomi dan Manajeman Keuangan daerah, Ctk
Pertama, Andi, Yogyakarta, 2002, hal. 131
5 Josef Riwu Kaho, Op cit, hal. 14.
6 Moh. Mahfud, Politik Hukum di Indonesia, LP3S, Jakarta, 1998, hal.
93.
7 Josef Riwu Kaho, Op cit, hal 12-148 Soehino,
Perkembangan Pemerintahan di Daerah, Liberty, Yogyakarta, 1995, hal 112
9 Josef Riwu Kaho, Op cit, hal 15
10 Ni’matul Huda, Hukum Pemerintahan Desa “Dalam Konstitusi
Indonesia Sejak Kemardekaan Hingga Era Reformasi“, Setara Press, Malang, 2015, hal 49
11Ibid, hal 50
12 HAW. Widjaja, Otonomi Desa Merupakan Otonomi Yang Asli Bulat
Dan Utuh, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal 165
13 HAW. Widjaja, Pemerintahan Desa/Marga, Berdasarkan UU No. 22
Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001 hal 73
SISTEM INFORMASI DESA DAN KAWASAN
PERDESAAN
A. DEFINISI DESA
lain dapat pula diartikan bahwa adalah cikal bakal atau asal mula negara.2
Konsep desa sebagai entitas sosial sangatlah beragam, yaitu sesuai dengan maksud dan sudut pandang yang hendak diguanakan dalam melihat desa. Sebutan desa dapat berupa konsep tanpa makna politik, namun juga dapat berarti suatu posisi politik sekaligus kualitas posisi dihadapkan pihak atau kekuatan lain. Pada umumnya pengertian desa dikaitkan dengan pertanian, yang sebenarnya masih bisa didefinisikan lagi berdasarkan pada jenis dan tingkatannya. Secara etimologis istilah desa itu sendiri berasal dari kata “swadesi” bahasa Sansekerta yang berarti wilayah, tempat atau bagian yang mandiri dan otonom.3 Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia desa diartikan sebagai kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri.4
dan meunasah buat daerah hukum yang paling bawah. Di Batak, daerah hukum setingkat dengan desa diberi nama kuta, uta atau huta. Pedukuhannya dinamakan dusun sosor (ingatlah perkataan selosor di jawa) dan pagaran. Pedukuhan lain yang merupakan masyarakat pertanian, dinamakan banjar atau jamban. Di Simelungun, daerah desa sebagai daerah hukum telah terdesak mati. Di atas daerah-daerah itu dibentuk daerah-gabungan yang dinamakan perbapan, induk nihuta. Bagiannya dinamakan anak ni huta atau sosor. Di Batak Utara daerah-gabungan tadi dinamakan hunduluan, akan tetapi hanya bersifat daerah pemerintahan, bukan suatu daerah hukum. Di Batak Selatan daerah hukum yang paling bawah bukanlah daerah yang setingkat dengan desa, melainkan sekumpulan kampong atau tempat kediaman penduduk yang dinamakan kuria, dulu juga diberi nama janjian. Daerah hukum di Minangkabau diberi nama nagari, daerah gabungan ada yang dinamakan ‘luha’. Di Sumatera Timur daerah hukum yang paling bawah ialah suku. Di Sumatera Selatan (Kirontji, Palembang, Bengkulu) nama daerah hukum ialah dusun dan daerah gabungan dinamakan mendapo atau marga. Nama marga atau merga di batak dipakai buat suatu masyarakat seturunan, di daerah Alas namanya margo. Daerah hukum di Lampung namanya dusun atau tiuh, di Minahasa wanua, di daerah Makasar ialah daerah gaukang, di daerah bugis adalah daerah matowa. Di Tanah Toraja daerah-daerah hukum disebut dengan namanya sendiri-sendiri. Di Maluku daerah hukum yang paling bawah disebut negory, atau pun dati.5
memberikan tafsir informasi tentang istilah yang digunakan sebagai kesamaan istilah “desa”, yakni “swargama (gramani), dhisa, marga, nagari, mukim, kuria, tumenggungan, negorey, wanua, atau negory, manoa, banjar, dan penanian.6
Menurut Mashuri Maschab, apabila membicarakan ‘desa’ di In-donesia maka sekurang-kurangnya akan minumbulkan tiga macam penafsiran atau pengertian. Pertama, pengertian secara sosiologis yang menggambarkan suatu bentuk kesatuan masyarakat atau komunitas penduduk yang tinggal dan menetap dalam suatu lingkungan, dimana diantara mereka saling mengenal dengan baik dan corak kehidupan mereka relatif ho-mogeny, serta banyak bergantung kepada kebaikan-kebaikan alam. Kedua, pengertian secara ekonomi, desa sebagai suatu lingkungan masyarakat yang berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dari apa yang disediakan alam di sekitarnya. Dalam pengertian yang kedua ini, desa merupakan satu lingkungan ekonomi, di mana penduduknya berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketiga, pengertian secara politik, di mana ‘desa’ sebagai suatu organisasi pemerintahan atau organisasi kekuasaan yang secara politik mempunyai wewenang tertentu karena merupakan bagian dari pemerintahan Negara. Delam pengertian yang ketiga ini desa sering dirumuskan sebagai “suatu kesatuan masyarakat hukum yang berkuasa menyelenggarakan pemerintahan sendiri”.7
pemikiran dalam mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat.8 Menurut Sutoro Eko, desa pada umumnya mempunyai pemerintahan sendiri yang dikelola secara otonom tanpa ikatan hirarkis-struktural dengan struktur yang lebih tinggi. Kedua pendapat ahli tersebut memiliki persamaan padang tentang desa, yaitu memiliki kemandirian pemerintahan sendiri (otonomi), tanpa bergantug dengan pemerintahan lain yang lebih tinggi. Berbeda dengan Geerts, yang mengemukakan bahwa desa berasal dari bahasa Sanskrit yang berarti ‘daerah pinggiran, tempat, daerah yang tergantung pada kekuasaan yang lbih tinggi atau daerah yang diperintah oleh suatu kekuasaaan di luar desa.9
Dalam pandangan Ter Haar, sejatinnya desa adalah ‘negara kecil’, atau apa yang dimaksud oleh Ter Haar sebagai doorps republiek, karena sebagai masyarakat hukum desa memiliki semua perangkat suatu Negara: teritori, warga, aturan atau hukum (rules atau laws), dan pemerintahan. Dengan unkapan lain, pemerintahan desa memiliki alat (polisi dan pengendalian desa) dengan mekanisme (aturan/hukum) untuk menjalankan “hak menggunakan kekerasan” (coercion) di dalam teritori atau wilayah (domain) hukumnya. Wilayah keberlakuan (domain) hukum suatu masyarakat hukum dapat berupa suatu teritori tetap, artinya berlaku bagi setiap orang yang berada di wilayah itu dan/atau bagi setiap warga masyarakat itu, di mana pun ia berada.10
dipandang sebagai unit pemerintahan terendah yang menempati, sebagian dari wilayah Negara. Dalam konteks ini, Pemerintahan nasional adalah jalinan antar sistem-sistem pemerintahn desa dan berbagai struktur pemerintahan lain di atasnya. Dengan kata lain, pemerintah desa hanya berperan sebagai sub-sistem yang mati hidupnya tergantung pada kemauan supra-sistem diatasnya, yaitu pemerintah nasional (negara) yang secara berlapis mengungkungnya sejak dari pemerintaha Kecamatan, Kabupaten, Provinsi sampai pemerintah Pusat. Apabila kungkungan structural tersebut dilepaskan, maka pemerintah desa akan menjadi sistem tersendiri. Dari sudut pandang ini, maka pemerintah nasional bisa diasumsikan sebagai artikulator dan integrator dari beragam kepentingan dari sistem-sistem pemerintahan yang tumbuh dan berkembang pada level akar rumput (grass roots).11
B. PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI DESA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA
Republik Indonesia Tahun 1945; (b) bahwa dalam perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, Desa telah berkembang dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera; dan (c) bahwa Desa dalam susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan perlu diatur tersendiri dengan undang-undang.
Apa artinya? Kita menangkap setidaknya ada tiga hal pokok yang disorong ke depan, yakni: Pertama, tentang pengakuan terhadap keberadaan dan kedudukan desa, dengan segala keragaman, kompleksitas dan tantangannnya. Pada periode sebelum reformasi, untuk suatu periode yang panjang, di bawah UU No.5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, berlangsung suatu penyeragaman. Pada bagian menimbang UU No.5 tahun 1979 menyatakan: bahwa sesuai dengan sifat Negara Kesatuan Republik Indonesia maka kedudukan pemerintahan Desasejauh mungkin diseragamkan, dengan mengindahkan keragaman keadaan Desa dan ketentuan adatistiadat yang masih berlaku untuk memperkuat pemerintahan Desa agar makin mampu menggerakkanmasyarakat dalam partisipasinya dalam pembangunan dan menyelenggarakan administrasi Desa yangmakin meluas dan efektif.
mengoptimalkan apa yang dimilikinya. Penyeragaman membuat desa harus menjalankan apa yang sebetulnya tidak dibutuhkan, namun harus dijalankan, agar tidak dituding sebagai bentuk perlawanan. Maka tidak heran jika desa merumuskan dirinya bukan sebagai ujung tombak, melainkan sebagai ujung “tombok”.Dan kalau dilihat dalam hirarki tersebut, maka desa sesungguhnya lebih diposisikan sebagai penyedia tenaga kerja dan tentu suara ketika musim pemilu datang.
Pengakuan akan keragaman dieksplisitkan dalam rumusan tentang desa, yang disebut: Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten. Sedangkan Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan. Selanjutnya UU No. 6 tahun 2014, lebih mempertegas dengan rumusan: bahwa desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Aset Desa guna kesejahteraan bersama; (g) meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa guna mewujudkan masyarakat Desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari ketahanan nasional; dan (i) memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan. Pembangunan desa tidak lagi diletakkan sekedar sebagai alas dari pembangunan nasional, namun berfokus pada desa: Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Terang bagi kita, bahwa tekad dan posisi baru ini, membutuhkan lebih dari sekedar kemauan, namun juga suatu langkah-langkah kongkrit sedemikian rupa sehingga dari waktu ke waktu, desa makin meningkat kesadaran dan kemampuan, dalam menggerakkan seluruh sumberdaya yang dimilikinya, demi mewujudkan makan desa sebagai subyek, yang dengan demikian akan lebih terjamin hadirnya suatu tata hidup yang dalam setiap seginya menyelamatkan desa.
upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, pro-gram, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa. Kerja pemberdayaan dapat dikatakan punya tiga dimensi utama, yakni: (i) peningkatan kapasitas politik; (ii) peningkatan kapasitas so-cial-ekonomi; dan (iii) peningkatan pengetahuan (suatu kemampuan untuk mengerti secara persis realitas desa, dan dapat mengelola segala sumberdaya desa untuk sebesar-besar kemakmuran desa).
C. SISTEM INFORMASI DESA DAN KAWASAN PERDESAAN
Apakah maksud dari sebutan saraf? Apa makna sistem saraf? Kalau kita mengggunakan pandangan dalam ilmu hayat, maka saraf yang dimaksudkan adalah suatu jaringan; koneksi; suatu saluran dari segala jenis rangsangan (informasi) dan respon (perintah), dari pusat (sistem saraf pusat) ke seluruh bagian tubuh.Oleh karena yang bekerja adalah “informasi” (pesan), maka kerja saraf pada dasarnya adalah kerja “otak”.Secara demikian, sistem saraf tidak lain dari suatu perangkat yang terdiri dari otak, sumsum tulang belakang dan jaringan sel-sel saraf yang sangat kompleks – dengan fungsi dan karakteristiknya tersendiri. Sistem inilah yang mengurus proses pengiriman informasi (pesan), menerima (rangsang, dalam ataupun luar) dan sekaligus mengolahnya sedemikian rupa sehingga muncul suatu respon yang tepat (bersifat menjaga, melindungi atau mencapai suatu keadaan tertentu).
adalah sistem yang (i) dibangun (pembentukan, “diciptakan”), (ii) yang tumbuh (sampai pada batas tertentu) dan (iii) berkembang (dari segi kemampuan).
Konsepsi pembentukan, pertumbuhan dan perkembangan, membuka ruang kesempatan bagi kita untuk memikirkan suatu sistem saraf yang bekerja dalam kerangka Nawacita (Trisakti), dengan keutamaan membangun dari desa, atau desa sebagai garis depannya, sebagai subyek dari pembangunan. Arah tersebut membutuhkan beberapa hal pokok, yakni: (1) badan, atau organ kerja; (2) jelas apa yang hendak dilakukan, atau apa yang hendak dikerjakan; dan (3) pengendalian, suatu mekanisme yang mengontrol dan memastikan seluruh proses berjalan sebagaimana maksudnya: keputusan dari atas sama dan sebangun dengan apa yang diinginkan atau yang menjadi kebutuhan di bawah; sebaliknya aspirasi arus bawah kongruen dengan keputusan politik yang diambil di tingkat pusat (atas); yang bottom up sama dan sebangun dengan top down, pun sebaliknya. Kesemuanya itu, tidak saja melibatkan pergerakan barang dan jasa, tetapi juga pergerakan informasi.Bagi kita, pergerakan informasi adalah pergerakan otak, pergerakan sistem saraf.
hanya jika semua syarat yang dibutuhkan untuk suatu kinerja dengan kualitas dipenuhi atau tersedia. Jika kita berkaca pada kinerja manusia (yang dilengkapi dengan suatu sistem saraf), maka kinerja individu tersebut akan sangat bergantung kepada kemampuannya dalam memberikan respon secara benar atas segala dinamika yang berlangsung, baik di dalam maupun di luar.
Suatu respon yang benar adalah cerminan kemampuan diri dalam mendapatkan informasi yang benar (dan dapat dipertanggungjawabkan, akurat), mengolah, dan menyimpannya, yang sedemikian rupa sehingga ketika dibutuhkan dapat disediakan dengan cepat dan baik.Ketika seorang petani ada di tengah sawah, maka seluruh “ingatan” diarahkan pada seluruh segi yang dibutuhkan dalam kerja sawah. Jika saja “ingatannya” melayang, pergi atau tercerabut dari kenyataan dimana dia berada, maka dengan sendirinya akan muncul masalah. Mulai dari kinerja yang buruk, sampai dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan. Artinya, pada diri yang dilengkapi dengan sistem saraf yang baik, akan dengan sendirinya menghimpun informasi yang dibutuhkan, dan memblok informasi yang tidak dibutuhkan.
konteks desa, dapat dikatakan bahwa segala usaha desa untuk menggerakan suatu pembaruan desa, akan sangat bergantung pada kemampuan desa untuk memahami kenyataan-kenyataan sosio-ekologi, memahami kemampuan atau daya dukung lingkungan, memahami sumberdaya yang tersedia, dan memahami harapan dan partisipasi warga14. Lebih dari sekedar memahami adalah kemampuan dalam memberikan respon serta secara cepat menyesuaikan diri dengan semua kenyataan tersebut, sedemikian sehingga dihasilkan suatu jenis kinerja yang baik dan bermakna. Dengan cara berpikir yang demikian ini, kita hendak menegaskan tentang pentingnya suatu SSN, yang diperkuat dengan subsistem yang bekerja di desa dan kawasan, yang merupakan wujud dari langkah membangun dari desa.
penyelenggaraan negara benar-benar punya kemampuan bereaksi secara benar, tepat dan fleksibel.Tentu hal ini hanya dapat diwujudkan jika negara dilengkapi dengan sistem syaraf dengan dukungan teknologi koneksi yang tinggi (tepat guna), agar punya daya dalam mendistribusikan informasi secara cepat dan tepat.
Oleh sebab itulah susunan SSN, secara umum mengikuti kerangka berpikir sistem saraf manusia, yang berarti: (1) memiliki apa yang disebut sebagai sistem saraf pusat (SSP); dan (2) memiliki sistem saraf depan (SSD, diambil dari pikiran bahwa Desa Garis Depan Nawacita). SSP adalah pusat “pikiran” dan “kendali”. SSD mengurus dua soal sekaligus: (i) kendali internal – kesiapan diri dalam menghadapi dinamika internal dalam rangka menghadapi situasi eksternal; dan (ii) interaksi eksternal, baik dalam kerangka menerima segala hal yang berasal dari luar, maupun
penyampaian respon yang diberikan atas situasi eksternal yang berkembang. SSD berada di desa, yang dalam hal ini, akan mengambil posisi ganda, pada satu sisi menjadi SSP (sejalan dengan konsep otonomi desa), dan di sisi yang lain akan menjadi SSD (lihat UU Desa).
SSN pada dasarnya adalah produk pertemuan dua arus utama, yakni arus dimana makin dibutuhkan kemampuan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih dari apa yang kini berjalan, dan arus dimana teknologi makin mampu mengatasi kelemahan-kelemahan biologis manusia, seperti kapasitas dalam menyimpan informasi, kecepatan kerja, dan lain-lain. Kita dapat membayangkan suatu keadaan dimana kerja otak (dari suatu tim, atau dari suatu birokrasi pemerintahan) dapat dihimpun sedemikian rupa sehingga seluruh pikiran yang berkembang, bukan hanya terekam dengan baik, namun juga terkoneksi (terhubung) satu sama lain, sehingga membentuk jaringan pikiran dan aktivitas yag dinamis. Dengan sistem saraf tersebut, maka berbagai operasi dasar pemerintahan atau layanan publik, akan mendapatkan umpan balik dari publik, dan kemudian diolah oleh piranti yang tersedia (piranti keras, yang telah dilengkapi piranti lunak), sedemikian diperoleh informasi yang memberikan dasar bagi tindakan response yang lebih cepat dan tepat.
demokrasi, dan keterbukaan informasi. Di masa depan, sistem ini tentu akan semakin canggih dan kompleks, terutama jika telah dikembangkan kemampuan dalam mengolah citra, wajah manusia, ekspresi, nuansa, dan lain-lain, sehingga kecerdasan sistem akan semakin meningkat. Peningkatan ini akan menjadi keniscayaan, mengingat sistem ini pada dasarnya adalah kombinasi antara kecerdasan individu, kecerdasan komunitas, dan kemajuan dalam teknologi informasi. [lihat bagan berikut].
Konsepsi tentang sistem saraf (SSN) dengan sendirinya menempatkan SIDeKa, sebagai sistem saraf depan (SSD) dan sekaligus sub-sistem dari SSP. Konsepsi ini dikembangkan sebagai respon terhadap: Pertama, kenyataan dimana kemajuan ICT telah demikian pesat, dan bergerak eksponensial – suatu
Sistem Saraf
Sistem Saraf Pusat (SSP) Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Saraf Depan: SSD,
SIDeKa Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Infromasi Desa dan Kawasan
(SIDeKa) Sistem Saraf Depan: SSD,
perkembangan yang belum pernah terduga dan cepat. Desa adalah juga sasaran atau obyek pergerakan kemajuan ICT.Internet masuk desa, merupakan salah satu aspek dari banyak aspek dan layanan yang berkembang. Penggunaan IT dalam mengelola pemerintahan desa, mulai dan terus berkembang. Tuntutan untuk transparansi, partisipasi dan akuntabilitas, dalam batas tertentu terjawab dengan e-gov di tingkat desa. Dengan berbagai aplikasiyang telah berkembang, layanan publik dimudahkan, dan keterlibatan publik makin besar, yang secara demikian akan meningkatkan kualitas layanan publik.
Dengan sebuah aplikasi berbasis teknologi informasi ini tentunya pengelolaan data dan informasi yang dibutuh-kan oleh warga dan pemerintah supra desa akan dengan mudah, cepat dan akurat dalam proses penyajiannya. Pada akhirnya program apapun yang dilakukan oleh pemerintah akan semakin berkualitas, berdaya guna dan tepat sasaran.
data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Desa mengakui bahwa data yang tersedia, bukan saja kurang mencerminkan kenyataan, namun juga sangat sulit untuk “dipanggil” (menemukan data secara cepat dan dalam kondisi baik), oleh sebab sistem dokumentasi data tidak memadai, dan cenderung merusak data. Keadaan ini sudah barang tentu menyulitkan keinginan untuk mengembangkan suatu proses pengambilan keputusan yang demokratik dan tepat. Di sisi yang lain, desa juga kehilangan kesempatan untuk mengkonsolidasi pengetahuan yang mereka kembangkan, untuk membangun apa yang layak disebut sebagai kecerdasan desa.
Dalam kerangka inilah SIDeKa dikembangkan, sebagai suatu visi teknologi-desa, yang pada satu sisi merupakan upaya desa dalam mengembangkan sistem yang akan didukung oleh berbagai jenis aplikasi sesuai dengan kebutuhan setempat, dan sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional. Aplikasi SAID/K (Sistem Administrasi dan Informasi Desa/Kelurahan), adalah contoh aplikasi, yang lebih berfokus pada penyediaan layanan administrasi kependudukan, kendati dalam kenyataan memiliki banyak fungsi ikutan dalam rangka memperkuat e-gov.
potensi wisata desa yang baik.Dengan masuk ke dalam jaringan dan terkoneksi, maka desa-desa tersebut telah dapat menghadirkan profil singkat desa ke dalam dunia maya, dan memudahkan siapa saja untuk melihat, menyebarluaskan informasi, dan melakukan koneksi langsung. Kebutuhan ini sudah barang tentu menantang para pekerja ICT, untuk mengembangkan berbagai jenis aplikasi, yang menjawab dan melayani kebutuhan desa.
Dengan SiDeKa yang didukung oleh aplikasi tepat guna, maka: (1) kepada desa dan supra desa, dalam kepentingan pembangunan, investasi, dan atau upaya-upaya pemberdayaan, akan dapat disediakan data yang dibutuhkan, baik dalam kerangka merancang suatu program pembangunan maupun program dukungan, maupun dalam kerangka mengambil keputusan strategis. Jika negara bermaksud mencapai swasembada pangan dan energy, serta mampu dengan cepat mengentaskan warga miskin, maka tidak terhindarkan adanya kebutuhan akan data yang akurat mengenai keadaan alam, keadaan tanah, dan berbagai informasi lain berkait dengan pertanian di desa-desa. Data yang dimaksud, tentu bukan data hasil pengolahan, melainkan data primer, yang mampu memberikan gambaran kongkrit mengenai kapasitas desa dalam ikut ambil bagian dalam percepatan produksi pertanian pangan.
aliran informasi dari atas ke bawah, pada khususnya mengenai proses kebijakan, kebijakan dan berbagai informasi lain yang dibutuhkan desa dan para pihak lainnya. Kita juga mengetahui bahwa sampai kini, informasi dari atas menjadi semacam komoditas, yang daripadanya muncul banyak sekali kegiatan spekulasi, dan pada gilirannya menjadi dasar bagi praktek manipulasi yang justru merugikan desa, serta bangsa secara keseluruhan.Aliran informasi yang multi arah, tidak saja bermakna mengalirkan, tetapi juga mencegah yang tidak perlu, dan membantu membacanya sebagai sebuah kecenderungan, sehingga dapat diperoleh gambaran tentang keadaan untuk suatu periode tertentu.
Di atas itu semua, sebagaimana yang telah dikatakan di depan, bahwa yang hendak dikembangkan adalah suatu sistem saraf Nawacita, yang bekerja layaknya sistem saraf manusia. Dengan sistem tersebut, desa dan supra desa (termasuk pusat), akan memiliki suatu kecepatan tertentu dalam memberikan reaksi atas suatu keadaan. Sebagai contoh, ketika tersentuh benda dengan suhu tinggi, tangan secara refleks bergerak menjauh, dan diambil tindakan tertentu, yang intinya menghindari bahaya dan atau menyelamatkan diri. Sebaliknya, ketika terlihat buah durian yang sudah layak untuk dipetik, maka dengan sigap dicari alat bantu untuk menjolok durian tersebut, dan berbagai upaya pendukungnya. Yang satu menghindar dan yang lain menggapai. Kedua reaksi yang berlawanan ini, dapat muncul cepat, sesuai dengan keadaan yang berkembang. Ketika terserang hama tikus atau hama lain yang mengancam produksi pertanian di desa tersebut, maka dengan cepat dapat ditemukan langkah yang tepat.
Sebagai sebuah sistem syaraf Nawacita, SIDeKa tentu tidak hanya dilengkapi dengan aplikasi yang diperuntukan bagi peningkatan layanan pemerintah desa, seperti aplikasi kependudukan, keuangan desa, dan berbagai aplikasi untuk layanan dasar, namun juga dengan suatu sistem yang mengintegrasikan desa-desa dalam suatu jaringan, yang terkoneksi dengan baik, mengintegrasikan desa-desa dengan sistem diatasnya, yakni kabupaten, propinsi dan pusat. Sistem yang dimaksud, tidak hanya peduli dengan pencarian atau penghimpunan, serta penyimpanan data, melainkan juga sistem yang meningkatkan “kepekaan” desa, dan sekaligus meningkatkan “kecerdasan desa” – yang secara demikian memuat pula semacam “aplikasi kecerdasan buatan”, yang mendukung seluruh pergerakan informasi tersebut.
Posisi desa sebagai subyek di dalam proses pembangunan (membangun dari desa, Desa Garis Depan Nawacita), tentu saja membutuhkan suatu cara baru dala mengurus negara, untuk memastikan negara berjalan di jalan yang benar, dan melangkah untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita proklamasi. Kita tidak mungkin mendapatkan hasil baru dengan cara yang lain. Oleh sebab itulah, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemampuan negara agar dapat hadir dengan cara yang berbeda, cara baru.
SIDeKa dalam batas tertentu hendak kita beri makna sebagai cara baru kehadiran negara. Kehadiran negara haruslah suatu kehadiran yang kongkrit, yakni kehadiran yang mampu menjadi jawaban atas masalah-masalah rakyat, bangsa dan negara, khususnya masalah-masalah masyarakat desa.Oleh sebab itulah, politik negara haruslah politik yang bersentuhan langsung dengan rakyat.Suatu politik yang menghasilkan keputusan benar, yaitu keputusan yang didasarkan pada pengetahuan yang luas dan persis tentang kenyataan-kenyataan yang ada di masyarakat.
semakin cepat, efisien dan memungkinkan proses-proses baru yang tidak mengandalkan kertas, pertemuan, dan lain-lain. Kelima, makin memungkinkan menghimpun pikiran-pikiran sehingga membentuk kecerdasan komunitas (desa). Pada intinya kita akan mendapatkan lebih dari apa yang selama ini dapat kita peroleh dengan cara-cara lama.
D. LANDASAN HUKUM SIDEKA
1. Peraturan Presiden sebagai Landasan Hukum SIDEKA
Kota untuk Desa.
Amanat UU tersebut dengan jelas bahwa desa ada pengembangan perangkat SIDEKA yang menjadi alat masyarakat dalam pengelolaan pembangunan desa dan kawasan perdesaan secara transparan dan akuntabilitas. Sistem informasi desa selama telah berkembang di beberapa titik desa yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, relawan desa atau inisiatif desa sendiri ada beberapa model yang dikembangkan.
Informasi Desa, agar ketentuan Pasal 86 UU Desa dapat dilaksanakan?
Dalam menjawab persoalan tersebut, maka ada baiknya melihat hirarki peraturan perundang-undangan berdasarkan UU. No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Dalam Pasal 7 disebutkan:
(1) Jenis dan hirarki Peraturan Perundang-undangan terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah; e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Lebih lanjut, untuk melihat mana diantara dua produk hukum yang tepat dan memungkinkan untuk mengatur Sistem Informasi Desa sebagai pelaksanaan dari Pasal 86 UU Desa, maka perlu sekiranya mengkaji terlebih dahulu kedua bentuk produk hukum tersebut.
1. Peraturan Pemerintah
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, Peraturan Pemerintah dibuat oleh Presiden hanya untuk melaksanakan undang-undang. Tidak ada Peraturan Pemerintah dibuat untuk melaksanakan UUD 1945, atau semata-mata didasarkan pada kewenangan mandiri (origi-nal power) Presiden membentuk peraturan perundang-undangan. Menurut Ni’matu Huda, yang dimaksud dengan “melaksanakan undang-undang”, bahwa Peraturan Pemerintah hanya berisi ketentuan lebih lanjut (rincian) dari ketentuan-ketentuan yang telah terdapat dalam undang-undang. Dengan perkataan lain setiap ketentuan dalam Peraturan Pemerintah harus berkaitan dengan satu atau beberapa ketentuan undang-undang. Jelas bahwa materi muatan Peraturan Pemerintah adalah keseluruhan materi muatan undang-undang yang dilimpahkan kepadanya.16
Dengan demikian, jelas bahwa Peraturan Pemerintah dibentuk berdasarkan delegasi dari undang-udang. Artinya, undang-undang harus mencantumkan secara tegas apabila menghendaki diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persoalanya bagaimana jika Undang-undang tidak menyebut secara tegas untuk diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah?
Dalam pandangan A. Hamid Attamimi sebagaimana dikutip oleh Ni’matul Huda mengatakan:17
undang-undang yang bersangkutan tidak memintanya dengan tegas, atau meski undang-undang itu tidak menyatakan dalam ketentuannya tentang perlunya sebuah Peraturan Pemerintah. Meskipun Peraturan Pemerintah merupakan peraturan delegasian dari undang-undang, dan mendelegasikan kewenangan memerlukan pernyataan yang tegas, namun dalam hal Peraturan Pemerintah ini pendelegasian kewenangan itu sudah “dilakukan” secara tidak langsung dalam UUD 1945 Pasal 5 ayat (2) dalam wujud kekuasaan reglementer. Sebaliknya Peraturan Pemerintah tidak dapat dibentuk meski kekuasaan reglementer sudah diberikan oleh UUD 1945, menginagt sifat dan hakikat Peraturan Pemerintah yang berfungsi menjalankan undang-undang tersebut.”
Pandangan Attamimi tersebut terlihat lebih realistik, mengingat banyaknya undang-undang yang masih membutuhkan Peraturan Pemerintah, tetapi dalam undang-undang tersebut kadang tidak tercantum dengan tegas ‘diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah’, menyebabkan Peraturan Pemerintah memang harus bisa hadir untuk memenuhi kekosongan hukum, agar implementasi suatu norma dalam undang-undang dapat berjalan dengan berdasarkan ketentuan hukum itu sendiri.
walau undang-undang tidak menghendakinya secara langsung. Akan tetapi, hal yang harus diperhatikan ialah perlunya batasan dalam membentuk Peraturan Pemerintah yang undang-undang tidak secara tegas menghendakinya. Beberapa hal yang harus menjadi batasan membentuk Perturan Pemerintah, dalam hal undang-udang tidak menghendakinya secara langsung, yaitu:18
a. Materi muatan mengandung hal-hal yang
menyangkut hak dan kewajiban rakyat banyak, atau dalam batas-batas tertentu berkaitan dengan hak asasi atau salah satu hak yang dijamin UUD 1945. b. Berfungsi untuk melaksanakan undang-undang. c. Materinya tidak mengubah atau tidak menambah dan
mengurangi, serta tidak mnyisipi suatu ketentuan dan juga tidak boleh memodifikasi materi dan pengertian yang telah ada dalam undang-undang yang menjadi induknya
d. Tidak berisi penetapan semata. Harus merupakan peraturan (regeling) atau kombinasi peraturan dan penetapan (beschikking).
untuk membentuk suatu Peraturan Pemerintah, UU No. 12 tahun 2011 telah mengatur dengan tegas bahwa Peraturan Pemerintah dibentuk untuk menjalankan undang-undang. Artinya, tidak lain dan tidak bukan, bahwa kewenangan membentuk Peraturan Pemerintah bukan kewenangan regelementer yang mandiri (original power) Presiden, melainkan kewenangan reglementer yang bersifat atribusi (perlu adanya delegasi yang tegas dan jelas dari UU). Dengan demikian, Peraturan Pemerintah adalah suatu bentuk peraturan perundang-undangan untuk menjalankan undang-undang yang dibentuk dengan mendasarkan pada adanya perintah dalam UU tersebut, yang menghendaki diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Kehendak tersebut harus jelas dan tegas disebutkan dalam undang-undang.
2. Peraturan Presiden
bahwa:”Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang, meteri untuk melaksankan Peraturan Pemerintah, atau meteri untuk melaksanakan penyelenggaraan kekuasaan pemerintah”. Kemudian dalam penjelasan Pasal 13 UU No. 12 Tahun 2011 tersebut dijelaskan bahwa:”Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan peraturan lebih lanjut perintah Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya”.
Penjelasan Pasal 13 UU No. 12 Tahun 2011 tersebut diatas menyatakan bahwa Peraturan Presiden dapat dibentuk untuk menyelenggarakan peraturan lebih lanjut perintah Undang-Undang atau Peraturan Pemerintah secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagai atribusi dari Pasal 4 Ayat (1) UUD 1945. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan peraturan lebih lanjut perintah Undang-Undang atau peraturan pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahakan pembentukannya.19
Dengan demikian, materi muatan Peraturan Presiden ada 3 (tiga) jenis, yaitu:20
pemerintahan negara. Materi muatan Perpres ini yang didasarkan langsung pada ketentuan Pasal 4 ayat (1) UUD 1945, yang mengatribusikan kewenangan umum pengaturan oleh Presiden dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara yang bersifat pengaturan dan mandiri. Materi keputusan yang demikian tidak tertentu linkupnya.
2. Yang didasarkan pada UU yang memerintahkan untuk diatur lebih lanjt dengan Perpres.
3. Yang didasarkan pada PP yang mendelegasikan kewenangan pengaturan lebih lanjut kepada Perpres. Materi muatan Peraturan Presiden yang demikian tertentu lingkupnya.
hukum dimaksud delam bentuk Peraturan Pemerintah ataupun Peraturan Presiden (Perpres).21
Materi muatan Peraturan Presiden (berupa peraturan perundang-undangan) sebagai perwujudan kekuasaan asli Presiden, terutama mencakup semua kekuasaan Presiden untuk menjalankan pemerintahan (administrasi negara), baik yang bersifat instrumental maupun yang bersifat pemberian “jaminan” terhadap rakyat. Sedangkan materi muatan Peraturan Presiden yang bersumber pada delegasi akan terdiri dari materi muatan yang didelegasikan tersebut.
Dari pembahasan di atas sangat jelas bahwa, Presiden seyogyanya dapat menentukan sendiri norma-norma aturan kebijakan atau policy rules (beleides regels) yang diperlukan untuk menjalankan undang-undang. Jika Pemerintah dibatasi terlalu kaku, sehingga tidak diijinkan mengatur pelaksanaan tugasnya sendiri, kecuali apa yang sudah ditentukan secara normatif oleh undang-undang, mana pemerintah akan berjalan lamban dan kaku, atau malah menjadi lame duck government yang tidak dapat efektif bekerja, terutama dalam rangka meningkatkan pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat.22
UU Desa, yang menyatakan “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan sistem informasi Desa dan pembangunan Kawasan Perdesaan”. Ketetuan tersebut jelas mengamanatkan kepada Pemerintah untuk wajib mengembangkan sistem informasi desa. Dengan demikian, oleh karena Pasal 86 UU Desa tidak menghendaki mengatur kewajiban Pemerintah tersebut dengan Peraturan Pemerintah, maka pengaturan kewajiban Pemerintah untuk mengembangkan Sistem Informasi Desa dapat diatur dengan Peraturan Presiden.
2. Asas-Asas Hukum dalam Peraturan Presiden yang Mengatur Tentang Sideka
Membentuk suatu peraturan perundang-undangan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas di bidang hukum untuk dapat membentuk suatu peraturan perundang-undangan. Bahkan, seoarang sarjana hukum (S1) dapat dianggap belum ‘mumpuni’ untuk membentuk suatu peraturan perundang-undangan.
Dalam membentuk suatu perturan perundang-undangan, maka hal yang sangat mendasar harus diketahui dan dipahami secara keilmuan adalah mengenai asas-asas hukum dalam pembentukan perturan perundang-undangan. Asas-asas hukum dimaksud bukan hanya asas-asas hukum yang menjadi dasar (guidance) dalam membentuk peraturan perundang-undangan,23 tetapi melingkupi juga asas-asas hukum yang menjadi dasar dalam mengatur sesatu hal dalam suatu peraturan perundang-undangan.
Sebelum membahas mengenai asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan secara mendalam, ada baiknya menguraikan terlebih dahulu mengenai asas hukum. Hal ini penting, agar dalam pembahasan mengani asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan dibedakan antara asas hukum dengan norma/kaidah hukum.
positif yang ditelusuri dan diteliti. Untuk dapat memberikan kejelasan mengenai perbedaan antara norma hukum (rechtsnorm) dan asas hukum (rechtsbeginsel) dalam pembentukan peratuaran perundang-undangan, Paul Scholten mengemukakan, sebuah asas hukum (rechtsbeginsel) bukanlah sebuah aturan hukum (rechtsregel). Untuk dapat dikatakan sebagai aturan hukum, sebuah asas hukum adalah terlalu umum sehingga ia atau bukan apa-apa atau bicara terlalu banyak (of niets of veel te veel zeide). Penerapan asas hukum secara langsung melalui jalan subsumsi atau pengelompokan sebagai aturan tidaklah mungkin, karena untuk itu terlebih dahulu perlu dibentuk isi yang lebih konkrit. Dengan perkataan lain, asas hukum bukanlan huku, namun hukum tidak akan dapat dimengerti tanpa asas-asas tersebut. Asas hukum memang bukan merupakan aturan hukum, karena asas hukum tidak dapat dilaksanakan/dioperasikan langsung terhadap suatu peristiwa dengan menganggapnya sebagai bagian dari aturan umum, dengan cara subsumsi, untuk itu diperlukan isi yang lebih konkrit. Dengan perkataan lain, asas hukum bukanlah hukum, namum hukum tidak akan dapat dimengerti tanpa asas-asas tersebut.24
peraturan yang konkrit tersebut.25
Sehubungan dengan sifat dan fungsinya yang berbeda tersebut, asas hukum dan norma hukum memberikan pengaruh yang berlainan terhadap peraturan perundang-undangan. Dalam suatu sistem norma hukum, terdapat hirarki norma-norma secara berjenjang, yang menetapkan bahwa norma yang di bawah adalah abash atau mempunyai daya laku (valid) apabila dibentuk oleh dan berdasar serta bersumber pada norma yang lebih tinggi. Hal itu berlangsung berjenjang-jenjang seterusnya, hingga sampai pada norma yang tertinggi, disebut norma dasar (grundnorm).26
Pandangan hirarki norma berjenjang tersebut merupakan pandangan yang teori hukum murni yang dikemukana oleh Hans Kelsan. Menurut Arief Sidharta tesis-tesis pokok teori murni tentang hukum yang dikemukakan Hans Kelsen adalah:
orang lain, sebuah tindakan yang maknanya adalah bahwa bahwa orang atau orang-orang lain seharusnya berperilaku dengan cara tertentu. Norma hukum dibedakan kedalam dua jenis, yakni norma hukum yang menetapkan perilaku yang seharusnya dilakukan atau apa yang seharusnya terjadi jika kondisi tertentu terpenuhi, dan norma hukum yang memberikan kewenangan untuk membentuk norma hukum (normcrating norm). Suatu norma hukum berlaku bukan karena ia mempunyai isi tertentu, melainkan karena ia dibuat menurut cara yang ditetapkan dalam apa yang dianggap grundnorm.27
Berdasarkan hal di atas, maka jelas asas hukum bukanlah kaidah hukum yang konkrit, melainkan merupakan latar belakang peraturan yang konkrit dan bersifat umum atau abstrak. Dengan demikian, karena asas hukum itu bukanlah norma hukum, maka dia harus dilihat dari fungsinya. Sudikno mengemukakan, asas hukum mempunyai dua fungsi,yaitu fungsi dalam hukum dan fungsi dalam ilmu hukum. Pertama, asas dalam hukum mendasarkan eksistensinya pada rumusan oleh pembentuk undang-undang dan hakim (ini fungsi yang bersifat mengesahkan) serta mempunyai pengaruh yang normatif dan mengikat para pihak. Kedua, asas dalam ilmu hukum hanya bersifat mengatur dan eksplikatif (menjelaskan). Tujuannya adalah member ikhtisar, tidak nromatif sifatnya dan tidak termasuk hukum positif. Sudikno juga mengemukakan, asas hukum juga dapat dibagi menjadi asas hukum umum dan asas hukum.28
peraturan perundang-undangan, Undang-undang No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan telah mengatur asas-asas yang menjadi dasar dalam pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Asas-asas yang diatur dalam UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah sebagaimana diataur dalam Pasal 5 dan Pasal 6, yang menyebutkan:
Pasal 5
Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:
i. kejelasan tujuan;
ii. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat; iii. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; iv. dapat dilaksanakan;
v. kedayagunaan dan kehasilgunaan; vi. kejelasan rumusan; dan
vii. keterbukaan.
Pasal 6
(1) Materi muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan asas:
g. keadilan;
h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain mencerminkan asas sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, maka jelas dalam setiap pembentukan peraturan perundang-undangan asas-asas tersebut harus mendasarkan dan mencerminkan asas-asas yang telah diatur tersebut. Ada pun, dalam pembentukan norma yang akan diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan, juga harus mencerminkan asas-asas lain yang sesuai dengan pertauran perundang-undangan yang hendak dibentuk.
SIDEKA adalah sebagai berikut:
a. kedaulatan sumber daya dalam negeri; b. optimalisasi;
c. interoperabilitas; d. akuntabilitas; e. profesionalitas; f. partisipatif; g. keberlanjutan; h. Subsidaritas; dan i. Rekognisi
Asas-asas tersebut di atas merupakan asas-asas yang menjadi dasar pengaturan SIDEKA. Penggunaan asas-asas tersebut adalah agar SIDEKA yang diatur dalam Rancangan Perpres ini nantinya bias berlaku sebagai ius contituendum, tidak hanya sebagai ius constitutum.
E. URGENSI PEMBENTUKAN LEMBAGA KOORDINASI DALAM PELAKNSANAAN SIDEKA