| 1
KONTRIBUSI SILVIKULTUR DALAM UPAYA PENGURANGAN EMISI
DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN
1)Kiswanto 2)
LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Menurut data dari Kementerian Kehutanan, Indonesia memiliki kawasan hutan sekitar 108 juta hektar, dimana lebih dari 50% nya merupakan kawasan hutan produksi yang dikelola untuk tujuan produksi hasil hutan kayu melalui Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) dan pembayaran jasa lingkungan melalui Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan (IUPJL). Kawasan hutan produksi yang luas tersebut kini memiliki peran sangat penting yang menentukan apakah target penurunan emisi bagi Indonesia sebesar 26% secara mandiri dapat berhasil atau tidak. Pasalnya sekitar 60% dari total pengurangan emisi tersebut diharapkan dapat dicapai dari sektor kehutanan (Masripatin, 2010).
Jika sistem pengelolaan hutan yang selama ini ada di Indonesia, terlepas dari baik atau tidak, diasumsikan sebagai sebuah skenario Business as Usual (BAU), maka adanya upaya dan komitmen tambahan dari sektor kehutanan dengan menerapkan sistem pengelolaan hutan lestari secara benar dan menyeluruh (Improved Forest Management-IFM), dapat dianggap sebagai additionality di sektor kehutanan di dalam pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan (Solichin dan Riyanto, 2010).
Di dalam Bali Road Map, pengelolaan hutan lestari merupakan salah satu mekanisme pengurangan emisi karbon yang termasuk di dalam upaya Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Plus (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation Plus -REDD+). Karena itu para pengelola IUPHHK di kawasan hutan produksi juga berperan besar di dalam upaya mitigasi perubahan iklim dengan terlibat aktif di dalam upaya penurunan emisi karbon melalui SMF.
Pengelolaan hutan secara lestari tentunya perlu ditunjang dengan pemikiran silvikultur yang tepat, sehingga menghasilkan pengelolaan hutan secara tepat untuk menjamin keberlangsungan di masa mendatang. Dalam urusan silvikultur, Pemerintah Indonesia awalnya telah menetapkan kebijakan silvikultur secara tepat, yaitu: hutan alami dikelola dengan mempertahankan bentuk hutan alami agar terjaga keanekaragaman hayati, dan kawasan hutan yang tidak lagi berhutan dapat dikelola dengan peremajaan buatan. Meskipun pada tahun 2004 muncul gagasan penanaman bibit genetik unggul meranti dalam larikan di hutan alami produksi, tujuannya sama yaitu untuk meningkatkan produksi kayu pertukangan kualitas vinir dengan mempertahankan keanekaragaman hayati. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Nomor: P.9/VI/BPHA/2009, Sistem Silvikultur yang diterapkan di dalam areal IUPHHK pada Hutan Produksi di Indonesia adalah Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ), Tebang Rumpang dan Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB). Namun seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan pun akhirnya mengizinkan penerapan lebih dari satu sistem silvikultur dalam satu unit pengelolaan hutan, yang kini dikenal dengan istilah multisistem silvikultur. Namun penerapan multisistem silvikultur tersebut hendaknya tidak hanya dipandang dari aspek ekonomis semata, melainkan menyesuaikan dengan aspek ekologis berupa kondisi lingkungan dan potensi tegakan (standing stock) dari kawasan hutan yang sedang dikelola oleh unit pengelolaan hutan tersebut. Makalah ini disampaikan untuk curah pendapat mengenai kontribusi silvikultur dalam upaya pengurangan emisi di kawasan hutan, sekaligus menciptakan pengelolaan hutan secara lestari.
1) Disa paika pada Expert Meeti g o “ustai a le Forest Ma age e t Pra ti es i the Fra e of Cli ate Cha ge
yang dilaksanakan di Balikpapan, 27-28 Desember 2010. 2
| 2 KONDISI HUTAN SAAT INI
Sampai saat ini belum ada keseragaman data mengenai luas hutan Indonesia, termasuk luas hutan di Kalimantan Timur. Namun hampir semua sepakat bahwa telah terjadi penurunan luas hutan dari tahun ke tahun. Penurunan luas hutan itu sebagian besar diakibatkan oleh banyaknya konversi lahan hutan menjadi peruntukkan lain. Bahkan banyak lembaga pemerintah maupun non pemerintah yang mencoba merilis laju deforestasi dari tahun ke tahun. Menurut WWF Indonesia, laju deforestasi di Kalimantan Timur hingga tahun 2008 mencapai 183.189,14 ha.
Gejala perubahan kawasan hutan juga ditunjukkan pada usulan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Kalimantan Timur, yang saat ini masih menunggu tahap pengesahan. Luas kawasan budidaya kehutanan (KBK) akan mengalami pengurangan hingga 10,32%, sementara kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) akan mengalami penambahan hingga 7,03%. Hal tersebut tentu tidak bisa dipandang ringan, pasalnya kawasan hutan akan kembali dikonversi untuk peruntukkan yang lain.
Belum lagi ditambah dengan informasi banyaknya lahan kritis yang tersebar di kabupaten/kota se Kalimantan Timur. Berdasarkan data yang dirilis WWF Indonesia pada tahun 2009, luas lahan kritis di Kalimantan Timur mencapai 8.782.585,31 ha dari sekitar 19.748.616,10 ha luas lahan yang ada. Dari luas tersebut, terdiri atas Sangat Kritis seluas 493.199,69 ha, Kritis (873.779,18 ha), Agak Kritis (3.954.824,51 ha), Potensial Kritis (3.460.781,93 ha) dan Tidak Kritis (10.966.030,79 ha). Melihat perkembangan dunia kehutanan di tanah air akhir-akhir ini, terutama setelah terjadinya perubahan politik pemerintahan, nampak bahwa perkembangan fisik biologis hutan dipengaruhi oleh fungsi dan penguasaan lahan hutan. Data dan informasi di atas tentu saja menjadi pertimbangan tersendiri untuk mengatur strategi yang tepat dalam mendukung upaya pengurangan emisi dari sektor kehutanan. Diperlukan pemikiran yang tajam dan pengalaman yang luas untuk mengatasi berbagai persoalan bidang kehutanan, terutama yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan secara lestari.Perubahan kondisi hutan, menyebabkan pula perlunya pemikiran konsep silvikultur tepat guna.
PERAN SILVIKULTUR DALAM PEMBINAAN HUTAN
Silvikultur dapat diartikan secara sederhana sebagai seni dalam mengelola hutan. Dikatakan seni karena setiap wilayah akan mendapatkan perlakuan yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi yang ditunjukkan dalam wilayah tersebut. Sasaran silvikultur adalah pengaturan tegakan hutan (komposisi, struktur dan kerapatan), persiapan, perbaikan dan pemeliharaan kesuburan tanah, serta pengaturan iklim mikro. Silvikultur terdiri atas teknik dan sistem silvikultur. Teknik silvikultur adalah satu kegiatan/pengelolaan fisik terhadap hutan baik tanaman maupun alami teknik regenerasi, teknik pemeliharaan dan teknik pemanenan. Sementara sistem silvikultur diartikan sebagai rangkaian kegiatan terencana terhadap pengelolaan fisik tegakan hutan yang terdiri atas beberapa teknik silvikultur dengan intensitas dan frekuensi yang berbeda.
Sebagai cabang ilmu kehutanan, kegiatan silvikultur mempunyai tugas memelihara tegakan hutan yang telah ada, meremajakan tegakan hutan yang terlampau tua, dan menghutankan kembali kawasan hutan yang kosong (reboisasi) bekas panen atau bekas kerusakan (api, longsor). Daya dukung tapak dipertahankan, produktivitas (riap) tegakan ditingkatkan melalui pengetahuan terbaru pemuliaan, pemupukan dan perilaku tumbuh/hidup tumbuhan/hewan.
Dalam kehutanan tradisional yang aman konflik, manfaat ekonomis hutan hampir-hampir hanya
kayu saja. Dengan demikian ilmu silvikultur sangat didominasi oleh “pengetahuan menghasilkan
kayu secara produktif dan berkelanjutan di hutan produksi”. Tetapi di Indonesia, peran silvikultur
| 3 (1) fungsi hutan: hutan negara dialokasikan menjadi tiga fungsi: konservasi, lindung, dan
produksi, yang tentu masing-masing memerlukan perlakuan silvikultur yang berbeda,
(2) kepemilikan: hutan negara yang luas dan hutan milik yang sempit akan dikelola dengan intensitas perlakuan silvikultur yang sangat kontras berbeda,
(3) mutu hutan: hutan yang baik dan hutan rusak memerlukan perlakuan silvikultur yang jelas sangat berbeda.
Dengan demikian, tugas pokok silvikutur adalah membangun dan memelihara hutan agar dapat berfungsi maksimal, mengalirkan manfaat maksimal kepada masyarakat luas dan pemiliknya. Ilmu silvikultur harus dapat mengidentifikasi kegiatan fisik apa yang diperlukan dalam setiap satuan lahan dan satuan waktu. Rangkaian dan rincian kegiatan tersebut disebut rencana kegiatan atau rencana silvikultur. Rencana silvikultur inilah yang harus dijalankan oleh setiap pengelola hutan, yang merupakan dasar penyusunan rencana biaya, rencana tenaga, rencana mesin, rencana sosial dan rencana lainnya.
Bentuk hutan, komposisi jenis tumbuhan hutan, daya dukung tapak hutan, ancaman terhadap keamanan sebidang hutan, keterjangkauan hutan dan banyak penciri tegakan lainnya menyebabkan perlakuan dari satu tegakan hutan ke tegakan hutan lainnya tidak harus dan bahkan tidak mungkin disamakan. Sebagai contoh: hutan alami yang aman perambahan dan berisi permudaan alami pohon jenis komersial tentu tidak memerlukan penanaman melainkan memerlukan pemeliharaan terhadap permudaan alami, hutan alami fungsi lindung untuk melindungi sebuah perairan umum tentu tidak boleh dipanen pohon-pohonnya secara tebang habis, melainkan dengan tebang pilih yang hati-hati atau bahkan tidak dipanen kayunya sama sekali kecuali hasil hutan bukan kayunya saja, hutan tanaman jati harus dilindungi oleh program kemitraan dengan masyarakat lokal dan dibarengi pengelolaan tanaman lain yang memberikan peluang partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kemakmuran mereka agar tanaman jati tidak dirambah, dan banyak sekali contoh kondisi yang berbeda yang menjadi dasar pertimbangan perumusan sistem dan teknik silvikultur tepatguna. Dengan ilustrasi seperti dikemukakan di atas, jelaslah bahwa setiap hutan memerlukan teknik silvikultur yang mungkin tidak sama.
MULTISISTEM SILVIKULTUR HARUS “DIRUMUSKAN” BUKAN “DIPILIH”
| 4 Karena berbeda sifat fisik dan habitatnya, maka setiap tegakan hutan boleh dikatakan memerlukan perlakuan yang selalu berbeda. Kalau ada persamaan maka sifatnya hanya kebetulan karena umur sama, jenis tanah sama, komposisi jenis sama, dan resiko ancamannya sama. Intensitas perlakuan silvikultur ditentukan oleh faktor-faktor keterjangkauan, fisik hutan, dan resiko ancaman terhadap hutan. Tegakan hutan alami yang berada berdekatan dengan pemukiman atau jalur transportasi jalan dan sungai merupakan hutan yang paling mudah dikerjakan karena tercapai oleh tenaga kerja, paling dekat ke pasar hasil hutan, dan juga paling rawan terhadap ancaman resiko kebakaran dan perambahan. Hutan yang berada jauh dari jalan dan kampung mengalami prospek ekonomis dan sosial yang sebaliknya. Keadaan demikian menunjukkan bahwa intensitas perlakuan terhadap hutan produksi tidak dapat disamaratakan.Selain jarak dari pemukiman dan pasar, kondisi lapangan juga menentukan intensitas perlakuan terhadap hutan alami produksi.
Sistem silvikultur tepatguna merupakan program jangka panjang dari perlakuan terhadap tegakan hutan yang memenuhi serangkaian suasana. Sistem silvikultur bukan dicomot dari daftar sistem silvikultur siap saji yang diinginkan. Buku ini juga bukan daftar resep atau katalog untuk petunjuk teknis melakukan, melainkan bimbingan untuk merumuskan. Perumusan sistem silvikultur diawali dengan analisis situasi faktor-faktor alami (biogeofisik) dan sosial-ekonomi. Sistem yang dibuat harus memenuhi beberapa aspek, antara lain:
(1) Sesuai tujuan pengelolaan dan karakteristik kepemilikan hutan
Pemilik hutan pertama-tama harus menentukan tujuan pengelolaannya untuk menghasilkan apa: kayu pertukangan, kayu pulp, jasa wisata, arboretum, taman buru, tataair, atau manfaat serbaguna. Rimbawan yang bekerja dalam unit pengelolaan hutan itu akan memodifikasi struktur dan komposisi tegakan hutan diselaraskan dengan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan.
(2) Jaminan peremajaan hutan
Kelangsungan hidup sebidang hutan tergantung keberadaan peremajaan alami. Untuk menghidupkan pohon muda, naungan pohon tua harus dikurangi. Tidak perlu mengharapkan keberadaan semai sepanjang daur. Semai hanya diperlukan pada saat peremajaan sebidang lahan hutan bekas panen.
(3) Penggunaan ruang dan tapak secara efisien
Vegetasi hutan akan selalu segera mengisi ruang kosong, tetapi tidak semua species vegetasi diinginkan oleh pemilik hutan. Tergantung tujuan pengelolaan, bisa saja rerumputan sama diperlukannya dengan pepohonan. Para pemilik hutan harus memilih jenis pohon sesuai dengan tujuan pengelolaan hutan masing-masing. Penjarangan merupakan efisiensi penggunaan ruang hanya untuk pohon yang diinginkan. Sistem silvikultur adalah program alokasi ruang hutan sepanjang daur. Lahan hutan harus selalu diisi hanya oleh jenis vegetasi yang diinginkan. Lebih baik terisi vegetasi berguna yang kurus daripada berisi gulma. Lahan berisi gulma adalah pemborosan. Tetapi terisi penuh jangan diartikan berisi vegetasi yang berdesak-desakan, karena juga merugikan daur. Understocking (tidak penuh) sama merugikannya dengan overstocking (terlampau rapat).
(4) Kendali kerusakan lahan hutan
Silvikultur yang berhasil adalah silvikultur yang bisa membentuk tegakan hutan yang resisten terhadap serangga, jamur, api, dan gangguan biotik dan fisik yang lain. Modifikasi silvikultur harus dibuat untuk menghindari ancaman utama setempat, misalnya bahwa pohon yang dominan lebih tahan daripada pohon tertekan dalam tegakan, tegakan campuran lebih tahan daripada tegakan murni, tegakan tidak seumur lebih tahan daripada tegakan seumur, tegakan yang mirip hutan alami lebih tahan daripada tegakan buatan.
(5) Jaminan kelestarian hasil
| 5 lainnya dari sebuah unit pengelolaan hutan harus merata sepanjang masa. Gangguan terhadap pemerataan beban dan hasil setiap tahun pasti selalu ada, misalnya akibat gangguan hama/penyakit, kebakaran, dan gangguan lainnya yang menyebabkan luas atau produktivitas tegakan tidak seragam, walaupun dikoreksi terus menerus. Dengan demikian, kelestarian hasil dan beban hanya selalu dapat didekati, tetapi tidak pernah dapat dicapai. Wujud pengaturan kelestarian hasil dan kelestarian pekerjaan di hutan yang dikelola dinyatakan dengan adanya etat luas dan etat volume.
(6) Optimalisasi modal dan potensi tegakan
Pohon hutan tumbuh lama sampai dapat dipanen, maka silvikultur sangat dikendalikan oleh kebijakan investasi jangka panjang. Optimalisasi modal dilakukan dengan menghitung semua biaya yang dikeluarkan pada tahun yang berbeda dengan menerapkan perhitungan bunga-berbunga (compound interest). Setiap kegiatan silvikultur (cara peremajaan hutan, panjang daur, cara penjarangan, teknik pemanenan) harus secara mendalam dianalisis dan dibandingkan, mana yang paling efisien menggunakan modal. Sementara investasi tegakan dioptimalkan dengan mempertahankan agar spesies pohon bernilai paling tinggi memiliki pertumbuhan tegakan maksimum, dengan menanami areal kosong, mencegah kegagalan akibat gangguan, dan meningkatkan riap melalui pemupukan dan atau pemuliaan pohon. Tegakan yang penuh dan subur akan menghasilkan hasil maksimum dari pengelolaan hutan. (7) Pengaturan lokasi kegiatan terpusat dan efisien.
Dalam struktur biaya silvikultur, biaya panen kayu merupakan komponen terbesar. Efisiensi biaya pengelolaan, khususnya biaya panen dapat diatur dengan memusatkan tegakan yang akan dipanen pada satu wilayah, karena biaya angkut hasil hutan merupakan komponen biaya yang signifikan dalam silvikultur.
SILVIKULTUR INTENSIF, BAGIAN DARI TEKNIK SILVIKULTUR
Istilah silvikultur intensif (Silin) mulai dikenal secara luas ketika pemerintah menerapkan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII), yang kini digabung dalam TPTJ. Namun Silin sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai sistem silvikultur melainkan bagian dari teknik silvikultur yang bisa diterapkan di hutan alami maupun tanaman. Silvikultur intensif menekankan pada 3 (tiga) kegiatan penting, yakni penanaman jenis-jenis unggul, pengendalian hama terpadu dan manipulasi lingkungan (Kiswanto, 2008).
(a) Penanaman jenis-jenis unggul
Silin merekomendasikan pemegang IUPHHK untuk melakukan penanaman jenis-jenis lokal unggulan yang bisa diperoleh dari pohon induk pilihan, pemuliaan pohon bahkan kultur jaringan. Hal tersebut cukup berasalan, mengingat tanaman lokal yang unggul memiliki kemampuan adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang diperoleh dari pohon induk dengan kualitas biasa. Untuk memperoleh jenis-jenis unggulan tersebut, pemegang IUPHHK disarankan untuk melakukan uji jenis, uji tanaman dan uji keturunan sebelum memutuskan jenis tanaman mana yang tergolong bibit berkualitas unggul, sehingga tanaman yang ditanam akan sehat, pertumbuhan riapnya lebih besar dan siap panen dalam waktu yang lebih singkat.
(b) Pengendalian hama terpadu
Salah satu kegiatan Silin adalah meneliti keberadaan hama dan penyakit yang menyerang tanaman unggulan, serta mencari solusi pencegahan dan penanggulangannya secara cepat dan tepat. Harapannya adalah tanaman unggulan tadi bisa tumbuh sehat tanpa ada gangguan hama dan penyakit, sehingga pertumbuhannya pun menjadi cepat dan hasilnya sesuai dengan harapan.
| 6 (c) Manipulasi lingkungan
Dalam silvikultur, pertumbuhan tanaman menjadi fokus utama untuk diperhatikan. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan pertumbuhan optimal dari pohon binaan, antara lain memberikan ruang tumbuh yang lebih luas kepada pohon binaan agar mendapatkan sinar dan hara yang cukup untuk mempercepat pertumbuhannya, penyiangan yang dilakukan secara intensif untuk mengurangi gangguan gulma terhadap tanaman, dan sebagainya. Kegiatan manipulasi lingkungan ini memang ditujukan agar pohon binaan memiliki pertumbuhan yang optimal.
Ketiga kegiatan silvikultur intensif tersebut bisa dilakukan pada pengelolaan hutan alami maupun tanaman, dengan tujuan yang sama yaitu memberikan peluang yang lebih besar kepada tanaman/pohon binaan untuk tumbuh besar dengan cepat, sehat dan berkualitas unggul sehingga bisa menghasilkan volume kayu yang besar pula.
KONTRIBUSI SILVIKULTUR DALAM PENGURANGAN EMISI
Pengelolaan hutan secara lestari kini menjadi topik penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim di sektor kehutanan. Apalagi kehutanan diharapkan mampu menyumbang 60% dari target pengurangan emisi sebesar 26% yang dicanangkan pemerintah Indonesia. Lalu, apa dan bagaimana kontribusi silvikultur dalam pengurangan emisi tersebut?
Pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya :
1. Stop konversi lahan hutan
Konversi lahan hutan menjadi penggunaan lainnya hendaknya segera dihentikan, termasuk menjadi kawasan budidaya non kehutanan (KBNK) dan areal penggunaan lainnya (APL). Bahkan jika perlu, lahan yang telah dikonversi diupayakan sedapat mungkin kembali menjadi kawasan hutan. Silvikultur dapat berperan dalam upaya perbaikan kawasan hutan asalkan kawasan tersebut masih ditetapkan sebagai hutan. Kawasan hutan yang telah rusak (potensinya berkurang) akibat kebakaran, pembalakan liar, tambang, perkebunan dan sebagainya masih dapat diperbaiki (ditingkatkan potensinya) asalkan kawasan tersebut masih sebagai hutan, namun tidak akan mungkin memperbaiki kawasan yang telah dikonversi menjadi pemukiman, kebun sawit, areal tambang dan sebagainya yang tidak disertai niat mengembalikan menjadi kawasan hutan.
2. Perumusan multisistem silvikultur yang tepatguna
Penggunaan sistem dan teknik silvikultur yang tidak tepat bisa menyebabkan berkurangnya kualitas tegakan dalam hutan. Contohnya tegakan hutan dengan permudaan yang cukup (100-200 bt pohon binaan per hektar) hendaknya tidak dianjurkan untuk melakukan penanaman, melainkan pemeliharaan saja. Jika diterapkan penanaman sistem jalur bersih selebar 3 m sebagaimana diatur dalam TPTJ pada areal tersebut, tentu akan mematikan permudaan alami yang ada, sementara tanaman yang ditanam belum tentu cocok dan tumbuh baik. Silvikultur yang dirumuskan secara tepatguna justru akan meningkatkan kualitas tegakan hutan, sehingga degradasi hutan bisa tertanggulangi dengan cara yang benar.
3. Penerapan silvikultur intensif
| 7 4. Pembinaan hutan dengan tindakan yang tepat
Pembinaan hutan dilakukan sesuai kebutuhan tegakan yang ditunjukkan oleh gejala perilaku tumbuh pohon atau tumbuhan binaan dalam tegakan. Misalnya untuk menghasilkan kayu pertukangan yang bagus diperlukan batang yang besar dan tinggi. Peningkatan riap diameter dan tinggi dapat dilakukan dengan penjarangan, sementara pemangkasan dilakukan untuk menghasilkan kayu dengan bebas cabang tinggi. Contoh lain adalah kegiatan penjarangan pohon besar tidak dapat dilakukan dengan cara penebangan karena akan merusak permudaan di sekitarnya, maka bisa disarankan untuk melakukan peracunan, sehingga pohon mati berdiri. 5. Pemilihan teknik pemanenan yang tepat
Teknik pemanenan yang tepat sangat diperlukan agar tidak merusak permudaan alami yang ada di kawasan tersebut. Menyelamatkan permudaan alami pasca penebangan akan menjadi pekerjaan yang lebih murah dibandingkan melakukan penanaman (pengayaan) kembali pasca pemanenan. Penggunaan teknik pemanenan yang tepat dapat menentukan tingkat kerusakan pasca pemanenan.
KESIMPULAN
1) Pengurangan emisi dari deforestasi bisa dilakukan dengan cara pencegahan/pengurangan konversi hutan menjadi peruntukkan lainnya, sementara degradasi hutan bisa ditanggulangi dengan cara penerapan silvikultur yang tepatguna untuk menghasilkan tegakan dengan kuantitas dan kualitas terbaik.
2) Multisistem silvikultur yang diterapkan dalam unit pengelolaan hutan bukan dicomot dari daftar sistem silvikultur siap saji yang diinginkan, melainkan dirumuskan berdasarkan kajian menyeluruh mengenai faktor-faktor alami (biogeofisik) dan sosial-ekonomi yang ditunjukkan di lapangan.
BAHAN BACAAN
Kiswanto, 2008. Pertumbuhan Permudaan Alami dan Tanaman pada Areal Ujicoba Sistem TPTII di PT Balikpapan Forest Industries. Tesis pada Program Pascasarjana Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman. Samarinda.
Masripatin, N. 2010. Implementasi REDD Indonesia: Apa yang Harus Dipersiapkan di Berbagai Level?. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Peningkatan Kapasitas Lokal dalam Rangka Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim. Samarinda.
Solichin dan Riyanto, B. 2010. Pemanfaatan IHMB untuk Pengukuran Karbon di Kawasan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Hutan Produksi Kalimantan Timur. Makalah disampaikan pada Roundtable Discussions: Peran IUUPHK dalam Mitigasi Perubahan Iklim di Sektor Kehutanan. Balikpapan.
Sutisna, M. 2005. Silvikultur Umum. Bahan Kuliah pada Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Samarinda.