Jurnal SAINTA Volume 1 Nomor 2 (2017): 60-106, p-ISSN 2580-4235 Faperta UNW Mataram
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFISIENSI PENGGUNAAN AIR
IR
IGASI SUMUR POMPA ARTESIS DI LAHAN KERING
(Factors that Influence the Efficiency of the Use of Artesian Water in Dry Land)
Aeko Fria Utama FR
Mahasiswa Program pascasarjana, pengelolaan lahan kering, Universitas Mataram
Jl. Pendidikan No. 37 Mataram
Email: [email protected]
ABSTRAK
Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan daerah yang sekitar 70% wilayahnya terdiri dari
lahan kering, yaitu sekitar 1.807.463 ha, namun, baru dikembangkan hanya sekitar 30% karena
adanya berbagai kendala. Salah satu kendala adalah keterbatasan air. Dalam mengatasi
permasalahan ini, pemerintah sudah banyak membangun sumur dan menyalurkan pompa irigasi
kepada petani. Kecamatan pringgabaya merupakan salah satu kecamatan dengan ketersediaan
lahan kering yang cukup luas. Di Kecamatan ini sudah tersedia sumur artesis serta pompa irigasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi efisiensi penggunaan
air sumur pompa artesis di lahan kering. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan
wawancara. Petani yang menjadi responden pada penelitian ini adalah petani yang menggunakan
air irigasi pompa sumur artesis yang dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu, petani jagung
dan petani bawang merah. Hasil penelitian meunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
efisiensi ekonomi. Pada tanaman jagung, faktor yang mempengaruhi efisiensi adalah faktor umur
dan pengalaman bertani, sedangkan pada tanaman bawang, faktor yang berpengaruh adalah faktor
pendidikan, pengalaman bertani dan jumlah tanggungan.
ABSTRACT
West Nusa Tenggara (NTB) is a region with vast dry land. The dry land is about 70% of
territory (1.807.463 ha), and has been developed about 30% due to various obstacles. One of the
obstacles is the lack of water. In addressing this problem, the government has built many wells
and distributed irrigation pumps to farmers. Pringgabaya sub-district is one of the sub-districts
with wide dry land availability. It is available artesian wells and irrigation pumps n this sub
district. This research aimed to know the factors that influence efficiency of the use of artesian
water in dry land. Data is collected by field observation and interview. Farmers who responded in
this study were farmers who irrigated their field with artesian water, and grouped into two groups
namely, corn farmers and onion farmers. The result showed that factors that affect economic
efficiency. In maize, the factors that influence the efficiency were age factor and farming
experience, while on the onion, influencing factors were education factor, farm experience and the
number of dependents.
___________________________________________________________
Jurnal SAINTA Volume 1 Nomor 2 (2017): 60-106, p-ISSN 2580-4235 Faperta UNW Mataram
PENDAHULUAN
Upaya peningkatan produksi pertanian
dengan menggunakan lahan subur beririgasi
seperti air sungai, danau, disinyalir telah
mengalami kejenuhan (
level off
), luas dan
kesuburan lahan pertanian terus menurun karena
konversi lahan pertanian ke non-pertanian yang
mencapai laju 100 ribu hektar per tahun pada
dekade terakhir (Arifin, 2007) dan penggunaan
lahan
yang
kurang
mengindahkan
aspek
keseimbangan
dan
kelestarian
lingkungan,
termasuk penggunaan pupuk kimia yang kurang
tepat (Priyanti, 2007).
Lahan kering adalah hamparan lahan yang
didayagunakan tanpa penggenangan air, baik
secara permanen atau musiman dengan sumber
air hujan atau irigasi (Suwardji, 2013). Tipologi
lahan ini dapat dijumpai baik di dataran rendah
(0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700 m
dpl) (Hidayat dkk., 2000
dalam
Suwardji, 2013).
Sektor pertanian masih merupakan salah satu
sektor andalan pembangunan di Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB) (Suwardji, 2013). Salah
satu kendala utama pengembangan lahan kering
adalah ketersediaan air yang sangat terbatas dan
kesuburan lahan kering yang terus menurun.
Masalah klasik dalam pengelolaan lahan
kering adalah langkanya air untuk irigasi, hanya
mengandalkan air hujan sehingga intensitas
pertanamannya rendah yaitu sekitar 100 persen
per tahun dibanding 300 persen bagi lahan
beririgasi. Upaya mengandalkan air hujan rentan,
terlebih jika dikaitkan dengan kesulitan dalam
prediksi iklim. Kegagalan tanam pada 15.766
hektar lahan kering di Pulau Lombok, akibat
musim kemarau yang berkepanjangan (El-Nino)
tahun 2007 (Pemda NTB, 2009), merupakan
salah satu contoh kerentanan pengelolaan lahan
kering jika mengandalkan air hujan. Masalah lain
dalam pengelolaan lahan kering adalah degradasi
dan fragmentasi lahan yang tinggi, topografi
berbukit (peka erosi), infrastruktur terbatas,
kelembagaan sosial ekonomi lemah, perhatian
pemerintah dan partisipasi swasta kurang
(Suwardji
dan
Tejowulan,
2003),
untuk
mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Daerah
NTB telah membangun pompa air tanah sejak
tahun 1981 yang beroperasi sampai sekarang.
Kini jumlahnya sudah mencapai 495 unit,
termasuk 314 unit yang dibangun melalui Proyek
Pengembangan Airtanah (P2AT) Departemen
Pekerjaan Umum. Lahan yang sudah bisa diairi
seluas 6.131 hektar dari potensi 385 ribu hektar.
Pemerintah Daerah NTB telah mengusulkan ke
pusat untuk pengembangan areal irigasi seluas
35 ribu hektar sampai 2013 (Bagian Proyek
Pengembangan Air Tanah Pulau Lombok NTB,
2000).
Secara teoritis, keberadaan irigasi dapat
meningkatkan produksi lahan baik melalui
peningkatan intensitas pertanaman maupun
peningkatan produktivitas lahan (Sudaryanto,
1980). Peningkatan produksi tersebut tidak
merata
antar
petani
karena
berbedanya
kemampuan manajerial petani yang berkaitan
dengan cara, waktu dan volume air yang
diberikan. Hal ini menyebabkan berbedanya
tingkat efisiensi irigasi. Irigasi dengan cara
mengalirkan air melalui parit bedengan lebih
efisien dari yang menggenangi lahannya tanpa
parit;
irigasi
yang
waktu
dan
volume
pemberiannya
disesuaikan
dengan
fase
pertumbuhan tanaman akan lebih efisien jika
dibandingkan dengan yang tidak disesuaikan.
Semua itu berkaitan dengan jumlah air efektif
yang diserap akar tanaman sesuai dengan
kebutuhan
pada
masing-masing
fase
pertumbuhan. Selain itu, kebutuhan air berbeda
antara tanaman satu dengan tanaman lain.
Tanaman padi memerlukan 1.900-5.000 liter air
untuk menghasilkan 1 kg gabah, jauh lebih
banyak dari kebutuhan air untuk tanaman
tembakau (Abdullah, 2012).
Berdasarkan uraian di atas maka dapat
dikatakan bahwa efesiensi penggunaan air pada
berbagai tanaman budidaya, terutama di lahan
kering sangat penting diketahui, agar dapat
memanfaatkan
air
secara
optimal
guna
memperoleh produksi yang maksimal. Oleh
karena itu penelitian ini telah dilakukan yang
berjudul “
efisiensi penggunaan air irigasi sumur
pompa artesis di lahan kering Kabupaten
Lombok Timur”.
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan
Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur, yang
dilaksanakan pada bulan Februari-April 2016.
Penelitian ini menggunakan metode
”
purposive
sampling
” dengan pertimbangan Kecamatan
Pringgabaya memiliki areal lahan kering terluas
dan memiliki sumberdaya air tanah dengan
sumur pompa terbanyak
Penelitian
ini
menggunakan
metode
deskriptif
yaitu metode yang bertujuan untuk
memecahkan masalah yang ada pada saat
sekarang dengan cara mengumpulkan data,
menyusun, serta menarik kesimpulan, sedangkan
bentuk pelaksanaannya adalah dengan teknik
survei (Surakhmad, 1990).
Jurnal SAINTA Volume 1 Nomor 2 (2017): 60-106, p-ISSN 2580-4235 Faperta UNW Mataram
tani. Responden ini selanjutnya dibagi menjadi
dua kelompok, yaitu, keompok petani jagung dan
kelompuk petani bawang merah. Penentuan besar
sampel petani responden dalam penelitian ini
diambil dengan menggunakan rumus Slovin
(Umar, 2000), yang berjumlah 64 responden
petani jagung dan 35 responden petani bawang
merah.
Analisis Data
Analisis
data
menggunakan
fungsi
produksi
Cobb Douglass
,
dengan asumsi bahwa
terdapat kecenderungan perbedaan efisiensi
antara petani jagung dengan petani bawang
merah, maka disusun dua fungsi produksi yaitu
fungsi produksi jagung dan fungsi produksi
bawang merah. Pembedaan fungsi produksi
tersebut disebabkan karena petani menggunakan
lebih banyak input buatan (pupuk dan obatan)
untuk tanaman bawang merah.
Variabel
bebas
yang
diteliti
pada
penelitian
ini
adalah
faktor-faktor
yang
mempengaruhi efesiensi penggunaan air pada
petani jagung dan bawang merah yaitu X1, X2,
X3, X4 dan X5 dan variabel terikat yang diteliti
adalah efisiensi penggunaan air (Y). Secara
matematis
model
fungsi
produksi
dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Y = b0 X1
b1X2
b2X3
b3X4
b4X
b5e
uFungsi
produksi
diatas
kemudian
ditransformasikan dalam bentuk linier logaritma
untuk memudahkan pendugaan terhadap fungsi
produksi, sehingga dapat dirumuskan sebagai
berikut:
X2 = jumlah benih yang digunakan (kg/ha)
X3 = pupuk urea yang digunakan (Kg/ha)
X4 = Obat tanaman (liter/ha)
X5 = Tenaga Kerja (HKO/ha)
b0 =
Intersept
b
= Parameter variabel
e = Bilangan natural (e = 2,7182)
u
= Unsur sisa (galat)
b1, b2, ...b5 = koefisien parameter yang
diestimasi untuk masing masing input
HASIL DAN PEMBAHASAN
DI lapangan banyak faktor yang dapat
mempengaruhi efisiensi penggunaan air oleh
petani, baik itu faktor eksternal maupun internal.
Tapi karena terkait dengan kendala-kendala
teknis di lapangan, maka pada penelitian ini
analisis faktor tersebut hanya fokus pada
beberapa faktor saja, seperti umur, pendidikan,
pengalaman bertani, jumlah tanggungan dan
status lahan. Berdasarkan pada yang telah
dipaparkan di atas, maka diketahui
masing-masing faktor diberikan dengan symbol Z1= usia
petani, Z2= tingkat pendidikan, Z3= pengalaman
bertani, Z4= jumlah tanggungan dan Z5= status
kepemilikan lahan. Hasil analisa menggunakan
SPSS21 disajikan pada tabel 8 dan tabel 9 di
bawah ini.
Tanaman Jagung
Dibawah ini ditampilkan hasil analisa
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
efisiensi
(Tabel 1).
Tabel 1. hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi.
Variabel
Β
t
P-Value
F
Significance
Konstanta
0,614
5,67
0,000
31,78
0,000
bUmur
-0,009
-5,55
0,000
Pendidikan
0,027
1,43
0,159
Tahun Pengalaman
0,018
12,24
0,000
Tanggungan
-0,002
-0,27
0,789
Status Lahan
0,009
0,40
0,693
R
2= 0,733
Adjusted R
2= 0,710
Sumber: Data Primer yang diolah
Dari Tabel 1 di atas, dapat dilihat bahwa,
secara bersama-sama kelima faktor tersebut
berpengaruh signifikan terhadap efisiensi. Hal ini
dapat dilihat dari nilai
significance
yang
dihasilkan untuk “F” yaitu sebesar
0,00. Nilai ini
lebih kecil dari taraf signifikansi yang digunakan
yaitu 0,05. Selanjutnya, Nilai “F hitung” yang
dihasilkan adalah sebesar 31,78, di mana dengan
DF1=5, DF2=58 dan α=0,05, “F tabel” yang
Jurnal SAINTA Volume 1 Nomor 2 (2017): 60-106, p-ISSN 2580-4235 Faperta UNW Mataram
Sementara jika dianalisa secara parsial,
ditemukan
hanya
ada
dua
faktor
yang
berpengaruh signifikan terhadap efisiensi yaitu,
Faktor “umur” dan “Pengalaman Bertani”. Hal
ini dapat dilihat dari nilai
significance
yang
dihasilkan untuk “t” pada kedua factor yaitu
sebesar 0,00. Nilai ini lebih kecil sama dengan
taraf signifikansi yang digunakan yaitu 0,025
(α/2=0,05/2=0,025).
Tanaman Bawang Merah
Dibawah ini ditampilkan hasil analisa
faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi.
Tabel 2. hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi
Variabel
Β
T
P-Value
F
Significance
Konstanta
0,037
0,759
0,454
9,56
0,000
bUmur
-0,001
-0,527
0,602
Pendidikan
0,026
2,441
0,021
Tahun Pengalaman
0,006
5,826
0,000
Tanggungan
-0,017
-2,577
0,015
Status Lahan
0,016
1,233
0,227
R
20,622
Adjusted R
20,557
Sumber: Data Primer yang diolah