• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keunggulan Kompetitif via Supply Chain (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Keunggulan Kompetitif via Supply Chain (1)"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Di atas telah dijelaskan bagaimana mencapai keunggulan kompetitif

melalui aktivitas logistik yang pada hakekatnya juga menunjang aktivitas supply chain, hanya seperti telah diterangkan di atas bahwa pada hakekatnya aktivitas supply chain adalah perpanjangan dan perluasan kegiatan logistik kearah upstream dan downstream.

Oleh karena itu pada hakekatnya usaha-usaha seperti yang sudah diterangkan di atas sama, hanya saja lebih luas. Kegiatan-kegiatan dalam supply chain yang mendukung pencapaian keunggulan kompetitif tadi adalah antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :

Mendukung Secara Umum

 Menghilangan sikap ‘membangun kerajaan sendiri’ khususnya di bagian seperti marketing dan

manufacturing

 Menyadari bahwa ‘competitive advantage’ perlu diusahakan agar perusahaan tetap dapat bertahan dan memelihara market share

 Mengembangkan logistic management menjadi supply chain management

 Mengusahakan sekaligus ke dua advantages, yaitu value advantage dan cost dan productivity advantage

 Mengembangkan hubungan partnership dengan organisasi upstream dan downstream

 Mengembangkan hubungan co-makership dengan para supplier

 Mengusahakan flow of information baik upstream maupun downstream secara akurat dan real time

 Menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi yang users’ friendly

 Melakukan training bersama dengan organisasi upstream dan downstream mengenai masalah yang menyangkut supply chain management

 Dan sebagainya

Mendukung value advantage

 Mencari jenis dan tingkat layanan yang dikehendaki oleh para konsumen

 Menciptakan dan mengembangkan tailored services yang lebih unggul berdasarkan kehendak konsumen tersebut

 Khusus di bidang logistik, layanan dapat berupa penyediaan barang setiap kali diperlukan,

delivery time yang cepat sesuai pesanan, penyediaan spare parts, penyediaan door to door service, penyediaan transpor yang handal dan sebagainya (reliability dan responsiveness)

 Dan sebagainya

Mendukung productivity advantage

 Mengurangi inventory sampai tingkat yang direncanakan (asset turnover)  Menggunakan kapasitas yang ada semaksimal mungkin (capacity utilization)

 Melakukan perencanaan bersama dengan semua mata rantai yang ada mengenai inventory

 Perencanaan ini meliputi juga antara fungsi procurement, inventory control, manufacturing dan

distribution

 Mengoptimalkan harga pembelian barang  Dan sebagainya

SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

HALAMAN 1 DARI 2 (C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013

Keunggulan Kompetitif via Supply Chain

oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - [email protected]

EKOJI

999

Nomor 393, 6 Oktober 2013

Artikel ini merupakan satu dari 999 bunga rampai pemikiran Prof. Richardus Eko Indrajit di bidang sistem dan

(2)

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa filosofi dari supply chain management adalah mengelola supply of goods sejak dari sumber bahan mentah sampai pada customers sebagai suatu kesatuan yang integratif dan bukan mengelola supply of goods sebagai suatu seri dari kegiatan-kegiatan yang terpisah-pisah. Jadi misi logistik dalam supply chain management adalah :

“To link the marketplace, the distribution network, the manufacturing process and the procurement activity in such a way that customers are serviced at higher levels and yet at lower cost. In other words to achieve the goal of competitive advantage through both cost reduction and service echancement” (Martin Christopher)

Selanjutnya Martin Christopher memberikan uraian lebih lanjut mengenai peran logistik ini sebagai berikut:

“In this scheme of things, logistics is therefore essentially an integrative concept that seeks to develop a system-wide view of the firm. It is fundamentally a planning concept that seek to create a framework through which the needs of the market place can be translated into strategy and plan for procurement. Ideally there should be a ‘one plan’ mentality within the business which seeks to replace the conventional stand-alone and separate plans of marketing, distribution, production and procurement. This, quite simply, is the mission of logistics in supply chain management”

Salah satu hal yang perlu digaris bawahi adalah mengembangkan hubungan partnering dan co-makership dengan organisasi baik upstream maupun downstream. Kedua istilah ini pada hakekatnya mengenai hal yang hampir sama hanya yang satu menekankan ‘kemitraan’ yang berlainan dengan ‘kemusuhan’ dan yang lain menekankan ‘kerjasama membuat barang bersama’ yang berlainan dengan ‘membuat barang sendiri’ seperti dijelaskan sebagai berikut :

“The basic philosophy of co-makership is that the supplier should be considered to be an extention of the customer’s factory with the emphasis on continuity and a ‘seamless’ end-to-end pipeline. As the trend to out-sourcing continues so must the move towards co-makership”.

akhir dokumen

---SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Referensi

Dokumen terkait

Dua skor rata-rata tertinggi adalah sikap men- tal dan kesetaraan (kedua skor rata-rata mem- punyai besar yang hampir sama). Komponen manfaat yang dirasakan dari kegiatan kelom- pok

Adanya subyek dan tujuan yang sama dalam pendidikan dapat dipahami pentingnya kerjasama dan hubungan antara kedua lingkungan itu. Kerjasama hanya tercapai apabila

Metode yang digunakan hampir sama dengan metode xylene, hanya saja penginduksi yang digunakan adalah asam arakhidonat yang diberikan secara topikal pada kedua permukaan

Pihak Pertama dan Pihak kedua sepakat, bahwa dasar bentuk kerjasama ini, adalah suatu kerjasama yang berdasarkan kesepakatan lahirbatin, saling mufakat, untuk bekerja sama yang

Pada nomor pengirim kedua isi SMS sama dengan nomor pengirim kelima dan menggunakan nomor yang sama hanya saja nomor TPS yang dikirim berbeda, karena security level 2 dapat

Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa proses manajemen kedua metode tahapnya hampir sama hanya saja yang membedakan adalah kontrain metode dan hasil

Meskipun keduanya menggunakan satu bahasa yang sama, yaitu Bahasa Madura, namun kedua narator dari kedua kota tersebut menggunakan dua istilah kata sapaan yang berbeda, yaitu

Berdasarkan hasil penilaian secara keseluruhan baik itu dimensi biaya, waktu dan kehandalan, rata – rata kinerja untuk kedua kelompok berada pada level yang sama