• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

Judul :

Pengembangan Komoditi Lokal Potensial di Lahan Gambut yang

Bernilai Ekonomis

KERJASAMA :

BADAN RESTORASI GAMBUT REPUBLIK INDONESIA

dan

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT,

UNIVERSITAS MULAWARMAN

DESEMBER

2017

(2)
(3)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tema ... 2 1.3. Tujuan ... 2 1.4. Bentuk Kegiatan ... 3 1.5. Pelaksana Kegiatan ... 23

1.6. Jadwal Kegiatan dan Tahapan Penelitian ... 23

1.7. Luaran ... 24

1.8. Pelaksana ... 26

BAB 2 BIDANG HASIL HUTAN NON KAYU 2.1. Kondisi Lingkungan ... 27

2.2. Potensi Hasil Bukan Kayu ... 33

2.3. Potensi Tumbuhan Hujan ... 35

2.4. Potensi Tumbuhan Penghasik Minyak Atsis ... 37

(4)

3.1. Data Perikanan Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah ... 47

3.2. Hasil Pengamatan Perikanan Kabupaten Pulang Pisau ... 48

3.3. Data Perikanan Kabupaten Amuntai Kalimantan Selatan ... 52

3.4. Hasil Pengamatan Perikanan Kabupaten Amuntai ... 59

3.5. Hasil Olahan Produk Perikanan Lahan Gambut ... 62

BAB 4 BIDANG PETERNAKAN 4.1. Potensi peternakan di Kabupaten Pulang pisau Kalimantan Tengah ... 64

4.2. Potensi peternakan di Kalimantan Selatan ... 65

4.3. Pemeliharaan itik alabio di Kecamatan Amuntai Kalimantan Selatan ... 66

4.4. Potensi bahan pakan lokal di Kalimantan Selatan ... 68

4.5. Uji kualitas nutrisi bahan pakan lokal ... 70

4.6. Keberlanjutan kegiatan ... 75

BAB 5 BIDANG PANGAN 5.1. Komposisi Gizi Pangan dari kawasan Gambut ... 77

5.2. Inovasi Potensi Pangan dari Lahan Gambut ... 98

5.3. Rencana Tindak Lanjut Penelitian Tahun Kedua dan Ketiga ... 101

(5)

Tabel 1.1. Jadwal Kegiatan dan Tahapan Penelitian ...

23

Tabel 1.2. Logical Framework (Log Frame) kegiatan penelitian ...

24

Tabel 2.1. Dekripsi Lokasi Penelitian Lahan Gambut di Kabupaten Pulang

Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar

Provinsi Kalimantan Selatan ...

30

Tabel 2.2. Tingkat Kematangan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi

Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan

Selatan ...

31

Tabel 2.3. Tingkat Kemasaman (pH) Gambut di Kabupaten Pulang Pisau

Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi

Kalimantan Selatan ...

31

Tabel 2.4. Kadar Hara Makro Utama Gambut di Kabupaten Pulang Pisau

Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi

Kalimantan Selatan ...

32

Tabel 2.5. Kadar Hara Makro Sekunder Gambut di Kabupaten Pulang Pisau

Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi

Kalimantan Selatan ...

33

Tabel 2.6. Produk komoditi hasil hutan bukan kayu unggulan dari KPH di

Kalimantan Selatan ...

34

Tabel 2.7. Jenis tumbuhan yang dominan tumbuh di hutan gambut ...

36

Tabel 2.8. Perhitungan nilai rendeman dan berat jenis minyak gelam ...

38

Tabel 2.9. Rendemen ekstrak dari masing-masing sampel tumbuhan dari

areal hutan gambut ...

39

(6)

Tabel 2.11. Hasil Pengujian Fitokimia Ekstrak Daun tumbuhan obat dari

Hutan Gambut dengan Pelarut Metanol ...

40

Tabel 2.12. Persentase Penghambatan (%) Radikal Bebas Ekstrak Metanol

dari Tumbuhan diduga Tumbuhan Obat yang Tumbuh di Areal

Gambut ...

41

Tabel 2.13. Persentase Penghambatan (%) Radikal Bebas Ekstrak Metanol

dari Tumbuhan diduga tumbuhan obat yang tumbuh di areal

gambut ...

42

Tabel 2.14. Aktivitas Antibakteri Daun Gelam terhadap Bakteri Acne ...

43

Tabel 2.15.

Aktivitas Penghambatan Enzim α glucosidase pada Sepuluh

Jenis Sampel Ekstrak Metanol dari Tumbuhan diduga dari

Kalteng dan Kalsel ...

44

Tabel 3.1. Volume produksi perikanan budidaya tahun 2011-2015 (ton) ..

46

Tabel 3.2. Volume produksi perikanan tangkap tahun 2011-2015 (ton) ....

47

Tabel 3.3. Hasil analisis proksimat olahan ikan ...

50

Tabel 3.4. Produksi perikanan budidaya air tawar Kebupaten 2007-2016

53

Tabel 3.5. Produksi ikan mas budidaya air tawar menurut Kabupaten, 2007

2016 ...

54

Tabel 3.6. Produksi ikan nila budidaya air tawar menurut Kabupaten, 2007 -

2016 ...

55

Tabel 3.7. Produksi ikan patin budidaya air tawar menurut Kabupaten, 2007

2016 ...

56

Tabel 3.8. Produksi ikan bawal tawar budidaya air tawar menurut

Kabupaten, 2007 - 2016 ...

57

(7)

Tabel 3.10. Hasil analisis proksimat olahan ikan ...

61

Tabel 4.1. Hasil Analisa proksimat bahan pakan di Lahan Gambut ...

71

(8)

Gambar 1.1. Hasil Kajian di laboratorium dan menjadi produk (Lab. Kimia

Hasil Hutan, Fahutan UNMUL) ...

... 4

Gambar 2.1. Alur pengolahan purun menjadi barang kerajinan ...

... 35

Gambar 2.2. Proses penyulingan minyak atsiri dari gelam (M. cajuput) ...

... 38

Gambar 3.1. Bapak Suherman pembudidaya ikan patin di Pulang Pisau

[A] dan kolam ikan patin milik pak Suherman [B] ...

... 48

Gambar 3.2. Ikan patin yang dibudidayakan di kolam pak Suherman [A]

dan pakan mandiri yang dibuat dari ikan rucah [B] ...

... 50

Gambar 3.3. Foto produk olahan bapak Yasir ...

... 51

Gambar 3.4. Foto Bersama dengan kepala program Dinas Kelautan dan

Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan ...

... 52

Gambar 3.5. Keramba ikan nila dan ikan mas milik pak Mulyadi [A] dan

keramba ikan nila [B] ...

... 59

Gambar 3.6. Pakan ikan yang diberikan untuk ikan nila dan ikan mas [A]

dan kondisi air dan kepadatan ikan pada keramba ikan nila

[B] ...

... 60

(9)

Gambar 3.8. Hasil olahan produk perikanan yang dijadikan oleh-oleh khas

Amuntai ...

... 61

Gambar 3.9. Tahapan memasak ikan haruan bumbu habang ...

... 62

Gambar 3.10. Desain produk ...

... 62

Gambar 3.11. Produk ikan lais ...

... 63

Gambar 3.12. Desain produk ...

... 63

Gambar 4.1. Aktivitas TIM BRG di Pulang Pisau Kalimantan Tengah ...

... 64

Gambar 4.2. Bahan pakan hijauan di Pulang Pisau ...

... 65

Gambar 4.3. Pemeliharaan itik alabio di lahan gambut ...

... 67

Gambar 4.4. Penetasan telur itik alabio ...

... 67

Gambar 4.5. Bahan pakan lokal di Amuntai Kalimantan Selatan ...

... 69

Gambar 5.1. Peneliti dan tanaman kelakai ...

... 99

(10)

Gambar 5.3. Keripik kelakai ...

... 100

(11)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Restorasi Gambut telah ditargetkan sebesar 2,4 juta Ha mulai tahun 2016 sampai 2020. Areal tersebut tersebar di 7 propinsi (Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Papua) dan 4 kabupaten prioritas (OKI, Musi Banyuasin, Kep. Meranti dan Pulang Pisau). Dari target restorasi tersebut, terdapat 1,4 juta Ha merupakan kawasan hutan yang dibebani hak, sehingga kegiatan restorasi menjadi kewajiban pemegang ijin, sedangkan 600 ribu ha merupakan hutan lindung dan kawasan konservasi. Dengan demikian hanya 400 ribu ha areal target restorasi di APL dan dapat melibatkan masyarakat.

Pendekatan restorasi yang diterapkan mencakup 3 hal utama yaitu rewetting (pembasahan kembali lahan gambut), revegetasi (penanaman kembali areal yang terbakar) dan revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Untuk melaksanakan tiga kegiatan utama restorasi tersebut dibutuhkan dukungan IPTEK untuk implementasinya, sehingga penerapan teknologi pada restorasi lahan gambut scientifically appproved (dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah) Disadari bahwa riset tentang restorasi telah dilakukan oleh beberapa pihak dan hasil-hasilnya telah tersedia, namun kajian penerapan hasil litbang yang terangkai untuk tujuan tertentu dan terintegrasi pelaksanaannya tetap diperlukan. Program Riset restorasi gambut di Badan Restorasi Gambut dititik beratkan pada riset terapan dan riset aksi dengan mengacu pada riset terdahulu yang dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi dan atau Institusi Penelitian. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama penelitian dengan institusi riset baik di Perguruan Tinggi

Bab

1

(12)

maupun di Kementerian yang dapat memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan BRG.

Kondisi di lapangan menunjukan bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang

sangat bergantung kepada nilai dan fungsi yang dikandung oleh lahan gambut. Produk

hutan rawa gambut dijadikan sebagai sandaran utama kehidupan masyarakat, baik

berupa kayu ataupun non-kayu, seperti buah-buahan, rotan, tanaman obat, dan ikan.

Sebagian lahan gambut yang dangkal atau berdekatan dengan lahan mineral kemudian

dijadikan sebagai wilayah pertanian. Namun, kegiatan pembangunan yang tidak

terkendali acapkali menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi lahan gambut, dan

pada akhirnya berimbas pula pada kehidupan masyarakat lokal yang hidupnya

bergantung pada keberadaan lahan gambut. Pembukaan hutan gambut dalam skala

besar hanya akan menyisakan kemiskinan bagi masyarakat, bukan saja karena hilang

atau menipisnya sumber daya pencaharian mereka, tetapi juga karena masyarakat lokal

harus mensubstitusi atau bahkan menyediakan upaya dan dana tambahan untuk

menggantikan fungsi dan manfaat lahan gambut yang menurun atau bahkan hilang akibat

kegiatan perusakan tersebut (Noor dan Heyde, 2007). Karenanya, revitalisasi mata pencaharian masyarakat di lahan Gambut sangat diperlukan melalui penelitian komoditi lokal potensial yang dilokasi tersebut.

1.2. Tema

Tema riset yang akan lakukan adalah Komoditi Lokal Potensial di Lahan Gambutdengan judul riset/kajian : “Pengembangan Komoditi Lokal Potensial di Lahan Gambut yang Bernilai Ekonomis”

(13)

Tujuan penelitian ini adalah

1. Mengidentifikasi potensi komoditas lokal di lahan gambut 2. Melakukan analisa pasar terhadap komoditi lokal

3. Mengembangkan komoditi potensial menjadi produk yang bernilai ekonomis 4. Menyampaikan rekomendasi intervensi pengembangan potensi komoditi lokal

1.4. Bentuk Kegiatan

Berdasarkan tujuan penelitian, bentuk dari kegiatan ini adalah penelitian lapangan dan laboratorium.

1.4.1. Penelitian lapangan terdiri dari :

1) Melakukan survey (random/purposive) untuk identifikasi komoditas lokal potensial di lahan Gambut yang berupa hasil hutan(kayu dan bukan kayu), pertanian (sayuran, pangan dll), perkebunan, peternakan, dan perikanan serta produk turunannya.Permenhut nomor P.35 tahun 2007, menyebutkan bahwa komoditas hasil hutan bukan kayu yang meliputi Kelompok Tumbuhan adalah Kelompok Resin (Damar, Gaharu dll), Minyak atsiri (Akar wangi, kayu putih dll), Minyak Lemak- Pati-Buah-Buahan (Balam, jamur, gadung, cempedak dll), Tanin-Bahan Pewarna-Getah (Gambir, angsana, Gemor dll), Tumbuhan obat-hias (Akar kuning, Tabat Barito, Anggrek hutan, Kantung Semar dll), Palma-Bamdu (Rotan, Bambu Apus dll), Alkaloid (Kina), Lainnya (Nipah dll). Sedangkan Kelompok Hewan adalah Kelompok Hewan Buru (Babi hutan, kancil dll), Hewan Hasil Penangkaran (Arwana, Rusa dll), Hasil Hewan (Burung walet, Lebah dll). Berdasarkan hasil penelitian Susilawati dkk (2015) tentang sumber daya genetik pertanian di Kalimantan Tengah termasuk di lahan Gambut terdiri dari tanaman buah, obat, pangan, hias, sayuran, perkebunan, dan ternak. (Dandun dan Suryadiputra, 2006) menyebutkan beberapa jenis ikan

(14)

perairan di lahan Gambut adalah Gabus, Baung, Saluang, Lais, Biawan, Jelawat, Belut dan lainnya.

2) Melakukan survey terkait harga komoditas lokal yang potensial pada tingkat lokal, regional dan nasional.

3) Mengambil dan mengumpulkan sampel di lapangan terkait komoditas lokal potensial di lahan Gambut untuk dikaji alternatif pengembangan produk olahan atau setengah jadi atau produk jadinya.

1.4.2. Penelitian Laboratorium

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji/analisis kualitas komoditi lokal potensial di lahan Gambut untuk ditingkatkan kualitas produknya dalam rangka pengembangan komoditas tersebut menjadi lebih baik(contohnya dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah).

Tahongai (Kleinhovia

hospita)

Teh Tahongai (Rp

75.000/box)

Blabetan

triplinerve)

(E.

Bedak Dingin (Rp

20.000/pot)

Gambar 1.1. Hasil Kajian di laboratorium dan menjadi produk (Lab. Kimia Hasil Hutan, Fahutan

UNMUL)

Pengujian komoditi lokal potensial berupa pangan (produk pertanian, perikanan, peternakan, hasil hutan, perkebunan) dilakukan dengan prosedur dibawah ini.

Metode analisis proksimat (Kadar air, kadar abu, lemak, protein, serat kasar, karbohidrat) adalah sebagai berikut:

1). Analisis Kadar Air(Sudarmadji dkk., 2010)

Prosedur kerja adalah menimbang dengan teliti 2 g bahan ke dalam cawan yang telah diketahui bobotnya, bahan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105oC selama 3 jam kemudian didinginkan dalam desikator. Perlakuan ini dilakukan secara perairan di lahan Gambut adalah Gabus, Baung, Saluang, Lais, Biawan, Jelawat, Belut dan lainnya.

2) Melakukan survey terkait harga komoditas lokal yang potensial pada tingkat lokal, regional dan nasional.

3) Mengambil dan mengumpulkan sampel di lapangan terkait komoditas lokal potensial di lahan Gambut untuk dikaji alternatif pengembangan produk olahan atau setengah jadi atau produk jadinya.

1.4.2. Penelitian Laboratorium

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji/analisis kualitas komoditi lokal potensial di lahan Gambut untuk ditingkatkan kualitas produknya dalam rangka pengembangan komoditas tersebut menjadi lebih baik(contohnya dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah).

Tahongai (Kleinhovia

hospita)

Teh Tahongai (Rp

75.000/box)

Blabetan

triplinerve)

(E.

Bedak Dingin (Rp

20.000/pot)

Gambar 1.1. Hasil Kajian di laboratorium dan menjadi produk (Lab. Kimia Hasil Hutan, Fahutan

UNMUL)

Pengujian komoditi lokal potensial berupa pangan (produk pertanian, perikanan, peternakan, hasil hutan, perkebunan) dilakukan dengan prosedur dibawah ini.

Metode analisis proksimat (Kadar air, kadar abu, lemak, protein, serat kasar, karbohidrat) adalah sebagai berikut:

1). Analisis Kadar Air(Sudarmadji dkk., 2010)

Prosedur kerja adalah menimbang dengan teliti 2 g bahan ke dalam cawan yang telah diketahui bobotnya, bahan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105oC selama 3 jam kemudian didinginkan dalam desikator. Perlakuan ini dilakukan secara perairan di lahan Gambut adalah Gabus, Baung, Saluang, Lais, Biawan, Jelawat, Belut dan lainnya.

2) Melakukan survey terkait harga komoditas lokal yang potensial pada tingkat lokal, regional dan nasional.

3) Mengambil dan mengumpulkan sampel di lapangan terkait komoditas lokal potensial di lahan Gambut untuk dikaji alternatif pengembangan produk olahan atau setengah jadi atau produk jadinya.

1.4.2. Penelitian Laboratorium

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji/analisis kualitas komoditi lokal potensial di lahan Gambut untuk ditingkatkan kualitas produknya dalam rangka pengembangan komoditas tersebut menjadi lebih baik(contohnya dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah).

Tahongai (Kleinhovia

hospita)

Teh Tahongai (Rp

75.000/box)

Blabetan

triplinerve)

(E.

Bedak Dingin (Rp

20.000/pot)

Gambar 1.1. Hasil Kajian di laboratorium dan menjadi produk (Lab. Kimia Hasil Hutan, Fahutan

UNMUL)

Pengujian komoditi lokal potensial berupa pangan (produk pertanian, perikanan, peternakan, hasil hutan, perkebunan) dilakukan dengan prosedur dibawah ini.

Metode analisis proksimat (Kadar air, kadar abu, lemak, protein, serat kasar, karbohidrat) adalah sebagai berikut:

1). Analisis Kadar Air(Sudarmadji dkk., 2010)

Prosedur kerja adalah menimbang dengan teliti 2 g bahan ke dalam cawan yang telah diketahui bobotnya, bahan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105oC selama 3 jam kemudian didinginkan dalam desikator. Perlakuan ini dilakukan secara

(15)

berulang hingga mencapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0,2 mg). Pengurangan berat bahan merupakan banyaknya air dalam bahan. Kadar air= berat awal sampel-berat akhir sampel/berat awal x100%

2). Analisis Kadar Abu(Sudarmadji dkk., 2010)

Analisis kadar abu dilakukan dengan cara pengabuan. Cara kerjanya yaitu cawan pengabuan disiapkan dengan cara dipanaskan di dalam oven dengan suhu 105oC selama ±4 jam, kemudian didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang. Sebanyak 2 g sampel ditimbang dalam cawan. Cawan berisi sampel dibakar di atas pembakaran bunsen dengan api sedang untuk menguapkan sebanyak mungkin zat organik yang ada. Cawan dipindahkan ke dalam tanur dan dipanaskan pada suhu 400oC kemudian suhu dinaikkan menjadi 600oC dengan waktu sesuai karakter bahan. Pengabuan dilakukan sampai terbentuk abu berwarna putih keabu-abuan. Selanjutnya suhu tanur diturunkan dan dapat dibuka setelah suhunya mencapai 100oC. Cawan diambil dengan hati-hati, dimasukkan ke dalam desikator, setelah dingin ditimbang.

Penyajian hasil analisis kadar abu dihitung berdasarkan bobot abu atau sisa-sisa pembakaran garam mineral tersebut dengan perhitungan sebagai berikut.

Kadar Abu= W2-W1/Wx100%

Keterangan :

W: bobot bahan (g)

W1:bobot cawan kosong (g) W2: bobot cawan dan abu (g)

(16)

Analisis lemak dapat ditentukan dengan menimbang 2 g sampel yang sudah dihaluskan dan dikeringkan. Sampel dimasukan ke dalam kertas saring dan dilipat, kemudian lipatan kertas saring yang berisi sampel dimasukan ke dalam tabung ekstraksisoxhlet. Lalu air pendingin dialirkan melalui kondensor. Tabung ekstraksi dipasang pada alat destilasi soxhlet dengan pelarut benzena 80 mL selama satu setangah jam dan titik uap benzena 80oC. Kemudian tabung ekstraksi yang berisi lemak dan minyak dipindah ke dalam labu soxhlet yang bersih dan sudah diketahui beratnya, kemudian diuapkan dengan penangas air sampai pelarut habis dan hanya lemak yang tersisa. Pengeringan diteruskan dalam oven dengan suhu 100oC selama 1 jam, kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Berat lemak dapat dihitung dengan rumus.

Kadar lemak = (berat bahan+botol timbang)-botol timbang (g)/berat sampel x 100%

4). Penentuan Kadar Serat Kasar(AOAC, 2005).

Digunakan sampel sisa penentuan kadar lemak. Ekstraksi pertama menggunakan larutan asam yaitu H2SO4sebanyak 200 mL (2,5 H2SO4 pekat/200 mL aquades) dimasukkan ke dalam erlenmeyer ukuran 500 mL dan ditutup dengan pendingin balik, kemudian dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit. Suspersi disaring menggunakan kertas saring dan residu yang tertinggal dalam erlenmeyer dicuci dengan aquades mendidih sampai air cucian tidak bersifat asam lagi (diuji dengan kertas lakmus biru).

Residu dari kertas saring dipindahkan ke dalam erlenmeyer kembali dengan spatula dan sisanya dicuci dengan larutan basa yaitu NaOH 200 mL (2,5 g NaOH/200 mL aquades) dimasukan ke dalam erlenmeyer, kemudian didihkan dengan pendingin balik selama 30 menit. Selanjutnya disaring dengan kertas saring yang sudah diketahui beratnya. Residu dalam kertas saring dicuci dengan aquades mendidih sampai air cucian tidak bersifat basa lagi (diuji dengan kertas lakmus merah). Kemudian dicuci lagi menggunakan larutan K2SO410%. Residu dicuci lagi dengan aquades mendidih dan kemudian dicuci dengan 15

(17)

110oC selama 1 jam, didinginkan dalam desikator 15 menit dan ditimbang. Berat residu=berat serat kasar (%).

5). Penentuan Kadar Protein (AOAC, 2005)

Analisis kadar protein menggunakan metode makro Kjeldahl dimana sampel ditimbang sebanyak 0,10 g lalu dimasukan ke dalam labu Kjeldahl 30 ml, kemudian ditambahkan 2,5 mL H2SO4 pekat, 1 g katalis dan aquades 1 mL dimasukkan ke dalam labu Kjeldahl. Larutan didestruksi hingga menghasilkan larutan jernih kehijauan kemudian didinginkan. Setelah dingin dinding dalam labu Kjeldahl dicuci dengan aquades, lalu ditambahkan 50 mL aquades, 10 mL larutan NaOH dan beberapa butiran boiling chips. Kemudian dilakukan destilasi. Distilat ditampung dalam erlenmeyer 100 mL yang berisi 10 mL larutan HCl 0,1 N dan 3 tetes larutan indikator (PP). Setelah mencapai 40 mL, destilat dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N dan dilakukan pula titrasi terhadap blanko sampai terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Kadar protein dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Perhitungan total N= ml HCl (Sampel-blanko)x N HCL x 14,008 x fp/berat contoh (g) Kadar Protein (%) = % N × 6,25

Keterangan:

T : Volume titrasi sampel (mL)

B : Volume titrasi larutan blanko (mL) N : Normalitas basa titran (NaOH) 14,008 : Berat atom nitrogen

6,25 : Faktor konversi protein untuk makanan W : Berat sampel (g)

(18)

6). Perhitungan Kadar Karbohidrat(AOAC. 2005)

Penentuan kadar karbohidrat menggunakanby difference dengan rumus sebagai berikut: %Karbohidrat = 100% -%(kadar air+kadar protein+kadar abu+kadar lemak) Untuk komoditi yang berupa pangan dan bukan pangan dilakukan juga beberapa uji laboratorium untuk mengetahui zat aktif dan potensi pemanfaatan lanjutan, uji tersebut adalah :

7).Ekstraksi/Maserasi sample dengan pelarut etanol

Sample tanaman kering (daun/bunga/kayu/kulit/buah/akar/pangan) sekitar 100 - 500 g dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a) dikeringkan (kadar kelembaban (MF)/air diukur), b) diblender atau dihaluskan, c)diekstraksi/maserasi dengan etanol, d) ekstrak etanol dievaporasi agar kering.

8).Uji fitokimia ekstrak

Uji fitokimia dilakukan pada komoditi yang telah ditentukan. Ekstrak tanaman yang telah kering, akan diuji fitokimia untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat dalam ekstrak sample tersebut. Uji fitokimia yang dilakukan terhadap beberapa golongan senyawa seperti :

Analisis fitokimia dilakukan dengan uji perubahan warna yang mengacu pada Harborne (1984) dan Kokate (2001) untuk menguji adanya senyawa aktif yang meliputi:

a.Pengujian Alkaloid (Kokate, 2001)

(19)

 Larutan I : 0,5 g bismut (III) nitrat + 6 ml asam asetat dan 24 ml aquades.  Larutan II : 12 g kalium iodida + 30 ml aquades.

 Larutan I + larutan II (1ml : 1 ml)

 1 ml larutan campuran ditambah 2 ml asam asetat dan 10 ml aquades, selanjutnya larutan siap untuk digunakan.

Sebanyak 5 ml ekstrak ditambahkan 2 ml HCl, kemudian dimasukkan 1 ml larutan Dragendorff. Perubahan warna larutan menjadi jingga atau merah mengindikasikan bahwa ekstrak mengandung alkaloid.

b.Pengujian Flavonoid (Kokate, 2001)

Sebanyak 1 ml ekstrak tumbuhan diberikan beberapa tetes natrium hidroksida encer (NaOH 1%). Munculnya warna kuning yang jelas pada larutan ekstrak dan menjadi tidak berwarna setelah penambahan asam encer (HCl 1 %) mengindikasikan adanya flavonoid.

c. Pengujian Saponin (Harborne, 1984)

Pengujian dilakukan dengan memasukkan sebanyak 10 ml air panas ke dalam tabung reaksi yang berisi 1 ml sampel uji yang telah dilarutkan dalam aseton. Selanjutnya larutan didinginkan dan dikocok selama 10 detik. Terbentuknya buih mantap selama kurang lebih 10 menit dengan ketinggian 1–10 cm dan tidak hilang bila ditambahkan 1 tetes HCl 2N menandakan bahwa ekstrak yang diuji mengandung saponin.

(20)

Pengujian dilakukan dengan memasukkan 10 ml larutan ekstrak ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan larutan timbal asetat (CH3COO)2Pb 1%. Tanin dinyatakan positif apabila pada reaksi terbentuk endapan kuning.

e.Pengujian Triterpenoid dan Steroid (Harborne, 1984)

Identifikasi dilakukan dengan menggunakan campuran asam asetat anhidrid dan asam sulfat pekat yang biasa dikenal dengan pereaksi Liebermann-Burchard. Pada pengujian ini 10 tetes asam asetat anhidrid dan 2 tetes asam sulfat pekat ditambahkan secara berurutan ke dalam 1 ml sample uji yang telah dilarutkan dalam aseton. Selanjutnya sampel uji dikocok dan dibiarkan beberapa menit. Reaksi yang terjadi diikuti dengan perubahan warna, apabila terlihat warna merah dan ungu maka uji dinyatakan positif untuk triterpenoid dan apabila terlihat warna hijau dan biru maka uji dinyatakan positif adanya steroid.

9). Uji anti enzim tirosinase, anti oksidan dan anti acne

Ekstrak tanaman yang telah dipersiapkan akan diuji bioaktifitasnya dengan uji atau bioassay yang berhubungan dengan perawatan kecantikan/kosmetik, seperti dibawah ini : a. Uji Antioksidan

Metode uji antioksidan yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan metode yang pernah dilakukan oleh Arung (2006). Uji dilakukan dengan menggunakan UV/VIS

spektrofotometer pada temperatur ruangan (25ºC) dan dengan aktivitas antioksidan dapat ditentukan melalui dekolorisasi dari larutan DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) pada panjang gelombang 514 nm.

Sampel uji ditimbang sebanyak 7,5 mg dilarutkan dalam DMSO sebanyak 500 µl. Sampel dimasukkan ke dalamcuvette sebanyak 33 µL, 467 µL etanol dan ditambahkan 500 µL

(21)

ml). Sampel di inkubasi selama 20 menit dalam ruangan yang minim akan cahaya dan dengan suhu ruangan . Pengujian dilakukan dengan konsentrasi yang berbeda-beda, yaitu 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm, 50 ppm, 25 ppm, dan 6,25 ppm. Digunakan vitamin C sebagai kontrol positif dan sebagai pembanding.

Aktivitas antioksidan ditentukan berdasarkan persentase reduksi dari penyerapan DPPH menggunakan persamaan, yaitu sebagai berikut:

Persentase reduksi dari penyerapan DPPH :

A DPPH(t) – A sample(t) x 100%

` A DPPH(t)

Dimana :

A DPPH(t) adalah penyerapan dari DPPH dalam waktu t A sample(t) adalah penyerapan dari sampel dalam waktu t

b. Uji anti ensimtirosinase

Uji antityrosinase dilakukan berdasarkan metode yang telah dilakukan oleh Arung et al., (2006). Uji dilakukan dengan menggunakan spektropotometer dengan temperature ruangan (25oC).Sebanyak 333L dari 2.5 mM L-Dopa dan 600 L dari 0.1 M phosphate buffer pada pH 6.8, ditambah 33 L contoh uji (yang dilarutkan dalam DMSO. Setelah itu, aktifitas enzimtyrosinase diukur dengan alat spektropotometer pada panjang gelombang 475 nm. Lalu data yang diperoleh dikalkulasi dengan rumus berikut :

Aktifitas tyrosinase (%) = (Atest sample/ Acontrol) x 100

(dimana, A = nilai rata-rata absorbansi dari tiga kali ulangan)

(22)

c. Uji Anti Bakteri

1.Penyiapan media tumbuh

Media yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri adalah Nutrient Agar (NA), dengan komposisi yaitu nutrient broth (pH 7.2) sebanyak 4 gram dan 7,5 gram bubuk agar yang dicampur dengan 500 ml aquadest.

Setelah itu media, dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer dan disumbat kapas rapat-rapat lalu ditutup dengan menggunakan aluminium foil. Agar diperoleh media yang steril, selanjutnya media tersebut dimasukkan ke dalamautclave selama 21 menit dengan tekanan 0,1 Mpa dan temperatur 121ºC dan peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pengujian juga disterilisasi menggunakan autoclave dengan suhu sebesar 121˚C selama 21 menit. Selama di masukkan ke dalam autoclave peralatan dibungkus menggunakan aluminium foil.(Kusumaet al.,2005).

2. Penyiapan kultur bakteri

Sebanyak 5 ml aquades steril dimasukkan ke dalam agar miring yang berisi kultur bakteri (Propionibacterium acnes, Staphylococus mutan, Salmonella typhii, E. coli dll) lalu gores permukaan agar miring dengan menggunakan spatula steril untuk melarutkan spora bakteri. Selanjutnya suspensi spora tersebut dimasukkan ke dalam botol sampel kemudian dihitung nilai % transmitansi dengan menggunakan UV/VIS spektrofotometer 530 nm.(Falahatiet al.,2005; Kusuma et al.,2005).

3. Pengujian anti bakteri (Metode Sumuran)

Uji anti Propionibacterium acne secara in vitro dengan metode difusi dimulai dengan mensterilkan petridish yang berisi natruim agar (NA) dengan menggunakan

(23)

autoclavepada suhu 121ºC selama 21 menit. Setelah itu pada keadaan aseptik (di dalam laminar flow) biarkan media mengeras, lalu tambahkan 100 µl suspensi spora bakteri dan diratakan dengan menggunakan kaca perata. Karena menggunakan metode sumuran, beri lubang pada media yang masing-masing berisi 20 µl sampel dengan susunan aseton sebagai kontrol negatif, kontrol positif yang digunakan adalah chloramphenicol, untuk kultur bakteri yaitu bakteridan ekstrak dalam beberapa konsentrasi (500 µg, 250 µg, dan 125 µg) (Kusumaet al.,2005).

10). Penyiapan Bahan Baku

Sampel kayu yang diperoleh dari lokasi penebangan kemudian dihilangkan kulitnya lalu dipotong dengan ukuran ± 2,5 cm menggunakan alat circular saw. Serbuk yang dihasilkan dari proses gergaji di kering udarakan kemudian diayak dengan ukuran 425 µm (pengujian proksimat dan ultimat) dan 355 µm (pengujian sifat kimia). Sampel yang telah diayak kemudian disimpan pada plastik klip agar kadar airnya konstan. Untuk persiapan bahan baku pengujian selanjutnya, dilakukan pengukuran faktor kelembaban untuk menentukan sampel OD (Oven Dried) dengan prosedur sebagai berikut (TAPPI T 264 om-88):

 Botol timbang yang bersih dan kering yang diisi dengan serbuk kayu ± 1 gram, kemudian dikeringkan dalam oven (105 ± 3oC) selama 4 jam. Kemudian didinginkan dalam desikator selama ± 15 menit lalu ditimbang.

 Pengeringan (dalam oven) dilakukan kembali selama 4 jam kemudian didinginkan kembali.

(24)

 Pengeringan dan penimbangan diulangi hingga beratnya konstan (selisih antara dua penimbangan terakhir 0,01 gram).

 Kemudian dihitungMoisture Factor (MF) dengan rumus sebagai berikut: MF = B/A

Dimana : MF = Faktor kelembaban (Moisture Factor) A = Berat Awal Sampel (gram)

B = Berat Akhir Sampel (gram)

Sampel kayu yang telah dipotong kemudian di chip menggunakan parang. Selanjutnya, sampel dimasukkan dalam kantong plastik yang ditutup rapat dan didiamkan selama ± 48 jam. Dengan prosedur yang sama dengan pengujian MF, kadar air chip kayu diukur sebagai berikut (TAPPI T 264 om-88):

MC (%) = ((A / B) / B) x 100 Dimana : MC = Kadar air (Moisture Content / %)

A = Berat awal sampel (gram)

B = Berat Kering Tanur Sampel (gram) 11). Pengukuran Biomassa

Pengukuran biomassa dilakukan setelah pemanenan untuk mengetahui berat kayu dengan volume tertentu yang diperoleh. Adapun prosedur pengukuran biomassa adalah sebagai berikut :

 SRC ditebang hingga pada bagian pangkal.  Pisahkan bagian batang dan daunnya.

 Ukur panjang dan diameter (pangkal dan ujung) batang.

 Kayu yang telah didapatkan kemudian dihitung volumenya (V) dengan rumus sebagai berikut (De Leon dan Uranga-Valencia, 2013):

V (m3) = x x l

Dimana : d = diameter (m) l = panjang (m)

(25)

 Potong kayu dengan ukuran panjang ± 5 cm (pangkal, tengah dan ujung) kemudian di kering tanurkan agar dapat diketahui nilai kerapatan kayu kering tanur.

 Perhitungan biomassa menggunakan rumus berikut (SNI 7724-2011): Biomassa (kg) = V x ρ

Dimana : V = Volume kayu (m3)

ρ = Kerapatan kering tanur (kg/m3)

12). Analisis Sifat Fisika

a. Pengukuran Kadar Air Segar

Pengukuran kadar air segar kayu SRC berbeda dengan pengukuran kadar air sampel kayu pada umumnya karena ukurannya yang relatif kecil. Adapun prosedur pengukurannya adalah sebagai berikut :

 Sampel kayu yang berupa trubusan setelah proses pemanenan di potong dengan ukuran panjang 5 cm pada bagian pangkal, tengah dan ujung kemudian dihilangkan kulitnya.

 Sampel dimasukkan kedalam plastik yang telah diketahui beratnya dan tertutup rapat untuk menghindari berkurangnya kadar air pada sampel.

 Sampel ditimbang, kemudian dikeluarkan dari plastik lalu dikeringkan pada oven dengan suhu 105 ± 3oC selama 2 x 24 jam.

 Timbang berat kering tanur sampel dan hitung kadar air segar sampel dengan menggunakan rumus berikut (TAPPI T 264 om-88):

MC (%) = x 100 Dimana : MC =Moisture Content (Kadar Air)

A = Berat sampel awal (gram)

(26)

b. Pengukuran Kerapatan Kayu

Dalam pengukuran kerapatan kayu SRC, digunakan sampel yang sama dengan sampel pengukuran kadar air segar. Setelah sampel kering tanur ditimbang, maka volumenya diukur kemudian dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (DIN 52182-76):ρ (g/cm3) = = Dimana :ρ = Kerapatan m = Massa (gram) v = Volume (cm3) d = Diameter (cm) t = Tinggi (cm)

13). Analisis Sifat Kimia

Pengujian komponen kimia meliputi kandungan ekstraktif, holoselulosa, α-selulosa dan lignin. Sampel yang digunakan berupa serbuk berukuran 40 mesh (355 µm). Untuk mendapatkan presentase kandungan kimia kayu, maka sampel harus bebas ekstraktif dengan menggunakan perlakukan ekstraksi menggunakan pelarut alkohol-benzena. a. Analisis Kandungan Zat Ekstraktif

Adapun prosesur analisis kandungan zat ekstraktif sesuai standar TAPPI T 204 om-88 adalah sebagai berikut:

 Alkohol dan benzena yang digunakan sebagai pelarut dicampur dengan perbandingan 1 : 2 kemudian dimasukkan dalam labu pada rangkaianreflux.

 Sampel yang telah diketahui MFnya ditimbang secukupnya dan dimasukkan kedalam kertas saring kemudian diikat menggunakan benang.

 Proses ekstraksi dilakukan dalam extraction flask selama 4-6 jam atau hingga larutan berwarna bening saat sampel terendam.

(27)

 Keringkan dalam oven pada suhu 105 ± 3oC selama ± 24 jam.

 Kemudian timbang berat kering tanur sampel dan hitung kandungan zat ekstraktif menggunakan rumus berikut:

Ekstraktif (%) = x 100

Dimana : A = Berat serbuk awal (gram)

B = Berat serbuk kering tanur (gram)

b. Analisis Kandungan Holoselulosa

Pengujian kandungan holoselulosa menggunakan metode TAPPI T 9m-54 yang telah dimodifikasi oleh Amirta (2006) dengan prosedur sebagai berikut:

 Natrium chlorite 0,2 gram dan asam asetat 40 µl dilarutkan dalam aquades 6ml sebagai pereaksi A.

 Natrium chlorite 0,2 gram dan asam asetat 40 µl dilarutkan dalam aquades 2 ml sebagai pereaksi B.

 Sampel yang telah bebas ekstraktif ditimbang 0,5 gram (OD) kedalam gelas vial 50 ml.

 Selanjutnya, ditambahkan pereaksi A 6 ml kemudian dipanaskan dalam waterbath selama 1 jam pada suhu 80oC.

 Setiap 1 jam, dilakukan penambahan pereaksi B 2 ml hingga 4 kali penambahan.  Setelah itu, gelas vial didinginkan dalam air es lalu disaring menggunakan kertas

saring yang telah diketahui beratnya.

 Keringkan dalam oven pada suhu 105 ± 3oC selama ± 24 jam.

 Kemudian timbang berat kering tanur sampel dan hitung kandungan holoselulosa menggunakan rumus berikut:

(28)

Holoselulosa (%) = Dimana: A = Berat awal sampel (gram)

B = Berat sampel kering tanur (gram) c. Analisis Kandungan α-Selulosa

Pengujian kandungan α-selulosa menggunakan metode TAPPI T 9m-54 yang telah dimodifikasi oleh Amirta (2006) dengan prosedur sebagai berikut:

 Sampel yang berupa fraksi holoselulosa ditimbang 0,2 gram (OD) dalam gelas beaker 50 ml.

 Kemudian, ditambahkan 5 ml 17,5% sodium hidroxide lalu diamkan selama 5 menit.  Selanjutnya, diaduk dengan spatula kaca selama 5 menit, kemudian didiamkan

selama 20 menit.

 Setelah itu, ditambahkan 5 ml aquades dan aduk hingga 5 menit.

 Sampel dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 ml yang berisi 150 ml aquades dan 8 ml asam asetat 10 % dan diamkan selama 5 menit.

 Sampel disaring menggunakan kertas saring yang sudah diketahui beratnya dan bilas dengan menggunakan aquades yang sama sebanyak 1 kali kemudian bilas dengan aquades baru hingga aroma asam asetat hilang.

 Keringkan dalam oven pada suhu 105 ± 3oC selama ± 24 jam.

 Kemudian timbang berat kering tanur sampel dan hitung kandungan α-selulosa menggunakan rumus berikut:

α-Selulosa (%) = x 100 Dimana : A = Berat awal sampel (gram)

B = Berat kering tanur sampel (gram)

d. Analisis Kandungan Lignin

Pengujian kandungan lignin menggunakan metode TAPPI T 222 om-88 yang telah dimodifikasi oleh Amirta (2006) dengan prosedur sebagai berikut:

(29)

 Sampel yang telah bebas ekstraktif ditimbang 0,5 gram (OD) kedalam gelas beaker 50 ml.

 Kemudian ditambahkan 4,5 ml asam sulfat 72% secara bertahap menggunakan biuret sambil didispersi dengan spatula kaca. Dalam proses ini, temperatur sampel dijaga pada 20 ± 1oC dengan cara meletakkan gelas beaker pada cawan petri yang diisi air dan potongan es batu.

 Aduk sampel menggunakan magnetic stirrer selama 2,5 jam dan tutup dengan alumunium voil serta pertahankan temperaturnya pada 20 ± 1 oC dengan cara yang sama.

 Selanjutnya, sampel dituang pada erlenmeyer 250 ml dan ditambahkan aquades 171 ml lalu tutup dengan alumunium voil.

 Setelah itu, sampel dimasukkan kedalam autoclave selama 30 menit pada suhu 121 oC.

 Kemudian, sampel disaring menggunakan kertas saring yang yang telah diketahui beratnya.

 Keringkan dalam oven pada suhu 105 ± 3oC selama ± 24 jam.

 Kemudian timbang berat kering tanur sampel dan hitung kandungan holoselulosa menggunakan rumus berikut:

Lignin (%) = x 100 Dimana: A = Berat awal sampel (gram)

B = Berat sampel kering tanur (gram) 14). Analisis Proksimat

Analisis proksimat meliputi pengujian komponen abu, zat terbang dan karbon terikat. Sampel yang digunakan berupa serbuk tepung berukuran < 250 µm. Adapun prosedur pengujian adalah sebagai berkut :

(30)

Pengujian kadar abu menggunakan standar ASTM D 3174-12 dengan langkah sebagai berikut :

 Serbuk sebanyak 1 gram dimasukkan dalam cawan porsein yang bersih dan kering yang sudah diketahui beratnya.

 Cawan beserta isinya dimasukkan dalam furnace dengan suhu 300oC selama satu jam, kemudian suhu dinaikkan menjadi 400 oC, lalu dinaikkan menjadi 500 oC setelah satu jam, dan selanjutnya suhu diatur menjadi 575 ± 25oC.

 Proses pengabuan dilakukan selama 3 jam.

 Cawan yang berisi abu didinginkan dalam desikator selama 45 menit, kemudian ditimbang beratnya.

 Perhitungan kadar abu menggunakan rumus berikut :

Kadar Abu (%) = x 100 Dimana : M0 = Berat sampel awal (gram)

Ma1= Berat sampel akhir (gram) setelah pemanasan pertama

b. Analisis Proporsi Zat Terbang

Pengujian zat terbang menggunakan standar ASTM D 3175-11. Sampel abu yang telah ditimbang kemudian dipanaskan kembali hingga mencapai temperatur 950 oC selama 30 menit dalam furnace. Selanjutnya, sampel tersebut didinginkan dalam desikator selama 2 jam lalu ditimbang beratnya. Perhitungan proporsi zat terbang menggunakan rumus berikut :

Zat Terbang (%) = Dimana : M0 = Berat sampel awal (gram)

Ma2= Berat sampel akhir (gram) setelah pemanasan kedua Ka = Kadar air (%)

(31)

Nilai karbon terikat dihitung menggunakan standar ASTM D 4239-123. Proses perhitungan dilakukan dengan mengurangi nilai 100 dengan nilai kadar abu, kadar air dan proporsi zat terbang.

Karbon Terikat (%) = 100 – (Kadar Air + Kadar Abu + Zat Terbang)

15). Analisis Ultimat

Analisis ultimat yang merupakan elemental composition diantaranya adalah karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) dihitung berdasarkan rumus yang dikemukakan oleh Parikhet al., (2007) sebagai berikut :

C (%) = 0.637 FC + 0.455 VM H (%) = 0.052 FC + 0.062 VM O (%) = 0.304 FC + 0.476 VM Dimana : FC =Fixed Carbon (karbon terikat)

VM =Volatile Matter (zat terbang)

16). Perhitungan Nilai Kalor

Pengujian Nilai Kalor menggunakan standar ASTM D 5865-123 dengan langkah sebagai berikut :

 Serbuk halus ditimbang sebanyak 0,5 gram pada cawan besi, kemudian dimasukkan kedalambomb calorimeter.

(32)

 Sampel dimasukkan kedalam cawan dan disiapkan kawat untuk penyala dengan menggulungnya dan memasangnya pada tangki penyala yang terpasang pada penutupbomb, lalu cawan berisi sampel diletakkan pada ujung tangki penyala.  Sampel kemudian didinginkan dalam desikator sampai suhu kamar kemudian

ditimbang.

 Alat bomb ditutup dengan kuat setelah dipasang ring O dengan memutar penutup tersebut kemudian oksigen dimasukkan kedalambomb dengan tekanan 30 bar.  Alatbomb yang telah terpasang ditempatkan kedalam calorimeter lalu dimasukkan

air pendingin sebanyak 1250 ml, ditutup calorimeter dengan alat penutupnya dan dihidupkan pengaduk air pendingin selama 5 menit lalu dicatat temperatur air pendingin.

 Setelah 5 menit kemudian dihidupkan penyalaan dengan menggunakan tombol yang paling kanan dan diaduk terus air pendingin selama 5 menit setelah penyalaan berlangsung, dibaca dan dicatat kembali temperatur air pendingin lalu dimatikan pengaduk.

 Penentuan nilaiGross Calorivic Value dihitung menggunakan persamaan : GCV (kkal/kg) = T2 – T1 – 0,05 x Cv x 0,24

Dimana : T1 = Suhu air mula-mula (oC) T2 = Suhu setelah pembakaran (oC)

0,05 = Suhu akibat kenaikan panas pada kawat Cv = Berat jenis calorimeter (73529,6 kJ/kg) 0,24 = Konstanta 1 J (0,24 kal)

17). Perhitungan Nilai Kalor Tertinggi (Higher Calorivic Value)

Perhitungan nilai kalor tertinggi atau Higher Calorific Value (HCV) menggunakan rumus dari Parikhet al. (2007) dengan nilai eror tidak lebih dari 3,74% sebagai berikut:.

HCV (MJ kg-1) = 0.3536 FC + 0.1559 VM – 0.0078 AS Dimana : FC =Fixed Carbon (karbon terikat)

(33)

VM =Volatile Matter (zat terbang) AS =Ash (kadar abu)

19). Analisis Potensi Bahan Baku Pembangkit Listrik a. Analisis Kebutuhan Bahan baku

Kebutuhan bahan baku dihitung berdasarkan kebutuhan chip kayu dalam satuan volume (m3) tiap ton biomassa pada kadar air ≤ 30%. Adapun prosedur perhitungannya adalah sebagai berikut (Francescatoet al., 2008) :

Bahan Baku (kg/m3) = (( ρ x ( 1 + (MC / 100 ))) / 1.07) / 2,14 Dimana : ρ = Kerapatan (dalam kg/m3)

MC = Kadar Air (%) b. Analisis Potensi Energi

Analisis potensi energi dihitung menggunakan rumus dari Francescato et al. (2008) sebagai berikut :

Potensi Energi (MWh/m3) = (( Cal x ( 1,163 / 1000 )) - ( 0,06 x MC ) x ρ Dimana : Cal = Kalori (kkal/kg)

MC = Kadar Air (%) ρ = Kerapatan (gr/cm3)

1.5. PELAKSANAAN KEGIATAN

Tempat : Lahan Gambut di Kalimantan Tengah, dan Selatan. Waktu : Mei - November 2017

1.6. JADWAL KEGIATAN DAN TAHAPAN PENELITIAN

Aktivitas riset tahun pertama (2017) dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Dikarenakan tim Universitas Mulawarman belum mengetahui komoditi lokal yang

(34)

potensial di lokasi Gambut, maka untuk tahun kedua (2018) baik itu jadwal dan anggran penelitiannya belum dibuat. Pada prinsipnya tahun kedua (2018), akan difokuskan untuk pengembangan dari produk lokal potensial yang ada berdasarkan hasil survey dilapangan oleh tim.

Tabel 1.1. Jadwal Kegiatan dan Tahapan Penelitian

No. Kegiatan 5 6 7Bulan (2017)8 9 10 11

1. Konsolidasi Tim

2. Pengambilan Data di lapangan (Lokasi Gambut di Kal-Teng dan Kal-Sel)

3. Pengujian Laboratorium komodita lokal atau tanaman potensial dan Pengembangan Produk berbasis komoditi lokal

4. Laporan Antara 5. Laporan Akhir

(35)

Tabel 1.2. Logical Framework (Log Frame) kegiatan penelitian

Aspek

Rencana/Kegiat

an

Indikator

Sumber Bukti

Tempat

Kegiatan

Keterangan

Pengambilan

Data di lapangan

(komoditas

potensial

ekonomis) dan

tempat/institusi

terkait

Data yang

diinginkan

tersedia

Data/Foto dan

lainnya

Lahan Gambut

di Kalimantan

Selatan dan

Kalimantan

Tengah

Akan dikerjakan

tim UNMUL

dan melibatkan

tim UNLAM

Pengambilan

sampel fisik di

lapangan

(komoditas

potensial

ekonomis) untuk

diuji dilab

Jumlah

komoditi/sampel

yang dibutuhkan

terpenuhi untuk

diuji di lab

Data/Foto dan

hasil pengujian

di lab

Lahan Gambut

di Kalimantan

Selatan dan

Kalimantan

Tengah

Akan dikerjakan

tim UNMUL

dan melibatkan

tim UNLAM

Pengujian

Laboratorium

komodita lokal

atau tanaman

potensial dan

Pengembangan

Produk berbasis

komoditi lokal

Data hasil uji lab

tersedia/ada sesuai

yang diharapkan

Laporan hasil

pengujian oleh

lab/Foto

Kalimantan

Timur

(UNMUL)

Akan dikerjakan

tim UNMUL

dan melibatkan

tim UNLAM

Analisis data dan

hasil uji lab

Ada hasil analisis

baik data dan uji

lab

Laporan hasil

analisis data dan

uji lab

Kalimantan

Timur

(UNMUL)

Akan dikerjakan

tim UNMUL

Pengembangan

komoditi lokal

yang bernilai

ekonomis

Ada 1-3 komoditi

yang

dikembangkan

untuk jadi produk

yang bernilai

ekonomis/mening

katkan nilai

tambah

Komoditi

dengan

dukungan data

uji lab yang

bernilai

ekonomis

Kalimantan

Timur

(UNMUL)

Akan dikerjakan

tim UNMUL

(36)

Secara ringkas tahapan kegiatan disajikan pada bagan alir berikut ini :

Tahapan Kegiatan

Luaran

Indikator Keberhasilan

Status

Pengambilan Data

dan Sampel

komoditi

Data Komoditi

lokal/Harga

pasar serta

Sampel

Data yg diharapkan

tersedia dan sampel dlm

jumlah yg cukup

Akan

dilaksanakan

Penyiapan komoditi

utk uji lab/uji

kualitas

Hasil ekstrak

atau bahan

siap uji lab

Ekstrak atau bahan siap

uji dari komoditi

tersedia cukup

Akan

dilaksanakan

Uji kualitas/uji lab

komoditi &

Pengembangan

produk bernilai

ekonomis

Data uji

kualitas/ lab

Data uji kualitas/lab

dari komoditi diketahui

& Pengembangan

produk bernilai

ekonomis

Akan

dilaksanakan

Pelaporan

Laporan

penelitian

(antara &

akhir)

Laporan hasil penelitian

dapat disusun dan

dikirim ke BRG

Akan

dilaksanakan

1.7. LUARAN

Luaran peneltian ini adalah

1). Data komoditas lokal potensial di lahan Gambut 2). Data analisis pasar komoditas lokal tersebut

3). Produk hasil pengembangan komoditi lokal berbasis uji kualitas/lab untuk menjadi produk bernilai ekonomis

(37)

1.8. PELAKSANA

Penelitian ini adalah kolaborasi antara Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman. Adapun susunan tim penelitian LP2M Universitas Mulawarman adalah sebagai berikut :

Tim Peneliti :

1. Prof. Dr. Susilo, S.Pd, M.Pd (Penanggung Jawab Kegiatan-Ketua LP2M) 2. Prof. Dr. Enos Tangke Arung, PhD (Ketua Pelaksana Kegiatan-Fak Kehutanan) 3. Dr. Rudianto Amirta(Anggota-Fak Kehutanan-Keahlian Bioenergi)

4. Dr. Widi Sunaryo (Anggota-Fak Pertanian-Keahlian Tanaman Pangan)

5. Prof. Dr. Bernatal Saragih (Anggota-Fak Pertanian-Keahlian Pengolahan Pangan) 6. Dr. Enih Rosamah (Anggota-Fak Kehutanan-Keahlian Hasil Hutan Bukan Kayu) 7. Ir. Edi Sukaton, M.Si (Anggota-Fak Kehutanan-Keahlian Hasil Hutan Bukan Kayu) 8. Ir. Julinda Manulang, M.Si (Anggota-Fak Pertanian-Keahlian Pakan Ternak/Produk

Ternak)

9. Dr. Esti Handayani Hardi (Anggota-Fak Perikanan-Keahlian Pengolahan ikan) 10. Dr. Wahyuni ((Anggota-Fak Kehutanan-Keahlian Tanah Hutan)

(38)

BIDANG HASIL HUTAN NON KAYU

2.1. Kondisi Lingkungan

2.1.1. Letak, luas dan batas wilayah

Secara administrasi pemerintahan lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah yang berada di Propinsi Kalimantan Tengah dan Propinsi Kalimantan Selatan, yakni: wilayah KPHP Kahayan Ilir Unit XXXI Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah serta Wilayah KPHP Banjar Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.

Berdasarkan geografisnya, Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah terletak di daerah khatulistiwa, yaitu antara 0-100° LS dan 110-120° BT sedangkan KPHP Banjar Provinsi Kalimantan Selatan berada di bagian Timur wilayah Kabupaten Banjar secara geografis wilayah tersebut terletak antara 20°49'47,67”–30°25'41,55” LS dan 115°1'23,46”–115°35'49,32” BT.

Areal hutan yang dimiliki oleh KPHP Kahayan Hilir Unit XXXI seluas 369.968 ha dan sebagian besar atau hampir 90% wilayahnya merupakan lahan gambut. Wilayah Kahayan Hilir mayoritas ditempati oleh masyarakat transmigran, sedangkan wilayah Kahayan Hulu dan Tengah banyak ditempati oleh penduduk asli.

Luas wilayah KPHP Banjar adalah 138.586,40 ha dengan batas wilayah: sebelah Utara berbatasan dengan KPHL Hulu Sungai Selatan, sebelah Timur dengan KPHL Sengayam, KPHP Cantung dan KPHP Tanah Bumbu; sebelah Barat berbatasan dengan APL wilayah kabupaten Banjar dan kabupaten Tapin, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam. Secara administrasi wilayah KPHP Banjar mempunyai batas-batas : a. Sebelah Timur kabupaten Kotabaru dan Tanah Bumbu; b. Sebelah Selatan Taman Hutan Raya Sultan Adam (Kabupaten Banjar); c.

(39)

Sebelah Barat kabupaten Tapin; dan d. Sebelah Utara kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) (Purnomo, 2014).

2.1.2. Iklim

Kabupaten Pulang Pisau termasuk daerah beriklim tropis dan lembab dengan suhu berkisar antara 26,5 - 27,5 °C. Suhu maksimum mencapai 32,5 °C dengan panjang penyinaran matahari di atas 50%. Hujan terjadi hampir sepanjang tahun berkisar antara

2.000-3.500 mm setiap tahun dan curah hujan terbanyak terjadi antara bulan

Oktober - Desember serta antara bulan Januari – Maret.Bulan kering terjadi antara

bulan Juni-September (

Kabupaten Pulang Pisau, 2012). Berdasarkan Sistem

Klasifikasi Iklim Schmitdh dan Ferguson Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan

Tengah termasuk wilayah bertipe iklim B dengan nilai Q (

Quotient) yaitu rasio

rataan jumlah bulan kering dan dengan rataan jumlah bulan basah sebesar 0,14

(

Firmansyah dkk, 2011).

Berdasarkan analisis data curah hujan selama kurun waktu 13 tahun, yaitu Tahun 1999 hingga Tahun 2011 (BPS Kabupaten Banjar, 2011) tipe iklim wilayah KPHP Banjar menurut Sistim Klasifikasi Iklim Scmidth dan Fergusson adalah B dengan nilai Q, sebesar 0,142.

2.1.3. Vegetasi

Vegetasi alami yang banyak tumbuh di kawasan gambut terutama adalah jenis-jenis kayu Belangiran (Shorea belangeran) dan Gelam (Melaleuca leucadendron) dan jenis-jenis ini merupakan tumbuhan kayu-kayuan penciri di areal gambut.Kayu Gelam, terutama yang berdiameter > 60 cm telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kayu konstruksi berskala lokal. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan masyarakat di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah justru mempunyai keinginan akan mengembangkan tanaman Sengon untuk memenuhi kebutuhan kayu

(40)

lokal dengan alasan mengikuti trend kayu Sengon yang sedang mengemuka di tempat-tempat lain maupun pangsa pasarnya yang menjanjikan, bahkan di daerah ini telah direncanakan pula membangun industri untuk pengolahan Kayu Sengon.

Selain kedua jenis tumbuhan berkayu tersebut, jenis vegetasi berkayu dominan lainnya di lahan gambut adalah Tumih atau Merapat (Combretocarpus rotundatus (Miq ) dan Pulai (Alstonia pneumatophora) sedangkan tumbuhan bukan kayu yang dominan dan memiliki potensi kemanfaatan adalah Purun (Lepironia articulata ) dan Karamunting (Melastoma malabathricum).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari lapangan bahwa di Wilayah KPHP Kahayan Hilir Provinsi Kalimantan Tengah masih banyak ditemukan satwa seperti Bekantan, Bangau, Belibis dan Buaya. Hal ini merupakan potensi lain yang dimiliki oleh daerah tersebut. Namun, selain itu masyarakat di wilayah ini banyak juga yang membudidayakan burung walet untuk dipanen sarangnya.

2.1.4. Karakteristik dan kesuburan tanah

Persebaran jenis tanah di wilayah Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah mengikuti pola kondisi topografinya. Di Bagian Selatan, jenis tanah yang dominan adalah tanah gambut, yaitu sebesar 2.789 km2. Wilayah ini berupa pantai/pesisir, rawa– rawa dengan ketinggian antara 0-5 m.

Topografi wilayah Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan umumnya landai hingga berbukit dan sebagian merupakan daerah curam dengan kelas kelerengan antara 0 hingga > 40%. Berdasarkan Peta Tanah Bagan Provinsi Kalimantan Selatan skala 1:1.000.000, tanah yang dominan adalah Podsolik Merah Kuning dengan luasan sebesar 116.689,56 ha selebihnya ditempati jenis tanah lainnya, yaitu: kompleks podsolik merah kuning dan laterit, latosol dan podsolik merah kuning.

Karakteristik tanah di wilayah penelitian diamati berdasarkan sifat fisik dan morfologinya berupa kematangan dan ketebalan gambut serta sifat kimia berupa

(41)

kemasaman tanah (pH) baik dengan pelarut air (H2O) maupun dengan pelarut KCl 0,1 N, kadar total unsur hara (N, P, K, Ca, Mg) dan kadar C-organik. Contoh tanah diambil di lapangan secara komposit di masing-masing titik pengamatan yang ditetapkan secara purposive berdasarkan keterwakilan lingkungan tempat tumbuh vegetasi dominan yang berpotensi untuk dibudidayakan.Baik di wilayah Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, masing-masing ditetapkan 2 (dua) titik pengamatan, yakni di areal KPHP Kahayan Ilir Unit XXXI Kabupaten Pulang Pisau dan di wilayah KPHP Banjar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Berikut deskripsi lokasi titik-titik pengamatan yang diteliti (Tabel 2.1)

Tabel 2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Lahan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.

Provinsi PenelitianLokasi Vegetasi AlamiDominan LokasiKode Keterangan

Kalimantan Tengah KPHP Kahayan Ilir Unit XXXI Kabupaten Pulang Pisau Belangeran (Shorea belangeran) KT - I

Hutan kota di areal perkantoran KPHP Kahayan Ilir Unit XXXI Kabupaten Pulang Pisau Tumih atau Merapat

(Combretocarpus rotundatus Miq.), Karamunting (Melastoma malabathricum) KT - II Desa Tanjung Taruna Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Selatan KPHP Banjar Kabupaten Banjar Gelam (Melaleuca leucadendron), Dadangkak (Hydrolea spinosa L.) KS – III Jl Sriwijaya, RT 04 RW 02, Kel. Landasan Ulin Utara, Kec Liang Anggang,

Banjarbaru

Gelam KS - IV

Hasil pengamatan di lapang menunjukkan bahwa seluruh titik pengamatan kedalaman gambutnya tergolong dangkal < 2 m. Gambut yang diamati di titik pengamatan Kalimantan Tengah lebih dalam dibanding dengan di Kalimantan Selatan, yaitu 180 cm (KT – I) dan 160 cm (KT – II) sedangkan di Kalimantan Selatan kedalaman gambutnya < 150 cm, yaitu 80 cm (KS – III) dan 140 cm (KS – IV).

Soil Survey Staff menyatakan bahwa tingkat keamatangan atau tingkat dekmposisi gambut dilihat dari tingkat dekomposisi dari bahan serat atau tumbuhan asalnya.Tingkat kematangan gambut dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu fibrik, hemik dan saprik.Diantara

(42)

ketiganya tingkat kematangan tertinggi adalah sapric, yaitu apabila kandungan serat yang tertinggal dalam telapak tangan setelah pemerasan kurang dari ¼ bagian.Hasil uji kematangan gambut dilakukan di Laboratorium Tanah dan Nutrisi Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Tabel 2.2) menunjukkan bahwa sebagian besar lahan gambut yang diamati sudah berada pada tingkat kematangan Saprik.Di antara titik-titik yang diamati titik-titik pengamatan KT – II tingkat kematangan gambutnya paling buruk sebab di titik tersebut kondisi sekitarnya masih tergenang karena belum ada budidaya pertanian yang dilakukan ditempat tersebut.Hal ini juga ditunjukkan oleh nilai C-N rasio yang lebih tinggi dibanding titik pengamatan lainnya.

Tabel 2.2. Tingkat Kematangan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan Kedalaman

Gambut (cm)

C/N Kematangan

KT – I KT – II KS – III KS - IV KT – I KT – II KS – III KS - IV

0 - 20 7,44 18,03 8,97 7,89 Saprik Hemik Hemik Hemik

20 - 50 6,68 13,77 9,56 8,35 Saprik Saprik Saprik Saprik 50 - 100 8,12 23,87 11,95 10,89 Saprik Hemik Hemik Saprik

100 - 150 11,84 12,39 11,27 Saprik Hemik Saprik

150 - 200 11,37 Saprik

Reaksi tanah atau secara umum lebih dikenal dengan sebutan pH tanah merupakan cerminan reaksi-reaksi yang dominan pada tanah.Nilai pH juga dapat menjadi gambaran mengenai tingkat ketersediaan unsur hara, kelarutan unsur-unsur beracun pada tanah dan perkembangan mikro-organisme tanah (Hardjowigeno, 1987).

Tabel 2.3. Tingkat Kemasaman (pH) Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan Kedalaman Gambut (cm) pH H2O pH KCl KT – I KT – II KS – III KS - IV KT – I KT – II KS – III KS - IV 0 - 20 4,64 2,98 5,01 5,30 3,95 2,89 4,08 4,12 20 - 50 4,42 4,35 4,74 5,15 3,94 3,11 4,15 4,15 50 - 100 4,09 4,96 5,30 5,15 3,76 3,91 3,85 4,01 100 - 150 2,88 4,51 5,15 2,81 2,98 4,05 150 - 200 5,31 3,27

(43)

Tabel 2.3 menunjukkan bahwa pH tanah gambut di Kalimantan Selatan (KS – III dan KS – IV) cenderung lebih tinggi disbanding di Kalimantan Tengah.Berdasarkan informasi yang diperoleh dari penduduk setempat bahwa daerah tersebut pernah terjadi kebakaran lahan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu hasil kebakaran lahan dapat meningkatkan pH tanah walaupun sifatnya sementara. Evaluasi kesuburan tanah secara kimiawi menunjukkan bahwa tanah gambut baik di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan tergolong masam yang ditunjukkan oleh nilai pH H2O pada rentang nilai 4,5 – 5,5 (Pusat Penelitian Tanah, 1983).

Tabel 2.4. Kadar Hara Makro Utama Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan

Kedalaman Gambut

(cm)

Total N (%) Total P (%) Total K (%)

KT–I KT–II KS-III KS-IV KT–I KT–II KS-III KS-IV KT–I KT–II KS-III KS-IV

0 - 20 1,782 1,636 2,006 2,185 0,329 0,291 0,283 0,120 1,077 0,735 0,020 0,022 20 - 50 1,692 2,152 1,569 2,118 0,213 0,136 0,112 0,260 1,021 0,082 0,014 0,014 50 - 100 1,546 2,252 1,569 1,894 0,337 0,283 0,283 0,112 0,874 0,069 0,007 0,026 10 0 - 150 1,468 2,230 1,569 0,136 0,120 0,252 0,221 0,033 0,014 15 0 - 200 2,353 0,275 0,044

Tabel 2.4.menunjukkan bahwa kadar N tanah gambut sampai kedalaman 100 cm menunjukkan kecenderungan menurun kadarnya dengan bertambahnya kedalaman tanah kecuali pada titik pengamatan KT – II. Hal ini diduga penyebabnya adalah kondisi lingkungan yang tergenang dan fenomena ini sejalan dengan tingkat kematangan gambut di lokasi tersebut yang menunjukkan tingkat kematangan paling rendah. Evaluasi kesuburan tanah secara kimiawi menunjukkan bahwa tanah gambut baik di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan mempunyai tingkat kesuburan N tergolong sangat tinggi yang ditunjukkan oleh nilai N > 0,5 % (Pusat Penelitian Tanah, 1983).

Kadar P tanah gambut pada seluruh titik pengamatan tidak menunjukkan kecenderungan tertentu dengan bertambahnya kedalaman tanah. Evaluasi kesuburan tanah secara kimiawi menunjukkan bahwa tanah gambut baik di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan mempunyai tingkat kesuburan P tergolong sangat tinggi yang ditunjukkan oleh nilai K > 60 mg/100 g K2O atau > 24,89 mg/100 g atau 0,02489 % (Pusat Penelitian Tanah, 1983).

(44)

Kadar K tanah gambut pada seluruh titik pengamatan cenderung menurun dengan bertambahnya kedalaman tanah. Evaluasi kesuburan tanah secara kimiawi menunjukkan bahwa tanah gambut baik di Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan mempunyai tingkat kesuburan K tergolong sangat tinggi yang ditunjukkan oleh nilai P > 60 mg/100 g P2O5 atau >13,98 mg/100 g atau 0,01398 % (Pusat Penelitian Tanah, 1983).

Tabel 2.5. Kadar Hara Makro Sekunder Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan Kedalaman Gambut (cm) Total Ca (%) Total Mg (%) KT – I KT – II KS – III KS - IV KT – I KT – II KS – III KS - IV 0 - 20 0,025 0,025 0,038 0,063 0,140 0,139 0,059 0,088 20 - 50 0,026 0,092 0,029 0,048 0,107 0,135 0,029 0,054 50 - 100 0,025 0,197 0,038 0,038 0,084 0,225 0,037 0,045 100 - 150 0,027 0,075 0,026 0,066 0,067 0,031 150 - 200 0,143 0,080

Kadar Ca dan Mg tanah gambut pada seluruh titik pengamatan tidak menunjukkan kecenderungan tertentu dengan bertambahnya kedalaman tanah.Kadar Total Ca gambut di Kalimantan Selatan cenderung lebih tinggi dibanding gambut di Kalimantan Tengah.Fenomena ini sejalan dengan kondisi kemasaman tanahnya. Diduga penyebabnya sama, yaitu kejadian kebakaran hutan yang meningkatkan kadar Ca dalam tanah. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh kadar total Mg (Tabel 2.5.).

2.2. Potensi Hasil Bukan Kayu

Wilayah Kalimantan Selatan memiliki 8 KPH, dimana setiap KPH memiliki potensi hasil hutan bukan kayu unggulan, disamping potensi hasil hutan kayu (Belangiran, Gelam, Tumih/Merapat) Adapun potensi hasil hutan bukan kayu pada setiap KPH seperti tersaji pada tabel berikut:

(45)

Tabel 2.6.Produk komoditi hasil hutan bukan kayu unggulan dari KPH di Kalimantan Selatan

No KPH PRODUK KOMODITI

1 Tabalong Pasak bumi, kemiri, kopi

2 Balangan Gaharu

3 Hulu Sungai Kayu manis, Kemiri, madu

4 Kayu Tangi Kemiri, kayu manis, Jahe merah, kunyit, pon pon, madu

5 Tanah Laut Madu, Jamur

6 Pusan Kayu manis, Madu, Kemiri

7 Kota baru Gula aren

8 Pulau Laut Cengkeh, Kemiri

Masing-masing KPH sudah memulai upaya membuat produk turunan dari produk komoditi tersebut, dengan menggunakan teknologi tepat guna dengan menggandeng Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna dari Subang, Jawa Barat.

Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Kayu Tangi memiliki areal seluas 160.000 Ha, terdiri dari Hutan Produksi (HP) seluas 140.000 Ha dan sisanya berupa Hutan Lindung. Di KPH kayu tangi akan dikembangkan tanaman Jati dan Mahoni. Adapun produk unggulan KPH Kayu Tangi adalah kemiri, kayu manis, dan jahe merah, dan madu kelulut. Buah kemiri sudah dibuat produk turunannya berupa minyak kemiri yang sudah dalam bentuk kemasan. Dan kedepannya akan dikembangkan poduk sereh wangi.

Di daerah Amuntai Kalimantan Selatan selain Gelam (Melaleuca cajuputi), Belangiran (Shorea belangeran), Karamunting (Melastoma malabathricum), Purun (Lepironia articulata), juga banyak dijumpai dadangkak (Hydrolea spinosa L.). Masyarakat sekitar menggunakan tumbuhan dadangkak (H. spinosa) sebagai obat kencing manis.

Berdasarkan hasil survey di lapangan dan hasil wawancara terhadap masyarakat, banyak hasil hutan bukan kayu diperjualbelikan di daerah Pulang Pisau, seperti madu, burung, rotan, buah, dan lain lain. Beberapa hasil penelitian etnobotani terhadap Jenis tumbuhan yang dominan di daerah hutan kerangas Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, melaporkan bahwa pengetahuan dan penelitian tentang penggunaan tumbuhan

(46)

dari hutan kerangas masih terbatas. Hasil penelitian Amzu (2013) melaporkan bahwa dari beberapa tumbuhan terdapat beberapa jenis tumbuhan berkhasiat obat.

2.2.1.Pemanfaatan jenis tumbuhan purun oleh masyarakat Kampung Purun Kalsel Sejauh ini pemanfaatan tumbuhan purun oleh masyarakat, hanya sebatas pada pemanfaatan dalam skala home industry, dengan menggunakan peralatan yang relatif sederhana.Hasil produksi berupa produk setengah jadi. Proses akhir (finishing) dilakukan di industri rumahan yang berada di kampung purun Galuh Tjempaka. Harga produk anyaman berupa tas dihargai Rp. 10.000 hingga Rp 25.000.

Adapun proses pemanfaatan bahan baku purun hingga menghasilkan produk, seperti disajikan dalam gambar berikut:

Bahan baku (Purun kering) Mesin pemecah purun Purun siap dianyam/ diwarnai Hasil anyaman setengan jadi Kampung Purun Produk anyaman

Gambar 2.1.Alur pengolahan purun menjadi barang kerajinan

2.3. Potensi Tumbuhan Obat

Salah satu upaya meningkatkan peranan dan manfaat hutan kerangas adalah dengan memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan sebagai bahan obat. Beberapa jenis tumbuhan dominan yang tumbuh di hutan gambut, disajikan seperti berikut.

(47)

Tabel 2.7. Jenis tumbuhan yang dominan tumbuh di hutan gambut

No. Gambar Keterangan

1 Gelam ((Melaleuca cajuputi) merupakan

tumbuhan yang banyak dijumpai di daerah gambut, baik di kalimantan Tengan, maupun di kalimantan Selatan. Gelam digunakan untuk obat sakit perut, luka, penahan sakit. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun dan buah

2 Karamunting (Melastoma malabathricum)

merupakan tumbuhan liar berupa perdu, bila mendapat sinar matahari yang cukup akan menjadi pohon berkayu. Karamunting dipercaya masyarakat mampu digunakan sebagai penawar racun. Bagian yang digunakan yaitu akar, biji, buah dan daun. K

3

Tumih/Perepat/Merapat (Combretocarpus

rotundatus), merupakan tumbuhan

berpotensi obat tetapi belum tereksplorasi. Sehingga belum banyak diketahui bagian yang berkhasiat.

4 Purun (Lepironia articulate) merupakan

tumbuhan yang banyak tumbuh di tanah gambut. Tumbuhan purun dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat kerajinan anyaman oleh masyarakat.

(48)

No. Gambar Keterangan

5 Dadangkak (Hydrolea spinosa L.).

Merupakan tumbuhan liar dan biasa tumuh di lingkungan tanah gambut. Masyarakat kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menggunakan tumbuhan dadangkak (H. spinosa) sebagai obat kencing manis.

6 Pulai (Alstonia pneumatophora). Tumbuhan

yang biasa digunakan untuk mengobati disentri dan diare, maag dan sakit perut, malaria. Bagian tumbuhan yang digunakan adalah daun dan kulit.

2.4. Potensi Tumbuhan Penghasil Minyak Atsiri

Tumbuhan Gelam (M. cajuputi) memiliki potensi yang sama seperti jenis M. leucadendron. Sebagai penghasil minyak atsiri berupa minyak kayu putih.Dalam kegiatan penelitian ini, dicoba menyuling kayu daun Gelam menjadi minyak gelam. Hasil Penyulingan skala laboratorium, dilakukan di laboratorium Kimia Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman.

Gambar

Gambar 1.1. Hasil Kajian di laboratorium dan menjadi produk (Lab. Kimia Hasil Hutan, Fahutan UNMUL)
Tabel 1.1. Jadwal Kegiatan dan Tahapan Penelitian
Tabel 1.2. Logical Framework (Log Frame)  kegiatan penelitian Aspek
Tabel 2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Lahan Gambut di Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kabupaten Balangan terletak di tengah-tengah kawasan banua lima (Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kab upaten Hulu Sungai Tengah,

Lahan gambut yang terletak di sepanjang pantai timur Sumatera (Riau, Jambi, Sumatera selatan) and Kalimantan (Kalimantan Selatan, Kalimantan tengah dan Kalimantan

Hulu Sungai Tengah(Barabai); Balangan (Paringin); Hulu Sungai Utara; Banjarbaru (Banjarbaru); Hulu Sungai Selatan (Kandangan); Kabupaten Tapin (Rantau); Tanah Laut (Pelaihari);

Kerja sama kami dengan kelompok masyarakat di sejumlah desa dampingan di Kabupaten Kapuas, Barito Selatan, Katingan, Pulang Pisau, dan Murung Raya di Kalimantan Tengah

kawasan pertanian lahan basah yang tersebar pada wilayah Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Tabalong, Tanah

HULU SUNGAI SELATAN ; KAB.. HULU SUNGAI TENGAH

(2) Pembiayaan Jaminan Kesehatan Daerah bagi penduduk di Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang termasuk dalam Jaminan Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan mendapat pelayanan

The Dayak Meratus area in South Kalimantan is included in Balangan Regency, Hulu Sungai Tengah Regency, Hulu Sungai Selatan Regency, Banjar Regency, Tanah Laut Regency, Kotabaru