• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

39

A. Pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah pada BUMN di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

1. Gambaran Umum Tentang PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. a) Profil Perusahaan

PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. merupakan salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang industri semen. Sejarah berdirinya perusahaan bermula dari hasil survei seorang sarjana Belanda yang bekerja untuk Jawatan Geologi Bandung dan melaksanakan survey geologis di Gresik. Dalam laporan yang disusun pada tahun 1953 berjudul

Hoofdegeologiesch Technische Ondezoekingen terdapat indikasi adanya

kapur dan tanah liat yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan semen. Hal ini telah mendorong keinginan untuk mendirikan pabrik semen di lokasi tersebut, namun rencana tersebut terbengkalai karena terjadi Perang Dunia II. Atas prakarsa Dr. Mohammad Hatta, Wakil Presiden Republik Indonesia I, gagasan pendirian pabrik semen tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Republik Indonesia untuk diteruskan pembangunannya.

Pabrik Semen diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 7 Agustus 1957, dengan nama Naamloze

Vennootschap yang selanjutnya disebut dengan NV Pabrik Semen Gresik

sebagai salah satu usaha dari Bank Industri Negara dengan kapasitas produksi mencapai 250.000 ton semen per tahun. Perseroan mulai memproduksi semen pada tahun 1957 di Pabrik Gresik I yang menggunakan proses basah. Pada 7 Januari 2013, nama PT. Semen Gresik (Persero) Tbk berubah menjadi PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pergantian nama itu juga diiringi pergantian logo. Perubahan nama ini diharapkan bisa menyatukan seluruh potensi grup. Di tahun 2013,

(2)

perusahaan ini memulai pembangunan dua pabrik baru berkapasitas masing-masing tiga juta ton, yakni di Padang, Sumatera Barat, dan Rembang, Jawa Tengah. Selain melakukan ekspansi dalam negeri, Semen ini akan melakukan ekspansi ke luar negeri terutama di kawasan Asia Tenggara (http://profil.merdeka.com/indonesia/s/ semen-gresik/, diakses tanggal 28 Februari 2016 Pukul 12:14).

Seperti yang juga dikutip dari website resmi (www.semenindonesia.com, diakses tanggal 28 Februari 2016 Pukul 11.:52), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding company dari Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa serta Thang Long Cement Vietnam, perusahaan dengan kode SMGR ini telah menjadi BUMN pertama yang Go International dengan mengakuisisi Thang Long Cement Vietnam. Usaha untuk mendongkrak daya saing perseroan, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. juga telah meresmikan 5 (lima) proyek strategis. Kelima proyek yang diresmikan diantaranya pertama adalah

Grinding Plant di Pabrik Tuban yang menggunakan teknologi Vertical Cement Mill. Proyek ini merupakan salah satu strategi dalam peningkatan

kapasitas produksi perseroan dalam menjaga ketersediaan pasokan.

Proyek kedua yang diresmikan adalah Packing Plant

Banjarmasin. Proyek ini merupakan salah satu inisiatif strategis dalam bidang pemasaran untuk mendekatkan produk kepada pelanggan (move

closer to the customer). Packing Plant Banjarmasin memiliki 1 buah silo

dengan kapasitas 600 ribu ton semen pertahun, dilengkapi 2 line semen bag dengan rotary packer berkapasitas 2200 bag/jam dan 1 line curah dengan kapasitas 120 ton/jam serta dilengkapi dermaga yang bisa disandari kapal dengan kapasitas sebesar 5.000 DWT. Silo tersebut berfungsi untuk menampung semen sebelum masuk ke unit pengemasan. Investasi yang dikucurkan perseroan untuk proyek ini mencapai Rp 120 miliar.

Proyek ketiga yang diresmikan adalah Launching Center of

(3)

bertujuan untuk mengembangkan rancang bangun dan rekayasa teknologi yang mampu menciptakan nilai inovasi guna mengantisipasi tantangan menjadi perusahaan engineering kelas dunia. Launching E-Procurement merupakan proyek ke empat yang diresmikan perseroan. Manfaat dari implementasi E-Procurement ini antara lain untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, bargaining power, kecepatan proses pengadaan, serta akses informasi yang real time. Sedangkan proyek kelima yang diresmikan adalah launching pedoman pelaksanaan komunikasi perusahaan. Pedoman komunikasi perusahaan merupakan kebijakan yang mengatur dan menetapkan kewenangan serta kelayakan penyampaian informasi kepada stakeholders baik internal maupun eksternal oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. sebagai Strategic Holding dan PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa serta Thang Long Cement Company sebagai Operating Company.

Hingga saat ini PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. telah memiliki 4 pabrik semen yaitu 3 lokasi pabrik di Indonesia yang letaknya secara geografis sangat strategis yaitu Semen Padang di Sumatera, Semen Gresik di Jawa serta Semen Tonasa di Sulawesi dan memiliki 1 lokasi pabrik di luar negeri yaitu Thang Long Cement di Vietnam, Perseroan memiliki Cement Mill sebanyak 22 unit, packing plant 21 unit serta sarana perluasan jangkauan pasar yang ditunjang dengan keberadaan pelabuhan khusus (special sea port). Pelabuhan itu untuk menjamin kecepatan waktu bongkar muat semen. Saat ini, ada 11 pelabuhan khusus yang dimiliki perseroan, yaitu di Padang, Tuban, Gresik, Biringkasi, Dumai, Ciwandan,

Banyuwangi, Sorong dan dua pelabuhan di Vietnam

(www.semenindonesia.com, diakses tanggal 28 Februari 2016 Pukul 11.:52).

b) Visi dan Misi Perusahaan

Sebagai salah satu perusahan BUMN besar di Indonesia, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Mempunyai visi, misi sebagai berikut:

(4)

Menjadi Perusahaan Persemenan Internasional yang terkemuka di Asia Tenggara

2) Misi

(1) Mengembangkan usaha persemenan dan industri terkait yang berorientasikan kepuasan konsumen.

(2) Mewujudkan perusahaan berstandar internasional dengan keunggulan daya saing dan sinergi untuk meningkatkan nilai tambah secara berkesinambungan.

(3) Mewujudkan tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan. (4) Memberikan nilai terbaik kepada para pemangku kepentingan

(stakeholders).

(5) Membangun kompetensi melalui pengembangan sumber daya manusia.

c) Produk Perusahaan

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. memproduksi berbagai jenis semen. Semen utama yang diproduksi adalah semen Portland Tipe II-V (Non-OPC). Di samping itu, juga memproduksi berbagai tipe khusus dan semen campur (mixed cement), untuk penggunaan yang terbatas. Berikut ini penjelasan mengenai jenis semen yang diproduksi serta penggunaannya. Semen produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. ini memiliki kualitas yang tinggi dan telah memenuhi standar SNI, ini wujud komitmen perusahaan sebagai produsen semen berkualitas di Indonesia dan produsen semen terbesar di Asia Tenggara. Adapun jenis produk PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. adalah sebagai berikut (www.semenindonesia.com, diakses tanggal 28 Februari 2016 Pukul 11.:52):

1) Semen Portland Tipe I

Dikenal pula sebagai Ordinary Portland Cement (OPC), merupakan semen hidrolis yang dipergunakan secara luas untuk konstruksi umum, seperti konstruksi bangunan yang tidak memerlukan

(5)

persyaratan khusus, antara lain bangunan perumahan, gedung-gedung bertingkat, landasan pacu, dan jalan raya.

2) Semen Portland Tipe II

Semen Portland Tipe II adalah semen yang mempunyai ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. Misalnya untuk bangunan di pinggir laut, tanah rawa, dermaga, saluran irigasi, beton massa dan bendungan.

3) Semen Portland Tipe III

Semen jenis ini merupakan semen yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bangunan yang memerlukan kekuatan tekan awal yang tinggi setelah proses pengecoran dilakukan dan memerlukan penyelesaian secepat mungkin, seperti pembuatan jalan raya dan jalan bebas hambatan, bangunan tingkat tinggi dan bandar udara.

4) Semen Portland Tipe V

Semen Portland Tipe V dipakai untuk konstruksi bangunan-bangunan pada tanah/air yang mengandung sulfat tinggi dan sangat cocok untuk instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan dan pembangkit tenaga nuklir.

5) Special Blended Cement (SBC)

Adalah semen khusus yang diciptakan untuk pembangunan mega proyek jembatan Surabaya- Madura (Suramadu) dan sesuai digunakan untuk bangunan di lingkungan air laut, dikemas dalam bentuk curah.

6) Portland Pozzolan Cement (PPC)

Adalah semen Hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak, gypsum dan bahan pozzolan. Digunakan untuk bangunan umum dan bangunan yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, seperti: jembatan, jalan raya, perumahan, dermaga, beton massa, bendungan, bangunan irigasi dan fondasi pelat penuh.

(6)

7) Portland Composite Cement

Adalah bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan bersama-sama terak, gypsum, dan satu atau lebih bahan anorganic. Kegunaan semen jenis ini sesuai untuk konstruksi beton umum, pasangan batu bata, plesteran, selokan, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra-cetak, beton pra-tekan dan paving block.

8) Super Masonry Cement (SMC)

Adalah semen yang dapat digunakan untuk konstruksi perumahan dan irigasi yang struktur betonnya maksimal K225, dapat juga digunakan untuk bahan baku pembuatan genteng beton hollow brick, paving block dan tegel.

9) Oil Well Cement (OWC) Class G HRC

Merupakan semen khusus yang digunakan untuk pembuatan sumur minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi sumur minyak di bawah permukaan laut dan bumi. OWC yang telah diproduksi adalah Class G, High Sulfat Resistant (HSR) disebut juga sebagai “Basic OWC”. Aditif dapat ditambahkan untuk pemakaian pada berbagai kedalaman dan temperatur tertentu.

Semen Portland Tipe I, PCC, dan PPC tersedia di pasar retail, sementara jenis lainnya hanya diproduksi berdasarkan pesanan dalam jumlah tertentu. Produk-produk tersebut dipasarkan terutama untuk kebutuhan pasar dalam negeri dan sebagian lainnya diekspor. Sebagian besar produk dipasarkan dalam bentuk kemasan zak, sedangkan selebihnya dalam bentuk curah.

2. Penyertaan Modal PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Penyertaan modal negara adalah pemisahan kekayaan negara dari APBN atau penetapan cadangan perusahaan atau sumber lain untuk dijadikan sebagai modal BUMN dan/atau perseroan terbatas lainnya, dan dikelola secara korporasi (Pasal 1 angka 7 PP Nomor 44 Tahun 2005). Dalam keuangan negara, penyertaan modal negara teresbut menjadi kekayaan negara yang

(7)

berasal dari APBN untuk dijadikan penyertaan modal negara pada persero dan/atau perum serta perseroan terbatas lainnya. Dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menjelaskan bahwa pemerintah dapat memberikan pinjaman/hibah/penyertaan modal kepada dan menerima pinjaman/hibah dari perusahaan negara/daerah. Pengaturan BUMN sendiri telah diatur dalam UU BUMN.

“Badan Usaha Milik Negara adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Direksi adalah organ BUMN yang bertanggungjawab atas pengurusan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN, serta mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan”. Pada Pasal 4 ayat (1) UU BUMN itu pun telah mepertegas bahwa modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Maksud dari dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari APBN untuk dijadikan penyertaan modal negara pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip-prinsip perusahaan yang sehat.

Tujuan dari dilakukan penyertaan modal negara dari pemerintah kepada BUMN khususnya kepada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. untuk mengoptimalisasi barang milik negara dan untuk mendirikan, mengembangkan atau meningkatkan kinerja BUMN dalam hal ini PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Adapun tata cara penyertaan modal negara dengan pemisahan kekayaan negara berbentuk modal atau saham pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dilakukan melalui penyertaan penanaman modal oleh pemerintah dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Prp 1960 tentang Perusahaan Negara terdahulu maupun UU BUMN yang sekarang berlaku, pemisahan tersebut baik berupa setiap penambahan maupun pengurangan pada penyertaan modal negara harus ditetapkan dengan suatu peraturan pemerintah. Dalam hal ini peraturan pemerintah yang ditunjuk yaitu PP Nomor 44 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara Pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan Terbatas. Karena pada masa itu PP Nomor 44 Tahun 2005 masih belum ada dan belum dapat diterapkan, maka penyertaan penanaman modal oleh pemerintah saat pendirian itu berdasarkan

(8)

pada Undang-Undang Nomor 19 Prp Tahun 1960 tentang Perusahaan Negara. Yang kemudian adanya pengalihan bentuk perusahaan negara menjadi perusahaan perseroan yang selanjutnya tunduk pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (yang sekarang menjadi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang perseroan Terbatas).

Peran penting dari BUMN ini diharapkan bukan hanya sebagai pengemban kepentingan dan pemenuhan kebutuhan rakyat banyak akan tetapi juga sebagai penyumbang terbesar dalam perekonomian nasional khususnya dalam pembangunan negara setiap tahunnya demi terciptanya kesejahteraan rakyat. Menurut Mulhadi (2010: 148), untuk kedepannya tantangan yang dihadapi oleh BUMN adalah memberikan sumbangan yang makin besar pada keuangan negara. Di samping itu masyarakat yang semakin membutuhkan pelayanan yang baik serta iklim persaingan dunia usaha yang semakin ketat menuntut terciptanya BUMN yang sehat, efisien, serta berdaya saing tinggi, baik dalam maupun luar negeri. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. sebagai salah satu perusahaan BUMN dibidang industri, persemenan, pertambangan, produksi, perdagangan barang dan jasa, energi, pengelolaan limbah, investasi dan pemberian jasa yang terkait dengan industri semen dan/atau industri lainnya mempunyai komitmen untuk selalu meningkatkan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. merupakan perusahaan perseroan (persero) BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang seluruhnya atau paling sedikit 51% sahamnya dimiliki oleh pemerintah (atas nama negara) yang utamanya adalah untuk mengejar keuntungan. Menurut Prof. Dr. Rudhi Prasetya (2011: 75-77), persero sebagai akronim dari perusahaan perseroan, yaitu yang merupakan salah satu bentuk badan usaha negara, tetapi ditundukkan kepada ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku untuk perseroan terbatas. Bentuk persero diciptakan bertalian dengan pemikiran bahwa bentuk Perusahaan Negara yang selanjutnya disebut PN itu tidaklah efisien sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 19 Prp. Tahun 1960. Jika kita lihat, diantara PN yang ada yang ditundukkan di bawah

(9)

satu undang-undang yang diatur secara sama, yang padahal di antara PN yang ada itu mempunyai latar belakang dan bidang tugas yang saling beraneka ragam. Ada PN yang semula berasal dari perusahaan yang sudah ada sejak zaman Belanda yang tuduk pada ICW dan IBW.

Sesungguhnya bentuk ini kurang tepat untuk dinamakan sebagai “perusahaan”: karena lebih banyak bersifat sebagai bagian dari badan pemerintah (dinas) yang mempunyai tugas sangat pokok dan penting untuk pelayanan umum (public service). Dengan kata lain, PN dituntut harus mampu menyelenggarakan fungsi pemupukan dana untuk sumber keuangan negara, sekaligus dituntut pula harus menjalankan fungsi public utilities dan public

service. Keadaan inilah yang dianggap suatu kontradiksi yang menyulitkan PN

dalam menjalankan kegiatannya. Sebalikya, makna dari persero (yang disebut pula Public Company) adalah untuk memupuk keuntungan. Keuntungan dalam arti, adanya pelayanan dan pembina organisasi yang baik, efektif, efisien, dan ekonomis secara business-zakelijk dan cost accounting principles, management

effectiveness, dan memuaskan memperoleh surplus atau laba. Ditegaskan pula

dalam lampiran instruksi dimaksud bahwa badan ini berstatus badan hukum perdata yang berbentuk perseroan terbatas yang modal seluruhnya atau sebagian milik negara, sehingga dimungkinkan diadakannya joint atau

mixedenterprice dengan swasta (nasional atau asing) dan dapatnya dilakukan

penjualan saham-saham perusahaan milik negara (Rudhi Prasetya, 2011: 79). Awalnya realisasi pembangunan pabrik semen oleh pemerintah diserahkan kepada Bank Industri Negara yang selanjutnya disebut BIN, sekarang menjadi Bank Mandiri. Langkah pertama yang dilakukan BIN menyediakan pembiayaan lokal berupa rupiah sedangkan untuk pembayaran valuta asing digunakan kredit dari Exim Bank Amerika. Pada tanggal 25 Maret 1953, didirikan badan hukum NV. Pabrik semen pada awalnya berkedudukan di Jakarta, dengan Akta Pendirian No. 41 tanggal 25 Maret 1953 yang dibuat di hadapan Raden Meester Soewandi, Notaris di Jakarta dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. J.A. 5/51/5, tanggal 8 Juni 1953, didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta pada

(10)

tanggal 22 Juni 1953 dibawah No. 748, serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 61 tanggal 31 Juli 1953, tambahan No. 451. Sebagai Presiden Komisaris adalah BIN dan Direktur yang pertama adalah Ir. Ibrahim Bin Pangeran Mohammad Zabier, sebagai pegawai tinggi kementrian perekonomian Republik Indonesia.

Pada tahun 1957, pembangunan awal pabrik selesai dilaksanakan, pembangunan tersebut diselesaikan 73 hari lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan dalam kontrak. Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan pabrik semen ini adalah US$ 14,5 juta termasuk pengeluaran-pengeluaran lokal sebesar Rp 512 juta (uang lama). Dengan selesainya pembangunan tahap I tersebut, berarti secara teknis bagi pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. memasuki masa uji coba. Setelah masa uji coba berhasil dilakukan dengan baik pada bulan mei 1957, selanjutnya telah diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 7 Agustus 1957 sebagai salah satu usaha dari BIN dengan kapasitas produksi mencapai 250.000 ton semen per tahun. Perseroan mulai memproduksi semen pada tahun 1957 di Pabrik Gresik I yang menggunakan proses basah.

Pada tanggal 17 April 1961 dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah No. 132 tahun 1961, tentang pendirian Perusahaan Negara Semen Gresik (sekarang menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.) yang diumumkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 154/1961, sehingga status perusahaan diubah menjadi PN dengan nama PN Semen Gresik (pada saat itu) yang berkedudukan di Jakarta. Selanjutnya pada tahun 1969, berdasarkan Akta No. 81 tanggal 24 Oktober 1969 yang dibuat di hadapan Juliaan Nimrod Siregar Gelar Mangaradja Namora, SH., Notaris di Jakarta dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. J.A.5/129/5 tanggal 18 Nopember 1969, didaftarkan di Pengadilan Negeri Surabaya pada tanggal 22 Nopember 1969 dibawah No. 887/1969 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 95 tanggal 28 Nopember 1969, tambahan No. 255, status dan kedudukan perseroan diubah lagi menjadi perusahaan perseroan yang berkedudukan di Surabaya.

(11)

Sesuai Peraturan Permerintah Nomor 19 Tahun 1969 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara (PN) Semen Gresik Menjadi Perusahaan (Persero) pada tanggal 11 Juni 1969 yang dilakukan oleh pemerintah dimaksudkan untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas dari PN, perlu diadakan tindakan yang memungkinkan PN tersebut mengadakan perluasan usahanya yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya dengan dialihkan bentuk PN menjadi persero, maka PN Semen Gresik (sekarang menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.) tersebut dinyatakan bubar pada saat pendirian persero tersebut. Termasuk Peraturan Pemerintah No 132 tahun 1961 (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1961 No 156) tentang Pendirian PN dan semua peraturan pelaksanaannya dinyatakan tidak berlaku lagi. Pada beberapa persero, pemerintah telah melakukan perubahan mendasar pada kepemilikannya dengan membuat persero tersebut menjadi perusahaan terbuka yang sahamnya bisa dimiliki oleh publik. Salah satunya adalah PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, yang sesuai kebijakan pemerintah melakukan privatisasi.

Privatisasi adalah penjualan saham persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat (Pasal 1 angka 12 UU BUMN). Selain itu berdasarkan Pasal 74 UU BUMN, privatisasi dilakukan dengan maksud untuk:

a. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan;

b. Menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat;

c. Menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif;

d. Menciptakan persero yang berdaya saing dan berorientasi global, dan menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas pasar.

Hasil dari privatisasi dengan cara penjualan saham milik negara disetor langsung ke kas negara (Pasal 86 UU BUMN). Dengan dilakukannya privatisasi BUMN, bukan berarti kendali atau kedaulatan negara atas BUMN

(12)

yang bersangkutan menjadi berkurang atau hilang karena sebagaimana dinyatakan di atas, negara tetap menjalankan fungsi penguasaan melalui regulasi sektoral dimana BUMN yang diprivatisasi melaksanakan kegiatan usahanya (Mulhadi, 2010: 145). Oleh karena itu, privatisasi BUMN dipandang tidak hanya sebagai sarana untuk menghasilkan pendapatan bagi anggaran negara (seperti yang tampak menjadi tujuan utama dari pemerintah Indonesia), tetapi juga menempatkan BUMN dibawah disiplin pasar sebagai pengendali untuk efisiensi. Dalam banyak proses privatisasi di Indonesia, peran pihak asing telah cukup signifikan dalam mengakuisisi saham BUMN divestasi oleh pemerintah Indonesia (Agung Wicaksono, 2008: 146).

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. resmi menjadi perusahaan publik pada tanggal 8 Juli 1991 dengan kode perdagangan saham: SMGR. Perseroan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (kini menjadi Bursa Efek Indonesia yang selanjutnya disebut dengan BEI). Komposisi struktur modal pemerintah pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. telah mengalami perubahan beberapa kali. Perubahan komposisi permodalan dan kepemilikan saham perseroan sejak pendirian sampai saat ini dapat dilihat pada annggaran dasar perseroan yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan dalam rangka penawaran umum saham-saham perseroan kepada masyarakat, seluruh ketentuan anggaran dasar perseroan telah diubah kembali dengan Akta Keterangan Risalah Rapat No. 9 tanggal 3 Desember 1990 yang diubah dengan Akta Perubahan No. 89 tanggal 16 Januari 1991 dan Akta Keterangan Risalah Rapat No. 90 tanggal 16 Januari 1991, ketiga Akta tersebut dibuat di hadapan Nyonya Poerbaningsih Adi Warsito, SH., Notaris di Jakarta dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C2-322.HT.01.04-TH.91 tanggal 28 Januari 1991, didaftarkan di Pengadilan Negeri Gresik pada tanggal 1 Februari 1991, tambahan No. 617 yang isinya antara lain mengenai peningkatan modal dasar perseroan dari sebesar Rp 85.000.000.000 (delapan puluh lima milyar rupiah) menjadi Rp 500.000.000.000 (lima ratus milyar rupiah).

(13)

Selama pendirian PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. tahun 1957 hingga sekarang (tahun 2016), pemerintah telah melakukan pengurangan penyertaan modal sebanyak 3 kali yaitu pada tahun 1991, 1995, dan 1998. Pengurangan penyertaan modal diusulkan oleh Menteri Keuangan kepada Presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri. Rencana pengurangan penyertaan modal dapat dilakukan atas inisiatif Menteri Keuangan atau Menteri. Dalam hal inisiatif pengurangan penyertaan modal berasal dari Menteri Keuangan, maka inisiatif tersebut disampaikan kepada Menteri untuk dikoordinasikan pengkajiannya. Koordinasi pengkajian atas rencana pengurangan penyertaan modal dilakukan oleh Menteri didasarkan atas pertimbangan bahwa tindakan tersebut merupakan kegiatan restrukturisasi yang menjadi kewenangan Menteri selaku wakil pemerintah sebagai pemegang saham atau pemilik modal (Pasal 18 PP Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara Pada Badan Usaha Milik Negara dan Perseroan Terbatas).

Pada tanggal 8 Juli 1991 saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. tercatat di BEI serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Oleh karena adanya penjualan saham kepada publik, pemerintah telah melepaskan sahamnya sebesar 27%. Privatisasi yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dengan cara melakukan penawaran umum pada tahun 1991 atas 40.000.000 saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) setiap saham dengan harga penawaran Rp. 7.000,00 (tujuh ribu rupiah) setiap saham.

Perseroan melakukan penjualan 444.864.000 saham bernilai nominal Rp 444.864.000 (empat ratus empat puluh empat juta delapan ratus enam puluh empat ribu rupiah) melalui penawaran umum terbatas kepada masyarakat dengan hak memesan efek terlebih dahulu. Hasil penjualan adalah sebesar Rp 1.456.929.600 (satu miliar empat ratus lima puluh enam juta sembilan ratus dua puluh sembilan ribu enam ratus). Perseroan mencatat modal disetor Rp 444.864.000 dan Rp 1.012.065.600 sebagai agio saham. Dana hasil penawaran

(14)

umum, seluruhnya dipergunakan untuk membiayai sebagian kebutuhan dana pembangunan pabrik semen baru di Tuban, Jawa Timur, dengan kapasitas 2,3 juta ton semen per tahun, dan untuk proyek optimalisasi pabrik II Gresik untuk meningkatkan kapasitas dari 1 juta ton semen per tahun menjadi 1,3 juta ton semen per tahun serta meningkatkan efisiensi pemakaian tenaga listrik dan bahan bakar. Sehingga komposi pemegang saham pada saat itu menjadi Pemerintah 73% dan masyarakat 27%.

Anggaran dasar perseroan diubah kembali dengan Akta Keterangan Risalah Rapat No. 65 tanggal 20 Maret 1995 yang dibuat di hadapan Nyonya Poerbaningsih Adi Warsito, SH., Notaris di Jakarta dan telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C2-4581.HT.01.04.TH.95 tanggal 18 April 1995, perubahan tersebut antara lain mengenai peningkatan modal dasar perseroan dari Rp 500.000.000.000 (lima ratus milyar rupiah) menjadi Rp 741.440.000.000 (tujuh ratus empat puluh satu milyar empat ratus empat puluh juta rupiah). Pada bulan September 1995, perseroan melakukan penawaran umum terbatas I (Right Issue I) kepada para pemegang saham. Dengan begitu telah terjadi pengurangan penyertaan modal pemerintah sebesar 8%. Sehingga mengubah komposisi kepemilikan saham menjadi Pemerintah 65% dan masyarakat 35%.

Pengurangan penyertaan modal pemerintah pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dilakukan dalam rangka pengalihan asset BUMN untuk penyertaan modal pada BUMN lain/perseroan terbatas. Oleh karenanya, hasil penawaran umum terbatas I sekitar 74% dipergunakan untuk membiayai pengalihan 100% saham milik Pemerintah di PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa, dengan total nilai transaksi sebesar Rp. 1.063.929.600.000 (satu triliun enam puluh tiga miliar sembilan ratus dua puluh sembilan juta enam ratus ribu rupiah). Sekitar 5% dipergunakan untuk menambah penyertaan modal perseroan di PT Semen Padang yang digunakan PT Semen Padang untuk membayar sebagian hutang modal kerjanya. Dan sisanya sekitar 21% dipergunakan untuk membiayai proyek perluasan yang dilakukan oleh perseroan (Tuban II dan Tuban III) dan PT Semen Padang (Indarung V).

(15)

Peningkatan kapasitas produksi pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. juga diimbangi dengan adanya inovasi-inovasi baru dalam hal sisi bahan baku dan produk, teknologi dan proses produksi. Dengan persaingan di era global ini maka BUMN harus meningkatkan kualitas produknya serta jaringan pasar, bukan hanya pada tingkat nasional tetapi juga di pasar global, sehingga ada pembanding yang meningkatkan daya saing bagi BUMN. Adapun struktur modal PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. pada tahun 1995 adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Struktur modal PT Semen Indonesia (Persero) Tbk tahun 1995

Sumber : Laporan Tahunan Perusahaan Tahun 1995

Pada tahun 1995 tersebut, pemerintah masih memiliki saham mayoritas sebesar 108.288.000 yang mewakili 65% saham. Sedangkan masyarakat sebagai pemegang saham minoritas sebesar 6.2827.300 yang mewakili 35% saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Pada tanggal 17 September 1998, Pemerintah telah melepas kepemilikan sahamnya di perseroan sebesar 14% melalui penawaran terbuka yang dimenangkan oleh Cemex (Cement Mexico) S.A de C.V., perusahaan semen global yang berpusat di Meksiko. Kompisisi kepemilikan saham berubah menjadi Pemerintah sebesar 51%, masyarakat 35%, dan Cemex 14%. Dengan begitu telah terjadi pengurangan penyertaan modal. Karena PT Semen

(16)

Indonesia (Persero) Tbk. merupakan BUMN, maka dalam setiap penyertaan modal negara (penambahan ataupun pengurangan) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Pada tanggal 20 Oktober 1998, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 1998 Tentang Pengurangan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Pada Perusahaan Perseroan (Persero) PT Semen Gresik (sekarang menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.). Pengurangan penyertaan modal ini dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan nilai tambah BUMN dan meningkatkan penerimaan negara melalui privatisasi BUMN. Oleh karenanya dipandang perlu melakukan penjualan saham milik Pemerintah pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Pengurangan penyertaan modal Pemerintah dilakukan melalui penjualan secara langsung saham milik Pemerintah kepada mitra strategis. Penyertaan modal negara yang dikurangan sebanyak 83.042.000 saham atau kurang lebih sebesar 14% (empat belas persen) dari keseluruhan jumlah saham perusahaan perseroan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. yang telah dikeluarkan dan disetor penuh (Pasal 3 PP Nomor 76 Tahun 1998). Pelaksanaan pengurangan penyertaan modal negara dilakukan menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas (kini menjadi UUPT) dan peraturan pelaksanaanya. Pada tahun 1998 inilah pengurangan penyertaan modal terakhir yang dilakukan oleh pemerintah. Karena kini saham pemerintah pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. sudah sampai pada batas minimal kepemilikan saham untuk disebut sebagai BUMN yaitu paling sedikit 51% sahamnya dimiliki oleh negara.

Tanggal 30 September 1999 komposisi kepemilikan saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. mengalami perubahan lagi namun pemerintah masih memegang saham mayoritas yaitu menjadi Pemerintah Republik Indonesia sebesar 51,01%, masyarakat 23,46%, dan Cemex 25,53%. Perusahaan Cemex (Cement Mexico) S.A de C.V menambah komposisi kepemilikan saham dengan membeli saham milik masyarakat sebesar 11,53%. Sehingga kini perusahaan Cemex memegang saham mayoritas selain pemerintah yaitu sebesar 25,53%. Bahkan perusahaan Cemex ingin menjadi pemegang saham

(17)

pengendali, namun pemerintah masih mempertahankan saham 51,01% nya sebagai BUMN di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pada tanggal 27 Juli 2006, terjadi transaksi penjualan saham Cemex Asia Holdings Pte. Ltd. kepada Blue Valley Holdings Pte. Ltd. sehingga komposisi kepemilikan saham berubah lagi menjadi Pemerintah sebesar 51,01%, Blue Valley Holdings Pte. Ltd. 24,90%, dan masyarakat 24,09%.

Seiring dengan pelaksanaan program pembelian kembali saham perseroan, maka komposisi kepemilikan saham pada tanggal 31 Desember 2008 berubah kembali menjadi Pemerintah sebesar 51,59%, Blue Valley Holdings Pte. Ltd. 25,18%, dan masyarakat 23,23%. Saat itu kapasitas produksi riil sebesar 17,2 juta ton per tahun dan menguasai sekitar 43,7% pangsa pasar semen domestik. Pada tanggal 30 Januari 2009, perseroan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang selanjutnya disebut dengan RUPSLB untuk mengukuhkan pelaksanaan pembelian kembali saham perseroan tanggal 13 Oktober 2008 sampai dengan tanggal 9 Januari 2009 sebanyak 68.032.000 lembar saham dengan nilai transaksi Rp 198.672.291 (seratus sembilan puluh delapan juta enam ratus tujuh puluh dua ribu dua ratus sembilan puluh satu).

Pada tanggal 7 Oktober 2009 perseroan menjual saham yang dibeli kembali 68.032.000 lembar saham dengan harga Rp 6.075 (enam ribu tujuh puluh lima) (nilai penuh) per lembar saham yang senilai Rp 413.294.400 (empat ratus tiga belas juta dua ratus sembilan puluh empat ribu empat ratus rupiah). Selisih antara nilai perolehan dengan hasil penjualan setelah dikurangi biaya jasa perantara dan kustodian sebesar Rp 210.902.460 (dua ratus sepuluh juta sembilan ratus dua ribu empat ratus enam puluh) diakui sebagai tambahan modal disetor. Pada akhir Maret 2010, Blue Valley Holdings PTE Ltd, menjual seluruh sahamnya melalui private placement, sehingga komposisi pemegang saham perseroan berubah menjadi pemerintah 51,01% dan publik 48,99%. Tanggal 18 Desember 2012 perseroan resmi mengambil alih 70% kepemilikan saham Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC) dari Hanoi General Export-Import Joint Stock Company (Geleximco) di Vietnam, berkapasitas 2,3

(18)

juta ton. Aksi korporasi ini menjadikan perseroan tercatat sebagai BUMN Multinasional yang pertama di Indonesia. Dengan akuisisi TLCC tersebut, hingga akhir 2012, kapasitas desain perseroan menjadi sebesar 28,5 juta ton (26,2 juta ton di Indonesia dan 2,3 juta ton di Vietnam) semen per tahun.

3. Posisi Terakhir Modal Pemerintah Pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Berdasarkan laporan tahunan 2014, pada tanggal 31 Desember 2014, jumlah saham yang diterbitkan dan disetor berjumlah Rp 593.152.000.000 (lima ratus sembilan puluh tiga miliar seratus lima puluh dua juta) yang terdiri atas 5.931.520.000 lembar saham, masing-masing bernilai Rp 100 (seratus rupiah) per lembar saham. Tahun 2014 tercatat ada 6.596 investor pemegang saham perseroan. Kepemilikan saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. masih mayoritas dipegang oleh pemeritah sebesar 51,01% dan masyarakat sebesar 48,99%. Berikut gambar grafik komposisi pemegang saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. per 31 Desember 2014:

Gambar 3.1

Grafik komposisi pemegang saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. per 31 Desember 2014 Sumber : Laporan Tahunan Perusahaan Tahun 2014

Sesuai dengan daftar pemegang saham yang dikeluarkan oleh Biro Administrasi Efek, PT Datindo Entrycom, susunan pemegang saham perseroan pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013 adalah sebagai berikut:

(19)

Tabel 3.2

Struktur modal PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. tahun 2014

Sumber : Laporan Tahunan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Tahun 2014

Berdasarkan tabel 3.2 di atas, pada tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, saham milik Pemerintah Republik Indonesia memegang saham mayoritas sebesar 3.025.406 saham atau mewakili 51,01% saham. Sedangkan masyarakat memegang saham minoritas sebesar 2.906.114 saham atau mewakili 48,99% saham. Selanjutnya, tabel berikut menjelaskan rincian informasi yang terkait dengan kepemilikan saham perseroan per 31 Desember 2014.

Tabel 3.3

Daftar nama pemegang saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. tahun 2014

(20)

Berdasarkan uraian singkat di atas, jelas bahwa PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. memenuhi syarat sebagai badan hukum berkonsep perseroan terbatas, dimana pada mulanya perseroan ini merupakan perusahaan negara yang seluruh sahamnya 100% dimiliki negara. Yang kemudian pemerintah melakukan pengurangan penyertaan modal negara sehingga pemegang saham dipegang oleh pemerintah dan masyarakat. Oleh karenanya, keuangan negara dalam hal ini kekayaan negara yang dipisahkan dalam penyertaan modal negara terhadap PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., telah menjadi harta kekayaan perseroan. Yang termasuk lingkup keuangan negara hanya sebatas permodalan yang diberikan pemerintah dan eksistensi BUMN saja.

Menurut pendapat Arifin P. Soeria Atmadja, pemisahan kekayaan negara mengandung makna pemerintah menyisihkan kekayaan negara untuk dijadikan modal penyertaan guna dijadikan modal pendirian perseroan atau untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan perseroan terbatas. Batasan atau kriteria suatu BUMN dapat diberikan penyertaan modal negara dilihat dari aspek manajemen dan prospek ekonomi yang lazim berlaku pada penyertaan modal. Pada umumnya batasan tersebut menyangkut laporan keuangan yang baik, kinerja yang baik, pelaksanaan good corporate

governance yang intinya berorientasi pada pelayanan kepada stakeholder,

bukan sekedar kepada pemegang saham dan pemenuhan kebutuhan jangka panjang di bidang sosial dan ekonomi, maksimal penciptaan nilai perusahaan sebagai entitas ekonomi dan entitas sosial dan prospek usaha yang cukup baik atau diperlukan karena penting bagi negara dan/atau memenuhi hajat hidup orang banyak (Arifin P. Soeria Atmadja, 2010:100). Penyertaan modal negara/daerah harus dilakukan dengan perencanaan dan pengkajian yang mendalam agar kekayaan negara/daerah yang dipisahkan tersebut memberikan manfaat sosial dan ekonomi untuk mewujudkan kesejahteran umum (Yanuar Syaripulloh, 2012: 150).

(21)

B. Implikasi dari Pelaksanaan Penyertaan Modal Pemerintah pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. dengan Adanya Undang-Undang Nomor

17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara

Lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara awalnya didasarkan pada UUD NRI Tahun 1945 Pasal 23 yang berbunyi: APBN sebagai wujud pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Selanjutnya dalam Pasal 23 C Bab VIII UUD NRI Tahun 1945, “Keuangan negara harus diatur dalam undang-undang terkait dengan pengelolaan hak dan kewajiban negara”. Atas amanat ini kemudian dituangkan dalam bentuk Undang-Undang Keuangan Negara yang selanjutnya disebut dengan UUKN. Berangkat dari landasan konstitual itulah berbagai upaya dilakukan untuk dapat menghadirkan UUKN. Keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dimana hak dan kewajiban yang dimiliki oleh negara nantinya akan digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat (Konsep

Welfare State).

Rezim keuangan negara sebelum tahun 2003 diatur dengan ICW yaitu merupakan instrumen hukum keuangan negara yang dibuat oleh dan diberlakukan sejak pemerintahan Hindia Belanda. ICW ini sendiri menjadi

substance di dalam sistem hukum Indonesia berdasarkan Ketentuan Peralihan

Pasal II UUD 1945 yang menentukan bahwa “Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini”. Keberlakuan ICW berakhir setelah UUKN diundangkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengundangan Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Namun jauh sebelum lahirnya UUKN, pemisahan kekayaan negara pada dasarnya telah dilaksanakan dalam

(22)

mekanisme pengelolaan keuangan negara (http://kppnjember.net/ambiguitas-pembatasan-ruang-lingkup-keuangan-negara-dalam-penerapan-prinsip-hukum -dan akuntansi/, diakses tanggal 17 Maret 2016 Pukul 11:52).

Mencermati sejarah pengaturan mengenai status hukum uang negara pada BUMN sebenarnya sejak berlakunya UUKN pada masa Hindia Belanda yang dikenal dengan ICW, yang kemudian diubah menjadi UU Perbendaharaan Indonesia, telah menganut definisi luas terhadap makna keuangan negara yang menempatkan uang di BUMN sebagai cakupan rezim hukum keuangan negara. Hal itu berarti apa yang diatur dalam UUKN saat ini sudah memiliki latar belakang historis yang sangat kuat. Jika ditinjau dari “teori sumber” uang negara yang dipisahkan dari APBN untuk diinvestasikan di BUMN, jelas bersumber dari uang rakyat di APBN. Hal itu berimplikasi harus tunduk pada mekanisme pengelolaan, pertanggungjawaban dan pemeriksaan yang sama dengan aliran uang negara lainnya. Asas kelengkapan yang dikenal dengan dalam hukum keuangan negara mengharuskan seluruh uang negara bersifat transparan dan tak ada yang boleh berlindung dibalik otonomi badan hukum privat untuk melucuti akses pengawasan rakyat terhadap uang negara yang dipisahkan (Riawan Tjandra, 2014: 5-6). Hal ini terkait dengan adanya BPK sebagai lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam UUD NRI Tahun 1945.

Adanya UUKN tersebut juga telah menimbulkan perspektif yang berbeda dalam memandang status keuangan negara. Salah satunya adalah dilatarbelakangi kontroversi undang-undang yang berkaitan dengan keuangan negara dan BUMN dalam mendefinisikan keuangan negara. Terutama yang tertuang pada Pasal 2 huruf g UUKN yang menyatakan bahwa yang termasuk ruang lingkup keuangan negara:

“Kekayaan negara/daerah yang dikelola sendiri dan oleh atau pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah”.

(23)

Apabila kita mencermati penjelasan pasal di atas menunjukkan bahwa kekayaan negara yang sudah dipisahkan masih tetap dianggap sebagai keuangan negara.

Sementara itu pada Pasal 4 ayat (1) UU BUMN menyatakan bahwa Modal BUMN merupakan dan berasal dari kekayaan yang dipisahkan. Yang dimaksud dengan dipisahkan adalah pemisahan kekayaan negara dari APBN untuk dijadikan penyertaan modal negara pada BUMN untuk selanjutnya pembinaan dan pengelolaannya tidak lagi didasarkan pada sistem APBN, namun pembinaan dan pengelolaannya didasarkan pada prinsip-prinsip perusahaan yang sehat. Oleh karenanya, dalam rangka penguasaan cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak (seperti yang diamanatkan UUD NRI Tahun 1945) itu lah, negara memisahkan sebagian dari kekayaan negara dalam bentuk PN atau yang sekarang disebut dengan BUMN. Pengaturan status hukum keuangan negara pada Pasal 4 ayat (1) UU BUMN dengan memperhatikan ketentuan Pasal 2 huruf g UUKN, tampak terjadi perbenturan kepentingan, di satu pihak kekayaan BUMN sebagai kekayaan BUMN itu sendiri sedangkan di lain pihak kekayaan BUMN sebagai kekayaan negara.

Adanya ketidaksinkronan pengaturan berkaitan dengan kelembagaan BUMN di dalam peraturan perundang-undangan telah mengakibatkan kekaburan hukum dalam tataran normatif. UU BUMN secara eksplisit telah menegaskan berlakunya segala ketentuan dan prinsip perseroan sebagaimana diatur dalam UUPT bagi kelembagaan BUMN. Melalui pengaturan yang demikian maka jelaslah bahwa segala prinsip kemandirian perseroan terbatas demi hukum berlaku bagi BUMN. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, kekaburan hukum terjadi manakala ketentuan UUKN disandingkan dengan ketentuan UU BUMN. UUKN mengkategorikan “kekayaan perusahaan negara sebagai bagian dari keuangan negara”. Ketentuan ini seakan memberikan legitimasi bagi negara untuk melakukan campur tangan atas pengelolaan BUMN persero yang sejatinya merupakan badan hukum mandiri. Inilah yang kemudian menimbulkan begitu banyak implikasi baik dalam tataran normatif

(24)

maupun dalam tataran praktis. Salah satunya adalah mengenai campur tangan negara dalam pengelolaan BUMN yang terus-menerus dilakukan hingga menimbulkan berbagai persoalan bahkan tak jarang memunculkan indikasi monopoli. Namun jangan sampai intervensi negara dalam pengelolaan BUMN justru „menodai‟ prinsip kemandirian BUMN itu sendiri (Inda Rahadiyan, 2013: 625-626).

Apabila dilihat dari frase “prinsip-prinsip perusahaan yang sehat‟, tentunya pengelolaan keuangan BUMN sudah ada di ranah pengelolaan keuangan mandiri oleh BUMN sebagai perusahaan. Namun hal demikian itu tentunya tidak mengurangi keberadaan keuangan BUMN sebagai unsur keuangan negara. Arifin P. Soeria Atmadja (2010:115-116) mengungkapkan konsekuensi logis dari penyertaan modal pemerintah kepada BUMN yang berbentuk perseroan adalah pemerintah ikut menanggung risiko dan tanggung jawab terhadap kerugian usaha yang dibiayainya. Selanjutnya, Arifin juga menegaskan bahwa dalam menanggung risiko dan bertanggung jawab dalam kerugian usaha yang demikian ini, pemerintah tidak dapat mengenakan baju badan hukum publik, karena dapat mengganggu penyelenggaraan fungsi layanan publik oleh pemerintah secara optimal dan maksimal, serta bertentangan dengan prinsip hukum dan logika hukum yang berlaku.

BUMN merupakan badan hukum perseroan yang pengesahannya dilakukan dengan Keputusan Menteri Hukum dan Ham. Dan di samping itu, memiliki kekayaan terpisah dengan kekayaan negara maupun pemegang saham (pemilik), direksi (pengurus), dan komisaris (pengawas). Meskipun negara memiliki saham paling sedikit 51% pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat. Pendirian suatu BUMN melalui modal negara, baik modal seluruhnya atau modal sebagian, dan modal negara pada BUMN merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dari APBN. Sumber utama dari modal pada pendirian suatu BUMN dilakukan melalui penyertaan modal secara langsung dari kekayaan negara yang dipisahkan. Penyertaan secara langsung dari kekayaan negara yang dipisahkan dimaknai sebagai penyertaan modal negara dalam rangka pendirian atau penyertaan pada

(25)

BUMN. Bukti konkrit dari adanya modal negara dan penyertaan modal negara pada suatu BUMN ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Adanya pengundangan peraturan pemerintah atas penyertaan modal negara pada suatu BUMN, diartikan sebagai dokumentasi formal hukum atas kegiatan modal negara dan penyertaan modal negara tersebut pada suatu BUMN Indonesia (Ronny Sautma Hotma Bako, 2013: 17).

Penyertaan modal negara pada suatu BUMN terbatas dalam rangka pendirian atau penyertaan pada BUMN. Ada 2 kondisi dari penyertaan modal negara pada suatu BUMN, yaitu pada kondisi pendirian suatu BUMN atau pada kondisi penyertaan modal negara. Pada konteks pendirian suatu BUMN, penyertaan modal negara sifatnya terbatas pada kondisi pendirian suatu BUMN. Tetapi apabila ada suatu BUMN membutuhkan modal tambahan untuk kegiatan BUMN tersebut, maka diberikan penyertaan modal negara. Sampai pada level modal BUMN berasal dari negara atau adanya tambahan penyertaan modal pada suatu BUMN tidak banyak permasalahannya. Berdasarkan sudut administrasi hukum, maka sumber dari modal suatu BUMN berasal dari modal negara. Artinya, ada tanggungjawab negara atas suatu BUMN melalui pemberian modal atau penyertaan modal kepada suatu BUMN yang ditetapkan dengan suatu peraturan pemerintah (Ronny Sautma Hotma Bako, 2013: 18).

Menurut Alfin Sulaiman (Alfin Sulaiman, 2011: 114), bahwa perlu dilakukan persamaan persepsi masyarakat menyangkut keuangan negara dan keuangan BUMN. Berdasarkan teori badan hukum, jelas menunjukkan bahwa uang negara yang telah disetorkan ke dalam BUMN sudah bukan menjadi uang negara lagi. Selanjutnya, menyangkut pengertian keuangan negara, apakah keuangan negara dalam arti luas, atau arti sempit, Alfin Sulaiman sependapat dengan pendapat Arifin P. Soeria Atmadja yang memberikan pendapatnya mengenai keuangan negara. Bahwa definisi keuangan negara dalam Pasal 23 UUD NRI Tahun 1945 dapat diinterpretasi, yaitu:

1. Pengertian keuangan negara diartikan secara sempit, yang meliputi keuangan negara yang bersumber pada APBN, didasarkan pada pertanggungjawaban keuangan negara oleh pemerintah yang telah

(26)

disetujui oleh DPR selaku pemegang hak begrooting, yaitu APBN. Karena tidak mungkin pemerintah mempertanggungjawabkan APBD yang seyogyanya dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Daerah kepada DPRD, dan keuangan negara pada perusahaan negara, dimana perusahaan negara (BUMN) mempunyai tata cara pengelolaan dan pertanggungjawaban sendiri.

2. Pengertian keuangan negara diartikan secara luas, jika didasarkan pada objek pemeriksaan dan pengawasan keuangan negara, yakni APBN, APBD, BUMN/BUMD.

Pasal 1 angka 10 UU BUMN mendefinisikan bahwa kekayaan negara yang dipisahan adalah kekayaan negara yang berasal dari APBN untuk dijadikan penyertaan modal negara pada persero/perum serta perseroan terbatas lainnya. Sumber kekayaan negara yang berasal dari APBN menunjukkan bahwa uang negara tersebut harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat sebagai uang negara yang bersumber dari APBN. BUMN hanya sebatas mengelolanya tetapi sifat kekayaan negara yang bersumber dari APBN kiranya tidak menghilangkan karakteristiknya sebagai uang negara, meskipun dikelola oleh BUMN persero. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Alfin Sulaiman mengenai pengertian keuangan negara secara luas didasarkan pada objek pemeriksaan dan pengawasan keuangan negara. Apabila Pasal 1 angka 10 UU BUMN tersebut dikaitkan degan Pasal 71 ayat (2) Bab VII tentang pemeriksaan eksternal UU BUMN yang menyatakan bahwa Badan Pemeriksa Keuangan selanjutnya disebut dengan BPK berwenang melakukan pemeriksaan terhadap BUMN sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, timbul keyakinan kuat bahwa semangat pembentuk UU BUMN sejalan dengan UUKN untuk mengamankan uang negara yang dipisahkan agar dapat dipertanggungjawabkan pengelolaannya kepada rakyat. Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan, Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuanga Negara menegaskan bahwa pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh BPK

(27)

meliputi seluruh unsur keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 UUKN (Riawan Tjandra, 2014: 13).

Hal ini artinya uang negara yang dipisahkan dan dikelola oleh BUMN termasuk dalam lingkup kewenangan pemeriksaan BPK dan merupakan bagian dari keuangan negara. Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 Tentang BPK juga menyatakan bahwa BPK menilai dan/atau menetapkan jumlah kerugian negara yang diakibatkan oleh perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dilakukan oleh bendahara, pengelola BUMN/BUMD, dan lembaga atau badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan negara. Jadi, posisi BUMN dalam prespektif hukum positif adalah melakukan pengelolaan keuangan negara. Artinya pengelolaan keuangan negara oleh BUMN tidak menghilangkan sifat dari kekayaan negara yang dipisahkan sebagai uang negara, tidak berubah sifatnya menjadi uang privat. Uang negara yang dipisahkan dan dikelola BUMN tersebut termasuk klasifikasi keuangan negara yang harus dipertanggungjawabkan pengelolaannya kepada rakyat tata kelolanya di BUMN (Riawan Tjandra, 2014: 14). Oleh karenanya, eksistensi BUMN juga tak lepas dari campur tangan pemeritah. Artinya, dalam mepertanggungjawabkan itu, BUMN setiap tahunnya harus menyampaikan laporan tahunan perusahaan kepada pemerintah dan pemegang saham lainnya. Penyampaian laporan ini nantinya juga harus dipublikasikan kepada masyarakat. Harus terbuka dan transparan dalam penyampaian laporan tersebut.

Namun Mahkamah Konstitusi, melalui Putusan MK Nomor 62/PUU-XI/2013 yang dibacakan tanggal 18 September 2014, telah mengukuhkan status kekayaan negara yang bersumber dari keuangan negara dan dipisahkan dari APBN untuk disertakan menjadi penyertaan modal di BUMN tetap menjadi bagian dari rezim keuangan negara. Hal itu telah mengakhiri perdebatan mengenai frasa "kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/perusahaan daerah" dalam Pasal 2 Huruf g UUKN yang merupakan salah satu unsur dari keuangan negara. Meskipun UUKN dengan tegas telah menempatkan kekayaan yang dipisahkan pada BUMN merupakan bagian dari

(28)

keuangan negara, ketentuan tersebut sering dibenturkan dengan pandangan yang menganut prinsip otonomi badan hukum privat dan teori transformasi keuangan negara (http://www.bpk.go.id/news/pemisahan-kekayaan-negara-di-bumn, diakses pada tanggal 28 Maret 2016 Pukul 21.52).

BUMN berperan utama dalam kegiatan-kegiatan ekonomi yang strategis dan atau menguasai hajat hidup orang banyak, adalah merupakan amanat dari Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945 yang menunjuk pemerintah untuk mendirikan perusahaan negara untuk dapat mengurus hak dan kekayaan negara yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak. Hal ini untuk mencegah kekhawatiran terjadinya penguasaan ekonomi oleh orang atau lembaga ekonomi yang dapat menyengsarakan dan menindas rakyat. Dalam fungsi inilah BUMN seringkali mempunyai peran ganda, yaitu badan usaha yang bersifat profit oriented sekaligus juga berfungsi sebagai agent of development. Alasan inilah yang menguatkan filosofi BUMN sebagai bagian dari kekayaan negara yang dipisahkan adalah dalam rangka menjalankan amanat konstitusi Pasal 33 (Putusan Mahhkamah Konstitusi RI Nomor 62/PUU-XI/2013).

Atas konsepsi itulah BUMN berlakulah dua rezim hukum yaitu rezim hukum publik dan rezim hukum privat. Rezim hukum publik/UU bidang keuangan negara hanya berlaku bagi BUMN hanya sebatas yang mengatur permodalan dan eksistensi BUMN. Oleh karenanya dalam setiap penyertaan modal negara atau penambahan penyertaan modal negara ke dalam BUMN dan Perseroan Terbatas yang dananya berasal dari APBN ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (Pasal 3 ayat (1) PP Nomor 44 Tahun 2005). Hal inilah yang membedakan BUMN dengan badan usaha swasta. Bahkan pendirian, perubahan modal, merger, akuisisi, konsolidasi, pembubaran BUMN harus dengan PP, bahkan privatisasi melibatkan Dewan Perwakilan Rakyat yang selanjutnya disebut DPR. Sedangkan yang berlaku bagi rezim hukum privat/UU bidang korporasi mengatur tindakan-tindakan operasional (di luar

eksistensi permodalan dan eksistensi BUMN)

(http://bem.law.ui.ac.id/fhuiguide/ uploads/materi/hanggar-bumn-di-indonesia. pptx, diakses tanggal 18 Maret 2016 Pukul 09.25).

(29)

Berbicara sekilas mengenai eksistensi BUMN, penulis akan sedikit membahas tentang strategi dan kegiatan usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. yang dikutip penulis dari Laporan Tahunan 2014, bahwa perseroan telah menyempurnakan board manual, Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran dan Pedoman IT Governance sebagai salah satu implementasi dari pelaksanaan Pedoman Good Corporate Governance yang selanjutnya disebut dengan GCG dan telah diberlakukan melalui surat keputusan Direksi. Board Manual tersebut disusun sesuai ketentuan pasal 2 Peraturan Menteri Negara BUMN No: Per-01/MBU/2011, merupakan pedoman kerja Dewan Komisaris, Direksi, dan perangkatnya yang bertujuan untuk:

1. Mempermudah dewan komisaris dan direksi dalam memahami peraturan-peraturan yang terkait dengan tata kerja dewan komisaris dan direksi; 2. Menjadi rujukan tentang tugas pokok, fungsi kerja dan meningkatkan

kualitas serta efektivitas hubungan kerja antar kedua organ;

3. Menerapkan asas-asas GCG yakni transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness (kewajaran).

Sebagai implementasi penerapan tata kelola, perseroan secara terus-menerus melakukan penyempurnaan atas Standard Operating Procedure (SOP) pada seluruh proses bisnis yang tertuang di dalam Sistem Manajemen Semen Indonesia yang selanjutnya disebut dengan SMSI. Sebagai kerangka pelaksanaan GCG yang diprakarsai oleh dewan komisaris dan direksi, perseroan melengkapi seluruh soft structure yang dibutuhkan dalam pengelolaan perusahaan sesuai dengan kaidah GCG. Kerangka kebijakan soft

struktur tersebut meliputi pedoman pelaksanaan GCG, pedoman kode etik

perusahaan, manual board, it governance, pedoman sistem pelaporan pelanggaran dan kebijakan-kebijakan lainnya, yang ditandatangani oleh dewan komisaris dan direksi (Laporan tahunan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. 2015: 239-240).

Pedoman dan kebijakan tersebut secara jelas mengatur segala aspek pengelolaan perusahaan, termasuk di antaranya memberikan definisi visi, misi dan nilai-nilai perseroan; menjelaskan kebijakan penyusunan strategi,

(30)

penyusunan organisasi, kesekretariatan korporasi, manajemen risiko, sistem pengendalian intern dan pengawasan, standar etika, keuangan, akuntansi, pengelolaan SDM, dan sebagainya. Dengan kelengkapan kompetensi pemrakarsa praktik GCG dan kelengkapan soft structure penunjangnya, maka perseroan meyakini tata kelola perusahaan sebagaimana tergambar dalam struktur dibawah dapat berjalan dengan baik. Keseluruhan pedoman dan aturan tersebut telah memperhatikan butir-butir yang terkandung dalam “Pedoman Umum GCG Indonesia”, UUPT, dan praktik-praktik GCG yang lazim digunakan. Selain hal tersebut, konsistensi penerapan GCG diharapkan juga dapat meningkatkan kinerja usaha dan pertumbuhan berkelanjutan yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai perseroan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya (www.semenindonesia.com, diakses tanggal 16 Maret 2016 Pukul 10:52).

Pemerintah sebagai regulator bertanggung jawab untuk melindungi masyarakat dan bertanggungjawab untuk memastikan bahwa perusahaan melakukan GCG untuk melindungi para pemangku kepentingan mereka. Studi terbaru masih menemukan, hasil campuran mengenai perusahaan pemerintahan dan kepemilikan pemerintah menyatakan bahwa perusahaan negara yang dimiliki mungkin memiliki GCG yang lebih lemah dari perusahaan lain karena mereka memiliki tujuan yang berkaitan dengan kesejahteraan negara dan bukan hanya tujuan perusahaan saja yaitu mencari keuntungan. Perusahaan milik negara menerima dana dari pemerintah yang cenderung menggunakan investor jangka panjang dan tidak aktif memonitor investasinya. Namun, perusahaan negara yang dimiliki adalah tetap yang terbaik untuk menerapkan GCG. Karena bahwa dengan adanya kepemilikan pemerintah secara positif sangat berperan dalam pelaksanaan GCG (Ferdinand T. Siagian, 2011: 190).

Berdasarkan data prospek usaha perseroan yang diperoleh penulis melalui Laporan Tahunan 2014, perseroan meyakini perekonomian Indonesia di tahun mendatang masih akan menghadapi tantangan di tingkat makro. Konsumsi domestik dan kegiatan investasi masih tetap menjadi kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tekanan inflasi dan stabilitas nilai

(31)

tukar belum ada titik terang yang membuat suku bunga rujukan masih akan tinggi. Sekalipun ada harapan dari realisasi proyek-proyek infrastruktur, dampaknya terhadap perbaikan ekonomi masih harus ditunggu. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, sudah barang tentu memberi prospek yang masih menantang bagi industri persemenan, berupa terbatasnya peningkatan permintaan pasar yang diperkirakan mencapai 6-7%. Hal ini membuat perseroan harus tetap waspada untuk menjaga kinerjanya dalam mengelola biaya dan menjaga efisiensi operasional. Perseroan kini berada pada kondisi yang lebih siap untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan pasar. Guna memastikan diperolehnya keunggulan bersaing sekaligus memberikan hasil kinerja yang optimal, perseroan akan konsisten menerapkan inisiatif strategis yang bersifat kritikal, yaitu: pertumbuhan kapasitas, pengamanan energi, penguatan citra korporasi, pemenuhan kebutuhan konsumen dan penguatan faktor penunjang dan pengendalian resiko (Laporan tahunan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. 2015: 43).

Adanya penyelesaian pembangunan dua unit pabrik baru di tahun 2012 lalu dan realisasi tahap pembangunan pabrik baru di Padang dan di Rembang di tahun 2014, diikuti penyelesaian pembangunan beberapa fasilitas pendukung produksi maupun fasilitas pendukung distribusi membuat perseroan siap menyambut peluang pertumbuhan pasar semen di pasar domestik pada tahun tahun mendatang. Sementara itu realisasi akuisisi TLCC di Vietnam dan keberhasilan program restrukturisasi kewajiban dan berbagai perbaikan yang dilaksanakan, membuat perseroan juga semakin siap untuk berkiprah di kancah persemenan di pasar regional. Seluruh perkembangan tersebut menunjukkan kesiapan perseroan untuk meraih peluang pertumbuhan dari membaiknya kondisi pasar semen di kancah domestik maupun regional untuk menciptakan level kinerja baru di masa mendatang (Laporan tahunan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. 2015: 55-56).

Pembahasan selanjutnya berdasarkan hasil wawancara penulis dengan unit kerja biro hukum dan administrasi&advisory mengenai implikasi dari pelaksanaan penyertaan modal pemerintah pada PT Semen Indonesia (Persero)

(32)

Tbk. pada saat saham Pemerintah masih 65% kemudian terjadi pengurangan penyertaan modal menjadi 51% yaitu mengenai pembagian dividen. Adanya perbedaan dividen yang diterima oleh negara terjadi mengingat pemerintah telah melakukan pengurangan penyertaan modal pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Dengan kedudukannya sebagai pemegang saham, negara berhak memperoleh setiap pembagian keuntungan atau dividen dari BUMN setiap tahunnya. Oleh karenanya setiap tahunnya, perusahaan (persero) BUMN wajib melaporkan mengenai laporan tahunan kepada Menteri Keuangan melalui Menteri BUMN pada saat RUPS.

Adanya laporan tahunan ini membuat para pemegang saham dan pemangku kepentingan mendapatkan dan memperoleh informasi tentang pencapaian kinerja, laporan posisi keuangan, laba rugi, dan arus kas dalam setahun. Selain itu, laporan ini memberikan gambaran lengkap tentang kinerja berkelanjutan perseroan yang berlandaskan triple bottom line yakni pencapaian kinerja keuangan unggul (Profit), komitmen pemberdayaan masyarakat (People) dan menjamin pelestarian lingkungan (Planet). Dengan adanya laporan tahunan ini diharapkan dapat membangun pemahaman dan kepercayaan terhadap perseroan, sehingga seluruh pemegang saham dan pemangku kepentingan memperoleh informasi yang memadai terkait langkah dan strategi perseroan atas pencapaian kinerja setiap tahunnya serta proyeksi pada masa mendatang.

Berdasarkan data yang telah penulis peroleh dari dokumen perusahaan, apabila penulis bandingkan pembagian dividen pada buku tahun 1994 dengan buku tahun 2014 dimana pada tahun 1994 pemerintah masih memegang saham mayoritas sebesar 65% dan pada tahun 2014 pemerintah memegang saham sebesar 51%. Berdasarkan laporan tahunan 1994 diselenggarakan RUPST pada tanggal 12 Juni 1995. Dalam rapat tersebut turut hadir Dirjen pembinaan BUMN selaku perwakilan dari Pemerintah, direktur, komisaris, serta pemegang saham lainnya. Pada tahun 1995 tersebut komposisi saham, Pemerintah 65% sebagai saham mayoritas dan masyarakat 35%. Pada laporan tahunan tersebut menjelaskan mengenai laporan direksi perseroan

(33)

tentang keadaan perseroan dan keuangan untuk tahun buku 1994, pengesahan neraca dan perhitungan laba rugi untuk tahun buku 1994, penentuan pembagian dividen final untuk tahun buku 1994, penunjukan akuntan publik untuk tahun buku 1995, dan hal-hal lain terkait dengan rapat. Dalam RUPST tersebut dihadiri oleh para pemegang saham atau kuasa mereka sebanyak 115.059.300 saham atau sejumlah 77,59 % dari 148.288.000 saham.

Laba bersih untuk tahun buku 1994 adalah sebesar Rp 54.722.281.000 (lima puluh empat miliar tujuh ratus dua puluh dua juta dua ratus delapan puluh satu ribu). Berdasarkan jumlah laba tersebut, maka untuk dividen sebesar 50 % atau Rp 27.361.140.000,50 (dua puluh tujuh miliar tiga ratus enam puluh satu juta seratus empat puluh ribu rupiah lima puluh sen) atau dividen setiap sahamnya sebesar Rp 184,51 (seratus delapan puluh empat rupiah lima puluh satu sen). Sedangkan 50% lagi masuk ke dalam dana cadangan. Karena Pemerintah pada tahun 1995 memegang saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 65% atau 108.288.000 (seratus delapan juta dua ratus delapan puluh delapan ribu) saham perseroan maka dividen yang diperoleh negara pada buku tahun 1994 sebesar Rp 19.980.218.880 (sembilan belas miliar sembilan ratus delapan puluh juta dua ratus delapan belas ribu delapan ratus delapan puluh).

Berdasarkan data dari dokumen perusahaan, pada tanggal 16 April 2015 diselenggarakan RUPST. Dalam RUPST tersebut dihadiri oleh para pemegang saham atau kuasa mereka sebanyak 4.491.918.433 saham atau sejumlah 75,73% dari 5.931.520.000 saham. Pada tahun 2015, komposisi saham Pemerintah 51,01% sebagai saham mayoritas dan masyarakat 48,99%. RUPST yang diagendakan adalah perihal beikut ini:

1. Persetujuan laporan tahunan mengenai keadaan dan jalannya perseroan selama tahun buku 2014 termasuk laporan pelaksanaan tugas pengawasan dewan komisaris selama tahun buku 2014 dan pengesahan laporan keuangan perseroan tahun buku 2014 sekaligus pemberian pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (volledig acquit et decharge) kepada direksi dan dewan komisaris

(34)

atas tindakan pengurusan dan pengawasan perseroan yang telah dijalankan selama tahun buku 2014.

2. Pengesahan laporan tahunan program kemitraan dan bina lingkungan tahun buku 2014, sekaligus pemberian pelunasan dan pembebasan tanggung jawab (acquit et decharge) kepada direksi dan dewan komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan program kemitraan dan bina lingkungan yang telah dijalankan selama tahun buku 2014.

3. Penetapan penggunaan laba bersih perseroan tahun buku 2014 Perseroan senantiasa membagikan dividen dengan memperhatikan kondisi keuangan untuk pengembangan usaha dan imbal hasil bagi para pemegang saham. Untuk memastikan keberlanjutan perusahaan dan diperolehnya keunggulan bersaing sekaligus memberikan hasil kinerja yang optimal, perseroan menerapkan inisiatif strategi jangka panjang, meliputi pertumbuhan kapasitas produksi, pengamanan energi, penguatan citra korporasi, pemenuhan kebutuhan konsumen dan pengendalian resiko. Dengan inisiatif strategi tersebut, perseroan dipastikan mampu memanfaatkan peluang yang terbuka dan mencatatkan pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan. Perseroan kini memasuki tahap implementasi strategi pengembangan usaha jangka panjang guna menjamin pertumbuhan menyeluruh yang sejalan dengan pembangunan komunitas dan pertumbuhan daya beli masyarakat. Dan untuk mengimplementasikan strategi tersebut perseroan berencana melakukan investasi proyek-proyek strategis sehingga diperlukan pendanaan yang cukup dengan senantiasa tetap memperhatikan pada hak-hak shareholders untuk mendapatkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, perseroan masih mengkaji besaran dividen yang paling optimal bagi pertumbuhan perseroan dan kesejahteraan pemegang saham.

(35)

4. Penetapan Tantiem Tahun Buku 2014, gaji untuk direksi dan honorarium untuk dewan komisaris berikut fasilitas dan tunjangan lainnya untuk tahun 2015.

5. Persetujuan penunjukan kantor akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan perseroan termasuk audit laporan PKBL tahun buku 2015 dan periode lainnya dalam tahun buku 2015.

6. Persetujuan perubahan anggaran dasar perseroan 7. Perubahan pengurus perseroan.

Berdasarkan hasil RUPST, laba bersih untuk tahun buku 2014 adalah sebesar Rp 5.565.857.595.000 (lima triliun lima ratus enam puluh lima miliar delapan ratus lima puluh lima tujuh juta lima ratus sembilan puluh lima ribu). Berdasarkan jumlah laba tersebut, maka untuk dividen sebesar 40 % atau Rp 2.226.343.038.000 (dua triliun dua ratus dua puluh enam miliar tiga ratus empat puluh tiga juta tiga puluh depalan ribu) atau dividen setiap sahamnya sebesar Rp 375,34 (tiga ratus tujuh puluh lima tiga puluh empat sen). Sedangkan 60% lagi masuk ke dalam dana cadangan. Karena Pemerintah memegang saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 51,01% atau 3.025.406 saham perseroan maka dividen yang diperoleh negara pada buku tahun 2014 sebesar Rp 1.135.559.112.204,3 (satu triliun seratus tiga puluh lima miliar lima ratus lima puluh sembilan juta seratus dua belas ribu dua ratus empat tiga sen).

Apabila dicermati, memang secara keseluruhan laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk mencatat kenaikan sebesar 3,6% menjadi Rp 5,6 triliun di tahun 2014 dari Rp 5,4 triliun di tahun 2013. Dengan demikian laba bersih per saham yang dapat di distribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 3,6%. Setiap tahunnya, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. membagikan dividen itu dengan memperhatikan kondisi keuangan untuk pengembangan usaha dan imbal hasil bagi para pemegang saham, namun demikian, sesuai kebijakan manajemen, rasio pembagian dividen berkisar 40- 55% dari laba bersih. Direksi perseroan, dengan persetujuan dewan komisaris dapat membagikan dividen interim, sepanjang kondisi keuangan perusahaan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

FAIL BUKTI KETRAMPILAN JURUBINA BANGUNAN (BUILDING CONSTRUCTOR) TAHAP 1 - -. NAMA PELATIH SITI NUR SHAFIKAH BINTI

Hasil Wawancara dengan Ibu Nur Azizah Selaku pembeli atau pelangan hasil budidaya ikan tambak, wawancara dilakukan tgl.. Indramanyu, Subang, Sumedang, Bandung, Sukabumi, Bogor

- Pembangunan Jaringan Irigasi Tk Usaha Tani Kedungpoh, Nglipar Kedungpoh,Nglipar,Gunungkidul 63.000.000 Manual - Pembangunan Jaringan Irigasi Tk Usaha Tani Girijati,

Jika Dari hasil penelitian secara keseluruhan diperoleh nilai uptake yang sangat tinggi untuk pasien hipertiroid toksik dibandingkan dengan batas normal angka

Governance dalam setiap kegiatan usaha Bank pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. 5) Direksi dalam penyelenggaraan tugas yang bersifat strategis

Hasil bordir yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu seni berupa benda yang dihasilkan melalui proses atau cara dengan menambah hiasan menggunakan

Selain Uji F reg, yang digunakan untuk mengukur pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala madrasah dan pelaksanaan kurikulum secara simultan terhadap kompetensi pedagogik