• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh ANSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI. Oleh ANSAR"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BUDAYA SEKOLAH TERHADAP PEMBENTUKAN

KARAKTER SISWA KELAS X JURUSAN MIPA SMA NEGERI 2 SOPPENG

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

ANSAR

105440008315

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

2019

(2)
(3)
(4)

iv

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ansar

NIM : 105 4400 083 15 Jurusan : Pendidikan Biologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Desember 2019 Yang Membuat Pernyataan

Ansar

Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar. Email : [email protected] Web : biologi.fkip.unismuh.ac.id. Telp : 0411-860837/860132 (Fax). Web : www.fkip.unismuh.ac.id

(5)

v

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Ansar

NIM : 105 4400 083 15 Jurusan : Pendidikan Biologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya

bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Desember 2019 Yang Membuat Perjanjian

Ansar

Jalan Sultan Alauddin No. 259 Makassar. Email : [email protected] Web : biologi.fkip.unismuh.ac.id. Telp : 0411-860837/860132 (Fax). Web : www.fkip.unismuh.ac.id

(6)

vi

MOTTO dan PERSEMBAHAN

Biarkan Mimpi tetap hidup, bermipilah dan gapai mimpi itu sehingga akan indah pada waktunya .

Tiada kasih sayang setulus kasih sayangmu Tiada pengorbanan seikhlas pengorbananmu Kuperuntukkan karya sederhana ini kepada Kedua orang tuaku, seluruh keluargaku, beserta kepada sahabat-sahabatku sebagai tanda

bakti dan kasih sayangku yang akan abadi selamanya... Semoga Allah SWT membalas budi baik mereka. Aamiin...

Saya datang, saya bimbingan, saya ujian, Saya Revisi, dan saya menang

(7)

vii ABSTRAK

Ansar, 105440008315. Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Pembentukan

Karakter Siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng. Skripsi. Program

Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Ibu Irmawanty, dan Pembimbing II Bapak Wira Yustika Rukman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa kelas X jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng. Penelitian ini merupakan penelitian Qorelational. Populasi dalam penelitian ini seluruh kelas X MIPA Negeri Soppeng yang berjumlah 170 sedangkan jumlah sampel yaitu 50% jumlah populasi yaitu 70 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, koesioner dan dokumentas dengan menggunakan teknik deskriktif dalam menganalisis data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ada pengaruh yang cukup signifikan antara budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa kelas X SMA Negeri 2 Soppeng. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yang dilakukan, dengan nilai t hitung lebih besar daripada t tabel dengan taraf signifikan yang lebih kecil dari 0.05.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Subhaanahu

wata’ala atas nikmat, rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi skripsi ini dengan

judul “Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kalas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng” dapat diselesaikan dengan baik.

Tidak lupa penulis kirimkan salam dan salawat atas junjungan Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, Rasul yang telah mengangkat derajat kaum wanita dari lembah kejahiliaan menuju puncak kejayaan. Begitupun salam tak luput penulis kirimkan kepada keluarga, sahabat, serta orang-orang yang senantiasa istiqomah memperjuangkan agama Allah hingga akhir zaman.

Teristimewa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang yang sangat berpengaruh dalam hidup penulis, Ayahanda Bahri , Ibunda Hasnawiah,S.Sos dan Bibi Johar,S.Pd yang senantiasa bersabar dan penuh cinta dalam mendidik, memberi semangat, perhatian, kasih sayang dan do‟a yang tulus. Saudaraku Alim Basrah, Agus Salim, Suhartono Jaya, Wahyuddin, Bardan dan Rahmat yang selalu memberikan dukungan moril disaat sulit dalam hidup penulis.

Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Prof. Dr. Abd. Rahman Rahim, SE,. MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

(9)

ix

2. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Irmawanti, S.Si., M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., sebagai Penasehat Akademik yang membimbing selama perkulihan.

5. Irmawanti, S.Si., M.Si., selaku Pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan, petunjuk, dan motivasi serta koreksi dalam penyusunan skripsi.

6. Wira Yustika Rukman S.Farm,Apt,M.Kes., selaku Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan, petunjuk, dan motivasi serta koreksi dalam penyusunan skripsi.

7. Irmawanti, S.Si., M.Si., dan Nurdiyanti, S.Pd., M.Pd., sebagai validator yang telah meluangkan waktunya untuk memeriksa dan memberikan saran terhadap perbaikan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian yang digunakan penulis untuk penelitian.

8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen di Program Studi Pendidikan Biologi yang telah memberikan banyak ilmu dan berbagi pengalaman selama penulis menimba ilmu di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Makassar.

9. Syaharuddin,S.Pd,.M.Pd, selaku Kepala SMA Negeri 2 Soppeng yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah.

(10)

x

10. Sumarni,S.Pd, Guru Bidang Studi Biologi yang telah membantu penulis selama melaksanakan penelitian.

11. Bapak, Ibu Guru dan staf tata usaha SMA Negeri 2 Soppeng yang telah memberikan bantuan dan arahan selama penelitian.

12. Siswa-siswi SMA Negeri 2 Soppeng, khususnya kelas X MIPA 1 dan X MIPA 4 atas kerjasama dan semangatnya dalam mengikuti pelajaran.

13. Teman-teman seperjuangan Arina Ulin Niama , Iin Darmiyanti,, Nurzakila, Nur Aisyah, Yovita Haskar, Wirdhah Pratiwi Saputri, Dwi Wahyuni Ulpah, Besse Elviana, Nur Hikmah, Nurul Hafidhah, Ayi Zain yang selalu mendampingi setiap langkah

14. Sahabatku KANDAS ku , Fathur Rahman Usman, Arnhy, Ghita Yuniarty N dan Sri Auliah yang selalu membantu dan memberikan semangat disetiap langkah penelitian ini selama 8 tahun sejak bangku SMA

15. Arnhy dan Nurhikma yang telah membantu dalam penelitian ini.

16. Rekan Seperjuangan Jurusan Pendidikan Biologi Angkatan 2015 terkhusus Biologi C Universitas Muhammadiyah Makassar, terima kasih atas kekeluargaan yang terjalin selama menjalani perkuliahan, semoga kekeluargaan yang telah terjalin erat tidak berakhir ketika semua bergelar S.Pd.

Segala bentuk kebaikan dari berbagai pihak semoga dibalas oleh Allah SWT. Penulis hanya dapat berdoa mudah-mudahan segala macam bentuk bantuan, bimbingan, dukungan, semangat, masukan dan doa yang telah diberikan menjadi pintu datangnya ridho dan kasih sayang Allah SWT di dunia dan akhirat, Aamiin yaa Robbal „alamin.

(11)

xi

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih belum mendekati sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat dibutuhkan demi kesempurnaan penulis di masa datang. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi penulis khususnya dan bagi pembaca sekalian pada umumnya. Semoga segala apa yang kita perbuat bernilai ibadah disisi-Nya.

Makassar, Desember 2019

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8

A. Kajian Pustaka ... 8

1. Pengertian Karakter dan Nilai- Nilai Karakter ... 8

2. Pengertian Budaya Sekolah ... 14

3. Unsur- Unsur Budaya Sekolah ... 19

4. Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Siswa ... 21

5. Hasil Penelitian Yang Relavan ... 23

(13)

xiii

C. Hipotesis Penelitian ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

A. Rancangan Penelitian ... 29

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 29

C. Variabel dan Desain Penelitian ... 30

D. Definisi Oprasional dan Pengukuran Variabel ... 30

E. Populasi dan Sampel ... 33

F. Teknik Pengumpulan Data ... 34

G. Instrumen Penelitian ... 35

H. Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Hasil Penelitian ... 45

B. Analisis Data Hasil Penelitian ... 48

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 55

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 58

A. Kesimpulan ... 58

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

2.1 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter ... 12

3.1 Populasi Penelitian ... 33

3.2 Kisi-Kisi Instrument Penelitian Budaya Sekolah ... 36

3.3 Kisi-Kisi Instrument Penelitian Karakter Siswa ... 38

3.5 Skor Alternatif Jawaban ... 40

3.5 Rangkuman Hasil Uji Linearitas ... 44

4.1 Statistik Budaya Sekolah ... 48

4.2 Frekuensi dan Kategorisasi Variabel Budaya Sekolah ... 49

4.3 Statistik Karakter Siswa ... 50

4.4 Distribusi Frekuensi dan Kategorisasi Karakter Siswa ... 51

4.5 Hasil Uji Normalitas ... 52

4.6 Hasil Uji Linieritas ... 53

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman

LAMPIRAN A ... 62

A.1 Hasil Validasi Instrument ... 63

A.2 Kisi-Kisi Intstrumen Penelitian ... 63

A.3 Surat Keterangan Validasi ... 70

LAMPIRAN B ... 73

B.1 Hasil Angket Budaya Sekolah ... 74

B.2 Hasil Angket Karakter Siswa ... 77

B.3 Rekapitulasi Angket Budaya Sekolah ... 81

B.4 Rekapitulasi Angket Karakter Siswa ... 84

LAMPIRAN C ... 87

C.1 Kartu Kontrol Pelaksanaan Penelitian ... 88

C.2 Daftar Hadir Pengisian Angket ... 89

C.3 Surat Keterangan Penelitian ... 93

C.4 Dokumentasi ... 94

LAMPIRAN D ... 97

D.1 Pengkategoresasian Variabel X dan Y ... 98

D.2 Data Olah Uji SPSS ... 99

D.3 Output Regresi ... 100

D.4 Uji Normalitas Data ... 101

(17)

xvii

D.6 Uji Hipotesis ... 102 D.7 Power Point ... 103

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan. Sekolah merupakan salah satu sarana belajar yang sangat luas untuk pendidikan karakter. Namun sekolah harus menyadari perannya, sebab disadari atau tidak sekolah memang menanamkan karakter dasar untuk siswa siswinya. Karakter dasar manusia memang terbentuk pada masa kecilnya dan akan tinggal sepanjang hayat. Disinilah letak pentingnya pendidikan karakter sebagai komponen utama dalam pendidikan dasar kita. Menurut Thomas Lickona (2012;8) bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat, sebagai proses perkembangan ke arah manusia kafaah. Oleh karena itu pendidikan karakter memerlukan keteladanan dan sentuhan mulai sejak dini sampai dewasa. Jadi sangat penting, bagi pengelola sekolah dan guru untuk menanamkan nilai-nilai dasar tersebut, tidak hanya saja butir hafalan tetapi juga menantang siswa untuk menguji nilai nilai mereka dalam kehidupan sehari hari dan berefleksi mengenai hal dalam lingkungan sekolah maupun diluar.

Meskipun sudah adanya penerapan pendidikan karakter disekolah tetapi masih ditemukan siswa yang pada waktu diterangkan bermain sendiri, tidak mengerjakan PR atau tugas yang diberikan, selain itu meskipun lembaga sekolah sudah banyak yang menerapkan budaya shalat dhuhur berjamaah, tetapi masih ditemukan siswa yang tidak melaksanakan shalat lima waktu.

(19)

2

Kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa pengembangan karakter kurang maksimal

(20)

apabila tidak adanya keikutsertaan orang tua dalam mengembangkan karakter anak. Selain itu semakin meningkatnya arus globalisasi orang tua dan guru harus lebih ekstra dalam mengembangkan karakter. Pada saat jam makan siang masih ada siswa yang bermain dengan teman temannya, dan masih ada siswa yang menaruh sandal tidak rapi dan menghadap keluar. Tetapi dengan adanya pendampingan guru siswa lebih disiplin, dan apabila ada pelanggaran yang dilakukan maka akan dikenakan hukuman seperti membersihkan toilet sekolah dan lingkungan sekolah.

Kurikulum 2013 sudah diterapkan di SMAN 2 Soppeng pada kelas X dan kelas XI. Kurikulum 2013 bukan kurikulum baru melainkan kurikulum yang dikembangkan dari kurikulum sebelumnya, dimana kurikulum ini terdapat beberapa poin antara lain mengedepankan pengalaman personal, melalui proses mengamati, bertanya, menalar dan mencoba yang nantinya meningkatkan sikap kreatif pada siswa.

Pendidikan karakter menjadi penting karena semakin menurun etika dan moral siswa dan semakin marak penyimpangan serta kenakalan siswa, seperti perbuatan mencontek saat ujian, malas, membolos jam pelajaran, dan bullying di sekolah. Implementasi pendidikan karakter juga sangat penting untuk di evaluasi secara berkelanjutan agar selalu dapat diketahui proses dan hasilnya. Pembangunan karakter siswa merupakan komitmen kolektif dalam menghadapi tuntutan global.

Pembangunan karakter siswa diharapkan dapat menghasilkan generasi muda yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur. Sebagai perwujudan dari komitmen dalam membangun karakter bangsa tersebut, dibuat

(21)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3 dalam Undang-Undang tersebut menjelaskan tentang Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan selain untuk mengembangkan kemampuan siswa juga berfungsi dan bertujuan untuk membentuk watak atau karakter siswa. Siswa yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur diharapkan mampu membangun peradaban bangsa yang bermartabat.

Pelaksanaan pendidikan nasional tersebut dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Pendidikan karakter menjadi upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan pola pembinaan, baik yang dilakukan dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Pemerintah sekarang memang sedang giat berbicara tentang pembentukan karakter. Tanpa budaya sekolah yang baik akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi peserta didik. Jika budaya sekolah sudah mapan, siapapun yang masuk dan bergabung di sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang telah ada. Pendidikan merupakan hal penting dalam pembangunan mentalitas, moral, serta karakter siswa, maka perlu dilakukan inovasi peningkatan mutu pendidikan melalui pengembangan budaya atau kultur sekolah yang baik. Kultur sekolah adalah suasana kehidupan sekolah di mana peserta didik berinteraksi dengan sesama, guru dengan guru, konselor dengan peserta didik, antar tenaga pendidikan, dan antara tenaga pendidik dengan pendidik dan peserta didik, dan antar anggota kelompok masyarakat dengan warga sekolah yang terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah (Kulsum, 2011:25).

(22)

Bagaimanapun juga karakter itu dimulai dengan teladan, bukan semacam materi oleh karena itu, konsentrasi harus pada guru. Karena karakter tidak bisa diajarkan lewat lisan semata dan tulisan, tetapi dengan teladan. Tidak semua guru memiliki teladan yang baik masih banyak guru yang hanya datang memberikan materi saja. Jelas menunjukkan kerapuhan karakter yang salah satu disebabkan oleh kurang optimal pengembangan karakter di lembaga pendidikan di samping karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Upaya yang tepat adalah melalui pendidikan, karena pendidikan memiliki peran penting dan sentral dalam pengembangan potensi manusia. Melalui pendidikan diharapkan terjadi transformasi yang dapat menumbuh kembangkan karakter positif, serta mengubah watak dari yang tidak baik menjadi baik.

Implementasi pendidikan karakter di SMA Negeri Soppeng dilakukan pada semua siswa dan siswi sehingga diharap para peserta didik dapat mempunyai karakter yang baik sesuai norma-norma di masyarakat. Kegiatan yang menanamkan nilai pendidikan karakter di SMA Negeri 2 Soppeng antara lain saat siswa memasuki gerbang sekolah pada pagi hari para siswa harus menyalami guru yang sudah berdiri di dekat gerbang sekolah. Sebelum dan setelah pelajaran, guru memimpin siswa untuk berdoa agar pelajaran menjadi lancar dan ilmu bermanfaat untuk para murid, para guru selalu menanamkan nilai-nilai spiritual dalam setiap pembelajaran, selalu menerapkan 3 S (senyum, salam, dan sapa). Senyum, salam dan sapa selalu diterapkan di SMAN 2 Soppeng dan seluruh warga sekolah. Siswa selalu memberikan salam ketika bertemu bapak/ ibu guru baik itu yang dikenal

(23)

ataupun yang tidak dikenal. Siswa dan guru selalu mentaati tata tertib, parkir kendaraan sesuai dengan tempatnya dengan rapi. Siswa selalu berpakaian rapi dengan atribut lengkap, menggunakan ikat pinggang, sepatu hitam dan memakai kaos kaki. Ketika siswa terlambat maka akan mendapatkan sanksi dari guru BK.

Budaya sekolah yang dikembangkan oleh SMAN 2 Soppeng mencakup 8 budaya yaitu budaya jujur, budaya saling percaya, budaya kerja sama, budaya membaca, budaya disiplin dan efisien, budaya bersih, budaya berprestasi, budaya memberi penghargaan dan menegur. Budaya tersebut sudah diterapkan di SMAN 2 Soppeng akan tetapi belum adanya skala prioritas yang dilakukan pihak sekolah untuk lebih fokus dalam pengembangan budaya tersebut. Pembentukan pendidikan karakter di SMA Negeri 2 Soppeng lebih fokus pada kurikulum sebagai pedoman pembentukan karakter siswa, sehingga nila-nilai budaya sekolah masih kurang diterapkan di lingkungan sekolah.

Penelitian Bayu Rahmat (2012) yang berjudul Hubungan antara budaya sekolah dan keteladanan guru dengan Karakter siswa jurusan teknik pemesinan SMK N 3 Yogyakarta. Bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifkan yaitu tingkat budaya sekolah 69,48%, keteladanan guru 59,08%, dan karakter siswa 64,86% termasuk dalam kriteria yang baik. Terdapat hubungan yang positif, kuat dan signifikan pada taraf kesalahan 1% antara budaya sekolah dan keteldanan guru dengan karakter siswa jurusan pemesinan SMK N 3 Yogyakarta dengan korelasi sebesar 0,78.

Melalui pemahaman budaya sekolah, maka aneka permasalahan sekolah dapat diketahui dan pengalaman-pengalamannya dapat direfleksikan. Setiap

(24)

sekolah memiliki keunikan berdasarkan pola interaksi komponen sekolah secara internal dan eksternal. Oleh sebab itu, dengan memahami ciriciri kultural sekolah akan dapat diusahakan tindakan nyata untuk perbaikan mutu. jika tercipta budaya sekolah yang baik maka karakter siswa akan baik pula.

Sikap baik guru dalam mengajar dapat dijadikan contoh bagi siswasiswanya. Sikap baik guru dapat ditunjukkan dengan bersikap adil pada semua siswa, percaya dan suka kepada siswa, bersikap sabar dan rela berkorban untuk kepentingan pembelajaran, beribawa dihadapan siswa, bersikap baik terhadap guru-guru, bersikap baik terhadap masyarakat umum, benar-benar menguasai mata pelajaran yang diajarkan, menyukai mata pelajaran yang diajarkan dan berpengetahuan luas. Sikap baik guru berpengaruh pada jalannya proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang kondusif dan suasana sekolah yang baik berpengaruh pada perbuatan dan tingkah laku warga sekolah terutama siswa. Tingkah laku siswa dilingkungan sekolah terbawa dalam kehidupan sehari-hari dan berpengaruh pada karakter siswa tersebut..

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah ada pengaruh budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng.

(25)

Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahi pengaruh budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Bagi pihak sekolah

Hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai sumbang pemikiran dan informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengoptimalkan pembiasaan budaya sehingga dapat bermanfaat untuk semua pihak.

2. Bagi Guru

Hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan pengembangan karakter siswa di sekolah.

3. Bagi Peserta Didik

Hasil penelitian dapat dimanfaatkan peserta didik sebagai acuan bagaimana membentuk karakter yang baik.

4. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dijadikan pengembangan pengetahuan mengenai karakter siswa. Pengalaman yang dapat berguna menghadapi dunia pendidikan di SMA.

(26)
(27)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Pengertian Karakter dan Nilai-Nilai Karakter a. Karakter

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010: 3) “Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak”. Karakter berasal dari bahasa yunani charassein, yang berarti mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir. Menghilangkan ukiran sama saja dengan menghilangkan benda yang diukir itu, karena ukiran melekat dan menyatu dengan bendanya. Wardani (2008) menyatakan bahwa karakter itu merupakan ciri khas seseorang, dan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu. Hamid, M (2008) menyebutkan bahwa karakter merupakan sikap mendasar, khas, dan unik yang mencerminkan hubungan timbal balik dengan suatu kecakapan terbaik seseorang dalam pekerjaan atau keadaan.

Abdullah Munir (2010) menyatakan bahwa sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang

(28)

dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan disebut sebagai karakter yang berbeda latar belakang, budaya, karakter, watak, lingkungan dan pengetahuan. Menurut Zamroni (2011:157), karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan sikap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan tersebut. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika.

Djemari Mardapi (2003:5) karakter diperoleh melalui interaksi dengan orang tua, guru, teman, dan lingkungan. Karakter diperoleh dari hasil pembelajaran secara langsung atau pengamatan terhadap orang lain. Pembelajaran langsung dapat berupa ceramah dan diskusi tentang karakter, sedang pengamatan diperoleh melalaui pengalaman sehari-hari apa yang dilihat di lingkungan termasuk media televisi. Karakter berkaitan dengan sikap dan nilai. Sikap merupakan predisposisi terhadap suatu objek atau gejala, yaitu positif atau negatif.

Nilai berkaitan dengan baik dan buruk yang berkaitan dengan keyakinan individu. Jadi, karakter seseorang dibentuk melalui

(29)

pengalaman sehari-hari, apa yang dilihat dan apa yang didengar terutama dari seseorang yang menjadi acuan atau idola seseorang. b. Nilai-nilai Dalam Pendidikan Karakter

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010) nilai-nilai yangdikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter diidentifikasi dari sumbersumber berikut ini:

1) Agama

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu,kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agamadan kepercayaan. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilainilaiyang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilaipendidikan budaya dan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidahyang berasal dari agama.

2) Pancasila

Negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsipkehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasilaterdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasalpasalyang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalampancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi,kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bertujuanmempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warganegara yang memiliki

(30)

kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai nilaiPancasila dalam kehidupan sebagai warga negara.

3) Budaya

Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidupbermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakatitu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatukonsep dan arti dalam komunikasi antara anggota masyarakat itu. Posisi budayayang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budayamenjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

4) Tujuan Pendidikan Nasional

Sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga Negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan diberbagai jenjangdan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yangharus dimiliki warga Negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikannasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembanganpendidikan budaya dan karakter bangsa.

Banyak nilai yang dapat dan harus dibangun di sekolah. Sekolah adalahtempat yang tepat untuk membangun, mengembangkan nilai tersebut. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam budaya sekolah yang ada di sekolah. Budaya sekolahyang kuat dan telah membudaya merupakan pondasi awal dalam pembentukan karakter siswa dan

(31)

warga sekolah pada umumya. Sementara itu, dalampengembangan pendidikan budaya dan karakter siswa, Kemdiknas (2010:9-10)telah merumuskan karakter Religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif ,mandiri, demokratis , rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemarmembaca, peduli lingkungan, peduli social, dan tanggung jawab.

Deskripsi mengenai pengembangan karakter siswa menurut KementerianPendidikan Nasional (2010 : 9-10) dapat dilihat pada Tabel 2. 1.

Tabel 2. 1 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter.

No Nilai Deskriptif

1 Religious

Sikap dan perilaku yang patuh dalammelaksanakan ajaran agama yang dianutnya

2 Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3 Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4 Disiplin

Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

(32)

5 Kerja Keras

Perilaku yang menunjukan upaya sunguh-sunguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

6 Kreatif

Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara tau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7 Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8 Demokratis

Cara berfikir, bertindak dan bersikap yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Serta menghargai hak dan kewajiban orang lain.

9 Rasa Ingin Tau

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuau yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10 Semangat Kebangsaan

Cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.

11 Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bertindak dan berbuat yang menunjukan kesetiaan,kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik,social, budaya.

12 Menghargai Prestasi

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

(33)

13 Bersahabat

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.

14 Cinta Damai

Sikap perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran kita.

15 Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16 Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya. Dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17 Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18 Tanggung Jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, (alam, social dan budaya)

Sumber: (KementerianPendidikan Nasional, 2010) 2. Pengertian Budaya Sekolah

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 149), disebutkan bahwa “budaya“ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Kebudayaan sendiri adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu dan lain-lain).

(34)

Terdapat beberapa definisi mengenai pengertian budaya sekolah menurut pendapat beberapa pakar. Short dan Greer (Zuchdi, 2011:133) mendefinisikan bahwa budaya sekolah merupakan keyakinan, kebijakan, norma, dan kebiasaan dalam sekolah yang dapat dibentuk, diperkuat, dan dipelihara melalui pimpinan dan guru-guru di sekolah. Uteach (Rahayu, 2010:11) juga memberikan definisi sendiri bahwa: “School culture is the behind-the-scenes context that reflects the values, beliefs, norma, traditions, and ritual that build up over time as people in a school work together”. Kultur sekolah bisa juga disebut budaya sekolah karena selalu menentukan bagaimana orang bekerja dan beraksi. Dengan demikian, istilah budaya sekolah adalah pemindahan norma, nilai, dan tradisi dari satu generasi kegenerasi berikutnya, sehingga budaya sekolah dapat mengalami perubahan baik secara sengaja maupun tanpa disengaja.

Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah dimana peserta didikberinteraksi dengan sesama, guru dengan guru, konselor dengan peserta didik,antar tenaga kependidikan, antara tenaga kependidikan dengan pendidik danpeserta didik, dan antar anggota kelompok masyarakat dengan warga sekolah(Kemendiknas, 2010: 19).

Zamroni (2011:111) memberikan batasan bahwa budaya sekolah adalahpola nilai-nilai, prinsi-prinsip, tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yangterbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, dikembangkan sekolah dalamjangka waktu yang lama dan menjadi pegangan serta diyakini oleh seluruhwarga sekolah sehingga mendorong muncul sikap dan perilaku warga sekolah.Warga sekolah menurut UU

(35)

nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikannasional terdiri dari peserta didik, pendidik, kepala sekolah, tenaga pendidik sertakomite sekolah. Salah satu subyek yang diambil dalam penelitian budaya sekolahini yaitu peserta didik (siswa).

Zamroni (2011:87) mengemukakan penting sebuah sekolah memilikibudaya atau kultur. Sekolah sebagai suatu organisasi harus memiliki: (1)kemampuan untuk hidup, tumbuh berkembang dan melakukan adaptasi denganberbagai lingkungan yang ada, dan (2) integrasi internal yang memungkinkansekolah untuk menghasilkan individu atau kelompok yang memiliki sifat positif.Suatu organisasi termasuk sekolah harus memiliki pola asumsi-asumsi dasaryang dipegang bersama seluruh warga sekolah. Memperhatikan konsep diatas,maka dapat disimpulkan bahwa budaya sekolah merupakan pola-pola yang mendalam, kepercayaan nilai, upacara, simbol-simbol dan tradisi yang terbentuk dari rangkaian, kebiasaan dan sejarah sekolah, serta cara pandang dalam memecahkan persoalan-persoalan yang ada di sekolah.

Budaya sekolah sebenarnya dapat dikembangkan terus-menerus kearah yang lebih positif. Balitbang (2003) memaparkan aspek-aspek mengenai budaya utama (core culture) yang direkomendasikan untuk dikembangkan sekolah yaitu sebagai berikut:

1) Budaya jujur

Adalah budaya yang menekankan pada aspek-aspek kejujuran padamasyarakat dan teman-teman.

(36)

2) Budaya saling percaya

Adalah budaya yang mengkondisikan para siswa dan warga sekolah untuksaling mempercayai orang lain.

3) Budaya kerja sama

Adalah budaya yang membuat orang-orang saling membantu dalamberbagai hal untuk mencapai tujuan.

4) Budaya membaca

Adalah budaya yang membuat seseorang menjadi gemar membaca. 5) Budaya disiplin dan efisien

Adalah budaya taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercayaitermasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggungjawabnya.

6) Budaya bersih

Adalah budaya yang mengajarkan tentang bagaimana menjagakebersihan baik badan maupun lingkungan.

7) Budaya berprestasi

Budaya yang menciptakan kondisi yang kompetitif untuk memacu prestasisiswa.

8) Budaya memberi penghargaan dan menegur

Adalah budaya yang memberikan respon dengan menyapa pada setiaporang yang ditemui.

Budaya sekolah merupakan pola dari nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah

(37)

terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendididkan, seperti cara melaksanakan pekerjaan disekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah. Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami, yang dibentuk oleh lingkungan yang diciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh ,unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah.

Setiap sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolah sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolah. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakulikuler, tetapi juga ekstrakulikuler yang dapat mengembangkan otak kiri dan kanan secara seimbang sehingga melahirkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendak berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdasakan otak saja, tetapi watak siswa serta mengacu pada 4 tingkatan umum kecerdasan yaitu: kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial.

Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan sekolah, keteladananguru (mendidik dengan benar, memahami bakat, minat dan kebutuhan belajar anak, menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan serta memfasilitasi kebutuhan belajar anak), dan prestasi siswa yang membangakan adalah tiga hal yang akan menyuburkan

(38)

budaya sekolah. Pengelolaan kelas yang baik maka akan menyebabkan prestasi akademik yang tinggi. Bila siswa memiliki karakter yang baik, maka hal ini akan berpengaruh langsung terhadap prestasi akademik yang tinggi. Langkah pertama dalam mengaplikasikan pendidikan karakter di sekolah adalah menciptakan suasana atau iklim sekolah yang cocok yang akan membantu transformasi guru-guru dan siswa, juga staf-staf sekolah. Semua langkah dalam model pembelajaran nilainilai karakter ini akan berkontribusi terhadap budaya sekolah.

Kesimpulan pengertian budaya sekolah merupakan Interaksi internal kelompok dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan, norma, moral serta etika bersama yang berlaku di suatu sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah. Selain itu, budaya sekolah diyakini merupakan aspek yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.

3. Unsur-unsur Budaya Sekolah

Budaya sekolah muncul sebagai fenomena yang unik dan menarikpandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang mencerminkankepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yangdapat berfungsi sebagai semangat membangun karakter siswanya.

(39)

Menurut Ahyar mengutip Sastrapratedja, mengelompokkan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua kategori, yakni unsur-unsur yang kasat mata atau visual dan unsur yang tidak kasat mata.

“Unsur yang kasat mata (visual) terdiri dari visual verbal dan visual material. Visual verbal meliputi 1) visi, misi, tujuan dan sasaran, 2) kurikulum, 3) bahasa dan komunikasi, 4) narasi sekolah, 5) narasi tokoh-tokoh, 6) struktur organisasi, 7) ritual, 8) upacara, 9) prosedur belajar mengajar, 10) peratutan, sistem ganjaran dan hukuman, 11) pelayanan psikologi sosial, 12) pola interaksi sekolah dengan orang tua. Unsur visual material meliputi 1) fasilitas dan peralatan, 2) artifak dan tanda kenangan, 3) pakaian seragam. Unsur yang tidak kasat mata sendiri meliputi filsafat atau pandangan dasar sekolah.”

Semua unsur merupakan sesuatu yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Perlu dinyatakan dalam bentuk visi, misi, tujuan, tata tertib dan sasaran yang lebih terperinci yang akan dicapai sekolah. Budaya sekolah merupakan aset dan tidak sama antara sekolah satu dengan yang lain. Budaya sekolah dapat diamati melalui pencerminan hal-hal yang dapat diamati atau artifak. Artifak dapat diamati melalui aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, serta aktifitas yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur ini segera dapat dikenali ketika orang mengadakan kontak dengan sekolah tersebut

Bentuk budaya sekolah secara intrinsik muncul sebagai suatu fenomenayang unik dan menarik, karena pandangan sikap, perilaku yang

(40)

hidup danberkembang dalam sekolah pada dasar mencerminkan kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas dari warga sekolah.

Djemari Mardapi (2003) membagi unsur-unsur budaya sekolah jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas pendidikan terdiri dari 3 aspek tersebut adalah kultur sekolah yang positif, kultur sekolah yang negatif dan kultur sekolah yang netral.

a. Kultur sekolah yang positif

Kultur sekolah yang positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukungpeningkatan kualitas pendidikan, misal kerjasama dalam mencapai prestasi,penghargaan terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar.

b. Kultur sekolah yang negative

Kultur sekolah yang negatif adalah kultur yang kontra terhadappeningkatan mutu pendidikan. Artinya resisten terhadap perubahan, misal dapatberupa: siswa takut salah, siswa takut bertanya, dan siswa jarang melakukankerja sama dalam memecahkan masalah. c. Kultur sekolah yang netral

Kultur yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikankonstribusi positif tehadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal inibisa berupa arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa dan lain-lain.

Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan. Melalui kegiatan yang beragam dalam bidang keilmuan,

(41)

keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan bakat dan minat masing-masing.

4. Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Siswa

Sebelumnya telah disebutkan bahwa pendidikan tidak dapat dan tidakboleh dipisahkan dari kebudayaan. Proses pendidikan adalah prosespembudayaan, dan proses pembudayaan adalah proses pendidikan. Demikia pula dalam proses membangun karakter siswa, salah satu strateginya dapatdilakukan melalui proses pembudayaan di lingkungan sekolah atau melalui budaya sekolah.

Sesuai dengan Desain Induk Pendidikan karakter yang dirancang Kemendiknas (2010) strategi pengembangan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui transformasi budaya sekolah ( school culture ) dan habituasi melalui kegiatan pengembangan diri. Hal ini sejalan dengan pemikiran Berkowitz, yang dikutip oleh Elkind dan Sweet ( 2004 ) serta Samani ( 2011 ) yang menyatakan bahwa: implementasi pendidikan karakter melalui transformasi budaya dan perikehidupan sekolah, dirasakan lebih efektif daripada mengubah kurikulum dengan menambahkan materi pendidikan karakter dalam muatan kurikulum.

Pendidikan karakter memerlukan contoh atau teladan sebagai model yangpantas untuk ditiru. Sesuatu yang akan ditiru oleh siswa, disertai denganpengetahuan mengapa seseorang perlu melakukan apa yang ditiru tersebut.Untuk itu perlu ada penjelasan mengapa sesuatu harus dilakukan. Melakukansesuatu itu harus secara sungguh-sungguh, sebagai bentuk kerja keras. Dalammelaksanakan sesuatu harus mempertimbangkan lingkungan,

(42)

baik sosial maupunfisik. Artinya, seseorang harus sensitive atas kondisi dan situasi yang ada disekitarnya. Sikap dan perilaku yang dilaksanakan harus dinikmati, dikerjakandengan penuh makna, sehingga memberikan pengalaman bagi diri pribadi.Pengalaman inilah yang bisa memberikan makna atau spiritual atas apa yangdilakukan. Dengan demikian perilaku tersebut terinternalisasi pada diri yang akanmenjadi kebiasaan. Akhirnya semua itu dilakukan dengan harapan yang tinggi,bahwa perilaku tersebut mewujudkan hasil terbaik.( Zamroni, 2011: 283 ).

Proses pendidikan dan pembudayaan merupakan satu rangkaian proseshumanisasi, sehingga keduanya tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan. Prosespendidikan adalah proses pembudayaan, dan proses pembudayaan adalahproses pendidikan. Alienasi proses pendidikan dari kebudayaan berartimenjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia.

5. Hasil Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan digunakan untuk pengembanganpelaksanaan penelitian. Hasil penelitian dijadikan masukan peneliti untukpenyusunan dugaan sementara. Berikut ini penelitian-penelitian yang telahdilakukan dan memiliki kesamaan dengan penelitian ini.

a. Penelitian Bayu Rahmat (2012) yang berjudul Hubungan antara budayasekolah dan keteladanan guru dengan Karakter siswa jurusan teknikpemesinan SMK N 3 Yogyakarta. Bahwa terdapat hubungan yang positif dansignifkan yaitu tingkat budaya sekolah 69,48%, keteladanan guru 59,08%,dan karakter siswa 64,86% termasuk dalam kriteria yang

(43)

baik. Terdapathubungan yang positif, kuat dan signifikan pada taraf kesalahan 1% antarabudaya sekolah dan keteldanan guru dengan karakter siswa jurusanpemesinan SMK N 3 Yogyakarta dengan korelasi sebesar 0,78.

b. Penelitian yang dilakukan oleh Sriatun upaya meningkatkan kinerja guru melalui kultur sekolah. Aspek-aspek budaya (culture) positif dengan skor rata-rata > 3,5 yang dimiliki SMA Negeri 4 Semarang antara lain adalah aspek akademik yang meliputi prestasi guru, interaksi kepala sekolah dengan guru untuk aspek sosial, interaksi walikelas atau guru dengan orang tua siswa, interaksi guru dengan siswa untuk aspek sosial, interaksi kepala sekolah dengan komite sekolah atau orang tua siswa, dan interaksi kepala sekolah dengan staf tata usaha untuk aspek akademik.

c. Jurnal Moerdianto potret kultur sekolah menengah atas. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat 9 aspek budaya utama yang direkomendasikan untuk dikembangkan dalam rangka membentuk karakter siswa SMA yaitu (1) budaya membaca, (2) budaya jujur, (3) budaya bersih, (4) budaya disiplin, (5) budaya kerjasama, (6) budaya saling percaya, (7) budaya berprestasi, (8) budaya penghargaan, dan (9) budaya efisien/hemat.

d. Penelitian yang dilakukan oleh Untung Kurniawan yang berjudul pembangunan karakter luhur siswa melalui model diskusi teman sejawat di SMK N 3 Yogyakarta. Karakter suka bekerja sama siswa pasca penerapan model dari keseluruhan aspek dalam kategori tinggi dengan nilai pencapaian kualitas sebesar 59,8 dari nilai maksimal yang bisa dicapai

(44)

sebesar 72. Karakter disiplin berada dalam kategori tinggi dengan nilai pencapaian kualitas sebesar 35,48 dari nilai maksimal yang bisa dicapai sebesar 48. Karakter percaya diri berada dalam kategori kurang dengan nilai pencapaian kualitas sebesar 47,45 dari nilai maksimal yang bias dicapai sebesar 60. Karakter toleran berada dalam kategori cukup dengan nilai pencapaian kualitas sebesar 21,82 dari nilai maksimal yang bisa dicapai sebesar 24.

e. Jurnal Putri Rachmadiyanti (2017) tentang hubungan lingkungan dengan karakter siswa smk negeri kelompok teknologi se-kota yogyakarta Berdasarkan hasil penelitian , dapat diambil simpulkaan sebagai berikut: (1) gambaran kondisi karakter siswa SMK Negeri kelompok teknologi di kota Yogyakarta berdasarkan lima kategori pada kurva normal berada dalam kategori baik (62,908%), (2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dengan karakter siswa SMK Negeri kelompok teknologi kota Yogyakarta ((Fhitumg > Ftabel, Fhitumg yang diperoleh dari hasil analisis sebesar 46,511; dengan besaran Ftabel = 2,62).), dan ketiga ubahan bebas dapat menjelaskan 29,5%. terhadap ubahan terikatnya.

f. Jurnal Muntholib Abul , dkk (2018), tentang Implementasi Pendidikan Karakter dalam Membentuk Sikap dan Perilaku Sosial Peserta Didik Melalui Pembelajaran Sejarah di SMA PGRI 1 Pati Tahun Pelajaran 2017/2018. Berdasarkan hasil penelitian proses implementasi pendidikan karakter dalam membentuk sikap dan perilaku sosial peserta didik melalui pembelajaran sejarah di SMA PGRI 1 Pati, mengetahui sikap dan perilaku

(45)

sosial peserta didik saat pembelajaran sejarah di SMA PGRI 1 Pati, dan mengetahui kendala apa saja yang di alami guru sejarah dalam implementasi pendidikan karakter dalam membentuk sikap dan perilaku sosial peserta didik di SMA PGRI 1 Pati.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologis. Sasaran penelitian ini adalah guru sejarah SMA PGRI 1 Pati dan siswa kelas X IPS dan XI IPS SMA PGRI 1 Pati. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Observasi, dokumentasi dan wawancara. Uji validitas data dengan triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, display, penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Hasil penelitian ini adalah proses implementasi pendidikan karakter dalam membentuk sikap dan perilaku sosial siswa di lakukan di luar kelas berkaitan dengan peraturan sekolah yang menjadi kebiasaan dan di dalam kelas di sesuaikan dengan materi yang berhubungan dengan nilai-nilai karakter yang nantinya dapat membentuk sikap dan perilaku sosial siswa. Sikap dan perilaku sosial siswa SMA PGRI 1 Pati dapat dikatakan sudah baik. Kendala yang di alami guru sejarah adalah peraturan pemerintah yang berubah-ubah serta karakteristik siswa yang berbeda-beda.

B. Kerangka Berfikir

Pembangunan karakter siswa merupakan komitmen kolektif dalam menghadapi tuntutan global. Pembangunan karakter siswa diharapkan dapat menghasilkan generasi muda yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur. Sebagai perwujudan dari komitmen dalam membangun karakter bangsa

(46)

tersebut, dibuat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3 dalam Undang-Undang tersebut menjelaskan tentang Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional. Pendidikan selain untuk mengembangkan kemampuan siswa juga berfungsi dan bertujuan untukmembentuk watak atau karakter siswa.

Pendidikan karakter menjadi upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan pola pembinaan, baikyang dilakukan dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Bentuk budaya sekolah muncul sebagai fenomena yang menarik, karena pandangan,sikap serta perilaku yang hidup dan berkembang disekolah mencerminkan kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yangdapat berfungsi sebagai semangat membangun karakter siswa.

Kerangka berfikir pengaruh budaya sekolah terhadap karakter siswa dapat digambarkan sebagai berikut :

(47)

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian. Dikatakan sementara karena masih berupa teori dan belum berupa fakta, sehingga masih harus dibuktikan kebenarannya.

Berdasarakan tinjauan pustaka dan kerangka pikir, maka hipotesis penelitian yang di ajukan di rumuskan sebagai berikut :

1. Hipotesis alternatif (Ha)

Pembentukan Karakter Siswa

Di SMA Negeri 2 Soppeng

Berpedoman Pada Kurikulum

Sekolah

Penerapan Budaya Sekolah Dalam

Pembentukan Karakter Siswa

Budaya Sekolah Sebagai Identitas

Diri SMAN 2 Soppeng

Penerapan Budaya Sekolah

Dapat Membentuk Karakter

Siswa

(48)

Hipotesis alternatif menyatakan ada pengaruh nilai budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng.

2. Hipotesis nol (H0)

Hipotesis nol menyatakan tidak ada pengaruh nilai budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng.

(49)

29 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian korelasioal. Penelitian korelasional merupakan penelitian yang mengidentifikasikan pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lain. Penelitian ini merupakan penelitian ex

post facto yang bersifat korelasional. Penelitian ex post facto adalah penelitian

yang dilakukan untuk meneliti variabel yang telah terjadi tanpa perlu memberikan perlakuan terhadap variabel yang diteliti (Sugiyono, 2011).

Penelitia Expost Facto merupakan penelitian yang bertujuan menemukan penyebab yang memungkinkan perbuhan perilaku, gejala, atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan variabel bebas yang secara keseluruahan sudah terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakasanakan di SMA Negeri 2 Soppeng, yang beralamat di Kelurahan Appanang Kecamatan Liliriaja Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada akhir bulan Oktober 2019 sampai dengan bulan November 2019.

(50)

C. Variabel dan Desain Penelitian

Peneliti mengkaji dua variabel yaitu “Budaya Sekolah” sebagai variabel Independen (bebas) atau sebagai variabel yang mempengaruhi, yang digambarkan dengan simbol X dan “Pembentukan Karakter Siswa” sebagai variabel Dependen (terikat).

Penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi yang bersifat satu arah. Artinya, penelitian ini mengkaji pengaruh budaya sekolah dalam pembentukan karakter siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng .

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan model.

Di mana :

X = Budaya Sekolah

Y = Pembentukan Karakter Siswa

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Definisi Operasional

Penelitian ini dilakukan untuk pengaruh pengaruh budaya sekolah terhadap pembentukan karakter siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng. Variabel yang diamati dalam penelitian ini secara operasional didefinisikan sebagai berikut:

(51)

a. Budaya sekolah

Merupakan tempat di mana guru, anak didik menjalankan tugasnya masing-masing, budaya sekolah tempat berlangsung kegiatan belajar (siswa), guru (mengajar atau mendidik). seperti kegiatan organisasi, bagaimana orang belajar dan bagaimana kita bisa membantu mereka untuk belajar.

Adapun indikator budaya sekolah dalam Lingkungan sekolah, yaitu:

1) Soppeng menjadi sekolah yang bermutu. Karakteristik budaya sekolah. Karakteristik budaya sekolah adalah di mana budaya sekolah diterapkan sifat dan perilaku seseorang dalam bekerja tanggung jawab secara efisien, efektif, inisiatif dan energik, memiliki semangat tinggi dan akan mampu terus berkembang di dalam lingkungan budaya sekolah SMA Negeri 2 Soppeng, Kabupaten Soppeng . Sangat penting bagi guru dan peserta didik di sekolah.

2) Kegiatan budaya sekolah

Kegiatan budaya sekolah adalah kegiatan yang dilakukan setiap hari pada saat disekolah SMA Negeri 2 Soppeng yang dilakukan guru dan siswa seperti budaya malu , mengucapkan salam , saling menyapa sesama teman, berinteraksi dan bekerja sama antara satu sesama guru lainnya dan saling menghargai, datang tepat pada waktunya serta bekerja sama untuk membangun sekolah SMA Negeri 2 Soppeng,Kabupaten

(52)

b. Karakter Siswa

Penerapan pembentukan karakter siswa di SMA Negeri 2 Soppeng sejak duluh sudah diterapakan sejalan dengan dikaitkannya dengan kurikulum pendidikan. Pembentukan karakter siswa lebih di diterapkan pada saat proses pembelajaran. Melihat potensi budaya sekolah yang ada di SMA Negeri 2 Soppeng hal tersebut juga dapat diterapkan dalam pembentukan karakter siswa, bukan hanya pada saat proses pembelajaran berlangsung, namun pembentukan karakter siswa dapat dilakukan di lingkungan sekolah melalui penerapan budaya sekolah.

2. Pengukuran Variabel

Untuk mengukur variabel penelitian ini, maka digunakan instrumen angket yang diajukan kepada responden dengan menggunakan skala likert. Menurut (Sugiyono,2015), bahwa “skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang fenomena sosial. dalam penelitian fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang disebut sebagai variabel penelitian.

Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Sugiyono, untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya:

(53)

2. Setuju/sering/positif diberi skor 3

3. Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor 2 4. Sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor 1

Berpedoman dengan pendapat (Sugiyono,2015), maka untuk menentukan pengaruh-pengaruh Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng Kabupaten Soppeng, peneliti memilih standar pengukuran yaitu 81% - 100% dikategorikan sangat baik, 61% - 80% dikategorikan baik, 41% - 60% dikategorikan cukup baik, 21% - 40% dikategorikan kurang baik dan di bawah 20% dikategorikan tidak baik.

E. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi yang akan diteliti adalah semua Siswa kelas X Jurusan MIPA SMAN 2 Soppeng, Untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini:

Tabel 3.1 Populasi Penelitian

No Kelas Jumlah 1 X MIPA 1 35 2 X MIPA 2 35 3 X MIPA 3 35 4 X MIPA 4 35 Total 140

(54)

(Sumber : Tata Usaha SMA Negeri 2 Soppeng, 2019) 2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristk yang dimiliki oleh populasi.. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sampel penelitian adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan di anggap mewakili terhadap populasi yang diambil. Sampel dalam penelitian ini 50 persen dari populasi yaitu seluruh siswa kelas X MIPA 1 dan Siswa Kelas X Mipa 2 SMA Negeri 2 Soppeng berjumlah 70 siswa.

Teknik pengambilan sampeldalam penelitian ini adalah simple random sampling yang mana merupakan teknik untuk mendapatkan sampel langgsung dilakukan pada unit sampling. Maka setiap unik sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel. Cara tersebut dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen dan jumlah unit sampling dalam suatu populasi tidak terlalu besar (Anwar. 2017). Berdasrkan pernyataan tersebut, hal ini sesuai bahwa populasi dalam penelitian ini adalah homogen dimana rata-rata siswa berasal dari daerah dan lingkungan yang sama oleh sebab itu mengunnakan simple random sampling dianggap sudah cukup mewakili keseluruhan populasi.

F. Teknik Pengumpulan Data

Data-data yang dibutuhkan oleh penelitian dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati secara langsung objek penelitian dalam hal ini Pengaruh Budaya Sekolah

(55)

Terhadap Pembentukan Karakter Siswa Kelas X Jurusa MIA SMA Negeri 2 Soppeng.

2. Kuesioner/angket adalah pengumpulan data dengan menggunakan angket atau daftar pertanyaan yang diberikan kepada siswa yang menjadi responden dalam penelitian siswa kelas X Jurusan MIPA SMA Negeri 2 Soppeng , Kabupaten Soppeng.

3. Dokumentasi merupakan teknik yang digunakan peneliti untuk mencari data mengenai hal-hal yang berkaitan dengan variabel penelitian berupa profil instansi, keadaan populasi, struktur organisasi dan sebagainya pada SMA Negeri 2 Soppeng.

G. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Karena instrumen penelitian akan digunakan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala (Sugiyono, 2006: 133). Instrumen penelitian disusun berdasarkan indikator-indikator yang terkandung di dalam kajian teori kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan. Peneliti mengumpulkan data menggunakan teknik angket yang diberikan kepada siswa jurusan MIPA , sedangkan dokumentasi diambil dari foto/gambar artifak di SMAN 2 Soppeng.

Instrumen yang baik adalah harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas tersebut

(56)

sebelum diadakan penelitian, instrumen tersebut diadakan uji coba terlebih dahulu. Hasil uji coba inilah yang nanti dijadikan dasar untuk menentukan validitas dan reliabilitas instrumen.

Langkah untuk menyusun instrumen adalah dengan menjabarkan variabel-variabel penelitian berdasarkan kajian teori dan menghasilkan butir- butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrumen, maka perlu disusun kisi-kisi instrumen sebagai pedoman dalam penyusunan instrumen penelitian. Adapun kisi-kisi instrument penelitian budaya sekolah dan pembentukan karakter siswa adalah sebagai berikut

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrument Penelitian Budaya Sekolah

Budaya Sekolah Indikator No Pertanyaan

Budaya Jujur

Bersikap Jujur

Jujur Dalam Menjalankan Tugas Bersikap Jujur Dalam Proses Pembelajaran

Bersikap Jujur Dalam Ujian

1,2,3,4 dan 5

Budaya Saling Percaya

Guru Mempercayakan Siswa Dalam Menjalan Kan Tugas Piket

Setiap Siswa Hak Dan Kewajiban Sebagi Siswa Siswa Diajarkan Untuk Tidak Berprasangka Buruk Kepada Orang Lain

(57)

Budaya Kerja Sama

Siswa Menjaga Ketertiban Kelas Siswa Melakukan Kerja Bakti Mengerjakan Tugas Kelompok

9,10,11,12,13,1 4 dan 15

Budaya Membaca

Membaca Buku Di Perpustakaan Gemar Membaca

Memiliki Banyak Buku

16,17,18,19,20 dan 21

Budaya Disiplin

Disiplin Dalam Belajar Disiplin Dalam Bekerja Mentaatti Tata Tertib Sekolah

22,23,24 dan 25

Budaya Bersih

Membuang Sampah Pada Tempatnya

Membentuk Kelompok Kebersihan

26,27,28 dan 29

Budaya Berprestasi

Siswa Belajar Dengan Giat Mengembangangkan Minat Dan

Bakat 30,31 dan 32

Budaya Memberi Penghargaan Dan Menegur

Apresiasi Kepada Siswa Yang Berprestasi

Menegur Siswa Yang Malas Belajar

Sanksi Kepada Siswa Yang Tidak Menyelesaikan Tugas

(58)

Karakter Indikator No. Pertanyaan Jujur 1. Tidak Mencontek 2. Berkata jujur 3. Mengembalikan barang

4. Melaporkan barang temuan

1, 2, 3, dan 4

Disiplin

1. Selalu mengikuti kegiatan

pramuka

2. Hadir tepat waktu

3. Mematuhi aturan yang telah

disepakati 4. Membayar iuran

5, 6, 7, dan 8

Percaya Diri 1.

Biasa berbica di depan umum Mengerjakan tugas individu secara mandiri 9, 10, 11, dan 12 Peduli 1. Memperhatikan teman 2. Memperhatikan kebersihan lingkungan

3. Membantu orang tua

4. Membantu kegiatan di sekolah

dengan senang hati

13, 14, 15, dan 16

Gigih

1. Membiasakan diri untuk terus

belajar

2. Mempraktikkan semua yang

telah dipelajari

(59)

Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrument Penelitian Karakter Siswa

Penyusunan instrumen pengaruh budaya sekolah terhadap karakter siswa terdiri dari beberapa indikator. Indikator-indikator tersebut dikembangkan menjadi beberapa pertanyaan dan disediakan 4 pilihan jawaban. Jawaban

Toleransi

1.

Menghargai pendapat orang lain 2. Menerima saran dan kritik

3. Kerja sama yang baik dalam

kelompok

4. Baik tehadap semua orang

21, 22, 23, dan 24

Kreatif

1.

Memiliki rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang belum diketahui

2. Memunculkan ide-ide baru yang

lebih inovatif

3. Mengembangkan kegiatan yang

sudah ada di ambalan 4. Bijak dalam mengambil

keputusan

25, 26, 27, dan 28

Bertanggung Jawab

1.

Melaksanakan tugas terhadap individu, kelompok dan lingkungan dengan baik

Melaksanakan tugas sebagai petugas upacara saat latihan

29, 30, 31,32,33,34 dan 35

(60)

disusun bertingkat dari yang berkualitas tinggi sampai berkualitas rendah. Skor jawaban berurutan dari yang tertinggi 4, 3, 2, 1 dan yang tidak menjawab dari skor 0. Skala pengukuran itu termasuk skala interval. (Sugiyono, 2010:29).

Model skala yang digunakan dalam instrumen ini menggunakan model dari modifikasi dari skala likert dengan 4 alternatif jawaban dengan menghilangkan skor netral (0) yaitu jawaban ragu-ragu. Alternatif jawaban untuk masing-masing pertanyaan dipakai model Likert. Alternatif jawaban yang disediakan adalah : Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skor setiap alternatif jawaban pertanyaan positif (+) dan pertanyaan negatif (-) adalah seperti pada tabel 3 berikut: Tabel 3.4 Skor Alternatif Jawaban

Pertanyaan Positif (+) Pertanyaan Negatif (-)

Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor

Sangat Setuju 4 Sangat Setuju 1

Setuju 3 Setuju 2

Kurang Setuju 2 Kurang Setuju 3

Tidak Setuju 1 Tidak Setuju 4

Gambar

Gambar  Judul   Halaman
Tabel 2. 1 Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter.
Tabel 3.1 Populasi Penelitian
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrument Penelitian Budaya Sekolah
+6

Referensi

Dokumen terkait

Diamati dari faktor cahaya, dibuktikan bahwa kacang hijau yang ditempatkan didaerah yang kurang gelap, akan menghasilkan pertumbuhan kacang hijau yang lebih

Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat dari batuan sedimen Karbon-Miosen(CT) dan membentuk Jalur Aktif Peristiwa tektonik penting kedua yang

Adapun metode pengumpulan data yang harus dilakukan oleh peneliti dalam melakukan penelitian ini yaitu dengan melakukan Wawancara untuk mendapatkan informasi dengan

Yang Kedua, ia dapat diartikan juga sebagai usaha untuk memfungsionalkan hukum dalam masa pembangunan yakni dengan cara turut mengadakan perubahan- perubahan social

Sesuai dengan rumusan masalah yang ada dan sudah ditetapkan, maka tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur antara bayi yang

Kelangkaan air pada dataran tinggi dan pada saat musim kemarau serta potensi kabut pada wilayah Sentul yang dapat dimanfaatkan, mendorong penulis untuk membuat kajian

-- deklarasi stack yang diimplementasi dengan tabel kontigu -- Dan ukuran sama, TOP adalah alamat elemen puncak.. -- Implementasi dalam bahasa Ada package

Larutan senyawa asam O-(4-metoksibenzoil)salisilat, asam O-(4- metoksibenzoil)salisilat, 100 mg dilarutkan kedalam air+DMSO dalam 100 ml.. Larutan senyawa asam