• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 RFID ( Radio frequency identification)

RFID (Radio frequency identification) adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio. Teknologi ini mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung dengan reader (atau dalam jarak pendek). RFID dikembangkan sebagai pengganti atau penerus teknologi barcode. RFID bekerja pada HF (High Frekuency) untuk aplikasi jarak dekat (proximity) dan bekerja pada UHF (Ultra High Frekuency) untuk aplikasi jarak jauh (vicinity). (Suyoko,2012)

RFID memiliki kelebihan dari pada teknologi pengidentifikasi sebelumnya, seperti barcode. Diantaranya mampu membaca suatu objek data dengan ukuran tertentu tanpa melalui kontak langsung (contacless) dan tidak harus sejajar dengan objek yang dibaca, selain dapat menyimpan informasi pada bagian tag

RFID sesuai dengan kapasitas penyimpanann.(Rahmat, 2010)

Sensor RFID adalah sensor yang mengidentifikasi objek dengan menggunakan frekuensi radio. Sensor ini terdiri dari dua bagian penting: transceiver (reader) dan transponder (tag). Setiap tag tersimpan data yang berbeda. Data tersebut merupakan data identitas tag. Reader akan membaca data dari tag dengan perantara gelombang radio. Pada reader biasanya berhubungan dengan suatu mikrokontroler. Mikrokontroler ini berfungsi untuk mengolah data yang didapat reader. Struktur cara kerja RFID terdapat pada gambar berikut ini

(2)

Sistem RFID terdiri dari empat komponen, di antaranya sebagai berikut : 1. Tag

Merupakan sebuah device yang berfungsi untuk menyimpan informasi

untuk identifikasi objek. Tag RFID sering juga disebut sebagai transponder.

2. Antena

Merupakan device yang berfungsi untuk mentransmisikan sinyal frekuensi radio antara reader RFID dengan tag RFID.

3. Reader RFID

adalah device yang kompatibel dengan tag RFID yang akan berkomunikasi secara wireless dengan tag.

4. Software

adalah aplikasi pada scbuah workstation atau PC (Personal Computer) yang dapat memfasilitasi jalannya sistem yaitu dengan melakukan proses baca data dari tag melalui pembaca RFID. Baik tag dan pembaca RFID diperlengkapi dengan antena sehingga dapat menerima dan memancarkan gelombang elektromagnetik. (Erwin, 2004).

2.1.1 Tag RFID

Tag RFID adalah device yang dibuat dari rangkaian elektronika dan antena

yang terintegrasi di dalam rangkaian tersebut. Rangkaian elektronik dari tag RFID umumnya memiliki memori sehingga tag ini mempunyai kemampuan untuk menyimpan data. Memori pada tag secara dibagi menjadi sel-sel. Beberapa sel menyimpan data Read Only, misalnya serial number yang unik yang disimpan pada saat tag tersebut diproduksi. Sel lain pada RFID mungkin juga dapat ditulis dan dibaca secara berulang Berdasarkan catu daya tag, tag RFID dapat digolongkan menjadi: (Erwin, 2004).

1. Active Tag:

Tag aktif merupakan tag yang membutuhkan suatu sumber energi

untuk beroperasi, biasanya tag jenis ini memiliki sebuah baterai atau sumber listrik yang bertugas menyediakan energi yang diperlukan untuk microchip untuk transmisi sinyal radio ke RFID reader. Tag ini

(3)

menghasilkan energi RF , menyalurkannya ke antena dan mengirimkan ke Reader bukan membalikkan kembali sinyal dan reader. Baterai ini harus diganti atau recharged setelah daya yang dimiliki baterai habis. Beberapa jenis tag akan mati jika baterai habis. Tag jenis ini memiliki kemampuan baca pada jangkauan kurang lebih 100 m.

2. Semi-Active tag

Semi-Active Tag (semi-pasif) adalah tag yang menggunakan baterai,

baterai digunakan untuk menjalankan circuit di microchip yang ada pada perangkat RFID, tetapi masih bergantung pada RFID Reader untuk mengaktifkan Tag. Mekanisme tag yang sebelumnya pada mode off (mati) diaktifkan oleh kehadiran sinyal dari reader. Setelah diaktifkan, baterai berfungsi dan merespon kembali ke reader. Ini adalah mekanisme yang digunakan tag jenis ini untuk menyimpan daya baterai.

3. Pasif tag

Pasif tag sepenuhnya bergantung pada energi yang ditransmisikan oleh medan magnet RFID reader. Dimana Reader mengirim sinyal radio dari dan menuju Reader. Karena tag jenis ini tidak disupport oleh baterai. Akibatnya Jangkauan Reader menjadi bervariasi tergantung pada reader yang digunakan. Maksimal jarak 15 meter dapat dicapai dengan pemancar reader yang handal dan kuat juga RF (Radio Frequency) yang tepat.

Tag RFID telah sering dipertimbangkan untuk digunakan sebagai barcode

pada masa yang akan datang. Pembacaan informasi pada tag RFID tidak memerlukan kontak sama sekali. Karena kemampuan rangkaian terintegrasi yang modern, maka tag RFID dapat menyimpan jauh lebih banyak informasi dibandingkan dengan barcode. (Suyoko,2012)

(4)

Pada tabel 2.1 diilustrasikan perbedaan utama antara teknologi barcode dengan RFID

Table 2.1 Perbedaan Teknologi Barcode dan RFID

Sistem Barcode RFID

Transmisi data Optik Elektomagnetik

Ukuran data 1-100 byte 128-8096 byte

Modifikasi data Tidak bisa Bisa

Posisi pembawa data Kontak cahaya Tanpa kontak

Jarak komunikasi Beberapa meter Dari cm sampai meter Supseptibilitas lingkungan Debu Dapat diabaikan Pembacaan jamak Tidak bisa Bisa

2.1.2 Frekuensi Kerja RFID

Berikut ini adalah empat frekuensi utama yang digunakan oleh sistem RFID : 1. Band LF

Band ini bergerak pada frekuensi antara 125 kilohertz (KHz) hingga 134 KHz. Band ini paling sesuai untuk penggunaan jarak pendek (short-range) seperti sistem antipencurian, identifikasi hewan, dll.

2. Band HF

Band jenis ini beroperasi pada frekuensi 13,56 megahertz (MHz). Frekuensi ini memungkinkan akurasi yang lebih baik dalam jarak 3 kaki dan karena itu dapat mereduksi risiko kesalahan pembacaan tag. Sebagai konsekuensinya, band ini lebih cocok untuk pembacaan pada tingkat item

(item-level reading). Tag pasif dengan frekuensi 13,56 MHz dapat dibaca

dengan laju 10 sampai 100 tag perdetik pada jarak 3 kaki atau kurang. Tag RFID HF digunakan untuk pelacakan barang-barang di perpustakaan, toko buku, kontrol akses gedung, pelacakan bagasi pesawat terbang, dan pelacakan item pakaian.

3. Tag dengan band UHF

Tag jenis ini beroperasi pada frekuensi sekitar 900 MHz dan dapat dibaca dari jarak yang lebih jauh dari tag HF, jarak yang dapat dijangkau oleh

(5)

frekuensi jenis ini adalah antara 3-15 kaki. Tag ini lebih sensitif terhadap faktor-faktor lingkungan daripada tag- tag yang beroperasi pada frekuensi Iainnya. Tag jenis ini umumnya digunakan pada pelacakan kontainer, truk, trailer, terminal peti kemas, dan telah mulai diadopsi oleh Departemen Pertahanan. (Sumber: Hidayat, 2010)

4. Tag yang beroperasi pada frekuensi gelombang mikro

Tag Jenis bergerak pada frekuensi 2,45 dan 5,8 gigahertz (GHz), dan mengalami lebih banyak pantulan gelombang radio dari objek-objek di dekatnya yang dapat mengganggu kemampuan reader untuk berkomunikasi dengan tag. Tag RFID gelombang mikro biasanya digunakan untuk manajemen rantai suplai

2.1.3 Reader RFID

Sebuah reader RFID harus menyelesaikan dua buah tugas, yaitu: a. Menerima perintah dari software aplikasi

b. Berkomunikasi dengan tag RFID

Pembaca RFID adalah merupakan penghubung antara software aplikasi dengan antena yang akan meradiasikan gelombang radio ke tag RFID. Gelombang radio yang diemisikan oleh antena berpropagasi pada ruangan di sekitarnya. Akibatnya data dapat berpindah secara wireless ke tag RFID yang berada berdekatan dengan antena. (Didik Suyoko, 2012)

Reader RFID mengirim gelombang radio ke tag RFID untuk menanyakan

tentang isi data. Tag RFID kemudian merespon dengan mengirimkan kembali data yang diminta. RFID Reader terhubung melalui RFID middleware dcngan database untuk melakukan pengolahan data. (Glocckler, 2005). Komunikasi reader dengan computer melewati kabel USB (Universal Serial Bus). Berikut adalah gambar alat yang dimaksud :

(6)

Gambar 2.2 Reader RFID SM132-USB Adapun spesifikasinya sebagai bcrikut:

Complete and Compact Read/Write USB Mifare module including PCB antenna

Supports ISO14443A Mifare® Classic 1K , Mifare® Classic 4K , Mifare® UltraLight

USB Interface - Supports Virtual Com Port - Wide range of operating sistems are supported.

USB Powered - No external power required

Fast data transfer - Contactless communication up to 106Kbit/s Secure - Encrypted contactless communication

Firmware Upgrade-able

Ideal for PC Based applications such as Customer Loyalty, e-money etc

2.3 Kriptografi

Kriptografi bcrasal dari bahasa Yunani. Menurut bahasa tersebut kata kriptografi dibagi mcnjadi dua.yaitu crypto dan graphia. Crypto berarti secret (Rahasia) dan graphia berarti writing (tulisan). Menurut terminologinya, kriptografi adalah ilmu dan seni untuk menjaga keamanan pesan ketika pesan atau data dikirim dari suatu tempat ke tempat yang lain.

Kriptografi merupakan ilmu yang menjadi dasar bagi keamanaan jaringan komputer. Karena yang menjadi pokok dari fungsi komputer dan jaringan adalah data dan informasi. Komputer dan jaringannya menjadi sarana bagi distribusi data dan informasi, maka data dan informasi tersebul harus diamankan agar hanya orang-orang yang berhak mengakses yang dapat mengetahui maupun menggunakan data tersebut. Salah satu cara yang paling banyak digunakan dalam mengamankan data adalah dengan mengubah data asli kedalam bentuk tertentu menggunakan metode kriptografi. Data-data tersebut diamankan oleh pengirim

(7)

sehingga orang lain tidak dapat mengenali atau mengetahui bentuk asli atau arti dari data tersebut. Hal ini lebih dikenal dengan nama enkripsi yang artinya tingkat keamanan data. Data atau pesan yang asli sering disebut dengan plaintext dan data yang telah dienkripsi discbut dengan chipertext. Data yang telah dienkripsi disebut dengan chipertext karena data asli (plaintext) telah mengalami proses perubahan bentuk di dalam sebuah algoritma kriptografi atau lebih dikenal dengan nama

chipper. Proses merubah pesan yang telah dienkripsi (chipertext) menjadi pesan asli

(plaintext) disebut sebagai proses deskripsi atau dechiper.

Kriptografi merupakan ilmu atau sekaligus seni untuk menjaga kerahasiaan berita yang ingin disampaikan ke pihak lain dengan cara menyandikannya ke dal am bentuk yang tidak dapat dimengerti lagi maknanya. Para ahli kriptografi

(cryptographers) terus menerus menciptakan algoritma kriptografi yang baru. Hal

ini dikarenakan pula semakin banyak orang-orang ahli yang mampu memecahkan kode-kode chipertext kedalam plaintext. Orang yang ahli dalam bidang ini disebut dengan cryptoanalysis. Ketika suatu algoritma kriptografi sudah dapat dipecahkan, maka diperlukan algoritma yang baru yang lebih handal agar keamanan data dapat terjaga. Hal ini menyebabkan ilmu kriptografi tak akan pemah berhenti berkembang.

2.3.1 Algoritma Kriptografi

Algoritma-algoritma kriptografi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu simetrik dan asimetrik. Algoritma simetrik (model enkripsi konvensional) merupakan algoritma yang menggunakan satu kunci yang sama yang digunakan untuk proses enkripsi dan deskripsi data. Sedangkan algoritma asimetrik (model enkripsi kunci publik) menggunakan kunci yang berbeda dalam proses enkripsi maupun deskripsi pesan.

2.3.1.1 Enkripsi Simetrik

Kunci Simetris adalah jenis kriptografi yang paling umum digunakan. Kunci jenis ini menggunakan jenis kunci yang sama untuk membuka pesan yang disandikan. Jadi pembuat pesan dan penerimanya harus memiliki kunci yang sama persis. Siapapun yang memiliki kunci tersebut termasuk pihak-pihak yang tidak diinginkan dapat membuat dan membongkar bentuk asli dari chiphertext

(8)

(Avon, 2004). Contoh algoritma kunci simetrik yang terkenal adalah DES (Data

Eneryption Standard). Proses dari enkripsi-dekripsi algoritma kriptografi kunci

simetrik diperlihatkan seperti gambar dibawah ini:

Gambar 2.3 Proses Enkripsi kunci simetrik

Proses enkripsi terdiri dari sebuah algoritma dan sebuah kunci. Kunci adalah sebuah nilai yang terlepas dari pesan asli (plaintext) dan mengontrol algoritma yang dipakai. Penerapan algoritma akan menghasilkan output ciphertext yang berbeda sesuai dengan kunci yang digunakan. Merubah kunci berarti juga merubah output ciphertext dari algoritma yang dipakai. Setelah chipertext dihasilkan dari proses enkripsi, chipertext tersebut dapat dikembalikan lagi bentuknya menjadi pesan asli atau bentuk awal dengan algoritma dekripsi dan dengan kunci yang sama seperti yang digunakan pada tahap enkripsi.

Algoritma simetrik ini memiliki kelemahan sebagai berikut : 1. Kunci harus dikirim melalui saluran yang reliable atau aman.

2. Kedua entitas yang berkomunikasi harus menjaga kerahasiaan dari kunci ini, karena jika rahasia kunci diketahui maka bentuk asli dari pesan akan diketahui dan berlaku pada semua pesan yang ada.

3. Perubahan pada kunci harus dilakukan secara frekuentif , dan jika perlu perubahan sebaiknya dilakukan pada tiap sesi komunikasi yang berbeda. Selain kelemahan di atas, terdapat juga kelebihan dari algoritma jenis ini diantaranya :

1. Algoritma ini dirancang sehingga proses enkripsi kriptografi dapat diimplementasikan dengan waku yang singkat

(9)

3. Algoritma simetrik juga dapat bisa menghasilkan chipertext yang lebih kuat.

4. Autentikasi pengiriman pesan langsung diketahui dari chipertext yang diterima, karena kunci hanya diketahui oleh pengirim dan penerima pesan.

Algoritma yang termasuk dalam algoritma enkripsi simetrik diantaranya adalah

Block Chiper dan Stream Chiper.

1. Block Chiper

Block Cipher adalah algoritma enkripsi yang akan membagi-bagi plaintext yang

akan dikirimkan dengan bagian-bagian dengan ukuran tertentu (disebut blok) dengan panjang t, dan setiap blok dienkripsi dengan menggunakan kunci yang sama. Pada umumnya, block cipher memproses plaintext dengan blok yang relatif lebih panjang lebih dari 64 bit, untuk semakin mempersulit penggunaan berbagai metode serangan yang ada yang bertujuan untuk membongkar rahasia dari

ciphertext.

2. Stream Chiper

Stream Cipher adalah algoritma enkripsi yang mcngenkripsi secara persatuan

data, seperti bit, byte, nible atau per 5 bit. Setiap mengenkripsi satu satuan data digunakan kunci yang dimana kunci tersebut merupakan hasil pembangkitan dari kunci sebelumnya.

2.3.1.2 Enkripsi Asimetrik

Kunci asimetrik adalah jenis kunci yang memiliki pasangan kunci kriptografi yang salah satunya digunakan untuk proses enkripsi dan yang satu lagi untuk dekripsi. Semua user yang mendapatkan kunci publik dapat menggunakannya untuk mengenkripsikan suatu pesan, data ataupun informasi, sedangkan hanya satu orang sajayang dapat membuka rahasia dari pesan sebenarnya, yaitu user yang memiliki kunci privat untuk melakukan pembongkaran terhadap sandi yang dikirim untuknya (Avon, 2004). Contoh algoritma terkenal yang menggunakan kunci asimetrik adalah Algoritma Knapsack, RSA (Rivert- Shamir-Adelman), Diffie-Hellman.

(10)

Proses enkripsi-dekripsi algoritma kunci asimetrik dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.4 Proses enkripsi-deskripsi asimetrik

Adapun contoh enkripsi kelebihan dan kekurangan dari algoritma asimetrik adalah :

Enkripsi Asimetrik memiliki kelemahan sebagai berikut:

1. Ukuran kunci yang lebih besar dari pada ukuran kunci dari jenis enkripsi simetrik

2. Tidak adanya jaminan bahwa public key benar-benar aman. Keuntungan dari enkripsi asimetrik ini sebagai berikut :

1. Hanya Private key yang harus benar-benar rahasia/aman. 2. Sangat jarang untuk perlu merubah public key dan private key.

2.3.2 Algoritma El-Gamal

2.3.2.1 Algoritma Generate Key (Pembangkitan Kunci)

Algoritma ElGamal memerlukan sepasang kunci yang dibangkitkan dengan memilih bilangan prima p dan dua buah bilangan acak (random) g dan x, dengan syarat bahwa nilai g dan x lebih kecil dari p yang memenuhi persamaan. Berikut ini adalah prosedur yang digunakan untuk membangkitkan pasangan kunci publik dan kunci privat:

1. Pilih sembarang bilangan prima p

2. Pilih dua buah bilangan acak, g dan x, dengan syarat g < p dan 1 ≤ x ≤ p-2 3. Hitung y = y= gx mod p (1)

(11)

Hasilnya adalah kunci publik yang berupa tripel (y,g,p) dan kunci privat pasangan (x,p).

Dari persamaan tersebut nilai y, g dan p merupakan pasangan kunci public sedangkan x, p merupakan pasangan kunci pribadi. Besaran-besaran yang digunakan dalam algoritma kriptografi Elgamal adalah :

a. Bilangan prima p bersifat tidak rahasia. b. Bilangan acak g (g < p) bersifat tidak rahasia c. Bilangan acak x (x < p) bersifat rahasia. d. Bilangan y bersifat tidak rahasia.

e. m (plaintext) bersifat rahasia merupakan pesan asli yang digunakan untuk data

f. sumber dalam proses enkripsi dan merupakan data hasil pada proses dekripsi.

g. a dan b (ciphertext) bersifat tidak rahasia

Dengan begitu maka dapat disimpulkan algoritma ini akan menghasilkan 2 jenis output yaitu kunci public dan kunci privat.

2.3.2.2 Algoritma Proses Enkripsi

Algoritma proses enkripsi dilakukan dengan memilih bilangan acak k yang berada dalam himpunan 1 ≤ k ≤ p-2. Setiap blok plaintext m dienkripsi dengan persamaan ini adalah prosedur untuk melakukan enkripsi plaintext menjadi ciperteks:

1. Susun plaintext menjadi blok-blok m1,m2,m3,...,sedemikian sehingga setiap blok merepresentasikan nilai di dalam selang [0, p-1]

2. Pilih bilangan acak k, dengan syarat 1 ≤ k ≤ p-2 3. Setiap blok mi dienkripsi dengan rumus berikut:

1. a = gk mod p (2) 2. b = yk m mod p (3)

Pasangan ai dan bi adalah ciphertext untuk blok pesan mi. Perhatikan, ini menunjukkan bahwa ukuran ciphertext yang dihasilkan adalah dua kali ukuran

(12)

2.3.2.3 Algoritma Proses Dekripsi

Proses dekripsi menggunakan kunci pribadi x dan p untuk mendekripsi a dan b menjadi plaintext m dengan persamaan:

(ax)-1 = ap-1-x mod p (4) m =b*ax mod p (5)

Sehingga plaintext dapat ditemukan kembali dari pasangan ciphertext a dan b. 2.3.3 Kelebihan Algoritma Elgamal

Algoritma ini memiliki kelebihan yaitu pembangkitan kunci yang menggunakan logaritma diskrit dan metode enkripsi dekripsi yang menggunakan proses komputasi yang besar sehingga hasil enkripsinya berukuran dua kali dari ukuran semula. Kekurangan algoritma ini adalah membutuhkan resource yang besar karena chipertext yang dihasilkan dua kali panjang plaintext serta membutuhkan processor yang mampu untuk melakukan komputasi yang besar untuk perhitungan logaritma perpangkatan besar.

2.4 Resep Obat

Resep adalah permintaan tertulis dari seorang dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuat dan menyerahkan obat kepada pasien, yang berhak menulis resep adalah :

1. Dokter

2. Dokter gigi, terbatas pada pengobatan gigi dan mulut. 3. Dokter hewan, terbatas pengobatan hewan.

2.4.1 Kelengkapan Suatu Resep Dalam resep harus memuat :

1. Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi dan dokter hewan. 2. Tanggal penulisan resep (inscriptio)

3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap obat atau komposisi obat (invocatio)

4. Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)

5. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dgn UU yg berlaku (subscriptio)

(13)

6. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yg jumlahnya melebihi dosis maksimal. (Joenoes Z Nanizar 1994).

Gambar 2.5 Contoh Resep Apotek 2.4.2 Pelayanan Resep di Apotek

Terdapat beberapa aturan sebagai pedoman pelayanan resep di sebuah apotek., yaitu :

1. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan.

2. Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab apoteker pengelola apotek.

3. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pd kepentingan masyarakat.

4. Apoteker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis di dalam resep dengan obat paten.

5. Bila pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep, apoteker dapat mengganti obat paten dengan obat generik atas persetujuan pasien. 2.4.3 Copy Resep

1. Copy resep adalah salinan tertulis dari suatu resep. 2. Copy resep = apograph, exemplum atau afschrift.

(14)

3. Salinan resep selain memuat semua keterangan yang termuat dalam resep asli, harus memuat pula informasi sebagai berikut :

1. Nama dan alamat apotek

2. Nama dan nomor S.I.K. apoteker pengelola apotek 3. Tanda tangan / paraf apoteker pengelola apotek

4. Tanda det.= detur untuk obat yang sudah diserahkan, atau tanda ne

det = ne detur untuk obat yang belum diserahkan.

5. Nomor resep dan tanggal pembuatan. (Anif M. 2000). 2.4.4 Ketentuan tambahan

 Salinan resep harus ditandatangani apoteker. Apabila berhalangan, penandatanganan atau paraf pada salinan resep dapat dilakukan oleh apoteker pendamping atau apoteker pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.

 Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik selama 3 tahun.

 Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep, pasien yang bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut peraturan UU yg berlaku.

 Apoteker pengelola apotek, apoteker pendamping atau pengganti diizinkan untuk menjual obat keras yang disebut obat wajib apotek (OWA).

 OWA ditetapkan oleh menteri kesehatan.

 OWA adalah obat keras yg dpt diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter.

 Pelaksanaan OWA tersebut oleh apoteker harus sesuai yg diwajibkan pada dictum kedua SK. Menteri Kesehatan Nomor : 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang OWA yaitu sbb :

o Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yg disebutkan dalam OWA yang bersangkutan.

o Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan. o Memberikan informasi ttg obat yang diperlukan pasien.

(15)

2.4.5 Pengelolaan Resep

 Resep yang telah dikerjakan, disimpan menurut urutan tanggal dan nomor penerimaan / pembuatan resep.

 Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya, tandai garis merah di bawah nama obatnya.

 Resep yang telah disimpan melebihi 3 tahun dapat dimusnahkan dan cara pemusnahannya adalah dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai

 Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker pengelola bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas apotek.

 Pada saat pemusnahan harus dibuat berita acar pemusnahan yang mencantumkan :

o Hari & tanggal pemusnahan

o Tanggal yang terawal dan terakhir dari resep o Berat resep yg dimusnahkan dalam kilogram. 2.5 Metode Black Box

Menurut Pressman (2005), pengujian black box berfokus pada persyaratan fungsional perangkat lunak. Dengan demikian, pengujian black box

memungkinkan perekayasa perangkat lunak mendapatkan serangkaian kondisi input yang sepenuhnya menggunakan semua persyaratan fungsional untuk suatu untuk program. Pengujian black box diaplikasikan selama tahap akhir pegujian. Karena pengujian black box memperhatikan struktur kontrol, maka perhatian berfokus pada domain informasi.

Pengujian black box berusaha menemukan kesalahan dalam fungsi-fungsi yang tidak benar atau hilang, kesalahan interface, kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal, kesalahan kinerja (performance), inisialisasi dan kesalahan terminasi.

Meskipun didesain untuk mengungkapkan kesalahan, pengujian black box digunakan untuk mempelihatkan bahwa fungsi-fungsi perangkat lunak adalah operasional, yaitu input diterima dengan baik dan output dihasilkan dengan tepat, dan integritas informasi eksternal dipelihara. Pengujian black box menguji

(16)

beberapa aspek dasar suatu sistem dengan sedikit memperlihatkan struktur logika internal perangkat lunak tersebut.

2.6 Metode Avalanche Effect

Avalanche Effect adalah suatu metode yang dapat digunakan untuk menentukan baik atau tidaknya suatu algoritma kriptografi. Metode ini bekerja dengan mendeteksi perubahan sekecil apapun terhadap ciphertext yang diproses oleh algoritma, perubahan plaintext maupun key akan menyebabkan perubahan yang signifikan terhadap ciphertext yang dihasilkan. Dengan kata lain, perubahan satu bit pada plaintext maupun key akan menghasilkan banyak perubahan bit pada

ciphertext. Menurut Bruce Schneier dalam “Applied Cryptography”, suatu avalanche effect akan dikategorikan baik jika output perhitungan atas perubahan bit yang terjadi menghasilkan 45–60 % dari keseluruhan bit ciphertext (sekitar

separuhnya, 50 % adalah hasil yang sangat baik bagi sebuah algoritma). Perubahan tersebut berarti telah membuat perbedaan yang cukup sulit bagi

cryptanalyst untuk melakukan serangan (Bruce Schneier,1994).

Semakin besar avalanche effect akan semakin baik algoritma kriptografi tersebut. Cara menghitung avalanche effect sebagai berikut :

𝐴𝑣𝑎𝑙𝑎𝑛𝑐ℎ𝑒 𝐸𝑓𝑓𝑒𝑐𝑡 = ( 𝐵𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝐵𝑖𝑡

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐾𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝐵𝑖𝑡 𝑥 100%) Gambar 2.6 Persamaan Avalanche effect

Gambar

Gambar 2.1 Cara Kerja RFID
Table 2.1 Perbedaan  Teknologi Barcode dan RFID
Gambar 2.3  Proses Enkripsi kunci simetrik
Gambar 2.4 Proses enkripsi-deskripsi asimetrik
+2

Referensi

Dokumen terkait

Terhadap jawaban (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan usaha pemantauan; 5). Motivasi mudah men- jalar atau tersebar terhadap orang lain;

SURYA PRATAMA WIJAYA KUSUMA SLEMAN 29-12-2003 Laki-laki Tidak Kawin Cucu menganggur... SARWITI SLEMAN 31-12-1930 Laki-laki Nikah Kepala

Apabila dalam jangka 1-2 bulan setelah penanaman biji jati belum tumbuh atau mati dapat disulam dengan stump, cara membuat/menanam stump

DIOS NA MAKAGAGAHUM AMAHAN NAKONG LANGITNON TAG-IYA NANG AKING BUHAY NAGPAPASALAMAT AKO OH DIOS NA BINIGYAN MO AKO LUGWAY SA AKING BUHAY, LINAWIN MO PO OH DIOS KO AG AKING

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Trilaksani, 2012) kadar lemak paling rendah yang dihasilkan dari gelatin kulit ikan kakap merah ini menggunakan larutan asam asetat

Penurunan nilai kalium akibat terbawanya kalium oleh air di dukung dengan data kadar air yang hilang menyebabkan kalium juga terbawa oleh air. sehingga pada akhir

Dalam masalah 42 49, cari volume benda putar yang dihasilkan ketika daerah yang dibatasi oleh garis dan kurva diputar terhadap sumbu

Untuk mengusahakan agar sumberdaya perikanan dapat dimanfaatkan terus menerus secara maksimal dalam waktu yang terbatas maka laju kematian karena penangkapan (tingkat