DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 13
1.3 Tujuan Penelitian ... 14
1.4 Kegunaan Penelitian ... 14
1.5 Sistematika Penulisan ... 15
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka ... 17
2.1.1 Teori Kepatuhan ... 17
2.1.2 Teori Sinyal ... 18
2.1.3 Ketepatan Waktu ... 20
2.1.4 Audit Report Lag... 22
2.1.5 Kompleksitas Operasi Perusahaan ... 23
2.1.6 Kontinjensi ... 24
2.1.7 Pergantian Auditor ... 28
2.1.8 Spesialisasi Auditor ... 29
2.2 Rumusan Hipotesis ... 31
2.2.1 Pengaruh Kompleksitas Operasi Perusahaan pada Audit Report Lag... 31
2.3.2 Pengaruh Kontinjensi pada Audit Report Lag ... 32
2.2.3 Pengaruh Pergantian Auditor pada Audit Report Lag .. 33
2.2.4 Pengaruh Spesialisasi Auditor dalam Memoderasi Hubungan Kompleksitas Operasi Perusahaan dengan Audit Report Lag ... 34
2.2.5 Pengaruh Spesialisasi Auditor dalam Memoderasi Hubungan Kontinjensi dengan Audit Report Lag ... 36
2.2.6 Pengaruh Spesialisasi Auditor dalam Memoderasi Hubungan Pergantian Auditor dengan Audit Report Lag ... 37
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 39
3.2 Lokasi Penelitian ... 40
3.4 Identifikasi Variabel ... 40
3.5 Definisi Operasional Variabel ... 41
3.6 Jenis dan Sumber Data ... 43
3.7 Populasi, Sampel dan Metode Penentuan Sampel ... 44
3.8 Metode Pengumpulan Data ... 45
3.9 Teknik Analisis Data ... 46
3.9.1 Uji Asumsi Klasik ... 46
3.9.2 Koefisien Determinasi (R2)... 47
3.9.3 Uji Kelayakan Model (Uji F) ... 47
3.9.4 Uji Regresi Linier Berganda ... 48
3.9.5 Uji Hipotesis (Uji t) ... 49
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek dan Sampel Penelitian ... 50
4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 51
4.3 Uji Asumsi Klasik ... 54
4.4 Koefisien Determinasi (R2) ... 56
4.5 Uji Kelayakan Model (Uji F) ... 57
4.6 Uji Regresi Linier Berganda ... 58
4.7 Uji Hipotesis (Uji t) ... 61
4.8 Pembahasan Hasil Penelitian ... 63
4.8.1 Pengaruh Kompleksitas Operasi Perusahaan pada Audit Report Lag ... 63
4.8.2 Pengaruh Kontinjensi pada Audit Report Lag ... 64
4.8.3 Pengaruh Pergantian Auditor pada Audit Report Lag .. 65
4.8.4 Pengaruh Spesialisasi Auditor dalam Memoderasi Hubungan Kompleksitas Operasi Perusahaan dengan Audit Report Lag... 67
4.8.5 Pengaruh Spesialisasi Auditor dalam Memoderasi Hubungan Kontinjensi dengan Audit Report Lag ... 68
4.8.6 Pengaruh Spesialisasi Auditor dalam Hubungan Pergantian Auditor pada Audit Report Lag ... 70
BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan ... 73
5.2 Saran ... 75
DAFTAR RUJUKAN ... 76
Judul : Pengaruh Kompleksitas Operasi Perusahaan, Kontinjensi, dan Pergantian Auditor pada Audit Report Lag dengan Spesialisasi Auditor sebagai Pemoderasi
Nama : Gusti Ayu Nyoman Purnama Dewi NIM : 1306305072
Abstrak
Audit report lag adalah rentang waktu penyelesaian audit dari tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal diselesaikannya laporan auditor independen. Audit report lag yang semakin panjang dapat menyebabkan keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kompleksitas operasi perusahaan, kontinjensi, dan pergantian auditor pada audit report lag dengan dimoderasi oleh spesialiasi auditor.
Populasi penelitian ini adalah perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015. Sampel penelitian sebanyak 32 perusahaan dengan 128 pengamatan diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling. Data dalam penelitian ini adalah data sekunder, berjenis kuantitatif, dan diperoleh dengan metode observasi non partisipan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan uji MRA (Moderated Regression Analysis).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompleksitas operasi perusahaan dan kontinjensi berpengaruh positif dalam menyebabkan audit report lag yang lebih panjang, sedangkan pergantian auditor tidak berpengaruh pada audit report lag. Spesialisasi auditor hanya mampu memperlemah pengaruh kontinjensi pada audit report lag. Spesialisasi auditor mampu memperlemah pengaruh dari adanya pelaporan kontinjensi sehingga mampu menghasilkan audit report lag yang lebih pendek.
Kata kunci : audit report lag, kompleksitas operasi perusahaan, kontinjensi, pergantian auditor, spesialisasi auditor.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan perusahaan di Indonesia telah mengalami kemajuan yang pesat. Perkembangan yang pesat menimbulkan konsekuensi dibutuhkannya pendanaan yang lebih besar bagi aktivitas investasi dan operasional perusahaan. Sumber pendanaan bagi perusahaan dapat diperoleh dari investor dan kreditor. Salah satu langkah yang dilakukan perusahaan untuk memperoleh sumber pendanaan dari investor adalah dengan listed di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi perusahan go public.
Sebagai sebuah perusahaan go public, perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki beberapa kewajiban yang harus dipenuhi, salah satunya menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik. Pelaporan keuangan merupakan suatu mekanisme penyampaian informasi mengenai sumberdaya yang dimiliki perusahaan, yang meliputi pengukuran secara ekonomis serta pengelolaan sumberdaya secara kualitatif melalui kinerja operasional manajemen (Tambunan, 2014).
Laporan keuangan adalah akhir dari proses akuntansi yang berperan bagi penilaian dan pengukuran kinerja perusahaan. Penyampaian laporan keuangan ke publik bertujuan untuk memberikan informasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan kepada pengguna laporan keuangan seperti pemerintah, investor, kreditor dan pihak lain yang membutuhkan informasi tersebut. Informasi keuangan ini diperlukan para pengguna laporan untuk pengambilan keputusan dan
sebagai alat perusahaan untuk mengkomunikasikan beragam informasi dan kinerja keuangan perusahaan yang terukur secara ekonomis.
Pada dasarnya laporan keuangan harus memenuhi empat karakteristik kualitatif yang merupakan ciri khas informasi laporan keuangan, yaitu dapat dipahami, relevan, andal, dan dapat diperbandingkan (IAI, 2012). Laporan keuangan akan bermanfaat bagi pengguna apabila disajikan dengan memenuhi empat karakteristik tersebut. Untuk kebutuhan pengambilan keputusan, laporan keuangan yang baik hendaknya memenuhi kriteria relevan. Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan harus memiliki tingkat relevansi yang baik sehingga informasi yang disajikan harus tepat waktu guna mendukung pengambilan keputusan. Informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya apabila terdapat penundaan dalam pelaporannya sehingga dapat dikatakan ketepatan waktu dapat mempengaruhi relevansi informasi keuangan yang akan disajikan (Hilmi dan Ali, 2008 dalam Ariyani dan Budiartha, 2013).
Investor maupun kreditor membutuhkan laporan keuangan dengan segera untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, laporan keuangan harus disajikan tepat waktu sehingga keputusan yang diambil dapat bermanfaat. Pentingnya ketepatan waktu pelaporan keuangan diakui oleh berbagai pihak yang berkepentingan karena hal tersebut bukan hanya berpengaruh pada nilai dan kualitas laporan keuangan, namun juga dapat berdampak pada reaksi dari pasar baik yang bersifat baik atau buruk.
Mengingat pentingnya ketepatan waktu dalam penyampaian laporan keuangan bagi perusahaan go public, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan (BAPEPAM dan LK) selaku badan yang melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) telah mengeluarkan peraturan mengenai batas waktu maksimum penyampaian laporan keuangan perusahaan. Melalui Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan Lembaga Keuangan (LK) Nomor : KEP-346/BL/2011 mewajibkan setiap emiten dan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan disertai dengan laporan akuntan dalam rangka audit atas laporan keuangan yang memuat opini audit dari akuntan kepada BAPEPAM dan LK paling lama 3 bulan (90 hari) setelah tanggal laporan keuangan tahunan.
Selanjutnya tanggal 1 Agustus, peraturan sebelumnya diperbarui dengan menerbitkan Keputusan BAPEPAM dan LK Nomor : KEP-431/BL/2012 dengan lampiran Peraturan Nomor.X.K.6 Tahun 2012 dan sekarang telah digantikan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 29/POJK.04/2016. Perusahaan yang terlambat menyampaikan laporan keuangan akan dikenakan sanksi karena telah melanggar ketentuan peraturan tersebut. Diterapkannya sanksi tersebut diharapkan agar perusahaan dapat tepat waktu dalam penyampaian laporan keuangan. Namun, pada kenyataannya masih banyak terdapat keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Adanya keterlambatan penyampaian laporan keuangan ini, dapat dianggap sebagai sinyal negatif (bad news) oleh pemakai laporan keuangan dan menyebabkan munculnya reaksi negatif.
Tabel 1.1 Jumlah Perusahaan yang Terlambat Melaporkan Laporan Keuangan Tahun 2012-2015
Tahun Jumlah Perusahaan
yang Terlambat
2012 52 emiten
2013 49 emiten
2014 52 emiten
2015 18 emiten
Sumber : Data sekunder, 2016
Berdasarkan tabel diatas, terlihat bahwa meskipun telah mengalami penurunan namun ternyata masih banyak perusahaan yang mengalami keterlambatan padahal sudah diterbitkan peraturan mengenai batas waktu maksimum penyampaian laporan keuangan disertai dengan sanksi dan denda. Perusahaan yang telat melaporkan laporan keuangan akan dikenakan sanksi sesuai dengan aturan I-H tentang sanksi dalam Keputusan Ketua Direksi PT. Bursa Efek Jakarta Nomor : KEP-307/BEJ/07-2004, dimana sanksi peringatan tertulis I tidak menyertakan detil denda yang harus dibayarkan emiten jika terlambat menyampaikan laporan keunagan. Denda hanya diberikan untuk sanksi peringatan tertulis II dan III dengan besaran masing-masing Rp.50.000.000 dan Rp.150.000.000. Mengacu pada peraturan tersebut, bursa akan melakukan suspensi (penghentian sementara perdagangan saham) apabila mulai hari kalender ke-91 sejak lampaunya batas waktu penyampaian laporan keuangan, perusahaan tercatat tidak memenuhi kewajiban penyampaian tersebut. Hal itu juga berlaku untuk emiten yang telah menyampaikan laporan keuangan, tetapi tidak membayar denda.
Keinginan untuk menyajikan laporan keuangan tepat waktu sering dihadapkan dengan berbagai kendala. Salah satu kendala adalah adanya keharusan laporan keuangan untuk di audit oleh akuntan publik. Tujuan audit adalah untuk memberikan opini tentang kewajaran laporan keuangan dan memverifikasi laporan keuangan yang disajikan manajemen apakah telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku umum. Untuk menjamin terpenuhinya kriteria laporan keuangan tersebut maka diperlukan auditor sebagai pihak ketiga yang kompeten dan independen untuk melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan (Al-Thuneibat, et al., 2011).
Auditor dalam menyelesaikan audit, sering menghadapi kendala waktu yang ketat, terutama ketika klien berusaha mendapatkan tanggal yang cepat untuk menerbitkan laporan audit. Ketepatan waktu penyampaian laporan auditan menjadi salah satu kriteria profesionalisme yang harus dimiliki oleh seorang auditor (Subekti dan Widiyanti, 2004). Namun proses dalam mencapai ketepatan waktu terutama dalam penyajian laporan auditor independen menjadi semakin tidak mudah, mengingat semakin meningkatnya perkembangan perusahaan publik yang ada di Indonesia.
Hariza, dkk (2012) menyatakan ketepatan suatu perusahaan dalam mempublikasikan laporannya bergantung pada ketepatan waktu auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Dalam prosesnya, audit laporan keuangan membutuhkan waktu mulai sejak tanggal tutup buku perusahaan hingga publikasi pernyataan opini audit. Adanya perbedaan waktu antara laporan keuangan dengan tanggal laporan auditor independen mengindikasikan tentang lamanya waktu
penyelesaian audit oleh auditor. Perbedaan waktu ini sering disebut sebagai audit delay atau audit report lag. Istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah audit report lag.
Audit report lag adalah rentang waktu penyelesaian audit dari tanggal penutupan tahun buku hingga tanggal diselesaikannya laporan auditor independen (Habib dan Bhuiyan, 2011). Audit report lag dianggap sebagai isu penting karena berpengaruh pada nilai perusahaan. Lamanya waktu penyelesaian audit didasarkan atas perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan yaitu per 31 Desember sampai dengan tanggal opini audit dalam laporan keuangan. Makin lama auditor menyelesaikan pekerjaan auditnya, semakin lama pula audit report lag. Audit report lag yang berlebihan akan membahayakan kualitas pelaporan keuangan dengan tidak memberikan informasi yang tepat waktu kepada investor serta mengurangi tingkat kepercayaan investor terhadap pasar (Hashim dan Rahman, 2011).
Lamanya penyelesaian audit dapat mengindikasikan adanya masalah dalam laporan keuangan perusahaan. Para pengguna laporan keuangan terutama investor bisa menganggap keterlambatan ini sebagai bad news dan menganggap perusahaan sedang mengalami masalah. Penyebab lamanya penyelesaian laporan audit dapat berasal dari internal maupun dari dalam perusahaan. Berdasarkan bukti empiris dari penelitian sebelumnya, penyebab lamanya audit report lag dapat berasal dari internal perusahaan, masalah-masalah dalam akuntansi serta penyajian laporan keuangan, dan faktor dari auditor itu sendiri.
Ashton et al. (1978) dalam Owusu dan Ansah (2000) menyatakan bahwa kompleksitas operasi perusahaan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan audit report lag. Kompleksitas organisasi atau operasi merupakan akibat dari pembentukan departemen dan pembagian pekerjaan yang memiliki fokus terhadap jumlah unit yang berbeda secara nyata. Ketergantungan yang semakin kompleks terjadi apabila organisasi dengan berbagai jenis atau jumlah pekerjaan dan unit menimbulkan masalah manajerial dan organisasi yang lebih rumit (Martius, 2012). Pada umumnya setiap perusahaan memiliki tingkat operasi yang kompleks. Kompleksitas operasi suatu perusahaan tingkatannya bergantung pada keberadaan, jumlah dan lokasi unit perusahaan (anak cabang) serta diversifikasi jalur produk dan pasarnya.
Ariyani dan Budiartha (2014) menemukan bukti empiris bahwa kompleksitas operasi berpengaruh positif terhadap audit report lag. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki unit operasi (cabang) lebih banyak akan memerlukan waktu yang lebih lama bagi auditor untuk melakukan pemeriksaan audit. Semakin kompleks suatu perusahaan maka transaksi yang dimiliki oleh klien semakin rumit karena terdapat laporan konsolidasi yang perlu diaudit oleh auditor sehingga akan memerlukan waktu yang cukup lama bagi auditor dalam menyelesaikan auditnya (Ariyani dan Budiartha, 2014). Hal ini juga didukung oleh penelitian Ashton et.al (1978) dalam Owusu dan Ansah (2000), Che-Ahmad dan Abidin (2008), dan Hariani (2014). Namun hasil yang berbeda ditemukan dalam penelitian Bustamam dan Kamal (2010), Angruningrum dan Wirakusuma (2013), dan Puspitasari dan Latrini (2014) yang menyatakan bahwa
banyaknya anak perusahaan tidak berpengaruh terhadap audit report lag pada suatu perusahaan.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 57 mengatur mengenai pengakuan kewajiban kontinjensi dan aset kontinjensi. Kontinjensi merupakan suatu kondisi atau situasi, dengan hasil akhir berupa keuntungan atau kerugian, yang baru dapat dikonfirmasikan setelah terjadinya atau tidak terjadinya satu atau lebih peristiwa yang tidak pasti terjadi di masa depan. Pelaporan kontinjensi dalam laporan keuangan diprediksi dapat mempengaruhi lamanya pemeriksaan audit karena auditor harus melakukan verifikasi terhadap pelaporan kontinjensi.
Langkah pertama auditor dalam melakukan audit kontinjensi adalah menentukan apakah terdapat kontinjensi. Namun pada kenyataannya , lebih sulit menemukan transaksi yang tidak tercatat daripada melakukan verifikasi atas informasi yang tercatat. Saat auditor mengetahui terjadi kontinjensi, maka mereka akan melakukan evaluasi materialitas dan pengungkapan penjelasan tambahan (www.ikarosalia.wordpress.com). Banyaknya prosedur audit yang dilakukan oleh auditor untuk mengaudit kontinjensi menyebabkan semakin banyak waktu yang diperlukan oleh auditor untuk melanjutkan ke tahap audit selanjutnya. Hal ini dapat berdampak pada keterlambatan penyelesaian audit dan menyebabkan semakin panjangnya audit report lag.
Kontinjensi melibatkan ketidakpastian dan hasilnya baru diputuskan setelah ada kejadian yang terjadi atau tidak terjadi di masa depan, maka baik manajemen dan auditor membutuhkan waktu untuk memantau secara terus
menerus kelanjutan dari peristiwa tersebut. Oleh karena itu, hal ini dapat menyebabkan audit report lag yang lebih lama pada perusahaan yang melaporkan kontinjensi. Hal ini didukung oleh penelitian Tedja (2012) yang menemukan bahwa kontinjensi berpengaruh terhadap audit report lag. Dalam Owusu dan Ansah (2000) pelaporan kontinjensi memiliki hubungan positif terhadap keterlambatan penyelesaian laporan audit. Namun hasil penelitian yang berbeda ditemukan dalam penelitian Santoso (2012) yang menemukan bahwa kontinjensi tidak berpengaruh terhadap audit report lag.
Selain kompleksitas operasi perusahaan dan kontinjensi, faktor dari auditor sendiri diprediksi dapat mempengaruhi lamanya proses penyelesaian audit. Beberapa penelitian menyatakan terdapat pengaruh antara pergantian auditor terhadap audit report lag. Pergantian auditor ditunjukkan ketika berakhirnya masa perikatan antara klien (perusahaan) dengan auditor/KAP. Pemerintah telah mengatur kewajiban rotasi auditor dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 Pasal 3 Ayat 1, menetapkan dimana pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan klien hanya dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik paling lama untuk 6 (enam) tahun buku turut dan oleh seorang akuntan paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut- berturut-turut.
Akuntan publik dan kantor akuntan boleh menerima kembali penugasan setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit kepada klien yang sama. Selain karena adanya pembatasan pemberian jasa audit oleh peraturan pemerintah, beberapa hal yang dapat menyebabkan pergantian auditor adalah mundurnya
auditor secara sukarela, adanya konflik kepentingan antara pemilik perusahaan dan manajemen perusahaan yang memicu pergantian manajemen dan pergantian auditor.
Pergantian auditor dapat menimbulkan audit report lag yang semakin panjang karena terdapat kemungkinan bahwa auditor pengganti belum dapat menyelesaikan tugas auditnya dengan tepat waktu (Rustiarini dan Sugiarti, 2013). Adanya pergantian auditor mengakibatkan auditor yang baru kurang memiliki pengetahuan mendalam mengenai bisnis klien dibandingkan dengan auditor sebelumnya. Pengetahuan yang banyak mengenai bisnis klien inilah yang akan mempermudah auditor dalam menyusun program audit yang akan dikerjakan sehingga mempercepat proses audit (Giri, 2010).
Auditor yang baru cenderung akan butuh waktu untuk mengidentifikasi karakteristik bisnis klien dan sistem yang digunakan oleh perusahaan, sehingga hal ini dapat menyita waktu auditor selama proses pengauditan yang dapat berdampak pada penyampaian laporan keuangan auditan menjadi terlambat. Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Rustiarini dan Sugiarti (2013), Kusuma (2011), Ettredge et al. (2005), Ratnaningsih dan Dwirandra (2016) menemukan bukti empiris bahwa pergantian auditor yang dilakukan oleh perusahaan berpengaruh terhadap audit report lag. Namun hasil penelitian tersebut tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widhiasari dan Budiartha (2016), Sitanggang dan Ariyanto (2015), Megayanti dan Budiartha (2016) yang menyatakan bahwa pergantian auditor tidak berpengaruh secara signifikan dengan lamanya penyelesaian laporan keuangan audit.
Keberagaman penelitian sebelumnya yang hasilnya saling bertentangan menimbulkan keinginan peneliti untuk mengetahui kemungkinan adanya variabel lain yang memoderasi hubungan kompleksitas operasi perusahaan, kontinjensi, dan pergantian auditor terhadap audit report lag. Salah satu variabel yang diduga dapat memoderasi pengaruh kompleksitas operasi perusahaan, kontinjensi dan pergantian auditor terhadap audit report lag adalah spesialisasi auditor.
Definisi spesialisasi auditor sendiri belum ditemukan secara pasti di Indonesia (Dewi, 2014). Menurut Solomon (1999) dalam Wiguna (2012) menyatakan auditor disebut sebagai spesialiasasi di suatu industri apabila auditor tersebut telah mengikuti pelatihan yang berfokus pada suatu industri tertentu, selain itu auditor yang memiliki banyak pengalaman melakukan audit dan terkonsentrasi di suatu industri tertentu dapat disebut sebagai auditor spesialisasi industri. Auditor memerlukan pemahaman yang baik atas industri klien karena banyak industri memiliki aturan akuntansi yang khas. Auditor spesialis diyakini memiliki kemampuan untuk mendeteksi kesalahan-kesalahan secara lebih baik, meningkatkan efisiensi dan pengetahuan tentang kejujuran laporan keuangan (Herusatya, 2009).
Spesialisasi auditor dapat diukur dengan rasio frekuensi perusahaan yang diaudit oleh auditor/KAP yang sama dalam suatu industri (Balsam, et al., 2003). Menurut Balsam et al. (2003) bahwa auditor dengan volume klien terbesar pada suatu industri mempunyai pemahaman yang komprehensif dan merupakan spesialis pada industri tersebut. Habib dan Bhuiyan (2011) menyimpulkan seorang auditor yang memiliki predikat sebagai auditor
spesialisasi industri mampu memulai proses audit lebih cepat dan menyelesaikan audit lebih cepat jika dibandingkan dengan auditor non spesialisasi industri, hal ini dikarenakan auditor tersebut memiliki kemampuan dan pengetahuan yang spesifik mengenai suatu industri yang akan berperan dengan signifikan dalam penyelesaian proses audit dan dapat memperpendek jarak audit report lag. Hal ini juga didukung penelitian Primantara (2015), Rustiarini dan Sugiarti (2013).
Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali pengaruh variabel kompleksitas operasi perusahaan, kontinjensi, dan pergantian auditor pada audit report lag karena masih banyak terdapat ketidakkonsistenan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian ini menggunakan variabel kontinjensi yang masih terbatas digunakan dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Selain itu, peneliti tertarik untuk menguji apakah spesialisasi auditor dapat memoderasi pengaruh variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kompleksitas operasi perusahaan, kontinjensi dan pergantian auditor terhadap audit report lag.
Penelitian ini menggunakan perusahaan property dan real estate sebagai populasi dan mengambil periode penelitian 2012-2015. Perusahaan property dan real estate dipilih karena perusahaan ini termasuk ke dalam sektor usaha yang terus berkembang di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, banyak investor yang berkeinginan menanamkan modalnya pada perusahaan property dan real estate karena profit masa depan yang menjanjikan. Investor membutuhkan informasi yang tepat waktu dari laporan keuangan untuk pengambilan keputusan,
sehingga adanya audit report lag akan mempengaruhi relevansi informasi yang akan diperoleh.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Bagaimana pengaruh kompleksitas operasi perusahaan pada audit report lag? 2) Bagaimana pengaruh kontinjensi pada audit report lag ?
3) Bagaimana pengaruh pergantian auditor pada audit report lag ?
4) Bagaimana spesialisasi auditor memoderasi pengaruh kompleksitas operasi perusahaan pada audit report lag ?
5) Bagaimana spesialisasi auditor memoderasi pengaruh kontinjensi pada audit report lag ?
6) Bagaimana spesialisasi auditor memoderasi pengaruh pergantian auditor pada audit report lag ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk menguji secara empiris mengenai pengaruh kompleksitas operasi perusahaan terhadap audit report lag
2) Untuk menguji secara empiris mengenai pengaruh kontinjensi terhadap audit report lag
3) Untuk menguji secara empiris mengenai pengaruh pergantian auditor terhadap audit report lag
4) Untuk menguji secara empiris mengenai pengaruh moderasi spesialisasi auditor terhadap hubungan kompleksitas operasi perusahaan dan audit report lag
5) Untuk menguji secara empiris mengenai pengaruh moderasi spesialisasi auditor terhadap hubungan kontinjensi dan audit report lag
6) Untuk menguji secara empiris mengenai pengaruh moderasi spesialisasi auditor terhadap hubungan pergantian auditor dan audit report lag
1.4 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka kegunaan penelitan yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Kegunaan teoritis
Secara teoritis, penelitian ini dapat memberikan dukungan empiris terhadap teori kepatuhan dan teori sinyal, menambah studi literatur akuntansi khususnya topik tentang audit report lag dan menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.
2) Kegunaan praktis
Adapun kegunaan praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
a) Bagi investor dapat menambah informasi mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya audit report lag sehingga mampu dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan keputusan.
b) Bagi perusahaan dapat digunakan sebagai referensi mengenai penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang berkualitas sehingga mengurangi audit report lag.
c) Bagi auditor independen, penelitian ini dapat memberikan referensi dan pertimbangan mengenai praktek jasa audit sehingga efisiensi dan efektivitas penyelesaian laporan audit dapat ditingkatkan.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini disusun dalam beberapa bab secara sistematis sebagai berikut.
Bab I Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah , rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian serta diakhiri dengan sistematika penulisan.
Bab II Kajian Pustaka dan Hipotesis Penelitian
Bab ini menguraikan tentang teori-teori yang menunjang pembahasan terhadap masalah dan variabel dalam penelitian ini dan diakhiri dengan rumusan hipotesis.
Bab III Metode Penelitiian
Bab ini memaparkan tentang desain penelitian yang digunakan, lokasi dan ruang lingkup wilayah dilakukannya penelitian, obyek penelitian, identifikasi variabel faktor yang mempengaruhi audit report lag, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data yang digunakan, populasi, sampel dan metode penentuan sampel, serta metode
pengumpulan data dan teknik analisis data yang digunakan untuk meneliti pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Bab IV Pembahasan Hasil Penelitian
Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum objek dan sampel penelitian deskripsi data hasil penelitian serta pembahasan hasil penelitian
Bab V Simpulan dan Saran
Bab ini menguraikan tentang simpulan yang dibuat berdasarkan uraian pada bab sebelumnya serta saran-saran yang nantinya diharapkan dapat berguna bagi penelitian berikutnya.