• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. dalam International Pharmaceutical Manufacturing Group ( IPMG ) dengan total

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. dalam International Pharmaceutical Manufacturing Group ( IPMG ) dengan total"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

16 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini industri farmasi di Indonesia ataupun di dunia sedang mengalami

pertumbuhan yang cukup pesat. Secara garis besar industri farmasi di Indonesia saat

ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu produsen dalam negeri dengan total

penjualan sebanyak Rp. 5,6 T atau 70% dan produsen luar negeri yang tergabung

dalam International Pharmaceutical Manufacturing Group ( IPMG ) dengan total

penjualan sebanyak Rp. 2,4 T atau sebanyak 30% (Data International Market Share

(IMS), 2012 ) seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1.1

Gambar 1.1 Grafik Pasar Produk Farmasi Indonesia per November 2012

(Sumber: Data International Market Share (IMS), November 2012)

PT Rx adalah salah satu anggota IPMG di Indonesia. Perusahaan ini

merupakan satu dari dua pemimpin industri farmasi di dunia yang berkantor pusat di

London Inggris dengan jaringan yang tersebar di lima benua. PT Rx memiliki latar

belakang perusahaan farmasi yang memproduksi dan mematenkan produk Amoxicilin

pertama kali di dunia. Setelah didirikan di akhir abad 19, kini perusahaan ini tidak

saja mengasilkan produk-produk farmasi (Rx) namun juga termasuk produk 69,67%

30,33% LOCAL FOREIGN

(2)

consumer (Cx) misalnya, pasta gigi, dan obat tetes mata dengan merek dagang INSTO.

Saat ini pertumbuhan pasar lokal Perusahaan Rx di Indonesia berada pada

posisi keempat dengan pertumbuhan sebesar Rp.158 M atau 6,49 %, di atas

pertumbuhan rata–rata nasional untuk industri farmasi yang berkisar 3,95%. Gambar

1.2 menunjukkan peringkat produsen luar negeri yang tergabung dalam IPMG

Gambar 1.2 Grafik Pertumbuhan Farmasi Asing di Indonesia November 2012

(Sumber: Data International Market Share (IMS), November 2012)

Perusahaan Rx adalah sebuah badan hukum yang didirikan di wilayah negara

Republik Indonesia yang secara badan hukum tercatat dalam berita negara Republik

Indonesia tertanggal enam november seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan

(6-11-1998) nomor 89. Tambahan pada Nomor 6181 dan telah disesuaikan dalam akta

no 21 tanggal sepuluh Juli dua ribu delapan (10-7-2008).

Perusahaan ini terbagi menjadi tiga bagian unit bisnis dengan pasar yang

(3)

18

(Rx) dan ketiga SB untuk pasar vaksin (Rx). Dalam keseharian operasional bisnisnya

GW dan SB karena produk yang di jual adalah produk kesehatan yang harus

menggunakan resep maka selanjutnya keduanya lalu disebut PT Rx.

PT Rx menekankan pentingnya kekuatan merek (Brand Equity) melalui

strategi menempatkan Tenaga Profesional Kesehatan (TPK) sebagai titik tolak ke

dalam pasar. Menurut SOP PT Rx-Med-01-04 tahun 2012 TPK adalah para dokter,

dokter gigi, tenaga farmasi, dan siapa saja yang sesuai hasil kualifikasi pekerjaannya

mereka mampu memberikan resep, merekomendasikan, membeli, menyediakan atau

melakukan administrasi obat-obatan.

Kesadaran terhadap suatu produk dibentuk melalui pendekatan kegiatan untuk

mengenali produk itu sendiri. Kegiatan tersebut dilakukan melalui inisiatif brand

detailing ataupun dengan memberikan kegiatan pendukung atau sponsor lainnya seperti: simposium, event, seminar, ataupun pelatihan. Semua kegiatan tersebut

dikategorikan dalam unsur iklan dan promosi (SOP PT Rx-Cmp-01-03, 2009).

Kegiatan iklan dan promosi (A&P) terutama untuk mendukung dokter atau

TPK lainnya secara tidak langsung memberikan korelasi dengan jumlah penjualan

sesuai jumlah sales out. Hal ini dikarenakan sales out adalah penjualan sekunder yang

berupa penjualan dari distributor kepada rumah sakit atau apotek. (SOP PT

Rx-Fin-19-01, 2009). Dengan demikian jumlah obat PT Rx yang diresepkan TPK merupakan

jumlah indikator terhadap penjualan produk PT Rx itu sendiri atau dikenal dengan

istilah Sales In. Pengertian Sales In merupakan penjualan primer dari PT Rx kepada

distributor yang telah ditunjuk, (SOP PT Rx-Fin-19-01, 2009).

Untuk melakukan penetrasi sales in tersebut perusahaan diperkenankan untuk

(4)

simposium, seminar, event, ataupun training (SOP PT Rx-Cmp-01-03, 2009). Dengan

memberikan fasilitas A&P kepada stakeholder produk PT Rx seperti dokter dan

bidan, para target TPK tersebut akan mendapatkan informasi tambahan sebagai

pembanding nyata terhadap sebuah produk. Dalam hal ini termasuk inovasi

obat-obatan yang ada.

Peraturan PT Rx mengenai persetujuan promosi dan non promosi menjelaskan

bahwa A&P adalah aktivitas yang dilakukan, diorganisir atau disponsori oleh PT Rx

yang mana diberikan langsung kepada TPK untuk meningkatkan pemberian resep,

rekomendasi, pendistibusian, administari ataupun konsumsi obat–obatan tersebut

melalui semua media termasuk internet. (SOP PT Rx-Med-01-04, 2012)

Pemberian fasilitas A&P diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang

hubungan antara komposisi didalam sebuah produk farmasi atau obat PT Rx untuk

dibandingkan dengan pengetahuan pengobatan yang sedang berkembang di dunia

kesehatan. Prevailing International Pharmaceutical Manufactures Group code of

Pharmaceutical Marketing Practice in Indonesia (IPMG Prevailing,2012) menjelaskan beberapa hal yang mendukung perlunya pemberian fasiltas A&P antara

lain adalah ditujukan untuk mempromosikan kesadaran terhadap sebuah penyakit

dalam konteks pengetahuan sebuah penyakit serta memberikan referensi terkini

terhadap penyakit itu sendiri.

Dengan terbentuknya Brand Equity maka dengan sendirinya akan

menimbulkan kepercayaan TPK terhadap produk PT Rx. Keyakinan TPK dalam

meresepkan produk PT Rx pada akhirnya merupakan keberhasilan terhadap reputasi

(5)

20

Kegagalan dalam memfasilitasi kegiatan yang menunjang A&P seperti

keterlambatan atau ketiadaan memberikan respon tersedianya tiket dan akomodasi

hotel untuk mengikuti kegiatan A&P memiliki konsekuensi adanya resiko

berkurangnya reputasi perusahaan di mata TPK. Selanjutnya, untuk mendukung hal

tersebut PT Rx melalui bagian procurement membuat suatu media untuk menunjang

aktivitas order travel dengan cara membuat kontrak payung terhadap beberapa

pemasok, salah satunya adalah perusahaan V.

Perusahaan V adalah sebuah perusahaan penyedia jasa travel termasuk

kegiatan perjalanan yang membutuhkan tiket pesawat terbang, tiket kereta api, tiket

kapal laut dan kebutuhan akomodasi hotel. Perusahaan V ini tergabung dalam

konsorsium Hogg Robinson Group (HRG) – Worldwide yang berkantor pusat di

Singapura. Perusahaan HRG ini juga ditunjuk secara global untuk menangani

kegiatan travel bagi kantor pusat PT Rx.

Di dalam kontrak payung yang tertuang dalam perjanjian NO. 013/G

-V/Travel/I/10 Tahun 2013 dibuat mengikuti syarat dan kondisi yang sudah disepakati

sebelumnya oleh kedua belah pihak seperti kutipan berikut.

“ Vendor V setuju untuk menyediakan jasa perjalanan dan jasa lainnya yang terkait dengan jasa perjalanan (selanjutnya disebut sebagai “Jasa”) untuk PT Rx dan perusahaan afiliasinya dan PT Rx setuju untuk membeli jasa dari Vendor V” (perjanjian NO. 013/G -V/Travel/I/10,2013)

Selanjutnya dalam pasal 6 perjanjian NO. 013/G -V/Travel/I/10,2013, pokok

perjanjian kerjasama kegiatan A&P ini adalah para pihak bersepakat untuk

mengadakan aktivitas penyediaan layanan jasa travel termasuk tiket transportasi dan

(6)

3.5 Milyar rupiah yang ditujukan untuk ketiga unit bisnis PT Rx selama satu tahun

periode perjanjian.

Batasan kredit juga disepakati dengan batasan pembayaran kredit 45 hari

setelah proses invoices selesai diterima pihak penerima jasa. Kedua batasan kredit ini

akan berlaku apabila salah satu dari batasan kredit tercapai lebih dahulu. Tujuan

dibuatnya syarat dan kondisi ini adalah memberikan kecepatan dalam pemesanan dan

pengadaan order sehingga dapat memangkas proses birokrasi pengadaan travel itu

sendiri.

Merujuk pada surat peringatan dari perusahaan V selaku pemasok (SP Vendor

Travel, 2012) diketahui bahwa pada periode Januari–November 2012 telah terjadi

pemblokiran untuk pemesanan order travel. Pihak vendor mengeluarkan surat

peringatan dan pemblokiran order tersebut di bulan Juni dan Oktober 2012

dikarenakan banyaknya jumlah tagihan yang telah melewati masa jatuh tempo

meskipun secara nilai binis masih dalam batasan kredit yang disepakati.

Tabel 1.1 memperlihatkan jumlah hari jatuh tempo untuk total keterlambatan

pembayaran dari jasa yang sudah disediakan kepada PT Rx selama periode Januari–

November 2012. Jumlah ini sesuai dengan besarnya klaim dari perusahaan V dalam

(7)

22 Tabel 1.1 Daftar Hari Jatuh Tempo PT Rx Periode Januari–November 2012

Hari Keterlambatan Qty IDR USD Jumlah % Jumlah % 100 – 200 61 153,132,590.45 33,75% 14,553.00 24,60% 90 – 99 9 19,473,680.00 4,29% 2,758.00 4,66% 80 – 89 12 22,907,418.84 5,05% 1,055.00 1,78% 70 – 79 6 11,502,900.00 2,54% 0.00 0,00% 60 – 69 5 15,159,127.00 3,34% 0.00 0,00% 50 - 59 5 2,015,300.00 0,44% 24,955 42,18% 40 - 49 3 1,939,300.00 0,43% 1,670.00 2,82% 30 - 39 2 1,266,200.00 0,28% 1,343.00 2,27% 20 - 29 13 3,5342,602.52 7,79% 1,528.00 2,58% 10 – 19 12 45,097,750.00 9,94% 2,995.00 5,06% 0 – 9 50 145,848,396.00 32,15% 8,300.00 14,03% Total 178 453,685,264.81 100% 59,157.00 100%

(Sumber: Data klaim Vendor Travel, 8 november 2012)

Dari sajian data di tabel 1.1 terlihat bahwa keterlambatan pembayaran mencapai 178

kasus dengan total nilai jatuh tempo sebesar Rp. 1,015 Milyar.

Dalam suatu perjanjian apabila terjadi suatu kegagalan prestasi diantara kedua

pihak yang bersepakat dapat memunculkan konsekuensi sanksi. Kaitannya dengan

keterlambatan pembayaran dalam tabel 1.1 diatas adalah dengan adanya

keterlambatan pembayaran tersebut rupanya dijadikan alasan oleh pihak penyedia jasa

untuk melakukan blokir order.

Namun demikian perlu diurai untuk diketahui akar permasalahan yang

sesungguhnya. Sehingga dapat diketahui pokok permasalahan mengapa gagal order

dapat terjadi. Dampaknya akan sangat besar, karena pemblokiran order terjadi di saat

jumlah kegiatan travel baik permintaan tiket transportasi dan akomodasi hotel sedang

(8)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan paparan di atas, intinya selama Januari sampai dengan November

2012 telah terdapat dua kali keadaan blokir order yaitu di Juni dan Oktober 2012 . (SP

Vendor Travel,2012). Hal ini memicu munculnya permasalahan kegagalan order yang berdampak pada berkurangnya reputasi perusahaan akibat terjadinya penundaan

sponsorship. Terutama terhadap seluruh pihak TPK yang berhubungan dengan kegiatan A&P.

Efek domino yang harus ditanggung untuk mempertahankan operasional

bisnis adalah perusahaan harus melakukan pembayaran dimuka dan atau memakai

fasilitas kartu kredit. Namun penyedian dana untuk pembayaran dimuka ini dapat

mengakibatkan terjadinya pembengkakan internal cash flow perusahaan yang

sebenarnya memiliki fasilitas pembayaran kredit.

Dalam penelitian ini ditujukan untuk menyelesaikan kegagalan pemesanan

travel melalui analisa penyebab kegagalan hasil dari analisa operasi order A&P yang

saat ini sedang dipakai. Penelitian juga dirancang agar didapatkan analisa perbaikan

yang paling memadai untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan baik

dan memungkinkan.

Perlu dilakukan penyelesaian terhadap permasalahan ini, karena dampak

masalah yang terjadi menimbulkan kerugian dari sisi operasional perusahaan yang

diantaranya adalah berkurangnya jumlah obat yang di resepkan oleh TPK. Hal ini

adalah konsekuensi yang mungkin muncul akibat lunturnya kepercayaan karena

(9)

24 1.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka penelitian ini memiliki

pertanyaan: faktor-faktor apa sajakah yang dapat mempengaruhi kegagalan proses

order travel pada pada PT Rx ? 1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk:

1. Mengidentifikasi penyebab terjadinya kegagalan pemesanan order travel

pada pada PT R

2. Merekomendasikan proses perbaikan yang paling memungkinkan untuk

diterapkan secara nyata dalam keseharian kegiatan operasional.

1.5 Manfaat Penelitian

Tujuan akhir penelitian ini diharapkan membantu perusahaan dalam

menyelesaikan permasalahan mengapa terjadi kegagalan order travel sehingga dapat

berimbas pada jumlah penjualan secara keseluruhan. Dalam hal akademis penelitian

ini dapat memberikan contoh tambahan metode perbaikan pada manajemen operasi

yang mudah dan aplikatif.

1.6. Sistimatika Penulisan

Penulisan tesis ini direncanakan untuk dibagi ke dalam lima bagian yang

terdiri dari pendahuluan, landasan teori, metode penelitian, hasil penelitian dan

pembahasannya serta bagian kesimpulan. BAB I menjelaskan latar belakang

penelitian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan serta manfaat

(10)

penelitian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan serta manfaat

penelitian serta sistimatika penulisan.

Selanjutnya BAB II mengupas tinjauan literatur dan landasan teori tentang

pengadaan termasuk pengadaan tidak langsung atau Indirect procurement beserta

proses diagram alir. Selain itu, diagram sebab-akibat (cause-effect diagram) dan

diagram pohon logika (logic tree).

BAB III membahas metode penelitian yang berisi penjelasan mengenai

metode penelitian kualitatif, metode pengumpulan data, metode analisis data dan alat

yang dipakai untuk menganalisis data. Analisis dan pembahasan penelitian untuk

menjawab pertanyaan penelitian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya akan

dibahas di BAB IV. Pada akhirnya sebagai penutup pada BAB V menyajikan

simpulan penelitian yang dilakukan dan saran-saran yang harus diperhatikan untuk

Gambar

Gambar 1.1 Grafik  Pasar Produk Farmasi Indonesia per November 2012  (Sumber: Data International Market Share (IMS), November 2012)
Gambar 1.2 Grafik Pertumbuhan Farmasi Asing di Indonesia November 2012  (Sumber: Data International Market Share (IMS), November 2012)
Tabel 1.1 Daftar Hari Jatuh Tempo PT Rx Periode Januari–November 2012

Referensi

Dokumen terkait

Program untuk kemajuan tenaga kerja wanita/orang cacat.. Pelatihan tenaga kerja melalui program tertentu di

Cara kerja charger hp ini sama dengan charger hp yang lain, hanya saja sumber energinya tidak berasal dari sumber daya Alternating Current (AC) PLN, tetapi dari hasil

Hasil uji hubungan yang dilakukan antar variabel penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara sikap dan niat beli (p<0.05), dimana sikap contoh

Jadi nilai losses dalam persen sebesar 4,96%untuk Jurusan I pada tiang(KPR506)... Jadi drop Tegangan pada jaringan

Pada fase ini asistensi dilakukan untuk mengevaluasi hasil DESAIN (arsitektur, sistem struktur, sistem M&E, sistem sanitasi, sistem pemeliharaan, dst.) itu sendiri,

Dapat dilihat bahwa perjanjian yang dilakukan oleh pelaku usaha masuk dalam lapangan hukum privat, dan ini seharusnya masuk ranah hukum perikatan yang menjadi

Penelitian ini dilakukan di daerah rawan bencana banjir di Kelurahan Gandekan Kota Surakarta dengan judul : “Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana

Butir-butir tersebut adalah manifestasi dari dua pedoman ajaran agama islam, yaitu Al-Qur ‟ an dan Hadits.Yang menjadi inti dari tunjuk ajar bukanlah dilihat dari