i
SKRIPSI
Oleh :
MUCHAMMAD FAHMI ROSADI
E1A009125
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
ii
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman
Oleh :
MUCHAMMAD FAHMI ROSADI
E1A009125
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
iv Nama : MUCHAMMAD FAHMI ROSADI
NIM : E1A009125
Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :
PENYIDIKAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI DAERAH
( Studi Implementasi Penyidikan Tindak Pidana Korupsi di Wilayah Cilacap )
Yang saya buat ini adalah betul-betul hasil karya sendiri, tidak menjiplak hasil karya
orang lain, maupun dibuatkan orang lain.
Apabila dikemudian hari ternyata terbukti saya melakukan pelanggaran
sebagaimana tersebut diatas, maka saya bersedia dikenakan sanksi apapun dari Fakultas, termasuk pencabutan gelar Sarjana Hukum (SH.) yang saya sandang.
Purwokerto, Februari 2014
v
E1A009125
Dalam suatu pemberantasan korupsi, tahap penyidikan merupakan salah satu bagian penting dari tahap yang harus dilalui untuk menuju suatu pembuktian tindak pidana korupsi dan akan menghasilkan putusan yang mampu mendekati kebenaran materiil. Oleh sebab itu keberadaan tahap penyidikan tidak bisa dilepaskan dari adanya ketentuan perundangan yang mengatur tindak pidana korupsi yang penyidikannya dilakukan oleh KPK, Kepolisian dan Kejaksaan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis penerapan penyidikan terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan di wilayah Cilacap dan mengetahui hambatan yang dihadapi oleh penyidik di wilayah Cilacap.
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis sosiologis dan menggunakan spesifikasi penelitian deskriptif. Metode Pengambilan informan dengan menggunakan Purposive Sampling dengan criterian based selection dan metode analisis data secara kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian, kewenangan penyidikan yang dilakukan di Cilacap dilakukan oleh Kejaksaan dan Kepolisian. Dalam proses penyidikan, penyidik bisa menggunakan upaya paksa khusus terhadap tersangka untuk menemukan barang bukti dan dapat menggunakan ilmu bantu lain di tingkat pemeriksaan. Selain itu dalam proses penyidikan, penyidik bisa melakukan gelar perkara untuk menemukan alat bukti baru dan keterangan lain mengenai perkara. Faktor yang menghambat penyidikan di wilayah Cilacap yaitu faktor hukum, penegak hukum, sarana prasarana, masyarakat dan wilayah geografis.
Kata Kunci : Penyidikan, Tindak Pidana Korupsi, Daerah
vi
In the fight against corruption, the investigation stage was one of the important part from the procedure that must be followed to get a proof of corruption, and will produced a decision which could approach the material truth. There fore the existence of investigation stage cant be separated from the existence of legislative provision that arranged corruption which the investigation was did by KPK, the police, and the attorney according to Act Number 30 Year 2002 about corruption eradication commission.
The purposes of this research is to know and to analyze the applying investigation of corruption which commited in Cilacap and also to knowing the obstacle which faced by the investigator in Cilacap.
Approaching method that used in this research was socio-juridical and the specification of this research was descriptive research. The Informant taking method with used Purposive Sampling with criterian based selection and data analyze method used qualitative method.
Based on the result of research, the investigation which commited in Cilacap was did by the attorney and the police. In the investigation process, investigator can used the special force against suspect to find the evidence and can used criminal psycology in the interrogation level. In addition, in the process of investigation, the investigator may conduct his case to find new evidence and other information about the case. The obstacle factor the investigation in the Cilacap is a law factor, law enforcement, infrastructure, society and geographic area.
vii
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul: PENYIDIKAN
TINDAK PIDANA KORUPSI DI DAERAH ( Studi Implementasi Penyidikan Tindak
Pidana Korupsi di Wilayah Cilacap ).
Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.
Dalam proses penulisan ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak
secara langsung ataupun tidak langsung. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis akan menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Dr. Angkasa, S.H.,M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal
Soedirman;
2. Dr. Hibnu Nugroho, S.H.,M.H., selaku Pembimbing Skripsi I yang telah memberikan
arahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
3. Handri Wirastuti Sawitri, S.H.,M.H., selaku Pembimbing Skripsi II yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
4. Pranoto, S.H., M.H. selaku Dosen Penguji Skripsi yang memberi masukan dan bimbingan bagi kesempurnaan skripsi penulis;
5. Kedua orang tua tercinta, yang tidak pernah habis memberikan doa, kasih sayang,
viii
yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap semoga
tulisan ini ada manfaatnya bagi kita semua.
Purwokerto, Februari 2014
ix
semoga selalu tercurah limpahkan kepada Rasullah SAW, karya sederhana ini akhirnya
terseesaikan. Dengan penuh kerja keras ku persembahkan skripsi ini untuk orang-orang yang penulis sayangi yaitu :
1. Secara khusus skripsi ini kupersembahkan kepada kedua orang tuaku, Drs.
Muchammad Suprayogo dan Musyarofah terima kasih telah merawat, menjaga, membimbing, melindungi serta selalu mendoakan dan memberikan dukungan baik
moril maupun materiil yang pastinya tidak ternilai dan tidak dapat terbayar oleh apapun;
2. Kedua saudaraku, Qorianita Khajar Ikhsani dan Qurrotun Imammah yang selalu
memberi dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini;
3. Untuk para Dosen di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, terima kasih
yang sebesar - besarnya atas ilmu, bimbingan, kritik, saran, masukan dan lain sebagainya guna menjadikan penulis pribadi yang lebih baik di masa depan;
4. Saryono Hanadi, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan
motivasi dan bimbingan dari semester awal hingga akhir;
5. Untuk Masayu Novalina, yang selalu memberi doa dan dukungan untuk cepat
terselesainya skripsi ini serta sudah mengisi dan memberi warna dalam hari-hariku selama masa kuliah ini dan semoga seterusnya;
6. Keluarga besar UKM Law Football Club Fakultas Hukum Unsoed, yang memberi
x
8. Keluarga besar Milanisti Indonesia Sezione Purwokerto, yang selalu memberi
keceriaan selama ini karena kalian lebih dekat dari saudara dan lebih besar dari keluarga;
9. Tim Sepakbola dan Futsal Fakultas Hukum Unsoed yang memberi pengalaman
berharga mengenai kekeluargaan dan semangat pantang menyerah baik saat bermain maupun saat mendampingi kalian di dalam maupun luar lapangan;
10. Sahabatku Saikhu, Ajeng, Marno, Irvan, Dwina, Widya, Irfan Shidiq, Agung, Dita dan Yenita yang berawal dari kelompok PLKH kalian sudah aku anggap seperti keluarga sendiri karena kalianlah yang selalu peduli satu sama lain ketika senang maupun sedih;
11. Sahabatku Ali, Bayu Sendi, Tyas, Raymon, Subkhan, Rosi, Almas, Ardian Rizky, Tyo dan Egi yang selalu memberi keceriaan baik saat futsal maupun saat main bareng,
kalianlah yang selalu bisa bikin tertawa, semoga kalian cepat menyusul menjadi Sarjana Hukum;
12. Sahabatku Fahmi Fiqi, Rizqo, Alvian, Desi, Avry, Harley dan Damas dari kalianlah aku
belajar mengenai tanggung jawab dan kedewasaan;
13. Rekan seperjuangan, Rizka, Barkah, Daniel, Singgih dan Ohan yang sama-sama
berjuang dalam menyelesaikan skripsi kita. Kita harus sukses setelah ini;
14. Teman-teman kosan Adi Primanto, Bogo, Adi dan Dika yang selalu meramaikan suasana di kosan sehingga menjadikan semangat selama di Purwokerto;
15. Serta pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
xi
“Ada kualitas yang harus dimiliki orang untuk menang, yaitu tujuan yang jelas, tahu yang diinginkan, dan semangat membara untuk meraihnya”
(Napoleon Hill)
"Kenapa seorang juara selalu menang, Karena mereka punya mental dan kemauan
kuat untuk juara."
(Muchammad Fahmi Rosadi)
xii
SURAT PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT... vi
KATA PENGANTAR... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
HALAMAN MOTTO ... xi
DAFTAR ISI... xii
BAB I. PENDAHULUAN A. Pendahuluan ... 1
B. Perumusan Masalah... 5
C. Tujuan Penelitian... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian, Tujuan dan Azas dalam Hukum Acara Pidana 1. Pengertian Hukum Acara Pidana ... 7
2. Tujuan dan Fungsi Hukum Acara Pidana... 9
3. Pihak Pihak Dalam Acara Pidana... 11
4. Azas–Azas Berlakunya Undang–Undang ... 12
5. Azas–Azas Hukum Acara Pidana... 13
xiii
1. Komisi Pemberantasan Korupsi ... 36
2. Kepolisian... 38
3. Kejaksaan ... 41
D. Tindak Pidana Korupsi 1. Pengertian Tindak Pidana... 44
2. Korupsi ... 47
a. Pengertian Korupsi... 47
b. Sebab–Sebab Tindak Pidana Korupsi ... 50
BAB III. METODE PENELITIAN 1. Metode Pendekatan ... 53
2. Spesifikasi Penelitian ... 53
3. Lokasi Penelitian... 54
4. Sumber Data... 54
5. Metode Pengumpulan Data... 55
6. Metode Penyajian Data ... 55
7. Metode Penentuan Informan... 56
8. Metode Validitas Data ... 56
9. Metode Analisis Data... 57
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Data Sekunder ... 58
B. Hasil Penelitian Data Primer... 93
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akhir – akhir ini akan membawa bencana tidak saja terhadap kehidupan
perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan
sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat, karena itu semua maka tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah
menjadi suatu kejahatan luar biasa.
Karena hal itu, korupsi merupakan salah satu dari sekian istilah yang kini telah akrab di telinga masyarakat Indonesia, hampir setiap hari
media massa memberitakan berbagai kasus korupsi yang dilakukan oleh aparatur negara baik pegawai negeri ataupun pejabat negara. Dalam kepustakaan kriminologi, korupsi merupakan salah satu kejahatan jenis
“white collar crime” atau kejahatan kerah putih. Akrabnya istilah korupsi di kalangan masyarakat telah menunjukkan tumbuh suburnya perhatian
terpandang namun merekalah yang membuat kemelaratan dalam
masyarakat.1
Timbulnya kejahatan jenis tersebut menurut menurut J.E. Sahetapi
dikutip oleh Usman dalam Jurnalnya diungkapkan bahwa :
“Timbulnya kejahatan jenis seperti ini menunjukan bahwa sudah tidak hanya kemiskinan saja yang menjadi penyebab timbuknya kejahatan, melainkan faktor kemakmuran dan kemewahan merupakan faktor pendorong orang-orang melakukan kejahatan.”2
Penegakan hukum untuk memberantas tindak pidana korupsi yang dilakukan secara konvensional selama ini terbukti mengalami berbagai hambatan. Untuk itu diperlukan metode penegakan hukum secara luar
biasa. Pada saat ini kinerja aparat penegak hukum dalam menangani masalah-masalah hukum khususnya yang terkait dengan tindak pidana
korupsi dipertanyakan kembali. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aparat kepolisian, kejaksaan, kehakiman adalah lembaga-lembaga yang melanggengkan korupsi sehingga menjadi suatu sistem yang buruk dalam
penegakan hukum. Bahkan karena sudah melembaganya korupsi di lingkungan aparat penegak hukum itu sendiri hingga akhirnya timbul suatu
idiom tentang Kasih Uang Habis Perkara.
Berbagai kebijakan pemerintah tertuang dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemberantasan korupsi antara lain dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
1Teguh Sulista dan Aria Zurnetti, Hukum Pidana: Horizon Baru Pasca Reformasi
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011) Hal. 63
2Usman.“Analisis PerkembanganTeoriHukum Pidana”. Jurnal Ilmu Hukum.Volume 2
Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan dalam hal ini masih banyak peraturan-peraturan lain yang mengatur mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan korupsi.
Pemberantasan korupsi yang sudah dilakukan, dirasakan tidak cukup hanya dengan perluasan perbuatan yang dirumuskan sebagai korupsi serta cara- cara yang konvensional, diperlukan metode dan cara
tertentu agar mampu membendung meluasnya korupsi. Salah satu cara adalah ialah dengan menetapkan kejahatan korupsi sebagai kejahatan luar
biasa (extra ordinary crime), sehingga pemberantasaannya tidak lagi dapat dilakukan secara biasa. Karena itu diperlukan metode penegakan hukum secara luar biasa melalui pembentukan suatu badan khusus yang
menangani pemberantasan tindak pidana korupsi. Kewenangan badan khusus tersebut harus bersifat independen serta bebas korupsi, yang
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi dalam bertindak pastilah terdapat
kendala maupun hambatan dalam upaya pemberantasan korupsi. Kendala tersebut dapat dilihat pada realita saat ini yaitu terkait dengan masalah
pemeriksaan pada tingkat penyidikan. Bahwa sesuai dengan Pasal 6 ayat (1) Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bahwa penyidik adalah pejabat polisi Republik Indonesia dan pejabat pegawai
negeri sipil.
Hal yang menjadi kelemahan penyidikan tipikor daerah, bisa dilihat jika lemahnya suatu penyidikan tersebut bisa menyebabkan
pengadilan menjatuhkan putusan bebas terhadap pelaku korupsi. Bahkan jika dijatuhi hukumanpun, sewaktu – waktu pihak tersebut melakukan banding bisa saja pengadilan membebaskan terdakwa karena lemahnya
penyidikan tipikor daerah.3
Dengan adanya pengadilan tipikor daerah, semua kasus Tipikor yang ada di daerah akan disidik oleh penyidik kepolisian dan kejaksaan.
Jika dalam hal supervisi KPK tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan maksimal terhadap semua penyidikan, maka dalam penyidikan tanggung jawab sepenuhnya nantinya akan jatuh kepada kepolisian dan
kejaksaan. Namun jika kualitas kejaksaan dan kepolisian masih seperti
3Diunduh dari : http://www.suaramerdeka.com/ v2/ index.php /read/ cetak/ 2011 /05 /09
dulu, hal ini dikhawatirkan akan memberatkan hakim Tipikor dalam
menyidangkan perkara.
Oleh karena itu patut dicermati kinerja kepolisian dan kejaksaan
sebagai penidik di daerah dalam melakukan penyidikan tindak pidana korupsi yang ada di daerah. Dan berdasarkan latar belakang tersebut
penulis memberi judul skripsi PENYIDIKAN TINDAK PIDANA
KORUPSI DI DAERAH ( Studi Implementasi Penyidikan Tindak
Pidana Korupsi di Wilayah Cilacap ).
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan hal – hal yang telah diuraikan dalam latar belakang, maka disusunlah perumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penyidikan tipikor yang dilakukan di wilayah Cilacap? 2. Apakah ada hambatan dalam pelaksanaan penyidikan Tipikor di
wilayah Cilacap?
B. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui penyidikan Tipikor di wilayah Cilacap.
2. Mengetahui hambatan dalam pelaksanaan penyidikan Tipikor di Cilacap.
C. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan teoritis
tambahan wacana referensi acuan penelitian yang sejenis dari permasalahan yang berbeda dibidang Hukum Acara Pidana.
2. Kegunaan praktis
a. Sebagai salah satu acuan kepustakaan Hukum Acara Pidana
khususnya mengenai penyidikan Tipikor.
b. Sebagai masukan kepada pihak-pihak yang terkait seperti aparatur pemerintah, mahasiswa, advokat dalam memberikan penyelesaian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian, Tujuan dan Azas dalam Hukum Acara Pidana1. Pengertian Hukum Acara Pidana
Menurut Wirjono Prodjodikoro yang dikutip oleh C.S.T. Kansil
Hukum Acara Pidana Adalah:
“Peraturan yang mengatur tentang bagaimana cara alat- alat perlengkapan pemerintah melaksanakan tuntutan, memperoleh Keputusan Pengadilan, oleh siapa Keputusan Pengadilan itu harus dilaksanakan, jika ada seseorang atau kelompok orang yang melakukan perbuatan pidana.”4
Perbedaannya dengan hukum pidana adalah Hukum Pidana merupakan peraturan yang menentukan tentang perbuatan yang tergolong
perbuatan pidana. Syarat- syarat umum yang harus dipenuhi agar suatu perbuatan dapat dikenakan sanksi pidana, pelaku perbuatan pidana dapat dihukum dan macam- macam hukuman yang dapat dijatuhkan kepada
pelaku perbuatan pidana.
Hukum Acara Pidana disebut Hukum Pidana Formil (Formeel
Strafrech), sedang Hukum Pidana disebut sebagai Hukum Pidana Materiil
(Materieel Strafrecht). Jadi, Kedua hukum tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat.
Hukum Acara Pidana mempunyai tugas untuk: 1. Mencari dan mendapatkan kebenaran materiil;
4C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta : Balai
2. Memperoleh keputusan oleh hakim tentang bersalah tidaknya seseorang atau sekelompok orang yang disangka/didakwa melakukan
perbuatan pidana;
3. Melaksanakan keputusan hakim.
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang menjadi pedoman dalam proses beracara para penegak hukum tidak memberikan definisi tentang hukum acara pidana, yang ada hanyalah
berbagai pengertian mengenai bagian-bagian tertentu dari hukum acara pidana, misalnya pengertian penyelidikan, penyidikan, penangkapan,
penahanan, dan lain-lain.5
Untuk mengetahui pengertian tentang acara pidana, maka didasarkan pada pendapat (doctrine) dari para sarjana.
Pengertian hukum acara pidana menurut Moeljatno, seperti yang dikutip oleh Sutomo bahwa:
Hukum acara pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara yang berisikan dasar-dasar dan aturan yang menentukan dengan cara dan prosedur macam apa ancaman pidana yang ada pada suatu perbuatan pidana dapat dilaksanakan, bagaimana cara dan prosedur dapat dilaksanakan apabila ada sangkaan bahwa orang telah melakukan delik tersebut.6
Simons juga memberikan pengertian hukum acara pidana yaitu hukum
yang mengatur bagaimana negara dengan alat-alat perlengkapannya
5Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indoensia (Jakarta: Balai Aksara,
2001) Hal. 4
6Sutomo, Handout Hukum Acara Pidana (Surabaya: Fakultas Hukum Airlangga, 2007)
mempergunakan haknya menghukum dan menjatuhkan hukuman (memidana).7
De Bosch Kemper yang dikutip oleh Andi Hamzah, memberikan
pengertian hukum acara pidana, yaitu keseluruhan asas-asas dan peraturan
undang-undang mengenai mana negara menjalankan hak-haknya karena terjadi pelanggaran undang-undang.8
Van Bemellen seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah dalam
bukunya, memberikan penjelasan hukum acara pidana adalah sebagai berikut: Ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan-peraturan yang diciptakan oleh negara, karena adanya dugaan terjadinya pelanggaran undang-undang hukum pidana.
1. Negara melalui alat-alat penyidik kebenaran; 2. Sedapat mungkin menyidik pelaku perbuatan itu;
3. Mengambil perbuatan-perbuatan yang perlu guna mengungkap si pelaku dan kalau perlu menahannya;
4. Mengumpulkan bahan-bahan bukti (bewijs material) yang telah diperoleh pada penyidikan kebenaran guna dilimpahkan kepada hakim dan membawa terdakwa kepada hakim tersebut;
5. Hakim memberi keputusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang dituduhkan kepada terdakwa dan untuk itu menjatuhkan pidana atau tindakan tata tertib;
6. Upaya hukum untuk melawan keputusan sendiri;
7. Akhirnya melaksanakan keputusan tentang pidana dan tindakan tata tertib itu.9
Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa Hukum Acara Pidana tidak
semata- mata menerapkan Hukum Pidana. Akan tetapi lebih menitikberatkan pada proses dari pertanggungjawaban seseorang atau sekelompok orang yang diduga dan/atau didakwa telah melakukan perbuatan pidana. Selain itu jika
7Ibid, Hal. 3
8Ibid, Hal. 3
dalam hukum acara pidana dijalankan hanya berdasarkan kekuatan undang-undang dan acara pidana dijalankan jika terjadi tindak pidana.
2. Tujuan Dan Fungsi Hukum Acara Pidana
Tujuan Hukum Acara Pidana sangat erat hubungannya dengan tujuan
Hukum Pidana, yaitu menciptakan ketertiban, ketentraman, kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Hukum Pidana memuat tentang rincian perbuatan yang termasuk perbuatan pidana, pelaku perbuatan pidana
yang dapat dihukum, dan macam- macam hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelanggar hukum pidana. Sebaliknya Hukum Acara Pidana mengatur
bagaimana proses yang harus dilalui aparat penegak hukum dalam rangka mempertahankan hukum pidana materiil terhadap pelanggarnya.
Tujuan hukum acara pidana pada hakikatnya mencari kebenarann
materiil. Kebenaran materiil yang merupakan kebenaran yang senyatanya didapatkan dengan pembuktian.
Selanjutnya menurut R. Soesilo memberikan pendapat mengenai tujuan hukum acara pidana yaitu:
“Hakikatnya memang mencari kebenaran. Para penegak hukum mulai dari polisi, jaksa sampa kepada hakim dalam menyidik, menuntut, dan mengadili perkara senantiasa harus berdasarkan hal yang sungguh-sungguh terjadi. Untuk itu dibutuhkan petugas-petugas selain yang berpengalaman luas, berpendidikan bermutu, dan berotak cerdas juga berkepribadian yang teguh, yang kuat mengelakan dan menolak segala godaan.”10
Menurut Andi Hamzah11 tujuan hukum acara pidana mencari kebenaran itu hanyalah tujuan antara. Tujuan akhir sebenarnya ialah
mencapai suatu ketertiban, ketentraman, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan dalam masyarakat. Selain itu sesuai dengan definisi-definisi di
atas, bahwa hukum acara pidana mempunyai suatu tujuan untuk membentuk aparat penegak hukum yang bertanggung jawab serta menghormati hak asasi manusia.
Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa kedua hukum tersebut saling melengkapi, karena tanpa hukum pidana, hukum acara pidana tidak
berfungsi. Sebaliknya tanpa hukum acara pidana, hukum pidana juga tidak dapat dijalankan (tidak berfungsi sesuai dengan tujuan).
Fungsi dari Hukum Acara Pidana adalah mendapatkan kebenaran
materiil,putusan hakim, dan pelaksanaan keputusan hakim.
3. Pihak- Pihak Dalam Acara Pidana
Pihak- pihak yangh turu serta dalam proses pelaksanaan Hukum Acara Pidana adalah sebagai berikut :
a. Tersangka dan terdakwa
Tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku
perbuatan pidana (Pasal 1 Butir 14 KUHAP). Sedangkan terdakwa adalah Seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan diadili di sidang pengadilan.
b. Penuntut Umum (Jaksa)
Penuntut umum adalah lembaga yang baru ada setelah HIR
berlaku. Sebelum itu belum ada penuntut umum, yang ada adalah
magistrate yang masih berada di bawah residen atau asisten residen.
Tetapi setelah HIR berlaku, penuntut umum ada dan berdiri sendiri dibawah procureur general.
c. Penyidik dan Penyelidik
Penyidik adalah pejabat polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh
undang- undang untuk melakukan penyidikan (butir 1 Pasal 1 KUHAP). Sedangkan penyelidik adalah pejabat polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undang- undang ini untuk
melakukan penyelidikan (butir 4 Pasal 1 KUHAP).
d. Penasihat Hukum
Penasihat hukum adalah seseorang yang membantu tersangka atau terdakwa sebagai pendamping dalam pemeriksaan.
4. Azas- Azas Berlakunya Undang- Undang
a. Azas Retroaktif, bahwa undang- undang tidak berlaku surut.
b. Lex Posterior Derogate Lex Priori, bahwa undang- undang yang
c. Lex Superior Derogate Legi Inferior, bahwa undang- undang yang dibuat oleh penguasa tinggi mempunyai derajat yang lebih tinggi.
d. Lex Specialis derogate Legi Generalis, bahwa undang- undang khusus mengalahkan undang- undang umum.
5. Asas–Asas Hukum Acara Pidana
Suatu hukum menggunakan asas sebagai landasan berpijak dalam operasional pelaksanaannya, begitu pula hukum acara pidana. dalam hukum
acara pidana terdapat beberapa asas-asas penting yang perlu diketahui. Menurut Andi Hamzah,12 terdapat sembilan asas penting dalam hukum acara
pidana yaitu:
1. Peradilan cepat, sederhana dan biaya ringan;
Suatu peradilan harus dilakukan dengan cepat, sederhana dan
biaya ringan serta bebas, jujur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan. Berdasarkan penjelasan
umum KUHAP Butir 3 Huruf e ditegaskan sebagai berikut:
Peradilan harus dilaksanakan dengan cepat, sederhana dan biaya ringan serta bebas jujur, dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat peradilan.
Berdasarkan ketentuan tersebut juga ditegaskan dalam ketentuan Pasal 59 ayat (1), (2), dan (3) KUHAP yang pada intinya bahwa tersangka dan terdakwa berhak:
a. Segera mendapatkan pemeriksaan oleh penyidik; b. Segera diajukan kepada penuntut umum oleh penyidik;
c. Berhak perkaranya diajukan ke pengadilan oleh penuntut umum; dan d. Berhak segera diadili oleh pengadilan.
KUHAP menunjukkan sistem peradilan cepat, dengan banyak menggunakan istilah “segera”. Menurut Andi Hamzah13 bahwa istilah
“satu kali dua puluh empat jam” lebih pasti dari pada istilah “segera”.
Demikianlah sehingga ketentuan yang sangat bagus ini perlu diwujudkan dalam praktik penegak hukum. Ia mengharapkan sebaiknya dalam
pembuatan peraturan perundang-undangan yang akan dihindari istilah “segera”, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan semacamnya dan
diganti dengan “satu kali dua puluh empat jam”, “tiga kali dua puluh
empat jam”, “dua bulan”, dan seterusnya.
Mengenai pelimpahan berkas dari Pengadilan Negeri ke
Pengadilan Tinggi sebagai pengadilan tingkat banding juga diatur sedemikian rupa, agar tercapai pengadilan yang bersifat tepat. Pasal 110
KUHAP mengatur tentang hubungan penuntut umum dan penyidik dengan kata “segera.”
Pasal 140 ayat (1) KUHAP, bahwa:
Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan, ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan.
Berdasarkan pasal tersebut yang juga terdapat kata secepatnya, berarti penegak hukum dalam melakukan pemeriksaan tidak boleh
ditunda-tunda dalam penyelesaian dan harus sesuai dengan tanggung jawab. Dalam KUHAP Tentang asas sederhana dan biaya ringan:
a. Penggabungan pemeriksaan perkara pidana dengan tuntutan ganti rugi yang bersifat perdata oleh seorang korban yang mengalami
kerugian sebagai akibat langsung dari tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa (Pasal 98);
b. Banding tidak dapat diminta terhadap putusan acara cepat;
c. Pembatasan penahanan dengan memberi sanksi dapat dituntut ganti rugi pada sidang praperadilan, tidak kurang artinya sebagai
pelaksanaan prinsip mempercepat dan menyederhanakan poses penahanan;
d. Demikian juga peletakan asas diferensiasi fungional, nyata-nyata memberi kesederhanaan penanganan fungsi dan wewenang penyidikan, agar tidak terjadi penyidikan bolak-balik, timpang tindih
dan saling bertentangan.
Proses perkara pidana dengan biaya ringan diartikan
menghindarkan sistem administrasi perkara dan mekanisme bekerjanya para petugas yang mengakibatkan beban biaya bagi yang berkepentingan atau masyarakat (social cost) yang tidak sebanding, karena biaya yang
dikeluarkan lebih besar dari hasil yang diharapkan.
Menurut Andi Hamzah tentang peradilan cepat yaitu :
“Peradilan cepat (terutama untuk menghindari penahanan yang lama sebelum ada keputusan hakim) merupakan bagian dari hak asasi manusia. Begitu pula peradilan yang bebas, jujur, dan tidak memihak yang ditonjolkan dalam undang-undang tersebut.”14 Secara ringkasnya menurut Sudikno Mertokusumo yaitu :
“Sederhana adalah sederhana peraturannya, sederhana untuk dipahami dan tidak berbelit-belit, cepat berarti tidak berlarut-larut proses penyelesaiannya, biaya ringan berarti beaya untuk mencari keadilan itu dapat terpikul oleh rakyat semuanya dengan tanpa mengorbankan ketelitian untuk mencari kebenaran dan keadilan.”
15
2. Praduga tak bersalah (Presumption of innocence);
Asas ini dapat di lihat dalam Penjelasan Umum butir 3c KUHAP, bahwa:
Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.
Asas ini merupakan asas penghormatan kepada seseorang yang
berhadapan dengan hukum dikatakan tidak bersalah sebelum adanya putusan yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.
Pengaturan asas praduga tidak bersalah dalam KUHAP merupakan salah satu upaya untuk melindungi hak-hak tersangka dari tindakan sewenang-wenang dari aparat hukum.
Namun menurut Rohmini tentang pengaturan asas praduga tidak bersalah yaitu :
“Pengaturan asas praduga tidak bersalah dalam Penjelasan Umum Butir 3c KUHAP, dapat menjadi kendala dalam pelaksanaannya, karena ketentuan tersebut tidak di atur dalam batang tubuh tetapi hanya dalam penjelasan.13 Kendala dalam penerapan asas praduga tidak bersalah dalam perkara pidana bukan karena pengaturannya tidak secara tegas dalam batang tubuh KUHAP, tetapi lebih kepada kesadaran hukum dari aparat hukumnya, yang kurang
memperhatikan hak-hak tersangka yang juga mempunyai kepentingan untuk pembelaan hukum.”16
Sebagaimana dikemukakan oleh Soekanto, bahwa :
“Penegakan hukum yang baik tidak hanya dilandasi faktor hukum (undang- undang) yang baik dan lengkap melainkan juga dipengaruhi oleh aparat penegak hukum, fasilitas, dan budaya hukum masyarakat.”17
Senada dengan pendapat tersebut Winarta18 mengemukakan
bahwa:
“Melemahnya penegakan hukum di Indonesia, dikarenakan aparat penegak hukum yang belum menunjukkan sikap profesional dan
tidak memiliki integritas serta moral yang tinggi.”
Oleh karenanya dapat disebutkan bahwa budaya hukum yang merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi bekerjanya sistem
hukum adalah kesadaran hukum dari para pelaksana fungsi kekuasaan kehakiman.
Penerapan asas presumption of innocence dalam perkara pidana
merupakan akibat proses pemidanaan oleh para penegak hukum, seperti penyidik dan penuntut umum berhadapan dengan tersangka atau terdakwa
sering dihadapkan dengan hak asasi manusia, sehingga asas ini kemudian dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999,
16 Mien Rohmini, Perlindungan HAM melalui Asas Praduga tak Bersalah dan Asas
Persamaan Kedudukan dalam Hukum pada Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Bandung:
Alumni, 2003) Hal. 67.
17Frans H.Winarta, Pencapaian Supremasi Hukum yang Beretika dan Bermoral, Vol. 20
No. 1 (Jakarta: Pro Justitia, 2003) Hal. 8
tentang Hak Asasi Manusia. Meskipun sebenarnya hak asasi yang merupakan hak kodrati yang melekat pada manusia tidak membutuhkan
legitimasi yuridis untuk memberlakukannya, namun sifat negara yang sekuler dan positivistik mengakibatkan eksistensi hak kod- rati manusia
tersebut memerlukan landasan yuridis dalam mengatur kehidupan bersama-sama dengan manusia yang lain.
Proses pemidanaan tersebut sering tidak mengindahkan hak-hak
tersangka, yang seharusnya dilindungi karena perbuataan pidana yang disangkakan kepadanya tidak selalu terbukti. Dijatuhkannya putusan
hakim yang sudah berkekuatan hukum tetap terhadap perkara tersebut, maka peristiwa yang disangkakan atau diajukan oleh pihak yang berkepentingan dianggap sebagai suatu kebenaran. Sesuai dengan fungsi
hukum sebagai alat untuk merubah masyarakat (a tool social engineering) maka diharapkan putusan hakim dapat merubah pola tingkah laku
masyarakat ke arah yang lebih baik sehingga tujuan negara yang sudah dituangkan dalam alinea keempat Pembukaaan UUD 1945 dapat diwujudkan.
3. Oportunitas;
Penuntut Umum tidak wajib menuntut seseorang yang melakukan
delik jika menurut pertimbangannya akan merugikan kepentingan umum. Asas ini merupakan wewenang dari Kejaksaan Agung sesuai dengan ketentuan Pasal 35 huruf (c) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004,
Jaksa Agung mempunyai tugas dan wewenang mengesampingkan suatu perkara demi kepentingan umum.
A.Z. Abidin19 seperti yang dikutip oleh Andi Hamzah memberi
suatu rumusan tentang asas oportunitas adalah
“Asas hukum yang memberikan wewenangnya kepada Penuntut Umum untuk menuntut atau tidak menuntut dengan atau tanpa syarat seseorang atau korporasi yang telah mewujudkan delik demi kepentingan umum.”
4. Pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum;
Pada dasarnya setiap persidangan adalah terbuka untuk umum kecuali persidangan mengenai perkara kesusilaan atau terdakwanya
anak-anak. Hal ini sesuai dengan apa yang diatur dalam Pasal 153 ayat (3) KUHAP, bahwa:
“Untuk keperluan pemeriksaan, hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak.”
Apabila hakim tidak membuka sidang tersebut untuk umum maka
hakim melanggar ketentuan ketentuan dan mengakibatkan putusan hakim pengadilan menjadi “batal demi hukum.” Terhadap ketentuan ini ada
kecualinya mengenai perkara yang menyangkut kesusilaan dan
terdakwanya terdiri dari anak-anak, dalam hal ini persidangan dapat dilakukan dengan tertutup.
Menurut pendapat Andi Hamzah20bahwa:
“Ketentuan yang terdapat di dalam pasal tersebut terlalu limitatif, seharusnya hakim diberikan kebebasan untuk menentukan sesuai
19Ibid, Hal. 14
situasi dan kondisi apakah sidang tersebut terbuka atau tertutup untuk umum.”
Yahya Harahap berpendapat bahwa:
“Semua sidang pengadilan terbuka untuk umum. Pada saat majelis hakim hendak membuka sidang, harus menyatakan “sidang terbuka untuk umum.” Setiap orang yang hendak mengikuti jalannya persidangan, dapat hadir memasuki ruang sidang. Pintu dan jendela ruangan sidang pun terbuka, sehingga dengan demikian makna prinsip persidangan terbuka untuk umum benar-benar tercapai. Asas pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum disebut sebagai asas demokrasi. Asas ini memberi makna yang mengarahkan tindakan penegakan hukum di Sistem Peradilan Indonesia (SPP) Indonesia harus dilandasi jiwa “persamaan” dan “keterbukaan” serta musyawarah dan mufakat dari majelis peradilan dalam mengambil keputusan.”21
5. Semua orang diperlakukan sama didepan hakim;
Penjelasan Umum Butir 3a KUHAP bahwa perlakuan yang sama atas diri setiap orang dimuka hukum dengan tidak mengadakan
pembedaan perlakuan. Jadi sesuai dengan ketentuan pasal tersebut di atas telah ditegaskan bahwa peradilan memberikan perlakuan yang sama
kepada setiap orang di dalam pemeriksaan hakim tanpa adanya pembedaan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Sudikno Mertokusumo, dimuka hukum semua orang adalah sama (equality before the law).
Pengadilan tidak hanya mengadili berdasarkan undang-undang seperti yang tercantum dalam Pasal 20AB, tetapi mengadili menurut hukum.22
Menurut Barda Nawawi Arif23bahwa :
21M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP
(Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali) edisi kedua,
(Jakarta: Sinar Grafika, 2003) Hal. 110
22Sudikno Mertokusumo, Op. Cit.
“Adanya pembedaan perlakuan hukum dari apara penegak hukum, berdasarkan asas kesamaan didepan hukum (equality before the
law), seharusnya secara hukum tidak ada perbedaan perlakuan
yang diberikan oleh aparat penegak hukum kepada sesama tersangka, karena proses hukum yang digunakan merupakan proses hukum yang adil dan jujur (dueprocess model) dalam sistem penegakan hukum yang in concreto.”
Dalam due process model, perbedaan perlakuan hukum antara tersangka satu dengan tersangka lainnya oleh majelis hakim berdasarkan penggunaan hak subyektifnya berakibat telah terjadinya pelanggaran asas
kesamaan kedudukan di depan hukum (equality before the law) yang dianut oleh KUHAP.
6. Peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan tetap;
Ini berarti pengambilan keputusan salah tidaknya terdakwa dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan bersifat tetap. Untuk
jabatannya hakim-hakim ini diangkat oleh Kepala Negara. Berdasarkan rumusan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009
Tentang Kekuasaan Kehakiman, bahwa:
Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.
Prinsip ini sesuai dengan sistem pembuktian yang dianut
membuktikan kesalahan terdakwa berdasarkan batas minimum pembuktian menurut undang-undang dengan alat bukti yang sah.24
7. Tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum;
Asas ini memberikan harkat dan martabat kepada tersangka atau terdakwa bahwa mereka sederajat dengan manusia lainnya. Bantuan
hukum dapat diperoleh oleh tersangka sejak saat di tangkap atau di tahan pada semua tingkat pemeriksaan. Berdasarkan Pasal 69 sampai dengan 74
KUHAP dirumuskan bahwa tersangka atau terdakwa mendapatkan: a. Bantuan hukum dapat diberikan sejak tersangka ditangkap atau
ditahan (Pasal 69);
b. Bantuan hukum diberikan pada semua tingkat pemeriksaan (Pasal 69);
c. Penasehat hukum dapat menghubungi tersangka atau terdakwa pada semua tingkat pemeriksaan pada setiap waktu (Pasal 70 ayat (1)); d. Pembicaraan antara penasehat hukum saat menghubungi tersangka
tidak didengar oleh penyisik dan penuntut umum kecuali pada delik yang menyangkut keamanan negara (Pasal 71 ayat (1) dan ayat (2)); e. Turunan berita acara diberikan kepada tersangka atau penuntut
umum guna kepentingan pembelaan (Pasal 72);
f. Penasehat hukum berhak mengirim dan menerima surat dari tersangka atau terdakwa (Pasal 73).
Pengecualian dari pasal tersebut di atas terdapat pada ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP merupakan kewajiban dari aparat penegak
hukum menegaskan bahwa dalam hal tersangka atau terdakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana 15 tahun penjara atau lebih yang tidak mempunyai penasehat hukum sendiri,
pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasehat hukum bagi mereka.
Menurut Andi Hamzah25bahwa :
“Pembatasan-pembatasan hanya dikenakan jika penasehat hukum menyalahgunakan hak-haknya tersebut. Kebebasan-kebebasan dan kelonggaran-kelonggaran tersebut hanya dari segi yuridis semata-mata bukan dari segi politik, sosial dan ekonomi.”
8. Akusator dan inkusitor (Accusatoir dan Inqusitoir);
Kebebasan memberi dan mendapatkan nasihat hukum
menunjukkan bahwa KUHAP telah menganut asas akusator. Ini artinya perbedaan antara pemeriksaan pendahuluan dan pemeriksaan sidang
pengadilan pada asasnya telah dihilangkan.
Prinsip akusator menempatkan kedudukan tersangka atau terdakwa dalam setiap pemeriksaan sebagai subyek, bukan obyek
pemeriksaan, karena itu kedudukan tersangka atau terdakwa harus didudukkan dalam kedudukan yang mempunyai harkat dan martabat.
Kesalahan (tindak pidana) yang dilakukan oleh tersangka atau terdakwa menjadi obyek dalam prinsip akusator.26
Menurut Andi Hamzah27, prisnsip inkusitor adalah menempatkan
tersangka atau terdakwa sebagai obyek yang dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang. Sedangkan menurut L. J. Van Apeldoorn28 yang
dimaksud akusator dan inkusitor adalah:
Sifat accusatoir ialah prinsip, bahwa dalam acara pidana, pendakwa (penuntut umum) dan terdakwa berhadapan sebagai pihak yang sama haknya. Penuntut umum dan terdakwa melakukan pertarungan hukum (rechtsstriid) di muka hakim yang
25Andi Hamzah, Op. Cit, Hal. 21
26ibid, Hal. 22
27Loc. Cit
28L. J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Pradnya Paramita, 2009)
tidak berpihak; Kebalikannya ialah asas inquisitoir dalam mana hakim sendiri mengambil tindakan untuk mengusut, hakim sendiri bertindak sebagai pendakwa, jadi dalam mana tugas dari orang yang menuntut, orang yang mendakwa dan hakim disatukan dalam satu orang.
9. Pemeriksaan Hakim yang langsung dan lisan.
Pemeriksaan di tingkat pengadilan oleh hakim secara langsung, artinya langsung kepada terdakwa dan para saksi. Ini berbeda dengan acara perdata di mana tergugat dapat diwakili oleh kuasanya.
Menurut Andi Hamzah29 hal ini berkaitan dengan tujuan hukum acara pidana yaitu mencari kebenaran materiil, di mana hakim melakukan
pemeriksaan di tingkat pengadilan haruslah secara langsung. Pemeriksaan hakim juga dilakukan secara lisan, artinya bukan tertulis antara hakim dan terdakwa.
B. Penyidikan
1. Pengertian Penyidikan
Salah satu rangkaian dalam menyelesaikan kasus dalam acara pidana termasuk tindak pidana korupsi adalah melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana
ataupun tindak pidana korupsi. Salah satu hal yang paling penting dalam suatu tindakan pemberantasan korupsi adalah pada saat
penyidikan.
Tahap penyidikan merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian tahap- tahap yang harus dilalui suatu kasus menuju
pengungkapan terbukti atau tidaknya dugaan telah terjadinya suatu tindak pidana. Oleh sebab itu keberadaan tahap penyidikan tidak bisa
dilepaskan dari adanya ketentuan perundangan yang mengatur mengenai tindak pidannanya.30
Penyidikan menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang tercantung dalan Pasal 1 angka 2 diartikan :
“Serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.”
Penyidikan merupakan rangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti agar dapat ditemukan tersangka.31
Sedangkan menurut K. wantjik Saleh yang dikutip dalam
jurnal hukum Sahuri Lasmadi32, penyidikan sendiri diartikan yaitu:
“Usaha dan tindakan untuk mencari dan menemukan kebenaran tentang apakah betul terjadi suatu tindak pidana, siapa yang melakukan perbuatan itu, bagaimana sifat perbuatan itu serta siapakah yang terlibat dengan perbuatan itu.”
Penyidik sendiri menurut Pasal 45 angka 1 Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 adalah :
“Penyidik pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Penyidik melaksanakan fungsi penyidikan tindak pidana korupsi.”
30Hibnu Nugroho, Integralisasi Penyidikan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia (Jakarta:
Media Aksara Prima, 2012) Hal. 67
31Hibnu Nugroho, Kedaulatan rakyat (18 Juli 2012) Hal. 1
32 Sahuri Lasmadi, “Tumpang Tindih Kewenangan Penyidikan Pada Tindak Pidana
Korupsi Pada Perspektif Sistem Peradilan Pidana”. Jurnal Ilmu Hukum , Volume 2, 3 ( Juli 2010 )
Dalam penyidikan sendiri ada yang disebut penyidik yaitu orang yang melakukan penyidikan yang terdiri dari pejabat yang
dijelaskan pada Pasal 1 butir 1 Kitab Undang – Undang Hukum Pidana. Pejabat penyidik sendiri terdiri dari Penyidik Polri dan
Penyidik Pegawai Negeri Sipil.33
Tahap penyidikan terhadap suatu perkara biasanya dilakukan setelah penyidik mengetahui adanya suatu peristiwa yang diduga
merupakan suatu tindak pidana. Disamping itu, penyidikan juga akan dimulai apabila penyidik menerima laporan ataupun pengaduan
tentang dugaan telah terjadinya suatu tindak pidana.
Sehubungan dengan hal tersebut, Yahya Harahap34
memberikan penjelasan mengenai penyidik dan penyidikan yaitu :
“Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan ketentuan umum Pasal I Butir 1 dan 2, Merumuskan pengertian penyidikan yang menyatakan, penyidik adalah pejabat Polri atau pejabat pegawai negeri tertentu yang diberi wewenang oleh undang-undang. Sadangkan penyidik sesuai dengan cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang suatu tindak pidana yang terjadi serta sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak pidananya.”
Sedangkan Andi Hamzah35 menyimpulkan bahwa definisi
dari Pasal 1 butir 2 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
yaitu :
33M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP (Jakarta:
Sinar Grafika, 2000) Hal. 112
34Ibid., Hal. 115
“Penyidikan dalam acara pidana hanya dapat dilakukan berdasarkan undang-undang, hal ini dapat disimpulkan dari kata-kata “menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.”
Dalam bahasa Belanda ini sama dengan opsporing. Menurut
de Pinto yang dikutip dalam jurnal Bambang Tri Bawono36
menyebutkan bahwa menyidik (opsporing) berarti:
“Pemeriksaan permulaan oleh pejabat- pejabat yang untuk itu ditunjuk oleh undang- undang segera setelah mereka dengan jalan apapun mendengar kabar yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadi sesuatu pelanggaranhukum.”
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penyidikan
merupakan suatu proses atau langkah awal yang merupakan suatu proses penyelesaian suatu tindak pidana yang perlu diselidik dan
diusut secara tuntas di dalam sistem peradilan pidana, dari pengertian tersebut, maka bagian-bagian dari hukum acara pidana yang menyangkut tentang Penyidikan adalah ketentuan tentang
alat-alat bukti, ketentuan tentang terjadinya delik, pemeriksaan di tempat kejadian, pemanggilan tersangka atau terdakwa, penahan sementara,
penggeledahan, pemeriksaan dan introgasi, berita acara, penyitaan, penyampingan perkara, pelimpahan perkara kepada penuntut umum dan pengembalian kepada penyidik untuk disempurnakan.
2. Pengertian Penyidik
36Bambang Tri Bawono,“Tinjauan Yuridis Hak –Hak Tersangka dalam Pemeriksaan
Dalam melakukan proses penyidikan tentunya ada pejabat yang berwenang melakukan penyidikan tersebut. Pejabat tersebut
lebih dikenal dengan penyidik.
Menurut Pasal 6 Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana ditegaskan bahwa penyidik adalah : a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia
b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.
Penyidik sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP karena kewajibanya menurut Pasal 7 KUHAP mempunyai
wewenang :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda
pengenal dari tersangka;
d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;
e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang;
g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
h. Mendengarkan orang ahli yang diperlukan dalam hubunganya dengan pemeriksaan perkara;
i. Mengadakan penghentian penyidikan;
j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b KUHAP mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang
pelaksanaan tugasnya berada dibawah koordinasi dan pengawasan
penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP.
Dalam melaksanakan tugasnya, penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Penyidik sebagaimana yang dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP mempunyai wewenang melakukan tugas masing masing pada umumnya di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah hukum masing-masing dimana ia
diangkat sesuai dengan ketentuan undang-undang.
3. Kewenangan Lembaga Penyidik Dalam Penyidikan Tipikor
Dalam perjalanan pemberantasan tindak pidana korupsi di
Indonesia, pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi semakin membantu dalam penanganan kasus–kasus tindak pidana korupsi di
Indonesia. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berdasarkan Pasal 2 dan 3 Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang untuk selanjutnya
disebut Komisi Pemberantsan Korupsi adalah lembaga Negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen
dan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun.
Berdasarkan Pasal 1 angka 3 Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2002 yaitu :
penuntutan, dan pemeriksaan di siding pengadilan, dengan peran serta masyarakat berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku.”
Komisi pemberantasan korupsi dalam hal penanganan tipikor harus sesuai dengan Hukum Acara Pidana yang berlaku sebagai ketentuan yang memuat tata cara dan suatu proses perkara pidana,
mengatur hak dan kewajiban bagi mereka yang bersangkut paut dalam proses perkara serta mengatur pelaksanaan peradilan menurut
Undang-Undang. Pengertian hukum acara pidana menurut
Moeljatno37bahwa:
“Hukum acara pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yang berlaku disuatu negara yang berisikan dasar-dasar dan aturan yang menentukan dengan cara dan prosedur macam apa ancaman pidana yang ada pada suatu perbuatan pidana dapat dilaksanakan, bagaimana cara dan prosedur dapat dilaksanakan apabila ada sangkaan bahwa orang telah melakukan delik tersebut.”
Sedangkan menurut Wirjono Projodikoro hukum acara
pidana erat hubungannya dengan hukum pidana. Wirjono Projodikoro38memberi pengertian hukum acara pidana:
“Hukum acara pidana merupakan suatu rangkaian peraturan yang memuat cara, bagaimana badan-badan pemerintah yang berkuasa yakni kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan harus bertindak guna mencapai tujuan negara yang mengadakan hukum pidana.”
Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi sendiri dapat dilihat dalam Pasal 6 Undang–Undang Nomor 30 Tahun 2002 yaitu :
a. Melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan tindak pidana korupsi.
37Topo Santoso,”Polisi dan Jaksa Dalam Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia”,Jurnal
Ilmu Hukum. Volume 10 ( September 2001 ) Hal. 12
b. Melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; instansi yang berwenang adalah termasuk Badan Pemeriksaan Keuangan, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara, inspekorat pada Departemen atau Lembaga Pemerintah Non- Departemen.
c. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.
d. Melakukan tindakan- tindakan pencegahan tindak pidana korupsi. e. Menyelenggarakan monitor tehadap penyelenggaraan pemerintah
Negara.
f. Melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan tindak pidana korupsi.
g. Melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; instansi yang berwenang adalah termasuk Badan Pemeriksaan Keuangan, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara, inspekorat pada Departemen atau Lembaga Pemerintah Non- Departemen.
h. Melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.
i. Melakukan tindakan- tindakan pencegahan tindak pidana korupsi. j. Menyelenggarakan monitor tehadap penyelenggaraan pemerintah
Negara.
Salah satu tugas dari Komisi Pemberantasan Korupsi
adalah melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Salah satu hal yang paling penting dalam suatu tindakan pemberantasan korupsi adalah pada saat penyidikan.
Tahap penyidikan merupakan salah satu bagian penting dalam rangkaian tahap- tahap yang harus dilalui suatu kasus menuju
dilepaskan dari adanya ketentuan perundangan yang mengatur mengenai tindak pidannanya.39
Dalam sejarah hukum acara pidana bahwa sebelum berlakunya KUHAP, kekuasaan melakukan penyidikan dimiliki oleh
kejaksaan. Hal ini sesuai dengan Pasal 2 ayat (2) Undang- Undang Nomor 15 Tahun 1961 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Kejaksaan Republik Indonesia yang berbunyi:
“Mengadakan penyidikan lanjutan terhadap kejahatan dan pelanggaran serta mengawasi dan mengkoordinir alat- alat penyidik menurut ketentuan- ketentuan dalam Undang- Undang Hukum Acara Pidana dan lain- lain peraturan negara”.
Penjelasan pasal tersebut menyatakan untuk kesempurnaan tugas penuntutan, jaksa perlu sekali mengetahui sejelas- jelasnya
semua pekerjaan yang dilakukan dalam bidang penyidikan perkara pidana dari permulaan sampai akhir yang seluruhnya itu harus dilakukan atas dasar hukum. Hal ini dapat dilihat bahwa yang
memimpin dalam hal penyidikan pada periode sebelum berlakunya KUHAP adalah kejaksaan, yaitu dengan tugas selaku pengawas dan
koordinator di bidang penyidikan yang dilakukan oleh pihak- pihak lain, termasuk polisi.
Dalam perkembangan selanjutnya, dengan lahirnya
Undang-undang Kepolisian yang baru pada tahun 2002, menyatakan polisi dapat melakukan penyidikan untuk semua tindak pidana. Dalam arti
kata baik polisi maupun kejaksaan mempunyai kewenangan yang dalam melakukan penyidikan tindak pidana khusus.
Dari ketiga lembaga penyidikan tersebut dapat menimbulkan tumpang tindihnya kewenangan antara sub sistem dalam sistem
peradilan pidana tentang siapa yang berwenang melakukan penyidikan pada perkara tindak pidana korupsi setelah keluarnya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi dimulai dengan rumusan Pasal 26 Undang – Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, merumuskan:
“Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang Pengadilan terhadap tindak pidana korupsi, dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku, kecuali ditentukan lain dalam undang ini.”
Hal ini sama dengan rumusan Pasal 39 Undang-undang No.
30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Secara Gramatikal arti kalimat berdasarkan hukum acara yang berlaku tentunya merujuk kepada Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981
tentang Kitab Undang–Undang Hukum Acara Pidana, karena selain KUHAP tidak ada lagi hukum acara pidana lain yang berlaku di
Indonesia. Hal tersebut juga berarti bahwa terhadap tindak pidana korupsi, harus dilakukan penyidikan berdasarkan Pasal 106 sampai 136 KUHAP oleh penyidik menurut Pasal 1 angka 1 sampai 5, yaitu
137 sampai 144 KUHAP oleh penuntut umum menurut Pasal 1 angka 6 dan 7 KUHAP, yaitu Jaksa.
Berdasarkan uraian dan pemikiran tersebut di atas, jelas bahwa masalah kewenangan masing-masing sub sistem dalam sistem
peradilan pidana sangat menentukan sekali dalam rangka penegakan hukum terutama pada tindak pidana korupsi, agar kepastian hukum dan kesebandingan hukum dapat tercapai.
Hal ini sebagaima sebagaimana dijelaskan oleh Muladi40,
bahwa :
“Sistem peradilan didalamnya terkandung gerak sistemik dari subsistem – subsistem pendukung ( Kepolisian, Kejaksaan, KPK, Pengadilan ) yang secara keseluruhan dan merupakan satu kesatuan (totalitas) berusaha mentrasformasikan masukan menjadi keluaran yang menjadi tujuan sistem peradilan pidana yang berupaya resosialisasi pelaku tindak pidana (jangka pendek), pencegahan kejahatan (jangka menengah) dan kesejahteraan sosial (jangka panjang). Untuk itu perlu adanya sinkronisasi pelaksanaan penegakan hukum dikalangan subsistem. Jika keterpaduan subsistem-subsistem dalam sistem peradilan pidana tidak terwujud, masyarakat dapat beranggapan bahwa sistem peradilan pidana menyebabkan timbulnya kejahatan.”
Berdasarkan hal tersebut diatas maka, diantara ketiga
lembaga pemberantasan tipikor tersebut yaitu Kepolisian, Kejaksaan dan KPK harus adanya hubungan yang sinergis dan kerjasama yang
baik begitu pula dalam halnya penyidikan di tingkat daerah.
Menurut “ Kamus besar bahasa Indonesia “bahwa yang
dikatakan harmonisasi adalah pengharmonisan, pencarian
40Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Semarang: Badan Penerbit
keselarasan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pengharmonisasian atau pencarian keselarasan antara hukum pidana
formil yang diatur dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 dengan Undang- Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Korupsi. Karena hal inilah yang bisa menjadi satu hambatan dalam penyidikan tindak pidana korupsi jika tidak ada hubungan sinergis diantara ketiga lembaga tersebut.
Penerapan penyidikan terhadap tindak pidana korupsi yang telah terjadi di daerah sesuai dengan Pasal 50 angka 1 Undang –
Undang Nomor 30 Tahun 2002 mengenai penyidik di daerah yaitu : “Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi belum melakukan penyidikan, sedangkan perkara telah dilakukan penyidikan oleh kepolisisan atau kejaksaan, instansi tersebut wajib memberitahukan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi paling lambat 14 (empat Belas) hari kerja terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan.”
Selain itu, jika penyidikan sudah dilakukan oleh kepolisian
atau kejaksaan maka lembaga tersebut wajib melakukan koordinasi terus menerus dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dalam perkara lain jika Komisi Pemberantasan Korupsi
sudah mulai melakukan penyidikan, maka sesuai dengan Pasal 50 ayat (3) Undang – Undang Nomor 30 Tahun 2002 yaitu kepolisian
atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. Jika penyidikan dilakukan secara bersamaan maka penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan segera dihentikan. Oleh
Polri yang telah menyepakati untuk melakukan penandatangan MoU.41
Pada intinya MoU tersebut berisi tentang kesepakatan bahwa KPK akan memberitahukan kepada institusi kepolisian dan
kejaksaan pada saat mulai melakukan penyidikan suatu kasus dengan menerbitkan SPDP (Surat Penghentian Dimulainya Penyidikan), karena selama ini yang telah melakukan hal tersebut baru antara
lembaga kepolisian dengan kejaksaan, sedang KPK tidak pernah melakukan hal tersebut baik kepada kepolisian maupun kejaksaan.
Hubungan fungsional dan koordinatif antara Kejaksaan dan Kepolisian dengan Komisi Pemberantasan Korupsi dapat dilihat dalam Pasal 6 huruf a Undang – Undang Nomor 30 Tahun 2002
Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas–tugas :
“Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi”
Tugas tersebut haruslah dilaksanakan dengan baik oleh
penyidik dalam penyidikan tipikor di daerah agar berjalanya pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
C. Lembaga Penyidikan Tipikor di Indonesia
1. Komisi Pemberantasan Korupsi
Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary
crime) yang sampai hingga saat ini masih terus dilakukan upaya
untuk menanganinya. Karena korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) sehingga pemberantasannya harus
dilakukan dengan cara- cara luar biasa juga. Aparat penegak hukum di Indonesia mengalami kesulitan bahkan kurang maksimal dalam mengatasi pemberantasan korupsi. Kenyataannya bahwa lembaga
Negara sebelumnya yang menangani tipikor belum berfungsi efektif dan efisiensi42.
Oleh Karena itu dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi ini sebagai lembaga independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun untuk melakukan pemberantasan korupsi.
Dalam ketentuan Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi
tidak ditemukan pengertian tentang korupsi. Akan tetapi, dengan memperhatikan kategori tindak pidana korupsi sebagai delik formil, maka Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang No. 31 Tahun 1999
mengatur secara tegas mengenai unsur-unsur pidana dari tindak pidana korupsi dimaksud. Pasal 2 Undang-Udang No. 31 Tahun
1999, menyatakan sebagai berikut :
“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara.”
42Ganjar Laksmana B,“Penyidik Independen KPK”, Tempo edisi 8- 14 Oktober 2012,
Selanjutnya dalam Pasal 3 Undang-Udang No. 31 Tahun 1999, menyatakan :
“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara.”
Dari hal tersebut diatas bisa dilihat pengertian Korupsi menurut Huntington adalah perilaku pejabat publik yang
menyimpang dari norma-norma yang diterima oleh masyarakat, dan perilaku menyimpang ini ditujukan dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi.43
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berdasarkan Pasal 2 dan 3 Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang untuk selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga Negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen
dan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun.
2. Kepolisian
Kepolisian merupakan salah satu lembaga yang bertugas melakukan penyidikan, termasuk di dalamnya adalah melakukan
43Diunduh dari :
penyidikan tindak pidana korupsi. Disamping itu kepolisian juga mempunyai tugas lain, tugas kepolisian utamanya bersangkut paut
dengan penegakan hukum, pemeliharaan ketertiban dan keamanan umum, meliputi: tugas bidang penegakan hukum sebagai penyelidik
dan penyidik (yustisi), tugas social dan kemanusiaan, tugas pendidikan kesadaran hukum, dan tugas menjalankan pemerintahan
(bestuurlijk) terbatas.
Menurut ketentuan Pasal 6 ayat (1) huruf a KUHAP, menyebutkan bahwa salah satu instansi yang diberi wewenang untuk
melakukanPenyidikan ialah “Pejabat Polisi Negara RI”. Namun agar seseorang pejabat Kepolisian diberi jabatan sebagai Penyidik, maka ia harus memenuhi “syarat kepangkatan” menurut penjelasan Pasal 6
ayat (2) KUHAP ditentukan bahwa syarat kepangkatan Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang berwenang akan diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Kemudian dalam penjelasannya dikatakan kepangkatan yang ditentukan dengan Peraturan Pemerintah itu diselaraskan dengan kepangkatan Penuntut Umum
dan Hakim pengadilan umum.44
Penyidikan terhadap tindak pidana korupsi dengan keluarnya
Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, penyidik Kepolisian bukan lagi sebagai penyidik
44M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan, dan Penerapan KUHAP (Penyidikan
tunggal sebagaimana diatur dalam KUHAP dan Undang-Undang kepolisian, melainkan munculnya penyidik lain yang diakui oleh
undang-undang sebagai penyidik yaitu penyidik kejaksaan dan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dalam perkembangan selanjutnya, dengan lahirnya Undang-undang Kepolisian yang baru pada tahun 2002, menyatakan polisi dapat melakukan penyidikan untuk semua tindak pidana. Dalam arti
mempunyai kewenangan yang dalam melakukan penyidikan tindak pidana khusus.
Dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983 tentang pelaksanaan KUHAP, dapat diketahui bahwa tidak semua pejabat polisi negara adalah
penyidik. Ketentuan ini mengatur bahwa yang bisa menjadi penyidik adalah pejabat polisi negara yang telah ditunjuk dan diangkat sebagai
penyidik sesusai dengan Surat Keputusan Kapolri tanggal 24 Desember 1983 Nomor Pol. SKEP/619/XII/1983, tentang ketentuan Penunjukan Penyidik dan Kepangkatan Penyidik Pembantu dalam
Lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dari ketentuan diatas dapat diartikan bahwa kepolisian