• Tidak ada hasil yang ditemukan

EPISTEMOLOGI ISLAM BEBERAPA PRINSIP DASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EPISTEMOLOGI ISLAM BEBERAPA PRINSIP DASA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

EPISTEMOLOGI ISLAM: BEBERAPA PRINSIP DASAR A. Pendahuluan

Salah satu keistimewaan Islam adalah sikapnya terhadap akal dan menghargai dinamikanya dalam pencapaian ilmu pengetahuan. Manusia yang diciptakan oleh Allah swt mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Manusia diciptakan begitu sempurna, yaitu dilengkapi dengan daya berpikir, dan dengan daya itu pula manusia dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Berpikir adalah aktivitas berdialog dengan diri sendiri dan dengan manifestasinya, yaitu mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, menunjukkan alasan-alasan, membuktikan sesuatu, menggolong-golongkan, membanding-bandingkan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran, mencari kualitas dan lain sebagainya.

Pikiran mempunyai potensi untuk berkembang,merenung, menganalisa dan menyingkap misteri yang tersembunyi tanpa adanya ikatan yang membelenggu, sesuai dengan apa yang diinginkan. Di samping ketinggian ajaran Islam yang datang dari sisi Allah dan apa-apa yang datang dari sisi Allah selalu benar. Maka sesungguhnya, penghargaan Islam terhadap akal, juga merupakan salah satu aspek yang menjadikan Islam itu benar mempunyai ketinggian.

Oleh karena itu, pengetahuan adalah merupakan salah satu tujuan akal, meskipun bukan tujuan paling mendasar. Akibat dari kerja akal, akhirnya manusia tidak pernah berhenti untuk berpikir dalam menginterprestasikan suatu objek, sehingga berdirilah arus-arus filsafat yang berbeda-beda juga.

Agar manusia tidak sesat menggunakan energi akalnya dalam memperoleh pengetahuan, maka Allah swt menurunkan wahyu sebagai sumber yang paling valid untuk dijadikan sebagai penjaga dan pengarah kebebasan akal. Sehingga meskipun manusia berpikir luar biasa, namun dia akan tetap kembali kepada pengakuan kekuasaan Tuhan.

Upaya untuk memperoleh pengetahuan disebut dengan epistemology. Kata epistemologi berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu Episteme yang berarti

Knowledge atau pengetahuan dan logy yang berarti theory.1

Dengan demikian epistemologi berarti teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, epistemologi dimaksudkan sebagai filsafat

(2)

pengetahuan yang berusaha mencari, mempelajari, melacak dan menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya serta pertanggungjawabannya atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimilikinya.

Lantas, apa yang dimaksud dengan epistemologi Islam dan prinsip-prinsip dasarnya, itulah yang menjadi tema sentral pembahasan makalah ini. Dengan mengandalkan kapasitas keilmuan yang masih ‘dangkal’ dan didukung literatur yang sangat terbatas, penulis akan mencoba membahasnya lebih lanjut.

Namun untuk menjelaskan obyek pembahasan lebih lanjut, maka bahagian pendahuluan ini akan segera diikuti dengan pembicaraan tentang defenisi Islam (kajian ontologis), sumber-sumber pengetahuan, cara mempelajari Islam (kajian epistemologi), kriteria kebesaran dalam epistemologi Islam, kemudian selanjutnya peran dan fungsi pengetahuan dalam Islam ( kajian aksiologi ).

B. Pengertian Islam Ditinjau Dari Segi Ontologis

Kata ontologi berasal dari bahasaYunani, yaitu “on” yang artinya “being” dan “logos” yang artinya “teori”. Jadi ontologi adalah teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Ontologi atau disebut juga metafisika umum adalah bagian dari cabang filsafat yang mempermasalahkan tentang hakikat adanya dari segala sesuatu wujud yang ada. Kalau kita perhatikan kata Islam, maka sesungguhnya Islam itu berasal dari bahasa arab, yaitu dari akar kata aslaama-yusliimu-islaaman yang berarti selamat, damai, sejahtera, patuh dan tunduk.2 Muhammad Arkoun dalam buku Rethinking Islam menyebutkan bahwa kata Islam diterjemahkan dengan “penyerahan diri kepada Tuhan”.3

Harun Nasution berpendapat bahwa Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui nabi Muhammad Saw sebagai rasul islam pada hakikatnya membawa ajaran yang bersumber pada Al quran dan hadits mengenai kehidupan manusia.4

2 Suparman Usman, Hukum Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2001. h.12

3 Muhammad Arkoun, Rethinking Islam, Terj. Yudian W dan Latiful Khuluq, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 1996. h.17

(3)

Dari istilah Islam yang telah dipaparkan di atas, maka sesungguhnya Islam itu adalah sikap religius seseorang yang ditunjukkan melalui ketundukan, kepatuhan dan ketaatan dalam menjalankan perintah Allah Swt. Maka orang yang tunduk dan taat pada aturan Allah Swt, pada akhirnya akan mencapai keselamatan disisi Allah Swt, itulah definisi Islam yang sesungguhnya.5 Dalam paham dan keyakinan ummat Islam Alquran mengandung sabda tuhan yaitu )

هللا ملك

) yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw, seperti firman Allah didalam ayat As Syura ayat 51-52 yang berbunyi:







































 



























 

 































 



 

 











































51. Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.

52. Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS.As Syuraa: 51-52)

(4)

Islam dibawa oleh Rasulullah Muhammad Saw sebagai agama yang benar yang dimenangkan Allah Swt walaupun orang musyrik tidak menyukainya , islam diturunkan untuk memperkenalkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang Haq dan mana yang Bathil. Islam dalam hal ini telah ada sejak manusia itu ada dan diutus seorang rasul hingga datangnya rasul akhir zaman yaitu Nabi Muhammad Saw sehingga islam untuk seluruh ummat manusia dan berlaku sepanjang zaman.6

Allah memerintahkan ummat manusia agar menganut agama islam untuk mematuhi ajaran Allah dan rasul rasulnya. Nabi dan rasul itu dipilih dan di angkat oleh Allah Swt tujuannya untuk mendapatkan kebahagiaan didunia dan di akhirat seperti firman Allah di dalam surah Al Maidah ayat 3 yang berbunyi:











































































































 

























































































































3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging

hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah

(5)

kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al – Maidah:3)

Agama merupakan satu kata yang sangat mudah diucapkan dan mudah juga menjelaskan maksudnya, akan tetapi sangat sulit memberikan batasan (defenisi) yang tepat. Hal ini disebabkan untuk menjelaskan sesuatu secara ilmiah mengharuskan adanya rumusan yang mampu mennyatukan semua unsur yang didefenisikan dan mengeluarkan segala yang tidak termasuk unsurnya. Tiga alasan lain yang diungkapkan oleh Mukti Ali tentang kesulitan untuk memberi batasan (defenisi) agama, yaitu : Pertama, pengalaman agama adalah soal bathin, subyektif dan sangat individualis sifatnya. Kedua, selalu ada emosi dan perasaan yang mengikat setiap pembahasan tentang agama. Ketiga, konsepsi tentang agama dipengaruhi oleh tujuan dari orang yang memberikan defenisi tersebut.7 Quraish Shihab menyatakan bahwa, “Agama adalah ketetapan-ketetapan Ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya untuk menjadi pedoman hidup manusia”.8

Sementara itu, Kata diin sendiri mengandung makna hubungan antara dua pihak, di mana pihak pertama mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pihak yang kedua. Jika arti kata diin seperti tersebut di atas, kemungkinan hubungan yang terjadi ada tiga pola relasi. Pertama, hubungan manusia dengan Allah. Kedua, hubungan manusia dengan manusia dan Ketiga, hubungan manusia dengan alam sosial.9

Didalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa













































7 Abudin Nata, Metodologi Studi Islam ( Jakarta : Raja Grafindo Peerkasa, 1998 ) hal. 8

8 Mahmud Quraish Shihab, Membumikan Alquran ( Bandung : Mizan, 1992 ) hal. 209-210

(6)

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (QS.Ali ‘Imran:85)

Agama Islam adalah agama yang benar, yang hanya memiliki satu tujuan penghambaan kepada Allah, satu ketaatan hanya kepada Allah dan takut kepada hukuman Allah sebagai pertanggung jawaban terhadap apa yang kita kerjakan selama hidup di dunia ini.

C. Sumber-sumber pengetahuan 1. Wahyu

Sumber artinya tempat asal digalinya sesuatu. Jika disebut sumber air, maksudnya adalah tempat asal air mengalir atau mata air. Maka ungkapan yang menyebutkan sumber pengetahuan bermakna sebagai sumber asal dari satu pengetahuan tersebut.10

Sumber harus dapat berdiri sendiri, baik dari sisi asal-usul dan kemurnian nilai-nilai yang dikandungnya yang dapat diterjemahkan menjadi petunjuk-petunjuk praktis untuk dipraktekkan.

Dalam epistemologi ilmu, disebutkan ada sumber pengetahuan manusia:

a) Empirisme merupakan aliran dalam filsafat yang mengatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman, observasi atau pengindraan.

b) Rasionalisme, menyebutkan bahwa sumber satu-satunya dari pengetahuan manusia adalah rasionya ( pikiran manusia ).

c) Intuisionisme, merupakan metode yang tidak terikat pada penalaran tetapi kepada intuisi manusia.

d) Wahyu Allah, adalah pengetahuan yang disampaikan Tuhan kepada para Nabi-Nya yang terkandung di dalam kitab suci seperti : Taurat, Injil, Zabur dan Alquran. 11

Wahyu dalam bentuk pertama merupakan pengetahuan yang muncul secara tiba-tiba sebagai suatu cahaya yang menerangi jiwanya. Wahyu bentuk kedua bisa didefenisikan sebagai pengalaman dan penglihatan didalam keadaan tidur atau didalam keadaan ru’ya. Sedangkan

10 Nur Ahmad Fadhil Lubis, Op.Cit., h.3

(7)

wahyu bentuk ialah yang diberikan melalui utusan, atau malaikat yaitu Jibril dan wahyu serupa ini disampaikan dalam bentuk kata-kata.12

Wahyu sebagai sumber asli seluruh pengetahuan memberi kekuatan yang sangat besar terhadap bangunan pengetahuan bila mampu mentransformasikan berbagai bentuk ajaran normatif menjadi teori-teori yang bisa diandalkan. Disamping itu, wahyu memberikan bantuan intelektual yang tidak terjangkau oleh kekuatan rasional dan empiris, sehingga pengetahuan yang berdasarkan wahyu memiliki khazanah intelektual yang lebih lengkap dari pada sains. Wahyu bisa dijadikan rujukan pencarian pengetahuan kapan saja dibutuhkan, baik bersifat inspiratif maupun terkadang ada juga yang bersifat eksplisit. Dengan begitu, pengetahuan yang bersumber dari wahyu memilki sambungan vertikal, yakni Allah sebagai pemilik ilmu di seluruh alam ini.13

Wahyu pada asalnya ialah sesuatu yang di beritahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat, wahyu allah kepada nabi nabinya ialah pengetahuan yang Allah tuangkan kedalam jiwa nabi agar mereka sampaikan kepada manusia untuk menunjuki mereka dan memperbaiki didunia serta membahagiakan mereka di akhirat, nabi sesudah menerima wahyu mempunyai kepercayaan yang penuh bahwa yang di terimanya adalah dari Allah Swt.

Menurut petunjuk Al-Quran sendiri, istilah wahyu sendiri memiliki pengertian yang berbeda beda jika di kaitkan dengan pemahaman bahasa manusia. Paling tidak ada enam surah yang sekaligus menjadi enam pemahaman pengertian wahyu berdasarkan Alquran sendiri, yaitu:

a) Wahyu diartikan isyarat ( Maryam 19:11 ) wahyu dalam bentuk isyarat ini di hujamkan kepada nabi Zakaria

b) Wahyu diartikan ilham ( Al Qashash 28:7 ) wahyu dalam bentuk ilham ini dihujamkan kepada ibu Musa, artinya wahyu yang diturunkan kepada manusia.

c) Wahyu diartikan ilham ( An Nahl 16:68 ) wahyu dalam bentuk ilham ini di turunkan kepada lebah artinya wahyu berlaku untuk binatang.

12 Harun Nasution. Op.Cit.,h.25

(8)

d) Wahyu diartikan perintah ( Al Maidah 5: 111 ) wahyu dalam bentuk perintah dihujamkan kepada kaum hawariyyin ( pengikut Nabi Musa) artinya wahyu yang diturunkan kepada manusia biasa.

e) Wahyu diartikan bisikan ( An Na`am) wahyu dalam bentuk bisikan ini dating dari kelompok iblis.

f) Wahyu diartikan bisikan dalam sukma ( 26: 21 dan 42 ). 14 2. Al Quran

Quraish Shihab menerangkan pada kutipan buku Abdul Adzim Al Zarqani, secara lughawi al Quran adalah akar dari kata qara’a yang berarti membaca, sesuatu yang dibaca. Membaca yang dimaksud adalah huruf-huruf dan kata-kata antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan secara istilah al Quran didefinisikan dalam ragam pandangan yang dilatarbelakangi oleh bidang ilmu masing-masing. Salah satunya al quran yaitu wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammas saw, yang ditulis dalam bentuk mushaf berdasarkan penulisan secara mutawatir.

Wahyu Allah yang sudah ditulis dan ditrunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah al Quran. Wahyu Allah yang tidak tertulis bukan Al Quran. Demikian pula wahyu Allah yang turun kepada nabi-nabi lain bukanlah Al Quran. Demikian juga, wahyu Allah yang turun kepada makhluk lainnya tidak juga disebut dengan Al Quran.15

Al Quran dikatakan sebagai ilmu pengetahuan dikarenakan segala interprestasi dalam segala bidang pengetahuan ada didalam Al Quran, mulai dari ilmu yang ada pada kehidupan maupun diluar kehidupan (akhirat). Segala macam hukum mempunyai sumber utama yaitu Al Quran, segala bukti tentang terciptanya alam, manusia, dan segala perintah Allah swt. Oleh sebab itu, tidak ada perselisihan pendapat diantara kaum muslimin tentang Al quran itu sebagai argumentasi yang kuat serta hukum-hukum yang wajib ditaati.

3. Sunnah

14 Deden Makbuloh, Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011 Cet-1 h.159-161

(9)

Secara lughawi sunnah atau hadits adalah sesuatu yang baru dikatakan baru setelah diangkatnya Muhammad menjadi Rasul, termasuk baru, walaupun isi ajaran Rasulullah tidak semuanya baru. Sedangkan secara istilah, hadits adalah perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad saw. yang sudah tertulis kita sebut saja al sunnah, tetapi setelah al sunnah diriwayatkan oleh para sahabat dan generasi selanjutnya secara bersambung, itulah hadits.

Seperti halnya Al Quran, sunna juga mengandung informasi tentang beberapa hakikat yang berkaitan dengan masalah-masalah ghaib. Sunnah juga memuat informasi tentang kejadian masa lalu, tentang awal penciptaan, tentang rasul dan nabi. Sunnah juga mengandung peristiwa yang berkaitan dengan masa lalu dan masa depan.

Sebagai sumber ilmu pengetahuan kedua, hadits atau sunnah telah menjadi faktor pendukung utama kemajuan ilmu pendidikan. Banyak hadits yang berbicara tentang ilmu terutama ilmu pengetahuan. Landasan hadits sebagai sumber ilmu adalah firman Allah pada QS. An Najm ayat 3-4:























3. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

4. Akal

Selanjutnya pandangan islam mengenai akal manusia mendapat kedudukan yang lebih tinggi, hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat Al-Quran, pengetahuan lewat akal disebut pengetahuan aqli akal dengan indera dalam indra yang berkaitan dengan pengetahuan satu dengan yang lainnya. akal berbeda dengan otak, akal dalam pandangan islam bukan otak, melainkan daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia.16

Meskipun islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan islam membatasi ruang lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas jangkauannya,

(10)

tidak akan mungkin bisa menggapai hakikat segala sesuatu. Maka Islam memerintahkan akal agar tunduk dan melaksanakan perintah syar’i walaupun belum sampai kepada hikmah dan sebab dari perintah itu. Kemaksiatan yang pertama kali dilakukan oleh makhluk adalah ketika Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam, Iblis berkata: ”Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah..” (QS.Shaad ; 76).

Karena inilah islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang diluar jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah, hakekat ruh, dan yang semacamnya, Rasulullah bersabda: ”Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah, janganlah memikirkan tentang Dzat Allah. Firman Allah didalam surah Al Isra’:









































 



Allah berfirman, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,”Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. al Isra’ : 85).17

5. Panca Indra

Setelah memahami akal, sebagai alat aktif yang ada pada diri manusia panca indra merupakan alat (lain) untuk memperoleh pengetahuan dan segala kenikmatan Allah di dunia serta segala pengetahuan yang dapat diperoleh manusia lewat kelima indranya (panca indra). Pengetahuan tersebut ialah pengetahuan indra (naqli) atau pengetahuan empiris. Pengetahuan indra terwujud sentuhan indrawi manusia dengan alam, dari sentuhan itu manusia memperoleh pengetahuan. Dalam pandangan Islam, tubuh memiliki karakteristik yang fundamental bagi manusia. Tubuh adalah tempat beroperasinya panca indera, sehingga dengan manusia dapat melihat, meraba, mencium,

(11)

mendengar dan merasa. Oleh sebab itulah, manusia dapat melihat dan membaca ayat-ayat dan tanda-tanda yang tertabur di alam semesta.

D. Cara Mempelajari Islam Ditinjau Dari Segi Epistemologi

Islam bukanlah agama yang memiliki satu dimensi. Bukan pula agama yang semata-mata berdasarkan intuisi manusia dan hanya terbatas pada hubungan antar manusia dengan Tuhan saja. Hingga untuk memahaminya tidak cukup jika hanya dengan metode saja. Jika kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang sangat banyak memberikan makna. Buktinya adalah al Quran, al Quran merupakan sebuah kitab yang memiliki banyak dimensi, contohnya satu dimensi mengandung aspek-aspek linguistik dan sastra Al quran. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan Al quran yang menjadi bahan pemikiran bagi para filosof serta teolog saat ini. Dimensi lainnya yang belum dikenal di dalam Al quran adalah dimensi manusiawinya, yang mengandung persoalan historis, sosiologi, dan psikologis. Dimensi ini belum banyak dikenal karena ilmu tersebut ilmu paling muda dengan ilmu-ilmu manusiayang ada.18

Metode yang digunakan dalam mempelajari Islam adalah :

a. Penggunaan akal pikiran ( rasio ) untuk menelaah dan mempelajari gejala kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

b. Mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

c. Pemberian suasana ( situasional ) sesuai dengan tempat dan waktu tertentu.

d. Mendemonstrasikan ilmu pengetahuan dalam kehidupan, seperti pelaksanaan shalat.

e. Metode mendidik dengan cara bercerita. f. Metode bimbingan dan penyuluhan. g. Metode pemberian contoh dan teladan. h. Metode Tanya jawab.

i. Metode pemberian perumpamaan ( imtsal ).

j. Metode targhib dan tarhib ( memberikan dorongan dan motivasi untuk berbuat kebaikan ).

k. Dan lain-lain.

Metode mempelajari Islam yang disampaikan oleh para filosof Muslim, sangat jauh berbeda dengan metodologi yang ditawarkan oleh filosof Barat.

(12)

Seperti yang disampaikan oleh Ziaduddin Sardar, sebagaimana dikutip oleh Kartanegara, bahwa dalam mengkaji ilmu, filosof Barat hanya menggunakan satu metode saja yaitu metode observasi. Sedangkan para filosof Muslim menggunakan tiga macam metode sesuai dengan hierki objek-objek, yaitu : 1). Metode observasi atau yang sering disebut dengan bayani. 2). Metode logis atau burhani, 3). Metode intuitif atau irfani, yang masing-masing bersumber pada indra, akal dan hati. 19

Sedangkan Abudin Nata berpendapat bahwa ada empat cara untuk memahami islam dengan benar;

Pertama, Islam harus dipelajari dari sumber yang asli yaitu Al qur’an As sunnah Rasulullah. Kekeliruan memehami islam, karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama atau melalui pengenalan-pengenalan dasar dari sumber kitab fiqh dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk islam hidup penuh dengan bid’ah dan khurafat yaitu telah tercampur dengan hal-hal yang tidak islami jauh dari ajaran islam yang murni.

Kedua, islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya ia dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan benar.

Ketiga, islam perlu dipelajari dari perpustakaan yang ditulis khusus oleh para ulama besar dan para sarjana-sarjana islam, karena pada umumnya mereka mereka mempunyai pemahaman islam yang baik, yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Al quran dan Sunnah.

Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam al qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada didalam masyarakat. 20

E. Peran dan Fungsi pengetahuan dalam Islam Ditinjau Dari Segi Aksiologis Aksiologi berasal dari perkataan Yunani “axios” yang artinya nilai dan “logos” yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Aksiologi adalah suatu cabang filsafat yang pemikirannya tentang nilai-nilai termasuk

(13)

nilai-nilai tinggi dari Allah swt, misalnya nilai moral, nilai agama atau nilai estetika ( keindahan ). Aksiologi mengandung pengertian yang lebih luas dari etika.

Pengetahuan berasal dari bahasa arab yaitu ‘ilm. Dan pengetahuan itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu: pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindera, untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek dan cara kegunaannya. Pengetahuan ilmiah juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengethuan tersebut. Pengetahuan ilmiah memperhatikan objek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan epistemologi, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri.

Dalam konteks Islam, sains tidak menghasilkan kebenaran yang absolut (nyata). Istilah yang paling tepat untuk mendefenisikan pengetahuan adalah

al’ilm, karena memiliki dua komponen. Pertama, bahwa sumber asli seluruh pengetahuan adalah wahyu atau Al Qur’an yang mengandung kebenaran absolut. Kedua, bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren sumanya sam-sama valid, semuanya menghasilkan bagian dari sutu kebenaran dan realitas.21

Menurut Nur Cholis Madjid, ilmu merupakan hasil pelaksanaan perintah Tuhan untuk memperhatikan dan memahami alam, sebagai manifestasi atau penyingkapan tabir akan rahasia-Nya. Peran dan fungsi pengetahuan dalam Islam ini dapat kita lihat dari 5 ayat pada surat Al-Alaq. Pada ayat tersebut terdapat kata

iqra’, selain dapat diartikan membaca juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendeskripsikan, menganalisa, dan penyimpulan secara induktif.22

Secara rinci dapat digambarkan empat fungsi ilmu pengetahuan :

21 Ziauddin Sardar, Dimensi Ilmiah Al-‘Ilm, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. h. 25

(14)

1. Fungsi Deskriptif yaitu menggambarkan, melukiskan dan memaparkan atau masalah sehingga mudah dipelajari.

2. Fungsi pengembangan yaitu melanjutkan hasil penemuan yang lalu dan menemukan hasil penemuan yang baru.

3. Fungsi fredeksi yaitu meramalkan kejadian-kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu usaha untuk menghadapinya.

4. Fungsi kontrol yaitu berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwayang tidak dikehendaki.

Sedangkan sebagian lagi cenderung menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruhan. Menurut Ali-Attas, ilmu pengetahuan dikatakan bermanfaat apabila :

1. Mendekatkan pada kebenaran Allah, bukan menjauhkannya.

2. Dapat membantu umat dalam merealisasikan tujuan-tujuannya.

3. Dapat memberi pedoman bagi sesama.

4. Dapat memberikan solusi.23

Demikianlah pentingnya ilmu, sehingga Islam memandang memandang bahwa orang menuntut ilmu sama nilainya dengan berjuang di jalan Allah. Islam menempuh cara demikian, karena dengan ilmu pengetahuan seseorang dapat meningkatkan kualitas dirinya, ibadahnya, serta kualitas imannya.

F. Penutup

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia dalam kehidupan, tidak ada satu pun

(15)

makhluk ciptaan Allah swt yang dapat mencapai kesempurnaan dan kematangan hidup tanpa melalui sesuatu proses. Pendidikan adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk membina dan mengembangkan pribadi muslim dari aspek rohaniah dan jasmaniah. Sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, maka manfaat atau kegunaan dari pendidikan Islam akan dapat dirasakan oleh pribadi manusia itu sendiri dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan kemaslahatan bagi sesama manusia dalam hubungan kemasyarakatan

Alquran sebagai inspirasi dan wawasan serta pandangan hidup universal, memberikan dorongan motivatif bagi manusia untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan sistem pendidikan melalui rasio ( akal pikiran ). Dengan ontologi, epistemologi dan aksiologi yang ada dalam pendidikan Islam, diharapkan pendidikan Islam dapat mengantisipasi kebutuhan dan tantangan untuk umat Islam di masa mendatang karena tanpa pendidikan manusia dapat menjadi makhluk yang senatiasa didorong oleh nafsu jahat, ingkar dan kafir kepada Tuhannya.

DAFTAR PUSTAKA

(16)

Deden Makbuloh, Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011 Cet-1

Burhanuddin Salam, Logika Materil, Jakarta : Rineka Cipta, 1997. Hartono, Kamus Popular Filsafat Jakarta: Rajawali, 1986

Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Jakarta: UI Press, 1985 Cet-5

http://bit.ly/1pFOOSd diakses pada: 08 September 2014 11.37 wib.

Mahmud Quraish Shihab, Membumikan Alquran Bandung : Mizan, 1992

Muhammad Arkoun, Rethinking Islam, Terj. Yudian W dan Latiful Khuluq, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 1996.

Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam, Jakarta: Erlangga,2005. Mulyadi Kartanegara, Menembus batas waktu

Nur A. Fadhil Lubis, Introductory Reading Islamic Studies, IAIN Press, Medan. Nur Ahmad Fadhil Lubis, Etika Bisnis Jakarta : Hijri Pustaka Utama, 2001 Suparman Usman, Hukum Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta: 2001.

Syed Muhammad Naqib Al Attas, Islam dan filsafat sains, terj. Saiful Muzanmi, Penerbit Mizan, Bandung, 1995.

Referensi

Dokumen terkait

Sampel yang memenuhi kriteria inklusi adalah pasien dengan keluhan nyeri buang air kecil, keluar cairan putih kekuningan, nyeri pinggang bagian bawah, dan atau

3.4.2 Sintesis Komposit Kitosan-Hidroksiapatit Doping Zinc Sintesis komposit kitosan-hidroksiapatit terdoping zinc menggunakan metode pencampuran biasa seperti dalam

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga

Berdasarkan penjelasan sejarah KPP Medan Timur berganti nama menjadi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur pada tanggal 6 Mei 2008, sesuai dengan peraturan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, diketahui bahwa Ombudsman Republik Indonesia merupakan lembaga Negara yang memiliki kewenangan untuk melakukan

Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa secara parsial motivasi memberikan kontribusi pengaruh terhadap kinerja pegawai sebesar 17,6%, sementara itu

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan diterima untuk memenuhi

Pada bagian ini akan dilakukan komputasi numerik untuk melihat keunggulan metode Backward Gauss-Seidel Prekondisi (BGSP) yang dibandingkan dengan metode Gauss- Seidel Prekondisi