• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Fundamental Pendidikan Sebagai Wadah Transormasi Ilmu dan Moralitas (Menghadapi Peluang Dan Tantangan Global) PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sasaran Fundamental Pendidikan Sebagai Wadah Transormasi Ilmu dan Moralitas (Menghadapi Peluang Dan Tantangan Global) PENDAHULUAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Sasaran Fundamental Pendidikan Sebagai Wadah Transormasi Ilmu dan Moralitas (Menghadapi Peluang Dan Tantangan Global)

A. Suriyaman Mustari Pide, SH. MH

1. PENDAHULUAN

Memasuki era globalisasi, manusia di berbagai belahan dunia tengah diperhadapkan oleh sebuah konsep modernisasi yang telah mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Modernisasi senantiasa beriringan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dianggap sebagai indikator kemajuan sebuah bangsa. Konsekuensi yang kemudian timbul adalah kecenderungan pergeseran paradigma berfikir tentang peran pendidikan sebagai transformasi ilmu dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman yang semakin maju.

Kita pahami bahwa globalisasi merupakan suatu rangkaian proses yang mengintegrasikan kehidupan global yang mencakup percepatan perkembangan ilmu dan teknologi, serta perkembangan proses pemikiran manusia. Kaitan antara globalisasi dan pendidikan akan melahirkan suatu masyarakat baru yaitu masyarakat yang didasarkan pada“knowledge-based-society”. Oleh sebab itu, pendidikan sangat penting dalam mewujudkan masa depan masyarakat yang berdasarkan ilmu pengetahuan, karena melalui pendidikan proses transformasi serta pengembangan ilmu pengetahuan akan terjadi. Pendidikan hadir sebagai medan pembinaan, pertumbuhan, perkembang segala potensi-potensi manusia. Semakin potensi-potensi seseorang dikembangkan semakin ia mampu menciptakan atau mengembangkan inovasi dan kreatifitas. Selanjutnya, perlu dipahami pula bahwa pendidikan merupakan hubungan normatif antara individu dan nilai.

Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya bagi masyarakat). Dengan demikian sekolah seharusnya bukan hanya berperan sebagai transfer of knowledge, tetapi juga sebagai wadah pengembangan rasa empati yang membentuk kekokohan moralitas dalam menghadapi tantangan global yang berimbas pada degradasi moral. Sehingga akan timbul sebuah pemikiran tentang bagaimanakah posisi pendidikan dalam mencapai sasaran fundamental untuk menghadapi tantangan global yang ada?

Penulis akan memaparkan mengenai bagaimana peran sebuah pendidikan sebagai wadah transformasi ilmu pengetahuan dengan tidak harus menghapus nilai moralitas yang merupakan sebuah kemutlakan hidup dan kehidupan. Disamping itu penulis juga akan

(2)

menyinggung bagaimana keberadaan kultur budaya hadir sebagai alat filterisasi efek dari kemajuan iptek yang berbasis global, karena sejatinya setiap bangsa di dunia ini memiliki kultur yang berbeda-beda yang merupakan refleksi dari eksistensi jiwa masyarakat dari tiap-tiap Negara.

2. PEMBAHASAN

A. Esensi Pendidikan

Apa itu Pendidikan?

Pendidikan sebagai upaya yang mengarah pada kemaslahatan dan kesejahteraan peserta didik dan masyarakat telah berlangsung sejak dulu sehingga tidak diragukan lagi peran dan eksistensinya. Pada dasarnya, pendidikan secara natural telah dilaksanakan sejak manusia hadir di muka bumi sebagai bentuk pemberian warisan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dari para orang tua dalam mempersiapkan generasi selanjutnya menghadapi kehidupan dan masa depan agar dapat mengatasi berbagai permasalahan dalam hidup dan kehidupan.

Sebuah pendidikan berkaitan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan aspek-aspek kelakuan lainnya dari generasi ke generasi. Sehingga tidak salah jika pendidikan dipahami sebagai warisan yang bersifat regenerasi. Sehingga dalam fungsi tersebut, selain sebagai pengubah dan pembaruan, pendidikan memiliki sisi konservatif dan berusaha mempertahankan status quo demi keutuhan karakter peserta didik serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Berbicara pendidikan berarti berbicara tentang proses belajar. Belajar seharusnya terjadi dimana-mana dan dilakoni seumur hidup, karena pada dasarnya pendidikan adalah persiapan tingkat tinggi belajar sepanjang hayat dan penemuan. Sesuai dengan retorika kaum bijak “Barang siapa tidak merasakan derita belajar sesaat, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidup”.

Sementara itu, menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan yang baik, mestinya mampu mengalahkan dasar-dasar jiwa manusia yang jahat, menutupi, bahkan mengurangi tabiat-tabiat yang jahat tersebut. Pendidikan dikatakan optima, jika tabiat-tabiat luhur lebih menonjol dalam diri peserta didik ketimbang tabiat-tabiat jahat.1

Dengan demikian sebuah pendidikan sejatinya mengedepankan nilai-nilai luhur karena sasaran fundamental sebuah pendidikan adalah menghasilkan manusia beradab,

1Agus Wibowo,“Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi”,(Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2013), hlm., 35

(3)

bukan mereka yang hanya cerdas secara kognitif dan psikomotorik tapi miskin karakter atau budi pekerti luhur sehingga mematikan moralitas manusia, masyarakat, bangsa dan Negara. Hal ini pulalah yang melatar belakangi pendidikan karakter menjadi isu hangat di bidang pendidikan, sehingga lahir inisiatif pemerintah untuk memberlakukan pendidikan karakter secara nasional di semua jenjang pendidikan.

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, tanggung jawab.

Dalam konteks pengembangan karakter, pendidikan kiranya perlu memperhatikan dimensi-dimensi esensial yang ada dalam diri manusia. Dimensi esensial tersebut meliputi: 1. Eksistensi Manusia

Keberadaan manusia sebagai makhluk yang tumbuh dan berkembang secara fisik. Penghargaan ini memiliki konsekuensi penting bagi pengembangan pembentukan karakter sebagai salah satu olah moral manusia menghayati hidup dalam berinteraksi social antar sesame. Bahkan dalam konteks pendidikan, penghargaan atas eksistensi manusia menjadi dasar mengapa di tengah masyarakat hadir lembaga pendidikan. 2. Potensi mengembangkan kemampuan diri

Manusia memiliki potensi untuk mengembangkan diri, dalam relasi dengan diri sendiri dan sesame. Manusia menemukan makna kehadiran dan identitasnya ketika ia berhadapan dengan orang lain. Dalam dunia pendidikan, kehadiran orang lain adalah syarat mutlak sebuah pendidikan yang sehat, karena mustahil seseorang mampu mendidik dirinya sendiri tanpa kehadiran orang lain.

3. Kemampuan transendental

Manusia memiliki kemampuan transendental untuk mengatasi kelemahan diri dalam proses penyempurnan terus menerus sebagai ciptaan. Nilai-nilai transcendental, baik kemanusian maupun religious, mengarahkan perubahan dalam tatanan social dalam masyarakat yang membawa manusia pada proses penemuan jati dirinya.

Tiga Pilar Pendidikan

Orang bijak pernah berkata,“seandainya cahaya ilmu dicapai dengan angan-angan, tidak akan tersisa orang bodoh di tengah manusia”.

Mengenai Globalisasi, sebagian besar pengamat memiliki sudut pandang yang berbeda jika dikaitkan dengan pendidikan. Namun pada umumnya, mereka sependapat

(4)

bahwa orientasi sebuah pendidikan adalah berorientasi pada bidang ekonomi, teknologi, dan budaya. Oleh karena itu eksistensi sebuah pendidikan seharusnya merespon kecenderungan dan tantangan globalisasi. Adapun Konsepsi keterlibatan karakteristik tiga pilar dalam pendidikan yaitu.

1. Globalization

Implikasinya: Transfer, adaptasi, dan pengembangan nilai, pengetahuan, teknologi, norma perilaku sebagai warga Negara dan masyarakat dalam konteks masyarakat dunia. Mencakup:

- Jaringan global

- Teknologi, ekonomi, social, politik, budaya dan belajar - Pertumbuhan internet

- Internasionalisasi dan alians, kompetisi serta pertukaran - Desa global

- Integrasi multi budaya

- Standar internasional (benchmark)

2. Localization

Implikasinya:

Transfer, adabtasi dan pengembangan nilai, pengetahuan, teknologi, norma perilaku sebagai warga Negara dalam masyarakat konteks local. Mencakup:

- Jaringan local

- Teknologi, ekonomi, social, politik, budaya dan belajar - Desentralisasi

- Budaya local

- Membangun komunitas local sesuai kebutuhan, dan karakteristik social, norma dan etos

3. Individualization

Implikasinya: transfer, adabtasi dan pengembangan hubungan eksternal, nilai, pengetahuan, teknologi dan norma perilaku sebagai individu dengan karakteristik: - Pelayan individu

- Pengembang potensi diri dalam bidang teknologi, ekonomi, social politik, budaya dan belajar

- Manusia yang mempunyai inisiatif dan kreatif - Aktualisasi diri

(5)

Jika mengamati karakteristik tiga pilar di atas, dapat kita lihat bahwa dari ketiga pilar tersebut, semuanya tidak terlepas dari sebuah norma yang mengatur perilaku baik dalam bernegara, bermasyarakat maupun sebagai individu. Disamping itu, bisa dipahami pula bahwa setiap pilar menempatkan budaya sebagai komponen dalam merespon kecenderungan tantangan global. Sehingga dapat dikatakan bahwa dibutuhkan sebuah sisi pemahaman konserfatif dalam mengikuti arus perubahan ilmu pendidikan.

B. Pendidikan Dari Masa ke Masa 1. Aliran Mazhab Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan studi filosofos mengenai tujuan dan proses dalam mencapai sasaran fundamental dalam hal ini cita-cita sebuah pendidikan. Hal yang sangat mendasar, melingkupi pola dalam mendidik, nilai dan norma yang dinyatakan melalui proses pendidikan, batas-batas, dan legitimasi pendidikan sebagai disiplin akademis serta hubungan antara teori dan praktik pendidikan.

a) Mazhab Empirisme /John Lock (1632-1704 M)

Paham empiris memandang bahwa pengaruh pendidikan dapat menentukan jalan hidup manusia, adapun factor internal berupa kemampuan dasar, bakat dan keturunan tidak memberikan pengaruh apa-apa. Dengan kata lain paham ini memiliki pandangan bahwa pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia ditentukan oleh factor dari luar dirinya, yaitu oleh pengalaman baik yang sengaja aupun tidak.

b) Mazhab Naturalisme (Jean Jacques Rousseau /1712-1778)

Jean Jacques Rousseau merupakan pemikir romantic kontemporer dengan corak tradisional yang lahir dalam zaman abad pencerahan. Naturalism menitik beratkan pada strategi belajar yang bersfifat paedosentris (belajar berpusat pada anak). Paham ini mengemukakan tiga prinsip terkait dalam proses belajar mengajar:

a. Anak didik, belajar didasarkan pada pengalamannya secara interaktif antara pengalaman dan kemampuan tumbuh kembang dari dalam diri secara alamiah. b. Pendidika, bersifat memfasilitasi dan menyediakan lingkungan belajar yang

kondusif.

c. Sekolah, harus menyediakan perangkat sistem yang sesuai dengan minat dan bakat anak didik.

(6)

Paham navitis tidak jauh berbeda dengan paham naturalis, titik beratnya adalah pengakuan terhadap adanya kekuatan manusia yang terbentuk sejak lahir, berupa factor psikologis dan fisiologis sebagai heriditer atau keturunan.

d) Mazhab Pragmatisme (John Dewey / 1859-1952)

Dewey “Pragmatism is the rule of referring all thinking’s … to consequences for final meaning and test”.Oleh sebab itu, pendidikan diarahkan pada proses seleksi tentang adanya kesanggupan manusia dalam mengujinya dalam pekerjaan praktis. Manusia seyogyanya tidak hanya berpikir, akan tetapi juga harus berbuat dan perbuatannya bermakna. Jiwa dan pikiran manusia, berkemampuan untuk memecahkan perseolan kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan, merupakan sarana pembudayaan, untuk memanusiawikan manusia, seperti menjadi penguasa dan budak masyarakat atau budak perubahan alam sekitar.

e) Mazhab Konvergensi (William Stern / 1871 – 1939)

Inti pandangannya mengenai pertumbuhan dan perkembangan secara sintetis dan dialektis. Yaitu adanya perpaduan antara kemampuan dasar yang dibawanya sejak lahir dengan factor lingkungan dari luar dirinya.

f) Mazhab Essensialisme (Abad 19)

Secara sederhana, esensialisme adalah generalisasi yang menyatakan bahwa sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh suatu kelompok/orang (misalnya; hal-hal, ide-ide) bersifat universal, dan tidak tergantung pada konteks. Filsafat pendidikan esensialisme, merupakan suatu filsafat pendidikan yang pengikutnya percaya bahwa anak-anak harus belajar mata pelajaran dasar tradisional, yang harus dipelajari secara menyeluruh dan disiplin.

g) Mazhab Eksistensialisme

Eksistensialis, dianggap filsafat sistemis atau sangat akademis tradisional, baik dalam gaya dan isi, karena abstrak dan jauh dari pengalaman berpikir manusia. Eksistensialisme menjadi popular di tahun-tahun pasca-perang dunia sebagai cara untuk menegaskan kembali pentingnya individualitas manusia dan kebebasan.

h) Mazhab Perspektif Ilmu Pendidikan Teoritis (Pedagogik)

Pada era awal abad ke-20-an, filsafat pendidikan cenderung bergeser kearah yang aplikatif dalam konteks teoritis. Proses pendidikan bertumpu pada tanggung jawab guru, sebagai pengantar anak kea rah dewasa, sehingga guru dituntut berwibawa di hadapan anak didik. Pedagogik memandang, anak didik sebagai objek pekerjaan

(7)

mendidik, dan mendidik dipandang sebagaiopvoeding(memberi makan) kepada anak didik sebelum mampu mandiri.

i) Mazhab Postmodernisme

Postmodernisme digunakan dalam teori kritis untuk merujuk kepada titik tolak untuk karya sastra, drama, arsitektur, bioskop, jurnalisme, dan desain, serta dalam pemasaran dan bisnis dan dalam penafsiran hokum, budaya, dan agama di akhir abad 20 dan awal 21. Postmodernisme merupakan gerakan akademik yang dapat dipahami sebagai reaksi terhadap modernisme dalam humaniora.

2. Perubahan Konteks Pendidikan Dalam Perspektif Pendidikan Masa Depan Menghadapi suatu perubahan, masing-masing karakteristik mempunyai cara dalam menyikapi, ada dengan sikap bertahan dan penolakan dengan mempertahankan status quo dan stabilitas. Adapun yang berkarakter radikal, perubahan akan diterima secara terbuka, dan memandangnya sebagai peluang dalam pengembangan sebuah kemajuan masa depan. Bahkan dengan alasan “revolusioner” pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi selalau dijadikan sebuah pelopor.

Pendidikan merupakan persoalan kemanusiaan yang harus dihampiri dari sudut pandang perkembangan manusia itu sendiri, maka perlu diketahui dan dirumuskan secara utuh sosok generasi manusia Indonesia masa depan. Oleh karena itu, pemahaman komprehensif mengenai karakter dan kultur perlu dilakukan dalam merumuskan sosok manusia untuk menjawab masa depan sebagai landasan pendidikan dan pengembangan karakter bangsa.

Manusia dalam lingkaran proses perubahan, hal mendasar yang perlu diingat adalah bahwa masing-masing manusia merupakan individu yang memiliki kebebasan. Dengan kebebasan, manusia berhak menentukan tindakan berdasarkan nilai dan keyakinannya. Namun, perlu dipahami bahwa, manusia dengan kebebasannya menentukan dirinya sendiri, ia memiliki tanggung jawab atas kehidupan bersama agar menjadi lebih baik, adil dan manusiawi. Sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh William Allen White (1990), “Liberty is the only thing you cannot have unless you are willing to give it to others”, kebebasan adalah hal satu-satunya yang tidak bias anda miliki kecuali jika anda sudi memberikannya pada orang lain.

C. TRANSFORMASI PENDIDIKAN

Pelaksanaan pendidikan telah menempatkan kata-kata dan semboyan baku yang mengagumkan namun seperti apa dan bagaimana manusia yang cerdas dan seutuhnya

(8)

justru tidak ditemukan dalam paham pendidikan. Kehampaan visi dan filosofi tersebut membuat fokus perhatian hanya tertuju pada masalah metodologi sedangkan inti yang sebenarnya (ruh pendidikan) belum tersentuh.

Transformasi sebagaimana dikatakan oleh Mezirow (2000: 6)

“... the concept of transformative learning which he defines as “the process by which we transform our taken for granted frames of reference”).

Kemudian lebih lanjut dikatakan bahwa “He asserts that transformation takes place through a process of critical reflection that is facilitated by open dialogue in a safe setting. In conjunction with this reflection and dialogue, Transformation Theory’s focus is on how we learn to negotiate and act on our own purposes, values, feelings, and meanings rather than those we have uncritically assimilated from others Mezirow”.

Yang berarti bahwa konsep pembelajaran transformatif didefinisikan sebagai proses di mana kita mengubah bingkai acuan. Dia menegaskan bahwa transformasi berlangsung melalui proses refleksi kritis yang difasilitasi oleh dialog terbuka dalam suasana yang aman. Dalam hubungannya dengan refleksi dan dialog, "Fokus Teori Transformasi adalah pada bagaimana kita belajar untuk bernegosiasi dan bertindak pada tujuan kita sendiri, nilai nilai, perasaan, dan makna yang kita miliki secara kritis yang diasimilasikan dari dan pada orang lain”.

Menurut cheng 2 (2000), dalam tulisannya menyatakan bahwa sebagai respon terhadap kebutuhan telah mengajukan pentingnya perubahan paradigma dan reformasi pendidikan menghadapi millennium baru. Paradigma baru pendidikan merupakan pengembangan kecerdasan majemuk dalam Contextualized Multiple Intelligences (CMI), bagi peserta didik menghadapi globalisai, lokalisasi dan individualisasidalam pendidikan menjadi kegiaan inti untuk menciptakan kesempatan yang terbatas dalam pembelajaran serta mengembangkan generasi baru sebgai warga Negara dalam masyarakat local dan desa global yang handal.3

Konteks sosial dalam era globalisasi boleh dikatakan menantang dan penuh ketidakpastian, sehingga diharapkan adanya generasi baru yang harus memiliki berbagai kecerdasan untuk menghadapi berbagai tantangan. Harapannya adalah bagaimana mengembangkan peserta didik untuk menjadi warga Negara dan pemimpin masa depan dalam berbagai aspek kehidupan dan kebangsaan.

2Seorang penulis Yin Cheong Cheng, dengan judulNew Paradigm for Re-enginering Education 3Wowo Sunaryo Kusuma,Filsafat Pendidikan Teknologi, Vokasi dan Kejuruan,(Alfabeta; Bandung, 2013), hlm., 88

(9)

Adapun usulan Cheng mengenai pengembangan teori MKK Pentagon berdasarkan analisis konteks multi kecerdasan dapat dijadikan rekonseptual seperti gambar berikut

Gambar Teori Pentagon Pengembangan Pendidikan Multi Kucerdasan Kontekstual

D. PENDIDIKAN DALAM MENJAWAB KESEMPATAN DAN TANTANGAN GLOBAL

1. Pentingnya Moralitas dalam Pendidikan

Tidak dapat dipungkiri jika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berimplikasi pada tragedi kemerosotan moral sebuah bangsa yang berimplikasi pada maraknya perilaku menyimpang. Sehingga, satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimiliki adalah masyarakat dengan hukum dan peraturanya. Namun pada dasarnya, pengawasan dari masyarakat itu tidak sekuat pengawasan dari dalam diri sendiri yang menyebabkan berani melanggar peraturan-peraturan dan hukum-hukum sosial yang ada.

Konsepsi kepatuhan pada hukum moral mengandung 3 hal penting:4

1. Bidang moralitas berkisar pada tindakan manusia secara sukarela, yaitu tindakan yang merupakan hasil dari keputusan secara sadar.

2. Tindakan tersebut selaras dengan keyakinan seseorang tentang kewajiban yang harus diemban.

4Darmiyati Zuchdi,Humanisasi Pendidikan, (Jakarta; Bumi Aksara, 2009), hlm., 2 Kecerdasan Teknologi Kecerdasan kecerdasan Ekonomi Sosial Kecerdasan Kecerdasan Politik Budaya Kecerdasan pembelajaran

(10)

3. Kewajiban seseorang, apa yang benar dan apa yang baik adalah yang tidak melanggar hukum. Dalam arti universal diatur oleh alam kehidupan manusia dalam masyarakat.

Peka terhadap moral sangat diperlukan dalam rangka pengembangan literasi moral peserta didik. Tidak dapat dipungkiri jika literasi moral tidak terasa karena lembaga pendidikan kurang memiliki tenaga dan waktu untuk mengelolanya bersama peserta didik. Oleh karenanya, sangat dibutuhkan sebuah aksi dalam menumbuhkan kepakaan moral, atau kepekaan berbagai macam peristiwa yang berkaitan dengan nilai-nilai moral.

Adapun komponen literasi moral menurut Tuana (2007), dapat dilihat dari skema berikut:5

Menurut Tuana, ada tiga komponen pengembangan literasi moral, yaitu: peka persoalan moral (ethic sensitivity), keterampilan penalaran rasional (ethical reasoning skill), dan imajinasi moral (moral imagination).

Fungsi lembaga pendidikan mestinya tidak hanya memberikan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan. Fungsi urgen yang lain adalah menciptakan social

5op. cit, Doeni Kusuma A, hlm., 161 Kepekaan Moral Imajinasi Moral Terampil Bernalar Rasional Intensitas Moral Mampu menemukan nilai Berpikir di luar yang biasa Identifikasi nilai Memahami pandangan lain Pemahaman fakta relevan Sudut pandang

moral Analisis situasi

Pesoalan Moral

(11)

setting yang memungkinkan implementasi pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah yang ada dalam masyarakat.

Transformasi moralitas dalam pendidikan hendaknya difokuskan pada kaitan antara pemikiran moral dan tindakan bermoral. Konsepsi moralitas harus berintegrasi dengan pengalaman dalam kehidupan sosial. Namun perlu diingat pula bahwa tindakan moral yang selaras dengan pemikiran moral hanya mungkin dicapai lewat kecerdasan emosional dan spiritual serta pembiasaan.

Sejalan dengan itu, pemerintah dalam hal ini tentunya juga memiliki peran penting. Adanya ulah sebagian elit penguasa yang semata-mata mengejar kedudukan, peluang, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara tidak mendidik, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme yang hingga kini masih terasa. Memperebutkan kekuasaan, mareri dan sebagainya dengan tidak terpuji itu, dengan tidak memperhitungkan dampaknya bagi kerusakan moral bangsa mencerminkan betapa rusaknya dan gagalnya pembinaan moral sebuah bangsa.

Oleh karenanya pemerintah yang diketahui memiliki power, uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya harusnya menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa, serta merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

2. Peran kultur budaya dalam proses adobsi dan transformasi IPTEK

Berbicara mengenai peranan kebudayaan terhadap pembentukan watak manusia/bangsa berarti sedang berbicara mengenai apa yang disebut identitas bangsa. Manusia dilahirkan, tumbuh dan mengenali jati diri dalam lingkup kebudayaan sukunya. Sehingga dapat dikatakan bahwa identitas seorang anak manusia terbentuk di dalam suku/bangsanya. Apabila dia telah memiliki identitasnya, maka dengan mudah dia akan memilih pengaruh-pengaruh dari luar, pengaruh global, budaya global yang memasuki lingkungannya.

Bangsa yang tidak berbudaya akan tidak eksis di dalam dunia yang berubah degan sangat cepatnya. Kekayaan budaya sebuah gangsa akan melahirkan “basic personality” dari suatu masyarakat atau bangsa. Kebudayaanlah yang membentuk watak suku bangsa. Sedangkan manusia yang tidak mempunyai pegangan dan mudah hanyut di dalam arus globalisasi.

Ronald Robertson seorang sosiologi inggris melancarkan konsep glokalisasi. Konsep tersebut menggambarkan jika budaya local dapat dijadikan budaya global,

(12)

bahkan tidak ada budaya global yang tidak lahir dari budaya lokal. Disinilah seharusnya terjadi perpaduan yang saling menguntungkan antara inovasi teknologi berdasarkan ilmu pengetahuan modern dengan unsur-unsur tradisional yang tidak kehilangan nilainya.

Maraknya pemberitaan dari radio atau bacaan dari surat kabar tentang anak-anak sekolah menengah yang ditemukan oleh gurunya atau polisi mengantongi obat-obat, gambar-gambar cabul, alat-alat kotrasepsi seperti kondom dan benda-banda tajam mencerminkan betapa mirisnya kondisi moralitas anak bangsa saat ini. Gajala penyimpangan tersebut terjadi karena pola hidup yang semata-mata mengejar kepuasan materi, kesenangan hawa nafsu dan tidak mengindahkan nilai-nilai agama. Timbulnya sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari derasnya arus budaya matrealistis, hedonistis dan sekularistis. Penyaluran arus budaya yang demikian itu melibatkan dukungan para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan material dan memanfaatkan kecenderungan para remaja, tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan moral. Derasnya arus budaya yang demikian diduga termasuk faktor yang paling besar andilnya dalam menghancurkan moral para remaja dan generasi muda umumnya.

Sebuah pendidikan jika ingin tetap relevan dengan jiwa masyarakatnya, mestinya menghargai dan mengembangkan keutaman local. Ada nilai-nilai kebijaksanaan tertentu yang berlaku dalam sebuah masyarakat, dimana kebijaksanaan tersebut menjadi ruh dalam mengatur interaksi sosial masyarakat setempat. Dengan demikian, setiap wadah transformasi pendidikan harus menanamkanberbagai macam nilai kebijaksanaan/ kearifan local yang hidup dan dianggap sebagai warisan kebudayaan sebuah masyarakat.

3. KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

Pendidikan berkaitan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan, dan aspek-aspek kelakuan lainnya dari generasi ke generasi. Pendidika selain sebagai pengubah dan pembaruan, pendidikan memiliki sisi konservatif dan berusaha mempertahankan status quo demi keutuhan karakter peserta didik serta persatuan dan kesatuan bangsa.

(13)

Konteks globalisasi boleh dikatakan menantang dan penuh ketidakpastian, sehingga diharapkan adanya generasi baru yang memiliki berbagai kecerdasan menghadapi tantangan tersebut.

Nilai-nilai kebijaksanaan dan kearifan yang bersifat local dalam konteks pendidikan sangat diperlukan, agar pendidikan yang tumbuh dan berkembang memiliki akar yang kokoh dalam menyerap pengaruh global yang ada, serta mempertahankan karakter budaya sendiri sekaligus tetap terbuka dan dinamis menerima masukan dari dunia luar pada dimensi universal mengenai pengembangan ilmu dan teknologi yang berkembang.

B. SARAN

Pemerintah yang diketahui memiliki power, uang, teknologi, sumber daya manusia dan sebagainya harusnya menunjukan kemauan yang sungguh-sunguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa, serta merumuskan konsep pembinaan moral bangsa dan aplikasinya secara bersungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Gambar

Gambar Teori Pentagon Pengembangan Pendidikan Multi Kucerdasan Kontekstual

Referensi

Dokumen terkait