Prosiding Psikologi ISSN:

24 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448

241

Studi Deskriptif Mengenai Pengalaman

Flow

dalam Olahraga BMX di

Komunitas Bandung BMX

Descriptive Study of Flow Experience in BMX Sport on Bandung BMX Community

1

Sabanjaka Dwiyanto, 2Hedi Wahyudi

1,2Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116

email: 1jakasaban.sj@gmail.com, 2hediway@yahoo.co.id

Abstract. BMX is one of the extreme sports. This particular sport has a high risk for injury. In addition, BMX is not a cheap sports which means it needs a lot of money to perform BMX activities. Those facts doesn't stop 9 BMX player in Bandung BMX Community who've been in this sport for 6 years in average. Most of BMX players had an experience in both major and minor injuries, and frustration that stopped them, but not for these 9 BMX player. They think that the risks in the BMX sports are something challenging, and they feel like they're able to take control of those challenges. They also feel that BMX activities give them happiness and pleasure. Those players also feel that the way the time passing by while they do BMX is unusual. Those things indicates the existence of flow experience. Flow experience is a condition where individual really focused in their activity so that they can "dissolved" in it. This flow experience consists of 9 dimension, challenge-skill balance, action-awareness merging, clear goals, unambiguous feedback, concentration on the task at hand, sense of control, loss of self-consciousness, transformation of time, and autotelic experience. This flow experience can make BMX players happier. by experiencing flow, their skill can also improved. This research used descriptive study method with 9 BMX players as a subject. The measuring instrument used in this research is Flow State Scale. The results obtained from this study are all nine BMX players experienced flow, with six of them are experienced an intense flow experience. three of them didn't experience the dimension of action-awareness merging, concentration on the task at hand, and loss of self-consciousness.

Keywords: Descriptive, Flow Experience, BMX

Abstrak. Olahraga BMX merupakan salah satu olahraga ekstrim, dimana olahraga ini memiliki resiko cedera yang tinggi, tidak hanya itu, untuk dapat melakukan kegiatan BMX, seseorang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Walaupun begitu, terdapat sembilan orang pemain BMX di komunitas Bandung BMX yang masih menggeluti olahraga ini hingga saat ini. Dari sembilan orang tersebut, rata-rata sudah memiliki pengalaman dalam kegiatan ini selama enam tahun. Tidak sedikit dari para pemain yang pernah mengalami cedera berat dan frustasi hingga berhenti untuk melanjutkan kegiatan ini, namun untuk pemain BMX ini, mereka menganggap bahwa resiko-resiko yang ada di BMX merupakan sesuatu yang menantang dan para pemain juga merasa bahwa mereka mampu menguasai rintangan-rintangan yang ada dan merasa bahwa olahraga ini membuat mereka merasa nikmat dan bahagia, para pemain juga merasakan bahwa seolah-olah waktu yang mereka jalani berjalan tidak seperti biasanya. Hal yang para pemain BMX kemukakan tersebut mengindikasikan adanya pengalaman flow. Pengalaman flow merupakan keadaan dimana seseorang sangat fokus pada aktivitasnya sehingga mereka benar-benar "hanyut" didalam aktivitasnya tersebut. Pengalaman flow ini memiliki sembilan dimensi, yaitu challenge-skill balance,

action-awareness merging, clear goals, unambiguous feedback, concentration on the task at hand, sense of control, loss of self-consciousness, transformation of time, dan autotelic experience. Pengalaman flow ini dapat membuat seseorang merasa bahagia pada satu aktivitas yang dilakukannya, selain itu dengan merasakan pengalaman flow ini, dapat membuat seseorang mengalami peningkatan skill. Penelitian ini menggunakan metode studi deskriptif, dimana memiliki sembilan orang subjek. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Flow State Scale (FSS) yang diberikan kepada para pemain BMX yang sebelumnya mengindikasikan adanya pengalaman flow yang dirasakan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah sembilan orang pemain BMX semuanya mengalami flow, dimana enam orang mengalami flow intens dan tiga orang lagi mengalami flow tidak intens. Dimensi yang tidak dialami oleh pemain yang mengalami flow tidak intens adalah action awreness-merging, concentration on the task at hand dan loss of self-consciousness.

(2)

242 | Sabanjaka Dwiyanto, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

A. Pendahuluan

Bicycle Motorcross atau biasa disebut dengan BMX merupakan salah satu

adeventure sport atau olahraga rekreasi yang berkembang pada saat ini. BMX adalah salah satu olahraga sepeda dimana seseorang melakukan beberapa manuver dan beberapa lompatan, seperti berputar diudara dan melakukan jumping pada skatepark

menggunakan sepeda khusus yaitu BMX.

Dikota Bandung komunitas BMX sudah berdiri selama 6 tahun, dimana 12 orang merupakan pengurus dari komuntas ini sendiri, dari 12 orang pengurus ini, terdapat sembilan orang yang rutin berlatih dan masih aktif untuk berpartisipasi dalam setiap acara BMX.

Para pemain ini mengatakan bahwa bermain BMX dapat menimbulkan perasaan yang nikmat, membuat para pemain merasa tertantang, membuat waktu terasa lebih cepat, merasa dapat berkonsentrasi penuh dan tidak mengiraukan apa yang ada disekelilingnya. Rasa nikmat dan pengalaman menyenangkan yang dirasakan oleh pemain BMX tersebut membuat mereka ingin terus menerus bermain BMX. Penuturan yang diungkapkan oleh para pemain dikomunitas BMX ini mengindikasikan adanya pengalaman flow didalam kegiatan BMX yang dilakukan.

Flow tersebut berhubungan dengan peningkatan pengembangan kemampuan dan performa individu. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan data yang empiric mengenai pengalaman flow pada para pemain BMX dikomunitas Bandung BMX.

B. Landasan Teori

Pengalaman flow menurut Jackson (1995) adalah suatu keadaan optimal ketika individu benar-benar tenggelam dalam tugas dan menciptakan kondisi kesadaran hingga tingkat hasil yang optimal kerap terjadi. Menurut Csikzentmihalyi (1975), flow

adalah suatu sensasi holistik yang terwujud ketika kita melakukan tindakan dengan keterlibatan penuh. Ini merupakan kondisi di mana tindakan demi tindakan berjalan menurut logika internal yang nampaknya tidak memerlukan intervensi kesadaran dalam diri kita. Kita mengalaminya sebagai suatu kesatuan yang mengalir dari satu momen ke momen berikutnya. Kita merasa berada dalam kendali tindakan tersebut, dan dalam hal ini hanya terdapat sedikit perbedaan antara diri dan lingkungan, stimulus dan respon, atau masa lalu dan masa yang akan datang.

Kondisi yang termasuk di dalam flow di antaranya:

1. Merasakan adanya tantangan, atau kesempatan untuk melakukan tindakan, dimana mempunyai pengembangan keterampilan; perasaan di mana salah satu tantangan yang menarik terdapat pada level yang tepat atau cocok dengan salah satu kemampuan yang dimiliki.

2. adanya tujuan yang jelas dan umpan balik segera mengenai kemajuan akan kegiatan yang dilakukan atau diciptakan.

(3)

Studi Deskriptif Mengenai Pengalaman Flow dalam Olahraga BMX di Komunitas Bandung BMX| 243

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

Gambar 1. Model of Flow

Menurut Csikzentmihalyi (1990) pengalaman yang menyenangkan memiliki komponen, yaitu challenge-skill balance, concentration on the task at hand, clear goals, unambiguous feedback, action-awareness merging, loss of self-consciousness, sense of control, transformation of time, dan autotelic experience.

Nakamura dan Csikszentmihalyi (2002) mengklasifikasikan kesembilan dimensi tersebut ke dalam proximal condition dan characteristics of subjective state while being in flow. Yang termasuk proximal condition adalah challenge-skill balance, clear goals, dan unambiguous feedback. Yang termasuk ke dalam characteristics of subjective state while being in flow adalah concentration on the task at hand, action-awareness merging, loss of self-consciousness, sense of control, transformation of time, dan autotelic experience. Masuknya individu ke dalam keadaan flow tergantung kepada terpenuhinya proximal conditions (Nakamura dan Csikszentmihalyi, 2002). Terpenuhinya proximal condition ini kemudian akan membuat individu berada di dalam channel flow di dalam model of flow. Terpenuhinya proximal conditions tersebut akan memicu munculnya dimensi-dimensi yang termasuk ke dalam characteristics of subjective state while being in flow.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Dari data yang sudah diperoleh, maka mendapatkan hasil dari pengolahan data mengenai flow pada pemain BMX : Konsumen akan lebih memilih suatu produk yang lebih dikenalnya atau diketahuinya, dibandingkan dengan membeli suatu produk yang belum pernah dikenalnya sama sekali. Untuk menimbulkan kesadaran merek pada konsumen dibutuhkan suatu stimulus atau hal-hal yang dapat merangsang munculnya kesadaran merek tersebut. Melalui iklan tersebut dan terciptanya pembeda tersebut dapat memunculkan untuk melakukan keputusan pembelian dikarenakan konsumen merasa tertarik dengan promosi yang dilakukan perusahaan.

D. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan beberapa hasil penelitian sebagai berikut:

(4)

244 | Sabanjaka Dwiyanto, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

Tabel 1. Kategori flow Bandung BMX

Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Hasil

A Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Flow

B Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

C Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

D Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

E Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

F Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

G Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Flow

H Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

I Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Flow

Keterangan

:

3. Dimensi challenge-skill balance Flow : Intens 4. Dimensi action-awareness merging Flow : Tidak Intens 5. Dimensi clear goals

6. Dimensi unambiguous feedback

7. Dimensi concentration on the task at hand

8. Dimensi sense of control

9. Dimensi loss of self-consciousness

10. Dimensi transformation of time

11. Dimensi autotelic experience

Berdasarkan tabel diatas didapatkan data bahwa sebanyak sembilan orang pemain BMX yang masih aktif bermain mengalami flow. Seluruh pemain BMX mengalami pengalaman flow, namun dari sembilan orang pemain terebut enam diantaranya mengalami pengalaman flow intens yaitu dengan seluruh dimensi yang tinggi (chellenge-skill balance, action-awareness merging, clear goals, unambiguous feedback, concentration on task, sense of control, loss of self-consciousness, transformation of time dan autotelic experience) dan tiga orang lainnya mengalami pengalaman flow tidak intens, dimana satu orang tidak mengalami dimensi loss of self-consciousness dan satu orang pemain lagi tidak mengalami dimensi action-awareness merging dan dimensi concentration on the task.

E. Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan akan dikemukakan saran yang dapat dipertimbangkan oleh para pemain Bandung BMX yang menjadi subjek dari penelitian ini, yaitu :

Saran Teoritis

1. Untuk penelitian selanjutnya dapat difokuskan untuk membedakan secara jelas antara perilaku yang tampak pada para pemain yang mengalami flow intens dan

(5)

Studi Deskriptif Mengenai Pengalaman Flow dalam Olahraga BMX di Komunitas Bandung BMX| 245

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

Saran Praktis

1. Satu pemain BMX yang mengalami flow tidak intens pada action-awareness merging, disarankan untuk lebih berkonsentrasi lagi dalam melakukan aktivitas BMX, sehingga gerakan-gerakan yang dilakukan dapat terjadi secara spontan dan otomatis.

2. Satu pemain BMX yang mengalami flow tidak intens pada loss of self-consciousness, disarankan untuk dapat menghilangkan pikiran-pikiran mengenai penilaian orang lain terhadap apa yang ditampilkan oleh dirinya, sehingga pemain dapat merasakan dimensi loss of self-consciousness.

3. Satu pemain BMX yang mengalami flow tidak intens pada concentration on the task at hand dan dimensi loss of self-consciousness, disarankan untuk lebih lebih fokus terhadap aktivitas BMX yang dilakukannya dan menghilangkan pikiran-pikiran mengenai penilaian orang lain terhadap apa yang ditampilkan oleh dirinya, sehingga pemain BMX tersebut dapat merasakan dimensi

concentration on the task at hand dan dimensi loss of self-consciousness.

.

Daftar Pustaka

Asakawa, K. (2004). Flow experience and autotelic personality in Japanese College Students: How do they experience challenges in daily life? Journal of Happiness Studies

Carpentier, J., Mageau, G. A., & Vallerand, R. J. (2011). Ruminations and Flow : Why Do People with a More Harmonious Passion Experience Higher Well-Being? Springer Science+Business Media B.V.

Compton, W. (2005). An Introduction To Positive Psychology. USA : Thomson Wadsworth.

Cox, R. H.. (2002). Sport Psychology : Concept and Application Fifth Edition. New York: Mcgraaw Hill

Csikszentmihalyi, M. (1975). Beyond boredom and anxiety. San Fransisco: Jossey-Bass _____ . (1990). Flow: The psychological of optimal experince. New York: Harper &

Row.

_____ . (1997). Finding flow: The psychology of engagement with everyday life. New York: Basic Book.

_____ . & Csikszentmihalyi, L. (Eds.). (1988). Optimal experience: Psychological studies of flow in consciousness. New York: Cambridge University Press.

Chairunisa, I. (2012). Skripsi : Deskriptif Pengalaman Flow Dalam Olahraga Slalom Inline Skate. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung

Media, D. E. (2015). Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai Pengalaman Flow Dalam Olahraga Parkour. Bandung: Fakultas psikologi Universitas Islam Bandung Lazuardy, P. (2016). Skripsi : Studi Deskriptif Mengenai Pengalaman Flow Dalam

Olahraga Skateboarding di Komunitas Pasopati Under The Bridge Bandung. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung

(6)

Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448

246

Studi Deksriptif Mengenai Sumber Stres Kerja pada Karyawan

Departemen Produksi PT “D” Majalengka

Descriptive Study About Work Stress Perceived by The Employees Of Production Departement In “D” Company

1

Aeni Purnamasari 2 Hasanuddin Noor

1,2 Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No. 1 Bandung 40116

e-mail : 1 aenips@gmail.com, 2 hasanudinnoor0611@gmail.com

Abstract.“D” Company is a company which focuses on manufacturing shoes. For this reason, Production

department is the most vital department in this company. The duty of production department employees is to make an upper from the cutting process to stitching process. All of the duties in this department are done by the operators who are selected through several selection processes, namely: psycho test, interview, medical check-up and skill training. Nevertheless, the productivity of the employees is still far from the company’s expectation. Each day, there are only 3 until 5 from 11 lines that reach the target and the amount of faulty work are increasing as well. The result of the interview showed that the behavior data of the employees indicated workplace stress. This condition portrayed the sources of stress perceived by the employees during the work. The purpose of this research was to observe the portrayal of the sources of workplace stress perceived by the employees who worked at production department in “D” Company Majalengka. This research used descriptive study. The population of the research was the employees of production department in “D” Company which were about 1.034 people with 155 employees as the samples of the research. The instrument used in this research was a questionnaire related to the sources of workplace stress designed by the researcher based on the theory from Ivancevich dan Matteson (1980). The result of this research could be concluded that the biggest factor which considered as the source of workplace stress by production department employees were workplace stress associated with the individual (83.8%) and teamwork (64.5%).

Keywords: Work Stress, Employees of Production Departement

Abstrak. PT “D” adalah perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan sepatu. Departemen produksi merupakan ujung tombak perusahaan. Tugas karyawan departemen produksi adalah membuat upper dari proses cutting hingga stiching. Seluruh pekerjaan produksi sepenuhnya dikerjakan oleh operator yang telah melalui proses seleksi, yaitu psikotes, interview, medical check up serta pelatihan skill. Pada kenyataannya produktivitas karyawan masih jauh dari harapan perusahaan. Setiap hari hanya 3-5 dari 11 line yang dapat mencapai target serta jumlah kesalahan pekerjaan semakin meningkat. Dari hasil wawancara ditemukan data tingkah laku karyawan yang merupakan indikasi dari dampak stres kerja. Kondisi ini menggambarkan adanya sumber-sumber stres yang menyebabkan munculnya stressor pada perusahaan yang dirasakan karyawan saat bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran sumber stres kerja pada karyawan departemen produksi PT “D” Majalengka. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi deskripif. Populasi penelitian ini adalah karyawan departemen produksi PT “D” sebanyak 1034 orang dengan sampel penelitin sebanyak 155 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner sumber stres kerja yang dirancang oleh peneliti berdasarkan teori Ivancevich dan Matteson (1980).Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling besar dianggap sebagai sumber stres kerja oleh karyawan departemen produksi adalah sumber stres yang berasal dari individu (83,8%) serta sumber stres berasal dari kelompok (64,5%).

Kata Kunci: Stres Kerja, Karyawan Departemen Produksi

A. Pendahuluan

PT “D” adalah perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan sepatu. Departemen produksi merupakan ujung tombak perusahaan, dimana tugas karyawan departemen produksi adalah membuat upper dari proses cutting hingga stiching. Seluruh pekerjaan produksi sepenuhnya dikerjakan oleh operator yang telah melalui proses seleksi, yaitu psikotes, interview, medical check up serta pelatihan skill. Melihat dari proses seleksi yang ketat, skill yang sangat diperhatikan, karyawan yang

(7)

Studi Deksriptif Mengenai Sumber Stres Kerja pada Karyawan Departemen ...| 247

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

dierima dianggap mampu melaksanakan tuntutan yang diberikan. Namun panya kenyataannya produktivitas karyawan masih jauh dari harapan perusahaan. Setiap hari hanya 3-5 dari 11 line yang dapat mencapai target serta jumlah kesalahan pekerjaan semakin meningkat. Dari hasil wawancara ditemukan data tingkah laku karyawan yang merupakan indikasi dari dampak stres kerja, yaitu karyawan sulit konsentrasi saat bekerja, mudah lelah saat bekerja, sakit kepala, sulit tidur. Selain itu mereka merasa menjadi lebih mudah tersinggung dengan hal-hal yang biasa tidak membuat mereka tersinggung. Kondisi ini menggambarkan adanya sumber-sumber stres yang menyebabkan munculnya stressor pada perusahaan yang dirasakan karyawan saat bekerja.

Berdasarkan uraian diatas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimana gambaran sumber stres kerja karyawan departemen produksi PT “D” Majalengka?”. Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan data empiris mengenai sumber stres kerja pada karyawan departemen produksi PT “D” Majalengka.

B. Landasan Teori

Persepsi

Persepsi merupakan suatu kegiatan yang menyangkut adanya penyeleksian, pengorganisasian, serta pemberian makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan. Setiap individu akan menerima rangsang dari beberapa stimulus, yang kemudian rangsang tersebut akan diterima oleh panca indera. Reaksi individu terhadap rangsang yang diterima bergantung pada proses seleksinya dan pada akhirnya akan timbul penilaian atau pengertian terhadap rangsang tersebut.

Stres Kerja

Menurut Ivancevich dan Matteson (1980) stres kerja yaitu suatu tekanan yang muncul dan disebabkan oleh faktor-faktor yang ada di lingkungan kerja. Kondisi-kondisi yang menyebabkan stres disebut stressor. Hampir setiap kondisi pekerjaan bisa menyebabkan stres dimana tergantung pada reaksi pekerja. Ivancevich dan Matteson (1980) membagi sumber-sumber stres kerja dalam lingkungan pekerjaan sebagai berikut : 1) sumber stres yang berasal dari lingkungan fisik, 2) sumber stres yang berasal dari tingkat individu, 3) sumber stres yang berasal dari kelompok, 4) sumber stres yang berasal dari organisasi. 1) sumber stres yang berasal dari lingkungan fisik mengacu pada kondisi fisik dalam lingkungan dimana pekerja harus beradaptasi untuk memelihara keseimbangan dirinya. Stres yang bersumber dari lingkungan fisik disini antara lain: kondisi penerangan atau cahaya, temperatur, tingkat kebisingan, udara yang terpolusi, getaran dan gerakan. 2) Sumber stres yang berasal dari tingkat individu, yaitu stres yang berkaitan dengan peran yang dimainkan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan sehubungan dengan posisi seseorang di lingkungan kerjanya. Hal tersebut meliputi : konflik peran, peran yang rancu, beban kerja berlebih, tanggung jawab terhadap orang lain, kesempatan mengembangkan karir. 3) Sumber stres yang berasal dari kelompok, stres disini bersumber dari hasil interaksi individu-individu dalam suatu kelompok yang disebabkan perbedaan-perbedaan diantara karyawan, baik perbedaan sosial ataupun psikologis. Hal tersebut meliputi : hilangnya kekompakkan kelompok, tidak adanya dukungan yang memadai, konflik intra dan inter kelompok. 4) Sumber stres yang berasal dari organisasi timbul dari keinginan-keinginan perusahaan sehubungan dengan pencapaian tujuan perusahaan itu. Hal tersebut meliputi : iklim organisasi, struktur organisasi, teritori organisasi, teknologi,

(8)

248 | Aeni Purnamasari, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

pengaruh pimpinan.

Apabila individu telah mengalami stres maka akan timbul beberapa dampak stres. Bradley & Cox (dalam Ivancevich dan Matteson, 1980) telah mengidentifikasikan dampak dari stres yang mungkin muncul, yaitu: a) Subyektive Effects: Cirinya antara lain anxiety, agresi, apathi, kebosanan, depresi, kelelahan, frustasi, kehilangan kesabaran, penghargaan diri yang rendah, kegelisahan, kecemasan dan perasaan sendiri. b) Behavioral Effects: Meliputi keseringan mengalami kecelakaan, alkoholoisme, penggunaan obat-obatan, ledakan-ledakan emosional, makan secara berlebih atau kurang, merokok secara berlebihan dan menampilkan tingkah laku impulsif. c) Cognitif Effects: konsentrasi yang rendah, rentang atensi yang rendah, sangat sensitif terhadap kritik dan kemerosotan mental. d) Phisiological Effects: Ditandai oleh peningkatan kadar gula darah, kekeringan pada mulut, kerap berkeringat, pembesaran pupil mata, peningkatan detak jantung dan tekanan darah. e)

Health Effects: antara lain sakit kepala dan migrain, mimpi buruk, sulit tidur (insomnia), gangguan pencernaan, sering buang air kecil. f) Organizational Effects:

Angka absensi, produktivitas rendah, terasing dari mitra kerja, ketidakpuasan kerja, komitmen organisasi, loyalitas berkurang dan pergantian karyawan tinggi.

C. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Diagram 1. Persepsi Karyawan terhadap Sumber Stres

Berdasarkan hasil statistik, karyawan mempersepsi negatif terhadap sumber stres kerja yang berasal dari lingkungan fisik yaitu sebanyak 32 orang (20,6%), dari tingkat individu sebanyak 130 orang (83,8%), dari tingkat kelompok sebanyak 100 orang (64,5%), dan dari tingkat organisasi sebanyak 97 orang (62%). Hal ini menggambarkan bahwa karyawan mempersepsi, menilai dan memaknakan sumber stres yang berasal dari tingkat individu sebagai faktor yang paling mengancam, sedangkan karyawan menilai bahwa lingkungan fisik merupakan faktor yang memiliki tingkatan yang paling rendah sebagai faktor yang mengancam bagi dirinya dalam pekerjaan.

Suatu situasi dimaknakan sebagai stressor, jika situasi tersebut dinilai sebagai situasi yang upaya pemenuhannya tidak seimbang dengan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melakukan penyesuaian terhadap tuntutan yang muncul dari situasi tersebut. Tuntutan yang dimaksud adalah sesuatu hal yang jika tidak dipenuhi akan menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan bagi individu. Situasi yang dimaksudkan adalah kondisi kerja karyawan, yang meliputi lingkungan fisik, tingkatan individu, kelompok, dan organisasi. Berdasarkan penjelasan diatas, maka diperoleh

(9)

Studi Deksriptif Mengenai Sumber Stres Kerja pada Karyawan Departemen ...| 249

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

suatu gambaran bahwa kondisi kerja karyawan operator departemen produksi, dinilai dan dihayati sebagian dari mereka sebagai tuntutan yang tidak seimbang dengan kemampuan yang dimilikinya. Aspek sumber stres yang dipersepsi negatif paling tinggi yaitu sumber stres kerja dari individu, yaitu stres yang berkaitan dengan peran yang dimainkan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan sesuai posisinya dilingkungan kerja. Karyawan merasa terbebani dengan pekerjaan mereka. Penghayatan karyawan tentang pekerjaan mereka yaitu mereka merasa terbebani dikarenakan target yang terlalu tinggi dengan waktu yang sempit serta komponen yang mereka kerjakan sifatnya rumit dan berkelanjutan. Setiap hari target yang harus dicapai karyawan semakin meningkat. Karyawan merasa kesal karena target yang ditentukan tidak disesuaikan dengan waktu yang tersedia dan jumlah man power.

Hampir setiap hari karyawan diharuskan lembur untuk mencapai target. Jenis pekerjaan mereka yang sama setiap harinya, disatu sisi membuat karyawan semakin menguasai pekerjaan mereka tapi disisi lain mereka menjadi bosan dengan pekerjaan mereka yang berulang ulang. Disisi lain lagi, ketika mereka bekerja selalu berada di meja kerja mereka dan tidak bisa meninggalkannya. Mereka menganggap pekerjaan ini sebagai suatu hal yang monoton. Selain itu mereka juga merasa terbebani karena material komponen yang dikerjakan merupakan material yang mahal dan berkualitas tinggi. Karena target yang tinggi karyawan dituntut bekerja dengan cepat. Jika mereka bekerja dengan cepat, kehati-hatian mereka berkurang dan ketika mereka hati-hati, mereka bekerja dengan lamban. Hal ini membuat karyawan merasa khawatir dan cemas ketika bekerja karena mereka harus bekerja dengan cepat tanpa melakukan kesalahan. Tuntutan tanggung jawab yang tinggi dirasakan oleh karyawan. Ketika mereka mengerjakan komponen, mereka selalu memikirkan bahwa ketika komponen mereka gagal, maka diperlukan rework dan apabila komponen tersebut reject mereka akan merasa semakin terbebani karena ketika mereka melakukan kesalahan lalu komponen tersbut harus rework maka cost produksi akan semakin meningkat dan akan menghambat proses selanjutnya. Reject dan rework akan langsung dicatat oleh atasan mereka karena telah menambahkan cost produksi dan akan membuat pernyataan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Karyawan membuat pernyataan tersbut jika mereka sudah melakukan kesalahan sampai 3 kali. Pernyataan tersebut akan disimpan selama 6 bulan dan setiap karyawan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengerjakan setiap komponen untuk kesempurnaan upper yang diproduksi. Tingginya tuntutan kerja serta tanggung jawab karyawan operator sebagai kelangsungan hidup perusahaan tidak didukung oleh kesempatan untuk mengambangkan karir yang ditawarkan perusahaan. Hal-hal diatas yang telah dijelaskan menjadi kendala dan tuntutan yang menyebabkan karyawan mempersepsi negatif sumber stres dari tingkat individu.

Sumber stres yang paling rendah dipersepsi negatif oleh individu adalah sumber stres yang berasal dari lingkungan fisik. Sumber stres ini mengacu pada kondisi fisik dalam lingkungan dimana karyawan harus beradaptasi untuk memelihara keseimbangan dirinya. Pada aspek ini, kebisingan menjadi salah satu faktor yang menimbulkan stres kerja. Menurut Ivancevich dan Matteson (1980) bahwa tingkat kebisingan ditembat kerja maksimal 80db, jika kondisi ini berulang-ulang didengar maka akan menimbulkan stres pada karyawannya. Hal ini berati semakin lama karyawan bekerja, maka mereka menjadi semakin sering merasakan kebisingan yang berada diluar ambang batas toleransi (NAB). Dengan demikian karyawan operator departemen produksi PT “D” ini semakin sering berada dalam situasi dimana kebisingan tidak dapat mereka atasi. Maka kesenjangan yang terus menerus terjadi muncul menjadi stres kerja yang tinggi karena kemampuan daya tahan telinga untuk menerima

(10)

250 | Aeni Purnamasari, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

kebisingan tidak mungkin untuk ditingkatkan karena hal itu bersifat bawaan. Kondisi kerja menurut Cooper (dalam Jacinta, 2002) menyatakan bahwa kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadai, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja yang kurang bersih, padat, berisik besar pengaruhnya pada kenyaman bekerja karyawan. Tetapi, dengan adanya persepsi negatif paling sedikit pada sumber stres lingkungan fisikmenunjukkan bahwa karyawan sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kerja mereka. Mereka bisa mengatasi hal-hal yang menyebabkan kondisi lingkungan fisik menjadi sumber stres kerja.

Dari hal tersebut maka karyawan departemen produksi PT “D” menganggap kondisi yang berasal dari individu sebagai sesuatu yang mengancam dan kondisi tersebut dalam upaya pemenuhannya tidak seimbang dengan kemampuan yang dimiliki untuk melakukan penyesuaian terhadap tuntuan yang muncul. Sedangkan untuk kondisi lingkungan fisik, karyawan sudah mampu beradaptasi sehingga hal tersebut tidak dianggap sebagai stressor.

D. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Sumber stres yang berasal dari individu paling banyak dipersepsi negatif oleh karyawan operator departemen produksi PT “D”, terutama pada indikator beban kerja berlebih serta kesempatan mengambangkan karir. 2) Sumber stres yang berasal dari kelompok kedua paling banyak dipersepsi negatif oleh karyawan operator departemen produksi PT “D”, terutama pada dukungan kelompok dan hilangnya kekompakkan.

E. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dilkaukan, terdapat beberapa hal yang menjadi saran yang diharapkan bermanfaat bagi pihak yang erkait dalam penelitian ini : 1) Dilakukan penambahan karyawan di bagian produksi sebagai penyesuaian terhadap jumlah target yang harus diselesaikan. 2) Memberikan pelatihan untuk memfasilitasi anggota organisasi dalam membangun pola kerja yang sesuai dengan tuntuan tugas.

Daftar Pustaka

Cooper, C. L. & Marshall,J. (1987). Understanding Executive Stress, London : The Macmillan Press Ltd.

Cooper, C. L., & Marshall, J. (1976). Occupational sources of stress: A review of the literature relating tocoronary heart disease and mental ill health. Journal of Occupational Psychology

Cox, Tom. (1978). Stress. London : The Macmillan Press Ltd.

Ivancevich, J. M. & M. T. Matteson. (1980). Stress at Work. Glenview Illinois: Scott Foresman.

Luthans, Fred. (2006). Perilaku Organisasi, (Alih Bahasa V.A Yuwono, dkk), Edisi Bahasa Indonesia, Yogyakarta: ANDI.

Noor, H. (2009). Psikometri, Aplikasi Dalam Penyusunan Instrumen Pengukuran Perilaku). Bandung : Jauhar Mandiri.

Robbins, S.P. (2003). Perilaku Organisasi, Jilid 2, Terjemahan, Jakarta: PT. Indeks. Selye, H. Dalam Gold Berger, & Brezvitz. (1982). HandBook of Stress. London : Coller

Macmillan Publisher

Sudjana. (1986). Metode Statistika. Bandung : Tarsito

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D. Bandung : Alfabeta.

(11)

Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448

251

Studi Deskriptif Mengenai

Leadership

pada Siswa Kelas XII di SMAIT

Miftahul Khoir Bandung

A Descriptive Study of Leadership on Grade XII Students of SMAIT Miftahul Khoir Bandung

1

Linda Purnamawati, 2Susandari

1,2Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116

email: 1lindapurnamawt@gmail.com , 2susandari@ymail.com

Abstract: SMAIT Miftahul Khoir Bandung is a Islamic integrated private high school motivating leadership skills to students. In order to develop students leadership character based on University Illinois USA’s theory there are 7 leadership skills, however not all of students take advantage of their program so they show various level of the skills instead. The purpose program of this research is to get empirical data of leadership’s towards grade XII students of SMAIT Miftahul Khoir Bandung. The method in this research was is descriptive with total subjects 8 students. The measurement was questionnaires based on leadership theory by University Illinois USA, consist 99 valid items with reliability value 0,985 the result shows that Communication skill, Getting Along with Others skill, and Management skill are on the highest category with 100% for each percentage (8 students) and high Understanding-Self skill, Learning To Learn skill, Decision Making skill, and Team Work skill have percentage of 87,5% (7 students), while each medium said skill has percentage of 12,5% (1 student). The highest mean skill is Getting Along with Others skill and the lowest is Decision Making skill.

Keywords: Character Leadership, Miftahul Khoir Bandung, Islamic Integrated School

Abstrak: SMAIT Miftahul Khoir Bandung merupakan sekolah yang memberikan materi kepemimpinan selama tiga tahun kepada siswa. Hal tersebut agar membentuk karakter kepemimpinan pada siswa dan teori yang diacu oleh sekolah adalah kepemimpinan menurut University Illinois USA yang memiliki 7 skills. Kenyataanya tidak semua siswa memanfaatkan kegiatan tersebut untuk membentuk karakter kepemimpinan. Sehingga skills yang dimunculkan beragam. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh data empiris gambaran leadership siswa kelas XII SMAIT Miftahul Khoir Bandung. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan jumlah subjek 8 siswa. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner berdasarkan teori kepemimpinan dari University Illinois USA. Berdasarkan norma Croncbach’s

Alpha, alat ukur tersebut memiliki 99 item valid dengan nilai reliabilitas 0,985 artinya derajat keterandalannya sangat tinggi. Berdasarkan pengolahan data menggunakan analisis deskriptif dengan statistik presentase dan distribusi frekuensi, diperoleh data bahwa pada Communication skill, Getting Along With Others skill, dan Management skill ada pada kategori tinggi sebanyak 100% (8 siswa) dan

Understanding-Self skill, Learning To Learn skill, Decision Making skill, dan Team Work skill yang tinggi sebanyak 87,5% sedangkan yang sedang sebanyak 12,5%. Berdasarkan mean, skill yang paling berkembang adalah Getting Along With Othersskill dan yang kurang berkembang adalah Decision Making skill.

Kata Kunci: Character Leadership, Miftahul Khoir Bandung, Sekolah Islam Terpadu

A. Pendahuluan

SMAIT Miftahul Khoir Bandung. SMAIT Miftahul Khoir Bandung tersebut didirikan pada tahun 2002. Penerimaan siswa di sekolah tersebut tidak dibatasi oleh NEM ataupun kriteria tertentu, sehingga setiap siswa memiliki hak yang sama untuk dapat bersekolah di SMAIT Miftahul Khoir. Siswa yang baru masuk SMAIT Miftahul Khoir, ada yang tidak rajin belajar, selalu telat masuk sekolah, suka mengeluh, tidak terima dengan keadaannya dan sebagainya. Selain itu sifat yang terdapat pada siswa tingkat awal, mereka hanya memikirkan dirinya sendiri dan sulit bersosialisasi dengan temannya, siswa sulit beradaptasi dengan kegiatan yang berada di sekolah, bahkan siswa merasa bahwa kegiatan yang berada di sekolah tersebut berat untuk dilakukan. Selain itu, didalam pembelajaranpun, masih banyak siswa yang

(12)

252 | Linda Purnamawati, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

malas-malasan. Siswajuga masih ada yang tidak mengumpulkan tugas tepat waktu. Siswa juga belum memiliki sifat mandiri. Ketika didalam kelompokpun hanya siswa tertentu yang mendominasi, namun sebagiannya hanya diam. Siswa juga banyak yang mengeluh ketika mereka berkelompok dengan siswa yang tidak disukainya. Ketika mengambil keputusan, anggota kelompok mengikuti pendapat siswa yang dominasi. Ketika melakukan penyusunan laporan maupun presentasi laporan, siswa masih terpaku dengan teks sehingga bahasa yang digunakan kurang tepat. Ketika berbicara dengan teman sebaya pun masih ada yang berbicara kasar, terutama anak laki-laki.

SMAIT Miftahul Khoir memiliki kurikulum muatan lokal kepemimpinan dan kewirausahaan. Pembentukan kurikulum muatan lokal kepemimpinan dan kewirausahaan mengacu berdasarkan salah satu misi dari SMAIT Miftahul Khoir Bandung, yaitu sebagai siswa mandiri (mampu dalam mengambil keputusan, menjadi menejer dalam pembelajaran, bekerjasama). Selain itu, menurut salah satu guru di Miftahul Khoir, sebagai pemeluk agama Islam, umat Islam harus menjadi seorang

khalifah yang berarti pemimpin. Pembekalan kepemimpinan ini, dengan diberikan materi dalam mata pelajaran kepemimpinan yang mengenai 7 skills seorang pemimpin, yaitu mengenal serta Understanding-Self, Communication, getting Along With Others,

Learning To Learn, Decision Making, Management, dan Team Work. Praktek dalam kepemimpinan tersebut dilakuan dalam kegiatan-kegiatan yang dikembangkan oleh sekolah. Kegiatan tersebut merupakan character building.

Pada pembelajaran dilakukan berbeda dengan sekolah biasa. Selain hanya memberikan materi, guru juga membentuk sebuah kelompok untuk mengaplikasikan materi yang telah dijelaskan dengan cara berdiskusi menyelesaikan kasus, membuat alat penelitian, maupun bermain games. Setelahnya siswa-siswi harus melaporkan hasil dari praktek yang telah dilakukan secara tertulis maupun lisan (presentasi). Selain itu, guru juga memberikan film atau cerita inspiratif yang berkaitan dengan materi. Selain dari kegiatan yang dilakukan sehari-hari disekolah, Kurikulum terpadu bermuatan kepemimpinan dan kewirausahaan juga diajarkan melalui program-program yang telah dibuat. Nature Research ini adalah acara puncak yang diadakan diluar sekolah dan diadakan di setiap semester genap. Penelitian dilakukan selama satu minggu. Sebagai puncaknya siswa dapat membuktikan skill yang telah terbentuk selama ini dari kegiatan sehari-hari disekolah. Kegiatan yang dilakukan sama seperti kegiatan sehari-hari disekolah, yaitu dibuat kelompok dan membuat alat penelitian. Namun mereka harus mencari dan memanfaatkan barang bekas sendiri untuk membuat alat sesuai penelitian yang akan dilakukan. Selain itu siswa juga diberikan kebebasan dalam memilih literatur dalam penelitian mereka. Mereka juga harus mengumpulkan laporan dengan deadline tiga hari setelah penelitian dan siswa melakukan presentasi, namun presentasi dalam acara puncak ini dilakukan didepan dua penguji. Presentasi tersebut biasa disebut sebagai sidang laporan ilmiah. Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang dilakuan sekolah, dapat menunjukan gambaran leadership siswa kelas XII.

Leadership menurut teori yang digunakan oleh sekolah SMAIT Miftahul Khoir Bandung (Study of Illinois University) bahwa sebagai seorang pemimpin memiliki 7 skills

sesuai dengan kurikulum muatan lokal kepemimpinan dan kewirausahaan.Dengan dilakukan kegiatan-kegiatan yang berada di sekolah selama 3 tahun secara kontinum kepada siswa/siswi SMAIT Miftahul Khoir Bandung, terjadi perubahan perilaku kepada siswa tingkat akhir yang diharapkan oleh sekolah. Perubahan perilaku tersebut berdasarkan 7 skills kepemimpinan yang akan memunculkan karakter leadership yang ada pada setiap siswa.

(13)

Studi Deskriptif Mengenai Leadership pada Siswa Kelas XII di SMAIT Miftahul Khoir Bandung | 253

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

B. Landasan Teori

Kepemimpinan adalah upaya membantu diri sendiri atau orang lain mencapai suatu tujuan. Seorang pemimpin harus mampu melihat situasi dan mencari jalan pemecahan yang tepat (Study Of Illinois USA). Terdapat 5 jenis keyakian mengenai kepemimpinan, yaitu: (1) Kepemimpinan itu dapat dipelajari sama halnya dengan keahlian yang lain. Kepemimpinan ini meliputi skills pribadi maupun skills antar pribadi. Pemimpin juga harus dapat menyadari potensi dan memanfaatkan potensi dirinya itu dengan tepat. (2) Kepemimpinan merupakan proses memberikan bantuan atau bimbingan baik kepada seseorang atau kepada kelompok orang. Seorang pemimpin sejati kan lebih menekankan tercapainya suatu tujuan. Jadi tindakannya bukan dilandasi keinginan untuk memperoleh penghargaan dari orang yang ditolongnya. (3) Keahlian pemimpin itu dapat dipecah-pecah dalam unit-unit yang lebih kecil. Dengan demikian seseorang dapat memilih unit-unit keahlian memimpi yang cocok dengan dirinya, Dan tidak seorangpun yang mampu menjadi ahli dalam setiap unit seumur hidupnya. (4) Kepemimpinan adalah hubungan antar manusia. Keahlian ini merupakan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. Selain cara berinteraksi, keahlian ini juga meliputi tingkat kepekaan seseorang terhadap kebutuhan orang lain. Sebab keahlian memimpin ang dimiliki seseorang tidak akan ada artinya jika tidak dapat memanfaatkan oleh orang lain. (5) Kepemimpian harus ditampilkan pada waktu dan tempat yang tepat. Setiap pemimpin memiliki masa tertentu utuk diakui sebagai pemimpin. Waktu dan tempat yang tepat ini sangat ditentukan oleh adanya interaksi antara pemimpin, anggota kelompok, dan tujuan bersama. Untuk mencapai hasil terbaik, semua unsur harus bekerja sama, yaitu anggota kelompok, situasi yang menunjang, dan keahlian yang dimiliki si pemimpin.

Untuk menjadi pemimpin yang baik, seseorang harus menguasai berbagai keahlian khusus. Keahlian ini akan sangat bermanfaat bagi kehidupan seseorang. Karena manfaat inilah dinamai kesahlian memimpin dalam kehidupan seseorang. Keahlian ini terbagi dalam tujuh keahlian/skills, yaitu:(1) Understanding-Self: Memahami dan mengembangkan perilaku positif dirimu, mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai, dan juga mengetahui apa yang ingin dicapai kemudian hari. (2)

Communication: Cara membagi informasi dua arah secara efektif melalui tulisan, pendengaran, pembicaraan, dan isyarat tubuh. (3) Getting Along With Others: Mengembangkan suatu pemahaman tentang cara berhubungan dengan orang lain baik secara perorangan maupun kelompok. Juga mengembangkan sikap menerima dan menghargai perbedaan yang ada antara dirimu dengan orang lain. (4) Learning To Learn: Memahami keahlian dan metode yang dapat mempermudah proses belajar. Selain itu mengasah keahlian agar semakin mampu memperluas kesempatan belajar. (5) Decision Making: Mempelajari berbagai tingkah laku dan pendekatan dalam upaya menetapkan tujuan, memecahkan masalah, dan melakukan tindakan baik secara perorangan maupun kelompok. (6) Management (Menejemen): Memilih dan memanfaatkan berbagai sumberdaya yang tersedia sebagai prasarana dalam meraih tujuan. Selain itu meliputi juga keahlian mengidentifikasi sumberdaya yang terdiri dari waktu, benda, orang atau uang, dan bagaimana mengunakannya secara efektif. (7)

Team Work: Mempelajari cara kelompok orang bekerja sama dan cara membantu kelompok itu meraih tujuannya.

(14)

254 | Linda Purnamawati, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

C. Hasil dan Pembahasan

Penelitian Leadership yang dilakukan di SMAIT Miftahul Khoir Bandung ini menggunakan uji validasi Penelitian ini menggunakan validitas konstak karena alat ukur yang digunakan untuk memperoleh data mengenai variabel dibuat berdasarkan konsep teori dari variabel tersebut kemudian diturunkan menjadi item-item. Keseluruhan item atau total item itulah yang menjadi alat ukur variabel tersebut.

Berikut adalah hasil penelitian mengenai leadership pada siswa kelas XII di SMAIT Miftahul Khoir Bandung:

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Leadership Understa nding-Self Communi- cation Getting Along With Others Learning To Learn Decision Making Managemen t Team Work Tinggi 87,5 % 100 % 100 % 87,5 % 87,5 % 100 % 87,5 % Sedan g 12,5 % 0 % 0% 12,5 % 12,5 % 0 % 12,5 Renda h 0 % 0 % 0 % 0 % 0 % 0 % 0 %

Tingkah laku yang menjadi objek leadership dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMAIT Miftahul Khoir Bandung yang telah mengikuti kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh sekolah selama 3 tahun. Sebelumnya siswa tersebut memilih SMAIT Mifthul Khoir dengan berbagai alasan dan berbagai karakteristik. Alasan tersebut seperti karena keinginan orang tua siswa yang menginginkan anaknya mendapatkan ilmu agama lebih, karena tidak diterima di sekolah negeri, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang diberikan oleh sekolah, merupakan kegiatan yang menunjang dalam pembentukan karakter kepemimpinan siswa, sehingga setelah menjadi alumni, siswa memiliki bekal untuk menjadi seorang pemimpin. Islam menaruh perhatian yang besar untuk menjadikan umat-Nya sebagai seorang khalifah

atau pemimpin. Hal ini didasarkan pada nilai penting bahwa kepemimpinan dalam kehidupan merupakan sifat yang harus dimiliki setiap manusia. Leadership itu sendiri adalah upaya membantu diri sendiri atau orang lain mencapai suatu tujuan dimana seorang pemimpin harus mampu melihat situasi dan mencari jalan pemecahan yang tepat (Study of University Illinois USA).

Berdasarkan hasil data pengukuran siswa kelas XII SMAIT Miftahul Khoir Bandung yang telah mengikuti kegiatan-kegiatan disekolah selama 3 tahun, didapat bahwa secara keseluruhan subjek penelitian memiliki Leadership dengan

Communication Skill, Getting Along With Others, dan Management yang tergolong tinggi sebanyak 100% (8 orang). Understanding-Self, Learning To Learn, Decision Making, dan Team Work yang tinggi sebanyak 87,5 % sedang dengankan yang tergolong sedang sebanyak 12,5 %. Artinya, siswa kelas XII SMAIT Miftahul Khoir Bandung, telah memiliki sifat kepemimpinan secara kelompok maupun individu yang telah ditanamkan oleh sekolah.

Pada teori character building, Thomas Lickona mengatakan bahwa, karakter yang baik akan terbentuk jika memiliki ketiga skills moral yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Artinya siswa memiliki pengetahuan mengenai moral, siswa dapat mengambil sudut pandang dari orang lain (perspective taking), dapat mengetahui dan mengevaluasi perilaku diri sendiri. Moral feeling adalah sisi emosional karakter

(15)

Studi Deskriptif Mengenai Leadership pada Siswa Kelas XII di SMAIT Miftahul Khoir Bandung | 255

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

sangatlah penting namun seringkali diabaikan dalam pendidikan moral. Seberapa jauh kepedulian individu tentang bersifat jujur, adil, dan pantas terhadap orang lain akan mempengaruhi pada perilaku moral. Siswa dapat berempati dan dapat berbuat baik kepada sesama. Keterampilan-keterampilan kehidupan emosional moral berikut menjamin perhatian untuk mencoba mendidik karakter yang baik pada siswa. Moral action adalah tindakan moral merupakan hasil dari dua bagian karakter lainnya. Menurut siswa, kegiatan-kegiatan disekolah merupakan kebiasaan yang telah tertanam dalam diri siswa, sehingga siswa memiliki sifat

leadership. Ketiga moral tersebut mencakup pada skills yang membentuk karakter

leadership pada siswa kelas XII di SMAIT Miftahul Khoir Bandung. Karakter yang terbentuk pada siswa saat ini merupakan hasil proses pembelajaran selama tiga tahun selama di sekolah.

Berdasarkan hasil pengukuran subjek penelitian dengan menggunakan alat ukur

leadership yang disusun peneliti, maka didapat jumlah skor mean subjek setiap skills

secara keseluruhan sebagai berikut:

Tabel 2. Tabel Mean Skills Leadership

Berdasarkan tabel tersebut dapat terlihat rank mean dari ketujuh skills leadership. Urutan skills leadership secara keseluruhan adalah: Getting Along With Others lain (23,9), Communication (22,64), Learning To Learn (22,5), Management

(22,18), Understanding-Self (21,9), Team Work (21,88), dan Decision Making (21,61)

D. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Beberapa Skills dalam

Leadership, seluruh siswa berada pada kategori tinggi yaitu Communication Skill,

Getting Along With Others, dan Management. (2) Terdapat satu siswa memiliki skills

yang sedang, yaitu pada Understanding-Self Skills, Learning To Learn, dan Team Work. (3) Urutan skills leadership secara keseluruhan tersebut adalah, Getting Along With Others, Communication, Learning To Learn, Management, Understanding-Self,

Team Work, dan Decision making.

Variabel Skills

Data

Mean Rank Mean

Leadership

Getting Along With Others 23,9 1

Communication 22,64 2 Learning To Learn 22,5 3 Management 22,18 4 Understanding-Self 21,9 5 Team Work 21,88 6 Decision Making 21,61 7

(16)

256 | Linda Purnamawati, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya, Depag, Jakarta

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2002. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dalmeri. 2013. Pendidikan untuk Pengembangan Karakter (Telaah terhadap Gagasan

Thomas Lickona dalam Educating for Characer). Al-Ulum volume. 14 nomor 1,

Juni 2014, hal 269-288.

Departemen Pendidikan Nasional, 2003. Undang-Undang No 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas.

Djunaedi, A.F., 2005. Filosofi dan Etika Kepemimpian Dalam Islam. UII. Yogyakarta. Ghalia Indonesia. 2007. Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta: Ghalia

Indonesia.

Lickona, Thomas. 1992. Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Book, New York.

Lickona,Thomas. 2012. Educating for Character: Mendidik untuk Membentuk Karakter,

terj. Juma Wadu Wamaungu dan Editor Uyu Wahyuddin dan Suryani, Jakarta: Bumi Aksara.

Nurwahid, Hidayat (2010). Sekolah Islam Terpadu: Konsep Dan Aplikasinya. Jakarta: Syaami Cipta

Hay, Ian., & Neil, Dempster. (__). Student Leadership Development Through General Classroom Activities. Educating: Weaving Research into Practice.

Santoso, Singgih. 2014. Statistik Multivariat Edisi Revisi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Suryabrata, Sumadi. (2010). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Raja Drafindo Persada. Sugiyono. (2009). Penelitian Kuantitaif dan Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.

Veithzal Rivai. 2003. Kepemimpinan dan Prilaku Organisasi, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Winkel, W.S. 2007. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Media Abadi

Website:

Anonim. 2002. Kepemimpinan Sejati. Diakses pada tanggal 07 Mei 2016 pada pukul 20.33 WIB dari http://www.sinarharapan.co.id/

Aribowo Prijosaksono dan Roy Sembel, 2002. Kepemimpinan yang Melayani. Diakses pada tanggal 07 Mei 2016 pukul 20:09 WIB dari http://www.sinarharapan.co.id/

Ramadhanie, Intania. 2015. Pengaruh Pelatihan Character Building Terhadap Peningkatan Psychological Well-Being Anak Jalanan Binaan RSPA Yayasan

Emas Indonesia Kota Semarang. Diakses pada tanggal 10 November 2016 pada

(17)

Prosiding Psikologi ISSN: 2460-6448

257

Studi Deskriptif Mengenai Sikap Karyawan Bagian Produksi

Terhadap Penggunaan Alat-Alat K3 di PT. Barajaya Bandung

A Descriptive Study of The Attitude of Employees to Use K3 Tools in Production

Division PT. Barajaya Bandung 1

Revani Fitri, 2Yuli Aslamawati

1,2Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116

email: 1revanifitri@yahoo.com, 2yuli_aslamawati@yahoo.com

Abstract. Accident is one of the problems that often occur in workers in the industry so that equipment Occupational health and safety is essential to the welfare of employees. PT Barajaya Bandung in this case as the furniture company carrying out the processing of goods produced using heavy equipment, dangerous and high potential to injure members of the body of the employees. PT. Barajaya Bandung has facilitated every employee, especially in the production by providing medical equipment safety (K3) to support in every job. Many of them are not willing to use the tools of Occupational health and safety (K3) with a wide range of opinions that is hot when used at work, uncomfortable when worn for weight and limiting the space and the view when working. This resulted in the persistence of labor accidents that occurred in the company of PT. Barajaya as the affected eye flake welding materials, respiratory problems due to inhalation of the powders of the processed waste materials, the finger is cut by the cutting tool, head disorderly production of raw materials, etc.It reflects the unwillingness of employees of PT. Barajaya Bandung to use the tools of Occupational health and safety (K3), which has facilitated the company. Based on that if they see sense attitude is a predisposition or one's readiness to respond, agree or disagree, like or dislike the attitude object which is the result of experience and interaction with the object obtained from the environment. The method used is a descriptive study with respondents 33 people. Measuring instrument used was a questionnaire designed by researchers with the theoretical concept of Allport. The results showed 27 people with a percentage of 81.8% had low attitude towards the use of medical equipment safety (K3), and 6 with a percentage of 18.2%, which has a high attitude towards the use of medical equipment safety (K3)

Keywords : Attitude, K3 Tools

Abstrak. Kecelakaan kerja merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada pekerja di perusahaan industri sehingga alat-alat kesehatan keselamatan kerja merupakan hal yang penting untuk kesejahteraan karyawan. PT Barajaya Bandung yang dalam hal ini sebagai perusahaan furniture melaksanakan pengolahan barang produksi menggunakan alat-alat berat berbahaya dan berpotensi tinggi untuk melukai anggota tubuh para karyawan. PT. Barajaya Bandung telah memfasilitasi setiap karyawan terutama di bagian produksi dengan memberikan alat-alat kesehatan keselamatan kerja (K3) untuk mendukung dalam setiap pekerjaannya. Banyak dari mereka tidak berkenan untuk menggunakan alat-alat kesehatan keselamatan kerja (K3) dengan berbagai macam opini yakni panas ketika digunakan saat bekerja, tidak nyaman ketika dikenakan karena berat dan membatasi ruang gerak dan pandangan ketika bekerja. Hal tersebut mengakibatkan masih adanya kecelakaan-kecelakaan kerja yang terjadi di perusahaan PT. Barajaya seperti mata yang terkena serpihan bahan las, gangguan pernafasan karena terhirupnya serbuk-serbuk limbah bahan olahan, jari yang teriris oleh alat pemotongan, kepala yang tertiban bahan mentah produksi, dsb.Hal tersebut mencerminkan adanya ketidaksediaan karyawan PT. Barajaya Bandung untuk menggunakan alat-alat kesehatan keselamatan kerja (K3) yang telah perusahaan fasilitasi. Berdasarkan hal tersebut jika melihat pengertian sikap merupakan kecenderungan atau kesiapan seseorang untuk berespon, setuju atau tidak setuju, senang atau tidak senang terhadap objek sikap yang merupakan hasil dari pengalaman dan interaksi dengan objek yang diperoleh dari lingkungan. Metode yang digunakan adalah Studi Deskriptif dengan responden 33 orang. Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner yang dirancang oleh peneliti dengan konsep teori dari Allport. Hasil penelitian menunjukan 27 orang dengan presentase 81.8% memiliki sikap yang rendah terhadap penggunaan alat-alat kesehatan keselamatan kerja (K3), dan 6 orang dengan presentase 18.2% yang memiliki sikap yang tinggi terhadap penggunaan alat-alat kesehatan keselamatan kerja (K3).

(18)

258 | Revani Fitri, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

A. Pendahuluan

Pada era globalisasi, tingkat persaingan antar perusahaan semakin meningkat, khususnya persaingan kualitas hasil perusahaan akan mempengaruhi kompetensi dengan perusahaan lainnya. Modal utama dari keberhasilan kompetisi antar perusahaan adalah sumber daya manusia (SDM) atau tenaga kerjanya. Kesadaran para pengusaha terhadap modal utama dalam memenangkan persaingan, maka antar perusahaan saling bersaing dengan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas yaitu mempunyai kompetisi yang baik dan memenuhi persyaratan. Dalam banyak kasus, hambatan suatu perusahaan atau organisasi dalam mengelola sumber daya manusia dapat dilihat dari banyaknya kemangkiran kerja karena kesehatan, karyawan yang tidak bergairah dalam bekerja dan turnover. Hal ini merupakan indikasi bahwa perusahaan belum memenuhi harapan yang diinginkan karyawan. Dengan kondisi yang demikian, maka akan sulit bagi karyawan untuk mempertahankan kualitas hasil yang diharapkan. (Rif’atil Farihah : 2006).

PT. Barajaya Bandung adalah sebuah perusahan yang berdiri sejak tahun 1985, bertempat di Jalan Raya Barat No.147 Cicalengka Bandung. Perusahaan ini merupakan perusahaan mebel dan furniture yang memproduksi berbagai macam barang-barang kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat baik di perumahan, perkantoran, hotel, Café yang ada di pulau Jawa dan sekitarnya. Barang yang di produksi menggunakan berbagai bahan dasar, yang diantaranya berbahan dasar alumunium, kayu, besi dan baja. PT. Barajaya Bandung ini terdapat tiga bagian pekerja yaitu bagian Production, bagian Shipper, dan bagian Installer. Proses produksi tidak terlepas dari alat pendukung kerja yaitu mesin, hal ini jika tidak dilakukan dengan benar dapat mengakibatkan kecelakaan kerja yang menyangkut keselamatan diri karyawan serta berpengaruh juga pada kesehatan karyawan ketika ruangan kerja yang tidak dikelola dan dibersihkan dengan baik akan mengganggu kesehatan para karyawannya.

Perusahaan PT. Barajaya Bandung telah memfasilitasi setiap karyawannya dengan perangkat-perangkat yang menunjang keselamatan dan kesehatan kerja serta seluruh bagian pekerjaan mendapatkan fasilitas-fasilitas yang sesuai dengan bidang kerjanya. Fasilitas kerja yang sangat menonjol terlihat pada karyawan di bagian produksi yang dalam hal ini sebagai ujung tombak dari perusahaan. Karyawan di bidang produksi ini bekerja dari mulai bahan mentah yang belum di produksi hingga barang siap pakai untuk dipasarkan sehingga bagian produksi merupakan bagian inti pada perusahaan ini. Dalam pembuatan produk dibutuhkan alat-alat berat untuk mengolahnya dan disertai perangkat-perangkat yang menunjang kesehatan juga keselamatan kerja setiap karyawan yang bekerja di bagian produksi ini. Karyawan di bagian produksi ini memiliki tingkat kecelakaan yang terbilang lebih tinggi dalam pekerjaannya dibandingkan dengan pekerja dibagian yang lain, karena selain menjadi bagian terpenting dalam perusahaan, bagian produksi ini juga merupakan bagian pekerjaan yang paling berbahaya untuk kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya, hal ini terjadi karena masih banyaknya karyawan yang tidak mengikuti peraturan dari perusahaan yang mewajibkan setiap karyawannya untuk memakai perangkat-perangkat keselamatan dan kesehatan kerja yang telah perusahaan fasilitasi.

Berdasarkan observasi dan wawancara lebih dari separuh dari jumlah seluruh karyawan di bagian produksi ketika sedang melakukan pekerjaannya banyak sekali hal yang memperlihatkan bahwa mereka tidak bersedia mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh perusahaan. Bermacam-macam alasan yang diungkapkan para karyawan bagian produksi untuk tidak memakai alat-alat kesehatan keselamatan kerja (K3)

(19)

Studi Deskriptif Mengenai Sikap Karyawan Bagian Produksi ...| 259

Psikologi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2016-2017

diantaranya yaitu ada yang tidak berkenan untuk menggunakan sarung pelindung tangan ketika menggunakan alat pemotong kayu ataupun besi dengan alasan tangan akan menjadi kepanasan karena bahan yang terlalu tebal, lalu tidak memakai helm khusus karena panas dan berat saat dikenakan di kepalanya, juga karyawan tidak memakai kacamata khusus las ketika sedang menyambung ataupun membentuk potongan-potongan bahan satu dengan potongan yang lainnya karena menjadi terbatas pandangannya saat dikenakan, adapun karyawan yang tidak menggunakan alas kaki yang memadai minimal sepatu untuk menutupi hingga ke mata kaki karena terlalu repot untuk dikenakan, kemudian karyawan tidak menggunakan masker khusus dengan alasan pengap dan kesulitan bernafas ketika sedang bekerja.

Ketika karyawan di bagian produksi tidak mematuhi peraturan dan tidak menggunakan fasilitas yang telah disediakan perusahaan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan kerja, hal yang terjadi adalah kecelakaan kerja di lapangan seperti teriris jari pegawai ketika tidak menggunakan sarung tangan khusus saat memotong bahan dasar, kepala yang tidak menggunakan helm tertimpa bahan produksi seperti besi atau alumunium yang jatuh ketika sebelumnya bahan-bahan dalam posisi diberdirikan, lalu mata yang terkena percikan api yang ditimbulkan dari kegiatan las karyawan itu sendiri karena tidak menggunakan kacamata khusus, karyawan menginjak bahan-bahan berbahaya dan tajam hingga terluka karena tidak menggunakan alas kaki minimal menggunakan sepatu, lalu karyawan hendak mengalami gangguan pernafasan karena debu dan serpihan bahan-bahan yang terhirup oleh hidung mereka yang tidak menggunakan masker saat bekerja. Setiap kecelakaan kerja yang terjadi pada karyawan terutama dalam hal ini adalah karyawan di bagian produksi, biaya pengobatan kecelakaan yang terjadi pada setiap karyawan menjadi salah satu tanggung jawab dari perusahan PT. Barajaya Bandung itu sendiri, hal ini menjadi salah satu keluhan dari pemilik utama PT. Barajaya Bandung yang notabene adalah pemegang perusahaan profit tentu menginginkan setiap produksi yang dibuat akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaannya, namun pada kenyataannya yang terjadi di perusahaan ini tidak sama dengan yang diharapkan oleh pemilik perusahaan.

Karyawan yang bekerja di bagian produksi secara tidak langsung akan mengalami penurunan tingkat produktifitasnya ketika ada karyawan yang mengalami kecelakaan kerja, selain kerugian materi yang dialami oleh perusahaan, juga terjadi kerugian waktu karena karyawan akan diistirahatkan sesuai dengan kebutuhan medis sampai kondisinya pulih untuk kembali bekerja. Hal seperti ini terjadi relatif berulang-ulang dibandingkan dengan perusahaan yang lainnya, rata-rata jumlah kecelakaan kerja yang terjadi pada perusahaan ini kurang lebih 5-15 orang yang didalamnya terbagi-bagi baik itu kecelakaan ringan, kecelakaan sedang, maupun kecelakaan berat. Jumlah terbesar kecelakaan kerja sepanjang perusahaan ini berdiri terjadi pada tahun 2011 adalah 20 orang korban, dengan kecelakaan paling berat adalah salah satu jari tangan pegawai yang putus. Ini menjadi salah satu alasan peneliti melakukan penelitian di PT. Barajaya Bandung.

Melihat dari fenomena yang telah dipaparkan diatas, terlihat bahwa sikap karyawan bagian produksi di PT. Barajaya Bandung tidak bersedia menggunakan alat-alat Kesehatan Keselamatan Kerja (K3). Maka identifikasi dari penelitian ini adalah "Bagaimana Gambaran Sikap Karyawan Terhadap Penggunaan Alat-Alat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) PT. Barajaya Bandung? Selanjutnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data empiris mengenai sikap karyawan bagian produksi terhadap penggunaan alat-alat Kesehatan Keselamatan Kerja (K3) di PT. Barajaya

(20)

260 | Revani Fitri, et al.

Volume 3, No.1, Tahun 2017

Bandung.

B. Landasan Teori

Telah banyak perumusan mengenai sikap, Allport (dalam Mar’at, 1981: 20-21) menghimpun 13 pengertian mengenai sikap, yakni :

1. Attitude are learned, yang berarti sikap dipandang sebagai hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang terus menerus dengan lingkungan.

2. Attitude have refferent, yang berarti bahwa sikap selalu dihubungkan dengan objek, seperti manusia, wawasan, peristiwa, atau ide.

3. Attitude are social learning, yang berarti bahwa sikap diperoleh dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, baik dirumah, sekolah, tempat ibadah ataupun tempat lainnya melalui nasehat, teladan, atau percakapan.

4. Attitude have readinees to respons, yang berarti adanya kesiapan untuk bertindak dengan cara-cara tertentu terhadap objek.

5. Attitude are affective, yang berarti perasaan merupakan bagian dari sikap yang akan tampak pada pilihan yang bersaangkutan, apakah positif, negatif, atau ragu-ragu.

6. Attitude are very intensive, yang berarti bahwa tingkat intensitas sikap terhadap objek tertentu kuat atau lemah.

7. Attitude have a time dimention, yang berarti bahwa sikap tersebut mungkin hanya cocok pada situasi yang sedang berlangsung, akan tetapi belum tentu sesuai pada situasi lain karena sikap itu dapat berubah tergantung pada situasi. 8. Attitude have duration faktor, yang berarti sikap dapat relatif konsisten dalam

sejarah hidup manusia.

9. Attitude are complex, yang berarti bahwa sikap merupakan bagian dari konsep persepsi atau pengkondisian individu.

10. Attitude are evaluation, yang berarti bahwa sikap merupakan penilaian terhadap sesuatu yang mungkin mempunyai konsekuensi tertentu bagi yang bersangkutan.

11. Attitude are inferred, yang berarti bahwa sikap merupakan penafsiran dan tingkah laku yang mungkin menjadi indikator yang sempurna, atau bahkan tidak memadai.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan atau kesiapan seseorang untuk berespon, setuju atau tidak setuju, senang atau tidak senang terhadap objek sikap yang merupakan hasil dari pengalaman dan interaksi dengan objek yang diperoleh dari lingkungan.

Komponen sikap

Untuk memperjelas terdapat uraian komponen sikap, Allport sebagai berikut (dalam Azwar, 1995) :

1. Komponen Kognitif

Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku dan apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Kepercayaan yang terbentuk itu akan menjadi menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang diharapkan dari objek tertentu. Kadang-kadang kepercayaan yang terbentuk bisa juga dikarenakan kurang atau tidak adanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :