BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Sejarah gereja di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa. Karena kekristenan datang ke Indonesia bersama dengan berbagai bentuk kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Penjajah Portugis datang membawa kekristenan dalam bentuk Gereja Roma Katolik, penjajah Belanda datang bersama dengan Gereja Protestan. Misionaris-misionaris datang dengan semangat untuk menyebarkan Injil dan menobatkan orang-orang kafir. Tidak sedikit orang Indonesia ikut menjadi Kristen, baik Katolik maupun Protestan, dengan motivasi yang berbeda-beda.

Gereja Kristen Protestan yang berkembang tidak berdiri berdasarkan denomisasi saja, tetapi juga berdasarkan suku. Hingga saat ini kita masih dapat merasakannya, seperti GKJ (Gereja Kristen Jawa), HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), dan GKP (Gereja Kristen Pasundan). Tidak ketinggalan, orang-orang keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia juga mendapat perhatian dari misionaris Eropa.

Pada tahun 1911, di Surabaya telah ada beberapa orang Kristen Tionghoa yang berada di bawah penggembalaan Gereja Methodis. Tahun 1932, datang Hildering, pendeta dari Gereformeerde Kerken in Hersteld Verband, dari Belanda di Surabaya. Ia diutus khusus untuk orang-orang Tionghoa, pelayanannya 30 tahun. Di Bangil, Mojokerto, Mojosari, dan Malang terdapat beberapa “ikatan” (Bond) Kristen Tionghoa. Pada tanggal 26 Juni 1932, perkumpulan tersebut menjadi gereja. Kemudian diangkat beberapa orang menjadi tua-tua. Juga ada guru Injil. Pada akhir tahun 1933, gereja tersebut dipecah menjadi 3 jemaat yang menjadi satu klasis karena alasan geografis. Pada tanggal 22 Februari 1934, secara resmi diputuskan berdirinya Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) Klasis Jawa Timur dengan majelis besar dari 7 gereja setempat. Majelis besar ini bersidang setahun sekali, untuk membahas laporan tahunan dan memilih pengurus baru.

Dalam perkembangannya ada 2 perangkat gereja yaitu yang berbahasa Tionghoa dan yang berbahasa Indonesia, yang kemudian saling memisahkan diri. THKTKH yang berbahasa Indonesia mengganti namanya menjadi “Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur”. Pada tanggal

(2)

24-27 November 1958 lahir Peraturan Gereja Synode Geredja-geredja Kristen Indonesia Jawa Timur. Tahun 1965 ditetapkan Tata Gereja GKI Jatim yang terdiri dari 100 pasal. Tata dasarnya disempurnakan pada tahun 1978. Pada tahun 1990 lengkap dengan Tata Laksana.1

Badan Zending dari Gereja-gereja Gereformed Negeri Belanda bekerja di Jawa Tengah bagian selatan dan secara jelas menghasilkan jemaat di Solo dan di Jogjakarta. Di Jawa Tengah bagian utara ada badan zending dari Jerman, yaitu Neukirchener Missionshaus yang disebut juga dengan Salatiga Zending. Badan-badan zending tersebut menghasilkan gereja-gereja setempat yang beranggotakan keturunan Tionghoa. Dengan bermacam-macam nama : Kie Tok Kauw Hwee, Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee, Hoa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee, dll.

Pada masa Jepang, perkabaran Injil kepada orang-orang Tionghoa di Jawa Tengah mengalami perkembangan yang lumayan. Terbentuk THKTKH di Salatiga, Temanggung dan Purbalingga. Kemudian gereja-gereja setempat di Jawa Tengah bagian Utara membentuk Klasis. Demikian juga yang di bagian selatan membentuk klasis Jogja. 7-8 Agustus 1945, dua klasis ini bersatu dengan nama sinode Tiong Hoa. Kemudian dalam sidang tersebut dan sidang yang selanjutnya, diatur pembagian Klasis. Pada sekitar tahun 1945, terdapat 14 jemaat yang setengah abad kemudian berkembang menjadi 64 jemaat.

Pada tahun 1950 ada 2 peristiwa penting:

1. Persidangan Sinode III mengesahkan Peraturan Gereja Sinode Gereja-gereja Tionghoa Jawa Tengah (ini sebenarnya milik Kerkeordening van de Gereformeerde Kerkeen in Nederland). 5 tahun sebelumnya hanya menggunakan Dasar Synode yang berbunyi: “Synode mengalaskan pengakuan pertjaja atas Kitab Sutji, Perjanjian Lama dan Baru sebagai Firman Tuhan dan 12 pengakuan kepertjajaan seturut keterangan Catechismus Heidelberg, sedang aturan geredja didasarkan atas bentuk pemerintahan gereja presbyterial.”

2. Sinode Gereja Tionghoa Jawa Tengah, ikut berperan serta dalam pendirian DGI.

Persidangan Sinode VI pada tanggal 17-20 September 1956, mengganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia. Karena banyak anggota gereja yang sudah memutuskan untuk menjadi warga negara Indonesia, dan karena bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia. Tahun 1970 dalam Persidangan Sinode XIII diputuskan perbaikan peraturan gereja secara mendasar dan

1 Pdt. Andreas Agus Susanto, “Catatan Historis Gereja Kristen Indonesia Jawa Timur” dalam: Henky C. Wijaya dkk. (ed.), Jalan Menuju Keesaan, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1996, hal 119-125.

(3)

menyeluruh. Baru pada Persidangan Sinode Khusus I GKI Jateng disahkan Tata Gereja GKI Jateng dan pada Persidangan Sinode Khusus II disahkan Tata Laksana GKI Jateng.2

Pada tahun 1920 sudah ada beberapa jemaat Tionghoa di Jawa Barat, yang merupakan buah dari karya NZV. Kerena didorong keinginan untuk mandiri, beberapa tokoh Kristen Tionghoa mendirikan Bond Kristen Tionghoa pada bulan November 1926 akan tetapi hanya berlangsung sampai tahun 1930. Kemudian pada bulan Juli 1934 beberapa tokoh mendirikan Chung Hua Chi Tuh Chiao Hui (CHCTCH). Pada bulan Maret 1937, dalam konferensi CHCTCH dikeluarkan keputusan bahwa jemaat-jemaat Tionghoa di Jawa Barat agar segera membentuk Khoe Hwee (klasis) sendiri dengan perlengkapan organisatorisnya (tata gereja dan pengurusnya) sendiri. Dan Panitya Pembentoekan Khoe Hwee Djawa Barat akan dibantu oleh pengurus dari CHCTCH dan wakil dari zending.

Pada tanggal 24 November 1938 dibentuklah Tionghoa Kie Tok Kauw Hwee Khoe Hwee Djawa Barat dengan tata gereja dan pengurusnya. Pada tanggal 29 November oleh wakil NZV dinyatakan sebagai Gereja yang mandiri. Pada tanggal 24 Maret 1940 oleh Zendingsconsulaat (perwalian badan-badan pekabaran Injil Belanda di Hindia Belanda) dinyatakan sebagai Gereja yang berdiri sendiri. Tahun 1950 THKTKH Khoe Hwee Djawa Barat “ditingkatkan” menjadi THKTKH Thay Hwee Djawa Barat. Yang berarti Klasis ditingkatkan menjadi Sinode, dengan tujuan membentuk gereja untuk orang-orang Tionghoa di Jawa.

Pada bulan Mei 1948, THKTKH Thay Hwee Djawa Barat ikut berperan dalam pendirian Dewan Gereja-gereja Kristen Tionghoa di Indonesia. Menjelang tahun 1954 THKTKH Thay Hwee Djawa Barat lebih berorientasi pada Dewan Gereja-gereja di Indonesia. Setelah dengan pertimbangan yang cukup banyak, akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1958 diputuskan mengganti nama menjadi GKI Djawa Barat.3

Ketiga sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang terbentuk mempunyai inisiatif untuk bersatu dan mulai nampak hasilnya pada tahun 1962. Pada tahun tersebut terbentuk Sinode Am GKI. Ketiga sinode yang terdahulu disebut dengan sinode wilayah, contohnya GKI sinode wilayah Jawa Tengah. Masing-masing sinode tetap menggunakan tata gereja masing-masing.

2 Pdt. Paulus Sardjono, “Catatan Historis Gereja Kristen Indonesia Jawa Tengah” dalam: Henky C. Wijaya dkk (ed.), Jalan Menuju Keesaan, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1996, hal 126-131.

3 Pdt. Herman Baeha, “Catatan Historis Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat” dalam: Henky C. Wijaya dkk. (ed.), Jalan Menuju Keesaan, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1996, hal 132-138.

(4)

Baru pada tahun 1988 terbentuk Komisi Tata Gereja yang bertugas untuk menyusun tata gereja yang satu. Yang kemudian terbentuk kembali pada tahun 1992. Pada tahun 1997 disahkan tata gereja yang satu untuk bersama-sama. Namun belum berarti bahwa semuanya sudah selesai. Mulai tahun itu disebut sebagai masa transisi perberlakuan tata gereja yang baru dan yang satu.4 Pada bulan Agustus 2003 disahkan tata gereja yang utuh. Mulai diberlakukan di semua jemaat GKI pada bulan Agustus 2003 dan ditandai dengan ibadah liturgi khusus pada seluruh jemaat. Kini semua jemaat GKI menggunakan satu tata gereja.

Dari zaman Reformasi hingga sampai pada GKI saat ini, Gereja Protestan telah mengalami perjalanan yang panjang. Kira-kira lebih dari 400 tahun. Dalam jenjang waktu yang cukup lama tersebut tentu saja, Gereja Prostestan menghadapi permasalahan dan tantangan zaman yang berbeda-beda. Belum lagi ditambah dengan wilayah yang berbeda karena setiap negara mempunyai masalah sendiri-sendiri. Gereja seharusnya bisa menjawab permasalahan yang ada di dalam masyarakat. Dengan demikian gereja ditantang untuk selalu berubah, tidak statis namun dinamis. Menurut Pdt. Eka Dharmaputra sebuah teologi tidak dapat disebut dengan teologi bila tidak sesuai dengan konteksnya.5 Karena teologi merupakan refleksi dari keadaan yang nyata.

1.2. Permasalahan

Ketika penulis memperhatikan GKI dalam wujud jemaat-jemaat, penulis merasakan kecenderungan bahwa apa yang dilakukan oleh gereja hanya memperhatikan diri sendiri. Hal ini dapat diartikan juga bahwa gereja lebih banyak melakukan kegiatan ke dalam daripada kegiatan keluar. Ini dapat kita rasakan melalui berkembangannya kegiatan-kegiatan yang dianggap sebagai pendalaman iman dan persekutuan di dalam jemaat. Sebagai contohnya: retreat, ibadah padang, pembinaan pasutri dan pesparawi. Konsentrasi gereja yang lebih mengarah kepada diri sendiri nampak jelas di dalam masa-masa menjelang hari raya agama, seperti Paskah dan Natal. Biasanya di saat-saat seperti ini, gereja banyak sekali mengeluarkan tenaga dan dana untuk perayaan yang lebih bersifat pesta.

Kecenderungan yang hampir serupa, yaitu ada keinginan untuk memiliki sarana dan prasarana ibadah yang mewah. Paling jelas nampak dalam gedung gereja, kebanyakan GKI dibangun

4 Natan Setiabudi. Bunga Rampai Pemikiran Tentang GKI, Jakarta, Suara GKYE Peduli Bangsa, 2002, hal. 55-56. 5 Pdt. Eka Darmaputera, “Menuju Teologi Kontekstual di Indonesia” dalam: Eka Darma Putera, Konteks

(5)

dengan megah sehingga memakan biaya yang cukup besar. Prasarana mewah lain yang biasanya dimiliki oleh gereja adalah sound system dan peralatan musik. Untuk peralatan seperti ini tidak jarang gereja berlomba untuk memiliki yang lebih bagus dan mahal.

Karena kecenderungan yang seperti itu sering kali gereja lupa untuk memberi tekanan kepada kegiatan yang merupakan pelayanan keluar seperti diakonia. Kegiatan-kegiatan yang bersifat diakonia memang tetap dilakukan oleh gereja, akan tetapi cenderung jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan kegiatan yang mengarah kepada diri sendiri.

Yang memilukan bagi penulis adalah kecenderungan gereja yang seperti ini terjadi ketika di dalam masyarakat Indonesia terdapat masalah kemiskinan. Ketika gereja sedang merayakan Natal dengan makanan yang enak, di sisi kehidupan yang lain ada seorang anak yang harus berkeliaran di tengah jalan untuk meminta sedekah. Ketika gereja sedang mengadakan kebaktian dengan peralatan yang serba canggih dan didukung dinginnya AC, di sisi kehidupan yang lain ada banyak orang yang bersusah payah untuk mencari uang di sisa-sisa atau sampah.

Di saat Indonesia, sebagai konteks dari GKI, memiliki berbagai masalah sosial, khususnya kemiskinan, apakah sikap seperti ini merupakan tindakan yang bijaksana? Apalagi gereja sering menganggap diri sebagai persekutuan orang-orang yang dipanggil untuk melaksanakan misi Allah dan mendatangkan damai sejahtera bagi sesama manusia. Menurut penulis, hal ini berkaitan dengan masalah model gereja yang dianut oleh gereja yang sudah mengakar di dalam kehidupan bergereja di GKI. Jadi dapat dikatakan ini adalah masalah eklesiologi.

Pada bulan Agustus 2003, GKI telah mengesahkan Tata Gereja yang baru dan satu. Tentunya di dalam Tata Gereja tersebut mengandung eklesiologi GKI, seperti yang dikatakan oleh Pdt. Dr. Lazarus H. Purwanto6:

“Tata Gereja GKI sebenarnya adalah eklesiologi GKI yang diungkapkan dan dijabarkan dalam bentuk peraturan-peraturan.”

Maka melalui Tata Gereja GKI tersebut, penulis ingin mencari eklesiologi yang ingin dibangun oleh GKI. Model bergereja seperti apa yang ada di GKI? Apa memiliki kecenderungan yang juga menekankan pelayanan ke dalam?

6 Pdt. Dr. Lazarus H. Purwanto, “Mengenal Eklesiologi Gereja Kristen Indonesia” dalam : Selisip Buletin Sinode, edisi Juli-Agustus 2003, hal. 15.

(6)

Permasalahan yang selanjutnya adalah dari mana GKI mendapatkan model bergereja ini? Biasanya gereja mempunyai tradisi gereja yang diturunkan dari generasi ke generasi. Jadi ada kemungkinan GKI membawa tradisi Calvinis. Jika memang betul, eklesiologi Calvinis memiliki konteks sendiri pada zamannya, apakah ini dapat dipakai di dalam konteks GKI saat ini. Penulis akan juga mempertimbangkan pengaruh dari jiwa Tionghoa. Kehidupan sosial budaya, politik dan ekonomi orang-orang Tionghoa tentu perlu diperhitungkan dalam menganalisa model bergereja GKI.

Setelah pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab, maka penulis akan masuk kepada permasalahan pokok. Apakah model bergereja yang dibangun sesuai dan dapat menjawab konteks GKI di Indonesia saat ini, terutama masalah kemiskinan? Karena masalah ini merupakan salah satu konteks bagi gereja gereja di Asia, termasuk Indonesia.

1.3. Pemilihan Judul Skripsi ini akan diberi judul:

MODEL BERGEREJA GKI

DALAM KONTEKS MASYARAKAT INDONESIA Alasan pemilihan judul tersebut adalah sebagai berikut:

Model Bergereja, pendekatan yang memperdalam masalah bagaimana orang percaya bersekutu sering disebut dengan istilah eklesiologi. Berdasarkan etimologi, eklesiologi berasal dari dua kata “ekklesia” dan “logos”. “Ekklesia” berarti kumpulan, yang di dalam kekristenan menunjuk pada kumpulan orang percaya yang kemudian disebut dengan gereja dan “logos” berarti ilmu atau pengetahuan. Sehingga eklesiologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang gereja. Namun dalam penulisan skripsi ini, penulis akan membatasi pembahasan eklesiologi di dalam pendekatan yang lebih khusus yang penulis sebut dengan model bergereja. Setiap gereja mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang apa itu gereja dan dengan pengertian tersebut gereja akan menentukan prioritas pelayanan, ini yang penulis sebut dengan model bergereja. Dalam penulisan ini, akan merujuk kepada model bergereja yang tertuang di dalam tata gereja.

GKI merupakan singkatan dari Gereja Kristen Indonesia. Penulis akan menggunakan singkatan ini karena lebih akrab di telinga orang-orang. GKI merupakan batasan cara bergereja yang akan

(7)

penulis bahas. Ada bermacam-macam gereja di Indonesia yang mempunyai model bergereja yang berbeda-beda. Penulis hanya membatasi pada model bergereja yang ada di GKI yang mengaku telah bersatu dan mempunyai tata gereja GKI yang satu.

Konteks Masyarakat Indonesia, GKI berada di wilayah Indonesia maka keadaan masyarakat Indonesia merupakan konteks dari GKI. Perjuangan GKI hendaknya sesuai dengan keadaan masyarakat yang ada. Maka konteks masyarakat Indonesia akan menunjukkan kepada masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, untuk membatasi masalah penulis akan mengangkat satu masalah yang dianggap paling krusial.

1.4. Metode Penulisan

Metode yang digunakan untuk penulisan skripsi ini adalah metode deskriptif analitis. Dengan menggunakan metode tersebut penulis akan menguraikan data yang ada di dalam Tata Gereja, kemudian membuat analisa yang terkait dengan data tersebut. Bahan-bahan yang digunakan untuk menganalisa diperoleh dengan studi literatur.

1.5. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini akan dibagi menjadi 5 Bab dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I : PENDAHULUAN

Bab ini merupakan pengantar untuk memasuki pembahasan sehingga penulis mempunyai gambaran sebelum memasuki isi. Bab ini berisi latar belakang permasalahan, permasalahan, alasan pemilihan judul, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II : MODEL BERGEREJA GKI

Pada bagian ini penulis akan berusaha untuk menguraikan model bergereja seperti apa yang ada di dalam Tata Gereja GKI yang terbaru. Dengan mencoba untuk memperhatikan bagian demi bagian dan pasal demi pasal, penulis akan menemukan model bergereja yang terkandung di dalam Tata Gereja tersebut. Model bergereja ini yang akan dianalisa lebih lanjut.

(8)

Bab III : FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MODEL BERGEREJA GKI

Setelah mengetahui model bergereja yang di dalam Tata Gereja, penulis merasa perlu untuk memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi model bergereja GKI. Tentu saja banyak hal yang mempengaruhi terbentuknya model bergereja GKI namun penulis akan memilih faktor yang terbesar yaitu tradisi gereja Calvinis dan sosial budaya Tionghoa.

Bab IV : KETERKAITAN MODEL BERGEREJA GKI DENGAN KONTEKS SOSIAL

Kini penulis akan menguraikan konteks sosial masyarakat Indonesia sebagai konteks gereja-gereja di Indonesia pada umumnya dan GKI pada khususnya. Setelah itu, penulis akan membandingkan model bergereja GKI dengan konteks sosial tersebut sehingga akan nampak apakah model bergereja GKI relevan dengan konteks Indonesia.

Bab V : PENUTUP

Bagian ini akan berisi yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam Pendahuluan, sebagai kesimpulan. Penulis juga akan memberikan refleksi singkat, sebagai contoh bereklesiologi dalam Alkitab. Kemudian penulis akan memberikan bagi GKI pada khususnya dan gereja-gereja di Indonesia pada umumnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :