KELAS V SDN 015 SUMBERJO KECAMATAN WONOMULYO KABUPATEN
POLEWALI MANDAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh UMRIAH 10540 8683 13
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2017
iv
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan di bawahini:
Nama : UMRIAH
NIM : 10540 8683 13
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Pengembangan Media Ular Tangga untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SDN 015 Sumberjo Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar.
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang saya ajukan kepada tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Juni 2017 Yang Membuat Pernyataan
Umriah 10540 8683 13
v
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : UMRIAH
Stambuk : 10540 8683 13
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dengan ini menyatakan bahwa:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya menyusun sendiri tanpa dibuatkan oleh siapapun.
2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing, yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti yang tertera di atas maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Juni 2017 Yang Membuat Perjanjian
Umriah 10540 8683 13
vi Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah, Hati menjadi tentram (Q.S. ar-Ra’d 13: 28)
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”
-Andrea Hirata (Sang Pemimpi)
Jangan pernah menjadi seseorang yang orang lain inginkan, namun jadilah diri sendiri dan berada di jalan yang benar
Ketekunan, ketabahan, dan kesabaran yang disertai do’a adalah kunci kesuksesan yang diridhai Allah SWT
Kupersembahkan skripsi ini kepada Ayahanda dan Ibundaku tercinta sebagai wujud rasa hormat, kasih sayang dan kecintaanku atas segala keringat, do’a, dan pengorbanannya serta teruntuk orang-orang yang menyayangiku.
_Barakallah_
ABSTRAK
vii
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Nurdin dan pembimbing II Maryati Z.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D). Model Pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974).
Namun pada penelitian ini model pengembangan 4D dimodifikasi terbatas pada tiga tahapan saja. Model ini terdiri dari 3 tahap kegiatan, yaitu: 1)Pendefenisian, 2) Perancangan dan 3) Pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan media ular tangga yang bersifat valid, praktis dan efektif serta dapat meningkatkan hasil belajar murid. Sampel dalam penelitian ini adalah murid kelas VA SDN 015 Sumberjo 25 murid. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan test dan pengisian angket. Instrumen penilaian angket terdiri atas empat yaitu: a) instrumen kevalidan berupa instrumen penilaian kevalidan media ular tangga, b) instrumen kepraktisan berupa instrumen respon guru dan respon siswa terhadap media ular tangga, c) instrumen kefektifan berupa instrumen respon siswa terhadap media ular tangga dan 4) instrumen hasil belajar siswa.
Berdasarkan analisis data, diperoleh rata-rata nilai kevalidan media oleh kedua validator sebesar 4,33 (valid). Kepraktisan media ular tangga diperoleh respon guru sebesar 4,3 (tinggi) dan respon siswa 4,62 (tinggi). Nilai kefektifan media yaitu ada 98,22% murid memberikan respon yang positif terhadap media pembelajaran. Hasil belajar memperoleh nilai gain ternormalisasi sebesar 0,52 dengan kategori “sedang”. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ular tangga bersifat valid, praktis, efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas V SDN 015 Sumberjo
Kata kunci: Media Ular Tangga, Hasil Belajar Murid dan Penelitian Pengembangan
KATA PENGANTAR
viii
karuniaNya, yang senantiasa diberikan kepada penulis sehingga skripsi yang berjudul “Pengembangan Media Ular Tangga untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V SDN 015 Sumberjo Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar” dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini diajukan sebagai tugas akhir dalam rangka penyelesaian studi sarjana program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan penghargaan kepada kedua orang tuaku Ayahanda Syarifuddin dan Ibunda Hj. Muawiyah yang telah menjadi pelita dalam kehidupan penulis dan atas segala pengorbanan, kasih sayang dan jerih payahnya yang selama membesarkan, mendidik, memberikan motivasi, serta do`a yang tak henti-hentinya demi keberhasilan mencapai cita-cita.
Penulis juga menyampaikan terima kasih dengan segala ketulusan dan kerendahan hati kepada Drs. H. Nurdin, M.Pd,. pembimbing I dan Dra. Hj. Maryati Z, M.Si., pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, motivasi serta memberikan semangat dan saran-saran dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis juga haturkan rasa hormat dan ucapan terima kasih kepada Dr. H. Rahman Rahim, S.E., M.M, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulfasyah, MA., Ph.D., Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Penasehat Akademik Drs. H. Abd. Hamid Mattone, M.Si., yang senantiasa memberikan masukan dan bimbingan selama proses perkuliahan, seluruh Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah ikhlas mentransfer ilmunya kepada penulis, serta seluruh staf Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bantuan dan motivasi serta kemudahan dalam setiap langkah menuju kesuksesan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus kepada kepala SDN 015 Sumberjo Nurfatimah, S.Pd., M.Pd dan guru kelas VA
ix
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sama kepada Kak Amma, keluarga besarku, Kak Aswar, sahabat-sahabatku Fitrah, Asnirah, Aisyah, Hudri, Uly, Asma, Linda, Dhya, Nisa, Iyhank, Rahma, Fira, Mentari, Kak Ani, Ayu, teman-teman PGSD 2013 kelas H, serta teman-teman P2k dan lainnya, yang telah memberikan persaudaraan semangat dukungan, mendo’akan serta saran maupun kritikan dalam menyelesakan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan baik dalam bentuk penyajian lain maupun dalam bentuk penggunaan bahasa karena keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik, saran ataupun masukan yang sifatnya membangun dari berbagai pihak guna penyempurnaan skripsi ini.
Teriring harapan dan do`a semoga bantuan yang diberikan mendapatkan limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Semoga hal yang penulis perbuat dalam menyelesaikan penelitian ini dapat bernilai ibadah di sisi-Nya. Aamiin.
Billahi fii sabilil haq fastabiqul khaerat wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Makassar, Juni 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
x
SURAT PERNYATAAN ...iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTO DAN PERSEMBAHAN ...vi
ABSTRAK ...vii
KATA PENGANTAR ...viii
DAFTAR ISI...xi
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ...xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...xvii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Spesifik Produk yang Diharapkan... 8
F. Pentingnya Pengembangan ... 8
G. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Kajian Teori ... 10
xi
b. Ciri-ciri media pembelajaran... 12
c. Fungsi media pembelajaran... 12
2. Permainan Ular Tangga... 14
3. Kelebihan dan Kekurangan Media Pembelajaran Ular Tangga ... 16
4. Hasil Belajar... 17
a. Pengertian hasil belajar ... 17
b. Bentuk-bentuk hasil belajar... 19
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ... 20
5. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ... 21
a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial ... 21
b. Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ... 25
c. Karakteristik pembelajaran IPS di SD/MI ... 27
B. Kerangka Pikir ... 28
BAB III METODE PENELITIAN A. Model Pengembangan ... 30
B. Prosedur Pengembangan ... 31
1. Define (Pendefinisian)... 31
2. Design (Perancangan) ... 36
3. Development (Pengembangan)... 37
C. Jenis Data dan Sumber Data ... 38
1. Jenis Data ... 38
xii
b. Sampel... 39
D. Definisi Operasional Variabel... 41
E. Instrument Penelitian ... 42
1. Angket ... 42
2. Tes ... 42
F. Teknik Pengumpulan Data... 42
1. Data Validasi Media Pembelajaran ... 43
2. Data Kepraktisan Media Pembelajaran ... 43
3. Data Keefektifan Media Pembelajaran ... 43
4. Dokumentasi ... 4
G. Teknik Analisis Data... 44
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 46
1. Media Ular Tangga ... 46
a. Pendefinisian (Define)... 47
b. Perancangan (Design) ... 50
c. Pengembangan (Development)... 56
2. Hasil Analisis Angket ... 56
a. Hasil Analisis Validasi ... 56
b. Hasil Analisis Kepraktisan ... 58
c. Hasil Analisis Keefektifan ... 60
3. Analisis Hasil Belajar... 62
xiii
2. Kepraktisan Media Ular Tangga ... 66 3. Keefektifan Media Ular Tangga... 66 4. Hasil Belajar Murid... 67 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 69 B. Saran... 70 DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
1. Tabel 3.1 Keadaan populasi penelitian ... 39
xiv
4. Tabel 3.4 Kategori tingkat penguasaan hasil belajar ... 45
5. Tabel 3.5 Analisis gain ternormalisasi ... 45
6. Tabel 4.1 Analisis standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator . 48 7. Tabel 4.2 Kriteria kevalidan... 53
8. Tabel 4.3 Kriteria kepraktisan media pembelajaran ... 54
9. Tabel 4.4 Hasil analisis data validasi ... 57
10. Tabel 4.5 Hasil respon guru ... 59
11. Tabel 4.6 Hasil respon murid terhadap kepraktisan media ... 59
12. Tabel 4.7 Hasil respon murid terhadap keefektifan media ... 60
13. Tabel 4.8 Hasil rekapitulasi respon murid terhadap keefektifan media... 61
14. Tabel 4.9 Data skor hasil belajar murid ... 62
DAFTAR GAMBAR 1. Gambar 2.1 Bagan kerangka pikir... 29
xv
4. Gambar 4.2 Tampilan ular tangga ... 51 5. Gambar 4.3 Diagram persentase respon murid terhadap keefektifan media..62
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
xvi LAMPIRAN IV Pre-Test dan Post-Test
LAMPIRAN V Media Ular Tangga dan Kartu Pertanyaan LAMPIRAN VI Surat Penelitian
LAMPIRAN VII Dokumentasi
1 A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengenalan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan diselenggarakan pada dasarnya bertujuan untuk menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas.
Dalam UU Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Bahkan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
Demikian pula warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus. Untuk memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Terdapat permasalahan khusus dalam dunia pendidikan seperti kesenjangan antara sarana pendidikan kota dan pinggiran, rendahnya loyalitas dan dedikasi guru, rendahnya prestasi murid, tidak meratanya even-even yang melibatkan murid, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan mahalnya biaya pendidikan (Nuris Fajar Rizki, 2013).
Pendidikan merupakan suatu usaha yang tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian imformasi. Pembentukan sikap, dan keterampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan. Kebutuhan serta kemampuan individu dalam mengembangkan potensi potensi yang dimiliki oleh anak didik atau siswa. Usaha tersebut secara nyata diwujudkan dalam suatu wadah pendidikan seperti sekolah. Untuk mendukung usaha dan tujuan pendidikan tersebut, maka dibuat suatu sistem pendidikan nasional dan sebagai landasan ditetapkan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003, tentang sistem pendididkan nasional pasal 3 ayat (1) menyatakan bahwa:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yangn Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”.
Demikian, jelaslah bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan setiap manusia. Pendidikan manusia dapat memperoleh berbgai pengetahuan dan dapat mengembangkan pengetahuan dan dapat mengembangkan kemeampuan yang dimilikinya yntuk dapat diterapkan dalam kehidupan seseorang. Oleh kaarena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah perlu diterapkan didalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak usia sekolah perlu ditingkatkan terutama pada tingkat Sekolah Dasar (SD). Pada tingkatan ini seorang anak mulai menerima berbagai pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari- hari. Sekolah Dasar merupakan jenjang pendidikan yang paling dasar dalam pendidikan formal.
Sekolah adalah tempat didikan bagi anak-anak. Tujuan dari sekolah adalah mengajarkan anak untuk menjadi anak yang mampu memajukan bangsa.
Pembelajaran di sekolah sekarang harus bervariasi agar bisa menarik perhatian murid untuk mengikuti proses pembelajaran, murid dapat tertarik dengan model pembelajaran yang digunakan guru. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial erat hubungannya dengan interaksi dengan sesama manusia. Melalui mata pelajaran ini diharapkan murid bisa bergaul dan berinteraksi dengan orang lain serta bisa berkomunikasi dengan baik dengan manusia lainnya. Pembelajaran ini sangat penting karena dapat mempersiapkan murid untuk terjun langsung ke masyarakat serta berhasil mencapai tujuan hidupnya.
Salah-satu program pendidikan dasar wajib dari tujuan pendidikan nasional tersebut adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS dalam Depdiknas (2006) secara khusus adalah selain membekali peserta didik dengan pengetahuan , pengembangan konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, juga membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan bagaimana cara berhubungan dengan manusia lainnya, terampil melakukakan hubungan kerja sama yang baik dengan oarang lain dalam memecahkan masalah-masalah sosial.
Guru maupun murid merupakan pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran dan tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil maksimal apabila proses pembelajaran berjalan secara efektif. Guru dituntut untuk mampu menciptakan situasi pembelajaran yang aktif, efisien, efektif dan menarik dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berkaitan dengan ilmu sosial yaitu ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu yang pembahasannya sangat luas dan penting pada kehidupan kita. Untuk mempelajari materi ini di perlukan beberapa metode bervariasi karena pada umumnya Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan mata pelajaran yang membosankan karena berupa hafalan dan mayoritas bacaan. Sehingga guru harus memiliki inisiatif ataupun inovasi untuk menggunakan media pembelajaran yang menarik murid untuk belajar materi ini dan membuat murid berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Proses pembelajaran murid aktif memerlukan waktu yang lebih panjang dari proses pembelajaran penyampaian informasi karena peserta didik perlu latihan untuk melakukan mengamati, menanya, mengasosiasi dan berkomunikasi. Proses pembelajaran yang dikembangkan guru menghendaki kesabaran dalam menunggu respon peserta didik karena mereka belum terbiasa. Lingkungan yang kekurangan sarana dan prasarana menjadi target penelitian ini dikarenakan pada sekolah tersebut, tenaga pendidik yang ada tidak memberikan media-media yang mampu menunjang proses belajar mengajar sehingga murid kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan memberikan permainan tiap pembelajarannya. Permainan yang diberikan bersifat santai sehingga suasana belajar yang menyenangkan dan penuh keaktifan dari murid dapat terjadi. Suasana belajar yang menyenangkan dapat menjadi umpan untuk ketuntasan hasil belajar murid. Oleh karena itu, perlu adanya suatu media yang mampu membuat murid menjadi lebih tertarik untuk mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial.
Media merupakan suatu benda yang mempermudah dalam proses pembelajaran dan menjadikan kegiatan belajar menjadi menarik dan aktif. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat murid dalam belajar. Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan hasil belajar murid.
Hasil belajar murid dipengaruhi oleh faktor murid itu sendiri, faktor instrumen sekolah dan faktor lingkungan. Keberhasilan dalam proses belajar dan dalam upaya peningkatan hasil belajar juga dipengaruhi oleh lingkungan belajar.
Terutama sekolah yang merupakan lingkungan pendidikan formal yang mempunyai peran penting dalam mendidik dan membimbing moral perilaku anak.
Sardiman (2001:132) berpendapat bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Ketiga faktor tersebut adalah:
“(1) faktor yang bersifat internal yaitu, semua faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri (minat, bakat, keseriusan); (2) faktor yang bersifat eksternal yaitu faktor berasal dari luar diri siswa (lingkungan, orang tua, ekonomi dan politik); dan (3) faktor fisik (jasmani) yaitu faktor yang berkaitan dengan kesehatan badan dan kesempurnaan fisik dan mental”.
Berdasarkan observasi yang telah saya lakukan pada SDN 015 Sumberjo, dalam proses pembelajaran guru menyampaikan materi pembelajaran hanya menggunakan papan tulis dan mengandalkan buku paket. Guru menjelaskan materi yang telah ada di buku paket dan memberikan tugas sesuai yang ada dalam buku paket. Bahkan dalam suatu proses pembelajaran papan tulispun tidak digunakan. Hal ini membuat proses pembelajaran menjadi kaku dan tidak aktif.
Hal ini juga membuat murid mengalami kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti pelajaran, sehingga hasil belajar murid tidak mengalami peningkatan.
Cara mengatasi hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pengembangan media pembelajaran agar kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut dapat berjalan dengan lancar. Selain itu murid SDN 015 Sumberjo dapat merasakan menggunakan media pembelajaran dan berperan langsung dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sehingga hasil belajar murid mengalami peningkatan. Maka saya tertarik dan perlu mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan Media Ular Tangga untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid pada Pembelajaran IPS Kelas V SDN 015 Sumberjo Kabupaten Polewali Mandar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka masalah pokok dalam penelitian ini adalah “Apakah pengembangan media pembelajaran ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas V pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SDN 015 Sumberjo Kabupaten Polewali Mandar?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan media pembelajaran ular tangga dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas V pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SDN 015 Sumberjo Kabupaten Polewali Mandar
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Sebagai bahan informasi yang bermanfaat dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan pada umumnya
b. Menambah pengetahuan tentang media pembelajaran berupa permainan serta penggunaannya dalam meningkatkan hasil belajar murid
c. Menginspirasi dalam melakukan inovasi media pembelajaran serta sebagai bahan perbandingan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi murid dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa jenuh dalam mengikuti proses pembelajaran dan dapat menciptakan suasana belajar yang berbeda, menyenangkan, dan membuatnya menjadi lebih aktif dalam proses belajar mengajar
b. Bagi guru, sebagai bahan masukan mengenai media pembelajaran yang dapat dikemas terpadu dengan permainan sehingga menjadi alternatif untuk menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan serta menjadi referensi dalam meningkatkan hasil belajar murid terhadap pembelajaran di kelas
c. Bagi peneliti dapat memberikan gambaran mengenai hasil belajar murid melalui media pembelajaran ular tangga pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan sebagai bahan kajian bagi peneliti yang terkait dengan pengembangan media pembelajaran.
E. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Media ular tangga ini dibuat dari kertas A3, berbentuk persegi yang memiliki 30 kotak persegi di dalamnya. Dalam 30 kotak tersebut terdapat tiga warna kartu yang disebar yakni warna merah untuk kerajaan Buddha, warna kuning untuk kerajaan hindu, dan warna hijau untuk kerajaan Islam. Dalam setiap kartu berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh murid. Ular tangga yang ingin dibuat seperti permainan ular tangga pada umumnya yang memiliki ular dan tangga di beberapa titik pada kotaknya.
F. Pentingnya Pengembangan
Permasalahan yang terjadi pada SDN 015 Sumberjo adalah kurangnya sarana dan prasarana yang menunjang sukses dan lancarnya proses pembelajaran di sekolah tersebut. Masalah ini penting untuk dipecahkan karena hal tersebut menyebabkan murid kurang tertarik mengikuti dan memperhatikan pelajaran di dalam kelas sehingga hasil belajarnya menurun. Maka dari itu pentingnya dikembangkan suatu produk yang dapat mengatasi masalah tersebut seperti media pembelajaran, salah satunya adalah media permainan ular tangga.
G. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
Asumsi pengembangan penelitian ini adalah produk ini digunakan hanya untuk anak normal. Media ular tangga yang digunakan pada penelitian ini berupa media cetak yang dapat digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk murid sekolah dasar dalam meningkatkan hasil belajar khususnya pada kompetensi dasar ” mengenal makna peninggalan-peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia dan
menceriterakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia”. Media pembelajaran ular tangga ini merupakan salah satu media pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang diharapkan dapat menyenangkan murid dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.
Penelitian pengembangan media permainan ular tangga ini telah dilakukan beberapa peneliti sebelumnya seperti pada penelitian Rifki Afandi (2015) yang mendapatkan peningkatan hasil belajar pada subjek penelitiannya. Hasil belajar murid dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sebelum diterapkan media pembelajaran permainan ular tangga menunjukkan bahwa 55% murid yang memiliki nilai diatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Setelah diterapkan media pembelajaran permainan ular tangga, 100% murid memiliki nilai diatas KKM, hal tersebut menunjukkan hasil belajar murid terjadi peningkatan 45%.
Pengembangan produk ini dibatasi hanya sampai sampai tahap development dari model pengembangan 4D. Model 4D adalah model pengembangan yang terdiri atas 4 tahapan yakni define, design, development, dan disseminate. Namun pada penelitian ini model pengembangan 4D dimodifikasi menjadi 3D sehingga produk ular tangga ini hanya sampai pada tahap development yaitu uji coba terbatas pada satu sekolah yakni SDN 015 Sumberjo.
10 A. Kajian Teori
Pendidikan diciptakan agar masyarakat dapat mengetahui ilmu-ilmu yang penting dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. Salah satu tujuan pendidikan di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa agar masyarakat dapat sejahtera dan mampu bersaing dengan warga negara lain. Selain itu, pendidikan juga berperan dalam meninggikan martabat suatu negara. Akan terkenal suatu negara jika di dalam negara tersebut tercipta orang-orang yang hebat yang mampu membesarkan nama baik negaranya. Maka dari itu, sangat dibutuhkan pendidikan yang merata di seluruh wilayah yang berada di negara Indonesia ini.
1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
“tengah”, “ perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Dalam pengertian ini guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media.
Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronisi untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.(Azhar Arsyad, 2013:3)
Menurut Gerlach dan Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besaradalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siwa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Menurut Fleming, media adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Heinich mengemukakan istilah media sebagai perentara yang mengantar informasi atau media sumber dan penerima. (Azhar Arsyad, 2013:3-4)
Hamdjojo dalam Latuheru (1993) memberi batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk penyampaian atau menyebar ide, gagasan, atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju. Menurut Gagne dan Brigs dalam Azhar Arsyad (2013) media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa media adalah suatu benda yang mempermudah murid dalam memahami suatu materi pembelajaran dan menjadikan kegiatan belajar menjadi menarik dan aktif. Ali Mudlofir, dkk (2016:126) mengatakan bahwa pada hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran atau media, dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang terdapat dalam kurikulum; sumber pesannya adalah guru, peserta didik, orang lain, penulis buku; dan salurannya adalah media pembelajaran dan penerima pesan adalah
orang yang belajar. Jadi Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat murid dalam belajar.
b. Ciri-ciri Media Pembelajaran
Azhar Arsyad (1996:12) mengemukakan bahwa ada tiga ciri media yang nerupakan petunjuk penggunaan media, yaitu :
1) Ciri fiksatif, ciri ini menggambarkan kemampuan media dalam merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek 2) Ciri manipulasi, media harus mampu memanipulasi atau mengubah suatu
objek
3) Ciri distributif, media menggunakan suatu objek atau kejadian ditransformasikan melalui ruang dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar murid, stimulus, pengalaman relatif sama mengenai kejadian itu.
c. Fungsi Media Pembelajaran
Menurut Hamalik media memiliki beberapa fungsi diantaranya, media dapat membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap murid. Pada tahap orientasi media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain itu media pembelajaran juga dapat membantu murid meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarikdan terpecaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.(Azhar Arsyad 1996:15)
Menurut Kustandi dan Bambang (dalam buku Azhar Arsyad 1996:15) mengemukakan bahwa empat fungsi media pembelajaran, khusunya media visual yaitu sebagai berikut:
1) Fungsi atensi adalah menarik dan mengarahkan perhatian murid untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
2) Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan murid ketika belajar atau membaca teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat mengunggah emosi dan sikap murid, misalnya informasi yang menyangkutmasalah sosial atau ras.
3) Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
4) Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu murid yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali
Menurut Azhar Arsyad (2015:19), peranan media dalam pembelajaran antara lain :
1) Memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2) Meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehinggadapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi secaralangsung antara murid dan lingkungannya.
3) Mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu yang dialami saat proses pembelajaran.
4) Memberikan kesamaan pengalaman kepada murid tentang peristiwa- peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat,dan lingkungannya.
2. Permainan Ular Tangga
Menurut Arini Indriasih (2015), ular tangga merupakan media edukasi yang sangat menarik dan merupakan permainan yang termasuk kedalam media visual.
Permainan ular tangga ini mengaktifkan semua indra yang dimiliki murid dan juga membentuk kemandirian dengan pola learning by doing. Pola ini merupakan pola dimana murid sebagai pemain diharapkan untuk belajar dan berfikir untuk penyelesaian masalah. Sedangkan menurut Yumarlin (2013), permainan ular tangga termasuk permainan sosial yang menggunakan aturan-aturan dengan papan permainan yang dapat dibuat sesuai kebutuhan.
Rifki Afandi (2015) mengatakan bahwa permainan ular tangga merupakan permaianan tradsional yang biasa dimainkan oleh anak-anak, tidak ada sumber yang jelas sejak kapan permainan ular tangga ditemukan. Konsep permainan ular tangga yaitu permainan yang dimainkan 2 anak atau lebih dengan melempar dadu, yang terdiri dari beberapa kotak yang didalamnya ada gambar, dalam permainan ada gambar ular dan tangga, apabila dalam permainan mendapatkan tangga berarti naik sesuai tangga tersebut, dan apabila mendapatkan ular maka dalam permainan
tersebut peserta harus turun sesuai jalan ular tersebut. Peserta dinyatakan menang apabila peserta nyampai pada finis yang pertama.
Permainan ular tangga merupakan permainan yang sering digunakan oleh anak-anak dalam keseharian anak-anak. Ular tangga adalah permainan papan untuk anak-anak yang dimainkan oleh 2 orang atau lebih. Papan permainan dibagi dalam kotak-kotak kecil dan dibeberapa kotak digambar sejumlah “tangga” atau
“ular” yang menghubungkannya dengan kotak lain. Permainan ini diciptakan pada tahun 1870. Tidak ada papan pemahaman standar dalam ular tangga – setiap orang dapat menciptakan papan mereka sendiri dengan jumlah kotak, ular dan tangga yang berlainan. Setiap permainan mulai dengan bidaknya dikotak pertama (biasanya kotak disudut kiri bawah) dan secara bergiliran melemparkan dadu.
Bidak dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu yang muncul. Bila permainan mendarat diujung bawah ular. Pemenang adalah pemain pertama yang mencapai kotak terkhir. Biasa bila sesorang pemein mendapatkan angka 6 dari dadu, mereka mendapat giliran sekali lagi. Bila tidak, maka giliran jatuh kepemain selanjutnya.
Rifki Afandi (2015) mengatakan bahwa media pembelajaran permainan ular tangga merupakan media pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan permainan tradisional permainan ular tangga disesuaikan dengan karakteristik murid dengan tujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagai pengantar imformasi bagi murid. Kelebihan media pembelajaaran permainan ular tangga yaitu (1) murid belajar sambil bermain, (2) murid tidak belajar sendiri, (3) memudahkan murid belajar karna dibantu dengan gambar yang ada dalam permainan ular tangga, (4) tidak memerlukan biaya mahal dalam membuat media pembelajaran permainan ular tangga.
Menurut Rifki Afandi (2015), permainan ular tangga merupakan permainan yang harus disesuaikan dengan karakteristik pemainnya. Adapun kelebihan dari permainan ular tangga ini adalah merupakan media yang menyenangkan, menumbuhkan sifat sosial, merangsang visualisasi murid dan mudah didapatkan.
Mengingat media pembelajaran permaian ular tangga memiliki kelebihan yang dipaparkan diatas. Diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk menumbuhkan motivasi belajaar dan hasil belajar murid, selain bermanfaat bagi murid, penelitian ini mampu meningkatkan kualitas guru sekolah dasar dalam kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan profesionalisme dosen dalam melaksanakan penelitian dan membantu menyelesaikan permasalahan pendidikan disekolah dasar.
3. Kelebihan dan Kekurangan Media Pembelajaran Ular Tangga a. Kelebihan media pembelajaran ular tangga ini sebagai berikut;
1) Media ular tangga ini sangat efektif untuk mengulang (review) pelajaran yang telah diberikan
2) Media ini sangat praktis dan ekonomis serta mudah dimainkan.
3) Dapat meningkatkan antusias murid dalam menggunakan media pembelajaran ini.
4) Murid akan menjawab pertanyaan dengan sungguh-sungguh apabila mereka berhenti di kotak pertanyaan.
5) Media ini sangat disenangi oleh murid karena banyak terdapat gambar yang menarik dan full colour.
b. Kelemahan media ini adalah:
1) Dimungkinkan menimbulkan kejenuhan karena banyaknya pertanyaan yang akan ditemui murid.
2) Akan menimbulkan kejenuhan pada murid yang menunggu giliran permainan.
3) Keadaan kurang terkontrol akibat kurangnya pengawasan guru dalam proses permainan.
4) Tanpa pengawasan yang intensif dari guru, murid dapat mudah terjebak dalam permainan ular tangganya saja tanpa bisa menyerap nilai-nilai atau tujuan digunakan media pembelajaran ini.
5) Media ini tidak cocok digunakan untuk kelas dengan jumlah murid yang besar.
4. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar tersusun dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Dalam kamus Bahasa Indonesia hasil artinya mutu yang diperoleh dari suatu aktivitas. Sedangkan belajar adalah suatu proses yang didalami seseorang yang ditandai degan adanya perubahan tingkah laku yang relatif menetap.
Ahmad Susanto (2013 :5) menyebutkan bahwa “ yang dimaksud dengan hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada diri murid, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar”. Pengertian itu dipertegas oleh K. Brahim (Ahmad Susanto, 2013:5) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang
dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
Pendapat Aunurrahman (2010:35) “hasil belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu. Slameto (2003:2) juga menjelaskan bahwa “hasil belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluuhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Menurut Nana Sudjana (2005:3), bahwa “hasil belajar murid pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang telah terjadi melalui proses pembelajaran”. Perubahan tingkah laku tersebut berupa kemampuan- kemampuan murid setelah aktivitas belajar yang menjadi hasil perolehan belajar. Dengan demikian hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada individu setelah mengalami pembelajaran.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku murid sebagai hasil dari kegiatan belajar. Perubahan tingkah laku tersebut berupa kemampuan-kemampuan murid setelah aktivitas belajar yang menjadi hasil perolehan belajar.
Kemampuan-kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Ahmad Susanto (2013: 6) menegaskan kembali bahwa “dalam kegitan pembelajaran biasanya guru menetapkan tujuan belajar terlebih dahulu. Anak
yag berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan tersebut.
Untuk mengetahui apakah hasil belajar yang dicapai telah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki daapat diketahui melali evaluasi.”. Menurut Hamalik membagi evalusi hasil belajar yakni : “Perkembangan ranah kognitif yang meliputi, pengetahuan dan pemahaman murid teradap materi yang telah dipelajari , perkembangan ranah efektif yakni sikap dan nilai atau perubahan tingkah laku murid, perkembangan ranah psikomotorik yakni aspek keterampilan murid”.
b. Bentuk-bentuk hasil belajar
Hasil belajar sebagaimana telah dijelaskan diatas meliputi pemahaman konsep (aspek afektif). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat berikut ini:
1) Pemahaman konsep
Bloom (Ahmad Susanto, 2013:6) diartikan sebagai:
“Kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajri. Pemahaman menurut Bloom ini adalah seberapa besar murid mampu menerima, menyerap, dan meemahami pelajaranyang diberikan oleh guru, atau sejauh mana murid dapat menerima serta mengerti apa yang ia baca, yang dilihat, yang dialami, yag ia rasakan berupa hasil peenelitian atau observasi langsung yang ia lakukan. Untuk mengukur hasil belajar murid yang berupa pemahamn konsep guru daapat melakukan evaluasi produk berupa tes baik secara lisan maupun tertulis.”
2) Keterampilan proses
Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pemikiran, nalar, dan perbuatan secara eefektif dan efisien untuk mencapai suatu hasil tertentu. Usman dan Setiawati (Ahmad Susanto, 2013:9) mengemukakan baahwa keterampilan proses merupakan keterampilan yang mengarah
kepada pembangunan kemampuan mental, fisik dan sosial,yang mendasar dalam diri murid.
3) Sikap
Sadiman (Ahmad Susanto, 2013:11), sikap merupakan kecenderungan untuk melakukan sesuatu dengan cara, metode, pola, dan teknik tertentu terhadap dunia sekitarnya baik berupa individu- individu maupun objek-objek tertentu.Sikap merujuk padaperbuatann, perilaku, atau tindakan seseorang.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Secara umum ada dua faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam melaksanakan aktivitas belajar, yaitu faktor yang berasal dari dalam subjek belajar (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar subjek belajar (faktor eksternal).
Muhibbin Syah (2014:129) membedakan faktor-faktor tersebut sebagai berikut :
1) Fakto-faktor internal berupa : a). Faktor fisiologis, yang berhubungan dengan kondisi fisik terdiri dari faktor kesehatan, dan cacat tubuh. Dan apabila kondisi fisik terganggu misalnya badan yang lemahatau sakit dan keadaan fisik tidak normal/cacat misalnya fungsi mata atau pendengaran tidak berfungsi dengan baik, maka dapat dipastikan proses dan hasil belajar tidak akan maksimal. b). Faktor-faktor psikologis, intelegensi atau kecerdasan, sikap mint, bakat, dan motivasi.
2) Faktor eksternal berupa ; a). Lingkungan sosial sekolah (guru atau para tenaga kependidikan seperti kepala sekolah dan wakil-wakilnya, dan
teman-teman sekelas, masyarakat dan tetangga murid, b). Lingkungan nonsosial (gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga murid daan letaknya, alat-alaat belajar, keadaan cuaaca dan waktu belajar yang digunaakan murid),
3) Faktor pendeekatan belajar (pendekatan hukum Jost, pendekatan Ballard dan Calanchy dan pendeekatan Biggs)
d. Hal-hal yang harus dilakukan untuk mencapai keberhasilan belajar Muhibbin Syah (2014:129) menyatakan bahwa untuk mencapai keberhasilan belajar ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:
1) Belajar dengan teratur dan hemat 2) Disiplin dan bersemangat
3) Adanya pengaturan waktu, kapan untuk tidur, istirahat, belajar, makan, olahraga, dan lain-lain setiap harinya.
5. Pembelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) a. Pengertian IPS
Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan nama mata pelajaran ditingkat sekolah atau nama program studi diperguruan tinggi yang identik dengan istilah “Social Studies” dalam kurikulum persekolahan di negara lain.
Nama Ilmu Pengetahuan Sosial yang lebih dikenal Social Studies di negara lain itu merupakan istilah hasil kesepakatan dari para ahli pakar di Indonesia.(Sapriya, 2009:31)
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang
berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, dan ekonomi. Pembelajaran tersebut disajikan di sekolah mulai dari kelas rendah sampai kelas tinggi.
Ilmu pengetahuan sosial adalah serangkaian kegiatan pembelajaran di sekolah yang mempalajari isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat yang memuat keadaan geografis, perkembangan sejarah dan kegiatan ekonomi masyarakat. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan terus berkembang karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan. Oleh karena itu, pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ditingkat persekolahan itu sendiri mempunyai perbedaan makna khususnya antara IPS untuk Sekolah Dasar (SD) dengan IPS untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan IPS untuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Pengertian IPS dipersekolahan tersebut ada yang berarti program pengajaran, ada yang berarti pelajaran berdiri sendiri, ada yang berarti gabungan dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu. Perbedaan ini dapat pula diidentifikasi dari perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing-masing jenjang persekolahan tersebut. (Sapriya, 2009:31)
Secara etimologis sosial berasal dari kata socius yang berarti lebih dari satu pergaulan, sedangkan ilmu berasal dari kata logos yangg berarti ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan suatu program
pendidikan yang mengintegrasikan konsep-konsep terpilih dari ilmu-ilmu sosial yang diharapkan para murid dapat terbina menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.
Hakikat dari Ilmu Pengetahuan Sosial jika disorot dari murid adalah sebagai pengetahuan yang akan membina para generasi muda belajar kearah positif yakni mengadakan perubahan-perubahan sesuai kondisi yang diinginkan oleh dunia modern atau sesuai daya kreasi pembangunan serta prinsip-prinsip dasar dan sistem nilai yang dianut masyarakat serta membina kehidupan masa depan masyarakat secara lebih cemerlang dan lebih baik kelak diwariskan kepada turunannya secara lebih baik. Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu bidang yang mempelajari seluk beluk kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Konsep inilah yang harus ditanamkan pada murid untuk dipahami dan dipetik nilai dann mamfaatnya dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat.
Tujuan utama dari pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial adalah untuk membantu kaum muda mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan informasi dan beralasan untuk kepentingan publik sebagai warga masyarakat yang beragam secara budaya demokratis dalam kata saling tergantung. Ilmu Pengetahuan Sosial adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis atau psikologis untuk tujuan pendidikan (Ischak dkk, 2001:44).
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi,
ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, dan politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, sehingga dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dengan demikian jelas bahwa IPS adalah fusi dari displin ilmu-ilmu sosial. Pengertian fusi disini adalah bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan bidang studi utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Bidang studi IPS tidak mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu. IPS dikembangkan secara terpadu berpotensi untuk mewujudkan manusia yang memiliki kesadaran sosial dan mampu hidup bersama dalam masyarakat majemuk.
Khusus untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SD, materi pelajaran dibagi atas dua bagian yakni materi sejarah dan materi pengetahuan sosial. Materi penggetahuan sosial meliputi linggkungan sosial, geografi, ekonomi, dan politik/pemerintahan sedangkan cakupan materi sejarah meliputi sejarah lokal dan sejarah nasional. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pengetahuan murid dan keterampilaan dasar yang akan digunakan dalam kehidupannya serta mmeningkatkaan rasa nasionalisme dari peristiwa masa lalu hingga masa sekarang agar para murid memiiliki rasa kebanggaan dan cinta tanah air. (Sapriya, 2009:43)
Kesadaran sosial akan terwujud apabila murid memiliki pemahaman konsep-konsep dalam pembelajaran IPS yang meliputi interaksi, saling ketergantungan, kesinambungan, dan perubahan (continuity and change), keragaman atau kesamaan atau perbedaan, konflik dan konsesus, pola
(patern), tempat (lokasi), kekuasaan (power), nilai kepercayaan, keadilan dan pemerataan kelangkaan (scariety), kekhususan (specialitation), budaya (culture) dan nasionalisme. Pembelajaran IPS diharapkan dapat memberikan pengalaman bagi murid untuk mencermati suatu fenomena kehidupan sosial dari berbagai perspektif ilmu sosial. Artinya, suatu fenomena kehidupan sosial harus ditinjau berdasarkan kajian berbagai bidang kajian seperti sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah.
Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dapat dikatakan sebagai mata pelajaran yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang diorganisasikan dengan satu pendekatan interdisipliner, multidisipliner, atau interdisipliner dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora (sosiologi, ekonomi, geografi, sejarah, politik, hukum, budaya, psikologi sosial, ekologi). Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan kajian ilmu-ilmu sosial secara terpadu yang disederhanakan untuk pembelajaran di sekolah. Dan mempunyai tujuan agar peserta didik dapat mengamalkan nilai-nilai (values) sehingga dapat menjadi warga negara yang baik berdasarkan pengalaman masa lalu yang dapat dimaknai untuk masa kini dan diantisipasi untuk masa yang akan datang.
b. Tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai suatu program pendidikan tidak hanya menyajikan tentang konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus pula mampu membina peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang tahu akan hak dan kewajibannya, yang juga mempunyai tanggung jawab kesejahteraan bersama. Oleh karena itu peserta didik yang dibina melalui IPS
tidak hanya memiliki pengetahuan dan kemampuan berfikir tinggi, namun peserta didik diharapkan pula memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya.
Ischak dkk, (2001: 44) mengemukakan tujuan pendidikan IPS untuk tingkat sekolah itu sebagai suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, psikologi filsafat, ideologi Negara dan agama yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar maupun menengah antara lain: 1) Mempersiapkan para peserta didik sebagai warga Negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and values) yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan agar menjadi warga Negara yang baik. 2) Mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memilki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya maupun yang menimpa masyarakat. 3) Mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna. 4) Lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab. 5) Mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru kepada
murid untuk menyampaikan mata pembelajaran yang dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang diorganisasikan dengan satu pendekatan interdisipliner, multidisipliner, atau transdisipliner dari ilmu–ilmu sosial dan humaniora (sosiologi, ekonomi, geografi, sejarah, politik, hukum, budaya, psikologi sosial, ekologi), sehingga peserta didik peka terhadap masalah–
masalah sosial yang terjadi di masyarakat dan menjadi warga negara yang baik.
c. Karakteristik Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SD/MI Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SD/Mi memiliki karakteristik masing-masing sesuai dengan aspek yang menjadi pembelajaran, akan tetapi satu hal yang menjadi kesamaan yaitu ruang lingkup yang dipelajarinya adalah manusia dalam kontak sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada umumnya memiliki karakteristik, yaitu sebagai berikut :
1) Kerangka kerja Ilmu Pengetahuan Sosial lebih menekankan pada bidang praktis tentang peristiwa gejala dan masalah sosial daripada teoritis keilmuan.
2) Dalam pembelajaran objek studinya, Ilmu Pengetahuan Sosial menekankan pada keterpaduan aspek-aspek yang terpisah satu sama lain.
3) Kerangka kerja Ilmu Pengetahuan Sosial berlandaskan ilmu-ilmu sosial sebagai induknya dan menjadikan ilmu-ilmu sosial tersebut sebagai sumber materinya.
4) Pada pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial masyarakat menjadi sumber materi, objek belajar, dan sekaligus menjadi ruang lingkup pembelajarannya.
5) Dalam melaksanakan kerjanya pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial menerapkan pendekatan terhadap kehidupan sosial masyarakat.
6) Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dilaksanakan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
B. Kerangka Pikir
Pembelajaran merupakan proses terjadinya transfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid. Agar proses pembelajaran berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, maka diperlukan suatu alat yang dapat mendukung kelancaran proses pembelajaran seperti media pembelajaran. Suatu media pembelajaran dikatakan baik apabila sudah memenuhi beberapa persyaratan baik dari segi tampilan, isi, maupun kemudahan dalam penggunaannya. Penggunaan media pembelajaran yang tepat akan dapat meningkatkan minat belajar murid serta memberikan kemudahan murid dalam memahami suatu materi sehingga hasil belajar murid mengalami peningkatan.
Berdasarkan uraian diatas, perlu dikembangkan suatu media pembelajaran yang berbeda, menarik, kreatif, dan inovatif serta mempunyai konsep belajar sambil bermain agar murid mempunyai suasana belajar yang menyenangkan serta memudahkan murid dalam memahami materi Ilmu
Pengetahuan Sosial. Salah satunya pengembangan media pembelajaran ular tangga. Dalam mengembangkan media pembelajaran ular tangga ada tahap- tahap yang harus di tempuh. Tahap pertama yaitu define atau pendefinisian, pada tahap ini membahas masalah analisis kurikulum, murid, materi serta spesifikasi tujuan. Tahap kedua yakni design atau perancangan, pada tahap ini membahas penyusunan tes, penyusunan media, dan rancangan awal.
Tahap terakhir yang ditempuh peneliti yakni tahap development atau pengembangan, pada tahap ini membahas validasi atau penilaian kelayakan rancangan produk oleh ahli validasi serta uji coba langsung pada sasaran subjek yang sesungguhnya. Dengan penggunaan media pembelajaran ular tangga ini memberikan ketertarikan murid dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial serta memudahkan murid dalam memahami suatu materi Ilmu Pengetahuan Sosial sehingga dapat meningkatkan hasil belajar murid dalam pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial. Berikut ini adalah bagan kerangka pikir dalam penelitian ini:
Gambar 2.1. Bagan Kerangka Pikir Media Ular
Tangga
Define (Pendefenisian)
Design (Rancangan)
Development (Pengembangan)
Hasil Belajar Murid
30 A. Model Pengembangan
Model pengembangan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R & D) meliputi pengembangan media pembelajaran ular tangga pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar. Research & Development dipahami sebagai kegiatan penelitian yang dimulai dengan research dan diteruskan dengan development. Kegiatan research ini dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kebutuhan pengguna dalam hal ini murid dan guru sedangkan kegiatan development dilakukan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran. Kelebihan dari penelitian Research and Development ini adalah menghasilkan sebuah produk yang teruji secara empiris sedangkan kekurangan dari penelitian Research and Development ini adalah membutuhkan waktu yang relatif panjang.
Model pengembangan yang digunakan adalah Model 4D yang merupakan singkatan dari Define, Design, Development and Dissemination yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974) yang dimodifikasi menjadi 3D. Model 4D dipilih dengan pertimbangan pada tahapan development selalu menyertakan kegiatan pembuatan produk (impelementasi), evaluasi dan revisi sehingga tahapan implementasi dan evaluasi sudah tidak dilakukan lagi karena telah terangkum di dalam tahapan development. Selain itu dengan adanya proses pengujian dan revisi ini produk yang dikembangkan telah memenuhi kriteria produk yang baik, teruji secara empiris dan tidak ada kesalahan-kesalahan lagi.
B. Prosedur Pengembangan
Prosedur pengembangan pembelajaran ular tangga pada pembelajaran IPS di sekolah dasar mencakup beberapa langkah pengembangan berdasarkan alur pengembangan Model 4D yang dimodifikasi menjadi 3D sebagai berikut:
Gambar 3.1 Alur Pengembangan Media Pembelajaran (Sumber: Ishaq Madeamin, 2010)
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada setiap tahap pengembangan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Define (Pendefinisian)
Dalam konteks pengembangan bahan ajar pembelajaran tahap pendefinisian dilakukan dengan cara:
a. Analisis kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan
Analisis Kurikulum Analisis Murid Analisis Materi Spesifikasi Tujuan
Penyusunan Tes Penyusunan Media
Rancangan Awal
Validasi Ahli Uji Coba
DefineDesignDevelopment
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan, dan peserta didik. Oleh sebab itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum yang berlaku pada SDN 015 Sumberjo adalah KTSP.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, standar kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Kedalaman muatan kurikulum pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan berdasarkan
standar kompetensi lulusan. Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan bagian integral dari struktur kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Substansi mata pelajaran IPS pada SD/MI merupakan ”IPS Terpadu”. Pembelajaran pada Kelas I–III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV–VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Pembelajaran pada Kelas I–III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV–
VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran.
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran. Minggu efektif dalam satu tahun pelajaran (dua semester) adalah 34–38 minggu.
Sekolah/madrasah dapat mengalokasikan lamanya minggu efektif belajar sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Hari belajar efektif adalah hari belajar yang betul-betul digunakan untuk kegiatan pembelajaran, sesuai dengan ketentuan kurikulum. Jumlah hari belajar efektif dalam 1 (satu) tahun pelajaran adalah 210 (dua ratus sepuluh) hari, sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Jam belajar efektif adalah jam belajar yang betul-betul digunakan dalam proses pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum. Jumlah jam belajar efektif setiap minggu untuk kelas IV–VI adalah 36 jam pelajaran. Jam
pembelajaran untuk setiap mata pelajaran dialokasikan sebagaimana tertera dalam struktur kurikulum. Satuan pendidikan dimungkinkan menambah maksimum empat jam pembelajaran per minggu secara keseluruhan. Alokasi waktu satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
Beban belajar pada kelas V yaitu satu jam pembelajaran tatap muka 35 menit. Jumlah jam pelajaran per-minggu sebanyak 36 jam.
Minggu efektif per-tahun pelajaran sebanyak 36 minggu. Waktu pembelajaran per-tahun sebanyak 1.260 jam pelajaran (45.360 menit).
Jumlah jam per-tahun sebanyak 756 jam.
Standar kompetensi adalah deskripsi pengetahuan, keterampilan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai setelah murid mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang pendidikan tertentu pula. Kompetensi dasar adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang harus dicapai oleh murid menunjukkan bahwa murid telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Maka kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar kompetensi.
Indikator maupun tujuan adalah penanda pencapaian kompetensi dara yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam pembelajaran IPS kelas 5 dalam satu tahun ajaran terdiri dari 2 standar kompetensi.
Satu standar kompetensi terdiri atas 4 ataupun 5 kompetensi dasar.
Adapun standar kompetensi yang sesuai dengan media pembelajaran ular tangga ini adalah menghargai berbagai peninggalan dan tokoh sejarah yang berskala nasional pada masa Hindu-Budha dan
Islam, keragaman kenampakan alam dan suku bangsa, serta kegiatan ekonomi di Indonesia. Kompetensi dasar yang sesuai dengan media pembelajaran ular tangga adalah mengenal makna peninggalan- peninggalan sejarah yang berskala nasional dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia dan menceriterakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Indikator kompetensi yang ingin dicapai yakni menjelaskan peninggalan sejarah kerajaan Hindu di Indonesia, mendeskripsikan peninggalan sejarah kerajaan Buddha di Indonesia, menyebutkan peninggalan bangunan bersejarah bercorak Hindu-Buddha, menjelaskan peninggalan sejarah kerajaan Islam di Indonesia, dan menyebutkan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu, Buddha, dan Islam di Indonesia.
b. Analisis karakteristik peserta didik
Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa murid SDN 015 Sumberjo kemampuan murid dalam memahami materi peninggalan- peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia masih rendah. Salah seorang murid mengemukakan pendapatnya bahwa sulit memahami dan mengingat tentang apa-apa saja peninggalan-peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia karena guru dalam proses pembelajarannya mengandalkan media papan tulis, buku paket serta memberikan tugas untuk menjelaskan peninggalan-peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia. Sehingga dibutuhkan beberapa media yang mampu mengatasi kekurangan dari pembelajaran yang berlangsung di
dalam kelas yakni dengan menggunakan media pembelajaran yang berupa permainan ular tangga
c. Analisis materi
Materi utama yang perlu diajarkan adalah peninggalan- peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
Materi ini disesuaikan dengan bentuk bahan ajar atau media yang ingin dibuat dan juga lingkungan murid.
d. Merumuskan tujuan
Kompetensi dasar dipecah ke dalam indikator-indikator yang menjadi topik utama pada permainan. Penjabaran KD akan sampai ke tujuan pembelajaran, sehingga konten-konten pada media pembelajaran pembelajaran ular tangga tidak melenceng dari tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Adapun indikator pencapaian kompetensi yang menjadi topik utama pada pembelajaran ular tangga adalah mendeskripsikan atau menjelaskan peninggalan-peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
2. Design (Perancangan)
Thiagarajan membagi tahap design dalam empat kegiatan, yaitu:
constructing criterion-referenced test, media selection, format selection, initial design. Kegiatan yang dilakukan pada tahap tersebut antara lain:
a. Penyusunan tes kriteria untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dan sebagai alat evaluasi setelah implementasi kegiatan. Tes kriteria ini dibuat dalam bentuk soal pilihan ganda sebanyak 30 nomor
yang mewakili materi dari peninggalan-peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.
b. Media pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik adalah media pembelajaran berupa ular tangga
c. Pembelajaran disajikan dalam bentuk permainan atau games. Murid dituntut untuk memahami materi yang diajarkan dengan cara yang berbeda sehingga murid lebih aktif dan tidak merasa bosan.
d. Mensimulasikan penyajian materi dengan media dan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang. Pada saat simulasi pembelajaran berlangsung, dilaksanakan juga penilaian dari guru kelas.
3. Development (Pengembangan)
Thiagarajan membagi tahap pengembangan dalam dua kegiatan yaitu:
expert appraisal dan developmental testing.
a. Expert appraisal merupakan teknik untuk memvalidasi atau menilai kelayakan rancangan produk. Dalam kegiatan ini dilakukan evaluasi oleh ahli dalam bidangnya. Saran-saran yang diberikan digunakan untuk memperbaiki materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun.
b. Developmental testing merupakan kegiatan uji coba rancangan produk pada sasaran subjek yang sesungguhnya. Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau komentar dari sasaran pengguna model. Hasil uji coba digunakan memperbaiki produk.
C. Jenis Data dan Sumber Data 1. Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini adalah data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari penilaian responden yang meliputi para ahli, guru dan murid.
2. Sumber data a. Populasi
Kegiatan penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mengolah data yang otentik di lapangan. Penelitian populasi maupun penelitian sampel bertujuan untuk memperoleh sejumlah data. Penentuan jumlah popoulasi dalam suatu penelitian merupakan salah satu langkah penting karena dalam populasi diharapkan diperoleh data yang diperlukan.
Menurut Arikunto (2014:115) berpendapat bahwa “Populasi adalah keseluruhan objek penelitian”. Adapun menurut Sugiyono (2014:55) berpendapat bahwa “Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, baik berupa benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa populasi adalah seluruh anggota atau objek yang akan diteliti di dalam suatu penelitian. Dalam hal ini seluruh murid di SDN 015 Sumberjo Kabupaten Polewali Mandar dengan jumlah 328 murid, 162 murid laki-laki dan 166 murid perempuan. Untuk lebih jelasnya terdapat pada tabel di bawah ini