1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa muncul sebagai salah satu sarana komunikasi manusia, sebagai makhluk sosial sudah semestinya manusia mempunyai alat untuk berinteraksi dengan sesama manusia ataupun dengan lingkungannya. Keraf (2004: 1) menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Pemikiran, ide, atau gagasan positif yang muncul dari dalam diri individu perlu diinformasikan kepada orang lain. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat bersosialisai sehingga mereka kekurangan informasi untuk memajuan kehidupan. Oleh karena itu, bahasa berperan penting dalam kehidupan. Suriasumantri (1993: 175) menyebut bahasa sebagai serangkaian bunyi dan lambang yang membentuk makna. Lebih lengkapnya, bahasa adalah “a systematic means of communicating ideas of feeling by the use of conventionalized signs, sounds, gestures, or marks having understood meanings”. Menurut pendapat Suriasumantri tersebut bahasa tidak hanya berupa suara tetapi juga tanda, gerak gerik ataupun simbol. Keragaman bahasa seringkali membuat seseorang tidak memahami apa yang ingin disampaikan orang lain sehingga menimbulkan “miss communication”. Oleh karena itu, untuk memperlancar komunikasi di suatu Negara biasanya digunakan bahasa nasional yang berlaku di wilayah kenegaraannya, seperti bahasa persatuan di Negara kita yaitu Bahasa Indonesia.
Kedudukan mata pelajaran Bahasa Indonesia seringkali dianggap remeh oleh para siswa di sekolah, mungkin karena sejak dini sudah mulai mengenal bahasa sehingga mereka merasa sudah bisa karena terbiasa. Anggapan seperti itu membuat para siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia. Pada dasarnya mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diidentikkan dengan sebuah pembelajaran berbahasa (berkomunikasi) sebenarnya dalam pelaksanaannya memuat empat komponen keterampilan yang semua penting untuk dipahami.
Dalam mempelajari Bahasa, seseorang akan memulai dengan belajar menyimak,
kemudian belajar berbicara, selanjutnya belajar membaca dan yang terakhir adalah belajar menulis (Slamet, 2009: 96).
“Readers become writers as they read” (Rahimi dan Karbalaei, 2016: 329).
Orang yang membaca belum tentu menulis, tetapi orang yang menulis sudah pasti membaca, paling tidak orang tersebut akan membaca apa yang sudah ia tulis sendiri.
Dari ilustrasi di atas dapat menguatkan pendapat Slamet (2009: 96) bahwa sebenarnya komponen dalam Bahasa Indonesia merupakan sebuah proses yang pada akhirnya bermuara pada keterampilan menulis. Keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang membentuk mata pembelajaran Bahasa Indonesia, oleh karena itu dalam pelaksanaannya harus melibatkan keempat komponen tersebut. Jika salah satu komponen terabaikan maka pada akhirnya hasil yang dicapai siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak akan maksimal. Abidin (2013: 187) mengemukakan bahwa secara esensial ada tiga tujuan pembelajaran menulis, yaitu 1) menumbuhkan kecintaan menulis pada diri siswa; 2) mengembangkan kemampuan siswa menulis; 3) membina jiwa kreativitas pada siswa untuk menulis. Akan tetapi, pembelajaran menulis yang berlangsung di SD pada umumnya melenceng dari tujuan yang semestinya.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SD Negeri 3 Sukoharjo dan SD Negeri 3 Dlepih pada semester I tahun ajaran 2016/2017, ditemukan indikasi bahwa keterampilan menulis siswa di kelas III perlu ditingkatkan. Data nilai siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek keterampilan menulis selama semester I di SD Negeri III Sukoharjo, menunjukkan hanya terdapat 7 siswa atau 31,82% dari 22 siswa yang mendapat nilai 70 ke atas (batas KKM), sedangkan sisanya 15 siswa atau 68,18% mendapat nilai di bawah 70. Data tersebut tidak jauh berbeda dengan data nilai keterampilan menulis siswa di SD Negeri 3 Dlepih, dari 15 siswa hanya 5 siswa (33,3%) yang telah mencapai KKM, sedangkan 10 siswa (66,7%) lainnya belum mampu mencapai batas ketuntatasan yang telah ditetapkan.
Data serupa ternyata juga pernah ditemukan pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Permatasari (2015) mengemukakan bahwa pada pembelajaran menulis karangan eksposisi di kelas IV-A SD Negeri 3 Sragen, dari 30 siswa hanya 40%
siswa (12 siswa) yang mendapatkan nilai di atas 70, sedangkan 60% sisanya (18
siswa) belum dapat memenuhi KKM. Keadaan itu perlu di atasi mengingat keterampilan menulis tidak hanya berlaku sementara, akan tetapi selama proses belajar. Hal tersebut didukung dengan ditemukannya masalah serupa pada penelitian sebelumnya yang ternyata sudah meluas pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aldhomoro (2010) mengemukakan bahwa di Kelas X.1 SMA Negeri 1 Musuk Kabupaten Boyolali pada tahun ajaran 2009/2010 dari 33 siswa hanya sekitar 36% (12 siswa) yang mendapatkan nilai 65 ke atas (sebagai batas ketuntasan) dan sisanya hanya mendapatkan nilai dibawah 65 pada tugas menulis cerpen.
Keaadaan seperti itu terjadi bukan tanpa alasan, berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan bersama guru kelas III di SD Negeri 3 Sukoharjo (Ibu Anik Wulandari, S.Pd pada tanggal 3 Maret 2017) dan guru kelas III SD Negeri 3 Dlepih (Ibu Suyati, S.Pd pada tanggal 7 Maret 2017) telah diidentifikasi beberapa faktor yang melatarbelakangi rendahnya kemampuan menulis tersebut. Siswa kelas III SD yang seharusnya sudah mulai memasuki tahap menulis lanjut secara teknik belum mampu untuk diarahkan menuju tahap itu karena di kelas sebelumnyapun dasar yang dimiliki siswa untuk menulis masih kurang. Minat siswa untuk mengikuti kegiatan belajar menulis masih rendah, siswa merasa jenuh dengan pembelajaran tersebut karena media yang digunakan hanya seadanya. Ketika guru menggunakan media gambar sebagai kata kunci untuk menulis, gambar yang disajikan kurang bervariasi karena hanya sebatas gambar yang sudah tertera di buku. Siswa cenderung mengamati tampilan utama dari gambar yang diberikan, unsur-unsur pelengkap gambar yang sebenarnya bisa digunakan untuk mengembangkan tulisan justru terabaikan. Faktor lain yang tidak kalah penting mempengaruhi keterampilan menulis siswa adalah persepsi dari siswa sendiri mengenai pemikiran bahwa menulis itu susah dan juga peran orang tua dalam memberikan pendidikan di lingkungan keluarga. Aram, Most, dan Mayafit (2006:
209) mengemukakan bahwa “maternal writing mediation correlated with basic alphabetic skills”, perantara Ibu dalam menulis berhubungan dengan keterampilan dasar penguasaan abjad. Dari temuan tersebut tampak bahwa faktor keluarga juga berperan penting dalam kurangnya keterampilan dasar yang dimiliki anak, sehingga
membuat guru mempunyai tugas yang lebih dari sekedar melanjutkan pembelajaran melainkan juga memberikan dasar yang kuat untuk pembelajaran menulis lanjut.
Salah satu model yang sering digunakan guru untuk menyampaikan materi menulis adalah model Concept Sentence. Shoimin (2014: 37) mengemukakan bahwa Concept Sentence adalah model yang dilakukan dengan memberikan kartu- kartu yang berisi beberapa kata kunci kepada siswa. Kemudian, kata kunci tersebut dikembangkan menjadi paragraf-paragraf dengan membentuk kelompok secara heterogen. Menurut Shoimin (2014: 38), salah satu kelebihan dari model ini adalah siswa dapat lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran. Model tersebut seharusnya mampu mengurangi permasalahan yang ada, akan tetapi mengingat beberapa faktor yang memicu kurangnya keterampilan menulis di atas diperlukan variasi dalam pelaksanaanya, baik dari segi media ataupun langkah- langkahnya.
Dari pemaparan di atas, ditawarkan pengembangan model Concept Sentence yang sudah biasa diterapkan guru melalui teknik 3M (mengamati, meniru, menambahi) dengan memanfaatkan media Puzzle yang selanjutnya disebut model Contence Muzzle. Perpaduan model Concept Sentence dengan teknik 3M bermedia Puzzle diharapkan dapat meningkatkan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran. Model Concept Sentence yang sejatinya merupakan bagian dari model kooperatif, diasumsikan dapat meminimalisir waktu pada saat pembelajaran berlangsung, karena dalam pengembangan ini media yang dipilih akan memerlukan tambahan waktu. Langkah-langkah dalam teknik 3M akan memudahkan siswa dalam menyusun paragraf, sedangkan media Puzzle yang sejatinya dikenal sebagai suatu permainan diharapkan dapat memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Selain itu, pemilihan media Puzzle dalam pengembangan model ini diasumsikan dapat menjawab permasalahan mengenai fokus siswa yang hanya tertuju pada gambar utama dalam kata kunci yang diberikan. Ketika kata kunci diberikan dalam bentuk potongan-potongan gambar, secara otomatis siswa akan mengamati bagian-bagian terkecil dari gambar tersebut. Teknik 3M merupakan suatu teknik yang yang pelaksanaanya melalui tahapan mengamati, meniru dan menambahi, di sini Puzzle akan menjalankan perannya pada tahap yang pertama,
yaitu mengamati. Untuk langkah pembelajaran secara umum, dalam penelitian ini tetap merunut pada langkah-langkah model pembelajaran Concept Sentence.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan dalam pertanyaan berikut:
1. Bagaimanakah pembelajaran menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD saat ini?
2. Bagaimanakah prosedur pengembangan model Contence Muzzle dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa SD yang dikembangkan dari penelitian ini?
3. Bagaimanakah efektifitas model Contence Muzzle untuk meningkatkan keterampilan menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa SD?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang sudah ditulis di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah
1. Mendeskripsikan pembelajaran menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD saat ini.
2. Mendeskripsikan prosedur pengembangan model Contence Muzzle dalam pembelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa SD
3. Mendeskripsikan keefektifan model Contence Muzzle untuk meningkatkan keterampilan menulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa SD.
D. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Berdasarkan pengembangan yang akan dilakukan dari Contence Muzzle, spesifikasi produk yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1. RPP mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 semester II.
2. Media pembelajaran berupa Puzzle.
3. Instrumen evaluasi pelaksanaan pembelajaran.
E. Pentingnya Pengembangan
Penelitian pengembangan ini perlu dilakukan mengingat permasalahan keterampilan menulis di SD perlu segera di atasi agar tidak meluas dan menyebabkan permasalahan yang lebih kompleks. Pengenalan kegiatan menulis di SD perlu mendapat perhatian khusus, selama kita belajar tidak terlepas dari kegiatan menulis, karena pada dasarnya kegiatan pembelajaran yang kita lakukan intinya terdapat dalam kegiatan membaca dan menulis. Menanamkan gemar menulis sejak dini dapat mengasah keterampilan menulis siswa, sehingga ketika mereka belajar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi nantinya tidak terlalu mengalami kesulitan dalam hal menulis. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengalaman yang timbul dari pembelajaran menulis jangan sampai membuat siswa merasa tidak termotivasi untuk menulis. Pada intinya, pembelajaran menulis perlu dilakukan melalui proses pembelajaran yang secara tidak langsung melibatkan siswa ke dalam kegiatan menulis salah satunya melalui kegiatan pembelajaran yang memberikan kesan menarik.
F. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan 1. Asumsi
Model Concept Sentence merupakan salah satu model kooperatif yang dalam prosesnya dilakukan secara berkelompok, sehingga secara otomatis akan memunculkan rasa kerjasama antar anggota kelompok dan dapat mempersingkat waktu pembelajaran. Selaian itu, penggunaan tipe kooperatif diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa sehingga pembelajaran yang berlangsung tidak terkesan satu arah, akan tetapi juga melibatkan aktivitas antar siswa dan juga dengan sumber belajar. Pemilihan media Puzzle dalam model Concept Sentence juga dipertimbangkan melalui pengamatan yang telah dilakukan di lapangan bahwa siswa cenderung mengamati gambar utama, jadi dengan menyajikan potongan-potongan gambar diharapkan siswa akan lebih mencermati visual gambar. Media Puzzle yang diiringi dengan penerapan teknik 3M akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna, karena pada dasarnya teknik ini memberikan kemudahan siswa dalam menyusun dan
mengembangkan tulisan dari kata kunci yang telah diamati. Pemilihan teknik 3M sendiri juga disesuaikan dengan tahapan menulis yang benar, yaitu dari tahap pra penulisan (mengamati), tahap penulisan (meniru), dan pasca penulisan (menambahi).
2. Keterbatasan Pengembangan
Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini masih diliputi beberapa keterbatasan, antara lain:
1. Media Puzzle yang dibuat masih dalam bentuk sederhana, belum mengandung unsur digital.
2. Dalam pelaksanaannya setiap kelompok hanya mendapat satu tema atau empat kata kunci yang terdiri dari empat potong gambar, itu artinya gambar atau Puzzle yang digunakan kurang bervariasi.
G. Definisi Istilah 1. Pengembangan
Penelitian pengembangan merupakan usaha untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan (Borg & Gall:
2003). Sugiyono menambahkan bahwa metode penelitian pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Penelitian ini mengembangkan model Concept Sentence yang akan menghasilkan perangkat pembelajaran termasuk media pembelajaran yang digunakan.
2. Model Concept Sentence
Model Concept Sentence merupakan model pembelajaran yang diawali dengan penyampaian kompetensi, sajian materi, pembentukan kelompok heterogen, penyajian kata kunci sesuai materi bahan ajar, dan penugasan kelompok (Huda, 2013: 316).
3. Teknik 3M
Teknik 3M merupakan pengembangan dari strategi copy the master yang meliputi kegiatan mengamati, meniru dan menambahi (Hadi, 2008: 15).
4. Media Puzzle
Puzzle adalah media pembelajaran edukatif berupa potongan homogen ataupun acak yang memuat gambar/lukisan letak suatu wilayah atau unsur- unsur yang ada di dalamnya berupa gambar yang dipecah menjadi komponen yang digabungkan.
5. Keterampilan menulis
Keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain melalui bahasa tulis (Abbas, 2006:
125).