• Tidak ada hasil yang ditemukan

PREVALENSI KARIES DAN GINGIVITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS IV, V DAN VI DI KECAMATAN SINJAI TIMUR SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PREVALENSI KARIES DAN GINGIVITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS IV, V DAN VI DI KECAMATAN SINJAI TIMUR SKRIPSI"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

PREVALENSI KARIES DAN GINGIVITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS IV, V DAN VI

DI KECAMATAN SINJAI TIMUR

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi

FARAH FADHILLAH J 111 14 013

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN 2017

(2)

ii

PREVALENSI KARIES DAN GINGIVITIS PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS IV, V DAN VI

DI KECAMATAN SINJAI TIMUR

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

FARAH FADHILLAH J 111 14 013

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN 2017

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v Prevalensi Karies dan Gingivitis pada Anak Sekolah Dasar

Kelas IV,V dan VI di kecamatan Sinjai Timur Farah Fadhillah

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS

ABSTRAK

Latar Belakang: Kesehatan mulut merupakan hal penting untuk kesehatan secara umum dan kualitas hidup. Untuk menilai status kesehatan gigi dapat dilihat dari ada dan tidaknya penyakit gigi, diantaranya derajat karies gigi. Prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05% dan ini merupakan angka yang sangat tinggi. Penyakit lain yang biasa menyertai karies adalah gingivitis. Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang sering menyerang anak dan remaja, dengan presentase 82,1%. Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi karies dan gingivitis yang terjadi pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di kecamatan Sinjai Timur. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional study. Besar sampel ditentukan dengan rumus besar sampel sehingga sampel yang diperlukan sebanyak 100 orang siswa yang diperiksa dengan menggunakan indeks DMF-T untuk karies dan indeks gingival untuk gingivitis. Data kemudian diolah menggunakan SPSS 21. Hasil Penelitian: berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa prevalensi karies untuk siswa sekolah dasar di Sinjai Timur cukup rendah dengan rerata DMF-T 1.5 berdasarkan WHO. Sedangkan untuk gingivitis hanya tergolong peradangan ringan dengan nilai indeks gingival 0.5, kedua hasil tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pengetahuan orangtua. Kesimpulan: angka kejadian karies dan gingivitis pada anak sekolah dasar di kecamatan Sinjai Timur cukup rendah dan dengan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan pendidikan orangtua.

Kata kunci: karies, gingivitis, anak SD kelas IV-VI, lingkungan, pengetahuan, pendidikan.

(6)

vi The Prevalence of Caries and Gingivitis in Elementary School among to

Grade IV, V and VI in East Sinjai Farah Fadhillah

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS

ABSTRACT

Background: Oral health is the important thing belong to general health and quality of life. Dental caries in children is a serious problem in oral health in Indonesia, with a prevalence of up to 90.05%. Other diseases that often accompany dental caries is a disease of periodontal tissues. Gingivitis is periodontal diseases are more than 82,1% of young children. Objectives: The purpose of this study is to describe the prevalence of caries and gingivitis among to elementary school grade IV,V and VI in East Sinjai. Methods: this research was an observasional analitic with cross sectional study using a formula for sampling then got 100 samples and clinical examination of each sample using DMF-T index for caries and gingival index for gingivitis. Data were processed by SPSS program version 21. Results: Based on the data analysis, the result showed that prevalence of caries for elementary children in East Sinjai is low with average 1.5 according to WHO interpretation. The prevalence of gingivitis is low with average 0,5 for gingival index, these results were effect of areas factor and occupation. Conclusion: The incidence of caries and gingivitis in elementary children in Est Sinjai were low and caused by areas and parents education.

Keywords: caries, gingivitis, elementary children, areas, knowledge, education.

(7)

vii KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya yang telah memberikan pengetahuan dan kelancaran bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Prevalensi Karies dan Gingivitis pada Anak Sekolah Dasar Kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur” dengan tepat waktu sekaligus menjadi syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata satu di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin.

Dalam skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan, bantuan, semangat, doa, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. DR. drg. Bahruddin Thalib, M. Kes, Sp. Pros. sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin beserta seluruh staf atas bantuannya selama penulis mengikuti pendidikan.

2. drg. Adam Malik Hamudeng, M.Med.Ed. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak meluangkan waktu mendampingi, membimbing, mengarahkan, dan memberi nasihat kepada penulis dalam menyusun skripsi ini. Juga selaku penasihat akademik atas bimbingan, perhatian, nasihat, dan dukungan bagi penulis selama perkuliahan.

3. Untuk kedua orang tua yang tercinta, Ayah Muhammad Aras dan Ibu Nurfaidah, saudara penulis Muhammad Naufal Nurfarraz, juga Muhammad Faruuq Qayyum serta keluarga tersayang dari penulis yang

(8)

viii telah memberikan banyak doa, dukungan, perhatian, dan pengertian selama pembuatan skripsi ini.

4. Untuk sahabat yang sudah meluangkan waktunya dalam membantu peneliti melakukan penelitian Andam Dewi Suci, A. Fauziah Alrahma dan Eka Oktaviana tidak lupa juga untuk teman-teman alumni JILC 2014 yang selalu memberi dukungan dan motivasi.

5. Untuk sahabatku Andi Dedy Cahyadi yang selama ini memberikan semangat dengan menemani mengerjakan hasil penulisan skripsi ini.

6. Untuk teman-teman Kelompok Tutorial 1 sejak maba hingga semester akhir walaupun sering dapat masalah dan terlihat kurang solid tapi sebenarnya saling peduli dan melengkapi satu sama lain.

7. Untuk teman-teman seperjuangan, INTRUSI 2014 atas dukungan dan rasa persaudaraan yang diberikan selama ini kepada penulis.

8. Untuk Seluruh Dosen dan Staf karyawan yang telah banyak membantu penulis. Untuk semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebut satu persatu.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sekaligus meminta maaf bila dalam skripsi ini masih terdapat kesalahan di luar kemampuan penulis. Semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu kedokteran gigi ke depannya dan juga bagi para pembaca lainnya.

Makassar, 2017

Farah Fadhillah

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Karies ... 9

2.2 Gingiva ... 31

2.3 Pengaruh Letak Geografis terhadap Insidensi Karies dan Gingivitis 46 BAB III KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP ... 47

3.1 Kerangka teori ... 47

3.2 Kerangka konsep ... 48

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 49

4.1 Jenis penelitian... 49

4.2 Rancangan penelitian ... 49

(10)

x

4.3 Lokasi penelitian ... 49

4.4 Waktu penelitian ... 50

4.5 Populasi dan sampel penelitian ... 50

4.6 Teknik pengambilan sampel ... 51

4.7 Variabel penelitian ... 51

4.8 Defenisi operasional variabel ... 52

4.9 Kriteria penelitian ... 52

4.10Alat dan bahan ... 53

4.11Data ... 53

4.12Alur penelitian ... 54

BAB V HASIL PENELITIAN ... 55

BAB VI PEMBAHASAN ... 71

BAB VII PENUTUP ... 78

7.1 Kesimpulan ... 78

7.2 Saran ... 79

DAFTAR PUSTAKA ... 80

LAMPIRAN ... 84

(11)

xi DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Flowchart pathogenesis karies ... 15

Gambar 2.2 Gingiva normal ... 31

Gambar 2.3 Diagram anatomi gingiva ... 33

Gambar 2.4 Pathogenesis gingivitis ... 39

(12)

xii DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kriteria penilaian ICDAS-II ... 24

Tabel 2.2 Kode dan kriteria indeks CAST ... 26

Tabel 2.3 Indeks gingival ... 44

Tabel 5.1 Distribusi sampel berdasarkan usia ... 55

Tabel 5.2 Distribusi sampel berdasarkan kelas ... 56

Tabel 5.3 Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin ... 56

Tabel 5.4 Indeks karies berdasarkan usia ... 56

Tabel 5.5 Indeks karies berdasarkan kelas ... 57

Tabel 5.6 Indeks karies berdasarkan jenis kelamin ... 57

Tabel 5.7 Indeks karies berdasarkan asal sekolah ... 58

Tabel 5.8 Indeks karies berdasarkan pekerjaan orangtua ... 60

Tabel 5.9 Indeks karies berdasarkan lokasi ... 61

Tabel 5.10 Indeks kesehatan gingiva berdasarkan usia ... 61

Tabel 5.11 Indeks kesehatan gingiva berdasarkan kelas ... 62

Tabel 5.12 Indeks kesehatan gingiva berdasarkan jenis kelamin ... 62

Tabel 5.13 Indeks kesehatan gingiva berdasarkan asal sekolah ... 63

Tabel 5.14 Indeks kesehatan gingiva berdasarkan pekerjaan orangtua ... 64

Tabel 5.15 Indeks kesehatan gingiva berdasarkan lokasi ... 65

Tabel 5.16 Indeks karies dan gingivitis berdasarkan usia ... 66

Tabel 5.17 Indeks karies dan gingivitis berdasarkan kelas ... 66

Tabel 5.18 Indeks karies dan gingivitis berdasarkan jenis kelamin ... 67

(13)

xiii Tabel 5.19 Indeks karies dan gingivitis berdasarkan asal sekolah ... 68 Tabel5.20 Indeks karies dan gingivitis berdasarkan pekerjaan orangtua ... 69 Tabel 5.21 Indeks karies dan gingivitis berdasarkan lokasi ... 69

(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan mulut merupakan hal penting untuk kesehatan secara umum dan kualitas hidup. Kesehatan mulut berarti terbebas kanker tenggorokan, infeksi dan luka pada mulut, penyakit gusi, kerusakan gigi, kehilangan gigi, dan penyakit lainnya, sehingga terjadi gangguan yang membatasi dalam menggigit, mengunyah, tersenyum, berbicara, dan kesejahteraan psikososial. Salah satu kesehatan mulut adalah kesehatan gigi. Kesehatan gigi menjadi hal yang penting, khususnya bagi perkembangan anak.1

Untuk menilai status kesehatan gigi dapat dilihat dari ada dan tidaknya penyakit gigi, diantaranya derajat karies gigi. Penyaki karies sering terjadi pada anak namun kurang perhatian dari orang tua karena anggapan bahwa gigi anak akan digantikan dengan gigi tetap. Terbukti bahwa kesehatan gigi dan mulut yang tidak dipelihara akan menjadi sumber infeksi bagi penyakit yang menyerang organ-organ lainnya.

Karies gigi merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang sangat luas dan paling sering dijumpai di masyarakat, terutama pada anak-anak. Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT,2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%. Menurut WHO keadaan karies gigi di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

(15)

2 Pada tahun tujuh puluhan DMF-T hanya 0,7 meningkat hingga 2,3 di tahun delapan puluhan dan pada tahun Sembilan puluhan juga terjadi peningkatan menjadi 2,7. Sedagkan WHO telah menetapkan bahwa, “Oral Health Global Goal Indicator for 2000” adalah DMF-T tidak lebih dari 3. Selain itu, karies gigi

merupakan penyakit yang paling banyak menyerang manusia dengan presentase sebesar 98% dari penduduk dunia pernah menderita karies. Penyebab umum terjadinya karies gigi adalah proses fermentasi yang terjadi pada sisa makanan yang terdapat dalam rongga mulut. Proses fermentasi yang disebabkan oleh bakteri didalam rongga mulut dengan mengubah gula menjadi asam-asam organik yang mengakibatkan terjadinya lubang gigi dalam jangka waktu lama.2

Untuk mengukur karies gigi biasanya digunakan Indeks Karies Gigi yaitu DMF- T untuk gigi tetap dan def-t untuk gigi sulung, karena indeks ini yang paling banyak digunakan dan diterima secara universal. Indeks ini didasarkan pada kenyataan bahwa kalau jaringan keras gigi mengalami kerusakan maka gigi tersebut tidak dapat pulih sendiri dan akan meninggalkan bekas kerusakan yang menetap. Gigi yang rusak tersebut akan tetap tinggal rusak (D - Decay), dan kalau dirawat dengan dicabut maka akan disebut gigi hilang (M - Missing due to caries) atau ditambal (F - Filling due to caries). Maka dari itu indeks karies DMF adalah indeks yang irreversible, yang berarti indeks tersebut mengukur total life time caries experience.3

Untuk dmf kriteria masing-masing komponen sama dengan DMF diatas, hanya saja dipergunakan untuk gigi sulung. Dalam perjalannya indeks dmf sering diganti dengan indeks def, karena untuk komponen "m" sulit untuk mendeteksi apakah gigi sulung telah hilang karena karies atau tanggal secara normal atau sebab lain,

(16)

3 sehingga komponen "m" diganti dengan komponen "e" (Extraction), berarti hanya gigi karies yang terindikasi untuk dicabut karena karies dicatat sebagai "e".

Adapun kriteria dmf-t adalah 0,0-1,1 termasuk skor sangat rendah; 1,2-2,6 skor rendah, 2,7-4,4 skor moderat; 4,5-6,5 skor tinggi dan >6,6 skor sangat tinggi.4 Selain itu terdapat perbedaan pertimbangan klinis mengenai gigi rusak karena karies yang masih dapat ditambal atau harus dicabut untuk beberapa alasan. Misalnya gigi molar yang karies telah sampai pulpa yang sebenarnya masih dapat ditambal namun karena keadaan peralatan, maka gigi tersebut lalu di indikasikan untuk dicabut.

Penyakit lain yang sering menyertai karies adalah penyakit periodontal. Penyakit periodontal kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme patogenik pada biofilm oral atau dental plak yang berakumulasi disekitar gigi dengan oral hygiene yang buruk. Tanda bahwa penyakit periodontal berkembang ketika jumlah bakteri gram negatif dan anaerob pada plak subgingival bertambah. Gingivitis merupakan salah satu penyakit periodontal yang sering menyerang anak dan remaja, dengan presentase 82,1%.5

Untuk mengukur derajat kesehatan gingiva digunakan gingival indeks kegunaan gingival indeks adalah untuk mengukur warna gusi, kontur gusi, perdarahan gusi dan luasnya keterlibatan gusi dan laju alir cairan gusi. Skor penilaian Gingival Indeks adalah sebagai berikut :6

Skor 0 : Gingival normal tidak terdapat peradangan, tidak ada perubahan warna dan tidak ditemukan perdarahan.

Skor 1 : Terdapat peradangan ringan, ada sedikit perubahan warna, terdapat sedikit edema, namun tidak terdapat perdarahan.

(17)

4 Skor 2 : Terdapat peradangan sedang, terlihat warna kemerahan, terdapat edema, terdapat pula perdarahan.

Skor 3 : Terlihat warna merah terang, terdapat edema, ada ulserasi, cenderung terjadi perdarahan spontan.

Skor penilaian dan kriteria gingival indeks adalah sebagai berikut : Skor 0 : Sehat

Skor 0,1 - 1,0 : Peradangan ringan Skor 1,2 - 2,0 : Peradangan sedang Skor 2,1 - 3,0 : Peradangan berat

Gingival indeks dapat menilai semua permukaan dari semua atau gigi yang telah dipilih atau area yang telah dipilih. Gingival indeks digunakan untuk menilai prevalensi dan keparahan gingivitis dalam populasi, grup dan individu. Gingival indeks telah sering digunakan dalam percobaan di klinik dari agen terapeutik.

Sensitivitas dan reprodusibilitasnya disediakan dengan bagus bagi pengetahuan pemeriksa tentang biologi periodontal dan patologi yang optimal.

Masa kanak-kanak pertengahan 6-12 tahun sering disebut sebagai masa-masa yang rawan, karena pada masa itulah gigi susu mulai tanggal satu persatu dan gigi permanen pertama mulai tumbuh (usia 6-8 tahun). Dengan adanya variasi gigi susu dan gigi permanen bersama-sama di dalam mulut, menandai masa gigi campuran pada anak. Gigi yang baru tumbuh tersebut belum matang sehingga rentan terhadap kerusakan. Selain itu, anak-anak biasanya suka jajan makanan dan minuman sesuai keinginannya yang banyak mengandung karbohidrat.

(18)

5 Disamping itu masih kurangnya sosialisasi dan penyuluhan khususnya untuk anak sekolah mengenai kesehatan gigi dan mulut.

Persentase penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut menurut Riskesdas tahun 2007 dan 2013 meningkat dari 23,2% menjadi 25,9%. Dari penduduk yang mempunyai masalah kesehatan gigi dan mulut, persentase penduduk yang menerima perawatan medis gigi meningkat dari 29,7% tahun 2007 menjadi 31,1% pada tahun 2013. Sama halnya dengan Effective Medical Demand ( EMD) yang didefenisikan sebagai persentase penduduk yang

bermasalah dengan gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir dikali persentase penduduk yang menerima perawatan atau pengobatan gigi dari tenaga medis gigi (dokter gigi spesialis, dokter gigi dan perawat gigi) meningkat dari tahun 2007 (6,9%) menjadi 8, 1% tahun 2013. Berdasarkan provinsi pada tahun 2013 yang mempunyai masalah gigi dan mulut yang cukup tinggi (>35%) adalah provinsi Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tengah dengan masing-masing EMD 10,3%, 8% dan 6,4%. Bila dibandingkan tahun 2007 dan 2013 peningkatan masalah gigi dan mulut tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Se Iatan (10,9%), DI Yogyakarta (8,5%) dan Jawa Timur (8,3%). Sedangkan Provinsi Jam bi, Riau, Bengkulu mengalami penurunan masalah gigi dan mulut masing- masing 8,3%, 6,6% dan 6,3%.7

Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan masalah gigi dan mulut yang cukup tinggi. Sulawesi Selatan terdiri dari 21 kabupaten dan 3 kota yaitu Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Selayar, Maros, Pangkep, Barru, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pindrang,

(19)

6 Endrekang, Luwu, Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja Utara, Makassar, Pare- Pare dan Palopo. Dengan ditetapkannya provinsi Sulawesi Selatan sebagai Provinsi Sehat Pertama di Indonesia pada tanggal 25 November 2015. Predikat ini menjadi acuan bagi Provinsi Sulawesi Selatan bahwa ini bukanlah akhir dari hasil kerja keras pembangunan di sektor kesehatan namun menjadi cambuk untuk terus berusaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Salah satu yang dilakukan adalah dengan upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut yang di mulai pada anak-anak, juga dilihat dari rasio jumlah dokter gigi dan pasien yang harus dirawat adalah sebanyak 8 per 1000 penduduk.8

Salah satu kabupaten di Sulawesi selatan adalah kabupaten Sinjai. Kabupaten Sinjai merupakan kabupaten pesisir yang terletak di pesisir timur bagian selatan daratan Sulawesi Selatan yang berhadapan langsung dengan perairan Teluk Bone. Kabupaten Sinjai terletak antara 502’56” sampai 5021’16” Lintang Selatan dan antara 119056’30”` sampai 120025’33” Bujur Timur. Dari rekapitulasi tenaga kesehatan berdasarkan jenis pendidikan di kabupaten Sinjai pada tahun 2009 dinyatakan bahwa jumlah dokter gigi di dinas kesehatan berjumlah satu orang sedangkan yang berada dipuskesmas berjumlah 19 orang. Kecukupan tenaga dokter dapat dilihat dari indikator rasio jumlah dokter per 100.000 penduduk untuk tahun 2009 ratio dokter gigi di kabupaten Sinjai adalah 8 /100.000 penduduk. Selain itu, Keadaan jaringan periodontal pada pelajar di kabupaten Sinjai ialah 11,8% yang memiliki jaringan periodontal yang sehat, 4,6% mengalami perdarahan gingiva, dan ditemukan kalkulus pada 70,3% sampel, berdasarkan penelitian tahun 2007.

Prevalensi terjadinya karies gigi merupakan masalah klinik yang signifikan.

(20)

7 Diperoleh prevalensi karies pada penduduk usia 10 tahun ke atas sebesar 50% yakni pada usia 12 tahun sebesar 39%, usia 15 tahun mencapai 35%, usia 18 tahun 51,1%, usia 35-44 tahun 80% dan usia 65 tahun ke atas mencapai 96%. Hal ini menunjukkan suatu keadaan kerusakan gigi yang hampir tanpa penanganan.9

Informasi serta promosi masalah kesehatan gigi dan mulut harus sejak dini disosialisasikan kepada anak-anak agar mereka bisa mengetahui bagaimana pentingnya menjaga kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut mereka. Ini juga penting dilakukan agar anak terbebas dari penyakit gigi seperti karies dan gingivitis.

Banyak masalah yang kemudian dapat timbul apabila karies dan masalah jaringan periodontal tidak dicegah sejak dini, dalam kondisi biologis misalnya dapat mengakibatkan anak sulit mengunyah makanan dikarekanan gigi terasa sakit apabila difungsikan, ketidaknyamanan saat fungsi mastikasi oleh peradangan gusi yang kemudian berlanjut pada kesulitan pencernaan makanan karena tidak sempurna dalam proses mengunyah makanan. Kemudian dampak buruk lainnya dalam lingkungan sosial adalah kurangnya rasa percaya diri pada anak disebabkan gigi yang tanggal dini (sebelum periode pertumbuhan gigi permanen). Berdasarkan fakta bahwa karies gigi dan gingivitis merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai pada anak- anak dan apabila melihat jumlah dokter gigi yang masih sangat minim dalam meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut di kabupaten Sinjai, khususnya di kecamatan Sinjai Timur yang promosi serta penyuluhan kesehatan gigi yang masih sangat kurang maka peneliti bermaksud untuk meneliti mengenai prevalensi karies dan gingivitis pada anak-anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di kecamatan Sinjai Timur.

(21)

8 1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah penelitian yaitu :

1. Berapa besar insidensi karies gigi pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur?

2. Berapa besar insidensi gingivitis pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur?

3. Bagaimana prevalensi karies gigi dan gingivitis pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diperoleh tujuan dari penelitian yaitu :

1. Mengetahui insidensi karies gigi pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur.

2. Mengetahui angka kejadian gingivitis pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur.

3. Mengetahui prevalensi karies gigi dan gingivitis pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur.

1.4 MANFAAT PENELITAN

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:

(22)

9 1. Dapat memberikan informasi ilmiah mengenai insidensi karies gigi d a n g i n g i v t i s pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan i n f o r m a s i mengenai insidensi karies gigi d a n g i n g i v i t i s pada anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI di Kecamatan Sinjai Timur serta masukan kepada dokter gigi terkhusus dokter gigi yang b e r a d a d i wilayah kerjanya.

3. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan salah satu acuan untuk mengadakan penelitian selanjutnya serta menumbuhkan rasa kesadaran untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut bagi anak usia dini.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karies

Karies gigi merupakan suatu penyakit mengenai jaringan keras gigi, yaitu enamel, dentin dan sementum, berupa daerah yang membusuk pada gigi, terjadi akibat proses secara bertahap melarutkan mineral permukaan gigi dan terus berkembang kebagian dalam gigi. Proses ini terjadi karena aktivitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat diragikan. Proses ini ditandai dengan dimineralisasi jaringan keras dan diikuti kerusakan zat organiknya, sehingga dapat terjadi invasi bakteri lebih jauh ke bagian dalam gigi, yaitu lapisan dentin serta dapat mencapai pulpa.1

Penyaki karies sering terjadi pada anak namun kurang perhatian dari orang tua karena anggapan bahwa gigi anak akan digantikan dengan gigi tetap. Meskipun penyakit gigi dan mulut terbukti bahwa kesehatan gigi dan mulut yang tidak dipelihara akan menjadi sumber infeksi bagi penyakit yang menyerang organ-organ lainnya. Karies gigi merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang sangat luas dan paling sering dijumpai di masyarakat, terutama pada anak-anak. Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT,2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05%.

Menurut WHO keadaan karies gigi di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun.2

(24)

11 2.1.1 Definisi Karies

Karies adalah infeksi mikrobial dari jaringan yang terkalsifikasi dari gigi, ditandai dengan demineralisasi dari bagian inorganik dan destruksi substrat organik gigi. Karies merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan sakit serta bisa mengenai semua kelompok umur. Infeksi mengakibatkan hilagnya mineral gigi yang dimulai dengan permukaan luar gigi dan dapat berlanjut sampai dentin dan pulpa.9

Karies juga merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan dari interaksi biologi kompleks asidogenik bakteri, karbohidrat yang berfermentasi dan faktor host seperti gigi dan saliva. Streptococcus mutans sebagai bakteri asidogenik telah ditetapkan sebagai agent utama penyebab karies. Selain itu, proses terjadinya karies juga ditentukan oleh interaksi dari faktor proteksi dan patologi saliva dan plak biofilm serta keseimbangan antara populasi mikrobial karogenik dan nonkariogenik yang terdapat dalam saliva.10,11

2.1.2 Etiologi Karies

Studi epidemiologi menyebutkan hubungan antara prevalensi karies dan konsumsi gula. Karies merupakan penyakit infeksi yang disebabkan mutans streptococci. Mutans streptococci mencakup beberapa spesies berbeda, meliputi S.mutans dan S.sobrinus yang ditemukan pada karies. Faktor virulensi dari mutan

streptococci yang sangat penting adalah glucosyltransferase(s) yang disintesis secara adhesif, glucans tidak larut dalam air berasal dari sukrosa. S.mutans dan S.sobrinus memproduksi glucosyltransferase(s) tiga dan empat, masing-masing

(25)

12 berekasi secara kooperatif untuk sintesis adhesive glucan. Adhesive glucan menengahi akumulasi bakteri pada permukaan gigi. Mutans streptococci membutuhkan permukaan gigi sebagai habitat, infant tidak mengandung organisme ini beberapa waktu hingga gigi muncul. Jumlah mutans streptococci bertambah dengan peningkatan usia. Dental plak adalah tipe biofilm yang terdiri dari mikroorganisme dan beberapa produk seperti adhesive glucan. Bakteri plak memproduksi asam dalam jumlah yang besar seperti asam laktat dan kabohidrat yang difermentasi. Asam yang berada diantara permukaan gigi dan biofilm plak maka pH email mudah berubah menjadi 5.6 dan kekurangan mineral (dekalsifikasi) email. Inilah awal terjadinya karies.12

Berikut adalah pembagian etiologi karies secara singkat.13

a. Plak

Plak gigi adalah lengketan yang mengandung bakteri dengan segala produknya, yang terbentuk melalui serangkaian tahapan. Jika email gigi terpapar maka akan terbentuk lapisan organik yang amorf yang disebut dengan pelikel. Pelikel ini bersifat lengket sehingga sangat membantu bakteri untuk melekat pada permukaan gigi. Penumpukan plak ini akan mengakibatkan terhambatnya aliran salivs yang dapat berorientasi pada rentannya terjadi karies.

b. Peran karbohidrat

Karbohidarat berperan dalam menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarid ekstra sel. Tetapi, tidak semua karbohidrat memiiki derajat kariogenik yang sama. Hanya karbohidrat dengan

(26)

13 berat molekul yang rendah seperti gula yang dapat meresap ke dalam plak dan dimetabolisme oleh bakteri. Sedangkan karbohidrat yang kompleks seperti pati cenderung tidak berbahaya.

c. Kerentanan permukaan gigi

Daerah-daerah yang rawan diserang karies adalah:

1. Pit dan fisur pada permukaan oklusal gigi posterior; pit bukal dan pit palatal insisif.

2. Permukaan halus di daerah aproksimal sedikit di bawah titik kontak.

3. Email pada daerah servikal sedikit di atas tepi gingiva.

4. Permukaan akar yang terbuka, pada pasien penyakit periodontium dengan resesi gingiva.

5. Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan.

Kerentanan permukaan gigi sangat dipengaruhi oleh saliva. Ini dikarenakan saliva mampu meremineralisasikan karies dini karena mengandung ion kalsium dan fosfat. Saliva juga berperan dalam mengendalikan karies karena mampu mempengaruhi komposisi mikroorganisme dalam plak serta pH nya.

d. Waktu

Dengan adanya saliva yang berfungsi untuk proses remineralisasi, menandakan bahwa terjadi proses demineralisasi dan remineralisasi yang terjadi secara bergantian. Ini membuktikan bahwa karies dapat terjadi bukan dalam hitungan hari, melainkan dalam hitungan bulan atau tahun.

(27)

14 2.1.3 Epidemiologi Karies

Kesehatan mulut memiliki peran penting dalam kesehatan umum. Meskipun dicegah, banyak orang di seluruh dunia tetap saja merasa sakit dan tidak nyaman karena penyakit mulut. Selain itu, biaya perawatan gigi mahal. Karies dan penyakit peritodontal secara historis telah dianggap sebagai beban kesehatan mulut global yang paling penting. Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan utama di sebagian besar negara karena mempengaruhi 60-90% dari anak usia sekolah. Kawasan Asia Tenggara terdiri dari 11 negara. Hanya satu negara (Timor Timur) tidak memiliki data tentang karies gigi pada usia 12 tahun. Studi tentang karies di kawasan ini selesai pada kurun waktu 1984-2008. Indeks DMF-T menunjukkan rata-rata 1.95 (1.24) dan median 1.65. Indonesia dikategorikan sebagai salah satu negara dengan Indeks karies yang tinggi.15

Dengan perkiraan populasi 237.641.326 pada tahun 2010, Indonesia mungkin harus menghadapi beban kesehatan mulut. World Health Organization (WHO) telah memilih umur lima dan dua belas tahun sebagai grup indikator sebagai benchmarking untuk kesehatan oral anak internasional. Data epidemiologikal status karies anak di Indonesia menakutkan. Dalam suatu penelitian, menggunakan sedikit sampel, disurvey bahwa kesehatan oral anak berumur kurang dari 5 tahun, menunjukkan prevalensi 70% dengan rerata dmf-t 3.7, yang terdiri dari 100% untreated decay.15

2.1.4 Pathogenesis Karies

Deskripsi sederhana tentang penyebab karies meliputi tiga faktor yaitu host, bakteri dan diet. Karies terjadi apabila permukaan gigi yang rentan dihuni sebagai

(28)

15 kolonisasi baktero kariogenik dan sukrosa atau gula. Bakteri patogen kemudian memproduksi asam laktat dari fermentasi karbohidrat dan asam ini melarutkan struktur kristal hidroksiapatit gigi yang menyebabkan karies.16

Gambar 2.1 Flowchart pathogenesis karies (Sumber: Yadav K, Prakash S. Dental caries: a review. Asian Journal of Biomedical and Pharmaceutical Sciences 2016 Feb 22; 773(6i53):7.

Gigi manusia terselubung dalam tulang alveolar oleh ligamen periodontal dan disusun oleh tiga lapisan histologis yang berbeda. Lapisan paling dalam, pulpa, terdiri dari vaskular dan nervus penghubung sistemik yang memberi vitalitas pada gigi. Pulpa dilindungi secara protektif oleh dentin dengan kandungan mineral sekitar 75%, sel blastik untuk dentin (odontoblast) dapat ditemukan antarpulpa-dentin.

Dentin dari mahkota (bagian gigi secara klinis terlihat di rongga mulut) ditutupi oleh enamel, yang bahkan kadar mineralisasinya lebih tinggi dari dentin yaitu sekitar

(29)

16 95% dan merupakan substansi paling keras dalam tubuh manusia. Sementum menutupi akar dentin dan hanya sekitar 50% yang termineralisasi. Setidaknya ada dua hal penting mengenai hubungan antara histologi gigi dan karies gigi. Pertama, lebih tinggi lapisan mineralisasi gigi maka lebih resisten terhadap disolusi asam yang terjadi pada karies, sehingga enamel di salah satu ujung spektrum memainkan peran protektif penting, tapi sementum di tepi lain lebih rentan terhadap kehilangan mineral. Kedua, adanya odontoblast pada pulpa menyediakan potensi untuk perbaikan asam-dentin rusak dan email tidak memiliki kemampuan yang sama untuk self-repair.

Aciduric, bakteri asidogenik sebagai agen primer dalam menurunkan kadar pH dalam lingkungan oral, yang menghasilkan disolusi/demineralisasi gigi. Meskipun ekosistem oral kompleks dan ada kemungkinan perkembangan dari spesies bakteri karies, penyebab utama karies pada email gigi adalah Streptococcus mutans. Spesies lain seperti Lactobacilli telah dikaitkan dalam memperparah lesi karies serta Actinomyces pada akar sementum. Berbagai spesies berada di biofilm pada

permukaan gigi-dental plak, menetap (tidak ada intervensi) dan setelah metabolisme sukrosa, bakterial acidic memproduksi pH oral rendah. Selama pH diturunkan (sekitar 5.5 untuk email, 6.5 untuk dentin), mineral seperti fosfat dan ion hidroksil diserap kembali dari gigi ke lingkungan oral.

Tandal klinis pertama dari demineralisasi adalah terjadi sedikit perubahan warna pada permukaan email. Jika pH dikembalikan ketingkat yang lebih netral denagn menghilangkan plak bakteri dan atau karbohidrat, kemudian tersedia kalisum, fosfat dan ion hidroksil dalam saliva dan plak berpartisipasi dalam kristalisasi struktur

(30)

17 email. Dengan demikian karies dianggap kronis dan berpotensi menjadi penyakit, dengan periode antara demineralisasi struktur gigi selama periode pH rendah dan remineralisasi selama periode netral/ pH lebih tinggi. Ketika gigi mengalami demineralisasi untuk waktu yang diperpanjang selama periode pH rendah, akhirnya mineral hilang terlalu banyak untuk proses remineralisasi dan substruktur email tidak kuat sehingga membentuk kavitas.17

2.1.4.1 Tanda dan gejala karies

Tanda dan gejala karies bervariasi tergantung pada luas dan lokasi karies. Jika kavitas karies hanya dipermukaan mungkin saja tidak memiliki tanda apapun. Ketika karies meluas akan menimbulkan tanda dan gejala seperti:16

a. Sakit gigi dan sakit mild to sharp ketika makan atau minum sesuatu yang manis, panas atau dingin (sensitivitas gigi)

b. Lubang gigi terlihat

c. Perubahan warna kecoklatan, hitam atau noda putih pada permukaan gigi d. Napas bau

e. Demam, menggigil, abses dan trismus 2.1.4.2 Tahap karies

Selain tanda dan gejala yang menandakan adanya karies yang terjadi, beberapa tahapan berikut ini juga penting dalam mendiagnosa karies.16

a) White spot stage

Asam diproduksi oleh bakteri dan fermentasi dental plak dalam melarutkan matriks mineral gigi. Dalam tahap yang lebih cepat, karies tampak seperti noda putih pada gigi. Pada tahap ini, permukaan utuh dan

(31)

18 subpermukaan lesi reversibel. Noda putih dihasilkan dari karies yang baru mulai akan terbentuk pada perkembangan hipokalsifikasi.

b) Cavity stage

Jika mineral terus hilang karena aktivitas asam, permukaan akan rusak atau kavitas dan lesi tidak dapat dikembalikan. Jika lesi bertambah luas, permukaan gigi bisa hilang. Kavitas lesi aktif berwarna coklat keemasan. Lesi yang lebih luas dan besar lebih gelap dan kadang hampir berwarna hitam.

Kedalaman warna tidak bisa dijadikan indikator untuk mementukan keparahan lesi karena arrested decay seringkali lebih gelap.

2.1.5 Klasifikasi Karies

Karies dapat diklasifikasikan berdasarkan laju perkembangan, jaringan keras yang terkena serta lokasinya. Klasifikasi karies dapat digunakan untuk mengelompokkan kasus kerusakan gigi agar lebih akurat untuk mewakili kondisi yang lain dan juga untuk mengindikasikan keparahan kerusakan gigi. Berikut adalah beberapa kelompok klasifikasi karies berdasarkan beberapa indikator berbeda.

a. Tipe karies16

1. Karies primer (incipient caries), merupakan karies yang terjadi dilokasi yang belum pernah terjadi karies sebelumnya.

2. Karies sekunder (recurrent caries), muncul di lokasi dengan riwayat karies sebelumnya dan sering ditemukan di tepi tambalan gigi dan restorasi gigi lainnya.

(32)

19 3. Arrested caries, sebuah lesi pada gig yang sebelumnya terdemineralisasi tapi

telah terremineralisasi setelah membentuk kavitas.

b. Klasifikasi karies berdasarkan laju perkembangan terbagi atas karies kronis yaitu karies yang ditandai dengan cepatnya karies tersebut berkembang dan karies akut, yaitu karies yang waktu perkembangannya cukup lama.16

c. Karies berdasarkan jaringan keras yang dikenai terdiri atas:16

1. Karies email, karies yang awal perkembangannya hanya mengenai email.

2. Karies dentin, karies yang luas kerusakannya mencapai lapisan dentin atau lebih dalam.

3. Karies sementum, karies yang terjadi sampai akar gigi

d. Klasifikasi karies menurut GV Black (1908) membagi karies berdasarkan lokasinya.18

1. Kelas I, karies yang mengenai permukaan oklusal, bukal dan pit lingual gigi posterior dan permukaan lingual gigi anterior.

2. Kelas II, melibatkan permukaan proksimal gigi posterior.

3. Kelas III, melibatkan permukaan proksimal gigi anterior yang tidak mengenai incisal edge.

4. Kelas IV, melibatkan permukaan proksimal gigi anterior sampai ke incisal edge.

5. Kelas V, melibatkan permukaan lingual semua gigi.

e. Klasifikasi karies menurut Graham J. Mount (2009)

Klasifikasi GV Black tidak memberikan kemudahan untuk progres pemberian intervensi minimal lesi karies dan sulit bagi dokter untuk menurunkan

(33)

20 kompleksitas dari preparasi dan restorasi lesi karies yang luas. Maka klasifikasi ini dibuat untuk memudahkan dokter dan pasien sendiri. Konsep desain kavitas dengan intervensi minimal seharusnya tidak sulit untuk diterima dan divisualisasikan sebagai pengganti klasifikasi tradisional GV Black. Mount mengklasifikasikan karies berdasarkan ukuran dan lokasi karies.19

1. Lokasi lesi, lesi karies terjadi hanya pada tiga lokasi yang berbeda pada permukaan mahkota gigi.

a) Site 1, pit dan fisur permukaan oklusal gigi posterior dan defek lain pada permukaan enamel.

b) Site 2, kontak area antara sepasang gigi, anterior atau posterior

c) Site 3, area servikal termasuk jaringan gingival mencakup permukaan akar.

2. Ukuran lesi, lesi yang tidak ditangani akan berlanjut meluas sebagai aera demineralisasi ke satu sisi yang telah diuraikan tadi. Karena perluasan tersebut maka restorasi pun akan semakin sulit dilakukan. Ukuran lesi dapat diidentifikasi dengan mudah seperti berikut ini.

a) Size 0, lesi awal pada sisi mana saja dapat diindentifikasi tapi belum membentuk kavitas di permukaan. Lesi ini masih bisa disembuhkan.

b) Size 1, lesi minimal terkecil membutuhkan tindakan intervensi. Kavitas bisa sembuh melalui proses remineralisasi.

c) Size 2, kavitas sedang. Masih ada struktur gigi untuk menjaga sisa mahkota dan menerima beban oklusal.

(34)

21 d) Size 3, kavitas harus dimodifikasi dan memberikan perlindungan untuk

sisa mahkota dari beban oklusal. Ada retakan pada dasar cusp, jika tidak segera ditangani, retakan tersebut akan berkembang.

e) Size 4, kavitas luas diikuti oleh hilangnya cusp gigi posterior dan atau incisal edge gigi anterior.

2.1.6 Pengukuran Indeks Karies

World Health Organization (WHO) pada tahun 2007 mengakui bahwa pertumbuhan penyakit oral di seluruh dunia dan menekankan untuk menignkatkan tindakan sistem pengumpulan data. Mengingat bahwa global epidemik dari karies pada anak yang tidak diobati ada kebutuhan mendesak untuk membangun skor sistem yang baik antara penilaian dan kuantitas tingkat keparahan karies . selain itu, data yang tersedia tidak mudah sebanding karena sistem penilaian yang berbeda digunakan.20

2.1.6.1 Indeks DMF-T

Untuk mengukurkaries gigibiasanya digunakanIndeks Karies GigiyaituDMF-T untuk gigi tetapdandef-t untuk gigi sulung, karena indeks ini yang paling banyak digunakan dan diterima secara universal. Indeks ini didasarkan pada kenyataan bahwa kalau jaringan keras gigi mengalami kerusakan maka gigi tersebut tidak dapat pulih sendiri dan akan meninggalkan bekas kerusakan yang menetap. Gigi yang rusak tersebut akan tetap tinggal rusak (D - Decay), dan kalau dirawat dengan dicabut maka akan disebut gigi hilang (M - Missing due to caries) atau ditambal (F -

(35)

22 Filling due to caries). Maka dari itu indeks karies DMF adalah indeks yang irreversible, yang berarti indeks tersebut mengukur total life time caries experience.3

Untuk dmf kriteria masing-masing komponen sama dengan DMF diatas, hanya saja dipergunakan untuk gigi sulung. Dalam perjalannya indeks dmf sering diganti dengan indeks def, karena untuk komponen "m" sulit untuk mendeteksi apakah gigi sulung telah hilang karena karies atau tanggal secara normal atau sebab lain, sehingga komponen "m" diganti dengan komponen "e" (Extraction), berarti hanya gigi karies yang terindikasi untuk dicabut karena karies dicatat sebagai "e".

Namun kekurangan dari indeks ini adalah tidak bisa mendeteksi individu dengan resiko karies tinggi.

2.1.6.2 Significant caries index (SiC)

Indeks ini diperkenalkan sebagai dasar untuk memberikan perhatian kepada individu dengan resiko karies tinggi. Indeks ini dicobakan untuk menutupi kekurangan rerata jumlah DMFT secara akurat dalam menilai distribusi karies dalam populasi khususnya di negara berkembang sebagai awal untuk mengoreksi kesalahan kesimpulan bahwa situasi karies dalam populasi sudah terkontrol, sedangkan realitasnya masih banyak individu memiliki karies.

Penggunaan DMF dan SiC secara bersamaan dapat meningkatkan kualitas kesehatan oral secara lebih akurat diantara populasi berbeda untuk mengidentifikasi kebutuhan preventif kesehatan oral. SiC dihitung dengan memilih individu sesuai dengan nilai DMFT mereka, kemudian dibentuk tiga populasi dengan nilai karies tertinggi dan rerata DMFT untuk subgrup dijumlah. Kekurangan indeks ini adalah hanya perkembangan dari indeks DMF

(36)

23 yang memiliki kesamaan kriteria dan mungkin juga akan meiliki kesamaan keterbatasan penilaian.20

2.1.6.3 International Caries Detection and Assessment System (ICDAS)- I and II ICDAS dikembangkan pada tahun 2001 oleh grup peneliti, epidemiologis dan dokter gigi bidang konservatif. Ini digunakan untuk menentukan sistem penilaian karies berdasarkan berbagai macam sistem. ICDAS-I diartikan (D) karies dari tahap perkembangan, topografi dan anatomi, assessment (A) proses karies. Tapi indeks yang mencakup deteksi karies koronal dan penilaian aktivitas lesi dan karies akar tidak dicakup dalam indeks ini sehingga menjadi dasar adanya ICDAS-II. ICDAS-II ini adalah indeks komplels untuk menilai lesi karies non-primer dengan kondisi yang sama, tidak berkorelasi dengan baik dalam mendeteksi dan menilai kondisi serta berbagai tipe restorasi.

(37)

24 Tabel 2.1 Kriteria penilaian ICDAS-II

2.1.6.4 Spesific caries index

Indeks ini bertujuan untuk mengembangkan reproduksibel, indeks spesifik permukaan karies yang akan memberikan informasi kualitatif dan kuantitatif mengenai karies yang tidak diobati pada individu melalui pemeriksaan klinis. Indeks telah menunjukkan realibilitas dan validitas yang baik dalam mencakup studi oleh

Kode Kriteria

0 Permukaan gigi: tidak ada tanda karies setelah dikeringkan (5 detik) 1 Perubahan pada email: opak atau diskolorisasi (putih atau hitam)

terlihat di fisur dan oit setelah dikeringkan

2 Perubahan pada email : opak atau diskolorisasi berbeda terlihat di pit dan fisur saat basah, lesin juga masih terlihat saat kering

3 Lokalisasi enamel terpecah karena karies tanpa dentin yang terlihat 4 Garis bayangan hitam dari dentin

5 Perubahan kavitas dentin tampak: nampak demineralisasi dan dentin 6 Kavitas dentin nampak dan lebih dari setengah permukaan

terlibat

Karies dengan Restorasi dan Sealant 0 Permukaan dengan restorasi dan sealant 1 Perubahan awal pada email

2 Perubahan visual Berbeda di enamel / dentin berdekatan dengan restorasi / margin sealant

3 Defek karies > 0.5mm, dengan tanda code-2

4 Karies marginal pada email/dentin/sementum dengan restorasi/sealant, dengan bayangan garis hitam dari dentin

5 Kavitas berdekatan dengan email/dentin 6 Kavitas meluas dengan dentin nampak

(38)

25 pembuat indeks tapi penelitian akan datang dalam beragam database tidak mengungkapkan studi lainnya menggunakan indeks ini. Jika melihat kembali indeks ini, ada kesamaan kriteria pendeteksian karies seperti DMF atau DMFS; dalam kasus lesi yang luas mengenai lebih dari satu permukaan, ketidakmampuan untuk mendapat informasi berguna untuk rencana perawatan dan kurang tepat untuk mendeteksi karies akar.

2.1.6.5 caries assessment spectrum and treatment (CAST) index

Indeks ini dikembangkan karena kebutuhan untuk mendapatkan reliabilitas, pragmatik kohesif dan mudah untuk dilaporkan pada system berdasarkan kelebihan indikasi PUFA dan ICDAS-II dan menyediakan kemudahan menggunakan MDF indeks. CAST indeks mencakup semua spektrun karies dari tidak ada lesi karies, proteksi karies (sealant) dan perawatan karies (restorasi) sampai pada lesi karies di email dan dentin serta tahap advanced hingga ke pulpa juga jaringan sekitar gigi.

Indeks ini tidak merekam lesi karies aktif dan tidak aktif. CAST indeks tidak valid, meskipun realibiltasnya telah diuji, juga tidak disarankan untuk percobaan dalam klinik. Kekurangan lainnya adalah tidak menyediakan data pada perawatan atau preventif untuk setiap kode.

(39)

26 Tabel 2.2 Kode dan kriteria indeks CAST

Karakteristik Kode Penjelasan

0 tidak ada tampakan lesi karies

sealed 1 pit dan fissur yang tampak telah diberi material sealant

restored 2 kavitas telah direstorasi dengan material direct restorative tanpa lesi karies dentin dan tanpa fistula/abses

enamel 3

perubahan warna email, lesi jelas dengan diskolorisasi tampak, meliputi pengrusakan email tanpa adanya tanda keterlibatan dentin terlihat

dentin 4 karies internal berhubungan dengan diskolorisasi pada dentin- lesi tampak seperti bayangan diskolorisasi dentin

5 kavitas pada dentin-belum melibatkan pulpa

pulpa 6 pulpa chamber-kavitas mencapai pulpa chamber atau hanya fragmen akar yang terlibat

7 abses/fistula-pus membengkak atau pus sampai ke sinus berhubungan dengan gigi melibatkan pulpa

lost 8 gigi telah dicabut karena karies other 9 tidak cocok dengan semua kategori

2.1.7 Pencegahan karies

Karies merupakan penyakit dietomikrobial dinamik mencakup siklus demineralisasi dan remineralisasi. Tahap paling awal dari proses ini dapat diubah dengan memodifikasi atau mengeliminasi faktor etiologi (seperti plak biofilm dan diet) dan menambah faktor protektif (seperti pemberian fluoride dan aliran saliva).

Ini merupakan pendekatan mengatasi karies dengan pencegahan dan perawatan, pendekatan perawatan bagi mereka yang tingkat keparahan dan kerusakan jaringan yang parah serta tidak ada lagi opsi lain.21

a. tindakan pra erupsi

Tindakan ini bertujuan pada kesempurnaan struktur enamel dan dentin atau gigi pada umumnya. Seperti kita ketahui yang mempengaruhi pembentukan

(40)

27 dan pertumbuhan gigi kecuali protein untuk pembentukan matriks gigi, juga terutama vitamin dan zat mineral yang mempengaruhi atau menentukan kekuatan dan kekerasan gigi. Vitamin atau mineral tersebut adalah:

1. Vitamin-vitamin :

terutama A, C, D

2. Mineral-mineral :

terutama Ca, P, F, Mg

Oleh karena itu ibu-ibu hamil, sebelum terjadinya pengapuran pada gigi bayinya dapat diberikan makanan yang mengandung unsur-unsur yang dapat menguatkan enamel dan dentin. Pemberian calcium dalam bentuk tablet baik diterapkan asalkan tidak terlalu banyak, karena kelebihan calcium akan menyebabkan kesukaran waktu melahirkan karena adanya pengapuran yang terlalu cepat dari tengkorak kepala bayi tersebut. Air minum yang mengandung flour juga sangat penting diberikan pada ibu yang sedang hamil.

b. tindakan pasca erupsi

Pada dasarnya hampir sama dengan stadium pra erupsi, hanya ditambah dengan:

1. Kebersihan mulut dan gigi yang harus diperhatikan supaya tetap sehat.

2. Pemeriksaan berkala 6 bulan sekali.

3. Makan makanan yang menguatkan gigi dan gusi.

4. Memelihara kesehatan badan.

(41)

28 Pencegahan karies juga gigi dapat dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer bertujuan untuk rnencegah terjadinya penyakit dan mempertahankan keseimbangan fisiologis.

Pencegahan sekunder bertujuan untuk mendeteksi karies secara dim dan intervensi untuk rnencegah berlanjutnya penyakit. Pencegahan tersier ditujukan untuk rnencegah meluasnya penyakit yang akan menyebabkan hilangnya fungsi pengunyahan dan gigi.

c. pencegahan primer (Drummond)

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : 1. Modifikasi diet

Untuk rnencegah terjadinya karies gigi maka perlu dilakukan modifikasi diet melalui berbagai cara, yaitu :

a) Memperbanyak memakan makanan kariostatik seperti lemak, protein dan fluor. Lemak dapat meningkatkan pH saliva setelah mengkonsumsi karbohidrat. Lemak harus dikonsumsi sebelum memakan makanan yang manis. Protein meningkatkan urea saliva yang dapat menetralisir asam.

Mengkonsumsi makanan tinggi protein setelah makan karbohidrat dapat mengembalikan pH menjadi dengan cepat. Fiuor dapat mencegah terjadinya karies. Fluor secara alami terdapat dalam jumlah yang kecil pada the dan makanan laut. Fluor dari makanan, air atau minuman melindungi gigi dari serangan asam. Fluor mempunyai efek antibakteri dan antiplak.

(42)

29 b) Mengganti gula Gula sintetik seperti saccharine dan aspartam serta gula alkohol banyak digunakan pada makanan untuk mengurangi karies. Gula sintetik dan gula alkohol bersifat noncariogenic. Contoh dari gula alkohol adalah xylitol, sorbitol dan maltitol.

Xylitol merupakan bentuk alkohol dari xylose dan merupakan pengganti gula yang paling baik karenabakteri plak tidak bisa memetabolisme xylitol dan dapat mengurangi Streptococcus mutans pada mulut. Peneliti dari Universitas Michigan menemukan bahwa anak sekolah yang mengunyah permen karet xylitol selama 5 menit, 3-5 kali sehari dapat mengurangi karies dan remineralisasi lesi awal karies. Sorbitol merupakan bentuk alkohol dari sukrosa yang dibuat dengan menambahkan hidrogen pada glukosa. Penelitian menyimpulkan bahwa mengunyah permen karet sorbitol setelah makan dapat mengurangi terjadinya karies gigi secara signifikan. Sorbitol secara alami terdapat pada buah- buahan dan sayur-sayuran. Maltitol merupakan bentuk alkohol dari mannose. Secara alami terdapat pada nenas, asparagus, kentang dan wortel.

c) Mengurangi mengkonsumsi makanan yang manis dan asam.

d) Mengurangi konsurnsi snack yang mengandung karbohidrat sebelurn tidur.

e) Mengkombinasikan makanan, seperti memakan makanan manis setelah makan protein dan lemak atau setelah konsurnsi keju setelah memakan makanan yang manis.

f) Kombinasikan makanan mentah dan renyah yang dapat menstimulasi saliva dengan makanan yang dimasak.

(43)

30 g) Buah-buahan yang asam dapat menstimulasi produksi saliva.

h) Membatasi meminum minuman yang manis.

2. Pemakaian fluor

Fluor berfungsi menghambat enzim pembentukan asam oleh bakteri, menghambat kerusakan email lebih lanjut, serta membantu remineralisasi pada lesi awal karies. Fluor dapat diberikan dalam bentuk fluoridasi air minum, pasta gigi, obat kumur, dan tablet fluor.

3. Pit dan fissure sealant

Pit dan fissure sealant yaitu penutupan pit dan fissure yang dalam yang beresiko terhadap karies.

4. Pengendalian plak

Pengendalian plak dapat dilakukan dengan tindakan secara mekanis yaitu dengan penyikatan gigi dan penggunaan alat-alat bantu lain seperti benang gigi, tusuk gigi dan sikat interdental serta tindakan secara kimiawi yaitu dengan menggunakan antibiotik dan senyawa-senyawa antibakteri lain selain antibiotik.

d. Tahap pencegahan sekunder

Pencegahan sekunder dilakukan dengan melakukan pengobatan dan perawatan gigi dan mulut serta penambalan pada gigi berlubang.

e. Tahap pencegahan tersier

Pencegahan tersier dilakukan dengan cara perawatan pulpa (akar gigi) atau melakukan pencabutan gigi.

(44)

31 2.2 Gingiva

Gingiva adalah bagian dari mukosa mulut yang menutupi prosesus alveolar dan menegelilingi bagian leher dari gigi. Gingiva juga merupakan bagian dari pendukung gigi, periodonsium, yang membentuk hubungan dengan gigi, gingiva berfungsi melindungi jaringan di bawahnya terhadap pengaruh dalam lingkungan rongga mulut. Pada permukaan vestibulum di kedua rahang, gingiva secara jelas dibatasi mukosa mulutyang lebih dapat bergerak oleh garis yang bergelombang disebut perlekatan mukogingiva. Garis demarkasi yang sama juga ditemukan pada aspek lingual mandibular antara gingival dan mukosamulut. Pada palatum, gingiva menyatu dengan palatum dan tidak ada perlekatan mukogingiva yang nyata. Berikut adalah penjelasan mengenai bagian-bagian gingiva.24

Gambar 2.2 Gingiva normal (Sumber:

http://www.infobunda.com/members/blog/pic355.jpg Diakses pada tanggal 23 Februari 2017)

(45)

32 1. Marginal gingiva

Marginal gingiva atau unattached gingiva adalah tepi ujung/ terminal atau perbatasan dari gingiva yang mengelilingi gigi seperti kerah baju. Pasa sekitar 50%

dari kasus, marginal gingiva dibatasi dengan suatu lekukan yang dangkal dari attached gingiva yang berdekatan, yang biasanya disebut free gingiva groove. Biasanya lebarnya sekitar 1 mm, membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva.

2. Sulkus gingiva

Sulkus gingiva adalah celah dangkal atau ruang di sekitar gigi yang dibatasi oleh permukaan gigi pada satu sisi dan lapisan epitel dari free margin gingiva di sisi lain. Sulkus gingiva berbentuk V dan dapat dikur dengan probe sonde (probe periodontal) yang dimasukkan ke dalamnya. Penentuan klinis kedalam sulkus gingiva merupakan parameter diagnostic yang penting. Pada kondisi yang benar- benar normal atau kondisi ideal, kedalaman sulkus gingiva adalah sekitar nol.

Pada gingiva yang secara klinis sehat pada manusia terdapat sulkus dengan kedalaman tertentu. Kedalaman sulkus ini dilaporkan 1.8 mm, dengan variasi dari 0-6 mm. studi ;ain melaporkan masing-masing kedalaman, 1.5 mm dan 0.69 mm. Kedalaman probing pada sulkus gingival yang normal secara klinis pada manusia adalah 2-3 mm.

3. Attached gingiva

Attached gingiva tidak terpisah dengan marginal gingiva. Attached gingiva keras, kenyal, dan mengelilingi periousteum tulang alveolar dengan kuat. Lebar

(46)

33 attached gingiva bervariasi pada daerah yang berbeda dalam rongga mulut, dan

berkisar atara kurang dari 1mm sampai 9 mm. lebar attached gingiva meningkat seiring dengan usia dan pada gigi supra erupsi.

4. Interdental gingiva

Interdental gingiva menempati embrasure gingiva yang berupa ruang kosong di bawah daerah kontak gigi. Interdental gingiva terdiri dari dua papilla, satu di fasial, dan lainnya di lingual. Interdental gingiva dapat berbentuk pyramidal atau berbentuk col. Bentuk gingiva dalam ruang interdental bergantungpada titik kontak diantara dua gigi yang berdampingan dengan ada atau tidak adanya beberapa keadaan resesi.

Gambar 2.3 Diagram anatomi gingiva (Sumber: Carranza. Anatomy of periodontium. In: Fiorelinni J, Kim D, Uzel N, editor. Carranza’s clinical pathology. 11th ed. Missouri: Elsevier Saunders;2012.pg.14.)

Berikut adalah beberapa indikator gambaran klinis gingiva normal dan sehat.

(47)

34 1. Warna

Secara umum warna attached gingiva dan marginal gingiva adalah merah muda yang dipengaruhi oleh vaskularisasi. Warnanya bervariasi pada setiap orang dan berhubungaan dengan pigmentasi kulit. Mukosa alveolar berwarna merah lembut dan lebih terang.

2. Ukuran

Ukuran gingiva berhubungan dengan jumlah seluler, interseluler dan suplai vascular. Perubahan ukuran biasanya merupakan gambaran umum dari penyakit gingiva.

3. Kontur

Kontur atau bentuk gingiva bervariasi tergantung pada bentuk gigi serta kesejajarannya pada lengkung gigi, lokasi, dan bentuk daerah kontak proksimal dan luas embrasure gingiva sebelah fasial dan lingual. Marginal gingiva mengelilingi gigi seperti kerah baju. Bentuk interdental gingiva ditentukan oleh bentuk permukaan proksimal gigi, lokasi, bentuk daerah kontak, dan luas embrasure gingiva.

4. Konsistensi

Konsistensi gingiva keras, kenyal, dan mengelilingi tulang dengan kuat. Susunan lamina propria secara alami dan hubungannya dengan mukoperiosteum tulang alveolar menentukan kerasnya attached gingiva. Serat gingiva kekerasan marginal gingiva.

(48)

35 5. Tekstur permukaan

Gingiva memiliki tekstur permukaan seperti kulit jeruk yang disebut suppling. Attached gingiva memiliki stippling tetapi marginal gingiva tidak. bagian

tengah interdental papilla biasanya ber-stippling. Stippling bervariasi pada setiap orang pada daerah yang berbeda dalam rongga mulut yang sama. Stippling bervariasi sesuai umur. Stipling adalah gambaran gingiva sehat, pengurangan atau hilangnya Stippling umumya merupakan tanda dari penyakit gingiva, ketika gingiva telah dirawat maka stippling muncul kembali.

2.2.1 Gingivitis

Penyakit gingiva banyak menyerang anak-anak dan mungkin saja berlanjut hingga dewasa. Penyakit periodontal yaitu peradangan dan juga perubahan resesif pada gingiva dan periodontium. Gingivitis adalah suatu proses peradangan yang terbatas pada gingiva (tidak ada kehilangan perlekatan). Disamping hampir ada dimana- mana kondisi gingivitis ditimbulkan oleh plak, perubahan gingiva juga dideteksi selama periode ketidakseimbangan hormonal dan penyakit sistemik, atau sebagai efek samping obat. Jika jaringan pendukung tulang alveolar juga dipengaruhi oleh proses inflamasi di periodontium, maka itu disebut periodontitis. Istilah resesi atau resesi gingiva mengacu pada menurunnya gingiva atau tulang alveolar ke arah apikal, yang biasanya terjadi pada aspek labial di gigi yang secara klinis bebas dari peradangan.23

Gingivitis terjadi karena kesehatan mulut yang tidak memadai yang biasanya ditandai dengan adanya kemerahan, bengkak dan kecenderungan pendarahan pada

(49)

36 gingiva. Penyebab-penyebab lokal terjadinya gingivitis diantaranya deposit plak dan kalkulus di atas permukaan gigi, makanan yang terselip, gigi yang berlubang, restorasi tepi gigi yang menggantung, dan tambalan gigi yang tidak pas.24

2.2.2 Etiologi gingivitis

Gingivitis merupakan salah satu bagian dari penyakit periodontal. Penyakit periodontal biasanya melibatkan inflamasi dan infeksi yang merusak jaringan pendukung gigi, meliputi gusi, ligamen periodontal dan soket gigi (tulang alveolar).

Gingivitis merupakan efek jangka panjang dari deposit plak. Plak merupakan material tebal yang terbentuk dari bakteri, mukus dan food debris yang berkembang menjadi deposit keras disebut tartar dan berada di dasar gigi. Plak dan tartar mengiritasi dan menginflamasi gusi. Bakteri dan toksin memproduksi penyebab gusi menjadi terinfeksi, bengkak dan mengeras. Luka pada gusi disebabkan oleh banyak faktor, misalnya terlalu keras saat menggosok gigi juga dapat menyebabkan gingivitis. Berikut ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya gingivitis.25,26

1. Penyakit umum

2. Kesehatan oral yang buruk

3. Kehamilan (perubahan hormonal dapat meningkatkan sensivitas gusi) 4. Diabetes yang tidak terkontrol.

Beberapa penyakit sistemik berhubungan dengan meningkatnya resiko kehilangan perlekatan gingiva. Diabetes merupakan salah satu faktor penyebab gingivits yang tidak dapat dirawat. Parameter diabetik telah diuji mencakup glycemic control, lama penyakit, diabetes lain-diikuti dengan

(50)

37 komplikasi dan populasi. Parameter periodontal diuji meliputi gingivitis, kehilangan perlekatan gingiva dan kehilangan tulang alveolar. Penelitian telah menunjukkan hubungan antara kontrol glycemic yang buruk dan parameter penyakit periodontal. Disimpulkan bahwa diabetes yang tidak terkontrol sangat kurang responnya terhadap terapi periodontal yang diberikan.

5. Gigi yang tidak beraturan, penggunaan appliances yang tidak bersih (seperti breket, gigitiruan, gigitiruan jembatan dan mahkota tiruan) dapat mengiritasi gusi dan meningkatkan resiko gingivitis

6. Medikasi seperti penitoin dan pil birth control serta logam berat seperti bismut juga salah satu penyebab gingivitis

Banyak orang yang terkena gingivitis diberbagai tingkatan usia. Penyakit ini berkembang selama pubertas atau lebih cepat tergantung pada perubahan hormon dan mungkin saja akan sering terjadi, tergantung pada kesehatan gigi dan gusi masing-masing individu.

2.2.3 Patogenesis gingivitis

Respon inflamasi pada penyakit periodontal mencakup aktivasi leukosit, neutrofil, limfosit-T dan sel plasma dan melepaskan antibodi, lipopolisakarida dan mediator inflamasi kimia meliputi sitokin, kemokin, dan protein Creaktif.

Lipopolisakarida terdapat pada dinding sel bakteri gram negatif dan memberikan stimulasi untuk respon kompleks dari host. Peningkatan awal neutrofil pada satu sisi diikuti dengan dilepaskannya sitokin dan makropag. Mediator kimia dilepaskan meliputi tumor necrosis alpha (TNFα), interleukin-1 (IL`--1) dan prostaglandin.

Proses inflamasi meliputi stimulasi fibroblast oleh IL-1 dan sekresi oleh matriks

(51)

38 metalloproteinase (MMPs, yang kolagenasenya sangat menonjol) oleh polimononuklear neutrofil. MMPs bertanggung jawab untuk meningkatkan aktivitas osteoklast menghasilkan resorbsi tulang. MMPs juga dapat mengaktifkan sitokin dan kemokin, mengekserbasi proses destruktif. Produksi kolagen dihambat dengan mereduksi aktivitas fibroblast dengan respon TNFα. Limfosit dilepaskan antibodi sebagai mekanisme proteksi tapi juga mengaktivasi osteoklast, mengakibatkan bone loss. Limfosit-T mensekresi reseptor aktivator dari faktor nuklear kappa-B ligand

(RANKL), yang mencakup aktivitas osteoklast dan resorbsi tulang. Mediator inflamasi desktruktif ini dihambat oleh sekresi osteoprotegerin dan jaringan penghambat metalloproteinases (TIMPs). Tingkat desktruksi periodontal bergantung pada keseimbangan antara desktruktif dan proteksi mediator inflamasi. Ketika bakteri periodontal dibutuhkan untuk menginfeksi penyakit periodontal, individu merespon dengan memutuskan progresi penyakit. Dalam in vitro, ini telah ditemukan bahwa individu merespon dengan dipengaruhi oleh genetik yang kembali mempengaruhi kinerja mediator inflamasi dalam merespon bakteri lipopolisakarida.27

(52)

39 Gambar 2.4 Patogenesis gingivitis (Sumber: Serio F. The pathogenesis and treatment of periodontal disease. The Academy of Dental Therapeutics and Stomatology 2013:1-7

Adapula tahap-tahap terjadinya gingivitis sebagai berikut.28

Gingivitis terjadi dalam 3 tahap. Batas setiap tahap tidak terlalu jelas.

Tahap 1 berupa lesi inisial atau awal dengan adanya perubahan vascular berupa dilatasi kapiler dan peningkatan aliran darah. Perubahan ini terjadi sebagai respon aktivasi mikroba terhadap leukosit setempat dan stimulasi terhadap sel endotel.

Respons awal dari gingival ini subklinis. Juga dapat sudah terjadi perubahan pada perlekatan epithelium dan jaringan ikat perivaskular. Leukosit bermigrasi dan berakumulasi di dalam sulkus menyertai peningkatan aliran cairan gingival ke dalam sulkus. Jika keadaan berlanjut, makrofag dan sel-sel limfoid juga terinfiltrasi hanya dalam beberapa hari.

Tahap II gingivitis berupa lesi dini (early lesion) dengan mulai terlihatnya tanda klinis eritema. eritema terjadi karena proliferasi kapiler dan meningkatnya pembentukan loops kapiler. Epitel sulkus menipis atau terbentuk ulserasi. Pada tahap ini mulaiterjadi pendarahan pada probing. Ditemukan 70% jaringan kolagen

Referensi

Dokumen terkait