• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RESUME PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI Perkara Nomor 01/PHPU-PRES/XVII/2019

Permohonan Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019

I. IDENTITAS PARA PIHAK A. Pemohon

1. H. Prabowo Subianto

2. H. Sandiaga Salahudin Uno B. Termohon

Komisi Pemilihan Umum C. Pihak Terkait

1. Ir. H. Joko Widodo

2. Prof. Dr. (HC). KH. Ma’ruf Amin

II. DUDUK PERKARA A. Objek Permohonan

Pemohon menggugat Keputusan KPU Nomor 987/PL.01.08- KPT/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota secara Nasional dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 juncto Berita Acara KPU RI Nomor 135/PL.01.8-BA/06/KPU/V/2019 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Nasional dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum Tahun 2019.

B. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon

Pemohon adalah Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) berdasarkan Penetapan Komisi Pemilihan Umum Nomor 1142/PL.02.2-Kpt/06/KPU/IX/2018 Tanggal 20 September 2018 tentang Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Nusa Tengara Barat, Pemohon memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan.

(2)

C. Tenggang Waktu

Permohonan a quo diajukan masih dalam tenggat waktu yang ditentukan.

D. Pokok Permohonan Pemohon

1. Pemohon berpendapat bahwa Pelanggaran Pilpres 2019 terjadi secara Sistematis, Terstruktur dan Masif.

a. Ketidaknetralan Aparatur Negara (Polisi dan Intelijen);

b. Diskriminasi perlakuan dan penyalahgunaan penegakan hukum;

c. Penyalahgunaan Birokrasi dan BUMN;

d. Penyalahgunaan APBN dan/atau Program Pemerintah;

e. Pembatasan kebebasan media dan pers

2. Pemohon berpendapat bahwa adanya argumentasi kecurangan kuantitatif dalam Pilpres 2019

a. Daftar Pemilih tetap (DPT) tidak masuk akal;

b. Kekacauan SITUNG KPU dalam kaitannya dengan DPT;

1) Banyaknya kesalahan input data pada SITUNG yang mengakibatkan terjadinya ketidaksesuaian data (informasi) dengan data yang terdapat pada C1 yang dipindai KPU sendiri di 34 Provinsi seluruh wilayah indonesia.

2) Banyaknya kesalah penjumlahan suara sah yang tidak sesuai dengan jumlah DPT/DPTb/DPK

3) Banyaknya kesalahan data yang terdapat pada C1 yang dipindai (sumber data yang dimiliki KPU awalnya sudah salah)

4) Anomali lainnya

5) Studi kasus kekacauan SITUNG yang dapat ditemukan di Jawa Timur

c. Dokumen C7 secara sengaja dihilangkan di berbagai daerah.

3. Saksi diskualifikasi bagi kecurangan STM

(3)

E. Petitum

1. Mengabulkan Permohonan Pemohon seluruhnya;

2. Menyatakan batal dan tidak sah Keputusan Komisi Pemilihan Nomor 987/PL.01.08-KPT/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota secara Nasional dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 dan Berita Acara KPU RI Nomor 135/PL.01.8- BA/06/KPU/V/2019 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Nansional dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum Tahun 2019.

3. Menyatakan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 01 H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin, MA, terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran dan kecurangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019 secara Terstruktur, Sistematis dan Masif.

4. Membatalkan (mendiskualifikasi) Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 01 H. Joko Widodo dan KH. Ma’ruf Amin, MA sebagai Peserta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019.

5. Menetapkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 02, H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Salahudin Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Periode 2019-2024.

6. Memerintahkan kepada Termohon untuk seketika mengeluarkan Surat Keputusan tentang Penetapan H. Prabowo Subianto dan H.

Sandiaga Salahudin Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Periode 2019-2024.

atau

7. Memerintahkan Termohon untuk melaksanakan Pemungutan Suara Ulang secara jujur dan adil di seluruh wilayah Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E Ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945.

(4)

III. JAWABAN

A. Dalam Eksepsi

1. Permohonan Pemohon tidak memenuhi syarat ketentuan materi permohonan.

2. Permohonan Pemohon tidak jelas atau kabur (obscuur libel).

3. Perbaikan Permohonan melampaui tenggat waktu pengajuan permohonan Pemohon.

B. Pokok Permohonan Pemohon

1. Bahwa semua yang diuraikan pada bagian awal, pendahuluan, dan eksepsi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Jawaban dalam Pokok Perkara.

2. Dalil Pemohon mengenai pelanggaran secara TSM oleh Pihak Terkait tidak berdasar, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, dalil Pemohon mengenai adanya pelanggaran secara TSM oleh Pihak Terkait sama sekali tidak melibatkan Termohon, atau paling tidak Pemohon tidak menguraikan adanya keterlibatan atau kerjasama antara Termohon dengan Pihak Terkait dalam melakukan pelanggaran dimaksud. Padahal, berdasarkan yurisprudensi tetap Mahkamah Konstitusi, yang dimaksud dengan pelanggaran Masif, Sistematis dan Terstruktur adalah pelanggaran yang melibatkan sedemikian banyak orang, direncanakan secara matang, dan melibatkan pejabat serta penyelenggara pemilu secara berjenjang.

3. Bahwa selain tidak menguraikan keterlibatan Termohon dalam pelanggaran secara TSM yang dituduhkan kepada Pihak Terkait, Pemohon juga tidak mampu menguraikan jelas apa hubungan dan sejauh mana korelasinya antara pelanggaran yang dituduhkan dengan Perolehan Suara Pemohon ataupun Pihak Terkait.

4. Bahwa beberapa jenis pelanggaran TSM yang diatur dalam UU PEMILU yang mempengaruhi perolehan hasil dan dapat dikenakan sanksi Pembatalan Pasangan Calon justru tidak pernah dipersoalkan oleh Pemohon dalam Permohonannya, misalnya mengenai money politic dan/atau Pelanggaran Administrasi Pemilu, yaitu pelanggaran atas ketentuan Pasal 284 jo. Pasal 286 Ayat (1) UU Pemilu mengenai larangan menjanjikan dan/atau

(5)

memberikan uang atau materi lainnya untuk mempengaruhi Penyelenggara Pemilu dan/atau Pemilih; dan Pelanggaran Administrasi Pemilu sebagaimana diatur dalam Pasal 460 juncto Pasal 463 UU Pemilu yang meliputi pelanggaran terhadap tata cara, prosedur atau mekanisme yang berkaitan dengan administrasi pelaksanaan Pemilu dalam setiap tahapan Penyelenggaraan Pemilu, yang tidak termasuk tindak pidana Pemilu dan pelanggaran kode etik, akan tetapi dilakukan secara TSM sehingga Termohon dapat memberikan sanksi Pembatalan Pasangan Calon sebagai bentuk tindak lanjut rekomendasi atau putusan Bawaslu atas Pelanggaran TSM tersebut.

5. Bahwa dalam Permohonannya, Pemohon tidak mempersoalkan pelanggaran atas adanya perbuatan money politic ataupun Pelanggaran Administrasi Pemilu sebagaimana tersebut di atas, namun demikian menuntut adanya sanksi diskualifikasi terhadap Pasangan Calon Nomor Urut 01 atas pelanggaran yang meliputi 6 (enam) bentuk, yaitu:

a. Ketidaknetralan Aparatur Negara: Polisi dan Intelejen;

b. Diskriminasi Perlakuan dan Penyalahgunaan Penegakan Hukum;

c. Penyalahgunaan Birokrasi dan BUMN;

d. Penyalahgunaan Anggaran Belanja Negara dan/atau Program Pemerintah;

e. Penyalahgunaan Anggaran BUMN;

f. Pembatasan Kebebasan Media dan Pers;

6. Bahwa dalil Pemohon mengenai DPT tidak wajar adalah dalil yang tidak mendasar, Pemohon hanya bersifat asumsi belaka berdasarkan kecurigaan Pemohon tanpa didukung dengan fakta- fakta hukum yang relevan serta tidak disertai argumentasi hukum yang jelas bagaimana hubungan kausalitas antara tuduhan DPT yang tidak masuk akal tersebut dengan perolehan suara pasangan calon, apakah menguntungkan Pihak Terkait ataukah merugikan Pemohon.

(6)

7. Bahwa Pemohon hanya menyebutkan ada Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang tidak masuk akal sebanyak 17,5 juta yang memiliki tanggal lahir sama, Pemilih yang usianya kurang dari 17 tahun sebanyak 20.475 orang, Pemilih yang usianya di atas 90 tahun sebanyak 304.782 orang, dan banyaknya Pemilih yang tergabung dalam satu Kartu Keluarga (KK). Pemohon tidak mampu menguraikan dengan jelas siapa saja mereka, di TPS mana saja mereka, apakah mereka telah menggunakan hak pilihnya ataukah tidak, kepada siapa mereka menggunakan hak pilihnya dan apa kerugiannya bagi Pemohon karena mereka yang dikategorikan DPT tidak masuk akal bisa juga memilih Pemohon. Dalil Pemohon seperti ini tentu saja tidak jelas atau kabur (obscuur libel) sehingga dalil Pemohon seperti ini harus dikesampingkan.

8. Bahwa penyusunan dan penetapan DPT dilakukan secara terbuka, adanya data pemilih yang usianya kurang dari 17 tahun sebanyak 20.475 orang dan Pemilih yang usianya lebih dari 90 tahun sebanyak 304.782 orang, bukan merupakan data fiktif atau tiba- tiba saja muncul, karena data pemilih tersebut diperoleh berdasarkan proses penyusunan dan penetapan DPT yang dilakukan secara berjenjang dalam rangka melindungi hak para pemilih, mulai dari Data Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4), proses penyusunan Daftar Pemilih Sementara (DPS), Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP), Daftar Pemilih Tetap (DPT) sampai dengan Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Ketiga (DPTHP-3), dari tingkat TPS, Desa/Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi sampai dengan Nasional, dimana penetapannya dilakukan dalam rapat pleno secara terbuka, dengan melibatkan Bawaslu beserta dengan jajarannya, saksi partai politik (termasuk partai politik pendukung Pemohon) dan saksi pasangan calon, serta perangkat pemerintah setempat sesuai dengan tingkatannya. Sejak awal penyusunan DPS dan DPT, Termohon beserta jajarannya telah mengumumkan secara terbuka daftar nama para pemilih untuk mendapatkan masukan dari masyarakat, sehingga jika terdapat data pemilih yang tidak sah karena umurnya kurang dari 17 tahun akan tetapi belum pernah kawin atau data fiktif pemilih yang usianya lebih dari 90 tahun,

(7)

tentunya sudah mendapatkan laporan atau masukan dari masyarakat. Semua proses penyusunan dan penetapan DPT dilakukan oleh Termohon.

9. Bahwa Verifikasi Faktual Termohon bersama Pemohon, dalil-dalil Pemohon pada halaman 29 sampai dengan 31, khususnya angka 1 sampai dengan 11, terkait permasalahan daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak masuk akal, bukanlah merupakan dalil yang baru karena permasalahan tersebut sudah pernah di sampaikan oleh Pemohon dan sudah mendapatkan tindaklanjut dari Termohon dengan melibatkan Pemohon ataupun Partai Pengusung Pemohon, Pihak Terkait ataupun Partai Pengusung Pihak Terkait, Bawaslu serta Pemerintah. Dalam catatan Termohon, terdapat 7 kali koordinasi antara Termohon dengan Pemohon yaitu pada tanggal 15 Desember 2018, 19 Desember 2018, 19 Februari 2019, 1 Maret 2019, 15 Maret 2019, 29 Maret 2019 dan 14 April 2019.

10. Bahwa Termohon telah menindaklanjuti seluruh laporan Pemohon, dengan melakukan pengolahan data, berkoordinasi dengan Dirjen Dukcapil, mengadakan rapat koordinasi dengan KPU daerah, melakukan verifikasi faktual dengan metode sampling, melakukan diskusi terbatas (FGD) dengan Ahli Demografi dan Ahli Statistik serta melakukan pencocokan dan penelitian terbatas (Coktas) terhadap 2.092 TPS berdasarkan hasil rapat tanggal 29 Maret 2019 antara Termohon dengan para Peserta Pemilu. Hasil tindak lanjut laporan Pemohon tersebut telah dijelaskan oleh Termohon kepada Pemohon dan Pihak Terkait dalam pertemuan tanggal 14 April 2019 dan kemudian laporan tersebut telah dituangkan oleh Termohon dalam buku “Penyelesaian Laporan BPN 02: Dugaan DPT Bermasalah di 6 Provinsi, tertanggal 14 April 2019” dan telah diserahkan oleh Termohon kepada Pemohon dan Pihak Terkait.

11. Dalil Pemohon mengenai kekacauan SITUNG KPU adalah dalil yang tidak berdasar, dalil-dalil Pemohon mengenai kekacauan SITUNG sebagaimana tersebut di atas sudah dilaporkan ke Bawaslu RI dimana atas laporan dimaksud Bawaslu telah memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tersebut pada tanggal 16 Mei 2019 dengan amar Putusan yang pada pokoknya memerintahkan

(8)

Termohon untuk memperbaiki tata cara dan prosedur dalam input data Sistem Informasi Pemungutan Suara (SITUNG).

12. Bahwa dalam laporan yang disampaikan ke Bawaslu, Pelapor Saudara Sufmi Dasco Ahmad selaku Direktur pada Direktorat Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Capres dan Cawapres Tahun 2019 Prabowo-Sandiaga, mempersoalkan kesalahan entry data yang dilakukan oleh Termohon terhadap Formulir Model C1 yang dipindai dan kesalahan sumber data C1 yang dipindai tersebut. Persoalan tersebut sama persis dengan dalil yang diajukan oleh Pemohon dalam permohonannya yang juga mempersoalkan kesalahan input data pada C1 yang dipindai dan kesalahan sumber data C1 yang dipindai. Dengan demikian, materi laporan yang dipersoalkan sama persis dengan materi Permohonan Pemohon sehingga terdapat kesamaan materi perkara dan oleh karenanya harus dianggap melanggar prinsip ne bis in idem.

13. Bahwa dalil Pemohon mengenai kekacauan SITUNG prematur dan absurd, sesungguhnya tidak ada kecurangan dan tidak ada pelanggaran yang dilakukan oleh Pemohon, serta tidak ada kekacauan SITUNG KPU. Dalam sistem pembuktian, apa yang didalilkan haruslah merupakan suatu kenyataan yang terjadi, bukan berdasarkan perkiraan atau asumsi semata-mata yang dibangun atas ketakutan Pemohon. Dalil seperti ini tentunya absurd dan oleh karenanya harus ditolak atau dikesampingkan.

14. Bahwa tidak benar dokumen C7 secara sengaja dihilangkan di berbagai daerah, dalil Pemohon tersebut adalah dalil yang tidak jelas dan tidak berdasar karena Pemohon tidak menguraikan dokumen C7 dari TPS mana saja yang dihilangkan, siapa yang menghilangkan dokumen tersebut, kapan dan dimana kejadiannya dan bagaimana caranya menghilangkan dokumen C7. Termohon beserta jajarannya selalu melaksanakan tahapan Pemilu sesuai dengan Peraturan KPU. Terkait dengan dokumen Pemilu dalam pelaksanaan tahap pemungutan dan penghitungan suara pada tingkat TPS seperti dokumen hasil penghitungan perolehan suara sebagaimana terdapat dalam Formulir C1 dan Daftar Hadir Pemilih sebagaimana dalam Formulir C7 selalu disimpan dalam kotak

(9)

suara sebagaimana ketentuan PKPU Nomor 3 Tahun 2019 tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara Dalam Pemilihan Umum.

Oleh karena itu, dalil Pemohon mengenai hal tersebut tidak berdasar menurut hukum dan oleh karenanya harus dikesampingkan dan ditolak.

15. Laporan dana kampanye Pasangan Calon Nomor Urut 01 dianggap melanggar hukum, terkait dengan proses audit Dana Kampanye Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, Termohon telah menugaskan Kantor Akuntan Publik Anton Silalahi berdasarkan Surat Perjanjian Nomor: 05/KONTRAK/PPK-KPU/03/V/2019 untuk melaksanakan Perikatan Asurans dengan keyakinan memadai dan memberikan pendapat terhadap kesesuaian.

16. Bahwa tanggung jawab Akuntan Publik adalah untuk menyatakan simpulan berupa pendapat dengan keyakinan memadai terhadap Laporan Dana Kampanye Pasangan Calon Urut 01 Ir. H. Joko Widodo dan Prof. DR (H.C) K.H. Ma’ruf Amin berdasarkan prosedur-prosedur yang mereka lakukan dan bukti-bukti yang mereka peroleh berdasarkan Standar Perikatan Asurans 3000:

“Perikatan Asuransi selain Audit atau Review atas Informasi Keuangan Historis” yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar dimaksud mewajibkan KAP Anton Silalahi untuk memenuhi ketentuan Kode Etik Profesi Akuntan Publik termasuk persyaratan independensi bagi semua personel yang terlibat dalam Perikatan Asurans ini.

C. Petitum

Dalam Eksepsi

Menerima Eksepsi Termohon Dalam Pokok Perkara

1. Menolak Permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

2. Menyatakan benar Keputusan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 987/PL.1.8-Kpt/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan

(10)

Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Secara Nasional Dalam Pemilihan Umum Tahun 2019, tertanggal 21 Mei 2019.

3. Menetapkan Perolehan Suara Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019 yang benar adalah sebagai berikut:

NO. NAMA PASANGAN CALON PEROLEHAN SUARA 1.

Ir. H. Joko Widodo dan

Prof. Dr. (H.C) K. H. Ma’ruf Amin 85.607.362 2. H. Prabowo Subianto

dan

H. Sandiaga Salahuddin Uno

68.650.239

TOTAL SUARA SAH 154.257.601 Atau

Apabila Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).

IV. PERTIMBANGAN HUKUM

A. Menimbang bahwa terkait dengan kewenangan Mahkamah a quo dalam mempertimbangkan kewenangan dimaksud tidak dapat dilepaskan dengan keberatan Pihak Terkait yang menyatakan Mahkamah tidak berwenang mengadili perkara a quo dengan alasan persoalan terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) menjadi kewenangan lembaga lain. Terhadap hal tersebut oleh karena persoalan TSM akan dipertimbangkan secara tersendiri dalam pertimbangan hukum berikutnya maka keberatan Pihak Terkait tersebut akan turut dipertimbangkan dalam pertimbangan hukum berkenaan dengan TSM.

Dengan demikian terkait dengan kewenangan, Mahkamah tetap merujuk pada ketentuan Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945), Pasal 10 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK), dan Pasal 29 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, serta Pasal 475 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (selanjutnya disebut UU 7/2017) yang pada pokoknya menyatakan bahwa Mahkamah berwenang

(11)

mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

B. Menimbang bahwa berdasarkan pada pertimbangan Mahkamah tersebut di atas, maka kewenangan Mahkamah pada dasarnya hanya berkait dengan perselisihan hasil suara yang ditetapkan oleh Termohon.

Pemohon dalam permohonannya mendalilkan pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 987/PL.01.8-Kpt/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Secara Nasional Dalam Pemilihan Umum Tahun 2019, bertanggal 21 Mei 2019 (vide Bukti P-5 = Bukti TD.I.KPU.001, Bukti PT-3). Oleh karena permohonan Pemohon berkenaan dengan pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 987/PL.01.8-Kpt/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota Secara Nasional Dalam Pemilihan Umum Tahun 2019, bertanggal 21 Mei 2019 maka Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo.

C. Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 74 ayat (1) huruf b UU MK, Pemohon adalah pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden peserta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden dan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 4 Tahun 2018 tentang Tata Beracara Dalam Perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (selanjutnya disebut PMK 4/2018), Pemohon dalam perkara PHPU Presiden dan Wakil Presiden adalah pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden.

D. Menimbang bahwa berdasarkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 1131/PL.02.2-Kpt/06/KPU/IX/2018 tentang Penetapan Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden Tahun 2019, bertanggal 20 September 2018 (vide Bukti P-3 = Bukti TA.I.KPU.001 = Bukti PT-1) dan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 1142/PL.02.2-Kpt/06/KPU/IX/2018 tentang Penetapan Nomor Urut Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil

(12)

Presiden Tahun 2019, bertanggal 21 September 2018 (vide Bukti P-4 = Bukti TA.I.KPU.002 = Bukti PT-2), Pemohon Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Peserta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019, Nomor Urut 02, dengan demikian Pemohon memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan a quo.

E. Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 475 ayat (1) UU 7/2017, dan Pasal 6 ayat (1) PMK 4/2018, permohonan hanya dapat diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari setelah diumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara nasional oleh Termohon. Bahwa Pemohon mengajukan permohonan perselisihan hasil pemilihan umum terhadap penetapan perolehan suara hasil pemilihan umum secara nasional oleh Termohon ke Mahkamah pada tanggal 24 Mei 2019 pukul 22.35 WIB berdasarkan Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Nomor 01/AP3-PRES/PAN.MK/2019 bertanggal 24 Mei 2019, dengan demikian permohonan Pemohon diajukan masih dalam tenggang waktu sebagaimana ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.

F. Menimbang bahwa oleh karena Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo dan Pemohon memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan serta permohonan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan maka selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan eksepsi Termohon dan eksepsi Pihak Terkait serta pokok permohonan.

V. KONKLUSI

a. Mahkamah berwenang mengadili permohonan a quo;

b. Pemohon memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan permohonan a quo;

c. Permohonan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan;

d. Eksepsi Termohon dan Pihak Terkait tidak beralasan menurut hukum untuk seluruhnya;

e. Permohonan Pemohon tidak beralasan menurut hukum.

(13)

VI. AMAR PUTUSAN Dalam Eksepsi

Menolak eksepsi Termohon dan Pihak Terkait untuk seluruhnya;

Dalam Pokok Permohonan

Menolak permohonan Pemohon untuk seluruhnya.

Referensi

Dokumen terkait

[3.11] Menimbang bahwa isu pokok dalam permohonan Pemohon adalah keberatan terhadap Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Probolinggo Nomor

Bahwa di dalam Permohonan yang diajukan oleh Pemohon kepada Termohon terkait dengan Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Waropen Nomor

Bahwa terhadap dalil gugatan Penggugat tentang objek sengketa Surat Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kuantan Singingi Nomor : 266/PL.02.3- Kpt/1409/KPU-Kab/IX/2020

Bahwa permohonan Pemohon adalah mengenai pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor:411/Kpts/KPU/TAHUN 2014 dan Nomor:412/Kpts/KPU/TAHUN 2014 tentang Penetapan Partai Politik

Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, dengan demikian Pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan permohonan pembatalan “Keputusan Komisi Pemilihan

Bahwa permohonan Pemohon adalah mengenai pembatalan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 411/Kpts/KPU/Tahun 2014 Tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Anggota Dewan

Bahwa Dalil pada halaman 9 pada angka 4.1.4 dalam permohonan Pemohon mengenai KPU Provinsi Banten Pada tanggal 13 Mei 2019 telah melaksanakan Kegiatan Rekapitulasi

Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Yalimo Nomor 117/PL.01.8- Kpt/9122/KPU-Kab/XII/2020 tentang Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi