• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Biomedis 4(1) : 36-42, Pebruari Jurnal Ilmiah Mahasiswa. Kedokteran Biomedis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Biomedis 4(1) : 36-42, Pebruari Jurnal Ilmiah Mahasiswa. Kedokteran Biomedis"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 36

HUBUNGAN SINDROMA DISPEPSIA DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA

SISWA KELAS XI SMAN 4 BANDA ACEH

The Relationship Between Dyspepsia Syndrome and Students’ Learning Achievement at

SMAN 4 Banda Aceh

Raisha Putri Arsyad*, Irmaini, Hidayaturrami

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh-Indonesia *Email: raishaarsyad@gmail.com

ABSTRAK

Sindroma dispepsia adalah kumpulan beberapa gejala klinis yang terdiri dari nyeri di ulu hati, perut kembung, cepat kenyang, mual dan muntah. Dispepsia fungsional merupakan kelainan fungsional yang diyakini memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar melalui mekanisme fisiologis dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sindroma dispepsia dengan prestasi belajar pada siswa XI SMAN 4 Banda Aceh. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Responden penelitian berjumlah 169 orang. Teknik pengambilan sampel dengan metode Simple Random Sampling. Dari hasil penelitian diperoleh data 81 (47,9 %) responden penelitian mengalami dispepsia dan 88 (52,1 %) responden penelitian tidak mengalami dispepsia. Responden terbanyak yaitu berjenis kelamin perempuan yang mencapai 55 %. Hasil analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney terdapat hubungan yang signifikan antara sindroma dispepsia dengan prestasi belajar dengan p value sebesar 0,044 dan nilai mean rank responden dengan sindroma dispepsia adalah 77,99 sedangkan nilai mean rank responden yang tidak mengalami dispepsia adalah 91,45. Kesimpulan dari penelitian, responden yang menderita dispepsia memiliki nilai rata-rata prestasi belajar lebih rendah dibandingkan responden yang tidak menderita dispepsia. Kata kunci: Sindroma Dispepsia, Prestasi Belajar.

ABSTRACT

Dyspepsia Syndrome is symptoms such as pain or discomfort of stomach, bloating, nausea, vomiting, belching, a sense of satiety, or fullness stomach. Functional Dyspepsia is anomaly functional that cause students’ learning achievement by intrinsic mechanism (physiological and psychological). The purpose of the study was to determine the relationship between dyspepsia syndrome and students’ learning achievement at SMAN 4 Banda Aceh. This is an observasional analytic research by using a cross-sectional design. Samples are 169 students taken with simple random sampling method. The result showed that 81 (47.9 %) respondents got dyspepsia and 88 (52.1 %) did not get dyspepsia. Most respondents are female, which reached 55 %. Data were analyzed with Mann-Whitney test, it found significant relationship between dyspepsia syndrome and students’ learning achievement by p value 0.044 and mean value rank respondents by dyspepsia syndrome is 77.99 while mean value rank respondents which did not get dyspepsia is 91.45. The conclusion of research, respondents who got dyspepsia syndrome has average score learning achievement lower than responden who did not get dyspepsia syndrome.

(2)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 37 PENDAHULUAN

Dispepsia berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys- (buruk) dan –peptein (pencernaan).(1) Dispepsia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui dalam praktek dokter sehari-hari.(2) Diperkirakan kasus dispepsia hampir 30% pada praktek umum dan 60% pada praktek gastroenterologist.(3) Di Eropa dan Amerika Utara prevalensi dispepsia mencapai 50%, sedangkan Amerika Serikat 32%, Scandinavia 14,5%, India 30,4%, dan Singapura 8%.(4,5) Di daerah Asia Pasifik dispepsia merupakan keluhan yang sering dijumpai, dengan angka prevalensi sekitar 10%-20%.(6) Di Indonesia, angka ini mencapai 58,1% pada tahun 2010.(7)

Sindroma dispepsia adalah kumpulan beberapa gejala klinis yang terdiri dari rasa sakit perut pada saluran cerna bagian atas, keluhan rasa panas di dada, perut kembung, cepat kenyang, mual dan muntah.(8) Dispepsia dibagi menjadi dua jenis yaitu dispepsia fungsional dan dispepsia organik.(1) Klasifikasi dari dispepsia organik adalah tukak pada saluran cerna atas, gastritis, gastro-esophageal reflux disease (GERD), karsinoma, pakreatitis, dispepsia dan sindrom malabsorbs, gangguan metabolisme, dispepsia akibat infeksi bakteri Helicobakter Pylori (HP).(9) Sedangkan dispepsia fungsional dibagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu dispepsia fungsional mirip ulkus (ulcer-like), dispepsia fungsional mirip dismotilitas (dismotility-like), dan dispepsia non-spesifik.(10)

Faktor-faktor penyebab dispepsia adalah faktor psikologi, pola makan, kebiasaan merokok dan alkohol, penggunaan obat-obat NSAID, infeksi Helicobakter pylori, dan faktor sosial.(4) Penderita dispepsia dapat mengalami nyeri perut hebat yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.(11)

Prestasi adalah suatu hasil yang telah dicapai oleh seseorang dengan belajar yang memperoleh hasil dalam bentuk tingkah laku nyata dan baru.(12) Sedangkan prestasi belajar dapat dikatakan sebagai ukuran atau kemampuan yang didapat, dicapai atau ditampilkan seseorang sebagai bukti dari usaha belajar yang dilakukannya.(13)

Dalam sebuah survey di beberapa negara, lebih dari 50% penderita dispepsia bergantung pada obat dan dilaporkan sekitar 30% penderita dispepsia memilih untuk libur dari pekerjaan ataupun sekolah karena keluhan dari gejala dispepsia tersebut.(4)

Pada penelitian yang dilakukan oleh Nurhandayani dkk pada tahun 2014 didapatkan hasil prestasi belajar dari nilai rapor anak tanpa dispepsia fungsional lebih baik dari pada anak dengan dispepsia fungsional. Prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor intrinsik (fisiologis dan psikologis) dan faktor ekstrinsik. Dimana dispepsia fungsional merupakan kelainan fungsional yang di duga memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar melalui mekanisme instrinsik.(14)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan sindroma dispepsia dengan prestasi belajar pada siswa kelas XI SMAN 4 Banda Aceh. Selain itu, belum ada penelitian serupa yang pernah dilakukan di kampus Fakultas Kedokteran Unsyiah.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 4 Banda Aceh pada bulan Mei-Juni 2016. Sampel diambil secara acak dengan menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 4 Banda Aceh. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dengan pengisian langsung kuesioner roma II untuk menentukan positif atau negatif dispepsia. Data sekunder didapatkan dari nilai rapor semester II.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner kriteria roma II yang sudah valid dan baku dan rapor siswa XI semester II.

Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Analisa univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi setiap variabel. Data yang diperoleh kemudian disajikan dalam

(3)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 38 bentuk tabel distribusi, frekuensi dan persentase. Analisa bivariat digunakan untuk menguji hipotesis pada α: 0,05. Analisa bivariat yang digunakan adalah uji T tidak berpasangan.

HASIL

Penelitian dilakukan pada siswa kelas 2 SMAN 4 Banda Aceh. Pengumpulan data pada bulan Juni 2016. Jumlah responden adalah 169 orang. Distribusi frekuensi variabel penelitian disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1 Distribusi frekuensi karakteristik 169 responden

Karakteristik Jumlah (n) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 76 45 Perempuan 93 55 Dispepsia Positif 81 47,9 Negatif 88 52,1 Prestasi Belajar Cukup 29 17,2 Baik 43 25,4 Sangat Baik 97 57,4

Berdasarkan tabel diatas, dari 169 siswa yang menjadi responden penelitian didapatkan sebanyak 47,9 % responden yang mengalami dispepsia fungsional, sedangkan persentase prestasi belajar responden yang paling banyak ditemukan adalah prestasi belajar dengan kategori sangat baik yaitu mencapai 57,4 %.

Tabel 2 Distribusi Dispepsia berdasarkan Jenis Kelamin Dispepsia

Positif (%) Negatif (%)

Jenis Kelamin

Laki-laki 30 (37,0) 46 (52,3)

Perempuan 51 (63,0) 42 (47,7)

Berdasarkan tabel diatas, didapatkan bahwa responden yang lebih tinggi mengalami dispepsia yaitu berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 responden (63 %) sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki yang mengalami dispepsia fungsional sebanyak 30 responden (37 %).

(4)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 39 Tabel 3 Hubungan Sindroma Dispepsia dengan Prestasi Belajar

Dispepsia

Prestasi Belajar

P Value

Cukup (%) Baik (%) Sangat Baik (%) Positif 19 (23,5) 21 (25,9) 41 (50,6)

0,044 Negatif 10 (11,4) 22 (25,0) 56 (63,6)

Tabel 4 Hubungan Sindroma Dispepsia dengan Prestasi Belajar

Dispepsia N Mean Rank

Prestasi Belajar Ya 81 77,99

Tidak 88 91,45

Total 169 85,00

Berdasarkan table 3, didapatkan responden dengan dispepsia fungsional yang mendapatkan prestasi belajar dengan kategori terbaik adalah kategori prestasi belajar sangat baik yaitu mencapai 50,6% diikuti dengan kategori prestasi belajar baik sebanyak 25,9 % dan untuk kategori prestasi belajar cukup sebanyak 23,5 %. Sedangkan responden yang tidak mengalami dispepsia fungsional ternyata juga mendapatkan prestasi belajar kategori terbanyak adalah kategori prestasi belajar sangat baik yaitu 63,6 %.

Hasil analisis statistik yang menggunakan uji Mann-Whitney dengan nilai kemaknaan 95% didapatkan nilai p value sebesar 0,044 (α<0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa H0 ditolak. Hal ini diartikan bahwa terdapat adanya hubungan antara sindroma dispepsia dengan prestasi belajar pada siswa kelas XI SMAN 4 Banda Aceh. Selain itu didapatkan nilai mean rank yang dihitung dari total keseluruhan prestasi belajar responden penelitian, diperoleh hasil nilai mean rank untuk responden penelitian yang mengalami dispepsia fungsional lebih rendah yaitu sebesar 77,99 dibandingkan dengan responden penelitian yang tidak mengalami dispepsia fungsional yaitu 91,45.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa responden yang lebih tinggi mengalami dispepsia fungsional yaitu berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 responden (63%) sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki yang mengalami dispepsia fungsional sebanyak 30 responden (37%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tarigan (2003) di RSUP. Adam Malik Medan dimana diperoleh penderita dispepsia berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan berjenis kelamin laki-laki.(15) Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Lorena (2004) yang menyatakan bahwa dispepsia fungsional lebih banyak ditemukan pada perempuan dikarenakan perempuan mempunyai waktu aktifitas lebih lama dibandingkan dengan laki-laki, kemudian wanita juga memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi sehingga kedua faktor inilah yang akan menyebabkan dispepsia fungsional.(16) Selain itu adapun faktor dari pola diet juga mempengaruhi, dimana perempuan sering tidak teratur dalam jadwal makan sehingga jeda makan mereka terlalu lama atau panjang. Hal ini sengaja mereka lakukan dalam menjaga penampilannya sehingga mereka sering terkena dispepsia fungsional.(17)

Pada tabel 4.2, didapatkan kategori prestasi belajar dengan persentase paling tinggi pada responden penelitian yang mengalami dispepsia fungsional adalah kategori prestasi belajar sangat baik yaitu sebanyak 50,6 %, hal yang sama juga didapatkan pada responden penelitian yang tidak mengalami dispepsia dimana kategori prestasi belajar sangat baik mendapatkan persentase tertinggi yaitu sebanyak 63,6 %. Berdasarkan teori keluhan dari dispepsia fungsional tidak terjadi secara terus menerus atau hilang timbul, apabila seseorang dapat mengatur pola makan secara teratur maka dapat

(5)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 40 kembali beraktivitas secara normal dan juga dapat mencegah terjadinya sindroma dispepsia.(18) Prestasi belajar seseorang tidaklah sama, tetapi sangat variatif dan berbeda. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor dari dalam diri seseorang (intrinsik) dan faktor dari luar seseorang (ekstrinsik).(14)

Hasil uji statistik Mann-Whitney dengan nilai kemaknaan 95% menunjukan nilai p = 0,044 yang menunjukan terdapat hubungan antara sindroma dispepsia dengan prestasi belajar pada siswa XI SMAN 4 Banda Aceh. Hal ini sejalan dengan penelitian Nurhandayani dkk (2014) bahwa terdapat adanya hubungan sindroma dispepsia terhadap prestasi belajar.(14) Pada tabel 4.2 juga dapat dilihat bahwa mean rank dari total seluruh nilai prestasi belajar responden yang mengalami dispepsia lebih rendah yaitu 77,99 dari pada mean rank dari total keseluruhan nilai prestasi belajar responden yang tidak mengalami dispepsia.

Hal ini berarti bahwa prestasi belajar siswa yang tidak mengalami dispepsia lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mengalami dispepsia. Penelitian yang dilakukan oleh Jones dkk (1990) pada komunitas remaja selama kurun waktu 6 bulan yaitu tingkat keluhan dispepsia mencapai 38 %. Dimana pada penelitian tersebut dinyatakan bahwa keluhan dispepsia banyak didapatkan pada usia yang lebih muda.(19) Siswa mempunyai aktivitas yang tinggi baik kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah menyebabkan waktu makan mereka menjadi tidak teratur.(20) Berdasarkan penelitian tentang gejala gastrointestinal yang dilakukan oleh Reshetnikov dkk (2007), jeda antara jadwal makan yang lama dan ketidakteraturan makan berkaitan dengan gejala dispepsia, jika proses tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat lama, akan menyebabkan produksi asam lambung yang berlebihan sehingga dapat mengiritasi dinding mukosa pada lambung yang akhirnya menyebabkan rasa perih dan mual.(21)

Pada penderita dispepsia fungsional dapat menimbulkan gejala-gejala yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.(11) Dalam sebuah survey mengatakan bahwa terdapat lebih dari 50 % penderita dispepsia yang bergantung pada obat dan sekitar 30 % penderita dispepsia lebih memilih untuk libur atau tidak masuk dari pekerjaan ataupun sekolah karena keluhan yang diderita dari gejala dispepsia tersebut.(4) Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar itu sendiri yaitu faktor intrinsik (psikologis dan fisiologis) dan faktor ekstrinsik. Dimana dispepsia fungsional merupakan suatu kelainan fungsional yang di duga memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar melalui mekanisme instrinsik. Manisfestasi klinis dari dispepsia fungsional hilang timbul, sehingga dispepsia fungsional dapat mengganggu kemampuan berkonsentrasi pada seseorang. Maka dari itu responden yang menderita dispepsia fungsional lebih mumungkinkan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan responden yang tidak menderita dispepsia fungsional.(14)

Terjadinya gejala-gejala dispepsia disebabkan oleh beberapa proses patofisiologi yaitu sekresi asam lambung, dismotilitas gastrointestinal, infeksi helicobacter pylori, hipersensitivitas visceral, disfungsi otonom, psikologis, pola makan, dan faktor lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Khotimah dkk (2012) hasil analisa statistik menunjukan bahwa faktor yang memberikan pengaruh paling besar terhadap kejadian sindrom dispepsia adalah tingkat stress.(22) Akibat yang ditimbulkan dari manisfestasi klinis dispepsia fungsional seperti nyeri ulu hati, kembung, cepat kenyang, mual dan muntah, hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup dan juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dari penderita dispepsia fungsional itu sendiri. Dimana hal tersebut dapat juga mempengaruhi prestasi belajar dari seseorang.(2,3,23)

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara sindroma dispepsia dengan prestasi belajar pada siswa kelas XI SMAN 4 Banda Aceh.

(6)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 41 DAFTAR PUSTAKA

1. Abdullah M, Gunawan J. Dispepsia. Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012;647–51.

2. Djojoningrat D. Dispepsia Fungsional. Maj Kedokt Indones. 2005;5 (3).

3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, K MS, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1. Jakarta: Interna Publishing; 2009. 529-533.

4. Kumar A. Epidemiology of Functional Dyspepsia. Mumbai Assoc Physicians India. 2012;60:9– 12.

5. Savas L, White D, Wieman M, Daci K, Fitzgerald S, Smith L. Irratable Bowel Syndrome and Dyspepsia Among Woman Veterans. Houst Aliment Pharmacol Ther. 2009;29:115–25.

6. Setyono J, Prastowo A. Karakteristik Penderita Dispepsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekardjo Purwokerto. Purwokerto J Soedirman. 2006;27–31.

7. Simadibrata M, Abdullah M, Syam A, Fauzi A, Makmun D, Manan C. Dyspeptic Syndrome in Urban Population in Jakarta. Jakarta Indones J Gastroenterol. 2010;11:66–70.

8. Uleng A, Soraya T, Jayalangkara A, Hawaidah, Patellongi I. Hubungan Derajat Ansietas dengan Dispepsia Organik. 2007;20–31.

9. Murti K, Bintanah S, Handarsari E. Hubungan kebiasaan makan, jadwal makan, makanan minuman berisiko dengan frekuensi kekambuhan dispepsia di poli rawat jalan RSUD Kabupaten Kudus. Fak Kesehat Masy Univ Muhammadiyah Semarang. 2014;1–5.

10. Loening-Baucke V. Dispepsia In Children. Dispepsia Child. 2008;1–6.

11. El-Serag HB, Talley NJ. Systematic Review: Health-Related Quality of Life In Functional Dyspepsia. 2003;387–93.

12. Djaali H. Pemahaman Belajar Siswa. Dalam buku: Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara; 2008. 1-5.

13. Makmun AS. Bekarya dan Belajar. Dalam buku: Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya; 1996. 22-32.

14. Nurhandayani, Supriatmo, Azlin E, Yudiyanto AR, Sinuhaji AB. Perbandingan Prestasi Belajar Anak Yang Mengalami Dispepsia Fungsional Dengan Tanpa Dispepsia Fungsional Pada Anak Usia 8 Sampai 18 Tahun. Dep Ilmu Kesehat Anak Fak Kedokt Univ Sumatera Utara RSUP H Adam Malik Medan. 2014;1–5.

15. Tarigan C. Perbedaan Dispepsia Fungsinal dan Dispepsia Organik. Universitas Sumatera Utara. 2003;1–5.

16. Lorena, Silva SL, Eduardo, Quirino S, Equardo E, Aparecida M. Gastric Emptying and Intragastic Distribution of a Solid Meal in Functional Dispepsia: Influence of Gender and Anxiety. Juornal Clin Gastroenterol. 2004;38:230–6.

17. Haekal M. Hubungan Antara Jenis Sindrom Dispepsia dengan Status Gizi Pasien di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. 2014;(38–41).

18. Sorongan IM, Pangemanan DHC, Untu FM. Hubungan Antara Pola Makan dengan Kejadian Sindroma Dispepsia Pada Siswa-Siswi Kelas XI di SMA Negeri 1 Manado. ejournal keperawatan (e-Kp). 2013;1:1–6.

19. Jones R, Lydeard S. Dyspepsia in England and Scotlandia, Department of Primary Medical Care, University of Southhampton. 1990.

20. Sayogo S. Gizi Remaja Putri. Jakarta: Yayasan Pengembangan Medik Indonesia; 2006.

21. Reshetnikov O V, Kurilovich SA. Population-Based Study: Mode of Dieting and Dyspepsia. 2007; Available from: Pubmed.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11507978 diakses tanggal 18 oktober 2016

22. Khotimah N, Ariani Y. Sindroma Dispepsia Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Dosen Dep Keperawatan Dasar dan Med Bedah Fak Keperawatan Univ Sumatera Utara. 2012;21–3.

(7)

http://www.jim.unsyiah.ac.id/FKB/ 42 23. Dobrek L, Thor P. Pathophysiological Concepts of Functional Dyspepsia and Irritable Bowel

Gambar

Tabel 1 Distribusi frekuensi karakteristik 169 responden

Referensi

Dokumen terkait

Keterlibatan ulama dalam sistem politik Indonesia, mengukuhkan pandangan bahwa agama (Islam) tidak bisa dipisahkan dari politik.. Sebagai bukti, dapat kita lihat dari

Untuk kedua jenis uji, dapat diketahui pada hipotesis null random walk tidak dapat ditolak pada level yang cukup moderat.. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa hasil tersebut

Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data, maka diperoleh gambaran mengenai latar belakang keluarga atlet pencak silat Kota Cirebon Pra-PORDA di Kabupaten

Merupakan pengambilan berbagai tindakan yang diperlukan untuk mengelola risiko terhadap pencapaian tujuan perusahaan yang mencakup pengesahan, kewenangan, verifikasi,

bahwa dalam rangka meningkatkan tertib penyelenggaraan pembangunan guna mewujudkan prasarana dan sarana bidang pekerjaan umum yang efisien, efektif, dan produktif,

Manfaat relasional dari hubungan antara konsumen dengan perusahaan yang menawarkan produk atau jasa dengan menggunakan situs-situs online harus dapat terjalin dalam jangka

Hasil Percobaan 1 menunjukkan bahwa benih kemangi mencapai masak fisiologi pada umur panen 48 HSB dan benih yang berasal dari bagian tengah bunga memiliki viabilitas dan

Batas nyeri persalinan kala I fase aktif yang dirasakan responden pada kelompok ibu bersalin yang diberikan penerapan lingkungan persalinan dengan terapi komplementer