• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI “DAGING SAPI” DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MENGOPTIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SARI JAYA MANDIRI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI “DAGING SAPI” DENGAN MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX UNTUK MENGOPTIMALKAN BIAYA TRANSPORTASI DI CV. SARI JAYA MANDIRI."

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

PENENTUAN JALUR DISTRIBUSI

“DAGING SAPI”

DENGAN MENGGUNAKAN

METODE

SAVINGS MATRIX

UNTUK MENGOPTIMALKAN BIAYA

TRANSPORTASI DI CV. SARI JAYA MANDIRI

SKRIPSI

Oleh :

DEDI INDRA GUNAWAN

0632010087

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada era globalisasi saat ini persaingan dunia usaha semakin meningkat

tajam. Kemudahan dalam memperoleh informasi melalui berbagai media

mengakibatkan dunia usaha dituntut semakin kompetitif. Perusahaan tidak hanya

dituntut untuk mempertahankan kinerja yang sudah diraih tapi juga harus

meningkatkan service level yang sudah ada dalam memenuhi permintaan

konsumen dan memenangkan persaingan. Dalam memenuhi permintaan

konsumen, selain dilihat dari sisi proses produksi, juga ada satu faktor penting

yang perlu diperhatikan, yaitu pendistribusian produk dari perusahaan ke

konsumen yang tepat waktu dan efektif. Pendistribusian memegang faktor yang

penting dikarenakan tanpa adanya pola distribusi yang tepat maka proses ini dapat

memakan biaya yang tinggi dan mengakibatkan pomborosan dari segi waktu,

jarak dan tenaga.

Distribusi berkaitan erat dengan kegiatan transportasi yang memadai. Perlu

adanya penentuan customer mana yang akan dikunjungi dan urutan-urutan

customer yang akan dikunjungi dengan armada khusus agar distribusi dapat

berjalan efektif dan efisien. Kegiatan ini melibatkan penentuan rute dalam

transportasi. Penentuan rute transportasi dapat diselesaikan dengan metode

Savings Matrix. Metode Savings Matrix adalah metode yang digunakan untuk

menentukan rute distribusi produk ke wilayah pemasaran dengan cara menetukan

(3)

kendaraan tersebut agar diperoleh rute terpendek dan biaya transportasi yang

minimal. Metode Savings Matrix juga merupakan salah satu teknik yang

digunakan untuk menjadwalkan sejumlah kendaraan terbatas dari fasilitas yang

memiliki kapasitas maksimum yang berlainan.

CV. Sari Jaya Mandiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang

pemotongan hewan (Sapi) dan pendistribusian produk daging sapi. Sasaran

distribusi CV. Sari Jaya Mandiri adalah dapat melakukan waktu pengiriman

produk secara tepat, biaya yang efisien, dan pelayanan yang baik. CV. Sari Jaya

Mandiri dituntut untuk dapat merancang kinerja pengiriman yang reliabel.

Sedangkan dalam pemenuhan sasaran tersebut ada beberapa keterbatasan atau

permasalahan dari perusahaan, dengan proses distribusi dalam satu kali

pengiriman produk hanya dilakukan pada satu customer , sehingga kurang adanya

perencanaan pengiriman dan pendistribusian barang yang tepat untuk menentukan

jalur distribusi ke customer yang mengakibatkan jalur pengiriman yang ditempuh

semakin panjang tanpa melihat terlebih dahulu kapasitas dari kendaraan dan jarak

yang akan ditempuh serta mengakibatkan biaya tranportasi yang mahal.

Dengan adanya permasalahan tersebut, dapat dilihat biaya transportasi

masih sangat tinggi maka perlu dilakukan penentuan rute yang akan dilalui

sehingga dapat meminimalkan biaya trasnportasi pada CV. Sari Jaya Mandiri.

Metode Savings Matrix dapat digunakan untuk menentukan rute distribusi produk

ke customer dengan cara menentukan urutan rute distribusi yang harus dilalui dan

jumlah alat angkut berdasarkan kapasitas dari alat angkut tersebut. Metode ini

diterapkan agar diperoleh rute terpendek dan memperoleh biaya transportasi yang

(4)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang ada di perusahaan berkaitan dengan

pengiriman produk Daging sapi, maka dirumuskan permasalahan penelitian

sebagai berikut :

Bagaimana menentukan jalur distribusi produk daging sapi ke customer

untuk mengoptimalkan biaya transportasi?”

1.3 Batasan Masalah

Agar pembahasan pada penelitian ini lebih terarah dan hasilnya optimal,

maka diberi batasan masalah sebagai berikut :

1. Pengiriman dilakukan terhadap lokasi customer yang berada di Sidoarjo

dengan alokasi titik rute daerah berdasarkan daftar yang sudah ditentukan oleh

peta dalam satuan kilometer (km).

2. Ukuran satuan daging sapi menggunakan satuan Kilogram

3. Penelitian dilakukan pada pendistribusian di customer yang jumlah

permintaannya cukup banyak (Min. 150 Kg).

4. Rute distribusi diartikan adalah rute yang dilalui armada pengangkut produk.

5. Biaya transportasi meliputi biaya tenaga kerja dan biaya bahan bakar

(solar/bensin) serta biaya retribusi lain-lain.

1.4 Asumsi

(5)

1. Kondisi kendaraan selama perjalanan dalam kondisi stabil, tidak rusak dan

tidak terjadi kebocoran.

2. Biaya bahan bakar, retribusi dan tenaga kerja tetap selama penelitian.

3. Untuk waktu pemesanan produk oleh customer tidak diperhitungkan.

4. Pengiriman dilakukan terhadap lokasi customer dengan jumlah permintaan

yang berbeda disetiap lokasi dan tidak melebihi batas max. armada angkutan.

1.5 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

Menentukan rute yang harus ditempuh tiap alat angkut berdasarkan

kapasitasnya untuk mengefisiensi jarak tempuh dan mengoptimalkan biaya

transportasi dengan menggunakan metode Savings Matrix di CV. Sari Jaya

Mandiri.

1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian tugas akhir ini adalah :

1. Bagi Mahasiswa, dapat menambah wahana pelatihan dan komprehensif antara

kenyataan sesungguhnya yang sering tidak sesuai teori akademis dan dapat

memberikan pengalaman peneliti pada masalah distribusi.

2. Bagi Perusahaan, dapat memberikan masukan berupa informasi yang bersifat

keilmuan agar dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengoptimalkan

biaya pendistribusian produk oleh CV. Sari Jaya Mandiri.

3. Bagi Perguruan Tinggi, dapat memberikan referensi tambahan dibidang

(6)

1.7 Sistematika Penulisan

Pada dasarnya sistematika penulisan berisikan mengenai uraian yang akan

dibahas pada masing-masing bab, sehingga dalam setiap bab akan mempunyai

pembahasan topik tersendiri. Adapun sistematika penulisan dari tugas akhir ini

adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab satu dibahas mengenai latar belakang penelitian,

perumusan masalah yang diteliti, tujuan dan manfaat penelitian,

batasan dan asumsi yang dipakai dalam penelitian serta sistematika

penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini dibahas mengenai dasar-dasar teori yang digunakan

untuk mengolah dan menganalisa data-data yang diperoleh dari

pelaksanaan penelitian, yaitu teori mengenai distribusi,

penjadwalan dan pemilihan rute dalam transportasi dan savings

matrix dan kegunaannya

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab tiga ini diberi langkah-langkah dalam melakukan

penelitian ini yaitu hal-hal yang dilakukan untuk mencapai tujuan

dari penelitian atau gambaran atau urutan kerja menyeluruh selama

pelaksanaan penelitian.

(7)

Pada bab ini berisikan pengolahan dari data yang telah

dikumpulkan dan melakukan analisis serta evaluasi dari data yang

telah diolah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

BAB V KESIMPULAN

Pada bab ini berisikan kesimpulan dan saran dari analisa yang telah

dilakukan sehingga dapat memberikan suatu rekomendasi sebagai

masukan bagi pihak distributor.

(8)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Transportasi dan Distribusi

Secara tradisional kita mengenal manajemen distribusi dan transportasi

dalam berbagai sebutan. Sebagian perusahaan menggunakan istilah manajemen

logistik, sebagian lagi menggunakan istilah distribusi fisik (phisycal distribution).

Apapun istilahnya, secara umum fungsi distribusi dan transportasi pada dasarnya

adalah menghantarkan produk dari lokasi di mana produk tersebut diproduksi

sampai dimana mereka akan digunakan. Pada prinsipnya fungsi ini bertujuan

untuk menciptakan pelayanan yang tinggi ke customer yang bisa dilihat dari

tingkat service level yang dicapai, kecepatan pengiriman, kesempurnaan barang

sampai ke tangan customer, serta pelayanan purna jual yang memuaskan.

(Pujawan, 2005; 174).

Adapun definisi lain transportasi merupakan pemindahan produk dari satu

lokasi ke lokasi lain mulai rantai pasok pertama sampai ke tangan konsumen.

Transportasi memainkan peran penting dalam tiap-tiap rantai pasok sebab produk

jarang diproduksi dan dikonsusmsi pada tempat yang sama. (Chopra,Meindl,

2001).

Transportasi mempunyai peranan penting bagi industri karena produsen

mempunyai kepentingan agar barangnya diangkut sampai kepada konsumen tepat

(9)

2.1.1. Persoalan Transportasi

Persoalan transportasi membahas masalah pendistribusian suatu komoditas

atau produk dari sejumlah sumber (supply) kepada sejumlah tujuan

(destination,demand), dengan tujuan meminimalkan ongkos pengangkutan yang

terjadi.

Ciri-ciri khusus persoalan transportasi adalah (Salim,2002) :

1. Kuantitas komoditas atau barang yang didistribusikan dari setiap sumber dan

yang diminta oleh setiap tujuan, besarnya tertentu.

2. Komoditas yang dikirim atau diangkut dari suatu sumber ke suatu tujuan,

besarnya sesuai dengan permintaan dan atau kapasitas sumber.

3. Ongkos pengangkutan komoditas dari suatu sumber ke suatu tujuan, besarnya

tertentu.

2.1.2. Metode yang Digunakan Dalam Memecahkan Persoalan Transportasi

Metode transportasi merupakan suatu model yang digunakan untuk

mengatur distribusi dari sumber-sumber yang menyediakan produk yang utama ke

tempat-tempat yang membutuhkan secara optimal. Alokasi produk ini harus diatur

sedemikian rupa, karena terdapat perbedaan biaya-biaya alokasi dari satu sumber

(10)

Untuk menyelesaikan persoalan transportasi, harus dilakukan

langkah-langkah sebagai berikut (Dimyati, 1992) :

1. Tentukan solusi fisibel basis awal.

2. Tentukan entering variabel dari variabel-variabel nonbasis. Bila semua

variabel sudah memenuhi kondisi optimum, STOP. Bila belum, lanjutkan ke

langkah 3.

3. Tentukan leaving variabel diantara variabel-variabel basis yang ada, kemudian

hitung yang baru. Kembali kelangkah ke 2.

Dalam memecahkan masalah transportasi ini penelitian menggunakan

metode Penentuan Rute dengan memepertimbangkan kapasitas kendaraan

(Vehiele Routing Problem).

2.1.3. Distribusi

Pengertian distribusi menurut Frank H. Woodward (1996) dalam bukunya

yang berjudul “Managing the Transport Service Function” dijelaskan didalam

industri, distribusi telah diterima sebagai pencapaian dari semua aktivitas bisnis

melibatkan penggerakan barang-barang dari titik memproses atau membuat

langsung atau penjualan kepada pelanggan dan termasuk warehousing,

pengendalian persediaan barang yang telah jadi, penanganan material dan

pengemasan, dokumentasi dan pengiriman, lalu lintas dan transportasi, dan

(11)

2.1.4 Saluran Distribusi

Saluran distribusi adalah saluran yang digunakan untuk menyalurkan suatu

produk dari produsen ke konsumen (konsumen akhir atau pemakai produk

industri). Fungsi saluran distribusi adalah :

1. Mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan

memudahkan pertukaran.

2. Mengembangkan dan menyebarkan komunikasi mengenai tawaran.

3. Melakukan pencarian dan berkomunikasi dengan calon pembeli.

4. Mengusahakan perundingan untuk mencapai persetujuan akhir atas harga dan

ketentuan lainnya mengenai tawaran agar perpindahan pemilikan dapat terjadi.

5. Melaksanakan pengangkutan dan penyimpanan produk.

6. Mengatur distribudi dana untuk menutup biaya saluran distribusi.

7. Menerima resiko dalam hubungan dengan pelaksana pekerjaan saluran

pemasaran.

2.1.5 Fungsi Dasar Manajemen Distribusi dan Transportasi

Secara tradisional kita mengenal manajemen distribusi dan trasnportasi

dengan berbagai sebutan. Sebagian perusahaan istilah manajemen logistic,

disebagian lagi menggunakan istilah distribusi fisik (physical distribution).

Kegiatan distribusi dan transportasi biasa dilakukan perusahaan

manufaktur dengan membentukan bagian distribusi atau transportasi diserahkan

kepada pihak ketiga. Dalam upayanya memenuhi tujuan-tujuan diatas, siapa pun

(12)

Manajemen distribusi dan transportasi pada umumnya melakukan

sejumlah fungsi dasar yang terdiri dari :

1. Melakukan segmentasi dan menentukan target service level.

Segmentasi pelanggan perlu dilakukan karena kontribusi mereka pada

revenue perusahaan sangat bervariasi dan karakteristik pelanggan biasanya sangat

berbeda antara satu dengan yang lain. Dari revenue, sering kali hukum pareto

20/80 berlaku disini. Artinya hanya sekitar 20% dari pelanggan atau area

penjualan menyumbangkan sejumlah 80% dari pendapatan yang diperoleh

perusahaan. Perusahaan tidak biasa menomorsatukan semua pelanggan. Dengan

mengalami perbedaan karakteristik dan kontribusi pelanggan atau area distribusi,

perusahaan biasa mengoptimalkan alokasi persediaan maupun kecepatan

pelayanan.

2. Menentukan mode transportasi yang akan digunakan.

Transportasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan mempunyai

keunggulan dan kelemahan yang berbeda juga, sebagai contoh : transportasi laut

memiliki keunggulan dari segi biaya yang rendah ; namun lebih lambat jika

dibandingkan dengan transportasi udara. Manajemen transportasi harus bisa

mengirimkan dan mendistribusikan produk-produk mereka ke pelanggan

kombinasi dua atau lebih model transportasi tentu bisa atau bahkan harus

dilakukan tergantung pada situasi yang dihadapi.

3. Melakukan konsolidasi informasi dan pengiriman.

Konsolidasi merupakan kata kunci sangat penting dewasa ini. Tekanan

untuk melakukan pengiriman cepat namun murah menjadi pendorong utama

(13)

konsolidasi informasi adalah konsolidasi data permintaan dari berbagai regional

distribusi center oleh sentral warehouse untuk pembuatan jadwal pengiriman.

Sedangkan konsolidasi pengiriman dilakukan misalnya dengan menyatukan

permintaan beberapa toko yang berbeda dalam satu truk. Dengan cara ini truk bisa

berjalan lebih sering tanpa harus membebankan biaya lebih kepada pelanggan

atau klien yang mengirimkan produk tersebut.

4. Melakukan penjadwalan dan penentuan rute pengiriman.

Salah satu kegiatan operasional yang dilakukan oleh gudang atau

distributor adalah menentukan kapan sebuah truk harus berangkat dan rute mana

yang harus dilalui untuk memenuhi permintaan dari sejumlah pelanggan apabila

jumlah pelanggan sedikit keputusan ini bisa diambil dengan relative gampang.

Namun perusahaan yang memiliki puluhan ribu toko atau tempat penjualan yang

harus dikunjungi, penjadwalan dan penentuan rute pengiriman adalah pekerjaan

yang sangat sulit dan kekurangan ketepatan dalam mengambil dua keputusan

tersebut bisa berimplikasi pada biaya pengiriman yang tinggi.

5. Memberikan pelayanan nilai tambah.

Disamping mengirimkan produk kepelanggan, jaringan distribusi semakin

banyak dipercaya untuk melakukan proses nilai tambah. Kebanyakan proses nilai

tambah tersebut tadinya dilakukan oleh pabrik/manufactur. Beberapa proses nilai

tambah yang bisa dikerjakan oleh adalah pengepakan, pemberian barcode, dan

sebagainya. Untuk mengakomodasi kebutuhan lokasi yang lebih baik, seperti

industri printer, memindahkan proses konfigurasi akhir dari produknya ke

distributor ke tiap-tiap Negara. Ini meningkatkan fleksibilitas produk sehingga

(14)

6. Menyimpan persediaan.

Jaringan distribusi selalu melibatkan proses penyimpanan produk baik

disuatu gudang pusat atau gudang regional, maupun di toko dimana produk

tersebut dijual. Oleh karena itu manajemen distribusi tidak bisa dari manajemen

pergudangan.

7. Menangani pembelian (return).

Manajemen distribusi juga punya tanggung jawab untuk melaksanakan

kegiatan pengembalian produk dari hilir ke hulu dalam supply chain.

Pengembalian ini bisa karena produk rusak atau tidak terjual sampai batas waktu

penjualan habis, seperti produk-produk makanan, sayuran, buah, dan sebagainya.

Kegiatan pengembalian ini bisa terjadi pada produk-produk kemasan seperti botol,

yang akan digunakan kembali dalam proses produksi atau harus diolah kembali

untuk menghindari pencemaran lingkungan. Proses pengembalian ini lumrah

dengan sebutan reverse logistic.

2.2 Pengertian Metode Savings Matrix

Savings Matrix merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk

menjadwalkan sejumlah terbatas kendaraan dari suatui fasilitas dan jumlah

kendaraan dalam armada ini dibatasi dan mereka mempunyai kapasitas

maksimum yang berlainan. Tujuan metode ini adalah untuk memilih penugasan

(15)

Metode Savings Matrix adalah metode untuk meminimumkan jarak atau

waktu atau ongkos dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang ada.

(Pujawan, 2005: 180).

2.2.1 Langkah-Langkah Metode Savings Matrix

Sebelum melakukan perhitungan Savings Matrix, terlebih dahulu

menentukan titik koordinat jarak dari pabrik / gudang ke tiap-tiap customer

(Pujawan, 2005: 180) :

Tabel 2.1 Lokasi Tujuan dan Ukuran Order

Customer Tujuan Koordinat x Koordinat y Ukuran Order

Customer 1 1 y1 A Unit

Customer 2 2 y2 B Unit

Customer 3 3 y3 C Unit

Customer 4 4 y4 D Unit

. . . Customer n

. . .

n

. . .

n y

. . . N Unit Sumber (Pujawan, 2005: 180).

Kemudian melakukan perhitungan dalam meminimumkan jarak yang

ditempuh menggunakan Metode Savings Matrix, terdapat beberapa

langkah-langkah dalam meminimumkan jarak yang ditempuh, yaitu :

1. Mengidentifikasi Matrix Jarak

Pada langkah ini perlu jarak antara pabrik ke masing-masing customer.

sehingga mengunakan lintasan terpendek sebagai jarak antar lokasi. Jadi

dengan mengetahui koordinat masing-masing lokasi maka jarak antar dua

(16)

Tabel 2.2 Matrik Jarak dari Pabrik ke Customer dan antar Customer

Pabrik/Guda ng

Custome r 1

Custome r 2

Custome r 3

Custome r 4

Custom er n Custome

r 1 Custome

r 2 Custome

r 3 Custome

r 4 . . . Custome

r n

Sumber (Pujawan, 2005: 181) :

Misalkan dua lokasi masing-masing dengan koordinat

1,y1

dan

2,y2

maka Perhitungan matrik jarak dua lokasi tersebut adalah (Pujawan,

2005: 181) :

J

 

1,2 

12

 

2 y1y2

2

Hasil perhitungan jarak ini digunakan untuk menentukan matrik penghematan

(Savings Matrix) yang akan dikerjakan pada langkah berikutnya.

2. Mengidentifikasi Matrik Penghematan (Savings Matrix)

Savings matrix mempresentasikan penghematan yang dapat

direalisasikan dengan menggabungkan dua pelanggan ke dalam satu rute.

Misalkan menggabungkan Customer 1 dan Customer 2 ke dalam satu rute

maka jarak yang akan dikunjungi adalah dari gudang ke Customer 1 kemudian

(17)

Gambar 2.1 Perubahan yang terjadi dengan menggabungkan Customer 1 dan Customer 2 ke dalam satu rute. (Pujawan, 2005: 182)

Dari gambar diatas terjadi perubahan jarak adalah sebesar jarak kiri

dikurangi total jarak kanan yang besarnya adalah (Pujawan, 2005: 182):

 

G J

 

G

J

     

G J J G

J ,1 2 ,2 ,1 1,2 2,

2    

     

G,1 J G,2 J 1,2

J  

dengan jarak

   

x,yy,x

 

x y J

  

G x J G y

  

J x y

S ,  ,  ,  ,

dimana :

 

x y

S , Penghematan jarak (Savings) yang diperoleh dengan

menggabungkan rute x dan y menjadi satu

 

G x

J , Jarak dari gudang ke customer x

G y

J , Jarak dari gudang ke customer y

 

x y

J , Jarak dari customer x ke customer y

kemudian dibuat tabel matrik penghematan jarak dengan menggabungkan

dua rute yang berbeda. Gudang

Customer 1 Customer 2

Gudang

(18)

Tabel 2.3 matrik penghematan jarak dengan menggabungkan dua rute yang berbeda

Sumber (Pujawan, 2005: 183)

Tabel 2.4 Langkah awal semua customer memiliki rute terpisah

Pabrik/Guda ng

Custome r 1

Custome r 2

Custome r 3

Custome r 4

Custom er n Custome

r 1

Rute a

Custome r 2

Rute b

Custome r 3

Rute c

Custome r 4

Rute d

. . . Custome

r n

Rute z

Order A B C D …N Unit

Sumber (Pujawan, 2005: 183)

3. Mengalokasikan customer ke kendaraan atau rute

Pada langkah ini melakukan alokasi customer ke kendaraan atau

rute. dalam penggabungan rute customer, digabungkan sampai pada batas

kapasitas truk atau armada yang ada, dengan melihat nilai penghematan Customer 1 Customer 2 Customer 3 Customer 4

….Customer n

(19)

terbesar pada tabel matrix penghematan jarak.Misalkan didapat matrik

penghematan jarak sebagai berikut :

Tabel 2.5 semua customer memiliki rute terpisah

Pabrik/Gudang Customer 1 Customer 2 Customer 3 Customer 4 Customer 1

Rute a 0.0

Customer 2

Rute b 14.8 0.0

Customer 3

Rute c 12.5 8.2 0.0

Customer 4

Rute d 24.9 12.9 12.6 0.0

Order 320 85 300 150

Sumber (Pujawan, 2005: 184)

dari tabel diatas didapat penghematan terbesar pada customer 1 dan 4

sebesar 24.9

sehinga customer 4 bergabung ke rute a (diasumsikan kapasitas truk

memadai)

Tabel 2.6 Customer 4 masuk ke Rute a dan Customer 3 masuk ke Rute c

Pabrik/Gudang Customer 1 Customer 2 Customer 3 Customer 4 Customer 1

Rute a 0.0

Customer 2

Rute b 14.8 0.0

Customer 3

Rute c 12.5 12.9(2) 0.0

Customer 4

Rute a 24.9(1) 8.2 12.6 0.0

Order 320 85 300 150

Sumber (Pujawan, 2005: 184)

selanjutnya dicari penghematan terbesar kedua didapatkan 12.9 (Customer 2

dan 4) masuk ke rute b, dan begitu seterusnya hingga customer ke-n. Jika

(20)

kemudian didapatkan jumlah rute sesuai dengan kapasitas armada yang ada

dan penghemtan jarak alokasi dari pabrik ke customer.(Pujawan, 2005:

183-185).

4. Mengurutkan Customer (Tujuan) dalam rute yang sudah terdefinisi

Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk menentukan urutan

kunjungan, namun pada penelitian ini menggunakan metode Nearest

Neighbor. Metode Nearest Neighbor merupakan metode pengurutan

kunjungan yang menambahkan customer yang jaraknya paling dekat dengan

customer yang akan dikunjungi terakhir. Misalnya diketahui 3 customer dalam

rute a, customer 1 memiliki jarak terdekat dengan gudang / pabrik dengan

jarak 6.4, kemudian cari jarak customer terdekat dengan customer 1 didapat

customer 3 dengan jarak 6.7 dan terakhir yang dikunjungi adalah customer 2

kemudian kembali ke gudang.. (Gudang-Customer1-Customer3-Customer2

-Gudang). Jika kebetulan menghasilkan rute dengan jarak yang sama maka

dipilih total jarak yang minimum. (Pujawan, 2005: 185-186).

Dengan dilakukan penyelesaian permasalahan tersebut menggunakan

metode savings matrix, maka dapat dihasilkan jalur disribusi yang optimal

dengan biaya transportasi yang lebih efisien.

2.3 Peramalan (Forecasting)

Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan

dimasa datang yang meliputi kebutuhan dalam ukuran, kuantitas, kualitas, waktu

dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun

(21)

Sedangkan peramalan permintaan merupakan tingkat permintan

produk-produk yang diharapkan akan terealisir untuk jangka waktu tertentu pada masa

yang akan datang. Peramalan permintaan ini digunakan untuk meramalkan

permintaan dari produk yang bersifat bebas (tidak tergantung), seperti peramalan

produk jadi.(Nasution, 2003: 26)

Metode peramalan dibagi dua, yaitu :metode peramalan Time Series dan

metode peramalan non time series. dalam penelitian ini mengunakan metode

peramalan time series, yang merupakan metode peramalan secara kuantitatif

dengan menggunakan waktu sebagai dasar peramalan.

2.3.1 Peramalan dalam Horizon Waktu

Dalam hubungannya dengan horizon waktu peramalan maka kita dapat

mengklasifikasikan peramalan tersebut dalam 3 kelompok (Nasution, 2003: 26) :

1. Peramalan jangka panjang, umumnya 2 sampai 10 tahun. Peramalan ini

digunakan untuk perencanaan produk dan perencanaan sumber daya.

2. Peramalan jangka menengah, umumnya 1 sampai 24 bulan. Peramalan ini

lebih mengkhususkan dinandingkan peramalan jangka panjang, biasanya

digunakan untuk menentukan aliran khas, perencanaan produksi, dan

penentuan anggaran.

3. Peramalan jangka pendek, umumnya 1 sampai 5 minggu. Peramalan ini

digunakan untuk mengambil keputusan dalam hal perlu tidaknya lembur,

penjadwalan kerja dan lai-lain keputusan kontrol jangka pendek.

Dalam penelitian ini menggunakan peramalan jangka menengah yang

umumnya dilakukan 1 atau 2 tahun yang digunakan untuk menentukan jalur

(22)

2.3.2 Beberapa Sifat Hasil Peramalan

Dalam membuat peramalan atau menerapkan hasil suatu peramalan maka

ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu (Nasution, 2003: 29) :

1. Peramalan pasti mengandung kesalahan, artinya peramal hanya bisa

mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi, tetapi tidak akan menghilangkan

ketidakpastian tersebut.

2. Peramalan seharusnya memberikan informasi tentang berapa ukuran

kesalahan, artinya karena peramalan pasti mengandung kasalahan maka

penting bagi peramal untuk menginformasikan seberapa besar kesalahan yang

mungkin terjadi.

3. Peramalan jangka pendek lebih akurat dibandingkan peramalan jangka

panjang. Hal ini disebabkan karena pada peramalan jangka pendek,

fakto-faktor yang mempengaruhi permintaan relatif masih konstan, sedangkan

semakin panjang periode peramalan, maka semakin besar pula kemungkinan

terjadinya perubahan factor-faktor yang mempengaruhi permintaan.

2.3.3 Prosedur Peramalan

Dalam melakukan peramalan terdapat beberapa prosedur, yaitu :

1. Tentukan pola data permintaan

dilakukan dengan cara memplotkan data secara grafis dan menyimpulkan

apakah data berpola trend, musiman, siklikal atau siklus, eratik / random.

Trend / kecenderungan (T) adalah sifat dari permintaan dimasa lalu

terhadap waktu terjadinya, apakah permintaan tersebut cenderung naik,

turun atau konstan. Siklus (C) merupakan pola permintaan suatu produk

(23)

tidak perlu dimasukkan dalam peramalan jangka pendek. Musiman (S)

adalah pola permintaan suatu produk yang naik atau turun disekitar garis

trend dan biasanya berulang setiap tahun. disebabkan factor cuaca, musim

libur panjang, dan lain-lain. Random (R) merupakan pola permintaan suatu

produk yang mengikuti pola bervariasi secara acak karena factor bencana

alam, bangkrutnya perusahaan, dan lain-lain. pola ini dibutuhkan dalam

menentukan persediaan pengamatan untuk mengantispasi kekurangan

persediaan bila terjadi lonjakan permintaan. (Nasution, 2003: 35).

2. Mencoba beberapa metode time series sesuai dengan pola permintaan

tersebut untuk melakukan peramalan.

3. Mengevaluasi tingkat kesalahan masing-masing metode yang akan dicoba.

Tingkat kesalahan masing-masing metode yang akan dicoba, tingkat

kesalahan diukur dengan kriteria MAD, MSE, MAPE. Ukuran akurasi

hasil peramalan merupakan ukuran kesalahan (error) permintaan,

merupakan tentang tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan

permintaan yang sebenarnya terjadi.

Dalam peramalan Time Series, metode peramalan terbaik adalah

metode yang memenuhi kriteria ketepatan ramalan, kriteria ini adalah,

yaitu (Nasution, 2003: 30-31) :

a) Rata-rata Deviasi Mutlak (Mean Absolute Deviation = MAD)

MAD merupakan rata-rata kesalahan mutlak selama periode

tertentu tanpa memperhatikan apakah hasil peramalan lebih besar atau

lebih kecil dibandingkan kenyataannya. Secara matematis, MAD

(24)

n F A

MAD  tt

Dimana :

A = permintaan aktual pada periode – t

Ft = hasil peramalan (forecast) pada periode – t

n = jumlah periode peramalan yang terlibat

b) Rata-rata Kuadarat Kesalahan (Mean Square Error = MSE)

MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan.

Peramalan pada tiap periode dan membaginya dengan jumlah periode

peramalan. Secara sistematis MSE dirumuskan sebagai berikut :

n

F A

MSE t t

2

c) Rata-rata Persentase Kesalahan Absolut (Mean Absolute Percentage

Error = MAPE)

MAPE merupakan ukuran kesalahan relative. MAPE biasanya

lebih berarti bila dibandingkan MAD Karena MAPE menyatakan

persentase kesalahan hasil peramalan terhadap permintaan actual

selama periode tertentu yang akan memberikan informasi persentase

kesalahan terlalu tinggi atau terlalu rendah. Secara sistematis sebagai

(25)

4. Memilih metode peramalan terbaik diantara metode yang dicoba.

Metode terbaik akan memberikan tingkat kesalahan terkecil

dibanding metode lainnya dan tingkat kesalahan tersebut berada dibawah

tingkat kesalahan yang telah ditetapkan.

Metode yang digunakan dalam Time Series, yaitu :

a. Metode Rata-rata Bergerak Tertimbang (Weighted Moving Average)

Dalam metode rata-rata bergerak memberikan timbangan

yang sama bagi seluruh data pengamatan, walaupun data yang

paling akhir lebih penting dan perlu dipertimbangkan dalam

penyusunan ramalan sedangkan dalam metode rata-rata bergerak

tertimbang memberikan timbangan yang berbeda atau data

tersebut, dengan peranan atau pentingnya data tersebut pada

penyusunan ramalan pada periode berikutnya (Ariyani, 2008: 33)

Formula metode Weighted Moving Average adalah (Baroto, 2002:

38) :

 

t c ft c ft cmft m

f1 12 2

^

dimana :

t f ^

ramalan permintaan (real) untuk peride t

t

f permintaan aktual pada periode t

1

c = bobot masing-masing data yang digunakan

c1 1

,

ditentukan secara subyektif

m = jumlah periode yang digunakan untuk peramalan

(26)

Pada periode WMA peramalan permintaan untuk setiap

periode mendatang diasumsikan sama.

b. Metode Pemulusan Eksponensial Tunggal (Single Eksponential

Smoothing)

Kelemahan metode Moving Average dalam kebutuhan akan

data-data masa lalu yang cukup banyak dapat diatasi dengan

metode pemulusan eksponensial.(Ariyani, 2008: 34)

Formula untuk metode Single Eksponential Smoothing (SES)

adalah (Baroto, 2002: 39) :

1

^ ^

1

t t

t f f

f  

dimana :

t f ^

perkiraan permintaan pada peride t

 suatu nilai

0 1

yang ditentukan secara

subyektif

t

f permintaan aktual pada periode t

1 ^

t

f perkiraan permintaan pada peride t-1

metode SES mengasumsikan peramalan permintaan untuk

setiap periode ke depan selalu sama.

c. Metode Pemulusan Eksponansial Ganda (Double Eksponential

Smoothing)

Dasar pemikiran dari metode pemulusan eksponensial yang

linier ini adalah baik nilai pemulusan eksponensial tunggal maupun

(27)

adalah trend. Disamping itu untuk menyesuaikan trend, maka

nilai-nilai pemulusan eksponensial tunggal ditambahkan nilai-nilai-nilai-nilai

pemulusan eksponensial ganda. (Ariyani. 2008: 36)

Formula Double Eksponential Smoothing adalah (Baroto, 2002: 40) :

t t a at e F"  01

dimana a0,a1 adalah parameter proses dan e mempunyai nilai harapan

dari 0 dan sebuah variasi e2.

Misalkan  1 , sehingga :

0 1 1 1 2 1

... f f

f f

Ft  t  t  t 

persamaan diatas dapat pula dituliskan ulang sebagai :

0 1 1 0 f f

F i t t

t

i

t   

Double Eksponential Smoothing adalah modifikasi dari Single

Ekspnential Smoothing yang diruuskan sebagai berikut :

 2  2 1

ttt

dimana :

  F t

t2  '

 = Peramalan double exponential smoothing

 Faktor smoothing dan  1 , tFt

d. Metode Winter’s

metode peramalan Winter’s digunakan untuk suatu data yang

berpola musiman. (Baroto, 2002: 44)

(28)

a a t

Ct

t0,11. dengan : a0a0,2N

 

2N a1

N f f

a 2 1

1     N f f t N t 1 1     N f f N N t t

    2 1 2 2 1 1 2 2 , 0  

 f a N

a N t t a a f C . 1 0 1 

1 1 N

C N

t t

5. Melakukan peramalan dengan metode terbaik yang dipilih

2.4 Metode Time Series

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode time series.

Metode time series adalah metode peramalan secara kuantitatif dengan

menggunakan waktu sebagai dasar peramalan.

Perlu dipahami bahwa tidak ada suatu metode terbaik untuk suatu

peramalan. Metode yang memberikan hasil ramalan secara tepat belum tentu tepat

untuk meramalkan data yang lain. Dalam peramalan time series, metode

peramalan terbaik adalah metode yang memenuhi kriteria ketepatan ramalan.

Criteria ini berupa mean absolute deviation (MAD), mean square of error (MSE),

atau mean absoluteprocentage of error (MAPE).

Peramalan dengan time series memiliki prosedur yang harus dilaksanakan

secara utuh. Bila tidak, maka resiko-resiko berikut akan terjadi :

1. Hasil peramalan tidak falid, sehingga tidak dapat diterapkan.

2. Kesulitan mendapatkan/memilih metode peramalan yang akan memberikan

validitas ramalan yang tinggi.

(29)

Prosedur peramalan permintaan dengan metode time series adalah sebagai berikut

(Baroto, 2002) :

1. Tentukan pola data permintaan. Dilakukan dengan cara memplotkan data

secara grafis dan menyimpulkan apakah data berpola trend, musiman, siklikal,

atau random.

2. Mencoba beberapa metode time series dengan pola permintaan tersebut untuk

melakukan peramalan. Metode yang dicoba semakin banyak semakin baik.

3. Mengevaluasi tingkat kesalahan masing-masing metode yang telah dicoba.

Tingkat kesalahan diukur dengan kriteria MAD, MSE, MAPE atau yang

lainnya. Sebaiknya nilai tingkat kesalahan (apakah MAD, MSE, MAPE) ini

ditentukan dulu. Tidak ada ketentuan mengenai berapa tingkat kesalahan

maksimal dalam peramalan.

4. Memilih metode peramalan terbaik diantara metode yang dicoba. Metode

terbaik adalah metode yang memberikan tingkat kesalahan terkecil dibanding

metode lainnya dan tingkat kesalahan tersebut berada dibawah tingkat

kesalahan yang telah diterapkan.

5. Melakukan peramalan permintaan dengan metode terbaik yang telah dipilih.

2.4.1 Metode yang Digunakan dalam Times Series

1. Single Exponential Smoothing

Formula untuk metode Single Exponential Smoothing (SES) adalah (Baroto,

2002) :

1

ˆ 1

ˆ

 

t t

t f f

f  

dimana :

t

(30)

 = suatu nilai (0< <1) yang ditentukan secara subyektif

t

f = permintaan actual pada periode t

1

ˆ

t

f = perkiraan permintaan pada periode t-1

Metode SES mengasumsikan peramalan permintaan untuk setiap periode ke

depan selalu sama.

2. Weighted Moving Average

Formula metode Meighted Moving Average adalah (Baroto, 2002) :

 

t c ft c ft cmft m

fˆ  1 12 2

dimana :

t

fˆ = ramalan permintaan (real untuk periode t)

t

f = permintaan actual pada periode t

1

c = bobot masing-masing data yang digunakan

c1 1

, ditentukan secara

subyektif

m = jumlah periode yang digunakan untuk peramalan (subyektif)

Pada metode WMA peramalan permintaan untuk setiap periode mendatang

diasumsikan sama.

3. Double Exponential Smoothing

Formula metode Double Exponential Smoothing adalah (Baroto, 2002) :

t t a at e F'  01

dimana :

1 ,a

ao adalah parameter proses dan e mempunyai nilai harapan dari 0 dan

sebuah variasi 2

e  .

(31)

0 1

1 2

2

... f f

f f

Ft  t  t  t t

Persamaaan diatas dapat pula ditulis ulang sebagai :

     1 0 0 1 t i t t i

t f f

F   

Double Exponential Smoothing adalah modifikasi dari Single Exponential

Smoothing yang dirumuskan sebagai berikut :

 2  2 1

t X Xt

Xt  

dimana :

 2

Xt = F’t = peramalan double exponential smoothing  = faktor smoothing dan  1

Xt = Ft

4. Winter’s

Metode peramalan Winter’s digunakan untuk suatu data yang berpola

musiman. (Baroto,2002)

Formulasi untuk metode Winter’s adalah :

t t a t C a

t ( 0,1.)

dengan :

t t t a a f C . 1 0  

 

1 2

, 0

0 a 2N a

aN

N f f

a 2 1

1   N f f N N t t

   2 1 2 N f f N t t

  1 1 2 1 1 2 2 , 0  

f a N

a N 1

(32)

2.4.2 Ukuran Akurasi dari Peramalan

Ukuran hasil peramalan yang merupakan ukuran kesalahan peramalan

adalah ukuran tentang tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan

permintaan yang sebenarnya terjadi. Ada 4 ukuran yang biasa digunakan, yaitu :

1. Rata – Rata Deviasi Mutlak (Mean Absolute Deviation = MAD)

Merupakan rata – rata kesalahan mutlak selama periode tertentu tanpa

memperhatikan apakah hasil permalan lebih besar atau lebih kecil

dibandingkan kenyataannya. Secara matematis, MAD dirumuskan sebagai

berikut :

n F A

MAD t t

Dimana :

At = Permintaan aktual pada periode-t.

Ft = Peramalan permintaan (Forecast) pada periode-t.

n = Jumlah periode peramalan yang terlibat.

2. Rata – Rata Kuadrat Kesalahan (Mean Square Error = MSE)

MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan peramalan

pada setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode peramalan.

Secara sistematis, MSE dirumuskan sebagai berikut :

n F A

MSE t t

(33)

3. Rata – Rata Kesalahan Peramalan (Mean Forecast Error = MFE)

MFE sangat efektif untuk mengetahui apakah suatu hasil peramalan selama

periode tertentu terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bila hasil peramalan tidak

bias, maka nilai MFE akan mendekati nol. MFE dihitung dengan

menjumlahkan semua kesalahan peramalan selama periode peramalan dan

membaginya dengan jumlah periode peramalan. Secara matematis, MFE

dinyatakan sebagai berikut :

  n F A

MFE t t

4. Rata – Rata Persentase Kesalahan Mutlak (Mean Absolute Percentage Error =

MAPE)

MAPE merupakan ukuran kesalahan relatif. MAPE biasanya lebih berarti

dibandingkan MAD karena MAPE menyatakan persentase kesalahan hasil

peramalan terhadap permintaan actual selama periode tertentu yang akan

memberikan informasi persentase kesalahan terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Secara matematis, MAPE dinyatakan sebagai berikut :

        t t t A F A n MAPE 100

Dalam hal ini metode peramalan dianggap terbaik bila nilai MAPE memiliki

persentase terkecil. (Nasution, 2003 )

2.4.3 Pola Permintaan

Dalam peramalan time series perlu diketahui dulu pola / komponen time

(34)

pengeplotan data historis selama interval waktu tertentu. Dalam time series

terdapat empat jenis pola permintaan (Baroto, 2002) :

1. Pola trend

Pola trend adalah bila data permintaan menunjukan pola kecenderungan

gerakan penurunan atau kenaikan jangka panjang. Bila data berpola trend,

maka metode peramalan yang sesuai adalah metode regresi linier, single

eksponential smoothing atau double eksponential smoothing.

Gambar 2.2 Trend Component ( Pola Trend ) (Baroto, 2002).

2. Pola musiman

Bila data yang kelihatan berfluktuasi, namun fluktuasi tersebut akan terlihat

berulang dalam suatu interval waktu tertentu, maka data tersebut berpola

musiman. Metode peramalan yang sesuai dengan pola musiman adalah metode

winter (sangat sesuai), moving average, atau weight moving everage.

(35)

3. Pola siklikal

Pola siklikal adalah bila fluktuasi permintaan secara jangka panjang

membentuk pola sinusoid atau gelombang atau siklus. Metode yang sesuai

bila data berpola siklikal adalah metode moving average, weigh moving

average, dan eksponential smoothing.

Gambar 2.4 Cyclical Component ( Pola Siklis ) (Baroto, 2002)

4. Pola eratik/random

Pola eratik (random) adalah bila fluktuasi data permintaan dalam jangka

panjang tidak dapat digambarkan oleh ketiga pola lainnya. Fluktuasi

permintaan bersifat acak atau tidak jelas. Tidak ada metode peramalan yang

direkomendasikan untuk pola ini. Hanya saja tingkat kemampuan seorang

analis peramalan sangat menentukan dalam pengambilan kesimpulan

mengenai pola data.

(36)

2.5 Variabel

Definisi variabel adalah semua ciri atau faktor yang mempunyai variansi

nilai, yang diukur dan diuji untuk menjelaskan hubungan (diungkapkan atau tidak

diungkapkan dalam hipotesis) guna pemecahan permasalahan penelitian.

Eksistensi variabel mempunyai kaitan dan bisa saling mempengaruhi. Jika

hubungan antar variabel diketahui maka dapat meramalkan dan menjelaskan

fenomena teori. Variabel juga berarti : obyek atau subyek yang memiliki karakter

dengan nilai yang berbeda dan bervariasi.(Buku ajar Metodologi Penelitian,13/14)

2.5.1 Klasifikasi variabel

Klasifikasi variabel yang benar memerlukan penguasaan dasar teori yang

kuat dan mendalam serta memerlukan model serta kerangka teoristis yang mantap.

Berdasarkan fungsi atau hubungannya, variabel dibedakan atas :

a. Variabel sebab atau disebut juga variabel pengaruh/ peubah/ variabel

indikator/ variabel eksperimen/ variabel bebas (Independent variabel), adalah

variabel yang menjadi pokok permasalahan yang ingin diteliti.

b. Variabel penghubung(Intervening variabel) adalah variabel yang tidak dapat

diamati secara langsung peristiwanya tetapi dapat dinikmati hasilnya

c. Variabel akibat atau variabel terikat atau variabel terpengaruh atau variabel

terganrung (Dependent variabel) adalah variabel yang tergantung besarnya

tergatung dari variabel bebas yang di ukur untuk menentukan ada atau

tidaknya pengaruh dari variabel bebas.

Berdasarkan keberadaannya dalam model analisis, variabel dibedakan atas :

a. Variabel endogen yakni variabel yang dimasukkan ke dalam model.

(37)

Berdasarkan keberadaannya dalam model analisis, variabel dibedakan atas :

a. Variabel numerik atau kuantitatif, meliputi :

 Variabel ordinal, yaitu variabel yang menunjukan tingkata-tingkatan.

 Variabel interval, yaitu variabel yang mempunyai jarak jika dibandingkan

dengan variabel lain, sedang jarak itu sendiri dapat diketahui dengan pasti.

 Variabel ratio, yaitu variabel perbandingan. Variabel ini hubungan antar

sesamanya merupakan ”sekian kali”

b. Variabel numerik distrit (bilangan bulat)

c. Variabel anumerik atau kuantitatif atau kategoris, meliputi :

 Variabel kategori perbedaan derajat (Strata)

 Variabel kategori perbedaan jenis (klaster)

2.5.2 Hubungan variabel

Inti penelitian ilmiah adalah mencari hubungan dan kaitan pengaruh antar

variabel. Pada dasarnya terdapat tiga jenis hubungan antar variabel, yaitu:

a. Hubungan simetris, apabila variabel yang satu tidak disebabkan/ dipengaruhi

oleh variabel lainnya.

b. Hubungan timbal balik (recipprocal), apabila suatu waktu variabel X

mempengaruhi variabel Y dan diwaktu lain variabel Y mempengaruhi X.

c. Hubungan asimetris, dimana variabel independent tidak pernah menjadi

dependent dan sebaliknya. Disini terdapat beberapa hubungan asimetris, yaitu:

1. Hubungan stimulus-respons.

2. Hubungan disposisi-respons.

(38)

4. Hubungan permanen antara dua variabel.

5. Hubungan antara tujuan dengan cara.

(Buku ajar Metodologi Penelitian, 13-14)

2.6 Efisiensi Penjadwalan Jalur Distribusi

Penjadwalan yang efisien dan penyusunan rute yang baik dapat

menghemat waktu pengiriman bagi kendaraan, dan hasilnya jumlah biaya operasi

dapat berkurang. Untuk mencapai tingkat susunan rute dan jadwal perjalanan yang

lebih baik bagi kendaraan ialah dengan menggunakan sistem peta jalan atau jarak

lokasi customer dengan menggunakan skala perbandingan.

Perencanaan rute merupakan bagian penting untuk mencapai angkutan

produk perusahaan dengan biaya minimal. Setiap kendaraan yang meninggalkan

lokasi pabrik harus mnegikuti rute yang sesuai dengan jadwal yang telah

direncanakan sebelumnya. Agar menghasilkan efisiensi biaya dalam jumlah yang

besar. Kendaraan tidak saja harus siap dimuati, tetapi juga siap diservis, pengisian

bahan bakar, sehingga pengemudi dan kendaraa harus dijauhkan dari

kemungkinan kecelakaan. Dengan mempertimbangkan

kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi maka kita dapat melakukan penjadwalan yang

efisien dan pengiriman barang yang optimal.

Dapat dikatakan bahwa Penjadwalan yang efisien dan pengiriman barang

yang optimal jika dapat mengurangi pemborosan dalam segi waktu, jarak, dan

tenaga sehingga mendapatkan biaya transportasi yang lebih efisien serta produk

(39)

2.7 Aplikasi Rute/ Jalur Distribusi Setelah Dilakukan Penentuan Alokasi CustomerKe Tiap Alat Angkut

- Iterasi 2: Dari saving matriks, diperoleh penghematan tertinggi sebesar 1389,02

= (C12,C13) dengan mengkombinasikan rute untuk customer 12 dan customer 13

dalam satu rute, yaitu rute A. Selanjutnya dilakukan pengecekan apakah

pengkombinasian tersebut layak dilakukan atau tidak, layak dilakukan jika total

order size kurang dari kapasitas truk.

Beban untuk rute A = order size custr 12 + order size custr 13

= 9 + 32 = 41 (<71) layak (dst)

- Iterasi 6 : Penghematan tertinggi selanjutnya yaitu 1233,3 = S(C12,C14),

1233,34 = S(C13,C14) , 1230,62 = S (C14,C16) tetapi karena sudah masuk rute

A, maka dicari penghematan tertinggi selanjutnya yaitu 1162,7 = S(C11,C13),

sehingga pada tahap ini dilakukan pengecekan apakah customer 11 dapat

ditambahkan pada rute A.

Beban untuk rute A=order size custr.12 + custr.13 + custr.16 + custr. 15 + custr.

14 + custr. 11 = 9 + 32 + 10 + 10 + 9 + 44 = 114 (<71) tidak layak.

Dari iterasi di atas kemudian diperoleh empat (4) rute yaitu :

rute A : {12, 13, 16, 15, 14 }, • rute B : {11, 10 },

rute C : {9, 8, 7, 6, 5 }, dan • rute D : {3, 4, 2, 1}

yang berarti pabrik membutuhkan 4 truk. Truk pertama akan mengirimkan atau

(40)

11, 10, truk ketiga melayani customer 9, 8, 7, 6, 5, dan truk keempat melayani

customer3,4,2,1.

2.7.1 Pengurutan rute pengiriman dengan prosedur Nearest Neighbour Untuk Rute B {11, 10}

• Iterasi 1: Awal perjalanan dimulai dari DC dengan total jarak = 0

- Dengan menuju ke customer 11 maka perjalanan bertambah jarak 582,99

- Dengan menuju ke customer 10 maka perjalanan bertambah jarak 575,87

Dengan menggunakan prosedur nearest neighbour, maka diperoleh solusi

pada iterasi 1 adalah menuju customer 10.

• Iterasi 2 : Perjalanan dari DC ke customer 10 dilanjutkan menuju customer terdekat berikutnya yaitu customer 11.

- Dengan menuju ke customer 11 maka perjalanan bertambah jarak 7,57

sehingga diperoleh solusi ( DC-C10-C11-DC ) dengan panjang : = 575,87 +

7,57 + 582,99 = 1166,43 dan seterusnya sampai rute D mendapatkan

pengurutan rute pengiriman dengan menggunakan prosedur Nearest

Neighbour.

2.7.2 rute pengiriman sesuai prosedur Nearest Neighbour

• Rute A : ( DC-C14-C15-C16-C12-C13-DC) atau (Pabrik, PT.Pindodeli ,

PT.Conitex Sonoco, PT.Paul Buana, PT.Bintang Abadi, PT.IKPP Serang, Pabrik).

Dengan panjang perjalanan 1411,54 km

• Rute B : ( DC-C10-C11-DC) atau (Pabrik, PT.Agung Abadi , PT.Alkindo,

(41)

• Rute C : (DC-C5-C6-C7-C8-C9-DC) atau (Pabrik, PT.Surya Zig-Zag, PT.Taman

Sriwedari, PT.Surya Pamenang, PT.Surya Bentata, PT.Purinusa , Pabrik). Dengan

panjang perjalanan 612,02 km

• Rute D : (DC-C1-C2 -C3 -C4 -DC) atau (Pabrik, PT.Bentoel, PT.KSI ,

PT.Kedawung, PT.Wong Hendri, Pabrik). Dengan panjang perjalanan 188,93 km.

2.7.3 Penghitungan Biaya Transportasi Sebelum dan Sesudah Penerapan MetodeSaving Matriks

• Sebelum

Biaya tenaga kerja = Rp. 20.000 / hari.

Biaya bahan bakar = jarak tempuh x 1/4 lt x harga bahan bakar.

- Rute 1 = 89 x 1/4 x Rp. 4300,- = Rp. 95.675,00

- Rute 2 = 183,74 x 1/4 x Rp.4300,- = Rp. 197.520,5

- Rute 3 = 203,12 x 1/4 x Rp.4300,- = Rp. 218.354,00

- Rute 4 = 557,18 x 1/4 x Rp.4300,- = Rp. 598.968,5

- Rute 5= 1166,43 x 1/4 xRp.4300,- = Rp. 1.253.912,25

- Rute 6= 1492,06 x 1/4 xRp.4300,- = Rp. 1.603.964,5

- Rute 7= 1378,08 x 1/4 xRp.4300,- = Rp. 1.481.350,00

Biaya total = Total biaya tenaga kerja + Total biaya bahan bakar + Biaya retribusi

= Rp. 280.000,- + Rp. 5.449.744,75 + Rp. 600.000,- = Rp. 6.329.744,75 / hari

Hari kerja dalam 1 bulan = 25 hari, maka :

Biaya total 1 bulan = Rp. 5.449.744,75 x 25

(42)

• Sesudah

Sesudah penerapan metode saving matriks, maka didapatkan rute baru yaitu :

- Rute A = 1411,54 x 1/4 x Rp.4300,- = Rp. 1.517.405,5

- Rute B = 1166,43 x 1/4 x Rp.4300,- = Rp. 1.253.912,25

- Rute C = 612,02 x 1/4 x Rp. 4300,- = Rp. 657.921,5

- Rute D = 188,93 x 1/4 x Rp. 4300,- = Rp. 203.099,75

Biaya total = Total biaya tenaga kerja + Total biaya bahan bakar + Biaya retribusi

= Rp. 200.000,- + Rp. 3.632.339,- + Rp. 600.000,- = Rp. 4.432.339,- / hari

Hari kerja dalam 1 bulan = 25 hari, maka :

Biaya total 1 bulan = Rp. 4.432.339,- x 25

= Rp. 110.808.475,-

(43)

2.8 Penelitian Terdahulu

1. Verliana Septian, 2008 : PENJADWALAN DISTRIBUSI KARUNG

DENGAN MENENTUKAN JALUR DISTRIBUSI OPTIMAL DENGAN

MENGGUNAKAN METODE SAVINGS MATRIX DI PT. PERKEBUNAN

NUSANTARA XI (PERSERO) PK. ROSELLA BARU SURABAYA a. Permasalahan :

Bagaimana menentukan rute pendistribusian produk kepada konsumen

agar memperpendek jarak dan meminimasi jarak dan meminimasi biaya

yang dikeluarkan oleh perusahaan.

b. Hasil Akhir :

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

Jalur atau rute distribusi yang diperoleh untuk melayani permintaan karung

goni berdasarkan kapsitas alat angkut dengan penerapan metode Savings

Matrix , yaitu :

o dari Pabrik - PT. Srikandi Ratu – PT. Asikin – CV. KHS – Pabrik

dengan total jarak perjalanan 656,539 km dan Armada yang digunakan

1 buah truk gandeng dengan jasa sewa serta jadwal pengiriman produk

antara Tanggal 15-20 tiap bulan.

o dari Pabrik - PTPN IX – Pabrik dengan total jarak perjalanan 428,439

km dan Armada yang digunakan 1 buah truk gandeng dengan jasa

sewa serta jadwal pengiriman antara Tanggal 21-25 tiap bulan.

o dari Pabrik - UD. Laksana – PT. Temporejo – Pabrik dengan total

jarak perjalanan 290,983 km dan Armada yang digunakan 1 buah truk

gandeng dengan jasa sewa serta jadwal pengiriman antara Tanggal

(44)

o dari Pabrik – PT. Perhutani – Pabrik dengan total jarak perjalanan

144,68 km dan Armada yang digunakan 1 buah truk gandeng dengan

jasa sewa serta jadwal pengiriman antara Tanggal 10-15 tiap bulan.

o dari Pabrik – PT. Alcon – CV. Wahyu – PT Indonesia Tri Sembilan –

Pabrik dengan total jarak perjalanan 94,01 km dan Armada yang

digunakan 1 buah truk tronton milik sendiri serta Jadwal pengiriman

antara Tanggal 15-25 tiap bulan.

o Pabrik – PT. Wonosari Jaya – PT. Bisi – Pabrik dengan total jarak

perjalanan 82,475 km dan Armada yang digunakan 1 buah truk tronton

milik sendiri serta Jadwal pengiriman antara Tanggal 01-10 tiap bulan.

o dari Pabrik – PT. Teja Seakawan – CV. Borneo – Pabrik dengan total

jarak perjalanan 31,645 km dan Armada yang digunakan 1 buah pick

up milik sendiri serta Jadwal pengiriman antara Tanggal 21- 25 tiap

bulan.

o dari Pabrik - CV. Afandi Tata Tjin - Pabrik dengan total jarak

perjalanan 9,838 km dan Armada yang digunakan 1 buah pick up milik

sendiri serta Jadwal pengiriman antara Tanggal 1-6 tiap

Penghematan jarak dan efisiensi biaya distribusi dengan penerapan metode

Savings Matrix, yaitu :

Penghematan Jarak

Dari Tabel 4.30 Rute awal dan Total jarak Tempuh dan Tabel 4.31

Rute baru dan Total jarak Tempuh diperoleh penghematan rute dari 12 rute

menjadi 8 rute dan penghematan total jarak tempuh dari 2421,679 km menjadi

(45)

Penghematan Biaya Transportasi (efisiensi biaya)

Dari Tabel 4.32 Biaya Transportasi Sebelum Penerapan Metode

Savings Matrix diperoleh total biaya transportasi pada rute awal sebesar Rp.

20.365.233,45 dan Tabel 4.33 Biaya Transportasi Sesudah Penerapan Metode

Savings Matrix diperoleh total biaya transportasi pada rute baru sebesar Rp.

14.351.031,1 sehingga diperoleh penghematan Biaya Transportasi dari Rp.

20.365.233,45 menjadi Rp. 14.351.031,1 dengan penghematan sebesar Rp.

6.014.202,35 km atau penghematan Biaya Transportasi sebesar 29,53 %.

2. Onny S (2006) : PERANCANGAN SISTEM RUTE DISTRIBUSI DAN

PENJADWALAN PENGIRIMAN BARANG DI PT. KARYA MANDIRI

KENCANA SURABAYA.

a. Permasalahan :

PT. Karya Mandiri Kencana, distributor produk tinta yang memiliki

jaringan pendistribusian produk yang sangat kompleks dan luas di seluruh

Jawa Timur, permasalahan perencanaan rute dan jadwal pengiriman barang

merupakan permasalahan operasional yang harus dihadapi. Dengan

menggunakan Metode Savings Matrik, dapat ditentukan suatu rute yang

optimal sehingga dapat meminimalkan biaya dan waktu pengiriman. Rute dan

penjadwalan ini disusun dengan mengeliminasi total perjalanan, yaitu berapa

jarak dan biaya perjalanan dengan tetap memenuhi permintaan pelanggan.

b. Hasil Akhir

(46)

Rute A : Truck 1(DC – BJ – AC – AE – BM – AZ – BV – AX – BS – DC)

dengan total muatan sebesar 770 kg dan jarak tempuh 44 km, sehingga

biaya yang timbul sebesar $3.28.

Rute B : Truck 2 (DC – AW – BI –BH– DC) dengan total muatan sebesar

715 kg dan jarak tempuh 30 km, sehingga biaya yang timbul biaya

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Dalam Penelitian ini pencarian data dilakukan di CV. Sari Jaya Mandiri

yang berlokasi di Jalan Ki Hajar Dewantoro No.8 Krian-SDA. Sedangkan waktu

penelitian dimulai pada bulan April 2010 sampai dengan data dari penelitian ini

sudah terpenuhi.

3.2 Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah suatu indikator yang berupa variable

yang ada pada metode yang digunakan dalam suatu penelitian yang kemudian

dijalankan dalam penelitian tersebut.

Mengacu pada judul penulisan, maka dapat diidentifikasi variabel–variabel

yang berhubungan dengan permasalahan dan nantinya akan dianalisa adalah

sebagai berikut :

3.2.1. Variabel Bebas

Variabel bebas adalah Variabel yang mempengaruhi variabel terikat,

meliputi :

a. Biaya transportasi

Variabel ini menyatakan total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam

(48)

b. Jarak

Variabel ini menunjukan berapa jarak yang dibutuhkan untuk mencapai rute

yang optimal berdasarkan kapasitas alat angkut.

c. Permintaan Customer

Variabel ini menunjukan berapa jumlah permintaan Customer selama

penelitian dan permintaan Customer diperiode yang akan datang.

d. Kapasitas Alat angkut

Variabel ini merupakan variabel bebas yang menunjukan kapasitas alat angkut

dalam melakukan pengangkutan produk.

3.2.2. Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang nilainya tergantung dari variabel

bebas. Variabel terikatnya yaitu : perencanaan rute dan meminimalkan biaya

transportasi.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Berisi tentang bagaimana data dikumpulkan sebelum diolah dan dianalisa.

Data yang dikumpulkan berisi tentang data primer maupun data sekunder, dimana

data sekunder lebih banyak di dalam pengumpulan data ini. Peneliti juga

menggunakan beberapa cara, antara lain melalui Lybrari Reseach (Penelitian

Pustaka) dan Field Research (Penelitian Lapangan).

3.3.1 Library Research (Penelitian Pustaka)

Pengumpulan data sebagai dasar teoritis yang dipakai pedoman dalam

(49)

3.3.2 Field Reseach (Penelitian Lapangan)

Dalampenelitian lapangan, terdapat tiga cara yang dilakukan, antara lain :

1. Metode Wawancara ( Interview)

Yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan tanya jawab secara

langsung dengan karyawan , karyawan dan pihak-pihak yang terlibat langsung

dalam proses distribusi daging sapi.

2. Metode Pengamatan

Yaitu teknik pengambilan data dengan mengadakan pengamatan langsung

pada obyek yang diteliti (Jarak Distributor ke customer)

3. Metode Dokumentasi

Yaitu teknik pengambilan data yang berupa arsip-arsip atau catatan

(Jumlah alat angkut, Data permintaan)

3.4 Metode Pengolahan Data

Dalam penelitian ini metode-metode yang digunakan dalam pengolahan

data, yaitu :

1. Peramalan Jumlah Permintaan

Peramalan jumlah permintaan untuk 3 periode dengan menggunakan

perangkat lunak WIN QS untuk mengetahui rata-rata permintaan tiap

periode pada masing-masing kota customer berdasarkan data masa lalu

(Double Eksponential Smothing, Moving Average, Simple Average)

2. Perhitungan, Mean Square Error (MSE), dengan melihat nilai kesalahan

(50)

3. Pembuatan Matrik Jarak

Pembuatan matrik jarak, dengan terlebih dahulu menentukan koordinat jarak

dari pabrik ke tiap kota customer, kemudian dihitung jaraknya dengan

rumus:

 

 

2

2 1 2 2 1

2 ,

1 y y

J     

dimana :

 

1,2 

J pengehematan jarak antara customer 1 dan customer 2

X1,X2

Jarak customer 1 dan customer 2 di koordinat x.

Y1,Y2

Jarak customer 1 dan customer 2 di koordinat y.

sehingga didapat besarnya jarak dari pabrik ke tiap-tiap kota customer dan

jarak dari customer satu ke customer yang lainnya, hasil yang didapat

ditabelkan dalam bentuk matrik jarak.

4. Perhitungan Savings Matrix

Perhitungan Savings Matrix bertujuan untuk untuk menghitung besarnya

penghematan masing-masing kota customer dan kemudian ditabelkan dalam

bentuk Savings Matrix. Dengan rumus perhitungan Savings Matrix :

 

x y J

  

G x J G y

  

J x y

S ,  ,  ,  ,

dimana :

 

x y

S , Penghematan jarak (Savings) yang diperoleh dengan

menggabungkan rute x dan y menjadi satu

 

G x

J , Jarak dari gudang ke customer x

G y

J , Jarak dari gudang ke customer y

 

x y
(51)

5. Penentuan Alokasi Customer ke dalam tiap alat angkut

Penentuan alokasi customer ke dalam tiap alat angkut didasarkan pada

penghematan jarak dan disesuaikan dengan kapasitas tiap armada yang ada.

6. Penentuan Rute atau Jalur Distribusi

Penentuan rute atau jalur distribusi dilakukan dengan menggunakan metode

Nearest Neighbour.

7. Perhitungan Biaya Transportasi Sebelum dan Sesudah Penerapan Metode

Savings Matrix.

8. Mengevaluasi Biaya yang Dikeluarkan Perusahaan Sebelum dan Sesudah

menggunakan Metode Savings Matrix.

9. Merekomendasikan Jalur Distribusi yang Menghasilkan Biaya Transportasi

yang terkecil dan diperoleh keuntungan yang optimum.

3.5 Langkah-langkah Pemecahan Masalah

Langkah-langkah pemecahan masalah diperlukan sebagai pedoman

pelaksanaan penelitian agar proses penelitian dapat berjalan secara sestematis dan

terarah. Adapun langkah-langkah pemecahan masalah yang dilakukan dapat

(52)

Tidak Mulai

Studi Lapangan Studi Literatur

Perumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Identifikasi Variabel

- Variabel Bebas - Variabel Terikat

Pengumpulan Data

- Data permintaan - Data biaya - Data jarak

Peramalan Permintaan masing-masing cutomer

Metode peramalan Time series

Perhitungan MSE dari tiap metode

Metode dengan nilai MSE

terkecil

A B

(53)

Biaya transportasi setelah penerapan metode < biaya transportasi awal ya

Penentuan alokasi ke tiap alat angkut

Kesimpulan dan Saran

Selesai

Penentuan Hasil Distribusi

Perhitungan biaya transportasi

Biaya transportasi awal

Hasil dan Pembahasan Ya

Tidak Tidak

C A B

Hasil Peramalan Pembuatan Matriks jarak

Perhitungan saving matriks

(54)

Penjelasan Langkah – Langkah Pemecahan Masalah :

1. Mulai

Langkah awal penelitian dalam menentukan topik permasalahn

2. Studi lapangan

Studi lapangan dilakukan dengan maksud dapat mengetahui kondisi nyata

obyek yang akan diteliti. Hal ini untuk menghindari terjadinya ketidaksesuaian

antara tujuan peneliti dengan kondisi obyek penelitian.

3. Studi literatur

Untuk menunjang pelaksanaan kegiatan penelitian beberapa literatur

diperlukan guna memperdalam teori sebagai bahan dasar penelitian. Literatur

diperoleh dari berbagai sumber antara lain dari perpustakaan maupun perusahaan

dan studi penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik permasalahan

sebelumnya. Studi ini berhubungan dengan pemilihan metode pemecahan masalah

yang digunakan dalam penelitian ini.

4. Perumusan masalah

Perumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana mengoptimalkan

rute pendistribusian produk kepada customer agar dapat meminimumkan total

biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan ? Untuk menjawab persoalan diatas maka

digunakan metode Savings Matrix di CV. Sari Jaya Mandiri.

5. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah merencanakan rute yang harus ditempuh tiap

kendaraan berdasarkan kapasitasnya untuk megoptimalkan total jarak tempuh,

(55)

mendapatkan penghematan biaya transportasi setelah menggunakan metode

Savings Matrix.

6. Identifikasi Variabel

Mengidentifikasi semua variabel yang diperlukan untuk menyelesaikan

masalah.

7. Pengumpulan data

<

Gambar

Gambar 2.3 Seasonal Component ( Pola Musiman ) (Baroto, 2002).
Gambar 2.4 Cyclical Component ( Pola Siklis ) (Baroto, 2002)
Gambar 3.1 Langkah – Langkah Pemecahan Masalah
Gambar 3.2 Langkah – Langkah Metode Peramalan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan permasalahan perusahaan tersebut, maka perusahaan membutuhkan suatu penentuan jalur distribusi secara tepat untuk mengurangi pemborosan dalam segi jarak, alat

Adapun kendala tersebut adalah adanya rute distribusi produk yang hanya terdiri dari gudang ke satu customer saja tanpa memperhitungkan kapasitas armada yang digunakan

Surya Media Perdana memiliki permasalahan dalam proses distribusi, dimana dalam satu kali pengiriman produk hanya dilakukan pada satu customer, sehingga mengakibatkan

Surya Media Perdana memiliki permasalahan dalam proses distribusi, dimana dalam satu kali pengiriman produk hanya dilakukan pada satu customer, sehingga mengakibatkan

Model transportasi jalur laut untuk distribusi semen curah dengan rancangan model Fuzzy Linear Programming merupakan model yang mampu menghasilkan penugasan kapal dengan

Surya Media Perdana memiliki permasalahan dalam proses distribusi, dimana dalam satu kali pengiriman produk hanya dilakukan pada satu customer, sehingga mengakibatkan

dalam proses distribusi, dimana dalam satu kali pengiriman produk hanya dilakukan pada satu customer, sehingga mengakibatkan jalur pengiriman yang ditempuh semakin panjang

yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini dengan judul ” PENENTUAN RUTE DISTRIBUSI UNTUK