• Tidak ada hasil yang ditemukan

Collaborative Governance pada Program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Kota Bandung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Collaborative Governance pada Program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Kota Bandung"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Collaborative Governance pada Program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Kota Bandung

Andre Ariesmansyah

Program Studi Administrasi Publik Universitas Pasundan

Email : [email protected]

Abtract

The increase in community mobility after Eid al-Fitr has had a significant influence on the surge in Covid-19 cases in Indonesia. The city of Bandung is one of the cities with a high level of community activity, thus making the increase in positive cases of COVID-19 difficult to control. In accordance with the emergency policy set by the central government for the implementation of restrictions on the activities of the Java-Bali community, the Bandung City government made PPKM a progressive strategy implemented to reduce the critical number of COVID-19 by involving various stakeholders to accelerate efforts to deal with COVID-19. This study uses qualitative methods with descriptive analysis techniques to examine holistically the object of the research problem in accordance with the theories and concepts used as a knife of analysis in research. Thus the data presented is expected to be able to provide an overview that can be understood systematically and methodically in accordance with the data and facts in the field. In this study, it can be concluded that the success of the PPKM program in the city of Bandung is not able to stand alone, but there needs to be a harmonious synergy that is built on all elements of implementing the PPKM program. Through cross-sectoral collaboration that is integrated in the concept of collaborative governance, the goal of implementing PPKM in Bandung City can be realized by minimizing distortions that may occur as a result of overlapping policies.

Keywords : Collaborative Governance, PPKM, Community Control

PENDAHULUAN

Sebagai langkah progresif untuk menekan angka kritis covid-19 pemerintahan indonesia mengambil strategi dalam membatasi akses mobilitas masyarakat dengan menetapkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat untuk pulau jawa dan bali. Kebijakan darurat dalam pengendalian covid-19 tersebut telah termuat pada instruksi Menteri dalam negeri nomor 15 tahun 2021, yang berlaku sejak tanggal 3 juli 2021 sampai dengan 20 juli 2021. Instruksi yang tertuang dalam permendagri ditunjukan bagi seluruh gubernur, bupati serta walikota di seluruh wilayah jawa dan bali (Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, 2021). Untuk menindak lanjuti hal tersebut maka perlu adanya kolaborasi antar stakeholder untuk bekerjasama sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan dengan berfokus pada kenyataan praktis untuk menyelesaikan problem yang terjadi (O’flynn dan John,2008). Semua kepala daerah mulai dari tingkat gubernur sampai dengan walikota dan pubati yang ada di wilayah Jawa-Bali, terus adaptif dalam implementasi program PPKM, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mensinergikan antara kebijakan pemerintah pusat

(2)

dengan pemerintah daerah. Kota Bandung menjadi salah satu wilayah yang terdampak pemberlakuan PPKM, sehingga walikota Bandung Oded M. Danial, terus progresif dalam upaya mengoptimalkan PPKM untuk kepentingan masyarakat. Agile yang dimiliki oleh pemerintah Kota Bandung menjadi urgensi penting dalam penyelesaian kasus covid-19 melalui program PPKM, hal ini didasarkan karena faktor leadership yang menjadi poin pokok dalam praktik kolaborasi (Osborn,2010).

Merujuk pada hasil analisis kebijakan penaganan covid-19 yang dilakukan oleh Leo Agustino, berpedapat bahwa lambatnya penaganan kasus covid-19 di Indonesia disebabkan oleh kurang adaptif dan responsifnya pemerintahan Indonesia baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah terhadap pandemi, bahkan sejak awal adanya susfek para pemangku kebijakan cenderung menganggap remeh hal ini (Agustino,2020). Terbukti dari masih lemahnya system pengawasan imigrasi yang mejadi permasalahan sosial, dimana ketika negara lain dengan ketat menerapkan sistem lockdown pada imigrasi, Indonesia justru membuka peluang wisata dan migrasi turis asing dengan alasan untuk mempercepat pemulihan sektor perekonomian, termasuk kota Bandung yang menjadi salah satu sentral wisata dengan berbagai destinasi yang dapat menarik wisatawan asing terutama dalam hal food, fashion and fun.

Kondisi ini menjadi semakin buruk dengan adanya pengaruh peningkatan mobilitas sosial masyarakat pada bulan ramdhan sampai dengan hari raya idul fitri, sehingga menyebabkan lost control terhadap pengendalian penyebaran virus yang semakin massif, akibatnya menambah daftar panjang infeksi kasus covid-19 di Kota Bandung. Jika kritis pandemi yang terjadi saat ini terus dibiarkan maka, Indonesia berpotensi sebagai negara episentrum kedua penyebaran kasus covid-19, setelah Wuhan (Sari,2020) Lemahnya system manajemen pengendalian kasus covid-19 di Indonesia, secara tidak langsung memberikan dampak signifikan terhadap kebijakan penanganan covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah daerah. termasuk Kota Bandung. Maka dari itu perlu adanya penyelarasan visi dan misi yang terbangun antar stakeholder untuk mengambil keputusan yang disepakati bersama dalam penyelesaian lonjakan kasus covid-19 saat ini (Dwiyanto,2011).

Sebagai aktor utama penggerak program PPKM, walikota Bandung ,membentuk jaringan lintas sektor yang terkomando sesuai dengan garis koordinasi yang menjadi tugas pokok dan fungsinya (Emerson,2011). Untuk mengatasi lonjakan kasus covid-19 maka,pemerintah Kota Bandung memperkuat instruksi Menteri dalam negeri nomor 15 tahun 2021, dengan mengeluarkan Peraturan walikota nomor 68 tahun 2021 yang diundangkan sejak 2 juli 2021, sehingga menjadi landasan teknis pada implementasi program PPKM di Kota Bandung, dengan memuat ketentuan wajib ditaati oleh masyarakat Kota Bandung. Terdapat 15 (lima belas) poin yang diatur dalam peraturan walikota Bandung terkait dengan teknis yang dijadikan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat. Hal ini diberlakukan untuk mewujudkan kepentingan bersama bagi masyarakat Kota Bandung terutama dalam upaya percepatan penangan lonjakan kasus covid- 19 (Jabarprov.go.id). Megingat kondisi Kota Bandung yang masuk dalam kategori zona hitam, pertambahan kasus covid-19 semakin sulit dikendalikan dengan frekuensi yang yang belum mencapai titik equilibrium antara stakeholder yang menjadi aktor dalam pelaksanaan program PPKM di Kota Bandung, sehingga sulit untuk mendapatkan kesepakatan bersama.

Hal ini menjadi hambatan yang berakibat vatal terhadap progresifitas penyelenggaraan program PPKM di Kota Bandung, dengan melonjaknya kasus aktif covid-19 yang semakin tidak stabil dan sulit diprediksi.

(3)

Tabel 1.1 Kumulatif Kasus Aktif dan Meninggal Covid-19 di Kota Bandung

Sumber : Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Kota Bandung

Berdasarkan data yang tersaji pada table di atas dapat diketahui bahwa tingkat penambahan kasus covid-19 di Kota Bandung sangat signifikan setiap harinya. Hal ini terlihat dari grafik kasus aktif yang menjadi titik kritis pada 14, Juli 2021 dengan total kasus mencapai 7000 jiwa (Pusicov,2021). Maka dari itu adanya Kerjasama lintas sektor pada program PPKM di Kota Bandung menjadi salah satu peluang untuk menekan penyebaran kasus covid-19, terutama dalam kegiatan pengendalian kegiatan masyarakat yang melibatkan berbagai stakeholder. Sehingga collaborative governance menjadi konsep yang disepakati untuk mengatur keterlibatan berbagai pemangku kepentingan baik itu kepentingan publik ataupun kepentingan non-publik, sebagai landasan dalam proses pengambilan keputusan kolektif , yang berorientasikan kepada kepentingan publik dan pengelolaan asset sektor publik, melalui pendekatan kelembagaan (Anshell dan Gash,2007).

Kolaborasi dalam penyelenggaraan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Kota Bandung, menjadi esensi ideal untuk mempercepat pemulihan kondisi sosial, ekonomi, politik dan sektor lainnya yang mengalami kelumpuhan akibat pandemic berkepanjangan. Collaborative governance melibatkan berbagai aktor kepentingan yang memiliki strategi untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan bersama (Balogh,2011).

Collaborative governance tidak akan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan jika tida adanya sistem manajerial yang menjadi pengendali masyarakat dalam pelaksanaan program PPKM Kota Bandung. Pro kontra di dalam lingkup masyarakat selalu menjadi permasalahan klasik yang memang tidak bisa dipungkiri mencakup kepentingan berbagai pihak. Adanya pemberlakuan program PPKM di Kota Bandung bukan hanya akan memberikan dampak poitif terhadap keberhasilan penurunan kasus covid-19, melainkan tidak bisa dipungkiri bahwa dibalik keberhasilan tersebut akan terdapat banyak pihak yang dirugikan terutama berhubungan dengan materi dan waktu yang menghambat produktivitas kegiatan masyarakat Kota Bandung.

Maka dari itu, tantangan terbesar dalam implementasi konsep collaborative governance pada program PPKM di Kota Bandung, bukan hanya berfokus pada orientasi sistem manajerial

(4)

sumber daya, melainkan juga pada hubungan yang berurusan dengan kepentingan masyarakat.

Dalam tata kelola system jaringan masyarakat diperlukan kompetensi yang mampu menjadi kolaborasi serta negosiasi dengan masyarakat, sehingga mencapai kesepakatan bersama (O’Flyn dan John,2008). Dengan demikian collaborative governance merupakan proses sistematis dalam pengelolaan system manjerial untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan publik dengan melibatkan aktor yang berasal dari berbagai elemen yang berbeda, untuk mewujudkan tujuan dari kebijakan publik yang telah ditetapkan (Balogh,2011), berdasarkan sumber yang sama dari Balogh menetapkan framework pendekatan collaborative governance sebagai berikut :

1. System Contect, yang meliputi ruang lingkup yang merupakan kondisi lingkungan sosial masyarakat dan negara yang memungkinkan menjadi penghambat dalam penerapan konsep collaborative governance, yang meliputi sebagai berikut : (uraikan) a. Resource condition

b. Policy and legal framework c. Level of conflict/trust

d. Prio failureto address issues e. Network connectedness f. Political dynamic g. Sosio ekonomi

2. Drivers, hal yang bisa memberikan pengaruh terhadap kendali kebijakan, yaitu dengan adanya dorongan dan pengelolaan terhadap faktor yang bisa menjadi penghambat, yang meliputi sebagai berikut :

a. Leadership b. Consequential c. Interpendence d. ucertainty

3. Collaborative dynamic, yang menjadi acuan dalam melakukan dinamika kolaborasi, yang meliputi principle engagement, shared motivation, capacity for join action Pengembangan konsep collaborative governance pada hakikatnya masih sulit diterapkan sebagai konsep penyelesaian masalah yang terjadi di lapangan, hal ini karena harus mempertimbangan mitra regional, untuk mencapai kepentingan bersama dengan proses yang sangat panjang (Cooper,2015). Berdasarkan uraian yang menjadi latar belakang untuk memperkuat urgensi objek permasalah yang dijadikan sebagai topik penelitian, maka peneliti menggunakan konsep collaborative governance yang berasal dari (Balogh,2011) sebagai pisau analisis untuk mengkaji objek permasalahan terkait dengan pelaksanaan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Kota Bandung, dengan pengembangan fokus permasalahan yang disesuaikan berdasarkan framework collaborative governance yang dirancang Balogh, dengan demikian dapat diketahui bagaimana proses implementasi collaborative governance pada program PPKM Kota Bandung.

METODE PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian yang merujuk pada system analilis studi kasus terhadap objek yang menjadi fokus penelitian implementasi konsep collaborative governance pada program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Kota Bandung.

Penyajian data penelitia yang dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hal ini selaras dengan tujuan yang ditetapkankan oleh peneliti dalam penelitian yaitu untuk memberikan pemahaman yang sistematis, metodis aktual serta faktual berdasarkan data

(5)

yang diperoleh di lapangan. Melalui penggambaran hasil observasi terhadap pelaksanaan konsep collaborative governance program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Kota Bandung secara rasional, maka bisa mengembangkan teori dan konsep yang terkait dengan penelitian.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian menggunakan data skunder, dengan studi kepustakaan melalui beberapa literarur yang menjadi referensi terkait dengan teori, konsep dan data yang berhubungan dengan pelaksaan program PPKM di Kota Bandung, baik itu berupa buku, jurnal ilmiah, ataupun data dan berita yang berasal dari media pemerintahan pusat dan pemerintahan Kota Bandung. Data dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan konsep teknis analisis yang bersumber dari (Milles et.al, 2014), yang meliputi tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Data dalam penelitian ini di uji tingkat validitasnya dengan menggunakan teknik triangulasi pada berbagai sumber, sehingga dapat meminimalkan kemungkina bias dalam data penelitian terkait dengan collaborative governance pada program PPKM di Kota Bandung.

PEMBAHASAN

Dalam mengupas konsep collaborative governance pada program pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat, peneliti menggunakan konsep yang dirancang oleh Balogh,2011, yang diselaraskan dengan peraturan walikota Bandung Nomor 68 Tahun 2021, terkait dengan teknis pelaksanaan kegiatan PPKM di Kota Bandung.

1. System Context

Dalam hubungan tata kelola collaborative governance diawali oleh beberapa faktor dalam konteks system berlapis -lapis yang menjadi faktor penentu dalam keberhasilan penerapan konsep collaborative governance pada program pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat, hal ini karena ruang lingkup pada system tata kelola kolaborasi dapat menjadi penghambat ataupun pendorong pelaksanaan PPKM di Kota Bandung. System context dalam collaborative governance diawali dari kondisi sosial ekonomi, sumber daya, situasi politik, kepentingan antar aktor, serta jaringan yang terkait. Konteks system eksternal ini menjadi tolok ukur yang membentuk konsep collaborative governance yang diselaraskan dengan pengaruh dari rezim.

Kondisi sumber daya yang dimiliki Kota Bandung menjadi elemen utama yang harus diperbaiki, ditingkatkan dan dibatasi dalam pelaksanaan PPKM di Kota Bandung. Sumber daya menjadi indikator untuk menetapkan framework kebijakan secara yuridis, sehingga dalam pelaksanaan kerangka kerja administrasi program PPKM sangat erat hubungannya dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan Kesehatan masyarakat Kota Bandung. Maka, dengan demikian perlu adanya penyelesaian secara hukum dan otoritas kekuasaan melalui pendekatan dinamika politik yang berlaku,seperti hieraki antara pemerintah pusat dengan pemerintahan Kota Bandung, sehingga sinergi yang terbangun akan sangat mempegaruhi bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat Kota Bandung terhadap setiap kebijakan yang ditetapkan dalam penanggulangan permasalahan covid-19.

Dilatar belakangi oleh konsep system context pada collaborative governance dalam hubungannya dengan penerapan program pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat, maka pada proses perancanaan kebijakan haruslah berorientasikan pada konsep ruang lingkup yang menjadi indikator penentu keberhasilan dalam kebijakan. Program PPKM pada awalnya dilandasi oleh Instruksi Menteri dalam negeri Nomor 15 Tahu 2021, yang mengatur secara

(6)

universal kegiatan PPKM untuk wilayah jawa dan bali, hal ini ditetapkan untuk menyeleaikan persoalan covid-19 di Indonesia. Peraturan yang dibuat Menteri dalam negeri masih bersifat menyeluruh belum memuat secara detail terkait dengan teknis implementasi PKKM berdasarkan tingkat kewilayahan. Maka, dari itu Kota Bandung sebagai salah satu wilayah yang terkena kebijakan penerapan PPKM, merancang Peratauran Walikota Nomor 15 tahun 2021 yang mengatur secara komperhensif terkait dengan teknik dan aturan pelaksanaan program PPKM. Hal ini sebagai bentuk sinergi Kerjasama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah Kota Bandung dalam mewujudkan percepatan penangan pandemic. Selain itu konsep hukum konstinental yang dianut oleh Indonesia, membuat setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah terbagi menjadi tiga bentuk pelaksanaan yaitu makro, messo dan mikro, sehingga untuk mendukung hal tersebut, megharuskan setiap kepala daerah untuk membuat kebijakan pendukung sebagai teknis pelaksaan dari kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat. Sitem hukum konstinental yang memberikan pengaruh terhadap pembuatan kerangka kebijakan terkait dengan penerapan program PPKM di Kota Bandung sangat bergantung terhadap dinamika politik yang terjalin anatara pemerintah pusat dan pemerintah daerah Kota Bandung.

Di dalam peraturan walikota Bandung Nomor 68 Tahun 2021, memuat beberpa poin terkait dengan pelaksanaan program PPKM yang menjadi pedoman wajib untuk ditaati seluruh elemen warga masyarakat Kota Bandung, yaitu sebagai berikut :

1. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh 2. Mewajibkan PCR dan antigen sebagai syarat perjalanan transportasi umum 3. WFH 100% untuk sektor non-esensial

4. WFH 50% untuk sektor esensial

5. Untuk sektor kritikal diperbolehkan WFO 100% dengan protocol Kesehatan 6. Jual-beli kebutuhan sehari-hari dibatasi sampai pukul 19.00

7. Pusat perbelanjaan ditutup

8. Pelaksanaan jual beli makandan minum hanya dilakukan secara delivery 9. Pelaksanaan konsruksi beroperasi 100%

10. Tempat ibadah dan tempat umum ditutup sementara 11. Failitas umum ditutup sementara

12. Kegiatan dan lokasi yang menimbulkan keramaian ditutup sementara 13. Peumpang transportasi umum maksimal 70%

14. Resepsi pernikaha dibatasi 30% dengan protocol Kesehatan 15. Wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah

Pemerintah daerah dianggap lebih mengetahui terhadap kebutuhan masyarakat di daerahnya sendiri, maka dari itu teknis pelaksanaan program PPKM yang tercantum dalam Perwal Kota Bandung No.68 Tahun 2021, diformulasikan dengan mempertimbangan sumber daya yang dimiliki Kota Bandung, baik itu yang berupa materi ataupun non-materi.

Salahsatunya yang menjadi dasar lingkup pertimbangan utama adalah berkaitan dengan kondisi

(7)

perekonomian masyarakat Kota Bandung yang menjadi indikator penentu dalam pelaksaan program PPKM Kota Bandung, hal ini karena faktor ekonomi bisa menjadi pendorong ataupun penghabat dalam pelaksaan konsep collaborative governance. Aspek perekonomian merupakan tolok ukur yang dapat memberikan gambaran terkait kondisi sumber daya lainnya, hal ini karena kegiatan perekonomian serta kemampuan perekonomian masyarakat menjadi unsur fumdamental dalam kegiatan masyarakat, sehingga menjadi salah satu kunci utama menurun atau meningkatnya sumber daya yang dimiliki oleh Kota Bandung, seperti pengaruh kondisi ekonomi terhadap tingkat Pendidikan, kualitas sumber daya manusia, dan kualitas sumber daya alam. Berdasarkan data yang diperoleh dari (Bank Indonesia, dalam Santoso dan Kharisma,2019) Kota Bandung menjadi salah satu wilayah sentral perekonomian di Jawa Barat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,21% pada tahun 2017, sehingga dengan demikian pertumbuhan ekonomi Kota Bandung telah berhasil melampaui pertumbuhan perekonomian jawa barat yang hanya 5,29% bahkan perekonomian nasional yang berkisar pada 5,07%. Pencapaian prestasi pada pertumbuhan perekonomian Kota Bandung salah satunya disebabkan oleh tingginya destinasi wisata, karena Bandung merupakan salah satu kota sentral yang terkenal dengan 3F (food, fashion and fun). Namun, perlu diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung yang mengalami peningkatan, dapat memberikan efek negatif terhadap inflasi, sehingga hal ini dapat menurunkan tingkat daya beli masyarakat akibat harga barang yang cenderung mahal dan fluktuatif. Hal ini lah yang pada akhirnya menimbulkan kesenjangan sosial yang sangat kontras yang berdampak juga pada tidak meratanya transfaransi informasi terkait covid-19 sehingga mempermudah berkembangnya berita hoaxs di dalam kehidupan sosial masyarakat Kota Bandung akibat masih adanya anggapan bahwa kejadian pandemic ini dapat menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Dengan demikian, kondisi perekonomian tersebut harus menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam perumusan kebijakan PPKM Kota Bandung, sehingga kebijakan yang dibuat tidak berpengaruh terhadap peningkatan tingkat kemiskinan di Kota Bandung, sehingga dapat meningkatkan trust dikalangan masyarakat, sehingga dapat meminimalkan distorsi serta pelanggaran yang mungkin terjadi.

2. Drivers

Dalam konteks drives collaborative governance mencakup leadership, consequential, interpendence dan uncertainty, sehingga dengan demikian faktor kepemimpinan menjadi salah satu elemen penting yang sangat mempengaruhi tata kelola kolaborasi pemerintahan pada program PPKM Kota Bandung. Agile leadership yang dimiliki oleh walikota bandung Oded M Danial dalam mengelola dan mengatur sumber daya yang ada di Kota Bandung dapat mendukung dan mengatasi hambatan yang berasal dari system context, sehingga dapat menjadi pemecah masalah dalam system kolaboratif pada pelaksanaan program PPKM. System manajerial yang dilakukan oleh walikota bandung terhadap konsep kolaborasi PPKM, meliputi bidang sumber daya manusia yang berupa pengarahan para stakeholder terkait untuk melaksanakan kebijakan serta pengelolaan sumber daya alam dan ekonomi yang menjadi faktor utama penunjang keberhasilan kebijakan, hal ini dilakukan untuk mewujudkan tujuan peraturan waikota bandung nomor 68 tahun 2021 terkait dengan pelaksanaan PPKM yang dilakukan melalui pembatasi kegiatan mobilitas masayarakat, dengan meminimalkan pihak- pihak yang mungkin dapat dirugikan akibat adanya PPKM di Kota Bandung.

Selain mengoptimalkan peran dan fungsi teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang di era 4.0 dalam proses penyelengaraan negara, dan aktivas harian, dengan hadirnya system pelayanan online yang diselenggarakan oleh instansi pemerintahan Kota Bandung di masa pandemi. Sesuai dengan instruksi dan inovasi yang digagas oleh

(8)

pemerintahan Kota Bandung, meluncurkan system informasi berbasis media elektronik yang mudah diakses oleh seluruh kalangan masyarakat yang diberi nama “Pusicov” yaitu pusat informasi dan koordinasai covid-19 di Kota Bandung, informasi ini dapat diakses melalui link https://covid19.bandung.go.id . hadirnya aplikasi pusicov yang menjadi salah satu pusat informasi terkait kasus covid-19 di kota bandung, merupakan salah satu bentuk komitmen keseriusan pemerintah kota bandung dalam melakukan pembinaan dan sosialisasi yang terkait dengan pendataan dan sosialisasi covid-19 untuk masyarakat Kota Bandung. Di dalam laman website pusicov tersebut dipergunakan oleh pemerintah kota bandung untuk mengelola system informasi yang berkaitan dengan kasus penyebaran dan penanganan covid-19 mulai dari kumulatif kasus aktif, kematian, susfek kontak erat, bahkan memaparkan persebaran covid-19 beradasarkan kecamatan yang ada di Kota Bandung. System informasi ini dirancang dengan berkolaborasi bersama dinas Kesehatan kota bandung dan dinas Kesehatan provinsi jawa barat.

Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan sumber informasi yang selama ini menjadi salah satu permasalahan sosial, karena masih kurangnya transfaransi terkait data covid-19. Adanya system informasi pusicov yang dibuat oleh pemerintah kota bandung dilakukan sebagai langkah progresif dari pemerintah kota bandung untuk meminimalkan dan menyelesaikan berita-berita hoaxs yang selama ini menyebar di kalangan masyarakat.

Untuk mengatasi ketidakpastian yang menjadi salah satu konteks di dalam aspek collaborative governance, pemerintah kota bandung terus bersinergi dengan lintas sektor untuk menciptakan kondisi yang stabil di Kota Bandung selama masa PPKM, terutama pada bidang Kesehatan dan perekonomian yang paling banyak terdampak pandemic. Untuk mengatasi permasalahan yang berakitan dengan perekonomian masyarakat selama pandemic, maka pemerintahan kota bandung mengalokasikan anggaran sebasar Rp. 30 Miliar yang akan disalurkan kepada 60.000 keluarga penerima manfaat (KPM). Total setiap kelauarga penerima manfaat bantuan sosial menerima uang tunai sebesar Rp. 500.000. Hal ini dilakukan oleh pemerintah Kota Bandung sebagai salah satu strategi untuk menekan pertambahan angka masyarakat miskin baru, yang mungkin dapat diakibatkan oleh penyelenggaraan program PPKM. Selain itu setiap KPM mendapat bantuan 10 kilogram beras yang disalurkan oleh Badan Usaha Logistik (BULOG) sesuai dengan surat kementerian sosial republik Indonesia No. S-147/MS/C/3.3/BS.01/07/2021.Program bantuan sosial yang diberikan kepada masyarakat merupakan bagian dari insentif yang berasal dari pemerintah. Namun, hal ini tidak akan mampu dilakukan terus-menerus dalam jangka waktu yang Panjang, mengingat ketersediaan sumber anggaran yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia masih sangat terbatas sedangkan akhir dari p[enyelesaian covid-19 juga waktunya belum dapat dipastikan. Akibatnya untuk mengcover dana bantuan sosial pemerintah pusat dan daearah berkolaborasi dalam tata kelola keuangan, dengan mengalokasikan beberapa anggaran yang telah ditetapkan untuk membiayai program kebijakan yang telah ditetapkan diaihkan terlebih dahulu untuk dana bantuan sosial masyarakat selama PPKM. Jika program bantuan sosial yang diberikan pemerintah sebagai insentif untuk masyarakat yang terdampak PPKM terus berkelanjutan, maka, tidak menutup kemungkinan akan menambah jumlah hutang yang dimiliki negara.

Di dalam melakukan pengelolaan sumber daya yang dilakukan oleh pemerintah, sebagai wujud untuk mendorong terciptanya collaborative governance, dengan meminimalkan hambatan dalam system kontek, dibutuhkan pengelolaan sumber daya manusia yang dioptimalkan melalui kolaborasi lintas sektor antar berbagai intansi pemerintahan terkait, kebijakan sebagai motor penggerak terciptanya tata kelola kolaboratif pada program PPKM Kota Bandung. Dengan demikian walikota Bandung mengoptimalkan peran instansi aparat pemerintahan Kota Bandung yang ditunjuk sebagai implementor dalam pelaksanaan teknis PPKM. Diantaranya adanya kolaborasi yang dilakukan oleh aparat dinas perhubungan, aparat kepolisian, serta satpol PP Kota Bandung untuk melakukan pengendalian aktivitas masyarakat

(9)

sesuai dengan Perwal No. 68 Tahun 2021. Kerjasama antar actor implementor menjadi bagian dari proses yang dilakukan menggerakan program PPKM sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan yang diantaranya adalah melalui penutupan ruas jalan dan penertiban Kawasan umum sesuai dengan jam operasional yang telah ditetapkan selama masa PPKM.

Peluncuran aplikasi pusicov sebagai sarana transfaransi informasi terkait covid-19 di kota bandung, pemberian dana bantuan sosial bagi masyakat terdampak PPKM, serta optimalisasi Kerjasama lintas sektor aparat pemerintah kota bandung merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan kebijakan, melalui adanya dorongan dan pengelolaan terhadap faktor yang bisa menjadi penghambat implementasi kebijakan. Hal ini merupakan wujud dari adanya komitmen dan konsistensi leadership dalam menyelesaikan kasus pandemi covid-19 di Kota Bandung. Peran seorang pemimpin sangat sentral terhadap terhadap pengelolaan system manajerial sumber daya yang ada di Kota Bandung, sehingga harus mampu melakukan mapping potensi sumber daya yang dimiliki daerah, serta pelaksanaan regulasi yang optimal untuk menguragi distorsi yang mungkin terjadi akibat adanya faktor penghambat. Dalam kasus PPKM ini kondisi perekonomian masyarakat kota bandung menjadi poin utama penyebab terjadinya pelanggaran PPKM, sehingga ketepatan pemerintah dalam melakukan pemetaan masalah serta potensi ekonomi menjadi hal urgen yang harus dilakukan . Dengan demikian penerapan collaborative governance dapat menjadi konsep dasar dalam penyelenggaraan program PPKM di Kota Bandung.

3. Collaboration Dynamic

Penerapan konep collaborative governance bertujuan untuk memberikan keuntungan kepada semua pihak yang terlibat, melalui adanya pengelolaan sumber daya yang tepat, sehingga antar stakeholder bisa saling diuntungkan. Tata kelola kolaborasi pada dasarnya dilakukan karena, adanya keterbatasan sumber daya yang dimiliki actor pemerintah, sehingga hal ini membuka peluang yang lebih besar untuk keterlibatan lintas stakeholder secara aktif dalam penyelenggaraan kebijakan program pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat di Kota Bandung. Capacity for join action, yang menjadi elemen utama penyelenggaraan collaborative governance pada program PPKM Kota Bandung, harus dilakukan secara bertahap melalui proses principle engagement dan shared motivation terlebih dahulu. Ketga elemen tersebut saling berkesinambungan dan saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya di dalam mewujudkan dinamika kolaborasi program PPKM Kota Bandung.

Jika dilihat dalam kontek regulasi, perencanaan kebijakan yang mengatur tentang pelaksanaa program PPKM, Kota Bandung sangat pro aktif, sehingga dengan cepat tanggap pemerintahan Kota Bandung langsung membuat peraturan walikota nomor 68 tahun 2021, yang menjadi regulasi pendukung peraturan Menteri dalam negeri nomor 15 tahun 2021.

Peraturan walikota bandung dibuat untuk dijadikan pedoman yang mengatur pembatasan dan pengendalian kegiatan masyarakat di masa PPKM darurat. Peraturan walikota tersebut dirancang denga berbagai pertimbangan yang menjadi dasar sehingga ditetapkan beberapa poin aturan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Namun, jika dilihat pada prakteknya pembuatan regulasi program PPKM hanya di dominasi oleh actor pemerintahan, sehingga kurang melibatkan peran lintas stakeholder, untuk melakukan diskusi.

Sehingga hal ini yang membuat kesepakatan serta prinsip dalam collaborative governance menjadi bias. Perumusan regulasi dalam waktu singkat memang tidak memungkinkan untuk melibatkan akor lintas sektor termasuk peran masyarakat yang lebih luas untuk memperoleh kesepakatan bersama, karena kebijakan PPKM ini merupakan kebijakan darurat yang bersifat segara harus dilaksanakan untuk kepentingan bersama. Namun hal ini lah yang berakibat pada

(10)

penurunan principle engagement dalam tata kelola pemerintahan kolaborasi. Akibatnya regulasi yang dibuat masih dirasa belum mencerminkan nilai-nilai yang dibutuhkan masyarakat kota bandung. Minimnya musyawarah lintas stakeholder, serta keterlibatan peran serta seluruh elemen masyarakat Kota Bandung dalam pelaksanaan program PPKM, mencerminkan konsep dan praktik collaborative governance yang belum kuat, hal ini karena penentuan subtantif dan ketelibatan antar actor lintas stakeholder untuk mewujudkan keadilan melalui kesepakatan bersama belum dilakukan dengan optimal, padahal hal tersebut menjadi salah satu produk dinamika kolaborasi.

Regulasi pelaksanaan PPKM di Kota Bandung yang masih di dominasi oleh aparat pemerintahan kota bandung dan jajarannya, membuat peran serta masyarakat masih minim, hal ini lah yang menyebabkan rendahnya motivasi di kalangan masyarakat Kota Bandung untuk mematuhi kebijakan PPKM, akibatya banyak terjadi kasus pelanggaran yang dilakukan masyarakat. Mayoritas kasus pelanggaran PPKM adalah berasal dari para pelaku usaha dan para pedagang berpenghasilan rendah. Faktor ekonomi yang selalu menjadi penghambat tercapaianya keberhasilan kebijakan, seolah menjadi alasan klasik yang rasional untuk melakukan pelanggaran. Padahal tujuan dari adanya PPKM di Kota Bandung adalah untuk kepentingan bersama seluruh masyarakat Kota Bandung, dengan adanya pengendalian dan pembatasan aktivitas masyarakat, sebagai langkah strategis yang digagas untuk segera menyelesaikan permasalahan covid-19, sehingga pola kehidupan masyarakat bisa Kembali normal seperti sebelum pandemic. Diterapkannya kebijakan PPKM sebagai upaya untuk melindungi Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat kota bandung, namun karena masih rendahnya kerelibatan berprinsip dalam pola kolaborasi, membuat masyarakat memiliki pandangan berbeda dan masih cenderung mengutamakan kepentingan individu dan kelompok.

Belum terbandunnya Kerjasama yang melibatkan masyarakat luas, menurunkan tingkat trust dikalangan masyarakat kepada pemerintah, terutama jika dihadapkan pada persoalan kebutuhan ekonomi yang harus dipenuhi masyarakat, hal ini dirasa semakin sulit karena harus memperhatikan dua sisi yang pertama adalah sisi penegakan aturan PPKM untuk kepentingan Kesehatan bersama, dan yang kedua adalah berkenaan dengan sisi kemanusiaan, dimana mereka para pelaku ekonomi yang melanggar kebijakan PPKM di Kota Bandung juga membutuhkan sandang, pangan dan papan yang harus dipenuhi untuk keluarga, sehingga hal ini lah yang selalu menjadi dilematis tersendiri dalam kenyataan sosial di masyarakat.

Masih rendahnya proses musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama dalam perencanaan regulasi program PPKM di Kota Bandung, telah memberikan pengaruh signifkan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat, sehingga menurunkan motivasi masyarakat kota bandung untuk mentaati kebijakan yang tercantum pada PPKM. Sehingga hal inilah yang membuat masih sulitnya Capacity for join action dicapai dalam pelaksanaan collaborative governance pada program PPKM, padalah jika hal ini berhasil dilaksanakan maka tata kelola pemerintahan kolaborasi dapat mempercepat proses keberhasilan pan pencapaian tujuan dari diselenggarakannya program PPKM di Kota Bandung.

KESIMPULAN

Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintahan Kota Bandung sebagai lagkah adaptif dan responsive terhadap kebutuhan masyarakat di masa pandemi, khususnya selama program PPKM berlangsung sepertinya belum mencapai hasil yang optimal. Kegiatan manajerial yang dilakukan oleh walikota beserta jajarannya dalam melakukan pengelolaan terhadap sumber daya yang dimiliki Kota Bandung ternyata belum mampu mengedalikan masyarakat sepenuhnya. Akibatnya kasus pelanggaran PPKM yang terjadi dilatar belakangi

(11)

oleh egosentrisme yang berorientasikan kepada kepentingan individu dan kelompok. Proses penyamaan prinsip dan persepsi sangat penting dilakukan melalui forum musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama antar berbagai elemen yang terlibat dalam pelaksanaan program PPKM di Kota Bandung. Penerapan konsep collaborative governance tidak akan optimal jika masih terdapat faktor penghambat yang belum terselesaikan, maka dari itu perlu adanya identifying obstacle and opportunities, yang dilakukan melalui diskusi langsung dengan berbagai perwakilan elemen masyarakat, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penetapan kebijakan yang berasal dari hasil evaluasi langsung berdasarkan fakta yang ada dilapangan bukan hanya berfokus pada data hasil observasi yang disajikan.

Optimalisasi peran antar stakeholder beserta masyarakat luas dalam formulasi dan implementasi program PPKM di Kota Bandung, setidaknya dapat meminimalkan resiko yang mungkin terjadi akibat adanya hambatan pelaksanaan program PPKM. Dari berbagai banyak faktor yang menjadi system context yang memberikan pengaruh baik dan buruk terhadap penyelenggaraan kebijakan, faktor kondisi perekonomian masayarakat Kota Bandung menjadi poin utama dalam memberikan pengaruh terhadap keberhasilan program PPKM di Kota Bandung, sehingga hal ini menjadi unsur yang harus dipertimbangkan dan dikelola dengan baik dalam program PPKM di Kota Bandung. Penerapan kebijakan yang dilandaskan pada kepentingan dan kesepakatan bersama sehingga dapat membuka peluang yang lebih besar untuk mewujudkan capacity for join action, dengan adanya keterlibatan aktif dalam mencapai keberhasilan penyelenggaraan PPKM di Kota Bandung, dengan demikian hal ini dapat disesuaikam dengan framework collaborative governance dari Balogh

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Publikasi Akademik

Agustino, L. (2020). Analisis Kebijakan Penanganan Covid-19 : Pengalaman Indonesia.

Junal Borneo Administrator, 253 - 270.

Cooper, J. W. (2015). Building A Collaborative Governance System : A Comparative Case Analysis. California.

Dwiyanto. (2011). Manajemen Pelayanan Publik : Peduli, Insklusif dan Kolaboratif.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Anshell, Crhris dan Alison Gash, C. A. (2007). Collaborative Governance In Theory and Practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 543 - 671.

Balogh, Stephen, dkk (2011). An Integrative Framework for Collaborative Governance.

Journal of Public Administration Research and Theory, 1 - 29 .

O,Flynn dan John Wanna, O. d. (2008). Collaborative Governance A New Era Public Policy in Australia? Australia: ANU E Press.

Osborn, S. (2010). The New Public Governance? Emerging Perspective On The Theory and Practice of Public Governance. New York: Routledge.

Santoso Teguh dan Bayu Kharisma. (2019). Indikator Makroekonomi dan Pembangunan Kota Bandung. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana

Peraturan - peraturan

Instruksi Menteri Dalam Negeri No.15 Tahun 2021 Peraturan Walikota Bandung No.68 Tahun 2021

Internet

Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Kota Bandung (2021). Data Kasus Covid-19 di Kota Bandung. Diakses 19 Juli 2021. https://covid19.bandung.go.id/

Sari. H.P. (2020). Indonesia Disebut Berpotensi Jadi Episentrum Baru Covid-19 : Ini kata Jubir Pemerintah. Diakses 19 Juli 2021.

https://nasional.kompas.com/read/2020/04/11/20351811/indonesia-disebut- berpotensi-jadi-episentrum-baru-covid-19-ini-respons-jubir

Gambar

Tabel 1.1 Kumulatif Kasus Aktif dan Meninggal Covid-19 di Kota Bandung

Referensi

Dokumen terkait

Dari segi hukum Corona Virus PPKM dilakukan oleh pemerintah, sebenarnya belum sepenuhnya efektif karena, banyak yang terdampak negatif akibat dengan adanya PPKM

 Dalam rangka pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro di desa, Dana Desa ditentukan penggunaannya (earmarked) antara lain untuk Pendanaan

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang mulai dilaksanakan sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Yogyakarta turun level membuat

Pemerintah Kota Surakarta membagikan Surat Edaran Walikota Surakarta No 067/ 4904 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 2 COVID-19 di Kota Surakarta

Menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia yang menginstruksikan agar melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Corona Virus

Untuk mewujudkan kebijakan PPKM yang berorientasi pada kesejahteraan sosial (welfare society) pemerintah harus memberikan jaminan sosial kepada masyarakat yang

Saat ini, pariwisata Sumber Sirahnggolo sedang ditutup sementara akibat adanya pandemi Covid-19 pasca diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat

Strategi City Branding yang dilakukan Humas Pemerintah Kota Bandung dalam Mewujudkan Bandung sebagai smart city melalui program smart governance yang diterapkan oleh kota