• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI PARENTING DALAM FILM. (Analisis Wacana Level Teks Model Teun A. Van Dijk Dalam Film Sabtu Bersama Bapak Karya Monty Tiwa) Satrio Danurdoro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NILAI PARENTING DALAM FILM. (Analisis Wacana Level Teks Model Teun A. Van Dijk Dalam Film Sabtu Bersama Bapak Karya Monty Tiwa) Satrio Danurdoro"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1

NILAI PARENTING DALAM FILM

(Analisis Wacana Level Teks Model Teun A. Van Dijk Dalam Film Sabtu Bersama Bapak Karya Monty Tiwa)

Satrio Danurdoro

Deniawan Tommy Chandra Wijaya

Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Abstract

Children are a gift that must get a good care from their parents. Parenting style applied by parents, will affect child’s character. But in reality, there are misstreatment received by children. This is due to ignorance of parents about the good and correct parenting. To overcome this, parents need to learn about parenting, especially understanding the children character. Every child has different character so that the parenting style is also different.

Nowadays, there are many media that provide education about parenting, one of them is film.

Film is one of mass communication media that is quite effective in delivering messages.

A film is made to represent reality from people’s lives. Films can depict various dimensions of life ini society, as well as the depicted in a family film tittled ‘Sabtu Bersama Bapak’. With the use of Teun A. Van Dijk’s Discourse Analysis in text level, this study aims to determine how the application of parenting are represented in the film through film-making elements, narrative and cinematography elements. The results of this study indicate that the application of parenting is represented through dialogue and interaction between parents and children.

Overall, ‘Sabtu Bersama Bapak’ film has represented the application of parenting quite well.

Keyword: Mass Communication, Film, Parenting, Discourse Analysis

Pendahuluan

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan.

Dalam memahami pengertian komunikasi, para peminat komunikasi biasanya merujuk pada paradigma yang diungkapkan oleh Harold Laswell. Dalam bukunya yang berjudul The Structure and Function of Communication In Society, Laswell menjelaskan bahwa komunikasi ialah menjawab pertanyaan Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?.

Berdasarkan paradigma Laswell tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2019: 10).

(2)

2

Sebagai makhluk sosial, komunikasi memiliki efek positif bagi hubungan antar manusia.

Salah satu cara untuk mempraktekkan komunikasi yang baik, bisa dimulai dari lingkup terkecil dalam masyarakat yakni keluarga. Dalam keluarga, komunikasi merupakan sesuatu yang harus dibina sehingga anggota keluarga merasakan ikatan yang dalam, serta saling membutuhkan (Kurniadi, 2010: 271 dalam Sabarua dan Mornene, 2020). Komunikasi keluarga yang berjalan efektif akan menciptakan keakraban dan keterbukaan antara orang tua dan anak, begitupun sebaliknya. Dilansir dari laman republika.com, menurut Nana Maznah Prasetyo, Psikolog Keluarga Lembaga Bantuan Psikologi dan Pengembangan Diri, mengatakan bahwa lebih dari 90% permasalahan anak disebabkan oleh kesalahan atau ketidaktahuan orang tua akan cara komunikasi dan penanaman nilai.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh E-Health Guesehat tahun 2019 terhadap 411 ibu dengan anak usia 0-9 tahun, didapatkan hasil 65,7% ibu mengaku paling banyak mendapatkan informasi seputar pola asuh dan tumbuh kembang anak melalui media dan internet. 22,1% dari keluarga, dan 5,1% dari dokter anak. Dari hasil tersebut menunjukkan peran besar media dalam memberikan informasi pola asuh kepada orang tua. Salah satu media yang efektif dalam memberikan informasi adalah film. Dengan sifatnya yang audio-visual, film dapat bercerita dalam waktu singkat. Informasi atau pesan yang disampaikan juga beragam, tergantung dari tujuan film tersebut.

Salah satu film Indonesia yang memberikan informasi mengenai penerapan pola asuh adalah film Sabtu Bersama Bapak. Bercerita tentang sosok Gunawan yang membimbing anak- anaknya tumbuh dewasa melalui rekaman video dirinya. Rekaman-rekaman video tersebut nantinya menjadi media bagi Itje, Satya, dan Saka untuk ‘bertemu’ dengan Gunawan selepas meninggalnya Gunawan. Sesuai pesannya, video-video tersebut ditonton setiap hari Sabtu.

Tumbuh dengan mendengarkan pesan-pesan Gunawan tanpa adanya bimbingan langsung, membentuk anak-anak Gunawan tumbuh menjadi dua pribadi yang berbeda.

Untuk meneliti bagaimana penerapan pola asuh direpresentasikan dalam film Sabtu Bersama Bapak, peneliti memilih menggunakan metode analisis wacana Teun A. Van Dijk dalam level teks. Level teks akan meneliti unsur-unsur pembentuk film, narasi dan sinematografi, melalui unsur makrostruktur dan mikrostruktur.

(3)

3 Rumusan Masalah

Bagaimana film Sabtu Bersama Bapak merepresentasikan pesan-pesan nilai parenting?

Tinjauan Pustaka 1. Komunikasi Massa

Menurut Joseph A. Devito dalam bukunya Communicology: An Introduction to the Study of Communication mendefinisikan komunikasi massa sebagai berikut (Effendy, 2019:

21):

1. Komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar untuk didefinisikan.

2. Komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio atau visual. Komunikasi massa barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya: televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku, dan pita.

Dari pendapat Devito tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada khalayak luas melalui suatu media massa.

Berbeda dengan jenis komunikasi lainnya, komunikasi massa memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Effendy, 2019: 22-25):

1. Komunikasi massa berlangsung satu arah.

2. Komunikator pada komunikasi massa bertindak atas nama lembaga 3. Pesan yang disebar bersifat universal.

4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan pada khalayak.

5. Komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen.

2. Film

Sebagai salah satu media komunikasi massa, film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan namun sebagai media yang informatif, edukatif, dan bahkan persuasif. Tujuan film adalah sebagai media penyampai pesan dari pembuat film. Pesan-pesan tersebut, terwujud dalam berbagai jenis genre film seperti action, horor, komedi, keluarga, dan sebagainya.

Film dianggap sebagai media komunikasi yang ampuh bagi khalayak, karena sifatnya yang

(4)

4

audio visual sehingga dapat bercerita dalam waktu yang singkat. Untuk menyampaikan pesannya, film harus melewati proses kreatif yang mengedepankan dua unsur penting, yakni unsur naratif dan unsur sinematik.

Unsur naratif, berkaitan dengan tema, cerita, alur, penokohan, latar, dan hal-hal yang berkaitan dengan jalan cerita. Unsur sinematik berkaitan dengan teknik pengambilan gambar, editing, pemilihan backsound music, dan hal-hal teknis lainnya. Camera movement menjadi salah satu cara dalam menyampaikan pesan dalm film. Menurut Joseph V. Mascelli, dalam bukunya yang berjudul The Five C’s of Cinematography menyebutkan terdapat beberapa aspek dalam teknik sinematografi yang baik, yang mengatur maksud shot-nya serta kesinambungan cerita untuk menciptakan pesan dari sebuah film. Aspek-aspek tersebut sebagai berikut:

1. Camera Angles adalah sudut pandang yang mewakili penonton. Sudut pandang sangat penting untuk narasi cerita. Sinematografer harus mempertimbangkan posisi kamera sehingga penonton dapat memahami hubungan antar tokoh dan dengan lingkungannya.

a. Tipe-tipe kamera angle, terdiri dari Objective Camera Angle, Subjective Camera Angle, dan Point of View Camera Angle.

b. Level kamera angle, terdiri dari Eye Level Angle, High Level Angle, Low Level Angle, Bird’s Eye View, Frog’s Eye View. (www.studioantelope.com)

c. Framing dalam film, terdiri dari Rule of Third, One Point Perspective, Head Room, Looking/Leading Room. (studioantelope.com)

d. Jenis ukuran shot, terdiri dari Extreme Wide Shot, Very Wide Shot, Wide/Long Shot, Medium Shot, Medium Close Up, Close Up, Extreme Close Up, Cut in, Cutaway, Two- shot, Over Shoulder Shot, Reverse Shot, Point of View. (studioantelope.com)

2. Continuity, adalah kesinambungan cerita dalam sebuah film antara gambar satu dengan gambar lainnya agar dapat dinikmati penonton.

3. Cutting, dilakukan untuk merangkai gambar agar tercipta continuity yang nyaman untuk ditonton.

4. Close-up, memungkinkan penonton untuk melihat detail dalam scene dan emosi tokoh.

5. Composition, menjadi ciri khas dari seorang pembuat film. Composition termasuk warna, pencahayaan, tata letak, interior, pengambilan gambar, alur, dialog, dan sebagainya.

3. Parenting

Orang tua adalah role model bagi anak. Orang tua bukan pemilik anak-anak, melainkan penjaga anak-anak sampai mereka siap untuk menjaga diri mereka sendiri.

Dalam kegiatan parenting atau pola asuh, yang paling utama adalah komunikasi antara

(5)

5

orang tua dan anak. Hubungan yang baik antara orang tua dan anak akan berpengaruh bagi perkembangan anak. Dari laman parent.binus.ac.id, Diana Baumrind (1967 dalam Santrock, 2009) membagi pola asuh ke dalam tiga bentuk:

1. Pola Asuh Autoritatif

Orang tua mendorong anak-anaknya untuk mandiri dan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif namun tetap ada batasan-batasan yang ditetapkan. Orang tua bersikap hangat, membimbing, dan mendukung anak. Dampaknya, anak akan menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, mampun mengendalikan diri.

2. Pola Asuh Otoriter

Orang tua cenderung membatasi dan menghukum anak. Komunikasi yang terjadi hanya satu arah. Orang tua yang menerapkan pola asuh ini merasa bahwa mereka tahu yang terbaik untuk anak.

3. Pola Asuh Permisif

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung cuek terhadap anak. Anak diberi kebabasan tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Dampaknya bagi anak adalah mereka cenderung melakukan pelanggaran, menjadi pribadi yang pemberontak dan cenderung melakukan hal-hal negatif.

4. Pola Asuh Neglectful

Pola asuh ini merupakan tambahan dari Presley dan McCormick. Orang tua cenderung cuek terhadap anak yang penting keinginan anak terpenuhi. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang manja, tidak dewasa, dan marah apabila keinginannya tidak terpenuhi.

Laurence Steinberg, psikolog dari Universitas Temple Pennsylvania, mengatakan bahwa semua orang tua adalah orang tua yang baik, namun tidak ada orang tua yang sempurna. Maka dari itu Steinberg menulis buku yang berjudul The Ten Basic Principles of Good Parenting (10 Prinsip Dasar Pola Asuh yang Baik) yang didasarkan pada beragam penelitian mengenai parenting selama 75 tahun. Sesuai dengan judulnya, terdapat 10 prinsip yang bisa diterapkan secara universal oleh orang tua, pengasuh, guru, dan lainnya. 10 prinsip tersebut sebagai berikut:

1. Memberikan Contoh yang Baik. Orang tua adalah role model bagi anak, maka dari itu jadilah panutan bagi anak lewat tindakan dan ucapan.

2. Mencintai Tidak Sama Dengan Memanjakan Anak. Tidak selamanya memenuhi kebutuhan materi anak merupakan bentuk rasa cinta orang tua.

(6)

6

3. Melibatkan Diri Dalam Kehidupan Anak. Meluangkan waktu untuk menjalin hubungan dengan anak seperti menemani mengerjakan pekerjaan sekolah, berbagi cerita, sarapan bersama, dan sebagainya.

4. Sesuikan Pola Asuh Dengan Tahap Perkembangan Anak. Anak akan tumbuh, begitu juga kepribadian dan mentalnya. Untuk itu perlu bagi orang tua untuk mengetahui perkembangan anak untuk menyesuaikan model pola asuh yang akan diterapkan.

5. Menetapkan Aturan yang Jelas. Jika perilaku anak tidak diatur sejak kecil, mereka akan kesulitan belajar mengatur dirinya nanti ketika orang tua tidak hadir di dekatnya.

6. Mendorong Anak Untuk Mandiri. Mandiri bukan berarti tanpa batasan. Batasan tetap harus dibuat sehingga anak dapat mengontrol dirinya.

7. Konsisten Dalam Aturan. Kunci utama dalam pola asuh adalah konsisten. Ketika orang tua tidak konsisten, anak akan kebingungan.

8. Hindari Disiplin yang Keras. Memberikan hukuman berupa kekerasan fisik atau verbal akan berakibat buruk bagi anak kedepannya.

9. Beri Penjelasan Tentang Aturan atau Pilihan. Beri alasan dibalik penerapan suatu aturan atau mengapa orang tua memutuskan A, bukan B.

10.Perlakukan Anak Dengan Hormat. Perlakukan anak dengan baik maka mereka akan memperlakukan orang lain seperti mereka diperlakukan oleh orang tuanya.

4. Analisis Wacana

Analisis wacana berkenaan dengan isi pesan komunikasi yang sebagian diantaranya berupa teks (Pawito, 2007: 170 dalam Saputra, 2016: 26). Penelitian dengan analisis wacana memungkinkan kita untuk mengetahui bagaimana cara komunikator menyampaikan pesan, tujuan atau maksud tertentu dalam berbagai variasi. Pesan-pesan tersebut dikemas melalui suatu proses kreatif. Analisis wacana hadir sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu, yang mana wacana diartikan sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan (dalam Kumala, 2020: 210).

Analisis wacana digunakan dalam penelitian ini untuk menemukan dan menganalisis pesan-pesan nilai parenting dalam film Sabtu Bersama Bapak. Penelitian ini menggunakan analisis wacana Teun A. Van Dijk yang terdiri dari tiga dimensi; teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dalam penelitian ini menggunakan analisis wacana Teun A. Van Dijk dibatasi dalam level teks. Dalam level teks terdiri dari tiga level; makrostruktur, superstruktur, dan mikrostruktur. Makrostuktur, merupakan topik atau tema yang diangkat dalam teks. Superstruktur, merupakan kerangka teks seperti pendahuluan, isi, penutup,

(7)

7

kesimpulan. Mikrostruktur, makna lokal dari suatu teks atau bisa disebut subtopik. Dalam penelitian ini, superstruktur tidak digunakan karena dalam film tidak terdapat pembagian yang sifatnya skematik.

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Pawito (2007: 35 dalam Fau, 2019: 28) penelitian komunikasi kualitatif biasanya tidak dimaksudkan untuk memberikan penjelasan-penjalasan (explanations), mengontrol gejala-gejala komunikasi atau mengemukakan prediksi-prediksi, tetapi lebih dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman (understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi.

Pengumpulan data dilakukan denga dua cara, yaitu observasi dan studi pustaka.

Observasi dilakukan dengan cara menonton film Sabtu Bersama Bapak secara keseluruhan kemudian mencatat timecode dari scene-scene yang sesuai dengan indikator parenting.

Sedangkan studi pustaka merupakan pengumpulan data dengan acuan buku, jurnal, penelitian terdahulu, dan situs-situs internet resmi. Dari populasi berjumlah 101 scene didapatkan sampel sebanyak 16 scene. Penentuan sampel dilandaskan pada indikator parenting menurut Laurence Steinberg, yang sudah disebutkan sebelumnya. Dari 10 indikator, ditemukan 5 (lima) indikator parenting yang terdapat dalam film yakni; Mencintai Tidak Sama Dengan Memanjakan Anak, Melibatkan Diri Dalam Kehidupan Anak, Menyesuaikan Pola Asuh Dengan Tahap Perkembangan Anak, Menghindari Disiplin yang Keras, dan Menetapkan Aturan yang Jelas.

Metode analisis yang dilakukan menggunakan analisis wacana level teks Teun A. Van Dijk.

Struktur makro akan mengamati tema atau topik melalui teks dari aspek verbal (dialog).

Sedangkan struktur mikro akan meneliti aspek non-verbal (sinematografi).

Sajian dan Analisis Data

a. Mencintai Tidak Sama Dengan Memanjakan Anak 1. Scene 14 (Corpus 1)

Makrostruktur: Itje memberikan motivasi pada Satya yang mengeluh karena terlalu banyak memiliki piala dengan mengatakan “Enggak, kita teh kekurangan dinding”. Gunawan juga memberikan motivasi dan kepercayaannya melalui rekaman video dengan mengatakan “Bapak tahu, dari kecil, kamu pasti juara.

(8)

8

Terima kasih ya udah buat bapak bangga.” Apa yang dilakukan Gunawan dan Itje merupakan praktek pengasuhan positif yakni mengedepankan penghargaan, memberikan motivasi, dan menaruh kepercayaan pada anak.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle, dimana penonton diajak hanya untuk melihat adegan tersebut. Jenis shot yang digunakan adalah medium close-up untuk memperlihatkan ekspresi dari tokoh.

2. Scene 19 (Corpus 2)

Makrostruktur: Rissa memeluk dan memberikan ijin pada anak-anaknya untuk bermain karena sudah menyelesaikan PR dari sekolah dengan nilai sempurna. Rissa melakukan praktek pengasuhan positif dimana orang tua memberikan penghargaan setelah anak menyelesaikan kewajiban. Penghargaan tidak harus berupa materi.

Terkadang pemberian penghargaan berupa materi dapat mengubah pola pikir anak.

Anak akan berpikir bahwa mereka harus mendapatkan hadiah apabila dapat meraih sesuatu. Jika tidak dituruti maka anak akan marah.

Mikrostruktur: Medium shot digunakan untuk menampilkan Rissa dan kedua anaknya, Rian dan Miku. Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle dimana penonton diajak untuk melihat keseharian Rissa dan kedua anaknya.

3. Scene 22 (Corpus 3)

Makrostruktur: Rissa menggandeng tangan kedua anaknya ketika menyeberang jalan. Rissa menerapkan fungsi keluarga menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yakni Fungsi Perlindungan dan Fungsi Cinta Kasih. Rissa juga menerapkan pengasuh positif. Keduanya sama-sama bertujuan memberikan perlindungan sebagai bentuk ungkapan rasa sayang dan cinta pada anak.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle.

Penonton diajak untuk melihat Rissa dan anak-anaknya berjalan di jalanan kota Paris. Jenis shot yang digunakan adalah wide/long shot.

4. Scene 37 (Corpus 4)

Makrostruktur: Satya pulang ke rumah setelah beberapa bulan dirinya bekerja offshore. Ketika sampai di rumah, ia disambut keluarga kecilnya. Terjadi

(9)

9

komunikasi antarpribadi berupa verbal dan non-verbal. Komunikasi verbal berupa ungkapan “I miss you” dan dibalas “Miss you, too”, komunikasi non-verbal berupa pelukan dan ciuman. Fungsi keluarga berupa Fungsi Cinta Kasih diterapkan oleh Satya dan keluarga kecilnya sebagai landasan yang kokoh bagi sebuah keluarga.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle.

Penonton diajak untuk melihat suasana bahagia sekaligus haru ketika Rissa, Rian, dan Miku menyambut kedatangan Satya. Jenis shot yang digunakan adalah long shot.

5. Scene 67 (Corpus 5)

Makrostruktur: Satya segera pulang ke rumah setelah mendengar kabar bahwa Rian dan Miku hampir diculik. Sesaat setelah sampai di rumah, Satya langsung menanyakan kondisi anak-anaknya, “Hei, boys. Are you okay?”. Bertanya perihal kondisi anak adalah salah satu poin dalam pengasuhan positif, dimana akan menciptakan hubungan yang hangat antara orang tua dengan anak. Anak juga akan merasa diperhatikan oleh orang tuanya.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle.

Penonton diajak untuk melihat adegan Satya datang, bertanya, dan memeluk anak- anaknya. Jenis shot yang digunakan adalah wide/long shot.

b. Melibatkan Diri Dalam Kehidupan Anak 1. Scene 38 (Corpus 6)

Makrostruktur: Satya dan Rissa paham dengan perkembangan dan kemampuan anak-anaknya. Hal tersebut dibuktikan dengan Satya yang bertanya “Ini ngomong- ngomong Miku gimana nih, team soccernya masuk nggak?” dan “...kamu tuh harus keras sama dia kalo soal matematika karena dia ada potensinya...”. Karena Satya ingin anak-anaknya meraih kesuksesan lewat kemampuannya masing-masing, Satya pun memanggil kedua anaknya dan menceritakan pengalaman masa kecilnya bersama Gunawan, kakek Rian dan Miku.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan pada scene ini adalah Objective Camera Angle. Pada adegan Satya berbicara dengan kedua anaknya, level kamera yang digunakan adalah low angle, dimana kamera berada di bawah subjek untuk

(10)

10

memberikan kesan dominan pada subjek. Framing camera yang digunakan adalah Looking, Satya melihat sudut bawah dimana di balik sudut tersebut merupakan posisi Rian dan Miku.

c. Menyesuaikan Pola Asuh Dengan Tahap Perkembangan Anak 1. Scene 52 (Corpus 7)

Makrostruktur: Rian bertanya mengapa Rissa harus bekerja. Rissa menjelaskan alasannya bekerja dengan kalimat yang mudah dipahami anak-anaknya “Mama harus kerja, mama harus bantu bapak dan kalo mama udah bantu bapak, nantinya kita berempat bisa sama-sama lagi, kumpul kaya dulu, mau kan?”. Rissa juga melakukan komunikasi efektif sebagai poin dari pengasuhan positif. Memposisikan dirinya sejajar dengan anak-anaknya, menarik perhatian anak dengan mengatakan

“Sayang dengerin mama, ya.” dan menjelaskan dengan bahasa sederhana.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle dan Close-up shot untuk menunjukkan ekspresi Rissa ketika berbicara dengan anak- anaknya.

d. Hindari Disiplin yang Keras 1. Scene 65 (Corpus 8)

Makrostruktur: Rian dan Miku hampir diculik karena mengikuti ajakan orang yang tidak dikenal. Namun berhasil diselamatkan oleh tukang daging langganan mereka.

Kesalahan yang dilakukan Rian dan Miku sangat fatal, namun Rissa berusaha tenang dihadapan anak-anaknya. Tidak ada bentakan atau pukulan sebagai hukuman, namun Rissa memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk tidak mengulangi hal tersebut “Jangan ilang kemana-mana ya sayang, ya? Janji? Janji ya, oke? Semuanya?...”.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle.

Penonton diajak untuk melihat kepanikan dan kecemasan yang dialami Rissa. Jenis shot yang digunakan adalah medium close-up untuk memperlihatkan ekspresi Rissa ketika menasehati Rian dan Miku.

(11)

11 e. Menetapkan Aturan yang Jelas

1. Scene 5 (Corpus 9)

Makrostruktur: Gunawan ‘berpamitan’ dengan kedua anaknya yang masih kecil, Satya dan Cakra. Gunawan juga mengajarkan pada anak-anaknya tentang konsep ikhlas dan takdir Tuhan dengan mengatakan “Jangan marah sama Tuhan, jangan marah sama bapak, jangan pernah marah sama diri kamu sendiri. Nggak ada yang salah.”

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle.

Penonton diajak untuk mengamati adegan Gunawan bersama kedua anaknya.

Framing dalam scene ini ada dua, pertama rule of third diamana objek diletakkan di salah satu titik frame. Kedua adalah one point perspective dimana subjek diletakkan di tengah frame.

2. Scene 11 (Corpus 10)

Makrostruktur: Pada scene ini diceritakan Gunawan sudah meninggal dan pada scene ini pula pesan pertama Gunawan untuk anak-anaknya melalui rekaman disampaikan, yakni pesan untuk terus menjaga dan menyayangi mamanya karena

‘Surga berada di telapak kaki ibu’.

Mikrostruktur: Jenis shot yang digunakan adalah close-up pada papan nisan Gunawan dan wajah Satya. Kemudian panning camera ke kanan untuk memperlihatkan adegan Cakra dan Itje menaburkan bunga. Framing camera yang digunakan pada adegan close-up Satya adalah Looking, melihat ke arah sudut frame yang berseberangan, menjelaskan bahwa Satya melihat ke arah makam Gunawan.

Pada adegan Gunawan memberikan pesan melalui rekaman video, digunakan Subjective Camera Angle, dimana Gunawan berbicara ke arah kamera seolah-olah berinteraksi dengan penonton. Framing yang digunakan pada scene Gunawan ini adalah one point perspective.

3. Scene 13 (Corpus 11)

Makrostruktur: Sesuai dengan pesan Gunawan, Satya dan Cakra ‘bertemu’ dengan bapaknya setiap hari Sabtu lewat rekaman video yang sudah dibuat Gunawan. Pada

(12)

12

scene ini, Gunawan memberikan pesan mengenai pentingnya rasa percaya diri dan rasa percaya diri datang dari dalam diri.

Mikrostruktur: Objective Camera Angle digunakan pada scene ini untuk menunjukkan pada penonton rutinitas setiap hari Sabtu Itje, Satya, dan Cakra. Close- up shot digunakan untuk memperlihatkan ekspresi Itje, Satya, dan Cakra ketika menonton rekaman video Gunawan. Framing one point perspective juga digunakan pada Itje untuk menunjukkan ekspresi terharu.

4. Scene 16 (Corpus 12)

Makrostruktur: Pada scene ini, Satya dan Cakra yang telah tumbuh dewasa, menonton kembali rekaman video Gunawan. Rekaman yang dipilih adalah rekaman pesan Gunawan tentang pentingnya merencanakan masa depan. Rencana yang jelas dan matang, akan membawa mereka kepada tujuan dan juga mempersiapkan diri untuk menghadapai kehidupan.

Mikrostruktur: Medium Close-up digunakan untuk menunjukkan ekspresi Satya dan Cakra ketika menonton rekaman video Gunawan. Subjective Camera Angle digunakan pada Gunawan di dalam rekaman saat mengatakan “Jadi rencanakan semuanya, ini penting. Rencana, rencana, dan rencana.”

5. Scene 17 (Corpus 13)

Makrostruktur: Monolog Gunawan ketika adegan Satya melamar Rissa. Gunawan menjelaskan tentang konsep kedewasaan dimana dewasa bukan diukur dari usia namun dinilai dari cara orang tersebut bertindak dan berpikir.

Mikrostruktur: Objective Camera Angle digunakan saat adegan Satya melamar Rissa. Kemudian menjadi Subjective Camera Angle ketika shot berubah menjadi rekaman Gunawan memberikan pesan.

6. Scene 33 (Corpus 14)

Makrostruktur: Pada scene ini, Cakra memborong beberapa pakaian untuk memperbaiki gaya berpakaiannya atas saran dari rekan-rekan kerjanya, Wati dan Firman. Ketika hendak membayar, Cakra kemudian teringat akan pesan Gunawan tentang harga diri. Nilai harga diri seseorang tidak dinilai dari apa yang mereka kenakan, namun dari hati dan tindakannya.

(13)

13

Mikrostruktur: Objective Camera Angle digunakan ketika adegan Cakra memilih baju di distro dan hendak membayar. Kemudian berubah menjadi Subjective Camera Angle dan medium close-up ketika shot berganti menjadi rekaman video Gunawan.

7. Scene 39 (Corpus 15)

Makrostruktur: Gunawan sedang melatih Satya kecil taekwondo dan Satya mengeluh lelah dan menggerutu karena Gunawan tidak pernah memberikan kesempatan pada Satya untuk menang. Gunawan kemudian menanamkan nilai bahwa kemenangan diraih dengan usaha. Tidak akan ada yang memberikan kemenangan secara gratis. Kalau kurang kuat latihan lagi, kalau kurang pintar belajar lagi.

Mikrostruktur: Camera angle yang digunakan adalah Objective Camera Angle, memperlihatkan suasana latihan taekwondo Gunawan dan Satya. Tipe shot yang digunakan adalah medium close-up ketika Gunawan menanamkan nilai-nilai tersebut pada Satya.

8. Scene 74 (Corpus 16)

Makrostruktur: Satya bermimpi dan dirinya bertemu dengan Gunawan. Satya menyalahkan bapaknya karena merasa apa yang diajarkan Gunawan setiap hari Sabtu (melalui pesan-pesan video) semuanya bohong. Rencana yang Satya buat tidak berjalan mulus. Gunawan menjelaskan bahwa ketika membuat rencana untuk masa depan, tetap harus melihat kondisi saat ini, “Bapak ajarin kalian untuk merencanakan masa depan tapi jangan lupakan masa sekarang”. Gunawan paham, Satya kehilangan arah karena dirinya tidak ada di samping anak-anaknya untuk membimbing. Gunawan pun meminta maaf “Maaf, bapak nggak bisa hadir untuk kamu.”. Gunawan juga mengingatkan Satya bahwa dirinya harus hadir untuk keluarganya.

Mikrostruktur: Adegan ini menggunakan objective camera angle. Beberapa jenis shot yang digunakan sepanjang scene adalah medium shot, medium close-up, dan reverse shot dengan kamera bergerak mengitari pemain. Untuk memberikan efek mimpi, diberikan warna kuning sebagai efek imajinasi.

(14)

14 KESIMPULAN

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

1. Dari 16 scene yang dipilih berdasarkan indikator parenting Laurence Steinberg, semuanya mengandung wacana nilai-nilai parenting yang direpresentasikan melalui dialog, interaksi tokoh (orang tua dan anak) dan teknik pengambilan gambar.

2. Penonton dilibatkan dalam film melalui scene yang menggunakan Subjective Camera Angle.

Subjective Camera Angle terdapat pada scene Gunawan memberikan nasehat-nasehat melalui rekaman video, seperti pada scene 11, 16, 17, 33. Selebihnya menggunakan Objective Camera Angle.

3. Jenis shot yang paling banyak digunakan adalah Close-up dan Medium Shot untuk menunjukkan detail ekspresi pemain.

4. Sebagai film yang diadaptasi dari novel, tentu tidak semua aspek bisa diadaptasi dalam film dan ada perlakuan yang berbeda antara membuat novel dan membuat film. Namun, film Sabtu Bersama Bapak sudah cukup baik dalam merepresentasikan nilai-nilai parenting.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Onong Uchjana. 2019. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Herawati, Tin. 2017. Penanaman dan Penerapan Nilai Karakter Melalui 8 Fungsi Keluarga.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Seri Pendidikan Orang Tua: Pengasuhan Positif. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mascelli, Joseph V. 2005. The Five C’s of Cinematography. Los Angeles: Filman-James Press.

Steinberg, Laurence. 2004. The Ten Basic Principles of Good Parenting. New York: Simon &

Schuster Paperbacks.

Amalia., & MHD Natsir. 2017. Hubungan Antara Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Dengan Kenakalan Remaja. KOLOKIUM Jurnal Pendidikan Luar Sekolah. Vol. 5 No. 2. 155.

Awi, Maria Victoria., Norma Mewengkang & Antonius Golung. 2016. Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Menciptakan Harmonisasi Keluarga di Deas Kimaam Kabupaten Merauke. E-journal “Acta Diurna”. Vol. V No. 2. 5.

Fau, Nosari Soraya. 2019. Hak-Hak Wanita Jawa di Bidang Pendidikan (Kajian Analisis Wacana Unsur Naratif Film Kartini Karya Hanung Bramantyo). Surakarta:

Universitas Sebelas Maret.

(15)

15

Kumala, Islam Nur. 2020. Konsep Perempuan Shalihah Pada Lirik “Aisyah Istri Rasulullah”

(Studi Ketidakadilan Analisis Wacana Teun A. Van Dijk). Islamic Communication Journal Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Vol. 5 No. 2. 210.

Putri, Gesti Rabila. 2019. An Analysis of Lead of Headline News Heading on the Jakarta Post Daily Newspaper. Bandung: Universitas Pasundan.

Ramadhani, Emilia & Kiki Adi Kesuma. 2020. Konsep Diri Pria Make Up Artist (Studi Kasus Konsep Diri Pria Make Up Artist di Kota Medan). KomunikA Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol. 16 No. 2. 11.

Sabarua, Jefrey Oxianus & Imelia Mornene. 2020. Komunikasi Keluarga Dalam Membentuk Karakter Anak. International Journal of Elementary Education. Vol. 4 No. 1. 83.

Saputra, Muhammad Iman. 2016. Analisis Wacana Perlawanan Korupsi Dalam Film Selama Siang, Risa!! “Karya: Ine Febriyanti”. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Binus University. 2018. Pola Asuh Orangtua dan Pengaruhnya Pada Anak.

https://parent.binus.ac.id/2018/08/pola-asuh-orangtua-dan-pengaruhnya-pada-anak/.

Diakses pada 6 Juni 2021.

Sagarmatha, Amanda. 2019. Tantangan Mengasuh Anak Generasi Alfa.

https://www.guesehat.com/mengasuh-anak-generasi-alfa. Diakses pada 15 Oktober 2020.

Studio Antelope. 2017. Istilah Shot Dalam Film yang Perlu Kamu Ketahui.

https://studioantelope.com/istilah-shot-dalam-film/. Diakses pada 19 Mei 21 September 2020.

Susilawati, Desy. 2016. ’90 Persen Kesalahan Anak Akibat Kesalahan Orang Tua’.

https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/parenting/16/08/25/ocg2gj384-90-persen- kesalahan-anak-akibat-kesalahan-orang-tua. Diakses pada 5 November 2020.

Referensi

Dokumen terkait