KERAGAAN HASIL TANGKAPAN LIGHT TRAP PADA TANAMAN PADI DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2013
Ruruh Anjar Rwandini1) dan Ely Novrianty2)
1)Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Lampung
2)Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung
ABSTRAK
Di Provinsi Lampung telah dipasang lampu perangkap yang digunakan untuk menginventarisasi potensi serangan hama khususnya di wilayah sentra komoditas padi. Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk memberikan gambaran potensi serangan serta wilayah penyebaran hama dan musuh alami pada tanaman padi di Provinsi Lampung pada tahun 2013. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada tahun 2013 tangkapan hama dan musuh alami di 14 kabupaten/kota yaitu (1) tingkat rata-rata populasi hama tertinggi yang tertangkap oleh lampu perangkap adalah kepinding tanah dengan jumlah 55.587 ekor sedangkan yang terendah adalah wereng hijau Nephottetix nigropictus dengan jumlah 12 ekor; dan (2) tingkat rata-rata populasi musuh alami yang banyak tertangkap adalah Paederus sp. yaitu 2.013 ekor sedangkan yang terendah adalah Metioche sp. sebanyak 108 ekor.
Kata Kunci : lampu perangkap, rata-rata hasil tangkapan, hama, musuh alami
ABSTRACT
In Lampung province has mounted light trap is used for the inventory of pests, especially in the central region of paddy. The purpose of this study is to provide an overview of potential attacks and territories spread of pests and natural enemies in rice plants in Lampung Province in 2013. The study showed that in 2013 the catch pests and natural enemies in 14 districts / cities: (1) average rate -rata highest pest populations caught by light trap is bedbug ground with number 55.587 tail while the lowest is green leafhopper Nephottetix nigropictus the number 12 heads; and (2) the average level of natural enemy populations that were caught were Paederus sp. namely 2013 and the lowest tail is Metioche sp.
as many as 108 birds.
Key words: light trap, the average catch, pests, natural enemies
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan (2012), Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama yang sering menyerang tanaman padi adalah wereng batang coklat, penggerek batang padi, tikus, bakteri hawar daun/kresek, blas dan tungro. Untuk mengamankan produksi dari serangan OPT perlu dilakukan upaya pengendalian dan penanganan yang terencana dengan baik, terutama di daerah-daerah sentra produksi dan daerah kronis endemis serangan OPT. Optimalisasi pengelolaan OPT pada tanaman padi di lapangan sangat erat kaitannya kegiatan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data hasil pengamatan. Oleh karena itu untuk menjamin ketersediaan data dan informasi OPT dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya di lapangan yang tepat dan akurat diperlukan sarana pendukung pengamatan salah satunya berupa lampu perangkap (light trap).
Light Trap (lampu perangkap) adalah sarana kerja yang berfungsi menangkap serangga. Pemasangan Light Trap merupakan salah satu strategi pemantauan populasi OPT. Light Trap sangat efektif untuk memantau serangga- serangga nokturnal (aktif pada malam hari) seperti Noctuidae, Saturniidae dan Sphingidae (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, 2012).
Light Trap terdiri dari komponen utama yaitu lampu, corong, dan kotak plat serta rangka perangkap. Energi yang digunakan untuk menyalakan lampu dapat berasal dari listrik PLN, baterai, energi tenaga surya (matahari) maupun dari energi lainnya. Lampu berfungsi untuk menarik serangga-serangga pada malam hari selanjutnya tertangkap pada corong kemudian ditampung di dalam kotak di bawah corong.
Menurut Baehaki (2013), fungsi lampu perangkap di Balai Besar Penelitian Padi adalah (1) hama yang tertangkap merupakan hasil monitoring dini terhadap jenis dan jumlah hama imigran yang datang di pertanaman untuk menentukan nilai ambang ekonomi, (2) mereduksi populasi hama imigran atau hama emigran, dan (3) pengamatan dengan lampu perangkap harus dilakukan setiap hari untuk membuat kurva bulanan sebagai dasar penetapan persemaian atau waktu tanam.
Light Trap diletakkan di dalam lahan sawah (lahan pertanian) di pematang atau menyesuaikan dengan kondisi lahan setempat. Untuk keperluan
monitoring/pengamatan pada luasan sawah 300-500 ha cukup diletakkan 1 (satu) unit lampu perangkap sedangkan jika untuk digunakan sebagai sarana pengendalian dapat ditempatkan 1 (satu) unit perangkap setiap 50 ha. Light Trap tenaga surya dalam keadaan normal akan nyala setiap hari mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi (Balai Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Lampung, 2014).
Selain untuk monitoring, lampu perangkap tersebut juga sebagai pengendali. Mendeteksi dini wereng coklat imigran dan Ngengat penggerek batang padi sehingga dapat mengetahui datangnya hama imigran dan puncak tangkapan populasi suatu hama. Rekomendasi waktu semai atau tanam adalah 15 hari setelah puncak hasil tangkapan. Untuk pengendalian penggerek batang padi, 4 hari setelah adanya penerbangan (hasil tangkapan) dilakukan penyemprotan insektisida. Pada saat kondisi lahan sedang bera atau pengolahan tanah, lampu perangkap digunakan terus untuk memantau perkembangan populasi serangga hama terutama wereng coklat dan penggerek batang. Serangga-serangga yang dapat tertangkap antara lain wereng coklat (dewasa makroptera), Ngengat penggerek batang padi, orong-orong (anjing tanah), kepinding tanah (Scotinophara coarctata ), Coccinella sp, Paederus sp, Ophionea sp, dan lain-lain. Pada saat populasi tinggi, lampu perangkap di Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi dapat menangkap wereng coklat 376 ribu ekor/malam/unit, Ngengat penggerek batang padi kuning 12 ribu ekor/malam/unit dan kepinding tanah 146 ribu ekor/malam/unit (Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi, 2012).
Menurut Baehaki (2012), pada tahun 2011 hasil tangkapan penggerek padi kuning mencapai 64.195 ekor dan wereng coklat 4.792 ekor dengan menggunakan lampu perangkap di Balai Besar Penelitian Padi, Sukamandi.
Sedangkan bulan Januari sampai Juli tahun 2012 hasil tangkapan penggerek padi kuning mencapai 66.595 ekor dan wereng coklat 3.341 ekor (Baehaki, 2013)
Tujuan
Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk memberikan gambaran potensi serangan serta wilayah penyebaran hama dan musuh alami pada tanaman padi di Provinsi Lampung pada tahun 2013.
METODOLOGI
Lokasi dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Desember 2013. Lokasi kegiatan adalah 14 kabupaten di Provinsi Lampung.
Pengumpulan Data
1. Pengumpulan data sekunder
Data hasil tangkapan penggerek batang oleh lampu perangkap yang telah direkapitulasi oleh koordinator POPT kabupaten dikumpulkan dan direkapitulasi di tingkat provinsi.
2. Pengolahan data sekunder
Data hasil rekapitulasi diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.
3. Analisa deskriptif kualitatif
Berdasarkan data dan grafik yang telah diperoleh, dilakukan analisa secara deskriptif kualitatif sebagai penggambaran kondisi hasil tangkapan lampu perangkap di Provinsi Lampung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil tangkapan lampu perangkap sepanjang tahun 2013 di Provinsi Lampung, rata-rata hasil tangkapan hama per lampu perangkap terlihat pada Gambar 1. Dilihat dari Gambar 1, tampak bahwa sebagian besar hama yang merupakan serangga tertarik oleh cahaya dari lampu perangkap. Hasil tangkapan ini menunjukkan juga indikasi tingkat serangan/populasi hama-hama tersebut di pertanaman padi sawah di Provinsi Lampung sepanjang tahun 2013.
Tingkat rata-rata populasi hama tertinggi yang tertangkap oleh lampu perangkap adalah kepinding tanah dengan jumlah 55.587 ekor sedangkan yang terendah adalah wereng hijau Nephottetix nigropictus dengan jumlah 12 ekor. Selain itu tertangkap pula populasi wereng batang coklat yang merupakan hama penting pada tanaman padi sehingga perlu adanya peningkatan kewaspadaan terhadap tingkat serangan hama tersebut.
Keterangan: PB kn = Penggerek Batang Padi Kuning; PB pth = Penggerek Batang Padi Putih; WBC = Wereng Batang Coklat; WBPP = Wereng Batang Padi Putih;
Wereng Nv = Wereng Hijau Nephottetix virescen; Wereng Nn = Wereng Hijau Nephottetix nigropictus; WS = Walang Sangit; Oo = Orseolia oryzae (Ganjur); Kt = Kepinding Tanah; Gryll = Gryllotalpa sp.; Bll = Belalang; KH = Kepik Hijau; UG = Ulat Grayak; LH = Lalat Hidrilla; HP = Hama Putih; HPP = Hama Putih Palsu; AT = Anjing Tanah (Sumber: UPTD BPTPH Provinsi Lampung, 2014).
Gambar 1. Rata-rata hasil tangkapan hama per lampu perangkap di Provinsi Lampung tahun 2013.
Selain hama, organisme lain yang tertangkap oleh lampu perangkap adalah musuh alami seperti yang tergambar pada Gambar 2.
Keterangan: Cc = Coccinelidae; Oph = Ophionea sp.; Pae = Paederus sp.; Micr
=Micraspis sp.; Mio = Metioche sp.; Cp = Capung; Lb = Laba-laba (Sumber: UPTD BPTPH Provinsi Lampung, 2014).
Gambar 2. Rata-rata populasi musuh alami yang tertangkap di Provinsi Lampung.
Berdasarkan Gambar 2, tampak bahwa tingkat rata-rata populasi musuh alami yang banyak tertangkap adalah Paederus sp. yaitu 2013 ekor sedangkan yang terendah adalah Metioche sp. sebanyak 108 ekor. Sedangkan untuk rekapitulasi rata-rata hasil tangkapan hama penting oleh lampu perangkap untuk setiap kabupaten di Provinsi Lampung pada tahun 2013 tampak pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Rekapitulasi rata-rata hasil tangkapan hama penting oleh lampu perangkap per kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2013
No Kabupaten PB WBC WBpp WH WS Oo Kt Gryll Bll KH UG LH HP HPP AT
1 Metro 37 30 0 14 30 0 283 7 33 3 1 0 11 1 1
2 L. Tengah 709 3031 127 367 462 8 15197 0 21 303 3 1 59 118 1 3 Pesawaran 88 609 9 181 150 8 1190 0 46 58 12 0 19 9 3 4 Pringsewu 367 137 2 114 88 2 2233 0 3 50 49 1 14 10 65 5 Tl. Bawang 120 1025 69 550 802 250 5056 0 0 2 0 0 0 0 297
6 Tanggamus 73 63 0 96 112 0 290 0 0 0 0 0 0 97 0
7 L. Timur 610 511 301 259 642 37 25161 38 72 86 30 17 289 0 78
8 Way Kanan 141 20 0 88 93 4 318 0 1 28 0 0 0 0 40
9 Mesuji 601 634 557 112 760 34 3015 0 8 0 7 0 371 25 146
10 L. Barat 162 0 4 36 247 0 138 0 0 0 0 0 0 170 50
11 Pss. Barat 474 222 6 313 677 231 1269 0 0 0 28 2220 126 179 46 12 L. Utara 161 964 9 474 416 0 149 0 26 167 0 0 79 157 49
13 L. Selatan 18 0 0 0 70 0 989 0 0 188 0 0 40 0 2
14 Tl. Bw. Barat 66 77 0 167 183 0 299 0 0 0 14 0 3 36 3 Jumlah 3626 7324 1082 2769 4733 574 55587 45 210 885 145 2239 1011 803 780 Sumber : UPTD BPTPH Provinsi Lampung, 2014.
Dari Tabel 1 di atas tampak bahwa hasil tangkapan Penggerek Batang Padi tertinggi terdapat di Kabupaten Lampung Tengah yaitu 709 ekor sedangkan yang terendah di Kabupaten Lampung Selatan yaitu 18 ekor, untuk tangkapan hama Wereng Batang Coklat (WBC) tertinggi terdapat di Kabupaten Lampung Tengah yaitu 3.031 ekor dan terendah di Kabupaten Lampung Barat dan Lampung Selatan (0 ekor), untuk tangkapan hama wereng hijau tertinggi terdapat di Kabupaten Tulang Bawang yaitu 550 ekor dan terendah di Kota Metro yaitu 14 ekor, untuk tangkapan hama Walang Sangit tertinggi terdapat di Kabupaten Tulang Bawang yaitu 802 ekor dan terendah di Kabupaten Lampung Selatan (0 ekor), untuk tangkapan hama Orseolia oryzae tertinggi terdapat di Kabupaten Tulang Bawang yaitu 250 ekor, untuk tangkapan hama kepinding tanah tertinggi
terdapat di Kabupaten Lampung Timur yaitu 25.161 ekor dan terendah di Kabupaten Lampung Barat yaitu 138 ekor, untuk tangkapan hama Kepik Hijau tertinggi di Kabupaten Lampung Tengah sejumlah 303 ekor, untuk tangkapan hama Lalat Hydrilla yang tertinggi di Kabupaten Pesisir Barat yaitu 2.220 ekor, untuk tangkapan Hama Putih tertinggi di Kabupaten Lampung Timur yaitu 289 ekor, untuk tangkapan Hama Putih Palsu tertinggi di Kabupaten Pesisir Barat 179 ekor, dan untuk tangkapan hama anjing tanah/orong-orong tertinggi di Kabupaten Tulang Bawang sejumlah 297 ekor.
Selain hasil tangkapan terhadap hama, terdapat pula musuh alami yang tertangkap oleh lampu perangkap. Sebaran rekapitulasi rata-rata hasil tangkapan musuh alami di setiap kabupaten di Provinsi Lampung tampak pada Tabel 2 . Tabel 2. Rekapitulasi Rata-Rata Hasil Tangkapan Musuh Alami Per Kabupaten di
Provinsi Lampung Tahun 2013
No Bulan Cc Oph Pae Micr Mio Cp Lb
1 Metro 33 25 15 0 0 33 0
2 Lampung Tengah 295 234 338 36 7 51 114
3 Pesawaran 155 36 132 8 0 32 4
4 Pringsewu 120 58 208 6 3 17 2
5 Tulang Bawang 0 2 118 0 0 620 0
6 Tanggamus 107 0 95 0 0 0 0
7 Lampung Timur 178 108 311 509 99 60 0
8 Way Kanan 6 0 7 0 0 40 9
9 Mesuji 0 436 222 0 0 242 170
10 Lampung Barat 69 83 118 0 0 117 246
11 Pesisir Barat 522 52 183 0 0 170 0
12 Lampung Utara 154 40 240 0 0 49 165
13 Lampung Selatan 0 7 4 0 0 2 0
14 T. Bawang Barat 46 8 23 17 0 13 0
Jumlah 1683 1088 2013 575 108 1446 709
Sumber : UPTD BPTPH Provinsi Lampung, 2014.
Berdasarkan Tabel 2 di atas tampak bahwa untuk tangkapan Coccinellidae tertinggi terdapat di Kabupaten Pesisir Barat sejumlah 522 ekor, untuk tangkapan Ophionea sp. tertinggi terdapat di Kabupaten Mesuji sejumlah 436 ekor, untuk tangkapan Paederus sp. tertinggi terdapat di Kabupaten Lampung Tengah sejumlah 338 ekor, untuk tangkapan Micraspis sp. dan Mioche sp. tertinggi terdapat di Kabupaten Lampung Timur yaitu 509 dan 99 ekor, untuk
tangkapan capung tertinggi terdapat di Kabupaten Tulang Bawang 620 ekor, dan tangkapan laba-laba tertinggi terdapat di Kabupaten Lampung Barat 246 ekor.
KESIMPULAN
Tingkat rata-rata populasi hama tertinggi yang tertangkap oleh lampu perangkap adalah kepinding tanah dengan jumlah 55.587 ekor sedangkan yang terendah adalah wereng hijau Nephottetix nigropictus dengan jumlah 12 ekor.
Tingkat rata-rata populasi musuh alami yang banyak tertangkap adalah Paederus sp. yaitu 2.013 ekor sedangkan yang terendah adalah Metioche sp.
sebanyak 108 ekor.
DAFTAR PUSTAKA
Baehaki S.E, 2012. Data Statistik Tangkapan Hama pada Lampu Perangkap (Light Trap) Tahun 2011. Balai Besar Penelitian Padi. Sukamandi.
Baehaki S.E, 2013. Buletin Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan 8(1). Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Balai Besar Penelitian Padi. 2012. Light Trap Pemonitor dan Pengendali Serangga. www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/1081. Diakses 23 Februari 2015.
Balai Proteksi Tanaman Pangan Hortikultura. 2014. Petunjuk Teknis Penggunaan Lampu Perangkap (Light Trap) di Provinsi Lampung. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Lampung.
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 2012. Kerangka Acuan Kerja (KAK) Bantuan Sarana Light Trap Untuk Pengamatan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Padi. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Jakarta.
Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 2012. LPHP (Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit). Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Jakarta.