• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN Sargassum sp. SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN GURAMI Osphronemus goramy TEGUH ARISANDY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMANFAATAN Sargassum sp. SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN GURAMI Osphronemus goramy TEGUH ARISANDY"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN Sargassum sp. SEBAGAI BAHAN BAKU

PAKAN IKAN GURAMI Osphronemus goramy

TEGUH ARISANDY

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Sargassum sp. Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Gurami Osphronemus goramy” adalah benar karya saya dengan arahan Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, November 2016

Teguh Arisandy

(3)

ABSTRAK

TEGUH ARISANDY. Pemanfaatan Sargassum sp. Sebagai Bahan Baku Pakan Gurami Osphronemus goramy. Dibimbing oleh MIA SETIAWATI dan REZA SAMSUDIN.

Sargassum sp. merupakan golongan rumput laut coklat (Phaeophyta) yang mempunyai kelimpahan sangat tinggi, terdapat hampir di seluruh Indonesia dan mengandung nutrien yang cukup lengkap. Pemanfaatan dapat dilakukan dengan menambahkannnya ke dalam pakan ikan. Salah satu jenis ikan yang dapat digunakan yaitu ikan gurami. Penelitian bertujuan untuk menentukan jumlah tepung Sargassum sp. yang optimal untuk ikan gurami. Perlakuan yang diuji yaitu penambahan Sargassum sp. sebanyak 0%, 5%, 7,5%, dan 10% ke dalam pakan ikan. Pakan diberikan secara at satiation. Hasil menunjukkan bahwa penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% mampu memberikan pertumbuhan terbaik dengan memberikan nilai pertambahan bobot 55,43 g, jumlah konsumsi pakan 94,74 g, efisiensi pakan 58,38%, rasio efisiensi protein 1,83, retensi protein 27,09%, retensi lemak 56,19%, laju pertumbuhan spesifik 1,01%, dan kelangsungan hidup 98%. Penambahan Sargassum sp. ke dalam pakan ikan gurami mampu memberikan pertumbuhan yang baik, sehingga Sargassum sp. dapat lebih dimanfaatkan.

Kata kunci: Sargassum sp., kinerja pertumbuhan, ikan gurami.

ABSTRACT

TEGUH ARISANDY. Utilization of Sargassum sp. as Raw Feed Material Giant gourami Osphronemus goramy. Supervised by MIA SETIAWATI and REZA SAMSUDIN.

Sargassum sp. includes in brown seaweed (Phaeophyta) which has very abundance throughout Indonesia and contains nutrients is complete. Utilization can be done by supplementing into fish feed. One type of fish that can be used is giant gourami. The studies aimed to determine the level of addition of Sargassum sp. optimal for giant gourami. The treatments were the addition Sargassum sp. as much as 0%, 5%, 7.5%, and 10% into the fish feed. Feed given at satiation. The results showed that the addition of Sargassum sp. 7.5% was able to provide the best growth by delivering value weight gain 55.43 g, feed consumption 94.74 g, feed efficiency 58.38%, protein efficiency ratio 1.83, retention of protein 27.09%, fat retention 56.19%, the specific growth rate 1.01%, and survival rate 98%. The addition of Sargassum sp. into the feed giant gourami is able to provide good growth, so that Sargassum sp. can be utilized.

(4)

PEMANFAATAN Sargassum sp. SEBAGAI BAHAN BAKU

PAKAN IKAN GURAMI Osphronemus goramy

TEGUH ARISANDY

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2016 Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan

pada

(5)
(6)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala Anugrah-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Sargassum sp. Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Gurami Osphronemus goramy” dapat diselesaikan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2016 bertempat di Laboratorium Basah Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Bogor. Analisis proksimat pakan uji, hewan uji, dan kecernaan dilakukan di Laboratorium Nutrisi Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Bogor.

Terima kasih penulis sampaikan kepada ayah tercinta Wasjan dan ibunda tercinta Titin Rasmanah atas dukungan doa dan materi, saudara penulis Hilda Zaikarina dan Ardhi Putra Pratama atas dukungan dan doa yang diberikan, kepada ibu Dr. Ir. Mia Setiwati M.Si dan bapak Reza Samsudin S.Pi M.Si selaku pembimbing, bapak Dr. Alimuddin S.Pi M.Sc selaku penguji, serta kepada Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) Bogor dan Kepala Kelompok Peneliti Nutrisi dan Teknologi Pakan BPPBAT Bogor yang telah memberi izin penggunaan tempat serta fasilitas sehingga penelitian ini bisa berjalan.

Terima kasih penulis sampaikan kepada pak Hendra selaku teknisi Lab. Basah BPPBAT yang membantu selama penelitian, serta keluarga besar penulis, keluarga Cibalagung (Regina Audina, Agung S., dan Martina S.), keluarga Sempur (M. Dimas, S. Mahardika, Annisa F., dan Farah Z., Nuni N.), Anggota Nutrisi Kids, dan keluarga BDP 49 atas segala doa dan kasih sayang nya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, November 2016

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ... vi DAFTAR GAMBAR ... vi DAFTAR LAMPIRAN ... vi PENDAHULUAN... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan Penelitian ... 2 METODE PENELITIAN ... 2

Persiapan Bahan Baku Rumput Laut Sargassum sp. ... 2

Prose Pembuatan Pakan Uji ... 2

Pemeliharaan Ikan Uji ... 3

Parameter Uji ... 3

Analisis Data ... 5

HASIL PEMBAHASAN ... 5

Hasil ... 6

Pembahasan ... 7

KESIMPULAN DAN SARAN ... 10

Kesimpulan ... 10 Saran ... 10 DAFTAR PUSTAKA ... 10 DAFTAR LAMPIRAN ... 12 RIWAYAT HIDUP ... 13

(8)

DAFTAR GRAFIK

1.

Formulasi Pakan ... 2

2.

Hasil Proksimat Pakan Uji ... 3

3.

Kinerja Pertumbuhan Ikan Gurami yang Diberi Pakan Dengan Penambahan Sargassum sp.

pada

Persentase yang Berbeda Selama 60 Hari Pemeliharaan ... 6

DAFTAR LAMPIRAN

1. Uji Homogenitas ... 12

(9)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada kegiatan budidaya ikan yang semakin berkembang, masih terdapat satu permasalahan pokok yang dialami oleh seluruh pembudidaya, yaitu permasalahan pakan. Pakan menjadi faktor yang sangat penting, karena biaya pakan berkisar 60-80% dari total biaya operasional (Hasan 2010). Umumnya hampir sebagian besar bahan baku pakan diimpor, hal ini menyebabkan harga pakan semakin mahal. Upaya untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor adalah dengan penggunaan bahan pakan lokal berkualitas. Pemilihan penggunaan bahan baku lokal dapat memanfaatkan bahan yang berasal dari sumber perairan (laut), dan salah satu bahan yang dapat digunakan yaitu rumput laut. Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya ini sangat didukung oleh kondisi perairan Indonesia yang hampir 70% bagian wilayah Indonesia terdiri dari laut (Handayani et al. 2004). Selain itu Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah.

Sargassum sp. merupakan golongan rumput laut coklat (Phaeophyta) terbesar di laut tropis, dan rumput laut ini mempunyai kelimpahan yang sangat tinggi, terdapat di wilayah Jawa, Kep. Seribu, Sumatera, dan Sulawesi. Rumput laut coklat memiliki kandungan nutrien yang cukup lengkap. Menurut Handayani et al. (2004), kandungan nutrisi Sargassum sp. meliputi kadar protein kasar 5,19%, kadar abu 36,93%, lemak 1,63%. Giri et al. (2015) menambahkan Sargassum sp. memiliki kandungan protein 7,94%, lemak 0,72%, abu 35,84%, serat kasar 4,93%, dan karbohidrat 50,57%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa Sargassum sp. memiliki nilai karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai sumber karbohidrat menggantikan dedak atau pollard.

Sargassum sp. memiliki kandungan nutrisi yang cukup lengkap, hal tersebut tentunya dapat memberikan pengaruh pertumbuhan apabila ditambahkan pada pakan ikan, sesuai dengan hasil penelitian Kraan et al. (2010), penambahan berbagai macam rumput laut, termasuk Sargassum sp. pada pakan ikan salmon memberikan penambahan bobot ikan, rasio konversi pakan yang lebih baik, serta berkurangnya tingkat kematian. Selain itu penambahan Sargassum sp. dalam pakan mampu meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan pada benih ikan lele (Clarias sp.) (Sahara et al. 2015). Widyantoko et al. (2015) menambahkan 2,48% tepung rumput laut Sargassum sp. dalam pakan udang windu (Penaeus monodon) dan memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan laju pertumbuhan relatif udang windu tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelulushidupan (SR).

Ikan gurami merupakan salah satu komoditas unggulan ikan air tawar. Walaupun memiliki pertumbuhan yang lambat, namun permintaan akan ikan gurami cukup tinggi, hal ini yang menyebabkan para pembudidaya berminat untuk tetap membudidayakannya. Penelitian mengenai penambahan rumput laut jenis Sargassum sp. pada ikan gurami masih belum dilakukan. Sehingga penelitian ini

(10)

2

diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan gurami.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan jumlah penambahan tepung rumput laut Sargassum sp.yang tepat pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan ikan gurami.

METODE PENELITIAN

Persiapan Bahan Baku Rumput Laut Sargassum sp.

Rumput laut Sargassum sp. yang digunakan dalam penelitian berasal dari daerah Anyer, Banten. Rumput laut yang masih basah (sebanyak 15 kg) sebelumnya dicuci dengan air tawar, kemudian dijemur dibawah sinar matahari untuk mengurangi kandungan air yang ada di dalamnya. Setelah itu, rumput laut dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 70ºC selama 12 jam untuk menghilangkan sisa air yang ada di dalam rumput laut hasil penjemuran. Setelah rumput laut kering, selanjutnya dihaluskan hingga menjadi tepung rumput laut. Hasil yang didapatkan sebanyak 900 g tepung rumput laut Sargassum sp..

Proses Pembuatan Pakan Uji

Pakan yang digunakan pada penelitian ini adalah pakan buatan dengan isoprotein 32% dan isoenergi. Perlakuan yang digunakan yaitu penambahan tepung Sargassum sp. sebanyak 0%, 5%, 7,5% dan 10% yang dicampurkan ke dalam pakan sesuai dengan formulasi pakan yang dibuat. Formulasi pakan uji tersaji pada Tabel 1. Selanjutnya pakan uji yang telah dibuat, dianalisis proksimat untuk mengetahui kadar nutrien yang terkandung di dalamnya. Hasil proksimat pakan uji dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Formulasi pakan uji

Bahan (%) Perlakuan/Penambahan Sargassum sp. A (0%) B (5%) C (7,5%) D (10%)

Sargassum sp. 0 5 7,5 10

Tepung Pollard 12 10 9 8

Tepung Dedak 26 23 21,5 20

Bungkil Kedelai 10 10 10 10

Meat Bone Meal 10 10 10 10

Tepung Ikan 25 25 25 25 Tepung Udang 7 7 7 7 Minyak Ikan 1,5 1,5 1,5 1,5 Minyak Jagung 1,5 1,5 1,5 1,5 Vitamin Mix 2,5 2,5 2,5 2,5 Mineral Mix 1,5 1,5 1,5 1,5 Binder 3,0 3,0 3,0 3,0 Total 100 100 100 100

(11)

3 Tabel 2. Hasil uji proksimat pakan uji.

Komposisi (%)* Perlakuan/Penambahan Sargassum sp. A (0%) B (5%) C (7,5%) D (10%) Protein 31,83 32,78 33,26 33,15 Lemak 9,63 10,34 10,26 10,08 Abu 18,18 17,79 17,70 17,09 Serat Kasar 8,08 7,12 7,55 7,34 BETN 32,28 31,97 31,23 32,34 GE (kkal/kg pakan) 4011,18 4118,41 4107,43 4129,86

Keterangan: *Komposisi yang tertera pada Tabel 2 sudah dalam keadaan kering. Kadar air setiap perlakuan : A 4,13%, B 3,24%, C 3,62%, dan D 3,26%. GE (Gross Energy) dihitung berdasarkan protein = 5,6 kkal/g, lemak = 9,4 kkal/g, karbohidrat/BETN = 4,1 kkal/g (Watanabe 1988).

Pemeliharaan Ikan Uji

Wadah yang digunakan berupa akuarium berukuran 60x40x40 cm sebanyak 12 buah. Akuarium selanjutnya diisi air sebanyak 60 liter, ditambahkan aerasi dan heater untuk menjaga suhu tetap hangat, serta plastik hitam yang menutupi akuarium untuk mengurangi stres benih ikan gurami. Setelah 2 hari, ikan dimasukkan dengan padat tebar 20 ekor/60L. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan gurami (Osphronemus goramy) yang berasal dari pembudidaya di daerah Ciseeng, Bogor. Benih yang digunakan memiliki bobot 3,25±0,01 g/ekor sebanyak 240 ekor. Ikan gurami diaklimatisasi terlebih dahulu selama 7 hari dengan diberi pakan komersial. Pemeliharaan dilakukan selama 60 hari dan diberi pakan uji secara at satiation sebanyak tiga kali sehari, yaitu pada pukul 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB. Jumlah pakan yang diberikan dicatat untuk mengetahui konsumsi pakan ikan setiap hari.

Manajemen kualitas air dilakukan dengan penyifonan, serta air pemeliharaan diganti sebanyak 20% setiap pagi hari. Monitoring kualitas air dilakukan dengan mengukur suhu setiap hari, DO dan pH pada awal, tengah, dan akhir pemeliharaan. Kisaran suhu selama penilitian berkisar 30-32oC, suhu optimal untuk kehidupan ikan antara 25-32oC (Boyd 1982). Ini menunjukan bahwa suhu air selama penelitian masih baik untuk kehidupan benih ikan gurami. Ikan dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH antara 6,5-9,0 (Boyd 1982), dan kisaran pH selama penelitian 7,4-7,8. Kandungan oksigen terlarut (DO) selama penelitian berkisar 4,56-6,93 mg/L. Berdasarkan nilai tersebut, kualitas air masih dalam kisaran baik untuk kehidupan benih ikan gurami. Penimbangan biomassa ikan gurami dilakukan pada awal (hari ke-0) dan akhir (hari ke-60) pemeliharaan. Setelah pemeliharaan selesai dilakukan analisis proksimat pada tubuh ikan gurami.

Parameter Uji Jumlah Konsumsi Pakan (JKP)

Ikan diberi pakan dengan metode at satiation, sehingga untuk menghitung jumlah konsumsi pakan, maka pakan ikan ditimbang sebelum dan sesudah diberikan. Selisih antara berat sebelum dan sesudah pemberian pakan maka itu menjadi data jumlah konsumsi pakan.

(12)

4

Rasio Efisiensi Protein (REP)

Protein efisiensi ratio dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Zonneveld 1991):

Keterangan:

REP : Rasio Efisiensi Protein

Wt : Biomassa ikan akhir pemeliharaan (g) Wo : Biomassa ikan awal penelitian (g)

Pi : Bobot protein pakan yang dikonsumsi (g) Retensi Protein (RP)

Retensi protein dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut

(Takeuchi 1988):

( ) ( )

Keterangan:

RP : Retensi protein (%)

Pt : Jumlah protein tubuh pada akhir pemeliharaan (g) P0 : Jumlah protein tubuh pada awal pemeliharaan (g) P : Jumlah protein yang dikonsumsi (g)

Retensi Lemak (RL)

Retensi lemak didapatkan melalui analisis proksimat lemak tubuh ikan gurami pada awal dan akhir penelitian. Retensi lemak dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Takeuchi 1988):

( ) ( )

Keterangan

RL : Retensi lemak (%)

Lt : Jumlah lemak tubuh pada akhir pemeliharaan (g) L0 : Jumlah lemak tubuh pada awal pemeliharaan (g) L : Jumlah lemak yang dikonsumsi (g)

Pertumbuhan Mutlak (PM)

Pertumbuhan mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Takeuchi 1988):

PM = Wt – Wo Keterangan:

PM : Pertumbuhan Mutlak (g) Wt : Biomassa ikan akhir (g) Wo : Biomassa ikan awal (g) Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS)

Laju pertumbuhan spesifik dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Huisman, 1987):

(13)

5

( ) [√

]

Keterangan:

LPS : Laju Pertumbuhan Spesifik (%/hari)

Wt : Bobot rata-rata pada pada hari ke –t (gram/ekor) Wo : Bobot rata-rata pada pada hari ke –0 (gram/ekor) t : Waktu pemeliharaan (hari)

Efisiensi Pakan (EP)

Efisiensi pakan dihitung untuk melihat pemanfaatan pakan yang digunakan untuk pertumbuhan. Efisiensi pakan dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut (Tacon 1987):

( )

Keterangan:

EP : Efisiensi Pakan (%) Wt : Bobot ikan akhir (g) W0 : Bobot ikan awal (g) Wa : Bobot ikan mati (g) F : Pakan yang diberikan (g) Kelangsungan Hidup (KH)

Tingkat kelangsungan hidup (KH) ikan merupakan persentase jumlah ikan akhir yang hidup dengan jumlah ikan yang awal ditebar. Kelangsungan hidup ikan dihitung setelah masa akhir pemeliharaan ikan. Formulasi perhitungan kelangsungan hidup adalah sebagai berikut (Effendie, 1979):

( )

Keterangan

KH = Kelangsungan hidup (%) Nt = Jumlah ikan akhir/panen (ekor) N0 = Jumlah ikan awal/tebar (ekor)

Analisis data

Rancangan percobaan yang dilakukan adalah rancangan acak lengkap. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel 2007 dan SPSS 22.0 melalui metode sidik ragam (ANOVA) dengan selang kepercayaan 95%.

(14)

6

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kinerja pertumbuhan ikan gurami yang diberi pakan dengan penambahan Sargassum sp. selama 60 hari pemeliharaan, yaitu nilai pertumbuhan mutlak (PM), jumlah konsumsi pakan (JKP), efisiensi pakan (EP), rasio efisiensi protein (REP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), laju pertumbuhan spesifik (LPS), kelangsungan hidup (KH) untuk masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kinerja pertumbuhan ikan gurami yang diberi pakan dengan penambahan

Sargassum sp. pada persenatase yang berbeda selama 60 hari pemeliharaan. Parameter Perlakuan/ Penambahan Sargassum sp.

A (0%) B (5%) C (7,5%) D (10%)

JKP (g) 79,62±14,54a 81,97±24,24a 94,74±10,57a 62,34±3,72a REP 1,18±0,08a 1,49±0,25ab 1,83±0,06b 1,55±0,08ab RP (%) 19,99±0,68a 24,63±3,87ab 27,09±1,69b 27,21±1,22b RL (%) 53,55±2,72a 51,30±7,66a 56,19±2,52ab 67,99±5,98b PM (g) 26,77±7,20a 39,67±16,36ab 55,43±7,87b 30,90±2,17ab LPS (%/hari) 0,57±0,13a 0,77±0,26ab 1,01±0,11b 0,64±0,04ab EP (%) 37,56±2,48a 47,22±7,91ab 58,38±1,88b 49,59±2,58b

KH (%) 95±0a 95±0a 98±2,88a 93±2,88a

Keterangan: Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh perbedaan yang nyata (p<0.05). Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata dan simpangan baku. Nilai pertumbuhan mutlak (PM), jumlah konsumsi pakan (JKP), efisiensi pakan (EP), rasio efisiensi protein (REP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL), laju pertumbuhan spesifik (LPS), dan kelangsungan hidup (KH) benih ikan gurami selama penelitian. Berdasarkan Tabel 3, pakan dengan penambahan Sargassum sp. mampu menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol (tanpa penambahan Sargassum sp.). Pakan dengan penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% mampu meningkatkan nilai REP sebesar 1,83, lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya dan berbeda dengan kontrol (p<0,05). Selain itu nilai retensi protein (RP) semakin meningkat dengan bertambahnya dosis penambahan Sargassum sp., penambahan Sargassum sp sebanyak 10% memberikan nilai RP sebesar 27,21%, namun tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5%. Penambahan Sargassum sp. sebanyak 10% mampu memberikan nilai retensi lemak (RL) sebesar 67,99% lebih tinggi dari perlakuan yang lainnya, namun tidak memberikan perbedaan yang nyata (p>0,05) terhadap penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5%.

Pertumbuhan mutlak yang dihasilkan pada penelitian ini sebesar 55,43 g pada penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5%, sekaligus memberikan nilai LPS dan EP terbaik yaitu 1,01%/hari dan 58,38%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang lain, sekaligus memberikan pengaruh yang nyata bila dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan analisis statistik penambahan Sargassum sp. pada pakan tidak memberikan pengaruh nyata pada setiap perlakuan untuk jumlah konsumsi pakan dan kelangsungan hidup benih ikan gurami.

(15)

7

Gambar 1. Biomassa awal dan akhir pemeliharaan benih ikan gurami Berdasarkan Gambar 1, terjadi penambahan bobot biomassa setiap perlakuan. Penambahan Sargassum sp. pada pakan mampu memberikan pertumbuhan pada benih ikan gurami mencapai 121,07 g pada perlakuan penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5%. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain, dan terjadi penurunan biomassa benih ikan gurami pada penambahan Sargassum sp. sebanyak 10%.

Pembahasan

Jumlah konsumsi pakan (JKP) merupakan jumlah pakan yang diberikan selama penelitian, dan pada penelitian ini JKP tidak menunjukkan perbedaan yang nyata untuk setiap perlakuan (p>0,05). Hal tersebut diduga pemberian Sargassum sp. pada pakan tidak berpengaruh pada bau pakan (atraktan), sehingga konsumsi pakan ikan sama dengan pakan kontrol (tanpa penambahan Sargassum sp.). Pakan yang dikonsumsi, akan dimetabolisme untuk pertumbuhan ikan. Pertumbuhan dapat terjadi apabila pakan dapat dicerna dengan baik dan nutrien dalam pakan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk maintenance, sehingga energi yang berlebih dapat disimpan di dalam tubuh. Oleh karena itu, kualitas pakan menjadi hal terpenting dalam pemanfaatan nutrien, karena berkaitan erat dengan sumber energi dan protein yang mudah dicerna.

Rasio efisiensi protein menunjukkan pemanfaatan protein dari pakan yang dikonsumsi oleh ikan untuk memberikan pertumbuhan. Berdasarkan hasil penelitian, nilai REP tertinggi untuk penelitian ini sebesar 1,83 (Tabel 3), yaitu pada pakan dengan penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5%. Nilai REP ini lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain, dan berbeda nyata dengan kontrol (p<0,05). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sahara et al. (2015) pada ikan lele, bahwa pakan yang ditambahkan dengan tepung Sargassum sp. (3% dan 4%) memberikan nilai rasio efisiensi protein lebih tinggi (2,00–2,04) dari pakan kontrol (tanpa Sargassum sp.) yang hanya 1,91. Sehingga penambahan Sargassum sp. pada pakan ikan lele mampu meningkatkan nilai REP sebesar 6,8%. Widyantoko et al. (2015) menambahkan, penambahan Sargassum sp. pada pakan juvenil udang windu mampu memberikan nilai REP sebesar 0,87, lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (0,66) dan terjadi peningkatan nilai REP sebesar 31,81%. Namun pada ikan gurami, penambahan Sargassum sp. pada

0 20 40 60 80 100 120 140 A (0%) B (5%) C (7,5%) D (10%) Bi om assa ( g)

Jumlah Penambahan Sargassum sp.

Biomassa Awal Biomassa Akhir

(16)

8

pakan mampu memberikan nilai REP sebesar 1,83 dan terjadi peningkatkan sebesar 55,08% apabila dibandingkan dengan kontrol (1,18). Sehingga penambahan Sargassum sp. lebih efisien diberikan kepada ikan gurami. Hal tersebut berkaitan dengan karakter dari gurami yang termasuk omnivora cenderung herbivor, sehingga ikan gurami memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mencerna karbohidrat yang berasal dari Sargassum sp..

Nilai retensi protein (RP) yang terdapat pada tubuh ikan gurami mencapai 27,21% pada perlakuan penambahan Sargassum sp. sebanyak 10% (Tabel 3). Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya namun tidak memberikan perbedaan (p>0,05) pada penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% yang menghasilkan nilai RP sebesar 27,09%. Retensi protein menunjukkan banyaknya protein pakan yang mampu disimpan oleh tubuh ikan, semakin tinggi nilai retensi protein maka pakan yang diberikan semakin baik kualitasnya. Penambahan Sargassum sp. pada pakan memberikan perbedaan pada nilai retensi protein, dan semakin tinggi penambahan Sargassum sp. pada pakan, memberikan nilai retensi protein yang cukup tinggi. Penambahan Sargassum sp. sebanyak 10% mampu memberikan nilai retensi protein yang lebih tinggi, diduga sumber energi berasal dari karbohidrat. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi, pemberian energi yang optimum pada ikan merupakan hal yang penting karena kelebihan atau kekurangan energi dapat menyebabkan pertumbuhan menurun (Lovell 1988). Energi yang digunakan untuk pemeliharaan tubuh dan aktivitas lainnya perlu terpenuhi lebih dahulu sebelum energi digunakan untuk pertumbuhan. Apabila dalam pakan terdapat kekurangan energi dari karbohidrat atau lemak maka ikan akan menggunakan sebagian protein untuk memenuhi kebutuhan energinya. Hubungan antara karbohidrat dan protein ini dikenal sebagai protein sparring effect (NRC 1983). Sehingga pemberian karbohidrat yang cukup dalam pakan dapat mengurangi perombakan protein menjadi energi (Suprayudi et al. 2010)

Penambahan Sargassum sp. pada pakan benih ikan gurami memberikan nilai retensi lemak yang cukup tinggi. Nilai retensi lemak (RL) pada tubuh ikan gurami mencapai 67,99% (Tabel 3) pada penambahan Sargassum sp sebanyak 10%, nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya, termasuk dengan kontrol (53,55%) dan memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05). Namun nilai retensi lemak pada penambahan Sargasum sp. sebanyak 10% (67,99%) tidak memberikan perbedaan yang nyata pada penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% (56,19%). Retensi lemak menunjukkan banyaknya lemak pakan yang disimpan dalam tubuh ikan. Semakin tinggi nilai retensi lemak menunjukkan bahwa karbohidrat yang terdapat pada pakan lebih efisien digunakan sebagai sumber energi. Terbukti dengan penambahan Sargassum sp. sebanyak 10% mampu memberikan nilai retensi lemak yang tinggi, karena menurut Hadadi (2002) karbohidrat selain digunakan sebagai sumber energi dapat dikonversi menjadi lemak tubuh karena adanya proses lipogenesis. Karbohidrat yang dikonsumsi dan melebihi jumlah energi yang diperlukan akan disimpan dalam bentuk lemak, karena simpanan dalam bentuk glikogen di hati sangat terbatas. Selain itu itu lemak dapat disimpan dalam jaringan terbuka dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama (Nur dan Adijumawa 1988).

Penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% mampu memberikan nilai penambahan bobot benih ikan gurami sebesar 55,43 g, bobot tersebut lebih tinggi

(17)

9 dibandingkan dengan kontrol (26,77 g) dan memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05). Namun nilai tersebut tidak berbeda nyata (p>0,05) pada penambahan Sargassum sp. sebanyak 5% dan 10%. Penambahan Sargassum sp. pada pakan benih gurami terbukti mampu meningkatkan 2 kali pertumbuhan dibandingkan dengan kontrol. Hal ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sahara et al. (2015) pada benih lele (Clarias sp.), bahwa penambahan Sargassum sp. dalam pakan mampu meningkatkan pertumbuhan 1,2 kali dibandingkan dengan kontrol (tanpa penambahan Sargassum sp.). Selain itu, penambahan tepung Sargassum sp. dalam pakan buatan udang vaname (Litopenaeus vannamei) hanya mampu meningkatkan pertumbuhan 1,1 kali dibandingkan dengan kontrol (Hafezieh et al. 2005).

Pertumbuhan ikan uji dapat digambarkan dengan nilai LPS, laju pertumbuhan spesifik merupakan proses perubahan bobot individu pada periode waktu tertentu. Laju pertumbuhan juga menjelaskan kemampuan ikan dalam memanfaatkan nutrien pakan yang disimpan dalam tubuhnya kemudian mengkonversinya menjadi energi. Berdasarkan Tabel 3, laju pertumbuhan spesifik ikan gurami tertinggi dicapai pada perlakuan C dengan penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% yaitu sebesar 1,01%, sedangkan LPS terendah yaitu sebesar 0,57% pada perlakuan kontrol.

Peningkatan laju pertumbuhan spesifik erat kaitannya dengan efisiensi pakan. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan Sargassum sp. sebanyak 7,5% mampu menghasilkan nilai EP sebesar 58,38% (Tabel 3). Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan perlakuan yang lainnya termasuk dengan kontrol (tanpa penambahan Sargassum sp.) yang menghasilkan EP sebesar 37,56%. Bindu dan Sobha (2005) menyatakan penambahan tepung Sargassum sp. dalam pakan buatan pada Grass carp mampu menghasilkan efisiensi pemanfaatan pakan yang lebih baik yaitu sebesar 22,39%, dibandingkan dengan pakan tanpa tepung Sargassum sp. yang hanya 14,92%. Asha et al. (2004) menambahkan, bahwa pemanfaatan efisiensi pakan yang baik terdapat pada pakan yang mengandung Sargassum sp. untuk juvenil teripang putih. Semakin tinggi nilai EP, maka semakin efisien penyerapan nutrien pakan ke dalam tubuh ikan. Efisiensi pakan didefinisikan sebagai peningkatan berat biomassa ikan per unit berat pakan yang dikonsumsi. Semakin besar nilai EP pakan, menunjukkan kualitas pakan tersebut semakin baik. Sehingga komposisi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan untuk pertumbuhan merupakan faktor yang sangat penting. Pakan yang kekurangan nutrien-nutrien esensial untuk tumbuh seperti asam amino esensial, asam lemak, vitamin, dan mineral akan menyebabkan penurunan efisiensi pakan (Hepher 1990).

Penambahan Sargassum sp. pada pakan terbukti tidak menyebabkan kelangsungan hidup benih ikan gurami menurun. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas air mencukupi untuk kehidupan ikan gurami.

(18)

10

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Penambahan rumput laut jenis Sargassum sp. mampu memberikan pertumbuhan untuk benih ikan gurami, dan dosis 7,5% memberikan kinerja pertumbuhan terbaik.

Saran

Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai penambahan Sargassum sp. pada skala lapang untuk kegiatan budidaya gurami.

DAFTAR PUSTAKA

Asha PS, Rajagopalan V, and Dikawar K. 2004. Effect of Seaweed, Seagrass and Powdered Algae in Rearing the Hatchery Procuded Juveniles of Sea Cucumbers (Holothuria Scabra) Jaeger. Central Marine Fisheries Research Institute, Kochi, Kerala. 82-83 p.

Bindu, MS and Sobha V. 2005. Impact of Marine Algal Diets on the Feed Utilization and Nutrient Digestibility of Grass Carp (Ctenopharyngodon idella). Departement of Environmental Science, University of Kerala, Kariavattom campus, Thiruvananthapuram, Kerala, India, 65-66 p.

Boyd, CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam-Oxford, New York, 585 p. Effendie MI. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri, Bogor.

Giri NA, Muhammad M, Ni Wayan WA, Wawan A, Ibnu R, dan Retno A. 2015. Evaluasi Bahan Baku Pakan dan Pengembangan Pakan Buatan Untuk Budidaya Pembesaran Abalon (Haliotis aquamata). Jurnal Riset Akuakultur 3(10): 379-388

Hafezieh M, Ajdari DA, Ajdehakosh P, and Hosseini SH. 2013. Using Oman Sea Sargassum illicifolium Meal for Feeding White Leg Shrimp Litopenaeus vannamei. Iranian Journal of Fisheries Sciences, 13 (1): 73-80.

Hadadi A. 2002. Pengaruh Kadar Karbohidrat Pakan Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pakan Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lacepede) Ukuran 70-80 g. [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Handayani T, Sutarno, dan Ahmad DS. 2004. Analisis Komposisi Nutrisi Rumput

Laut Sargassum crassifolium J. Agardh. Biofarmasi 2(2): 45-52.

Hasan MR. 2010. On-farm feeding and feed management in aquaculture Manila, the Philippines. FAO Aquaculture Newsletter. 45(1): 48-49.

(19)

11 Huisman EA. 1987. Principles of Fish Production. Departemen of Fish Culture and Fisheries. Wageningen Agricultural University, Wageningen. Netherlands. p: 57-122.

Kraan S, Martin P, and Mair C. 2010. Natural and sustainable seaweed formula that replaces synthetic additives in fish feed: Google Patents.

Lovell T. 1988. Nutrition and Feeding of Fish. Auburn University. Published by Van Nostrand Reinhold, New York. 260 p.

NRC. 1983. Nutrient requirements of Warmwater fishes and Shelfishes. National Academy of Science Press, Washington D.C. 102 p.

Nur MA dan Adijumawa. 1998. Kimia Biologi. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Hal: 215.

Sahara R, Vivi EH, dan Agung S. 2015. Pengaruh Penambahan Tepung Alga Coklat (Sargassum sp.) Dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Efisiensi Pemanfaatan Pakan Benih Lele (Clarias sp.). Journal of Aquaculture Management and Technology, 4(2): 1-8.

Suprayudi MA, Dedi Y, dan Ridwan. 2010. Penggunaan Kombinasi Kadar Karbohidrat Berbeda Dari Tepung Tapioka, Jagung dan Pollard Terhadap Kinerja Pertumbuhan Juvenil Larva Udang Windu (Penaeus monodon). Jurnal Akuakultur Indonesia, 9(2): 104-109.

Takeuchi T. 1988. Laboratory Work Chemical Evaluation of Dietary Nutrients, p 179-225. In: Fish Nutrition and Mariculture. Watanabe T (ed). Department of Aquatic Bioscience. Tokyo University of Fisheries.

Tacon, AG. 1987. The Nutrition and Feeding of Farmed Fish and Shrimp-A Traning Mannual. FAO of The United Nations, Brazil, pp. 106-109.

Watanabe, T. 1988. Fish Nutrition and Marine culture: JICA Text Book General Aquaculture Course. Japan: University of Fisheries.

Widyantoko W, Pinandoyo. dan Vivi EH. 2015. Optimalisasi Penambahan Tepung Rumput Laut Coklat (Sargassum sp.) yang Berbeda Dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Juvenil Udang Windu (Penaeus monodon). Journal of Aquaculture Management and Technology, 4(2): 9-17. Zonneveld N, Huisman EA, dan Boon JH. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan.

(20)

12

LAMPIRAN 1. Uji Homogenitas

(21)

13

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 15 Oktober 1993. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan bapak Wasjan dan ibu Titin Rasmanah. Penulis menyelesaikan pendidikan tahun 2011 dari SMA N 1 Leuwiliang Bogor dan pada tahun 2012 penulis diterima melalui jalus tes tulis SNMPTN di Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif mengikuti dalam kegiatan kepanitian acara Aquaculture Festival 2014, dan menjadi ketua pelaksana Aquaculture Festival pada tahun 2015. Selain itu, penulis aktif menjadi kepengurusan di HIMAKUA (Himpunan Mahasiswa Akuakultur) divisi Pengabdian Masyarakat sampai tahun 2015. Tahun 2014, penulis mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang didanai oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI). Penulis pernah melakukan kegiatan magang di Balai Pengembangan Budidaya Ikan Patin dan Lele tahun 2014. Bulan Juni-Juli 2015 penulis melaksanakan Praktik Lapangan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo dengan judul Pembenihan Kerapu Cantang (Epinephelus sp.) di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur. Tugas akhir dalam penyelesaian pendidikan tinggi di Institut Pertanian Bogor untuk mendapatkan gelar sarjana perikanan dengan judul “Pemanfaatan Sargassum sp. Sebagai Bahan Baku Pakan Gurami Osphronemus goramy”.

Gambar

Tabel 3. Kinerja pertumbuhan ikan gurami yang diberi pakan dengan penambahan  Sargassum sp

Referensi

Dokumen terkait

Pemberian pakan ikan gurami yang menggunakan pelet buatan dengan penambahan inositol akan meningkatkan laju pertumbuhan ikan gurami dibandingkan dengan perlakuan

pada pakan komersil dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan melindungi ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dari mikroorganisme yang disebabkan oleh protozoa

Hasil dan Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan EPP, protein efisiensi rasio PER, pertumbuhan mutlak G, laju pertumbuhan Spesifik

Rendahnya nilai laju pertumbuhan spesifik pada perlakuan P0 (0% fermentasi tepung limbah sayur sawi dan kubis) karena tidak adanya fermentasi tepung limbah sayur sawi

Penggunaan tepung lemna terfermentasi pada pakan buatan ikan lele dumbo (C. gariepinus) memberikan pengaruh yang nyata terhadap total konsumsi pakan (TKP), efisiensi

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan konsentrasi 2% tepung alga coklat ( S. cristaefolium ) dalam pakan mampu meningkatkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan (EPP),

r = 0,7471 berarti penggantian tepung kedelai dengan fermentasi ampas tahu dalam pakan memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap laju pertumbuhan harian benih ikan gurami..

Kesimpulan yang dapat disimpulkan dari penelitian ini adalah penambahan tepung alga coklat (Sargassum sp.) dalam pakan mampu meningkatkan nilai