SA
LIN
AN
1
P U T U S A N
Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008
Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia selanjutnya disebut Komisi
yang memeriksa dugaan pelanggaran terhadap Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat selanjutnya disebut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 dalam tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph (selanjutnya disebut PSG) di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007, yang dilakukan oleh:---
1. PT. Tiara Kencana, dengan alamat kantor di Wisma Tiara Lt. 5 Jalan Raya Pasar
Minggu KM 18 No. 17 Jakarta Selatan 12510, selanjutnya disebut Terlapor I; ---
2. PT. Bhakti Wira Husada, dengan alamat kantor di Jalan Tebet Utara I No. 20 Jakarta
Selatan 12820, selanjutnya disebut Terlapor II; ---
3. PT. Ilong Prayatna, dengan alamat kantor di Jalan Balikpapan I No. 3B Jakarta Pusat
10130, selanjutnya disebut Terlapor III;---
4. PT. Kamara Idola, dengan alamat kantor di Jalan Pelepah Hijau V Blok TS. 2/2
Jakarta Utara, selanjutnya disebut Terlapor IV; ---
5. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Rumah Sakit Duren Sawit Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007, selanjutnya disebut Panitia, dengan
alamat kantor di Jalan Duren Sawit Baru, Jakarta Timur, selanjutnya disebut Terlapor
V;---
telah mengambil Putusan sebagai berikut: ---
Majelis Komisi:---
Setelah membaca surat-surat dan dokumen-dokumen dalam perkara ini; --- Setelah mendengar keterangan para Terlapor;--- --- Setelah membaca Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan (selanjutnya disebut LHPL); ---
Setelah membaca Berita Acara Pemeriksaan (selanjutnya disebut BAP); ---
TENTANG DUDUK PERKARA
SA
LIN
AN
disebut PSG) di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta TahunAnggaran 2007 (vide bukti A1);--- 2. Menimbang bahwa setelah melakukan klarifikasi dan penelitian atas Laporan tersebut, maka Komisi menyatakan Laporan tersebut telah lengkap dan jelas (vide bukti A3); --- 3. Menimbang bahwa berdasarkan Laporan yang lengkap dan jelas tersebut, Komisi
menerbitkan Penetapan Nomor 149/KPPU/PEN/VII/2008 tanggal 11 Juli 2008 tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008, untuk melakukan Pemeriksaan Pendahuluan terhitung sejak tanggal 11 Juli 2008 sampai dengan 25 Agustus 2008 (vide bukti A4);--- 4. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan, Direktur Eksekutif menerbitkan Surat Tugas Nomor 648/SET/DE/ST/VII/2008 tanggal 11 Juli 2008 yang menugaskan Sekretariat Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 (vide bukti A5);--- 5. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan, Tim Pemeriksa
menemukan adanya indikasi kuat pelanggaran Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 (vide bukti A20); --- 6. Menimbang bahwa berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan, Tim
Pemeriksa merekomendasikan kepada Rapat Komisi agar Pemeriksaan Pendahuluan dilanjutkan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan (vide bukti A20); --- 7. Menimbang bahwa atas dasar rekomendasi Tim Pemeriksa, Komisi menyetujui dan
menerbitkan Penetapan Komisi Nomor 182/KPPU/PEN/VIII/2008 tanggal 26 Agustus 2008 tentang Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 terhitung sejak tanggal 26 Agustus 2008 sampai dengan tanggal 24 November 2008 (vide bukti A21); - 8. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Lanjutan, Direktur Eksekutif
menerbitkan Surat Tugas Nomor 808/SET/DE/ST/VIII/2008 tanggal 26 Agustus 2008 yang menugaskan Sekretariat Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 (vide bukti A22); --- 9. Menimbang bahwa dalam proses Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan,
Tim Pemeriksa telah mendengar keterangan dari para Terlapor dan para Saksi (vide bukti B1-B22);--- 10. Menimbang bahwa identitas serta keterangan para Terlapor dan para Saksi telah dicatat
dalam BAP yang telah ditandatangani oleh para Terlapor dan para Saksi (vide bukti B1-B22); ---
SA
LIN
AN
3 12. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa membuat
LHPL yang berisi:--- 12.1 Pokok Perkara --- Adanya dugaan pelanggaran Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang persekongkolan dalam tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph (selanjutnya disebut PSG) di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007, dalam bentuk: --- 12.1.1 Persekongkolan Horizontal---
12.1.1.1. Terdapat persekongkolan secara horizontal yang dilakukan oleh para peserta tender dalam mengatur pemenang tender, dimana dalam setiap proses tender para Terlapor I, II, III dan IV diwakili oleh pihak yang tidak terdaftar sebagai karyawan Terlapor I, II, III dan IV; --- 12.1.2 Persekongkolan Vertikal--- 12.1.2.1. Terdapat persekongkolan secara vertikal antara Panitia
SA
LIN
AN
12.2.2.3. Komposisi penilaian dokumen penawaran dapat dilihat padabagan(vide bukti C24): - - -
12.2.2.4. Metode penyampaian dokumen dilakukan dengan 1 (satu) sampul (penyampaian dokumen penawaran terdiri dari persyaratan administrasi, teknis dan penawaran harga dimasukkan dalam satu sampul) (vide bukti C24); ---
12.2.3 Kronologis Tender --- 12.2.3.1. 5 November 2007, Panitia melaksanakan pengumuman lelang di Surat Kabar Harian Media Indonesia dan di Papan Pengumuman RS Duren Sawit (vide bukti C27). - - -
12.2.3.2. 6 s.d 14 November 2007, Masa pendaftaran dan pengambilan dokumen lelang. Pada tahap ini tercatat 9 perusahaan yang mendaftar. Nama-nama orang yang mendaftar adalah (vide bukti C25, C41): - - -
No Nama Nama Perusahaan
1 Agus Salim PT Putra Lakopo Perkasa 2 Ir. RNGT Tri Retno PT Tiara Kencana
3 Debby Armeiyanti PT Ilong Prayatna 4 Julius TS PT Bhakti Wira Husada
5 Hasan CV Lami
6 Jequara F CV Buray Indah
7 Pardin Panggabena PT Amarta Mitra Selaras 8 Herry Novia PT Kamara Idola
9 Edward PT Sarana Medika Oktindo
12.2.3.3. 15 November 2007, Panitia melaksanakan penjelasan pekerjaan (Aanwijzing) yang diikuti oleh 8 perusahaan(vide bukti C19, C20, C22). - - -
No Nama Nama Perusahaan Keteranga
n
1 Ida PT Bhakti Wira Husada Marketing 2 Tri PT Tiara Kencana Purchasing 3 Hary S PT Putra Lakopoperkasa Marketing 4 Mulyani PT Kamara Idola Staff 5 Rasda PT Ilong Pratama Marketing 6 Daniel T PT Amarta Mitra Selaras Marketing 7 Jequard F CV Bumi Indah Staf 8 Edward PT Sarana Medica Optindo Staf
No. Unsur Bobot
1. Evaluasi administrasi 20 %
2. Evaluasi teknis 40 %
3. Evaluasi harga 40 %
SA
LIN
AN
5 12.2.3.4. Terdapat beberapa perubahan baik pada persyaratan
administrasi maupun teknis dan hal tersebut termuat dalam risalah aanwijzing(vide bukti C19); - - - 12.2.3.5. Nilai OE: Rp. 1.201.500.000,-. (Satu Miliar Dua Ratus Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) (vide bukti C19) --- 12.2.3.6. 20 November 2007, Panitia melaksanakan proses
pemasukan dan pembukaan dokumen penawaran. (vide bukti C13, C15, C41)- - -
12.2.3.7. Pada tahap ini hanya diikuti oleh 6 perusahaan. Berikut adalah hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh panitia(vide bukti C9, C10, C13): - - - 12.2.3.8. 20 November 2007, Panitia menyampaikan Laporan Hasil
Pelelangan Pengadaan Alat Kedokteran PSG RS Duren Sawit kepada Direktur RS Duren Sawit(vide bukti C8); - - -
SA
LIN
AN
12.2.3.10. Berdasarkan evaluasi penilaian dari Panitia tersebut diatasdiperoleh 3 calon pemenang dengan urutan sebagai berikut(vide bukti C7, C41): - - -
No Calon Pemenang Nama Perusahaan Harga Penawaran
(Rp)
1 Pertama PT Bhakti Wira Husada 1.197.982.500,00
2 Kedua PT Tiara Kencana 1.198.150.000,00
3 Ketiga PT Ilong Prayatna 1.199.850.000,00
12.2.3.11. 26 November 2007, Direktur Rumah Sakit menetapkan pemenang pelelangan pekerjaan pengadaan alat kedokteran polysomnograph (PSG) Rumah Sakit Duren Sawit Propinsi DKI Jakarta(vide bukti C6). - - -
12.2.3.12. 27 November 2007, Panitia mengumumkan pemenang lelang pengadaan alat kedokteran Polysomnograph. Adapun pemenang pelelangan adalah PT Bhakti Wira Husada dengan harga penawaran Rp. 1.197.982.500,- (satu milyar seratus sembilan puluh tujuh juta sembilan ratus delapan puluh dua ribu lima ratus rupiah) (vide bukti C5, C41).---. 12.2.3.13. 29 November 2007, Direktur RS Duren Sawit menunjuk
pemenang lelang pengadaan alat kedokteran Polysomnograph(vide bukti C4, C41). ---12.2.3.14. 30 November 2007, Penandatanganan surat perjanjian
(kontrak) antara Direktur RS Duren Sawit dan Direktur PT Bhakti Wira Husada (vide bukti C1, C2, C41). ---12.2.3.15. 30 November 2007, PT Amarta Mitra Selaras melakukan
sanggahan yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut(vide bukti C42): - - -
12.2.3.15.1. Bahwa spek teknis yang tertera pada RKS mengarah ke merk Biologic, Type Sleep Scan Vision. - - -
SA
LIN
AN
7 Administrasi PT Tiara Kencana) dan PT Kamara Idola diwakili oleh Sdri. Mulyani (Staf PT Tiara Kencana). --- 12.2.3.15.3. Bahwa penawaran harga dari PT Tiara
Kencana selaku distributor tunggal produk PSG merk Biologic lebih mahal dari penawaran PT Bhakti Wira Husada selaku pemenang lelang, padahal PT Tiara Kencana adalah pemilik barang dan barang yang ditawarkan pun sama. --- 12.2.3.15.4. Bahwa registrasi Depkes/AKL dari PT
Bhakti Wira Husada nama alat tertulis EEG sedangkan yang dibutuhkan adalah PSG dan tipenya tertulis Sleepscan TM Netlink yang seharusnya Sleep Scan Vision. --- 12.2.3.15.5. Bahwa spesifikasi yang terdapat di RKS
sama persis dengan spesifikasi yang tertulis pada brosur EEG merk Biologic yang ditawarkan PT Bhakti Wira Husada, sehingga dapat disimpulkan Panitia telah mengarah ke 1 (satu) merk barang atau mengarah ke salah satu peserta.--- 12.2.3.16. 14 Desember 2007, Direktur Rumah Sakit Duren Sawit memberikan jawaban atas surat sanggahan dari PT Amarta Mitra Selaras sebagai berikut (vide bukti C43): ---12.2.3.16.1. Bahwa proses lelang yang dilaksanakan telah
mengacu kepada ketentuan dan saat aanwijzing RKS telah dibahas secara terbuka;--- 12.2.3.16.2. Bahwa pengadaan alat kedokteran PSG
merupakan satu paket dengan pengadaan alat sebelumnya yaitu sleep analyzer sehingga harus compatible dan spesifikasi harus selaras. - - -
SA
LIN
AN
para peserta lelang tersebut sudah memenuhikriteria mewakili perusahaannya masing-masing; - - -
12.2.3.16.4. Bahwa Panitia melakukan evaluasi atas dasar metodologi dan analisa harga yang menyatakan PT Bhakti Wira Husada mendapat nilai tertinggi, dan PT Tiara Kencana sebagai peringkat ke-2 dan PT Ilong Prayatna sebagai peringkat ke-3. - - -
12.2.4 Hasil Pemeriksaan ---
12.2.4.1. Pemeriksaan Terlapor I (PT Tiara Kencana) (vide bukti B1, B10) --- 12.2.4.1.1. Bahwa Terlapor I merupakan distributor
farmasi dan alat kesehatan. Terlapor juga merupakan sole agent dari berberapa merk kesehatan seperti: Micro Med, KAMMIN, DNS, Biologic, Olympic Medika dan Smithan Nephew. - - -
12.2.4.1.2. Bahwa PT Bhakti Wira Husada, PT Ilong Prayatna dan PT Kamara Idola merupakan pelanggan dari Terlapor I. - - -
12.2.4.1.3. Bahwa menurut Terlapor I, PT Bhakti Wira Husada dapat menawarkan harga lebih rendah karena PT Bhakti Wira Husada menanggung sendiri PPN, biaya dokumen dan keuntungan distributornya dikurangi. - - -
12.2.4.1.4. Bahwa PT Tiara Kencana tidak mengetahui harga penawaran dari peserta tender yang lain hingga pembukaan dokumen penawaran. - - -
12.2.4.1.5. Bahwa menurut Terlapor I spesifikasi teknis alat dalam tender ini mendekati alat yang bermerk Biologi dan di Indonesia hanya Terlapor I yang menjadi sole agentnya. - - -
SA
LIN
AN
9 12.2.4.1.7. Bahwa EEG dimungkinkan untuk
menggunakan merk yang berbeda dengan PSG namun pada beberapa kasus ada berberapa alat yang tidak kompatibel terhadap PSG merk Biologic. - - -
12.2.4.1.8. Bahwa semua tenaga ahli PSG disediakan oleh Terlapor I, karena itu dalam dokumen penawaran Terlapor II, III dan IV kesemuanya sama dengan tenaga ahli dari Terlapor I. - - -
12.2.4.1.9. Bahwa pesaing dari PSG Biologic adalah Nihon Kohden (Jepang), Nickolite (USA) dan Compumedic (Australia). - - -
12.2.4.1.10. Bahwa Terlapor I menseleksi perusahaan-perusahaan yang meminta surat dukungan, apakah perusahaan tersebut bisa dipercayai atau tidak. - - -
12.2.4.1.11. Bahwa PT Tiara Kencana memiliki staff marketing tetap dan staff marketing freelance dimana untuk staff marketing tetap diberikan gaji tetap sedangkan freelance hanya diberikan fee untuk hasil kerja. --- 12.2.4.1.12. Bahwa staff marketing tetap tidak boleh
menerima fee dari perusahaan lain dan jika hal tersebut terjadi kemungkinan staff tersebut bermaksud mencari insentif dalam bekerja dengan membantu distributor dalam pemasaran barang. - - -
12.2.4.1.13. Bahwa alasan Terlapor I mengikuti tender ini untuk memastikan agar produk Terlapor I menang dalam tender tersebut. - - -
SA
LIN
AN
perusahaan lain untuk mengikuti tendertersebut. - - -
12.2.4.1.15. Bahwa Terlapor I mengakui menggunakan perusahaan lain dalam mengikuti tender PSG di RS Duren Sawit dikarenakan jika Terlapor I (sebagai prinsipal alat kesehatan) memenangkan tender akan menciptakan keraguan bagi rekanan Terlapor I dalam meminta surat dukungan kedepan. - - -
12.2.4.2. Pemeriksaan Terlapor II (PT Bhakti Wira Husada) (vide bukti B2, B11): - - -
12.2.4.2.1. Bahwa Terlapor II bergerak di bidang perdagangan obat-obatan alat kesehatan, laboratorium dan bahan kimia. - - -
12.2.4.2.2. Bahwa Terlapor II dari tenaga freelance yang bekerja di perusahaan lain dan yang mengetahui proses tender adalah Ibu Dwikanti Tutik dan Sdr. Sabdali. - - -
12.2.4.2.3. Bahwa Terlapor II mengetahui spesifikasi alat yang ditenderkan merupakan alat dengan merk Biologic berdasarkan referensi yang dimiliki.
12.2.4.2.4. Bahwa Terlapor II dan Terlapor I sering berhubungan bisnis dalam rangka meminta surat dukungan, penawaran harga dan dukungan administrasi dan teknis. Terlapor II juga memiliki hubungan dekat dengan istri Direktur Utama Terlapor I. - - -
12.2.4.2.5. Bahwa yang menetapkan harga penawaran Terlapor II adalah Direktur Utama, Ibu Dwikanti Tutik dan Bapak Sabdali. - - -
12.2.4.2.6. Bahwa Terlapor II mengetahui Terlapor I mengikuti tender berdasarkan laporan staf saat mengikuti pembukaan dokumen penawaran.- - - -
SA
LIN
AN
11 12.2.4.2.8. Bahwa Terlapor II sering mendapatkan
infomasi tender dari karyawan prinsipal seperti Terlapor I. --- 12.2.4.2.9. Bahwa keuntungan dari Terlapor II adalah sebesar 5-10% keuntungan kotor dan 2-3% keuntungan bersih. - - -
12.2.4.2.10. Bahwa Terlapor II mengetahui tender ini dari Ibu Ida dan Julius merupakan tenaga marketing freelance dari PT Bhakti Wira Husada. - - -
12.2.4.2.11. Bahwa tenaga marketing freelance, yang juga merupakan staff marketing Terlapor I, memberikan informasi, mendaftar, mengikuti aanwijzing, dan memasukkan dokumen penawaran. Hal tersebut dilakukan dengan mendapatkan kuasa dari Terlapor II sebagai staff marketing. - - -
12.2.4.2.12. Bahwa tenaga freelance bekerja dengan inisiatif sendiri dan mendapatkan fee sebesar Rp. 2.700.000,- (dua juta tujuh ratus ribu rupiah). --- 12.2.4.2.13. Bahwa staff Terlapor II pernah mengikuti
tender dengan membawa bendera perusahaan Terlapor I. - - -
12.2.4.2.14. Bahwa dalam tender ini Terlapor II memperoleh keuntungan sebesar Rp. 26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah).- - -
12.2.4.2.15. Bahwa Terlapor II melakukan strategi menawarkan harga alat dengan keuntungan yang minim, dengan harapan memperoleh pengalaman perusahaan yang akan meningkatkan Kemampuan Dasar (KD) Terlapor II. - - -
12.2.4.2.16. Bahwa Tim Pemeriksa memperoleh keterangan tertulis dari Terlapor II yang pada pokoknya berisi: - - - a. Terlapor II tidak benar jika dikatakan
SA
LIN
AN
dengan Terlapor I, Terlapor III, danTerlapor IV. Masalah kesamaan barang selalu dapat terjadi pada setiap tender karena peserta tender akan berusaha mencari/menawarkan barang yang sesuai atau setara dengan yang dipersyaratkan dalam RKS; - - -
b. Soal personel Terlapor II yang bernama Ida dan Indah dikatakan sebagai staf administrasi Terlapor I memang dalam kesehariannya yang bersangkutan mungkin bekerja disana, tetapi hal yang biasa jika kami sebagai Trader memiliki beberapa (bahkan banyak) mitra kerja freelance, yang membantu kami dalam mengurus, mencari proyek serta outsourcing.
c. Soal spesifikasi teknis mengarah kepada merek Biologic juga bukan suatu hal yang salah, pihak rumah sakit sebagai pengguna alat tentunya punya hak dan pengalaman dalam memilih suatu alat sesuai kebutuhannya.
d. Bahwa sebagai pemenang tender kami tidak merugikan keuangan negara, karena dengan harga penawaran sebesar Rp. 1.197.982.500,- (Satu milyar Seratus Sembilan puluh tujuh juta sembilan ratus delapan puluh dua ribu lima ratus rupiah) jauh dibawah harga patokan yang ditetapkan Biro Perlengkapan Propinsi DKI Jakarta sebesar Rp. 1.550.000.000,- (satu milyar lima ratus lima puluh juta rupiah).
SA
LIN
AN
13 12.2.4.3.2. Bahwa Direktur Terlapor III tidak mengetahui
banyak mengenai tender karena telah ditugaskan stafnya yang bernama Maratoga Pane. - - -
12.2.4.3.3. Bahwa Direktur Terlapor III tidak mengenal Rasda, Turni Setyawati yang mewakili Terlapor III dalam proses tender. - - -
12.2.4.3.4. Bahwa Terlapor III setelah melihat RKS, spesifikasi PSG adalah barang dari Terlapor I dengan merk Biologic. - - -
12.2.4.3.5. Bahwa Terlapor III tetap mengikuti proses tender walaupun mengetahui bahwa Terlapor I mengikuti tender karena menjaga nama baik perusahaan yang telah meminta surat dukungan kepada Terlapor I. - - -
12.2.4.3.6. Bahwa Terlapor III mengambil presentase keuntungan sebesar 10%. - - -
12.2.4.3.7. Bahwa setelah pembukaan dokumen, Direktur Terlapor III mengetahui bahwa harga yang dibuka sesuai dengan penawaran harga yang dibuat oleh Terlapor III. - - -
12.2.4.3.8. Bahwa Terlapor III tidak menerima surat penetapan pemenang. - - -
12.2.4.3.9. Bahwa Terlapor III hanya menugaskan staff yang bernaman Maratoga untuk mengikuti proses tender dan tidak pernah memberikan surat kuasa kepada orang lain. - - -
12.2.4.3.10. Semua dokumen Terlapor III tidak mengetahui persis siapa yang memasukkan dokumen penawaran dan hanya memberikan dokumen penawarah kepada Maratoga. - - -
12.2.4.3.11. Terlapor III tidak mengenal dan mengetahui nama-nama yang mewakili Terlapor III dalam proses tender.- - -
SA
LIN
AN
12.2.4.3.13. Bahwa menurut keterangan Terlapor III, pihakyang mengambil dokumen penawaran Terlapor III adalah karyawan dari Terlapor I.---
12.2.4.4. Pemeriksaan Terlapor IV (PT Kamara Idola) (vide bukti B4, B13); --- 12.2.4.4.1. Bahwa Terlapor IV bergerak di bidang
pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan. - - -
12.2.4.4.2. Bahwa Direktur Terlapor IV menugaskan stafnya untuk mendaftar yaitu Banjar Aruan dan setelah menerima surat dari KPPU, ternyata Terlapor IV tidak memasukkan penawaran sendiri namun diwakilkan oleh pihak lain. - - -
12.2.4.4.3. Bahwa dalam proses tender, Terlapor IV diwakili oleh Iwan yang merupakan karyawan dari Terlapor I. - - -
12.2.4.4.4. Bahwa Terlapor IV menugaskan staf yang bernama Banjar Aruan sebagai perwakilan perusahaan. - - -
12.2.4.4.5. Bahwa Terlapor IV mengakui bahwa Terlapor IV hanya sebagai pendamping administrasi dari Terlapor I. - - -
12.2.4.4.6. Bahwa Terlapor IV mendapatkan pengganti sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) sebagai biaya administrasi dalam mengikuti proses tender dari Terlapor I.- - -
12.2.4.5. Pemeriksaan Terlapor V (Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Rumah Sakit Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007) (vide bukti B5, B14)--- 12.2.4.5.1. Bahwa perencanaan pengadaan alat PSG
SA
LIN
AN
15 12.2.4.5.2. Bahwa pengajuan alat PSG diajukan pada
anggaran rutin 2007 namun baru terealisasi pada anggaran perubahan Tahun 2007. - - -
12.2.4.5.3. Bahwa Panitia tidak mengetahui jika spesifikasi teknis hanya mengearah pada merk tertentu. Panitia hanya berpatokan kepada dokumen perencanaan dan Buku Patokan Harga Satuan Barang atau Jasa Lainnya Propinsi DKI Jakarta periode 2007 (“Buku Patokan”) BAB II.7 No. 1622. - - -
12.2.4.5.4. Bahwa Panitia merasa setiap barang yang tidak sesuai dengan buku patokan adalah salah. - - -
12.2.4.5.5. Bahwa Panitia menetapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) berdasarkan hasil rapat. - - -
12.2.4.5.6. Bahwa Panitia memberikan nilai tertinggi yakni 17 untuk perusahaan yang memasukkan alat PSG dengan merk Biologic dan memberikan nilai 3 untuk perusahaan yang memasukkan alat PSG dengan merk lain. --- 12.2.4.5.7. Bahwa ketika aanwijzing, Panitia menghapus tipe/model Sleepscan Vision dalam spesifikasi teknis, karena mengarah pada merk tertentu. - - -
12.2.4.5.8. Bahwa Panitia tidak megenal peserta tender yang memasukkan penawaran. - - -
12.2.4.5.9. Bahwa kewenangan dari bagian penunjang medik adalah mengawasi farmasi, gizi, pemeliharaan rumah sakit, rontgen, dan alat-alat kesehatan lainnya yang habis pakai. Dan untuk alat kedokteran dibawahi oleh bagian pelayanan medik. - - -
SA
LIN
AN
12.2.4.5.11. Bahwa Panitia menyerahkan dokumenpenawaran alat Full PSG dari Terlapor I pada tanggal 14 Juni 2006. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Product Manager Terlapor I yang bernama Rasda, yang pada proses tender mewakili Terlapor III. - - -
12.2.4.5.12. Bahwa Panitia menyerahkan dokumen Surat Kuasa dari masing-masing perusahaan yang mengikuti tender. Ketika melihat surat kuasa dari Terlapor III dan IV, Tim mendapati bahwa tanda-tangan direktur Terlapor III dan IV berbeda dengan tanda-tangan yang asli, karena itu Tim menduga bahwa tanda-tangan tersebut dipalsukan. - - -
12.2.4.6. Pemeriksaan Saksi : DRA. Dwikanti B. Hastuti dan Safdali Hidayat (vide bukti B17) --- 12.2.4.6.1. Bahwa antara Terlapor II memiliki hubungan dekat dengan Terlapor I, dengan memperoleh keistimewaan seperti perusahaan sering dipinjam oleh Terlapor I dalam mengikuti proses tender, dan diskon yang besar. - - -
12.2.4.6.2. Bahwa saksi mengenal Iwan, pihak yang mewakili Terlapor IV sebagai Project Manager Terlapor I. - - -
12.2.4.7. Pemeriksaan Saksi : dr. Agus Solichien (vide bukti B18)--- 12.2.4.7.1. Bahwa saksi merupakan dokter saraf dan
satuan pengawas internal yang bertugas mengaudit ISO atau mutu dari rumah sakit. - - -
12.2.4.7.2. Bahwa saksi mengajukan surat untuk pengadaan full PSG sebagaimana surat tertanggal 4 Mei 2006 (vide bukti C50). - - -
SA
LIN
AN
17 1996. Namun Saksi mempersilahkan kepada pelayanan medik untuk mencari merek lain. - - - -
12.2.4.7.4. Bahwa saksi pernah dimintai keterangan alat oleh Panitia mengenai keunggulan masing-masing merek alat. - - -
12.2.4.7.5. Bahwa Biologic dapat melakukan PSG dan EEG monitoring namun softwarenya kurang canggih, Weinmann hanya bisa melakukan PSG saja namun softwarenya sudah cukup canggih, dan compumedic memiliki keunggulan kecanggihan alat. - - -
12.2.4.7.6. Bahwa Saksi pernah ditawarkan alat PSG oleh Terlapor I, dan juga Weinmann. - - -
12.2.4.7.7. Bahwa menurut saksi, alat Biologic lebih efisien dan Weinmann lebih canggih dan praktis digunakan. - - -
12.2.4.7.8. Bahwa Tim Pemeriksa mendapatkan surat permohonan alat full PSG dari Saksi kepada Kasi Pelayanan Medik RS Duren Sawit, namun dalam surat tersebut tidak tercantum merek PSG (vide bukti C50). - - -
12.2.4.8. Pemeriksaan Saksi Ahli: Kepala Biro Perlengkapan Pemerintah Prop. DKI Jakarta (vide bukti B19)--- 12.2.4.8.1. Dalam Keputusan Gubernur Nomor 108 Tahun
2003 dan Pergub 37 Tahun 2007, keperluan barang dan jasa diterbitkan buku patokan harga satuan yang secara reguler atau berkala ditetapkan keputusan Gubernur setiap 6 bulan.
12.2.4.8.2. Bahwa menurut Keputusan Gubernur Nomor 108 Tahun 2003 dan Keppres 80 Tahun 2003, Panitia tidak wajib mengacu kepada buku patokan harga Pemprov DKI Jakarta. - - -
SA
LIN
AN
12.2.4.8.4. Bahwa maksud dan tujuan dikeluarkannyabuku patokan sudah disosialisasikan kepada setiap instansi terkait di DKI Jakarta. - - -
12.2.4.8.5. Bahwa dalam menentukan HPS Panitia harus tetap mengacu pada: - - -
1. Harga pasar setempat menjelang proses
pengadaan --- 2. Agen tunggal atau pabrikan ---
3. Data BPS --- 4. Kontrak sejenis --- 5. Harga yang dikeluarkan instansi
berwenang ---
12.2.4.9. Pemeriksaan Saksi: Daniel J. Andreas Tarigan(vide bukti B21) --- 12.2.4.9.1. Bahwa saksi adalah staf marketing PT Amarta
Mitra Selaras. - - -
12.2.4.9.2. Bahwa Saksi merupakan perwakilan dari PT Amarta Mitra Selaras dan membawa surat kuasa direktur. - - -
12.2.4.9.3. Bahwa waktu anwijzing, beberapa peserta tender meminta agar spesifikasi alat dikeluarkan dan mencoba membuktikan bahwa spesifikasi alat di RKS sama persis dengan spesifikasi alat Biologic. - - -
12.2.4.9.4. Bahwa Panitia tidak bisa menghapus spesifikasi tersebut karena sudah disahkan oleh Dewan (DPRD) sehingga tidak bisa diganti. --- 12.2.4.9.5. Bahwa Panitia tidak pernah menyebutkan
SA
LIN
AN
19 12.3 Analisis: ---
Berdasarkan fakta-fakta yang didapat selama Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa, menganalisis sebagai berikut : - - -
12.3.1 Tentang Dugaan Persekongkolan Vertikal oleh Terlapor I. ---
12.3.1.1. Bahwa Terlapor V dalam tender ini telah menyusun spesifikasi teknis yang mengarah pada merk tertentu yakni merk Biologic yang hanya bisa disediakan oleh Terlapor I. --- 12.3.1.2. Bahwa sebenarnya dokter yang menggunakan alat tersebut tidak
pernah mengajukan spesifikasi teknis dari alat PSG yang diusulkan. - - -
12.3.1.3. Bahwa Terlapor V menyusun spesifikasi teknis berdasarkan surat dari Biro Perlengkapan Provinsi DKI Jakarta No. 5429/073 tanggal 31 Oktober 2007 dan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 yang ditandatangani oleh Direktur RS Duren Sawit dr. Asiah Suroto Gunari M.Sc.- - -
12.3.1.4. Bahwa dalam keterangan Saksi Ahli dari Biro Perlengkapan Prov. DKI Jakarta menyatakan tidak ada kewajiban panitia untuk mengacu pada buku patokan harga Pemprov DKI Jakarta.
12.3.1.5. Bahwa Panitia dalam menetapkan HPS tidak mengacu pada 5 acuan sesuai dengan Keppres 80 Tahun 2003 dan Kepgub 108 tahun 2003, namun hanya berdasarkan keputusan rapat internal panitia.- - -
12.3.1.6. Bahwa dengan demikian tim menyimpulkan bahwa panitia telah melakukan kesalahan dan melanggar ketentuan dalam Keppres 80 Tahun 2003 mengenai spesifikasi yang mengarah dan penentuan harga HPS. --- 12.3.1.7. Bahwa dengan adanya pelanggaran Keppres 80 Tahun 2003 mengenai spesifikasi yang mengarah dan penentuan harga HPS mengakibatkan dalam tender pengadaan PSG terdapat peserta tender yang diuntungkan dan merugikan peserta tender yang lain. --- 12.3.1.8. Bahwa hal ini dibuktikan dengan pemberian nilai yang lebih
SA
LIN
AN
12.3.1.9. Bahwa dengan demikian Tim menyimpulkan Terlapor V telahmenimbulkan hambatan bagi peserta tender yang menawarkan alat PSG dengan merk non Biologic untuk bersaing menjadi pemenang tender. - - -
12.3.1.10. Bahwa Tim Pemeriksa menyimpulkan hambatan tersebut merupakan bentuk persekongkolan vertikal yang dilakukan oleh Terlapor V dan Terlapor I, II, III dan IV untuk mengatur dan menentukan Terlapor II sebagai pemenang tender. - - -
12.3.2 Tentang Persekongkolan Horizontal yang dilakukan Terlapor III dan IV; ---
12.3.2.1. Bahwa Tim Pemeriksa menemukan fakta Terlapor III dan Terlapor IV diwakili oleh orang-orang yang bukan merupakan staf Terlapor III dan Terlapor IV. Orang-orang tersebut adalah (vide bukti C55): --- 1) PT Ilong Prayatna : Debby Armeiyanti ( mewakili saat
pendaftaran), Rasda (mewakili saat aanwijzing), Turni Setyawaty (mewakili saat pembukaan surat penawaran);--- 2) PT Kamara Idola : Hery Noviar (mewakili saat
SA
LIN
AN
21 tangani oleh Direktur Terlapor III, namun tidak diketahui sama sekali oleh saksi.--- 12.3.2.4. Bahwa berdasarkan fakta adanya pemalsuan surat kuasa Terlapor III dan IV menunjukkan bahwa Terlapor III dan IV dalam tender ini hanya berfungsi sebagai pendamping dan tidak sungguh-sungguh. Hal sesuai dengan pengakuan dari Terlapor III dan IV. --- 12.3.2.5. Bahwa Tim Pemeriksa menyimpulkan Terlapor III dan IV
terlibat dalam persekongkolan horizontal untuk mengatur dan menentukan Terlapor II sebagai pemenang tender. --- 12.3.3 Tentang Persekongkolan Horizontal yang dilakukan Terlapor III
dan IV; ---
12.3.3.1. Bahwa Terlapor I dan Terlapor II memiliki hubungan erat, sehingga Terlapor II mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melakukan bisnis dengan Terlapor I termasuk kemudahan dalam memperoleh surat dukungan dan memperoleh potongan harga yang cukup besar dari Terlapor I dalam setiap pembelian barang. --- 12.3.3.2. Bahwa Terlapor II juga pernah menggunakan bendera Terlapor I dalam mengikuti suatu tender. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan kedekatan yang erat antara Terlapor I dan Terlapor II. --- 12.3.3.3. Bahwa Terlapor I mengakui menggunakan perusahan lain
untuk memenangkan suatu tender sebab jika yang memenangkan tender adalah Terlapor I maka Terlapor I akan kehilangan kepercayaan dari para rekanan distributor. -- 12.3.3.4. Bahwa dengan demikian Tim menyimpulkan Terlapor I
mengikuti tender untuk memastikan alat PSG yang diageninya memenangkan tender dan agar tidak kehilangan kepercayaan dari para rekanan Terlapor I menawarkan harga diatas Terlapor II. --- 12.3.3.5. Bahwa Tim menyimpulkan adanya persekongkolan
horizontal antara Terlapor I dan Terlapor II untuk mengatur dan atau menentukan Terlapor II sebagai pemenang tender.
12.4 Kesimpulan---
SA
LIN
AN
menyimpulkan terdapat cukup bukti terjadinya persekongkolan vertikal danhorisontal untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender dalam tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 yang dibiayai dari Anggaran Belanja Tambahan Pemerintah DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007. 13. Menimbang bahwa berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa
merekomendasikan kepada Rapat Komisi agar dilakukan Sidang Majelis Komisi (vide bukti A41); --- 14. Menimbang bahwa selanjutnya, Komisi menerbitkan Penetapan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 230/KPPU/PEN/XI/2008 tanggal 25 November 2008 tentang Sidang Majelis Komisi Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung mulai tanggal 25 November 2008 sampai dengan 13 Januari 2009 (vide bukti A42); --- 15. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Sidang Majelis Komisi, Komisi menerbitkan
Keputusan Komisi Nomor 353/KPPU/KEP/XI/2008 tanggal 25 November 2008 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi dalam Sidang Majelis Komisi Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 (vide bukti A43); --- 16. Menimbang bahwa untuk membantu Majelis Komisi dalam Sidang Majelis Komisi, maka Direktur Eksekutif Sekretariat Komisi menerbitkan Surat Tugas Nomor 1139/SET/DE/ST/XI/2008 tanggal 25 November 2008 (vide bukti A44); --- 17. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember 2008, Terlapor I tidak hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, namun pada tanggal 19 Desember 2008, Majelis Komisi menerima Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan Terlapor I secara tertulis yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut (vide bukti A50, C70); --- 17.1 Terlapor I tidak pernah berpikir untuk bersekongkol dengan Panitia, karena kami
juga tidak kenal dengan baik, mungkin pernah bertemu untuk urusan lain. Karena usaha Terlapor I dalam bidang farmasi dan alat kesehatan sejak tahun 1974 dan para pelanggan antara lain adalah rumah sakit, instalasi pelayanan kesehatan lainnya, para dokter spesialis, dan dokter umum.--- 17.2 Terlapor I berkedudukan sebagai agen tunggal harus melaksanakan total marketing, sehingga Terlapor I mengutamakan purna jual daripada menjual; --- 17.3 Kelebihan Terlapor I dapat dibuktikan bahwa alat EEG, Epilepsi monitoring dan
PSG sudah terpasang lebih dari 150 unit di seluruh Indonesia; --- 17.4 Bahwa Terlapor I sudah sejak tahun 2006 menawarkan alat PSG merek Biologic
SA
LIN
AN
23 sehingga biasanya user sudah yakin dan percaya bahwa alat PSG yang ditawarkan oleh Terlapor I adalah alat yang dibutuhkan dan memenuhi spesifikasi yang diharapkan user; --- 17.5 Terlapor I memantau proses pengusulan dari user kepada Direktur rumah sakit,
dan dari Direktur kepada Pemda DKI, dan menyayangkan anggaran yang diberikan turun jauh dibawah harga standar;--- 17.6 Terlapor I hanya memberikan surat dukungan alat PSG kepada: --- a. Rekanan yang benar-benar Terlapor I mengenal karakternya, jujur,
konsekuen, dan tidak akan berkhianat atau membocorkan harga dan kondisi yang Terlapor I tawarkan;--- b. Terlapor I hanya akan memberikan kepada 3 (tiga) rekanan atau maksimum
4 (empat) rekanan yang kami anggap betul-betul jujur, konsekuen dan memegang janji tidak akan memboikot atau mundur untuk menawarkan alat; - c. Terlapor I akan memberikan harga yang sama dan dukungan penuh kepada
perusahaan yang diberikan dukungan; --- d. Terlapor I tidak akan memberikan surat dukungan kepada perusahaan yang
tidak dikenal dengan baik. --- 17.7 Terlapor I terkejut mengapa Terlapor II berani menurunkan harga dengan mengurangi margin atau keuntunganyang sebenarnya juga menjadi hak penuh Terlapor II sendiri.--- 17.8 Kondisi penawaran Terlapor II lebih murah dari Terlapor I merupakan perhitungan dan keputusan Terlapor II yang jitu dan tepat serta murni keputusan bisnis. --- 17.9 Terlapor I berkesimpulan :
a. Laporan yang disampaikan Pelapor adalah tidak benar; --- b. Terlapor I menyangkal dengan tegas bahwa Terlapor I tidak pernah bersekongkol secara vertikal dengan Terlapor maupun secara horizontal dengan rekanan lain; --- c. Mengikuti proses Perkara 49/KPPU-L/2008 sangat melelahkan dan sangat menyita waktu untuk berproduktivitas yang lebih penting dalam era krisis global.--- 18. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
SA
LIN
AN
18.1 Bahwa Terlapor II menyangkal keras tuduhan bahwa Terlapor II telahmelakukan persekongkolan vertikal maupun persekongkolan horizontal sehingga dianggap melanggar asal 22 UU No. 5 Tahun 1999 --- 18.2 Bahwa Terlapor II tidak mengenal personil Terlapor V baik sebelum
pelaksanaan tender maupun dalam proses tender;--- 18.3 Bahwa kedekatan Terlapor II dengan Terlapor I tidak semerta-merta dapat disimpulkan telah terjadi persekongkolan untuk memenangkan Terlapor II, karena hubungan bisnis yang saling percaya adalah modal utama kami sebagai Trader. Jadi dengan strategi peyusunan harga yang kompetitif, aspek administrasi yang bagus serta dukungan teknis yang lengkap, tidak ada gunanya dan tidak memungkinkan bagi kami untuk melakukan persekongkolan dengan pihak-pihak lain, baik secara vertikal maupun horizontal: --- 18.4 Bahwa tanggapan Terlapor II terhadap Hasil Pemeriksaan adalah;--- 18.4.1.1. Pada point E No. 1 angka xiii, dimana Terlapor II awalnya tidak tahu
kalau Terlapor I juga ikut serta dalam tender tersebut kami baru tahu pada saat pembukaan penawaran harga;--- 18.4.1.2. Poin E No. 1 angka xiv, dimana strategi ini adalah suatu hal yang
lazim dalam praktek marketing agar produknya laku terjual, akan tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bersekongkol, bisa saja hal ini merupakan suatu konsorsium. --- 18.4.1.3. Poin E No. 1 angka xv, dimana Terlapor I menggunakan perusahaan
lain adalah tidak termasuk dengan Terlapor II, buat apa kami ikut tender jika kami tahu Terlapor I sebagai prinsipal ikut bermain sendiri, tentunya kami tidak ingin keikutsertaan kami menjadi suatu yang sia-sia; --- 18.4.1.4. Poin E No. 2 angka viii, dimana surat kuasa yang kami serahkan kepada Panitia Lelang, kami mendapat informasi tentang tender di RS Duren Sawit dari Marketing Freelance kami saudara Yulius dan Ibu Ida, dimana penggunaan tenaga freelance adalah suatu yang sudah biasa pada perusahaan demi menekan over-head cost. --- 18.4.1.5. Poin E No. 2 angka ix,x,xi,xii,xiii,xiv,xv, dimana keuntungan sebesar
SA
LIN
AN
25 19. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor III tidak hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, namun pada tanggal 18 Desember 2008, Majelis Komisi menerima Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan Terlapor III secara tertulis yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut(vide bukti A52, C72); --- 19.1 Bahwa Terlapor III sangat tidak sependapat jika dinyatakan sebagai pihak yang
ikut melakukan persekongkolan horizontal dan vertikal dengan Terlapor I; --- 19.2 Bahwa Terlapor III memang mengenal Terlapor I, tetapi untuk kasus ini Terlapor III sama sekali tidak terlibat dalam persekongkolan baik vertikal maupun horizontal; --- 19.3 Bahwa adalah fakta hukum, pihak-pihak yang terlibat dalam proses tender tersebut bukanlah pihak yang mewakili hak dan kepentingan Terlapor III, sehingga hal yang terjadi adalah menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing karena Terlapor III meragukan keabsahan kuasa; --- 19.4 Bahwa kelanjutan prosedur dan proses lelang, sehingga memenangkan Terlapor
I adalah diluar pengetahuan Terlapor III; --- 19.5 Bahwa dugaan yang menyangkut Terlapor III dikesampingkan karena tidak ada
keterlibatan Terlapor III baik secara vertikal maupun horizontal yang telah menimbulkan kerugian bagi pihak lain; --- 19.6 Bahwa fakta yang disampaikan Terlapor III uraikan diatas adalah fakta-fakta
yang diketahui oleh Terlapor III. --- 20. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor IV hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan secara tertulis terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutanyang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut(vide bukti A53, C73); --- 20.1 Permohonan maaf kami sebesar-besarnya atas adanya kelalaian kami sebagai
pimpinan untuk tidak mengikuti secara profesional tender alat kedokteran PSG di Rumah Sakit Duren sawit tahun Anggaran 2007; --- 20.2 Terlalu percaya kepada staf yang menyatakan bahwa alat tersebut hanya mengarah pada spesifikasi tertentu yang kebetulan diageni oleh PT Tiara Kencana; --- 20.3 Pengalaman ikut tender di RS Fatmawati tahun 2007, karena kami menawarkan
SA
LIN
AN
20.4 Demikian permohonan maaf kami sampaikan dengan ikhlas dan atas tegurannyakami ucapkan terima kasih, semoga KPPU membuat negara tercinta ini semakin baik untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia;--- 21. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor V hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan secara tertulis terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutanyang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut(vide bukti A54, C74, C75); --- 21.1 Bahwa kami sebagai anggota Panitia pengadaan barang dan jasa merasa belum
pernah mendapatkan sosialisasi tentang Patokan Harga Satuan barang/jasa dari Biro Perlengkapan sejak tahun 2006; --- 21.2 Panitia memahami bahwa harga dan merek tidak wajib mengikuti buku patokan
namun selama ini ada kesan kuat yang dirasakan oleh anggota Panitia bahwa harga dan merek harus mengacu kepada buku patokan harga satuan yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta; --- 21.3 Berkaitan dengan pemeriksaan rutin tahunan yang dilakukan oleh Bawasda selalu ditekankan bahwa barang atau jasa yang dibeli melalui proses lelang umum/penunjukkan langsung/ pemilihan langsung harus mengacu kepada buku patokan harga satuan yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta; --- 21.4 Panitia menyusun spesifikasi berdasarkan DASK RS Duren Sawit dan Buku Patokan Harga yang dikeluarkan Biro Perlengkapan Pemprov DKI Jakarta; --- 21.5 Dalam menetukan pemenang, Panitia telah meminta masukan dari user tentan
kegunaan dan kualitas dari semua alat yang ditawarkan, dan menurut user kebutuhan rumah sakit adalah PSG dan EEG;--- 21.6 Kemudian Terlapor V mengirimkan data tambahan dengan surat No.
1745/073.53, yang isinya pada pokoknya: --- a. Panitia Pengadaan barang dan jasa tidak ikut proses perencanaan alat PSG
sehingga tidak mempunyai kompetensi untuk menjelaskan proses perencanaan; --- b. Panitia Pengadaan barang dan jasa hanya bertugas dalam melaksanakan lelang sesuai dengan perintah Direktur rumah sakit; --- c. Mekanisme usulan permintaan barang dan jasa dari unit-unit di rumah sakit
SA
LIN
AN
27
TENTANG HUKUM
1. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, surat, dokumen, dan alat bukti lainnya, Majelis Komisi menilai dan menyimpulkan ada tidaknya pelanggaran yang dilakukan oleh para Terlapor sebagai berikut:---
1.1. Tentang Identitas Para Terlapor;---
1.1.1. Terlapor I: PT. Tiara Kencana, merupakan pelaku usaha berdasarkan
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 18 tanggal 6 Desember 1972 yang dibuat oleh Notaris Drs. Anwar Makarim dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 09 tanggal 9 Mei 2005 yang dibuat oleh Notaris Silvia Veronica, S.H., yang melakukan kegiatan usaha di distributor, grosir, komisioner, agen, pedagang besar obat-obatan, farmasi, alat-alat kedokteran dan alat-alat keperluan rumah sakit, termasuk bidang leveransir, bidang pemborong bangunan, bidang perindustrian, bidang pertanian, perkebunan, perikanan darat, perikanan laut, dan peternakan, bidang pengangkutan barang dan penumpang, bidang ekspedisi dan pergudangan, yang berkedudukan di Wisma Tiara Lt. 5 Jalan Raya Pasar Minggu KM 18 No. 17 Jakarta Selatan 12510 (vide bukti B1, C36);--- 1.1.2. Terlapor II: PT. Bhakti Wira Husada, merupakan pelaku usaha
berdasarkan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 39 tanggal 25 Juni 1969 yang dibuat oleh Notaris Soeleman Ardjasasmita, dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 17 tanggal 28 Oktober 2005 yang dibuat oleh Notaris Elliza Asmawel, S.H., yang melakukan kegiatan usaha di bidang perindustrian seperti industri farmasi dan alat-alat dan atau barang-barang perlengkapan kesehatan, menjalankan perdagangan umum, bidang pengangkutan, bidang stuwadoring, menjalankan usaha dan bertindak sebagai perwakilan atau peragenan dari perusahaan-perusahaan baik dalam negeri maupun luar negeri, yang berkedudukan di Jalan Tebet Utara I No. 20 Jakarta Selatan 12820 (vide bukti B2, C35); --- 1.1.3. Terlapor III: PT. Ilong Prayatna, merupakan pelaku usaha berdasarkan
SA
LIN
AN
S.H., dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 130 tanggal 21 Nopember1990 yang dibuat oleh Notaris Chufran Hamal, S.H., yang melakukan kegiatan usaha di bidang leveransir, supplier, grosir, distributor, komisioner, bidang perdagangan umum, bidang jasa kecuali jasa hukum, bidang industri termasuk kerajinan tangan, bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, pertambangan, perikanan darat dan laut serta pertambakan, bidang pengangkutan umum, bidang percetakan, yang berkedudukan di Jalan Balikpapan I No. 3B Jakarta Pusat 10130 (vide bukti B3, C37); --- 1.1.4. Terlapor IV: PT. Kamara Idola, merupakan pelaku usaha berdasarkan
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 10 tanggal 31 Agustus 1998 yang dibuat oleh Notaris Hamdan Syarif, dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 2 tanggal 6 Februari 2004 yang dibuat oleh Notaris Lies Herminingsih, S.H., yang melakukan kegiatan usaha di bidang farmasi, perdagangan umum, pembangunan, industri, transportasi, jasa, percetakan, perbengkelan, desain, agrobisnis, yang berkedudukan di Jalan Pelepah Hijau V Blok TS. 2/2 Jakarta Utara (vide bukti B4, C38); --- 1.1.5. Terlapor V: Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Rumah Sakit Duren
Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007,
dengan alamat kantor di Jalan Duren Sawit Baru, Jakarta Timur (vide bukti B5, C8, C9, C13, C41); --- 1.2. Tentang Objek Tender ---
1.2.1. Bahwa Objek Tender dalam perkara ini adalah tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph (selanjutnya disebut PSG) di Rumah Sakit Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 yang dibiayai dari Anggaran Belanja Tambahan Pemerintah DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 (vide bukti C11);--- 1.2.2. Nilai Pengadaan PSG adalah sebesar Rp. 1.206.300.000,- (satu milyar dua
ratus enam juta tiga ratus ribu rupiah) dengan Kualifikasi Peserta Tender adalah Golongan Non Kecil; --- 1.3. Tentang Spesifikasi yang Mengarah pada Merek Tertentu ---
SA
LIN
AN
29 menawarkan merek Biologic dibandingkan dengan peserta tender yang menawarkan merek selain merek Biologic; --- 1.3.4. Bahwa berdasarkan LHPL, Tim Pemeriksa memperoleh fakta bahwa
dokter sebagai pengguna alat Polymsonograph (PSG) tidak pernah mencantumkan merek tertentu pada surat permohonan pengadaan alat kesehatan kepada pihak rumah sakit;--- 1.3.5. Bahwa berdasarkan LHPL, Panitia menyatakan bahwa spesifikasi telah
ditentukan semenjak perencanaan dan mengacu pada Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 Rumah Sakit Duren Sawit dan Buku Patokan Harga Satuan Barang atau Jasa Lainnya Propinsi DKI Jakarta periode 2007 (selanjutnya disebut Buku Patokan). Panitia khawatir akan disalahkan jika tidak mengikuti Buku Patokan; --- 1.3.6. Bahwa berdasarkan kesaksian Kepala Biro Perlengkapan Pemerintah
Propinsi DKI Jakarta, Buku Patokan hanya berfungsi sebagai rujukan dan Panitia Tender tidak harus mengacu pada Buku Patokan. Panitia Tender tetap harus mengikuti ketentuan Keppres 80 Tahun 2003; --- 1.3.7. Bahwa Panitia Tender dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: --- 1.3.7.1. Bahwa Panitia merasa belum pernah mendapatkan sosialisasi
tentang Patokan Harga Satuan barang/jasa dari Biro Perlengkapan sejak tahun 2006; --- 1.3.7.2. Bahwa Panitia merasa adanya kesan kuat harga dan merek harus mengacu kepada buku patokan harga satuan yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta;--- 1.3.7.3. Bahwa dalam pemeriksaan rutin tahunan yang dilakukan oleh
Bawasda selalu ditekankan bahwa barang atau jasa yang dibeli melalui proses lelang umum/penunjukkan langsung/ pemilihan langsung harus mengacu kepada buku patokan harga satuan yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta; --- 1.3.7.4. Panitia menyusun spesifikasi berdasarkan DASK RS Duren Sawit dan Buku Patokan Harga yang dikeluarkan Biro Perlengkapan Pemprov DKI Jakarta;--- 1.3.7.5. Dalam menetukan pemenang, Panitia telah meminta masukan dari user tentang kegunaan dan kualitas dari semua alat yang ditawarkan, dan menurut user kebutuhan rumah sakit adalah PSG dan EEG (Electroencephalography); --- 1.3.7.6. Panitia Pengadaan barang dan jasa tidak ikut proses perencanaan
SA
LIN
AN
1.3.8.1. Terlapor I tidak pernah berpikir untuk bersekongkol denganPanitia, karena Terlapor I juga tidak kenal dengan baik, mungkin pernah bertemu untuk urusan lain. Karena usaha Terlapor I dalam bidang farmasi dan alat kesehatan sejak tahun 1974 dan para pelanggan antara lain adalah rumah sakit, instalasi pelayanan kesehatan lainnya, para dokter spesialis, dan dokter umum; --- 1.3.8.2. Terlapor I sudah sejak tahun 2006 menawarkan alat PSG merek Biologic Inc. USA yang diageni ke banyak user dan sudah melakukan demo alat, sehingga biasanya user sudah yakin dan percaya bahwa alat PSG yang ditawarkan oleh Terlapor I adalah alat yang dibutuhkan dan memenuhi spesifikasi yang diharapkan user;--- 1.3.8.3. Terlapor I memantau proses pengusulan dari user kepada Direktur rumah sakit, dan dari Direktur kepada Pemda DKI, dan menyayangkan anggaran yang diberikan turun jauh dibawah harga standar;--- 1.3.9. Bahwa Terlapor II dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: --- 1.3.9.1. Terlapor II menyangkal keras tuduhan bahwa Terlapor II telah melakukan persekongkolan vertikal; --- 1.3.9.2. Bahwa Terlapor II tidak mengenal personil Terlapor V baik
sebelum pelaksanaan tender maupun dalam proses tender; --- 1.3.10. Bahwa Majelis Komisi menilai bahwa spesifikasi teknis yang mengarah
kepada PSG merk Biologic telah tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 Rumah Sakit Duren Sawit dan Buku Patokan dimana Terlapor V hanya mengacu pada dokumen-dokumen tersebut dalam menyusun spesifikasi teknis dalam RKS; --- 1.3.11. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor V tidak terlibat dalam penyusunan spesifikasi teknis dalam tender a quo;--- 1.3.12. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor V seharusnya dalam menyusun
spesifikasi teknis tetap tidak mengarah pada merk tertentu sesuai dengan ketentuan Keppres 80 Tahun 2003; --- 1.3.13. Bahwa karena Terlapor V tidak terlibat dalam penyusunan spesifikasi teknis maka Majelis Komisi menyimpulkan Terlapor V tidak terlibat dalam persekongkolan vertikal untuk memenangkan Terlapor II dalam tender perkara a quo; --- 1.4. Tentang Peminjaman Perusahaan Terlapor III dan Terlapor IV; ---
SA
LIN
AN
31 1.4.1.1. PT Ilong Prayatna : Debby Armeiyanti yang mewakili saat
pendaftaran, Rasda yang mewakili saat aanwijzing, Turni Setyawaty yang mewakili saat pembukaan surat penawaran; --- 1.4.1.2. PT Kamara Idola : Hery Noviar yang mewakili saat pendaftaran,
Mulyani mewakili saat aanwijzing dan pembukaan dokumen penawaran; --- 1.4.2. Bahwa nama-nama yang disebutkan diatas bukan merupakan staf atau
karyawan Terlapor III dan Terlapor IV yang ditugaskan untuk mengikuti proses tender. Khusus untuk Rasda, Tim Pemeriksa memperoleh fakta bahwa yang bersangkutan adalah Product Manager dari PT Tiara Kencana; -- 1.4.3. Bahwa menurut keterangan Terlapor III, pihak yang mengambil dokumen
penawaran Terlapor III adalah karyawan dari Terlapor I; --- 1.4.4. Bahwa Terlapor IV mengakui bahwa Terlapor IV hanya sebagai pendamping dan mendapatkan pengganti sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) sebagai biaya administrasi dalam mengikuti proses tender dari Terlapor I; ---- 1.4.5. Bahwa Terlapor III menyampaikan pembelaan tertulis sebagai berikut: --- 1.4.5.1. Terlapor III memang mengenal Terlapor I, tetapi untuk kasus ini
Terlapor III sama sekali tidak terlibat dalam persekongkolan baik vertikal maupun horizontal;--- 1.4.5.2. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses tender tersebut bukanlah
pihak yang mewakili hak dan kepentingan Terlapor III, sehingga hal yang terjadi adalah menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing karena Terlapor III meragukan keabsahan kuasa; --- 1.4.5.3. Bahwa kelanjutan prosedur dan proses lelang, sehingga
memenangkan Terlapor I adalah diluar pengetahuan Terlapor III; --- 1.4.5.4. Bahwa dugaan yang menyangkut Terlapor III dikesampingkan
karena tidak ada keterlibatan Terlapor III baik secara vertikal maupun horizontal yang telah menimbulkan kerugian bagi pihak lain; --- 1.4.6. Bahwa Terlapor IV dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: ---
SA
LIN
AN
1.4.7. Bahwa Majelis Komisi menilai adanya pengakuan Terlapor IV yangmenyatakan perusahaan telah dipinjam oleh Terlapor I dan diberi imbalan sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) merupakan merupakan bukti Terlapor IV telah dipinjam oleh Terlapor I sebagai pedamping; --- 1.4.8. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor III dalam aanwijzing diwakili oleh
Sdr. Rasda yang merupakan Product Manager Terlapor I yang mewakili Terlapor III dalam aanwijzing merupakan bukti Terlapor III telah dipinjam oleh Terlapor I sebagai pedamping; --- 1.4.9. Bahwa Majelis Komisi menilai tindakan Terlapor III dan Terlapor IV
menyerahkan dokumen tender kepada pihak yang bukan merupakan karyawan Terlapor III dan Terlapor IV merupakan bukti Terlapor III dan Terlapor IV bersekongkol dengan Terlapor I dan Terlapor II untuk memenangkan Terlapor II sebagai pemenang tender perkara a quo;--- 1.4.10. Bahwa Majelis Komisi menyimpulkan adanya bukti yang cukup Terlapor III dan Terlapor IV meminjamkan perusahaan kepada Terlapor I untuk mengikuti tender sebagai bentuk persekongkolan horizontal yang dilakukan Terlapor I, Terlapor III dan Terlapor IV untuk memenangkan Terlapor II menjadi pemenang tender perkara a quo; --- 1.5. Tentang Kedekatan Terlapor I dan Terlapor II; ---
1.5.1. Bahwa berdasarkan laporan LHPL Tim Pemeriksa menyatakan Terlapor I dan Terlapor II memiliki hubungan yang erat sehingga Terlapor II mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melakukan bisnis dengan Terlapor I termasuk kemudahan dalam memperoleh surat dukungan dan memperoleh potongan harga yang cukup besar dari Terlapor I dalam setiap pembelian barang;--- 1.5.2. Bahwa selain mendapatkan potongan harga dan surat dukungan, kedua
Terlapor pernah saling meminjamkan perusahaan untuk mengikuti tender;--- 1.5.3. Bahwa Terlapor II mengetahui tender dari tenaga pemasaran lepas Terlapor I
dan Terlapor II membayar kepada tenaga pemasaran tersebut fee sebesar Rp. 2.700.000,- (dua juta tujuh ratus ribu rupiah);--- 1.5.4. Bahwa Terlapor II dalam mengikuti tender menekan tingkat keuntungan
dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman pekerjaan sehingga meningkatkan kemampuan dasar (KD) Terlapor II; --- 1.5.5. Bahwa Terlapor II dalam tender ini hanya memperoleh keuntungan sekitar
SA
LIN
AN
33 1.5.6.2. Kondisi penawaran Terlapor II lebih murah dari Terlapor I
merupakan perhitungan dan keputusan Terlapor II yang jitu dan tepat serta murni keputusan bisnis; --- 1.5.7. Bahwa Terlapor II dalam pembelaan tertulisnya menyatakan:--- 1.5.7.1. Terlapor II menyangkal keras tuduhan bahwa Terlapor II telah
melakukan persekongkolan vertikal maupun persekongkolan horizontal sehingga dianggap melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun 1999; --- 1.5.7.2. Bahwa kedekatan Terlapor II dengan Terlapor I tidak
semerta-merta dapat disimpulkan telah terjadi persekongkolan untuk memenangkan Terlapor II, karena hubungan bisnis yang saling percaya adalah modal utama Terlapor II sebagai Trader. Jadi dengan strategi peyusunan harga yang kompetitif, aspek administrasi yang bagus serta dukungan teknis yang lengkap, tidak ada gunanya dan tidak memungkinkan bagi Terlapor II untuk melakukan persekongkolan dengan pihak-pihak lain, baik secara vertikal maupun horizontal;--- 1.5.7.3. Terlapor I menggunakan perusahaan lain adalah tidak termasuk
dengan Terlapor II, karena Terlapor II tidak akan mengikuti tender jika Terlapor II tahu Terlapor I sebagai prinsipal ikut bermain sendiri, karena Terlapor II tidak ingin keikutsertaan menjadi suatu yang sia-sia;--- 1.5.8. Bahwa Majelis Komisi menilai kedekatan Terlapor I dan Terlapor II dan
adanya fakta kedua Terlapor pernah saling meminjamkan perusahaan untuk mengikuti tender membuktikan Terlapor I dan Terlapor II dapat mengatur harga penawaran antara Terlapor I dan Terlapor II; --- 1.5.9. Bahwa Majelis Komisi menilai adanya fakta Terlapor II mengetahui tender dari karyawan Terlapor I dan Terlapor II membayar karyawan Terlapor I sebesar Rp. 2.700.000,- (dua juta tujuh ratus ribu rupiah) merupakan bukti bahwa Terlapor II dan Terlapor I saling berkomunikasi untuk mengikuti tender; --- 1.5.10. Bahwa Majelis Komisi menilai adanya fakta Terlapor I menawarkan harga
SA
LIN
AN
menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persainganusaha tidak sehat”; --- 3. Menimbang bahwa untuk membuktikan terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, maka Majelis Komisi mempertimbangkan unsur-unsur dalam Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 sebagai berikut:--- 3.1. Unsur Pelaku Usaha; ---
3.1.1. Bahwa yang dimaksud pelaku usaha berdasarkan Pasal 1 angka 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi; ---
3.1.2. Bahwa pelaku usaha yang dimaksud dalam perkara ini adalah Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV, selaku peserta
Tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007; --- 3.1.3. Bahwa dengan demikian, berdasarkan uraian pada butir 3.1.1 dan 3.1.2
Bagian Tentang Hukum, maka unsur pelaku usaha terpenuhi; --- 3.2. Unsur Bersekongkol; ---
3.2.1. Bahwa yang dimaksud dengan bersekongkol berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah kerja sama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiatif siapapun dan dengan cara apapun dalam upaya memenangkan peserta tender tertentu;- 3.2.2. Bahwa berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, persekongkolan dapat terjadi dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu persekongkolan horizontal, persekongkolan vertikal, dan gabungan dari persekongkolan horizontal dan vertikal; --- 3.2.3. Bahwa yang dimaksud dengan persekongkolan horizontal adalah
SA
LIN
AN
35 3.2.4. Persekongkolan horizontal;---
3.2.4.1. Bahwa dalam perkara ini Majelis Komisi menyimpulkan persekongkolan horizontal dilakukan oleh Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV untuk memenangkan Terlapor II dalam tender perkara a quo sebagaimana dijelaskan pada butir 1.4 dan 1.5 Bagian Tentang Hukum;--- 3.2.4.2. Bahwa dengan demikian unsur persekongkolan horizontal
terpenuhi; ---
3.2.5. Persekongkolan vertikal--- 3.2.5.1. Bahwa dalam perkara ini Majelis Komisi menyimpulkan
Telapor V tidak terbukti melakukan persekongkolan vertikal dalam tender perkara a quo sebagaimana dijelaskan pada butir 1.3 Bagian Tentang Hukum;--- 3.2.5.2. Bahwa dengan demikian unsur persekongkolan vertikal tidak
terpenuhi; ---
3.3. Unsur Pihak Lain;---
3.3.1. Bahwa berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 yang dimaksud dengan pihak lain adalah para pihak (vertikal dan horizontal) yang terlibat dalam proses tender yang melakukan persekongkolan tender baik pelaku usaha sebagai peserta tender dan/atau subjek hukum lainnya yang terkait dengan tender tersebut;--- 3.3.2. Bahwa Terlapor V adalah pihak lain yang mengadakan tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007; --- 3.3.3. Bahwa dengan demikian, unsur Pihak Lain terpenuhi; --- 3.4. Unsur Mengatur dan/atau Menentukan Pemenang Tender; ---
3.4.1. Bahwa yang dimaksud dengan mengatur dan/atau menentukan pemenang tender berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah suatu perbuatan para pihak yang terlibat dalam proses tender secara bersekongkol yang bertujuan untuk menyingkirkan pelaku usaha lain sebagai pesaingnya dan atau untuk bertujuan memenangkan peserta tender tertentu dengan berbagai cara; --- 3.4.2. Bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV melakukan
persekongkolan horizontal untuk mengatur Terlapor II menjadi pemenang tender dalam perkara a quo sebagaimana dijelaskan pada butir 1.4 dan 1.5 Bagian Tentang Hukum; --- 3.4.3. Bahwa dengan demikian, unsur mengatur dan atau menentukan pemenang
SA
LIN
AN
3.5. Unsur Persaingan Usaha Tidak Sehat;---3.5.1. Bahwa yang dimaksud dengan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah persaingan antara pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan/atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha; 3.5.2. Bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV telah
melakukan perbuatan tidak jujur dengan melakukan persekongkolan tender; ---
3.5.3. Bahwa dengan demikian, unsur persaingan usaha tidak sehat terpenuhi; -- 4. Menimbang bahwa sebagaimana tugas Komisi yang dimaksud dalam Pasal 35 huruf e
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, Majelis Komisi merekomendasikan kepada Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dan pihak terkait, sebagai berikut:--- 4.1. Merekomendasikan kepada Direktur Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta Timur
untuk memperhatikan proses pengadaan barang dan jasa selanjutnya agar membuka kesempatan kepada semua merk dan tidak membatasi pada spesifikasi alat kesehatan dan atau kedokteran pada merk-merk tertentu;
4.2. Merekomendasikan kepada Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta untuk lebih meningkatkan kapasitas administratif di unit-unit kerja Dinas Kesehatan Propinsi DKI guna mendukung pelaksanaan tender yang berazaskan persaingan usaha yang sehat; --- 5. Menimbang bahwa perkara ini tidak dalam ruang lingkup sebagaimana yang
dikecualikan dalam Pasal 50 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999; --- 6. Menimbang bahwa sebelum memutuskan, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut: --- 6.1. Hal-hal yang memberatkan: --- 6.1.1. Bahwa Terlapor I merupakan penggagas dalam persekongkolan horizontal di tender pengadaan PSG Rumah Sakit Duren Sawit Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007; --- 6.1.2. Bahwa Terlapor II pernah terbukti melanggar Pasal 22 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 berkaitan dengan Perkara No. 13/KPPU-L/2005 dan Perkara 06/KPPU-L/2007; --- 6.2. Hal yang meringankan: ---
SA
LIN
AN
37 6.2.2. Bahwa Terlapor IV mengakui telah meminjamkan perusahaan kepada
Terlapor I dalam tender perkara a quo; --- 7. Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka mengingat
Pasal 43 ayat (3) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, Majelis Komisi: ---
MEMUTUSKAN
1. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV terbukti
secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;---
2. Menyatakan Terlapor V terbukti secara sah dan meyakinkan tidak melanggar
Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; ---
3. Menghukum Terlapor I dengan denda sebesar Rp. 114.000.000,- (seratus empat
belas juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);---
4. Menghukum Terlapor II dengan denda sebesar Rp. 144.000.000,- (seratus empat
puluh empat juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);---
5. Menghukum Terlapor III dengan denda sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh
juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);---
6. Menghukum Terlapor IV dengan denda sebesar Rp. 22.000.000,- (dua puluh dua
SA
LIN
AN
Demikian putusan ini ditetapkan melalui musyawarah dalam Sidang Majelis Komisi padahari Selasa, tanggal 13 Januari 2009 dan dibacakan di muka persidangan yang dinyatakan terbuka untuk umum pada hari yang sama oleh Majelis Komisi yang terdiri dari Ir. M. Nawir Messi, M.Sc., sebagai Ketua Majelis, Erwin Syahril, SH., dan Ir. Dedie S. Martadisastra, S.E., M.M., masing-masing sebagai Anggota Majelis, dengan dibantu oleh Aulia Alkausar, S.E., sebagai Panitera. ---
Ketua Majelis,
t.t.d
Ir. M. Nawir Messi, M.Sc.
Anggota Majelis,
t.t.d
Erwin Syahril, S.H.
Anggota Majelis,
t.t.d.
Ir. Dedie S. Martadisastra, S.E., M.M.
Panitera,
t.t.d.
Aulia Alkausar, S.E.
Untuk Salinan yang sah:
SEKRETARIAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Plt. Direktur Eksekutif,