0
EVALUASI PENANGANAN KONFLIK ATAS TANAH ULAYAT DI PROVINSI SUMATERA UTARA
Alusianto Hamonangan, S.H., M.H. Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Darma Agung Medan
Abstrak
Tanah yang merupakan sesuatu yang sangat berharga dan mahal bagi setiap manusia, dikarenakan tanah bagi kehidupan manusia mengandung makna multidimensional. Pertama, dari sisi ekonomi tanah merupakan sarana produksi yang dapat mendatangkan kesejahteraan apabila diolah dengan baik. Kedua, secara politis tanah dapat menentukan posisi seseorang dalam pengambilan keputusan ditengah-tengah masyarakat. Ketiga, tanah adalah sebagai modal budaya dapat menentukan tinggi rendahnya status social pemiliknya.Keempat, tanah bermakna sackral bagi kelompok-kelompok tertentu masyarakat yang beranggapan bahwa akhir hayat setiap orang akan kembali ke tanah. Karena makna yang multidimensional tersebut ada kecenderungan munculnya potensi yang mengakibatkan konflik ditengah-tengah masyarakat, baik itu antar sesame masyarakat atau masyarakat dengan perusahaan atau institusi lainya. Tanah khususnya tanah ulayat yang dimaksudkan disini adalah tanah dalam konteks hak-hak masyarakat hukum adat atas tanah ulayat yang merupakan kewenangan yang menurut hukum adat yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan lahan hidup masyarakat selaras dengan Pasal 6 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Bahwa masalah yang perlu dikemukakan dalam evalusai ini adalah apakah yang menjadi factor-faktor dominan terjadinya sengketa tanah ulayat, bagaimana tindakan dalam mencegah dan mengatasi konflik serta bagaiaman upaya hukum yang dilakukan dalam penanganan konflik Evaluasi ini menggunakan metode kualitatif, dan sifat yang diteliti bersifat kasuistik, dalam hal ini dilakukan dengan studi kasus. Kesimpulan yang dihasilak dari evaluasi penangan konflik tanah ulayat ini adalah tidak munculnya sikap tegas dari pemerintah dalam setiap terjadi konflik yang menyangkut tanah ulayat, untuk dapat bertindak tegas menghadapi permasalah ini, pemerintah harus membuat Peraturan Daerah (PERDA) disetiap Kabupaten/Kota yang mengatur tentang pengakuan hak-hak masyarakat hukum adat atas tanah ulayat untuk menciptakan kepastian hukum dalam kehidupan bermasyarakat.
Kata Kunci : evaluasi, konflik, tanah ulayat.
PENDAHULUAN
Konflik Sosial, yang selanjutnya disebut Konflik, adalah perseteruan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas yang mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu
stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional.1
Pelanggaran hak tanah ulayat dilakukan oleh perusahaan-perusahaan baik swasta maupun milik negara dan daerah yang mengubah fungsi menjadi perkebunan dengan memberikan penggantian berupa pola kerja sama plasma atau bagi hasil yang dijanjikan dalam jangka waktu tertentu. Namun dalam
1
pelaksanaanya terjadi pergeseran sehingga menimbulkan perselisihan antara masayarakat dengan pihak perusahaan.
Meski demikian masih ada beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain lemahnya penegakan hukum, konsolidasi dari aparat keamanan, keberpihakan aparat keamanan pada salah satu pihak yang berkonflik.
Konflik-konflik sosial yang terjadi di masyarakat dalam beberapa tahun terakhir mengalami eskalasi seiring dengan perkembangan sosial yang terus-menerus dinamis. Konflik-konflik sosial ini tidak hanya diselesaikan oleh lembaga-lembaga pemerintah yang memiliki otoritas formal dalam menangani konflik. Konflik juga dapat diselesaikan oleh otoritas cultural, yaitu tokoh-tokoh adat yang sejak dahulu kala memegang otoritas kultural. Jika dahulu otoritas kultural mampu secara strategis menjawab problem-problem masyarakat, maka di zaman modern ini, terjadi pergeseran secara signifikan.
2
lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga adat/tokoh adat dalam penanganan konflik sosial di masyarakat.
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menghasilkan bahan rumusan analitik untuk memberikan rekomendasi perbaikan dan penyesuaian peraturan perundang-undangan berkaitan dengan perlindungan hukum hak atas tanah ulayat baik di tingkat daerah maupun pusat.
Penelitan ini juga akan bermanfaat untuk menyumbang rumusan kebijakan dalam rangka penanganan konflik di masyarakat dan rumusan kebijakan tentang penanganan konflik social yang berbasis masyarakat.
Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan metode kualitatif. 2 Karena sifat objek yang diteliti bersifat kasuistik, maka penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Kasus-kasus yang diteliti adalah kasus pertanahan tanah ulayat di Sumatera Utara. Penelitian kualitatif ini berusaha menemukan peran kontributif lembaga-lembaga pemerintah dalam melakukan pencegahan, resolusi dan transformasi konflik, dan penyelesaian paska konflik dalam penanganan konflik sosial. Penelitian kualitatif ini berusaha menemukan peran kontributif lembaga-lembaga adat dalam melakukan pencegahan, resolusi dan transformasi konflik sekaligus juga mengungkap pergeseran otoritas kultural yang dimiliki lembaga adat dalam penanganan konflik.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer dihimpun dari informan, yakni tokoh-tokoh adat dan masyarakat adat, para pihak yang berkonflik, pemerintah dan aparat penegak hukum yang mempunyai keterkaitan langsung dengan konflik di Sumatera Utara. Sedangkan data sekunder dihimpun dari dokumentasi dan literatur yang terkait dengan permasalahan dalam penelitian ini. Pegumpulan data
2 Noong Muhaj ir , Met odologi Peneliti an Kuali t atif (Yogyakar ta: Rake Sarasin, 2000), 341. Consuelo G.
Sevil la, dkk., Pengant ar Met odologi Peneli tian (Jakar ta: UI Pr ess, 2006), 73-76. Joseph A. Maxw ell,
3
dilakukan dengan melakukan wawancara kepada informan dan kajian kepustakaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor-faktor penyebab timbulnya sengketa dalam penguasaan hak atas tanah untuk kepentingan usaha perkebunan adalah:
1. Sengketa pertanahan yang terjadi tidak terlepas dari masa pemerintahan kesultanan, yaitu tentang status pemilikan tanah dalam konsep penguasaan yang berbeda. Menurut pandangan penguasa tradisional, sultan adalah pemilik dari semua tanah di wilayah kesultanannya. Sementara itu masyarakat adat mengakui bahwa tanah adalah milik adat yang bersifat komunal sehingga diperuntukkan penggunaannya bagi semua warga masyarakat. Tanah ini menjadi sumber penghidupan masyarakat, sehingga tidak bisa dialihkan kepada warga lain di luar masyarakat tersebut. Dengan melihat konsep ini, masyarakat memandang sultan sebagai pemangku adat yang dianggap wajib berunding dengan para kepala adat dalam menyewakan tanah ulayat kepada pihak
konsesionaris.
4
seluruhnya pada petani rakyat penunggu. Sultan dan pihak onderneming berkoalisi dan berkolusi, membagi sebagian tanah jaluran untuk disewakan kepada kuli perkebunan suku Jawa dan China serta kerabat sultan. Hal ini menyebabkan terjadinya sengketa, dan pemberontakan dari petani. Kemudian dengan keluarnya Undang-Undang Hak Erfacht pada tahun 1931, yang secara formal menghapuskan tanah jaluran di dalam hak
erfacht, menimbulkan kegelisahan bagi para petani, dan akhirnya
menimbulkan sengketa, antara rakyat penunggu dengan pihak perkebunan.
Sengketa pertanahan terjadi karena adanya kompleksitas persoalan tanah, yang disebabkan karena adanya penduduk yang heterogen, di Sumatera Utara, terdiri dari Suku Melayu, Batak Karo dan Simalungun, dan Suku Jawa bekas kuli kontrak, serta golongan China, yang sejak zaman Jepang, telah melakukan penggarapan areal perkebunan Tembakau Deli, dan kemudian diikuti pula pendatang baru atau imigran dari Tapanuli (Batak Toba). Akhirnya tanah jaluran yang diperuntukkan untuk rakyat penunggu menjadi semakin berkurang, mengakibatkan terjadi sengketa horizontal yaitu antara rakyat penunggu dan kaum pendatang.
Untuk menyelesaikan pendudukan tanah perkebunan oleh rakyat, Belanda mengeluarkan Ordonansie Onrechtmatige Occupatie Van Dronden (Ord. 8 Juli 1948, S.1948-110). Kementrian Dalam Negeri juga mengeluarkan Surat Edaran No.A.2.30/10/37 (Bijblad 15242). Kedua peraturan ini, bertujuan untuk mengosongkan tanah perkebunan dari petani penggarap dan memungkinkan kembali para pertani penggarap ke tempat baru yang disediakan. Pemukiman kembali penghuni liar menimbulkan sengketa baru antara pihak perkebunan dengan para petani penggarap.
5
tuntutan rakyat penunggu atas tanah jaluran, tuntutan petani penggarap, terhadap tanah perkebunan yang telah digarapnya sejak zaman Jepang. Sengketa pertanahan di Sumtera Utara juga terjadi karena adanya rivalitas
politik di Sumatera Timur, antara pemerintahan RIS dan NST, yang
sengaja memanfaatkan ketegangan sosial di sana, masing-masing mempengaruhi masyarakat penggarap untuk memenuhi kepentingan politik mereka. Dalam menyelesaikan masalah sengketa pertanahan antara masyarkat dan perkebunan, RIS dan NST selalu bersifat mendua sehingga terjadi persengketaan yang tidak mudah diselesaikan. Disamping itu adanya partai-partai politik, yang bersaing terdiri atas berbagai kelompok politik dengan ideologi dan pandangan yang berbeda-beda dan sering bertentangan untuk mencapai kemenangan Politik mereka. Mereka berusaha menggalang dukungan dari rakyat yang tersingkir atau terdesak (marginal) dalam persaingannya menghadapi para penguasa lahan yang baru. Perubahan struktur politik dan kebijakan pusat yang bersifat mendua, yaitu satu sisi berusaha untuk membela rakyat penggarap dan di sisi lain membela pihak perkebunan sebagai penghasil devisa negara. Hal ini mempengaruhi perkembangan dan penyelesaian sengketa yang ada. Dalam prakteknya tidak pernah selesai dan selalu muncul penggarap-penggarap baru. Sengketa ini tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Keadaan ini terus berlangsung sampai pemerintahan orde baru, dan berlanjut sampai adanya Reformasi tahun 1998.
2. Bahwa sulitnya penyelesaian sengketa antara masyarakat dan perkebunan
6
Namun untuk wilayah Sumatera Timur persoalan ini tidak bisa berjalan karena terdapat empat pihak yang berkuasa dalam menentukan hak atas tanah namun dengan kepentingan yang berbeda: Pemerintah Kolonial, Pengusaha Perkebunan (onderneming), Sultan, dan rakyat pribumi. Masing-masing mereka menganut konsep pandangan pemilikan tanahnya dan adanya kolusi yang menghambat penyelesaian sengketa tanah demi kemakmuran rakyat.
Disamping itu banyak peraturan perundang-undangan yang juga dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk menyelesaikan konflik pertanahan, khususnya di Sumatera Timur antara lain, Undang-Undang Darurat No. 8 Tahun 1954, Keputusan Bersama No.1 Tahun 1955,
Undang-Undang No. 51 Prp Thn.1950, Keputusan Gubernur
No.36/K/Agr. Tahun 1951,UU Nomor 1 Tahun 1956, UU Nomor 28 Tahun 1956, UU Nomor 29 Tahun 1956, UU Nomor 13 Tahun 1958 dan Undang-Undang Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 serta Peraturan Pelaksanaannya. Di samping itu juga telah diterbitkan Keputusan Bersama Nomor 1 Tahun 1955 Menteri Agraria, Menteri Pertanian, Menteri Perekonomian, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kehakiman, Keputusan Penguasa Perang Tertinggi Nomor 2 Tahun 1960, Pedoman Menteri Agraria Nomor 1 Tahun 1960.
7
Dengan berlakunya UUPA yang menyatakan bahwa undang-undang ini didasarkan pada hukum adat (pasal 5) dan hak ulayat masih tetap diakui sepanjang kenyataannya masih ada (pasal 3). Tetapi kenyataannya undang-undang inipun mengambil langkah penting ke arah penghapusan hak-hak tanah adat, sesuai dengan pejelasannya, hukum adat itu harus tunduk kepada kepentingan nasional. Dengan demikian undang-undang tersebut mengabaikan hak-hak adat yang khusus atau yang diyakini oleh masyarakat lokal, dengan tujuan memberlakukan hukum pertanahan yang berlaku secara unifikasi. Hak-hak baru yang diatur dalam UUPA, hanya sebagai terobosan gagasan persuasif, peninggalan kolonial untuk menghapuskan dualisme hukum tanah, akan tetapi hak-hak baru ini sebagian besar masih berpola hak-hak yang ada dalam BW, meskipun terlihat samar. HGU yang diberikan kepada pengusaha perkebunan besar baik swasta maupun BUMN atas dasar hak menguasai negara, pada prinsipnya adalah sama dengan hak erfacht yang diberikan atas dasar
domain verklaring pada masa kolonial. Jadi hak-hak atas tanah yang ada
dalam BW, ternyata hanya berganti baju dengan Hak Guna Usaha. Selama Pemerintahan orde baru, penyelesaian sengketa pertanahan dilakukan pemerintah dengan memaksakan kehendaknya, dengan cara-cara paksa, dan bersandar pada peraturan perundang-undangan, yang substansi norma hukumnya, diatur sedemikian rupa walaupun secara substansi norma hukum itu, memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat. Tetapi dalam praktek, tidak dilaksanakan, sesuai dengan hakekat yang terkandung dalam norma hukum tersebut. Pola penyelesaian sengketa dalam prakteknya selalu dengan pendekatan Militer dan kekuasaan, seperti pola penyelesaian dengan Operasi Sadar.
8
menyusun peraturan hukum, guna menyelesaikan masalah pertanahan. Suatu sisi kelemahan dalam pertimbangan politik adalah bahwa pemerintah lebih menekankan kepentingan penguasa daripada adat tradisional yang ada. Setiap perubahan undang-undang yang dilakukan oleh Pemerintah cenderung hanya untuk kepentingan birokrasi dan pengusaha perkebunan dengan rekayasa sosial (law as/is a tool of social
engineering), yang secara implisit menciptakan legal gaps, terjadi celah
perselisihan paham atau keyakinan antara apa yang dikehendaki oleh pemerintah agar dipatuhi dengan apa yang masih diyakini dan dipatuhi sebagai keyakinan hukum masyarakat lokal dalam kehidupannya sehari-hari.
Kelemahan lain dari pertimbangan politik ini adalah bahwa tekanan utama diberikan pada kebutuhan jangka pendek, dan bukan jangka panjang. Ini mendasari cara penyelesaian yang diambil oleh pemerintah, yang lebih mengutamakan bentuk penyelesaian represif dengan tujuan menegakan keamanan dan ketertiban. Pemerintah dalam hal ini kurang memikirkan kemungkinan jangka panjang tentang terulangnya kasus tersebut. Pendekatan kekuasaan yang digunakan oleh pemerintah, memungkinkan pengerahan semua aparatur negara untuk terlibat dalam persoalan sengketa tanah. Sebagai akibatnya, muncul peluang bagi terjadinya penyelewengan dan penyimpangan yang disebabkan oleh diutamakannya kepentingan pribadi para pelaksana kekuasaan daripada tercapainya penyelesaian sengketa demi kepentingan masyarakat. Musyawarah yang dilakukan hanya bergantung pada persepsi penguasa dan pengusaha, akibatnya cukup merugikan masyarakat.
9
sebab dengan berlarut-larutnya pelanggaran yang terjadi tanpa penanganan yang tuntas, sehingga membentuk prilaku hukum dalam masyarakat menjadi tidak lagi percaya pada aparat penegak hukum dan penerapan sistem hukum yang sudah ada. Masyarakat cenderung bertindak menurut keinginan dan kepentingannya sendiri tanpa mengindahkan semua norma dan kaidah hukum yang telah ditetapkan oleh negara. Sebagai kelanjutannya maka konflik antara masyarakat dan pihak perkebunan terus berlangsung secara periodik tanpa adanya penyelesaian hukum yang tuntas, mengingat sistem dan norma hukum yang dianutnya sebenarnya sudah tidak lagi berlaku dalam masyarakat.
3. Keberadaan hak ulayat di Sumatera Utara, telah mengalami pasang surut
khususnya hak ulayat yang berada di atas tanah perkebunan, sejak zaman kolonial telah diakui oleh pemerintah Hindia Belanda. Terbukti dalam klausula akte konsesi, yang diberikan kepada onderneming perkebunan, hak ulayat masyarakat adat diakui dan dilindungi. Kepada masyarakat diberikan hak atas tanah jaluran di areal perkebunan, untuk ditanami tanaman semusim.
Tetapi dalam perkembagan selanjutnya mulai akan dihilangkan oleh pemerintah kolonial dengan keluarnya ordonansi hak erfacht 1931. Dalam ketentuan ini ditegaskan, bahwa hak ulayat yang berada di areal hak erfacht dihapuskan. Dan pemerintah kolonial mengizinkan para Imigran, untuk menggarap tanah di luar areal perkebunan. Hal ini menimbulkan kegelisahan petani rakyat penunggu sehingga terjadi konflik horizontal.
Keberadaan hak ulayat ini, merupakan alasan yang kuat bagi para petani penggarap, untuk menduduki tanah perkebunan yang diklaim sebagai hak ulayat masyarakat adat. Atas dasar itu, masyarakat menggarap dan menduduki tanah areal perkebunan. Keadaan ini menimbulkan konflik dan sengketa antara masyarakat dengan pihak perkebunan.
10
umum dan abstrak. Keberadaan hak ulayat tidak terlindungi dalam UUPA karena, para penegak hukum melaksanakan substansi norma hukum yang terdapat dalam UUPA, hanya berorientasi pada sistem hukum barat yang menganut aliran positivisme, yang bersifat legalistik. Pemahaman seperti ini, sudah barang tentu mengenyampingkan keberadaan hak ulayat yang berdasarkan hukum adat. Dalam hal ini ada dua sistim hukum yang berbeda, menimbulkan konflik jika dihadapkan dengan suatu peristiwa hukum, maka harus dapat ditentukan hukum mana dan hukum apa yang berlaku.
Dalam praktek penyelesaian sengketa pertanahan di Sumatera Utara, dari berbagai kasus yang terjadi misalnya kasus BPRPI versus PTPN-II. Tuntutan masyarakat adat yang tergabung dalam BPRPI adalah mengenai tanah hak ulayat mereka yang dikuasai oleh PTPN-II. Pihak Perkebunan tetap bertahan bahwa mereka menguasai tanah sengketa adalah berdasarkan alas hak yang sah, berupa sertifikat HGU yang diterbitkan berdasarkan undang-undang yang berlaku. Sedangkan masyarakat membuktikan hak ulayat mereka hanya berdasarkan fakta sejarah dan hukum yang tidak tertulis. Akibat adanya perselisihan hukum ini, penyelesaian sengketa menjadi lebih sulit, karena hakim harus dapat menentukan, hukum apa yang berlaku. Jika hakim mengambil keputusan semata-mata berdasarkan hukum tertulis maka, keputusannya cenderung akan merugikan masyarakat.
11
hukum yang hidup dan budaya hukum yang ada di dalam masyarakat. Akibat pelaksanaan dan pemahaman hukum sedemikian itu, keberadaan hak ulayat dalam masyarakat hukum adat tidak diindahkan sama sekali. Disamping itu, ada pemikiran yang menganggap bahwa dengan adanya Negara Republik Indonesia yang berlandaskan Undang-Undang Dasar 1945, dan Pancasila, menganggap semua tanah adalah dikuasai oleh negara. Oleh karena itu, hak ulayat dianggap sudah tidak ada lagi. Pengertian dan pemahaman yang demikian itu sesungguhnya tidak dapat dibenarkan. Berdasarkan penjelasan umum bagian II dalam UUPA, penyelesaian sengketa pertanahan yang menyangkut hak ulayat dilakukan dengan cara musyawarah dan pemberian ganti rugi. Bagi masyarakat adat yang hak ulayatnya diambil untuk kepentingan pembangunan harus diberikan ganti rugi atau recognitie. Tetapi dalam praktek, pelaksanaan musyawarah berubah menjadi intimidasi dan juga pemberian ganti rugi dilakukan dengan pembayaran yang tidak layak sehingga, menjadikan masyarakat lebih miskin dari sebelumnya. Begitu juga recognitie tidak pernah dilaksanakan sebagaimana yang telah disyaratkan oleh undang-undang. Setelah Reformasi, ada sedikit harapan bagi masyarakat adat tentang pengakuan keberadaan hak ulayat mereka yaitu dengan keluarnya Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.5 Tahun 1999, tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat. Surat Keputusan Menteri ini, bertujuan untuk memperjelas prinsip pengakuan hak ulayat dan hak-hak yang serupa dengan itu.
12
4. Melihat beberapa faktor yang menghambat penyelesaian sengketa
penguasaan atas tanah ini, maka perlu ditempuh beberapa jalan untuk mengatasi kondisi tersebut. Dalam sistem perundangan yang ada, pemerintah perlu memberikan perbaikan dengan memperjelas beberapa hal yang vital namun sering menimbulkan perbedaan persepsi dan menumbuhkan pengertian kabur, misalnya dalam pengertian mengenai hak ulayat. Hal ini sangat penting mengingat semua produk peraturan hukum yang dibuat negara akan dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan lebih lanjut dalam menangani sengketa itu.
Dalam melakukan pendekatan terhadap penyelesaian sengketa pemerintah mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan pendekatan kekuasaan, tetapi harus mengutamakan pendekatan musyawarah yang melibatkan masyarakat (bottom-up) dan hukum. Alat-alat represif tidak lagi digunakan untuk memaksakan kepentingan, namun lebih mendasarkan pada pertimbangan yuridis formal yang netral dengan menekankan pada kesejahteraan masyarakat. Untuk ini perlu bagi pemerintah agar lebih memikirkan pandangan jangka panjang daripada penyelesaian sengketa jangka pendek, yang lebih mengutamakan ditegakkannya keamanan dan
ketertiban. Pemerintah juga perlu meningkatkan program
penerangan/komunikasi hukum kepada masyarakat tentang pengertian hak-hak tanahnya dan sejauh mana batas-batas penerapan hak tersebut bisa dilakukan.
Rekomendasi
1. Pemerintah diharapkan segera untuk melakukan revisi terhadap UUPA.
13
istilah dalam hukum adat. Pembentukan undang-undang tersebut, harus memperhatikan faktor-faktor kekuatan sosial berupa budaya hukum dan hukum yang hidup dalam masyarakat dengan umpan balik terhadap lembaga penegakan hukum dan kondisi masyarakat yang akan dikenai dengan peraturan hukum itu. Lembaga pembentuk hukum, lembaga penegak hukum dalam upaya untuk memfungsikan atau bekerjanya hukum sebagai alat kontrol sosial, harus sesuai dengan rasa keadilan masyarakat, maka faktor-faktor yang mempengaruhi itu harus dilihat sebagai faktor yang saling mempengaruhi. Yang dapat menimbulkan interaksi tertentu, meliputi struktur, substansi, budaya hukum dalam masyarakat.
2. Untuk mencapai keseimbangan yang harmonis dalam penguasaan hak
atas tanah pemerintah harus lebih bersikap netral dalam menyelesaikan sengketa, mengingat sejauh ini pemerintah cenderung bersikap represif. Hal ini hanya bisa dicapai apabila pemerintah lebih menggunakan pendekatan secara yuridis dan musyawarah sehingga bisa tercapai jalan keluar yang bisa diterima oleh semua pihak, dan segera mengambil tindakan tegas terhadap aparat negara yang terbukti melakukan penyelewengan dan penyimpangan dari peraturan yang ada khusunya dalam menangani konflik dibidang pertanahan. Disarankan pula agar pemerintah daerah atau instansi terkait harus peka melihat terhadap adanya gerakan-gerakan dalam penyerobotan tanah di areal perkebunan, pelaksanaan dan penegakan hukum harus berjalan secara konsekuen.
3. ntuk menentukan keberadaan hak ulayat dalam masyarakat, disarankan
14
yang tegas, tentang apakah masih ada atau tidak hak ulayat pada daerah tertentu
4. Penyelesaian sengketa antara masyarakat dan perkebunan seharusnya
dapat dilakukan dengan jalur penyelesaian secara yuridis formal dengan pendekatan budaya hukum yang ditempuh dengan musyawarah dengan melibatkan kelompok masyarakat terkait, disarankan pada pemerintah harus melibatkan tenaga-tenaga ahli hukum yang benar-benar memahami persoalan agraria khususnya yang menyangkut pemilikan tanah secara adat. Hal ini sangat berguna untuk menjelaskan sejauh mana batas-batas kekuasaan tradisional masih berlaku dalam hal penguasaan hak atas tanah, baik secara perorangan maupun komunal. Pemerintah hendaknya membuat undang-undang baru yang bercorak nasional dengan mengutamakan kepentingan masyarakat secara menyeluruh.
Cara penyelesaian sengketa pertanahan disarankan dilakukan dalam dua model, yaitu pertama, harus dilaksanakan dengan negosiasi dan musyawarah dengan memperhatikan kepentingan masyarakat dan kepentingan lainnya. Dalam hal ini, pemerintah harus bertindak sebagai fasilitator bukan sebagai mediator, yang cenderung bersifat sebagai partisipan dalam kelompok yang bertikai. Model kedua adalah penyelesaian melalui proses Pengadilan sebagai upaya terakhir.
Target penyelesaian konflik Tanah di luar Pengadilan tersebut, antara lain adalah mempertemukan kepentingan hak dan penguasaan atas obyek tanah sengketa antara para pihak yang bersengketa dan mengoptimalkan upaya tercapainya kesepakatan para pihak melalui musyawarah, dalam rangka mewujukan kehendak para pihak untuk memperoleh kepastian hukum atas suatu bidang tanah. Sedangkan strategi yang digunakan adalah pelayanan pengaduan sengketa tanah oleh Unit Pelayanan Pengaduan Sengketa.
5. Perlunya dilakukan harmonisasi berbagai kebijakan dan peraturan yang
15
6. Mendorong pembentukan Perda yang mengatur tentang pengakuan
16 Daftar Pustaka
Abdurrahman. 1995. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria, Bandung. Alumni.
Muhajir, Noong, 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta, Rake Sarasin.
Rubaie, Achmad, 2006. Politik Hukum Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan
Umum, Bayu Media Publishing, Malang.
Chomzah, Ali Chomzah, 2002. Pedoman Pelaksanaan U.U.P.A dan Tata Cara
Penjabat Pembuat Akta Tanah, Bandung. Alumni.
Anthony Reid, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan Di
Sumatera Utara, (Jakarta: Sinar Harapan, 1987)
Perlindungan,A.P. 1998. Pendaftaran Tanah Di Indonesia, Bandung. Mandar Maju.
Harsono, Budi, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan
Undang-undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta,
1999.
_______________, Hukum Agraria Indonesia, (Jakarta: Jambatan) 2005.
Darmodiharjo, Darji dan Sidharta, Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan
Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Gramedia Pustka Utama, Jakarta,
2002.
Direktorat Agraria Provinsi Sumatera Utara, Himpunan Risalah Pertumbuhan
dan Perkembangan Hak Konsesi dan Erfach Perkebunan Besar dan Penyelesaian Pendudukan Rakyat atas Tanah Perkebunan di Provinsi Sumatera Utara, (Medan, 1976)
Hasan, Djuhaendah, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lain
yang Melekat pada Tanah Dalam konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal, Suatu Konsep Dalam Menyongsong Lahirnya Lembaga Hak Tanggungan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996
Perangin, Efendi, 1983. Hukum Agraria Di Indonesia, Suatu Telaah Dari Sudut
Pandang Praktis Hukum, Jakarta. CV Rajawali.
Ruchiyat, Eddy, Politik Pertanahan Nasional Sampai Orde Reformasi. Bandung. PT. Alumni. 2004.
17 Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Penanganan Konflik Sosial
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria
Data internet
http:/ / w ww .medanbisnisdail y.com/ new s/ read/ 2011/ 08/ 12/ 50199/ penyelesaian_konflik_tanah_ula
yat/ # .UGu7YG3r pT4, di akses tanggal 3 oktober 2012, pukul 11.00 WIB