SALINAN
PERATURAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-05/MBU/2011
TENTANG
PEDOMAN TATA NASKAH DINAS
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
Menimbang
Mengingat
: a. bahwa untuk meningkatkan tertib administrasi kedinasan dan kelancaran komunikasi serta arus informasi antarunit organisasi, perlu menyesuaikan dan menyempurnakan ketentuan tata naskah dinas Kementerian Badan Usaha Milik Negara;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian Badan Usaha Milik Negara;
: 1. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;
2. Peraturan Presiden Nomor 24 Tabun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59/P Tahun 2011; 4. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
22 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Tata Naskah Dinas;
5. Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-05/MBU/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Badan Usaha Milik Negara;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MEN IERI NEGARA BADAN USAHA MILIK
NEGARA TENTANG PEDOMAN TATA NASKAH DINAS KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA.
Pasal 1
Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian Badan Usaha Milik Negara yang selanjutnya disebut sebagai Pedoman Tata Naskah Dinas ditetapkan sebagaimana dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini.
Pasal 2
Pedoman Tata Naskah Dinas digunakan sebagai acuan umum bagi seluruh Unit kerja di lingkungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dalam pelaksanaan administrasi umum.
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA -2-
Pasal 3
Dengan berlakunya Peraturan ini, Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-01/MBU.S/2006 tentang Pedoman Tata Persuratan Dinas Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 4 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 November 2011
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
ttd.
Salinan sesuai dengan aslinya DAHLAN ISKAN
Kepala Biro Hukum,
allonadi
✓
Herman Hidayat
SALINAN LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA
NOMOR : PER-05/MBU/2011
TENTANG
PEDOMAN TATA NASKAH DINAS
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketatalaksanaan pemerintah merupakan pengaturan cara melaksanakan tugas dan fungsi dalam berbagai bidang kegiatan pemerintahan dan pembangunan di lingkungan instansi pemerintah pusat dan daerah.
Salah satu komponen penting dalam ketatalaksanaan pemerintah adalah administrasi umum. Ruang lingkup administrasi umum meliputi tata naskah dinas (tata surat, distribusi, formulir, dan media), penamaan lembaga, singkatan dan akronim, kearsipan, serta tata ruang perkantoran. Tata naskah dinas sebagai salah satu unsur administrasi umum meliputi, antara lain pengaturan tentang jenis dan penyusunan naskah dinas, penggunaan lambang negara, logo dan cap dinas, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tata surat, perubahan, pencabutan, pembatalan produk hukum, serta ralat.
Ketentuan tentang tata naskah dinas yang berlaku untuk seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah telah diatur dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 72/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Tata Naskah Dinas yang kemudian diganti dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Tata Naskah Dinas.
Pada tahun 2006, Kementerian BUMN telah menetapkan Pedoman Tata Persuratan Dinas Kementerian Negara BUMN melalui Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-01/MBU.S/2006. Namun, dengan adanya perubahan struktur organisasi Kementerian BUMN sebagaimana diatur dalam Perpres No. 24 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-05/MBU/2010 dan dalam rangka untuk meningkatkan tertib administrasi kedinasan dan kelancaran arus komunikasi serta informasi antar unit organisasi di lingkungan Kementerian BUMN, maka perlu dilakukan penyesuaian dan penyempurnaan tata naskah dinas di lingkungan Kementerian BUMN.
B. Maksud dan Tujuan 1. Maksud
Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian BUMN dimaksudkan sebagai acuan pembuatan dan pengelolaan tata naskah dinas di lingkungan Kementerian BUMN, dengan memperhatikan asas-asas, yaitu :
a. Asas Efektif dan Efisien
Penyelenggaraan tata naskah dinas perlu dilakukan secara efektif dan efisien dalam penulisan, penggunaan ruang atau lembar naskah dinas, spesifikasi informasi, serta dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan lugas.
b. Asas Pembakuan
Naskah dinas diproses dan disusun menurut tata cara dan bentuk yang telah dibakukan.
-2-
c. Asas Pertanggungjawaban
Penyelenggaraan tata naskah dinas dapat dipertanggungjawabkan dari segi isi, format, prosedur, kearsipan, kewenangan, dan keabsahan.
d. Asas Keterkaitan
Kegiatan penyelenggaraan tata naskah dinas terkait dengan kegiatan administrasi umum dan unsur administrasi umum lainnya.
e. Asas Kecepatan dan Ketepatan
Untuk mendukung kelancaran tugas dan fungsi satuan kerja atau satuan organisasi, tata naskah dinas hams dapat diselesaikan tepat waktu dan tepat sasaran, antara lain dilihat dari kejelasan redaksional, kemudahan prosedural, serta kecepatan penyampaian dan
f. Asas Keamanan
Tata naskah dinas harus aman secara fisik dan substansi mulai dari penyusunan, klasifikasi dan kualifikasi, penyampaian kepada yang berhak, pemberkasan, kearsipan, dan distribusi. Demi terwujudnya tata naskah dinas yang efektif dan efisien, pengamanan naskah dan aspek legalitasnya perlu dilihat sebagai penentu yang paling penting.
2. Tujuan
Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian BUMN bertujuan menciptakan kelancaran komunikasi tulis yang efektif dan efisien antar unit organisasi di lingkungan Kementerian BUMN atau dengan instansi lain di luar Kementerian BUMN dalam penyelenggaraan urusan tertentu dalam pemerintahan.
Selain tujuan sebagaimana dimaksud di atas, Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian BUMN ini j uga mempuyai sasaran, yaitu :
a. tercapainya kesamaan bahasa, pengertian, dan penafsiran penyelenggaraan tata naskah dinas;
b. terwujudnya keterpaduan pengelolaan tata naskah dinas dengan unsur lainnya dalam lingkup administrasi umum;
c. lancarnya komunikasi tulis kedinasan serta kemudahan dalam pengendalian; d. tercapainya efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan tata naskah dinas;
e. berkurangnya tumpang tindih, salah tafsir, dan pemborosan penyelenggaraan tata naskah.
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA -3-
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian BUMN meliputi berbagai kegiatan yang mencakup pengaturan tentang jenis dan format naskah dinas, penyusunan naskah dinas, penggunaan lambang negara, logo dan cap dinas, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tata persuratan dan penggunaan media surat-menyurat.
D. Pengertian Umum
Pengertian umum dalam pedoman ini meliputi hal berikut:
1. Naskah dinas adalah informasi tertulis sebagai alat komunikasi kedinasan yang dibuat dan/atau dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di lingkungan Kementerian BUMN dalam rangka menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang pembinaan BUMN.
2. Tata naskah dinas adalah pengelolaan informasi tertulis (naskah) yang mencakup pengaturan jenis, format, penyiapan, pengamanan, pengabsahan, distribusi, dan penyimpanan naskah dinas serta media yang digunakan dalam komunikasi kedinasan. 3. Administrasi umum adalah rangkaian kegiatan administrasi yang meliputi tata naskah
dinas, penamaan lembaga, singkatan dan akronim, kearsipan, serta tata ruang perkantoran.
4. Komunikasi intern adalah tata hubungan dalam penyampaian informasi kedinasan yang dilakukan antar unit kerja di lingkungan Kementerian BUMN, secara vertikal dan horizontal.
5. Komunikasi ekstem adalah tata hubungan penyampaian informasi kedinasan yang dilakukan oleh Kementerian BUMN dengan pihak lain di luar lingkungan Kementerian BUMN.
6. Format adalah susunan dan bentuk naskah yang menggambarkan tata letak dan redaksional serta penggunaan lambang negara, logo, dan cap dinas.
7. Kewenangan penandatanganan naskah dinas adalah hak dan kewajiban yang ada pada seorang pejabat di lingkungan Kementerian BUMN untuk menandatangani naskah dinas sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kedinasan pada jabatannya.
8. Instansi pemerintah adalah kementerian negara/lembaga, sekretariat lembaga negara, TNI/POLRI, dan pemerintah daerah.
9. Aparatur pemerintah adalah alat kelengkapan pemerintah untuk menjalankan tugas pemerintahan dan pembangunan di pusat dan daerah.
10. Lambang negara adalah 'simbol negara yang dituangkan dalam gambar burung garuda sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
11. Logo Kementerian BUMN adalah lambang organisasi Kementerian BUMN.
BAB II
JENIS DAN FORMAT NASKAH DINAS
A. Naskah Dinas Arahan
Naskah dinas arahan adalah naskah dinas yang memuat kebijakan pokok atau kebijakan pelaksanaan yang harus dipedomani dan dilaksanakan dalam penyelenggaraan tugas dan kegiatan setiap instansi pemerintah yang berupa produk hukum yang bersifat pengaturan, penetapan dan penugasan.
Naskah dinas arahan terdiri dari:
. Naskah Dinas Pengaturan
Sesuai dengan tingkatannya, naskah dinas yang bersifat pengaturan terdiri atas: Peraturan, Pedoman, Petunjuk Pelaksanaan, Instruksi, Prosedur Tetap/Prosedur Operasional Standar, dan Surat Edaran.
a. Peraturan 1) Pengertian
Peraturan adalah naskah dinas yang bersifat mengatur, memuat kebijakan pokok, bersifat umum, berlaku untuk seluruh satuan organisasi/unit kerja, termasuk bagi Badan Usaha Milik Negara dan dapat merupakan dasar bagi penyusunan naskah dinas lainnya.
2) Wewenang Penetapan dan Penandatanganan
Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani peraturan adalah Menteri Negara BUMN atau pejabat yang diberikan pelimpahan kewenangan dari Menteri Negara BUMN untuk menandatangani atas nama Menteri Negara BUMN.
3) Susunan a) Judul
(1) Judul peraturan memuat keterangan mengenai jenis peraturan, nomor, tahun penetapan, dan nama peraturan. Penomoran merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Kementerian BUMN. (2) Nama peraturan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi peraturan. (3) Penulisan judul peraturan seluruhnya menggunakan huruf kapital
dengan margin tengah (center) tanda diawali atau diakhiri dengan
tanda baca apapun.
(4) Judul ditulis dalam sate baris, kecuali tidak memu.ngkinkan dapat ditulis dalam beberapa baris dengan memperhatikan kaidah pemotongan kalimat yang baik.
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 5 - b) Pembukaan
Pembukaan peraturan terdiri dari hal-hal berikut:
(1) Fase "Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa" ditulis seluruhnya
dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin (center).
(2) Nama jabatan pejabat yang menetapkan Peraturan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma.
(3) Konsideran diawali dengan kata "Menimbang".
(a) Konsiderans memuat aturan singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan peraturan.
(b) Pokok-pokok pikiran pada konsiderans memuat unsur filosofis yuridis, dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. (c) Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan
dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan perlunya dibuat Peraturan.
(d) Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran, tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian.
(e) Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma (;).
(f) Jika konsiderans hanya memuat satu pokok pikiran, maka pokok pikiran dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata "bahwa" dan diakhiri dengan tanda baca titik koma (;), tanda diawali dengan huruf abjad.
(4) Dasar hukum diawali dengan kata "Mengingat".
(a) Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan. (b) Peraturan perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar
hukum hanya peraturan perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.
(c) Jika jumlah peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu, urutan pencantuman perlu memperhatikan hierarki peraturan perundang-undangan, dan jika tingkatannya sama, disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya.
(d) Undang-undang dan Peraturan Pemerintah perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan diantara tanda baca kurung.
- 6 -
(e) Jika jumlah peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu, maka penulisannya diawali dengan angka dan diakhiri dengan tanda baca titik koma (;).
(5) Diktum terdiri dari :
(a) kata "Memutuskan", yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:) serta diletakkan di tengah marjin;
(b) kata "Menetapkan", yang dicantumkan sesudah kata Memutuskan, disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Huruf awal kata "Menetapkan" ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:).
c) Batang Tubuh
Batang tubuh peraturan terdiri dari
(1) semua substansi peraturan perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal-pasal;
(2) substansi yang pada umumnya dikelompokkan ke dalam : (a) Ketentuan umum;
(b) Materi pokok yang diatur;
(c) Ketentuan sanksi administrasi (jika diperlukan); (d) Ketentuan peralihan (jika diperlukan);
(e) Ketentuan Penutup.
d) Kaki
Bagian kaki peraturan yang diletakan di sisi kanan bawah lembar terakhir secara berurutan ke bawah dengan penulisan rata kiri, terdiri dari :
(1) tempat (kota sesuai dengan alamat instansi) diawali dengan frasa "Ditetapkan di" (kata "Ditetapkan" diawali dengan huruf kapital); (2) tanggal penetapan peraturan (tanggal, bulan, tahun) diawali dengan
frasa "pada tanggal" ( kata "pada" diawali dengan huruf kecil);
(3) nama jabatan pejabat yang menetapkan, yang ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma (,);
(4) tanda tangan pejabat yang menetapkan Peraturan;
(5) nama lengkap pejabat yang menandatangani Peraturan, yang ditulis dengan huruf kapital, tanpa mencantumkan gelar;
(6) cap dinas. e) Lembar Pemisah
Bagian lembar pemisah dipergunakan untuk memisahkan naskah peraturan dengan lampiran, jika lampirannya merupakan substansi peraturan, yang terdiri dari:
Lambang...17
MENTERI NEGARA
BAD AN USAHA MILIK NEGARA - 7 -
(1) Lambang negara dan dua baris tulisan, yaitu pada baris pertama tulisan "MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA", dan pada baris kedua tulisan "REPUBLIK INDONESIA" (untuk peraturan Menteri Negara BUMN) serta logo Kementerian BUMN dan dua baris tulisan yaitu "KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA" pada baris pertama dan "REPUBLIK INDONESIA" pada baris kedua (untuk peraturan pimpinan unit organisasi Eselon I) yang diletakkan secara simetris;
(2) Tulisan lampiran peraturan, nomor, tentang, dan nama peraturan diletakkan secara simetris dan ditulis dengan huruf kapital, serta dicantumkan di antara peraturan dan lampiran peraturan.
4) Pengabsahan
a) Pengabsahan merupakan suatu pernyataan bahwa sebelum digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu Peraturan telah dicatat dan diteliti sehingga dapat diumumkan oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum dan hukum.
b) Pengabsahan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, yang ditulis dengan rata kifi, dan terdiri dari frasa "Salinan sesuai dengan aslinya" yang diikuti nama jabatan pejabat yang berwenang membuat pengabsahan, serta dibubuhi tanda tangan pejabat yang berwenang lengkap dengan NIP dan cap instansi yang bersangkutan.
5) Distribusi
Peraturan yang telah dilakukan pengabsahan (salinan peraturan) didistribusikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
6) Hal-hal yang perlu diperhatikan
a) Naskah ash yang ditandatangani, dibuat dalam rangkap dua dan dibubuhi paraf oleh pejabat terkait sampai dengan dua tingkat di bawah pejabat yang menandatangani, pada setiap lembar.
b) Satu Naskah ash hams disimpan sebagai file (pertinggal) di Tata Usaha Menteri dan satu naskah lainnya disampaikan kepada Pejabat Pembuat Salinan.
Format peraturan dapat dilihat dalam pada contoh 1. Format lembar pemisah dapat dilihat pada contoh 2. Format salinan peraturan sebagaimana contoh 3.
Menimbang
Mengingat
Menet apkan
: a. bahwa
b. bahwa ... ... ... ... ... ... ; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimalcsud pada huruf a dan huruf b di
atas, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara tentang.
I. 2.
MEMUTUSKAN:
PERATURAN TENTANG ...„ Pasal I
Batang Tubuh
Kaki
Judul Peraturan
Pembukaan MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA
NOMOR : PER-05/MBU/20I1
TENTANG
PEDOMAN TATA NASKAH DINAS KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA BADAN USAHA MIMIC NEGARA,
Pasal 2
Ditetapkan di
pada tanggal ... ... ...
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
(Tanda tangan dan cap jabatan) DAMAN ISKAN
Kepala Biro Hukum Asdep Riset dan Informasi
Sekretaris Kementerian BUMN
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis BUMN (paraf) (paraf) (paraf) (Pare)
- 8 -
CONTOH 1 FORMAT PERATURAN
Bagian Pengendalian
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA - 9 -
CONTOH 2
FORMAT LEMBAR PEMISAH PERATURAN
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-05/MBU/2011
TENTANG
PEDOMAN TATA NASKAH DINAS
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
CONTOH 3.../10
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
PERATURAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-05/MBU/2011
TENTANG
PEDOMAN TATA NASKAH DINAS
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
1
DENGAN RAHMAT TUILAN YANG MAHA ESAMENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA, Menimbang
Mengingat
Menetapkan PERATURAN TENTANG 1.
2. a. bahwa b. bahwa
MEMUCUSKAN:
1
Pasal 2 Pasal 1
Ditetapkan di pada tanggal
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
ttd. DAHLAN ISKAN
Nama Lengkap NIP
Tanda tangan dan cap instansi Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum,
1
- 10 - CONTOH 3
FORMAT SALINAN PERATURAN
Judul Peraturan
Pembukaan
Batang Tubuh
Kaki
Pengabsahan
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
b. Pedoman 1) Pengertian
Pedoman adalah naskah dinas yang memuat acuan yang bersifat umum yang perlu dijabarkan ke dalam petunjuk operasional/telcnis dan penerapannya disesuaikan dengan karakteristik tugas Kementerian BUMN. Pedoman dibuat dalam rangka menindaklanjuti kebijakan yang lebih tinggi dan merupakan lampiran clari peraturan induk.
2) Peraturan induk
a) Naskah dinas peraturan induk dari sebuah Pedoman adalah sebagaimana naskah dinas peraturan (huruf a.) tersebut di atas, kecuali batang tubuh. b) Batang tubuh naskah dinas peraturan induk terdiri dari pasal-pasal yang
memuat
(1) Materi pokok yang terdiri dari :
(a) penetapan pedoman sebagaimana terlampir; (b) penegasan jangkauan pemberlakuan pedoman; (c) pendelegasian kewenangan (jika diperlukan). (2) Ketentuan peralihan (jika diperlukan);
(3) Ketentuan penutup.
3) Wewenang Penetapan dan Penandatanganan
Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani pedoman adalah Menteri Negara BUMN atau pejabat lain yang diberikan pelimpahan kewenangan dari Menteri Negara BUMN untuk menandatangani atas nama Menteri Negara BUMN.
4) Susunan a) Kepala
Bagian kepala pedoman terdiri dari :
(1) tulisan pedoman ditulis dengan huruf kapital secara simetris; dan (2) rumusan judul pedoman diletakkan secara simetris dan ditulis dengan
huruf kapital.
b) Batang Tubuh
Bagian batang tubuh pedoman terdiri dari:
(1) Bab I berupa Pendahuluan yang dapat berisi latar belakang/dasar pemikiran, maksud dan tujuan, ruang lingkup, tata urutan, dan pengertian;
(2) Bab II berupa Materi Pedoman;
(3) Bab III berupa Penutup yang terdiri dari hal yang harus diperhatikan dan penjabaran lebih lanjut, serta alamat pembuat pedoman yang ditujukan kepada para pembaca/pengguna atau mereka yang akan menyampaikan saran penyempurnaan.
c). Kaki.../12
-1.2- c) Kaki
Bagian kaki pedoman terdiri dari:
(1) nama jabatan yang menandatangani pedoman, ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca koma (,);
(2) tanda tangan pejabat yang menetapkan;
(3) nama lengkap pejabat yang menandatangani pedoman, ditulis dengan huruf kapital, tanpa mencantumkan gelar;
(4) Nomor Induk Pegawai (NIP), kecuali untuk Menteri Negara BUMN; dan
(5) cap dinas.
d) Pengabsahan
1) Pengabsahan merupakan suatu pernyataan bahwa sebelum digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu Pedoman telah dicatat dan diteliti sehingga dapat diumumkan oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum dan hukum.
2) Pengabsahan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, yang ditulis dengan rata kiri, dan terdiri dari frasa "Salinan sesuai dengan aslinya" yang diikuti nama jabatan pejabat yang berwenang membuat pengabsahan, serta dibubuhi tanda tangan pejabat yang berwenang lengkap dengan NIP dan cap instansi yang bersangkutan.
e) Distribusi
Pedoman yang telah dilakukan pengabsahan (salinan pedoman) didistribusikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
1) Hal-hal yang perlu diperhatikan
a) Naskah asli yang ditandatangani, dibuat dalam rangkap dua dan dibubuhi paraf oleh pejabat terkait sampai dengan dua tingkat di bawah pejabat yang menandatangani, pada setiap lembar.
b) Satu Naskah asli harus disimpan sebagai file (pertinggal) di Tata Usaha Menteri dan satu naskah lainnya disampaikan kepada Pejabat Pembuat Salinan.
Format contoh pedoman dapat dilihat pada contoh 4
Format contoh salinan pedoman dapat dilihat pada contoh 5.
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PEDOMAN TATA NASKAH DINAS
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA BAB I
PENDAHULUAN A. Umum
B. Maksud dan Tujuan C. Ruang Lingkup D. Pengertian
BAB II MATER' PEDOMAN
B. dan seterusnya
BAB HI PENUTUP
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
(Tanda tangan dan cap jabatan)
DAHLAN ISKAN
1
Kepala Biro Hukum Asdep Riset dan
Informasi Sekretaris Kementerian BUMN
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis BUMN (Paraf) (Para) (paraf) (paraf)
Bagian Pengendalian
Kepala Pedoman
Kaki
z
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 13 -
CONTOH 4 FORMAT PEDOMAN
CONTOH
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN PEDOMAN TATA NASKAEI DINAS
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA BAB I
PENDAHULUAN A. Umum
B. Maksud dan Tujuan C. Ruang Lingkup D. Pengertian
BAB II MATERI PEDOMAN A.
B. dan seterusnya
BAB HI PENUTUP
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
DAHLAN ISKAN ltd.
Tanda tangan dan cap instansi
Nama Lengkap NIP
Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum,
1
- 14 -
CONTOH 5
FORMAT SALINAN PEDOMAN
Kepala Pedoman
Batang tubuh
Kaki
Bagian Pengabsahan
c. Petunjuk
...115
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
-15-
c. Petunjuk Pelaksanaan 1) Pengertian
Petunjuk Pelaksanaan adalah dan merupakan lampiran dari peraturan induknaskah dinas pengaturan yang memuat cara pelaksanaan kegiatan termasuk urutan pelaksanaannya
2) Peraturan induk
a) Naskah dinas peraturan induk dari sebuah Petunjuk Pelaksanaan adalah sebagaimana naskah dinas peraturan (huruf a.) tersebut di atas, kecuali batang tubuh.
b) Batang tubuh naskah dinas peraturan induk terdiri dari pasal-pasal yang memuat :
(1) Materi pokok yang terdiri dari :
(a) penetapan pedoman sebagaimana terlampir; (b) penegasan jangkauan pemberlakuan pedoman; (c) pendelegasian kewenangan (jika diperlukan). (2) Ketentuan peralihan (jika diperlukan);
(3) Ketentuan penutup.
3) Wewenang Penetapan dan Penandatanganan
Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani Petunjuk Pelaksanaan adalah Menteri Negara BUMN atau pejabat lain yang diberikan pelimpahan kewenangan dad Menteri Negara BUMN untuk menandatangani atas nama Menteri Negara BUMN
4) Susunan a) Kepala
Bagian kepala petunjuk pelaksanaan terdiri dari
(1) tubs= "petunjuk pelaksanaan" yang ditulis dengan huruf kapital, dicantumkan di tengah atas; dan
(2) rumusan judul petunjuk pelaksanaan, yang ditulis dengan huruf kapital dan diletakkan secara simetris.
b) Batang Tubuh
Bagian batang tubuh petunjuk pelaksanaan terdiri dad
(4) pendahuluan, yang memuat penjelasan umum, latar belakang/dasar pemikiran, maksud dan tujuan, ruang lingkup, tata urutan, dan pengertian serta hal-hal lain yang dianggap perlu;
(5) materi petunjuk pelaksanaan, yang dengan jelas menunjukkan urutan tindakan, pengorganisasian, koordinasi, pengendalian, dan hal lain yang dipandang perlu untuk dilaksanakan;
e. Kaki.../16
- 16 -
c) Kaki
Bagian kaki petunjuk pelaksanaan terdiri dari
(1) nama jabatan yang menetapkan petunjuk pelaksanaan, ditulis dengan hinuf kapital dan cliakhiri dengan tanda baca koma (,);
(2) tanda tangan pejabat yang menetapkan;
(3) nama lengkap pejabat yang menandatangani petunjuk pelaksanaan, ditulis dengan huruf kapital, tanpa mencantumkan gelar;
(4) Nomor Induk Pegawai (NIP), kecuali untuk Menteri Negara BUMN; dan
(5) cap dinas.
d) Pengabsahan
1) Pengabsahan merupakan suatu pernyataan bahwa sebelum digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu Petunjuk Pelaksanaan telah dicatat dan diteliti sehingga dapat diumumkan oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum dan hukum.
2) Pengabsahan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, yang ditulis dengan rata kiri, dan terdiri dari frasa "Salinan sesuai dengan aslinya" yang diikuti nama jabatan pejabat yang berwenang membuat pengabsahan, serta dibubuhi tanda tangan pejabat yang berwenang lengkap dengan NIP dan cap instansi yang bersangkutan.
e) Distribusi
Petunjuk Pelaksanaan yang telah dilakukan pengabsahan (salinan petunjuk pelaksanaan) didistribusikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
Format petunjuk pelaksanaan dapat dilihat pada contoh 6.
Format salinan petunjuk pelaksanaan dapat dilihat pada contoh 7.
CONTOH .../17
Kaki
Kepala Biro Hukum Asdep Riset dan Informasi
Sekretaris Kementerian BUMN
Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis BUMN (Paraf) (paraf) (paraf) (Paraf)
Bagian Pengendalian Kepala
Batang Tubuh MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
PETUNJUK PELAKSANAAN
BAB I PENDAHULUAN A. Umum
B. Maksud dan Tujuan
C. Ruang Lingkup
D. Pengertian
BAB II
B. dan seterusnya
BAB III
A . .
B. dan seterusnya
dst
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
Tanda tangan dan cap jabatan
DAHLAN ISKAN
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA — 17 —
CONTOH 6
FORMAT PETUNJUK PELAKSANAAN
Bagian Pengabsahan
Kepala
Batang Tubuh
Kaki
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN PETUNJUK PELAKSANAAN
BAB I PENDAI-IULUAN
A. Umum
B Maksud dan Tujuan
C. Ruang Lingkup
D. Pengertian
BAB II
B. dan seterusnya
BAB III
A.
B. dan seterusnya
dat
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
ttd.
DAHLAN ISKAN Salinan sesuai dengan aslinya
Kepala Biro Hukum, Tanda tangan dan cap instansi Nama Lengkap
Nip
- 18 -
CONTOH 7
FORMAT SALINAN PETUNJUK PELAKSANAAN
d. Instruksi _119
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 19 -
• d. Instruksi 1) Pengertian
Instruksi adalah naskah dinas yang memuat perintah berupa petunjuk/arahan tentang pelaksanaan kebijakan suatu peraturan perundang-undangan.
2) Wewenang Penetapan dan Penandatanganan
Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani instruksi adalah Menteri Negara BUMN atau pejabat lain yang diberikan pelimpahan kewenangan dari Menteri Negara BUMN..
3) Susunan
a) Kepala Instruksi
Bagian kepala instruksi terdiri dari
(1) kepala naskah dinas yang berisi gambar lambang negara atau logo Kementerian BUMN dan tulisan nama jabatan yang diletakkan secara simetris dan ditulis dengan huruf kapital;
(2) kata "Instruksi" dan tulisan pejabat pemberi instruksi, ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
(5) nomor Instruksi, ditulis secara simetris di bawah kata "Instruksi" dan tulisan pejabat pemberi Instruksi. Penomoran merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Kementerian BUMN.
(3) kata tentang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital secara simetris tanpa spasi;
(4) judul instruksi, ditulis seluruhnya dengan huruf kapital secara simetris tanpa diakhiri tanda baca;
(5) di bawah judul ditulis Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris, serta diakhiri tanda baca koma (,).
b) Diktum
Bagian diktum instruksi terdiri dari:
(1) diktum dimulai dengan kalimat "Dalam rangka dengan ini memberikan instruksi", tanpa diakhiri dengan tanda baca;
(2) kata "Kepada" dicantumkan setelah kalimat "Dalam rangka dengan ini memberikan instruksi" yang disejajarkan ke bawah dengan kata Dalam rangka. Kata "Kepada" ditulis dengan huruf awal kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua (:) diikuti dengan nama pejabat/jabatan penerima Instruksi, apabila lebih dari satu ditulis dengan angka 1, 2, 3, dan seterusnya sesuai dengan urutan unit organisasinya dan/atau tingkatan jabatannya;
(3) kata.../20
- 20 -
(3) kata "Untuk" ditulis dengan huruf awal kapital, diikuti dengan substansi instruksi, bila perlu dikelompokkan dalam diktum: KESATU, KEDUA, KETIGA, dan seterusnya, yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, dan diakhiri tanda baca titik dua (:) ditempatkan sejajar di bawah kata "Kepada".
c) Kaki
Bagian kaki instruksi terdiri dari:
(1) tempat (kota sesuai dengan alamat instansi) dikeluarkan instruksi dan tanggal penandatanganan instruksi;
(2) nama jabatan pejabat yang menetapkan instruksi, yang ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca koma (,);
(3) tanda tangan pejabat yang menetapkan instruksi;
(4) nama lengkap pejabat yang menandatangani instruksi, yang ditulis dengan huruf kapital serta tanpa mencantumkan gelar;
(5) Nomor Induk Pegawai (NIP), kecuali Menteri Negara BUMN; dan (6) cap dinas.
4) Pengabsahan
(a) Pengabsahan merupakan suatu pernyataan bahwa sebelurn digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu Instruksi telah dicatat dan diteliti sehingga dapat diumumkan oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum dan hukum.
(b) Pengabsahan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, yang ditulis dengan rata kiri, dan terdiri dari frasa "Salinan sesuai dengan aslinya" yang diikuti nama jabatan pejabat yang berwenang membuat pengabsahan, serta dibubuhi tanda tangan pejabat yang berwenang lengkap dengan NIP dan cap instansi yang bersangkutan.
5) Distribusi dan Tembusan
Salinan instruksi didistribusikan kepada yang bersangkutan, pejabat yang tercantum pada salinan, dan pejabat lain yang terkait dengan materi instruksi.
6) Hal yang Perlu Diperhatikan
a) Meskipun kata instruksi mengandung arti perintah, instruksi yang dimaksudkan dalam pedoman ini bukan perintah, melainkan suatu petunjuk/arahan pelaksanaan suatu keputusan;
b) Instruksi merupakan pelaksanaan kebijakan pokok sehingga instruksi harus merujuk pada suatu keputusan/peraturan perundang-undangan; c) Wewenang penetapan dan penandatanganan instruksi tidak dapat
dilimpahkan kepada pejabat lain.
Format instruksi Menteri Negara BUMN tertuang pada contoh 8.
Format salinan instruksi Menteri Negara BUMN tertuang pada contoh 9. CONTOH 8.../21
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 21 -
CONTOH 8
FORMAT INSTRUKSI MENTERI NEGARA BUMN
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
INSTRUKSI MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : INS-01/MBU/20II
TENTANG
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
Dalam rangka dengan ini memberikan instruksi Kepada: 1. Nama/Jabatan Pegawai;
2. Nama/Jabatan Pegawai; 3. dan seterusnya
Untuk: KESATU :
KEDUA :
KETIGA : Melaksanakan Instruksi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara dengan penuh tanggung jawab. Instruksi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkan. Salinan Instruksi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini disampaikan kepada: 2.
Ditetapkan di ... pada tanggal ...
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
(Tanda tangan dan cap jabatan)
DAHLAN ISKAN
Kepala
Diktum
Kaki
Bagian Pengendalian Kepala Biro Hukum Asdep Riset dan Informasi Sekretaris Kementerian
BUMN Restrukturisasi dan Deputi Bidang Perencanaan Strategis (paraf) (paraf) (paraf) (paraf)
CONTOH 9.../22
Kaki
Bagian Pengabsahan
- 22 -
CONTOH 9
FORMAT SALINAN INSTRUKSI MENTERI NEGARA BUMN
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
INSTRUKSI MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : INS-01/MBUI2011 TENTANG
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
Dalam rangka dengan ini memberikan instruksi Kepada: 1. Nama/Jabatan Pegawai;
2. Nama/Jabatan Pegawai; 3. dan seterusnya
Untuk: KESATU :
... KEDUA
KETIGA : Melaksanakan Instruksi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara dengan penuh tanggung jawab. Instruksi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkan. Salinan Instruksi Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara ini disampaikan kepada: 1. ... ... ...
2. ... ...
Ditetapkan di
pada tanggal ... ... ... ...
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
t t d
Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum, Tanda tangan dan cap instansi Nama Lengkap
NIP
DAHLAN ISKAN
Kepala
Diktum
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 23 -
e. Prosedur Tetap/Prosedur Operasional Standar (POS)/Standard Operating Procedures (SOP)
Pengaturan mengenai naskah dinas arahan berupa prosedur tetap/prosedur operasional standar/Standard Operating Procedures (SOP), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri tersendiri.
f. Surat Edaran 1) Pengertian
Surat edaran adalah naskah dinas yang memuat pemberitahuan atau penjelasan tentang hal tertentu yang dianggap penting atau mendesak serta ditujukan kepada lingkungan tertentu.
2) Wewenang Penetapan dan Penandatanganan
Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani Surat Edaran adalah Menteri Negara BUMN atau pejabat lain yang diberikan pelimpahan kewenangan dari Menteri Negara BUMN untuk menandatangani atas nama Menteri Negara BUMN
3) Susunan
a) Kepala
Bagian kepala surat edaran terdiri dari:
(1) Lambang negara dan dua baris tulisan, yaitu pada baris pertama tulisan "MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA", dan pada baris kedua tulisan "REPUBLIK INDONESIA" (untuk Menteri Negara BUMN) dan logo dan baris tulisan "KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA" (untuk peraturan pimpinan unit organisasi Eselon I) yang diletakkan secara simetris dan ditulis dengan huruf kapital;
(2) alamat pejabat yang dituju ditulis di margin kiri;
(3) tulisan surat edaran yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris, diikuti dengan nomor surat edaran yang ditulis secara simetris di bawahnya. Penomoran merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Kementerian BUMN.
(4) kata tentang diletakkan di bawah nomor surat edaran, ditulis dengan huruf kapital;
(5) judul surat edaran ditulis dengan huruf kapital secara simetris di bawah kata tentang tanpa diakhiri tanda baca apapun.
b) Batang Tubuh
Bagian batang tubuh surat edaran terdiri dari (1) alasan tentang perlunya dibuat surat edaran;
(2) peraturan yang menjadi dasar pembuatan surat edaran; dan (3) uraian materi yang dianggap penting dan mendesak.
- 24 -
c) Kaki
Bagian kaki surat edaran terdiri dari (1) tempat dan tanggal penetapan;
(2) nama jabatan pejabat yang menetapkan, ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma (,);
(3) tanda tangan pejabat yang menetapkan;
(4) nama lengkap pejabat yang menandatangani, ditulis dengan huruf kapital, serta tanpa mencantumkan gelar;
(5) Nomor Induk Pegawai, kecuali untuk Menteri Negara BUMN; (6) cap dinas;
(7) tembusan apabila diperlukan.
Format surat edaran Menteri Negara BUMN tertuang pada contoh 10.
Format surat edaran yang ditandatangani oleh pejabat Eselon I atas nama Menteri Negara BUMN tertuang pada contoh 11.
Format surat edaran pejabat Eselon I tertuang pada contoh 12.
CONTOH 10.../25
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 25 -
CONTOH 10
FORMAT SURAT EDARAN MENTERI NEGARA BUMN
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Yth. I. ... ...
2...
3. dan seterusnya
SURAT EDARAN NOMOR : SE-01/MBU/2011
TENTANG
A. Umum
B. Maksud dan Tujuan
C. Ruang Lingkup
D. Dasar
E.
dan seterusnya
Ditetapkan di
pada tanggal ... ... MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
(Tanda tangan dan cap jabatan) DAHLAN ISKAN
Tembusan: 1.
2. ... ... ... 3. dan seterusnya
Kepala
Batang Tubuh
Kaki
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA. REPUBLIK INDONESIA
Yth. 1. 2.
3. dan seterusnya
SURAT EDARAN NOMOR : SE-01/MBU/S/2011
TENTANG
A. Umum
B. Maksud dan Tujuan
C. Ruang Lingkup
D. Dasar
E.
dan seterusnya
Ditetapkan di pada tanggal MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA SEKRETARIS KEMENTERIAN, Tanda tangan dan cap instansi
MAHMUDDIN YASIN NIP 19540712 197303 1 001 Tembusan:
1.
2.
3. dan seterusnya
am.
- 26 -
CONTOH 11
FORMAT SURAT EDARAN YANG DITANDATANGANI PEJABAT ESELON I ATAS NAMA MENTERI NEGARA BUMN
Kepala
BatanR Tubuh
Kaki
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
GEDUNG KEMENTERIAN BUMN, LANTAI M, JL. MEDAN MERDEKA SELATAN NO. 13, JAKARTA, 10110 TELEPON (021) 1234567, FAKSIMILE (021) 12345667, SITUS: WWW.EUMN.GOID
Yth. I. 2.
3. dan seterusnya
SURAT EDARAN
NOMOR : SE-01/S.MBU/2011
TENTANG
A. Umum
B. Maksud dan Tujuan
C. Ruang Lingkup
D. Dasar
E.
dan seterusnya
Ditetapkan di pada tanggal
SEKRETARIS KEMENTERIAN,
Tanda tangan dan cap instansi MAHMUDDIN YASIN NIP 19540712 1973 03 1 001
Tembusan: 1. 2.
3. dan seterusnya
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
-27-
CONTOH 12
FORMAT SURAT EDARAN YANG DITANDATANGANI PEJABAT ESELON I
Kepala
Batang Tubuh
Kaki
- 28 -
2. Naskah Dinas Penetapan (Keputusan)
Jenis naskah dinas penetapan terdiri atas Keputusan terkait dengan urusan pemerintahan umum dan Keputusan terkait dengan urusan kepemilikan saham/modal BUMN dan Perseroan Terbatas.
a. Pengertian
Keputusan adalah naskah dinas yang memuat kebijakan yang bersifat menetapkan, tidak bersifat mengatur, dan merupakan pelaksanaan kegiatan, yang digunakan untuk
1) menetapkan/mengubah status kepegawaian/personal/keanggotaan/material/ peristiwa;
2) menetapkan/mengubah/membubarkan suatu kepanitiaan/titn/komite; 3) menetapkan pelimpahan wewenang.
b. Wewenang Penetapan dan Penandatanganan
Pejabat yang berwenang menetapkan dan menandatangani keputusan adalah Menteri Negara BUMN atau pejabat lain yang diberikan pelimpahan kewenangan clari Menteri Negara BUMN.
c. Susunan
1) Keputusan terkait dengan urusan pemerintahan umum
a) Kepala
(1) kop naskah dinas, yang berisi lambang Negara dan nama jabatan "MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA" (untuk Menteri) atau logo dan nama instansi "KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA" (untuk pejabat struktural selain Menteri), yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
(2) kata "keputusan" dan nama jabatan pejabat yang menetapkan, yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
(3) Nomor keputusan yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris. Penomoran merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Kementerian BUMN.
(4) kata penghubung "tentang " yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
(5) judul keputusan yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris; (6) nama jabatan pejabat yang menetapkan keputusan, yang ditulis dengan
huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca koma.
b) Konsiderans
Ketentuan yang mengatur Konsiderans dalam bagian peraturan (angka 1. huruf a.) berlaku mutatis mutandis untuk konsiderans keputusan.
c) Dasar Hukum
Ketentuan yang mengatur Dasar Hukum dalam bagian peraturan (angka 1. huruf a.) berlaku mutatis mutandis untuk Dasar Hukum keputusan.
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 29 -
d) Diktum
Ketentuan yang mengatur Diktum dalam bagian peraturan (angka 1. huruf a.) berlaku mutatis mutandis untuk Diktum keputusan.
e) Batang Tubuh
(1) Batang tubuh memuat substansi keputusan yang diuraikan per substansi yang diawali dengan bilangan bertingkat/diktum kesatu,
kedua, ketiga, dan seterusnya yang ditulis dengan huruf kapital dan
diikuti tanda baca titik dua (:).
(2) Substansi batang tubuh ditulis setelah bilangan bertingkat/diktum dan tanda baca titik dua (:) dengan diawali huruf kapital, dan apabila lebih dari satu baris, awal baris berikutnya sejajar di bawah awal kalimat.
f) Kaki
Ketentuan yang mengatur Kaki dalam bagian peraturan (angka 1. huruf a.) berlaku mutatis mutandis untuk Kaki keputusan.
g) Pengabsahan
(1) Pengabsahan merupakan suatu pernyataan bahwa sebelum digandakan dan didistribusikan dengan sah, suatu keputusan telah dicatat dan diteliti sehingga dapat diumumkan oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum atau administrasi umum atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan substansi keputusan.
(2) Pengabsahan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, yang terdiri dari kata Salinan sesuai dengan aslinya, nama jabatan, tanda tangan, nama pejabat penanda tangan, dan dibubuhi cap instansi yang bersangkutan.
h) Distribusi
Ketentuan yang mengatur Distribusi dalam bagian peraturan (angka 1. huruf a.) berlaku mutatis mutandis untuk Distribusi keputusan.
i) Hal-hal yang perlu diperhatikan
Ketentuan yang mengatur Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bagian peraturan (angka 1 huruf a.) berlaku mutatis mutandis untuk Hal-hal yang perlu diperhatikan keputusan.
Format Keputusan terkait dengan urusan pemerintahan umum dapat dilihat pada contoh 13, 14, dan 15.
Format Salinan Keputusan terkait dengan urusan pemerintahan umum dapat dilihat pada contoh 16.
CONTOH 13.../30
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : KEP-01/MBU/2011 TENTANG
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
}z
17
Menimbang a. bahwa b. dst;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut di atas, perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara tentang...;
Mengingat I. ... ... ... ... ... ... ... 2.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA TENTANG
•••
KESATU :
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal.... KEDUA : dst
z
SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth.: 1. ... . ;
2. dst.
17
Ditetapkan di
pada tanggal ... ... ... ... MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA, Tanda tangan dan cap jabatan
DAHLAN ISKAN
Konsiderans
Dasar Hukum
Diktum -34-
CONTOH 13
FORMAT KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BUMN
Kepala
Batang Tubuh
Kaki
CONTOH 14.../31
Kepala
Konsiderans
Dasar Hukum
Diktum
Batang Tubuh
Kaki
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 31 -
CONTOH 14
FORMAT KEPUTUSAN YANG DITANDATANGANI PEJABAT ESELON I ATAS NAMA MENTERI NEGARA BUMN
MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA, REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : KEP-02/MBU/S/2011 TENTANG
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa b. dst;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada bumf a dan b
tersebut di atas, perlu menetapkan Keputusan Mental Negara Badan Usaha Milik Negara tentang...
Mengingat 1. 2.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA TENTANG
KESATU: ... ... ... ... KEDUA •
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggat SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
2. 3. Dst
Ditetapkan di ... pada tanggal
a.n. MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA SEKRETARIS KEMENTERIAN, Tanda tangan dan cap instansi MAHMUDDIN YASIN NIP 19540712 197303 1 001
LOGO KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
GEDUNG KEMENTERIAN BUMN, JALAN MEDAN MERDEKA SELATAN NOMOR 13, JAKARTA 10110 TELEPON (021) 1234567, FAKSIMILI (021) 3456789, SITUS wwzbumn.gold
Menimbang
Mengingat
a. bahwa b. dst;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut di alas, perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara tentang.„
1. 2.
Kaki Kepala
Konsiderans
Dasar Hulcum
Diktum
Batang Tuba
z
KEPUTUSAN SEKRETARIS KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : KEP-04/S.MBU/2011 TENTANG
SEKRETARIS KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : KEPUTUSAN SEKRETARIS KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARATENTANG
K_ESATU -
10EDUA •
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ...
SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth.: 1. .... ;
2.
3. Dst.
Ditetapkan di ... ... ... ... . pada tanggal ... ... .
SEKRETARIS KEMENTERIAN,
Tanda tangan dan cap instansi
MAHMUDD1N YASIN NIP 19540712 197303 1 001
-32- CONTOH 15
FORMAT KEPUTUSAN YANG DITANDATANGANI PEJABAT ESELON
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : KEP-01/MBU/2011 TENTANG
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA, -
I 7
1
7
1
Menimbang a. bahwa b. dst;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b tersebut di atas, perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara tentang...;
Mengingat I. 2.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA TENTANG
•••
KESATU: ... . ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. ... KEDUA : dst
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal.... SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth.: I
2. dst.
Ditetapkan di pada tanggal
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
ttd.
Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Hukum,
DAHLAN ISKAN
Tanda tangan dan cap instansi Nama Lengkap NIP Konsiderans Dasar Hukum Diktum MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
-33-
CONTOH 16
FORMAT SALINAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA BUMN
Kepala
Batang Tubuh
Kaki
Bagian Pengabsahan
-34-
2) Keputusan terkait dengan urusan kepemilikan saham/modal BUMN dan Perseroan Terbatas.
a) Kepala
(1) i. Dalam hal Perum dan Persero yang seluruh saham dimiliki oleh Negara (Keputusan Pemegang Saham di luar RUPS) :
- kop naskah dinas berisi lambang Negara dan nama jabatan "Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia" (untuk Menteri) atau logo dan nama instansi "Kementerian Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia" (untuk pejabat struktural selain Menteri), yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
ii. Dalam hal Persero dan Perseroan Terbatas yang tidak seluruh saham dimiliki oleh Negara (Keputusan Pemegang Saham di luar RUPS) :
- tanpa mengunakan kop naskah dinas.
(2) i. Untuk Perum menggunakan frasa "Keputusan Pemilik Modal Perusahaan Umum (Perum) ", yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
ii. Untuk Persero dan Perseroan Terbatas menggunakan frasa "Keputusan Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT ... /PT ... di Luar Rapat Umum Pemegang Saham", yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
(3) Nomor keputusan yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris. Penomoran merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Kementerian BUMN.
(4) kata penghubung "tentang " yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris;
(5) judul keputusan yang ditulis dengan huruf kapital secara simetris.
b) Dasar Hukum
(1) Dasar hukum ditulis dengan menggunakan judul yang ditulis rata kiri dengan huruf kapital dan diawali dengan angka romawi (I. DASAR HUKUM);
(2) Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Keputusan. (3) Jika jumlah dasar hukum lebih dari satu, urutan pencantuman perlu
memperhatikan tata urutan peraturan perundang-undangan, dan jika tingkatannya sama, disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau penetapannya.
(4) Dasar hukum yang berupa Undang-undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan diantara tanda baca kurung. (5) Dasar hukum dalam bentuk surat ditulis asal surat, nomor, tanggal dan
perihal surat.
(6) Jika.../3 5
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 35 -
Jika dasar hukum lebih dari satu, maka ditulis berurutan berdasarkan angka.
c) Pertimbangan
(1) Pertimbangan ditulis dengan menggunakan judul yang ditulis rata kiri dengan huruf kapital dan diawali dengan angka romawi (II. PERTIMBANGAN);
(2) Pertimbangan memuat pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan ditetapkannya Keputusan.
Jika pertimbangan lebih dari satu, maka ditulis berurutan berdasarkan angka.
d) Isi Keputusan
(1) Isi Keputusan ditulis dengan menggunakan frasa "Keputusan" yang ditulis rata kiri dengan huruf kapital dan diawali dengan angka romawi
(III. KEPUTUSAN);
(2) Keputusan memuat hal-hal yang diputuskan beserta syarat-syarat dan/atau kondisi yang harus dipenuhi dalam melaksanakan putusan tersebut;
(3) Jika diperlukan, salah satu klausul keputusan memuat pemberian kuasa dengan hak substitusi kepada pihak tertentu untuk menyatakan segala sesuatu yang diputuskan dalam bentuk otentik dihadapan Notaris atau pejabat yang berwenang. Hal ini wajib dilakukan apabila diwajibkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan.
e) Penutup
(1) Penutup ditulis dengan menggunakan frasa "PENUTUP" yang ditulis rata kiri dengan huruf kapital dan diawali dengan angka romawi (IV. PENUTUP);
(2) Penutup yang memuat 3 (tiga) ketentuan secara berurutan sebagai berikut:
- ketentuan mengenai mulai efektif berlakunya isi Keputusan, dan jika dianggap perlu memuat jangka waktu berlakunya isi keputusan; - ketentuan mengenai jumlah rangkap dokumen ash yang ditetapkan
sebanyak jumlah penandatangan ditambah 1 (satu).
- tujuan salinan Keputusan (jika dianggap perlu) yang ditulis "Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth. : " diikuti dengan nama pihak yang menerima Salinan secara berurutan ke bawah berdasarkan huruf kecil.
f) Kaki
Bagian kaki keputusan terdiri dari
(1) tempat dan tanggal penetapan keputusan; (2) untuk Persero/Perseroan Terbatas
i. nama.../36
- 36 -
i. nama jabatan yang menetapkan diikuti dengan frasa "Selaku Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT .../PT ...", yang ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma, dalam hal Keputusan ditandatangani oleh Pemegang Saham; ii. nama jabatan yang menetapkan diikuti dengan frasa "Selaku Kuasa
Pemegang Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT .../PT ...", yang ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma, dalam hal Keputusan ditandatangani oleh Kuasa Pemegang Saham;
(3) untuk Perum
i. nama jabatan yang menetapkan diikuti dengan frasa "Selaku Pemilik Modal Perusahaan Umum (Perum) ...", yang ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma, dalam hal Keputusan ditandatangani oleh Menteri Negara BUMN;
ii. nama jabatan yang menetapkan diikuti dengan frasa "Selaku Kuasa Pemilik Modal Perusahaan Umum (Perum) ...", yang ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma, dalam hal Keputusan ditandatangani oleh Kuasa Menteri Negara BUMN; (4) tanda tangan yang menetapkan keputusan;
(5) nama lengkap yang menandatangani keputusan, yang ditulis dengan huruf kapital, tanpa mencantumkan gelar.
(6) Cap Dinas pada bagian kiri tanda tangan dan menyentuh sebagian tanda tangan. Dalam hal keputusan ditandatangani langsung oleh Menteri, maka menggunakan cap jabatan. Jika keputusan ditandatangani oleh kuasa Menteri, maka menggunakan cap instansi.
Salinan Keputusan
(1) Salinan dibuat apabila diperlukan atau diperintahkan dalam Keputusan yang bersangkutan;
(2) Dalam hal Perum dan Persero, Salinan Keputusan dibuat oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum;
(3) Dalam hal Perseroan Terbatas yang kepemilikan saham Negara dibawah 51% (limapuluh prosen), Salinan Keputusan dibuat oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum, dan dapat pula dibuat oleh penandatangan lain dan pihak Perusahaan sesuai dengan peraturan internal masing-masing .
(4) Dalam hal Salinan ditandatangani oleh pejabat yang bertanggung jawab di bidang hukum, Salinan dicantumkan di bawah ruang tanda tangan sebelah kiri bawah, yang terdiri dari kata Salinan sesuai
dengan aslinya, nama jabatan, tanda tangan, nama pejabat penanda
tangan, dan dibubuhi cap instansi yang bersangkutan.
h) Distribusi...137
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA -37-
h) Distribusi
(1) Ash Keputusan disampaikan kepada Penandatangan dan Direksi Perusahaan yang bersangkutan, sedangkan Salinan (jika diperlukan) didistribusikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan;
(2) Penyampaian Ash Keputusan dan/atau Salinan Keputusan, dilakukan dengan surat pejabat yang bertanggungjawab di bidang hukum;
4) Hal-hal yang perlu diperhatikan
Ash Keputusan dan Salinan Keputusan yang diparaf harus disimpan sebagai arsip.
Format Keputusan terkait dengan urusan kepemilikan saham/modal BUMN dan Perseroan Terbatas dapat dilihat pada contoh 17, 18, 19, 20, dan 21
Format Salinan Keputusan terkait dengan urusan kepemilikan saham/modal BUMN dan Perseroan Terbatas dapat dilihat pada contoh 22
CONTOH 17.../38
PEMEGANG SAHAM LAIN PERSEROAN (PERSERO) PT
Tanda tangan dan cap jabatan ( ... ...
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA SELAKU PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN
PERSEROAN (PERSERO) PT Tanda tangan dan cap jabatan
DAHLAN ISKAN
Kepala
Dasar Hukum
Pertimbarwan
Isi Keputusan
Penutup
Kaki
z
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT DI LUAR RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM
NOMOR : KEP-111/MBU/2011 TENTANG
I. DASAR HUKUM 1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Keputusan Presiden 5. Peraturan Menteri 6. Keputusan Menteri 7. Swat
8. Dst IL PERT1MBANGAN
1. Bahwa 2. Bahwa... 3. Dst III. KEPUTUSAN
1. 2. 3. dst IV. PENUTUP
I. 2.
3. Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
Ditetapkan di ... ... ... ... pada tanggal
- 38 - CONTOH 19
FORMAT KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM DI LUAR RUPS UNTUK PERSERO ATAU PERSEROAN TERBATAS YANG TIDAK SELURUH SAHAM DIMILIKI OLEH NEGARA
DAN DITANDATANGANI OLEH PEMEGANG SAHAM
CONTOH 18.../39
Dasar Hukum
Pertimbangan
Isi Keputusan
Penutup
Kaki Kepala
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
GEDUNG KEMENTERIAN BUMN, LANTAI M, IL. MEDAN MERDEKA SELATAN NO. 13, JAKARTA, 10110 TF1.F.PON (021) 1234567, FAKSIM1LE (021) 12345667, SITUS: WWW.EUMN.GO.ID
KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT DI LUAR RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM
NOMOR : KEP-111/MBU/2011 TENTANG
DASAR HUKUM 1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Keputusan Presiden 5. Peraturan Menteri 6. Keputusan Menteri 7. Surat
8. Dst II. PERTIMBANGAN
1. Bahwa 2. Bahwa... 3. Dst III. KEPUTUSAN
1. 2. 3. dst IV. PENUTUP
1. 2.
3. Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
Ditetapkan di pada tanggal
DEPUTI BIDANG USAHA INDUSTRI PRIMER SELAKU KUASA PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT
Tanda Langan dan cap instansi MEGANANDA DARYONO NIP
LOGO
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA - 39 -
CONTOH 18
FORMAT KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM DI LUAR RUPS UNTUK PERSERO YANG SELURUH SAHAM DIMILIKI OLEH NEGARA
DAN DITANDATANGANI OLEH KUASA PEMEGANG SAHAM
CONTOH 19.../40
z
Dasar Hukum
Pertimbangan
Isi Keputusan
Penutup
Kaki Kepala
KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT DI LUAR RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM
NOMOR : KEP-I II/MBU/2011 TENTANG
I. DASAR HUKUM 1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Keputusan Presiden 5. Peraturan Menteri 6. Keputusan Menteri 7. Surat
8. Dst IL PERTIMBANGAN
1. Bahwa 2. Bahwa... 3. Dst
III. KEPUTUSAN 1. 2.
3. dst
IV. PENUTUP 1. 2.
3. Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
Ditetapkan di pada tanggal
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA SELAKU PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN
PERSEROAN (PERSERO) PT
Tanda tangan dan cap jabatan DAHLAN ISKAN
- 40 -
CONTOH 19
FORMAT KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM DI LUAR RUPS UNTUK PERSERO YANG TIDAK SELURUH SAHAM DIMILIKI OLEH NEGARA
DAN DITANDATANGANI OLEH PEMEGANG SAHAM
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN PEMILIK MODAL PERUSAHAAN UMUM (PERUM)
NOMOR : KEP-111/MBU/2011 TENTANG
I. DASAR HUKUM 1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Keputusan Presiden 5. Peraturan Menteri 6. Keputusan Menteri 7. Surat
8. Dst II. PERTIMBANGAN
I. Bahwa 2. Bahwa... 3. Dst III. KEPUTUSAN
1. 2. 3. dst IV. PENUTUP
1. 2.
3. Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
Ditetapkan di
pada tanggal ... ... ...
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA SELAKU PEMILIK MODAL PERUSAHAAN UMUM
(PERUM) ... ... ..., Tanda tangan dan cap jabatan
DAHLAN ISKAN MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 41 -
CONTOH 20
FORMAT KEPUTUSAN PEMILIK MODAL UNTUK PERUM YANG DITANDATANGANI OLEH PEMILIK MODAL
Kepala
Dasar Hukum
Pertimbangan
Isi Keputusan
Penutup
Kaki
CONTOH 21.../42
Pertimbangan
Isi Keputusan
Penutup
Kaki Kepala
Dasar Hukum KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
LOGO REPUBLIK INDONESIA
GEDUNG ICEMENTERIANBUMN, LANTAI M, JL. MEDAN MERDEKA SELATAN NO. 13, JAKARTA, 10110 TELEPON (021) 1234567, FAKSRvIELE (021) 12345667, SITUS: WWW.BUMN.GOID
KEPUTUSAN PEMILIK MODAL PERUSAHAAN UMUM (PERUM)
NOMOR : KEP-111/MBU/2011
TENTANG
I. DASAR HUKUM 1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Keputusan Presiden 5. Peraturan Menteri 6. Keputusan Menteri 7. Surat
8. Dst PERTIMBANGAN 1. Bahwa 2. Bahwa... 3., Dst KEPUTUSAN 1. 2. 3. dst PENUTUP 1. 2.
3. Salinan Keputusan ini disampaikan kepada Yth.:
Ditetapkan di ... ... ... . pada tanggal ...
DEPUTI BIDANG USAHA INDUSTR1 PRIMER SELAKU KUASA PEMILIK MODAL PERUSAHAAN UMUM (PERUM)
Tanda tangan dan cap instansi
MEGANANDA DARYONO NIP
- 42 -
CONTOH 21
FORMAT KEPUTUSAN PEMILIK MODAL UNTUK PERUM YANG DITANDATANGANI OLEH KUASA PEMILIK MODAL
CONTOH
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SALINAN
KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT DI LUAR RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM
NOMOR : ICEP-111/MBU/2011 TENTANG
PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT
V. DASAR HUKUM 1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Presiden 4. Keputusan Presiden 5. Peraturan Menteri 6. Keputusan Menteri 7. Surat
8. Dst PERTIMBANGAN 1. Bahwa 2. Bahwa... 3. Dst KEPUTUSAN 1.
2 3. dst PENUTUP 1. 2.
Ditetapkan di ... ... ... pada tanggal
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA SELAKU PEMEGANG SAHAM PERUSAHAAN
PERSEROAN (PERSERO) PT ttd.
DAHLAN ISKAN Salinan sesuai dengan aslinya
Kepala Biro Hukum, Tanda tangan dan cap instansi Nama L,engkap NIP Dasar Hukum Pertimbangan Isi Keputusan Penutup Kaki Bagian Pengabsahan MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA - 43 -
CONTOH 22
FORMAT SALINAN KEPUTUSAN PEMEGANG SAHAM DI LUAR RUPS UNTUK PERSERO YANG SELURUH SAHAM DIMILIKI OLEH NEGARA DAN
DITANDATANGANI OLEH PEMEGANG SAHAM
Kepala
-44-
3. Naskah Dinas Penugasan (Surat Perintah/Surat Tugas)
a. Surat Perintah 1) Pengertian
Surat perintah adalah naskah dinas yang dibuat oleh atasan atau pejabat yang berwenang kepada bawahan atau pejabat lain yang diperintah, yang memuat apa yang harus dilakukan. Surat perintah digunakan dalam rangka penunjukan pejabat pengganti berupa Pelaksana Tugas (Plt.) atau Pelaksana Harian (Plh.) dalam jabatan struktural di lingkungan Kementerian BUMN, hingga pejabat definitif ditetapkan atau kembali di tempat.
2) Wewenang Pembuatan dan Penandatanganan
Surat perintah dibuat dan ditandatangani oleh pimpinan/pejabat atasan yang berwenang berdasarkan lingkup tugas, wewenang, dan tanggung j awabnya. 3) Susunan
a) Kepala
Bagian kepala surat perintah terdiri dari
(1) kepala naskah dinas, yang berisi gambar lambang negara atau logo Kementerian BUMN dan kata Menteri BUMN Republik Indonesia atau nama instansi, yang diletakkan secara simetris dan ditulis dengan huruf kapital;
(2) tulisan surat perintah yang diletakkan di bawah kepala dengan huruf kapital, diikuti nomor surat perintah ditulis secara simetris di bawahnya. Penomoran merujuk pada ketentuan pemberian kode dan nomor surat Kementerian BUMN.
b) Batang Tubuh
Bagian batang tubuh surat perintah terdiri dari:
(1) konsiderans, meliputi pertimbangan dan/atau dasar pertimbangan memuat alasan ditetapkannya surat perintah, dasar memuat ketentuan yang dijadikan landasan ditetapkannya surat perintah tersebut;
(2) diktum dimulai dengan kata Memberi Perintah, yang diletakkan secara simetris dan ditulis dengan huruf kapital, diikuti kata Kepada di tepi kiri serta nama dan jabatan pegawai yang mendapat perintah. Di bawah kata Kepada ditulis kata Untuk disertai perintah yang harus dilaksanakan.
c) Kaki
Bagian kaki surat perintah terdiri dari:
(1) tempat dan tanggal penetapan surat perintah;
(2) nama jabatan pejabat yang menandatangani surat perintah, yang ditulis dengan huruf kapital, dan diakhiri dengan tanda baca koma (,);
(3) tanda tangan pejabat yang memberi perintah;
(4) nama../45
MENTERI NEGARA
BADAN USAHA MILIK NEGARA
- 45 -
(4) nama lengkap pejabat yang menandatangani surat perintah, yang ditulis dengan huruf kapital;
(5) NIP pejabat yang memberi tugas, kecuali untuk Menteri Negara BUMN;
(6) cap dinas;
(7) tembusan (bila diperlukan).
4) Distribusi
a) Surat perintah disampaikan kepada yang mendapat perintah oleh pemberi perintah, melalui tata usaha pemberi perintah;
b) Tembusan disampaikan kepada pejabat/instansi yang terkait.
5) Hal yang Perlu Diperhatikan
a) Bagian konsiderans memuat pertimbangan/dasar;
b) Jika surat perintah merupakan tugas kolektif, daftar pegawai yang ditugasi dimasukkan ke dalam lampiran yang terdiri dan kolom nomor urut, nama, pangkat, NIP, jabatan, dan keterangan (jika diperlukan);
c) Pada dasarnya surat perintah ditetapkan oleh atasan pegawai, kecuali apabila karena pertimbangan tertentu pejabat tersebut diberi wewenang tertulis untuk menetapkan surat perintah untuk diri sendiri;
d) Surat perintah tidak berlaku lagi setelah perintah selesai dilaksanakan.
Format surat perintah Menteri Negara BUMN tertuang pada contoh 23. Format surat perintah pejabat Eselon I tertuang pada contoh 24.
CONTOH 23.../46
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA
SURAT PERINTAH NOMOR : PRINT-25/MBU/2011
Menimbang : a. bahwa
b. bahwa ... ... ... ... Dasar : 1.
2. ... ... ... ... ... ... ... ... ;
Memberi Perintah
Kepada 1. ... ... ... ... ... ... ... ; 2.
3. 4. dst
Untuk 1.
2. 3. 4. dst
Ditetapkan di ... ... . pada tanggal
MENTERI NEGARA BADAN USAHA MILIK NEGARA,
Tanda tangan dan cap jabatan DAHLAN ISKAN
Tembusan: 1. 2.
- 46 -
CONTOH 23
FORMAT SURAT PERINTAH MENTERI NEGARA BUMN
Kepala
Batang Tubuh
Kaki
KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA
LOGO REPUBLIK INDONESIA
GE