ISSN 2549-6646 (Media Online)
Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Waralaba Outlet Minuman Kopi
di Indonesia
Yanty Faradillah Siahaan
Sistem Informasi, STT. Harapan Medan
[email protected]
Abstract
The current franchise of Food and Beverages (F & B) franchises is Semerbak Coffee franchise, Javapuccino Coffee, KopiMU Sidikalang This research makes the decision support system of franchise coffee outlet selection suitable for online franchisee with AHP method. Online applications are created using the PHP programming language, and have been uploaded publicly with the address www.waralabakopi.com. Uploaded apps have been tested by 97 respondents who have become partners of 3 coffee franchises, and 10 prospective partners. Using 4 criteria are: Franchise membership fee, Operational cost, Size of franchise business, Reputation of franchise business. Using 3 options: Semerbak Coffee, Javapuccino Coffee, KopiMU Sidikalang. The advantages of this application can be done additional criteria and options, as well as additions to the question (questionnaire).
Keywords :Decision Support system,AHP, coffee franchise
Abstrak
Waralaba Food and Beverages (F & B) yang sedang tren saat ini adalah waralaba Semerbak Coffee, Javapuccino Coffee, KopiMU Sidikalang Penelitian ini membuat sistem pendukung keputusan pemilihan waralaba outlet minuman kopi yang cocok bagi franchisee secara online dengan metode AHP. Aplikasi online dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP, dan telah diunggah secara public dengan alamat www.waralabakopi.com. Aplikasi yang sudah diunggah telah diuji oleh 97 orang responden yang sudah menjadi mitra dari 3 waralaba kopi, dan 10 orang responden calon mitra. Menggunakan 4 kriteria yaitu: Biaya keanggotaan waralaba, Biaya usaha operasional, Ukuran usaha waralaba, Reputasi usaha waralaba. Menggunakan 3 opsi yaitu: Semerbak Coffee, Javapuccino Coffee, KopiMU Sidikalang. Kelebihan dari aplikasi ini bisa dilakukan penambahan kriteria dan opsi, serta penambahan pada pertanyaan (kuesioner).
Kata kunci:sistem pendukung keputusan, AHP, pemilihan waralaba kopi
1. Pendahuluan
Banyak cara untuk berbisnis, antara lain waralaba yang sudah menjadi tren wirausaha saat ini dan menjadi alternatif pengembangan usaha juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee[20].
Waralaba ataufranchising(dari bahasa Perancis untuk kejujuran atau kebebasan). Menurut Peraturan pemerintah No. 42/2007, yang dimaksud waralaba adalah hak khusus yang dimiliki oleh orang perseorangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.
Siapa yang tak kenal kopi? Meminum kopi sudah menjadi ritual dan gaya hidup saat memulai aktivitas di pagi hari hingga malam tiba. Popularitas kopi pula yang membuat kedai kopi ada di mana-mana, mulai kedai kopi pinggiran jalan sampai kelas hotel bintang lima. Saat ini semakin berjamurnya peluang usaha dengan konsep waralaba kopi siap saji model outlet (booth) dengan beragam brand, yang diawali dengan Starbucks diikuti dengan waralaba dari luar negri dan lokal seperti Excelso, JCO, Torabika Kedai Kopi, Javapuccino, Coffee Toffee, Kopi MU Sidikalang,
Semerbak Coffee yang masing-masingbrandselalu berinovasi dalam bentuk rasa, dan tampilan. Pada penelitian ini kami hanya meneliti waralaba dengan modal dibawah Rp. 10.000.000 (sepuluh juta).
Menurut Castrigiovani dan Justis (2002) ada tujuh faktor yang akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan jaringanfranchise(franchise network growth) yaitu: franchise start-up cost, initial franchise fee, franchise growth orientation,
industry growth,franchisor age, franchisor sizedan
franchisor reputation.
Peneliti mengambil hanya 4 (empat) indikator yaitu: biaya keanggotaan waralaba (initial franchise fee), biaya usaha operasional (continuing franchisee fee/royalty) ukuran usaha waralaba (franchisor size), reputasi usaha waralaba (franchisor
reputation). Karena menurut Wibowo (2007)
tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jaringan waralaba dengan 4 (empat) indikator ini sudah memenuhi tingkat pertumbuhan jaringan waralaba.
persepsi manusia. Suatu tujuan yang bersifat umum dapat dijabarkan dalam beberapa subtujuan yang lebih terperinci yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dalam tujuan pertama. Penjabaran ini dapat dilakukan terus hingga akhirnya diperoleh tujuan yang bersifat operasional. Dan pada hirarki terendah inilah dilakukan proses evaluasi atas alternatif-alternatif yang merupakan ukuran dari pencapaian tujuan utama dan pada hirarki terendah ini dapat ditetapkan dalam satuan apa kriteria diukur [9]. Metode AHP kemudian diaplikasikan dalam pembuatan website agar para calon mitra (franchisee) juga semakin dimudahkan untuk mengetahui dan memilih waralaba outlet minuman kopi di Indonesia. Inilah yang menjadi dasar akan dibuatnya www.waralabakopi.com.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan sebelumnya, didapatkan perumusan masalah yaitu: bagaimana membuat sistem pendukung keputusan waralaba outlet minuman kopi yang dapat digunakan oleh calon mitra (franchisee) dalam memilih waralaba yang cocok secara online dan hasil jawaban mitra menjadi bahan acuan (benchmark) bagi calon mitra tentang alasan mereka memilih waralaba kopi.
1.3. Batasan Masalah
Batasan-batasan dalam penelitian yang akan dilakukan, yaitu:
1. Indikator yang digunakan untuk pemilihan waralaba outlet minuman kopi adalah: biaya keanggotaan waralaba (initial franchise fee), biaya usaha operasional (continuing
franchise fee/royalty), ukuran usaha
waralaba(franchisor size)dan reputasi usaha waralaba (franchisor reputation).
2. Waralaba yang dibahas adalah Semerbak Coffee, Javapuccino Coffee, KopiMU Sidikalang.
3. Penelitian ini tidak untuk meneliti waralaba mana yang terbaik tetapi hanya membuat sistem pendukung keputusan secara online
yang digunakan untuk membantu calon mitra memilih waralaba kopi berdasarkan jawaban kuesioner.
4. Proses perhitungan AHP di sistem ini hanya dilakukan proses 10 kali pengulangan (iterasi).
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
1. Membuat sistem pendukung keputusan waralaba outlet minuman kopi berbasis web. 2. Menyediakantemplatepreferensi sudah mitra
dan calon mitra.
3. Menganalisis preferensi pemilihan waralaba kopi.
Adapun penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut:
1. Untuk kepentingan akademis: diperoleh metode dan implementasi pemilihan waralaba outlet minuman kopi dengan menggunakan AHP.
2. Untuk kepentingan praktis: aplikasi sistem pendukung keputusan yang dibuat dapat membantu para calon mitra memilih waralaba kopi secaraonline.
1.5. Metode Penelitian
AHP merupakan alat bantu (proses) dalam pengambilan keputusan yang penting. AHP dalam penelitian ini dapat diandalkan karena dapat membantu memecahkan persoalan komplek yang dihadapi oleh calon mitra dengan meyusun suatu hirarki kriteria, yang akan dinilai subjektif oleh calon mitra lalu menarik berbagai pertimbangan dari bobot atau prioritas (kesimpulan).
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka
Penelitian Wibowo (2007) tentang Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jaringan waralaba (Studi kasus pada Yayasan Soroban Mental Aritmatika Indonesia Semarang). Bukti empiris hasil penelitian ini menunjukkan bahwa initial fee tidak menunjukkan sebagai prediktor yang signifikan bagi perkembangan waralaba pendidikan SIMA. Padahal, jika dipandang secara nominalnya, initial fee bagi pendirian satu waralaba SIMA tidaklah begitu besar yaitu rata-rata masih di bawah Rp. 5.000.000. Namun demikian karena karakteristik jenis waralaba pendidikan SIMA ini lebih cenderung pada bersifat temporer dan booming maka nilai nominal initial fee yang relatif murah untuk pendirian waralaba ini tidak banyak memberikan perkembangan waralaba pada beberapa tahun penelitian. Pola perkembangan waralaba pendidikan SIMA ini memang mengalami peningkatan yang tajam pada 1 hingga 2 tahun setelah pendiriannya. Namun demikian data empiris memberikan gambaran mengenai penurunan yang terjadi pada periode akhir penelitian. Ada satu indikasi bahwainitial feeyang relatif rendah tidak banyak memberikan pengaruh yang berarti bagi ketertarikan franchisee untuk bergabung. Faktor
booming dan trend kiranya akan sangat
menentukan dalam keputusan bergabung tersebut. Dalam hal ini, pertimbanganfranchiseuntuk untuk dapat bergabung alam jaringan waralaba pendidikan ini akan begitu besar dalam memandang kemampuan menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek maupun jangka panjang dari produk
franchise.
Faktor continuing fee menunjukkan hasil yang berbeda dengan initial fee. Continuing fee
ISSN 2549-6646 (Media Online) terus-menerus kepada franchisor. Continuing
Franchise Fee akan memungkinkan franchisor
untuk membiayai provisi bagi jasa–jasa dan dukungannya yang terus–menerus. Biaya usaha waralaba terus-menerus juga dilihat sebagai kompensasi yang diberikan kepadafranchisordari penjualan yang telah dihasilkan oleh franchisee
(Raab dan Matusky, 1987; dalam Frazer, 1998) atau sebagai pembayaran untuk brandname dan sistem bisnis yang telah dimiliki oleh franchisor
[13].
Kasus waralaba pendidikan SIMA, menunjukkan bahwa continuing fee sebagai faktor yang signifikan. Artinya penurunan dan kenaikan jumlah waralaba SIMA pada beberapa periode penelitian adalah berkaitan dengan naik atau turunnya continuing fee sebagai kebijakan dari
franchisor. Hal ini dapat ditinjau dari perubahan
continuing fee untuk tiap periodenya. Kebijakan
franchisoruntuk tidak terlalu banyak memberikan beban bagi franchisee merupakan langkah yang tepat untuk mempertahankan keberadaan cabang. Hasil ini konsisten dengan penelitian Shane (1997) akan arti pentingnya royalti yang ekonomis kepada
franchisee untuk mempertahankan esksistensi dari
fanchisetersebut.
Hasil penelitian mengenai pengaruh ukuran waralaba terhadap perkembangan waralaba sudah menunjukkan arah dan hasil yang sesuai sebagaimana dihipotesiskan. Peningkatan perkembangan waralaba yang mengikuti perkembangan ukuran waralaba dapat diperoleh dari data empiris.
2.2. Landasan Teori
2.2.1 Sistem Pendukung Keputusan/SPK
(Decision Support System)
bahwa tujuan SPK adalah membantu pengambil keputusan memilih berbagai alternatif keputusan yang merupakan hasil pengolahan informasi-informasi yang diperoleh/tersedia dengan menggunakan model-model pengambilan keputusan [9]. Pada dasarnya SPK merupakan pengembangan lebih lanjut dari Sistem Informasi Manajemen Terkomputerisasi (Computerized Management Information System) yang dirancang sedemikian rupa hingga bersifat interaktif dengan pemakainya (user). Interakif ini dimaksudkan untuk memudahkan integrasi antara berbagai komponen dalam proses pengambilan keputusan seperti prosedur, kebijakan, teknik analisis, serta pengalaman dan wawasan manajerial guna membentuk suatu kerangka keputusan yang bersifat fleksibel.
2.2.2. Analytical Hierarchy Process(AHP)
AHP merupakan metode yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini dapat memecahkan
masalah yang kompleks dimana aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak.
Menurut Kadarsah S dan Ali Ramdhani (2002 : 131) langkah-langkah dalam dalam metode AHP meliputi:
1. Mendefenisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan subtujuan-subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah. 3. Membuat matrik perbandingan berpasangan
yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan ‘judgement’ (penilaian) dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi.
6. Mengulang langkah 3, 4 dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung Eigen Vector (EV) dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai EV merupakan bobot setiap elemen. Langkah itu untuk mensintesis judgment dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan.
8. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari 10% maka penilaian data
judgementharus diperbaiki.
Penyimpangan dari konsistensi dinyatakan dengan Consistency Index (CI) dengan persamaan:
CI=λmaks–n
n–1
Dimanaλmaks= eigenvalue maksimum
n = ukuran matrik
Perbandingan antara CI dan RI untuk suatu matriks didefenisikan sebagai Consistency Ratio (CR).
CR =CI / RI Dimana
CR = Consistency Ratio CI = Consistency Index RI = Random Index Jika nilai CR≤ 10%maka matrik konsisten
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Sumber : Suryadi dan Ramdhani (2002:138)
2.2.3. Unified Modeling Language(UML)
UML dalah metodologi untuk
mengembangkan sistem OOD (Object Oriented
Design) dan sekelompok perangkat tool untuk
mendukung pengembangan sistem tersebut. UML tidak hanya merupakan sebuah bahasa pemograman visual saja, namun juga dapat secara langsung dihubungkan ke berbagai bahasa pemograman.
2.2.4. Waralaba (Franchise)
Waralaba diperkenalkan pertama kali di Amerika pada tahun 1850an oleh Isaac Singer,
Singer Sewing Machine Company, produsen mesin
jahit, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Membuat bisnis tumbuh dengan kecepatan yang tinggi memerlukan strategi dan taktik bisnis yang jitu. Waralaba diakui sebagai sistem yang dahsyat dalam mempercepat pertumbuhan outlet atau boleh disebut the engine
for growth karena telah mengantarkan banyak
merek lokal maupun asing menjadi besar bahkan mampu ekspansi lintas negara, benua, samudera dengan puluhan jutacustomer. Karena franchising
pada hakekatnya merupakan sebuah konsep memperluas jaringan. Menurut Majalah Info Franchise (2009 : 24-25) ada 7 keutamaan sistem
franchisebagifranchisoryaitu:
1. Kecepatan ekspansi dengan modal pihak
franchisee. Dengan memakai modal pihak ketiga faktor untuk cepat berkembang jauh lebih besar dibandingkan dengan membuka cabang sendiri.
2. Motivasifranchisee untuk sukses jauh lebih baik dibanding dengan karyawan atau manager sebab franchisee menaruhkan modalnya di usaha tersebut sehingga
passion mensukseskan gerainya jauh lebih tinggi.
3. Franchisor memiliki buying power yang
tinggi kepada suplayer. Harga beli untuk bahan baku, peralatan, produk dan pembelian lainnya dengan kapasitas yang besar jelas akan pasti relatif lebih rendah. 4. Adanya shared advertising yang dapat
meningkatkan brand awareness secara cepat, dengan biaya yang dipikul bersama-sama oleh seluruh jaringan usahafranchise.
5. Franchise akan membantu shared
experience mengenai knowledge di setiap
daerah sehingga memungkinkan sebagai
benchmarkdi beberapa outlet lainnya. 6. Memudahkan pengelolaan sumber daya
manusia. Masing-masing franchisee
mempunyai tanggung jawab yang penuh terhadap setiap karyawannya masing-masing.
7. Mendapatrevenuedarifranchise fee,royalti fee, biaya training, produk dan biaya lainnya.
Dalam PP No. 42 tahun 2007 disebutkan bahwa waralaba harus memenuhi 6 (enam) kriteria yang harus dipenuhi yakni:
1. Memiliki ciri khas usaha
Yang dimaksud ciri khas usaha adalah suatu usaha yang memiliki keunggulan atau perbedaan yang tidak mudah ditiru dibandingkan dengan usaha lain sejenis, dan membuat konsumen selalu mencari ciri khas dimaksud. Misalnya, sistem manajemen cara penjualan dan pelayanan, atau penataan, atau cara distribusi yang merupakan karakteristik khusus darifranchisor.
2. Terbukti sudah memberikan keuntungan Menunjuk pada pengalaman franchisor
yang telah dimiliki kurang lebih 5 (lima) tahun dan telah mempunyai kiat-kiat bisnis untuk mengatasi masalah-masalah dalam perjalanan usahanya, dan ini terbukti dengan masih bertahan dan berkembangnya usaha tersebut dengan menguntungkan.
3. Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis adalah standar secara tertulis supaya franchisee dapat melaksanakan usaha dalam kerangka kerja yang jelas dan sama (Standard Operational Procedure). 4. Mudah diajarkan dan diaplikasikan
Mudah dilaksanakan sehingga franchisee
yang belum memiliki pengalaman atau pengetahuan mengenai usaha sejenis dapat melaksanakannya dengan baik sesuai dengan bimbingan operasional dan manajemen yang berkesinambungan yang diberikan franchisor.
5. Adanya dukungan yang berkesinambungan Dukungan darifranchisorkepadafranchisee
secara terus menerus seperti bimbingan operasional, pelatihan dan promosi.
6. Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar
Hak Kakayaan Intelektual yang terkait dengan usaha seperti merek, hak cipta, paten, dan rahasia dagang, sudah didaftarkan dan mempunyai sertifikat atau sedang dalam proses pendaftaran di instansi berwenang.
4 (empat) indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Biaya Keanggotaan Waralaba (initial
franchisee fee)
Franchisor sering menerima pembayaran
dari franchisee dalam bentuk initial fee
ISSN 2549-6646 (Media Online) 1982; Lafontine, 1992a; Russo, 1992; dalam
Frazer, 1998) dan menyediakaninitial start-up service(Forward dan Fulop, 1993; dalam Frazer, 1998). Menurut Mendelsohn (1997), disebutkan bahwa biaya keanggotaan waralaba (initial franchisee fee) merupakan biaya yang dikeluarkan dalam mendirikan organisasi franchisor untuk membantu perkembangan rekruitmenfranchisesebelum ada pemasukan apapun. Disebutkannya juga bahwainitial franchise feetidak perlu terlalu tinggi dan cukup sebagai “uang masuk sebagai anggota”. Uang pembayaran itu mencakup jenjang keanggotaan masuk kedalam jaringanfranchise, dan memberikan kontribusi terhadap biaya pendirian yang ditanggung oleh franchisor, termasuk evaluasi tempat dan franchisee, pelatihan dan penyediaan.
Menurut Karamoy (1996), menjelaskan bahwa fee dan royalti merupakan sumber pendapatan utama dari suatu jenis usaha yang diwaralabakan. Jenis fee dan royalti yang biasa diminta oleh franchisor kepada
franchisee adalah Biaya waralaba, Royalti, Biaya iklan, Pembelian bahan baku, Biaya pelatihan, Biaya konsultasi,Fixed–Royalty.
Tidak semua jenis fee atau royalti disyaratkan oleh franchisor. Setiap
franchisor mempunyai kebijakan sendiri
dalam menentukan jenisfeedan royaltinya.
2. Biaya Usaha Operasional (Continuing Franchise Fee/Royalty)
Biaya usaha operasional dibayarkan oleh
franchisee selama umur kontrak atau
perjanjian dalam kurun waktu tertentu secara terus-menerus kepada franchisor, termasuk untuk membiayai provisi bagi jasa-jasa dan dukungannya yang terus-menerus. Dan juga memberikan potongan/rabat untuk setiap produk atau jasa yang dititipkan atau dijual oleh franchisee (Dnes, 1992; dalam Frazer, 1998). Atau sebagai pembayaran untuk
brandname dan sistem bisnis yang telah dimiliki olehfranchisor[19].
Menurut Mendelsohn (1997) penetapan
continuing franchise fee dari franchisor
disini mengacu pada beberapa faktor, yaitu : a. Kebutuhan franchisor untuk menerima imbalan yang layak atas jasa yang diberikannya.
b. Kebutuhan franchisee untuk mendapatkan jasa-jasa yang berharga dari uang yang dibayarkannya kepadafranchisor.
c. Kemampuan bisnis franchisee
untuk menghasilkan tingkat keuntungan yang cukup, yang
memungkinkannya untuk
mendapatkan penghasilan yang memadai dari modalnya, untuk
membayar upah karyawannya, dan membayar uangfranchise.
3. Ukuran Usaha Waralaba (Franchisor
Size)
Ukuran dari usaha yang dimaksud disini adalah pengaruh dari ukuran dimensi usaha dan aktivitas usaha[23]. Ukuran usaha diibaratkan sebagai susunan / formulasi besar dan standarisasi, yang secara umum berhubungan dengan inovasi dan kreativitas dalam perusahaan. Menurut [6] , ukuran
franchise dapat diibaratkan sebagai suatu perhatian untuk stabilitas dan strategi yang menghindari resiko, kerjasama, dan lebih suka reactive dari pada proaktif. Beberapa peneliti percaya bahwa besar perusahaanlah yang mendorong pertumbuhan perusahaan (Steinmetz, 1969; Mueller, 1972; James, 1973; Scott & Bruce, 1987; dalam Floyd dan Fenwick, 1998). Aldrich dan Auster (1998); dalam Falbe, Dandridge, Kumar (1998), menjelaskan bahwa beberapa jalan suatu usaha untuk menjadi besar adalah kemampuan dari perusahan untuk dapat menghadapi/mengatasi tantangan yang ada melalui umur dan ukuran usaha yang dimilikinya. Seperti diungkapkan oleh James Kallman serta Jaya Fatwa dari Grant Thornton Indonesia (SWA, Mei 2002), pilar sukses berwaralaba harus diperhatikan
franchisesejak dini, saat sebelum berusaha. Usahakan memilihfranchisoryang terbukti sukses di banyak tempat.
4. Reputasi Usaha Waralaba (Franchisor Reputation)
Menurut Karamoy (1996), menjelaskan bahwa citra atau reputasi perusahaan adalah aset yang sangat berharga. Konsumen cenderung untuk membeli produk atau jasa kerena reputasi namanya, yang mana tentunya sudah teruji keandalan dan kualitas produk/jasa yang dihasilkannnya. Citra dan reputasi yang positif akan menyebabkan para konsumen bersedia untuk membayar produk atau jasa tersebut dengan harga lebih tinggi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa merek yang diwaralabakan harus sudah dikenal luas. Citra merek dan equitas merk mesti tinggi, karena intinya waralaba menjual merek ke orang lain. Supaya pihak lain tertarik menjadi pewaralaba, mereknya sendiri harus sudah kuat, dikenal dimana-mana, dan menjadi daya tarik orang.
3. METODE PENELITIAN
3.1. Populasi dan Sampel
penelitian ini menggunakan purposive sampling
(sampel bertujuan). [4] mengatakan bahwa “penarikan sampel secara purposive peneliti menggunakan keahliannya untuk memilih subyek yang mewakili populasi yang dikajinya”.
[1]menyatakan bahwa: “apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi”. Namun apabila lebih dari 100 responden dapat menggunakan rumus sampel sebagai berikut:
n = Z2 ... (3.1) 4μ 2
Dimana n = total sampel Z = 1,96
μ = sampling error = 10%
yaitu orang yang sudah menjadi mitra dan belum mitra
n = (1,96)2 = 3,84 = 96,04 dibulatkan
total sampel 97 orang.
4(10%)2 4(0,01)
3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, yaitu: 1. Data primer, yakni, data yang diperoleh
secara online www.waralabakopi.com dengan mengisi kuesioner dari responden yaitu mitra tentang alasan mereka memilih waralaba kopi dan calon mitra yang ingin mengetahui waralaba kopi yang sesuai. 2. Data sekunder, yakni data pelengkap yang
menunjang hal-hal yang dibutuhkan oleh data-data primer, seperti data yang diperoleh melalui studi pustaka, jurnal, artikel, buku, dan website yang terkait dengan permasalahan yang dibutuhkan.
3.3. Pengujian Kuesioner
Pada penelitian ini peneliti melakukan uji coba kepada 10 responden yang sudah menjadi mitra secara langsung untuk menguji item-item pertanyaan sambil diterangkan tujuan kuesioner tersebut dan menanyakan manfaat dari kuesioner tersebut. Dalam hal ini peneliti menunggui responden sampai selesai mengisi kuesioner. Setelah itu kuesioner diunggah secara public dengan alamat www.waralabakopi.com. Peneliti lalu mengirimkan email secara random kepada 150 orang yang sudah menjadi mitra untuk mengisi kuesioner secara online dan ternyata yang mau mengisi kuesioner hanya 97 orang.
Teknik skala yang dipakai dalam penelitian ini adalah skala rangking (ranking scale) membandingkan dua atau lebih objek untuk memilih objek yang lebih baik. AHP menggunakan skala perbandingan-berpasangan (
paired-comparison scale) dengan menguji konsistensinya dengan Consistency Ratio (CR). Sehingga CR tersebut mengindikasikan tingkat konsistensi responden melakukan perbandingan berpasangan yang pada akhirnya mengindikasikan kualitas keputusan atau pilihan dari responden. Nilai kuesioner CR yang besar (CR ≥ 10%) menunjukkan responden harus secara serius mempertimbangkan untuk mengevaluasi ulang respon–responnya selama dilakukan perbandingan berpasangan yang dilaksanakan. Sementara nilai CR yang semakin rendah (CR ≤ 10%) mengindikasikan semakin konsistennya perbandingan yang responden lakukan.
3.4. Metode Penelitian
Pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif, dimana variabel yang diukur dengan skala pengukuran thurstone yaitu skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala komparatif. Setiap skor memiliki kunci skor dan jika diurut kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama.
3.5. Alat Penelitian
Alat penelitian yang digunakan dalam proses penelitian ini antara lain sebagai berikut :
1. Perangkat Keras berupa satu unit komputer dengan sistem operasi Windows.
2. Perangkat Lunak berupa Notepad ++, Macromedia Dreamweaver 8, Script PHP, mySQL.
3.6. Metode Pengembangan Sistem
Metodologi yang digunakan untuk membangun sistem yang besar dan kompleks dengan metode tertua yang disebut Siklus Hidup Pengembangan Sistem (System Development Life Cycle/SDLC). Dalam SDLC ini semua aktivitas yang terlibat sangat berhubungan satu sama lain dan saling terkait dengan beberapa tahapan yaitu:
1. Analisa Sistem
Pada tahap analisa sistem, fokusnya tentang bagaimana mengembangkan sistem dan bagaimana membuat pengembang memahami kebutuhan sistem. Penelitian ini menggunakan Pemrograman Berorientasi Objek/UML (Unified Modeling Language), analisanya menggunakan use case dan pembentukan database dengan class diagram. Menggunakan program
Enterprise Architect(EA) untuk pembuatan OOD dan pemrogramannya menggunakan bahasa pemograman PHP.
2. Perancangan Sistem
Setelah menganalisis sistem yang akan dibuat maka diperlukan perancangan yang akan ditampilkan dalam web tersebut:
ISSN 2549-6646 (Media Online)
Database Waralaba Kopi
Web waralaba kopi
Responden mengisi/mengetahui hasil kuesioner
internet
Sistem Pendukung Keputusan dengan metode AHP berbasis web untuk memilih waralaba
yang cocok
Admin mengelola
Alir aktifitas dimulai dari buka menu waralaba dengan 6 pilihan dengan beberapa decision, jika tidak ada menu yang dipilih maka aktifitas berakhir.
b. Membuat Tabel
Adapun tabel yang digunakan terdiri dari Tabel aboutus, brand, durasi, kelamin, kriteria, kriteria_nilai, link, opsi, opsi_nilai, pekerjaan, pendidikan, responden, user, usia, visimisi, waralaba. Pada masing-masing tabel yang dirancang memiliki primary key dan kunci tamu sebagai acuan untuk merelasikan antar tabel.
d. Merancang Interface
e. Membuat Database dengan MySQL
3. Desain Sistem
Desain sistem akan menjelaskan pengembangan sistem secara menyeluruh hubungan antara user/admin, website dan databasenya.
Adapun arsiteksur sistem yang akan dibangun seperti gambar dibawah ini:
Sumber : Data diolah (2016)
Gambar 1.Arsitektur Sistem yang Akan Dibangun Model penelitian yang diusulkan:
Sumber : Data diolah (2016)
Gambar 2.Model Penelitian yang Diusulkan
4. Implementasi dan Eksekusi
Tahap implementasi sistem (systems
implementation) merupakan kegiatan
penulisan program (coding) dan tahap meletakkan sistem agar siap dioperasionalkan. Sebelum sistem tersebut diterapkan maka sistem tersebut diuji terlebih dahulu.
5. Pengujian
Sistem ini telah diuji oleh 97 responden yang sudah menjadi mitra dan 10 responden calon mitra secara online dan setiap responden dapat mengetahui waralaba kopi yang dikehendaki.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sistem yang Dihasilkan
Sistem ini terbagi atas 2 (dua) yaitu web yang bisa dilihat oleh semua responden dan web yang hanya bisa diakses oleh admin dari web.
4.1.1. Menu untuk Responden
Merupakan menu dari halaman awal yang muncul pertama kali pada saat program dijalankan dengan mengetikkan nama domain pada address barwww.waralabakopi.com.
4.1.2. Menu untuk Admin
Web ini dibuat secara dinamis karena itu sangat memudahkan admin untuk mengubah isi
interface tanpa harus masuk ke bahasa program
(coding). Admin dapat mengakses dengan
mengetikkan nama domain pada address bar
www.waralabakopi.com/main_admin.php, dan diminta untuk mengisiusernamedanpassword.
4.2. Hasil Penelitian
Data penelitian ini diperoleh dengan melakukan pengisian kuesioner secara onlineyang terbagi atas 2 bagian yaitu Benchmark Hasil Mitra sebanyak 97 responden dan Rekapitulasi Hasil Calon Mitra sebanyak 10 responden. Hasil pengisian kuesioner tergantung dari hasil jawaban responden dan banyaknya responden, dengan sistem yang dirancang untuk mampu menerima responden yang tidak terbatas jumlahnya untuk mengisi kuesioner.
4.2.1. Benchmark Hasil Mitra
Dari 97 responden yang telah mengisi kuesioner diperoleh hasil:
Tabel 1. Persilangan Kriteria dan Opsi Mitra Opsi
Kriteria
Semerbak Coffee
Javapuccino Coffee
KopiMU Sidikalang
Reputasi Usaha Waralaba
29.81 % 68.1 % 15.9 % 15.8 %
Biaya Usaha Operasional
29.62 % 25.4 % 19.7 % 55.1 %
Ukuran Usaha Waralaba
23.64 % 69.5 % 15.3 % 15.1 %
Biaya Keanggotaan Waralaba
Berdasarkan tabel 4.1 didapat kesimpulan bahwa: Reputasi Usaha Waralaba 29.81% sebagai kriteria terbanyak yang dipilih mitra dalam memilih waralaba kopi. Dilanjutkan dengan Biaya Usaha Operasional 29.62%, Ukuran Usaha Waralaba 23.64%, dan Biaya Keanggotaan Waralaba 16.93%.
Tabel 2.Prioritas Waralaba Kopi Mitra Prioritas Waralaba Kopi
Berdasarkan tabel 2 didapat kesimpulan bahwa: Semerbak Coffee dengan nilai 47.9% sebagai opsi waralaba kopi terbanyak dipilih mitra, dilanjutkan dengan KopiMU Sidikalang dengan nilai 29.81% dan Javapuccino Coffee dengan nilai 22.3 %.
4.2.2. Rekapitulasi Hasil Calon Mitra
Dari 10 responden yang telah mengisi kuesioner diperoleh hasil:
Tabel 3.Persilangan Kriteria dan Opsi Hasil yang Belum Menjadi Mitra
Berdasarkan tabel 3 didapat kesimpulan bahwa: Reputasi Usaha Waralaba 28.13% sebagai kriteria terbanyak dipilih oleh calon mitra dalam memilih waralaba kopi. Dilanjutkan dengan Biaya Keanggotaan Waralaba 25.19, Biaya Usaha Operasional 23.36%, Ukuran Usaha Waralaba 23.31%.
Tabel 4. Prioritas Waralaba Kopi Calon Mitra Prioritas Waralaba Kopi
Berdasarkan tabel 4 didapat kesimpulan bahwa: Semerbak Coffee dengan nilai 43.31% sebagai opsi waralaba kopi terbanyak dipilih calon mitra,
dilanjutkan dengan KopiMU Sidikalang 29,21% dan Javapuccino Coffee 27.56%.
5. Kesimpulan dan Saran 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka didapat kesimpulan: 1. Aplikasi dibuat untuk 4 kriteria yaitu: Biaya
keanggotaan waralaba, Biaya Usaha Operasional, Ukuran usaha waralaba, Reputasi usaha waralaba dengan 3 opsi yaitu: Semerbak Coffee, Javapuccino Coffee, KopiMU Sidikalang. Kelebihan dari aplikasi ini bisa dilakukan penambahan kriteria dan penambahan opsi, serta penambahan pertanyaan (kuesioner). 2. Aplikasi yang dibuat sudah diuji pada 97
responden yang sudah menjadi mitra sebagai
benchmark(acuan), dan 10 responden calon mitra. Aplikasi ini menghasilkan alternatif keputusan dalam bentuk persentase (%). Aplikasi ini dirancang untuk menerima kuesioner dari responden dengan jumlah yang tidak terbatas.
3. Metode AHP dapat membantu calon mitra dan mitra untuk mengambil keputusan waralaba kopi yang akan diambil.
4. Dari uji coba yang dilakukan, dihasilkan output yaitu: Benchmark hasil mitra dari 97 responden: pilihan utama Semerbak Coffee 47.9%, pilihan kedua KopiMU Sidikalang 29.81%, dan pilihan ketiga Javapuccino Coffee 22.3%. Dari uji coba yang dilakukan kepada 10 responden calon mitra: pilihan utama Semerbak Coffee 43.31%, pilihan kedua KopiMU Sidikalang 29.21%, dan pilihan ketiga Javapuccino Coffee 27.56%.
5.2. Saran
Dari kesimpulan diatas maka peneliti menyarankan sebagai berikut:
1. Menampilkan prioritas hasil perhitungan AHP dalam bentuk grafik agar lebih menarik.
2. Memasukkan unsur Benefit/Cost dalam perhitungan AHP agar mengetahui perhitungan tingkat keuntungan/kerugian serta kelayakan dalam bidang investasi kopi. 3. Bisa menambahkan kriteria lokasi karena faktor lokasi strategis berhubungan dengan banyaknya permintaan (demand) untuk menguasai pasar.
10. Daftar pustaka
[1.] Arikunto, Suharsimi, 1997, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta.
ISSN 2549-6646 (Media Online) [3] Cooper, R. Donald and Emory, William, C.,
1998, Metode Penelitian Bisnis Jilid Dua, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta
[4.] Chadwick, B. Howard and Stan L. Albrecht, 1991, Metode Penelitian Ilmu Pengetahuan Social,IKIP, Semarang Press, Semarang [5.] Diana, Anastasia dan Tjiptono, Fandy, 2007,
E-Business, Andi, Yogyakarta
[6.] Falbe, C. M., Dandridge, T. C., and Kumar, A., 1998, The Effect of Organizational Context on Entrepreneurial Strategies in Franchising, Journal of Business Venturing, 14, pp. 125 - 140.
[7.] Floyd, Callum, and Fenwick, Graham, 1998,
Towards A Model of Franchise System Development, International Small Business Journal.
[8.] Frazer, Lorelle, 1998, Motivations for Franchisors to Use Flat Cntinuing Franchise Fees, Journal of Consumer Marketing, Vol. 15 No. 6, pp. 587–597.
[9.] Kadarsah, Suryadi dan Ramdhani, M., Ali, 2002, Sistem Pendukung Keputusan: Suatu
Wacana Struktural Idealisasi dan
Implementasi Konsep Pengambilan
Keputusan, Remaja Rosdakarya, Bandung
[10.] Karomoy, Amir (1996), “Sukses Usaha Lewat Waralaba”, PT Jurnalindo Aksara Grafika, Jakarta.
[11.] Kementerian Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Direktorat Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Tahun 2010, Panduan Usaha Dengan Sistem Waralaba dan Sistem Penjualan Langsung
[12.] Koetin, E.A, 1993, Analisis Pasar Modal, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
[13.] Mendelsohn. Martin, (1997),“Franchising :
Petunjuk Praktis bagi Franchisor dan
Franchisee”, Cetakan Kedua, PT. Pustaka Binaman Pressindo.
[14.] Mulyono, 1996, Teori Pengambilan Keputusan Edisi Revisi, Lembaga Penerbit Fakutas Ekonomi UI, Jakarta
[15.] Nazir, Moh., 1999, Metode Penelitian, Ghalia, Indonesia
[18.] Nurmianto, Eko, dkk (2004), Perumusan strategi kemitraan menggunakan metode
AHP dan SWOT (Studi Kasus pada
Kemitraan PT. INKA dengan Industri Kecil
Menengah di Wilayah Karesidenan
Madiun), Jurnal Teknik Industri Vol. 6, No. 1
[19.] Pambudi, S., Teguh., Faisal, Akbar, dan Rafick, Ishak, 2002. Strategi Menggulirkan Waralaba,SWA09/ XVIII/ 2–15 Mei 2002. [20.] Redaksi Majalah Info Franchise, 2009,
Franchise Your Business: Melejitkan Bisnis Anda Menjadi Besar Melalui Franchise, Franchise Publishing
[21.] Saaty, 1993,Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin, Proses Hirarki Analitik Untuk Pengambilan Keputusan Dalam Situasi yang Kompleks, Pustaka Binama Pressindo.
[22.] _____ Decision Support Systems and Intelligent Systems. 7th Edition. Upper Saddle River: Prentice-Hall
[23.] Shane, Scott, (1997),Hybrid Organizational Arrangement and Their Implications for Firm Growth and Survival: A Study of New
Franchisers, Academy of Management
Journal.
[24.] Strutton, D., Pelton L. E., and Lumpkin, J. R., (1995), Psychological Climate in
Franchising System Channels and
Franchisor - Solidarity, Journal of Business Research, 34, pp: 81–91.