• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PEMAHAMAN HADIS NABI SYAIKH YUSUF AL-QARADHAWI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "METODE PEMAHAMAN HADIS NABI SYAIKH YUSUF AL-QARADHAWI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

42

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

METODE PEMAHAMAN HADIS NABI

SYAIKH YUSUF AL-QARADHAWI

Surahmat1

Abstract

Hadith as one of the sources of law (read; Istimbat Ahka@m Syar'iyyah) have a complex problem, both in terms of authenticity and in terms of interpretation. Islamic teachings in the Qur'an is a universal global nature, a lot of detailed explanations in the hadith of the Prophet, but their meanings; the interpretation of the hadith which is not comprehensive, so the impact on the traditions that are not used by some groups. Yusuf Qaradawi (manhaj contemporary scholars of Ahlus Sunnah, born in Egypt, experts in various disciplines, including jurisprudence and Hadith) understand tradition as a Hadith Nabawi membumikan effort by several methods such as by combining tradition with the Koran, test the validity of a traditions with authentic traditions topic, closer to the principal and sole discretion shari'ah or general purpose.

Hadis sebagai salah satu sumber hukum (baca; Istimbat Ahka>m Syar’iyyah) memiliki permasalahan yang kompleks, baik dari segi keotentikan maupun dari segi interpretasi. Ajaran Islam dalam al Qur'an adalah bersifat universal yang global, banyak penjelasan yang diperinci dalam hadis Nabi, akan tetapi adanya pemaknaan;interpretasi hadis yang tidak komprehensif, sehingga berdampak pada hadis-hadis yang tidak digunakan oleh sebagian kelompok. Yusuf Qaradhawi (ulama kontemporer yang bermanhaj Ahlus Sunnah, lahir di Mesir, ahli dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk diantaranya fiqih dan hadis) memahami hadis sebagai upaya membumikan hadis Nabawi dengan beberapa metode diantaranya dengan memadukan hadis dengan al-Qur’an, menguji kesahihan suatu hadis dengan hadis-hadis sahih yang setema, lebih mendekati pokok dan lebih sesuai dengan kebijaksaan syari’ah atau tujuan umum syari’ah.

Kata kunci: Hadis, Metode Pemahaman, Yusuf al-Qaradhawi

I. Pendahuluan

Kajian hadis2 Nabi saw sampai saat ini masih tetap menarik, meski tidak

yang semarak yang terjadi dalam studi atau pemikiran terhadap al-Qur’an. Faktor

1

Dosen STAIN Kediri

2Menurut Ulama mutaqaddimi>n, hadis adalah segala perkataan, perbuatan, atau ketetapan yang

disandarkan kepada Nabi saw pasca kenabian, sementara sunnah adalah segala sesuatu yang diambil

dari Nabi saw tanpa membatasi waktu. Sedangkan ulama hadis muta’akhkhiri>n berpendapat bahwa

hadis dan sunnah memiliki pengertian yang sama, yaitu segala ucapan, perbuatan atau ketetapan

Nabi saw. Lihat: Muhammad ‘Ajja>j al-Khati>b, Us}u>l al-Hadi>s ‘Ulu>muhu> wa

Mus}t}aluhu> (Beiru>t: Dar al-fikr, 1989), 17-19. Sebagaimana dikutip oleh Suryadi “Dari Living

Sunnah ke Living Hadis” lihat Dosen Tafsir hadis, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis

(2)

43

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

utama yang menjadi pemicu adalah kompleksitas problem yang ada, baik

menyangkut otentisitas teks, variasai lafaz, maupun rentang waktu yang cukup

panjang antara Nabi dalam realitas kehidupannya sampai masa kodifikasi ke dalam

teks hadis.3

Membicarakan masalah hadis tidak akan menarik bila tidak dikaitkan

dengan sejumlah kitab hadis buah karya cerdas ulama klasik yang demikian banyak

jumlahnya. Akan tetapi, sayangnya tidak seluruh kumpulan kitab hadis tersebut

sampai ke tangan generasi sekarang. Sebagian ada yang dapat ditemukan dan

sebagian lagi hilang dari peredaran wacana khazanah intelektual keislaman.

Kitab-kitab hadis karya para mukharrrij al-Hadi>s4, sangatlah beragam baik dilihat dari

sistematika, metode, topik penghimpunan maupun kualitas hadis yang

dikandungnya. Hal yang demikian sangat logis, mengingat dalam aktivitas

penulisan dan pembukuan hadis, kriteria dalam menyaring hadis, obyek para

mukharrij tidak sama. Sebagai konsekuensinya, kitab-kitab hadis yang

dihasilkannya memiliki banyak keragaman, baik menyangkut kualitas, kuantitas,

sistematika maupun lainnya.5

Dengan adanya keberagaman kitab hadis terutama dari segi kualitas hadis

yang dikandungnya, upaya meneliti validitas hadis-hadis yang termuat di dalamnya

menjadi urgen dilakukan, agar umat Islam benar-benar mampu memilah-milih

hadis antara yang valid (sahih;mutawatir;maqbul) dengan yang tidak valid (dha'if

hatta maudhu'/palsu), untuk dapat dijadikan sebagai sumber ajaran agama (tasyri’)

kedua (al-Mas}dar al-S{a>ni) dalam Islam.6

Dalam pembahasan ini, penulis akan kemukakan metode pemahaman

Syaikh Yusuf Qaradhawi terhadap hadis Nabi dengan merujuk salah satu kitabnya

3Suryadi “Dari Living Sunnah ke Living Hadis”….87-88.

4Mukharrrij al-Hadi>s yang dimaksudkan adalah ulama yang meriwayatkan hadis dan sekaligus

melakukan pengumpulan atau penghimpunan hadis dalam kitab hadis yang ditulisnya. Lihat M.

Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 18.

5Umi Sumbulah, Kritik Hadis: Pendekatan Historis Metodologis (Malang: UIN-Malang Press,

2008), 3-4.

(3)

44

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

yang paling monumental dan urgen dalam kajian hadis nabawi yakni: Kaifa Nata’ammal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah Ma’alim wa Dawabit.

II. Biografi Yusuf al-Qaradhawi

A. Kelahiran dan Perjalanannya Dalam Mencari Ilmu

Yusuf Qaradhawi lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turab7 di tengah Delta pada 6 September 1926. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qaradhawi terus melanjutkan ke Universitas al-Azhar, Kairo Mesir, di Fakultas Ushuluddin,

mengambil bidang studi agama. Dan lulus tahun 1952 dimana ia mendapatkan syahadah ‘aliyah. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke jurusan Bahasa Arab selama dua tahun dan lulus dengan prestasi terbaik di antara lima ratus mahasiswa. Pada tahun 1957, Yusuf Qaradhawi masuk di Ma’had al-Buhuts wa Dirasah al-Arabiyah al-Aliyah sehingga berhasil meraih diploma bidang Bahasa dan Sastra

Arab, kemudian ia melanjutkan studinya di Program Pascasarjana Universitas

al-Azhar Kairo mengambil jurusan Tafsir Hadis selesai pada tahun 1960, kemudian ia

melanjutkan ke Program Doktor selesai pada tahun 1972 (dalam waktu dua tahun),

meskipun itu tidak sesuai dengan apa yang diprediksikan sebelumnya, dikarenakan

tahun 1968-1970 ia di tahan oleh Pemerintah Militer Mesir atas tuduhan

mendukung gerakan Ikhwan al-Muslimin. Judul disertasinya: “al-Zakah wa

Atsaruha fi Halli al-Masyakil al-Ijtima’iyyah” (Zakat dan Pengaruhnya dalam

Memecahkan Problematika Sosial), yang kemudian di sempurnakan menjadi Fikih

Zakat. Sebuah buku komprehensif yang membahas persoalan zakat dengan nuansa

modern.8

B. Keluarga Yusuf al-Qaradhawi

Yusuf Qaradhawi mempunyai tujuh orang anak, empat putri dan tiga putra.

Istrinya adalah seorang penjaga yang amanah dalam mendidik anak-anaknya, saat

7Desa ini dikenal sebagai deesa yang ramai. Disana dikuburkan salah seorang sahabat Rasulullah

Saw yang meninggal terakhir di Mesir, yakni Abdullah bin Haris bin Juz al-Zubaidi sebagaimana

yang ditulis oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dan yang lainnya. Lihat: Ishom Talimah, Al-Qaradhawi

Faqi>han yang diterjemahkan oleh Samson Rahman, Manhaj Fikih Yusuf Qaradhawi, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 2001), 3.

8Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad Ghazali dan Yusuf

(4)

45

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

ayah mereka sedang tidak ada ditengah-tengah mereka. Anak-anaknya putrinya

lahir lebih dahulu dari pada anaknya yang laki-laki. Dalam mengajarkan pendidikan

ke anak-anaknya, beliau membebaskan anak-anaknya untuk memilih ilmu

pengetahuan yang akan mereka tuntut, sesuai dengan bakat dan minat serta

kecenderungan masing-masing. Semua anaknya yang perempuan dikenal

mahasiswi-mahasiswi berprestasi. Mereka memilih fakultas eksak. Keempat

putrinya adalah alumnus Universitas Qatar. Putri sulungnya, Ilham, keluar dengan

nilai tertinggi memperoleh gelar Doktor Fisika di bidang Nuklir di Inggris.

Sedangkan putrinya yang kedua, Siham juga keluar dengan nilai tertinggi pada

jurusan kimia dan memperoleh gelar Doktor dalam bidang biologi jurusan organ tubuh di Inggris. Putrinya yang ketiga, ‘Ala juga keluar dengan nilai tertinggi dari fakultas biologi jurusan hewan dan putrinya yang keempat, ‘Asma, telah

memperoleh gelar master dari Univrersitas Khalij di Bahrain. Sedangkan putranya

yang pertama menempuh studi S3 dalam bidang Tekhnik Elektro di Amerika, putra

keduanya menuntut ilmu di Universitas Darul Ulum Mesir dan putra terakhirnya

menempuh pendidikan di Fakultas Tekhnik jurusan Listrik.9

C. Dialog Yusuf al-Qaradhawi dengan Ikhwan al-Muslimin

Dari beragam pendidikan anak-anaknya, dapat terlihat bahwa Yusuf

Qaradhawi tidak menafikan manfaat terhadap pendidikan modern. Yusuf

al-Qaradhawi termasuk salah satu ulama yang menolak pembagian ilmu secara

dikotomis, dikarenakan inilah yang menjadi penghambat keilmuan dan kemajuan

umat Islam pada zaman sekarang. Menurutnya semua ilmu dapat menjadi Islami

dan tidak Islami tergantung kepada siapa yang memandang dan mengamalkan ilmu

tersebut. Selain dibidang akademik, Yusuf Qaradhawi juga aktif sebagai seorang da’i dengan gaya yang khas dalam menyampaikan khutbah kepada para pendengarnya (sami’iin). Karena keistimewaaannya beliau diutus ke berbagai

daerah oleh jamaah Ikhwan al-Muslimin. Pada tahun 1951, Yusuf al-Qaradhawi

sudah ditunjuk sebagai khatib resmi di masjid Ali Thoha. Disamping aktif

(5)

46

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

menyampaikan khutbah di masjid, beliau aktif menyampaikan khutbahnya melalui

radio dan media elektronik lainnya.10

Muhammad Quraish Shihab memberikan komentar terhadap salah satu akibat dari penyempitan pengertian masyarakat yang mengutamakan ilmu “agama”, dan menganggap rendah ilmu-ilmu umum di pihak lain. Bahkan, ada yang

beranggapan bahwa menjadi ulama cukup dengan menguasai ilmu-ilmu agama

saja, tanpa merasa perlu mempelajari ilmu-ilmu umum, seperti terlihat di beberapa

lembaga pendidikan (pesantren) masa lalu. Sebaliknya, mereka yang mempelajari

ilmu umum merasa tidak lagi berkepentingan untuk mengaitkannya dengan agama. Mereka menganggap bahwa ilmu “umum” bukan berasal dari Allah swt.

Kesimpulan di atas jelas keliru, karena jika dikembalikan kepada al-Qur’an,

maka yang disebut orang ‘alim ialah orang yang pengetahuannya menimbulkan

sifat khasyyah kepada Allah. Ada korelasi antara ilmu dengan khasyyah, karena

keberagaman itu inheren dengan ilmu. Sehingga dapat dikatakan bahwa hanya

orang berilmu yang dapat mencapai puncak khasyyah (taqwa;takut) kepada Allah.

Dengan demikian, jika ada orang yang berilmu dan tidak memiliki sikap

keberagamaan yang kokoh, berarti ilmunya tidak bermanfaat. Bahkan, orang yang

berilmu dan melepaskan tanggung jawabnya karena mengikuti hawa nafsu,

diumpamakan seperti seekor anjing yang menjulurkan lidahnya, baik dihalau

maupun dibiarkan. Hakikat ilmu bukanlah sekadar pengetahuan atau kepandaian

yang dapat dipakai untuk memperoleh sesuatu, tetapi merupakan cahaya (nur) yang

dapat menerangi jiwa untuk berbuat dan bertingkah laku yang baik. Di sini tidak terdapat perbedaan antara ilmu “agama” dengan ilmu “umum”. Fiqh tidak lebih utama daripada sejarah atau matematika, selama semuanya menuju kepada

khasyyah kepada Allah.11

Yusuf al-Qaradhawi juga dikenal sebagai ahli hukum dan ahli politik, dalam

hal ini ia banyak mengambil ilmu dari gurunya, Syaikh Hasan al-Banna, yang

dipandangnya sebagai ulama yang konsisten terhadap kemurnian Islam, tanpa

10Sa’ad Khalid, Khutbah-Khutbah Yusuf al-Qaradhawi (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1999), terjemah

Kathur Suhardi, 13-15.

11M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan

(6)

47

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

terpengaruh oleh paham nasionalisme dan sekularisme yang dibawa oleh para

penjajah ke Mesir dan dunia Islam. Wawasan ilmiahnya banyak dipengaruhi oleh

ulama-ulama al-Azhar. Yusuf al-Qaradhawi dalam mengagumi Ikhwan

al-Muslimin tidak bertaklid buta, akan tetapi berpegang teguh kepada beberapa

kaedah, yakni:

1. Bebas dari fanatisme mazhab.

2. Semangat mempermudah dan tidak memperberat.

3. Berbicara dengan bahasa yang mudah dan kekinian.

4. Menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat.

5. Mengambil jalan tengah antara yang keras dan yang mudah.

6. Setiap fatwa yang dilontarkan harus disertai dengan penjelasan yang

baik.12

D. Karya-Karya Yusuf al-Qaradhawi

Sebagai seorang ulama kontemporer, Yusuf al-Qaradhawi banyak manulis

karya di berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam, baik karya yang

berbentuk buku maupun artikel yang sudah diterbitkan dan populer di Perguruan

Tinggi dan Pondok-Pesantren. Di antaranya:

1. Fikih Zakat

2. Ijtihad fi al-Syari’ah al-Islamiyyah

3. Ijtihad al-Mu’ashirah baina al-Indibat wa al-Infirad

4. Kaifa Nata’ammal ma’a al-Qur’an al-Karim

5. Kaifa Nata’ammal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah Ma’alim wa Dawabit

6. Al-Madkhal li al-Dirasah al-Sunnah al-Nabawiyah

7. Syari’ah al-Islam

8. Al-Taubah ila Allah

9. Al-Waqt fi Hayat al-Muslim, dan lain sebagainya.

Salah satu karya beliau di bidang hadis yang monumental adalah buku yang

berjudul Kaifa Nata’ammal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah Ma’alim wa Dawabit.

Buku ini beliau tulis atas permintaan dari Ma’had al-Alami al-Fikr al-Islami di

Washington, Amerika Serikat dan Majma’ al-Maliki li Buhus Hadarah

12Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi: Perspektif Muhammad Ghazali dan Yusuf

(7)

48

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

Islamia di Yordania. Kedua lembaga ini meminta kepada Yusuf al-Qaradhawi

untuk menulis sebuah karya sebagai salah satu upaya meredam gejolak yang

muncul akibat terbitnya karya Muhammad Ghazali yang berjudul Sunnah

al-Nabawiyyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadis. Hal tersebut dikarenakan adanya

kontroversi yang ditimbulkan sebagai respon terhadap buku Muhammad Ghazali

sebagai metode memahami sunnah berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan

al-Qur’an.13

III. Metode Pemahaman Hadis Yusuf Qaradhawi

Metodologi yang ditawarkan oleh Yusuf al-Qaradhawi dalam memahami

sunnah adalah:

1. Memahami Sunnah sesuai dengan petunjuk al-Qur’an

Sebagai upaya memahami hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud:

Perempuan yang mengubur hidup-hidup bayi perempuannya dan bayi perempuan

yang dikuburnya, keduanya masuk di neraka.

Yusuf al-Qaradhawi kemudian menampilkan ayat al-Qur’an surat al-Takwir

ayat 8-9:

ْتَلِتُق ٍبْنَذ ِ يَِبِ ْتَلِئُس ُةَدوُءْوَمْلا اَذِإَو

Artinya: Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,

karena dosa apakah dia dibunuh.

Yusuf al-Qaradhawi mencoba melihat komentator hadis, tetapi belum

ditemukan jawaban yang memuaskan. Hasil pemahaman beliau adalah dengan

mengutip hadis shahih14 lainnya:

َلاَق

Artinya: Rasulullah saw bersabda: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan

suci, akan tetapi orang tuanya yang menjadikan dia yahudi, nashrani. Sahabat

bertanya, ya Rasulallah, bagaimana jika diantara mereka mati ketika masih kecil?

13Yusuf al-Qaradhawi, Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah Ma’alim wa Dhawa>bith

(USA: al-Ma’had al-‘Alami li al-Fikr al-Isla>mi>, 1990), 20.

14Hadis riwayat Imam Abu Dawud dalam bab Zarooriyil Musyrikiin/Keturunan (zurriyah) orang

(8)

49

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

Rasulullah saw menjelaskan, Alloh swt lebih mengetahui terhadap apa yang

mereka kerjakan.

Bahkan dalam riwayat Imam Muslim, terdapat penjelasan dari Nabi

Muhammad saw, bahwa keturunan orang-orang non Muslim yang belum baligh

akan menjadi pelayan penduduk surga. Sehingga pemaknaan hadis di atas adalah

orang yang membunuh bayi yang akan masuk neraka, baik laki-laki maupun wanita,

sedangkan bayinya tergolong selamat.

Dalam riwayat shahih lainnya, al Qotil wal Maqtul fin Nar, orang yang

membunuh dan yang dibunuh di neraka, Rasulullah saw menjelaskan bahwa

keduanya sama-sama ingin membunuh, hanya saja yang dibunuh terbunuh lebih

dahulu.

Demikian pula hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Anas ketikia

Nabi menjawab pertanyaan tentang keberadaan ayahnya:, beliau bersabda:

Sesungguhnya ayahku dan ayahmu, keduanya di neraka.

Yusuf al-Qaradhawi mempertanyakan, dosa apa yang telah dilakukan oleh

Abdullah bin Abdul Muthalib (ayah Nabi Muhammad saw) sampai dia dimasukkan

ke neraka? Sedangkan dia termasuk ahli fatrah (orang yang hidup pasca wafatnya

Nabi Isa As dan sebelum kerasulan/diutusnya Nabi Muhammad saw) sehingga

pendapat yang benar adalah orang yang berada dalam masa kosongnya wahyu,

termasuk mereka, di hari kiamat termasuk yang selamat. 15

2. Klaim adanya pertentangan hadis dengan al-Qur’an

جرخي

Artinya: Sekelompok orang akan keluar dari neraka karena syafaat Nabi

Muhammad saw, kemudian masuk ke surga, mereka disebut

al-Jahannamiyun/orang-orang yang diselamatkan dari jahannam.16

Dalam riwayat lain Imam Bukhori, Nabi Muhammad saw bersabda: Setiap

Nabi memiliki doa mustajabah dan saya menyimpan do'a saya sebagai syafaat di

hari kiamat bagi orang yang mati tidak menyekutukan Allah swt.

Firman Allah swt dalam surat Yunus ayat 18:

15Yusuf al-Qaradhawi, Pengantar Studi Hadis (Bandung: CV Pustaka Setia, 2007), 156-202.

(9)

50

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

َو

mendatangkan mudharat maupun manfaat kepada mereka dan mereka berkata;

mereka/berhala-berhala itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah swt

Alangkah anehya pendapat orang-orang kafir yang berharap mendapat

syafaat dengan perantara menyembah berhala. Syafaat adalah hak preogratif/mutlak

Allah swt terhadap hambaNya yang telah mendapat mandat/izin dariNya

sebagaimana banyak ayat al Qur'an menyebutkannya.

Ahmad Abdul Aziz al Qoshir menulis buku Ahaadis Musykilah

al-Waaridah fi al-Tafsir al-Qur'an al-Kariim17(Hadis-hadis yang Musykil yang

Berada Dalam Tafsir al Qur'an al Karim). Dalam pembahasannya beliau

menjelaskan 44 tema18 hadis yang dinilai kontradiktif dengan ayat-ayat al Qur'an,

kemudian dikemukakan secara komprehensif seluruh hadisnya dan dilakukan

tarjiih/mencari pendapat yang lebih kuat, sehingga tidak ada pemahaman

parsial/sepenggal dalam memahami hadis nabi.

3. Menghimpun hadis-hadis yang bertema sama

نأ

Rasulullah saw bersabda: Allah swt tidak akan melihat/memberi rahmat

kepada hambanya yang memanjangkan/menyeret pakaiannya karena

kesombongan.19 Hadis di atas dengan berbagai redaksinya menjelaskan murka

Allah swt kepada orang yang bersifat sombong, dalam hal apapun termasuk

perkataan dan perbuatan, bukan sekedar pakaian. Dalam konteks yang sama Abu

17Ahmad bin Abdul Aziz bin Muqrin al Qoshir, al-Ahaadis al-Musykilah al-Waaridah fi al-Tafsir

al-Qur'an al-Kariim (Beirut: Dar Ibnul Jauzi, 2009). 59-724.

18Diantaranya adalah kisah gharaniq (penisbatan orang zindiq yang mereka manipulasi sebagai hadis

yang beredar dalam kitab tafsir, bahwa Nabi Muhammad saw menyatakan; berhala adalah mulia dan diharapkan syafaatnya), pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Zainab binti jahsy, waktu terjadinya kiamat (dimana dalam hadis riwayat Imam Muslim kiamat akan terjadi pada hari jum'at sesuai dengan prediksi Nabi Muhammad saw; pada hari itu adalah sejelek-jeleknya umat), tempat sidrotil muntaha, mayat mendapat manfaat dari usaha orang-orang yang masih hidup, Nabi Muhammad saw menulis dengan tangannya, keadaan ahli fatroh/waktu kosongnya masa kenabian, mayit disiksa disebabkan tangisan keluarga dan lain sebagainya.

(10)

51

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

Bakar al-Siddiq berbusana dengan pakaian di bawah mata kaki, Nabi Muhammad

saw menjelaskan; anda tidak termasuk dalam golongan yang menggunakannya

karena sombong.20

Pemahaman secara tekstual mengajak umat Nabi Muhammad saw

berpakaian "di atas mata kaki", hal ini disebabkan Nabi saw mengerjakannya dan

ini mendapatkan sunnah apabila niat itba'/mengikuti sunnah Nabi saw. Dengan

pemahaman kontekstual berpakaian sesuai dengan norma yang ada (di bawah mata

kaki) termasuk perkara mubah apabila tanpa disertai sikap arogan

/takabbur/sombong. Kajian analitis kritis terhadap hadis ini adalah bagi orang yang

memiliki klaim kebenaran dengan "mewajibkan" pakaian di atas mata kaki

sehingga membid'ahkan setiap yang berada di bawah mata kaki. Ini tidak sesuai

dengan ajaran Islam yang rahmatan lil 'aalamiin. Siapa yang bisa mengetahui sifat

sombong ada dalam hati manusia selain Tuhan yang mengerti gerak-gerik hati,

apakah dia menggunakan pakaian dikarenakan kesombongan/tidak. Bisa jadi yang

menggunakan di atas mata kaki bersifat sombong karena meremehkan yang tidak

menjalankan sunnah Nabi saw, yakni celana di bawah mata kaki. Sedangkan sunnah

Nabi saw begitu luas cakupan maknanya. Oleh karenanya, jangan ada sifat saling

menghina dan menyalahkan, setiap insan memiliki argumentasi masing-masing.

Banyak disebutkan dalam hadis shahih, sifat arogan sekecil apapun yang ada di

dalam hati manusia bisa menyebabkannya masuk ke dalam neraka.

4. Menggabungkan atau mentarjih hadis-hadis yang bertentangan/Nasikh dan

Mansukh dalam hadis

a. Hadis larangan ziarah kubur bagi wanita

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah saw dahulu melarang

bahkan melaknat wanita yang ziarah ke kubur.21 Akan tetapi beberapa saat

kemudian Rasulullah saw membolehkan bahkan menganjurkan ziarah kubur, baik

bagi pria maupun wanita, hal ini disebabkan dengan ziarah dapat mengingatkan

seseorang kepada kematian dan mempersiapkan amal agar lebih baik lagi.

Yusuf al Qaradhwi memberikan komentar, walaupun hadis tentang

diperbolehkannya berziarah kubur bagi wanita lebih banyak dan lebih shahih dari

20Hadis riwayat Imam Bukhori, dalam bab Man Jarro Tsaubahu min Ghoiri Khuyalaa', no 5784.

(11)

52

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

hadis yang melarangnya, tetapi menggabungkannya adalah lebih utama. Dengan

pemahaman kata "laknat" di dalam hadis adalah ditujukan kepada wanita yang

sering berziarah, prediksi Nabi saw melarang bisa dimungkinkan adalah karena

terlalu seringnya ziarah sehingga mengabaikan hak-hak suami, menampakkan

aurat/tabarruj/berlebihan dalam berdandan dan menggunakan perhiasan dan

meratapi/mengangis secara tidak wajar (dengan merobek pakaian dan sebagainya)

terhadap orang yang sudah meninggal.

Hemat penulis ziarah kubur sangat urgen baik bagi pria maupun wanita,

dikarenakan mengingat kematian dibutuhkan bagi semua pihak, sebagaimana

amaliah Nabi saw pada hari-hari tertentu beliau ziarah kubur, tekadang ke makam

ayah ibunya, terkadang ke makam pamannya, terkadang ke pemakaman baqi' dan

beliau berdoa: Asslaamu 'alaikum ya Ahlal Baqi' Allohumaghfir li baqi'

al-Gharqod, antum salafun wanahnu insyaalloh bikum laahiquun; Semoga

keselamatan tercurah kepada kalian wahai penduduk Baqi' Ya Allah, ampunilah

orang-orang yang ada di pemakaman Baqi', kalian adalah lebih dahulu kembali,

sedangkan kami insyaallah akan menyusul.

Setiap meliwati kubur disunahkan mengucapkan salam kepada ahli kubur

sebagimana doa Rasulullah saw di atas, termsasuk dalam kuburan yang bercampur

antara muslim dan non muslim, maka di hususkan salamnya kepada yang muslim.

b. Hadis Nikah Mut'ah

Nikah mut'ah yang berarti bersenang-senang "dalam waktu tertentu" atau

yang lebih lazim disebut dengan kawin kontrak yang pernah ada bahkan dibenarkan

dalam syariat Islam, dalam konteks peperangan yang disebabkan banyak sahabat

meninggalkan istrinya berhari-hari/berbulan-bulan, sehingga Rasulullah saw

menghalalkannya dalam beberapa waktu. Hadis ini berlaku temporal, dalam istilah

hadis adalah mansukh/hadis yang dihapuskan hukum/substansinya. Berbeda halnya

dengan orang syi'ah yang sampai sekarang menggunakan kitab hadis Usul al-Kafi

sebagai kitab primer mereka, dan diantara syari'at orang syi'ah adalah nikah mut'ah,

walaupun dengan syarat yang cukup ketat. Dalam lingkup ahlussunnah wal jama'ah

nikah mut'ah sudah dilarang mutlak sampai datangnya hari kiamat oleh Nabi

(12)

53

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

sebagai hukum nasikh/menghapus dalil yang membolehkan, sebab hadis nikah

mut'ah tidak bisa dikompromikan.

5. Memahami hadis sesuai dengan latar belakang, situasi dan kondisi, serta

tujuannya.

a. Zakat Fitrah

Dalam riwayat yang kuat, Nabi Muhammad saw mengeluarkan dan

memerintahkan untuk membayar zakat fitrah ba'da subuh/qobla 'ied fitri. 22 Waktu

yang ditetapkan Nabi saw tersebut cukup untuk melaksanakan zakat dan

membagikannya kepada mustahiq, hal ini disebabkan jumlah penduduk yang masih

sedikit dan mereka saling mengenal. Berbeda dengan masa sahabat, masa tabi'in,

hingga masa imam fiqih mujtahid, masyarakatnya semakin meluas dan majemuk,

sehingga diantara mereka ada yang membolehkan satu atau dua hari, bahkan dalam

mazhab Syafi'i mulai awal ramadhan untuk membayar zakat fitri. Dalam

mengeluarkan zakat, mazhab Abu Hanifah membolehkan dengan uang, sebab yang

menjadi tujuan adalah; memberikan kecukupan. Inilah yang disebut dengan "ruh"

(pemahaman yang mendalam) terhadap agama.23

A. Kewajiban Kaum MusliminTerhadap Sunnah

Sunnah Nabawiyah merupakan metode detail untuk kehidupan individu

Muslim dan masyarakat Muslim. Sunnah juga sebagai upaya interpretasi atau dalam

istilah lain hermeneutik24 dan pengejawantahan Islam. Rasulullah saw bertugas menjelaskan al-Qur’an dan mengejawantahkan Islam, dengan sabda, perbuatan, dan sejarah hidupnya, seluruhnya, baik dalam kesendiriannya maupun

bermasyarakatnya, ketika berada ditempat ataupun bepergian, ketika terjaga dan

juga tidur, dalam kehidupan khusus dan umum, dalam berhubungan dengan Allah

dan manusia, dengan orang-orang dekat, orang-orang jauh, orang-orang yang

22

Yusuf al-Qaradhawi, Pengantar Studi Hadis…215.

23

Yusuf al-Qaradhawi, Pengantar Studi Hadis…215.

24Hermeneutika juga dipandang sebagai satu disiplin pemahaman linguistik, yaitu ilmu yang

menjelaskan kondisi-kondisi yang pasti ada dalam setiap penafsiran, lebih tepatnya disebut hermeneutika umum yang menjadi landasan semua bentuk interpretasi. Jadi kata hermeneutik dapat diarikan sebagai sebuah ilmu dan seni menginterpretasikan sebuah teks. Lihat: Chanafie al-Jauhari,

(13)

54

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

mencintai dan memusuhinya, dalam masa damai dan masa perang, ketika sehat wal

afiat dan bahkan kekita mendapat musibah.

Kaum muslimin berkewajiban untuk mengetahui metode Nabi yang rinci,

dengan segala karakteistiknya yang universal, konmprehensif, dan mudah, serta

mengandung makna-makna Rabbani yang kokoh, makna-makna kemanusiaan

sebagai cabangnya dan makna-makna budi pekerti yang murni. Hal ini

mengharuskan mereka mengetahui Sunnah yang mulia dengan sebaik-baiknya,

sebagaimana berhubungan dengan pemahaman dan pengamalan, sebagaimana telah

dilakukan oleh generasi terbaik umat, yaitu para sahabat dan orang-orang yang

mengikuti mereka dengan baik. Krisis kaum Muslimin pertama pada masa sekarang

ini adalah krisis pemikiran/Ghazwu al-Fikr.

Menurut Yusuf Qaradhawi hal itu lebih dahulu datangnya daripada krisis

perasaan. Contoh yang paling representatif dari krisis pemikiran adalah krisis

pemahaman terhadap sunnah, dan yang berhubungan dengannya, terlebih lagi dari

sebagian aliran kebangkitan Islam yang sangat diharapkan dan dinanti-nantikan

umat diseluruh pelosok dunia. Tidak sedikit dari mereka yang salah dalam

memahami sunnah yang suci.25

Dari pemaparan Yusuf Qaradhawi diatas, sampai sekarang memang masih

banyak orang yang tidak mengetahui cara memahami hadis Nabi, diantaranya harus

mengetahui kapan, dimana, bagaimana konteks, selaku apa Rasulullah saw ketika

sedang bicara. Ini yang perlu diketahui umat, sehingga meminjam istilah Syuhudi Ilma’il, ada hadis yang dipahami secara tekstual dan kontekstual.26

B. Prinsip-Prinsip Asasi Berhubungan Dengan Sunnah

Dari sini, orang yang berhubungan dengan sunnah, agar ia terhindar dari plagiat kaum pendusta, distorsi kaum radikal dan penta’wilan orang-orang bodoh, hendaknya ia melengkapi diri dengan beberapa hal yang dianggap sebagai

prinsip-prinsip dasar dalam lapangan ini, yakni:

25Yusuf Qaradhawi, Metode Memahami As-Sunnah Dengan Benar (Media Dakwah: Jakarta, 1994),

Terjemah: Saifullah Kamalie, Cetakan Pertama, 35-36.

26Baca, Muhammad Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual, Telaah Ma'anil

(14)

55

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

Pertama; Menelusuri ketetapan dan kesahihan sunnah sesuai dengan metode ilmiah yang telah ditetapkan oleh pakarnya, yang meliputi sanad dan matan,

baik berupa ucapan, perbuatan ataupun taqrir/persetujuan. Seorang peneliti perlu

kembali kepada para pakar dalam masalah ini, yaitu mereka yang telah

menghabiskan umurnya untuk mencari27 dan mengkaji hadis, memisahkan yang

sahihnya dari yang tidsak sahih, yang diterima dari yang ditolak.

Mereka telah membuat suatu ilmu khusus untuk hadis yang kokoh akarnya

dan banyak cabangnya28, yang kedudukannya untuk hadis adalah sama seperti ilmu

ushul fiqih untuk fiqih. Ilmu tersebut merupakan kumpulan beberapa ilmu, yang

menurut hitungan mencapai 65 macam, seperti pendapat cendikiawan muslim Ibnu

Shalah. Para ulama setelahnya membuat syarah/penjelas sehingga al-Suyuthi dalam

bukunya Tadrib al-Rawi ‘Alaa Taqrib al-Nawawi mencantumkannya hingga 93

macam ilmu.

Kedua; Hendaknya peneliti memahamai teks hadis dengan baik, sesuai dengan petunjuk bahasa, konteks hadis, sebab-sebab wurudnya, dalam konteks

ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis yang lain, dalam lingkup prinsip-prinsip yang

keluar dalam rangka menyampaikan risalah dan yang bukan. Dengan perkataan lain: Sunnah sebagai syari’ah dan bukan. Pertama bersifat umum dan kekal, yang lain bersifat khusus dan sementara.

Ketiga; Hendaknya seorang peneliti mengkonfirmsikan apakah teks sunnah tersebut bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, seperti ayat-ayat al-Qur’an atau hadis-hadis lain yang jumlahnya banyak/mutawatir, lebih sahih, lebih mendekati pokok dan lebih sesuai dengan kebijaksaan syari’ah atau tujuan umum syari’ah yang mengambil sifat positif, karena hal itu tidak diambil dari salah satu nash atau

27Dalam ilmu hadis, dikenal Rihlah fi Tholabil Hadis (Perjalanan ulama dalam mencari hadis),

dengan semangat dan kegigihan yang luar biasa, ulama hadis dapat membukukan hadis step by step. Bahkan banyak diantara mereka sebagai upaya mencari satu hadis diperlukan biaya satu ekor unta sebagai bekal dalam perjalanan yang menghabiskan waktu berbulan-bulan lamanya. Hal ini

sebagaimana pesan tersirat dalam penjagaan al-Qur'an, dalam firmanNya: Sesungguhnya Kami telah

menurunkan al-Zikr/al Qur'an dan kami yang akan menjaganya. Kata al-Zikr bisa luas cakupan maknanya, bukan hanya al Qur'an akan tetapi mencakup hadis Nabi Muhammad saw yang dijaga keotentikannya oleh Allah swt.

(15)

56

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

dua nash, melainkan dari sejumlah nash dan hukum yang saling bersatu sehingga

menjadi yakin dan pasti.29

Menurut penulis, metode di atas merupakan pisau analisis yang digunakan

oleh Yusuf Qaradhawi dalam memahami hadis yang hendaknya diperhatikan oleh

setiap orang yang berinteraksi dengan hadis Nabi saw.

C. Menolak Hadis-Hadis Sahih Karena Salah Paham

Malapetaka yang menimpa sunnah adalah bila sebagian orang membaca

suatu hadis dengan tergesa-gesa kemudian ia salah dalam memahaminya yang

menurut keyakinannya benar dan menafsirkannnya dengan dugaannya sehingga

hadis tersebut pengertiannya tidak dapat diterima, maka dengan serta merta ia

menolak hadis itu karena mengandung pengertian yang tidak dapat diterima.

Bila ia membacanya dengan teliti dan merenungkannya, ia akan mengetahui

bahwa pengertian hadis tersebut tidaklah seperti yang ia pahami yang tidak

disebutkan dalam al-Qur’an maupun sunnah, tidak pula sesuai dengan bahasa Arab

dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun ulama yang handal sebelumnya. Sebagian orang membaca hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al -Khudriy dan al-Thabrani dari Ubadah bin Shamit: Ya Allah, hidupkanlah aku

sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin dan jadikanlah aku

termasuk golongan orang-orang miskin.30

Miskin di sini dipahami sebagai miskin kekurangan harta dan butuh

pertolongan orang, ini bertentangan dengan permohonan Nabi Muhammad saw

yang mohon perlindungan kepada Allah dari bencana kefakiran dan permohonannya agar diberikan kecukupan dan sabdanya kepada Sa’ad: Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang kaya, bertakwa lagi

tersembunyi.31

Oleh karena itu ia ada orang yang menolak hadis tersebut. Padahal yang

dimaksud miskin disisi bukanlah kefakiran. Karena bagaimana mungkin, sementara

Rasulullah mohon perlindungan kepada Allah agar melindunginya dari kondisi

29Yusuf Qaradhawi, Metode Memahami As-Sunnah Dengan Benar… 44-45.

30Lihat : Shahih Jami’ al-Shagir (1261), sebagian orang menilai bahwa hadis ini dha’if .

(16)

57

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

tersebut dan mensejajarakannya dengan kekafiran. Dan Allah telah

menganugerahkan kepadanya kecukupan. Firmannya: Dan dia mendapatimu

sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan. (Surat

al-Duha: 8).

Miskin dalam hadis ini adalah sifat tawadhu’ dan rendah hati dan tidak

termasuk kaum tiran dan sombong. Demikian Rasulllah saw hidup jauh dari

kehidupan orang-orang sombong meskipun dalam keadaan apapun. Beliau duduk

sebagaimana duduknya para sahaya dan orang-orang fakir, makan sebagaimana

mereka makan. Bila seorang datang, beliau tidak membedakannya dari para

sahabatnya. Beliau bersama mereka seperti salah seorang dari mereka. Beliau

dirumahnya, memperbaiki sandanya yang rusak dengan tangannya sendiri,

menambal pakaiannya yang robek,memeras sendiri susu kambingnya, menggiling

gandum bersama hamba sahaya. Ketika seorang datang kepadanya dalam keadaan

takut sehingga menggigil, beliau berkata: “Tenanglah, aku bukannya seorang raja,

aku hanyalah anak seorang perempuan dari bangsa Quraish yang makan dendeng

daging di Mekkah.32

Dengan pengertian apapun yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw

selalu membuat tenang siapapun yang berada didekatnya, tidak ingin orang lari

karena takut dan menjauh darinya.

D. Berbahaya: Terburu-Buru Menolak Hadis Sahih Kendati Musykil

Kaum Mu’tazilah tanpa pikir panjang langsung menolak hadis musykil yang dianggap bertentangan dengan pengetahuan dan agama yang rasional. Sementara Ahlus Sunnah menggunakan akalnya untuk menta’wilkannya, menggabungkan dan menyesuaikan antara yang tampaknya bertentangan. Untuk itu Imam Abu

Muhammad Ibnu Qutaibah (meninggal tahun 167 H) mengarang Ta’wi>l

al-Mukhtalif al-Hadis sebagai sanggahan terhadap tuduhan Mu’tazilah sekitar

beberapa hadis yang mereka duga bertentangan dengan al-Qur’an atau rasio,

didustakan beberapa orang atau bertentangan dengan hadis lain. Setelahnya,

seorang ahli hadis mazhab Hanafi, Imam Abu Ja’far al-Thahawi (meninggal tahun

321 H) menulis sebuah buku berjudul Musykil al-Atsaar dalam empat jilid dimana

(17)

58

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

ia berupaya mencarikan penta’wilan yang dapat diterima terhadap hadis-hadis tersebut. 33

Sebagai contoh hadis yang mereka tolak adalah kisah dalam hadis riwayat

Imam Bukhori, tentang seorang wanita pelacur/pendosa yang memberi minum

seokor anjing, kemudian mendapat ampunan dari Allah swt dan masuk surga. Hadis

ini dan yang senada dengannya dianggap sebagai kebanggan Islam dalam hal

nilai-nilai kemanusiaan yang menghormati setiap mahluk hidup dan menetapkan pahala

bagi siapa yang memelihara setiap mahluk hidup. Mafhum Mukholafah

(pemahaman sebaliknya yang dapat diambil) adalah orang yang sayang terhadap

hewan, alam, terlebih terhadap sesama manusia akan mendapat rahmat Allah swt,

demikian pula orang yang menyiksa dan mendzalimi sesama mahluk ciptaanNya,

akan mendapatkan murka/siksaNya, baik di dunia terlebih di akhirat kelak.

E. Reformasi agama

Sebagian orang membaca hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan

al-Hakim yang disahihkan banyak ulama, dengan perawi Abu Hurairah secara marfu’:

Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat ini pada permulaaan setiap tahun

seorang yang memperbaharui agamanya.34

Mereka mengartikan perkataan memperbaharui sebagai pembangunan dan

perubahan agama agar sesuai dengan zaman sekarang, karena sudah tetap,

permanen dan tidak berubah-ubah. Bukan tugas agama untuk menyesuaikan diri

dengan perkembangan zaman, melainkan sebaliknya perkembangan zaman yang

menyesuaikan dengan agama. Mereka menduga bahwa pembaharuan agama adalah

dalam setiap masa mengeluarkan versi baru untuk merevisi prinsip-prinsip dan

ajrannya, sesuai dengan kebutuhan manusia dan perubahan zaman, sehingga

mereka menolak hadis di atas. Padahal pembaharuan bukanlah dengan merubah

karakteristiknya yang lama atau menggantinya dengan sesuatu yang baru.

Pengertian seperti ini bukanlah yang dimaksud dengan pembaharuan. Akan tetapi

pembaharuan disini adalah upaya kembali kepada kondisi semula pada masa

permulaan muncul dan berkembangnya agama Islam sehingga kendati sudah lama

33Yusuf Qaradhawi, Metode Memahami As-Sunnah Dengan Benar…67-70.

(18)

59

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

tampaknya baru. Hal ini dilakuakan dengan memperkuat sesuatu yang telah lemah,

merestorasi yang sudah using dan mengencangkan yang kendur sehingga kembali

mendekati bentuknya semula.35

Yusuf Qaradhawi memberikan contoh konkrit, yakni ketika kita hendak

memperbaharui suatu bangunan peninggalan yang antik adalah memperbaharuinya

dengan tetap menjaga substansi dan karakteristiknya dan merestorasi bagian-bagian

yang using, mempercantik pintu-pintu masuknya, mempermudah sarana jalan yang

menuju kepadanya serta mempromorsikannya, dan lain sebagainya. Tidaklah

memperbaharuinya apabila menghancurkan bangunan tersebut dan di atasnya

mendirikan bangunan besar dengan model yang paling baru. Demikian pula agama,

memperbaharuinya bukan berarti menampakkannya dalam edisi baru, tetapi yang

dimaksud adalah kembali kepada keadaan semula pada masa Rasulullah saw, sahabat dan tabi’in.36

IV. Kesimpulan

Yusuf Qaradhawi sebagai seorang akademisi sekaligus seorang da’i ilalla>h memiliki interpretasi yang layak mendapat apresiasi bagi umat Islam.

Tulisan ini tidak lain merupakan kajian sederhana yang membahas keilmuan Yusuf

al-Qaradhawi dalam satu aspek, yakni metode memahami hadis. Untuk memperluas

cakrawala keilmuan perlu adanya kajian yang lebih spesifik atas seluruh karya

beliau sehingga memperoleh pemahaman yang komprehensif. Semoga bermanfaat

dan membuka cakrawala.

35Yusuf Qaradhawi, Metode Memahami As-Sunnah Dengan Benar…60-61.

(19)

60

Inovatif: Volume 1, No. 2 Tahun 2015

DAFTAR PUSTAKA

al-Khati>b, Muhammad ‘Ajja>j. Us}u>l al-Hadi>s ‘Ulu>muhu> wa Mus}t}aluhu>. Beiru>t: Dar al-fikr, 1989

al-Qaradhawi, Yusuf. Metode Memahami As-Sunnah Dengan Benar. Media Dakwah: Jakarta, 1994

al-Qaradhawi, Yusuf. Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah Ma’alim wa Dhawa>bith. USA: al-Ma’had al-‘Alami li al-Fikr al-Isla>mi>, 1990 al-Qaradhawi, Yusuf. Pengantar Studi Hadis. Bandung: CV Pustaka Setia, 2007 al Qoshir, Ahmad bin Abdul Aziz bin Muqrin, Ahaadis Musykilah

al-Waaridah fi al-Tafsir al-Qur'an al-Kariim. Beirut: Dar Ibnul Jauzi, 2009 Chanafie al-Jauhari, Hermeneutika Islam: Membangun Peradaban Tuhan di Pentas

Global. Yogyakarta: ITTIQA Press, 1999

Dosen Tafsir hadis, Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis. Yogyakarta: Teras, 2007

Fazlur Rahman, dkk, Wacana Studi Hadis Kontemporer. Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2002

Ismail, M. Syuhudi. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1992

Muhammad Syuhudi Ismail, Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual, Telaah Ma'anil Hadis Tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994

Khalid, Sa’ad Khutbah-Khutbah Yusuf al-Qaradhawi, terjemah Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1999

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu Dalam

Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1994 Sumbulah, Umi. Kritik Hadis: Pendekatan historis Metodologis. Malang:

UIN-Malang Press, 2008

Referensi

Dokumen terkait

Buku yang membahas tentang kajian perbandingan pemahaman hadis ru’yah dan ẖisab, istighâtsah, tawassul, talqin dan qûnut antara Muhammadiyah dan NU diantaranya:...

Setelah melakukan penelitian terhadap hadis-hadis larangan menafsirkan al-Qur’an dengan ra’y , maka dapat disimpulkan bahwa kualitas keseluruhan hadis tidak sampai derajat

Menurut Yusuf al-Qaradhawi di antara cara-cara yang baik untuk memahami hadis Nabi adalah dengan memperhatikan sebab- sebab khusus yang melatarbelakangi

Penelitian matan hadis merupakan salah satu bentuk upaya meneliti kandungan atau matan suatu hadis. Para ulama hadis berpendapat bahwa kritik matan harus didahului

Menurut al-Ghazali, metode pemahaman hadis Nabi harus diukur dari empat kriteria keshahihan matan hadis, yaitu: matan hadis harus sesuai dengan Alquran, matan

Dalam masalah ijtihad Yusuf al-Qardhawi merupakan seorang ulama kontemporer yang menyuarakan bahwa untuk menjadi seorang ulama mujtahid yang berwawasan luas dan berfikir

Demikianlah terlihat dari hadis-hadis yang dikaji pada uraian di atas, tampak bahwa mayoritas ahli atau ulama hadis menerima hadis d}a‘i>f yang telah diterima

Menurut Yusuf Qardhawi, ada beberapa meode yang dapat digunakan dalam memahami hadis Nabi SAW iaitu i Memahami hadis sesuai petunjuk al-Quran; 2 Memahami hadis sesuai dengan latar